Anda di halaman 1dari 14

PBL BLOK 25

SKEN 1:

Seorang perempuan usia 38 tahun, hamil keempat, datang ke IGD dengan


keluhan nyeri perut dan keluar darah dari jalan lahir sejak 6 jam yang lalu.

Anamesis:

Tentang menstruasi :
a.Kapan haid terakhir b.Menarche umur berapa c.Apakah haid teratur d.Berapa
lama e.Nyeri haid.

Riwayat kehamilan : a.Berapa kali hamil b.Adakah komplikasi pada kehamilan


terdahulu c.Apakah pernah keguguran, berapa kali, umur kehamilan

Tentang persalinan :
a.Berapa kali bersalin b.Bagaimana persalinan terdahulu, komplikasi c.Berapa
berat badan bayi waktu lahir d.Kalau persalinan dengan sectio caesarea apa
alasannya

Riwayat perkawinan : a.Berapa kali menikah b.Pernikahan sekarang sudah


berapa lama

Riwayat penyakit pasien : a.Penyakit berat yang pernah di derita pasien

Riwayat penyakit keluarga : a.Penyakit herediter anggota keluarga yang


berhubungan dengan penyakit herediter b.Adakah keturunan kembar

Pemeriksaan :

Pemeriksaan umum
Pemeriksaan obstetri a.Inspkesi abdomen b.Palpasi (leopold) c.Auskultasi
Pemeriksaan inspekulo
Pemeriksaan ultrasonografi
Pemeriksaan darah lengkap

WD: Solutio Plasenta

Klasifikasi menurut derajat pelepasan plasenta: a.Ruptura sinus marginalis


b.Solusio plasenta parsialis c.Solusio plasenta totalis
Klasifikasi menurut bentuk perdarahan : a.Solusio plasenta dengan perdarahan
keluar b.Solusio plasenta dengan perdarahan tersembunyi
Klasifikasi menurut tingkat gejala klinis : a.Solusio plasenta ringan b.Solusio
plasenta sedang c.Solusio plasenta berat
DD: Plasenta Previa

Plasenta previa : plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim,


sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum.
Klasifikasi : 1.Plasenta previa totalis atau komplit 2.Plasenta previa parsialis
3.Plasenta previa marginalis 4.Plasenta letak rendah

Etiologi :

Faktor resiko solusio plasenta : 1.Riwayat solusio plasenta sebelumnya


2.Hipertensi 3.Trauma 4.Faktor paritas ibu 5.Faktor usia ibu 6.Penggunaan
kokain 7.Kebiasaan merokok

Patogenesis :

Terjadinya perdarahan ke dalam desidua basalis dan terbentuknya


hematom subkhorionik yang dapat berasal dari pembuluh darah
miometrium atau plasenta, dengan berkembangnya hematom
subkhorionik terjadi penekanan dan perluasan plasenta dari dinding uterus

Gambaran Klinis :

Solusio plasenta ringan 1.Rasa nyeri pada perut masih ringan 2.Darah keluar
masih sedikit 3.Perut sedikit tegang tapi bagian janin masih dapat di raba

Solusio plasenta sedang : 1.Rasa nyeri pada perut yang terus menerus 2.Denyut
jantung janin biasanya menunjukkan gawat janin 3.Perdarahan tampak keluar
lebih banyak 4.Kulit dingin dan keringatan

Solusio plasenta berat 1.Perut sangat nyeri dan tegang serta keras (defance
musculaire) 2.Fundus uteri lebih tinggi 3.Syok 4.Hipofibrinogenemia dan oliguria

Pengobatan :

Solusio plasenta ringan Ekspetatif bila usia kehamilan kurang dari 36 minggu,
dan bila ada perbaikan dengan tirah baring dan observasi ketat, kemudian
tunggu persalinan spontan.

Solusio plasenta sedang dan berat Apabila tanda dan gejala klinis solusio
plasenta jelas ditemukan, penanganan di rumah sakit meliputi transfusi darah,
amniotomi, infus oksitosin, dan jika perlu sectio caesarea.

Komplikasi:

Syok hemoragik Gagal ginjal Kelainan pembekuan darah Kematian janin


SKEN 3

Seorang perempuan usia 30 tahun datang kePoliklinik karena ingin hamil. Pasien
sudah menikah 5 tahun.

Anamesis :

Riwayat Hubungan Seksual: Teratur, seminggu 3x. Tidak pisah rumah


dengan suami
Riwayat Haid: teratur, siklus 28 hari. Tidak ada nyeri haid. Menarche usia 12
tahun
Riwayat nikah: pernikahan pertama untuk suami maupun istri, lama 5
tahun
Riwayat KB : tidak pernah
Riwayat obstetric: belum pernah hamil
RPD: suami dan istri tidak ada penyakit apapun
RPK: Kedua keluarga suami dan istri tidak ada penyakit apapun

Pemeriksaan fisik :

Semua dalam batas normal


Pemeriksaan ginekologi: inspeksi genitalia luar normal
Inspekulo: tidak Nampak darah atau lender di vagina. Portio licin.
Pemeriksaan bimanual: ukuran uterus normal, adnexa dan paramentrium tidak
teraba massa.

PP:

Penilaian kadar progesteron pada fase luteal media, yaitu kurang dari
7 hari sebelum perkiraan datangnya haid. Adanya ovulasi dapat ditentukan
jika kadar progesteron fase luteal media dijumpai lebih besar dari 9,4
mg/ml.
Pemeriksaan kadar luteinizing hormon (LH) dan follicles stimulazing
hormone (FSH) dilakukan pada fase proliferasi awal (hari 3-5) terutama jika
dipertimbangkan terdapat peningkatan nisbah LH/FSH pada kasus sindron
ovarium polikistik (PCOS).

WD: infertilitas: ketidakmampuan pasangan suami-istri untuk menghasilkan


kehamilan atau membawa kehamilan sampai cukup bulan, setelah selama 12
bulan dengan melakukan senggama secara teratur tanpa kontrasepsi.

Primer : Bila pasangan belum pernah hamil melakukan hubungan seksual


secara teratur, tanpa kontrasepsi dalam periode satu tahun belum ada
tanda-tanda kehamilan
Sekunder: Bila pasangan sudah pernah hamil, dan hubungan seksual
teratur tanpa kontrasepsi tapi belum ada tanda kehamilan

Etiologi: Faktor suami sebesar 25-40%, istri 40-55%, keduannya 10% dan
idiopatik 10%. Kelainan pada semen, gangguan ovulasi, cidera
tuba,endometriosis, gangguan ineterasi sperma-sekret serviks, gangguan
imunologi, infeksi dan idiopatik.

Penatalaksanaan :

Pada wanita:
Obat
Antiestrogen Clomifen sitrat
Gonadotropin releasing hormone analogue (GnRH agonist) Bedah
Pembedahan pada tuba fallopi: Salpingolisis, Salfingostomi, Tubal anastomosis,
Tubal kanalisasi
Ovarian Drilling: untuk wanita dengan PCOS yang resisten terhadap pengobatan
dengan Clomiphen citrate

Pada Pria:
Obat Oligozoospermia: Clomiphen citrate 1 x 50 mg selama 90 hari. Tamoxifen
2 x 1 tablet selama 60 hari
Infeksi kelenjar asesoris: Antibiotika : gol. amoksisilin, doksisiklin dan
erithromisin + vit E, vit C dan vit B kompleks.
Untuk defisiensi gonadotropin: HORMON TESTOSTERON ( FSH & LH juga bisa )
Untuk hiperprolaktinemia: Dopamin Agonis (Bromokriptin)
Bedah Varikokel: vasoligasi vena spermatika interna

Edukasi: Meminta pasangan infertil mengubah teknik hubungan seksual


dengan memperhatikan masa subur. Mengkonsumsi makanan yang
meningkatkan kesuburan. Menghitung minggu masa subur. Membiasakan pola
hidup sehat.

Prognosis: Prognosis terjadinya kehamilan tergantung pada umur suami,


umur istri, dan lamanya dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan (
frekuensi senggama dan lamanya perkawinan ).
SKEN 5:
Seorang wanita 19 tahun dating ke UGD dengan keluhan nyeri perut dan
perdaraha pervaginam sejak 1 jam yang lalu

Anamnesis
Identitas: wanita 19 tahun, belum menikah
Keluhan utama : nyeri perut & perdarahan pervaginam (sejak 1 jam yll)
RPS:
Warna darah ?
Apakah disertai lendir ?
R. haid:
Siklus haid ? Lamanya ?
Terlambat haid 3 bulan
RPD: pernah sakit seperti ini dulunya?
RPK

P. Obsetrik:
Perut teraba membesar
Uterus teraba setengah pusat simfisis

Diagnosis Mola Kehamilan Ektopik Abortus


Banding Hidatidosa Terganggu

Definisi Suatu kehamilan Kehamilan pertumbuhan sel Ancaman atau pengeluaran


yang telur yang telah dibuahi tidak hasil konsepsi sebelum anin
berkembang menempel pada dinding viable yaitu <20 minggu atau
tidak wajar endometrium kavum uteri berat janin < 500gr
dimana tidak
ditemukan janin
dan hampir
seluruh vili
korialis
mengalami
perubahan
berupa
degenerasi
hidropik
Gambaran
makros:
gelembung
putih, berisi
cairan jernih dg
ukuran
bervariasi
Etiologi Belum diketahui Faktor tuba: radang Faktor genetic (paling
secara pasti /infeksi sering)
Abnormalitas zigot Kelainan kongenital
Faktor ovarium uterus
F. hormonal: Autoimun
progesteron Defek fase luteal
F. lain : IUD, merokok Infeksi
P. Kadar HCG tinggi Kadar HCG Darah
Penun USG : Snow flake rendah lengkap
jang pattern atau Honey Darah rutin (Hb :untuk
Gejala comb turun, menilai
dan P.darah:hb,ht,leuk leukositosis) anemia.
tanda osit,monosit USG leukosit
Perdarahan uterus Kadar ,LED
pada trisemester 1 progesterone USG
Mual,muntah serum =10-
Ukuran uterus 25ng/ml
lebih besar dari Nyeri abdomen
usia gestasi sifat
Sebagian besar (unilateral,bilate
pasien mengalami ral,menyeluruh).
preeeclampsia Perdarahan
Terabanya masa
pada anedksa

Mola Hidatidiosa KET Abortus

Epdemiologi DI AS 1-2/1000 Di Indonesia Di Indonesia 18-19%.


kehamilan 0-14,6%.

Etiologi Belum diketahui Belum Kelainan sel telur, faktor


pasti, faktor diketahui ayah: Terdapat kelainan
resiko: infeksi, pasti. kromosom, faktor
usia <20 dan lingkungan :
>35th, riwayat merokok/minum alkohol
mola hidatidosa,
genetik.
Patogenesis:

Mola hidatidosa

1. Teori missed abortion


embrio mati pada kehamilan 3-5 minggu krn itu tejadi ggn peredaran
darah shg terjd penimbunan cairan mesenkim dari vili dan akhirnya
terbentuklah gelembung.
2. Teori neoplasma dari Park
sel trofoblast abnormal dan memiliki fungsi abnormal dimana trjd
reabsorbsi cairan berlebih ke vili shg timbul gelembung.
3. Studi dari Hertig
mola semata-mata akibat akumulasi cairan yang menyertai degenerasi
awal atau dk adanya embrio komplit pada minggu ke 3-5.
KET:
Hasil konsepsi mati dini dan diresorbsi.
Vaskularisasi kurang
Pasien tidak mengeluh apa-apa, haid terlambat beberapa hari.
Abortus ke dalam lumen tuba
Pembukaan pembuluh darah oleh vili korialis pada dinding tuba ditempat
implantasi. Sehingga melepaskan mudigah dari dinding tersebut
Perdarahan terus berlangsung

Abaortus inkomplit:
1. Sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri dan masih ada yang
tertinggal.
2. Dimulai dari terlepasnya sebagian atau seluruh jaringan plasenta yang
menyebabkan perdarahan sehingga janin kekurangan nutrisi dan O2.
3. Gejala umum: saki perut karena kontraksi Rahim, terjadi eprdarahan, dan
disertai pengeluaran seluruh atau sebagian hasil konsepsi
Penatalaksanaan:
Gejala Klinis Amenorea Trias : Amenorea, Gejala klinis
Tanda perdarahan tergantung
kehamilan: pervaginam, nyeri pembagian
mual, perut mendadak abortus:
muntah PF: Abortus
Besar nyeri tekan iminens
uterus > abdomen Abortus
usia ringan berat insipiens
kehamilan Kavum Abortus
Perdarahan dauglasi inkompli
intermiten menonjol t
DJJ dan disertai nyeri Abortus
Balotemen pada perabaan komplit
(-) krn terisi Missed
Keluar darah abortion
gelembung Uterus
mola dari membesar
jalan lahir tidak sesuai
Dapat dengan usia
disertai kehamilan
preeklamsi
a
Penatalaksana Khusus: Umumnya Abortus
an Lakukan laparotomi inkomplit:
evakuasi dg Pertimbangka Lakukan
AVM dan n kondisi konselin
kosongkan pasien, g
uterus keinginan Jika
secepatnya. penderita akan perdarah
Semetara fungsi an
evakuasi, reproduksi, ringan/s
pasang lokasi edang pd
infus kehamilan kehamila
oksitosin ektopik, n < 16
10 U dalam kondisi minggu,
500 ml Nacl anatomi, dll gunakan
0,9% atau Hasil jari/forc
RL dg kec. pertimbangan ep cincin
40-60 menentukan di untuk
tetes/menit salpingektomi mengelu
utk cegah atau di arkan
perdarahan salpingostomi. hasil
Selanjutnya konsepsi
ibu di yang
pantau: mencuat
- pem HCG dari
setiap 2 minggu serviks
- bila HCG Jika
tetap/naik dalam berat pd
2x kahmilan
pemeriksaan <16
berturut, rujuk. minggu,
- HCG urin lakukan
belum evakuasi
menunjukan hasil isi uterus
(-) stlh 8 dengan
minggu, rujuk. AVM.
Lakukan
pemeriks
aan
jaringan
scra
makrosk
opik dan
kirim
untuk
pemeriks
aan
patologi.
SKEN 9:

Seorang bayi 40 minggu, dilahirkan spontan pervaginam dengan berat 3200gr,


panjang badan 40 cm, lingkar kepala 33 cm, lingkar dada 30cm, dan cairan
ketuban jernih

Diperiksa pada menit pertama dan kelima.


7-10 = Normal
4-6 = Asfiksia ringan
0-3 = Asfiksia berat

Keadaan Umum :
(1) Keaktifan
(2) keadaan gizi
(3) Rupa
(4) Posisi
(5) Kulit
Refleks:
Refleks hisap
Refleks Moro
Refleks rooting
Refleks palmar grasp
Refleks plantar grasp
EDUKASI
Pemberian nutrisi
Mempertahankan hangat tubuh
Mencegah infeksi

1. Postur
Otot tubuh total tercermin dalam sikap yang disukai bayi saat istirahat dan ketahanan
untuk meregangkan kelompok otot. Saat pematangan berlangsung, gerak otot
meningkat secara bertahap mulai dari fleksor pasif yang berlangsung dalam arah
sentripetal, dengan ekstremitas bawah sedikit di depan ekstremitas atas. Untuk
mendapatkan item postur, bayi ditempatkan terlentang dan pemeriksa menunggu
sampai bayi mengendap dalam posisi santai atau disukai. Jika bayi ditemukan
telentang santai, manipulasi lembut dari ekstremitas akan memungkinkan bayi untuk
mencari posisi dasar kenyamanan. bentuk yang paling dekat menggambarkan postur
yang disukai bayi.

2. Jendela pergelangan tangan


Fleksibilitas pergelangan dan / atau resistensi terhadap
peregangan ekstensor bertanggung jawab untuk sudut yang dihasilkan dari fleksi pada
pergelangan tangan.
Pemeriksa meluruskan jari-jari bayi dan berikan tekanan lembut pada dorsum tangan,
dekat jari-jari. Sudut yang dihasilkan antara telapak tangan dan lengan bawah bayi
diperkirakan; > 90 , 90 , 60 , 45 , 30 , dan 0 .

3. Gerakan lengan membalik


Manuver ini berfokus pada gerakan fleksor pasif otot bisep dimana akan diukur sudut
dari ekstremitas atas. Dengan bayi berbaring telentang, pemeriksa menempatkan satu
tangan di bawah siku bayi. Kemudian, ambil tangan bayi dan pemeriksa membuat
lengan bayi dalm posisi fleksi, sesaat kemudian lepaskan. Sudut mundur lengan saat
kembali dicatat, dan dipilih pada lembar skor. Bayi yang sangat prematur tidak akan
menunjukkan pengembalian lengan.

4. Sudut popliteal
Manuver ini menilai pematangan gerakan fleksor pasif sendi lutut dengan pengujian
untuk ketahanan terhadap perpanjangan ekstremitas bawah. Dengan posisi bayi
berbaring telentang, kemudian paha ditempatkan lembut pada perut bayi dengan lutut
tertekuk penuh. Setelah bayi telah rileks dalam posisi ini, pemeriksa menggenggam
kaki dengan satu tangan sementara mendukung sisi paha dengan tangan lainnya.
Jangan berikan tekanan pada paha belakang. Kaki diperpanjang sampai resistensi
pasti untuk ekstensi. Pada beberapa bayi, kontraksi hamstring dapat digambarkan
selama manuver ini. Pada titik ini terbentuk pada sudut lutut oleh atas dan kaki bagian
bawah diukur.
Catatan: a) Hal ini penting bahwa pemeriksa menunggu sampai bayi berhenti
menendang aktif sebelum memperpanjang kaki. b) Posisi terang akan mengganggu
kehamilan sungsang dengan ini manuver untuk 24 sampai 48 jam pertama usia karena
kelelahan berkepanjangan fleksor intrauterin. Tes harus diulang setelah pemulihan
telah terjadi; bergantian, skor yang sama dengan yang diperoleh untuk item lain dalam
ujian dapat diberikan

5. Scarf Sign (Tanda selendang)


Manuver ini dilakukan dengan mengukur gerakan pasif fleksor bahu. Bayi dalam
posisi berbaring terlentang, pemeriksa menyesuaikan kepala bayi untuk garis tengah
dan meletakan tangan bayi di dada bagian atas dengan satu tangan. Ibu jari tangan lain
pemeriksa ditempatkan pada siku bayi.
Pemeriksa kemudian mendorong siku ke arah dada. Titik pada dada saat siku bergerak
dengan mudah sebelum resistensi yang signifikan, dicatat. Batasnya adalah: leher (-
1); aksila kontralateral (0); papila mamae kontralateral (1); prosesus xyphoid (2);
papila mamae ipsilateral (3), dan aksila ipsilateral (4).

6. Tumit ke Telinga
Manuver ini mengukur gerakan fleksor pasif panggul dengan tes fleksi pasif atau
resistensi terhadap perpanjangan otot fleksor pinggul posterior. Bayi ditempatkan
terlentang dan tekuk ekstremitas bawahnya.
Pemeriksa mendukung paha bayi lateral samping tubuh dengan satu telapak tangan.
Sisi lain digunakan untuk menangkap kaki bayi dan tarik ke arah telinga ipsilateral.
Pemeriksa mencatat ketahanan terhadap perpanjangan fleksor panggul posterior dan
lokasi dari tumit saat resistensi yang signifikan. Batasnya adalah: telinga (-1); hidung
(0); dagu (1); papila mamae (2); daerah pusar (3), dan lipatan femoral (4).
SKEN 12:
Seorang bayi berusia 1 minggu dibawa ibunya ke puskesmas karena
demam. Keluhan disertai dengan tali pusat bayi yang masih tampak basah
dan bau. Bayi mendapatkan ASI eksklusif dan lahir diklinik dan ditolong
oleh seorang bidan, cukup bulan, menangis kuat, aktif dan tidak ada
komplikasi lainnya.
Anamesis:
- Identitas
- RPS : Demam, tali pusar basah & bau.
- RPD
- RPK
- R. Persalinan
- R. Pribadi (Kebersihan bayi)
- Hasil PF :
- Suhu : 39oC
- Nadi : 140x/menit
- Pernapasan : 40x/menit
- tampak aktif, umblikus dan sisa tali pusat tampak basah, bau dan mengeluarkan
cairan hijau kekuningan.

Pemeriksaan penunjang
- swab umbilikus
Sediaan apus untuk pemeriksaan kultur. biasanya adalah bakteri batang Gram
negative, sesuai dengan pola kuman yang sering menginfeksi bayi baru lahir.
- Pemeriksaan darah rutin
WD:
Omfalitis adalah infeksi pada umbilikus yang dapat mengakibatkan septikemia
dan morbiditas serta mortalitas neonatus yang signifikan.

Kriteria klinis untuk mendefinisikan omfalitis bervariasi berdasarkan


penelitian yang dipublikasikan dari seluruh peneliti di dunia dinilai dari ada atau
tidaknya pus dan tingkat kemerahan.

Deskripsi Manifestasi Klinis Tatalaksana


Omphalitis

Derajat I Terbatas Puntung tali pusat tampak Kultus sekret purulen.


pada tali tidak normal dan tidak Pertimbangkan pemberian
pusat terurus, sekret berbau penicilin G sistemik
dan atau purulen
Derajat II Dengan Eritema periumbilikus, Antibiotik sistemik spektrum
selulitis nyeri superfisial luas, kultur jaringan umbilikus
abdominal monitor tanda keterlibatan
sistemik
Derajat III Dengan Sama seperti kelas I dan II Antibiotik sistemik spektrum
tanda ditambah tanda-tanda luas, kultur darah, pungsi
sistemik sistemik seperti demam, lumbal, kultus umbilikus dan
takikardi, tidak mau kultur urin
menyusu, letargi dan
sebagainya
Derajat IV Dengan Nekrosis umbilikal Antibiotik sistemik spektrum
fascilitis dengan penyebaran luas, bedah debridement
ekstensif lokal, ekimosis agresif
periumbilikal, bullae
krepitus dan tanda
keterlibatan fascia
superfisial dan profunda