Anda di halaman 1dari 20

Vaskularisasi pada Ekstremitas Superior

Yakin Arung Padang


102016028
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta, Indonesia
Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 1151
Email: yakin.2016fk028@civitas.ukrida.ac.id

Abstrak
Sistem kardiovaskular merupakan suatu sistem yang berperan untuk mengedarkan darah ke
seluruh tubuh dengan membawa oksigen dan zat gizi ke semua jaringan tubuh serta mengangkut
semua zat buangan. Sistem sirkulasi darah terdiri atas jantung, pembuluh darah, dan darah.
Pembuluh darah merupakan saluran untuk mengarahkan dan menyebarkan darah dari jantung ke
semua bagian tubuh dan kemudian dikembalikan ke jantung, terdiri dari arteri dan vena. Darah
merupakan suatu media pengangkutan yang mengangkut O2, CO2, metabolit, hormon dan zat-zat
sisa lain ke sel di seluruh tubuh. Mekanisme tubuh untuk menghentikan perdarahan dari semua
kecuali kerusakan-kerusakan yang paling kecil disebut koagulasi.
Kata kunci: Sistem kardiovaskular, pembuluh darah, darah, koagulasi

Abstract
Cardiovascular system is a system that plays a role to circulate blood throughout the body by
bringing oxygen and nutrients to all body tissues and transport all waste substances. The
circulatory system consists of the heart, blood vessels, and blood. Blood vessels are a channel to
direct and spread blood from the heart to all parts of the body and then restored to the heart
composed of arteries and veins. Blood is a transport medium that carries O2, CO2, metabolites,
hormones and other waste substances to cells throughout the body. The mechanism of the body
to stop bleeding from all but the smallest damage is called coagulation.
Key words: Cardiovascular system, blood vessels, blood, coagulation
Pendahuluan
Sistem sirkulasi terdiri atas dua komponen yang terpisah tetapi berhubungan: sistem
vaskularisasi darah (sistem kardiovaskular) yang bertanggung jawab untuk menyediakan oksigen
dan nutrien bagi setiap sel dalam tubuh. Sedangkan sistem vaskularisasi limf bertanggung jawab
untuk mengumpulkan dan mengembalikan cairan ekstraseluler yang berlebih (limf) ke sistem
vaskularisasi darah.1-2 Sistem kardiovaskular merupakan lingkaran tertutup yang melalui
lingkaran yang terjadi secara terus-menerus dalam hidup seseorang. Sirkuit kardiovaskular
menyatukan dua sirkulasi yang berbeda secara struktural dan fungsional. Sirkulasi
kardiovaskular terdiri dari sirkulasi sistemik dan sirkulasi pulmonal. Sirkulasi pulmonal
menerima darah yang miskin oksigen ke paru untuk oksigenisasi dan mengembalikan darah ke
sisi kiri jantung. Darah yang kaya dengan oksigen mengalir melalui sirkulasi sistemik ke
seleuruh tubuh dikembalikan ke sisi kanan jantung.1
Sistem sirkulasi darah

Sistem sirkulasi darah terdiri atas (1) jantung, berfungsi sebagai pompa yang memberi
tekanan pada darah untuk menghasilkan gradien tekanan yang dibutuhkan untuk mengalirkan
darah ke jaringan; (2) pembuluh darah, merupakan saluran untuk mengarahkan dan menyebarkan
darah dari jantung ke semua bagian tubuh dan kemudian dikembalikan ke jantung; (3) darah,
adalah medium pengangkut tempat larutnya bahan-bahan seperti O2, CO2, nutrien, zat sisa,
elektrolit, dan hormon yang akan diangkut jarak-jauh di dalam tubuh.1,3 Secara anatomis, jantung
merupakan organ tunggal, sisi kanan dan kiri jantung berfungsi sebagai dua pompa terpisah.
Jantung dibagi menjadi paru kanan dan kiri serta memiliki empat rongga. Pada bagian atas
terdapat rongga yang disebut atrium. Atrium akan menerima darah yang kembali ke jantung dan
memindahkannya ke rongga bawah yaitu ventrikel yang memompa darah dari jantung. Pembuluh
yang mengembalikan darah dari jaringan ke atrium adalah vena, dan yang membawa darah dari
ventrikel ke jaringan adalah arteri. Kedua jantung dipisahkan oleh septum yang akan mencegah
pencampuran darah dari kedua sisi jantung. Pemisahan ini sangat penting karena separuh kanan
jantung menerima dan memompa darah miskin O2, sementara sisi kiri jantung menerima dan
memompa darah kaya O2.
Struktur makroskopis pembuluh darah arteri ekstremitas superior
Arteria Subclavia
Arteria subclavia berjalan ke atas dari articulatio sternoclavicularis dan kemudian ke
bawah menuju bagian tengah clavicula. Arteria subclavia menyilang di atas costa I untuk
menjadi arteri axillaris, dapat diraba denyutnya pada pangkal trigonum colli posterius.
Sedangkan vena subclavia terletak di belakang clavicula dan tidak dapat diraba.

Arteria Axillaris
Arteria axillaris mulai dari pinggir latera costa I sebagai lanjutan dari Arteri subclavia dan
berakhir pada pinggir bawah muskulus teres major, dimana arteria axillaris melanjutkan diri
sebagai arteria brachialis. Sepanjang perjalanannya, arteria axillaris berhubungan fasciculus-
fasciculus plexus brachialis dan cabang-cabangnya serta diliputi oleh selubung jaringan ikat yang
dinamakan selubung axillaris. Cabang-cabang arteria axillaris memberi darah untuk dinding
thorax dan regio humeri yaitu (1) Arteria subscapularis; (2) Arteria circumflexa humeri anterior;
dan (3) Arteria circumflexsa humeri posterior. (Lihat gambar 1)4

Gambar 1. Regio pectoralis dan axilla


Arteria Brachialis
Arteria Brachialis mulai dari pinggir bawah musculus teres major sebagai lanjutan dari
arteria axillaris. Arteria brachialis merupakan arteri utama untuk lengan atas. Arteri ini berakhir
di depan collum radii dengan bercabang menjadi arteria radialis dan arteria ulnaris. Cabang-
cabang arteria brachialis adalah (1) Rami muskulares untuk ruang anterior lengan atas; (2)
Arteria nutricia untuk humerus; (3) Arteria Profunda brachii. (4) Arteri Collateralis ulnaris
superior; (5) Arteria collateralis ulnaris inferior. (Lihat gambar 2)4

Gambar 2. Arteri utama lengan atas

Arteria Radialis
Arteria radialis adalah cabang terminal yang lebih kecil dari arteria brachialis. Pembuluh
ini mulai dari fossa cubiti setinggi collum radii. Arteria radialis berjalan ke distal dan lateral, di
bawah muskulus brachioradialis dan terletak pada otot-otot kelompok profunda lengan bawah.
Pada bagian distal lengan bawah, arteria radialis terletak di permukaan anterior radius dan hanya
ditutupi oleh kulit dan fascia. Di tempat ini, di lateral arteria radialis terdapat tendo musculi
brachioradialis dan sebelah medialnya terdapat tendo musculus flexor carpi radialis (tempat
untuk memeriksa denyut nadi radialis). Cabang-cabang arteria radialis di lengan bawah (1) Rami
musculares untuk otot di sekitrnya; (2) Rami recurrens, beranastoosis di sekitar fossa cubiti; (3)
Rami palmaris superficialis. (Lihat gambar 3)4

Gambar 3. Lengan bawah dilihat dari anterior

Arteria Ulnaris
Arteria ulnaris adalah cabang terminal arteria brachialis yang lebih besar. Arteri ini
berawal dari fossa cubiti setinggi collum radii. Pembuluh ini berjalan ke distal di dalam ruang
anterior lengan bawah dan masuk ke dalam telapak tangan depan setinaculum musculorum
flexorum bersama nervus ulnaris. Ateri ini berakhir dengan membentuk arcus palmaris
superficialis, biasanya beranastomosis dengan superficialis arteria radialis. Pada bagian proximal
perjalanan arteria ulnaris teretak di bawah sebagian besar otot-otot flexor.5
Di depan retinaculum musculorum flexorum arteria ulnaris terletak tepat lateral terhadap os
pisiforme dan ditutupi hanya oleh kulit dan fascia (tempat untuk memeriksa denyut nadi ulnaris).
Cabang-cabangnya yaitu (1) Rami musculares untuk otot di sekitarnya; (2) Rami reccurens
beranastomosis di sekitar articulatio cubiti; (3) Arteria interroseseus communis yang akan
memberi darah untuk otot-otot yang terletak di depan dan belakang membrana interossea, arteria
tersebut juga mempercabangkan arteria nutricia untuk radius dan ulna. (Lihat gambar 4)4
Gambar 4. Telapak tangan tampak anterior

Struktur makroskopis pembuluh darah vena extremitas superior

Vena extremitas superior dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu superficial dan
profunda.

Vena Cephalica
Vena cephalica berasal dari pinggir lateral arcus venosus dorsale manus kemudian vena
ini naik di dalam fascia superficialis menuju fossa cubiti dan berjalan di depan lengan atas pada
sisi lateral musculus biceps brachii. Pada fossa cubiti vena mediana cubiti menyilang di depan
arteria brachialis dan nervus medianus, tetapi venna ini dipisahkan dengan arteri dan saraf. (Lihat
gambar 5)4
Gambar 5. Anatomi permukaan daerah pergelangan tangan

Vena Basilica
Vena basilica berasal dari pinggir medial arcus benosus dorsale manus dan membelok di
sekitar pinggir medial lengan bawah; kemudian vena ini naik di dalam fascia superfi cialis pada
permukaan posterior lengan bawah. Tepat di bawah siku, pembuluh miring ke depan untuk
mencapai fossa cubiti. Kemudian vena berjalan ke atas di sisi medial musculus biceps brachii,
menembus fascia profunda dekat pertengahan lengan atas untuk bermuara ke venae commitantes
arteria brachialis untuk membentuk vena axillaries. Vena basilica menerima darah dari vena
mediana cubiti dan beberapa aliran vena lainnya dari permukaan medial dan posterior extremitas
superior.5

Vena Mediana Antebrachii


Vena kecil tetapi penting mulai di telapak ttangan dan berjalan ke atas di depan lengan
bawah. Vena ini bermuara ke dalam vena basilica atau vena mediana cubiti atau terbagi dua
menjadi dua cabang, satu bermuara ke vena basilica dan yang satu lagi bermuara ke vena
cephalica.

Vena Commitantes
Vena profunda berjalan bersama dengan arteri yang senama sebagai venae commitantes.
Kedua venae commitantes arteri brachialis bergabung dengan vena basilica pada pinggir bawah
musculus teres major untuk membentuk vena axillaris.
Vena Axillaris
Vena axillaris dibentuk dari gabungan venae commitantes arteriae brachiales dengan vena
basilica pada dinding posterior axilla. Kemudian vena axillaris berjalan ke atas sepanjang sisi
medial arteriae axillaris dan menjadi vena subclavia setinggi pinggir lateral costa I. Vena axillaris
mempunyai beberapa katup. Vena menampung darah dari pembuluh-pembuluh yang namanya
sesuai dengan cabang-cabang arteria axillaris dan merupakan tempat bermuara vena bachilica.

Vena Subclavia
Vena subclavia merupakan sebuah vena di pangkal leher. Vena subclvia merupakan
lanjutan dari vena axillaris mulai dari pinggir lateral costa I. Pembuluh bergabung dengan vena
jugularis interna untuk membentuk vena brachiocephalica dan menerima darah dari vena
jugularis externa. Pembuluh ini sering menjadi tempat muara ductus thoracicus di sisi kiri dan
ductus lympaticus dexter di sisi kanan. (Lihat gambar 6).4

Gambar 6. Vena pada lengan bawah

Struktur mikroskopis pembuluh darah


Dalam mempelajari dinding pembuluh darah hendaknya selalu diingat 3 lapisan utama
yaitu tunika intima, tunika media dan tunika adventisia.

Tunika intima
Intima terdiri atas satu lapis sel endotel, yang ditopang oleh lapisan subendotel jaringan
ikat longgar yang kadang-kadang mengandung sel otot polos. Pada arteri, intima dipisahkan dari
tunika media oleh lamina elastika intena yaitu komponen terluar dari intima lamina ini terdiri
atas elastin, memiliki celah-celah yang memungkinkan terjadi difusi zat untuk memberikan
nutrisi ke sel-sel bagian dinding pembuluh. Karena tekanan darah dan kontraksi pembuluh tidak
terjadi pada saat kematian, tunika intima arteri pada umumnya tampak berombak-ombak pada
sedian jaringan.6

Tunika media
Tunika media terutama terdiri atas lapisan kosentris sel-sel otot polos yang tersusun
secara berpilin. Diantara sel-sel otot polos terdapat serat dan lamela elastin, serat retikulin,
proteoglikan, dan glikopotein dalam jumlah bervariasi. Sel otot polos menjadi sumber sel dari
matriks ekstrasel ini. Pada arteri, tunika media memiliki lamina elastika eksterna yang lebih tipis,
yang memisahkannya dari tunika adventisia.6

Tunika adventisia
Tunika adventisia terutama terdiri atas serat kolagen dan elastin. Kolagen dalam
adventisia berasal dari tipe 1. lapisan adventisia berangsur menyatu dengan jaringan ikat organ
tempat pembuluh darah berada.
pembuluh darah pada arteri digolongkan sesuai dengan diameternya menjadi arteriol,
arteri berdiameter sedang dan arteri berdiameter besar.6

Arteriol
Arteriol umumnya berdiameter kurang dari 0,5 mm dan memiliki lumen yang relatif
sempit. Lapisan subendotel tersebut sangat tipis. Pada arteriol yang sangat kecil, tidak terdapat
lamina elastiksitas interna dan tunika media. Umumnya terdiri atas satu atau 2 lapis sel otot polos
yang melingkar, tidak ada lamina elastika eksterna. Diatas ateriol terdapat arteri kecil dengan
tunika media yang lebih berkembang, dan lumennya lebih besar dari lumen arteriol. Umumnya
berlumen bundar atau agak lonjong. Tunika intima terdiri atas selapis sel endotel dan lapisan
subendotel. Dibawah lapisan ini terdapat tunika elastika interna yang terdiri atas serat elastin
yang berjalan berkelok-kelok melingkari dinding pembuluh. Tunika elastika interna lebih jelas
terlihat pada sajian dengan pulasan orcein. Tunika medianya terdiri atas beberapa lapis serat otot
polos tersusun melingkari dinding pembuluh.6
Arteri sedang
Arteri sedang dapat mengendalikan banyaknya darah yang menuju organ dengan
mengontraksi atau merelaksasi sel-sel otot polos tunika media. Arteri sedang berlumen bulat atau
lonjong, dindingnya tampak tebal untuk ukuran lumennya. Tunika intima terdiri atas selapis sel
endotel dengan jaringan ikat yang tipis dibawahnya. Seperti pada arteriol, sel endotel tampak
berderet mengikuti kelak-kelok mengelilingi lumen. Tunika medianya tebal, terdiri atas banyak
otot polos yang tersusun melingkar. Dalam tunika media sudah dapat ditemukan kapiler darah
yang mendarahi tunika media yang disebut vasa vasorum. Tunika elastika eksterna juga jelas
terlihat, tetapi tidak membentuk lapisan sepadat tunika elastika interna. Unsur serat elastin
pembuluh ini tidak saja terdapat pada kedua lapisan tambahan ini, tetapi terdapat juga diantara
serat otot polos tunika media. Serat-serat ini dapat dilihat dengan mudah pada sajian pulasan
orcein. Tunika advebtisia terdiri atas jaringan ikat jarang dengan vasa vasorum yang lebih jelas.4

Arteri besar
Arteri besar membantu menstabilkan aliran darah. Arteri besar mencakup aorta beseta
cabang-cabang besarnya. Warnanya kekuningan karena banyaknya elastin dibagian medianya.
Intima lebih tebal daripada lapisan intima diarteri sedang.lamina elastika interna , meskipun ada,
tidak jelas terlihat karena serupa dengan lamina-lamina elastis dilapisan media. Tunika media
terdiri atas serat-serat elastin dan sederetan lamina elastis yang berlubang-lubang dan tersusun
melingkar, yang jumlahnya bertambah dengan meningkatnya usia. Diantara lamina-lamina
elastis terdapat sel-sel otot polos, serat retikulin, proteoglikan dan glikoprotein. Tunuka
adventisia relatif kurang berkembang. Lamina elastis membantu fungsi penting, yaitu agar
influks darah lebih merata. Selama ventrikel berkontraksi( sistol), lamina elastika arteri besar
teregang dan perubahan tekanan berkurang. Selama ventrikel berelaksasi (diastol), tekanan
ventrikel menurun ke nilai yang rendah, tetapi daya elastis arteri besar membantu
mempertahankan tekanan arteriol. Akibatya tekanan arteriol dan kecepatan aliran darah menurun
dan makin tidak bervariasi saat darah menjauhi jantung.6

Vena kecil

Diameter venula makin lama akan membesar menjadi vena kecil. Sel otot polos mula-
mula selapis, kemudian bertambah banyak mengelilingi endotel.
Vena sedang
Sebagian besar vena berukuran kecil atau sedang. Dengan diameter diantaranya 1-9 mm.
Vena sedang berdinding tipis daripada arteri yang setaraf, tetapi lumennya jauh lebih besar dan
biasanya bergelombang, penampangnya mirip ban kempis. Tunika intiama sama seperti arteri
sedang, tetapi tunika elastika interna tidak ada. Tunika media lebih tipis daripada arteri sedang,
juga mempunyai vasa vasorum , letaknya pada daerah yang lebih dalam, lebih dekat lumen.
Tunika elastika eksterna tidak ada. Seperti pembuluh lainnya, tunika adventisia terdiri atas
jaringan ikat jarang.6

Komponen dan struktur mikroskopik darah


Darah merupakan suatu jaringan yang terdiri atas eritrosit(sel darah merah), leukosit(sel
darah putih), dan trombosit(keping darah) yang terendam dalam plasma darah cair. Darah
beredar dalam sistem vaskular, mengangkut oksigen dari paru-paru dan nutrien dari saluran cerna
ke jaringan lain di seluruh tubuh. Darah juga membawa karbondioksida dari jaringan ke paru-
paru dan limbah bernitrogen ke ginjal untuk dikeluarkan dari tubuh. Darah juga berperan penting
dalam fungsi integratif kelenjar endokrin dengan membawa hormon dari asalnya ke sel-sel
sasaran jauh.7
Volume darah manusia kurang lebih 5 liter, merupakan 7% dari berat badan. Eritrosit
sendiri mencakup 45% dari volume ini, leukosit dan trombosit 1%, dan sisanya adalah plasma
darah, yaitu cairan kuning bening yang merupakan matriks ekstrasel jaringan ini.7

Plasma darah
Plasma darah adalah matriks cair yang menampung sel-sel darah dan mengandung sejumlah
protein penting secara fisiologis. Bila darah membeku dan bekuan itu mengkerut, beberapa
protein plasma besar terperangkap dalam bekuan darah. Cairan yang tertinggal disebut serum
darah. Kategori utama dari protein plasma adalah albumin, globulin, fibrinogen dan komplemen.7

Eritrosit
Eritrosit adalah korpuskel-korpuskel kecil yang member warna merah pada darah. Jumlah
normal eritrosit kira-kira 5,4 juta per mm 3darah pada pria dan 4.8 pada wanita. Jumlah ini sedikit
meningkat pada dataran tinggi. Eritrosit ini memiliki bentuk yang sangat khas. Eritrosit
merupakan cakram bikonkaf berdiameter sekitar 8 mikrometer, ketebalan maksimum 2
mikrometer, dengan luas permukaan kira-kira 140 mikrometer persegi. Bentuk eritrosit yang
bikonkaf sangat sesuai dengan fungsinya karena dengan bentuk ini eritrosit memberi luas
permukaan 20-30% lebih besar dibanding dengan isinya daripada berbentuk bulat. Luas
permukaan yang lebih besar ini memudahkan dan mempercepat tercapainya saturasi dengan
oksigen dari hemoglobinnya.7 Hemoglobin ditemukan hanya di sel darah merah. Molekul
hemoglobin memiliki dua bagian yaitu: Globin, suatu protein yang terbentuk dari empat rantai
polipeptida yang sangat berlipat-lipat; Gugus hem, yaitu empat gugus nonprotein yang
mengandung besi, dengan masing-masing terikat ke salah satu polipeptida di atas. Masing-
masing dari keempat atom besi dapat berikatan secara reversibel dengan satu molekul O 2 .
Karena O2 tidak mudah larut dalam plasma maka 98,5% O2 yang terangkut dalam darah terikat
ke hemoglobin. Hemoglobin adalah suatu pigmen yang berwarna secara alami. Karena
kandungan besinya maka hemoglobin tampak kemerahan jika berikatan dengan O 2 dan
keungunan jika mengalami deoksigenasi. Karena itu, darah arteri yang teroksigenasi penuh akan
berwarna merah dan darah vena yang telah kehilangan sebagian dari kandungan O2 nya akan
memiliki rona kebiruan.8

Leukosit
Leukosit atau sel darah putih adalah satuan mobile pada sistem pertahanan imun tubuh.
Imunitas adalah kemampuan tubuh menahan atau menyingkirkan benda asing yang berpotensi
merugikan atau sel abnormal. Leukosit dan turunan-turunannya, bersama dengan berbagai
protein plasma, membentuk sistem imun, suatu sistem pertahanan internal yang mengenali dan
menghancurkan atau menetralkan benda-benda asing dalam tubuh. Jumlah total leukosit dalam
keadaan normal berkisar dari 5 juta hingga 10 juta per milimeter darah.Leukosit merupakan sel
darah paling sedikit jumlahnya(sekitar 1 sel darah putih untuk 700 sel darah merah).3
Berbeda dengan sel darah merah, leukosit tidak memiliki hemoglobin sehingga tidak
berwarna(putih) kecuali jika secara spesifik diwarnai agar dapat dilihat dengan mikroskop. Di
dalam darah terdapat 5 jenis leukosit yang berbeda, masing-masing dengan struktur dan fungsi
tersendiri. Sel-sel ini sedikit lebih besar dari eritrosit. 5 jenis leukosit dibagi menjadi 2 jenis
yaitu: (a) Granulosit (bergranula) Neutrofil, Eosinofil dan Basofil; (b) Agranulosit (tidak
bergranula) Monosit dan Limfosit.8

Neutrofil
Neutrofil memiliki nukleus yang terdiri dari dua sampai lima lobus(ruang). Sel-sel ini
berukuran sekitar 8 mikrometer dalam keadaan segar. Neutrofil bersifat fagosit dengan cara
masuk ke jaringan yang terinfeksi. Sebuah sel neutrofil dapat memfagositosis 5-20 bakteri
sebelum sel neutrofil menjadi inaktif dan mati. Neutrofil hanya aktif sekitar 6-20 jam.7

Basofil
Basofil memiliki nukleus berbentuk huruf S dan bersifat fagosit. Basofil melepaskan
heparin dalam darah. Heparin adalah mukopolisakarida yang banyak terdapat dalam hati dan
paru-paru. Heparin juga berfungsi dalam pembekuan darah. Selain heparin, basofil juga
melepaskan histamin, yaitu suatu senyawa yang dibebeskan sebagai reaksi terhadap antigen yang
sesuai.7

Eosinofil
Eosinofil berbentuk seperti bola dan berukuran 9 mikrometer dalam keadaan segar.
Eosinofil memiliki nukleus yang terdiri dari dua lobus dan bersifat fagosit namun berbeda
dengan neutrofil dan basofil, daya fagositosis eosinofil lemah. Eosinofil memiliki kecenderungan
untuk berkumpul dalam suatu jaringan yang mengalami reaksi alergi. Eosinofil juga dianggap
dapat mendetoksifikasi toksin penyebab radang.7

Monosit
Monosit memiliki satu nukleus besar dan berbentuk tapal kuda atau ginjal. Monosit
berdiameter 12-20 mikrometer. Monosit dapat berpindah dari aliran darah ke jaringan. Di dalam
jaringan, monosit membesar dan bersifat fagosit menjadi makrofag. Makrofag ini bersama
neutrofil merupakan leukosit fagosit utama, paling efektif dan berumur panjang.7

Limfosit
Limfosit berbentuk seperti bola dengan ukuran diameter 6-14 mikrometer. Limfosit dibentuk
di sumsum tulang, sedangkan pada janin dibuat di hati. Terdapat 2 jenis sel limfosit, yaitu
limfosit B dan limfosit T. Limfosit yang tetap berada di sumsum tulang berkembang menjadi
limfosit B dan limfosit yang berpindah dari sumsum tulang ke timus berkembang menjadi sel T.
Limfosit B berperan dalam pembentukan antibodi. Sebaliknya, sel T tidak menghasilkan
antibodi. Limfosit T memiliki berbagai fungsi, misalnya limfosit sitotoksik-T berfungsi untuk
menghancurkan sel yang terserang virus.7
Trombosit
Trombosit adalah badan kecil tanpa nukleus dan tak berwarna yang ditemukan dalam
darah semua mamalia. Badan kecil ini berfungsi untuk pembekuan darah pada tempat cedera
pembuluh darah, dan berfungsi mencegah kehilangan darah yang berlebihan. Trombosit adalah
cakram bikonveks tipis, berdiameter 2-3 mikrometer, yang bulat atau lonjong bila dilihat dari
atas dan fusiform bila dilihat dari samping. Pada manusia, jumlahnya berkisar antara 150.000
sampai 350.000 per mm3 darah.7
Trombosit dibentuk dalam sumsum tulang melalui fragmentasi sitoplasma megakariosit,
yaitu sel besar dengan banyak nukleus. Trombosit terus dibentuk dan dilepaskan ke dalam darah
dimana trombosit bertahan hidup 9 sampai 10 hari.7
Trombosit yang beredar secara tetap berpatroli dalam sistem vaskular. Biasanya trombosit
tidak saling melekat maupun melekat pada sel darah lain, tetapi jika ada endotel yang cedera,
trombosit menjadi lengket pada endotel tersebut dan melekat satu sama lain mengawali
pembekuan darah, mengatasi darah yang hilang dan melakukan pemulihan.7

Mekanisme pembekuan darah


Koagulasi atau pembekuan darah adalah transformasi darah dari cairan menjadi gel
padat.8 Pembekuan ini melibatkan perubahan fibrinogen, makrofag yang dapat larut yang terdiri
dari ranti-rantai polipeptida, dan menjadi monomer fibrin dengan kerja trombin enzim
proteolitik. Pembentukan bekuan di atas sumbat trombosit memperkuat dan menopang sumbat,
meningkatkan tambalan yang menutupi kerusakan pembuluh. Selain itu, sewaktu darah di sekitar
kerusakan pembuluh memadat, darah tidak lagi dapat mengalir. Pembekuan darah adalah proses
hemostatik tubuh yang paling kuat. Mekanisme ini diperlukan untuk menghentikan perdarahan
dari semua kecuali kerusakan-kerusakan yang paling kecil. Langkah terakhir dalam
pembentukan bekuan darah adalah perubahan fibrinogen, suatu protein plasma yang dapat larut
dan berukuran besar yang dihasilkan oleh hati dan secara normal selalu ada di dalam plasma,
menjadi fibrin, suatu molekul tak larut berbentuk benang. Perubahan menjadi fibrin ini
dikatalisis oleh enzim trombin di tempat cedera. Molekul-molekui fibrin melekat ke permukaan
pembuluh yang rusak, membentuk jala longgar yang menjerat sel-sel darah, termasuk agregat
trombosit. Massa yang terbentuk, atau bekuan biasanya tampak merah karena banyaknya SDM
yang terperangkap, tetapi bahan dasar bekuan adalah fibrin yang berasal dari plasma. Kecuali
trombosit, yang berperan penting dalam menyebabkan perubahan fibrinogen menjadi fibrin,
pembekuan dapat berlangsung tanpa adanya sel-sel darah lain.9,10
Jala fibrin awal ini relatif lemah, karena untai-untai fibrin saling menjalin secara longgar.
Namun, dengan cepat terbentuk ikatan kimia anrara untai-untai fibrin yang berdekatan untuk
memperkuat dan menstabilkan jala bekuan ini. Proses pembentukan ikatan silang ini dikatalisis
oleh suatu faktor pembekuan yang dikenal sebagai faktor XIII (fibrin-stabilizing factor), yang
secara normal terdapat dalam plasma dalam bentuk inaktif.11

Peran trombin
Trombin, selain mengubah fibrinogen menjadi fibrin juga mengaktifkan faktor XIII untuk
menstabilkan jala fibrin yang terbentuk, bekerja melalui mekanisme umpan balik positif untuk
mempermudah pembentukan dirinya, dan meningkatkan agregasi trombosit, yang pada saatnya
penting bagi proses pembekuan darah. Karena kerja trombin mengubah molekul-molekul
fibrinogen yang selalu ada dalam plasma menjadi bekuan darah, dalam keadaan normal
trombosit seharusnya tidak ada dalam plasma kecuali disekitar pembuluh yang rusak. Jika ada,
darah akan selalu mengalami koagulasi. Trombin dalam keadaan normal tidak terdapat di dalam
plasma tetapi segera tersedia untuk memicu pembentukan fibrin. Saat pembuluh cedera, trombin
berada dalam plasmadalam bentuk prekursor inaktif yang dinamai protrombin yang diubah
menjadi trombin ketika dibutuhkan pembekuan darah.8,10(Lihat gambar 7).
Gambar 7. Mekanisme pembekuan darah

Faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah


Jantung
Sistem kardiovaskuler mengalirkan darah ke seluruh bagian tubuh dan menyalurkannya
kembali ke jantung, yaitu dengan cara jantung berkontraksi dan berelaksasi. Perubahan
hemodinamik dalam sistem tersebut menyebabkan perubahan tekanan dan mengakibatkan
terjadinya peristiwa aliran darah di dalam sistem kardiovaskular tersebut.8

Jantung dapat mempengaruhi tekanan darah karena berhubungan dengan curah jantung.
Curah jantung dapat berubah ubah bergantung pada tingkat aktivitas seseorang, usia, tingkat
metabolisme tubuh dan ukuran tubuh. Ada dua faktor yang mempengaruhi curah jantung, yaitu
isi sekuncup dan denyut jantung. Frekuensi denyut jantung dipengaruhi oleh rangsang saraf
simpatis dan parasimpatis. Rangsang pada saraf simpatis akan meningkatkan frekuensi denyut
jantung serta meningkatkan kontraktilitas miokardium sehingga akan menambah isi sekuncup.
Sedangkan hasil sebaliknya didapat pada saraf parasimpatis. Menurut Frank Starling, apabila
jumlah darah yang mengalir ke jantung meningkat, maka akan menyebabkan dinding ruang
jantung meregang sehingga otot berkontraksi lebih kuat lagi. Oleh karena itu, semua
penambahan darah yang kembali ke jantung akan dipompa masuk lagi ke sirkulasi secara
otomatis.8,12

Tahanan perifer
Tahanan adalah penghalang terhadap aliran darah dalam pembuluh, tidak dapat diukur
secara langsung, tetapi dapat dihitung dari pengukuran aliran darah dan perbedaan tekanan dalam
pembuluh. Sedangkan tahanan perifer total adalah keseluruhan tahanan yang terdapat di sirkulasi
sistemik. Pengaruh tahanan perifer pada tekanan darah disebabkan oleh perubahan diameter
pembuluh darah tepi, terutama pada arteriol. Perubahan pada diameter arteriol akan
mengakibatkan perubahan pada tahanan perifer total sehingga terjadi perubahan tekanan darah.
Karena tekanan darah dapat ditentukan oleh perkalian curah jantung dengan tahanan perifer.
Adanya perubahan pada salah satu dari kedua faktor tersebut dapat mengubah nilai tekanan
darah.8-12

Volume darah
Volume darah dalam tubuh dipengaruhi oleh volume cairan ekstraseluler, sehingga
peningkatan volume cairan ekstraseluler akan meningkatkan volume darah. Peningkatan volume
darah akan meningkatkan tekanan pengisian sirkulasi rata-rata yang kemudian akan
meningkatkan aliran balik darah vena ke jantung sehingga menyebabkan peningkatan curah
jantung. Peningkatan curah jantung ini pada akhirnya dapat meningkatkan tekanan darah. Bila
kehilangan darah terlalu banyak, maka tekanan darah menurun, seperti pada kasus perdarahan.
Bila perdarahan tidak terlalu banyak maka dengan penambahan cairan atau darah jumlah darah
akan kembali normal. Sebaliknya, bila perdarahan banyak dan penambahan cairan atau darah
tidak dapat mengembalikan volume darah, maka tekanan darah tidak akan meningkat kembali
sehingga organ - organ vital akan kekurangan darah.8-12

Viskositas darah
Viskositas darah adalah kekentalan darah sebagai zat cair yang banyak mengandung
unsur kimia. Viskositas darah dipengaruhi oleh hematokrit sehingga peningkatan hematokrit
akan meningkatkan viskositas darah. Bila viskositas darah meningkat maka diperlukan tenaga
yang lebih besar untuk memompa darah pada jarak tertentu dan alirannya akan lebih lambat. Hal
ini disebabkan karena gesekan yang terjadi antara berbagai lapisan darah dan pembuluhnya
meningkat sehingga tekanan darah juga meningkat. Gesekan ini menentukan ukuran koefisien
angkat viskositas, sebaliknya bila viskositas darah menurun, maka gesekan antara lapisan darah
dan pembuluhnya akan menurun dan tekanan darah akan turun.8-12

Distensibilitas dinding pembuluh darah


Ciri khas sistem vaskular yang penting adalah semua pembuluh darah bersifat
distensibilitas, misalnya arteriol akan berdilatasi dan menurunkan tegangannya ketika tekanan di
dalam arteriol meningkat. Hal ini mengakibatkan bila terjadi peningkatan aliran darah berarti
disebabkan tidak hanya peningkatan tekanan darah tetapi juga akibat penurunan tahanan. Peran
penting lain distensibilitas vaskular adalah dalam sistem sirkulasi, contohnya yaitu sifat
distensibilitas arteri memungkinkan vaskular untuk menyalurkan curah jantung yang bersifat
pulsatil dan merata-ratakan pulsasi tekanan. Hal ini menimbulkan aliran darah yang berlangsung
terus-menerus dan hampir lancar sempurna melalui pembuluh darah yang sangat kecil dalam
jaringan. Pembuluh darah yang memiliki distensibilitas tertinggi yaitu vena, bahkan dengan
peningkatan tekanan yang sedikit saja sudah dapat menampung 0,5-1 liter darah tambahan, oleh
karena itu, vena menyediakan fungsi penampung untuk menyimpan sejumlah besar darah yang
dapat digunakan kapan saja dibutuhkan di manapun dalam sirkulasi.8-12

Tempat pemeriksaan denyut nadi


Denyut nadi adalah getaran/ denyut darah didalam pembuluh darah arteri akibat kontraksi
ventrikel kiri jantung. Denyut ini dapat dirasakan dengan palpasi yaitu dengan menggunakan
ujung jari tangan disepanjang jalannya pembuluh darah arteri, terutama pada tempat-tempat
tonjolan tulang dengan sedikit menekan di atas pembuluh darah arteri. Berikut ini adalah
beberapa lokai yang sering dilakukan pemeriksaan tekanan darah: (a) Pemeriksaan Denyut Arteri
Brakialis. Untuk menguji arteri brakialis pada lengan kanan, pemeriksa menopang lengan pasien
dengan tangan kirinya. Posisi lengan atas pasien abduksi, siku sedikit tertekuk dan lengan bawah
diputar keluar (eksternal rotation). Pemeriksa dapat memulai meraba denyut nadi pada anteior
siku, sepanjang perjalanan arteri yaitu di medial ada tendon biceps dan lateral
dengan epikondilus humerus medialis; (b) Pemeriksaan Denyut Arteri Radialis. Untuk arteri
radialis, lengan bawah pasien harus ditopang di salah satu tangan pemeriksa dan tangan yang lain
digunakan untuk meraba pada sepanjang aspek radialvolar di pergelangan tangan pasien. Hasil
terbaik didapat dengan menekuk jari di distal radius, dari area punggung ke arah aspek volar.
Dengan ujung jari yang pertama, kedua, dan jari ketiga longitudinal dari posisi arteri; (c)
Pemeriksaan Denyut Aorta Abdominalis. Aorta abdominalis merupakan struktur retroperitoneal
yang berada di perut bagian atas. Dan dapat teraba dengan menerapkan tekanan kuat oleh jari-
jari rata dan rapat dari kedua tangan untuk menekan epigastrium ke kolom vertebral; (d)
Pemeriksaan Denyut Arteri Femoralis. Umumnya Arteri femoralis dari bawah ligamen inguinal
naik ke atas di paha atas pada sepertiga jarak dari pubis ke tulang iliaka superior anterior.
Posisi terbaik dengan pemeriksa berdiri di sisi ipsilateral pasien dan ujung jari tangan menekan
kuat ke pangkal paha; (e) Pemeriksaan Denyut Arteri Poplitea. Arteri poplitea secara vertikal
melalui bagian dalam dari ruang poplitea. Mungkin sulit atau tidak mungkin untuk melakukan
palpasi pada individu obesitas atau sangat berotot. Umumnya denyut dari arteri ini dapat diraba
dengan pasien dalam posisi terlentang dan tangan pemeriksa mengelilingi dan menopang lutut
dari setiap sisi. Denyut terdeteksi dengan menekan dalam ke ruang poplitea dengan ibu jari
menopang di atas; (f) Pemeriksaan Denyut Arteri Tibialis Posterior. Arteri tibialis posterior
terletak sedikit posterior dari maleolus medial. Hal ini dapat dirasakan dengan melengkungkan
jari-jari tangan pemeriksa di sekitar anterior pergelangan kaki. Ibu jari diterapkan di sisi
berlawanan. Posisi menggenggam dapat memberikan stabilitas. Obesitas atau edema dapat
mencegah deteksi denyut nadi; (g) Pemeriksaan Denyut Arteri Dorsalis Pedis. Arteri dorsalis
pedis diperiksa dengan pasien dalam posisi berbaring dan pergelangan kaki santai. Pemeriksa
berdiri di kaki meja periksa dan menempatkan jari melintang di dorsum kaki dekat pergelangan
kaki. Arteri biasanya terletak di dekat pusat sumbu panjang kaki, lateral dari tendon hallucis
ekstensor

Kesimpulan
Sistem sirkulasi terdiri atas dua komponen yaitu sistem vaskularisasi darah (sistem
kardiovaskular) yang bertanggung jawab untuk menyediakan oksigen dan nutrien bagi setiap sel
dalam tubuh serta sistem vaskularisasi limf bertanggung jawab untuk mengumpulkan limf yang
berlebih ke sistem vaskularisasi darah. Darah tersusun dari plasma darah dan sel-sel darah.
Faktor-faktor fisiologis utama yang dapat mempengaruhi tekanan darah adalah frekuensi dan
kekuatan kontraksi jantung, resistensi perifer, elastisitas arteri besar., viskositas darah, dan
hormon. Proses hemostatik tubuh yang diperlukan untuk menghentikan perdarahan dari semua
kecuali kerusakan-kerusakan yang paling kecil adalah koagulasi yang melibatkan peran dari
trombosit.

Daftar pustaka

1. Gunawijaya FA. Atlas histologi berwarna. Edisi ke-5. Diterjemahkan dari Gartner LP. Jakarta:
Aksara; 2012.

2. Barret KE, Barman SM. Buku ajar fisiologi kedokteran ganong. Edisi ke-24. Jakarta: EGC;
2015.

3. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Jakarta: EGC; 2012. Hal.326-418.

4. Liliana Sugiarto. Anatomi klinis berdasarkan sistem. Diterjemahkan dari Richard SS. Clinical
anatomy by system. Jakarta: EGC; 2011.

5. Wibowo DS. Anatomi tubuh manusia. Jakarta: Penerbit Grasindo; 2009. Hal.52-67.
6. Junqueira LC, Caneiro J.Histologi dasar: teks dan atlas.10 th ed.Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2007.

7. Bloom, Fawcet. Buku ajar histologi. Edisi 12. Jakarta: EGC, 2002. Hal. 97-117.
8. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi 6. Jakarta: EGC, 2011. Hal. 421-44.
9. Barret KE, Barman SM. Buku ajar fisiologi kedokteran ganong. Edisi ke-24. Jakarta: EGC;
2015.

10. Tambayong J. Patofisiologi. Jakarta: EGC; 2000.

11. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2004. Hal.218-47.

12. Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran. 11 th ed. Jakarta: EGC; 2008. Hal.178-
87.

13. Burnside, Glynn M. Adams diagnosis fisik. 17th ed. Jakarta: EGC; 2007. Hal.239