Anda di halaman 1dari 18

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Global Positioning System (GPS)

Global Positioning System (GPS) merupakan sebuah sistem navigasi

satelit yang digunakan untuk menentukan lokasi yang tepat pada permukaan

bumi. Ada dua buah kategori penggunaan frekuensi yang berbeda pada GPS.

Frekuensi yang biasa digunakan oleh masyarakat sipil pada umumnya adalah

1575,42 MHz (L1) Sedangkan untuk frekuensi 1227,6 MHz (L2) digunakan untuk

tujuan militer dan bukan untuk umum[2].

Sinyal yang ditransmisikan oleh satelit merupakan polarisasi melingkar ke

kanan atau Right Handed Circular Polarization (RHCP), oleh sebab itu antena

pada perangkat pengguna juga harus menggunakan RHCP agar memiliki

penerimaan sinyal yang kuat dan baik. Kemurnian polarisasi melingkar memiliki

pengaruh langsung dalam menerima gain dari antena.

2.2 Konsep Dasar Radio

Radio adalah teknologi yang digunakan untuk pengiriman sinyal dengan

cara modulasi dan radiasi gelombang elektromagnetik. Gelombang ini melintas

dan merambat lewat udara dan juga dapat merambat lewat ruang angkasa yang

hampa udara, karena gelombang ini tidak memerlukan medium pengangkut

6
http://digilib.mercubuana.ac.id/
7

(seperti molekul udara). Pada bagian ini akan dibahas beberapa konsep

radio, yaitu panjang gelombang dan frekuensi.

2.2.1 Panjang Gelombang dan Frekuensi

Panjang gelombang merupakan potongan gelombang yang panjangnya

satu gelombang dan sepanjang lintasannya akan terus terulang dalam bentuk-

bentuk yang selalu sama sepanjang masa. Dalam frekuensi radio, panjang

gelombang biasanya dinyatakan dalam satuan meter, centimeter atau milimeter.

Frekuensi adalah ukuran jumlah putaran per peristiwa dalam selang waktu

tertentu, dinyatakan dalam satuan Hertz (Hz). Sebagai contoh, bila terdapat

peristiwa yang terjadi satu kali per detik, maka frekuensinya adalah 1 Hz.

Semakin kecil nilai frekuensi maka semakin besar panjang gelombangnya dan

sebaliknya. Hubungan antara frekuensi dan panjang gelombang dinyatakan dalam

persamaan 2.1 berikut [2]:

(2.1)

Dimana :

= panjang gelombang

f = frekuensi (Hz)

c = kecepatan cahaya (3 x 108 m/s)

2.3 Konsep Dasar Antena

Antena merupakan salah satu komponen penting dalam sistem komunikasi

nirkabel. Antena berfungsi untuk memancarkan dan menerima gelombang

elektromagnetik dari media kabel ke media udara dan sebaliknya. Untuk dapat

http://digilib.mercubuana.ac.id/
8

memancarkan dan menerima gelombang elektromagnetik dengan baik, maka

antena harus memiliki sifat yang sesuai dengan kabel pencatunya. Sistem kerja

antena dapat dilihat pada Gambar 2.1. berikut :

Gambar 2.1 Sistem Kerja Antena [2]

Untuk mengetahui performansi suatu antena, maka diperlukan

pendefinisian berbagai parameter antena. Berikut ini adalah beberapa parameter

dalam perancangan antena.

2.3.1 Pola Radiasi

Pola radiasi (radiation pattern) suatu antena adalah gambaran sifat radiasi,

pancaran maupun penerimaan sinyal suatu antena pada medan jauh sebagai fungsi

arah atau sudut. Pola radiasi dapat terlihat pada Gambar 2.2. berikut ini :

http://digilib.mercubuana.ac.id/
9

Gambar 2.2. Pola Radiasi Antena [3]

Berdasarkan Gambar 2.2. ada beberapa bagian penting dari pola radiasi

antena, yaitu :

a. Main Lobe : berkas radiasi yang memiliki pancaran radiasi antena yang

terbesar.

b. Minor Lobe : berkas radiasi yang memancarkan radiasi dengan

pancaran radiasi lebih rendah dan arah yang berlainan dengan main

lobe. Minor lobe terdiri dari dua macam, yaitu:

Back Lobe : Minor lobe yang berlawanan arah dengan main lobe.

Side Lobe : Minor lobe yang terletak di samping main lobe.

c. Half Power Beam Width (HPBW) : sudut yang dibentuk oleh titik yang

memiliki daya setengah dari daya pancar maksimum.

Adapun macam-macam pola radiasi antena adalah sebagai berikut :

a. Omnidirectional : pola radiasi yang memancarkan radiasi ke segala

arah dengan daya yang sama.

b. Unidirectional : pola radiasi yang memancarkan radiasi maksimum ke

satu arah.

http://digilib.mercubuana.ac.id/
10

2.3.2 Gain

Ada dua jenis parameter penguatan (gain) yaitu absolute gain dan relative

gain. Absolute gain pada sebuah antena didefinisikan sebagai perbandingan antara

intensitas pada arah tertentu dengan intensitas radiasi yang diperoleh jika daya

yang diterima oleh antena teradiasi secara isotropic. Intensitas radiasi yang

berhubungan dengan daya yang diradiasikan secara isotropic sama dengan daya

yang diterima oleh antena (P in) dibagi dengan 4. Absolute gain dapat dihitung

dengan persamaan 2.2 berikut [2]:

(2.2)

Selain absolute gain, terdapat pula relative gain. Relative gain

didefinisikan sebagai perbandingan antara perolehan daya pada sebuah arah

dengan perolehan daya pada antena referensi pada arah yang direferensikan juga.

Daya masukkan harus sama diantara kedua antena itu. Akan tetapi, antena

referensi merupakan sumber isotropic yang loseless. Secara rumus dapat

dihubungkan dengan persamaan 2.3 berikut [2]:

(2.3)

Jika arah tidak ditentukan, maka perolehan daya biasanya diperoleh dari

arah radiasi maksimum.

2.3.3 Bandwidth

Bandwidth suatu antena didefinisikan sebagai rentang frekuensi dimana

kinerja antena yang berhubungan dengan beberapa karakteristik (seperti

impedansi masukan, pola radiasi, beamwidth, polarisasi, gain, VSWR dan return

http://digilib.mercubuana.ac.id/
11

loss) memenuhi spesifikasi standar. Bandwidth dapat dilihat pada Gambar 2.3.

berikut [2] :

Gambar 2.3. Bandwidth

Bandwidth dapat dihitung dengan menggunakan persamaan 2.4. berikut ini [2]:

(2.4)

Dimana :

f2 = frekuensi tertinggi

f1 = frekuensi terendah

fc = frekuensi tengah

Ada beberapa jenis bandwidth, yaitu :

a. Pattern Bandwidth, yaitu rentang frekuensi di mana beamwidth, sidelobe,

atau gain, yang bervariasi menurut frekuensi memenuhi nilai tertentu. Nilai

tersebut harus ditentukan di awal perancangan antena.

b. Impedance Bandwidth, yaitu rentang frekuensi di mana antena berada pada

keadaan yang sesuai dengan saluran pencatu. Hal ini terjadi karena

impedansi dari elemen antena bervariasi nilainya bergantung pada nilai

http://digilib.mercubuana.ac.id/
12

frekuensi. Nilai matching ini dapat dilihat dari koefisien refleksi dan

VSWR. Pada umumnya nilai koefisien refleksi dan VSWR yang masih

dianggap baik masing-masing adalah kurang dari -10 dB dan 2 dB.

2.3.4 Voltage Standing Wave Ratio (VSWR)

VSWR adalah perbandingan antara amplitude gelombang berdiri (standing

wave) maksimum (|V|max) dengan minimum (|V|min). Pada saluran transmisi ada

dua komponen gelombang tegangan, yaitu tegangan yang dikirimkan (Vo+) dan

tegangan yang direfleksikan (Vo-). Perbandingan antara tegangan yang

direfleksikan dengan tegangan yang dikirimkan disebut sebagai koefisien refleksi

tegangan () yang dapat dihitung menggunakan persamaan 2.5 berikut [2]:

(2.5)

Dengan ZL adalah impedansi beban (load) dan Z0 adalah impedansi

saluran. Koefisien refleksi tegangan () memiliki nilai kompleks, yang

memperlihatkan besarnya magnitude dan fasa dari refleksi. Untuk beberapa kasus,

ketika bagian imajiner dari adalah nol, maka :

= -1 : refleksi negatif maksimum, ketika saluran terhubung singkat.

= 0 : tidak ada refleksi, ketika saluran dalam keadaan matched.

=1 : refleksi positif maksimum, ketika saluran dalam rangkaian

terbuka.

Sedangkan rumus untuk mencari VSWR yaitu dengan menggunakan

persamaan 2.6 berikut [2]:

(2.6)

http://digilib.mercubuana.ac.id/
13

Kondisi yang paling baik adalah ketika VSWR bernilai 1 yang berarti

tidak ada refleksi ketika saluran dalam keadaan matching sempurna. Namun,

kondisi ini pada praktiknya sulit untuk didapatkan. Pada umumnya nilai VSWR

yang dianggap masih baik adalah VSWR 2.

2.3.5 Return Loss

Return Loss adalah perbandingan antara amplitude dari gelombang yang

direfleksikan terhadap amplitude gelombang yang dikirimkan. Return Loss

digambarkan sebagai peningkatan amplitude dari gelombang yang direfleksikan

(Vo) dibanding dengan gelombang yang dikirim (Vo+). Return Loss dapat terjadi

akibat adanya diskontinuitas diantara saluran transmisi dengan impedansi

masukan beban (antena). Pada rangkaian gelombang mikro yang memiliki

diskontinuitas (mismatched), besarnya return loss bervariasi tergantung pada

frekuensi. Return loss dapat dicari menggunakan persamaan 2.7 berikut [2]:

(2.7)

Dengan menggunakan nilai VSWR 2 maka diperoleh nilai return loss

adalah di bawah -10 dB. Dengan nilai ini, dapat dikatakan bahwa nilai gelombang

yang direfleksikan tidak terlalu besar dibandingkan dengan gelombang yang

dikirimkan atau dengan kata lain, saluran transmisi sudah dapat dianggap

matching. Nilai parameter ini dapat menjadi salah satu acuan untuk melihat

apakah antena sudah mampu bekerja pada frekuensi yang diharapkan atau tidak.

2.4 Antena Mikrostrip

Antena mikrostrip adalah suatu konduktor metal yang menempel di atas

ground plane yang di antara keduanya terdapat bahan dielektrik. Antena

http://digilib.mercubuana.ac.id/
14

mikrostrip dalam bentuk yang paling umum terdiri dari 3 elemen, yaitu elemen

peradiasi (patch), substrat dan elemen pentanahan (ground).

Ada banyak jenis substrat yang digunakan pada antena mikrostrip ini.

Jenis yang paling sering digunakan adalah FR-4 (lossy). Bahan substrat terdiri

dari dua golongan, yaitu lossy dan lossless. Lossy merupakan jenis dimana masih

ada kemungkinan terjadinya loss akan gelombang elektromagnetik yang

dipancarkan dan di terima oleh antena.

FR-4 (lossy) merupakan material komposit yang terdiri dari kain fiberglass

tenun dengan resin pengikat epoxy yang tahan api. FR singkatan dari flame

retardant dan menunjukkan bahwa bahan anti mudah terbakar dari FR-4 telah

memenuhi standar UL94V-0. FR-4 tersusun dari bahan resin epoxy, tenunan kain

kaca penguatan, brominated flame retardant dan lain-lain. Dengan daya

penyerapan air yang nol, FR-4 ini paling sering digunakan sebagai insulator listrik

yang memiliki kekuatan mekanik yang cukup besar. Bahan ini dikenal untuk

mempertahankan nilai-nilai mekanik yang tinggi dan kualitas isolasi listrik dalam

kondisi baik kering dan lembab. Kelas sebutan untuk laminasi epoxy terdiri dari

G10, G11 FR4 dan FR5. Dari kelas tersebut, FR4 merupakan yang paling banyak

digunakan saat ini. G-10, pendahulu FR-4 memiliki sifat yang mudah terbakar.

Oleh karena itu, FR-4 menggantikan G-10 di sebagian besar aplikasi.

Struktur umum dari antena mikrostrip dapat dilihat pada Gambar 2.4.

berikut [3]:

http://digilib.mercubuana.ac.id/
15

Gambar 2.4 Struktur Antena Mikrostrip

Antena mikrostrip memiliki bentuk umum untuk elemen peradiasinya

(patch). Bentuk umum dari patch antena mikrostrip seperti terlihat pada Gambar

2.5. berikut [3]:

Gambar 2.5 Bentuk Patch Antena Mikrostrip

Bentuk patch yang akan dirancang pada tugas akhir ini adalah persegi. Hal

ini dipilih karena sesuai dengan tujuan perancangan yaitu ingin membuat antena

yang ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan ukuran yang telah beredar

dipasaran. Dan ukuran dimensi antena yang telah beredar saat ini adalah sekitar

10 cm x 10 cm (berbentuk persegi).

http://digilib.mercubuana.ac.id/
16

Antena mikrostrip juga memiliki beberapa keuntungan, namun terdapat

pula kerugian. Keuntungan dan kerugian tersebut seperti ditunjukkan pada Tabel

2.1. berikut :

Tabel 2.1 Keuntungan dan Kerugian Antena Mikrostrip [4]

No. Keuntungan Kerugian

1 Mempunyai ukuran kecil dan ringan Mempunyai gain yang

rendah

2 Lebih mudah fabrikasi dengan biaya yang relatif Bandwidth sempit

murah

Polarisasi linier dan sirkular dapat diperoleh Mempunyai kemurnian

3 dengan mudah hanya dengan feeding yang polarisasi rendah

sederhana

Dapat digunakan untuk aplikasi dual band Timbulnya gelombang


4
frekuensi atau bahkan triple band frekuensi permukaan (surface wave)

2.4.1 Gain

Penguatan pada antena mikrostrip dapat ditentukan oleh gain

perbandingan, yaitu perbandingan daya yang dipancarkan atau diterima oleh

antena yang dituju dengan daya yang dipancarkan atau diterima antena isotropis.

Besarnya gain perbandingan tersebut dapat ditentukan menggunakan persamaan

2.8 berikut [2]:

http://digilib.mercubuana.ac.id/
17

(2.8)

Dimana :

Gp = gain perbandingan antena uji (dB)

Pu = daya yang diterima antena uji (dB)

Ps = daya yang diterima antena referensi (dB)

Go = gain terhadap sumber isotropis (dB)

2.4.2 Polarisasi

Polarisasi antena adalah polarisasi dari gelombang yang ditransmisikan

oleh antena. Jika arah tidak ditentukan, maka polarisasi merupakan polarisasi dari

arah gain maksimum. Pada praktiknya, polarisasi dari energi yang teradiasi

bervariasi dengan arah dari tengah antena, sehingga bagian lain dari pola radiasi

mempunyai polarisasi yang berbeda.

Polarisasi dari gelombang yang teradiasi didefinisikan sebagai suatu

keadaan gelombang elektromagnet yang menggambarkan daerah dari magnitudo

vektor medan elektrik yang bervariasi menurut waktu. Selain itu, polarisasi juga

dapat didefinisikan sebagai gelombang yang diradiasikan dan diterima oleh antena

pada suatu arah tertentu.

Polarisasi dapat diklasifikasikan sebagai linear (linier), circular

(melingkar) dan atau elliptical (elips) seperti ditunjukkan pada Tabel 2.2.

Polarisasi melingkar saat ini sangat penting dalam industri desain antena,

diantaranya dapat menghilangkan pentingnya orientasi antena dalam bidang tegak

lurus terhadap arah propagasi, lalu memberikan fleksibilitas lebih banyak sudut

antara transmisi dan penerima antena. Polarisasi melingkar saat ini digunakan

http://digilib.mercubuana.ac.id/
18

dalam banyak aplikasi komersial dan militer. Namun sulit untuk mendesain

antena dengan polarisasi melingkar yang baik. Antena mikrostrip pada awalnya

tidak menghasilkan polarisasi melingkar, kemudian beberapa perubahan harus

dilakukan pada patch untuk dapat menghasilkan polarisasi melingkar.

Tabel 2.2 Jenis-jenis Polarisasi [6]

No. Linier Elips Melingkar

1 Terjadi jika suatu Terjadi jika Terjadi jika suatu

gelombang yang berubah gelombang yang gelombang yang berubah

menurut waktu di titik berubah menurut menurut suatu titik

ruang memiliki vektor waktu memiliki vektor memiliki vektor medan

medan elektrik atau medan elektrik atau elektrik atau magnet pada

magnet pada titik magnet berada pada titik tersebut berada pada

tersebut selalu jalur kedudukan elips jalur lingkaran sebagai

berorientasi pada garis pada ruang fungsi waktu

lurus yang sama pada

setiap waktu

2.4.3 Teknik Pencatuan

Terdapat beberapa macam teknik pencatuan, antara lain coaxial feed,

microstrip feed, proximity coupled microstrip feed dan aperture-coupled

http://digilib.mercubuana.ac.id/
19

microstrip feed. Namun, pada laporan ini hanya akan dibahas mengenai teknik

pencatuan yang digunakan dalam perancangan, yaitu coaxial feed.

Coaxial feed adalah salah satu teknik dasar yang digunakan dalam

pencatuan antena mikrostrip. Kabel koaksial terhubung ke antena sehingga

konduktor bagian luarnya terhubung pada bagian ground, sementara konduktor

dalam disolder ke bagian patch. Penampang coaxial feed seperti ditunjukkan pada

Gambar 2.6. berikut [3]:

Gambar 2.6 Coaxial Feed

Coaxial feed cukup mudah untuk didesain dan dalam fabrikasinya. Namun

pencatuan ini memiliki kelemahan, yaitu membutuhkan tingkat presisi yang tinggi

dalam penyolderan. Coaxial feed biasanya memberikan bandwidth yang sempit

dan ketika pabrikasi menggunakan substrat yang tebal, probe yang lebih lebar

akan dibutuhkan untuk meningkatkan power permukaan dan induktansi dari

feeding.

2.4.4 Antena Mikrostrip Patch Persegi

Antena mikrostrip patch persegi adalah mikrostrip yang memiliki bentuk

patch persegi dengan Lp sebagai panjang sisi patch. Bentuk patch persegi

ditunjukkan pada Gambar 2.7. berikut :

http://digilib.mercubuana.ac.id/
20

Lp

Lp

Gambar 2.7 Bentuk Patch Persegi

Untuk mencari dimensi patch yaitu Lp menggunakan persamaan 2.9 berikut ini

[5]:

(2.9)

(2.10)

Dimana :

h = ketebalan substrat

= konstanta dielektrik relatif

r = frekuesi resonansi

Untuk panjang sisi subtratnya (Lg) dapat diperoleh menggunakan persamaan 2.11

berikut [5]:

Lg = (6xh) + Lp (2.11)

Dimana :

h = ketebalan substrat

Lp = panjang sisi patch

Setelah didapatkan spesifikasi dimensi patch dan substrat, selanjutnya

akan ditentukan spesifikasi dimensi slot berbentuk persegi panjang pada antena

http://digilib.mercubuana.ac.id/
21

ini. Dimensi slot akan menentukan bagaimana antena ini beradiasi. Untuk panjang

slot (ls) dapat diperoleh menggunakan persamaan 2.12 berikut ini [5]:

ls = (2.12)

Untuk lebar slot (ws) diperoleh menggunakan persamaan 2.13 berikut ini [5]:

ws = (2.13)

Dimana :

Lp = panjang sisi patch

2.5 Computer Simulation Technology (CST) 2014

Computer Simulation Technology (CST) 2014 merupakan fitur paket

lengkap perangkat lunak untuk analisis dan desain gelombang elektromagnetik.

Proses memasukkan parameter yang mudah dengan menyediakan sebuah

pemodelan solid 3D yang baik.

CST 2014 merupakan bagian dari studio design CST yang menawarkan

sejumlah pemecahan masalah yang berbeda untuk berbagai jenis aplikasi. Hal ini

didasarkan pada Finite Integration Technique (FIT) yang diperkenalkan dalam

elektrodinamika lebih dari tiga dekade lalu. Berikut tampilan awal CST 2014

seperti ditunjukkan pada Gambar 2.8. berikut ini :

Gambar 2.8 Tampilan Awal Computer Simulation Technology (CST) 2014

http://digilib.mercubuana.ac.id/
22

Dan tampilan workspace seperti ditunjukkan pada Gambar 2.9. berikut :

Gambar 2.9 Tampilan Workspace Computer Simulation Technology (CST) 2014

Ada beberapa kelebihan software ini, yaitu bisa menampilkan hasil

simulasi berupa grafik dengan nilai parameter frekuensi, koefisien refleksi, gain,

axial ratio dan juga bisa melihat hasil pola radiasi dan polarisasi dari antena yang

dirancang.

Software ini memang memiliki kemudahan, namun terdapat pula kesulitan.

Kesulitan yang dimaksud antara lain dalam menentukan posisi dimensi sesuai

dengan koordinat workplane dan juga mempresisikan hasil simulasi dengan

karakteristik yang diinginkan. Oleh karena itu, setiap perancangan yang dilakukan

tidak mudah mendapatkan hasil yang sesuai, perlu dilakukan optimasi yang

dilakukan berulang-ulang sampai tercapai nilai yang diinginkan.

http://digilib.mercubuana.ac.id/
23

2.6 Kajian Literatur

Pada skripsi ini penulis merangkum peneletian sejenis yang pernah dilakukan:

Tabel 2.3 Perbandingan Penelitian Sejenis

http://digilib.mercubuana.ac.id/