Anda di halaman 1dari 8

Penyakit Solutio Plasenta pada Ibu Hamil Kali Ke Empat

NUR AYUNI SYAHIRA BT ROSLI 102014238

Alamat korespondensi: Universitas Kristen Krida Wacana

Jalan Arjuna Utara, No 6, Jakarta 11510

ayunirosli123@yahoo.com

Pendahuluan

Solusio plasenta adalah terlepasnya sebagian atau seluruh permukaan maternalplasenta


dari tempat implantasinya yang normal pada lapisan desidua endometrium sebelumwaktunya
yakni sebelum anak lahir. Di berbagai literatur disebutkan bahwa risiko mengalamisolusio
plasenta meningkat dengan bertambahnya usia. Solusio plasenta merupakan salah satu
penyebab perdarahan antepartum yangmemberikan kontribusi terhadap kematian maternal
dan perinatal di Indonesia. Terdapatfaktor-faktor lain yang ikut memegang peranan penting
yaitu kekurangan gizi, anemia,paritas tinggi, dan usia lanjut pada ibu hamil. Di negara yang
sedang berkembang penyebabkematian yang disebabkan oleh komplikasi kehamilan,
persalinan, nifas atau penangannya(direct obstetric death) adalah perdarahan, infeksi,
preeklamsi/eklamsi. Selain itu kematianmaternal juga dipengaruhi faktor-faktor reproduksi,
pelayanan kesehatan, dan sosioekonomi.Salah satu faktor reproduksi ialah ibu hamil dan
paritas. Solusio plasenta atau disebut abruption placenta / ablasia placenta adalah separasi
prematur plasenta dengan implantasi normalnya di uterus (korpus uteri) dalam masa
kehamilan lebih dari 20 minggu dan sebelum janin lahir. Dalam plasenta terdapat banyak
pembuluh darah yang memungkinkan pengantaran zat nutrisi dari ibu kejanin, jika plasenta
ini terlepas dari implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan
perdarahan yang hebat.1

Klasifikasi

1. Solusio plasenta ringan : terlepasnya sebagian kecil plasenta yang tidak berdarah banyak
akan menyebabkan perdarahan pervaginam berwarna kehitaman dan sedikit perut agak terasa
sakit atau terus menerus agak tegang. Bagian janin masih mudah teraba.

2. Solusio plasenta sedang : plasenta telah terlepas lebih dari seperempat.tanda dan gejala
dapat timbul perlahan/ mendadak dengan gejala sakit perut terus menerus lalu terjadi
perdarahan pervaginam. Dinding uterus terasa tegang terus menerus dan nyeri tekan.
Sehingga bagian janin sukar diraba,telah ada tanda persalinan.

3. Sulosio plasenta berat : plasenta terlepas lebih dari dua pertiga permukaannya penderita
jatuh sock dan janinnya telah meninggal. Uterus sangat tegang, nyeri, perdarahan pervaginam,
adanya kelainan pembekuan darah dan kelainan ginjal.1,2

Pemeriksaan Fisik Umum

Pemeriksaan keadaan umum (KU) pasien ialah melihat kondisi pasien langsung ketika
datang ke klinik atau rumah sakit. Hal-hal yang perlu diperhatikan ialah kesadaran dan
keaktifan pasien. Kemudian pada pemeriksaan TTV (tanda-tanda vital), yang perlu diperiksa
ialah tekanan darah, laju nafas, frekuensi nadi, dan suhu tubuh. Pemeriksaan ini merupakan
pemeriksaan rutin yang wajib dilakukan bagi seluruh pasien. Dilakukan juga pemeriksaan
fisik organ seperti jantung, paru dan abdomen.1,3

Pemeriksaan Obstetri

a. Pemeriksaan obstetri meliputi inspeksi, palpasi dan perkusi.

b. Inspeksi: dilihat bentuk perut, adakah terdapat bekas luka/ operasi, perubahan warna(linea
nigra, striae gravidarum) dan tumor.

c. Palpasi dilakukan menurut Leopold:

1. Leopold 1

Pasien tidur telentang dengan lutut ditekuk. Pemeriksa berdiri di sebelah kanan pasien
menghadap ke arah kepala pasien. Uterus di bawa ke tengah(kalau posisinya miring). Dengan
kedua tangan tentukan tinggi fundus. Dengan satu tangan tentukan bagian apa dari anak yang
terletak dalam fundus. Kepala berbentuk bulat, keras dan ada ballotement. Bokong
konsistensinya lunak, tidak begitu bulat dan tidak ada ballotement. Pada letak lintang, fundus
kosong.

2. Leopold 2

Posisi pasien dan pemeriksa tetap. Kedua tangan pindah ke samping uterus. Dengan
kedua belah jari-jari uterus ditekan ke tengah untuk menentukan di mana letak punggung anak
, kanan atau kiri(punggung anak memberikan tahanan terbesar). Pada letak lintang di pinggir
kanan kiri uterus terdapat kepala atau bokong.
3. Leopold 3

Posisi pasien dan pemeriksa tetap. Pemeriksa memakai satu tangan menentukan apa
yang menjadi bagian bawah(kepala atau bokong). Bagian bawah coba digoyangkan, apabila
masih bisa, berarti bagian tersebut belum terpegang oleh panggul(bagian terbesar kepala
belum melewati pintu atas panggul).

4. Leopold 4

Posisi pasien tetap, pemeriksa menghadap ke arah kaki pasien. Dengan kedua belah
tangan ditentukan seberapa jauh kepala masuk ke dalam panggul. Bila posisi tangan
konvergen, berarti baru sebagian kecil kepala masuk panggul. Bila posisi tangan sejajat,
berarti separuh dari kepala masuk ke dalam rongga panggul. Bila posisi tangan divergen,
berarti sebagian besar kepala sudah masuk panggul. Leopold 4 tidak dilakukan kalau kepala
masih tinggi.2

d. Auskultasi

Dilakukan dengan stetoskop kebidanan atau dengan fetal heart detector(Doppler).


Didengar bunyi dari anak seperti bunyi jantung, bising tali pusat, gerakan anak serta bunyi
dari ibu seperti bising arteri uterina, bising aorta dan bising usus. Dengan Doppler bunyi
jantung anak dapat didengar sejak umur kehamilan 12 minggu. Dengan stetoskop baru
didengar pada umur kehamilan 26 minggu. Frekuensi bunyi jantung anak antara 120-140 per
menit. Frekuensi jantung orang dewasa antara 60-80 per menit.2

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan darah rutin lengkap


Untuk melihat keadaan darah secara umum, yaitu pemeriksaan Hb, Hematokrit (Ht),
jumlah SDM, leukosit, dan trombosit. Nilai normal Hb (wanita >12g/dL), Ht (37-
42%), SDM (4-6 juta sel/uL), leukosit (4.500-11.000 sel/uL), dan trombosit (150.000-
350.000 sel/uL). Pemeriksaan darah rutin ini digunakan untuk melihat apakah kondisi
ibu hamil anemia/tidak, gejala sepsis, dan melihat pula kecukupan nutrisi.

Pemeriksaan USG
Pemeriksaan ini berguna untuk melihat ada/tidaknya gangguan pada amnion,
deformitas janin, posisi janin terhadap pelvis, serta presentasi yang akan tampil. USG
termasuk pemeriksaan yang cukup berperan dalam diagnosis kehamilan apapun.
Doppler
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendengar suara jantung janin dan aliran darahnya.
Merupakan cara alternative dibanding fetoskop.

Pemeriksaan mikroskopis & kultur secret vagina


Pemeriksaan mikroskopis akan menunjukan gambaran daun pakis (ferning) dan bila
memungkinkan dapat dilakukan pewarnaan gram. Secret vagina pun jika dapat, lebih
baik di kultur untuk melihat kemungkinan adanya overgrowth suatu populasi kuman
ataupun jamur. Hal ini dikarenakan seringkali kasus KPD muncul karena adanya
infeksi kuman terhadap lapisan amnion yang membuat lapisan tersebut rusak.2,3

Diagnosis Banding

a) Plasenta previa
Merupakan suatu keadaan dimana letak plasenta abnormal yaitu pada segmen
bawah uterus sehingga menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir. Gejalanya adalah
pengeluaran darah secara tiba-tiba tanpa nyeri, tanpa sebab, darah berwarna merah
segar. Pada pemeriksan luar bagian janin belum masuk PAP.
Dibedakan dengan KPD melalui penentuan letak plasenta melalui USG, perabaan
forniks bila letak kepala sebagai organ yang berada di bawah.
b) Solusio plasenta

Terlepasnya plasenta yang letaknya normal sebelum janin lahir, terutama terjadi
pada trimester 3. Gejalanya adalah warna darah kehitaman dan cair tetapi mungkin
terdapat bekuan jika solusio awal. Syok yang tidak sesuai dengan jumlah darah
yang keluar (tipe tersembunyi). Anemia berat, melemah atau hilangnya gerakan
janin. Bila ostium terbuka dapat keluar darah segar. Dapat dibedakan dengan KPD
melalui USG.4

Working Diagnosis

Solusio plasenta adalah terlepasnya sebagian atau seluruh permukaan maternal plasentadari
tempat implantasinya yang normal pada lapisan desidua endometrium sebelum
waktunyayakni sebelum anak lahir.
Etiologi

Belum diketahui pasti faktor disposisi yang mungkin ialah hipertensi kronik.Trauma
eksternal, tali pusat pendek, dekompresi uterus mendadak, anomali atau tumor uterus.
Defisiensi gizi, merokok, konsumsi alkohol, penyalahgunaan kokain.4

Tanda dan gejala

1. Perdarahan.

2. Nyeri intermiten/ menetap.

3. Warna darah kehitaman dan cair.

4. Bila ostium terbuka terjadi perdarahan dengan warna merah segar.

5. Nyeri tekan uterus.

6. Gawat janin.

7. Persalinan prematur.

8. Kontraksi berfrekuensi tinggi.

9. Kematian janin4

Patofisiologi

Terjadinya solusio plasenta dipicu oleh perdarahan ke dalam desidua basalis yang
kemudian terbelah dan meningkatkan lapisan tipis yang melekat pada mometrium sehingga
terbentuk hematoma desidual yang menyebabkan pelepasan, kompresi dan akhirnya
penghancuran plasenta yang berdekatan dengan bagian tersebut. Ruptur pembuluh arteri
spiralis desidua menyebabkan hematoma retro plasenta yang akan memutuskan lebih banyak
pembuluh darah, hingga pelepasan plasenta makin luas dan mencapai tepi plasenta, karena
uterus tetap berdistensi dengan adanya janin, uterus tidak mampu berkontraksi optimal untuk
menekan pembuluh darah tersebut. Selanjutnya darah yang mengalir keluar dapat melepaskan
selaput ketuban. Sesungguhnya solusio plasentra merupakan hasil akhir dari suatu proses
yang bermula dari suatu keadan yang mampu memisahkan vili-vili korialis plasenta dari
tempat implantasinya pada desidua basalis sehingga terjadi perdarahan. Oleh karena itu
patosiologinya bergantung pada etilogi. Pada trauma abdomen etiologinya jelas karena
robeknya pembuluh darah desidua.4
Dalam banyak kejadian perdarahan berasal dari kematian sel (apoptosis) yang
disebabkan oleh iskemia dan hipoksia. Semua penyakit ibu yang dapat meneyebabkan
pembekuan trombosis dalam pembuluh darah desidua atau dalam vaskular vili dapat berujung
kepada iskemia dan hipoksia setempat yang menyebabkan kematian sejumlah sel dan
mengakibatkan perdarahan sebagai hasil akhir. Perdarahan tersebut menyebabkan desidua
basalis terlepas kecuali selapisan tipis yang tetap melekat pada miometrium. Dengan
demikian, pada tingkat permulaan sekali dari proses terdiri ataspembentukab hematom yang
bisa menyebabkan pelepasan yang lebih luas, kompresi dan kerusakan pada bagian plasenta
kecuali terdapat hematom pada bagian belakang plasenta yang baru lahir. Dalam beberapa
kejadian pembentukan hematom retroplasenta disebabkan oleh putusnya arteria spiralis dalam
desidua. Hematoma retroplasenta mempengaruhi penyampaian nutrisi dan oksigen dari
sirkulasi maternal/plasenta ke sirkulasi janin. Hematoma yang terbentuk dengan cepat meluas
dan melepaskan plasenta lebih luas/banyak sampai ke pinggirnya sehingga darah yang keluar
merembes antara selaput ketuban dan miometrium untuk selanjutnya keluar melalui serviks ke
vagina (revealed hemorrhage). Perdarahan tidak bisa berhenti karena uterus yang lagi
mengandung tidak mampu berkontraksi untuk menjepit pembuluh arteria spiralis yang
terputus. Walaupun jarang, terdapat perdarahan tinggal terperangkap di dalam uterus
(concealed hemorrhage).4,5

Penatalaksanaan

Harus dilakukan dirumah sakit dengan fasilitas operasi sebelum dirujuk,anjurkan pasien tirah
baring total dengan menghadap kekiri, tidak melakukan senggama, menghindari peningkatan
tekanan rongga perut.6 (misalnya : batuk mengedan, karna sulit BAB)

Terapi Konservatif (ekspektatif)

a) Resusitasi cairan:memperbaiki hipovolemi atau mengatasi syok dan anemia.

b) Darah (harus diberikan darah secepatnya untuk menghindari syok dan Anemia.

c) Cairan : berikan cairan Nacl, RL.

d) Obat antihipertensi yg membantu pembuluh darah tetap terbuka, obat obatan


kortikosteroid (untuk antiinflamasi, mencegah retensi Na dan mempertahankan ketahanan
kapiler)
Terapi Aktif

Prinsipnya melakukan tindakan agar anak segera dilahirkan dan perdarahan berhenti,
misalnya dengan operatif obstetrik. Langkah-langkahnya :

a) Amniotomi dan pemberian oksitosin kemudian diawasi serta pimpin partus spontan.

b) Bila pembukaan sudah lengkap atau hampir lengkap dan kepala sudah turun sampai
Hodge III IV , maka bila janin hidup, lakukan ekstraksi vakum atau forsep, tetapi bila janin
meninggal, lakukanlah embriotomi.

c) Seksio sesarea biasanya dilakukan pada:

o Solusio plasenta dengan anak hidup, pembukaan kecil.

o Solusio plasenta dengan toksemia berat, perdarahan agak banyak, tetapi pembukaan masih
kecil.

o Solusio plasenta dengan panggul sempit atau letak lintang.

o Histerektomi dapat dipertimbangkan bila terjadi afibrinogemia dan kalau persediaan darah
atau fibrinogen tidak ada atau tidak cukup.6,7

Komplikasi

Tergantung luas plasenta yang terlepas dan lamanya sulosio plasenta berlangsung komplikasi
pada ibu ialah :

1. Perdarahan

2. Oliguria

3. Gagal ginjal

4. Gawat janin

5. Apopleksia uteroplasenta(uterus couvelaire)6

Prognosis

Solusio plasenta mempunyai prognosis yang buruk baik bagi ibu hamil dan lebih
buruk lagi bagi janin. Solusio plasenta ringan masih mempunyai prognosis yang baik bagi ibu
dan janin karena tidak ada kematian dan morbiditasnya rendah. Solusio plasenta
sedangmempunyai prognosis yang lebih buruk terutama terhadap janinnya karena morbiditas
ibuyang lebih berat. Solusio plasenta berat mempunyai prognosis paling buruk terhadap
ibulebih-lebih terhadap janinnya. Umumnya pada keadaan yang demikian janin telah mati
danmortalitas maternal meningkat akibat salah satu komplikasi. Pada solusio plasenta sedang
danberat prognosisnya juga tergantung pada kecepatan dan ketepatan bantuan medik
yangdiperoleh pasien. Transfusi darah yang banyak dengan segera dan terminasi kehamilan
tepatwaktu sangat menurunkan morbiditas dan mortalitas maternal dan perinatal.7

Kesimpulan

Solusio plasenta adalah terlepasnya sebagian atau seluruh permukaan maternalplasenta dari
tempat implantasinya yang normal pada lapisan desidua endometrium sebelumwaktunya
yakni sebelum anak lahir. Di berbagai literatur disebutkan bahwa risiko mengalamisolusio
plasenta meningkat dengan bertambahnya usia.

DAFTAR PUSTAKA

1. Prof. Rustam Mochtar. Sinopsis Obstetri, Jilid I. MPH; 2004

2. Sarwono Prawiroharjo. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka: Jakarta ;2005.

3. Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal, Penerbit Jaringan Nasional Pelatihan Klinik
Kesehatan Reproduksi bekerjasama dengan JH. PIEGO (MNH) dan Departemen Kesehatan
Republik Indonesia: Jakarta; 2004.

4. Mochtar, Rustam. Sinopsis Obstetri. EGC: Jakarta; 2003.

5. Manuaba, Ida Bagus Gde. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana
untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC; 2004.

6. Sarwono Prawiroharjo. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina


Pustaka: Jakarta; 2007.

7. Mansjoer, Arif, dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Widya Medika: Jakarta; 2001.