Anda di halaman 1dari 5

BAB VII.

SCROTAL PAIN SYNROME

7.1 Definisi
Sindroma nyeri skrotal adalah timbulnya nyeri episodik yang presisten
dan rekuren pada organ di dalam skrotum, dan dapat dihubungkan dengan gejala
sugestif dari saluran kencing dan disfungsi seksual. Pada sindroma nyeri skrotal
tidak ditemukan adanya infeksi atau proses patologi lokal yang jelas. Sindroma
nyeri skrotal sering dihubungkan dengan kognitif yang buruk, pola hidup,
kebiasaan seksual, dan konsekuensi emosional, begitu pula gejala sugestif dari
saluran kencing dan disfungsi seksual. Sindroma nyeri skrotal adalah istilah yang
sering digunakan untuk menggambarkan nyeri yang tidak jelas berasal dari testis
atau epididimis. Nyeri yang dirasakan tidak berasal dari kulit, tapi lebih
dirasakan berasal dari organ di dalam skrotum (Fall et al, 2012).

7.2 Patogenesis
Patogenesis dari sindroma nyeri skrotal dijelaskan dengan berbagai macam
teori dan kebanyakan di antaranya belum jelas. Nyeri pada skrotum dapat
dibedakan yang langsung terlokalisir dari skrotum atau penjalaran yang berasal
dari organ di luar skrotum. Sangat sulit untuk membedakannya dalam praktik
klinis. Nyeri yang bersifat direk berlokasi di testis, epididimis, nervus inguinalis,
dan vas deferen.
7.2.1 Sidroma Nyeri Testis
Sindroma nyeri testis adalah nyeri episodik atau rekuren yang berlokasi di
testis, dan kemungkinan merupakan gejala sugestif dari saluran kencing dan
disfungsi seksual. Tidak terbukti adanya infeksi lokal atau proses patologis yang
jelas. Sindroma nyeri testis sering dihubungkan dengan kognitif yang buruk, pola
hidup, kebiasaan seksual, dan konsekuensi emosional, begitu pula gejala sugestif
dari saluran kencing dan disfungsi seksual. Istilah sebelumnya yang kini tidak lagi
digunakan adalah orkitis, orkialgia, atau orkiodinia (Fall et al, 2012).

46
7.2.2 Sindroma Nyeri Epididimis
Sindroma nyeri epididimis adalah nyeri episodik atau rekuren yang
berlokasi di epididimis, dan kemungkinan merupakan gejala sugestif dari saluran
kencing dan disfungsi seksual. Tidak terbukti adanya infeksi lokal atau proses
patologis yang jelas. Sindroma nyeri epididimis sering dihubungkan dengan
kognitif yang buruk, pola hidup, kebiasaan seksual, dan konsekuensi emosional,
begitu pula gejala sugestif dari saluran kencing dan disfungsi seksual. (Fall et al,
2012).
Abnormalitas dari epididimis dapat divisualisasikan dengan ultrasound.
Pasien dengan multiple kista merasakan nyeri akibat dari penekanan pada kista di
epididimis. Penyakit lokal lainnya yang serupa adalah epididimitis kronis
(Padmore et al, 1996).
7.2.3 Saraf Pelvis
Saraf ilioinguinal dan genitofemoral merupakan saraf aferen yang paling
menonjol pada skrotum (Rab et al, 2001). Saraf inguinal merupakan saraf yang
paling penting. Telah diketahui secara luas bahwa nyeri yang dirasakan setelah
pembedahan region inguinal (hernia) seringkali berasal dari kerusakan saraf pada
korda spermatikus (Eklund et al, 2010). Ini merupakan dasar pengetahuan
anatomi, bahwa seluruh saraf yang terlibat dalam nyeri testis menyatu di korda
spermatikus (Heidenreich et al, 2002). Fakta ini mempengaruhi pemilihan dari
pengobatan. Nervus pudendus mensuplai kulit dari perineum dan bagian belakang
skrotum. Nyeri pada daerah ini merupakan gejala patognomonik dari pudendal
neuropati.
7.2.4 Sidroma Nyeri Pasca Vasektomi
Sindroma nyeri pasca vasektomi adalah sindroma nyeri skrotal yang
timbul setelah vasektomi. Sindroma nyeri pasca vasektomi sering dihubungkan
dengan kognitif yang buruk, pola hidup, kebiasaan seksual, dan konsekuensi
emosional, begitu pula gejala sugestif dari saluran kencing dan disfungsi seksual.
Mekanisme dari timbulnya nyeri tersebut masih belum dimengerti secara jelas.
Secara patologis, diduga nyeri pasca vasektomi timbul akibat dari setelah tindakan
vasektomi posisi dari vas deferens tidak lagi paten. Hal ini dapat menyebabkan

47
pembengkakan dari epididimis yang menimbulkan nyeri akibat peregangan organ
berongga (epididimis) (Sweeny et al, 1998).
7.2.5 Pasca repair pada hernia inguinalis
Nyeri kronis pasca pembedahan pada hernia ingunalis adalah fenomena
yang telah dimengerti. Suatu kelompok peneliti skala internasional telah
menyusun petunjuk untuk pencegahan dan penanganan dari nyeri kronis pasca
operasi hernia ingunalis. Petunjuk tersebut menyatakan bahwa langkah paling
penting dalam mencegah timbulnya nyeri adalah mengidentifikasi dan melindungi
ketiga saraf inguinal (Alfieri et al, 2011).
7.2.6 Penjalaran Nyeri
Perkembangan pengetahuan dari mekanisme nyeri telah membuktikan
kepada kita bahwa nyeri yang berasal dari satu organ dapat timbul akibat dari
disfungsi dari fungsi organ lainnya. Salah satu penjalaran nyeri yang paling
dikenal adalah nyeri yang berasal dari miofasial, atau yang bersumber dari
miofasial. Kelainan yang berasal dari rongga abdomen atau kandung kemih juga
dapat menyebabkan timbulnya nyeri pada skrotum (Fall et al, 2012).

7.3 Diagnosis
Pemeriksaan fisik merupakan kewajiban pada nyeri skrotal. Palpasi yang
baik dari tiap bagian skrotum untuk mencari adanya masa dan titik nyeri.
Pemeriksaan rektal dilakukan untuk mengetahui kelainan dari prostat dan untuk
memeriksa otot pada diding bawah pelvis. Pemeriksaan ultrasound memiliki
keterbatasan dalam mencari penyebab dari nyeri. Pada 80% pasien, pemeriksaan
ultrasound tidak menunjukan kelainan yang memiliki arti klinis (Lau et al, 1999)
dan (van Haarst et al, 1999). Apabila hasil pemeriksaan fisik adalah normal,
pemeriksaan ultrasound dapat dilakukan untuk memastikan tidak ada kelainan
yang memerlukan terapi. Ultrasound dapat digunakan untuk mendiagnosis
hidrokel, spermatokel, kista, dan varikokel. Umumnya pada praktek klinis hampir
seluruh urologis melakukan pemeriksaan ultrasound pada pasien (Strebel et al.
2005).

48
7.4 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan dari sindroma nyeri skrotum didasarkan pada prisnsip
terapi untuk sindroma nyeri kronis. Keunutungan dari penggunaan terapi non-
bedah pada nyeri testis telah semakin jelas, terutama berhubungan dengan
pengobatan nyeri yang merupakan emergensi.
7.4.1 Pengobatan Konservatif
Sebagai pengobatan konservatif, terlepas dari terapi dengan obat-obatan,
terapi miofasial oleh spesialis fisioterapi harus dipertimbangkan. Otot pada dasar
pelvis harus diperiksa dan seringkali ditemukan terlalu aktif. Otot yang terlalu
aktif dari dasar pelvis sebaiknya di terapi dengan fisioterapi. Terapi dilakukan
dengan melakukan penekanan pada titik pusat nyeri dan meregangkan otot-otot
yang bermasalah (Cornel et al, 2005).
7.4.2 Pembedahan
Satu-satunya pembedahan yang dianggap efektif adalah denervasi bedah
mikro. Epididmektomi merupakan pilihan pada beberapa kasus, sedangkan
orkidektomi adalah pilihan terakhir.
a. Denervasi Bedah Mikro
Berdasarkan perimbangan bahwa seluruh saraf yang menginervasi organ
skrotal menyatu di korda spermatikus, saraf-saraf ini sebaiknya dipotong.
Dilakukan transeksi pada korda dengan metode tertentu sambil mengidentifikasi
struktur arteri, termasuk yang menjalarkan darah ke testis, kremaster, serta arteri
dan saluran limfe yang penting, kemudian membiarkan struktur tersebut tetap
intak. Pembedahan dilakukan dengan bantuan kaca pembesar atau mikroskop.
Pada cara pembedahan ini, perbaikan gejala nyeri total didapatkan pada 71-96%
dan perbaikan sedikit gejala nyeri didapatkan pada 9-17% pasien (Strom dan
Levine, 2008).
b. Epididimektomi
Beberapa ahli berpendapat apabila setelah dilakukan bedah mikro
denervasi nyeri menetap, epididimektomi harus dilakukan. Epididimektomi
menghasilkan hasil yang berbeda pada beberapa kelompok pasien.
Epididimektomi memperlihatkan hasil terbaik jika diterapkan pada pasien yang

49
menderita nyeri pasca vasektomi atau pada nyeri yang timbul oleh adanya kista.
Pasien dengan epididimitis kronis memperlihatkan hasil yang buruk bila diterapi
dengan epididimektomi (Fall et al, 2012).
c. Orkidektomi
Orkidektomi dianggap sebagai terapi pilihan terakhir pada pasien dengan
nyeri intraskrotal yang tidak membaik dengan pengobatan lainnya (Fall et al,
2012).
d. Vaso-vasostomi
Pada nyeri yang timbul pasca vasektomi, metode ini mungkin dapat
membantu memperbaiki menanggulangi sumbatan yang dapat
meningkatkan nyeri (Myers et al, 1997).

50