Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular


yang dapat berakibat fatal bagi penderitanya, yaitu bisa menyebabkan
kematian. Penyakit yang disebabkan oleh mikobakterium ini merupakan
penyebab utama kecacatan dan kematian hampir di sebagian besar negara
diseluruh dunia. Berdasarkan data WHO sepertiga penduduk dunia telah
terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. Pada tahun 1995, diperkirakan
ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB di seluruh dunia.
Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB di dunia terjadi
pada negara-negara berkembang dan 75% penderita TB adalah kelompok
usia produktif. Demikian juga, kematian wanita akibat TB lebih banyak
daripada kematian karena kehamilan, persalinan dan nifas.1,2

Menurut data WHO di kawasan Asia Tenggara, TB membunuh sekitar


2.000 jiwa setiap hari. Dan sekitar 40% dari kasus TB di dunia berada di
kawasan Asia Tenggara. Di dunia, Indonesia menempati urutan ketiga
setelah India dan Cina untuk jumlah terbanyak kasus TB dengan jumlah
pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB di dunia. Diperkirakan pada
tahun 2004, setiap tahun ada 539.000 kasus baru dan kematian 101.000
orang. Sedangkan insiden kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100.000
penduduk.3

Situasi di dunia semakin memburuk, jumlah kasus TB meningkat dan


banyak yang tidak berhasil disembuhkan, terutama di negara yang
dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB besar (high burden
countries). Menyikapi hal tersebut, pada tahun 1993, WHO mencanangkan
TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency). Ini disebabkan

34 Universitas Muhammadiyah Jakarta


banyaknya penderita yang tidak berhasil disembuhkan, terutama penderita
menular (BTA positif). Sehingga pada akhirnya pada tahun 1995 program
Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) diberlakukan oleh
pemerintah yang direkomendasikan oleh WHO.3

Pada tahun 1998 kesembuhan TB di Indonesia dilaporkan sudah


mencapai 87% namun cakupan penemuan penderita mencapai kurang lebih
10% (kurang dari 70%). Berdasarkan perkiraan WHO, bila cakupan dapat
mencapai minimal 70% dengan angka kesembuhan 85% dan dipertahankan
hingga tahun 2005 maka dapat menurunkan insiden TB sampai 50%. Angka
kesembuhan dibawah 70% dapat mengakibatkan masalah TB dan resistensi
obat akan meningkat. Penderita TB paru BTA positif yang tidak sembuh
dapat menimbulkan resisten terhadap obat anti tuberkulosis (OAT) terutama
resistensi sekunder yang dikarenakan pengobatan yang tidak lengkap atau
tidak teratur.4,5

Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada majalah Health Horizon


menyajikan hasil studi selama 4 tahun yang dilakukan WHO di 35 negara
yang secara umum menyimpulkan bahwa telah ditemukan resistensi
terhadap TB di semua daerah yang diteliti. Pada penderita yang telah
mendapat pengobatan kurang dari 1 bulan ternyata ditemukan 36% yang
telah resisten terhadap sedikitnya 1 macam OAT. Bahkan sekitar 10%
penderita yang belum pernah mendapat pengobatan sama sekali ternyata
juga telah mempunyai kuman yang resisten terhadap OAT. Oleh karena itu
ditakutkan penderita TB paru BTA positif yang resisten akan menularkan
kuman yang resisten pula. Sedangkan setiap penderita aktif mampu
menularkan 10-15 orang disekitarnya.5

Rendahnya angka kesembuhan berkaitan dengan karakteristik


penderita diantaranya umur, jenis kelamin, dan tipe penyakit karena
terjadinya perubahan keadaan fisiologis, imunitas, dan perubahan kebiasaan
makanan atau perilaku hidup sehat.6

35 Universitas Muhammadiyah Jakarta


Tipe penyakit menentukan kategori obat yang diberikan, semakin lama
berobat kecenderungan untuk terjadi kebosanan atau tetidakteraturan
berobat semakin tinggi, sehingga mempengaruhi kesembuhan penderita
TB BTA positif. Untuk mengatasi hal tersebut, maka diperlukan seorang
Pengawas Menelan Obat (PMO) yang dapat bersikap tegas untuk
mengawasi penderita dalam meminum obat. Selain itu, ketaatan penderita
dalam memeriksakan ulang dahaknya pada 1 bulan sebelum akhir
pengobatan dan pada akhir pengobatan sangat penting dilakukan karena
hal tersebut bertujuan untuk menilai hasil pengobatan apakah sembuh atau
gagal.

Penyakit TBC merupakan penyakit menular yang meyebabkan


kematian, dan merupakan penyebab kematian ketiga di Indonesia. Hasil
Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 penyakit TBC
merupakan penyebab kematian ketiga setelah penyakit kardiovaskuler dan
penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia, bahkan peringkat
pertama penyebab kematian penyakit menular. (depkes 2005)

Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu penyakit paling


mematikan di dunia, tidak hanya Negara berkembang namun juga di
Negara-negara maju. Saat ini insidensi terjadinya kasus TBC dilaporkan
meningkat secara signifikan, baik di dunia maupun di Indonesia.
Diperkirakan sepertiga dari penduduk dunia telah terinfeksi oleh kuman
TB (WHO). Indonesia menempati peringkat ke empat diantara Negara-
negara TB di dunia. Estimasi prevalensi semua jenis kasus adalah 690.000
per tahun atau 289 per 100.000 dan kejadian baru diperkirakan 450.000
per tahun atau 189 per 100.000 penduduk. Perkiraan jumlah kematian
akibat TB adalah 64.000 per tahun atau 27 per 100.000 atau 175 orang per
hari (WHO). Meskipun memiliki beban tertinggi kasus TB Indonesia
adalah Negara pertama diantar Negara lain di asia tenggara yang berhasil
mencapai target TB Global untuk deteksi kasus dan keberhasilan

36 Universitas Muhammadiyah Jakarta


pengobatan sejak 2006. Tingkat keberhasilan pengobatan TB yaitu 91%
(WHO & Riskesdas)

Tujuan utama pengendalian TB Paru adalah: menurunkan insidens


TB Paru pada tahun 2015, menurunkan prevalensi TB Paru dan angka
kematian akibat TB Paru menjadi setengahnya pada tahun 2015
dibandingkan tahun 1990, sedikitnya 70% kasus TB Paru dan diobati
melalui program DOTS (Directly Observed Treatment Shortcource
Chemotherapy) atau pengobatan TB Paru dengan pengawasan langsung
oleh Pengawas Menelan Obat (PMO); dan sedikitnya 85% tercapai succes
rate. DOTS adalah strategi penyembuhan TB Paru jangka pendek dengan
pengawasan secara langsung. Tingginya angka kematian akibat TB Paru
diakibatkan oleh kurangnya kontrol masyarakat terhadap pengobatan TB
paru yang disebabkan rendahnya sikap serta pengetahuan masyarakat
terhadap pengobatan TB Paru.
B. Rumusan Masalah
Di Indonesia, TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat.
Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ketiga terbanyak di dunia
setelah India dan Cina. Pada tahun 1993, WHO mencanangkan TB sebagai
kedaruratan dunia (global emergency). Ini disebabkan banyaknya
penderita yang tidak berhasil disembuhkan, terutama penderita menular
(BTA positif). Diharapkan dengan strategi DOTS angka kesembuhan dapat
ditingkatkan yaitu mencapai target 85%.
Berdasarkan later belakang di atas, maka rumusan masalah yang
diajukan adalah bagaimana karakteristik / gambaran permasalahan yang
terjadi pada pasien TB yang sedang menjalani pengobatan paket OAT 1 &
2 di Puskesmas Paku alam periode Maret 2016 maret 2017.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum:
Mengetahui dan memahami bagaimana karakteristik / gambaran
permasalahan yang terjadi pada pasien TB yang menjalani pengobatan
paket OAT 1 & 2 di Puskesmas Paku alam Periode maret 2016 maret
2017.

37 Universitas Muhammadiyah Jakarta


2. Tujuan Khusus:
a. Diketahuinya kepatuhan pasien TB puskesmas Paku alam
meminum OAT
b. Diketahuinya kepatuhan pasien TB puskesmas Paku alam
mengambil OAT setiap minggu
c. Diketahuinya sediaan obat apa yang lebih disukai pasien TB
puskesmas Paku alam
d. Diketahuinya kebiasaan psikososial yang sulit dihindari oleh
pasien TB puskesmas Paku alam
e. Diketahui nya bagaimana pengetahuan pasien mengenai TB
adalah penyakit menular
f. Diketahuinya apa saja penyakit penyerta pada pasien TB
puskesmas Paku alam
g. Diketahui factor kebiasaan psikososial lain nya.

D. Ruang lingkup
Penelitian ini di lakukan di Puskesmas Paku Alam. Penelitian ini di
ikuti oleh pasien puskesmas paku alam yang menjalani pengobatan TBC
dengan paket OAT 1 & 2.

E. Manfaat Penelitian

1.Bagi Mahasiswa
Sebagai informasi yang dapat digunakan untuk
meningkatkan ilmu pengetahuan tentang TB Paru.
2.Bagi Puskesmas

38 Universitas Muhammadiyah Jakarta


Memberi masukan pada pelaksana program pemberantasan
penyakit TB Paru khususnya dalam meningkatkan mutu pelayanan
di Puskesmas Paku alam
3.Bagi Pasien
Sebagai sumber motivasi dan informasi serta promosi
kesehatan tentang penyakit TB Paru.
4.Bagi Peneliti
Sebagai data dasar untuk penelitian selanjutnya tentang
bagaimana penanganan klien TB Paru dalam menghadapi proses
penyakitnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi TB

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang di sebabkan


oleh kuman Mycobacteria tuberkulosis yang termasuk dalam family
Mycobacteriaceae dan termasuk dalam ordo Actinomycetales.
Mycobacteria tuberkulosis masih keluarga besar genus Mycobacterium.

39 Universitas Muhammadiyah Jakarta


berdasarkan beberapa kompleks tersebut, Mycbacteria tuberkulosis
merupakan jenis yang terpenting dan paling sering dijumpai.1

Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai


organ tubuh lainnya, namun yang paling sering terkena adalah organ paru
(90%). Bila menyerang organ lain selain paru (kelenjar limfe, kulit, otak,
tulang, usus, ginjal) disebut tuberkulosis ekstra paru.2

2.2 Etiologi TB Paru

Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh M.


tuberculosis, kuman ini berbentuk batang, berbentuk panjang 1-4 mikron
dan tebal 0,3-0,6 mikron. Bakteri ini bersifat aerobik obligat dan
merupakan parasit intraselular fakultatif. Ketika dilakukan pewarnaan
untuk keperluan identifikasi patologi, bakteri ini mampu mengikat warna
meskipun telah didekolorisasi dengan asam alkohol. Keunikan inilah yang
membuatnya memiliki sebutan Basil Tahan Asam (BTA). 3 Kuman TB
dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat gelap dan lembab, namun
mati dengan sinar matahari langsung. Berdasarkan penelitian Fatimah basil
tuberkulosis dapat bertahan hidup selama beberapa minggu di sputum
kering, ekstreta lain dan mempunyai resistensi tinggi terhadap antiseptik,
tetapi dengan cepat menjadi inaktif oleh cahaya matahari, sinar ultra violet,
atau suhu lebih tinggi 60C. 4

Umumnya manusia berperan sebagai reservoir, jarang sekali primata, di


beberapa daerah terjadi infeksi yang menyerang ternak seperti sapi, babi
dan mamalia lain. Penularan terjadi melalui udara yang mengandung basil
TB dalam percikan ludah yang dikeluarkan oleh penderita TB baru atau
TB laring pada waktu mereka batuk, bersin atau pada waktu bernyanyi.
Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. Umumnya
penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam
waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara
sinar matahari lansung dapat membunuh kuman. Daya penularan seorang
pasien diteentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya.
Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak, makin menular

40 Universitas Muhammadiyah Jakarta


pasien tersebut. Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB
ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup
udara tersebut.5

2.3 Sumber dan Cara Penularan Tuberkulosis Paru

Seorang Penderita dengan BTA (+) yang derajat positifnya tinggi,


berpotensi menularkan penyakit penularan infeksi, penderita dengan BTA
(-) dianggap tidak menularkan. Angka risiko penularan infeksi TB di
Amerika Serikat adalah sekitar 10/100.000 populasi. Di Indonesia angka
ini sebesar 1-3% yang berarti di antara 100 penduduk 1-3 yang akan
terinfeksi TB. Setengah dari mereka BTAnya akan positif (0,5%). Orang
dapat terinfeksi, jika droplet tersebut terhirup ke dalam saluran pernafasan.
Setelah kuman TB paru masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan, kuman
TB paru dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya melalui sistem
peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran nafas atau penyebaran
langsung ke bagian tubuh lainnya.1

Penyakit TB merupakan penyakit menular dengan media udara


sebagai media penularannya. Orang dapat rentan tertular penyakit ini
adalah orang yang setiap hari sering bertemu dengan pasien TB aktif.
Awalnya, bakteripenyebab TB akan tidak aktif setelah menyerang tubuh.
Infeksi jenis ini disebut infeksi TB laten. Hanya sebagian kecil saja bakteri
yang langsung menjadi aktif. Sebagian orang yang mengalami infeksi TB
laten tidak pernah merasakan gejala-gejala penyakit TB. Namun, saat
sistem kekebalan tubuh melemah, bakteri penyebab TB yang sebelumnya
tidak aktif dapat menjadi aktif. Orang-orang yang mengalami infeksi TB
laten harus menerima perawatan medis.3

Tingkat penularan sangat tergantung jumlah basil TB yang


dikeluarkan, virulensi dari basil TB, Terpajannya basil TB dengan sinar
Ultraviolet, terjadinya arosolisasi pada saat batuk, bersin, berbicara atau
pada saat bernyanyi, tindakan medis dengan risiko tinggi seperti pada
waktu otopsi, inkubasi atau pada waktu melakukan bronkoskopi. Mulai

41 Universitas Muhammadiyah Jakarta


saat masuknya bibit penyakit sampai tinbul gejala adanya lesi primer atau
reaksi ter tuberkulosis positif kira-kira memakan waktu 2-10 minggu.

Risiko penularan setiap tahun (Annual Risk of Tuberkulosis Infection


(ARTI)) di Indonesia cukup tinggi dan bervariasi antara 1-3%. Pada daerah
dengan ARTI sebesar 1% berarti setiap tahun di antara 1000 penduduk, 10
orang akan terinfeksi, kemudian sebagian besar dari orang yang terinfeksi
tidak akan menjadi penderita TB paru, hanya sekitar 10% dari yang
terinfeksi yang akan menjadi penderita tuberkulosis. Berdasarkan
keterangan tersebut, dapat diperkirakan bahwa pada daerah dengan ARTI
1%, maka diantara 100.000 penduduk rata-rata terjadi 100 penderita setiap
tahum, dimana penderita adalah BTA positif.1 Orang-orang yang memiliki
risiko tinggi terkena penyakit tuberkulosisi ini adalah orang lanjut usia,
balita, pasien HIV, orang yang mengalami malnutrisi, diabetes, perokok,
dan sebagainya.6

2.4 Gejala Klinis TB paru

Gejala klinik yang ditemukan pada pasien Tuberkulosis dapat


beraneka ragam dan banyak juga ditemukan pasien Tuberkulosis tanpa
keluhan apapun. Diantara beberapa keluhan yang muncul pada pasien
Tuberkulosis ialah sebagai berikut:
a. Demam, biasanya subfebris menyerupai demam influenza tetapi panas
badan kadang-kadang bisa mencapai 40-41C.
b. Gejala yang sering ditemukan berupa anoreksia, tidak ada nafsu
makan, sakit kepala, nyeri otot, keringat malam dll.
c. Berat badan turun, biasanya pasien tidak merasakan berat badannya
turun. Sebaiknya kita tanyakan berat badan sekarang dan beberapa
waktu sebelum pasien sakit.
d. Batuk/batuk darah, yang disebabkan oleh iritasi bronkus. Gejala ini
sering ditemukan. Batuk ini diperlukan untuk membuang produk-
produk radang keluar dari saluran napas bawah. Awalnya penderita
akan mengalami batuk kering, kemudian setelah timbul peradangan

42 Universitas Muhammadiyah Jakarta


menjadi batuk produktif atau berdahak dan keadaan lebih lanjut dapat
menjadi batuk darah karena ada pembuluh darah kecil yang pecah.
e. Sesak nafas, ditemukan pada penyakit tuberkulosis paru yang sudah
lanjut dimana infiltrasinya sudah meliputi setengah bagian paru-paru.7
Mengingat prevalensi TB paru di Indonesia saat ini masih tinggi, maka
setiap orang yang datang dengan gejala tersebut di atas, dianggap sebagai
seorang tersangka (suspek) pasien TB paru dan perlu dilakukan
pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung.1

2.5 Epidemiologi TB Paru

Secara global, terdapat peningkatan angka prevalensi penyakit


Tuberkulosis pada tahun 2014 menjadi 647/100.000 penduduk
dibandingkan tahun sebelumnya dimana terdapat 272/100.000 penduduk.
Untuk angka insidensi juga mengalami peningkatan pada tahun 2014
menjadi 399/100.000 penduduk dari sebelumnya sebesar 183/100.000
penduduk, hal yang sama juga terjadi pada angka mortalistas yang
mengalami peningkatan menjadi 41/100.000 penduduk pada tahun 2014
dimana sebelumnya pada tahun 2013 angka mortalitas akibat penyakit
tuberkulosis ialah 25/100.000 penduduk.8

Di Indonesia sendiri pada tahun 2015 ditemukan jumlah kasus


tuberkulosis sebanyak 330.910 kasus, jumlah ini meningkat bila
dibandingkan kasus tuberkulosis yang ditemukan pada tahun 2014 yaitu
sebesar 324.539 kasus. Jumlah kasus tertinggi yang dilaporkan terdapat di
provinsi dengan jumlah penduduk yang besar yaitu Jawa Barat, Jawa
Timur dan Jawa Tengah. Kasus tuberkulosis di tiga provinsi tersebut
sebesar 38% dari jumlah seluruh kasus baru di Indonesia.8

Epidemiologi kasus tuberkulosis di Indonesia berdasarkan jenis kelamin


ialah jumlah kasus pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan yaitu
1,5 kali dibandingkan pada perempuan. Menurut kelompok umur, kasus
tuberkulosis pada tahun 2015 paling banyak ditemukan pada kelompok
umur 25-34 tahun yaitu sebesar 18,65% diikuti kelompok umur 45-54

43 Universitas Muhammadiyah Jakarta


tahun sebesar 17,33% dan pada kelompok umur 35-44 tahun sebesar
17,18%. 8

Saat ini, Indonesia adalah negara dengan prevalensi tuberkulosis ke-2


tertinggi di dunia setelah India dan diikuti oleh China (23%, 10% dan 10%
dari prevalensi tuberkulosis di seluruh dunia).9

2.6 Diagnostik penyakit TB paru

Dalam Keputusan Mentri Kesehatan RI no. 364/MENKES/SK/V/2009


Tentang Pedoman penanggulangan Tuberkulosis (TB), diagnosis TB paru
berupa:

a. Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2


hari, yaitu sewaktu pagi sewaktu (SPS).
b. Diagnosis TB paru pada orang dewasa ditegakkan dengan
ditemukannya kuman TB (BTA).
c. Pada program TB Nasional, penemuan BTA melalui
pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama.
Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji kepekaan
dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai
dengan indikasinya.
d. Tidak dibenarkan mendiagnosis TB paru hanya berdasarkan
pemeriksaan foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu
meberikan gambaran yang khas pada TB paru, sehingga sering
terjadi overdiagnosis.
e. Gambaran kelainan radiologik paru tidak selalu menunjukkan
aktifitas penyakit.
f. Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk
suspek TB paru.10

Sedangkan Diagnosis TB Ekstra Paru, berupa:

a. Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena, misalnya


kaku kuduk pada meningitis TB, nyeri dada pada TB pleura
(pleuritis), pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada

44 Universitas Muhammadiyah Jakarta


limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada
spondilitis TB dan lain-lainnya.
b. Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis
kerja dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis TB yang kuat
(presumtif) dengan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain.
Ketepatan diagnosis tergantung pada metode pengambilan
bahan pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat diagnostik,
misalnya uji mikrobiologi, patologi anatomi, serologi, foto
toraks dan lain-lain.
c. Diagnosis TB paru dewasa, dijalankan seperti pada bagan
dibawah ini:

Hasil BTA
---

Gambar 2.1 Alur Diagnosis TB Paru 10

2.7 Faktor-Faktor risiko

2.7.1 Faktor Lingkungan

45 Universitas Muhammadiyah Jakarta


Ada beberapa faktor lingkungan yang berisiko terjadinya TB paru,
di antaranya:

a. Kepadatan Hunian Rumah

kepadatan penghuni adalah perbandingan atara luas lantai


rumah dengan jumlah anggota keluarga dalam satu rumah
tinggal. Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh
perumahan biasa dinyatakan dalam m2 per orang. Luas
minimum per orang sangat relatif, tergantung dari kualitas
bangunan dan fasilitas yang tersedia. Untuk perumahan
sederhana, minimum 9 m2/orang. Untuk kamar tidur
diperlukan minimum 3 m2 per orang. Kamar tidur sebaiknya
tidak dihuni >2 orang, kecuali suami istri dan anak dibawah
dua tahun. Apabila ada anggota keluarga yang menjadi
penderita penyakit TB paru sebaiknya tidak tidur dengan
anggota keluarga lainnya.11

Secara umum penilaian kepadatan penghuni dengan


menggunakan ketentuan standar minimum, yaitu kepadatan
penghuni yang memenuhi syarat kesehatan bila diperoleh dari
hasil bagi antara luas lantai dengan jumlah penghuni 9m 2
per orang dan kepadatan penghuni tidak memenuhi syarat
kesehatan bila diperoleh hasil bagi antara luas lantai dengan
jumlah penghuni <9 m2 per orang.11

b. Pencahayaan Alami

Pencahayaan alami ruangan rumah adalah penerangan


yang bersumber dari sinar matahari (alami), yaitu semua jalan
yang memungkinkan untuk masuknya cahaya matahari
alamiah, misalnya melalui jendela atau genting kaca. Cahaya
alamiah yakni matahari. Cahaya ini sangat penting, karena
dapat membunuh bakteri-bakteri patogen di dalam rumah,
misalnya kuman TB. Jendela luasnya sekurang-kurangnya

46 Universitas Muhammadiyah Jakarta


15-20%. Fungsi jendela disini selain sebagai ventiasi, juga
sebagai jalan masuk cahaya. Selain itu jalan masuknya
cahaya alamiah juga diusahakan dengan genteng kaca.13
Rumah yang tidak masuk sinar matahari mempunyai risiko
menderita TB paru 3-7 kali dibandingkan dengan rumah yang
dimasuki sinar matahari.

c. Ventilasi

Ventilasi adalah usaha untuk memenuhi kondisi atmosfer


yang menyenangkan dan menyehatkan manusia. Berdasarkan
kejadiannya, maka ventilasi dapat dibagi ke dalam dua jenis,
yaitu ventilasi alam (jendela, pintu dan lubang angin) dan
ventilasi buatan (kipas angin, exhauster, dan AC (air
conditioner). Rumah yang cukup sehat sebaiknya harus
mempunyai jalan masuk yang cukup. Jendela luasnya
sekurang-kurangnya 15-20%. Perlu diperhatikan agar sinar
matahari dapat langsung ke dalam ruangan, tidak terhalang
oleh bangunan lain.13

d. Suhu

Suhu adalah panas atau dinginnya udara yang dinyatakan


dengan satuan derajat tertentu. Secara umum, penilaian suhu
rumah dengan menggunakan termometer ruangan.
Berdasarkan indikator pengawasan perumahan, suhu rumah
yang memenuhi syarat kesehatan adalah antara 20 30 0C dan
suhu rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah
<200C atau >300C.26 Mycobacterium Tuberculosis merupakan
bakteri mesofilik yang tumbuh subur dalam rentang 25 0C -
400C, akan tetapi bakteri ini tumbuh secara optimal pada suhu
310C - 370C.14

e. Kelembaban

47 Universitas Muhammadiyah Jakarta


Pengukuran tingkat kelembaban udara dalam rumah
menggunakan hygrometer. Menurut indikator pengawasan
perumahan, kelembaban udara yang memenuhi syarat
kesehatan dalam rumah adalah 40-60% dan kelembaban
udara yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah ,40%
atau >60%.32 Kelembaban yang tidak memenuhi syarat akan
mendukung kehidupan kuman TB. Apabila kelembaban
tinggi dalam suatu rumah, maka kuman TB dapat bertahan
hidup dan berkembang biak sehingga menjadi mata rantai
penularan TB paru.12

Hasil penelitian yang dilakukan di Kupang dengan


melaporkan bahwa seseorang yang tinggal di rumah dengan
tingkat kelembaban udara tidak memenuhi syarat berisiko 4,2
kali lebih besar menderita TB paru daripada seseorang yang
tinggal di rumah dengan tingkat kelembaban udara memenuhi
syarat.4

2.7.2 Faktor Perilaku

Sebelum membahas faktor perilaku, maka akan dibahas


karakteristik individu yang mempengaruhi kondisi individu:

a. Umur

Umur merupakan faktor terpenting dari Host pada


kejadian TB paru. Risiko untuk mendapatkan TB paru dapat
dikatakan seperti halnya kurva normal terbalik, yakni tinggi
ketika awalnya, menurun karena diatas 2 tahun hingga
dewasa memiliki daya tahan terhadap TB paru dengan baik.
Puncaknya tentu dewasa muda dan menurun kembali ketika
seseorang atau kelompok menjelang umur tua. Infeksi TB
paru aktif meningkat secara bermakna sesuai dengan umur.
Insiden tertinggi TB paru biasanya mengenai umur dewasa

48 Universitas Muhammadiyah Jakarta


muda. Di Indonesia diperkirakan 75% penderita TB paru
adalah kelompok umur produktif yaitu 15-50 tahun. 1

Terdapat 3 puncak kejadian dan kematian TB paru, yaitu:

1) Paling rendah pada awal anak (bayi) dengan orang tua


penderita.
2) Paling luas pada masa remaja dan dewasa muda
sesuai dengan pertumbuhan, perkembangan fisik-
mental dan momen kehamilan pada perempuan.
3) Puncak sedang pada umur lanjut.

b. Jenis Kelamin

Laki-laki lebih umum terkena, kecuali pada perempuan


dewasa muda yang diakibatkan tekanan psikologis dan
kehamilan yang menurunkan resistensi. Risiko TB paru
terutama menyerang laki-laki. Jumlah penderita TB paru laki-
laki hampir 2 kali lipat dibandingkan jumlah penderita TB
paru pada perempuan, yaitu 42,3% pada laki-laki dan 28,9%
pada perempuan. TB paru lebih banyak terjadi pada laki-laki
dibandingkan perempuan karena laki-laki sebagian besar
mempunyai kebiasaan merokok sehingga memudahkan
terjangkitnya TB paru.11 Distribusi kejadian TB paru di
Indonesia sebagian besar berjenis kelamin laki-laki
(prevalensi= 0,4%). 16

c. Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi


terhadap pengetahuan seseorang diantaranya mengenai rumah
yang memenuhi syarat kesehatan dan pengetahuan penyakit
TB paru, sehingga dengan pengetahuan yang cukup maka
seseorang akan mencoba untuk mempunyai perilaku hidup

49 Universitas Muhammadiyah Jakarta


bersih dan sehat. Selain itu tingkat pendidikan seseorang akan
mempengaruhi terhadap jenis pekerjaannya. 11

d. Jenis Pekerjaan

Jenis pekerjaan menentukan faktor risiko apa yang harus


dihadapi setiap individu. Bila pekerja bekerja di lingkungan
yang berdebu paparan partikel debu di daerah terpapar akan
mempengaruhi terjadinya gangguan pada saluran pernafasan.
Paparan kronis udara yang tercemar dapat meningkatkan
morbiditas, terutama terjadinya gejala penyakit saluran
pernafasan dan umumnya TB paru.11

Setelah mengetahui karakteristik individu yang mempengaruhi kondisi


individu, berikut adalah faktor perilaku yang menjadi faktor risiko TB
paru:

a. Penyakit Human Immunodefiviency Virus (HIV)

Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang


menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah,
diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi. Infeksi HIV
mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh
seluler dan merupakan faktor risiko paling kuat bagi yang
terinfeksi TB untuk menjadi sakit TB (TB aktif). Bila jumlah
orang yang terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah pasien
TB akan meningkat, dengan demikian penularan TB di
masyarakat akan meningkat pula.1

b. Status Imunisasi BCG

Status imunisasi BCG mempengaruhi kejadian TB. Tujuan


atau manfaat imunisasi BCG (Basil Calmette Guerin) yaitu
untuk mencegah bayi atau anak terserang dari penyakit TB
yang berat, seperti: meningitis tuberkulosa dan tuberkulosis
milier. Hal ini dikarenakan bayi atau anak masih rentan

50 Universitas Muhammadiyah Jakarta


terinfeksi Mycobacterium Tuberkulosis penyebab penyakit
TB, akibat adanya kontak dengan penderita TB yang ada di
sekitarnya, seperti: orang tua, keluarga, pengasuh, dan lain
sebagainnya.10 Berdasarkan penelitian yang dilakukan di
NTB dengan desain kasus kontrol melaporkan bahwa
proporsi penderita TB paru tertinggi terdapat pada orang
yang tidak diimunisasi yaitu sebesar 96,9%.15

c. Merokok

menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, rokok adalah


gulungan tembakau kira-kira sebesar kelingking yang
dibungkus daun nipah atau kertas. Berdasarkan Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia nomor 109 tahun 2012
tentang pengamanan yang Mengandung Zat Adiktif berupa
produk tembakau mendefinisikan rokok salah satu produk
tembakau yang dibakar, diihisap, dan dihirup asapnya,
termasuk rokok kretek, rokok putih, cerutu atau bentuk
lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana rustica,
Nicotiana tabacum, dan spesies lainnya.17

2.8. Bentuk Obat TB

Jenis obat utama (lini 1) yang digunakan adalah:


INH
Rifampisin
Pirazinamid
Streptomisin
Etambutol
Jenis obat tambahan lainnya (lini 2)
Kanamisin
Amikasin
Kuinolon
Obat lain masih dalam penelitian yaitu makrolid dan amoksilin +
asam klavulanat

51 Universitas Muhammadiyah Jakarta


Beberapa obat berikut ini belum tersedia di Indonesia antara lain:
Kapreomisin
Sikloserino
PAS (dulu tersedia)
Derivat rifampisin dan INH
Thioamides (ethionamide dan prothionamide).18

Paduan OAT yang digunakan di Indonesia (Sesuai Rekomendasi


WHO dan ISTC) (11)
Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Pengendalian
Tuberkulosis di Indonesia adalah :
Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3.
Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3
Kategori Anak : 2(HRZ)/4(HR) atau 2HRZA(S)/4-10HR

Paduan OAT Kategori-1 dan Kategori-2 disediakan dalam bentuk paket


obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT). Tablet OAT KDT ini terdiri dari
kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. Dosisnya disesuaikan
dengan berat badan pasien. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk
satu pasien.
Paket Kombipak adalah paket obat lepas yang terdiri dari Isoniasid,
Rifampisin, Pirazinamid dan Etambutol yang dikemas dalam bentuk
blister. Paduan OAT ini disediakan program untuk digunakan dalam
pengobatan pasien yang terbukti mengalami efek samping pada
pengobatan dengan OAT KDT sebelumnya.

Paduan OAT Kategori Anak disediakan dalam bentuk paket obat


kombinasi dosis tetap (OAT-KDT). Tablet OAT KDT ini terdiri dari
kombinasi 3 jenis obat dalam satu tablet. Dosisnya disesuaikan dengan
berat badan pasien. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu
pasien.

52 Universitas Muhammadiyah Jakarta


Paduan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) disediakan dalam bentuk
paket, dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin
kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai. Satu (1) paket
untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan.
Obat Anti Tuberkulosis (OAT) disediakan dalam bentuk paket
KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB, yaitu:
a. Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin
efektifitas obat dan mengurangi efek samping.
b. Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko
terjadinya resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan
resep.
c. Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat
menjadi sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien.19

Paduan OAT KDT Lini Pertama dan Peruntukannya.


a. Kategori-1 : 2(HRZE) / 4(HR)3
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
Pasien TB paru terkonfirmasi bakteriologis.
Pasien TB paru terdiagnosis klinis
Pasien TB ekstra paru

Dosis Paduan OAT KDT Kategori 1: 2(HRZE)/4(HR)3

Dosis Paduan OAT Kombipak Kategori 1: 2HRZE/4H3R3

53 Universitas Muhammadiyah Jakarta


b. Kategori -2: 2(HRZE)S / (HRZE) / 5(HR)3E3)
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang pernah diobati
sebelumnya
(pengobatan ulang):
Pasien kambuh
Pasien gagal pada pengobatan dengan paduan OAT kategori 1
sebelumnya
Pasien yang diobati kembali setelah putus berobat (lost to follow-up).19

Dosis Paduan OAT KDT Kategori 2: 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3

Dosis Paduan OAT Kombipak Kategori 2: 2HRZES/HRZE/ 5H3R3E3

54 Universitas Muhammadiyah Jakarta


Catatan:
Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB pada keadaan khusus.
Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan
aquabidest sebanyak 3,7ml sehingga menjadi 4ml. (1ml = 250mg).
Berat badan pasien ditimbang setiap bulan dan dosis pengobatan harus
disesuaikan apabila terjadi perubahan berat badan. ( )
Penggunaan OAT lini kedua misalnya golongan aminoglikosida
(misalnya kanamisin) dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan
kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut
jauh lebih rendah daripada OAT lini pertama. Disamping itu dapat juga
meningkatkan risiko terjadinya resistensi pada OAT lini kedua.
OAT lini kedua disediakan di Fasyankes yang telah ditunjuk guna
memberikan pelayanan pengobatan bagi pasien TB yang resistan obat.19

Obat Anti TB (OAT) Non Resistan


Dalam pelayanan pengobatan pasien TB, Program Nasional
Pengendalian TB (Kemenkes R.I) menyediakan paduan OAT dalam
bentuk paket individual untuk setiap pasien. Paket OAT ini dikemas dalam
dua jenis kemasan, yaitu: kemasan Kombinasi Dosis Tetap (KDT)/Fix
Dose Combination (FDC) dan kemasan Kombipak.
Paket OAT KDT/FDC adalah paket OAT yang dalam setiap tablet
OAT-nya telah ada seluruh/beberapa jenis OAT yang digunakan untuk
paduan pengobatan TB. Dimana P2TB pada paket OAT KDT-nya
menggunakan 4KDT/4FDC dan 2KDT/2FDC.

55 Universitas Muhammadiyah Jakarta


Paket Kombipak adalah paket OAT dimana tablet OAT-nya masih
lepasan dari setiap jenis OAT yang digunakan untuk paduan pengobatan
TB. Baik paket OAT KDT/FDC maupun paket OAT Kombipak, tablet
OAT-nya dikemas dalam bentuk blister.
Paduan paket OAT yang saat ini disediakan oleh Program Nasional
Pengendalian Tuberkulosis adalah:
Paket KDT OAT Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3
Paket KDT OAT Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3
Paket KDT OAT Kategori Anak : 2(HRZ)/4(HR)
Paket Kombipak Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3
Paket Kombipak Kategori Anak : 2HRZ/4HR.19

Obat Anti TB (OAT) RR/MDR


Dalam pelayanan pengobatan pasien TB resistan obat, Program
Nasional Pengendalian TB (Kemenkes R.I) menyediakan paduan OAT
dalam bentuk paduan individual yang terdiri dari beberapa OAT lini kedua
ditambah OAT lini pertama yang masih sensitif.
Sediaan dari OAT lini kedua dan lini pertama yang digunakan
untuk paduan OAT RR/MDR yang disediakan adalah:19

2.9. Hilangnya Gejala Setelah Minum Obat 2 minggu-1 bulan

56 Universitas Muhammadiyah Jakarta


Penyakit TB paru adalah kondisi serius yang dapat berakibat fatal
jika tidak diobati dengan tuntas. Umumnya, pengobatan tuberkulosis
hanya memerlukan rawat jalan, kecuali pada kasus berat yang memerlukan
perawatan di rumah sakit. Pengobatan TB memang cukup melelahkan
dikarenakan obat TB harus diminum secara rutin selama setidaknya enam
bulan bahkan lebih lama pada kasus-kasus yang lebih berat, tentu
diperlukan pemahaman yang baik demi kepatuhan dalam meminum obat.

Setelah minum obat selama dua minggu, kebanyakan


penderita tidak lagi menular dan merasa lebih baik. Namun penderita TB
tetap harus terus minum obat seperti yang dianjurkan oleh dokter dan
habiskan seluruh antibiotik yang telah diberikan. TB bisa berulang jika
pengobatan tidak dilakukan secara benar dan tuntas. Hal ini sering dialami
pasien karena pengobatan memerlukan waktu yang lama sehingga pasien
bosan dan merasa dirinya sudah membaik. Mereka kerap menghentikan
sendiri pengobatannya sebelum evaluasi pengobatan TB selesai.20

2.10. Pengetahuan Pasien Mengenai TB adalah Penyakit Menular

Tuberculosis adalah penyakit menular langsung yang di sebabkan


oleh kuman TBC (Mycobactyerium Tuberculosis ). Sebagian besar kuman
TB menyerang paru, tapi dapat juga menegenai organ tubuh lain seperti :
tulang, sendi, usus, kelenjar linfe dan selaput otak. Proses terjadinya
infeksi oleh M. Tuberculosis biasannya secara inhalasi, sehingga TB paru
merupakan manifestasi klinis paling sering dibanding organ lain.
Penularan penyakit ini sebagian besar melalui inhalasi basil yang
mengandung droplet nuclei , khususnya yang didapat dari pasien TB paru
dengan batuk berdahak atau berdahak yang mengandung basil tahan asam
(BTA).

Sumber penularan adalah pasien TB paru BTA positif melalui


udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei) pada waktu bersin
atau batuk. Daya penularan ditentukan banyaknya kuman yang

57 Universitas Muhammadiyah Jakarta


dikeluarkan dari parunya, makin tinggi derajat kepositifannya hasil
pemeriksaan dahak makin menular pasien tersebut. Faktor yang
mempengaruhi kemungkinan seseorang tertular adalah daya tahan tubuh
yang rendah, seperti adanya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi. Resiko
penularan menurut A nnual Risk of Tuiberculosis infection (ARTI) yaitu
proporsi penduduk yang terinfeksi TB paru selama satu tahun sebesar 1%
diperkirakan dari 100.000 penduduk rata-rata 1.000 terinfeksi TB paru
dan 10% diantaranya akan menjadi sakit TB dan 50 penderita
diantaranya TB paru BTA positif.18

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ferry Andreas Nugroho


(2010) terhadap 25 responden, didapatkan responden yang memiliki
tingkat pengetahuan baik sebanyak 56%, cukup sebanyak 40% dan kurang
sebanyak 4%. Secara teori, pengetahuan dan kognitif merupakan domain
yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. 50%
responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang pencegahan
penularan TB paru.

Kurangnya pengetahuan tentang penularan TB paru, akan


menghasilkan suatu perilaku yang tidak baik antara lain, kebiasaan
penderita meludah disembarangan tempat, batuk tanpa menutup mulut,
pengobatan yang tidak teratur, saat berbicara tidak memperhatikan jarak
sehingga resiko penularan lebih besar, serta berbagai faktor lainnya.21

2.11. Kepatuhan Pengambilan Obat pada Pasien TB.

Studi pendahuluan yang dilakukan di BP4 (Balai Peberantasan dan


Pencegahan Penyakit Paru)
Pamekasan pada 5 pasien yang menjalani program pengobatan di Poli Paru, 3
pasien diantaranya mengatakan tidak tepat waktu untuk kontrol dan 2 pasien
diantaranya mengatakan tepat waktu dalam menjalani pengobatan/kontrol ke Poli
Paru. Ini membuktikan masih kurangnya kepatuhat berobat pada pasien TB Paru.
Data dari BP4 (Balai Peberantasan dan Pencegahan Penyakit Paru) Pamekasan
dari tahun 2011-2013 angka pasien putus berobat (DO/Drop Out) sebanyak 8
orang (5,97%) dari 134 orang, dan pasien yang gagal menjalani pengobatan

58 Universitas Muhammadiyah Jakarta


sebanyak 4 orang (2,98%) . Ini membuktikan masih kurangnya kepatuhan berobat
pada pasien TB Paru.22
Pasien TB dan PMO biasanya dianjurkan untuk melakukan kontrol rutin
setiap 2 pekan sekali, untuk dipantau perkembangan hasil pengobatannya serta
pemberian OAT untuk 2 pekan yang akan datang. Apabila ada keluhan efek
samping OAT (seperti gatal dan mual), maka pasien harus menyampaikan kepada
petugas kesehatan saat kontrol agar dapat diberikan obat mengatasi efek samping
tersebut, serta OAT jangan diberhentikan sendiri dan tetap dilanjutkan sesuai
anjuran.

Kontrol tetap dilakukan rutin setiap 2 pekan sekali. Satu bulan sebelum
selesai tahap lanjutan,kembali pasien TB akan melakukan pemeriksaan dahak di
laboratorium sebanyak 2 kali untuk dilihat apakah kuman TB nya tetap tidak ada.
Apabila hasilnya menunjukkan kuman TB nya tetap tidak ada, maka pengobatan
TB dilanjutkan sampai tuntas. Pada akhir tahap lanjutan (1 pekan sebelum
pengobatan bulan keenam), untuk memastikan kembali kuman TB tetap tidak ada,
pasien TB akan diperiksa kembali dahaknya di laboratorium sebanyak 2 kali. Dan
apabila hasil pemeriksaan dahaknya ternyata tetap tidak ditemukan kuman TB
nya, maka pasien TB tersebut dinyatakan sembuh dari penyakit TB.

Pada penderita TB mungkin akan menjadi kendala ketika harus ke


puskesmas setiap 1-2 minggu yang disebabkan faktor pekerjaan yang meningkat
atau faktor jarak. Namun aturan ke puskesmas selama 1-2 minggu sudah
merupakan kebijakan program penanggulangan tuberculosis di Indonesia yang
salah satunya adalah DOTS (Directly Observed Treatment Short Course).23

2.12. Efek Samping Obat TB

Sebagian besar pasien TB dapat menyelesaikan pengobatan tanpa efek


samping. Namun sebagian kecil dapat mengalami efek samping, oleh karena itu
pemantauan kemungkinan terjadinya efek samping sangat penting dilakukan
selama pengobatan.
Efek samping yang terjadi dapat ringan atau berat (terlihat pada tabel 4), bila efek

59 Universitas Muhammadiyah Jakarta


samping ringan dan dapat diatasi dengan obat simptomatis maka pemberian OAT
dapat dilanjutkan.

1. Isoniazid (INH)

Sebagian besar pasien TB dapat menyelesaikan pengobatan tanpa efek samping.


Namun sebagian kecil dapat mengalami efek samping, oleh karena itu
pemantauan kemungkinan terjadinya efek samping sangat penting dilakukan
selama pengobatan.
Efek samping yang terjadi dapat ringan atau berat (terlihat pada tabel 4), bila efek
samping ringan dan dapat diatasi dengan obat simptomatis maka pemberian OAT
dapat dilanjutkan.

2. Rifampisin

Efek samping ringan yang dapat terjadi dan hanya memerlukan pengobatan
simptomatis ialah :
- Sindrom flu berupa demam, menggigil dan nyeri tulang
- Sindrom perut berupa sakit perut, mual, tidak nafsu makan, muntah kadang-
kadang diare
- Sindrom kulit seperti gatal-gatal kemerahan
Efek samping yang berat tetapi jarang terjadi ialah :
- Hepatitis imbas obat atau ikterik, bila terjadi hal tersebut OAT harus distop
dulu dan penatalaksanaan sesuai pedoman TB pada keadaan khusus
- Purpura, anemia hemolitik yang akut, syok dan gagal ginjal. Bila salah satu
dari gejala ini terjadi, rifampisin harus segera dihentikan dan jangan diberikan
lagi walaupun gejalanya telah menghilang
- Sindrom respirasi yang ditandai dengan sesak napas
Rifampisin dapat menyebabkan warna merah pada air seni, keringat, air mata dan
air liur. Warna merah tersebut terjadi karena proses metabolisme obat dan tidak
berbahaya. Hal ini harus diberitahukan kepada pasien agar mereka mengerti dan
tidak perlu khawatir.

3. Pirazinamid

Efek samping utama ialah hepatitis imbas obat (penatalaksanaan sesuai pedoman

60 Universitas Muhammadiyah Jakarta


TB pada keadaan khusus). Nyeri sendi juga dapat terjadi (beri aspirin) dan
kadang-kadang dapat menyebabkan serangan arthritis Gout, hal ini kemungkinan
disebabkan berkurangnya ekskresi dan penimbunan asam urat. Kadang-kadang
terjadi reaksi demam, mual, kemerahan dan reaksi kulit yang lain.

4. Etambutol

Etambutol dapat menyebabkan gangguan penglihatan berupa berkurangnya


ketajaman, buta warna untuk warna merah dan hijau. Meskipun demikian
keracunan okuler tersebut tergantung pada dosis yang dipakai, jarang sekali
terjadi bila dosisnya 15-25 mg/kg BB perhari atau 30 mg/kg BB yang diberikan 3
kali seminggu. Gangguan penglihatan akan kembali normal dalam beberapa
minggu setelah obat dihentikan. Sebaiknya etambutol tidak diberikan pada anak
karena risiko kerusakan okuler sulit untuk dideteksi

5. Streptomisin
Efek samping utama adalah kerusakan syaraf kedelapan yang berkaitan dengan
keseimbangan dan pendengaran. Risiko efek samping tersebut akan meningkat
seiring dengan peningkatan dosis yang digunakan dan umur pasien. Risiko
tersebut akan meningkat pada pasien dengan gangguan fungsi ekskresi ginjal.
Gejala efek samping yang terlihat ialah telinga mendenging (tinitus), pusing dan
kehilangan keseimbangan. Keadaan ini dapat dipulihkan bila obat segera
dihentikan atau dosisnya dikurangi 0,25gr. Jika pengobatan diteruskan maka
kerusakan alat keseimbangan makin parah dan menetap (kehilangan
keseimbangan dan tuli).
Reaksi hipersensitiviti kadang terjadi berupa demam yang timbul tiba-tiba disertai
sakit kepala, muntah dan eritema pada kulit. Efek samping sementara dan ringan
(jarang terjadi) seperti kesemutan sekitar mulut dan telinga yang mendenging
dapat terjadi segera setelah suntikan. Bila reaksi ini mengganggu maka dosis
dapat dikurangi 0,25gr
Streptomisin dapat menembus sawar plasenta sehingga tidak boleh diberikan pada
perempuan hamil sebab dapat merusak syaraf pendengaran janin.18

61 Universitas Muhammadiyah Jakarta


Efek samping Kemungkina Tatalaksana
n Penyebab
Minor OAT
diteruskan

Tidak nafsu makan, mual, sakit perut Rifampisin Obat diminum


malam
sebelum tidur
Nyeri sendi Pyrazinamid Beri aspirin
/allopurinol
Kesemutan s/d rasa terbakar di kaki INH Beri vitamin
B6
(piridoksin) 1
x 100 mg
perhari
Warna kemerahan pada air seni Rifampisin Beri
penjelasan,
tidak perlu
diberi apa-apa
Mayor Hentikan
obat

Gatal dan kemerahan Semua jenis OAT Beri


pada kulit antihistamin
dan dievaluasi
ketat
Tuli Streptomisin Streptomisin
dihentikan
Gangguan Streptomisin Streptomisin
keseimbangan (vertigo dihentikan
dan nistagmus)
Ikterik / Hepatitis Imbas Sebagian besar OAT Hentikan
Obat (penyebab lain semua OAT
disingkirkan) sampai ikterik
menghilang
dan boleh
diberikan
hepatoprotekt
or
Muntah dan confusion Sebagian besar OAT Hentikan
(suspected drug-induced semua OAT
pre-icteric hepatitis) dan lakukan
uji fungsi hati
Gangguan penglihatan Etambutol Hentikan
etambutol
Kelainan sistemik, Rifampisin Hentikan

62 Universitas Muhammadiyah Jakarta


termasuk syok dan rifampisin
purpura

2.13. Pengetahuan pasien TB tentang MDR.

Berdasarkan penelitian, meminum obat TB selama enam bulan


adalah metode yang paling efektif untuk memastikan bahwa bakteri TB
telah dibunuh seluruhnya. Jika penderita berhenti minum antibiotik
sebelum enam bulan, atau melewatkan dosis (obat tidak diminum teratur),
maka infeksi TB dapat menjadi resisten (kebal) terhadap antibiotik yang
sebelumnya diberikan. Hal ini berpotensi serius karena jika ini terjadi,
penyakit TB resisten akan sulit diobati sehingga akan memerlukan
pengobatan yang lebih lama atau bahkan jenis obat yang berbeda.

M. tuberculosis merupakan bakteri dengan bentuk basil dan tahan


terhadap asam. Sulitnya mengusir bakteri ini disebabkan kemampuannya
untuk berada dalam kondisi nonreplikasi (dorman) di dalam tubuh
manusia, padahal kebanyakan antibiotik berfungsi saat bakteri dalam fase
replikasi. Di indonesia, pengobatan TB terdiri atas 2 tahap, yaitu tahap
awal (intensif) dan lanjutan. Di tahap awal pasien mendapat obat setiap
hari. Pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, dan
biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2
minggu, yang ditandai dengan sebagian besar pasien TB BTA positif
menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan. Sedangkan di tahap
lanjutan, obat yang diberikan berkurang, namun berlangsung lebih lama,
tahap ini penting untuk eliminasi kuman yang persisten sehingga tidak
terjadi kekambuhan atau resistensi.20

2.14. Pengetahuan pasien tentang kebiasaan yang harus dihilangkan sejak


terdiagnosis TB

Merokok

63 Universitas Muhammadiyah Jakarta


Banyak orang yang sudah tertular kuman tuberkulosis (TB),
tetapi tidak sakit. Hal itu terjadi karena kuman TB hanya "tidur" di
dalam tubuh atau dikenal dengan TB laten. Jika daya tahan tubuh
seseorang menurun, kuman TB dapat bangkit sehingga membuat
seseorang sakit TB. Salah satu hal yang bisa membangkitkan
kuman TB adalah merokok. Sebanyak 20 persen TB berhubungan
dengan rokok. Perokok dua sampai tiga kali lebih berisiko terkena
TB. Menurut penelitian, kasus TB pada pasien perokok yang sudah
sembuh memungkinkan untuk terjadi kekambuhan.

Para perokok pun rentan tertular TB disebabkan karena


racun-racun dalam asap rokok dapat merusak paru-paru manusia
dan menurunkan daya tahan tubuh. Akibatnya, tubuh tak dapat
menangkal kuman TB dan mengaktifkan kuman TB yang
laten.Pasien TB yang sedang menjalani pengobatan juga harus
berhenti merokok. Karena TB akan sulit disembuhkan atau menjadi
penyakit yang lebih parah dikemudian hari.

Minuman berkafein dan alkokol.

Pasien TB dilarang keras mengkonsumsi minuman


beralkohol selama menjalani pengobatan. Minuman beralkohol dan
berkafein adalah jenis minuman yang dapat membuat gangguan
tidur dan membuat sulit tidur, hal ini dapat menurunkan daya tahan
tubuh yang kemudian dapat menyebabkan lamanya penyembuhan
penyakit TB. University of Maryland Medical System
menyebutkan pasien TB disarankan mengkonsumsi the hijau bebas
kafein sebagai sumber antioksidan untuk meningkatkan kesehatan.

2.15. Pengetahuan pasein untuk menjaga asupan gizi sejak terdiagnosis TB

Penderita TB tidak cukup hanya ditangani dengan pengobatan yang terus


menerus tanpa henti. Asupan gizi yang masuk pun harus diperhatikan dengan
benar. Untuk melawan tuberkulosis, pasien harus mengkonsumsi makanan bergizi

64 Universitas Muhammadiyah Jakarta


seimbang yang memberikan tubuh nutrisi penting dalam melawan penyakit.
Risiko dan gejala TB dapat dikurangi dengan mengonsumsi makanan kaya
vitamin B, zat besi, antioksidan dan menjauhi makanan olahan seperti gula dan
roti putih. Dengan pengobatan dan asupan gizi yang tepat, pasien TB dapat hidup
normal dengan berat badan ideal.

Anjuran Bagi Penderita TBC:

- Makanlah berbagai macam buah segar dan sayuran setiap hari, namun
tetap dalam jumlah kalori yang direkomendasikan dokter. Pilih sayuran
yang berbeda dari berbagai jenis seperti sayuran hijau tua, sayuran
berwarna oranye, dan kacangkacangan.
- Kalsium dalam susu sangat penting untuk membangun kesehatan tulang
pasien TB.
- Jika mengkonsumsi daging, pilihlah daging tanpa lemak atau rendah
lemak.
- Jagalah asupan total lemak dan minyak antara 25-30 persen kalori harian
yang ditemukan dalam makanan seperti ikan, kacangkacangan dan minyak
sayur.
- Makanlah berbagai macam makanan yang kaya protein seperti kacang-
kacangan dan biji-bijian.
- Makanlah makanan kecil sepanjang hari dengan rentang waktu yang
singkat. Pastikan agar tubuh mendapat cukup asupan cairan dan garam
dalam makanan.
- Makanan untuk pasien TB harus sederhana, dipersiapkan dengan baik dan
mudah dicerna. Makanan yang lebih berat baru dapat diberikan kepada
pasien setelah kondisinya sangat membaik.

65 Universitas Muhammadiyah Jakarta


BAB III
METODE PENELITIAN1
3.1 Desain Penelitian1
Penelitian ini adalah penelitian survei yang bersifat deskriptif, yang bertujuan
untuk Memahami karakteristik pasien TB yang berhasil maupun gagal dalam masa
pengobatan. Pendekatan yang digunakan pada desain penelitian ini adalah cross
sectional study dimana data dikumpulkan pada satu waktu tertentu.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian


3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Paku Alam,
Serpong Utara, Kota Tanggerang Selatan. Pada lokasi ini, terdapat populasi
yang cukup besar.

3.2.2 Waktu Penelitian


Waktu penelitian ini berlangsung selama 1 bulan, sejak peneliti
menentukan judul yang berlangsung pada bulan April 2017 Populasi dan
Sampel dalam Penelitian

3.3.1Populasi dalam Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien TB di wilayah


kerja Puskesmas Paku Alam, Serpong Utara, kota Tanggerang Selatan periode
Maret 2016 - Maret 2017. Populasi pada penelitian ini berjumlah 15 orang.

Formula Slovin

n = N

1+ Nd2

66 Universitas Muhammadiyah Jakarta


= 15

1+15. 0,052

= 14

Berdasarkan rumus di atas didapatkan di atas didapatkan besar sampel penelitian


minial 14.

67 Universitas Muhammadiyah Jakarta


3.3.2 Sampel dalam Penelitian
Sampel pada penelitian ini adalah seluruh pasien TB di wilayah kerja Puskesmas Paku
Alam, Serpong Utara, kota Tanggerang Selatan tahun periode Maret 2016 - Maret 2017.
Perhitungan jumlah sampel dilakukan dengan menggunakan metode total sampling.

3.3.3 Teknik Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan metode total sampling.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

3.4.1 Data Primer

Data primer adalah data yang berasal dari sampel penelitian. Pengumpulan data
dilakukan dengan menggunakan instrumen kuesioner. Kuesioner yang telah selesai disusun
sudah dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas.

3.4.2 Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang didapatkan dari pihak Puskesmas yang berhubungan
dengan jumlah pasien TB di wilayah kerja Puskesmas Paku Alam, Serpong Utara, kota
Tanggerang Selatan periode Maret 2016 - Maret 2017

3.5 Kriteria Inklusi dan Kriteri Eksklusi

3.5.1 Kriteria Inklusi


1. Pasien TB yang mengambil paket pengobatan OAT di wilayah kerja Puskesmas Paku Alam,
Serpong utara, Kota Tanggerang Selatan yang memiliki data medis lengkap periode Maret
2016-Maret 2017

68 Universitas Muhammadiyah Jakarta


3.6 Pengujian Instrumen Penelitian
Alat ukur atau instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
menggunakan kuesioner (angket) yang dibuat sendiri.

3.7 Teknik Pengolahan Data

Editing

Pada tahap ini yang dilakukan yaitu memeriksa pertanyaan pada kuesioner yang
dikumpulkan berkaitan dengan kelengkapan dalam pengisian, kesalahan penelitian konsistensi
jawaban dari setiap kuesioner dan berkesinambungan serta menjumlahkan kuesioner dan
responden.

Coding
Tahap ini yaitu proses pemberian kode pada setiap pertanyaan dan jawaban dalam
kuesioner untuk memudahkan pengolahan data

Entry
Masukkan data yang telah di skor ke dalam sistem komputerisasi dengan menggunakan
perangkat lunak statistik dan juga secara manual.
Cleaning
Data yang dikelompokkan, selanjutnya pada tahap ini dilakukan pemeriksaan ulang bila
ada kesalahan pada tahap sebelumnya.
Tabulating

Proses pemindahan data dari jawaban kuesioner ke dalam bentuk tabel, untuk
mempermudah ke dalam bentuk proses enteri data.

3.8 Teknik Analisis Data

Analisis Univariat (Analisis Deskriptif)


Analisis univariat dilakukan melihat gambaran tiap variabel dari hasil penelitian, dalam
analisis ini hanya menggunakan distribusi dan persentase dari tiap variable. Analisis univariat

69 Universitas Muhammadiyah Jakarta


menggunakan distribusi frekuensi relatif dimana frekuensi tiap kelas diubah dalam bentuk
persen (%).

3.9 Penilaian Variabel


Kuesioner ini dalam bentuk pernyataan. Jumlah pernyataan pengetahuan yang
digunakan 10 pernyataan. Bila jawaban responden ya akan diberi nilai 1, jika jawaban tidak
diberi nilai 0.

3.10 Definisi Operasional


Definisi operasional variabel adalah rumusan pengertian variabel-variabel yang diamati,
diteliti, dan diberi batasan.

Untuk mendapatkan kesamaan penafsiran dan pengertian serta untuk membatasi ruang lingkup
atau pengertian variabel yang diamati / diteliti agar tidak meluas sehingga terdapat persamaan
persepsi, maka peneliti memberikan batasan-batasan istilah yang digunakan, yaitu:

Tabel 3.1. Definisi Operasional

No Variabel Definisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala


Operasional
1. Bentuk obat Tb Kepuasan Kuesioner Melihat a. Iya Nominal
b. Tidak
responden dalam kuesioner
menggunakan obat dan
TB combipack atau wawancara
awuran.

OAT paket lepas


a. Combipac yang terdiri dari
k isoniazid,
rifampisin,
pirazinamid dan
etambutol yang
dikemas dalam

70 Universitas Muhammadiyah Jakarta


bentuk glister.
Kombinasi
penobatan non
b. Awuran paket

2. Hilangnya gejala Responden Kuesioner Melihat a. Iya Ordinal


b. Tidak
setelah minum mengalami kuesioner
obat 2 minggu hilangnya gejala Tb dan
sampai 1 bulan yang antra lain, wawancara
batuk lebih dari 2
minggu, batuk
berdarah, sesak
napas, nyeri dada,
demam, hilangnya
napsu makan ,
keringat malem,
kelelahan dan
kelemahan. Setelah
minum obat 2
minggu sampai 1
bulan.
3. Pengetahuan Kemampuan Kuesioner Melihat a. Iya Ordinal
b. Tidak
pasien mengenai responden untuk kuesioner
TB adalah mengetahui TB dan
penyakit menular adalah penyakit wawancara
menular
4 Kendala orang Responden Kuesioner Melihat a. Iya
b. Tidak
harus balik ke mengalami kuesioner
puskesmas selam keberatan dalam dan
1 minggu /x penambilan obat wawancara
TB 1 minggu sekali
ke puskesmas

71 Universitas Muhammadiyah Jakarta


5 Efek samping obat Responden merasa Kuesioner Melihat a. Iya
b. Tidak
TB aktivitas sehari- kuesioner
harinya terganggu dan
karena OAT wawancara
6. Pengetahuan Kemampuan Kuisioner Kuesioner a. Iya
Tidak
pasien TB tentang responden untuk dan
MDR mengetahui wawancara
tentang MDR TB
7 Pengetahuan Kemampuasn Kuisioner Kuesioner b. Iya
c. Tidak
pasien tentang responden dan
kebiasaan mengetahui wawancara
merokok yang kebiasaan merokok
harus dihilangkan harus di hilangkan
sejak terdiagnosis sejak terdiagnosis
TB TB

8 Pengatahuan Kemampuasn Kuisioner Kuesioner a. Iya


Tidak
pasein tentang responden dan
kebiasaan alkohol mengetahui wawancara
yang harus di kebiasaan alkohol
dihilangkan sejak harus di hilangkan
terdiagnosis TB sejak terdiagnosis
TB
9 Pengatahuan Kemampuasn Kuisioner Kuesioner a. Iya
Tidak
pasein tentang responden dan
kebiasaan kafein mengetahui wawancara
yang harus di kebiasaan kafein
dihilangkan sejak harus di hilangkan
terdiagnosis TB sejak terdiagnosis
TB
10 Kemampuan Kemampuasn Kuisioner Kuesioner a. Iya
responden responden dan Tidak
mengetahui mengetahui pasien wawancara

72 Universitas Muhammadiyah Jakarta


pasien TB harus TB harus menjaga
menjaga asupan asupan Gizi sejak
Gizi sejak

Daftar pustaka

1. Indonesia, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Pedoman Nasional


Penanggulangan Tuberkulosis, Jakarta, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2011.

73 Universitas Muhammadiyah Jakarta


2. Indonesia, Departemen Kesehatan Republik Indonesia.2002.Pedoman Nasional
Penanggulangan Tuberkolsis. Cetakan ke 8. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Iindonesia.
3. James, Herchline TE Tuberculosis, Tuberculosis, America, Medscape, 2013.
4. Fatimah, Siti, Faktor kesehatan lingkungan Rumah Yang Berhubungan Dengan Kejadian
TB Paru di Kabupaten Cilacap (Kecamatan Sidereja, Cipari, Kedungreja, Patimauan,
Gandrungmangu, Bantasari) Tahun 2008. Pasca Sarjana Universitas Diponegoro
Semarang.
5. Indonesia, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Nasional Penanggulangan
Tuberkolsis.Cetakan kedua, 2009. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
6. Vyas JM. Pulmonary Tuberculosis. 2012. America. Medscape.
7. Asril Bahar, Zulkifli Amin. 2015. Tuberkulosis Paru dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jakarta: InternaPublishing.
8. Indonesia, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.2015.Profil Kesehatan Indonesia,
Jakarta, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
9. Swiss, World Health Organization, Global Tuberculosis Report WHO 2015 Jenewa;
World Health Organization.
10. Indonesia, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 364/MENKES/SK/V/2009 Tentang Pedoman
penanggulangan Tuberkulosis (TB), Edisi 2 Cetakan Ketiga, 2010.
11. Ruswanto, Bambang. 2010. Analisis Spasial Sebaran Kasus Tuberkulosis Paru Ditinjau
dari Faktor Lingkungan dalam dan Luar Rumah di Kabupaten Pekalongan. Tesis
Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.
12. Naben, Alice Ximenis, Suhartono dan Narjuzuli. 2013. Kebiasaan Tinggal di Rumah etnis
Timor Sebagai Faktor Risiko Tuberkulosis Paru. Jurnal kesehatan Lingkungan Indonesia,
Vol. 12.
13. Machfoedz Ircham. 2008. Menjaga Kesehatan Rumah Dari Berbagai Penyakit. Bagian
Dari Kesehatan Lingkungan, Kesehatan masyarakat, Sanitasi Pedesaan dan Perkotaan,
Yogyakarta.
14. Kurniasari et a. 2012., Faktor Risiko Kejadian Tuberkulosis Paru di Kecamatan Baturetno
Kabupaten Wonogiri. Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, Vol. 11.
15. Ketut, Ni Lisa. S. 2013. Faktor Risiko Kejadian Tuberkuosis Paru di Puskesmas Karang
Taliwang Kota Mataram Provinsi NTB Tahun 2013. Tesis Program Pascasarjana
Universitas Udayana.
16. Indonesia, Riset Kesehatan Dasar. 2013. Laporan Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

74 Universitas Muhammadiyah Jakarta


17. Indonesia, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Laporan Situasi Terkini
Perkembangan Tuberkulosis di Indonesia Tahun 2011. Direktorat Jendral Pengendalian
Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.
18. Konsensus Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pedoman Diagnosis dan
Penatalaksanaan Tuberkulosis di Indonesia. 2006.
19. KEMENKES.2014. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis. Jakarta:Kementerian
Kesehatan RI.
20. Dirjen P2PL. 2009. Buku saku program penanggulangan TB. Direktorat jenderal
pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan departemen kesehatan republik
Indonesia.
21. Nugroho, Ferry Andreas. 2010. Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap dengan
Perilaku Pencegahan Penularan Tuberkulosis Paru Pada Keluarga. Jurnal Kesehatan.
22. Jurnal Ilmiah Kesehatan. Vol 7, No 2, Agustus 2014., hal 172-179
23. Setiawan, Yahmin (2015). Ketahui Dengan Benar Tentang Tuberkulosis.
[Online].Tersedia:http://www.rumahsehatterpadu.or.id/2015/04/02/ketahui-dengan-benar-
tentang-tuberkulosis-tb/ [02 April 2015]

24. Notoatmodjo. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

75 Universitas Muhammadiyah Jakarta