Anda di halaman 1dari 17

LABORATORIUM PILOT PLANT

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2016/2017

MODUL : SHELL & TUBE HEAT EXCHANGER


PEMBIMBING : Ir. Umar Khayam

Tanggal Praktikum : 22 November 2016


Tanggal Penyerahan : 29 NOvember 2016

Oleh :

Kelompok : XII
Nama : Ufia Farhah (141411032)
Winardi Ginanjar (141411033)

Kelas : 3B

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2016
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penukar panas jenis shell and tube merupakan penukar panas paling umum dan
sangat luas digunakan di industri proses. STHE terdiri dari satu bundel pipa (tube) yang
dipasang paralel dan ditempatkan dalam sebuah cangkang yang dinamakan shell. Untuk
meningkatkan efisiensi dari penukar panas ini dipasang sekat. Pemasangan sekat
bertujuan membuat aliran didalam cangkang bergolak (turbulen) yang berakibat juga
bertambahnya waktu tinggal fluida. Namun, kerugian pemasangan sekat ini adalah
naiknya beban kerja karena bertambahnya beban pompa. Bahan penukar panas ini
dipilih berdasarkan fluida yang digunakan, biasanya terbuat dari logam dan paduannya.
Selain itu kondisi operasi dengan tekanan tinggi, sifat fluida yang korosif dan juga suhu
dalam alat yang tidak seragam juga menjadi pertimbangan pemilihan bahan penukar
panas ini. Bentuk dan rancangan STHE sangat beragam, pemakaiannya pun dapat
berupa penukar panas biasa, kondensor, reboiler, evaporator, boiler dan lainnya.

1.2 Tujuan Percobaan


Tujuan dari percobaan ini adalah sebagai berikut.

1. Memahami cara kerja peralatan shell and tube.


2. Menghitung koefisien pindah panas keseluruhan (U) dengan cara neraca energi dan
menggunakan persamaan empiris.
3. Mengetahui pengaruh laju alir fluida terhadap koefisien pindah panas keseluruhan
(U).
4. Menghitung efisiensi pindah panas dari kalor yang dilepas dan kalor yang diterima
fluida.
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Shell and tube Heat exchanger


Shell and tube heat exchanger merupakan jenis alat penukar panas yang banyak
digunakan pada suatu proses seperti petroleum, industri kimia, dan industri HVAC.
Shell and tube heat exchanger mengandung beberapa tube sejajar di dalam shell. Shell
and tube heat exchanger digunakan saat suatu proses membutuhkan fluida untuk
dipanaskan atau didinginkan dalam jumlah besar. Untuk membuat perpindahan panas
yang lebih baik dan untuk menyangga tube yang ada di dalam shell, maka sering
dipasang baffle. Efektifitas perpindahan panas meningkat dengan dipasangnya baffle.
Efektifitas meningkat seiring dangan mengecilnya jarak antar baffle hingga suatu jarak
tertentu kemudian menurun. Shell and tube heat exchanger merupakan bejana tekanan
dengan banyak tube didalamnya. Pada suatu proses, fluida mengalir melalui tube pada
exchanger saat fluida lainnya mengalir keluar tube yang berada di antara shell. Fluida
pada sisi tube dan pada sisi shell terpisah oleh tube sheet.

2.2 Prinsip Kerja Shell and tube Heat exchanger


STHE terdiri dari satu bundel pipa (tube) yang dipasang paralel dan ditempatkan
dalam sebuah cangkang yang dinamakan cangkang (shell). Untuk meningkatkan
efisiensi dari STHE maka dipasang sekat yang bertujuan membuat aliran didalam
cangkang bergolak (turbulen) yang berakibat juga bertambahnya waktu tinggal. Namun
sisi lain dari kerugian pemasangan sekat ini adalah naiknya beban kerja karena
bertambahnya beban pompa. Bahan penukar panas ini dipilih berdasarkan fluida yang
digunakan dan biasanya terbuat dari logam dan paduannya. Selain itu kondisi operasi
dengan tekanan tinggi, sifat fluida yang korosif dan juga suhu dalam alat yang tidak
seragam juga menjadi pertimbangan pemilihan bahan penukar panas ini.
Gambar 2.1 STHE

Alat yang digunakan dalam praktikum mempunyai ukuran:


Panjang pipa dan shell 120 cm
Diameter shell 37,5 cm
Diameter pipa luar 3,2 cm
Diameter pipa dalam 2,78 cm
Jumlah sekat 13
Susunan pipa dalam shell dapat berbentuk in-line (a) dan staggered (b)

Gambar 2.2 Susunan Pipa STHE


Susunan pipa yang ada didalam alat yang digunakan adalah in-line (a) dan ratio
antara Sn/D = Sp/D = 1,25.

2.3 Tipe Shell and Tube Heat Exchanger


Gambar 2.3 Straight-Tube One Pass Tube Side STHE

Gambar 2.4 Straight-Tube Two Pass Tube Side STHE

2.4 Aplikasi STHE


Desain sederhana dari shell and tube heat exchangers membuat solusi pendinginan
yang ideal untuk berbagai aplikasi. Salah satu aplikasi yang paling umum adalah
pendinginan cairan hidrolik dan minyak dalam mesin, transmisi, dan paket tenaga
hidrolik. Salah satu keuntungan menggunakan Shell and tube heat exchangers adalah
mudah dalam perawatannya.
Shell and tube heat exchangers digunakan secara luas dalam industri kimia proses,
terutama di industri minyak, karena banyak keuntungan yang diberikan lebih dari jenis
penukar panas yang lain.
2.5 Perhitungan pada STHE

Gambar 2.5 Profil Temperatur dari Peralatan Penukar Panas


2.5.1 Menghitung Koefisien Pindah Panas Keseluruhan (U)
a. Menggunakan Neraca Energi
Q=U . A . T m
Q
U=
A. Tm
Tm = FT . Tlm

Harga Q dapat dihitung dari:


Q = (M.Cp.T)1 .. Kalor yang diberikan fluida panas
= (M.Cp.T)2 .. Kalor yang diterima fluida dingin

Efisiensi kalor yang dipertukarkan :


( M .Cp . T ) 2
= x 100
( M .Cp . T ) 1
Q = Laju Alir Kalor (Watt)
A = Luas Permukaan (m2)
U = Koefisien Pindah panas Keseluruhan (W/m2.K)
Tlm = Perbedaan Suhu logaritmik (K)

T 1 T 2
T lm=
T1
ln
T2
Untuk Aliran Counter-current
T1 = Thi Tco
T2 = Tho Tci
Untuk Aliran Co-current
T1 = Tho Tco
T2 = Thi Tci
Harga FT dapat diperoleh dari kurva dibawah :

Gambar 2.6 Grafik FT, Z, Y

b. Menggunakan Persamaan Empiris


Untuk pipa sepanjang L
1
U=
1 X 1
+ +
hi K ho
1
U=
ro
Ai . ln ( )
1 ri Ai
+ +
hi 2 . k . L Ao .ho

Keterangan:
hi,ho = Koefisien pindah panas konveksi inside dan outside (W/m2.K) ;
K = Koefisien Konduksi (W/m.K);
ri,ro = Diameter (m) inside dan outside pipa yang kecil
L = panjang pipa yang diameternya kecil (m).
Harga (ri,ro) dan L dapat diukur dari alat, harga K bahan SS-204 dapat diperoleh dari
buku referensi dan hi dan ho dihitung dari persamaan empiris.
Untuk Aliran transisi:

Gambar 2.7 Grafik L/D


2.5.2 Persamaan Untuk Menghitung ho

Harga m dan C dapat diperoleh dari tabel dibawah:


Gambar 2.8 Tabel m dan C

Harga D untuk menghitung Nre diperoleh dengan pendekatan:

Ae adalah luas efektif yang dilewati fluida diantara pipa dalam anulus, yaitu luas
permukaan penampang shell dikurangi jumlah luas penampang semua pipa.
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan yang Digunakan


Tabel 3.1 Alat dan Bahan yang Digunakan pada Praktikum STHE

Alat Bahan
Seperangkat alat shell and tube yang terdiri Sumber Steam
atas sistem perpipaan air dan steam, Fluida (air dingin)
termometer.

3.2 Prosedur Percobaan


3.2.1 Percobaan
Mengatur laju alir
Membuka katup steam hingga suhu
Membuka katup air panas tidak
aliran dingin, dengan
aliran steam melebihi
laju alir tertentu
70C,tunggu 10
menit

Mencatat suhu panas


masuk, suhu dingin Mengalirkan fluida Mengatur laju alir
masuk, suhu panas panas dengan variasi fluida dingin tetap
keluar,suhu dingin laju alir (4 laju alir) pada 8 lpm
keluar tiap aliran

Mengulangi langkah 1 - 6 laju alir fluida


panas tetap 8 lpm dengan variasi laju alir
fluida dingin

Gambar 3.1 Prosedur Percobaan Praktikum STHE


3.2.2 Mematikan alat

Membiarkan fluida
Menutup katup aliran dingin tetap mengalir Merapikan kembali
steam untuk mendinginkan peralatan
HE

Gambar 3.2 Prosedur Mematikan Alat STHE

BAB IV

DATA PENGAMATAN DAN PENGOLAHAN DATA


4.1 DATA PENGAMATAN
4.1.1 Data Pengamatan pada Aliran Steam 1/4 Bukaan
Tabel 4.1. Data Pengamatan pada Laju Alir Air Panas Tetap

Fluida Panas (Laju Tetap) Fluida Dingin (Laju Berubah)


Laju alir Massa
No air digin ke Thi Tho kondensa Waktu Laju alir Tci Tco
peheater (C) (C) t (s) (gpm) (C) (C)
(gpm) (kg)
1. 54 37 1,28 1,2 24 34
2. 1 54 36 1,34 300 1,6 24 34
3. 66 32 1,74 2,4 24 32

Tabel 4.2 Data Pengamatan pada Laju Alir Air Dingin Tetap

Fluida Panas (Laju Berubah) Fluida Dingin (Laju Tetap)


Laju alir Massa
No air digin ke Thi Tho kondensa Waktu Laju alir Tci TCo
peheater (C) (C) t (s) (gpm) (C) (C)
(gpm) (kg)
1. 1 70 34 2,6 22 32
2. 2 51 44 2,5 300 2 22 38
3. 3 40 38 2,77 22 36

4.2 Data Pengamatan pada Aliran Steam 1/8 Bukaan


Tabel 4.3. Data Pengamatan pada Laju Alir Air Panas Tetap
Fluida Panas (Laju Tetap) Fluida Dingin (Laju Berubah)
Laju alir air Massa
No digin ke Thi Tho kondensa Waktu Laju alir Tci Tco
peheater (C) (C) t (s) (gpm) (C) (C)
(gpm) (kg)
1. 50 32 0,86 1,4 24 33
2. 1 50 31 0,84 300 1,6 24 31
3. 46 30 1,00 1,8 26 30

Tabel 4.4 Data Pengamatan pada Laju Alir Air Dingin Tetap

Fluida Panas (Laju Berubah) Fluida Dingin (Laju Tetap)


Laju alir Massa
No air digin ke Thi Tho kondensa Waktu Laju alir Tci Tco
peheater (C) (C) t (s) (gpm) (C) (C)
(gpm) (kg)
1. 1 44 34 0,64 24 33
2. 2 34 33 0,76 300 2 24 31
3. 3 32 30 0,96 24 30

4.3 Spesifikasi Alat STHE


Gambar 1. Spesifikasi Alat STHE
4.2 PENGOLAHAN DATA
Diketahui:
- Berat Ember = 0,40 kg
- Massa Kondensat = (Massa kondensat awal Massa kondensat akhir)
Laju alir konensat = massa kondensat / waktu
Laju alir air panas = (laju alir air masuk pre-heater) (laju alir kondensat)
- Perhitungan D untuk penentuan ho
D=

4 x Ae

D=

4 x (luas penampang shellluas penampangouter tube)


2 2
4 x [ ( 0,25 x 3,14 x ( 0,37 5 ) ) ( 0,25 x 3,14 x 24 x ( 0,02 7 ) ) ]
D=
3,14
D=0,35 cm

4.2.1 Pengolahan Data pada Aliran Steam 1/4 Bukaan


4.2.1.1 Penentuan Laju Alir Air Panas yang Masuk ke Alat STHE pada Laju Alir Air Panas
Tetap

No Laju alir air Massa Laju alir Laju alir air Laju
dingin ke Kondensa kondensat dingin (kg/s) alir air
pre-heater t (kg) (kg/s) panas
(L/s) (kg/s)
1 1,28 4,3 x 10-3 0,08075 0,0588
2 0,0631 1,34 4,5 x 10-3 0,08453 0,0586
3 1,74 5,8 x 10-3 0,10976 0,0573

4.2.1.2 Penentuan Laju Alir Air Panas yang Masuk ke Alat STHE pada Laju Alir Air
Dingin Tetap

No Laju alir air Massa Laju alir Laju alir air Laju
dingin ke Kondensa kondensat dingin (kg/s) alir air
pre-heater t (kg) (kg/s) panas
(L/s) (kg/s)
1 0,0631 2,6 0,0087 0,0544
2 0,1262 2,5 0,0083 0,12617 0,1178
3 0,1893 2,77 0,0092 0,1800

4.2.1.3 Penentuan Nilai U secara Neraca Energi pada Laju Alir Fluida Panas Tetap

4.2.1.4 Penentuan Nilai U secara Neraca Energi pada Laju Alir Fluida Dingin Tetap

4.2.1.5 Penentuan Nilai U secara Empiris pada Laju Alir Fluida Panas Tetap

4.2.1.6 Penentuan Nilai U secara Empiris pada Laju Alir Fluida Dingin Tetap
4.2.1.7 Hubungan laju alir air panas dan dingin terhadapa U secara empiris dan neraca
energy

140.0000000

120.0000000

100.0000000

80.0000000
U(W/m2K)

60.0000000 U Empiris
U neraca Energi
40.0000000

20.0000000

0.0000000
0.080.080.090.09 0.1 0.1 0.110.110.12
Laju alir air dingin ( L/s)

Grafik 1. Hubungan laju alir air dingin terhadap U empiris dan U neraca massa

450.0000000
400.0000000
350.0000000
300.0000000
U ( W/m2K)

250.0000000
200.0000000 U empiris
150.0000000 U Neraca Massa
100.0000000
50.0000000
0.0000000
0.040.060.080.100.120.140.160.180.20
Laju alir air panas( L/s)

Grafik 2. Hubungan laju alir air panas terhadap U empiris dan U neraca massa

4.2.2 Pengolahan Data pada Aliran Steam 1/8 Bukaan

4.2.2.1 Penentuan Laju Alir Air Panas yang Masuk ke Alat STHE pada Laju Alir Air Panas Tetap

No Laju alir air Massa Laju alir Laju alir air Laju
dingin ke Kondensa kondensat dingin (kg/s) alir air
pre-heater t (kg) (kg/s) panas
(L/s) (kg/s)
1 0,86 2,9 x10-3 5,3 0,0602
2 0,0631 0,84 2,8 x 10-3 6,1 0,0603
3 1,00 3,3 x 10-3 6,8 0,0598
4.2.2.2 Penentuan Laju Alir Air Panas yang Masuk ke Alat STHE pada Laju Alir Air Dingin Tetap

No Laju alir air Massa Laju alir Laju alir air Laju
dingin ke Kondensa kondensat dingin (kg/s) alir air
pre-heater t (kg) (kg/s) panas
(L/s) (kg/s)
1 0,0631 0,64 2,1 x10-3 0,0610
2 0,1262 0,76 2,5 x 10-3 0,12617 0,1236
3 0,1893 0,96 3,2 x 10-3 0,1861

4.2.2.3 Penentuan Nilai U secara Neraca Energi pada Laju Alir Fluida Panas Tetap

4.2.2.4 Penentuan Nilai U secara Neraca Energi pada Laju Alir Fluida Dingin Tetap

4.2.2.5 Penentuan Nilai U secara Empiris pada Laju Alir Fluida Panas Tetap

4.2.2.6 Penentuan Nilai U secara Empiris pada Laju Alir Fluida Dingin Tetap
4.2.2.7 Hubungan laju alir air panas dan dingin terhadapa U secara empiris dan neraca energy

500.0000000
450.0000000
400.0000000
350.0000000
300.0000000
U (W/m2K)

250.0000000
200.0000000 U Empiris
150.0000000 U Neraca Energi
100.0000000
50.0000000
0.0000000
0.040.060.080.100.120.140.160.180.20
Laju alir air panas (L/s)

Grafik 3. Grafik hubungan laju air panas terhadap U empiris dan U neraca energi
120.0000000

100.0000000

80.0000000
U ( W/m2K)

60.0000000
U Empiris
40.0000000 U Neraca Massa

20.0000000

0.0000000
0.09 0.09 0.1 0.1 0.11 0.11 0.12
Laju alir air dingin (L/s)

Grafik 4. Grafik hubungan laju alir air dingin terhadap U empiris dan U neraca massa
DAFTAR PUSTAKA

Ariyanto, H., 2000. Pengaruh Kecepatan Aliran Fluida Masuk Terhadap Efektivitas Heat
Exchanger Model Shell And Tube, Jurusan Teknik Mesin UK Petra.
Artono Koestoer, Raldi, 2002, Perpindahan Kalor, Salemba Teknik, Jakarta.

Geankoplis, Christie J., 1978, Transport Processes and Unit Operations 3rd ed, London:
Prentice-Hall International, Inc.

MC. Cabe, W.L, Smith, JC, Harriot, P, 1985, Unit Operation of Chemical Enginering,
4th ed, Mc.Graw-Hill, New York, Chapter 11, 12, 15.
Walas, Stanley M., 1990 (Copyright), Chemical Process Equipment Selection and
Design, USA : Butterworth-Heinemann.