Anda di halaman 1dari 6

I.

Pengantar

1.1 Teori Konsep Diri

Konsep diri adalah gabungan dari keyakinan yang dimiliki individu tentang mereka
sendiri yang meliputi karateristik fisik, psikologis, sosial, emosional, aspiarasi dan prestasi.
Beberapa ahli mengartikan konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang
dipikirkan orang-orang lain berpendapat, mengenai dirinya, dan seperti apa yang diinginkan
individu itu sendiri. Kemudian, Hurlock (1990:58) mengatakan konsep diri sebagai gambaran
yang dimiliki individu orang tentang dirinya. menurut William D. Brooks bahwa pengertian
konsep diri adalah pandangan dan perasaan tentang diri suatu individu. Sehingga dari semua
pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa konsep diri merupakan cara pandang yang
menyeluruh tentang dirinya, yang meliputi kemampuan yang dimiliki, perasaan yang dialami,
kondisi fisik dirinya maupun lingkungan terdekatnya.

Menurut Stuart dan Sudeen terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan
konsep diri. Faktor itu diantaranya terdiri atas teori perkembangan, significant other, dan Self
Perception.

Teori yang terkait dengan kasus pada roleplay ini adalah teori self perception.

Teori ini menjelaskan bahwa persepsi individu terhadap diri sendiri dan penilaiannya, serta
persepsi individu terhadap pengalamannya akan situasi tertentu. Konsep diri dapat dibentuk
melalui pandangan diri dan pengalaman yang positif. Sehingga konsep merupakan aspek yang
kritikal dan dasar dari perilaku individu. Individu dengan konsep diri yang positif dapat
berfungsi lebih efektif dan dapat dilihan dari kemampuan interpersonal, kemampuan intelektual
dan penguasaan lingkungan. Sedangkan konsep diri yang negatif dapat dilihat dari hubungan
individu dan sosial yang terganggu. Menurut Stuart dan Sundeen penilaian tentang konsep diri
dapat dilihat berdasarkan rentang respons konsep diri yaitu respons adaptif dan respons
maladaptif.

Pasien mengalami penilaian terhadap diri yang dimana mengganggu hubungan inidividu
dengan keluarganya dan interaksi sosialnya.
II. DIALOG ROLEPLAY

Cast:

Rahmah sebagai perawat 1

Yuspa sebagai perawat 2

Mistik sebagai ibu pasien

Reza sebagai ayah pasien

Laura sebagai pasien

Alda, Wati, Deti, Fanka, Fatimah, Fariz sebagai teman-teman pasien

Kasus

Nona Laura saat ini sedang di rawat di rumah sakit karena menderita kanker. Dia tidak nyaman
dengan penampilan dirinya terutama karena rambutnya yang rontok akibat kemoterapi.

Prolog:

Pada suatu hari, seorang ibu dan bapak dari perempuan pengidap kanker sedang bersedih.
Mereka sedang memikirkan keadaan anaknya yang semakin hari semakin menutup diri. Anak
mereka yang bernama Laura tersebut menutup dirinya karena ia merasa malu dengan apa yang
dia alami sekarang. padahal hari-hari sebelumnya ia terlihat baik-baik saja.

Karena tidak tahu apa yang harus dilakukan maka sang ibu menceritakan hal itu kepada perawat.

(Di ruang tunggu)


Ibu pasien: Saya tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan, Sus. Semakin hari anak saya
semakin murung dan menutup diri. Dia selalu diam.

Perawat: ibu dan bapak tidak usah khawatir, saya akan membantu anak ibu untuk mencari jalan
keluar yang terbaik.

Ayah pasien: saya berharap yang terbaik, Sus.

Tahap Pengkajian

Perawat melakukan kunjungan pada pasien.

Perawat 1: Selamat siang, Nona.

Pasien: (diam, dan membuang wajahnya ke arah lain)

Perawat 1: (terhenyak)

Setelah beberapa lama, pasien menatap wajah perawat.

Perawat 1: Perkenalkan, nama saya perawat Rahmah, dan ini rekan saya perawat Yuspa yang
akan merawat ibu dari pukul dua .siang sampai pukul enam sore. Apakah ini benar dengan nona
Laura?

Pasien: (mengangguk)

Perawat 1: Bagaimana dengan perasaan nona Laura pada siang ini?

Pasien: (menarik napas) suster, lihat diri saya sekarang. Gara-gara kemo itu sekarang rambutku
rontok, terus udah gitu aku terlihat botak dan aku ngerasa nggak suka dengan rambutku ini!

Perawat 1: Apakah nona Laura merasa kurang percaya diri dengan keadaan rambut nona sendiri?

Pasien: bukan kurang percaya diri lagi, tapi aku merasa buruk dengan diriku

Perawat 1: Lalu, saudara Laura ingin melakukan apa supaya bisa percaya diri lagi?

Pasien: aku nggak mau dikemo lagi, aku nggak suka kemo!
Perawat 1: Baiklah, nona Laura, kemoterapi dibutuhkan untuk membunuh sel kanker yang ada di
suatu jaringan. Memang sekarang rambut nona Laura akan menjadi rontok karena dampaknya,
tapi, nona Laura bisa meminum obat yang sudah diresepkan untuk mencegah itu.

Pasien: beneran bisa, sus? Gimana kalau nanti hasilnya nggak sesuai dengan yang aku harapkan?
Aku mau cepat-cepat sembuh dan bisa kuliah lagi dengan teman-temanku.

Perawat 1: Saya pastikan obat pasti akan bekerja dengan dosisnya, oleh karena itu nona Laura
harus rajin minum obatnya dan makan dengan lahap supaya bisa kuliah lagi.

Baik, saya permisi dulu, saya akan kembali ke sini sejam lagi.

Perawat menghampiri orangtua pasien.

Ibu pasien: jadi bagaimana, sus? Apa dia sudah mau bercerita?

Perawat 1: begini, bu, ternyata anak ibu merasa kurang percaya diri karena rambutnya yang
seperti ibu bapak tahu jadi rontok oleh kemoterapi.

Ayah pasien: jadi penyebabnya itu, sus?

Ibu pasien: lalu, apa yang bisa kami lakukan?

Perawat 1: yang bisa ibu bapak lakukan bisa dengan memberikan motivasi berbentuk pujian
yang bisa mengalihkan pikiran anak ibu bapak dari keadaannya sekarang. Ibu dan bapak juga
bisa memberikan benda yang disukainya atau teman-temannya untuk mengembalikan semangat
anak ibu dan bapak.

Ayah pasien: terimakasih, sus.

Pukul 14.30

Teman-teman terdekat Laura berdatangan menjenguknya. Laura terlihat tidak percaya diri dan
hanya menenggelamkan dirinya dalam selimut ketika temannya datang. Teman-teman Laura
juga sudah diberitahu mengenai kondisinya sekarang.
Teman-teman Laura berusaha untuk menghibur Laura dan memberikan semangat kepadanya.
Laura merasa tampak bersemangat untuk menjalani hari-harinya lagi.

Pada pukul 15.00, perawat datang untuk memeriksa keadaan Laura lagi.

Perawat 1: Selamat siang, nona Laura.

Pasien: selamat siang, sus.

Perawat 1: bagaimana dengan perasaan nona Laura sekarang?

Pasien: agak baikan.

Perawat 1: apakah merasa agak baikan sudah membuat nona Laura percaya diri lagi?

Pasien: (mengangkat bahu)

Perawat 1: menurut saya, hari ini nona Laura malah terlihat sangat ceria. Oh ya, tadi sepertinya
ada yang lupa memberikan kado ini ke nona Laura, deh (menyerahkan kado).

Pasien: (menatap heran ke arah kado dan perawat) kado apa ini, sus?

Perawat 1: coba nona Laura buka dulu.

Kemudian, Laura membuka kado itu. Ia terkejut melihat sebuah topi berwarna biru bermotif
bunga itu.

Pasien: beneran kado ini untukku, sus?

Perawat 1: (mengangguk sambil tersenyum) iya itu khusus untuk nona Laura,

Pasien: terimakasih, sus!

Perawat 1: kalau begitu saya permisi dulu, nanti setelah ini pada pukul lima sore perawat lain
akan memeriksa nona. Jika ada yang diperlukan, bapak atau ibu Laura bisa memencet bel yang
ada di samping tempat tidur. Saya permisi dulu, ya, Pak, Bu.
Setelah melakukan kontrak waktu dengan pasien, maka perawat 2 kembali ke ruangan untuk
melakukan tindakan pemeriksaan fisik kepada nona Laura.

Evaluasi

Akhirnya, setelah diketahui penyebab sebenarnya mengapa pasien terlihat lesu dan murung.
Keadaan pasien berangsur lebih baik dan sudah ceria lagi. karena berkat bantuan dan motivasi
dari keluarga. Keadaan psikososial pasien juga mulai membaik.