Anda di halaman 1dari 12

1

PREFIKS IMPERATIF BAHASA KAILI LEDO

2.4 Metode dan Teknik

2.4.1 Metode dan Teknik Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.

Metode ini dipilih karena data yang diperoleh berupa gambaran secara alamiah.

Hal ini sejalan dengan penjelasan Djajasudarma (1993:8-9) bahwa dengan metode

deskriptif akan didapatkan deskripsi data secara alamiah.

Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian ini adalah

pencatatan, pengartuan, dan perekaman. Teknik pencatatan, pengartuan, dan

perekaman digunakan untuk mengumpulkan data yang memuat struktur dan

makna kata berprefiks imperatif bahasa Kaili Ledo.

2.4.2 Metode dan Teknik Kajian

Untuk menganalisis data penelitian ini digunakan metode kajian

distribusional dan metode kajian padan. Metode distribusional memakai alat

penentu unsur bahasa yang diteliti. Metode ini berhubungan erat dengan

pemahaman strukturalisme (Ferdinand de Saussure 1916 dalam Djajasudarma,

1993a: 60) bahwa setiap unsur bahasa berhubungan satu sama lain, membentuk

satu kesatuan padu. Hal ini sejalan dengan metode agih yang disebut Sudaryanto

(1993:15). Metode distribusional atau metode agih ini memiliki teknik dasar yang

disebut teknik bagi unsur langsung, yaitu membagi satuan lingual menjadi

beberapa bagian atau unsur dan unsur-unsur yang bersangkutan dipandang sebagai

bagian yang langsung membentuk satuan lingual yang dimaksud. Pemilahan data
2

penelitian ini dilakukan melalui intuisi kebahasaan peneliti berdasarkan ciri-ciri

alami yang dimiliki bahasa Kaili Ledo. Metode padan digunakan untuk

menentukan padanan kata yang terdapat dalam bahasa Kaili Ledo dengan bahasa

Indonesia. Teknik kajian yang digunakan untuk penelitian kata berprefiks

imperatif bahasa Kaili Ledo ini yaitu teknik menurun (top down). Pengkajian data

yang dilakukan melalui teknik menurun (top down) dapat dilihat pada analisis

diagram berikut.

posipakabelo (Vimp)

{posi-} pakabelo (Vimp)

{paka-} belo

pref pref AdjP

saling buat jadi baik


(resiprokatif) (kausatif)
Saling berbuat baik!

Selain teknik menurun (top down) digunakan juga teknik yang lain, yaitu

teknik lesap, teknik ganti, teknik perluas, dan teknik balik/pindah unsur

(permutasi). Teknik lesap dilakukan dengan melesapkan, menghilangkan unsur

tertentu satuan lingual yang bersangkutan, misalnya:

a. Painu! beri minum!

inuminum!

b. Ponturo!duduk!

*nturo!
3

Kata painu dapat mengalami pelesapan prefiks {pa-} menjadi inuminum!

sebagai verba pangkal bebas imperatif, sedangkan prefiks {po-} pada kata

ponturoduduk! tidak dapat dilesapkan menjadi *nturo atau *turo. Nturo sebagai

verba pangkal terikat tidak dapat digunakan sebagai bentuk imperatif.

Perhatikan contoh berikut.

c. Painu uve anamu!Beri minum air anakmu!

Inu uve anamu!Minum air anakmu!

d. Ponturo hamai komiu! duduk di sana kamu!

*nturo hamai!

Bentuk inuminum sebagai verba pangkal painuBeri minum! termasuk verba

pangkal bebas bermakna transparan, sedangkan bentuk nturo sebagai verba

pangkal ponturoDuduk! termasuk verba pangkal terikat bermakna opak. Verba

berprefiks imperatif dapat juga diketahui dengan melesapkan unsur-unsur yang

terdapat pada kata tersebut. Perhatikan contoh berikut.

(e) pakalangaka(VImp)

pakalanga(VImp) suf

pref AdjPTer

{paka-} langa {-ka}

{per-} tinggi {-kan}


4

Pertinggikan!

Afiks yang melekat pada verba pakalangakapertinggikan dapat dilesapkan

secara bertahap menjadi pakalanga!pertinggi! yang mengalami pelesapan sufiks

{-ka} dan langatinggi yang mengalami pelesapan prefiks {paka-}.

Teknik ganti dapat digunakan untuk menentukan fungsi verba berprefiks

imperatif secara morfologis. Dengan teknik ganti dapat ditentukan suatu prefiks

berbentuk inflektif atau derivatif. Perhatikan contoh berikut.

ndatepanjang (Adj) pakandateperpanjang!

kodikecil (Adj) pakakodiperkecil!


{ paka-} +
bolisimpan! (V) *pakaboli

rempelempar! (V) *pakarempe

Prefiks {paka-} dapat dirangkaikan dengan bentuk dasar adjektiva,

misalnya pakandate!perpanjang!, pakakodiperkecil!, terdiri atas prefiks

{paka-} dan adjektiva dasar ndatepanjang, kodikecil. Prefiks {paka-} pada kata

tersebut termasuk prefiks derivatif karena dapat mengubah kelas kata adjektiva

menjadi verba. Prefiks {po-} tergolong sebagai prefiks derivatif dan inflektif

karena prefiks tersebut dapat digunakan secara bergantian pada bentuk dasar

berkategori verba dan nomina, misalnya:

lipajalan (V) polipaberjalan!(Vimp)


{po-} +
sapedasepeda (N) posapedabersepeda!(Vimp)

polipa!berjalan! berasal dari prefiks {po-} dan lipajalan sebagai kata

berkategori verba. Bentuk dasar lipa yang berkategori verba pada kata
5

polipaberjalan! dapat diganti dengan sapedasepeda berkategori nomina

menjadi posapeda! bersepeda!.

Teknik perluas dapat digunakan untuk menentukan perilaku sintaksis kata

berprefiks imperatif. Kata berprefiks imperatif dapat diperluas dengan cara

menambahkan unsur ke kanan atau ke kiri. Dengan memperluas kata berbentuk

verba berprefiks imperatif dapat diketahui verba berpefiks imperatif transitif dan

verba berprefiks imperatif intransitif. Perhatikan contoh berikut.

Poponturo anamu ri kadera!

P O Ket

FPrep

imp Per OPrep

N Prep N

Poponturo anamu ri kadera

Dudukkan anakmu di kursi

Dudukkan anakmu di kursi!

Paturu ri si ngena bongi!

P Ket Ket

FAdv

Vimp Adv D M

Adv Adv

Paturu ri si ngena bomgi


6

Tidur di sini nanti malam


(perintah)

Tidur di sini nanti malam!

Berdasarkan hasil perluasan tersebut dapat diketahui bahwa kata

poponturodudukkan termasuk kata berprefiks imperatif transitif, sedangkan kata

paturutidur termasuk verba berprefiks imperatif intransitif. Hal tersebut dapat

dilihat dari keikutsertaan objek pada perluasan kedua kata tersebut.

Teknik perluas dapat juga digunakan untuk mengetahui perubahan yang

terjadi pada kata berprefiks imperatif. Kata berprefiks imperatif dapat berubah

bentuknya apabila dinegatifkan. Perhatikan contoh berikut.

g. Nemo maturu!Jangan tidur!

h. Nemo mandiu!Jangan mandi!

i. Nemo manau!Jangan turun!

Berdasarkan contoh tersebut, dapat diketahui perubahan kata berprefiks imperatif.

Kata berprefiks imperatif mengalami perubahan bentuk apabila dinegatifkan,

misalnya:

paturu!tidur! nemo maturu!jangan tidur!

*nemo paturu!

pandiu!mandi! nemo mandiu!jangan mandi!


nemojangan+
*nemo pandiu!

panau!turun! nemo manau!jangan turun!

*nemo panau!

Kata paturu!tidur!, pandiu!mandi!, panau!turun! berubah menjadi

maturuakan tidur, mandiuakan mandi, manauakan turun apabila


7

dirangkaikan dengan bentuk negatif nemojangan karena penyesuaian fonem /m/

sebagai fonem bilabial. Dalam bahasa Kaili Ledo tidak dijumpai bentuk *nemo

paturu, *nemo pandiu, *nemo panau.

Teknik balik/pindah unsur dapat digunakan untuk menentukan posisi kata

berprefiks imperatif dalam klausa atau kalimat. Dengan teknik balik dapat

diketahui pola dasar klausa atau kalimat imperatif bahasa Kaili Ledo, misalnya:

j. Ponturo ri si komiu!

P Ket S

VImp FAdv Pron

Duduk di sini kamu!

k. Komiu ponturo ri si!

S P Ket

Pron Vimp FAdv

Kamu duduk di sini!

l. *Risi ponturo komiu

Ket P S

m. *Risi komiu ponturo

Ket S P

Untuk menentukan klasifikasi semantis kata berprefiks imperatif bahasa

Kaili Ledo digunakan metode padan. Padanan kata tersebut dilakukan dengan cara

mengamati kesesuaian makna kata berprefiks imperatif bahasa Kaili Ledo dengan

pemakaian bahasa Indonesia.


8

2.4.3 Sumber Data

Sasaran penelitian ini adalah kata berprefiks imperatif yang dikaji secara

morfologis dan sintaktis. Data diperoleh dari dua sumber, yaitu data tulis dan data

lisan. Data tulis diperoleh dari cerita rakyat dan laporan hasil penelitian

sebelumnya, sedangkan data lisan diperoleh dari informan melalui wawancara

yang dilakukan. Data tulis diperoleh dari cerita rakyat berjudul Bula Dongga

(1990) dan laporan penelitian sebelumnya yang berjudul: (1) Ikhtisar Imbuhan

dalam Bahasa Kaili dialek Palu /Ledo(1971), (2) Morfologi dan Sintaksis Bahsa

Kaili (1979), (3) Sistem Morfologi Kata Kerja Bahasa Kaili (1980), (4) Sistem

Perulangan Bahasa Kaili (1981), (5) Klausa Verbal Bahasa Kaili dialek Palu

(1991), (6) Proses Morfemis Pengulangan Verba Bahasa Kaili(1999), dan (7)

Kamus Kaili-Ledo Indonesia Inggris (2003) . Data lisan diperoleh dari informan

melalui wawancara yang dilakukan.

Untuk mempermudah mendapatkan data penelitian, peneliti memilih

bahasa Kaili dialek Ledo sebagai sasaran penelitian. Penutur asli bahasa dialek

Kaili Ledo ini pada umumnya berdomisili di kota Palu sehingga selain dengan

sebutan dialek Ledo, ada juga yang menyebut dialek Palu (lihat Rahim, 1991).

Selain lebih mudah dijangkau, pemilihan dialek ini sebagai sumber data penelitian

karena penelitian bahasa Kaili Ledo lebih banyak dilakukan daripada dialek-

dialek lainnya. Selain itu, pemilihan dialek ini pun didasari oleh kenyataan bahwa

penuturnya cukup besar dan dapat dipahami oleh semua penutur bahasa Kaili.

Bahasa Kaili dialek Ledo dipahami secara umum oleh penutur bahasa Kaili
9

dialek-dialek lainnya di Sulawesi Tengah. Hal ini dapat mempermudah peneliti

untuk menemukan data yang diperlukan.

Berhubung luasnya wilayah pemakaian bahasa Kaili Ledo, dipilih empat

kecamatan sebagai sampel penelitian yaitu Kecamatan Palu Barat, Kecamatan

Palu Timur, Kecamatan Sigi Biromaru, dan Kecamatan Dolo. Alasan pemilihan

keempat kecamatan tersebut sebagai sampel penelitian adalah mengingat keempat

kecamatan ini merupakan wilayah pemakaian bahasa Kaili baku. Untuk

memperoleh data penelitian ini, ditetapkan satu orang informan setiap kecamatan.

Semua data tertulis yang diperoleh dari cerita rakyat dan laporan penelitian

serta data lisan yang diperoleh dari hasil wawancara, didiskusikan kembali dengan

informan. Untuk menjaga validitas data, informan yang dipilih harus memenuhi

ketentuan seperti yang dikemukakan Djajasudarma (1993:23), bahwa sebaiknya

informan memilili kriteria NORMS (Nonmobile-Older-Rural-Males). Informan

yang nonmobile dipertimbangkan akan menjamin karakteristik keaslian ujaran

(bahasa) yang diteliti, karena sepanjang hidupnya tinggal di daerah yang

bersangkutan, sehingga tidak ada pengaruh luar. Persyaratan lebih luas (old)

diperlukan karena untuk menggambarkan ujaran diperlukan informasi yang lebih

lengkap. Informan harus memiliki kriteria rural(pedalaman-desa) karena dugaan

bahwa masyarakat urban(perkotaan) melibatkan unsur mobilitas terlalu banyak

dan cenderung dalam keadaan berubah terus-menerus.


10

d.

e.

f.

g.

h.
11
12