Anda di halaman 1dari 19

Politik Teori Sastra di Indonesia

Muhammad Al-Fayyadl
Feb 29, 2016

Pendahuluan
SECARA empiris-historis, kritik sastra dipisahkan dari aktivitas
politiknya sejak lenyapnya estetika realisme sosialis seiring
dilenyapkannya para sastrawan Lekra dari panggung kritik sastra sejak
akhir dekade 1960-an. Koinsidensi antara peristiwa politik (politisida
1965) dan peristiwa kritik sastra (separasi antara kritik sastra dan politik)
menegaskan kembali, secara paradoksal, ketakterpisahan politik dari
dunia sastra dan dunia sastra dari konteks politiknya. Yang politis dari
kritik sastra para sastrawan Lekra ini adalah bahwa mereka berhasil
mendorongsebagai pengecualian eksamplar dari sejarah kritik sastra
sebelumnya1 kritik sastra menjadi entitas yang organik, yaitu sebagai
alat evaluasi-diri atas kesejalanan antara estetika sastra, sikap politik
sastrawan, dan realpolitik massa, dengan segala tuntutan revolusioner
atau tantangan kontra-revolusionernya. Dalam ungkapan lain, kritik ini
mendayagunakan seluruh kemampuannya untuk menangkap
dimensisubjektif dari sastra (idea sastra, estetika, bahasa, kapasitas literer
sastrawan, figur sastrawan, dst.) sekaligus dimensi objektifnya (pembaca,
situasi politik pembaca, kondisi massa, konflik kelas, sejarah, dst.), dalam
suatu relasi yang timbal-balik, terus-menerus, dan dialektis, dengan karya
sastra sebagai medium dialektikanya.
Satu-satunya ekses dari kritik sastra ini adalah ketidakmampuannya
untuk menahan diri dari godaan menggunakan lembaga politik formal
(negara) untuk memajukan kritiknya. Batas antara kritik dan keniscayaan
melakukan hegemoni melalui lembaga politik dilanggar oleh
ketidakmampuan mengangkat politik dari dalamkritik sastra itu sendiri.
Penggunaan Dekrit Presiden 8 Mei 1964 dalam pelarangan atas Manikebu
(Manifesto Kebudayaan),2 seperti sempat dilakukan oleh Pramoedya
Ananta Toer, merupakan hegemonisasi melalui kekuatan politik yang
eksternal terhadap kritik sastra itu sendiri. Hal ini juga berlaku pada
lawan politiknya, para sastrawan pendukung Manikebu, melalui
Konferensi Karyawan Pengarang se-Indonesia (KPPI) yang
memanfaatkan dukungan angkatan bersenjata.3
Dalam arti tertentu, kritik sastra dapat menggunakan lembaga politik
tercermin dari manuver-manuver yang dilakukan oleh dua kubu sebagai
reaksi satu sama lainuntuk mendorong efektivitas kritik sastra itu
sendiri sebagai kekuatan literer, dan pada gilirannya mendorong kritik
sastra untuk memperoleh kepenuhan manifestasinya
dalam realpolitik (kebijakan negara, politisasi massa secara langsung,

1
Politik Teori Sastra di Indonesia Muhammad Al-Fayyadl Halaman 2

dst.), tetapi pada saat yang sama, melahirkan risiko membawa politik
kepada kulminasinya yang berujung dalam penjenuhan (saturation)
dimensi politis itu sendiri sehingga melahirkan kecenderungan
sebaliknya: depolitisasi kritik sastra. Titik balik atau, tepatnya, patahan
itu terjadi pada dua momen politis yang pada dirinya merupakan
depolitisasi (depolitisasi politik melalui politik): pembubaran PKI
menyusul Gestok 1965 dan Simposium Bahasa dan Kesusastraan
Indonesia 1966, momen par excellence dari perumusan arah baru kritik
sastra Indonesia.
Fragmen sejarah itu penting dikutip bukan semata karena nilai sejarah
pada dirinya, melainkan karena momen bersejarah itu menjadi lokus bagi
perubahan arah dan orientasi kritik sastra itu sendiri sebagai suatu
kekuatan literer dalam hubungannya dengan politikperubahan
modalitas-modalitasnya, kerangka kerjanya, bahasa dan bentuk
ekspresinya, dan bahkan objeknya; perubahan itu nyaris total atau
absolut. Ia tidak hanya mengubah bentuk kritik sastra, tetapi memberi
batasan-batasan baru yang secara formal tidak memungkinkan lagi
politik dalam kritik sastra dimaknai dan diterapkan dalam artinya yang
lama. Kritik sastra dari era baru ini mensublimasi politik dari sifatnya
yang langsung dan efektif ke dalam dimensi baru yang tampak tak
langsung dan tidak efektif, meskipun pada dasarnya sama-sama efektif,
yaitu sebagai operasi sublim dari ideologi.4 Kita dapat menyebut hal ini
perubahan dari Sastra yang menjadi bagian dari Dunia menjadi Dunia
yang terlipat ke dalam Sastra, atau perubahan dari heteronomi sastra
kepada otonomi sastra. Tulisan ini akan mengkaji perubahan itu dalam
kritik sastra dan teori sastra setelah dekade 1960-an dan praktik-praktik
politik yang dihindarkan atau dimunculkan olehnya.
Politik Teori Sastra
Momen itu adalah 25-28 Oktober 1966, di mana diselenggarakan
Simposium Bahasa dan Kesusatraan Indonesia oleh Lembaga Bahasa dan
Kesusastraan (kini Pusat Bahasa), bekerja sama dengan Fakultas Sastra
Universitas Indonesia, IKIP Jakarta, dan Kesatuan Aksi Sarjana
Indonesia (KASI) Jakarta. Sebagaimana dinyatakan dengan lugas oleh
Yudiono K.S., simposium ini merupakan langkah nyata penataan konsep
kritik sastra Indonesia yang pernah kacau balau semasa Lekra berkuasa
(1950-1965) dan sekaligus merupakan babak baru tampilnya kalangan
akademisi di bidang kritik sastra.5 Simposium ini, lanjutnya, mengawali
masa pemapanan kritik sastra di Indonesia.
Kepentingan yang terwakili dalam simposium tersebut adalah
kepentingan para akademisi sastra dari kalangan perguruan tinggi,
terlihat dari keterlibatan Fakultas Sastra UI yang pada tahun-tahun
sebelumnya menjadi sasaran kritik sastrawan Lekra (Pramoedya Ananta
Toer).6 Namun, kehadiran para akademisi sastra tidak saja
menggambarkan suatu peralihan agensi dari satu agen ke agen lain (dari
kritikus sastra non-akademis ke kritikus akademis), tetapi juga perebutan
Politik Teori Sastra di Indonesia Muhammad Al-Fayyadl Halaman 3

representasi baru atas konsepsi kritik sastra yang diniatkan untuk


menggantikan konsepsi lama yang memiliki kemelekatan yang sangat
kental dengan politik. Perebutan itu dimungkinkan karena ruang kosong
yang ditinggalkan oleh absennya para pengusung realisme sosialis
tersebut, yang memberi kesempatan bagi pihak yang dulunya menjadi
lawan politik mereka untuk tampil.
Perebutan ini dilakukan seiring pembentukan konsepsi kritik sastra
yang baru. Yudiono K.S. mengisyaratkannya dengan kerja rekonstruksi
(penataan), mengesankan bahwa konsep kritik sastra Indonesia itu
telah ada cikal-bakalnya, tetapi kemudian dirusak semasa Lekra
berkuasaseakan-akan para sastrawan Lekra tidak menyumbang apa-
apa bagi kritik sastra Indonesia. Masa-masa polemis dengan Lekra,
dengan demikian, dianggap suatu jeda yang destruktif bagi kritik sastra di
Indonesia, yang dasar-dasarnya telah diletakkan oleh Armijn Pane, J.E.
Tatengkeng, Sanusi Pane, S. Takdir Alisjahbana, Sutan Sjahrir, dan H.B.
Jassin.7
Sebelum memperoleh gambaran yang lebih jauh mengenai konsep kritik
ini, kita menggarisbawahi perubahan ke mana kritik sastra mesti
didasarkan menurut para akademisi ini. Kritik sastra mesti memperoleh
pendasarannya yang baru, menurut mereka, bukan lagi pada efek politis
dari kritik sastra terhadap kerja-kerja kesusastraan; dengan kata lain,
bukan pada bagaimana kritik sastra itu mengevaluasi kerja-kerja
kesusastraan dan menempatkan sastra dalam suatu konteks politis
tertentu yang membuatnya bermakna secara langsung bagi masyarakat
luas, tetapi pada fungsi kritik bagi pemahaman atas karya sastra, tanpa
peduli apakah karya sastra terlibat atau terikat dengan konteks politisnya
atau bersinggungan dengan suasana politis masyarakat. Kita melihat di
sini suatu pemangkasan drastis atas fungsi kritik sastra, dari yang
sebelumnya terarah pada evaluasi atas sastra secara luas, mencakup
karya sastra, sastrawan, dan lembaga sastra, menjadi evaluasi atas karya
sastra sebagai satu-satunya objek bagi kritik sastra. Kita dapat menyebut
hal ini balikan Kantian dalam kritik sastra Indonesiakarya sastra
menjadi Das Ding an sich, satu-satunya objek yang sah bagi kritik,
sebagaimana bagi Kant sah bagi filsafatsekaligus anti-Kantian, karena
syarat-syarat yang memungkinkan karya sastra mendapat maknanya
sebagai karyakondisi-kondisi sosial, subjektivitas sastrawan, dan lain-
laindihapus sehingga seolah-olah karya sastra dapat muncul dengan
sendirinya di tengah masyarakat.
Kata-kata kunci bagi fungsi baru ini adalah penelitian kesusastraan,
penilaian sastra, apresiasi sastra, atau pemahaman sastra.
Pengaruh J.E. Tatengkeng yang mengkonsepsikan kritik sastra sebagai
suatu bentuk penyelidikan atas karya sastra8 terlihat dalam orientasi
baru ini. Namun, pembentukan ulang fungsi kritik sastra ini harus dilihat
dalam kerangka yang lebih luas, yaitu integrasi kritik sastra ke dalam
struktur akademis, yang dijalankan melalui integrasi kritik sastra ke
dalam ilmu sastra lewat apa yang disebut teori sastra.
Politik Teori Sastra di Indonesia Muhammad Al-Fayyadl Halaman 4

Sejak kapan kritik sastra terkait-erat dengan teori sastra? Sejak kapan
kritik sastra termasuk ke dalam ilmu-ilmu (ilmu bahasa dan ilmu sastra)?
Bagaimana kritik sastra mendapatkan statusnya yang baru di lingkungan
para akademisi sastra sebagai kerja ilmiah par excellence?pertanyaan-
pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan menunjuk pada perebutan
ruang tanpa perlawanan ini, pemangkasan hubungan-hubungan ekstra-
literer dari kritik sastra, dan penyiapan jalan ke arah otonomisasi kritik
sastra melalui integrasinya ke dalam ilmu sastra.
Pada dasarnya, di samping hal-hal tersebut, tidak adanya pengakuan yang
sengaja terhadap kontribusi para sastrawan Lekra bagi pematangan kritik
sastra juga merupakan faktor penting. Pengabaian ini secara terang
memperlihatkan bukan saja keengganan untuk melihat sumbangan
konkret para sastrawan Lekra terhadap konsepsi kritik sastra yang khas
dan digali dari pengalaman dan tradisi sastra Indonesia yang masih
mudaPramoedya pada tahun-tahun sebelumnya, misalnya,
menekankan keterkaitan erat antara kritik sastra Indonesia dengan
sejarah sastra Indonesia yang berwatak nasionaltetapi juga keinginan
untuk menghilangkan jejak kritik para sastrawan Lekra dalam kontinuum
kritik sastra di Indonesia, katakanlah sejak Pujangga Baru. Integrasi
kritik sastra ke dalam lingkup ilmu sastra merupakan upaya netralisasi
pertama; dan dengan demikian, menjadikan kritik para sastrawan Lekra
sebagai tidak ilmiah atau non-ilmiah. Integrasi kritik sastra ke dalam
lingkup akademis menetralisasi untuk kedua kalinya, dengan demikian,
tidak memungkinkan konsepsi kritik para sastrawan Lekra untuk
diajarkan di perguruan tinggi.
Kontribusi konkret para kritikus Lekra memang tidak berupa suatu
sintesis yang padu dan telah dikemas secara praktis sehingga mudah
untuk langsung diterapkan (menjadi kritik terapan). Ia baru berupa
percikan-percikan pemikiran di sela-sela polemik sastra yang
berlangsung, yang bergerak di antara kritik empiris (hasil-hasil
pembacaan atas karya sastra) dan perumusan hipotesis-hipotesis
generalistik yang terbungkus dalam seruan-seruan di dalam polemik.
Beberapa di antaranya berupa upaya pendekatan yang relatif orisinal,
seperti upaya teoretisasi atas roman,9penekanan atas psikologi
kepengarangan (jauh mendahului pendekatan GanzheitArief Budiman
dkk.),10 dan konsepsi atas sejarah sastra yang ditulis secara sinkronis dan
non-linear (melampaui pendekatan diakronis-linear-historisis ala Jassin),
dengan mendasarkan diri pada kesamaan sikap dan orientasi estetik-
ideologis daripada keikutsertaan dalam angkatan-angkatan periodik11
semua ini diajukan oleh Pramoedya. Namun, yang tak kalah penting,
kontribusi kritikus Lekra dalam menawarkan suatu paradigma dalam
sastra, yaitu materialisme historis dalam sastra, dengan analisis kelas
sebagai pendekatannya (A.S. Dharta).
Kita dapat mengatakan secara spesifik bahwa konsepsi materialisme
historis dan pendekatan analisis kelas dalam sastra yang ditawarkan oleh
A.S. Dharta masih berayun di antara intuisi teoretik Marxisme awal
Politik Teori Sastra di Indonesia Muhammad Al-Fayyadl Halaman 5

(Marx-Engels) tentang determinasi dan kesalingpengaruhan antara


struktur sosial dan karya sastra, dan visi teoretik Leninisme (Lenin)
tentang bias perjuangan kelas di dalam karya sastra sebagai refleksi
pertarungan antara konflik-konflik kelas yang terjadi.12 Konsepsi ini
belum berkembang sampai pada teoretisasi atas dimensi-dimensi internal
karya sastra sebagai karya, dan tidak sekadar dokumen sosial, seperti
antara lain dikerjakan secara kreatif oleh Georg Lukcs atau Mikhail
Bakhtin.13
Bagaimanapun, para kritikus Lekra merupakan anak zaman mereka,
dan eksperimentasi mereka berhenti di tengah jalan karena kurangnya
kesempatan untuk menyajikan suatu bangunan teoretik yang
meyakinkan, atau setidaknya mampu menghindarkan tuduhan bahwa
mereka memperalat sastra untuk politik. Tetapi, stagnansi ini tidak
natural, dan bukan saja karena faktor internal di kalangan mereka, tetapi
hasil dari kemenangan politis para akademisi sastra yang muncul pada
1966. Kegagalan para kritikus Lekra menarik kritik sastra ke teori sastra
disambut oleh para akademisi sastra dengan memperkenalkan suatu
formulasi baru antara kritik sastra, teori sastra, dan ilmu sastra. Patut
dicatat bahwa berbeda dari para kritikus Lekra yang menggali kritik dari
sejarah sastra sendiri (Indonesia kolonial dan pascakolonial), dengan
adaptasi-adaptasi tertentu dari sastra asing,14para akademisi ini
mendatangkan teori-teori sastra yang sebelumnya relatif tidak dikenal ke
dalam sastra Indonesia, dan dengan demikian, membuka suatu fase baru
resepsi teori sastra Barat dalam sastra Indonesia.15
Bagaimana impor teoretik itu terjadi, kita memahami hal itu
berlangsung dalam konteks politis dan linimasa yang spesifik ini. Tetapi,
perubahan itu juga dimungkinkan oleh suatu pengandaian baru yang
ditanamkan ke dalam sastra Indonesia, yaitu pengandaian bahwa teori-
teori sastra tersebut bersifat universal, sebagaimana karya sastra itu
sendiri universal. Dengan demikian, apa yang disebut ilmu sastra juga
bersifat universal karena mengangkat teori-teori sastra yang berlaku
universal.16
Kita sedang menyaksikan di sini bias ideologis humanisme universal,
yang mengikat dari generasi Surat Kepercayaan Gelanggang sampai
Manifes Kebudayaan, sedang dioperasionalkan dalam ranah yang lain
ranah ontologis dan epistemologis teori sastra. Humanisme universal
meletakkan, sebagai mitos, keberadaan manusia sebagai subjek universal
yang abstrak, yang diasumsikan terbebas dari perbedaan identitas, latar
belakang budaya, dan kepentingan ideologis. Kali ini objeknya diganti
dengan karya sastra, yang diasumsikan memiliki hukum-hukum yang
sama dan aturan main yang sama di mana pun, terlepas dari latar
belakang penulis maupun pembacanya, dengan satu kata kunci: Bahasa.
Karya sastra adalah produk bahasa, produk linguistik murni, suatu
produk yang secara formal memiliki bentuk seragam, hanya diungkapkan
dengan cara berbeda-beda.
Politik Teori Sastra di Indonesia Muhammad Al-Fayyadl Halaman 6

Konsepsi ini disebut strukturalisme.17 Bukan hal yang mengherankan


bahwa strukturalisme mengisi tempat pertama dari rangkaian teori sastra
Barat yang diperkenalkan ke dalam sastra Indonesia, karena teori sastra
ini cocok dengan bias universalisme yang tadi telah disinggung. Dengan
melepaskan kritik sastra dari determinasi ideologisnya, strukturalisme
memberi kesempatan bagi para kritikus sastra Indonesia untuk
melakukan deideologisasiyang dapat diartikan sebagai bersih-bersih
teoretis dari pengaruh kritik sastra Marxisdan menempatkan teori
sastra pada tempat semestinya yang diasumsikan netral dan ilmiah:
sebagai penjelas strukturinternal karya sastra, tak lebih dan tak kurang.
Kuatnya pengaruh aliran Rawamangun (yang merupakan
penyelenggara utama Simposium) ditengarai sebagai faktor yang
mempercepat penerimaan strukturalisme dalam kritik sastra
Indonesia.18 Tetapi, pengaruh ini tidak muncul tanpa revitalisasi
hubungan yang sebelumnya terbangun antara H.B. Jassin dan A. Teeuw
yang memperkenalkan pendekatan formalis dalam kritik sastra.
Ketersambungan antara formalisme ala Jassin dan Teeuw dan
strukturalisme sejak akhir 1960-an terlihat, sejak lembaga-lembaga
pendidikan tinggi secara serentak mengadopsi strukturalisme dalam
kurikulum pembelajaran teori sastra, sebagai satu-satunya model bagi
kritik sastra ilmiah dan kajian sastra. Kehadiran strukturalisme
menegaskan kemenangan kritik sastra formalis.
Peran A. Teeuw dalam memberi bentuk bagi strukturalisme ini sentral.
Sejak tahun 1978 sampai 1980, atas sponsor Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa dan ILDEP (Indonesian Linguistic Development
Project), Teeuw terlibat dalam serangkaian penataran tentang
strukturalisme bagi para calon peneliti sastra dari berbagai perguruan
tinggi, dari tahap teoretis sampai terapan.19 Ketertarikan dan minat yang
besar pada strukturalisme pada lapisan akademisi sastra ini
mengisyaratkan adanya suatu upaya yang sistematis dan gradual untuk
memapankan posisi teori sastra Barat ke dalam kritik sastra Indonesia,
melalui strukturalisme sebagai katalisator sekaligus pemfilternya.
Strukturalisme menjadi katalisator bagi reorientasi perhatian kritikus
sastra dari eksternalitas-eksternalitas sastra (latar belakang sosial, politis-
ideologis, kelas, dst., yang sebelumnya penting dan kini sekunder) kepada
dunia internal sastra, sekaligus pemfilter tendensi-tendensi politis dari
teori sastra melalui suatu prosedur ilmiah yang menekankan positivitas
data-data atau fakta literer.
Teeuw sendiri sebenarnya seorang eklektik, yang tampak berusaha
terbuka kepada berbagai kecenderungan teori sastra. Hal itu tercermin
dari rangkaian kuliah teorinya yang dibukukan, Sastra dan Ilmu
Sastra,20 yang meninjau berbagai teori sastra dan tampak sedang
memperkenalkan suatu cara memandang sastra secara holistik dan
menyeluruh. Ia memberi perhatian pada dimensi-dimensi sastra yang
menjadi simpul-simpul problematik kesusastraan. Terdapat empat hal
yang membentuk simpul ini. Pertama, watak dan hakikat sastra, yang
Politik Teori Sastra di Indonesia Muhammad Al-Fayyadl Halaman 7

membawa Teeuw pada pembedaan antara kelisanan dan tulisan serta


problematik yang diperkenalkan filsafat pasca-strukturalis (Derrida,
Culler). Kedua, karya sastra sebagai objek paling sentral dari kritik dan
teori sastra; disebut demikian, karena di sinilah Teeuw memberi
perhatian paling luas dan elaboratif atas aspek-aspek dan hubungan-
hubungan karya sastra, baik internal (semiotik-pragmatik, stilistik-
retorik, sistem sastra, struktur) maupun eksternal21 (realisme dan
metasejarah). Ketiga, penulis dan pembaca dalam model-model
strukturalis dan semiotik; dengan demikian, penulis dan pembaca sebagai
figur bentukan dan rekaan struktur. Dan keempat, teks sebagai dokumen
positif bagi riset empiris (filologi-tekstologi dan morfologi naratif).
Sifat sugestif dan persuasif dari paparan teoretik Teeuw terletak pada
watak deskriptifnya: untuk membantu pembaca memahami apakah
masalah-masalah yang ditimbulkan oleh karya sastra sebagai gejala
komunikasi sui generis, khas dan istimewa, serta pendekatan-pendekatan
ilmiah mana yang mungkin dipilih.22Paparan dan pemetaan teoretik itu
tidak memberi kesan tentang eksisnya konflik teoretik dan memberi
kesan bahwa berbagai pendekatan ilmiah tersebut komplementer satu
sama lainsuatu kesan yang diperkuat dengan sikap penerimaan kuat
(dan cenderung dogmatis!) dari para ilmuwan dan kritikus-akademisi
sastra Indonesia ini terhadap tipologi M.H. Abrams tentang fungsi
komplementer empat pendekatan sastra (mimetik, ekspresif, objektif,
pragmatik). Penyikapan eklektik atas teori-teori dan asumsi
mengenai komplementaritasteoretik itu dominan sejak era Teeuw, tetapi
hal itu bukan tanpa latar politis: eklektisisme dan sikap aksiologis
menempatkan teori sastra dalam deskriptivitasnya yang murni berfungsi
sekaligus menyortir efek-efek politis dari teori sastra dan menyeleksi
mana di antara aspek-aspek teori tersebut yang sebaiknya dipertahankan
dan diperlihatkan dan mana yang tidak perlu dieksplisitkan, disamarkan,
atau dibuang.
Deskriptivitas itu, dengan demikian, jauh dari sekadar gaya analisis; ia
merupakan kerja depolitisasi yang sangat halus tetapi efektif sehingga
suatu teori sastra yang ilmiah dan netral dapat ditampilkan, tanpa
memunculkan keribetan atas pilihan politis mengapa teori tertentu dan
bukan yang lain, benarkah teori itu fungsional adanya tanpa gagasan,
latar belakang atau implikasi politis tertentu yang menyertainya, dan
seterusnya. Asumsi bahwa teori sastra itu politis sama sekali diabaikan.
Introduksi dan induksi Teeuw atas strukturalisme, misalnya,
mengabaikan dimensi kritik ideologis dari teori-teori struktural
penelanjangan atas rasio transparan dan universal Barat-Pencerahan
(Lvi-Strauss),23 watak subversif dari eksplisitasi oposisi-oposisi biner
yang ditemukan pada budaya yang sebelumnya dipinggirkanvis--
vis budaya yang dominan (Barthes), atau watak materialis dari sistem
internal bahasa sebagai penelanjangan atas idealisme romantik yang
memandang manusia, budaya, dan hal-hal transendental lainnya
terlepas dari keterikatannya kepada bahasa. Demikian pula yang terjadi
Politik Teori Sastra di Indonesia Muhammad Al-Fayyadl Halaman 8

pada formalisme. Ketika memperkenalkan formalisme sebagai suatu teori


sastra, Teeuw tidak perlu merasa melihat latar belakang ideologis
mengapa formalisme Rusia ditolak oleh Stalinisme, atau bagaimana
formalisme Rusia memberi topangan bagi gerakan sastra progresif dan
politis pada zamannya (dalam pengaruhnya terhadap Futurisme dan
Avant-gardismesastra), dan bagaimana formalisme merupakan
penjarakan dan perlawanan dingin atas estetika dan kritik sastra
borjuis, misalnya, melalui konsep defamiliarisasi (ostrananie)24
penjarakan atas narasi dan teleologi sastra happy-ending yang
mencirikan estetika dan selera estetik borjuasi modern.
Teori-teori sastra yang berkembang dan diajarkan, setidaknya dari empat
simpul problematik yang merangkum berbagai tendensi dalam teori
sastra Barat abad ke-20 di atas, dipangkas dari latar belakang ideologis
dan politisnya untuk difungsikan semata-mata kepada dimensinya yang
pedagogik, yaitu menunjang penelitian sastra, dengan tujuan
mendapatkan hasil penelitian yang demonstratif dan deskriptif tentang
karya sastra yang dikajimenunjukkan hasil-hasil pembacaan karya
sastra dalam paparan yang jelas, gamblang, dan koheren mengenai karya
tersebut kepada pembaca. Teori-teori tersebut dimunculkan untuk
memenuhi misi pragmatik dan terapannya, tanpa keperluan melihat
pendasaran (grounding) pada tingkat metateoretis atas eksistensinya
sebagai teori.
Positivisme pragmatik ini sempat cukup lama mengisolasi teori sastra
menjadi suatu ranah yang terasing dari kehidupan publik sastra dan
pembaca umum. Hal ini menandai adanya suatu kesenjangan antara teori
sastra dan misi pragmatiknya mengkomunikasikan karya sastra kepada
pembaca luas melalui kritik sastra, berbeda dari yang dibayangkan
sebelumnya tentang peran kritikus yang terkadang dikonsepsikan secara
patronistik sebagai pembimbing, penyuluh, atau penjaga kesehatan selera
sastra masyarakat.25 Alienasi teoretis itu tercermin dari keluhan Subagio
Sastrowardoyo yang mengkritik kesenjangan antara teori sastra dan
penelaahan yang konkret atas karya sastra,26 atau tidak operasionalnya
teori ketika diterapkan kepada karya sastra dalam banyak kasus
penelitian ilmiah. Alienasi ini menemukan jawaban ironisnya, mengutip
Maman S. Mahayana, karena teori-teori sastra yang diperkenalkan dan
diajarkan dalam dunia akademi di Indonesia memang tidak lain
bersumber dari teori sastra Barat,27 terputus dan teralienasi dari
hubungannya dengan pergumulannya yang otentik dengan (teks)
kesusastraan Indonesia sendiri.28
Politik dalam Teori Sastra
Kita memahami bahwa kritik sastra di Indonesia mengalami perubahan
luar biasa di akhir dekade 1960-an, melalui suatu proses yang secara
gradual mengintegrasikan kritik ke dalam teori sastra dan ilmu sastra dan
amputasi atas potensi politis kritik sastra melalui pemilihan teoriatau
kecenderungan teoretikyang mendukung bagi proses perubahan dan
Politik Teori Sastra di Indonesia Muhammad Al-Fayyadl Halaman 9

keperluan integrasi itu (strukturalisme, formalisme). Hal ini diperkuat


dengan hegemoni aliran Rawamangun dalam seluruh transmisi teori
sastra di lembaga-lembaga pengajaran sastra di Indonesia yang
berlangsung melalui figur kharismatik Jassin-Teeuw. Namun, kita belum
melihat bagaimana perubahan modalitas politik itu dan pengertian
politik dalam artinya yang persis, untuk memperhatikan pergeseran
politik teori sastra dari keberhasilannya menciptakan politik baru
setelah mendepolitisasi kritik sastra itu sendiri.
Bila kita berangkat dari multivalensi politik dalam hubungannya
dengan dirinya (per se) maupun kata sifatnya (politis, politikal, yang
politis), sedikitnya kita dapat mengajukan empat pengertian politik
yang relevan dengan kondisi metateoretis dari teori sastra Indonesia
pasca-1960-an.
Pertama, politik sebagai totalitas dan totalisasi praksis, atau tepatnya,
politik sebagai praksis dialektis antara totalitas dan totalisasi, setidaknya
bila kita setia dengan pengertian yang diberikan oleh Jean-Paul
Sartre.29 Terinspirasi dari pemikiran Marxis tentang kesalingterkaitan
antara teori dan praksis, politik yanggenuine, menurut Sartre, adalah
sebuah praksis yang mengubah kondisi-kondisi kehidupan ke arah
pembebasan melalui pengaktifan seluruh aspek subjektif maupun objektif
dari dunia. Hasil-hasil kerja dalam bentuk-bentuk pengalaman politik,
lembaga politik, maupun produk kebudayaan yang telah lampau
membentuk totalitas, yang sifatnya pasif dan telah jadi. Totalitas,
dengan demikian, identik dengan sejarah statis yang diterima sebagai
fakta. Praksis menghidupkan totalitas itu untuk terus-menerus dimaknai
dalam babakan sejarah yang lain, dan dengan demikian, melakukan
totalisasi.
Ide dasar dari pengertian ini adalah bahwa politik merupakan praksis,
bagian dari kerja. Sifat kerja ini tidak hanya memproduksi, tetapi juga
terlibat dalam produksi sosial dan kesejarahan yang dilakukan oleh
masyarakat. Politik adalah perlawanan terhadap alienasi. Dengan
demikian, politik berorientasi penyadaran dan pengaktifan seluruh
potensi produktif dari kerja.
Kedua, pengertian yang lebih kontemporer yang diberikan oleh Alain
Badiou, juga dari tradisi Marxis. Konsepsi ini menempatkan politik
sebagai prosedur operasional, atau operasionalisasi, dari apa yang
disebutnya kebenaran (vrit).30Kebenaran adalah serangkaian
pengorganisasian dari hal-hal yang muncul dari peristiwa politik tertentu
yang mengubah secara mendasar sendi-sendi kehidupan bersama. Politik,
menurut Badiou, dengan demikian terikat dengan suatu momen politik
yang dialami bersama oleh suatu kolektivitas masyarakat; ia merupakan
respons yang berkelanjutan atas signifikansi momen politik itu. Politik
mendorong realisasi kebenaran yang dipicu oleh momen politik.
Secara intuitif kita dapat menangkap, apa yang dikerjakan oleh para
kritikus Lekra mencerminkan kecenderungan terhadap salah satu dari
Politik Teori Sastra di Indonesia Muhammad Al-Fayyadl Halaman 10

kedua pengertian politik di atas, yang turut meresapi konsepsi mereka


tentang kesusastraan. Kita dapat memahami Politik sebagai Panglima
yang dianut oleh konsepsi kesusastraan ini dengan cara ini.
Pertama, politik diletakkan sebagai praksis yang mengaktifkan
(menotalisasi) totalitas produk kebudayaan dan sosial dari masyarakat
Indonesia yang telah ada. Tradisi sastra, yang bersifat populis-kerakyatan
maupun elitis, merupakan bagian dari totalitas itu. Totalitas itu,
meminjam redaksi Surat Kepercayaan Gelanggang, adalah warisan
kebudayaan lama yang oleh para sastrawan Gelanggang tidak ingin di-
laplap sampai berkilat dan untuk dibanggakan.31 Namun berbeda
dengan sastrawan Gelanggang yang menganggap totalitas ini telah jumud
dan pasif (prasangka intelektual khas kaum terdidik Dunia Ketiga atas
bangsanya sendiri), para sastrawan Lekra menganggap totalitas itu
sebagai tantangan bagi praksis. Sastra adalah praksis itu, yang mampu
mendayagunakan kerja kreatifnya untuk mengangkat totalitas itu
menjadi denyut nadi dinamis dari perubahan-perubahan radikal yang
sedang dihadapi oleh masyarakat selama dan sesudah Revolusi
kemerdekaan. Kritik sastra diabdikan untuk melakukan kritik atas
keterkaitan antara sastra dan kerja praksisnya. Kritik sastra, dengan
demikian, menjadi bagian dari praksis itu sendiridalam kerja besar
totalisasi. Politik menjadi panglima bagi sastra, dalam arti kerja-kerja
kesusastraan berkiblat kepada praksis.
Kemungkinan kedua juga relevan: politik adalah kesetiaan atas
kebenaran peristiwa politik. Sastra Indonesia adalah bagian dari jatuh-
bangun politik Indonesia, maka sastra adalah bagian dari politik, dari
pengorganisasian massa kerakyatan atas tindakan-tindakan yang mereka
lakukan untuk memaknai peristiwa politik yang terjadi dan menyangkut
kehidupan mereka. Sastra menjadi bagian dari politik, bukan dalam arti
instrumentalis (sastra menjadi sarana propaganda), tetapi operatif: sastra
merupakan suatu operasi untuk membantu dan mendorong
pemaksimalan politik sebagai manifestasi pembebasan rakyat dari
kondisi-kondisinya yang tidak semestinya. Sastrawan dapat menolak
karya sastranya menjadi alat politik, tetapi karya sastra itu tidak dapat
menghindarkan dirinya dari peran politik tertentu yang dimainkannya,
sebagai suatu operasi tertentu32 dalam wujud kerja kreatifterlepas
apakah peran itu maksimal atau minimal diperankannya.
Kritik sastra, dengan demikian, dipahami sebagai demistifikasi ideologis
dan pengujian atas operasi karya sastra terhadap kebenaran.
Demistifikasi ideologis, yaitu pembongkaran atas ideologi-ideologi di
dalam karya sastra yang mendukung, menetralisir, atau menjadi antipoda
bagi proses kebenaran yang terjadi (dalam suasana kemerdekaan,
pembebasan bangsa dari kolonialisme; pasca-kemerdekaan,
neokolonialisme). Pengujian atas operasi, yaitu melihat sejauh mana
politik beroperasi di dalam karya sastra, terlepas dari intensi atau latar
belakang sastrawannya.
Politik Teori Sastra di Indonesia Muhammad Al-Fayyadl Halaman 11

Politik adalah panglima, dalam arti sastra berorientasi kepada


kebenaran dan peristiwa politik. Bagi kritik sastra, ini berarti bahwa kritik
sastra menguji ada-tidak adanya orientasi itu dalam karya sastra. Kritik
sastra menjadi lensa observasi bagi operasi sastrawi atas politik.
Penyesuaian antara konsepsi kritik sastra ini dengan kebijakan partai di
akhir-akhir eksistensi Lekra seakan-akan memberi pembenaran atas
tuduhan lawan politik mereka, bahwa mereka memperalat sastra untuk
politik. Politik di sini dibingkai oleh para lawan politik mereka dalam
pengertian Hobbesian-Machiavellian: pemenuhan ambisi pribadi atau
kelompok yang dicapai dengan penghalalan segala cara, penciptaan
antagonisme kawan/lawan, dan instrumentalisasi vulgar atas
kesusastraan sebagai alat propaganda. Apa yang sebenarnya merupakan
suatu konsepsi metapolitik (Sartre, Badiou), yang menempatkan sastra
dan otomatis peran Lekrasebagai unsur dari kerja besar politik yang
sedang dilakukan bersama-sama oleh rakyat Indonesia (di mana sastra
bagian yang niscaya terlibat di dalamnya), direduksi besar-besaran
menjadi suatu konsepsi ultrapolitik(Machiavelli, Hobbes), yang
menganggap sastra Indonesia sedang dikorbankan untuk kepentingan
sempit kelompok Lekra atau ideologi sastra yang mereka anut. Reduksi
ini sekaligus menandai perubahan kepada dua modalitas politik lain yang
membentuk kondisi metateoretis kritik sastra.
Pengertian ketiga tentang politik adalah apa yang boleh disebut politik
tekstual atas teori, yaitu suatu jenis politik yang kelihatannya apolitis
yang bekerja melalui hegemoni dan dominasi suatu teori atau arus
teoretik tertentu, yang di dalamnya teori-teori berfungsi menetralisir
polemik, menciptakan konsensus, dan membentuk normalitas suatu
kondisi status quo sastra. Ini adalah politik atas teori, atau politik
teoretik. Ia disebut tekstual, karena di dalamnya politik bekerja tidak
dalam hubungan yang menyeluruh realitas dunia yang lebih luas daripada
sastra, tetapi bekerja di dalam hubungan intra-tekstual di antara
konsep-konsep teoretik atau antarteori di dalam ilmu sastra. Ini adalah
politik yang diinvestasikan di dalam kekuatan-kekuatan yang terkandung
di dalam teori, potensi-potensinya, dan hal-hal yang tercipta dari relasi
antarkonsep atau teori. Model bagi politik ini adalah politik diskursif yang
berlangsung dalam suatu epistm atau gugus ilmiah tertentu. Teori
memiliki dua dimensi: dimensi deskriptif dan dimensi diskursif. Politik
ini berlangsung ketika dimensi diskursif suatu teori dominan atas dimensi
deskriptifnya, sehingga teori itu membentuk diskursus di tengah suatu
komunitas atau publik ilmiah tertentu.
Politik ini merupakan suatu parapolitik (dalam arti Habermasian), yaitu
bahwa teori-teori dapat berkontestasi secara normal, tetapi fungsi
utama dari kontestasi itu adalah mendukung suatu konsensus. Kontestasi
dilangsungkan, tetapi tanpa antagonisme atau dialektik. Teori-teori
bersirkulasi sebatas pragmatik untuk memenuhi kegunaan tertentu, atau
menegakkan suatu norma ilmiah yang disepakati.
Politik Teori Sastra di Indonesia Muhammad Al-Fayyadl Halaman 12

Politik ini bukan tanpa ideologi, walaupun kelihatannya tidak memiliki


beban ideologis. Tidak adanya ideologi padanya adalah ideologis, karena
ideologi diubah bukan lagi sebagai modus yang melekat secara langsung
pada eksistensi teori (teori itu didorong oleh motivasi ideologis yang
langsung), tetapi menjadi modus yang menjadi prasyarat tak langsung
dari eksistensi teoripenghilangan antagonisme, regularitas dan
normalisasinya, penciptaan situasi yang kondusif bagi pemapanan teori.
Ideologi, dengan demikian, disublimasi menjadi syarat-syarat
transendental dari teori.
Dalam kebanyakan situasi, hal ini dapat berjalan normal atau teratur.
Meski demikian, kontestasi itu juga menciptakan kemungkinan
pembelokan-pembelokan atau penyimpangan dari kurva linear-sirkuler
yang terjaga dari hubungan intra-tekstual ini. Hal ini mendorong lahirnya
politik dalam pengertian keempat, yaitu politik sebagai pengaktifan yang
politis.
Keempat, politik sebagai pengaktifan yang politis. Politik dapat
didepolitisasi melalui penghilangan antagonisme, prosedur regularitas
dan normalisasi, dan seterusnya (hukum-hukum status quo), tetapi ia
tidak dapat dihilangkan sepenuhnya dari potensi politisnya. Potensi
politis ini, residu dari depolitisasi yang nyaris total dan hegemonik,
adalah yang politis, politik yang berlangsung melalui penyimpangan-
penyimpangan dan subversi internal atas regularitas dan
normalitas status quo. Politik ini, bila kita setia pada definisi yang
diberikan oleh Paul Ricoeur, adalah apa yang tak tereduksikan dari politik
ideologis dan dari depolitisasi atas politik ideologis. Dalam hal ini, yang
politis itu terletak pada momen ketika teori mampu menghadirkan
diskursus tandingan yang mampu merepolitisasi potensi politis yang
terdapat di dalam suatu bangunan teoretik tertentu.
Strukturalisme ala Teeuw pasca-1960-an yang memberi bentuk bagi kritik
sastra formalis yang telah diperkenalkan oleh H.B. Jassin sebelumnya,
bukan sekadar suatu teori deskriptif, tetapi merupakan suatu versi khusus
dari strukturalisme yang telah dilepaskan dari potensi politisnya sebagai
teori. Penekanannya pada struktur, pada sistem sastra, pada sifat
invarian dan universal dari aspek intrinsik karya, tidak saja merefleksikan
bias universalisme yang cocok dengan ideologi humanisme universal
kelompok ini, tetapi juga merefleksikan kecenderungannya terhadap
tatanan politik yang ada, yaitu tatanan Orde Baru, dengan keajegan
strukturnya dan pola-pola pemapanan sistem politiknya. Struktur di
sini dipahami sebagai suatu konvensi yang stabil, yang kalaupun terjadi
penyimpangan, penyimpangan itu terjadi dalam konteks ketegangan
normal antara konvensi dan pembaruan33tidak sampai menciptakan
suatu lompatan besar atau revolusi dalam bentuk (forma)-nya. Dilihat
dari konvensi ini, betapapun besar dampak politis yang diciptakan oleh
sebuah karya sastra, dampak politis itu tidak ada artinya jika ia belum
menghasilkan pembaruan berarti dalam bentuknya.
Politik Teori Sastra di Indonesia Muhammad Al-Fayyadl Halaman 13

Politik tekstual atas teori ini terlihat dari apa yang dimaksud dengan
versi khusus di atas. Strukturalisme ala Teeuw, secara eklektik, diracik
dari konsep-konsep yang diambil dari formalisme Rusia, strukturalisme
Ceko, dan sedikit strukturalisme Prancis. Tetapi, racikan ini adalah
seleksi tak sadar atas konsep-konsep yang memberi ciri khas bagi versi
khusus ini. Misalnya, Teeuw kurang menonjolkan aspek emansipatif
dari formalisme yang, dalam program Jakobson, mesti bertujuan
mengemansipasikan kata-kata dari makna34dengan demikian,
menciptakan suatu pembaruan yang radikal yang mampu menciptakan
suatu pembalikan formalis atas materialitas kata-kata sebagai bahan
primer dari kesusastraan. (Ini mengapa formalisme merupakan ideologi
Avant-gardisme sastra35 yang memiliki persinggungan dengan beberapa
kecenderungan Avant-gardisme politik Bolshevisme yang berusaha
dinormalisasi pengaruhnya oleh Stalinisme. Formalisme sendiri
merupakan suatu materialisme dalam sastra.) Teeuw juga sama sekali
tidak menonjolkan unsur dinamisme internal dari formalisme, seperti
yang dikonsepsikan oleh Tynjanov, bahwa konstruksi bahasa sastra
adalah konstruksi bahasa yang dinamis36 yang ketakterdugaannya
atau yang poetik-nya, menurut Jakobsondapat mengguncang atau
mengubah konvensi sama sekali. Keterikatan Teeuw pada
konvensi37 menghadirkan suatu versi strukturalisme yang cenderung
statis, suatu strukturalisme yang cocok dengan tuntutan status
quountuk meredam gejolak terhadap struktur atau sistem yang berlaku.38
Strukturalisme Prancis juga dilucuti dari sifat radikalnya sebagai suatu
teori yang politis tentang bahasa. Salah-baca atas konsep
tulisan/penulisan (criture) dalam satu versi dari (pasca)strukturalisme
Derrida, yang dipahami oleh Teeuw sebagai suatu hal yang mati39 padahal
tidak, dan lebih merupakan suatu modus baru bagi perubahan-perubahan
dalam sistem sastra,40 menunjukkan ketidakberhasilan Teeuw
menangkap sifat politis dari teori ini. Adonan teoretik Teeuw merupakan
contoh dari politik tekstual atas teori, melalui suatu seleksi atas konsep-
konsep dan sifat politisnya bagi teori sastra maupun pembaca.
Tanpa ekses politis dari teori, teori-teori yang ada, berikut penggunaan
konsep-konsep ikutannya, diterima sebagai kewajaran dan tanpa suatu
kejutan. Teori-teori dapat digunakan sejauh cocok atau dipandang cocok
untuk mengkaji suatu teks sastra, atau sekadar mengomentarinya dalam
tinjauan-tinjauan yang judisial. Teori-teori digunakan dalam ragam
variannya, tetapi keragaman itu semata-mata berfungsi untuk
melangsungkan suatu konsensus diam-diam di kalangan kritikus sastra
(akademis) tentang sifat praktis dan apolitis teori-teori tersebut, dan
apolitisnya ilmu sastra itu sendiri. Teeuw dengan Alkitab-nya,
buku Teori Kesusastraan karya Ren Wellek dan Austin
Warren,41 menjadi nama penting dari proses-proses ini, jauh lebih
signifikan daripada Jassin secara teoretik.
Namun proses ini tidak linear. Di tengah kesinambungan yang tampak
dominan dari politik teori ini, politik teori dalam bentuk yang lain, yaitu
Politik Teori Sastra di Indonesia Muhammad Al-Fayyadl Halaman 14

pengaktifan yang politis dari teori, muncul mengganggu. Momennya


terjadi cukup awal, tidak di ranah teori sastra, tetapi pada ranah kritik
sastra non-akademis, yaitu pada 1984 dalam polemik sastra
kontekstual.42 Polemik ini menghadirkan suatu gangguan terhadap
politik teori yang dominan, karena di dalam perdebatan tersebut
dipertanyakan kriteria-kriteria keuniversalan sastra, dan dengan
demikian secara tak langsung, asumsi keuniversalan teori sastra.
Sebagian asumsi yang melatari tentang kontekstualitas sastra digali dari
pengaktifan sejumlah konsep yang selalu dihindari oleh Teeuw dan para
pengikutnya, seperti ideologi dan politik itu sendiri. Hal ini terjadi
melalui perjumpaan, via Keith Foulcher, dengan teori Marxis, yaitu
Marxisme budaya yang kemudian membentuk gugus Kajian Budaya
(cultural studies) dalam teori sastra (Raymond Williams).43
Dalam perdebatan itu muncul problematik tentang keterkaitan antara
sastra dan ideologi, di mana universalisme sastra yang dimapankan oleh
humanisme universal dipertanyakan ulang melalui pemunculan
determinasi sastra oleh ideologi. Terlibat dalam suatu modus sastrawi
tertentu, entah sebagai penulis maupun kritikus, berarti terikat dengan
suatu kompleks ideologis tertentu. Meskipun arah dari kritik atas
universalisme ini terbelah, antara kecenderungan humanisme baru
yang menekankan pada kekonkretan, sentimen keberhinggaan manusia
(psikologisme Gestalt), dan subjektivisme seperti diperkenalkan oleh
Arief Budiman dkk., dan kritik sastra bertipe sosiologis yang dianjurkan
oleh Ariel Heryanto,44 kritik atas universalisme ini merupakan sebentuk
penyimpangan dari politik teori yang dominan dan membuka kritik sastra
kepada yang politis.
Sebelum pasca-strukturalisme mendapat kekuatannya yang baru dalam
pengaktifan yang politis inijauh setelah introduksi Teeuw pada 1970-
andalam polemik mengenai pascamodernisme di Indonesia di tahun
1990-an, politik teori ini secara irreguler hadir melalui berbagai teori
sastra yang menyadari ketidakmemadaian otonomi sastra dan makin
meresapnya teks sastra kepada perubahan-perubahan politik atau sosial
di tengah masyarakat. Introduksi sosiologi sastra (walaupun dalam
pendekatannya yang fungsional dan positivistik ala Parsons) oleh Sapardi
Djoko Damono, kemudian strukturalisme genetik oleh Faruk45 (dengan
tendensinya yang cukup Marxian dengan pengakuannya atas ideologi,
dialektika, dan peranan subjek kolektif dalam estetika), feminisme, dan
pascakolonialisme merupakan momen-momen yang politis dalam teori
sastra, yang memberikan sejumlah pendasaran baru atas hubungan yang
lebih mendalam dan substansial antara teori sastra dan politik.
Ke Arah Metapolitik Kritik Sastra
Terdapat sejumlah ambiguitas di kalangan kritikus sastra mengenai
hubungan antara kritik sastra, teori sastra, dan politik. Sikap paling
konvensional tercermin dari pandangan Dami N. Toda, yang walaupun
memiliki reputasi berani memperkenalkan pembacaan-pembacaan yang
Politik Teori Sastra di Indonesia Muhammad Al-Fayyadl Halaman 15

eksperimental terhadap sastra Indonesia dengan penguasaannya yang


memadai atas wawasan teoretik sastra Barat,46 mengakui signifikansi
sekunder teori sastra dalam kritik sastra, sehingga menurutnya, kritik
sastra dapat dilakukan tanpa harus membebek kepada teori tertentu:
Teori hanya ilmu. Metode hanya ilmu Metode ataupun aliran bukan
penebus untuk menjamin keselamatan mutu sebuah kritik
sastra.47 Sikap ini memperjelas mengapa terjadi alienasi antara kritik
sebagai kerja kreatif dan teori sebagai sesuatu yang seolah-olah selalu
hadir secara instrumental untuk melengkapi kritik. Suatu alienasi yang
melengkapi kesenjangan antara kritik sastra akademis dan non-akademis.
Pandangan yang keluar dari sikap konvensional itu diajukan oleh Saut
Situmorang, yang sebaliknya melihat perlunya kritik sastra
melakukan reclaiming atas teori dan menjalankannya secara konsisten
dan bertanggung jawab.48 Kesenjangan antara teori dan kritik sebagai
praktik kreatif harus dijembatani, tidak dengan sikap positivistik dan
instrumental atas teori (bahwa teori merupakan penjelas absolut dan
selalu overdeterminan terhadap teks sastra, dan bahwa teori tinggal
dijalankan atau diterapkan terhadap teks sastra begitu saja) atau sikap
anti-teori (subjektivisme murni), melainkan dengan menganut suatu
pendirian teoretik tertentu yang secara sadar dipertanggungjawabkan
dalam kerja kritik.
Pandangan terakhir ini menunggu untuk ditindaklanjuti lebih jauh
dengan pengakuan atas setidaknya dua hal yang mendasar. Kita akan
menyebutnya dua hipotesis bagi suatu metapolitik kritik sastra. Pertama,
keintrinsikan teori dalam kritik sastra, dan kedua, keinstrikan politik
dalam teori sastra.
Disadari atau tidak disadari, setiap kerja kritik, sekalipun berupa sebuah
analisis pendek atas teks sastra, merefleksikan suatu posisi teoretis yang
dianut oleh kritikusnya. Ketidakmampuan kritikus mengeksplisitkan
posisi teoretisnya lebih karena sifat ideologis dari teori itu sendiri, yang
dalam kondisi-kondisi tertentu menuntut untuk disembunyikan atau
didiamkan karena penghindarannya untuk dibaca secara ideologis oleh
pembacanya. Namun, kritik itu sendiri menyimpan suatu posisi teoretis
tertentu, sehingga teori pada dasarnya intrinsik dalam kerja kritik, dan
dalam kritik sastra yang dihasilkan oleh kerja kritik itu.
Karena setiap teori tidak berada dalam ruang kosong, melainkan muncul
dalam suatu konteks politis tertentu, meskipun memiliki kemampuan
untuk melampaui konteks politisnya dan menguniversalkan konsep-
konsepnya, maka di dalam teori intrinsik suatu politik: politik, diakui
atau tidak diakui, internal di dalam teori.
Keintrinsikan politik dalam teori tidak dapat disadari tanpa melacak
genealogi dan kontekstualisasi epistemologis yang dilakukan atasnya
dalam berbagai kajian atau kritik sastra. Dengan cara demikian, kita
dapat melihat sejauh mana suatu pendirian teoretik tertentu
membawakan pendirian politisnya dan menampilkan orientasi politisnya.
Politik Teori Sastra di Indonesia Muhammad Al-Fayyadl Halaman 16

Jika teori telah memiliki orientasi politisnya, maka penyematan teori oleh
suatu kerja kritik mempertautkan secara langsung maupun tak langsung
kritikus kepada orientasi politis tersebut dan membuat kritik sastra
sebagai kerja politis atau praktik politik. Kritik sastra, dengan demikian,
merupakan suatu kerja yang memiliki latar belakang politis (metapolitis).
Dalam pendedahan antara kritik sastra, teori sastra, dan politik yang
dilakukan di atas, kita bisa menyatakan bahwa metapolitik kritik sastra
ini merupakan bagian dari upaya mengaktifkan yang politis dalam kritik
dan teori sastra. Hal ini tidak lain untuk menghadirkan antitesis bagi
politik depolitisasi atas teori, dan mungkin, dalam momentum terbaik,
akan memungkinkan kritik sastra menjadi bagian dari kerja besar praksis
atau prosedur kebenaran, yang benih-benihnya telah ditanam oleh para
kritikus Lekra setengah abad silam, dengan bentuk dan ekpresi yang
sama sekali baru.[]
*Sebelumnya merupakan makalah yang berjudul Kritik Sastra, Teori,
Praktik Politik (Catatan untuk Investigasi), dipresentasikan pada
seminar Politik Kritik Sastra di Indonesia di PKKH UGM, Yogyakarta,
24-25 November 2015 dan dimuat dalam Ach. Fawaid (ed.), Poe(li)tics:
Esai-esai Politik Kritik Sastra di Indonesia (Yogyakarta: PKKH, 2015).
1 Bandingkan dengan konsepsi kritik sastra Sjahrir, yang belum mencapai
tingkat kematangan yang konkret dalam menerjemahkan visi estetik
realisme sosialis dalam kerja-kerja kritik sastra.
2 Savitri Scherer, Pramoedya Ananta Toer: Luruh dalam
Ideologi (Jakarta: Komunitas Bambu, 2012), h. 129.
3Ibid., h. 128.
4 Slavoj iek, The Sublime Object of Ideology (London: Verso, 2008
[1989]). Ideologi mengalami sublimasi, menurut iek, jika objeknya
mengalami empat hal: penyembunyian, suprasensualisasi,
immaterialisasi, atau transendentalisasi. Kita akan memakai hal yang
keempat, yaitu transendentalisasi, untuk melihat sublimasi ini.
5 Yudiono K.S., Pengkajian Kritik Sastra Indonesia (Jakarta: Grasindo,
2009), h. 108-109. Yudiono K.S. adalah seorang akademisi sastra dari
Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang, dengan pandangan-
pandangan yang tampaknya cukup dipengaruhi oleh Sapardi Djoko
Damono, akademisi sastra senior lainnya.
6 Didukung oleh tentara. Prosiding seminar ini telah diterbitkan oleh
Lembaga Bahasa dan Kesusastraan, dengan judul Bahasa dan
Kesusastraan Indonesia sebagai Tjermin Manusia Indonesia Baru:
Simposium Bahasa dan Kesusastraan Indonesia 25-28 Oktober 1966,
dan dikatapengantari oleh Jenderal Soeharto, yang saat itu menjabat
Menteri Utama Bidang Pertahanan dan Keamanan. Tidak jelas dukungan
seperti apa yang diberikan oleh tentara terhadap paraakademisi sastra
tersebut. Tentang keterlibatan Soeharto dalam proyek pembinaan
bahasa dan kesusastraan Indonesia, lihat esai pendek Bandung Mawardi,
Politik Teori Sastra di Indonesia Muhammad Al-Fayyadl Halaman 17

Soeharto dan Bahasa Indonesia, majalah sastra Surah, edisi III/Juni-


Juli 2013, h. 30.
7Ibid., h.98.
8J.E. Tatengkeng, Penjelidikan dan Pengakuan, Antologi
Karya Pudjangga Baru(Djakarta: J.B. Wolters-Groningen, t.t.), h. 148-
151.
9 Roman & Romance, dalam Pramoedya Ananta Toer, Menggelinding 1,
ed. Astuti Ananta Toer (Jakarta: Lentera Dipantara, 2004), h. 251-256.
10 Sumber Cipta dalam Kesenian, dalam ibid., 214.
11 Angkatan dan Dunianya, dalam ibid., h. 114.
12 Scherer, Pramoedya, h. 50.
13 Mikhail Bakhtin, Le Marxisme et la philosophie du langage (Paris:
Minuit, 1977).
14 Para kritikus Lekra tidak menerapkan secara harfiah teori sastra
Marxis yang saat itu sangat dipengaruhi oleh dinamika sastra di Soviet,
meski di saat-saat akhir sempat tergelincir ke dalam keharusan
menyesuaikan kritik dengan tuntutan partaimirip seperti ketaatan
kritikus Soviet di masa-masa akhir kepada Proletkult; keragaman
pandangan di antara mereka menunjukkan pencarian bentuk kritik yang
sedang berproses.
15 Mungkin suatu kebetulanatau bukan kebetulanbahwa impor
teoretik ini bersamaan dengan dibukanya kontrak karya dan investasi
antara Indonesia dengan perusahaan-perusahaan multinasional yang
disiapkan sejak Oktober 1966 dan diresmikan oleh undang-undang pada
Januari 1967, yang membuka Indonesia kepada jaringan kapitalisme
finansial global.
16 Maman S. Mahayana, Perjalanan Teori Sastra di Indonesia, dalam
Maman S. Mahayana, Sembilan Jawaban Sastra Indonesia: Sebuah
Orientasi Kritik (Jakarta: Bening Publishing, 2005), h. 203.
17 Setidaknya suatu versi paling awal dari strukturalisme.
18 Mahayana, Sembilan Jawaban Sastra, h. 206.
19 Yudiono K.S., Pengkajian Kritik Sastra, h. 111.
20 A. Teeuw, Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra (Jakarta:
Pustaka Jaya, 1984).
21 Eksternal di sini mendapat pengertian khusus yang berbeda dari
eksternalitas politis teori sastra Marxis.
22 Teeuw, Sastra dan Ilmu Sastra, h. 7.
23 Ketika memulai penelitiannya pada suku-suku pedalaman
Nambikwara, Claude Lvi-Strauss menyadari jarak kultural antara the
Politik Teori Sastra di Indonesia Muhammad Al-Fayyadl Halaman 18

savage mind itu dengan rasio universal Barat-Pencerahan yang


menjadi standing politisnya sebagai orang Barat. Penemuan kode-kode
mitologis yang sama antara pemikiran suku-suku pedalaman primitif itu
dengan rasio universal Barat menelanjangi universalitas rasio yang
terakhir ini dan memperlihatkan kepekatannya (opacity), yang memiliki
derajat universalitas yang sama justru dengan rasio universal Barat
yang menjadi titik berangkatnya.
24 Barbara Foley, Review of Formalism and Marxism by Tony
Bennett, Modern Philology, vol. 80, No. 4 (1983), h. 443.
25 Andre Harjana, Kritik Sastra: Sebuah Pengantar (Jakarta: Gramedia,
1981).
26 [D]engan menitikberatkan pada teori-teori yang bergerak pada
tataran yang umum dan abstrak tentang kesusastraan, maka terdapat
kecenderungan yang kuat untuk meninggalkan penelaahan yang konkret
terhadap karya sastra, Subagio Sastrowardoyo, dikutip dalam
Mahayana, Sembilan Jawaban Sastra, 201.
27Ibid., h. 202.
28 Kita tidak menutup mata pada adanya beberapa kajian sastra yang
berhasil melakukan persenyawaan yang ketat antara teori sastra Barat
dengan teks sastra Indonesia sebagai objek kajiannya, tanpa terjatuh pada
pola instrumentalis dalam memperlakukan teori sastra kepada objeknya.
Tetapi hal itu sangat jarang. Ada suatu inkonsistensi yang menarik
dicatat, ketika suatu saat Sapardi Djoko Damono, seorang sastrawan
senior yang secara ideologis dekat dengan kubu Manikebu, mengatakan
dalam suatu kesempatan diskusi sastra, bahwa teori sastra mengikuti
karya sastra, teori dibuat mengikuti karya, menegaskan superioritas
karya atas segala kerja kritik atau teoretik (Hal ini diungkapkannya
sekaligus untuk menegaskan superioritas sastrawan dan kerja kreatifnya
atas kritikus dan kritiknya). Sapardi dapat mengatakannya sebagai
seorang sastrawan. Tetapi sebagai seorang kritikus dan akademisi sastra
yang dikenal memperkenalkan teori Sosiologi Sastra, pernyataan ini
menjadi cermin inkonsistensinya. Sapardi ingin bahwa teori sastra
mengikuti karya sastra, maka teori harus digali dari teks (sastra
Indonesia). Teori harus dikembangkan dan diabstraksikan dari karya itu
sendiri. Tetapi, kenyataannya ia tidak berhasil menggali teori itu dari
karya sastranya sendiri maupun dari tradisi sastra Indonesia, dan tetap
menggunakan teori-teori sastra Barat untuk membaca sastra Indonesia.
(Sapardi tidak pernah melahirkan teori sastra Indonesia yang
orisinal.)
29 Jean-Paul Sartre, Critique of Dialectical Reason, Vol. 1, terj. Alan
Sheridan Smith (London: Verso, 2004), h. 45.
30 Alain Badiou, Politics as a Truth-Procedure, dalam Alain
Badiou, Theoretical Writings (London: Continuum, 2006), h. 155.
Politik Teori Sastra di Indonesia Muhammad Al-Fayyadl Halaman 19

31 Asrul Sani, Surat-surat Kepercayaan (Jakarta: Pustaka Jaya, 1997), h.


3.
32 Pemahaman Pramoedya tentang kesusastraan sebagai alat, yang
dibedakannya dari kesusastraan yang diperalat, bisa dipahami dalam
pengertian operasi ini. Lihat, Pramoedya, Kesusastraan sebagai Alat,
dalam Menggelinding 1, h. 222.
33 A. Teeuw, Membaca dan Menilai Sastra (Jakarta: Gramedia, 1983), h.
33.
34 D.W. Fokkema & Elrud Kunne-Ibsch, Teori Sastra Abad Kedua
Puluh (Jakarta: Gramedia, 1998), h. 17.
35Ibid., h. 19.
36Ibid., h. 29.
37 Teeuw, Membaca dan Menilai Sastra, h. 26.
38 Tetapi pembaruan pun, walaupun kelihatannya bersifat perombak,
namun selalu berada dalam ketegangan dengan konvensi yang
sebelumnya berlaku, sehingga pemahaman dan penilaiannya tidak
mungkin di luar garis kesinambungan, ibid., h. 33.
39Ibid., h. 30.
40 Bdk. Muhammad Al-Fayyadl, Kebudayaan Perspektif Grammatologi,
FIB Weekly Forum, UGM Yogyakarta, 16 April 2015.
41 Pengakuan Teeuw tentang kealkitabiahan teks daras Wellek-Warren,
lihat dalam Teeuw, Sastra dan Ilmu Sastra, h. 135.
42 Ariel Heryanto (ed.), Perdebatan Sastra Kontekstual (Jakarta:
Rajawali, 1985).
43Ibid., h. 60.
44 Bandingkan catatan kritis atas pendekatan sosiologis Ariel Heryanto
ini, yang dipandang mekanistik, kurang dialektis dan ketat dalam
melihat hubungan antara kenyataan sosial dan kenyataan literer, dalam
Saut Situmorang, Sastra Kontekstual, dalam Politik Sastra (Yogyakarta:
[Sic], 2009), h. 105-106.
45 Faruk HT, Strukturalisme Genetik dan Epistemologi
Sastra (Yogyakarta: Lukman Offset, 1988).
46 Lihat berbagai kajiannya tentang novel-novel Iwan Simatupang.
47 Kritik Sastra Indonesia Mencari Kambing Hitam, dalam Dami N.
Toda, Hamba-hamba Kebudayaan (Jakarta: Penerbit Sinar Harapan,
1984), h. 29.
48 Kritik Sastra Tanpa Teori?!, dalam Situmorang, Politik Sastra, h.
131-135.