Anda di halaman 1dari 64

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kanker paru adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran napas atau

epitel bronkus. Terjadinya kanker ditandai dengan pertumbuhan sel yang tidak normal,

tidak terbatas, dan merusak sel-sel jaringan yang normal. Proses keganasan pada epitel

bronkus didahului oleh masa pra kanker. Perubahan pertama yang terjadi pada masa

prakanker disebut metaplasia skuamosa yang ditandai dengan perubahan bentuk epitel

dan menghilangnya silia (Kumar, 2007).

Laporan dari World Health Organitation (WHO) tahun 2012, dari 14 juta

penderita kanker di seluruh dunia, 1,8 juta di antaranya (13%) adalah kanker paru-paru.

Insidensi di dunia tinggi, 19% pada pria (kedua setelah kanker prostat) dan 17% pada

wanita (ketiga setelah kanker payudara dan kanker kolorektal). Berdasarkan data dari

International Agency for Research on Cancer (IARC) pada tahun 2012, kasus kanker

paru-paru yang menimpa pria di Indonesia sebesar 25.322, sedangkan kasus kanker

paru-paru yang menimpa wanita di Indonesia sebesar 9.374. Kanker paru paling sering

ditemukan pada laki-laki dewasa dengan usia lebih dari 40 tahun. Lebih dari 80%

berhubungan dengan kebiasaan merokok, baik aktif maupun pasif (Ancuceanu and

Victoria, 2004).

1
Tingginya angka merokok pada masyarakat Indonesia akan menjadikan kanker

paru sebagai salah satu masalah kesehatan di Indonesia. Kanker paru merupakan salah

satu jenis penyakit paru yang memerlukan penanganan dan tindakan yang cepat dan

terarah. Penegakan diagnosis penyakit ini membutuhkan keterampilan dan sarana yang

tidak sederhana dan memerlukan pendekatan multidisiplin kedokteran (Desen, 2013).

Beberapa teknik pengobatan kanker paru yang telah dilakukan adalah

pembedahan, radioterapi, dan kemoterapi. Namun tingkat keberhasilan dari teknik

tersebut masih rendah karena dapat menyebabkan peningkatan metastasis dan memberi

efek samping terhadap sel atau jaringan yang normal.

Imunoterapi merupakan metode pengobatan kanker terbaru yang telah disetujui

oleh Food and Drug Administration (FDA). Sel kanker memiliki kemampuan untuk

'menyamarkan' diri sedemikian rupa, sehingga sistem kekebalan tubuh kita tidak dapat

mendeteksi 'sel jahat' ini dan menghancurkannya. Melalui imunoterapi, sistem kekebalan

tubuh dapat ditingkatkan untuk mendeteksi sel kanker dengan lebih efektif. Pengobatan

ini dapat membantu menghentikan atau memperlambat pertumbuhan sel kanker,

mencegah kanker menyebar ke bagian tubuh lain dan membantu sistem kekebalan tubuh

bekerja lebih baik dalam menghancurkan sel kanker.

Food and Drug Administration (FDA) telah mengakui nivolumab sebagai

antibodi monoklonal yang dapat memperbaiki kondisi kekebalan tubuh penderita kanker.

Nivolumab adalah salah satu dari generasi baru obat kanker yang dikenal sebagai anti-

PD1s dan anti-PDL1s yang mampu melemahkan sel-sel kanker dalam tubuh. Anti-PD1s

2
dan anti-PDL1s akan bekerja membantu sistem kekebalan tubuh mengenali tumor

sebagai musuh.

Kanker paru merupakan salah satu penyakit jasmani yang memerlukan

pengobatan. Dalam ajaran Islam, berobat termasuk tindakan yang dianjurkan sesuai

dengan Hadits Rasullulah saw yang menganjurkan berobat apabila sakit :

Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obatnya, demikian pula Allah

menjadikan bagi setiap penyakit ada obatnya. Maka berobatlah kalian dan janganlah

berobat dengan yang haram. (HR. Abu Dawud dari Abud Darda` RA ), karena Allah

SWT menurunkan penyakit serta menyediakan obatnya. Akan tetapi perlu di yakini

bahwa proses penyembuhan terhadap suatu penyakit hendaklah adanya kecocokan obat

dengan penyakitnya serta tidak pula terlepas dari izin Allah, seperti disebutkan dalam

Hadits : Semua penyakit ada obatnya. Jika sesuai antara penyakit dan obatnya, maka

akan sembuh dengan izin Allah (HR Muslim). Manusia hanya dapat berusaha untuk

pengobatan tetapi tetap Allah SWT yang menyembuhkan. Seperti disebutkan dalam Al-

Quran : Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku. (QS.Asy-Syuaraa

(26) : 80)

Nivolumab adalah salah satu obat yang dapat digunakan untuk mengobati

penyakit kanker paru. Menurut Islam tujuan pengobatan yang dikehendaki syarak dalam

mengsyariatkan suatu hukum bagi kemaslahatan umat manusia. Kemaslahatan ini

menyangkut kemaslahatan yang komprehensif bagi umat manusia, sekaligus

menghindarkan dari mafsadah (hal-hal yang merusak), baik di dunia maupun akhirat.

Lima kemaslahatan tersebut meliputi hifdz al-din (memelihara agama), hifdz al-Nafs

3
(memelihara jiwa), hifdz al-Nasl (memelihara keturunan (kehormatan)), hifdz al-Aql

(memelihara akal) dan hifdz al-Maal (memelihara harta) (Zuhroni, 2010).

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, penulis tertarik untuk menulis skripsi

dengan judul EFEKTIVITAS PENGGUNAAN NIVOLUMAB DALAM

PENGOBATAN KANKER PARU DITINJAU DARI KEDOKTERAN DAN

ISLAM.

1.2. Masalah

Permasalahan yang dapat timbul dari permasalahan di atas, yaitu :

1. Bagaimana efektivitas penggunaan nivolumab dalam pengobatan kanker paru dari

segi kedokteran?
2. Bagaimana tinjauan Islam terhadap penggunaan nivolumab dalam pengobatan

kanker paru?

1.3. Tujuan

1.3.1. Tujuan Umum

Secara umum, tujuan penelitian skripsi ini ialah untuk mendapatkan pengetahuan

mengenai efektivitas penggunaan nivolumab dalam pengobatan kanker paru ditinjau dari

segi kedokteran dan Islam.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Mengetahui dan memahami efektivitas penggunaan nivolumab dalam pengobatan

kanker paru dari segi kedokteran.

4
2. Mengetahui dan memahami tinjauan Islam terhadap penggunaan nivolumab dalam

pengobatan kanker paru.

1.4. Manfaat

Adapun beberapa hal yang dapat diharapkan dari penulisan skripsi ini adalah :

1. Bagi Penulis
a. Menambah pengetahuan mengenai terjadinya kanker paru dan penggunaan

nivolumab.
b. Menambah pengetahuan mengenai efektivitas penggunaan nivolumab dalam

pengobatan kanker paru serta menemukan titik temu antara ilmu kedokteran dan

pandangan Islam.
c. Meningkatkan keterampilan dan kemampuan dalam menulis ilmiah dan berpikir

logis serta aplikatif dalam memecahkan masalah ilmiah.


d. Menambah pengetahuan mengenai hukum Islam dalam penerapannya di bidang

kedokteran sehingga mendukung terciptanya dokter muslim yang baik.


e. Memenuhi salah satu persyaratan kelulusan sebagai dokter muslim di Fakultas

Kedokteran Universitas YARSI.


2. Bagi Universitas YARSI
a. Diharapkan dapat memberikan informasi serta menjadi bahan rujukan dan

masukan bagi civitas akademika Universitas YARSI.


b. Diharapkan dapat memenuhi khasanah ilmu pengetahuan, mampu menjadi

tambahan kepustakaan mengenai Efektivitas Penggunaan Nivolumab dalam

Pengobatan Kanker Paru ditinjau dari Kedokteran dan Islam.


c. Diharapkan dapat bermanfaat sebagai referensi bagi penyusunan skripsi yang

akan datang.
d. Diharapkan dapat menambah perbendaharaan karya tulis ilmiah bagi Universitas

YARSI.
3. Bagi Masyarakat

5
a. Diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan pengetahuan masyarakat dalam

memahami ilmu kedokteran dan pandangan Islam tentang efektivitas

penggunaan nivolumab terhadap pengobatan kanker paru.


b. Diharapkan dapat menjadi sumber informasi tentang penerapan pengobatan

terbaru yang lebih efektif sehingga dapat menurunkan kematian akibat kanker

paru.

BAB II

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN NIVOLUMAB TERHADAP PENGOBATAN

KANKER PARU DITINJAU DARI SEGI KEDOKTERAN

2.1. Anatomi Paru

6
Paru-paru terletak pada rongga dada, berbentuk kerucut yang ujungnya berada di

atas tulang iga pertama dan dasarnya berada pada diafragma. Paru terbagi menjadi dua

yaitu, paru kanan dan paru kiri. Paru-paru kanan mempunyai tiga lobus sedangkan paru-

paru kiri mempunyai dua lobus. Kelima lobus tersebut dapat terlihat dengan jelas. Setiap

paru-paru terbagi lagi menjadi beberapa subbagian menjadi sekitar sepuluh unit terkecil

yang disebut bronchopulmonary segments. Paru-paru kanan dan kiri dipisahkan oleh

ruang yang disebut mediastinum (Sherwood, 2001)

Paru-paru dibungkus oleh selaput tipis yaitu pleura. Pleura terbagi menjadi

pleura viseralis dan pleura pariental. Pleura viseralis yaitu selaput yang langsung

membungkus paru, sedangkan pleura parietal yaitu selaput yang menempel pada rongga

dada. Diantara kedua pleura terdapat rongga yang disebut kavum pleura (Guyton, 2007).

Paru manusia terbentuk setelah embrio mempunyai panjang 3 mm. Pembentukan

paru di mulai dari sebuah Groove yang berasal dari Foregut. Pada Groove terbentuk dua

kantung yang dilapisi oleh suatu jaringan yang disebut Primary Lung Bud. Bagian

proksimal foregut membagi diri menjadi 2 yaitu esophagus dan trakea. Pada

perkembangan selanjutnya trakea akan bergabung dengan primary lung bud. Primary

lung bud merupakan cikal bakal bronchi dan cabang-cabangnya. Bronchial-tree

terbentuk setelah embrio berumur 16 minggu, sedangkan alveoli baru berkembang

setelah bayi lahir dan jumlahnya terus meningkat hingga anak berumur 8 tahun. Alveoli

bertambah besar sesuai dengan perkembangan dinding toraks. Jadi, pertumbuhan dan

perkembangan paru berjalan terus menerus tanpa terputus sampai pertumbuhan somatik

berhenti (Evelyn, 2009).

7
Gambar 1. Anatomi paru (Tortora, 2012)

Sistem pernafasan dapat dibagi ke dalam sitem pernafasan bagian atas dan

pernafasan bagian bawah.

1. Pernafasan bagian atas meliputi, hidung, rongga hidung, sinus paranasal, dan faring.
2. Pernafasan bagian bawah meliputi, laring, trakea, bronkus, bronkiolus dan alveolus

paru (Guyton, 2007). Pergerakan dari dalam ke luar paru terdiri dari dua proses,

yaitu inspirasi dan ekspirasi. Inspirasi adalah pergerakan dari atmosfer ke dalam

paru, sedangkan ekspirasi adalah pergerakan dari dalam paru ke atmosfer. Agar

proses ventilasi dapat berjalan lancar dibutuhkan fungsi yang baik pada otot

pernafasan dan elastisitas jaringan paru. Otot-otot pernafasan dibagi menjadi dua

yaitu :
1. Otot inspirasi terdiri dari otot interkostalis eksterna, sternokleidomastoideus,

skalenus dan diafragma.


2. Otot-otot ekspirasi adalah rektus abdominis dan interkostalis internus (Alsagaff

dkk., 2005)

8
Gambar 2. Otot-otot pernafasan inspirasi dan ekspirasi (Tortora,2012)

2.2. Fisiologi Paru

Paru-paru dan dinding dada adalah struktur yang elastis. Dalam keadaan normal

terdapat lapisan cairan tipis antara paru-paru dan dinding dada sehingga paru-paru

dengan mudah bergeser pada dinding dada. Tekanan pada ruangan antara paru-paru dan

dinding dada berada di bawah tekanan atmosfer (Guyton, 2007).

Fungsi utama paru-paru yaitu untuk pertukaran gas antara darah dan atmosfer.

Pertukaran gas tersebut bertujuan untuk menyediakan oksigen bagi jaringan dan

mengeluarkan karbon dioksida. Kebutuhan oksigen dan karbon dioksida terus berubah

sesuai dengan tingkat aktivitas dan metabolisme seseorang, tapi pernafasan harus tetap

dapat memelihara kandungan oksigen dan karbon dioksida tersebut (West, 2004).

Udara masuk ke paru-paru melalui sistem berupa pipa yang menyempit (bronchi

dan bronkiolus) yang bercabang di kedua belah paru-paru utama (trachea). Pipa tersebut

berakhir di gelembung-gelembung paru-paru (alveoli) yang merupakan kantong udara

terakhir dimana oksigen dan karbondioksida dipindahkan dari tempat dimana darah

mengalir. Ada lebih dari 300 juta alveoli di dalam paru-paru manusia bersifat elastis.

Ruang udara tersebut dipelihara dalam keadaan terbuka oleh bahan kimia surfaktan yang

dapat menetralkan kecenderungan alveoli untuk mengempis (McArdle, 2006).

Untuk melaksanakan fungsi tersebut, pernafasan dapat dibagi menjadi empat

mekanisme dasar, yaitu:

1. Ventilasi paru, yang berarti masuk dan keluarnya udara antara alveoli dan atmosfer.
2. Difusi dari oksigen dan karbon dioksida antara alveoli dan darah.

9
3. Transport dari oksigen dan karbon dioksida dalam darah dan cairan tubuh ke dan

dari sel.
4. Pengaturan ventilasi (Guyton, 2007).

2.3. Kanker Paru

2.3.1. Definisi

Kanker paru adalah tumor ganas yang berasal dari saluran nafas atau epitel

bronkus. Terjadinya kanker ditandai dengan pertumbuhan sel yang tidak normal, tidak

terbatas, dan merusak sel-sel jaringan yang normal. Proses keganasan pada epitel

bronkus didahului oleh masa pra kanker. Perubahan pertama yang terjadi pada masa pra

kanker disebut metaplasia skuamosa yang ditandai dengan perubahan bentuk epitel dan

menghilangnya silia (National Cancer Institute, 2012).

2.3.2. Etiologi

Seperti umumnya kanker yang lain penyebab yang pasti daripada kanker paru

belum diketahui, tapi paparan atau inhalasi berkepanjangan suatu zat yang bersifat

karsinogenik merupakan faktor penyebab utama di samping adanya faktor lain seperti

kekebalan tubuh, genetik, dan lain-lain (Amin, 2009).

Merokok

Merokok adalah faktor penyebab penyakit paling utama karsinoma paru.

Terdapat hubungan antara rata-rata jumlah rokok yang dihisap per hari dengan tingginya

insiden kanker paru. Dikatakan bahwa, 1 dari 9 perokok berat akan menderita kanker

paru. Laporan penelitian beberapa tahun terakhir mengatakan bahwa perokok pasif pun

10
akan beresiko terkena kanker paru. Anak-anak yang terpapar asap rokok selama 25 tahun

pada usia dewasa akan terkena risiko kanker paru dua kali lipat dibandingkan dengan

yang tidak terpapar, dan perempuan yang hidup dengan suami/pasangan perokok juga

terkena risiko kanker paru 2-3 kal lipat (Amin, 2009).

Rokok mengandung lebih dari 4000 bahan kimia, diantaranya telah diidentifikasi

dapat menyebabkan kanker. Kejadian kanker paru pada perokok dipengaruhi oleh usia

mulai merokok, jumlah batang rokok yang diisap setiap hari, lamanya kebiasaan

merokok, dan lamanya berhenti merokok (Stoppler, 2010).

Perokok pasif

Semakin banyak orang yang tertarik dengan hubungan antara perokok pasif, atau

mengisap asap rokok yang ditemukan oleh orang lain di dalam ruang tertutup, dengan

risiko terjadinya kanker paru. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa pada

orang-orang yang tidak merokok, tetapi mengisap asap dari orang lain, risiko mendapat

kanker paru meningkat dua kali (Wilson, 2006).

Paparan zat karsinogen

Beberapa zat karsinogen seperti asbestos, uranium, radon, arsen, kromium, nikel,

polikistik hidrokarbon, dan vinil klorida dapat menyebabkan kanker paru (Amin, 2009).

Risiko kanker paru di antara pekerja yang menangani asbes kira-kira sepuluh kali lebih

besar daripada masyarakat umum. Risiko kanker paru baik akibat kontak dengan asbes

maupun uranium meningkat kalau orang tersebut juga merokok.

11
Polusi udara

Termasuk polusi udara di luar maupun di dalam ruangan, gas buangan industri

dan gas buangan kendaraan bermotor mengandung zat karsinogen, terutama karsinogen

benzopiren paling menonjol. Belakangan ini diperhatikan dari bahan dekorasi ruang

seperti formaldehid dan gas radon juga mungkin menjadi faktor risiko timbulnya

karsinoma paru (Desen, 2013).

Genetik

Terdapat bukti bahwa anggota kelurga pasien kanker paru berisiko lebih besar

terkena penyakit ini. Penelitian sitogenik dan genetik molekuler memperlihatkan bahwa

mutase pada protoonkogen dan gen-gen penekan tumor memiliki arti penting dalam

timbul dan berkembangnya kanker paru, tujuan khususnya adalah pengaktifan onkogen

(termasuk juga gen-gen K-ras dan myc) dan menonaktifkan gen-gen penekan tumor

(termasuk gen rb, p53, dan CDKN2) (Wilson, 2005). Terdapat perubahan/mutase

beberapa gen yang berperanan dalam kanker paru, yakni : Proto oncogene, Tumor

suppressor gene, Gene encoding enzyme (Amin, 2009).

Teori onkogenesis

Terjadinya kanker paru didasari dari perubahan tampilnya gen supresor tumor

dalam genom (onkogen). Adanya inisiator mengubah gen supresor tumor dengan cara

menghilangkan (delesi/del) atau penyisipan (insersi/inS) sebagian susunan pasangan

basanya, tampilnya gen erbB1 dan atau neu/erb2 berperan dalam anti apoptosis

(mekanisme sel untuk mati secara alamiah/programmed cell death). Perubahan tampilan

12
gen kasus ini menyebabkan sel sasaran dalam hal ini sel paru berubah menjadi sel

kanker dengan sifat pertumbuhan yang otonom (Amin, 2009).

Diet

Beberapa penelitian melaporkan bahwa rendahnya konsumsi terhadap

betakarotene, selenium dan vitamin A menyebabkan tingginya risiko terkena kanker paru

(Amin, 2009).

Penyakit paru

Penyakit paru seperti tuberculosis dan penyakit paru obstruktif kronik juga dapat

menjadi risiko kanker paru. Seseorang dengan penyakit aru obstruktif kronik berisiko

empat sampai enam kali lebih besar terkena kanker paru ketika efek dari merokok

dihilangkan (Stoppler, 2010).

2.3.3. Klasifikasi

Karsinoma paru dapat dikelompokkan menjadi 2 golongan karena berkaitan

dengan tata laksana dan prognosisnya, yaitu small cell lung cancer (SCLC) dan non

small cell lung cancer (NSCLC). SCLC dan beberapa jenis NSCLC (adenokarsinoma,

karsinoma sel skuamosa, dan karsinoma sel besar) berkontribusi terhadap 90% kasus

karsinoma paru (Pradipta et al, 2014).

Penggolongan histologi : WHO membagi jenis histologi karsinoma paru menjadi

(Desen, 2013):

a. Karsinoma sel skuamosa

13
Karsinoma sel skuamosa (epidermoid) merupakan tipe histologik kanker paru yang

paling sering ditemukan, berasal dari permukaan epitel bronkus. Perubahan epitel

termasuk metaplasia, atau displasia akibat merokok jangka panjang, secara khas

mendahului timbulnya tumor. Karsinoma sel skuamosa biasanya terletak sentral di

sekitar hilus, dan menonjol ke dalam bronki besar. Diameter tumor jarang

melampaui beberapa sentimeter dan cenderung menyebar secara langsung ke

kelenjar getah bening hilus, dinding dada, dan mediastinum. Karsinoma ini lebih

sering pada laki-laki daripada perempuan (Wilson, 2005). Sekitar 30-35% dari

semua karsinoma paru, kekhasannya adalah pada jaringan kanker terdapat

keratinisasi, jembatan antar sel atau kedua-duanya. Menurut derajat diferensiasinya

dibagi menjadi diferensiasi baik (G1), sedang (G2), dan buruk (G3). Karsinoma

skuamosa terutama timbul di trakea, bronkus paru tipe sentral, karsinoma skuamosa

tipe perifer lebih jarang.


b. Adenokarsinoma
Menempati sekitar 35-40%, meliputi 3 subtipe yaitu adenokarsinoma glandular,

adenokarsinoma papilar dan karsinoma sel bronkioloalveolar. Dua subtipe tersebut

menurut derajat diferensiasinya dapat dibagi menjadi 3 gradasi pula.

Adenokarsinoma dapat bertipe sentral maupun tipe perifer, yang ke dua lebih sering.
c. Karsinoma sel besar
Menempati sekitar 10%, meliputi 2 subtipe yaitu sel kanker datia dan kanker sel

jernih. Karsinoma sel besar adalah sel-sel ganas yang besar dan berdiferensiasi

sangat buruk dengan sitoplasma yang besar dan ukuran inti bermacam-macam. Sel-

sel ini cenderung timbul pada jaringan paru perifer, tumbuh cepat dengan

penyebaran ekstensif dan cepat ke tempat-tempat yang jauh (Wilson, 2005).


d. Karsinoma sel adenokarsinoma
Kanker ini adalah kanker dengan unsur kanker skuamosa dan adenokarsinoma.

Karsinoma paru tipe ini cenderung semakin banyak.


14
e. Karsinoma sel kecil
Menempati sekitar 20-25% meliputi 3 subtipe yaitu kanker sel oat, kanker sel

mesotel dan kanker sel oat campuran. Karakteristik biologis karsinoma paru tipe ini

jelas berbeda dari karsinoma paru tipe lainnya, kekhasannya adalah derajat

keganasannya tinggi, mudah bermetastasis.Karsinoma sel kecil umumnya tampak

sebagai massa abu-abu pucat yang terletak di sentral dengan perluasan ke dalam

parenkim paru dan keterlibatan dini kelenjar getah bening hilus dan mediastinum.

Kanker ini terdiri atas sel tumor dengan bentuk bulat hingga lonjong, sedikit

sitoplasma, dan kromatin granular. Gambaran mitotik sering ditemukan. Biasanya

ditemukan nekrosis dan mungkin luas. Sel tumor sangat rapuh dan sering

memperlihatkan fragmentasi dan crush artifact pada sediaan biopsi. Gambaran

lain pada karsinoma sel kecil, yang paling jelas pada pemeriksaan sitologik, adalah

berlipatnya nukleus akibat letak sel tumor dengan sedikit sitoplasma yang saling

berdekatan (Kumar, 2007).


f. Karsinoma tipe lainnya
Terdapat adenokarsinoma bronkial, karsinoid, karsinosarkoma, dan lain-lain yang

semuanya jarang ditemukan.

2.3.4. Patofisiologi

Kanker paru bervariasi sesuai tipe sel, daerah asal, dan kecepatan pertumbuhan.

Empat tipe sel primer pada kanker paru adalah karsinoma epidermoid (sel skuamosa),

karsinoma sel kecil (sel oat), karsinoma sel besar (tak terdeferensiasi) dan

adenokarsinoma. Sel skuamosa dan karsinoma sel kecil umumnya terbentuk di jalan

napas utama bronkial. Karsinoma sel besar dan adenokarsinoma umumnya tumbuh di

cabang bronkus perifer dan alveoli. Karsinoma sel besar dan karsinoma sel oat tumbuh

15
sangat cepat sehingga mempunyai prognosis buruk. Sedangkan pada sel skuamosa dan

adenokarsinoma prognosis baik karena sel ini pertumbuhan lambat (Elizabeth, 2008).

Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/ sub bronkus menyebabkan

cilia hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. Dengan adanya

pengendapan karsinogen maka menyebabkan metaplasia, hyperplasia dan displasia. Bila

lesi perifer yang disebabkan oleh metaplasia, hyperplasia dan displasia menembus ruang

pleura, biasa timbul efusi pleura, dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus

vertebra (Elizabeth, 2008).

Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang terbesar.

Lesi ini menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus dengan diikuti dengan supurasi di

bagian distal. Gejala gejala yang timbul dapat berupa batuk, hemoptysis, dispneu,

demam, dan dingin.Wheezing unilateral dapat terdengar pada auskultasi (Elizabeth,

2008).

2.3.5. Manifestasi klinis

Pada fase awal kebanyakan kanker paru tidak menunjukkan gejala-gejala klinis.

Bila sudah menampakkan gejala berarti pasien dalam stadium lanjut (Amin,2009).

Gejala lokal dan sistemik akibat tumor

a. Batuk
Gejala paling sering pada karsinoma paru. Umumnya batuk kering iritatif, tanpa

sputum atau sedikit sputum mukoid putih. Batuk sering kali dikarenakan tumor

mengenai percabangan bronkus.


b. Hemoptisis

16
Gejala paling khas pada karsinoma paru. Umumnya sputum berserat darah atau

bernoda darah. Hemoptisis disebabkan kanker menginvasi kapiler mukosa bronkial,

sering bercampur dengan sel ganas yang terlepas, angka positif pemeriksaan sitology

sputum tinggi.

c. Dada penuh
Stadium dini hanya tampil sebagai dada terasa penuh ringan, ketika kanker mengenai

pleura parietal atau langsung menginvasi dinding torak, dapat timbul nyeri menetap

di lokasi tersebut.
d. Dispnea
Tumor menyumbat bronkus menimbulkan pneumonia obstruktif atau atelektasis

merupakan salah satu sebab terjadinya napas pendek pasien karsinoma paru. Derajat

dispnea bervariasi menurut lingkup obstruksi. Penyebaran karsinoma paru ke pleura

menimbulkan efusi pleural maligna juga penyebab dispnea. Selain itu, kanker

alveolar difus menyebabkan kelainan interstitium paru, dapat timbul dyspnea karena

insufisiensi pertukaran gas, yang parah dapat menyebabkan dispnea refrakter.


e. Demam
Pneumonia obstruktif merupakan sebab utama demam pada karsinoma paru.

Kekhasan demam ini adalah berkepanjangan intermiten, kadang memburuk dan

kadang membaik, sulit untuk diterapi. Selain itu demam juga dapat disebabkan oleh

toksin kanker atau metastasis sumsum tulang.


f. Gejala sistemik nonspesifik
Anoreksia, penurunan berat badan, kakeksia pada stadium lanjut.

Gejala invasi keluar dan metastasis kanker paru

Beberapa gejala invasi dan metastasis kanker paru, antara lain:

a. Sindroma obstruksi vena kava superior

17
Akibat dari karsinoma paru langsung menginvasi atau metastasis kelenjar limfe

mediastinum superior kanan mendesak vena kava superior, manifestasinya berupa

udem di bagian kepala, leher bahkan kedua ekstremitas atas, hiperdilatasi vena dan

kapiler darah daerah leher dan dada atas, dan lain-lain terdapat 5-10% pasien

karsinoma paru datang dengan gejala pertama demikian.


b. Sindroma Horner
Disebabkan karsinoma paru atau metastasis kelenjar limfe mengenai saraf simpatis

paravertebral servikal VII hingga torakal I, tampak sebagai bola mata ipsilateral

cekung ke dalam, ptosis palpebral superior, celah mata menyempit, pupil mengecil,

dan lain-lain.
c. Sindroma Pancoast
Tumor lebih lanjut mendestruksi iga I, II, dan saraf pleksus brakialis, timbul nyeri

ekstremitas atas.

Gejala lain invasi dan metastasis yang sering ditemukan adalah: mengenai nervus

rekuren laringeus timbul suara serak, sebagian dengan keluhan awal seperti, metastasis

otak timbul sefalgia, muntah, hemiplegia; metastasis tulang timbul nyeri menetap di

daerah terdebut, dan lain-lain.

Gejala penyerta kanker paru

Adapun beberapa gejala penyerta kanker paru, antara lain:

a. Osteoartropati hipertrofik pulmonal


Gejala klinis utama berupa persendian besar nyeri, jari tangan dan kaki mirip

gada, sinar X menunjukkan periosteum tulang panjang hyperplasia atau periostitis

dapat menjadi rujukan diagnosis. Artropati pulmonal dapat timbul pada stadium awal

karsinoma paru atau sebelum gejala lokal tumor muncul, bahkan dapat menjadi

keluhan utma nyeri persendian.

18
b. Sindroma karsinoid (sindroma Cassidy)
Gejala klinis utama antara lain, sakit perut, diare, muka merah,

bronkospasme. Etiologi timbulnya sindrom karsinoid adalah karena sel argentafin

dalam jaringan kanker menghasilkan senyawa amina bioaktif. Sindroma karsinoid

sering ditemukan pada sel kanker kecil, sedangkan karsinoid bronkial umumnya

tidak menimbulkan sindroma karsinoid.


c. Ginekomastia
Gejala klinis utama yaitu perkembangan kelenjar mamae unilateral atau

bilateral. Sebab terjadinya mungkin karsinoma paru menghasilkan gonadotropin

ektopik, sering ditemukan pada karsinoma paru sel kecil.

Gejala penyerta karsinoma paru lainnya adalah hiperkalsemia akibat zat mirip

parathormon ektopik; neuropati dan miopati, dermatomiositis karsinomatosa, sindrom

eosiofilia; sindroma Cushing dan sinroma hipersekresi ADH, dan lain-lain.

2.3.6. Diagnosis

Diagnosis kanker paru meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan

penunjang. Gambaran klinik penyakit kanker paru tidak banyak berbeda dari penyakit

paru lainnya, terdiri dari keluhan subyektif dan gejala obyektif. Dari anamnesis akan

didapat keluhan utama dan perjalanan penyakit, serta faktor-faktor lain yang sering

sangat membantu tegaknya diagnosis. Keluhan utama dapat berupa batuk-batuk dengan

atau tanpa dahak (dahak putih, dapat juga purulen), batuk darah, sesak napas, suara

serak, sakit dada, sulit atau sakit menelan, benjolan di pangkal leher, sembab muka dan

leher, kadang-kadang disertai sembab lengan dengan rasa nyeri yang hebat (Desen,

2013).

19
Tidak jarang yang pertama terlihat adalah gejala atau keluhan akibat metastasis

di luar paru, seperti kelainan yang timbul karena kompresi hebat di otak, pembesaran

hepar atau patah tulang kaki. Gejala dan keluhan yang tidak khas seperti berat badan

berkurang, nafsu makan hilang, demam hilang timbul, sindrom paraneoplastik, seperti

Hypertrophic pulmonary osteoartheopathy, thrombosis vena perifer dan neuropatia

(Desen, 2013).

Langkah diagnostik definitif kanker paru antara lain menentukan lokasi lesi

(perifer atau sentral), histologis, staging, penilaian fungsi paru serta identifikasi

komorbid seperti anemia, gangguan elektrolit, infeksi, aritmia atau kelainan

kardiovaskular (Pradipta et al, 2014).

Penilaian staging memerlukan pemeriksaan CT scan, MRI, dan PET scan untuk

menilai adanya invasi jaringan sekitar, keterlibatan kelenjar getah bening regional atau

metastasis. Jika tidak terdapat metastasis dan keterlibatan KGB lokal atau regional

makan pertimbangkan biopsy atau biopsy dengan pembedahan berdasarkan risiko

operasi dan kemungkinan keganasan. Jika terdapat tanda dan gejala dari metastasis atau

keterlibatan KGB maka segera lakukan biopsy pada lokasi yang paling memungkinkan.

Hasil pemeriksaan radiologis adalah salah satu pemeriksaan penunjang yang

mutlak dibutuhkan untuk menentukan lokasi tumor primer dan metastasis, serta

penentuan stadium penyakit berdasarkan sistem TNM. Pemeriksaan radiologi paru yaitu

foto toraks PA/lateral, bila mungkin CT-scan toraks, bone scan, bone survey, USG

abdomen dan brain-CT dibuthkan untuk menentukan letak kelainan, ukuran tumor dan

metastasis.

20
a. Foto toraks : pada pemeriksaan foto toraks PA/lateral akan dapat dilihat bila massa

tumor dengan ukuran tumor lebih dari 1 cm. tanda yang mendukung keganasan

adalah tepi yang ireguler, disertai identasi pleura, tumor satelit tumor, dan lain-lain.

Pada foto tumor juga dapat ditemukan telah invasi ke dinding dada, efusi pleura,

efusi perikar dan metastasis intrapulmoner. Sedangkan keterlibatan KGB untuk

menentukan N agak sulit ditentukan dengan foto toraks saja.


Bila foto toraks menunjukkan gambaran efusimpleura yang luas harus diikuti

dengan pengosongan isi pleura dengan punksi berulang atau pemasangan WSD dan

ulangan foto toraks agar bila ada tumor primer dapat diperlihatkan. Keganasan harus

difikirkan bila cairan bersifat produktif, dan/atau cairan serohemoragik

(Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003).


b. CT-scan toraks : teknik pencitraan ini dapat menentukan kelainan di paru secara

lebih baik daripada foto toraks. CT-scan dapat mendeteksi tumor dengan ukuran

lebih kecil dari 1 cm secar lebih tepat. Demikian juga tanda-tanda proses keganasan

juga tergambar secara lebih baik, bahkan bila terdapat penekanan terhadap bronkus,

tumor intra bronkial, ateletaksis, efusi pleura yang tidak massif dan telah terjadi

invasi ke mediastinum dan dinding dada meski tanpa gejala. Lebih jauh lagi dengan

CT-scan, keterlibatan KGB (N1 s/d N3) dapat dideteksi. Demikian juga ketelitiannya

mendeteksi kemungkinan metastasis intrapulmoner (Perhimpunan Dokter Paru

Indonesia, 2003).
c. Pemeriksaan radiologik lain : kekurangan dari foto toraks dan CT-scan toraks adalah

tidak mampu mendeteksi telah terjadinya metastasis jauh. Untuk itu dibutuhkan

pemeriksaan radiologik lain, misalnya Brain-CT untuk mendeteksi metastasis di

tulang kepala atau jaringan otak, bone scan dan/atau bone survey dapat mendeteksi

metastasis di seluruh jaringan tulang tubuh. USG abdomen dapat melihat ada

21
tidaknya metastasis di hat9, kelenjar adrena dan organ lain dalam rongga perut

(Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003).

Pemeriksaan sitologi

Pemeriksaan sitologi sputum rutin dikerjakan terutama bila pasien ada keluhan

seperti batuk. Pemeriksaan sitologi tidak selalu memberikan hasil positif karena

tergantung dari letak tumor terhadap bronkus, jenis tumor, teknik mengeluarkan sputum,

jumlah sputum yang diperiksa (dianjurkan pemeriksaan 3-5 hari berturut-turut), waktu

pemeriksaan sputum (sputum harus segar) (Amin, 2009).

Pada kanker paru yang letaknya sentral, pemeriksaan sputum yang baik dapat

memberikan hasil positif sampai 67-85% pada karsinoma sel skuamosa. Pemeriksaan

sitologi sputum dianjurkan sebagai pemeriksaan rutin dan skrining utnuk diagnosis dini

kanker paru, dan saat ini sedang dikembangkan diagnosis dini pemeriksaan sputum

memakai immune staining dengan MAb dengan antibodi 624H12 untuk antigen SCLC

(small cell lung cancer) dan antibody 703D4 untuk antigen NSCLC (non small cell lung

cancer). Laporan dari National Cancer Institute USA, teknik ini memberikan hasil 91%

sensitif dan 88% spesifik (Amin, 2009).

Pemeriksaan sitologi lain untuk diagnostik kanker paru dapat dilakukan pada

cairan pleura, aspirasi kelenjar getah bening servikal, supraklavikula, bilasan dan sikatan

bronkus pada bronkoskopi.

Pemeriksaan histopatologi

22
Pemeriksaan histopatologi adalah standar emas diagnosis kanker paru untuk

mendapatkan spesimennya dapat dengan cara biopsi melalui (Amin, 2009):

a. Bronkoskopi
Modifikasi dari bronkoskopi serat optic dapat berupa Trans bronchial lung

biopsy (TBLB) dengan tuntunan fluroskopi, atau ultrasonografi. Belakangan ini

dikembangkan pemeriksaan fluorescence bronchoscopy dengan memakai

fluorescence exchancing agent seperti Hp D (hemato porphyrin derivative)

memberikan konsentrat fluoresensi pada jaringan kanker. Teknik yang terbaru adalah

dengan auto fluorescence bronchoscopy. Hasil pemeriksaan ini menunjukkan 50%

lebih sensitif daripada white light bronchoscopy untuk deteksi karsinoma in situ dan

displasia berat.
Ultrasound bronchoscopy, juga dikembangkan pada saat ini untuk

mendeteksi tumor perifer, tumor endobronkial, kelenjar getah bening mediastinum

dan lesi daerah hilus. Hasil positif dengan bronkoskopi ini dapat mencapai 95%

untuk tumor yang letaknya sentral dan 70-80% untuk tumor yang letaknya perifer.
Trans-bronchial Needle-Aspiration (TBNA) dikerjakan terhadap nodul getah

bening di hilus atau mediastinum. Hasilnya akan lebih baik bila dituntun dengan CT-

scan.
b. Trans Torakal Biopsi (TTB)
Biopsy dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya perifer dengan ukuran

> 2 cm sensitivitasnya mencapai 90-95%. Komplikasi pneumotorak dapat mencapai

20-25% dan hemoptisis sampai 20%. Dengan persiapan yang lebih baik, komplikasi

ini bisa diperkecil. Hasil pemeriksaan akan lebih baik bila ada tuntunan CT scan,

USG, atau fluoroskopi. Biopsi terhadap kelenjar getah bening yang teraba, dapat

dilakukan secara Daniels biospsi yakni pada kelenjar-kelenjar getah bening

scaleneus supraklavikular.

23
c. Torakoskopi
Biopsi tumor di daerah pleura memberikan hasil yang lebih baik dengan cara

torakosopi daripada cara membuta. Untuk tumor yang letaknya di permukaan pleura

visceralis biopsi dengan cara Video Assisted Thoracocoscopy memiliki sensitivitas

dan spesifisitas hingga 100%, sedangkan komplikasi yang terjadi amat kecil.
d. Mediastinokopi
Lebih dari 20% kanker paru bermetastasis ke mediastinum, terutama Small

Cell Ca dan Large Cell Ca. untuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah

bening yang terlibat dapat dilakukan dengan cara mediastinokopi dimana

mediastinokopi dimasukkan melalui insisi suprasternal. Hasil biopsi memberikan

nilai positif 40%. Dari studi lain, nilai negatif palsu pada mediastinokopi didapat

sebesar 8-12 (diikuti dengan torakotomi).

e. Torakotomi
Torakotomi untuk diagnostik kanker paru dilakukan bila berbaga prosedur

non invasif dan invasif sebelumnya gagal mendapatkan sel tumor.

Pemeriksaan serologi / Tumor marker

Sampai saat ini belum ada pemeriksaan serologi penanda tumor-tumor untuk

diagnostik kanker paru yang spesifisitasnya tinggi. Beberapa tes yang dipakai adalah

CEA (Carcinoma Embryonic Antigen), NSE (Neuron-spesific enolase), Cyfra 21-1

(Cytokeratin fragments 19). NSE diketahui spesifik untuk Small CellCarcinoma dan

sensitivitasnya dilaporkan 52%, sedangkan Cyfra 21-1 mencapai 50% utnuk kelompok

LD (limited disease)-SCLC. Pada kelompok ED (extensive disease) SCLC, sensitivitas

NSE 42% dan Cyfra 21-1 mencapai 50%. Bila pemeriksaan ini digabungkan maka

sensitivitas menjadi 78% untuk kelompok LD dan 82% kelompok ED. Uji serologis

24
tumor marker tersebut di atas sampai saat ini lebih banyak dipakai untuk evaluasi hasil

pengobatan kanker paru (Amin, 2009).

Table. Sistem staging TNM NSCLC menurut AJCC, Edisi ke-7


Tumor (T) Nodus (N)
T1 Tumor berdiameter < 3 cm, N0 Tidak ada metastasis nodus limfe
dikelilingi parenkim paru atau regional
pleura visceral, tanpa invasi lebih
proksimal dari bronkus lobaris
T1a Tumor berdiameter 2 cm N1 Metastasis ke nodus limfe
peribronkial ipsilateral dan/atau
hilar dan intrapulmonal, termasuk
ekstensi langsung dari lesi
T1b Tumor berdiameter > 2 cm namun N2 Metastasis ke nodus limfe
< 3 cm mediastinal ipsilateral dan/atau
subkarinal
T2 Tumor > 3 cm namun < 7 cm N3 Metastasis ke nodus limfe
dengan salah satu syarat berikut mediastinal kontralateral, hilar,
Melibatkan bronkus utama, > 2 skalene ipsilateral atau kontralateral
cm distal dari karina atau supraklavikular
Menginvasi pleura viseral
Disertai dengan atelectasis atau
pneumonitis obstruktif yang
melibatkan hilar namun tidak
sampai seluruh paru
T2a Tumor berdiameter > 3 cm namun Metastasis (M)
< 5 cm
T2b Tumor berdiameter > 5 cm namun M0 Tidak ada metastasis

25
< 7 cm
T3 Tumor > 7 cm atau invasi langsung M1a Nodul tumor terpisah pada sisi
ke struktur dinding dada (termasuk kontralateral
tumor sulkus superior), Tumor dengan nodul pleural atau
n.phrenikus, pleura mediastinal, efusi pleural atau kardial maligna
atau perikardium parietal
Tumor < 2 cm distal dari karina
tanpa melibatkan karina
Tumor yang disertai atelektasis atau
pneumonitis obstruktif seluruh
lapang paru
Nodul tumor multiple terpisah
dalam satu lobus
T4 Tumor dengan ukuran berapapun M1b Metastasis jauh
yang menginvasi struktur
mediastinum, jantung, pembuluh
darah besar, trakea, n.laringeal
rekurens, esophagus, korpus
vertebrae, atau karina. Nodul tumor
multipel terpisah dalam lobus
ipsilateral yang berbeda
2.3.7. Penatalaksanaan

Pengobatan kanker paru adalah combined modality therapy (multi-modaliti

terapi). Kenyataanya pada saat pemilihan terapi, sering bukan hanya diharapkan pada

jenis histologis, derajat dan tampilan penderita saja tetapi juga kondisi non-medis seperti

fasilitas yang dimiliki rumah sakit dan ekonomi penderita juga merupakan faktor yang

amat menentukan. Bebeberapa penatalaksanaan yang dapat dilakukan untuk kanker

paru, antara lain (PDPI, 2003) :

a. Pembedahan

Indikasi pembedahan pada kanker paru adalah untuk KPKBSK stadium I dan

II. Pembedahan juga merupakan bagian dari combine modality therapy, misalnya

kemoterapi neoadjuvan untuk KPBKSK stadium IIIA. Indikasi lain adalah bila ada

kegawatan yang memerlukan intervensi bedah, seperti kanker paru dengan sindroma

26
vena kava superior berat.

Prinsip pembedahan adalah sedapat mungkin tumor direseksi lengkap berikut

jaringan KGB intrapulmoner, dengan lobektomi maupun pneumonektomi.

Segmentektomi atau reseksi baji hanya dikerjakan jika faal paru tidak cukup untuk

lobektomi. Tepi sayatan diperiksa dengan potong beku untuk memastikan bahwa

batas sayatan bronkus bebas tumor. KGB mediastinum diambil dengan diseksi

sistematis, serta diperiksa secara patologi anatomis.

Hal penting lain yang penting dingat sebelum melakukan tindakan bedah

adalah mengetahui toleransi penderita terhadap jenis tindakan bedah yang akan

dilakukan. Toleransi penderita yang akan dibedah dapat diukur dengan nilai uji faal

paru dan jika tidak memungkin dapat dinilai dari hasil analisis gas darah (AGD).

b. Radioterapi

Radioterapi pada kanker paru dapat menjadi terapi kuratif atau paliatif. Pada

terapi kuratif, radioterapi menjadi bagian dari kemoterapi neoadjuvan untuk

KPKBSK stadium IIIA. Pada kondisi tertentu, radioterapi saja tidak jarang menjadi

alternatif terapi kuratif.

Radiasi sering merupakan tindakan darurat yang harus dilakukan untuk

meringankan keluhan penderita, seperti sindroma vena kava superiror, nyeri tulang

akibat invasi tumor ke dinding dada dan metastasis tumor di tulang atau otak.

c. Kemoterapi

Kemoterapi dapat diberikan pada semua kasus kanker paru. Syarat utama

27
harus ditentukan jenis histologis tumor dan tampilan (performance status) harus

lebih dan 60 menurut skala Karnosfky atau 2 menurut skala WHO. Kemoterapi

dilakukan dengan menggunakan beberapa obat antikanker dalam kombinasi regimen

kemoterapi. Pada keadaan tertentu, penggunaan 1 jenis obat anti kanker dapat

dilakukan.

d. Imunoterapi

Imunoterapi adalah upaya untuk meningkatkan sistem imunitas tubuh, untuk

mengalahkan sel-sel kanker dengan cara meningkatkan reaksi kekebalan tubuh

terhadap sel kanker. Imunoterapi hampir selalu menggunakan bahan alami yang

berasal dari mahluk hidup, terutama manusia. Digunakannya bahan alami karena

dapat berfungsi merangsang respon anti tumor dengan tubuh dengan meningkatkan

jumlah sel pembunuh tumor, secara langsung berfungsi sebagai agen pembunuh

tumor, mengurangi mekanisme tubuh yang normal dalam menekan respon imun,

atau berfungsi memperbaiki toleransi tubuh terhadap radioterapi atau kemoterapi.

e. Pengobatan Paliatif

Hal yang perlu ditekankan dalam terapi paliatif adalah tujuannya untuk

meningkatkan kualitas hidup penderita sebaik mungkin. Gejala dan tanda karsinoma

bronkogenik dapat dikelompokkan pada gejala bronkopulmoner, ekstrapulmoner

intratorasik, ekstratoraksik non metastasis dan ekstratorasik metastasis.

Sedangkan keluhan yang sering dijumpai adalah batuk, batuk darah, sesak

napas dan nyeri dada. Pengobatan paliatif untuk kanker paru meliputi radioterapi,

kemoterapi, medikamentosa, fisioterapi, dan psikososial. Pada beberapa keadaan

28
intervensi bedah, pemasangan stent dan cryotherapy dapat dilakukan.

f. Rehabilitasi Medik

Pada penderita kanker paru dapat terjadi gangguan muskuloskeletal terutama

akibat metastasis ke tulang. Manifestasinya dapat berupa inviltrasi ke vetebra atau

pendesakan syaraf. Gejala yang tirnbul berupa kesemutan, baal, nyeri dan bahkan

dapat terjadi paresis sampai paralisis otot, dengan akibat akhir terjadinya gangguan

mobilisasi/ambulasi.

Upaya rehabilitasi medik tergantung pada kasus, apakah operabel atau tidak.

Bila operabel tindakan rehabilitasi medik adalah preventif dan restoratif. Bila non-

operabel tindakan rehabilitasi medik adalah suportif dan paliatif.

Untuk penderita kanker paru yang akan dibedah perlu dilakukan rehabilitasi

medik prabedah dan pascabedah, yang bertujuan membantu memperoleh hasil

optimal tindakan bedah, terutama untuk mencegah komplikasi pasca bedah

(misalnya: retensi sputum, paru tidak mengembang) dan mempercepat mobilisasi.

Tujuan program rehabilitasi medik untuk kasus yang nonoperabel adalah untuk

memperbaiki dan mempertahankan kemampuan fungsional penderita yang dinilai

berdasarkan skala Karnofsky. Upaya ini juga termasuk penanganan paliatif penderita

kanker paru dan layanan hospis (dirumah sakit atau dirumah).

2.3.8. Prognosis

Pada umumnya prognosis pada kanker paru dapat dibagi menjadi 2 kelompok,

yaitu SCLC dan NSCLC. Jenis SCLC memiliki angka harapan hidup yang lebih rendah

29
dan tingkat metastasis yang lebih tinggi dibandingkan NSCLC. Pada SCLC sebagian

besar penyebab kematian akibat karsinomatosis, metastasis sistem saraf pusat dan

komplikasi lokal tumor, sementara sebagian besar kasus NSCLC diakibatkan oleh

komplikasi torakal dan metastasis sistem saraf pusat (Pradipta et al, 2014).

Hal yang terpenting pada prognosis kanker paru adalah menentukan stadium

penyakit. Pada kasus kanker paru jenis NSCLC yang dilakukan tindakan pembedahan,

kemungkinan hidup 5 tahun adalah 30%. Pada karsinoma in situ, kemampuan hidup

setelah dilakukan pembedahan adalah 70% pada stadium I, sebesar 35-40% pada

stadium II, sebesar 10-15% pada stadium III, dan kurang dari 10% pada stadium IV.

Kemungkinan hidup rata-rata tumor metastasis bervariasi dari 6 bulan sampai dengan 1

tahun. Hal ini tergantung pada status penderita dan luasnya tumor. Sedangkan untuk

kasus SCLC, kemungkinan hidup rata-rata adalah 1-2 tahun pasca pengobatan.

Sedangkan ketahanan hidup SCLC tanpa terapi hanya 3-5 bulan (Price, 2006).

2.3.9. Pencegahan

Pencegahan yang paling penting adalah tidak merokok sejak usia muda. Berhenti

merokok dapat mengurangi risiko terkena kanker paru. Penelitian dari kelompok

perokok yang berusaha berhenti merokok, hanya 30% yang berhasil (Amin, 2009).

Pencegahan kanker sekunder ditujukan untuk mendeteksi secara dini dan

melakukan diagnosis pada populasi yang berisiko tinggi. Populasi yang berisiko tinggi

termasuk orang berumur di atas 50 tahun yang merupakan perokok berat, yaitu lebih dari

1 bungkus per hari (PDPI, 2003).

2.4. Nivolumab

30
Perkembangan kanker berkaitan erat dengan efisiensi sistem kekebalan tubuh.

Meskipun operasi, radioterapi, dan kemoterapi dapat membunuh sel-sel kanker pada

tingkatnya masing-masing, tetapi tidak ada yang bisa membasmi semua sel kanker

sehingga tubuh bersih dari sel kanker. Jadi, imunoterapi merupakan pengobatan

komprehensif yang penting untuk mengobati kanker. Memilih imunoterapi yang tepat

pada waktu yang tepat akan memberi peluang yang besar menyembuhkan kanker,

mencegah kekambuhan dan penyebaran sehingga bisa memperpanjang umur pasien.

Salah satu mekanisme tumor tumor escape adalah kehadiran tumor terkait

dengan penghambat co-reseptor dan penghambat immune checkpoint yang dimanipulasi

oleh sel-sel neoplastik untuk menghambat respon sel T yang berpotensi memberi efek

anti tumor (Pardoll, 2012). Antibodi yang dapat mengikat dan menonaktifkan karena

rangsangan penghambatan adalah menarik target terapi dan baru-baru ini

mengumpulkan traksi yang signifikan untuk pengobatan tumor, termasuk NSCLC (Non

Small Cell Lung Carcinoma).

Dalam National Library of Medicine Amerika Serikat, dijelaskan bahwa injeksi

nivolumab digunakan dalam kombinasi dengan ipilimumab (Yervoy) untuk mengobati

beberapa jenis melanoma (jenis kanker kulit) yang telah menyebar ke bagian lain dari

tubuh atau tidak dapat dihilangkan dengan operasi. Nivolumab juga dapat digunakan

sendiri untuk mengobati beberapa jenis melanoma (jenis kanker kulit) yang telah

menyebar ke bagian lain dari tubuh atau tidak dapat dihilangkan dengan pembedahan

pada orang yang tidak diobati berhasil dengan ipilimumab atau obat lain. Nivolumab

juga digunakan untuk mengobati jenis kanker paru-paru (non-kecil kanker paru-paru sel;

NSCLC) yang telah menyebar ke bagian lain dari tubuh selama atau setelah pengobatan

31
dengan obat kemoterapi lainnya. Nivolumab berada dalam kelas obat yang disebut

antibodi monoklonal. Obat tersebut bekerja dengan membantu sistem kekebalan tubuh

untuk memperlambat atau menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker.

Nivolumab telah disetujui sebagai terapi lini kedua untuk maju NSCLC sel

skuamosa. Nivolumab adalah rekayasa genetika, sepenuhnya antibodi monoklonal

spesifik immunoglobulin G4 untuk reseptor PD-1 manusia (Chen et al, 2012). Isotipe

IgG4 direkayasa untuk menghindari sitotoksisitas seluler antibodi-dependent.

Kebanyakan antibodi monoklonal di onkologi mengandung subtipe IgG1, yang memiliki

ADCC (Antibody-dependent cellular cytotoxicity) yang paling signifikan sedangkan

subtipe IgG4 memiliki aktivitas ADCC minimal. ADCC yang intak memiliki potensi

untuk menguras sel T yang teraktivasi dan limfosit infiltrasi tumor dan mengurangi

aktivitas PD-1 yang diekspresikan pada sel efektor T dan sel-sel imun lainnya (Chen et

al, 2012). Nivolumab mengikat reseptor PD-1 dengan afinitas tinggi (KD 2,6 nmol/l

dengan analisis Scatchard untuk poliklonal diaktifkan sel T manusia) dan memblok

interaksinya dengan B7-H1 dan B7-DC (Brahmer et al, 2012).

Reseptor PD-1 adalah reseptor permukaan sel yang diinduksi yang ditemukan

pada sel imun yang diaktifkan, termasuk limfosit dan APC (Antigen Presenting Cells).

Nivolumab berfungsi sebagai penghambat co-reseptor untuk menjaga keseimbangan

antara aktivasi sel T dan toleransi. Peningkatan regulasi PD-1 pada infiltrasi limfosit

CD8+ pada pasien dengan NSCLC telah dikaitkan dengan berkurangnya respon imun

seluler anti tumor (Zhang et al, 2010).

32
Nivolumab adalah penghambat reseptor PD-1 yang diindikasikan untuk pasien

melanoma yang sudah bermetastasis, pasien melanoma dengan metastasis atau dioperasi

dikombinasikan dengan ipililumab, pasien karsinoma sel ginjal yang sebelumnya telah

mendapat terapi anti-angiogenik, dan pasien metastasis dan progresif NSCLC yang

sedang atau sudah mendapat kemoterapi.

Khasiat dalam uji klinis, agen anti PD-1 dalam pengobatan pertama NSCLC

mendapat perhatian di fase I dosis eskalasi studi nivolumab pada 39 pasien dengan

tumor padat (melanoma, kolorektal, prostat, NSCLC, dan sel ginjal), 6 di antaranya

memiliki NSCLC (Brahmer et al, 2010). Dari 4 pasien mencapai respon klinis, satu

dengan NSCLC mencapai respon parsial lebih dari 14 bulan. Sisanya 5 pasien dengan

NSCLC mencapai penyakit stabil.

Cairan nivolumab disuntikkan ke pembuluh darah lebih dari 60 menit oleh dokter

atau perawat di rumah sakit atau fasilitas medis. Apabila nivolumab diberikan untuk

mengobati melanoma atau kanker paru-paru, biasanya diberikan setiap 2 minggu sekali.

Pada percobaan ketiga, terdapat beberapa efek samping yang ditimbulkan dari

pemakaian nivolumab, diantaranya, pada 10 dari 287 pasien mengalami pneumonitis

termasuk penyakit paru interstitial, 50 dari 287 pasien mengalami diare atau kolitis, satu

pasien mengalami hepatitis setelah 7,8 bulan pemakaian nivolumab, satu pasien

mengalami insufisiensi adrenal, 20 dari 287 pasien mengalami hipotiroidisme grade 1

atau grade 2 termasuk tiroiditis, dan peningkatan TSH (Thyroid Stimulating Hormone)

terjadi pada 17% yang menerima nivolumab dan 5% pasien yang menerima docetaxel.

2.5. Efektivitas Nivolumab pada Kanker Paru

33
Pengobatan kanker paru tergantung dari histology, stadium, dan status mutasi.

Biopsi dari jaringan tumor diperoleh untuk menentukan subtype histologist. Karsinoma

sel skuamosa adalah subtype dari NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer) yang

memberikan 25-30% dari semua diagnosis kanker paru dan merupakan sub tipe yang

paling sangat terkait dengan merokok (American Cancer Society, 2013).

Bagi pasien dengan NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer) tanpa mutasi aktif,

direkomendasikan menggunakan terapi lini pertama yaitu kemoterapi (Zhang et al,

2015). Tingginya insidens dari NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer) dan buruknya

prognosis dari penyakit ini, hamper selalu ada perkembangan selama pengobatan dengan

regimen lini pertama, dan pasien biasanya melanjutkan dengan regimen lini kedua.

Pengobatan lini kedua pada NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer) merupakan

salah satu pilihan yang tepat bagi pasien. Beberapa pilihan pengobatan, termasuk

docetaxel, erlotinib, dan yang terbaru, nivolumab (hanya untuk tumor sel skuamosa),

disetujui sebagai terapi lini kedua untuk NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer) (Zhang

et al, 2015). Meskipun monoterapi docetaxel umumnya digunakan untuk pasien yang

dapat mentolerir kemoterapi tambahan, saat ini belum ada standar terapi lini kedua untuk

NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer).

Imunoterapi adalah sebuah alternatif kedua standar kemoterapi sitotoksik dan

telah menjadi fokus utama dari penelitian pengembangan obat onkologi. penghambat

pos sistem imun yang memediasi respon sel T telah menjanjikan dalam pengobatan

beberapa tumor padat. sel tumor sering mengembangkan mekanisme yang dimiliki untuk

menghindari host sistem imun (Brahmer et al, 2010).

34
Nivolumab telah disetujui sebagai terapi lini kedua untuk NSCLC (Non Small

Cell Lung Cancer) sel skuamosa. Nivolumab adalah antibodi monoklonal rekombinan

dari isotipe immunoglobulin G4 yang mengikat PD-1 penghambat sistem imun pada sel

imun. Nivolumab memblok pengikatan PD-1 dengan PD-L1 dan PD-L2, yang terdapat

pada banyak sel tumor, untuk mencegah inaktivasi pada sistem imun (Rizvi et al, 2015).

Kelangsungan hidup secara keseluruhan dilaporkan dengan pengobatan

nivolumab menjanjikan diberikan pada pasien NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer)

sel skuamosa biasanya telah diperkirakan tingkat kelangsungan hidupnya selama satu

tahun hanya 6-18% dan respon sebagian untuk terapi lini kedua dengan docetaxel hanya

5,8-10,8% (Shepherd et al and Fossella et al, 2000). Toksisitas yang signifikan terkait

dengan penggunaan nivolumab. Lebih dari 25% pasien yang menunda penggunaan

karena toksisitas, 74% pasien mengalami toksisitas pada beberapa tingkat, dan 17%

mengalami efek samping tingkat 3 atau 4 (Rizvi et al, 2015). Efek samping yang paling

umum dilaporkan adalah kelelahan, mual, dispnea, nyeri otot, penurunan nafsu makan,

batuk, dan konstipasi. efek samping serius yang biasanya terjadi menyerang sistem imun

dan beberapa pengobatan dengan kortikosteroid. Pneumonitis dan kolitis adalah efek

samping yang paling parah.

Dalam sebuah penelitian baru-baru ini melaporkan perbandingan docetaxel dan

nivolumab untuk pengobatan lini kedua pada NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer),

kelangsungan hidup secara keseluruhan secara signifikan lebih lama untuk pasien yang

diobati dengan nivolumab, dan risiko kematian adalah 41% lebih rendah. Efek samping

pada kelompok nivolumab berkurang 7% pada pasien grade 3 atau 4, dibandingkan

dengan 55% dari pasien pada kelompok docetaxel.

35
Bukti untuk toleransi nivolumab cukup menjanjikan, dengan kebanyakan efek

samping menjadi grade 1 atau 2 toksisitas imun yang diatur dengan kortikosteroid dalam

banyak kasus (Brahmer et al, 2010 and Rizvi et al, 2015). Berdasarkan perbandingan

langsung dan tidak langsung pada populasi pasien ini, toksisitas grade 3 atau 4 tampak

berkurang dengan nivolumab dibandingkan dengan docetaxel, yang berhubungan

dengan neutropenia tingkat 3 atau 4 pada 54-86% pasien, hingga 11% diantaranya harus

menghentikan pengobatan karena efek sampng (Shepherd et al and Fossella et al, 2000).

Selain itu, toksisitas nivolumab berbeda dengan observasi menggunakan kemoterapi

sitotoksik. Sedangkan toksisitas dosis terbatas dari docetaxel adalah myelosupresi,

pengobatan nivolumab dikaitkan dengan efek samping yang sering diobati dengan

kortikosteroid. Berdasarkan peningkatan efektivitas dan toksisitas yang lebih rendah

dibandingkan dengan docetaxel, nivolumab dapat dipertimbangkan menjadi standar

terapi lini kedua saat ini.

36
BAB III

TINJAUAN ISLAM TERHADAP PENGGUNAAN NIVOLUMAB DALAM

PENGOBATAN KANKER PARU

3.1. Kanker Paru dalam Pandangan Islam

Kanker paru merupakan penyakit keganasan dan penyebab utama kematian di

seluruh dunia. Penyakit ini disebabkan karena paparan atau inhalasi berkepanjangan

suatu zat yang bersifat karsinogenik yang merupakan faktor penyebab utama di samping

adanya faktor lain seperti kekebalan tubuh, genetik, dan lain-lain (Amin, 2009).

Kanker paru merupakan salah satu penyakit yang perlu diobati, Islam

menganjurkan bagi setiap muslim yang sakit untuk berobat. Berbagai riwayat

menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw pernah menyuruh para sahabat agar berobat

ketika sakit, karena Allah SWT menurunkan penyakit beserta obatnya. Sebagaimana

hadist Rasulullah saw :

37
Artinya :
Usamah bin Syarik berkata Pada waktu saya berada bersama Rasulullah
SAW, datanglah beberapa orang Badui (pegunungan) lalu berkata : Ya
Rasulullah, apakah kita mesti berobat? Maka beliau menjawab : Ya wahai
hamba Allah, berobatlah kamu karena Allah tidak menurunkan penyakit
melainkan Dia menurunkan juga obatnya, kecuali satu penyakit, Mereka berkata
: Penyakit apa itu? Beliau menjawab : tua. (HR. Ahmad)
Dan juga disebutkan dalam hadits lain yang diriwiyatkan oleh Abu Hurairah, yaitu:



Artinya :
Allah tidak menurunkan suatu penyakit tanpa menurunkan obatnya.(HR.
Bukhari).

Dari hadits Rasullulah saw tersebut di atas menganjurkan berobat apabila sakit,

karena Allah SWT menurunkan penyakit beserta obatnya kecuali penyakit tua. Akan

tetapi perlu diyakini bahwa proses penyembuhan terhadap suatu penyakit hendaklah

adanya kecocokan obat dengan penyakit dan tidak lepas dari izin Allah SWT, manusia

berusaha untuk pengobatan tetapi Allah SWT yang menyembuhkan. Sebagaimana dalam

hadits Rasulullah saw :



Artinya :
Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat yang tepat diberikan, dengan izin Allah,
penyakit itu akan sembuh. (HR Ahmad dan Hakim)

Di dalam upaya pengobatan, Islam memerintahkan agar bertanya kepada ahlinya

atau orang yang megetahui. Di bidang kesehatan apabila sakit maka berobatlah kepada

dokter atau yang ahli di bidang pengobatan, agar pengobatan dan perawatan dapat

38
dilakukan dengan tepat. Apabila tidak mengetahuinya, dianjurkan agar bertanya pada

ahlinya, sebagaimana Firman Allah SWT :



Artinya :
Bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak
mengetahui. (QS An- Nahl (16):43)

Perlu diyakini bahwa proses penyembuhan terhadap suatu penyakit hendaklah

adanya kecocokan obat dengan penyakit, kesembuhan tidak terlepas dari izin Allah

SWT, manusia berusaha untuk pengobatan tetapi Allah SWT yang menyembuhkan.

Sebagaimana dalam hadits Rasulullah saw :



Artinya :
Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat yang tepat diberikan, dengan izin Allah,
penyakit itu akan sembuh. (HR Ahmad dan Hakim)

Dapat pula dipahami bahwa proses penyembuhan terhadap suatu penyakit tidak

semata berdasarkan pada hukum kausalitas atau atas bantuan ahli pengobatan, tetapi

ditentukan oleh Allah SWT, Maha Penyembuh yang sebenarnya (Zuhroni, 2012). Seperti

disebutkan dalam Al-Quran :


Artinya:
Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku.(QS.Asy-Syuaraa
(26) : 80)

Sesungguhnya terdapat berbagai macam dalil dan keterangan yang berbeda-beda

tentang berobat menurut kondisi. Ada yang haram, makruh, mubah, sunnah, bahkanada

yang wajib. Hukum berobat dapat berubah tergantung dari kondisi yang ada (Ali, 2012) :

1. Menjadi wajib dalam beberapa kondisi

39
a. Jika penyakit tersebut diduga kuat mengakibatkan kematian, maka

menyelamatkan jiwa adalah wajib.

b. Jika penyakit itu menjadikan penderitanya meninggalkan perkara wajib padahal

dia mampu berobat, dan diduga kuat penyakitnya bisa sembuh, berobat semacam

ini adalah perkara wajib, sehingga hukumnya wajib.

c. Jika penyakit itu menular kepada yang lain, mengobati penyakit menular adalah

wajib untuk mewujudkan kemaslahatan bersama.

d. Jika penyakit diduga kuat mengakibatkan kelumpuhan total, atau memperburuk

penderitanya, dan tidakakan sembuh jika dibiarkan lalu mudharat yang timbul

lebih banyak daripada maslahatnya seperti berakibat tidak bias mencari nafkah

untuk diri dan keluarga, atau membebani orang lain dalam perawatan dan

biayanya, maka diawajibkan berobat untuk kemaslahatan diri dan orang lain.

2. Berobat menjadi sunnah atau mustahab

Jika berobat berakibat lemahnya badan tetapi tidak sampai membahayakan

diri dan orang lain, tidak membebani orang lain, tidak mematikan, dan tidak

menular maka berobat menjadi sunnah baginya.

3. Berobat menjadi mubah atau boleh

Jika sakitnya tergolong ringan, tidak melemahkan badan dan tidak berakibat

seperti kondisi hukum wajib dan sunnah untuk berobat, maka boleh baginya berobat

atau tidak berobat.

4. Berobat menjadi makruh dalam beberapa kondisi

a. Jika penyakitnya termasuk yang sulit disembuhkan, sedangkan obat yang

digunakan diduga kuat tidak bermanfaat, maka lebih baik tidak berobat karena

hal itu diduga kuat akan berbuat sia-sia dan membuang harta.
40
b. Jika seorang bersabar dengan penyakitnya yang diderita, mengharap balasan

surga dari ujian ini, maka lebih utama tidak berobat, dan para ulama membawa

hadist Ibnu Abbas dalam kisah seorang wanita yang bersabar atas penyakitnya

kepada masalah ini.

c. Jika seorang fajir atau rusak, dan selalu zalim menjadi sadar dengan penyakit

yang diderita, tetapi jika sembuh ia akan kembali menjadi rusak, maka saat itu

lebih baik tidak berobat.

d. Jika seorang yang telah jatuh kepada perbuatan maksiat, lalu ditimpa suatu

penyakit, dan dengan penyakit itu dia berharap kepada Allah SWT mengampuni

dosanya dengan sebab kesabarannya. Semua kondisi ini disyaratkan jika

penyakitnya tidak mengantarkan kepada kebinasaan, jika mengantarkan kepada

kebinasaan badan dia mampu berobat, maka berobat menjadi wajib.

5. Berobat menjadi haram

Jika berobat dengan sesuatu yang haram atau cara yang haram maka

hukumnya haram, seperti berobat dengan khamr/minuman keras, atau sesuatu yang

haram lainnya.

Masalah tentang berobat dengan bahan yang haram, menurut Fiqih dapat

diuraikan sebagai berikut (Zuhroni, 2003) :

1. Menurut Madzhab Hanafi dan Syafii dinyatakan haram mempergunakan kalau

ada obat lain yang suci. Diperbolehkan dengan syarat dalam keadaan darurat dan

berdasarkan dokter Muslim yang ahli dan terpercaya, baik dalam masalah agama

maupun ilmunya, dan tidak ada obat lain dari yang diharamkan atau cara lain

yang dapat menggantikannya.

41
2. Nabi Muhammad SAW melarang menggunakan khamr dalam obat-obatan.

Rasulullah SAW bersabda :

Artinya :
Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam telah melarang berobat
dengan sesuatu yang kotor/haram. (HR. Abu Dawud)

3. Khamr itu bukan obat tetapi penyakit, yakni bisa menimbulkan penyakit,

walaupun orang menggunakan sebagai obat. Rasulullah SAW bersabda :

Artinya :
Sesungguhnya khamr itu bukanlah obat, akan tetapi justru penyakit.
(HR. Muslim)

Hadits Nabi tentang hukum berobat dengan racun, Rasulullah SAW bersabda :

Artinya :
Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah SAW melarang
mengkonsumsi obat yang al-khabits, Abi Isa berkata maksudnya adalah
racun. (HR. Ahmad, Muslim, Ibnu Majah, dan al-Turmudzi)

Berdasarkan uraian tersebut di atas, Agama Islam sangat menekankan agar

manusia menjaga kesehatannya dan juga menjaga tubuhnya dari setiap penyebab yang

dapat menjadikannya menderita sakit. Islam juga memerintahkan agar berobat dengan

barang yang halal. Apabila dalam keadaan yang darurat, diperbolehkan untuk

menggunakan barang-barang yang haram apabila tidak tersedia barang yang halal.

Penderita kanker paru hendaklah bersabar, yakin bahwa ujian sakit mempunyai

hikmah yang tidak dapat diduga oleh manusia, di antaranya Allah akan mengampuni

dosa- dosa, sebagaimana hadits berikut :

42










Artinya :
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf telah menceritakan
kepada kami Sufyandari Al Amasydari Ibrahim At Taimi dari Al Harits bin
Suwaiddari Abdullah radliallahu anhu; saya pernah menjenguk Nabi
shallallahu alaihiwasallam ketika sakit, sepertinya beliau sedang merasakan
rasa sakit, kataku selanjutnya; Sepertinya anda sedang merasakan rasa sakit
yang amat berat, oleh karena itulah anda mendapatkan pahala dua kali lipat.
Beliau menjawab: Benar, tidaklah seorang muslim yang tertimpa musibah
melainkan Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagai mana
pohon menggugurkan dedaunannya.(HR Bukhari)

Pada Hadits Abdullah bin Masudradhi allahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu

'alaihi wasallam bersabda :

Artinya:
Tidaklah seorang muslim ditimpa gangguan berupa sakit atau lainnya,
melainkan Allah menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana pohon
menggugurkan daun-daunnya.(HR. Al-Bukhari no. 5661 dan Muslim no. 6511)

Apabila seorang muslim mengalami musibah sakit seperti kanker paru

hendaklah bersabar dalam menjalani hidup, manusia tidak lepas dari ujian yang

diberikan oleh Allah SWT, seperti ujian ketakutan, kelaparan, kekurangan harta dan jiwa

(Ikhsan, 2009). Sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:



Artinya:
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita
gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqarah (2): 155)

43
Hikmah terpenting sakit dan musibah adalah sebagai penghapus dosa. Hikmah

ini tidak banyak diketahui oleh saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Manusia

ketika ditimpa sakit dan musibah malah mencaci maki, berkeluh kesah, bahkan yang

lebih parah meratapi nasib dan berburuk sangka dengan takdir Allah. Sakit dan musibah

terasa ringan apabila mereka mengetahui hikmah dibalik semua itu disebabkan

banyaknya rahmat dan kasih sayang dari Allah. Hal ini terlihat dari sabda Rasulullah

SAW. Seorang mukmin haruslah sabar dan ridho terhadap takdir Allah apabila sakit dan

musibah telah menimpa.

Keutamaan sakit yang lainnya adalah memperoleh derajat yang tinggi di sisi

Allah SWT. Sakit dapat memperoleh ganjaran berupa surge manakala seorang muslim

menghadapi penyakit dengan penuh kesabaran. Hal ini karena di dalam surga ada derajat

tertentu yang harus dicapai, bila seorang muslim tidak mampu mencapainya dengan

suatu amal, maka ia bisa memperoleh derajat yang tinggi itu dengan musibah atau

penyakit yang dideritanya. Dari Rasulullah SAW bersabda :

Artinya :
"Hai anak Adam, jika kamu bersabar dan ikhlas saat tertimpa musibah, maka
Aku tidak akan meridhai bagimu sebuah pahala kecuali surga." (HR. Ibnu
Majah)

Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kita harus meyakini

bahwa sakit merupakan ujian dan cobaan agar menghadapi penyakit dengan ikhlas,

sabar dan tawakal, dengan harapan penyakit dapat sebagai penghapus dosa. Keadaan

sakit juga dapat menjadi pengingat bagi manusia akan nikmat kesehatan sehingga

musibah sakit ini menjadi peringatan sehingga dapat memanfaatkan waktu ketika sehat

44
dan waktu luang. Allah akan meninggikan derajat orang yang bersabar dalam

menghadapi penyakit dan memperoleh ganjaran berupa surga.

Kanker paru merupakan salah satu penyakit dengan gejala batuk dan kehabisan

nafas, hal ini merupakan gejala yang paling sering dirasakan oleh penderita sehingga

dapat mengakibatkan terganggunya kesehatan. Apabila seorang muslim, terganggu salah

satu diantara empat dimensi sehat yaitu fisik, mental, sosial dan spiritual atau iman maka

bisa dikatakan sakit. Oleh sebab itu kanker paru merupakan salah satu penyakit yang

perlu diobati dan Islam menganjurkan bagi setiap muslim yang sakit untuk berobat.

Salah satu hadits Rasullulah saw menganjurkan berobat apabila sakit, karena Allah SWT

menurunkan penyakit beserta obatnya kecuali penyakit tua. Akan tetapi perlu di yakini

bahwa proses penyembuhan terhadap suatu penyakit hendaklah adanya kecocokan obat

dengan penyakit dan tidak lepas dari izin Allah SWT, manusia berusaha untuk

pengobatan tetapi Allah SWT yang menyembuhkan.

Apabila seorang muslim mengalami musibah sakit seperti kanker paru agar

berobat serta bertanya pada ahlinya. Di bidang kesehatan, apabila sakit maka berobatlah

kepada dokter atau yang ahli di bidang pengobatan, agar pengobatan dan perawatan

dapat dilakukan dengan tepat. Tetapi di samping hal itu, dapat pula dipahami bahwa

proses penyembuhan terhadap suatu penyakit tidak semata berdasarkan pada hukum

kausalitas atau atas bantuan ahli pengobatan, tetapi ditentukan oleh Allah SWT, Maha

Penyembuh yang sebenarnya.

Bagi seorang muslim yang mengalami musibah sakit, hendaklah bersabar dalam

menjalani hidup karena manusia tidak lepas dari ujian yang diberikan oleh Allah SWT,

45
seperti ujian ketakutan, kelaparan, kekurangan harta dan jiwa. Begitu juga bagi penderita

kanker paru hendaklah bersabar, yakin bahwa ujian sakit mempunyai hikmah yang tidak

dapat diduga oleh manusia, di antaranya Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa

sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.

3.2. Imunoterapi menurut Islam

Imunoterapi adalah upaya untuk meningkatkan sistem imunitas tubuh, untuk

mengalahkan sel-sel kanker dengan cara meningkatkan reaksi kekebalan tubuh terhadap

sel kanker. Imunoterapi hampir selalu menggunakan bahan alami yang berasal dari

makhluk hidup, terutama manusia. Digunakannya bahan alami karena dapat berfungsi

merangsang respon anti tumor dengan tubuh dengan meningkatkan jumlah sel

pembunuh tumor, secara langsung berfungsi sebagai agen pembunuh tumor, mengurangi

mekanisme tubuh yang normal dalam menekan respon imun, atau berfungsi

memperbaiki toleransi tubuh terhadap radioterapi atau kemoterapi.

Di dalama penyembuhan penyakit menurut Rasulullah SAW diterapkan pedoman

tertentu yang perlu diketahui dan dilaksanakan, yaitu :

1. Meyakini bahwa Allah SWT yang Maha Menyembuhkan segala penyakit

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa Allah adalah dzat yang Maha

Penyembuh, sebagaimana dalam firman Allah :

Artinya :
Dan apabila aku sakit, maka Dia-lah yang menyembuhkan aku.
(QS. Asy-Syuara (26): 80)

Banyak orang di zaman modern ini yang menggantungkan penyembuhan

dengan obat. Keyakinan semacam itu mendekati perbuatan syirik. Allah yang

46
memberikan kesembuhan bukanlah obat. Kesembuhan akan diperoleh apabila cocok

obatnya dan Allah SWT mengizinkan kesembuhan. Berdasarkan hadis tersebut,

disamping berobat hendaklah beribadah agar diberikan kesembuhan. Rasulullah

SAW mengajarkan agar orang yang sakit senantiasa berdoa kepada Allah SWT.

2. Menggunakan obat yang halal dan baik

Rasulullah mangajarkan supaya obat yang dikonsumsi penderita harus halal

dan baik. Allah yang menurunkan penyakit kepada seseorang, maka Dia lah yang

menyembuhkannya. Obat yang digunakan juga harus baik dan diridhai Allah, jika

menginginkan kesembuhan dari Allah. Allah melarang memasukan barang yang

haram dan merusak ke dalam tubuh kita. Allah SWT berfirman :



Artinya :
Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah
direzekikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman
kepada-Nya. (QS. Al-Maidah (5): 88)

3. Tidak menimbulkan mudharat

Dalam menyembuhkan penyakit, harus diperhatikan mengenai dengan

kemudharatan obat. Seorang dokter muslim akan selalu mempertimbangkan

penggunaan obat sesuai dengan penyakitnya.

4. Pengobatan tidak bersifat syirik

Pengobatan yang disyariatkan dalam Islam adalah pengobatan yang bisa

diteliti secara ilmiah. Pengobatan dalam Islam tidak boleh berbau syirik.

5. Selalu ikhtiar dan tawakal

Islam mengajarkan bahwa dalam berobat hendaklah mencari obat atau

dokter yang lebih baik. Dalam kedokteran Islam diajarkan bila ada dua obat yang

47
kualitasnya sama maka pertimbangan kedua yang harus diambil adalah yang lebih

efektif dan tidak memiliki efek rusak bagi pasien (Muhadi dan Muadzin, 2012).

Dalam ajaran Islam sebagai ketentuan berobat hendaklah tidak berobat dengan

yang haram, sebagaimana yang dinyatakan pada hadis Nabi di bawah ini (Zuhroni

et al, 2003), Dari Abi Darda, Rasulullah SAW bersabda :

Artinya :
Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan Dia jadikan bagi
tiap-tiap penyakit itu obatnya, maka berobatlah kamu, tetapi janganlah
berobat dengan yang haram (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Disisi lain, ajaran Islam menganjurkan kepada setiap mukmin agar

mengkonsumsi makanan yang halal dan baik, termasuk obat-obatan yang dibutuhkan

manusia apabila sakit, sebagaimana firman Allah SWT :



Artinya :
dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan
kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.(QS. Al-
Maidah (5):88)

Pada ayat lain Allah SWT berfirman :




Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik
yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar
kepada-Nya kamu menyembah.(QS. Al- Baqarah (2):172)

Pada ayat lain manusia diperintahkan agar makan dan minum yang halal dan baik

serta tidak berlebihan sebagaimana Allah berfirman:

48


Artinya :
Makanlah dan minumlah tapi jangan berlebih-lebihan, Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.(QS.Al-Araaf (7) : 31)

Ayat tersebut diatas menyatakan bagi orang yang beriman hendaklah memilih

makanan yang baik dan halal serta tidak berlebihan dalam arti hendaklah memilih

makanan yang seimbang termasuk dalam memilih obat-obatan sesuai dosis dan tidak

boleh berlebihan. Pengertian makanan yang halal, baik dan seimbang adalah sebagai

berikut (Zulmaizarna, 2009) :

1. Makanan halal adalah yang tidak disebutkan keharamannya, baik di dalam Al-

Quran maupun di dalam Hadits dan yang jelas-jelas tidak mendatangkan

mudharat.

2. Makanan dan minuman yang baik atau thayyib berarti lezat, baik, sehat,

mententramkan, paling utama. Kata thayyib berarti makanan yang tidak kotor

dari segi zatnya atau rusak (kadaluarsa), atau tercampur benda najis. Untuk dapat

menilai suatu makanan itu thayyib atau tidak, harus terlebih dahulu diketahui

komposisinya. Bahan makanan yang thayyib bagi umat Islam harus terlebih

dahulu memenuhi syarat halal, karena bahan makanan yang menurut ilmu

pengetahuan tergolong baik, belum tentu termasuk makanan yang halal.

Sebagaimana Firman Allah SWT :


Artinya :
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat
di bumi. (QS. Al-Baqarah (2):168)

Pada ayat yang lain Allah SWT berfirman :

49


Artinya :
Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah
kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja
menyembah. (QS. An-Nahl (16):114)

3. Makan dan minum seimbang dan tidak berlebihan (proporsional) merupakan

resep sehat menyangkut kualitas dan kuantitas makanan artinya Makan dan

minum sesusai dengan kebutuhan pemakan, tidak berlebihan dan tidak kurang.

Seperti yang disampaikan Rasulullah saw adalah tengah-tengah, tidak berlebihan,

tidak terlalu kenyang sehingga ada rongga kosong dalam usunya dan sepertiga

untuk nafas. Disebutkan dalam Hadits Rasulullah saw :









Artinya :
Janganlah perut anak Adam dipenuhi dengan beban keburukan dalam perut
hingga memenuhi perut, sekiranya mesti, maka sepertiga untuk makanan,
sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk nafas (udara). (HR. Ahmad dan
Al-Turmudzi)

Di samping makan dan minum yang halal, baik dan seimbang, hendaklah

menghindari memakan makanan yang di haramkan termasuk obat-obatan. sebagaimana

disebutkan pada firman Allah SWT :

Artinya:
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan)
yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang
jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu
menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.
(QS Al-Maidah (5):3)
50
Keharaman suatu jenis makanan, minuman, termasuk obat-obatan ditentukan adanya 3

aspek, yaitu:

1. Karena substansi/zatnya itu sendiri, contohnya babi, bangkai, darah, yang

disembelih bukan atas nama Allah SWT, dalam bidang ini tidak perlu dicari lagi

alasannya diharamkan karena dalil pengharamannya bersifat Qathi.

2. Karena sifatnya, seperti memabukkan, misalnya keharaman khamr, jika hilang

sifatnya, hukumnya berubah menjadi halal.

Rasulullah saw bersabda :

Artinya:
Barang siapa yang berobat dengan minuman keras, niscaya Allah tidak akan
menyembuhkannya. (H.R. Abu Nuaim)

3. Karena cara mendapatkannya, meski dari segi substansi benda halal tetapi jika

cara mendapatkannya haram, seperti dengan cara merampok, mencuri, ghashab,

menipu, dan yang sejenisnya maka hukumnya haram pula (Zuhroni, 2012).

Namun dalam suatu kondisi tertentu, apabila tidak ditemukan makanan atau obat

yang halal, maka diperbolehkan menggunakan barang yang haram dalam keadaan benar-

benar terpaksa demi keselamatan. Ketentuan yang membolehkan melakukan pengobatan

dengan barang-barang haram dalam keadaan benarbenar terpaksa difirmankan oleh

Allah SWT:


Artinya:
Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya
dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S.Al-Anam (6):145)

Dalam ayat lain firman-Nya :

51


Artinya :
Padahal Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang
diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya.
(Q.S.Al-Anam (6) : 119)

Dalam kaidah cabang dlarar kedua juga disebutkan :




Artinya :
Kemudaratan (bahaya) itu membolehkan halhal yang dilarang.

Ayat-ayat dan kaidah tersebut diatas menyatakan kebolehan yang diharamkan

karena suatu keterpaksaan, bahwa dalam keadaan darurat atau sangat mendesak

seseorang boleh memakan makanan yang diharamkan, segala hal yang pada mulanya

diharamkan tetapi karena sangat diperlukan untuk meringankan malapetaka atau

kesulitan-kesulitan, maka hilanglah keharaman atau kemakhruhannya untuk sementara

waktu selama keadaan darurat atau kebutuhan itu berlaku. Allah SWT memberikan

kemudahan bagi manusia agar tidak menyulitkan hidup (Zuhroni, 2012). Adapun unsur

unsur diberlakukannya hukum darurat, yaitu :

1. Kondisi darurat yang dihadapi, syaratnya :

a. Bahaya tersebut sedang berlangsung

b. Bahaya yang dihadapi besar

2. Perbuatan yang dilakukan untuk mengatasi kondisi darurat syaratnya :

a. Perbuatan tersebut lazim (pasti bisa) untuk mengatasi darurat

b. Perbuatan tersebut relevan dengan bahaya yang dihadapi

3. Objek darurat, disyaratkan terjadinya atas diri atau harta sendiri atau harta orang

lain.

4. Orang yang berada dalam kondisi darurat, syaratnya :


52
a. Orang tersebut tidak mempunyai kewajiban syari yang lain untuk mengatasi

bahaya atau kondisi darurat.

b. Orang tersebut tidak mempunyai unsur kesengajaan untuk menciptakan kondisi

darurat.

Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa nivolumab

merupakan salah satu obat untuk kanker paru, yang merupakan sebuah imunoterapi

menggunakan bahan alami yang berasal dari makhluk hidup, terutama manusia. Ajaran

Islam menganjurkan kepada setiap mukmin agar mengkonsumsi makanan yang halal,

baik dan seimbang baik serta tidak boleh memakan makanan yang diharamkan,

termasuk mengkonsumsi obat-obatan yang dibutuhkan manusia apabila sakit, kecuali

pada keadaan darurat dan sangat terpaksa dengan batas tertentu.

3.3. Tinjauan Islam terhadap Penggunaan Nivolumab dalam Pengobatan

Kanker Paru

Kanker paru merupakan salah satu penyakit dengan gejala batuk dan kehabisan

napas, hal ini merupakan gejala yang paling sering dirasakan oleh penderita sehingga

dapat mengakibatkan terganggunya kesehatan. Apabila seorang muslim, terganggu salah

satu diantara empat dimensi sehat yaitu fisik, mental, sosial dan spiritual atau iman maka

bisa dikatakan sakit. Oleh sebab itu kanker paru merupakan salah satu penyakit yang

perlu diobati dan Islam menganjurkan bagi setiap muslim yang sakit untuk berobat.

Salah satu hadits Rasullulah saw menganjurkan berobat apabila sakit, karena Allah SWT

menurunkan penyakit beserta obatnya kecuali penyakit tua. Akan tetapi perlu diyakini

bahwa proses penyembuhan terhadap suatu penyakit hendaklah adanya kecocokan obat

dengan penyakit dan tidak lepas dari izin Allah SWT, manusia berusaha untuk

53
pengobatan tetapi Allah SWT yang menyembuhkan. Apabila seorang muslim mengalami

musibah sakit seperti kanker paru agar berobat serta bertanya pada ahlinya. Di bidang

kesehatan, apabila sakit maka berobatlah kepada dokter atau yang ahli di bidang

pengobatan, agar pengobatan dan perawatan dapat dilakukan dengan tepat. Tetapi

disamping hal itu, dapat pula dipahami bahwa proses penyembuhan terhadap suatu

penyakit tidak semata berdasarkan pada hukum kausalitas atau atas bantuan ahli

pengobatan, tetapi ditentukan oleh Allah SWT, Maha Penyembuh yang sebenarnya. Bagi

seorang muslim yang mengalami musibah sakit, hendaklah bersabar dalam menjalani

hidup karena manusia tidak lepas dari ujian yang diberikan oleh Allah SWT, seperti

ujian ketakutan, kelaparan, kekurangan harta dan jiwa. Begitu juga bagi penderita

kanker paru hendaklah bersabar, yakin bahwa ujian sakit mempunyai hikmah yang tidak

dapat diduga oleh manusia, di antaranya Allah akan mengampuni dosa-dosa sebagai

mana pohon menggugurkan daun-daunnya.

Nivolumab merupakan salah satu obat untuk kanker paru, yang merupakan

sebuah imunoterapi menggunakan bahan alami yang berasal dari makhluk hidup,

terutama manusia. Di sisi lain, ajaran Islam menganjurkan kepada setiap mukmin agar

mengkonsumsi makanan yang halal, baik dan seimbang serta tidak boleh memakan

makanan yang diharamkan, termasuk mengkonsumsi obat-obatan yang dibutuhkan

manusia apabila sakit, kecuali pada keadaan darurat dan sangat terpaksa dengan batas

tertentu. Di dalam Islam terdapat bermacam-macam hukum berobat, diantaranya wajib,

sunnah, makruh, mubah, dan haram. Islam sangat melarang keras dan mengharamkan

penggunaan obat yang haram, namun jika dalam keadaan darurat dan terpaksa

54
dibolehkan dengan tujuan semata-mata menyelamatkan jiwa dan harus sesuai

kebutuhan.

Tinjauan Islam terhadap penggunaan nivolumab dalam pengobatan kanker paru,

menurut kaedah fiqhiyyah pada dasarnya dapat digunakan selama memberikan manfaat

dan tidak menimbulkan mudharat, sebagaimana kaedah fiqhiyyah (Zuhroni, 2008) :



Artinya :
Asal sesuatu adalah boleh, sampai ada dalil yang menunjukkan
keharamannya.

Kaidah tersebut diatas menyatakan bahwa asal dari sesuatu adalah boleh, sampai

ada dalil yang menentukan keharamannya. Oleh sebab itu pada dasarnya menurut kaidah

fiqhiyyah penggunaan nivolumab dalam pengobatan kanker paru dapat digunakan

selama dapat memberikan manfaat, tetapi apabila banyak mudharatnya daripada

manfaatnya, maka tidak boleh digunakan, sebagai contoh, pada beberapa pasien

penggunaan obat nivolumab yang dikombinasikan dengan obat lain dapat menyebabkan

efek samping seperti pneumonitis, sebagaimana kaidah fiqhiyyah (Zuhroni, 2008) :


Artinya :
Hukum-hukum itu bisa berubah sesuai dengan ada tidaknya sebab.

Dalam kaidah fiqhiyyah yang lainnya dinyatakan (Zuhroni, 2008) :


Artinya :
Hukum-hukum itu bisa berubah sesuai dengan perubahan zaman, tempat dan
keadaan.

55
BAB IV

KAITAN PANDANGAN KEDOKTERAN DAN ISLAM

TERHADAP PENGGUNAAN NIVOLUMAB

56
DALAM PENGOBATAN KANKER PARU

Kanker paru merupakan masalah paling utama dalam bidang kedokteran dan

menjadi salah satu penyebab kematian utama di dunia serta merupakan pemyakit

keganasan yang dapat mengakibatkan kematian pada penderitanya karena sel kanker

yang merusak sel lain. Sel kanker adalah sel normal yang mengalami mutasi atau

perubahan genetik dan tumbuh tanpa terkoordinasi dengan sel-sel tubuh lain. Merokok

merupakan penyebab utama terjadinya kanker paru. Kanker paru dapat menimbulkan

berbagai gejala klinis tergantung dari lokasi, ukuran, substansi yang dikeluarkan, dan

metastasis (penyebaran) ke organ yang dikenal. Gejala paling umum yang ditemui pada

penderita kanker paru adalah batuk yang terus-menerus atau menjadi hebat, hemoptisis,

sesak napas, sakit kepala dan penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. Pencegahan

yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terkena kanker paru yaitu salah satunya

dengan tidak merokok sejak usia muda.

Berdasarkan hasil dari beberapa penelitian, penatalaksanaan kanker paru

dapat dilakukan dengan menggunakan obat nivolumab yang merupakan imunoterapi

yang digunakan untuk mengalahkan sel-sel kanker dengan cara meningkatkan reaksi

kekebalan tubuh terhadap sel kanker. Nivolumab berada dalam kelas obat yang disebut

antibodi monoklonal. Obat tersebut bekerja dengan membantu sistem kekebalan tubuh

untuk memperlambat atau menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker. Nivolumab

mengandung antibodi monoklonal spesifik IgG4 manusia yang mengikat reseptor PD-1

dengan afinitas tinggi dan memblok interaksinya dengan B7-H1 dan B7-DC. Dalam

sebuah penelitian dilaporkan bahwa pengobatan nivolumab sebagai terapi lini kedua

57
untuk NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer) memiliki kelangsungan hidup yang lebih

lama dan memiliki risiko kematian yang lebih rendah dibandingkan dengan terapi lini

kedua lainnya, yaitu docetaxel.

Kanker paru merupakan salah satu penyakit dengan gejala batuk dan kehabisan

napas, hal ini merupakan gejala yang paling sering dirasakan oleh penderita sehingga

dapat mengakibatkan terganggunya kesehatan. Oleh sebab itu kanker paru merupakan

salah satu penyakit yang perlu diobati dan dalam hadits Rasulullah juga sudah

disebutkan anjuran untuk berobat apabila sakit, karena Allah SWT menurunkan penyakit

beserta dengan obatnya kecuali penyakit tua. Nivolumab merupakan salah satu obat

yang dapat digunakan dalam pengobatan kanker paru. Menurut tinjauan Islam,

penggunaan nivolumab dalam pengobatan kanker paru pada dasarnya sesuai kaedah

fiqhiyyah selama penggunaannya dapat memberikan manfaat dan tidak mendatangkan

mudharat. Tetapi apabila mendatangkan lebih banyak mudharat dari manfaatnya, maka

tidak boleh digunakan. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW bahwa Tidak boleh

melakukan perbuatan (mudharat) yang mencelakan diri sendiri dan orang lain.

Kedokteran dan ajaran Islam sependapat bahwa penggunaan obat nivolumab

dapat digunakan sebagai terapi pengobatan untuk kanker paru, selama penggunaan obat

nivolumab lebih banyak memberikan manfaat dan tidak menimbulkan mudharat dalam

pemakaiannya.

BAB V

58
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Salah satu penatalaksaan yang dapat dilakukan untuk mengobati kanker paru adalah

dengan menggunakan imunoterapi nivolumab. Nivolumab merupakan antibodi

monoklonal spesifik immunoglobulin G4 manusia yang dapat mengikat reseptor PD-

1 dengan afinitas tinggi dan memblok interaksinya dengan B7-H1 dan B7-DC.

Pengobatan dengan nivolumab efektif digunakan pada NSCLC (Non Small Cell

Lung Cancer) sebagai terapi lini kedua. Nivolumab memberikan kelangsungan hidup

yang lebih lama dan kematian yang lebih rendah pada NSCLC (Non Small Cell Lung

Cancer).

2. Menurut tinjauan Islam, penggunaan nivolumab dalam pengobatan kanker paru pada

dasarnya sesuai dengan kaedah fiqhiyyah selama penggunaannya dapat memberikan

manfaat dan tidak mendatangkan mudharat, sebagaimana kaedah fiqhiyyah : Asal

sesuatu adalah boleh, sampai ada dalil yang menunjukkan keharamannya. Tetapi

apabila lebih banyak mendatangkan mudharat dari manfaatnya, maka tidak boleh

digunakan, sebagaimana hadits Rasulullah SAW bahwa Tidak boleh melakukan

perbuatan (mudharat) yang mencelakan diri sendiri dan orang lain.

5.2 Saran

1. Bagi Individu

59
Kepada masing-masing individu disarankan untuk selalu menjaga kesehatan baik

fisik maupun mental, jika terdapat gejala klinis yang telah dijelaskan diatas

sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter terdekat serta selalu mencari

informasi terbaru tentang dunia kesehatan baik tindakan pencegahan penyakit

maupun tindakan pengobatan sehingga dapat menghindari terjadinya kanker paru.


2. Bagi Dokter Muslim

Bagi dokter muslim isarankan untuk terus membekali diri dengan ilmu kedokteran

agar dapat meningkatkan ilmu pengetahuan serta melakukan diagnosis dan terapi

secara tepat pada kasus kanker paru ini. Seorang dokter dengan kemampuan five

stars doctor juga sangat disarankan menguasai dan mempunyai kompetensi dalam

melakukan pendekatan baik secara medis dan non medis guna menunjang

kesembuhan pasien baik secara medis maupun moril.

3. Bagi Masyarakat

Bagi masyarakat disarankan agar meningkatkan pendidikan kesehatan serta

pengetahuan tentang pengobatan kanker paru, baik melalui pendekatan medis

maupun agama sehingga dapat terhindar dari gejala tersebut.

4. Bagi Ulama
Bagi ulama atau tokoh agama disarankan untuk selalu melakukan sosialisasi melalui

ceramah keagamaan dan bekerja sama dengan lembaga kesehatan tentang anjuran

untuk menjaga pola hidup yang dapat mempengaruhi suatu penyakit sehingga

mencegah terjadinya penyakit kanker paru, anjuran berobat, berobat dengan

menggunakan sesuatu yang halal dan sesuai syariat Islam serta berobat kepada

ahlinya.

60
DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran (Tafsir Qur'an Perkata). 2009. Jakarta: MaghfirahPustaka.

61
Ali A. 2012. Berobat dalam Islam.
https://maktabahabiyahya.wordpress.com/2012/05/30/berobat-dalam-islam/.
Diakses 15 Februari 2016
American Cancer Society. 2013. Cancer Facts & Figures for African Americans 2013-
2014. Atlanta, Ga: American Cancer Society

Amin, Zulkifli.2009. Kanker Paru, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi V. Interna
Publishing: Jakarta, 2254-2262

Asdie A.H. 1986. Islam, Etika, dan Kesehatan. CV Rajawali: Jakarta.

Brahmer JR, Drake CG, Wollner I et al. 2010. Phase I study of single-agent anti-
programmed death-1 (MDX1106) in refractory solid tumors: safety, clinical
activity, pharmacodynamics, and im-munologic correlates. J Clin Oncol; 28:3167-
75.

Brahmer J, Reckamp KL, Baas P et al. 2015. Nivolumab versus docetaxel in advanced
squamous non small cell lung cancer. N Engl J Med; 373:123-35.

Brahmer JR, Tykodi SS, Chow LQ et al. 2012. Safety and activity of anti-PD-L1 anti-
body in patients with advanced cancer. N Engl J Med; 366:2455-65.

Desen, Wan. 2013. Onkologi Klinis. Jakarta: EGC

Elizabeth, J. Corwin. 2008. Buku Saku Patofisiologis. Jakarta: ECG

Fossella F, DeVore R, Kerr R et al. 2000. Randomized phase III trial of docetaxel versus
vinorelbine or ifosfamide in patients with advanced non-small cell lung cancer
previously treated with platinum-containing chemotherapy regimes. J Clin Oncol;
18:2354-62.

Gettinger SN, Brahmer JR, Rizvi NA et al. 2013. A phase III comparative study of
nivolumab (anti-PD-1; BMS-936558; ONO-4538) versus docetaxel in patients
(pts) with previously treated advanced/ metastatic nonsquamous non-small-cell
lung cancer (NSCLC). Abstract presented at American Society of Clinical
Oncology Annual Meeting. Chicago, IL

Guyton, Arthur C. & John E. Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11.
Jakarta: EGC

Ikhsan Muhamad. 2015. Konsep Sehat dan Sakit Menurut Islam.


https://www.linkedin.com/pulse/konsep-sehat-dan-sakit-menurut-islam-muhamad-
ikhsan?trk=pulse-det-nav_art. Diakses tanggal 15 Februari 2016.

Kumar V, et al. 2007. Buku Ajar Patologi Edisi 7. Buku Kedokteran EGC

62
Mianoki, Adika. 2012. Asy Syaafii, Zat yang Maha Menyembuhkan.
https://muslim.or.id/8489-asy-syaafii-zat-yang-maha-menyembuhkan.html.
Diakses pada tanggal 22 Februari 2016.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2003. Kanker Paru: Pedoman Diagnosis dan
Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta: PDPI

Pradipta, Eka, et al. 2014. Kapita Selekta Kedokteran edisi IV. Jakarta: Media
Aesculapius

Price, SA dan Wilson LM. 2006. Patofisiologi Proses-Proses Penyakit Vol.2 Edisi 6.
Jakarta: EGC

Rizvi NA, Mazieres J, Planchard D et al. 2015. Activity and safety of nivolumab, an
anti-PD-1 immune checkpoint inhibitor, for patients with advanced, refractory
squamous non-small-cell lung cancer (CheckMate 063): a phase 2, single-arm
trial. Lancet Oncol; 16:257-65.

Sahaly D. 2010. Pencegahan Penyakit dalam Tinjauan Islam.


http://bintusahaly.blogspot.co.id/2010/12/pencegahan-penyakit-dalam-
tinjauan.html. Diakses tanggal 15 Februari 2016

Shepherd F, Dancey J, Ramlau R et al. 2000. Prospective randomized trial of docetaxel


versus best supportive care in patients with non-small cell lung cancer previous-ly
treated with platinum-based chemo-therapy. J Clin Oncol; 18:2095-103.

Sherwood, L. 2001. Fisiologi Manusia;dari Sel ke Sistem. Edisi 2. Jakarta: EGC

Stoppler, M.C. 2010. Lung Cancer. Available from : http://www.emedicinehealth

Topalian SL, Drake CG, Pardoll DM. 2012. Targeting the PD-1/B7-H1(PD-L1) pathway
to activate anti-tumor im- munity. Curr Opin Immunol 24:207-212

Tortora, G.J, et al. 2012. Principles of Anatomy and Physiology. Edisi 13. USA: John
Wiley & Sons

Wolchok, Jedd. 2015. Studi: Imunoterapi Berpotensi Gantikan Kemoterapi dalam 5


Tahun ke Depan.

Zuhroni, Riani N dan Nazaruddin. 2003. Islam untuk Disiplin Imu Kesehatan &
Kedokteran, jilid 2. Departemen Agama Republik Indonesia, Jakarta : 119-124

Zuhroni. 2010. Pandangan Islam Terhadap Masalah Kedokteran dan Kesehatan.


Jakarta: Bagian Agama Islam UPT MKU dan Bahasa Universitas YARSI.

Zuhroni. 2012. Hukum Islam Terhadap Berbagai Masalah Kedokteran dan Kesehatan
Kontemporer. Jakarta : Bagian Agama Universitas Yarsi

63
Zulmaizarna. 2009. Ahlak Mulia Bagi Para Pemimpin. Bandung: Pustaka Al-fikri.

64