Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Menurut Hendrik L. Blum (1974), derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh

empat faktor utama yaitu: faktor lingkungan, perilaku manusia, pelayanan kesehatan, dan

keturunan. Keempat faktor tersebut saling terkait dengan beberapa faktor lain, yaitu

sumber daya alam, keseimbangan ekologi, kesehatan mental, sistem budaya, dan populasi

sebagai satu kesatuan.

Lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap derajat kesehatan

masyarakat. Faktor lingkungan meliputi lingkungan fisik, lingkungan biologik dan

lingkungan sosio kultural. John Gordon menggambarkan adanya interaksi antara 3 faktor

yaitu faktor lingkungan (environment), pejamu (host) dan penyebab penyakit (agent).

Timbulnya penyakit bila terjadi ketidakseimbangan di antara ketiga faktor

tersebut, misalnya penyakit terjadi karena faktor lingkungan yang jelek, atau

berkembangnya kuman penyakit atau daya tahan tubuh yang rendah untuk melawan

infeksi kuman penyakit.

Menurut pasal 22 Undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan

menyebutkan antara lain :

(1) Kesehatan lingkungan diselenggarakan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang

sehat.

(2) Kesehatan lingkungan dilaksanakan terhadap tempat umum, lingkungan permukiman,

lingkungan kerja, angkutan umum dan lingkungan lainnya.

(3) Kesehatan lingkungan meliputi :

a. Penyehatan air, tanah, dan udara


b. Pengamanan limbah padat, limbah cair, limbah gas, radiasi dan kebisingan

c. Pengendalian vektor penyakit

d. Penyehatan atau pengamanan lainnya.

(4) Setiap tempat atau sarana pelayanan umum wajib memelihara dan meningkatkan

lingkungan yang sehat sesuai dengan standar dan persyaratan

Sampai saat ini penyakit-penyakit berbasis lingkungan masih merupakan masalah

kesehatan masyarakat. Insiden penyakit demam berdarah dengue 0.019/1000 penduduk,

angka kematian pada kejadian luar biasa (KLB) 3/1.000 penduduk. Penyakit TBC Paru,

tahun 1999, WHO memperkirakan setiap tahun di Indonesia terjadi 583.000 kasus baru

TB, dengan kematian sekitar 140.000 orang. Diperkirakan setiap 100.000 penduduk

terdapat 130 TBC BTA positif.

Proporsi penderita pneumonia balita yang berobat ke Puskesmas tahun 2002

sebesar 3/10.000 balita. Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dari hasil

survey Sub Direktorat Diare dan Penyakit Pencernaan tahun 2003 insiden diare 374/1.000

penduduk. Insiden malaria yang diukur dengan Annual Malaria Incidence (AMI) yaitu

kesakitan malaria tanpa konfirmasi laboratorium dan Annual Parasite Incidence (API)

yaitu angka kesakitan malaria dengan konfirmasi laboratorium, tahun 2002 AMI

22,27/1.000 penduduk dan API 0,47/1.000 penduduk.

Permasalahan sampai saat ini diketahui bahwa penyakit terbanyak yang terdapat di

wilayah kerja Puskesmas didominasi oleh penyakit-penyakit yang berhubungan dengan

masalah kesehatan lingkungan. Disamping itu dirasakan bahwa upaya pengobatan

penyakit dan upaya peningkatan/perbaikan kualitas lingkungan dikerjakan secara terpisah

dan tidak terintegrasi dengan upaya terkait lainnya. Petugas paramedic/medis

melaksanakan upaya penyembuhan/pengobatan tanpa memperdulikan dan atau tanpa

mengetahui bagaimana sebenarnya kondisi lingkungan perumahan/permukiman si pasien.


Di sisi lain petugas kesehatan lingkungan melakukan upaya kesehatan lingkungan

(pengawasan kualitas lingkungan, penyuluhan dan perbaikan mutu lingkungan) tanpa

memperhatikan permasalahan penyakit/kesehatan masyarakat di lokasi / kawasan

tersebut.

Integrasi upaya kesehatan lingkungan dan upaya pemberantasan penyakit berbasis

lingkungan semakin relevan dengan diterapkannya Paradigma Sehat untuk upaya-upaya

kesehatan di masa mendatang (rapat kerja Menteri Kesehatan RI dengan Komisi VI DPR-

RI, tanggal 15 September 1998). Dengan paradigma ini maka pembangunan kesehatan

lebih ditekankan pada upaya promotif-preventif dibanding upaya kuratif-rehabilitatif.

Melalui Klinik Sanitasi ketiga unsur pelayanan kesehatan yaitu promotif, preventif dan

kuratif dilaksanakan secara integratif melalui pelayanan kesehatan program

pemberantasan penyakit berbasis lingkungan di luar maupun di dalam gedung.

Puskesmas mempunyai misi untuk menyelenggarakan upaya kesehatan esensial

yang bermutu, merata, dan terjangkau sesuai dengan kebutuhan masyarakat, untuk

meningkatkan status kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. Untuk itu dilakukan

dengan cara membina peran serta, upaya kesehatan inovatif, dan pemanfaatan teknologi

tepat guna. Bertitiktolak dari hal-hal di atas, maka lahirnya konsep Klinik Sanitasi

merupakan salah satu upaya terobosan untuk memadukan ketiga jenis upaya kesehatan

tersebut dalam rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara terpadu, terarah

dan berkesinambungan. Konsep ini pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan oleh

Puskesmas Wanasaba Kabupaten/Kota Lombok Timur Propinsi Nusa Tenggara Barat

sejak November 1995 dan selanjutnya kegiatan ini diikuti oleh beberapa Puskesmas yang

ada di Provinsi Jawa Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan dan

Kalimantan Selatan. Saat ini Klinik Sanitasi sudah dikembangkan lebih dari 1.000

Puskesmas di seluruh Provinsi di Indonesia.


Dengan makin berkembangnya kegiatan Klinik Sanitasi maka buku Pedoman

Pelaksanaan Klinik Sanitasi yang dicetak tahun 2000 perlu dilakukan perbaikan kembali

dengan mempertimbangkan berbagai kelemahan/hambatan maupun kekuatan, peluang,

dan ancaman yang dihadapi oleh Puskesmas serta masukan dari berbagai pihak terkait.

2. Pengertian

a. Klinik Sanitasi

Merupakan suatu upaya/kegiatan yang mengintegrasikan pelayanan kesehatan

antara promotif, preventif, dan kuratif yang difokuskan pada penduduk yang beresiko

tinggi untuk mengatasi masalah penyakit berbasis lingkungan dan masalah kesehatan

lingkungan permukiman yang dilaksanakan oleh petugas Puskesmas bersama

masyarakat yang dapat dilaksanakan secara pasif dan aktif di dalam maupun di luar

Puskesmas.

Klinik sanitasi bukan sebagai kegiatan pokok yang berdiri sendiri, tetapi

sebagai bagian integral dari kegiatan Puskesmas yang dilaksanakan secara lintas

program dan lintas sektor di wilayah kerja Puskesmas. Dalam melaksanakan kegiatan

Klinik Sanitasi masyarakat difasilitasi oleh petugas Puskesmas.

Klinik sanitasi diharapkan dapat memperkuat tugas dan fungsi Puskesmas

dalam melaksanakan pelayanan pencegahan dan pemberantasan penyakit berbasis

lingkungan dan semua persoalan yang ada kaitannya dengan kesehatan lingkungan

guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

b. Petugas Klinik Sanitasi

Adalah tenaga kesehatan lingkungan/tenaga kesehatan lain/tenaga pelaksana yang

ditunjuk oleh pimpinan Puskesmas untuk melaksanakan kegiatan Klinik Sanitasi.


c. Pasien

Penderita penyakit yang diduga berkaitan dengan kesehatan lingkungan yang

dirujuk oleh Petugas Medis ke ruang Klinik Sanitasi atau yang ditemukan di lapangan

baik oleh petugas medis/paramedis maupun petugas survey.

d. Klien

Masyarakat yang berkunjung ke Puskesmas atau yang menemui petugas klinik

sanitasi bukan sebagai penderita penyakit tetapi untuk berkonsultasi tentang masalah yang

berkaitan dengan kesehatan lingkungan.

e. Ruang Klinik Sanitasi

Adalah suatu ruangan atau tempat dalam gedung Puskesmas yang dipergunakan

untuk penyuluhan dan konsultasi oleh petugas Klinik Sanitasi terhadap pasien dan klien.

f. Bengkel Sanitasi

Adalah suatu ruangan atau tempat yang dipergunakan untuk membuat, merawat,

memperbaiki sarana air bersih dan sanitasi dan menyimpan peralatan yang berkaitan

dengan kegiatan kesehatan lingkungan, serta melatih keterampilan bagi masyarakat.

g. Konseling

Adapun hubungan komunikasi antara dua orang atau lebih antara petugas

konseling dan pasien/klien yang memutuskan untuk bekerjasama sehingga pasien/klien

dapat mengenali dan memecahkan masalah kesehatan lingkungan secara mandiri maupun

dengan bantuan pihak lain.

h. Kunjungan Rumah

Adalah kegiatan yang dilakukan petugas Klinik Sanitasi ke rumah pasien/klien

untuk melihat keadaan rumah dan lingkungannya sebagai tindak lanjut dari kunjungan

pasien/klien ke Puskesmas (ruang Klinik Sanitasi) atau tindak lanjut dari penemuan

pasien/klien di lapangan.
i. Kegiatan dalam gedung

Adalah upaya pelayanan Klinik Sanitasi yang dilakukan di dalam atau di

lingkungan gedung Puskesmas

j. Kegiatan luar gedung

Adalah upaya Klinik Sanitasi yang dilakukan di luar gedung/lingkungan

Puskesmas.

k. Keluarga Binaan

Adalah keluarga pasien, tetangga pasien atau keluarga klien yang perlu difasilitasi

untuk mengatasi masalah perilaku hidup bersih dan sehat, penyakit berbasis lingkungan,

dan masalah kesehatan lingkungan.

l. Keluarga resiko tinggi

Adalah keluarga yang mempunyai peluang untuk tertular dan menderita penyakit

berbasis lingkungan.

II. TUJUAN KLINIK SANITASI

1. Umum

Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui upaya preventif,

kuratif, dan promotif yang dilakukan secara terpadu, terarah dan terus

menerus.

2. Khusus

a. Terciptanya keterpaduan kegiatan lintas program dan lintas sektor

dalam program pemberantasan penyakit menular dan penyehatan

lingkungan dengan memberdayakan masyarakat.

b. Meningkatnya pengetahuan, kesadaran, kemampuan dan perilaku

masyarakat (pasien dan Klien serta masyarakat di sekitarnya) untuk

mewujudkan lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat.


c. Meningkatnya pengetahuan, kesadaran dan kemampuan masyarakat

untuk mencegah dan menanggulangi penyakit berbasis lingkungan

serta masalah kesehatan lingkungan dengan sumber daya yang ada.

d. Menurunnya angka penyakit berbasis lingkungan dan meningkatnya

kondisi kesehatan lingkungan.

III. SASARAN

1. Penderita penyakit (pasien) yang berhubungan dengan masalah

kesehatan lingkungan (yang datang ke Puskesmas atau yang

diketemukan di lapangan).

2. Masyarakat umum (klien) yang mempunyai masalah kesehatan

lingkungan (yang datang ke Puskesmas atau yang menemui petugas

Klinik Sanitasi di lapangan).

3. Lingkungan penyebab masalah bagi penderita/klien dan masyarakat

sekitarnya.

IV. RUANG LINGKUP

Ruang lingkup kegiatan Klinik Sanitasi mencakup berbagai upaya meliputi

antara lain:

1. Penyediaan/penyehatan air bersih dan sanitasi dalam rangka

pencegahan/ penanggulangan penyakit diare/cacingan/penyakit

kulit/penyakit kusta/penyakit frambusia.

2. Penyehatan perumahan dalam rangka pencegahan penyakit ISPA/TB

Paru.

3. Penyehatan lingkungan permukiman dalam rangka pencegahan penyakit

demam berdarah dengue (DHF)/malaria/filariasis.

4. Penyehatan lingkungan tempat kerja dalam rangka pencegahan dan


penanggulangan penyakit yang berhubungan dengan lingkungan/akibat

kerja.

5. Penyehatan makanan/minuman dalam rangka pencegahan dan

penanggulangan penyakit saluran pencernaan/keracunan makanan.

6. Pengamanan pestisida dalam rangka pencegahan dan penanggulangan

keracunan pestisida

7. Penyakit atau gangguan kesehatan lainnya yang berhubungan dengan

lingkungan.

V. STRATEGI OPERASIONAL

1. Inventarisasi masalah kesehatan lingkungan dan penyakit berbasis

lingkungan yang dihadapi masyarakat dengan cara pengumpulan data dan

pemetaan yang berkaitan dengan penyakit, perilaku, sarana sanitasi dan

keadaan lingkungan.

2. Mengintegrasikan intervensi kesehatan lingkungan dengan program

terkait di Puskesmas dalam rangka pemberantasan penyakit berbasis

lingkungan.

3. Menentukan skala prioritas penyusunan perencanaan dan pelaksanaan

penanganan masalah kesehatan lingkungan dengan mempertimbangkan

segala sumber daya yang ada dengan melibatkan lintas program dan lintas

sektor terkait baik dalam lingkup kabupaten/kota maupun Puskesmas.

4. Menumbuhkembangkan peran serta masyarakat melalui kemitraan

dengan kelembagaan yang sudah ada, misalnya Pembinaan Kesejahteraan

Keluarga (PKK), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Lembaga

Pemberdayaan Masyarakat (LPM), maupun kelompok swadaya masyarakat

setempat (kelompok pengajian, kelompok arisan, dll)


5. Membentuk jaringan kerjasama antar kabupaten/kota/kecamatan yang

merupakan satuan ekologis atau satuan epidemiologi penyakit.

6. Menciptakan perubahan dan peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat

serta menumbuhkan kemandirian masyarakat melalui upaya promosi

kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.

7. Mengupayakan dukungan dana dari berbagai sumber antara lain

masyarakat, swasta, pengusaha, dan pemerintah.

Hasil pengumpulan data dari pencatatan yang ada di Puskesmas dan hasil

kunjungan lapangan (klien/pasien) kemudian dilakukan pengolahan data

dianalisis, kemudian dilakukan pemetaan terhadap jenis penyakit berbasis

lingkungan menurut desa. Dari hasil analisis ditentukan:

- Apa jenis penyakit berbasis lingkungan yang tertinggi di wilayah kerja

Puskesmas tersebut.

- Kelompok mana yang mungkin mendapat resiko tertinggi untuk terjangkit

penyakit yang sama (kelompok resiko tinggi)

- Di desa mana kasus penyakit tertinggi di wilayah kerja Puskesmas

tersebut.

Pemetaan ini dilakukan menurut sebaran penyakit (dapat dinilai dari satu

sampai beberapa desa) dan pemetaan per desa. Pemetaan per desa dapat

mencantumkan faktor lingkungan yang mempengaruhi penularan penyakit

berbasis lingkungan.

e. Intervensi rencana tindak lanjut

Selanjutnya dari hasil pengolahan data dan pemetaan disampaikan dalam

rapat Mikro Planning Puskesmas, sehingga pimpinan Puskesmas mendapat

data informasi untuk menentukan intervensi sebagai tindak lanjut dari hasil
temuan. Intervensi pada klinik sanitasi ada dua alternatif, yaitu:

- Intervensi dilakukan pada satu jenis penyakit di beberapa desa tertentu

yang kasusnya sangat menonjol, atau

- Intervensi dilakukan pada beberapa penyakit di satu desa.

Penentuan prioritas penyakit yang akan diintervensi dengan

mempertimbangkan berbagai aspek di bawah ini:

a. Kegawatan penyakit

b. Apakah menjadi program prioritas daerah/nasional

c. Tingkat kesulitan dalam pemberantasan penyakit (segi teknis dan non

teknis)

VII. SUMBER DAYA

1. Tenaga Pelaksana

Untuk melaksanakan kegiatan Klinik Sanitasi diperlukan tenaga sebagai berikut :

a. Tenaga kesehatan lingkungan di Puskesmas, dari Diploma 1 atau Diploma 3

kesehatan lingkungan atau Strata 1 kesehatan masyarakat.

b. Tenaga kesehatan lain di Puskesmas seperti bidan, perawat kesehatan

masyarakat, petugas gizi dan petugas lain yang ditunjuk oleh pimpinan

Puskesmas.

c. Tenaga pelaksana yang ditunjuk oleh pimpinan Puskesmas untuk

melaksanakan kegiatan Klinik Sanitasi (pekarya, sosial, ekonomi dll).

Tenaga-tenaga tersebut di atas, bila perlu mendapat orientasi/pelatihan

tentang Klinik Sanitasi.

2. Prasarana dan Sarana

a. Ruangan

Ruangan diperlukan untuk :


- Ruang Klinik Sanitasi sebagai tempat dalam gedung Puskesmas yang

dipergunakan penyuluhan dan konsultasi oleh petugas Klinik Sanitasi

terhadap pasien dan klien.

- Bengkel Klinik Sanitasi sebagai tempat yang dipergunakan untuk

membuat, merawat, memperbaiki sarana air bersih dan sanitasi,

menyimpan peralatan yang berkaitan dengan kegiatan kesehatan

lingkungan, serta melatih keterampilan bagi masyarakat.

b. Peralatan

Peralatan Klinik Sanitasi berupa alat-alat perbaikan/pembangunan sarana air

bersih dan sanitasi, cetakan sarana air bersih dan jamban keluarga, peralatan

pengukuran kualitas lingkungan (air, tanah dan udara), alat-alat pengambilan

sampel lingkungan dan sound system.

c. Transportasi

Untuk mendukung kegiatan Klinik Sanitasi di luar Puskesmas diperlukan alat

transportasi.

d. Alat Peraga dan Media Penyuluhan

Untuk kegiatan penyuluhan dan konseling diperlukan alat peraga maupun

media penyuluhan antara lain : maket, media cetak (poster, leaflet, lembar

balik, buku, majalah), media elektronik, dan lain-lain.

e. Formulir Pencatatan dan Pelaporan

Untuk pencatatan dan pelaporan diperlukan formulir sesuai dengan lampiran

3, 4, 5 dan 6.

f. Buku Pedoman

Untuk penyelenggaraan klinik sanitasi diperlukan buku pedoman terutama

pedoman klinik sanitasi (Pedoman Pelaksanaan Klinik Sanitasi untuk


Puskesmas, Pedoman Teknik Klinik Sanitasi untuk Puskesmas, Panduan

Konseling bagi petugas Klinik Sanitasi, dan Standar Prosedur Operasional

Klinik Sanitasi untuk Puskesmas), dan buku-buku pedoman lain misalnya

Pedoman Manajemen Puskesmas, Pedoman Nasional Penanggulangan

Tuberkulosis, Pedoman Penyakit Malaria, Pedoman pemberantasan Penyakit

Diare, Demam Berdarah Dengue, dll.

3. Sumber Dana

Sumber dana untuk penyelenggaraan Klinik Sanitasi dapat diperoleh dari dana

operasional Puskesmas APBN, APBD Provinsi dan APBD Kabupaten/kota, BLN,

kemitraan dan swadaya masyarakat.

VIII. PERAN DINAS KESEHATAN PROVINSI DAN

KABUPATEN/KOTA DALAM PENGEMBANGAN KLINIK

SANITASI

1. Peran Unit Kesehatan Provinsi

Seperti diketahui yang menangani masalah kesehatan di provinsi adalah Dinas

Kesehatan Provinsi yang secara administrative dan taktis operasional di bawah

Pemerintah Daerah Provinsi.

Adapun tugas dinas Kesehatan Provinsi dalam pelaksanaan Klinik Sanitasi

adalah :

a. Memberi dukungan politis agar klinik sanitasi diakui sebagai bagian penting

dalam pembangunan kesehatan dan proses pembangunan pada umumnya.

b. Menyiapkan dukungan teknologi untuk memungkinkan pengelolaan Klinik

Sanitasi menjadi suatu kegiatan operasional dalam proses pembangunan

lingkungan dan perilaku sehat, termasuk pengembangan Teknologi Tepat

Guna (TTG), dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.


c. Merintis kemitraan (partnership) antara pemerintah dengan sektor swasta

(private sector) dalam mengembangkan dan memperluas gagasan klinik

sanitasi di berbagai unit pelayanan kesehatan lingkungan.

d. Melibatkan organisasi profesi kesehatan (HAKLI, IAKMI, dsb) dalam

pengembangan program klinik sanitasi terutama dalam supervise dan

monitoring/evaluasi.

e. Mengembangkan sistem informasi manajemen yang berkaitan dengan Klinik

Sanitasi.

2. Peran Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

Seperti halnya di provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bertugas

melaksanakan program kesehatan di wilayah kabupaten/kota. Dalam

melaksanakan tugas dan fungsinya secara administratif dan taktis operasional

dibawah Pemerintah Kabupaten/Kota.

Tugas Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam pelaksanaan Klinik Sanitasi

adalah :

a. Melaksanakan perencanaan, penggerakan, pengawasan, pengendalian, dan

penilaian.

b. Melakukan koordinasi dengan Bappeda Kabupaten/Kota dalam

merencanakan kebutuhan dan mengusulkan dana.

c. Menetapkan strategi dan kebijaksanaan operasional.

d. Mengembangkan indikator keberhasilan, penetapan standar keberhasilan,

sistem informasi manajemen, dan teknologi tepat guna sesuai dengan

masalah yang dihadapi oleh kabupaten/kota.

e. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota menyusun buku pedoman teknis

pelaksanaan di tingkat Puskesmas tentang tugas-tugas spesifik.


f. Dinas kesehatan Kabupaten/Kota mendorong Puskesmas untuk

melaksanakan dan mengembangkan kegiatan klinik sanitasi.

g. Meningkatkan mutu sumber daya manusia dalam melaksanakan kegiatan

Klinik Sanitasi (pelatihan, seminar, studi banding)

3. Peran Puskesmas dan Masyarakat

a. Peran Puskesmas

Puskesmas adalah unit terdepan dalam pelaksanaan pembangunan

kesehatan di wilayah kerjanya.

Pembangunan kesehatan meliputi pembangunan yang berwawasan

kesehatan, pemberdayaan masyarakat dan keluarga, serta pelayanan

kesehatan.

Dalam melaksanakan kegiatan klinik sanitasi Puskesmas mempunyai tugas

dan fungsi sebagai berikut:

1) Menyelenggarakan pelaksanaan dan penilaian kegiatan Klinik Sanitasi di

dalam maupun di luar gedung Puskesmas.

2) Melakukan pengumpulan pengolahan dan analisis data tentang kualitas

lingkungan (data sarana air bersih dan sanitasi), penyakit berbasis

lingkungan dll.

3) Pengawasan, penilaian dan perbaikan kualitas lingkungan.

4) Mencari menggali dan mengelola sumber pembiayaan yang berasal dari

pemerintah, masyarakat, swasta, dan sumber lain untuk kegiatan Klinik

Sanitasi.

5) Melakukan pencegahan dan penanggulangan pada kasus-kasus

penyakit berbasis lingkungan.

6) Memberikan pelatihan dan bantuan teknis (pemanfaatan, pemeliharaan


dan perbaikan) bagi tokoh-tokoh masyarakat, kader, swasta, dsb.

7) Menyiapkan tenaga, ruang klinik sanitasi/bengkel sanitasi dan

peralatannya termasuk pengadaan media penyuluhan.

8) Melakukan pembinaan masyarakat melalui penyuluhan dan konseling,

dll.

9) Mendayagunakan tenaga lapangan PPM & PL dan bidan di desa untuk

mendukung kegiatan klinik sanitasi.

10) Koordinasi dengan lintas program dan lintas sektor dalam kegiatan Klinik

Sanitasi termasuk membina kemitraan dengan unsur terkait (LSM,

Pengusaha, swasta, PKK, Pramuka) di wilayahnya.

11) Melakukan pencatatan dan pelaporan tentang pelaksanaan Klinik

Sanitasi.

b. Peran Masyarakat

Masyarakat melalui kelompok-kelompok masyarakat seperti Lembaga

Pemberdayaan Masyarakat, Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK),

tokoh masyarakat, dan tokoh agama, juga mempunyai tugas dan fungsi

dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui Klinik

Sanitasi sebagai berikut:

1) Membina keluarga binaan

2) Ikut serta melakukan inventarisasi data sarana kesehatan lingkungan:

jamban, air bersih, limbah, perumahan, dan lain sebagainya.

3) Menggali dan memanfaatkan sumber daya setempat untuk kepentingan

intervensi kesehatan lingkungan.

4) Melakukan pengorganisasian dan pendanaan masyarakat untuk upaya

meningkatkan kualitas lingkungan.


5) Mengembangkan cara penilaian dan pemantauan oleh masyarakat

sendiri.

IX. HAMBATAN, TANTANGAN DAN PELUANG

1. Hambatan

Beberapa hambatan yang mungkin dijumpai dalam pelaksanaan Klinik Sanitasi :

a. Masih terbatasnya tenaga Puskesmas untuk melaksanakan klinik sanitasi,

termasuk terbatasnya tenaga dengan latar belakang pendidikan kesehatan

lingkungan di Puskesmas sebagai tenaga Klinik Sanitasi. Kegiatan Klinik

Sanitasi belum menjadi prioritas bagi Puskesmas.

b. Terbatasnya jangkauan petugas klinik sanitasi untuk membina desa yang

berada dalam wilayah Puskesmas (ratio Puskesmas desa : 9,6) hal ini

disebabkan oleh berbagai hal antara lain jumlah desa, luas wilayah, kondisi

geografis dan terbatasnya sarana transportasi.

c. Terbatasnya dana yang berasal dari APBN, APBD Provinsi, APBD

Kabupaten/Kota dan masyarakat untuk kegiatan klinik sanitasi.

2. Peluang

Beberapa peluang yang mungkin ditemui antara lain :

a. Adanya dana operasional di Puskesmas yang dapat dimanfaatkan untuk

kegiatan klinik sanitasi.

b. Penyakit berbasis lingkungan masih mendominasi kasus yang terjadi.

c. Adanya mekanisme mini lokakarya di Puskesmas yang dapat digunakan

untuk pengembangan dan koordinasi kegiatan klinik sanitasi

d. Pendayagunaan tenaga kesehatan lingkungan yang saat ini bekerja di luar

bidang tugasnya untuk pelaksanaan Klinik Sanitasi.

e. Adanya program sektor lain yang terkait dialokasikan di desa yang dapat
menunjang kegiatan Klinik Sanitasi.

f. Semakin meningkatnya partisipasi masyarakat di bidang pembangunan di

desa akibat dari pemberdayaan masyarakat sebagai subyek pembangunan

yang diterapkan selama ini.

g. Telah tersedianya alat (water test kit, media penyuluhan)

h. Penerapan paradigma sehat yang selaras dengan pelaksanaan Klinik

Sanitasi.

X. KRITERIA KEBERHASILAN

Keberhasilan pelaksanaan Klinik Sanitasi ini dapat ditunjukkan dengan beberapa

indikator:

1. Langsung

a. Meningkatnya kunjungan klien dan menurunnya kunjungan pasien Klinik

Sanitasi

b. Meningkatnya cakupan dan jumlah sarana air bersih dan sanitasi yang

memenuhi syarat dari swadaya masyarakat.

c. Meningkatnya kunjungan petugas Klinik Sanitasi ke rumah pasien/klien.

2. Tak Langsung

a. Menurunnya angka kejadian penyakit yang berbasis lingkungan seperti

Diare / Cacingan / Penyakit Kulit, ISPA / TB-Paru, Demam Berdarah, Malaria,

Penyakit akibat kerja, penyakit saluran pencernaan dan keracunan.

b. Terciptanya hubungan dan kerjasama yang baik antara lintas program dan

lintas sektor di wilayah kerja Puskesmas.

XI. PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI

1. Pencatatan

a. Petugas Klinik Sanitasi mencatat kegiatan-kegiatan yang dikerjakan baik


dalam gedung maupun luar gedung, dalam format pencatatan Klinik Sanitasi

(register, kartu status kesehatan). Kartu Status Kesehatan Lingkungan, Kartu

Rumah dan formulir lain yang diperlukan.

b. Petugas Klinik Sanitasi mengolah data kegiatan di dalam dan luar gedung.

c. Petugas Klinik Sanitasi membuat penyajian/visualisasi data dalam bentuk

peta, grafik atau tabel yang diperbaharui secara periodik (bulanan, kuartalan,

dan tahunan).

2. Pelaporan

a. Puskesmas yang melaksanakan kegiatan ini melaporkannya kepada Dinas

Kesehatan Kabupaten/Kota, sesuai format yang telah ada.

b. Laporan diberikan secara periodik (bulanan, kuartalan, dan tahunan).

3. Pemantauan dan Penilaian

a. Pemantauan untuk mengetahui hambatan serta peluang dilaksanakan tiap

bulan saat mini lokakarya Puskesmas, yang akan dipakai untuk perbaikan

pelaksanaan Klinik Sanitasi sebagai bahan untuk peningkatan kinerja

petugas Klinik Sanitasi.

b. Evaluasi dilaksanakan secara lintas program/lintas sektor pada akhir tahun

yang hasilnya dapat digunakan untuk penyusunan program kerja tahun

berikutnya.

XII. PERANAN BERBAGAI PIHAK DALAM TINDAK LANJUT

PERBAIKAN KUALITAS LINGKUNGAN

Berbeda dengan masalah penyakit yang timbul akibat lingkungan yang tidak sehat

yang dapat diatasi/ditangani sektor kesehatan sendiri mulai dari penemuan kasus

sampai pada pengobatan sehingga penderita memperoleh kesembuhan, namun

untuk faktor lingkungan tidak dapat ditangani sendiri oleh sektor kesehatan. Dalam
hal ini diperlukan peran dari berbagai pihak untuk memperbaiki kualitas, sebab

bilamana kualitas lingkungan tidak diperbaiki, akan berpengaruh terhadap

kesembuhan penyakit yang dialami penderita. Perwujudan dalam pelaksanaan

perbaikan kualitas lingkungan dapat dilakukan melalui pertemuan/rapat koordinasi

pembangunan baik di kabupaten/kota atau kecamatan.

Download

of 27

Klinik Sanitasi

by arya-leonhart

on Jul 09, 2015

Report

Category:

Documents

Download: 12

Comment: 0

1,061
views

Comments

Description

Download Klinik Sanitasi

Transcript

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Menurut Hendrik L. Blum (1974), derajat kesehatan

masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor utama yaitu: faktor lingkungan, perilaku manusia,

pelayanan kesehatan, dan keturunan. Keempat faktor tersebut saling terkait dengan beberapa

faktor lain, yaitu sumber daya alam, keseimbangan ekologi, kesehatan mental, sistem budaya,

dan populasi sebagai satu kesatuan. Lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap

derajat kesehatan masyarakat. Faktor lingkungan meliputi lingkungan fisik, lingkungan

biologik dan lingkungan sosio kultural. John Gordon menggambarkan adanya interaksi antara

3 faktor yaitu faktor lingkungan (environment), pejamu (host) dan penyebab penyakit (agent).

Timbulnya penyakit bila terjadi ketidakseimbangan di antara ketiga faktor tersebut, misalnya

penyakit terjadi karena faktor lingkungan yang jelek, atau berkembangnya kuman penyakit

atau daya tahan tubuh yang rendah untuk melawan infeksi kuman penyakit. Menurut pasal 22

Undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan menyebutkan antara lain : (1)

Kesehatan lingkungan diselenggarakan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat.

(2) Kesehatan lingkungan dilaksanakan terhadap tempat umum, lingkungan permukiman,

lingkungan kerja, angkutan umum dan lingkungan lainnya. (3) Kesehatan lingkungan

meliputi : a. Penyehatan air, tanah, dan udara. b. Pengamanan limbah padat, limbah cair,

limbah gas, radiasi dan kebisingan. c. Pengendalian vektor penyakit. d. Penyehatan atau

pengamanan lainnya. (4) Setiap tempat atau sarana pelayanan umum wajib memelihara dan
meningkatkan lingkungan yang sehat sesuai dengan standar dan persyaratan. Sampai saat ini

penyakit-penyakit berbasis lingkungan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat.

Insiden penyakit demam berdarah dengue 0.019/1000


penduduk, angka kematian pada kejadian luar biasa (KLB) 3/1.000 penduduk. Penyakit TBC

Paru, tahun 1999, WHO memperkirakan setiap tahun di Indonesia terjadi 583.000 kasus baru

TB, dengan kematian sekitar 140.000 orang. Diperkirakan setiap 100.000 penduduk terdapat

130 TBC BTA positif. Proporsi penderita pneumonia balita yang berobat ke Puskesmas tahun

2002 sebesar 3/10.000 balita. Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dari hasil

survey Sub Direktorat Diare dan Penyakit Pencernaan tahun 2003 insiden diare 374/1.000

penduduk. Insiden malaria yang diukur dengan Annual Malaria Incidence (AMI) yaitu

kesakitan malaria tanpa konfirmasi laboratorium dan Annual Parasite Incidence (API) yaitu

angka kesakitan malaria dengan konfirmasi laboratorium, tahun 2002 AMI 22,27/1.000

penduduk dan API 0,47/1.000 penduduk. Permasalahan sampai saat ini diketahui bahwa

penyakit terbanyak yang terdapat di wilayah kerja Puskesmas didominasi oleh penyakit-

penyakit yang berhubungan dengan masalah kesehatan lingkungan. Disamping itu dirasakan

bahwa upaya pengobatan penyakit dan upaya peningkatan/perbaikan kualitas lingkungan

dikerjakan secara terpisah dan tidak terintegrasi dengan upaya terkait lainnya. Petugas

paramedic/medis melaksanakan upaya penyembuhan/pengobatan tanpa memperdulikan dan

atau tanpa mengetahui bagaimana sebenarnya kondisi lingkungan perumahan/permukiman si

pasien. Di sisi lain petugas kesehatan lingkungan melakukan upaya kesehatan lingkungan

(pengawasan kualitas lingkungan, penyuluhan dan perbaikan mutu lingkungan) tanpa

memperhatikan permasalahan penyakit/kesehatan masyarakat di lokasi / kawasan tersebut.

Integrasi upaya kesehatan lingkungan dan upaya pemberantasan penyakit berbasis

lingkungan semakin relevan dengan diterapkannya Paradigma Sehat untuk upaya-upaya

kesehatan di masa mendatang (rapat kerja Menteri Kesehatan RI dengan Komisi VI DPR-RI,

tanggal 15 September 1998). Dengan paradigma ini maka pembangunan kesehatan lebih

ditekankan pada upaya promotif-preventif dibanding upaya kuratif-rehabilitatif. Melalui

Klinik Sanitasi ketiga unsur pelayanan kesehatan yaitu promotif, preventif dan kuratif
dilaksanakan secara integratif melalui pelayanan
kesehatan program pemberantasan penyakit berbasis lingkungan di luar maupun di dalam

gedung. Puskesmas mempunyai misi untuk menyelenggarakan upaya kesehatan esensial yang

bermutu, merata, dan terjangkau sesuai dengan kebutuhan masyarakat, untuk meningkatkan

status kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. Untuk itu dilakukan dengan cara membina

peran serta, upaya kesehatan inovatif, dan pemanfaatan teknologi tepat guna. Bertitiktolak

dari hal-hal di atas, maka lahirnya konsep Klinik Sanitasi merupakan salah satu upaya

terobosan untuk memadukan ketiga jenis upaya kesehatan tersebut dalam rangka peningkatan

derajat kesehatan masyarakat secara terpadu, terarah dan berkesinambungan. Konsep ini

pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan oleh Puskesmas Wanasaba Kabupaten/Kota

Lombok Timur Propinsi Nusa Tenggara Barat sejak November 1995 dan selanjutnya

kegiatan ini diikuti oleh beberapa Puskesmas yang ada di Provinsi Jawa Timur, Sulawesi

Tenggara, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Saat ini Klinik

Sanitasi sudah dikembangkan lebih dari 1.000 Puskesmas di seluruh Provinsi di Indonesia.

Dengan makin berkembangnya kegiatan Klinik Sanitasi maka buku Pedoman Pelaksanaan

Klinik Sanitasi yang dicetak tahun 2000 perlu dilakukan perbaikan kembali dengan

mempertimbangkan berbagai kelemahan/hambatan maupun kekuatan, peluang, dan ancaman

yang dihadapi oleh Puskesmas serta masukan dari berbagai pihak terkait. 2. Pengertian a.

Klinik Sanitasi Merupakan suatu upaya/kegiatan yang mengintegrasikan pelayanan kesehatan

antara promotif, preventif, dan kuratif yang difokuskan pada penduduk yang beresiko tinggi

untuk mengatasi masalah penyakit berbasis lingkungan dan masalah kesehatan lingkungan

permukiman yang dilaksanakan oleh petugas Puskesmas


bersama masyarakat yang dapat dilaksanakan secara pasif dan aktif di dalam maupun di luar

Puskesmas. Klinik sanitasi bukan sebagai kegiatan pokok yang berdiri sendiri, tetapi sebagai

bagian integral dari kegiatan Puskesmas yang dilaksanakan secara lintas program dan lintas

sektor di wilayah kerja Puskesmas. Dalam melaksanakan kegiatan Klinik Sanitasi masyarakat

difasilitasi oleh petugas Puskesmas. Klinik sanitasi diharapkan dapat memperkuat tugas dan

fungsi Puskesmas dalam melaksanakan pelayanan pencegahan dan pemberantasan penyakit

berbasis lingkungan dan semua persoalan yang ada kaitannya dengan kesehatan lingkungan

guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. b. Petugas Klinik Sanitasi Adalah tenaga

kesehatan lingkungan/tenaga kesehatan lain/tenaga pelaksana yang ditunjuk oleh pimpinan

Puskesmas untuk melaksanakan kegiatan Klinik Sanitasi. c. Pasien Penderita penyakit yang

diduga berkaitan dengan kesehatan lingkungan yang dirujuk oleh Petugas Medis ke ruang

Klinik Sanitasi atau yang ditemukan di lapangan baik oleh petugas medis/paramedis maupun

petugas survey. d. Klien Masyarakat yang berkunjung ke Puskesmas atau yang menemui

petugas klinik sanitasi bukan sebagai penderita penyakit tetapi untuk berkonsultasi tentang

masalah yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan. e. Ruang Klinik Sanitasi Adalah suatu

ruangan atau tempat dalam gedung Puskesmas yang dipergunakan untuk penyuluhan dan

konsultasi oleh petugas Klinik Sanitasi terhadap pasien dan klien. f. Bengkel Sanitasi Adalah

suatu ruangan atau tempat yang dipergunakan untuk membuat, merawat, memperbaiki sarana

air bersih dan sanitasi dan menyimpan peralatan yang


berkaitan dengan kegiatan kesehatan lingkungan, serta melatih keterampilan bagi masyarakat.

g. Konseling Adapun hubungan komunikasi antara dua orang atau lebih antara petugas

konseling dan pasien/klien yang memutuskan untuk bekerjasama sehingga pasien/klien dapat

mengenali dan memecahkan masalah kesehatan lingkungan secara mandiri maupun dengan

bantuan pihak lain. h. Kunjungan Rumah Adalah kegiatan yang dilakukan petugas Klinik

Sanitasi ke rumah pasien/klien untuk melihat keadaan rumah dan lingkungannya sebagai

tindak lanjut dari kunjungan pasien/klien ke Puskesmas (ruang Klinik Sanitasi) atau tindak

lanjut dari penemuan pasien/klien di lapangan. i. Kegiatan dalam gedung Adalah upaya

pelayanan Klinik Sanitasi yang dilakukan di dalam atau di lingkungan gedung Puskesmas j.

Kegiatan luar gedung Adalah upaya Klinik Sanitasi yang dilakukan di luar

gedung/lingkungan Puskesmas. k. Keluarga Binaan Adalah keluarga pasien, tetangga pasien

atau keluarga klien yang perlu difasilitasi untuk mengatasi masalah perilaku hidup bersih dan

sehat, penyakit berbasis lingkungan, dan masalah kesehatan lingkungan. l. Keluarga resiko

tinggi Adalah keluarga yang mempunyai peluang untuk tertular dan menderita penyakit

berbasis lingkungan.
II. TUJUAN KLINIK SANITASI 1. Umum Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat

melalui upaya preventif, kuratif, dan promotif yang dilakukan secara terpadu, terarah dan

terus menerus. 2. Khusus a. Terciptanya keterpaduan kegiatan lintas program dan lintas

sektor dalam program pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan dengan

memberdayakan masyarakat. b. Meningkatnya pengetahuan, kesadaran, kemampuan dan

perilaku masyarakat (pasien dan Klien serta masyarakat di sekitarnya) untuk mewujudkan

lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat. c. Meningkatnya pengetahuan, kesadaran

dan kemampuan masyarakat untuk mencegah dan menanggulangi penyakit berbasis

lingkungan serta masalah kesehatan lingkungan dengan sumber daya yang ada. d.

Menurunnya angka penyakit berbasis lingkungan dan meningkatnya kondisi kesehatan

lingkungan.
III. SASARAN 1. Penderita penyakit (pasien) yang berhubungan dengan masalah kesehatan

lingkungan (yang datang ke Puskesmas atau yang diketemukan di lapangan). 2. Masyarakat

umum (klien) yang mempunyai masalah kesehatan lingkungan (yang datang ke Puskesmas

atau yang menemui petugas Klinik Sanitasi di lapangan). 3. Lingkungan penyebab masalah

bagi penderita/klien dan masyarakat sekitarnya.


IV. RUANG LINGKUP Ruang lingkup kegiatan Klinik Sanitasi mencakup berbagai upaya

meliputi antara lain: 1. Penyediaan/penyehatan air bersih dan sanitasi dalam rangka

pencegahan/ penanggulangan penyakit diare/cacingan/penyakit kulit/penyakit kusta/penyakit

frambusia. 2. Penyehatan perumahan dalam rangka pencegahan penyakit ISPA/TB Paru. 3.

Penyehatan lingkungan permukiman dalam rangka pencegahan penyakit demam berdarah

dengue (DHF)/malaria/filariasis. 4. Penyehatan lingkungan tempat kerja dalam rangka

pencegahan dan penanggulangan penyakit yang berhubungan dengan lingkungan/akibat

kerja. 5. Penyehatan makanan/minuman dalam rangka pencegahan dan penanggulangan

penyakit saluran pencernaan/keracunan makanan. 6. Pengamanan pestisida dalam rangka

pencegahan dan penanggulangan keracunan pestisida 7. Penyakit atau gangguan kesehatan

lainnya yang berhubungan dengan lingkungan.


V. STRATEGI OPERASIONAL 1. Inventarisasi masalah kesehatan lingkungan dan penyakit

berbasis lingkungan yang dihadapi masyarakat dengan cara pengumpulan data dan pemetaan

yang berkaitan dengan penyakit, perilaku, sarana sanitasi dan keadaan lingkungan. 2.

Mengintegrasikan intervensi kesehatan lingkungan dengan program terkait di Puskesmas

dalam rangka pemberantasan penyakit berbasis lingkungan. 3. Menentukan skala prioritas

penyusunan perencanaan dan pelaksanaan penanganan masalah kesehatan lingkungan dengan

mempertimbangkan segala sumber daya yang ada dengan melibatkan lintas program dan

lintas sektor terkait baik dalam lingkup kabupaten/kota maupun Puskesmas. 4.

Menumbuhkembangkan peran serta masyarakat melalui kemitraan dengan kelembagaan yang

sudah ada, misalnya Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Lembaga Swadaya

Masyarakat (LSM), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), maupun kelompok swadaya

masyarakat setempat (kelompok pengajian, kelompok arisan, dll) 5. Membentuk jaringan

kerjasama antar kabupaten/kota/kecamatan yang merupakan satuan ekologis atau satuan

epidemiologi penyakit. 6. Menciptakan perubahan dan peningkatan perilaku hidup bersih dan

sehat serta menumbuhkan kemandirian masyarakat melalui upaya promosi kesehatan dan

pemberdayaan masyarakat. 7. Mengupayakan dukungan dana dari berbagai sumber antara

lain masyarakat, swasta, pengusaha, dan pemerintah.


VI. KEGIATAN KLINIK SANITASI Kegiatan Klinik Sanitasi dilaksanakan di dalam

gedung dan di luar gedung Puskesmas : 1. Dalam Gedung Puskesmas a. Pasien (penderita

penyakit berbasis lingkungan) Semua pasien yang mendaftar di loket, setelah mendapat kartu

status, diperiksa oleh petugas medis/paramedis Puskesmas (Dokter, Bidan, Perawat). Apabila

pasien menderita penyakit berbasis lingkungan maka yang bersangkutan dirujuk ke ruang

Klinik Sanitasi. Di ruang Klinik Sanitasi petugas Klinik Sanitasi mewawancarai pasien

tentang penyakit yang diderita dikaitkan dengan lingkungan. Hasil wawancara dicatat dalam

Kartu Status Kesehatan Lingkungan. Kemudian petugas Klinik Sanitasi melakukan konseling

tentang penyakit yang diderita pasien dalam hubungannya dengan lingkungan. Selanjutnya

petugas Klinik Sanitasi membuat janji kunjungan rumah dengan pasien dan keluarganya

apabila diperlukan. Setelah konseling di ruang Klinik Sanitasi, pasien dapat mengambil obat

di apotik Puskesmas (loket obat) kemudian pasien diperbolehkan pulang. Dengan kegiatan

Klinik Sanitasi, Dokter/Bidan/Perawat dan Sanitarian dapat mengidentifikasi faktor resiko

kesehatan yang dialami pasien/keluarga/masyarakat sekitarnya. b. Klien (Pengunjung bukan

penderita penyakit) Klien mendaftar di loket, selanjutnya menuju ruang Klinik Sanitasi untuk

melakukan konsultasi masalah kesehatan lingkungan yang dihadapi. Petugas Klinik Sanitasi

mencatat hasil wawancara dalam Kartu Status Kesehatan Lingkungan, kemudian petugas

membuat janji dengan klien untuk kunjungan rumah apabila diperlukan. Secara rutin petugas

Klinik Sanitasi menyampaikan segala permasalahan, cara penyelesaian masalah, hasil

monitoring/evaluasi dan perencanaan Klinik Sanitasi dalam Mini Lokakarya Puskesmas yang

melibatkan seluruh petugas Puskesmas. Dengan


demikian diharapkan seluruh petugas Puskesmas mengetahui pelaksanaan kegiatan Klinik

Sanitasi sehingga Klinik Sanitasi dapat dilakukan secara integratif dalam lintas program. 2.

Luar Gedung Puskesmas a. Kunjungan rumah (sebagai tindak lanjut kunjungan pasien/klien

ke Puskesmas) Kunjungan rumah/lokasi merupakan tindak lanjut kesepakatan antara petugas

Klinik Sanitasi dengan pasien/klien yang datang ke Puskesmas. Sebenarnya kunjungan ini

merupakan kegiatan rutin dari petugas Puskesmas yang lebih dipertajam sasarannya, karena

saat kunjungan petugas telah mempunyai data yang diperlukan dari hasil wawancara antara

petugas dengan pasien/klien di ruang Klinik Sanitasi. Dalam kunjungannya Petugas Klinik

Sanitasi sedapat mungkin mengikutsertakan Perawat dari Puskesmas Pembantu atau Bidan di

Desa, untuk melakukan pengecekan fisik/klinis atas penyakit yang telah diobati tersebut

(semacam kegiatan Perawatan Kesehatan Keluarga). Petugas Klinik Sanitasi membawa kartu

status kesehatan lingkungan/register yang telah diisi saat kunjungan pasien ke ruang Klinik

Sanitasi di Puskesmas sebelumnya. Untuk keperluan monitoring/surveilans, dalam kunjungan

ini petugas klinik sanitasi mengisi kartu indeks lingkungan perilaku sehat, selanjutnya kartu

ini secara berkala (1-3 bulan) diisi oleh kader atau bidan desa. Dalam kunjungan ke lapangan

petugas Klinik Sanitasi mengajak Kader Kesehatan/Kesehatan Lingkungan, Pokmair

(kelompok pemakai air), PKK, dan berkonsultasi/melibatkan LSM, Perangkat Desa, tokoh

masyarakat dan pihak terkait lainnya, maksudnya agar masyarakat turut berperan aktif

memecahkan masalah kesehatan yang timbul di lingkungan mereka sendiri. Diharapkan jika

nanti timbul masalah yang serupa atau sejenis, mereka mampu menyelesaikan sendiri.

Petugas klinik sanitasi maupun petugas kesehatan lain yang


mendampinginya dapat memberikan penyuluhan kepada pasien/klien dan keluarganya serta

tetangga-tetangga pasien tersebut. Kunjungan tersebut perlu pula dikoordinasikan dengan

Camat apabila perlu diintegrasikan bersama instansi/sektor lain yang mempunyai kegiatan di

desa lokasi kegiatan Klinik Sanitasi dilaksanakan. Bila diperlukan koordinasi di

Kabupaten/kota, maka Puskesmas dapat meminta bantuan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

Jika dibutuhkan pembangunan sarana sanitasi dengan biaya besar, (seperti pembangunan

sistem perpipaan) yang tidak terjangkau oleh masyarakat setempat, petugas Klinik Sanitasi

melalui Puskesmas dapat mengusulkan kegiatan tersebut kepada Dinas Kesehatan

Kabupaten/Kota untuk ditindaklanjuti. b. Penemuan penderita melalui pencairan penderita

secara aktif. Penemuan dan pengobatan secara intensif terhadap penderita, selain untuk

menyembuhkan juga merupakan upaya pokok untuk menghilangkan sumber penularan yang

berarti pemutusan mata rantai penularan. Di tiap kabupaten/kota diperlukan petugas

lapangan, yang memiliki keterampilan penemuan, pengobatan, dan pelaporan penderita

penyakit yang berbasis lingkungan. Petugas Klinik Sanitasi harus mengetahui penyakit

menular apa yang menjadi prioritas di daerahnya, untuk kemudian mencari upaya

pengendalian penyakit yang bersangkutan dengan cara-cara perbaikan lingkungan dimana

penderita bertempat tinggal. Pada program-program pemberantasan penyakit yang ada

komponen pencairan dan penemuan penderita di lapangan (misalnya malaria, TB Paru,

Kusta, Frambusia), maka hasil penemuan penderita ini dilaporkan pada pertemuan

evaluasi/perencanaan bulanan Puskesmas untuk diputuskan sebagai sasaran Klinik Sanitasi.

Lokasi keluarga yang menderita penyakit berbasis lingkungan perlu dipetakan. c. Penemuan

population at risk melalui pengumpulan data di lapangan


Beberapa cara yang dapat digunakan menentukan population at risk (penderita atau orang-

orang yang secara epidemiologis mendapat resiko tertular penyakit berbasis lingkungan)

antara lain sebagai berikut : Prosedur Penilaian Cepat (Rapid Assessment Procedures=RAP)

Rapid Survey Focus Group Discussion Kartu Kesehatan Keluarga (K3), khusus untuk daerah

proyek KKG/replikasi proyek KKG. Indeks Potensi Keluarga Sehat (IPKS), khusus untuk

daerah proyek KKG/replikasi proyek KKG. d. Pemetaan population at risk Petugas Klinik

Sanitasi harus bekerjasama secara erat dengan tenaga epidemiologisurveilans Puskesmas

(Tepus) dalam pengumpulan data, pengolahan, analisis dan pemetaan Population at risk dan

faktor-faktor yang mempengaruhi penularan penyakit. Hasil pengumpulan data dari

pencatatan yang ada di Puskesmas dan hasil kunjungan lapangan (klien/pasien) kemudian

dilakukan pengolahan data dianalisis, kemudian dilakukan pemetaan terhadap jenis penyakit

berbasis lingkungan menurut desa. Dari hasil analisis ditentukan: Apa jenis penyakit berbasis

lingkungan yang tertinggi di wilayah kerja Puskesmas tersebut. Kelompok mana yang

mungkin mendapat resiko tertinggi untuk terjangkit penyakit yang sama (kelompok resiko

tinggi) Di desa mana kasus penyakit tertinggi di wilayah kerja Puskesmas tersebut. Pemetaan

ini dilakukan menurut sebaran penyakit (dapat dinilai dari satu sampai beberapa desa) dan

pemetaan per desa. Pemetaan per desa dapat mencantumkan faktor lingkungan yang

mempengaruhi penularan penyakit berbasis lingkungan. e. Intervensi rencana tindak lanjut


Selanjutnya dari hasil pengolahan data dan pemetaan disampaikan dalam rapat Mikro

Planning Puskesmas, sehingga pimpinan Puskesmas mendapat data informasi untuk

menentukan intervensi sebagai tindak lanjut dari hasil temuan. Intervensi pada klinik sanitasi

ada dua alternatif, yaitu: Intervensi dilakukan pada satu jenis penyakit di beberapa desa

tertentu yang kasusnya sangat menonjol, atau Intervensi dilakukan pada beberapa penyakit di

satu desa. Penentuan prioritas penyakit yang akan diintervensi dengan mempertimbangkan

berbagai aspek di bawah ini: a. Kegawatan penyakit b. Apakah menjadi program prioritas

daerah/nasional c. Tingkat kesulitan dalam pemberantasan penyakit (segi teknis dan non

teknis)
VII. SUMBER DAYA 1. Tenaga Pelaksana Untuk melaksanakan kegiatan Klinik Sanitasi

diperlukan tenaga sebagai berikut : a. Tenaga kesehatan lingkungan di Puskesmas, dari

Diploma 1 atau Diploma 3 kesehatan lingkungan atau Strata 1 kesehatan masyarakat. b.

Tenaga kesehatan lain di Puskesmas seperti bidan, perawat kesehatan masyarakat, petugas

gizi dan petugas lain yang ditunjuk oleh pimpinan Puskesmas. c. Tenaga pelaksana yang

ditunjuk oleh pimpinan Puskesmas untuk melaksanakan kegiatan Klinik Sanitasi (pekarya,

sosial, ekonomi dll). Tenaga-tenaga tersebut di atas, bila perlu mendapat orientasi/pelatihan

tentang Klinik Sanitasi. 2. Prasarana dan Sarana a. Ruangan Ruangan diperlukan untuk :

Ruang Klinik Sanitasi sebagai tempat dalam gedung Puskesmas yang dipergunakan

penyuluhan dan konsultasi oleh petugas Klinik Sanitasi terhadap pasien dan klien. Bengkel

Klinik Sanitasi sebagai tempat yang dipergunakan untuk membuat, merawat, memperbaiki

sarana air bersih dan sanitasi, menyimpan peralatan yang berkaitan dengan kegiatan

kesehatan lingkungan, serta melatih keterampilan bagi masyarakat. b. Peralatan Peralatan

Klinik Sanitasi berupa alat-alat perbaikan/pembangunan sarana air bersih dan sanitasi,

cetakan sarana air bersih dan jamban keluarga, peralatan pengukuran kualitas lingkungan (air,

tanah dan udara), alat-alat pengambilan sampel lingkungan dan sound system. c. Transportasi

Untuk mendukung kegiatan Klinik Sanitasi di luar Puskesmas diperlukan alat transportasi.
d. Alat Peraga dan Media Penyuluhan Untuk kegiatan penyuluhan dan konseling diperlukan

alat peraga maupun media penyuluhan antara lain : maket, media cetak (poster, leaflet,

lembar balik, buku, majalah), media elektronik, dan lain-lain. e. Formulir Pencatatan dan

Pelaporan Untuk pencatatan dan pelaporan diperlukan formulir sesuai dengan lampiran 3, 4,

5 dan 6. f. Buku Pedoman Untuk penyelenggaraan klinik sanitasi diperlukan buku pedoman

terutama pedoman klinik sanitasi (Pedoman Pelaksanaan Klinik Sanitasi untuk Puskesmas,

Pedoman Teknik Klinik Sanitasi untuk Puskesmas, Panduan Konseling bagi petugas Klinik

Sanitasi, dan Standar Prosedur Operasional Klinik Sanitasi untuk Puskesmas), dan buku-buku

pedoman lain misalnya Pedoman Manajemen Puskesmas, Pedoman Nasional

Penanggulangan Tuberkulosis, Pedoman Penyakit Malaria, Pedoman pemberantasan

Penyakit Diare, Demam Berdarah Dengue, dll. 3. Sumber Dana Sumber dana untuk

penyelenggaraan Klinik Sanitasi dapat diperoleh dari dana operasional Puskesmas APBN,

APBD Provinsi dan APBD Kabupaten/kota, BLN, kemitraan dan swadaya masyarakat.
VIII. PERAN DINAS KESEHATAN PROVINSI DAN KABUPATEN/KOTA DALAM

PENGEMBANGAN KLINIK SANITASI 1. Peran Unit Kesehatan Provinsi Seperti diketahui

yang menangani masalah kesehatan di provinsi adalah Dinas Kesehatan Provinsi yang secara

administrative dan taktis operasional di bawah Pemerintah Daerah Provinsi. Adapun tugas

dinas Kesehatan Provinsi dalam pelaksanaan Klinik Sanitasi adalah : a. Memberi dukungan

politis agar klinik sanitasi diakui sebagai bagian penting dalam pembangunan kesehatan dan

proses pembangunan pada umumnya. b. Menyiapkan dukungan teknologi untuk

memungkinkan pengelolaan Klinik Sanitasi menjadi suatu kegiatan operasional dalam proses

pembangunan lingkungan dan perilaku sehat, termasuk pengembangan Teknologi Tepat

Guna (TTG), dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. c. Merintis kemitraan

(partnership) antara pemerintah dengan sektor swasta (private sector) dalam mengembangkan

dan memperluas gagasan klinik sanitasi di berbagai unit pelayanan kesehatan lingkungan. d.

Melibatkan organisasi profesi kesehatan (HAKLI, IAKMI, dsb) dalam pengembangan

program klinik sanitasi terutama dalam supervise dan monitoring/evaluasi. e.

Mengembangkan sistem informasi manajemen yang berkaitan dengan Klinik Sanitasi. 2.

Peran Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Seperti halnya di provinsi, Dinas Kesehatan

Kabupaten/Kota bertugas melaksanakan program kesehatan di wilayah kabupaten/kota.

Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya secara administratif dan taktis operasional dibawah

Pemerintah Kabupaten/Kota. Tugas Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam pelaksanaan

Klinik Sanitasi adalah : a. Melaksanakan perencanaan, penggerakan, pengawasan,

pengendalian, dan penilaian.


b. Melakukan koordinasi dengan Bappeda Kabupaten/Kota dalam merencanakan kebutuhan

dan mengusulkan dana. c. Menetapkan strategi dan kebijaksanaan operasional. d.

Mengembangkan indikator keberhasilan, penetapan standar keberhasilan, sistem informasi

manajemen, dan teknologi tepat guna sesuai dengan masalah yang dihadapi oleh

kabupaten/kota. e. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota menyusun buku pedoman teknis

pelaksanaan di tingkat Puskesmas tentang tugas-tugas spesifik. f. Dinas kesehatan

Kabupaten/Kota mendorong Puskesmas untuk melaksanakan dan mengembangkan kegiatan

klinik sanitasi. g. Meningkatkan mutu sumber daya manusia dalam melaksanakan kegiatan

Klinik Sanitasi (pelatihan, seminar, studi banding) 3. Peran Puskesmas dan Masyarakat a.

Peran Puskesmas Puskesmas adalah unit terdepan dalam pelaksanaan pembangunan

kesehatan di wilayah kerjanya. Pembangunan kesehatan meliputi pembangunan yang

berwawasan kesehatan, pemberdayaan masyarakat dan keluarga, serta pelayanan kesehatan.

Dalam melaksanakan kegiatan klinik sanitasi Puskesmas mempunyai tugas dan fungsi

sebagai berikut: 1) Menyelenggarakan pelaksanaan dan penilaian kegiatan Klinik Sanitasi di

dalam maupun di luar gedung Puskesmas. 2) Melakukan pengumpulan pengolahan dan

analisis data tentang kualitas lingkungan (data sarana air bersih dan sanitasi), penyakit

berbasis lingkungan dll. 3) 4) Pengawasan, penilaian dan perbaikan kualitas lingkungan.

Mencari menggali dan mengelola sumber pembiayaan yang berasal dari pemerintah,

masyarakat, swasta, dan sumber lain untuk kegiatan Klinik Sanitasi.


5) Melakukan pencegahan dan penanggulangan pada kasus-kasus penyakit berbasis

lingkungan. 6) Memberikan pelatihan dan bantuan teknis (pemanfaatan, pemeliharaan dan

perbaikan) bagi tokoh-tokoh masyarakat, kader, swasta, dsb. 7) Menyiapkan tenaga, ruang

klinik sanitasi/bengkel sanitasi dan peralatannya termasuk pengadaan media penyuluhan. 8)

9) Melakukan pembinaan masyarakat melalui penyuluhan dan konseling, dll.

Mendayagunakan tenaga lapangan PPM & PL dan bidan di desa untuk mendukung kegiatan

klinik sanitasi. 10) Koordinasi dengan lintas program dan lintas sektor dalam kegiatan Klinik

Sanitasi termasuk membina kemitraan dengan unsur terkait (LSM, Pengusaha, swasta, PKK,

Pramuka) di wilayahnya. 11) Melakukan pencatatan dan pelaporan tentang pelaksanaan

Klinik Sanitasi. b. Peran Masyarakat Masyarakat melalui kelompok-kelompok masyarakat

seperti Lembaga Pemberdayaan Masyarakat, Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK),

tokoh masyarakat, dan tokoh agama, juga mempunyai tugas dan fungsi dalam upaya

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui Klinik Sanitasi sebagai berikut: 1) 2)

Membina keluarga binaan Ikut serta melakukan inventarisasi data sarana kesehatan

lingkungan: jamban, air bersih, limbah, perumahan, dan lain sebagainya. 3) Menggali dan

memanfaatkan sumber daya setempat untuk kepentingan intervensi kesehatan lingkungan. 4)

Melakukan pengorganisasian dan pendanaan masyarakat untuk upaya meningkatkan kualitas

lingkungan. 5) Mengembangkan cara penilaian dan pemantauan oleh masyarakat sendiri.


IX. HAMBATAN, TANTANGAN DAN PELUANG 1. Hambatan Beberapa hambatan yang

mungkin dijumpai dalam pelaksanaan Klinik Sanitasi : a. Masih terbatasnya tenaga

Puskesmas untuk melaksanakan klinik sanitasi, termasuk terbatasnya tenaga dengan latar

belakang pendidikan kesehatan lingkungan di Puskesmas sebagai tenaga Klinik Sanitasi.

Kegiatan Klinik Sanitasi belum menjadi prioritas bagi Puskesmas. b. Terbatasnya jangkauan

petugas klinik sanitasi untuk membina desa yang berada dalam wilayah Puskesmas (ratio

Puskesmas desa : 9,6) hal ini disebabkan oleh berbagai hal antara lain jumlah desa, luas

wilayah, kondisi geografis dan terbatasnya sarana transportasi. c. Terbatasnya dana yang

berasal dari APBN, APBD Provinsi, APBD Kabupaten/Kota dan masyarakat untuk kegiatan

klinik sanitasi. 2. Peluang Beberapa peluang yang mungkin ditemui antara lain : a. Adanya

dana operasional di Puskesmas yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan klinik sanitasi. b.

Penyakit berbasis lingkungan masih mendominasi kasus yang terjadi. c. Adanya mekanisme

mini lokakarya di Puskesmas yang dapat digunakan untuk pengembangan dan koordinasi

kegiatan klinik sanitasi d. Pendayagunaan tenaga kesehatan lingkungan yang saat ini bekerja

di luar bidang tugasnya untuk pelaksanaan Klinik Sanitasi. e. Adanya program sektor lain

yang terkait dialokasikan di desa yang dapat menunjang kegiatan Klinik Sanitasi. f. Semakin

meningkatnya partisipasi masyarakat di bidang pembangunan di desa akibat dari

pemberdayaan masyarakat sebagai subyek pembangunan yang diterapkan selama ini. g. Telah

tersedianya alat (water test kit, media penyuluhan) h. Penerapan paradigma sehat yang selaras

dengan pelaksanaan Klinik Sanitasi.


X. KRITERIA KEBERHASILAN Keberhasilan pelaksanaan Klinik Sanitasi ini dapat

ditunjukkan dengan beberapa indikator: 1. Langsung a. Meningkatnya kunjungan klien dan

menurunnya kunjungan pasien Klinik Sanitasi b. Meningkatnya cakupan dan jumlah sarana

air bersih dan sanitasi yang memenuhi syarat dari swadaya masyarakat. c. Meningkatnya

kunjungan petugas Klinik Sanitasi ke rumah pasien/klien. 2. Tak Langsung a. Menurunnya

angka kejadian penyakit yang berbasis lingkungan seperti Diare / Cacingan / Penyakit Kulit,

ISPA / TB-Paru, Demam Berdarah, Malaria, Penyakit akibat kerja, penyakit saluran

pencernaan dan keracunan. b. Terciptanya hubungan dan kerjasama yang baik antara lintas

program dan lintas sektor di wilayah kerja Puskesmas.


XI. PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI 1. Pencatatan a. Petugas Klinik

Sanitasi mencatat kegiatan-kegiatan yang dikerjakan baik dalam gedung maupun luar

gedung, dalam format pencatatan Klinik Sanitasi (register, kartu status kesehatan). Kartu

Status Kesehatan Lingkungan, Kartu Rumah dan formulir lain yang diperlukan. b. Petugas

Klinik Sanitasi mengolah data kegiatan di dalam dan luar gedung. c. Petugas Klinik Sanitasi

membuat penyajian/visualisasi data dalam bentuk peta, grafik atau tabel yang diperbaharui

secara periodik (bulanan, kuartalan, dan tahunan). 2. Pelaporan a. Puskesmas yang

melaksanakan kegiatan ini melaporkannya kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, sesuai

format yang telah ada. b. Laporan diberikan secara periodik (bulanan, kuartalan, dan

tahunan). 3. Pemantauan dan Penilaian a. Pemantauan untuk mengetahui hambatan serta

peluang dilaksanakan tiap bulan saat mini lokakarya Puskesmas, yang akan dipakai untuk

perbaikan pelaksanaan Klinik Sanitasi sebagai bahan untuk peningkatan kinerja petugas

Klinik Sanitasi. b. Evaluasi dilaksanakan secara lintas program/lintas sektor pada akhir tahun

yang hasilnya dapat digunakan untuk penyusunan program kerja tahun berikutnya.
XII. PERANAN BERBAGAI PIHAK DALAM TINDAK LANJUT PERBAIKAN

KUALITAS LINGKUNGAN Berbeda dengan masalah penyakit yang timbul akibat

lingkungan yang tidak sehat yang dapat diatasi/ditangani sektor kesehatan sendiri mulai dari

penemuan kasus sampai pada pengobatan sehingga penderita memperoleh kesembuhan,

namun untuk faktor lingkungan tidak dapat ditangani sendiri oleh sektor kesehatan. Dalam

hal ini diperlukan peran dari berbagai pihak untuk memperbaiki kualitas, sebab bilamana

kualitas lingkungan tidak diperbaiki, akan berpengaruh terhadap kesembuhan penyakit yang

dialami penderita. Perwujudan dalam pelaksanaan perbaikan kualitas lingkungan dapat

dilakukan melalui pertemuan/rapat koordinasi pembangunan baik di kabupaten/kota atau

kecamatan.