Anda di halaman 1dari 8

Penataan Kehidupan Politik dan Ekonomi Masa Orde Baru

January 11, 2016iisduasmansa

Pembentukan Kabinet Pembangunan

Kabinet pertama pada masa peralihan kekuasaan adalah Kabinet Ampera


dengan tugasnya Dwi Darma Kabinat Ampera, yaitu menciptakan stabilitas
politik dan stabilitas ekonomi sebagai persyaratan untuk melaksanakan
pembangunan nasional. Program Kabinet Ampera terkenal dengan nama
Catur Karya Kabinet Ampera, antara lain sebagai berikut :

1. Memperbaiki kehidupan rakyat terutama di bidang sandang dan pangan


2. Melaksanakan pemilihan umum dalam batas waktu yang ditetapkan, yaitu
tanggal 5 Juli 1968
3. Melaksanakan politik luar negeri yang bebas aktif untuk kepentingan
nasional
4. Melanjutkan perjuangan anti imperialisme dan kolonialisme dalam segala
bentuk dan manifestasinya

Setelah MPRS pada tanggal 27 Maret 1968 menetapkan Soeharto sebagai


presiden RI untuk masa jabatan lima tahun, maka dibentuklah Kabinet
Pembangunan dengan tugasnya yang disebut Panca Krida, meliputi:

1. Menciptakan stabilitas politik dan ekonomi


2. Menyusun dan melaksanakan Pemilihan Umum ekonomi
3. Mengikis habis sisa-sisa Gerakan 30 September
4. Membersihkan aparatur Negara di pusat dan daerah dari pengaruh PKI.
5. Pembubaran PKI dan Organisasi massanya

Dalam rangka menjamin keamanan, ketenangan, serta stabilitas pemerintahan,


Soeharto sebagai pengemban Supersemar telah mengeluarkan kebijakan.

1. Membubarkan PKI pada tanggal 12 Maret 1966 yang diperkuat dengan


Ketetapan MPRS No IX/MPRS/1966
2. Menyatakan PKI sebagai organisasi terlarang di Indonesia
3. Pada tanggal 8 Maret 1966 mengamankan 15 orang menteri yang dianggap
terlibat Gerakan 30 September 1965.

Penyederhanaan Partai Politik

Pada tahun 1973 setelah dilaksanakan pemilihan umum yang pertama pada
masa Orde Baru, pemerintah melakukan penyederhaan dan penggabungan
(fusi) partai- partai politik menjadi tiga kekuatan sosial politik. Penggabungan
partai-partai politik tersebut tidak didasarkan pada kesamaan ideologi, tetapi
lebih atas persamaan program. Tiga kekuatan sosial politik itu adalah :

1. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang merupakan gabungan dari NU,


Parmusi, PSII, dan PERTI
2. Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang merupakan gabungan dari PNI,
Partai Katolik, Partai Murba, IPKI, dan Parkindo
3. Golongan Karya

Penyederhanaan partai-partai politik ini dilakukan pemerintah Orde Baru


dalam upaya menciptakan stabilitas kehidupan berbangsa dan bernegara
setelah adanya perpecahan yang terjadi dimasa Orde Lama karena perbedaan
ideologi politik dan ketidakseragaman persepsi serta pemahaman Pancasila
sebagai sumber hukum tertinggi di Indonesia.

Pemilihan Umum

Selama masa Orde Baru pemerintah berhasil melaksanakan enam kali


pemilihan umum, yaitu tahun 1971, 1977, 1985, 1987, 1992, dan 1997. Dalam
setiap Pemilu yang diselenggarakan Golkar selalu memperoleh mayoritas
suara dan memenangkan Pemilu.

Pada Pemilu 1997 yang merupakan pemilu terakhir masa pemerintahan Orde
Baru, dimana Golkar memperoleh 74,51 % dengan perolehan 325 kursi di
DPR, PPP memperoleh 5,43 %dengan peroleh 27 kursi, dan PDI hanya
mendapat11 kursi.

Penyelenggaraan Pemilu yang teratur selama masa pemerintahan Orde Baru


telah menimbulkan kesan bahwa demokrasi di Indonesia telah berjalan
dengan baik. Apalagi Pemilu berlangsung dengan asas LUBER (langsung,
umum, bebas, dan rahasia). Namun dalam kenyataannya Pemilu diarahkan
untuk kemenangan salah satu kontrestan Pemilu yaitu Golkar. Kemenangan
Golkar yang selalu mencolok sejak Pemilu 1971 sampai dengan Pemilu 1997
menguntungkan pemerintah di mana perimbangan suara di MPR dan DPR
didominasi oleh Golkar. Keadaan ini telah memungkinkan Soeharto menjadi
Presiden Repupublik Indonesia selama enam periode, karena pada masa Orde
Baru presiden dipilih oleh anggota MPR. Selain itu setiap
pertanggungjawaban, Rancangan Undang-Undang, dan usulan lainnya dari
pemerintah selalu mendapat persetujuan MPR dan DPR tanpa catatan.

Peran Ganda (Dwi Fungsi) ABRI


Untuk menciptakan stabilitas politik, pemerintah Orde Baru memberikan
peran ganda kepada ABRI, yaitu peran Hankam dan sosial. Peran ganda
ABRI ini kemudian terkenal dengan sebutan Dwi Fungsi ABRI. Timbulnya
pemberian peran ganda pada ABRI karena adanya pemikiran bahwa TNI
adalah tentara pejuang dan pejuang tentara. Kedudukan TNI dan POLRI
dalam pemerintahan adalah sama. Di MPR dan DPR mereka mendapat jatah
kursi dengan cara pengangkatan tanpa melalui Pemilu. Pertimbangan
pengangkatan anggota MPR/DPR dari ABRI didasarkan pada fungsinya
sebagai stabilitator dan dinamisator.

Pedomanan Pengahayatan dan Pengamalan Pancasila (P4)

Pada tanggal 12 April 1976 Presiden Soeharto mengemukakan gagasan


mengenai pedoman untuk menghayati dan mengamalkan Pancasila, yang
terkenal dengan nama Ekaprasatya Pancakarsa atau Pedomanan Pengahayatan
dan Pengamalan Pancasila (P4). Untuk mendukung pelaksanaan Pancasila dan
Undang-undang Dasar 1945 secara murni dan konsekuen, maka sejak tahun
1978 pemerintah menyelenggarakan penataran P4 secara menyeluruh pada
semua lapisan masyarakat. Dengan tujuan membentuk pemahaman yang sama
mengenai demokrasi Pancasila, sehingga dengan adanya pemahaman yang
sama terhadap Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 diharapkan
persatuan dan kesatuan nasional akan terbentuk dan terpelihara. Melalui
penegasan tersebut opini rakyat akan mengarah pada dukungan yang kuat
terhadap pemerintah Orde Baru.

Dan sejak tahun 1985 pemerintah menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal
dan kehidupan berorganisasi. Semua bentuk organisasi tidak boleh
menggunakan asasnya selain Pancasila. Menolak Pancasila sebagai sebagai
asas tunggal merupakan pengkhianatan terhadap kehidupan berbangsa dan
bernegara. Dengan demikian Penataran P4 merupakan suatu bentuk
indoktrinasi ideologi, dan Pancasila menjadi bagian dari sistem kepribadian,
sistem budaya, dan sistem sosial masyarakat Indonesia. Pancasila merupakan
prestasi tertinggi Orde Baru, dan oleh karenanya maka semua prestasi lainnya
dikaitkan dengan nama Pancasila. Mulai dari sistem ekonomi Pancasila, pers
Pancasila, hubungan industri Pancasila, demokrasi Pancasila, dan sebagainya.
Dan Pancasila dianggap memiliki kesakralan (kesaktian) yang tidak boleh
diperdebatkan.

Penataan Politik Luar Negeri

Pada masa Orde Baru politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif kembali
dipulihkan. MPR mengeluarkan sejumlah ketetapan yang menjadi landasan
politik luar negeri Indonesia. Pelaksanaan politik luar negeri Indonesia harus
didasarkan kepada kepentingan nasional, seperti pembangunan nasional,
kemakmuran rakyat, kebenaran, serta keadilan.

Kembali menjadi anggota PBB

Pada tanggal 28 Desember 1966 Indonesia kembali menjadi anggota


Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Keputusan tersebut dikarenakan
pemerintah sadar bahwa banyak manfaat yang diperoleh Indonesia selama
menjadi anggota pada tahun 1955-1964. Kembalinya Indonesia menjadi
anggota PBB disambut baik oleh negara-negara Asia lainnya bahkan oleh
PBB sendiri. Hal ini ditunjukkan dengan dipilihnya Adam Malik sebagai
Ketua Majelis Umum PBB untuk masa sidang tahun 1974. Selain itu
Indonesia juga memulihkan hubungan dengan sejumlah negara seperti India,
Thailand, Australia, dan negara-negara lainnya yang sempat renggang akibat
politik konfrontasi Orde Lama.

Normalisasi Hubungan dengan Negara lain

1. a) Pemulihan Hubungan dengan Singapura

Dengan perantara Dubes Pakistan untuk Myanmar, Habibur Rachman,


hubungan Indonesia dengan Singapura berhasil
dipulihkan kembali.Pada tanggal 2 Juni 1966 pemerintah Indonesia
menyampaikan nota pengakuan atas Republik Singapura kepada Perdana
Menteri Lee Kuan Yew dan pemerintah Singapura menyampaikan nota
jawaban kesediaan untuk mengadakan hubungan diplomatik dengan
Indonesia.

1. b) Pemulihan Hubungan dengan Malaysia

Pembangunan nasional masa orde baru tahun 1968, tepatnya tanggal 21-30
Maret diadakan Sidang Umum MPRS yang menetapkan antara lain:

1. Jenderal Soeharto diangkat sebagai Presiden RI.


2. Akan dibentuk Kabinet Pembangunan.

Sebagai pelaksanaan Ketetapan MPRS 1968, dibentuklah Kabinet


Pembangunan I. Kabinet ini melaksanakan 5 macam program yang disebut
Pancakrida. Yang isinya:

1. Menciptakan ketenangan politik


2. Menyusun dan merencanakan Repelita (Rencana Pembangunan Lima
Tahun).
3. Melaksanakan Pemilihan Umum.
4. Mengadakan pembersihan aparatur negara.
5. Mengikis habis sisa-sisa G 30 S/PKI dan penyeleweng-penyeleweng
Pancasila.

Pancakrida Kabinet Pembangunan I tersebut ternyata dapat dilaksanakan


dengan baik. Stabilitas politik dapat diciptakan. Pembersihan sisa-sisa
pemberontak G 30 S/PKI juga dapat dilaksanakan dengan baik, termasuk
menanggulangi penyeleweng-penyeleweng Pancasila.

Dengan modal stabilitas nasional itulah pembangunan di segala bidang dapat


dilaksanakan. Pada tanggal 1 April 1969 dimulai Pembangunan Lima Tahun
(Pelita) tahap I. Pelita tahap I ini meletakkan titik berat pada sektor pertanian
dan industri yang mendukung sektor pertanian.

Pada tanggal 3 Juli 1971 pemerintah melaksanakan Pemilu II untuk


memilih anggota DPR RI dan menetapkan MPR. Anggota MPR ini dilantik
pada tanggal 1 Oktober 1972. Sebagai ketuanya terpilih K.H. Idham
Kholid. Hal ini merupakan bukti pembangunan di bidang politik.

Bulan Maret 1973 MPR mengadakan sidang. Keputusan penting yang


dihasilkan antara lain:

1. Menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).


2. Jenderal Soeharto terpilih sebagai Presiden RI dan Sri Sultan Hamengku
Buwono IX sebagai Wakil Presiden, periode tahun 1973-1978.

Setelah itu Presiden menyempurnakan susunan kabinet sehingga lahirlah


Kabinet Pembangunan II. Tugasnya melaksanakan tujuh program yang
disebut Saptakrida. Beberapa kridanya antara lain:

1. Meningkatkan dan memelihara stabilitas ekonomi.


2. Meneruskan pelaksanaan tahun kelima Pelita I dan melaksanakan Pelita II.
3. Menyelenggarakan Pemilu yang ke-3.

Dalam kegiatan pembangunan, sasarannya sudah mulai ditingkatkan. Adapun


sasaran dari Pelita II adalah meletakkan titik berat pada sektor pertanian
dengan meningkatkan industri yang mengolah bahan mentah menjadi bahan
baku.

Dalam rangka melaksanakan Saptakrida Kabinet Pembangunan II, telah


dilaksanakan Pemilihan Umum III pada tanggal 2 Mei 1977. Terbentuklah
kemudian DPR RI dan MPR. H. Adam Malik terpilih sebagai ketua MPR.
Kemudian pada tanggal 11-23 Maret 1978 diadakan Sidang Umum MPR,
yang hasilnya sebagai berikut:

1. Menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara tahun 1978-1983.


2. Menetapkan Jenderal Soeharto sebagai Presiden RI dan H. Adam Malik
sebagai wakil presiden.

Tanggal 29 Maret 1978, Presiden mengumumkan susunan Kabinet


Pembangunan III. Kabinet Pembangunan ini dibebani lima tugas pokok, yaitu:

1. Melanjutkan pelaksanaan tahun kelima Pelita II.


2. Menyusun Repelita III sesuai dengan Tap MPR No.IV/MPR/1978.
3. Melaksanakan Pelita III sampai tahun keempat dan menyiapkan tahun
terakhirnya berupa APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara)
tahun terakhir Pelita III.
4. Melaksanakan Tap MPR No.II/1978, tentang P4.
5. Melaksanakan Tap MPR No.II/1978, tentang Pemilu yang harus
dilaksanakan selambat-lambatnya tahun 1982.

Di dalam kegiatan pembangunan, telah memasuki Pelita ke-3. Pelita ini


ditekankan pada sektor pertanian yang menuju swasembada pangan dan
meningkatkan industri yang mengolah bahan baku menjadi barang jadi.
Adapun tujuan sasaran tersebut, diantaranya yang termasuk dalam Trilogi
pembangunan, yakni:

1. Terciptanya keadaan dan suasana yang makin menjamin tercapainya


keadilan sosial bagi seluruh rakyat dengan makin meratakan pembangunan
dan hasil-hasilnya (unsur pemerataan).
2. Terlaksananya pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi (unsur
pertumbuhan/peningkatan).
3. Terpeliharanya stabilitas nasional yang makin mantap (unsur stabilitas).

Selanjutnya untuk mewujudkan tugas pokok atau Pancakrida Kabinet


Pembangunan III, maka pada tanggal 3 Mei 1982 telah dilaksanakan
Pemilihan Umum IV. Maka terbentuklah kemudian DPR RI dan MPR.
Terpilih sebagai ketua MPR adalah H. Amirmachmud. Setelah terbentuk,
kemudian pada tanggal 1-11 Maret 1983, MPR itu menetapkan antara lain:

1. Menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara tahun 1983-1988.


2. Menetapkan Jenderal Soeharto sebagai Presiden RI dan Jenderal Umar
Wirahadikusumah sebagai Wakil Presiden.

Setelah itu, Presiden Soeharto membentuk Kabinet Pembangunan IV. Kabinet


ini yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pembangunan berikutnya.
Sehubungan dengan itu, maka tugas pokok dari kabinet ini sebagaimana
tercantum pada Pancakrida Kabinet Pembangunan IV adalah:

1. Meningkatkan Trilogi Pembangunan yang didukung oleh ketahanan


nasional yang makin mantap.
2. Meningkatkan pendayagunaan aparatur negara menuju terwujudnya
pemerintahan yang bersih dan berwibawa.
3. Meningkatkan pemasyarakatan ideologi Pancasila dalam mengembangkan
Demokrasi Pancasila dan P4 dalam rangka memantapkan persatuan dan
kesatuan bangsa.
4. Meningkatkan pelaksanaan politik luar negeri yang bebas aktif untuk
kepentingan nasional.
5. Terlaksananya Pemilihan Umum yang langsung, umum, bebas dan rahasia
dalam tahun 1987.

Dalam kegiatan pembangunan, telah dimulai tahapan Pelita IV. Tujuan dari
Pelita ini adalah :

1. Untuk meningkatkan taraf hidup, kecerdasan dan kesejahteraan seluruh


rakyat yang makin merata dan adil.
2. Meletakkan landasan yang kuat untuk tahap pembangunan berikutnya.

Sesuai dengan tujuan itu maka pada Pelita IV lebih menekankan pada
pembangunan bidang ekonomi dengan titik berat pada sektor pertanian untuk
melanjutkan usaha-usaha memantapkan swasembada pangan dan
meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri sendiri,
baik industri berat maupun industri ringan. Hal ini akan dikembangkan terus
pada pelita-pelita berikutnya.

Pelaksanaan Pelita IV sangat penting artinya. Sebab pada Pelita ini justru
diusahakan untuk terciptanya kerangka landasan bangsa Indonesia untuk
tumbuh dan berkembang terus guna memperkokoh landasan tersebut dalam
Pelita V. Dengan ini diharapkan pada Pelita VI, bangsa Indonesia sudah
benar-benar tinggal landas untuk memacu pembangunan menuju terwujudnya
masyarakat adil makmur berdasarkan Pancasila dan Unadang-Undang Dasar
1945.

Demikian beberapa kegiatan pembangunan di segala bidang yang telah


ditempuh oleh pemerintah Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto
pelita demi pelita.