Anda di halaman 1dari 23

AKTIVITAS PENAMBANGAN BATUBARA

DI PT. BARA PRIMA PRATAMA KABUPATAN INDRAGIRI HILIR


RIAU

PROPOSAL KERJA PRAKTEK

Disusun untuk memenuhi kurikulum

Semester VI Jurusan Teknik Pertambangan

Disusun oleh :

1. Jennies Robert Sitorus 14.286.0012

2. Wilberd Pauzi Habehaan 14.286.0031

3. Untal Effendi Simamora 14.286.0036

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN

FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL

INSTITUTS SAINS DAN TEKNOLOGI TD. PARDEDE

MEDAN

2016

1
AKTIVITAS PENAMBANGAN BATUBARA

DI PT. BARA PRIMA PRATAMA KABUPATAN INDRAGIRI HILIR


RIAU

PROPOSAL KERJA PRAKTEK

Disahkan Oleh : Disetujui :

Fakultas Teknologi Mineral Jurusan Teknik Pertambangan

Dekan, Ketua Jurusan,

Saloom H.Siaahan ,ST,MT Analiser Halawa, ST., MT

NIDN: 9901003394 NIDN: 112017503

2
A. JUDUL
AKTIVITAS PENAMBANGAN BATUBARA
DI PT. BARA PRIMA PRATAMA KABUPATAN INDRAGIRI HILIR
RIAU

B. LATAR BELAKANG

Memaasuki era baru penerapan perdagangan bebas kawasan Asia Tenggara atau

Masyarakat Ekonomi ( MEA ) ,sumber daya manusia memiliki kemampuan daya

saing realisasi pasar bebas di Asia Tenggara menyebabkan persaingan di bursa tenaga kerja

akan semakin meningkat menjelang pemberlakuannya pada akhir 2018 mendatang , Bukan

hanya persaingan Tenaga kerja dari Asia Tenggara ,oleh karena itu mahasiswa Teknik

Pertambangan Umum, dituntut untuk menjadi sumber daya yang berkompeten dan terampil

dan memiliki intregitas di bidang pertambangan.

Perkembangan ilmu dan kemajuan dalam bidang teknologi dan informasi membuat

kebutuhan sumber daya yang berkualitas juga semakin meningkat. Untuk menjadi sumber

daya manusia yang terampil dan berkompeten tidak cukup dari ilmu yang dipelajari di

bangku perkuliahan saja, tetapi dengan pengaplikasikan ke dalam dunia pertambangan yang

sebenarnya.

Oleh karena itu, Progran Studi Pertambangan Institut Sains Dan TD.Pardede Medan

memasukkan kegiatan praktik kerja praktek lapangan dalam kurikulum wajib untuk mencapai

predikat Ahli Madya dengan bobot dua SKS.

3
Praktik kerja lapangan merupakan bentuk implementasi dari ilmu yang kita dapat di bangku

kuliah yang berguna menambah pengalaman dan wawasan untuk menjadi seorang ahli yang

profesional. Selain itu mahasiswa juga dapat berpatisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang ada

dalam industri pertambangan.

Dengan adanya praktik kerja lapangan ini diharapkan mahasiswa dapat melihat langsung

berbagai permasalahan yang umumnya terjadi di industri pertambangan batubara dan lainnya.

Selain itu juga dapat menerapkan ilmu yang di pelajari dan dapat terlibat langsung di dalam

menganalisis permasalahn yang terjadi dalam dunia pertambangan.

Berdasarkan uraian di atas, maka kami mengajukan permohonan untuk melakukan praktik

kerja lapangan di PT.Bukit Asam (persero) Tbk.

C. TUJUAN DAN MANFAAT

1 TUJUAN PRAKTEK DAN KERJA LAPANGAN

Adapun tujuan kerja praktek lapangan adalah :

1. Untuk memenuhi persyaratan kelulusan kerja praktek Jurusan Teknik Pertambangan

umum Institut Sains Dan Teknologi TD.Pardede Medan.

2. Agar dapat mengetahui dan memahami proses kegiatan penambangan batubara di

PT. Bara prima pratama riau.

3. Agar dapat mengaplikasikan keilmuan yang dimiliki di bidang Teknik Pertambangan

Umum secara langsung di lapangan.

4. Dapat mengembangkan wawasan dibidang Pertambangan Umum ,sehingga akan

memberikan pengalaman kerja yang berharga sebagai calon tenaga ahli di bidang

Pertambangan umum supaya siap pakai di dunia kerja.

4
5. Mendapatkan penjelasan dan uraian tentang pekerjaan apa yang dilakukan pada

alat/unit/sistem eksplotasi dan produksi.

2. MANFAAT PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Adapun manfaat yang diharapkan dari kerja praktek lapangan adalah :

1. Mahasiswa dapat mengetahui dan memaha mi proses kegiatan penambangan batu

bara di PT.Bukit Asam (persero) Tbk.

2. Mahasiswa dapat mengaplikasikan keilmuan yang dimiliki di bidang Teknik

Pertambangan Batubara yang langsung ke lapangan.

3. Mahasiswa dapat mengembangan wawasan dibidang Pertambangan Batubara

sehingga akan memberikan pengalaman kerja yang berharga.

4. Mahasiswa dapat memahami dan menggambarkan sistem kerja alat yang digunakan

di lokasi tambang tempat mahasiswa melakukan praktik kerja lapangan.

5. Mahasiswa dapat mengetahui gambaran yang jelas tentang sistem penambangan

batubara di PT Bukit Asam ( Persero ) Tbk.

D. PERMASALAHAN

Bagaimana proses meningkatkatkan produksi batubara dengan meningkatkan


kemampuan alat dan manajemen alat.

E. BATASAN MASALAH

Dalam pengamatan ini batasan masalah dimulai dengan metode pengamatan


langsung di lapangan pada kegiatan-kegiatan yang dianggap dapat mempengaruhi
peningkatan produksi. Batasan masalah ini hanya mengamati aktivitas penambangan
untuk meningkatkan produksi batubara, baik dengan tinjauan langsung maupun tak
langsung.

5
F. MANFAAT KERJA PRAKTEK

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

Menerapkan ilmu pengetahuan yang didapat selama perkuliahan secara


langsung dilapangan dan membandingkannya dengan keadaan dilapangan.
Terjalinya kerjasama yang baik antara perguruan tinggi dengan pihak
perusahaan, terutama adalah Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas
Teknologi Mineral Institut Sains dan Teknologi TD. Pardede ( ISTP ) Medan.

G. METODE KERJA PRAKTEK

Metode penulisan yang digunakan dalam penyususan Laporan kerja praktek ini
adalah :
1. Pengambilan data
a. Data primer, yaitu data yang dikumpulkan dengan melakukan pengamatan
langsung di lapangan meliputi aktifitas sampling, coal cleaning, coal getting,
pengamatan ROM stockpile.
b. Data sekunder, yaitu data yang dikumpulkan berdasarkan literatur dan referensi
meliputi data geologi dan data pendukung lainnya.
2. Pengolahan Data
Data yang telah diperoleh diolah dengan menggunakan perhitungan dan
penggambaran, selanjutnya disajikan dalam bentuk tabel atau perhitungan
penyelesaian.

6
H. TEMPAT DAN WAKTU PELAKSAAN

I. 1 TEMPAT PELAKSAAN

Nama Instansi/Perusahaan : PT.Bara PrimaPratama.

Alamat Perusahaan : Jln. Lintas Timur Desa selensen Kab. Indragiri Hilir Riau

I. 2 WAKTU PELAKSAAN

Sesuai dengan permohonan praktik lapangan di PT Bukit Asam (Persero) Tbk, kami
berencaan akan melakukan praktik kerja lapangan dari tanggal 25 Juli s.d Agustus 2017,
dengan ketentuan jadwal sebagai berikut :

Minggu ke
No.
1 2 3 4
1. Orientasi Lapangan Kegiatan Pertambangan y - - -
PT.Bukit Asam (persero) Tbk.
2. Obseevasi dan Pengambilan Data y y -
3. Penulisan laporan - - y

Keterangan :

Y = Tahap pelaksanaan pada saat melakukan kerja lapangan

7
I. LANDASAN TEORI

1. Pengertian Batubara

Batubara adalah benda padat berwarna coklat hingga hitam, kekerasannya kurang dari
3 skala mohs disebut Paytogenous rock atau batuan berasal dari diagnesia tumbuhan
(flora) sebagai mineral energy berupa batuan yang dapat dibakar membara dan memberikan
energi panas berkomposisi organik maseral sedikit mineral dengan penyusun unsur utama
yaitu karbon (C), serta sedikit unsur oksigen (O), hidrogen (H), dan nitrogen (N). Sifat kimia
berbagai jenis batubara ditentukan oleh jenis dan jumlah unsur kimia yang terkandung dalam
tumbuh-tumbuhan asalnya.

Adapun beberapa unsur dan kondisi yang menyebabkan suatu tumbuh-tumbuhan itu
bisa berubah menjadi batubara antara lain yaitu:

- Bakteri pembusuk

- Temperatur

- Waktu

- Tekanan

Waktu pemanasan juga merupakan hal yang berpengaruh terhadap tingkat


pematangan batubara, dimana waktu pemanasan yang lebih lama akan menghasilkan tingkat
pematangan batubara yang lebih tinggi. Oleh karena itu batubara yang berumur lebih tua akan
mempunyai tingkat pembatubaraan (Coalitification) yang lebih tinggi.

Tekanan juga merupakan pengaruh terhadap proses pematangan batubara, hanya saja
pengaruhnya relative kecil bila dibandingkan dengan temperatur dan waktu dalam hal ini
tekanan hanya berfungsi untuk memadatkan bahan organik dan menekan keluar kandungan
air yang ada di dalam batubara.

8
2. Cara Terbentuknya Batubara

Batubara terbentuk sisa-sisa tumbuhan yang sudah mati dengan cara yang sangat
kompleks dan memerlukan waktu yang sangat lama (puluhan sampai ratusan juta tahun)
yang dipengaruhi oleh proses fisika dan kimia ataupun keadaan geologi. Komposisi kimia
batubara hampir sama dengan komposisi kimia jaringan tumbuhan, keduanya mengandung
unsur utama yang terdiri dari unsur C, H, O, N, S, P. hal ini mudah cdimengerti karena
batubara terbentuk dari jaringan tumbuhan yang telah mengalami proses pembatubaraan
(coalification).

3. Tempat Terbentuknya Batubara

Berdasarkan tempat terbentuknya batubara, maka ada dua teori yang menjelaskan
tentang terbentuknya batubara dialam ini yaitu: teori insitu dan teori drift (Krevelan, 1993).

a. Teori Insitu

Teori insitu menjelaskan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan batubara terbentuknya


ditempat dimana tumbuh-tumbuhan tersebut mati, namun belum mengalami proses
transportasi segera tertutup oleh lapisan sedimen dan mengalami proses coalification.

b. Teori Drift

Teori ini menjelaskan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan batubara terjadi di tempat
yang berbeda dengan tempat tumbuhan semula hidup dan berkembang atau lapisan
batubara yang terbentuk jauh dari tumbuh-tumbuhan asal itu berada.

9
4. Proses Pembentukan Batubara

Batubara berasal dari sisa tumbuhan yang mengalami proses pembusukan, pemadatan
yang telah tertimbung oleh lapisan diatasnya, pengawetan sisa-sisa tanaman yang dipengaruhi
oleh proses biokimia yaitu pengubahan oleh bakteri. Akibat pengubahan oleh bakteri
tersebut, maka sisa-sisa tumbuhan kemudian terkumpul sebagai suatu masa yang mampat
yang disebut gambut (Peatification) terjadi karena akumulasi sisa-sisa tanaman tersimpan
dalam kondisi reduksi didaerah rawa dengan system draenase yang buruk yang mengakibat
selalu tergenang oleh air, yang pada umumnya mempunyai kedalaman 0,5-1,0 meter. Gambut
yang telah terbentuk lama-kelamaan tertimbung oleh endapan-endapan seperti batu lempung,
batulanau dan batupasir. Dengan jangka waktu puluhan juta tahun sehingga gambut ini akan
mengalami perubahan fisik dan kimia akibat pengaruh tekanan (P) dan temperature (T)
sehingga berubah menjadi batubara yang dikenal dengan oroses pembatubaraan
(Coalitification) pada tahap ini lebih dominan oleh proses geokimia dan proses fisiska.

Proses geokimia dan fisika berpengaruh besar terhadap pematangan batubara yaitu
perubahan gambut menjadi batubara lignit, batubara bituminous, sampai pada batubara jenis
antrasit.

Pematangan bahan organik secara normal terjadi dengan cepat apabila endapannya
terdapat lebih dalam, hal ini disebabkan karena temperatur bumi semakin dalam akan
semakin panas.

10
5. Reaksi Pembentukan Batubara

Batubara terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang sudah mati, komposisi utama terdiri
dari cellulose. Proses pembentukan batubara dikenal sebagai proses pembatubaraan
(coalification). Factor fisika dan kimia yang ada di alam akan mengubah cellulosa menjadi
lignit, subbitumina, bitumina atau antrasit. Reaksi pembentukan batubara adalah sebagai
berikut :

5(C6H10O5) C20H22O4 + 3CH4 + 8H2O + 6CO2 + CO

Cellulose lignit gas metan

Keterangan :

Cellulosa (senyawa organik), merupakan senyawa pembentuk batubara.


Unsur C pada lignit jumlahnya relatif lebih sedikit dibandingkan jumlah unsur C
pada bitumina, semakin baik kualitasnya.
Unsur H pada lignit jumlahnya relatif banyak dibandigkan jumlah unsur H pada
bitumina, semakin banyak unsur H pada lignit semakin rendah kualitasnya.
Senyawa gas metan (CH4) pada lignit jumlahnya relatif lebih sedikit dibandingkan
dengan bitumina, semakin banyak (CH4) lignit semakin baik kualitasnya.

6. Klasifikasi Batubara
a. Berdasarkan Proses Pembentukannya

Peat (Gambut)
Peat atau gambut adalah tumbuh-tumbuhan yang mati dan mengalami pembusukan
dan tercampur dalam paya yang dikenal dengan peat (gambut). Jumlah air dalam
gambut ini sangat besar dan jumlah kandungan air tersebut berkisar antara 80-90 %
ketika baru ditambang.

11
Lignit
Lignit yaitu suatu nama yang digunakan pada tahap pertama lapisan Brown Coal.
Pada umumnya lignit mengandung material kayu yang sedikit mempunyai struktur
yang lebih kompak bila dibandingkan dengan gambut.

Lignit mempunyai warna yang berkisar antara coklat sampai kehitaman, lignit segar
mempunyai kandungan air antara 20-45 % dan nilai bakar 3056-4611 kal/gram,
sedangkan lignit yang bebas air dan abu berkisar antara 5566-111 111 kal/gram.

Batubara Sub Bituminous


Jenis batubara ini berwarna hitam mengkilap dan mempunyai kilapan logam.
Batubara ini saat ditambang kandungan air yang terkandung mencapai 45 % dan
mempunyai nilai kalor bakar sangat rendah, kandungan karbon sedikit, kandungan
abu banyak dan kandungan sulfur yang banyak.

Batubara Bituminous
Batubara bituminous merupakan jenis batubara yang terpenting dan dipakai sebagai
bahan bakar karena memiliki nialai kalor, kandungan karbon yang relatif tinggi,
sedangkan kandungan air, kandungan abu, dan kandungan sulfur yang relatif rendah.
Jenis batubara ini juga digunakan sebagai bahan bakar dalam pembuatan kokas dan
pabrik gas.

Batubara Semi Antrasit


Batubara semi antrasit ini merpakan batubara yang memiliki sifat antara batubara
bitumen yang mempunyai kandungan zat terbang rendah disbanding dengan batubara
antrasit yang mempunyai zat terbang yang tinggi berkisar antara 6-14 %. Batubara ini
mudah terbakar dan warna nyalanya sedikit kekuning-kuningan.

12
Batubara Antrasit
Batubara antrasit biasanya disebut batubara keras (hard coal) penamaan ini
berdasarkan atas dasar kekerasan dan juga kekuatannya antrasit. Batubara antrasit ini
mudah untuk ditambang karena letak lapisan didalam kerak bumi yang tidak pasti,
dimana letak lapisannya kadang-kadang tegak dan kadang-kadang juga vertical
bahkan kadang-kadang juga berlekuk. Sifat barubara ini ditentukan dari derajat kilap
atau warna.

Batubara antrasit mempunyai nilai kalor dan kandungan karbon sangat tinggi dan
memiliki kandungan air atau sulfur yang relative rendah dan kandungan zat terbang
tinggi berkisar antara 8,0 %.

Meta Antrasit
Batubara Meta Antrasit adalah batubara dengan kelas yang sangat tinggi dimana nilai
kalorinya sangat tinggi, berkisar antara 8000-9000 kalori. Kadara air (Water content)
sangat kecil kurang dari 1 %, warna hiam mengkilat, pecahan concoidal, tidak
mengotori tangan bila dipegang, menghasilkan api yang biru bila dibakar, tidak
mengeluarkan asap, tidak berbau, kadar abu dan sulfur juga sangat rendah. Batubara
jenis ini adalah antrasit yang mengalami pengaruh tekanan dan suhu yang tinggi
akibat proses tektonik maupun aktivitas vulkanik yang ada di dekat endapan.

b. Berdasarkan ASTM (American Society for Testing and Material)


Fixed Carbon (Karbon Tetap)
Valatile Matter (Zat Terbang)
Calorific Value (Nilai Panas)

13
7. Tahap - tahap Penambangan Batubara

a. Eksplorasi
Eksplorasi bertujuan untuk menentkan letak, posisi , penyebaran dan kadar yang
terdapat pada batubara rsebut serta factor factor yang diperkirakan dan akan
berpengaruh pada kegiatan penambangan batubara. Eksplorasi ini di mulai dari pembuatan
sumur uji ( test pit ) untuk pengambilan contoh ( sample ), dan contoh atau sample yang
akan diambil kemudian di analisa untuk menentukan kadar dan nilai ekonomis dari
endapan terdebut.

Tahap eksplorasi batu bara umumnya dilaksanakan melalui empat tahap, yakni
survei tinjau, prospeksi, eksplorasi pendahuluan, dan eksplorasi rinci. Tujuan penyelidikan
geologi ini adalah untuk mengindentifikasi keterdapatan, keberadaan, ukuran, bentuk,
sebaran, kuantitas, serta kualitas suatu endapan batu bara sebagai dasar analisis/kajian
kemungkinan dilakukannya investasi. Tahap penyelidikan tersebut menentukan tingkat
keyakinan geologi dan kelas sumber daya batu bara yang dihasilkan. Penghitungan sumber
daya batu bara dilakukan dengan berbagai metoda.diantaranya poligon, penampangan,
isopach, inverse distance, geostatisik, dan lain-lain.

1) Survei Tinjau (Reconnaissance)


Survei tinjau merupakan tahap eksplorasi batu bara yang paling awal dengan tujuan
mengindentifikasi daerahdaerah yang secara geologis mengandung endapan batu bara
yang berpotensi untuk diselidiki lebih lanjut serta mengumpulkan informasi tentang
kondisi geografi, tata guna lahan, dan kesampaian daerah. Kegiatannya, antara lain, studi
geologi regional, penafsiran penginderaan jauh, metode tidak langsung lainnya, serta
inspeksi lapangan pendahuluan yang menggunakan peta dasar dengan skala sekurang-
kurangnya 1:100.000Prospeksi (Prospecting)

Tahap eksplorasi ini dimaksudkan untuk membatasi daerah sebaran endapan batu
bara yang akan menjadi sasaran eksplorasi selanjutnya. Kegiatan yang dilakukan pada
tahap ini, di antaranya, pemetaan geologi dengan skala minimal 1:50.000, pengukuran
penampang stratigrafi, pembuatan paritan, pembuatan sumuran, pemboran uji (scout

14
drilling), pencontohan, dan analisis. Metode eksplorasi tidak langsung, seperti
penyelidikan geofisika, dapat dilaksanakan apabila dianggap perlu.

2) Eksplorasi Pendahuluan ( Preliminary Exploration)


Tahap eksplorasi ini dimaksudkan untuk mengetahui gambaran awal bentuk tiga-
dimensi endapan batu bara yang meliputi ketebalan lapisan, bentuk, korelasi, sebaran,
struktur, kuantitas dan kualitas. Kegiatan yang dilakukan antara lain, pemetaan geologi
dengan skala minimal 1:10.000, pemetaan topografi, pemboran dengan jarak yang sesuai
dengan kondisi geologinya, penampangan (logging) geofisika, pembuatan sumuran/paritan
uji, dan pencontohan yang andal. Pengkajian awal geoteknik dan geohidrologi dimulai
dapat dilakukan.

3) Eksplorasi Rincian (Detailed exploration)


Tahap eksplorasi ini dimaksudkan untuk mengetahui kuantitas dan kualitas serta
model tiga-dimensi endapan batu bara secara lebih rinci. Kegiatan yang harus dilakukan
adalah pemetaan geologi dan topografi dengan skala minimal 1:2.000, pemboran dan
pencontohan yang dilakukan dengan jarak yang sesuai dengan kondisi geologinya,
penampangan (logging) geofisika, serta pengkajian geohidrologi dan geoteknik. Pada
tahap ini perlu dilakukan penyelidikan pendahuluan pada batu bara, batuan, air dan
lainnya yang dipandang perlu sebagai bahan pengkajian lingkungan yang berkaitan
dengan rencana kegiatan penambangan yang diajukan

b. Study Kelayakan Tambang

Merupakan pekerjaan mengevaluasi data dan hasil analisis yang didapatkan pada kegiatan
eksplorasi batubara, dari kegiatan didapatkan apakah kegiatan penambangan batubara
layak di tambang baik secara ekonomis maupun secara teknologi yang ada pada saat ini
atau tidak layak, jika layak maka kegiatan ke tahap selanjutnya akan diteruskan, dan jika
tidak layak maka hasil analisis evaluasi data akan di arsipkan.

15
c. Perencanaan Dan Pembangunan (Development)

Merupakan pekerjaan untuk membuat lubang bukaan ke arah dan di dalam endapan
batubara yang sudah pasti, untuk lanjutan penambangan batubara selanjutnya, kemudian
pembangunan sarana dan prasarana yang mendukung ataupun yang diperlukan dalam
kegiatan aktivitas penambangan batubara.

d. Eksploitasi

Pembersihan lahan ( land clearing )


Pembukaan lokasi penambangan merupakan kegiatan awal untuk mempersiapkan
medan kerja yang baik untuk kegiatan penambangan. Kegiatan pembukaan lokasi
penambangan meliputi pekerjaan pembersihan lahan dari vegetasi ( Land Clearing ),
pengupasan tanah penutup dan Pembersihan lahan dari semak-semak dan pohon
besar ( Clearing ) dengan menggunakan Bulldozer, naik menyusuri bukit kemudian
turun menggusur semak dan pepohonan ke arah bawah dengan memanfaatkan gaya
gravitasi bumi agar tenaga gusur alat menjadi besar. Penanganan pepohonan besar
dipisahkan dari semak-semak dengan tujuan untuk memudahkan pekerjaan
selanjutnya.

Pengupasan lapisan tanah penutup ( overburden )


Pengupasan lapisan tanah penutup dilakukan dengan menggunakan
Excavator,Bulldozer,Dump Truck. Tanah penutup terbagi atas dua yaitu tanah pucuk (
top soil ), dan over burden. Tanah penutup ( top soil ) adalah tanah penutup yang
belum memiliki struktur batuan sedimen. Over burden adalah tanah penutup yang
sudah memiliki struktur batuan sedimen. Pengupasan tanah penutup ini dilakukan
sampai batubara yang akan diambil terlihat ( ter-expose ). Tanah penutup yang telah
dikupas ( disposal ) akan dipindahkan ke tempat penampungan disposal. Setelah
kegiatan pembukaan lokasi tambang dan pembersihan lahan selesai dikerjakan,
selanjutnya yang dilakukan adalah pengupasan lapisan penutup yang terdiri dari tanah
dan batuan. Pada bagian atas Top soil ini kaya dengan unsur hara ( Humus ) tebalnya
sekitar 10 - 30 cm.

16
Untuk lapisan selanjutnya lapisan tanah merah ( Sub Top Soil ). Penggalian dikerjakan
oleh Excavator dan diangkut dengan menggunakan Dump Truck dipindahkan menuju
disposal yang nantinya akan digunakan kembali untuk reklamasi pada daerah bekas
tambang.

Penggalian Batubara ( coal getting )


Penggalian batubara ( coal getting ) adalah proses pengambilan batubara dari dalam
tanah. Pekerjaan ini dilakukan dengan menggunakan alat gali muat Excavator.
Batubara yang telah diambil untuk sementara akan ditumpuk di stock pile dari lokasi
pengambilan dengan menggunakan Dump Truck.

Pemuatan
Pemuatan adalah kegiatan yang dilakukan untuk memasukkan atau mengisikan
material atau endapan bahan galian hasil pembongkaran ke dalam alat angkut.
Kegiatan pemuatan dilakukan setelah kegiatan penggusuran, pemuatan dilakukan
dengan menggunakan alat muat Wheel Loader dan dimuat ke dalam alat angkut Dump
Truck.

Kegiatan pemutan bertujuan untuk memindahkan batubara hasil pembongkaran ke


dalam alat angkut. Pengangkutan dilakukan dengan sistem siklus, artinya Dump Truck
yang telah dimuat langsung berangkat tanpa harus menunggu truck yang lain dan
setelah membongkar muatan langsung kembali ke lokasi penambangan untuk dimuati
kembali.

e. Pengangkutan

Pengangkutan adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengangkut atau membawa


material atau endapan bahan galian dari front penambangan dibawa ke tempat pengolahan
untuk proses lebih lanjut.

Kegiatan pengangkutan menggunakan Dump Truck yang kemudian dibawa ke


tempat pengolahan untuk dilakukan proses peremukan ( Crushing ), jumlah truk yang akan
digunakan tergantung dari banyaknya material batubara hasil pembongkaran yang akan
diangkut.

17
f. Pengolahan

Pengolahan adalah kegiatan yang bertujuan untuk menaikkan kadar atau


mempertinggi mutu bahan galian yang dihasilkan dari tambang sampai memenuhi
persyaratan untuk diperdagangkan atau dipakai sbagai bahan baku untuk bahan industri
lain.

Batubara yang dihasilkan dari tambang ( ROM ) biasanya selain mengandung


mineral berharga yang diinginkan, juga mengandung mineral pengotor (gangue mineral )
sehingga hasil tambang tidak bisa langsung dimanfaatkan atau diperdagangkan. Untuk
menghilangkan mineral pengotor tersebut sehingga hasil tambang dapat dimanfaatkan atau
diperdagangkan, maka dilakukan dengan pengolahan bahan galian ( ore/mineral dressing
). Proses pemisahan antara mineral berharga dengan mineral mineral pengotor
didasarkan kepada perbedaan baik fisik maupun sifat kimia mineral berharga dengan
mineral pengotornya.

Keuntungan lain dari pengolahan bahan galian selain meningkatkan kadar


mutunya, ialah juga mengurangi jumlah volume dan beratnya sehingga dapat mengurangi
jumlah volume dan beratnya sehingga dapat mengurangi ongkos pengangkutannya.

g. Pemasaran
Merupakan tahap akhir, dimana batubara yang telah bersih melalui tahap pengolahan
siap untuk dipasarkan, pihak konsumen akan membeli dengan berbagai macam jenis
batubara dengan nilai kalori yang berbeda.

h. Reklamasi
Reklamasi merupakan pekerjaan pekerjaan yang bertujuan untuk memperbaiki atau
mengembalikan tata lingkungan hidup agar lebih berdaya guna. Usaha ini harus dilakukan
setiap perusahaan pertambangan sesuai peraturan yang berlaku.

18
Dalam pelaksanaannya ada beberapa kesulitan untuk reklamasi daerah bekas tambang
apabila tanpa perencanaan pengelolahan yang baik. Kesulitan tersebut antara lain :

1. Tidak dilakukannya pengamatan terhadap tanah humus sehingga dalam pelaksanaannya


banyak tanah humus yang terbuang.
2. Tidak dilakukannya dengan tuntas sehingga terdapat bekas daerah tambang yang
dibiarkan terbuka untuk beberapa lama karena ada sebagian tanah galian masih tersisa.
3. Kesulitan penentuan lokasi penimbunan tanah penutup.
Beberapa faktor penting yang saling mempengaruhi lingkungan dari kegiatan
pertambangan antara lain penerapan teknologi pertambangan. Kegiatan faktor ini saling
berpengaruh bukan hanya pada lingkungan diluar pertambangan dimana daya dukung
menjadi berkurang, akan tetapi kegiatan penambangan akan mengalami hambatan dalam
kelancara operasinya.

Reklamasi didaerah bekas tambang dilakukan dengan cara pengambilan kembali


tanah penutup ( top soil ) ke bekas daerah penambangan kemudian dilakukan pemupukan
tanah untuk mengembalikan kestabilan dan kesuburan tanah. Sehingga dapat ditanami
tanaman yang lebih produktif bagi penduduk setempat, agar tata lingkungan tidak jauh
berbeda dengan lingkungan sebelumnya maka dipilih bibit sawit dan bibit karet sebagai
tanaman reklamasi.

Kegiatan reklamasi akan dilakukan setelah kegiatan penambangan selesai, dalam


hal ini setelah penambangan pada suatu daerah selesai dilaksanakan, dengan urutan
kegiatan sebagai berikut :

1. Pengupasan lapisan tanah penutup ( top soil ) dilaksanakan.


2. Lapisan tanah penutup ( top soil ) tersebut dikumpulkan pada suatu tempat.
3. Kegiatan penambangan dan pengolahan.
4. Tailing dari proses pengolahan dimasukkan kembali pada blok yang telah
ditambang.

5. Perataan tinggi daerah penambangan dengan daerah sekelilingnya yang tidak


ditambang.
6. Penyebaran lapisan tanah penutup ( top soil ).
7. Penanaman dengan tanaman keras yang cocok dengan daerah tersebut.

19
K. PENUTUP

Demikian Proposal ini kami buat,agar proses selanjutnya dapat berguna sebagai

karangka acuan kerja yang dilakukan oleh kami ( Mahasiswa Program Studi Teknik

Pertambangan Institut sains Dan Teknologi Td.Pardede Medan ). Kami harapkan kiranya

PT.Bara Prima Pratama .Dapat menyetujui dan menerima proposal praktik Kerja Lapangan

( PKL ) ini. Untuk itu kami siap dan bersedia datang ke PT.Bara Prima Pratama. Guna

persetujuan proposal ini.

Atas perhatiannya dan kesediaan PT.Bara Prima Pratama untuk menerima pelaksaan

Praktik Lapangan mahasiswa jurusan teknik pertambangan Institut Sains Dan Teknologi

TD.Pardede ( ISTP ) Medan, kami ucapkan terimakasih.

20
P. DAFTAR PUSTAKA

1. Indonesianto Yanto, Pemindahan Tanah Mekanis UPN Veteran Yogyakarta,


2005.
2. Tibri Tengku, Tambang Terbuka, Teknik Pertambangan Institut Teknologi Medan,
2011.
3. Arif Irwandy, S.Adisoma Gatut. Perencanaan Tambang, Institut Teknologi Bandung,
2005.
4. Supriatna Suhala, M. Arifin, 2001, Ensiklopedi Pertambangan, Edisi 4, Puslitbang
Teknologi dan Batubara.
5. Pegle, R, 1959 Mining Enginering Handbook, John Wiley and Sons, Inc, New York.
6. Crawford, Hustrulid, 1979 Open Pit Mine Planning and Design, SME AIME.

21
L. RENCANA DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR TABEL

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang .


1.2. Maksud dan Tujuan .
1.3. Ruang Lingkup .
1.4. Metodelogi Penelitian

BAB II TINJAUAN UMUM

2.1. Sejarah dan Perkembangan perusahaan


2.2. Lokasi dan Kesampaian Daerah
2.3. Topografi
2.4. Statigrafi .
2.5. Geomorfologi ..
2.6. Vegetasi ..
2.7. Iklim dan Curah Hujan
2.8. Geologi ....
2.9. Ganesa Batubara ..
BAB III AKTIVITAS PENAMBANGAN

3.1. Eksplorasi

3.2 . Penambangan ..

22
3.3. Pencucian ....

3.4. Penimbunan

3.5. Pengapalan

3.6. Produksi dan Ekspor ...

3.7. Program Lingkungan dan Reklamasi ..

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan ..
4.2 Saran ..

23