Anda di halaman 1dari 10

BAB I

LATAR BELAKANG

1.1 Latar Belakang

Salah satu komplikasi terbanyak pada kehamilan ialah terjadinya perdarahan.

Perdarahan pada kehamilan harus selalu dianggap sebagai suatu kelainan yang

berbahaya. Perdarahan dapat terjadi pada setiap usia kehamilan. Perdarahan

pada kehamilan muda sering dikaitkan dengan kejadian abortus, misscarriage dan

early pregnancy loss sedangkan pada kehamilan tua disebut perdarahan antepartum.

Perdarahan antepartum adalah perdarahan pervaginam yang terjadi pada kehamilan

diatas 28 minggu atau lebih. Karena perdarahan antepartum terjadi pada umur

kehamilan diatass 28 minggu maka sering disebut atau digolongkan perdarahan pada

trimester ketiga. Perdarahan setelah kehamilan 28 minggu, biasanya lebih banyak dan

lebih berbahaya daripada sebelum kehamilan 28 minggu; oleh karena itu, memerlukan

penangan yang berbeda. Perdarahan antepartum yang berbahaya umumnya bersumber

pada kelainan plasenta itu sendiri.1

Vasa previa merupakan salah satu penyebab perdarahan antepartum yang

berbahaya. Vasa previa merupakan komplikasi penting dalam obstetri. Keadaan ini

sangat jarang kira-kira 1 dalam 1.000 sampai 5.000 kehamilan. Vasa previa dikaitkan

dengan tingkat mortalitas janin yang tinggi, yang ditimbulkan oleh kehilangan darah

yang hebat (eksanguinasi) dari pembuluh yang robek atau penyumbatan vaskular oleh

bagian presentasi janin. Perdarahan antepartum pada vasa previa menyebabkan angka

kematian janin yang tinggi.1

1
Sangat penting bagi petugas kesehatan untuk mengenali faktor risiko

vasa previa dan mendiagnosa kondisi ini sebelum awal persalinan sehingga syok janin

atau kematian dapat dicegah.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Vasa Previa

Vasa previa adalah keadaan dimana pembuluh darah janin berada

didalam selaput ketuban dan melewati ostium uteri internum untuk

kemudian sampai ke dalam insersinya di tali pusat. Perdarahan terjadi bila

selaput ketuban yang melewati pembukaan serviks robek atau pecah dan

vaskular janin itu pun ikut terputus. 1

3
2.2 Epidemiologi

Keadaan seperti vasa previa ini sangat jarang ditemukan. Dilaporkan

kira-kira 1 dalam 5.000 kehamilan. Perdarahan antepartum pada vasa previa

menyebabkan angka kematian janin yang tinggi (33 sampai 100%). 1

2.3 Etiologi Vasa Previa

Penyebab dari vasa previa belum diketahui secara pasti. 1

2.4 Faktor Resiko Vasa Previa

Terdapat beberapa faktor resiko pada vasa previa:1

1. Plasenta bilobata

2. Plasenta suksenturiata

3. Plasenta letak rendah

4. Kehamilan pada fertilisasi in vitro

5. Kehamilan ganda (terutama triplet)

4
Semua keadaan ini berpeluang lebih besar bahwa vaskular janin dalam selaput

ketuban melewati ostium uteri. Secara teknis keadaan ini dimungkinkan pada dua

situasi yaitu pada insersio velamentosa dan plasenta suksenturiata. Pembuluh darah

janin yang melewati pembukaan serviks tidak terlindung dari bahaya terputus ketika

ketuban pecah dalam persalinan dan janin mengalami perdarahan akut yang banyak.1

2.5 Tanda dan Gejala Klinis Vasa Previa

Tanda dan Gejala klinis pada vasa previa adalah:2, 3

1. Ketuban pecah

2. Perdarahan pervaginam, merah segar dan tidak nyeri.

3. Bunyi jantung janin dapat lambat dan tidak beraturan, menunjukkan adanya

gawat janin. Tidak adanya bunyi jantung janin mengindikasikan eksanguinasi

janin

4. Pembuluh janin dapat terpalpasi pada pemeriksaan vagina. Tidak ditemukan

tanda kehilangan darah maternal.

2.6 Patofisiologi

Seperti diketahui bahwa pembuluh darah insersio velamentosa tali pusat tidak

dilindungi oleh jelly dari Wharton, berada di lapisan amnion dan khorion, sehingga

mudah pecah pada saat ketuban pecah. Darah yang keluar dari pecahnya vasa previa,

berasal dari arteri umbilikalis, sehingga keseluruhannya berasal dari janin. Warna darah

yang keluar berwarna merah segar karena kaya akan oksigen dan nutrisi. Dan yang

pecah terlebih dahulu adalah pembuluh vena umbilikalis.4

5
2.7 Diagnosis

Pada kasus vasa previa jarang terdiagnosa sebelum persalinan namun dapat

diduga jika pada saat antenatal dilakukan pemeriksaan USG dengan Color Doppler

yang dapat memperlihatkan adanya pembuluh darah pada selaput ketuban didepan

ostium uteri internum.5, 6

Bila terduga telah terjadi perdarahan fetal, untuk konfirmasi dibuat pemeriksaan

yang bisa memastikan darah tersebut berasal dari tubuh janin dengan pemeriksaan APT

atau Kleihauer-Betke. Pemeriksaan ini didasari darah janin yang tahan terhadap

suasana alkali. Pemeriksaan yang terbaik adalah elektroforesis.1

Tes APT : uji pelarutan basa haemoglobin. Diteteskan 2 3 tetes larutan basa

kedalam 1 mL darah. Eritrosit janin tahan terhadap pecah sehingga campuran akan tetap

berwarna merah. Jika darah tersebut berasal dari ibu, eritrosit akan segera pecah dan

campuran berubah warna menjadi coklat.2

(apusan darah Kleihauer-Betke darah ibu menunjukkan eritrosit janin)

6
Diagnosa dipastikan pasca salin dengan pemeriksaan selaput ketuban dan

plasenta Seringkali janin sudah meninggal saat diagnosa ditegakkan mengingat bahwa

sedikit perdarahan yang terjadi sudah berdampak fatal bagi janin.

2.8 Diagnosis Banding

Diagnosis banding vasa previa, yaitu:3

1. Harus dibedakan dengan tali pusat terkemuka. Yang mungkin teraba pada

saat pemeriksaan dalam

2. Untuk membedakan keduanya, dilakukan perubahan posisi ibu sehingga

pada tali pusat terkemuka akan menghilang sedangkan pada vasa previa

akan tetap posisinya.

2.9 Penatalaksanaan

Jika kebetulan diagnosis dapat ditegakkan, terapi hanya satu, yaitu dengan

melakukan seksio sesarea. Keterlambatan seksio seksarea pada ketuban pecah dengan

pembukaan kecil adalah kematian janin yang tinggi, akibat perdarahan langsung dari

janin.4

Janin sering anemik dan mungkin memerlukan transfusi darah setelah lahir. Bila

bunyi jantung janin tidak ada dan bayi meninggal, tidak perlu terburu-buru

melahirkannya, karena vasa previa tidak menimbulkan bahaya bagi ibu.2

2.10 Komplikasi

Komplikasi dari vasa previa yang paling utama adalah pecahnya pembuluh

darah pembawa janin. Hal ini terjadi pada saat mendekati atau pada saat persalinan. Ini

menyebabkan tingkat kematian perinatal sebesar 56% dalam kasus yang tidak

7
terdeteksi, dan sebesar 3% pada mereka yang terdeteksi sebelum lahir. selanjutnya,

transfusi diperlukan sebanyak 58% pada bayi baru lahir yang tidak terdiagnosis

sedangkan 3% dari mereka yang sudah di diagnosis sebelum lahir. komplikasi yang

kurang baik adalah kompresi dari vasa previa oleh bagian presentasi yang

mengakibatkan penurunan mengalir ke janin dan mungkin hipoksia. komplikasi

postnatal terkait dengan prematuritas (karena awal seksio sesarea tanpa konfirmasi

kematangan paru-paru) dan termasuk penyakit hialin membran, displasia

bronkopulmoner, takipnea transient, sindrom gangguan pernapasan, atau untuk

exsanguination parsial dan komplikasi yang berhubungan dengan anemia, syok

hipovolemik atau komplikasi dari transfusi.7

2.11 Prognosis

Dalam beberapa kasus, perdarahan yang banyak akan mengakibatkan

kematian janin dan penyelamatan janin yang sudah tidak mungkin dilakukan sedangkan

pada perdarahan yang lebih sedikit menunjukkan tingkat kematian janin yang lebih

rendah.8

8
BAB III

KESIMPULAN

1. Diagnosis vasa previa harus dipertimbangkan dalam hal perdarahan pervaginam. Vasa

previa adalah suatu kondisi kegawatdaruratan obstetri yang sangat jarang terjadi dalam

kehamilan.

2. Penyebab dari vasa previa belum diketahui secara pasti, namun terdapat beberapa faktor

resiko yang dapat menyebabkan terjadinya vasa previa.

3. Diagnosa harus ditegakkan sebelum memasuki masa persalinan, karena bila telah

memasuki masa persalinan dan ketuban pecah, bisa menyebabkan pembuluh darah yag

menempel di ketuban juga ikut pecah. Hal ini dapat menyebabkan kondisi janin cepat

mengalami perburukan.

4. Terminasi kehamilan segera diagnosis ditegakkan. Pilihan yang efektif adalah seksio

sesarea elektif.

9
DAFTAR PUSTAKA

1. Prawirohardjo, S. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo;


2010. Hal. 502-503.
2. Benzion Taber, M. D. Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi. Jakarta:
EGC. Hal. 479-481
3. Prof. dr. Ida Bagus Ade Manuaba, Sp.OG. Penuntun Kepaniteraan Klinik Obstetri dan
Ginekologi. Edisi II. Jakarta: EGC. 2004. Hal. 93.
4. Prof. dr. I.B. G. Manuaba, Sp.OG. Pengantar kuliah Obstetri. Jakarta: EGC. Hal. 495-
497.
5. Lijoi A, Brady J (2003). "Vasa previa diagnosis and management.". J Am Board Fam
Pract 16 (6): 5438. doi:10.3122/jabfm.16.6.543. PMID 14963081.Full text
6. Lee W, Lee V, Kirk J, Sloan C, Smith R, Comstock C (2000). "Vasa previa: prenatal
diagnosis, natural evolution, and clinical outcome.". Obstet Gynecol 95 (4): 572-
6. doi:10.1016/S0029-7844(99)00600-6. PMID 10725492
7. Yasmine Derbala, MD; Frantisek Grochal, MD; Philippe Jeanty, MD, PhD (2007).
"Vasa previa". Journal of Prenatal Medicine 2007 1 (1): 213.Full text
8. Cunningham FG, Leveno KJ, et al. Vasa Previa. Williams Obstetric. 24th ed. Mcgraw-
Hill Education. US:2014.

10