Anda di halaman 1dari 4

INTERPRETASI FOSIL COELENTERATA SEBAGAI PENCIRI DAERAH LAUT

DANGKAL
Reza Afrizona Fauzih1
21100114120029
Email: rezaafrizona@gmail.com

1
TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS DIPONEGORO

ABSTRAK

Coelenterata berasal dari kata Coilos yang berarti rongga tubuh atau lorong dan enteron
yang berarti usus. Coelenterata memiliki struktur yang lebih kompleks daripada porifera. Namun, ia
tetap digolongkan ke dalam makhluk hidup tingkat rendah. Namanya diambil dari rongga yang
berfungsi sebagai usus yakni solenteron. Jadi hewan ini tidak memiliki usus yang sebenarnya.
Coelenterata termasuk hewan diploblastik (tersusun 2 lapisan kulit), yaitu ektoderma dan mesoderma.
Lapisan ektoderma disebut juga lapisan epidermmis. Sedangkan lapisan endoderma bisa disebut
dengan gastrodermis (gaster = perut, dermis = kulit). Coelenterata juga memiliki tentakel yang
mengandung sel penyengat (cnidoblast) sehingga disebut juga cnidaria. Pembuatan paper didasarkan
pada pengamatan peraga fosil yang mana berdasarkan referensi-referensi bagaimana coelenterata
hidup dan berkembang biak pada daerah laut dangkal.
Kata Kunci: Coelenterata, Cnidaria, Fosil

PENDAHULUAN Coelenterata memiliki bentuk tubuh simetris


radial dan biradial yang merupakan tipe umum
Coelenterata berasal dari kata Coilos
eumetozoa. Hewan-hewan dari filum ini sudah
yang berarti rongga tubuh atau lorong dan
memiliki jaringan, yaitu sel -sel yang sama
enteron yang berarti usus. Coelenterata
akan bergabung menjadi satu kelompok, tetapi
memiliki struktur yang lebih kompleks
belum memiliki organ yang sebenarnya.
daripada porifera. Namun, ia tetap
Tubuhnya memiliki suatu rongga yang disebut
digolongkan ke dalam makhluk hidup tingkat
rongga gastrovaskular (coelenteron) yang
rendah. Namanya diambil dari rongga yang
berfungsi sebagai mulut dan anus.
berfungsi sebagai usus yakni solenteron. Jadi
hewan ini tidak memiliki usus yang Coelenterata memiliki dua bentuk tubuh,
sebenarnya. Coelenterata termasuk hewan yaitu polip dan medusa. Selain itu,
diploblastik (tersusun 2 lapisan kulit), yaitu coelenterata juga memiliki nematosis yang
ektoderma dan mesoderma. Lapisan dapat mengeluarkan kait yang berbisa.
ektoderma disebut juga lapisan epidermmis. Nematosis dikeluarkan apabila suatu mangsa
Sedangkan lapisan endoderma bisa disebut atau lawan datang dan bersinggungan
dengan gastrodermis (gaster = perut, dermis = dengannya, kemudian mengarahkan benang
kulit). Coelenterata juga memiliki tentakel dan kaitnya yang mengandung racun ke tubuh
yang mengandung sel penyengat (cnidoblast) korban atau lawannya dengan metoda
sehingga disebut juga cnidaria. hidrostatik secara tepat.
Studi tentang Fosil Coelenterata ini
untuk membuktikan bahwa fosil tersebut Coelenterata mempunyai rongga besar di
dulunya merupakan fosil daerah laut dangkal tengah-tengah tubuhnya yang berfungsi seperti
yang sewaktu zaman itu di huni oleh hewan Usus pada hewan-hewan tingkat tinggi, rongga
hewan laut dan memberikan informasi tentang itu disebut rongga gastrovaskuler. Simetri
umur dari lapisan batuan dari keberadaan fosiil tubuhnya radial dan terdapat tentakel disekitar
ini. mulutnya yang berfungsi untuk menangkap
dan memasukkan makanan ke dalam
TINJAUAN PUSTAKA tubuhnya. Tentakel vang dilengkapi sel
knidoblas yang mengandung racun sengat Coelenterata hidup bebas secara
disebut nematokis. heterotrof dengan memangsa plankton dan
hewan kecil di air. Mangsa menempel pada
Ukuran tubuh Coelenterata beraneka knodosit dan ditangkap oleh tentakel untuk
ragam. Ada yang penjangnya beberapa dimasukkan kedalam mulut. Habitat
milimeter, misal Hydra dan ada yang mencapai Coelenterata seluruhnya hidup di air, baik di
diameter 2 m, misalnya Cyanea. Tubuh laut maupun di air tawar. Sebagaian besar
Coelenterata simetris radial dengan bentuk hidup dilaut secara soliter atau berkoloni. Ada
berupa medusa atau polip.Medusa berbentuk yang melekat pada bebatuan atau benda lain di
seperti lonceng atau payung yang dikelilingi dasar perairan dan tidak dapat berpindah untuk
oleh lengan-lengan (tentakel).Polip bentuk polip, sedangkan bentuk medusa dapat
berbentuk seperti tabung atau seperti medusa bergerak bebas melayang di air.
yang memanjang.
METODOLOGI
Ektoderm berfungsi sebagai pelindung
sedang endoderm berfungsi untuk pencernaan. Penelitian ini dilakukan dengan cara
Sel-sel gastrodermis berbatasan dengan mengamati fosil peraga yang dijadikan objek
coelenteron atau gastrosol. Gastrosol adalah studi. Data primer ini berupa deskripsi
pencernaan yang berbentuk kantong.Makanan langsung dari fosil yang ada di Laboratorium.
yang masuk ke dalam gastrosol akan dicerna Selain data primer juga dipergunakan data
dengan bantuan enzim yang dikeluarkan oleh sekunder berupa informasi penelitian yang
sel-sel gastrodermis. Pencernaan di dalam sudah ada sebelumnya untuk mengetahui
gastrosol disebut sebagai pencernaan kondisi umum yang meruapakan referensi dari
ekstraseluler. Hasil pencernaan dalam gasrosol pembuatan paper ini. Dari kedua data ini
akan ditelan oleh sel-sel gastrodermis untuk kemudian di sinkronkan dan menghasilkan
kemudian dicerna lebih lanjut dalam vakuola data yang akan dianalisis.
makanan. Pencernaan di dalam sel
gastrodermis disebut pencernaan intraseluler. DESKRIPSI
Sari makanan kemudian diedarkan ke bagian
tubuh lainnya secara difusi. Begitu pula untuk Pada pengamatan fosil dilakukan
pengambilan oksigen dan pembuangan deskripsi secara megaskopis. Berikut
karbondioksida secara difusi. merupakan fosil peraga yang dideskripsi:

Coelenterata memiliki sistem saraf Fosil Peraga F-135


sederhana yang tersebar berbentuk jala yang
berfungsi mengendalikan gerakan dalam
merespon rangsangan. Sistem saraf terdapat
pada mesoglea. Mesoglea adalah lapisan
bukan sel yang terdapat diantara lapisan
epidermis dan gastrodermis. Gastrodermis
tersusun dari bahan gelatin. Tubuh
Coelenterata yang berbentuk polip, terdiri dari
bagian kaki, tubuh, dan mulut. Mulut
dikelilingi oleh tentakel. Coelenterata yang
berbetuk medusa tidak memiliki bagian kaki.
Mulut berfungsi untuk menelan makanan dan Gambar 1. Fosil Peraga F-135
mengeluarkan sisa makanan
karena Coelenterata tidak memiliki anus. Pada peraga F-135 ini memiliki warna abu-abu
Tentakel berfungsi untuk menangkap mangsa kekuningan, dimensinya 9x7x3 cm, dengan
dan memasukan makanan ke dalam mulut. taksonominya adalah kingdom Animalia, filum
Pada permukaan tentakel terdapat sel-sel yang Coelenterata, kelas Anthozoa, ordo
disebut knidosit (knidosista) atau knidoblas. Sclerectina, family Favia sp. Peraga ini
Setiap knidosit mengandung kapsul penyengat memiliki nama Hexagonaria Pada peraga ini
yang disebut nematokis (nematosista). terlihat morfologi berupa septum yaitu septa
dalam jumlah banyak dan septa dalam fosil
ditunjukkan dengan dinding (pembatas) menjadi fosil. Memiliki umur geologi Eosen-
vertikal yang membagi rangka luar calyx, Holosen yang hidup pada daerah laut dangkal.
kemudian morfologi calyx yaitu bagian dari
fosil yang berupa tubuh atau kerangka luar
Fosil Peraga F-132
yang pada kenampakannya berupa batang
dengan bentuk ujung batang lingkaran,
kemudian terdapat morfologi epiteka yaitu
berupa bentuk lingkaran tengah yang dibatasi
oleh septum. Organisme ini merupakan
organisme yang sesil dan hidup menambat
didasar laut. Kemudian mati dan terendapkan
oleh sedimentasi laut dangkal sehingga
mengalami proses pemfosilan dan membatu
menjadi fosil. Memiliki umur geologi
Mesozoikum-Kenozoikum yang hidup pada
daerah laut dangkal.
Gambar 3. Fosil Peraga MDT

Fosil Peraga F-132 Pada peraga MDT ini memiliki warna abu-abu
kekuningan, dimensinya 13x9x5 cm, dengan
taksonominya adalah kingdom Animalia, filum
Coelenterata, kelas Anthozoa, ordo Protarea,
family Protarea richmodensis. Peraga ini
memiliki nama Protarea. Pada peraga ini
terlihat morfologi berupa septum yaitu septa
dalam jumlah banyak dan septa dalam fosil
ditunjukkan dengan dinding (pembatas)
vertikal yang membagi rangka luar calyx,
kemudian morfologi calyx yaitu bagian dari
fosil yang berupa tubuh atau kerangka luar
yang pada kenampakannya berupa batang
Gambar 2. Fosil Peraga F-132 dengan bentuk ujung batang lingkaran,
kemudian terdapat morfologi epiteka yaitu
Pada peraga F-132 ini memiliki warna abu-abu berupa bentuk lingkaran tengah yang dibatasi
kekuningan, dimensinya 8x5x3 cm, dengan oleh septum. Organisme ini merupakan
taksonominya adalah kingdom Animalia, filum organisme yang sesil dan hidup menambat
Coelenterata, kelas Anthozoa, ordo didasar laut. Kemudian mati dan terendapkan
Acroporidae, family Acropora panamensis. oleh sedimentasi laut dangkal sehingga
Peraga ini memiliki nama Acropora. Pada mengalami proses pemfosilan dan membatu
peraga ini terlihat morfologi berupa septum menjadi fosil. Memiliki umur geologi
yaitu septa dalam jumlah banyak dan septa Ordovician yang hidup pada daerah laut
dalam fosil ditunjukkan dengan dinding dangkal.
(pembatas) vertikal yang membagi rangka luar
calyx, kemudian morfologi calyx yaitu bagian PEMBAHASAN
dari fosil yang berupa tubuh atau kerangka
luar yang pada kenampakannya berupa batang Jenis peraga fosil yang sedang yang
dengan bentuk ujung batang lingkaran, diamati berupa bodi utuh, karena saat
kemudian terdapat morfologi epiteka yaitu ditemukan masih utuh berupa bodi utuh karang
berupa bentuk lingkaran tengah yang dibatasi Coelenterata yang belum rusak dan masih utuh
oleh septum. Organisme ini merupakan bagian-bagianya. Fosil ini merupakan fosil
organisme yang sesil dan hidup menambat dengan jenis pengawetan bagian keras, hal
didasar laut. Kemudian mati dan terendapkan tersebut didasari oleh cangkang yang yang
oleh sedimentasi laut dangkal sehingga ditemukan merupakan bagian keras dari
mengalami proses pemfosilan dan membatu organisme Coelenterata ini dimana
pengawetan bagian keras ini melibatkan
senyawa karbonatan. Organisme ini Endarto, Danang.2005. Pengantar Geologi
merupakan organisme yang sesil dan hidup Dasar. Surakarta : UNS Press.
menambat didasar laut. Organisme tersebut http://suarageologi.blogspot.com/2013/06/stru
yang tadinya hidup kemudian mati dan bagian ktur-batuan-sedimen.html di akses pada
tubuhnya mengalami pembusukan oleh bakteri hari Kamis 24 Desember 2015 pukul
aerob sehingga membentuk fosil yang terdiri 06:00
dari unsur-unsur kimia berupa zat karbonatan Tim Asisten Makropaleontologi. 2015. Buku
atau zat kapur yang bertahan dari proses Panduan Praktikum Geologi Dasar.
pembusukan. Organisme tersebut terawetkan Semarang: Teknik Geologi.
dengan cara tertimbun material-material
sedimen secara terus menerus dan dengan
waktu yang lama dalam sebuah cekungan yang
relatif stabil untuk mengendapkan sedimen-
sedimen yang telah tertransport oleh media air.
Setelah tertimbun dan terhindar dari proses
pembusukan, organisme tersebut mengalami
diagenesis dari batuan sedimen. Proses
diagenesis tersebut jiga dipengaruhi oleh
adanya tekanan dan suhu yang optimal.
Kemudian akan mengalami kompaksi dan
sementasi yang akan mengisi pori-pori dari
organisme. Pada proses diagenesis ini sendiri
membuat organisme yang tertimbun sedimen
akan mengeras dan membatu menjadi fosil
dengan kandungan karbonatan yang tinggi.
Fosil tersebut yang tadinya terkubur
didalam lapisan bumi kemudia akan
mengalami proses deformasi dan kemudian
akan terangkat ke permukaan bumi, seiring
berjalannya waktu lapisan tadi akan
mengalami proses pelapukan dan erosi
sehingga fosil akan tersingkap dan tampak
pada permukaan bumi.

KESIMPULAN
Dari pemaparan diatas dapat diambil
poin poin penting bahwa fosil yang ditemukan
berupa organisme Coelenterata karena jenis
peraga fosil yang ditemukan berupa bodi utuh,
karena saat ditemukan masih utuh berupa
cangkang-cangkang yang belum rusak dan
masih utuh bagian-bagianya dan merupakan
kelas Anthozoa. Hidup menambat pada bawah
dasar laut, yang mati dan tersedimentasi
dengan batuan sedimen. Fosil yang ditemukan
tersebut merupakan penciri dari lingkungan
hidup laut dangkal karena hidup dan
berkembang biak pada daerah tersebut dan
tidak tertransport jauh dari tempat hidupnya
serta memiliki umur geologi Mesozoikum-
Holosen.

REFERENSI