Anda di halaman 1dari 11

1.

PENGERTIAN
Asfiksia Neonatus adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang tidak segera bernafas
secara spontan dan teratur setelah dilahirkan. (Mochtar, 2005).
Asfiksia neonatus adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur,
sehingga dapat meurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 yang menimbulkan
akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut. (Manuaba, 2003).
Asfiksia neonatus adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas secara
spontan dan teratur dalam satu menit setelah lahir (Mansjoer, 2000).
Asfiksia berarti hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan asidosis, bila proses ini
berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau kematian. Asfiksia juga
dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya. (Saiffudin, 2001).

2. KLASIFIKASI
Tabel penilaian APGAR SCORE
Skor APGAR
Tanda
0 1 2
Frekuensi Tidak ada < 100 x/menit > 100 x/menit
Jantung
Usaha bernafas Tidak ada Lambat tak teratur Menangis kuat
Tanus otot Lumpuh Ekstremitas agak fleksi Gerakan aktif
Refleks Tidak ada Gerakan sedikit Gerakan kuat/melawan
Warna kulit Biru/pucat Tubuh kemerahan, eks Seluruh tubuh kemerahan
biru

Klasifikasi klinis APGAR SCORE :


a. Asfiksia berat (Nilai APGAR 0-3)
Pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung tidak ada atau < 100 x/ menit, tonus otot
buruk/lemas, sianosis berat, tidak ada reaksi, respirasi tidak ada.

b. Asfiksia ringan sedang (Nilai APGAR 4 6)


Pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung < 100 / menit, tonus otot kurang baik atau
baik , sianosis (badan merah, anggota badan biru), menangis. Respirasi lambat, tidak teratur.
c. Bayi normal atau sedikit asfiksia 7 9
Pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung > 100 / menit, tonus otot baik/ pergerakan
aktif , seluruh badan merah, menangis kuat. Respirasi baik.
d. Bayi normal dengan nilai APGAR 10
Bayi dianggap sehat, tidak perlu tindakan istimewa.

3. ETIOLOGI
Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabkan gangguan sirkulasi darah
uteroplasenter sehingga pasokan oksigen ke bayi menjadi berkurang. Hipoksia bayi di dalam
rahim ditunjukkan dengan gawat janin yang dapat berlanjut menjadi asfiksia bayi baru lahir.
Beberapa faktor tertentu diketahui dapat menjadi penyebab terjadinya asfiksia pada bayi
baru lahir, diantaranya adalah faktor ibu, tali pusat clan bayi berikut ini:
a. Faktor ibu
Preeklampsia dan eklampsia
Pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
Partus lama atau partus macet
Demam selama persalinan Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV)
Kehamilan Lewat Waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)
b. Faktor Tali Pusat
Lilitan tali pusat
Tali pusat pendek
Simpul tali pusat
Prolapsus tali pusat
c. Faktor Bayi
Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)
Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi vakum,
ekstraksi forsep)
Kelainan bawaan (kongenital)
Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan)
Penolong persalinan harus mengetahui faktor-faktor resiko yang berpotensi untuk
menimbulkan asfiksia. Apabila ditemukan adanya faktor risiko tersebut maka hal itu harus
dibicarakan dengan ibu dan keluarganya tentang kemungkinan perlunya tindakan resusitasi.
Akan tetapi, adakalanya faktor risiko menjadi sulit dikenali atau (sepengetahuan penolong)
tidak dijumpai tetapi asfiksia tetap terjadi. Oleh karena itu, penolong harus selalu siap
melakukan resusitasi bayi pada setiap pertolongan persalinan.

4. TANDA DAN GEJALA


Pernapasan terganggu
Detik jantung menurun
Refleks/ respons bayi melemah
Tonus otot menurun
Warna kulit biru atau pucat
Kejang
Penurunan kesadaran

5. PATOFISIOLOGI
Pada penderita asfiksia telah dikemukakan bahwa gangguan pertukaran gas serta
transport 02 akan menyebabkan berkurangnya penyediaan 02 dan kesulitan pengeluaran C02.
Keadaan ini akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan tergantung dari berat dan lamanya
asfiksia fungsi tadi dapat reversibel atau menetap, sehingga menimbulkan komplikasi, gejala
sisa, atau kematian penderita.
Pada tingkat permulaan, gangguan ambilan 02 dan pengeluaran C02 tubuh ini
mungkin hanya menimbulkan asidosis respiratorik. Apabila keadaan tersebut berlangsung
terus, maka akan terjadi metabolisme anaerobik berupa glikolisis glikogen tubuh. Asam
organik yang terbentuk akibat metabolisme ini menyebabkan terjadinya keseimbangan asam
basa berupa asidosis metabolik. Keadaan ni akan menganggu fungsi organ tubuh, sehingga
mungkin terjadi penurunan sirkulasi kardiovaskuler yang ditandai oleh penurunan tekanan
darah dan frekwensi denyut jantung
6. KOMPLIKASI
Komplikasi yang muncul pada asfiksia neonatus antara lain :
a. Edema otak & Perdarahan otak
Pada penderita asfiksia dengan gangguan fungsi jantung yang telah berlarut sehingga terjadi
renjatan neonatus, sehingga aliran darah ke otak pun akan menurun, keadaaan ini akan
menyebabkan hipoksia dan iskemik otak yang berakibat terjadinya edema otak, hal ini juga
dapat menimbulkan perdarahan otak.
b. Anuria atau oliguria
Disfungsi ventrikel jantung dapat pula terjadi pada penderita asfiksia, keadaan ini dikenal
istilah disfungsi miokardium pada saat terjadinya, yang disertai dengan perubahan sirkulasi.
Pada keadaan ini curah jantung akan lebih banyak mengalir ke organ seperti mesentrium dan
ginjal. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya hipoksemia pada pembuluh darah
mesentrium dan ginjal yang menyebabkan pengeluaran urine sedikit.
c. Kejang
Pada bayi yang mengalami asfiksia akan mengalami gangguan pertukaran gas dan transport
O2 sehingga penderita kekurangan persediaan O2 dan kesulitan pengeluaran CO2 hal ini
dapat menyebabkan kejang pada anak tersebut karena perfusi jaringan tak efektif.
d. Koma
Apabila pada pasien asfiksia berat segera tidak ditangani akan menyebabkan koma karena
beberapa hal diantaranya hipoksemia dan perdarahan pada otak.

7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Analisis gas darah ( ph kurang dari 7,20 )
Penilaian apgar scor meliputi ( warna kulit, usaha bernafas, tonus otot )
Pemeriksaan EEG dan CT scan jika sudah terjadi komplikasi
Pengkajian spesifik

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA ASFIKSIA BERAT


1. Pengkajian
Data subyektif, terdiri dari: Biodata atau identitas pasien (Bayi) meliputi nama, tempat
tanggal lahir, jenis kelamin, Orangtua; meliputi nama (ayah dan ibu, umur, agama, suku atau
kebangsaan, pendidikan, penghasilan pekerjaan, dan alamat, Riwayat kesehatan, Riwayat
antenatal, Riwayat natal, komplikasi persalinan, Riwayat post natal, Pola eliminasi, Latar
belakang sosial budaya, Kebiasaan ibu merokok, ketergantungan obat-obatan tertentu
terutama jenis psikotropika, Kebiasaan ibu mengkonsumsi minuman beralkohol, Hubungan
psikologis.
Data Obyektif, terdiri dari:
a. Keadaan umum Tanda-tanda Vital, Untuk bayi preterm beresiko terjadinya hipothermi. bila
suhu tubuh < 36 C dan beresiko terjadi hipertermi bila suhu tubuh < 37 ?C. Sedangkan suhu
normal tubuh antara 36,5 C 37,5 C, nadi normal antara 120-140 kali per menit respirasi
normal antara 40-60 kali permenit.
b. Pemeriksaan fisik.
Kulit; warna kulit tubuh merah, sedangkan ekstrimitas berwarna biru, pada bayi
preterm terdapat lanugo dan verniks.
Kepala; kemungkinan ditemukan caput succedaneum atau cephal haematom, ubun-
ubun besar cekung atau cembung.
Mata; warna conjunctiva anemis atau tidak anemis, tidak ada bleeding conjunctiva,
warna sklera tidak kuning, pupil menunjukkan refleksi terhadap cahaya.
Hidung terdapat pernafasan cuping hidung dan terdapat penumpukan lendir.
Mulut; Bibir berwarna pucat ataupun merah, ada lendir atau tidak.
Telinga; perhatikan kebersihannya dan adanya kelainan Leher; perhatikan
kebersihannya karena leher nenoatus pendek
Thorax; bentuk simetris, terdapat tarikan intercostal, perhatikan suara wheezing dan
ronchi, frekwensi bunyi jantung lebih dari 100 kali per menit.
Abdomen, bentuk silindris, hepar bayi terletak 1 2 cm dibawah arcus costaae pada
garis papila mamae, lien tidak teraba, perut buncit berarti adanya asites atau tumor,
perut cekung adanya hernia diafragma, bising usus timbul 1 sampai 2 jam setelah
masa kelahiran bayi, sering terdapat retensi karena GI Tract belum sempurna.
Umbilikus, tali pusat layu, perhatikan ada pendarahan atau tidak, adanya tanda-tanda
infeksi pada tali pusat.
Genitalia; pada neonatus aterm testis harus turun, lihat adakah kelainan letak muara
uretra pada neonatus laki laki, neonatus perempuan lihat labia mayor dan labia
minor, adanya sekresi mucus keputihan, kadang perdarahan
Anus; perhatikan adanya darah dalam tinja, frekuensi buang air besar serta warna dari
faeses.
Ekstremitas; warna biru, gerakan lemah, akral dingin, perhatikan adanya patah tulang
atau adanya kelumpuhan syaraf atau keadaan jari-jari tangan serta jumlahnya.
Refleks; pada neonatus preterm post asfiksia berat reflek moro dan sucking lemah.
Reflek moro dapat memberi keterangan mengenai keadaan susunan syaraf pusat atau
adanya patah tulang (Iskandar Wahidiyat, 1991 : 155 dan Potter Patricia A, 1996 :
109-356).
2. Diagnosa keperawatan yang mungin muncul
a. Gangguan pemenuhan kebutuhan O2 sehubungan dengan post asfiksia berat.
b. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi sehubungan dengan reflek menghisap lemah.
c. Resiko terjadinya hipoglikemia
d. Resiko terjadinya hipotermia
e. Resiko terjadinya infeksi
f. Gangguan hubungan interpersonal antara ibu dan bayi sehubungan dengan rawat
terpisah
3. Rencana asuhan keperawatan
a. Gangguan pemenuhan kebutuhan O2 sehubungan dengan post asfiksia berat
Tujuan: Kebutuhan O2 bayi terpenuhi
Kriteria: Pernafasan normal 40-60 kali permenit, Pernafasan teratur, Tidak cyanosis,
Wajah dan seluruh tubuh warna kemerahan, Gas darah normal.
Intervensi:
1. Letakkan bayi terlentang dengan alas yang data, kepala lurus, dan leher sedikit
tengadah/ekstensi dengan meletakkan bantal atau selimut diatas bahu bayi sehingga bahu
terangkat 2-3 cm.
Rasional : Memberi rasa nyaman dan mengantisipasi flexi leher yang dapat mengurangi
kelancaran jalan nafas.
2. Bersihkan jalan nafas, mulut, hidung bila perlu.
Rasional : Jalan nafas harus tetap dipertahankan bebas dari lendir untuk menjamin pertukaran
gas yang sempurna.
3. Observasi gejala kardinal dan tanda-tanda cyanosis tiap 4 jam.
Rasional : Deteksi dini adanya kelainan.
4. Kolaborasi dengan team medis dalam pemberian O2 dan pemeriksaan kadar gas darah arteri.
Rasional : Menjamin oksigenasi jaringan yang adekuat terutama untuk jantung dan otak. Dan
peningkatan pada kadar PCO2 menunjukkan hypoventilasi.
b. Resiko terjadinya hipotermi sehubungan dengan adanya proses persalinan yang lama
dengan ditandai akral dingin suhu tubuh dibawah 36 C.
Tujuan: Tidak terjadi hipotermia.
Kriteria: Suhu tubuh 36,5 37,5C; Akral hangat; Warna seluruh tubuh kemerahan
Intervensi:
1. Letakkan bayi terlentang diatas pemancar panas (infant warmer).
Rasional : Mengurangi kehilangan panas pada suhu lingkungan sehingga meletakkan bayi
menjadi hangat.
2. Singkirkan kain yang sudah dipakai untuk mengeringkan tubuh, letakkan bayi diatas handuk
/kain yang kering dan hangat.
Rasional : Mencegah kehilangan tubuh melalui konduksi.
3. Observasi suhu bayi tiap 6 jam.
Rasional : Perubahan suhu tubuh bayi dapat menentukan tingkat hipotermia. 4. Kolaborasi
dengan team medis untuk pemberian Infus Glukosa 5% bila ASI tidak mungkin diberikan. R/
Mencegah terjadinya hipoglikemia.
c. Resiko gangguan penemuan kebutuhan nutrisi sehubungan dengan reflek menghisap lemah.
Tujuan: Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria: Bayi dapat minum pespeen / personde dengan baik; Berat badan tidak turun
lebih dari 10%, Retensi tidak ada.
Intervensi:
1. Lakukan observasi BAB dan BAK jumlah dan frekuensi serta konsistensi.
Rasional : Deteksi adanya kelainan pada eliminasi bayi dan segera mendapat tindakan/
perawatan yang tepat.
2. Monitor turgor dan mukosa mulut.
Rasional : Menentukan derajat dehidrasi dari turgor dan mukosa mulut.
3. Monitor intake dan out put.
Rasional : Mengetahui keseimbangan cairan tubuh (balance).
4. Beri ASI/PASI sesuai kebutuhan.
Rasional : Kebutuhan nutrisi terpenuhi secara adekuat.
5. Lakukan control berat badan setiap hari.
Rasional : Penambahan dan penurunan berat badan dapat di monitor.
d. Resiko terjadinya infeksi.
Tujuan: Selama perawatan tidak terjadi komplikasi (infeksi)
Kriteria: Tidak ada tanda-tanda infeksi; Tidak ada gangguan fungsi tubuh.
Intervensi:
1. Lakukan teknik aseptik dan antiseptik dalam memberikan asuhan keperawatan
Rasioanal : Pada bayi baru lahir daya tahan tubuhnya kurang / rendah
2. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
Rasional : Mencegah penyebaran infeksi nosokomial.
3. Pakai baju khusus/ short waktu masuk ruang isolasi (kamar bayi).
Rasional : Mencegah masuknya bakteri dari baju petugas ke bayi.
4. Lakukan perawatan tali pusat dengan triple dye 2 kali sehari.
Rasional : Mencegah terjadinya infeksi dan memper-cepat pengeringan tali pusat karena
mengan-dung anti biotik, anti jamur, desinfektan.
5. Jaga kebersihan (badan, pakaian) dan lingkungan bayi.
Rasional : Mengurangi media untuk pertumbuhan kuman.
6. Observasi tanda-tanda infeksi dan gejala kardinal.
Rasional : Deteksi dini adanya kelainan.
7. Hindarkan bayi kontak dengan sakit.
Rasional : Mencegah terjadinya penularan infeksi.
8. Kolaborasi dengan team medis untuk pemberian antibiotik.
Rasional : Mencegah infeksi dari pneumonia.
9. Siapkan pemeriksaan laboratorat sesuai advis dokter yaitu pemeriksaan DL, CRP. Rasional :
Sebagai pemeriksaan penunjang.
e. Resiko terjadinya hipoglikemia sehubungan dengan metabolisme yang meningkat.
Tujuan: Tidak terjadi hipoglikemia selama masa perawatan.
Kriteria: Akral hangat; Tidak cyanosis; Tidak apnea; Suhu normal (36,5C -37,5C);
Distrostik normal (> 40 mg).
Intervensi:
1. Berikan nutrisi secara adekuat dan catat serta monitor setiap pemberian nutrisi.
Rasional : Mencegah pembakaran glikogen dalam tubuh dan untuk pemantauan intake dan
out put.
2. Beri selimut dan bungkus bayi serta perhatikan suhu lingkungan.
Rasional : Menjaga kehangatan agar tidak terjadi proses pengeluaran suhu yang berlebihan
sedangkan suhu lingkungan berpengaruh pada suhu bayi.
3. Observasi gejala kardinal (suhu, nadi, respirasi).
Rasional : Deteksi dini adanya kelainan.
4. Kolaborasi dengan team medis untuk pemeriksaan laborat yaitu distrostik.
Rasional : Untuk mencegah terjadinya hipoglikemia lebih lanjut dan kompli-kasi yang
ditimbulkan pada organ - organ tubuh yang lain.
f. Gangguan hubungan interpersonal antara bayi dan ibu sehubungan dengan perawatan intensif.
Tujuan: Terjadinya hubungan batin antara bayi dan ibu.
Kriteria: Ibu dapat segera menggendong dan meneteki bayi, Bayi segera pulang dan
ibu dapat merawat bayinya sendiri.
Intervensi:
1. Jelaskan para ibu / keluarga tentang keadaan bayinya sekarang.
Rasional : Ibu mengerti keadaan bayinya dan mengura-ngi kecemasan serta untuk
kooperatifan ibu/keluarga.
2. Bantu orang tua / ibu mengungkapkan perasaannya.
Rasional : Membantu memecah-kan permasalahan yang dihadapi.
3. Orientasi ibu pada lingkungan rumah sakit.
Rasional : Ketidaktahuan memperbesar stressor.
4. Tunjukkan bayi pada saat ibu berkunjung (batasi oleh kaca pembatas).
Rasional : Menjalin kontak batin antara ibu dan bayi walaupun hanya melalui kaca pembatas.
5. Lakukan rawat gabung jika keadaan ibu dan bayi jika keadaan bayi memungkinkan
Rasional : Rawat gabung merupakan upaya mempererat hubungan ibu dan bayi/setelah bayi
diperbolehkan pulang.
.
DAFTAR PUSTAKA

Berhman, Kliegman & Arvin.( 1996 ). Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Alih Bahasa
: A. Samik Wahab. Jilid 1. Jakarta : EGC

Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga. Jilid II. Jakarta : Media
Aesculapius.

Manuaba, I. B. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. Jakarta
: EGC

http://www.scribd.com/doc/31144164/ASKEP-ASFIKSIA-NEONATORUM

http://ummukautsar.wordpress.com/2010/01/16/pengertian-dan-penanganan-asfiksia-pada-
bayi-baru-lahir/

http://nnpetc.blogspot.com/2011/02/asfiksia.html

http://www.authorstream.com/Presentation/zhukma-195191-asfiksia-tugas-keperawatan-
anak-ii-asfiksi-education-ppt-powerpoint/