Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW., hingga masa Imam Syafii

terdapat kelompok fuqaha yang masyhur dengan pendapatnya. Di sisi lain, ada

sekelompok fuqaha yang populer dengan periwayatan hadisnya. Di antara para

fuqaha dari kalangan sahabat, terdapat mereka yang terkenal dengan pendapatnya,

sebagaimana sahabat lain yang masyhur dengan hadis dan periwayatannya.

Demikian pula dengan generasi tabiin dan tabi tabiin, para imam mujtahid

seperti Abu Hanifah, Malik dan para fuqaha lain di berbagai negeri Islam yang

terkenal dengan pendapatnya sebagaimana banyak dari mereka yang dikenal

dengan periwayatan hadisnya.

Al-Syahrastani dalam kitabnya yang berjudul al-Milal wa al-Nihal

mengatakan:

Sesungguhnya berbagai peristiwa dan kasus dalam masalah ibadah dan


kehidupan sehari-hari banyak sekali. Kita juga mengetahui dengan pasti
bahwa tidak setiap kejadian atau permasalahan terdapat keterangannya di
dalam nash. Bahkan dapat dikatakan ada kejadian-kejadian yang tidak
pernah terpikirkan sebelumnya. Jika nash-nash yang ada terbatas
jumlahnya, sementara peristiwa-peristiwa yang terjadi tidak terbatas dan
sesuatu yang terbatas tidak dapat dihukumi oleh sesuatu yang terbatas.
Maka dapat diambil satu kesimpulan dengan pasti bahwa ijtihad dan qiyas
merupakan sesuatu yang harus ditempuh, sehingga setiap permasalahan
selalu dapat ditemukan solusinya.1

1
Al-Syahrastani, Al-Milal wa Al-Nihal, vol. 1, (Kairo: al-Maktabah al-Taufiqiyyah, tt),
hal. 205.

1
Sementara itu, terbentuknya hukum syari tidak lain dan tidak bukan

hanyalah dengan mempertimbangkan terwujudnya kemaslahatan umat manusia.2

Musthafa Dib al-Bugho mengatakan dalam karyanya Ushul al-Tasyri al-Islamiy:

Atsar al-Adillah al-Mukhtalif Fiha:3

Pada dasarnya hukum Islam dibentuk berdasarkan kemaslahatan


manusia. Setiap segala sesuatu yang mengandung maslahah, maka
terdapat dalil yang mendukungnya, dan setiap ada kemadharatan yang
membahayakan, maka terdapat pula dalil yang mencegahnya. Para ulama
sepakat bahwa semua hukum-huum Allah dipenuhi kemaslahatan hamba-
Nya di dunia dan di akhirat. Dan sesungguhnya maqshid al-syariah itu
hanya ditujukan untuk merealisasikan kebahagiaan yang haiki bagi
mereka.

Dalam penetapan hukum Islam sumber rujukan utamanya adalah Alquran

dan Sunnah. Sedang sumber sekundernya adalah ijtihad para ulama. Setiap

istinbath (pengambilan hukum) dalam syariat Islam harus berpijak atas Alquran

dan Sunnah Nabi. Ini berarti dalil-dalil syara ada dua macam, yaitu: nash dan

gairu al-nash. Dalam menetapkan suatu hukum, seorang ahli hukum harus

mengetahui prosedur cara penggalian hukum (thuruq al-istinbath) dari nash.

Dari latar belakang diatas maka dalam makalah ini kami merumuskan

dalam beberapa rumusan masalah, yaitu: Pertama, pengertian maslahah

mursalah; Kedua, kehujjahan maslahah mursalah; Ketiga, kedudukan maslahah

mursalah; Keempat, penggunaan maslahah mursalah sebagai metode untuk

memperoleh hukum.

BAB II

2
Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh (Terj.) Saefullah Masum (Jakarta: Pustaka
Firdaus. 2005), hal. 423.
3
Musthafa Dib al-Bugho, Ushul al-Tasyri al-Islamiy: Atsar al-Adillah al-Mukhtalif
Fiha, cet. 3, (Beirut: Dar al-Qalam. 1993), hal. 28.

2
PEMBAHASAN

A. Pengertian Maslahah Mursalah

Secara etimologi, masalahah merupakan bentukan dari kata shalaha,

yashluhu, shulhan, shilahiyyatan, yang berarti faedah, kepentingan, kemanfaatan

dan kemaslahatan.4 Sedangkan secara terminologi, maslahah diartikan sebagai

sebuah ungkapan mengenai suatu hal yang mendatangkan manfaat dan menolak

kerusakan/kemadharatan.5 Namun pengertian tersebut bukanlah pengertian yang

dimaksudkan oleh ahli ushul dalam terminologi mashalih al-mursalah. Menurut

pendapat mereka maslahah dalam term mashalih al-mursalah adalah al-

muhafazhah ala maqasid al-syariah (memelihara/melindungi maksud-maksud

hukum syari).6

Selanjunya dihubungkan dengan kata mursalah dalam kata Al-

Maslahah al-Murasalah terdapat hubungan kata sifat dan yang disifati, kata Al-

maslahah sebagai kata sifat, sedangakan kataAl-Mursalah sebagai kata yang

disifati. Sedangkan kata Al-Mursalah menurut ilmu sharaf (morfologis) adalah

isim maful dari kata kerja yang semakna dengan kata yang berarti sesuatu yang

terlepas atau sesuatu yang dilepaskan. Dengan demikian kata Al-Maslahah Al-

Mursalah secara etimologi dapat diartikan suatu kebaikan, suatu manfaat atau

suatu faedah yang dilepaskan. Artinya suatu kebaikan, manfaat, atau faedah dari

4
Ahmad Warson Munawir, Al-Munawir: Kamus Arab Indonesia, (Surabaya: Pustaka
Progressif, 2002), hal. 789.
5
Al-Ghazali, Al-Mustashfa min al-Ilmi al-Ushul, Vol. I, (Beirut: al-Resalah, 1997), hal.
416.
6
Ibid., hal. 417.

3
suatu perbuatan yang tidak ada penjelasan secara fisik dari Nash mengenai boleh

tidaknya perbuatan itu dikerjakan.

Sedangkan pengertian secara terminology terdapat beberapa rumusan

definisi yang dikemukakan oleh para ulama Ushul Fiqh, namun mempunyai

pengertian yang saling berdekatan, diantaranya:

1. Abdul Wahab Khallaf menjelaskan bahwa:

Maslahah Mursalah ialah maslahah dimana Syari (Allah dan Rosul-

Nya) tidak menetapkan hukum secara spesifik untuk mewujudkan

kemaslahatan itu, juga tidak terdapat dalil yang menunjukkan atas

pengakuannya, maupun pembatalannya.7

2. Mohammad Abu Zahroh menjelaskan bahwa:

Kemaslahatan yang selaras dengan tujuan hukum yang ditetapkan oleh

syari (Allah dan Rosul-Nya), akan tetapi tidak ada suatu dalil yang

spesifik yang menerangkan tentang diakuinya atau ditolaknya

kemaslahatan itu.8

3. At-Thufy menjelaskan bahwa:

Definisi maslahah menurut Urf (pemahaman secara umum) adalah

sebab yang membawa kebaikan, seperti bisnis yang dapat membawa orang

memperoleh keuntungan. Sedang menurut pandangan hukum Islam adalah

7
Abdul Wahab Khallaf, Kaidah-kaidah Hukum Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 1993),
hal. 126.
8
Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqh, (Beirut: Daar Al-Fkr Al-Araby, tt), hal. 279.

4
sebab yang dapat mengantarkan kepada tercapainya tujuan hukum Islam,

baik dalam bentuk ibadah maupun muamalah.9

B. Kehujjahan Maslahah Mursalah

Dalam kehujjahan maslahah mursalah terdapat perbedaan pendapat di

kalangan ulama ushul, diantaranya:10

1. Maslahah mursalah tidak dapat menjadi hujjah atau dalil menurut ulama-

ulama syafiiyah, ulama-ulama hanafiyyah dan sebagian ulama Malikiyah,

dengan alasan:11

a. Bahwa dengan nash-nash dan qiyas yang dibenarkan, syariat

senantiasa memperlihatkan kemaslahatan umat manusia. Tak ada

satupun kemaslahatan manusia yang tidak diperhatikan oleh syariat

melalui petunjuknya.

b. Pembinaan hukum islam yang semata-mata didasarkan kepada

maslahat berarti membuka pintu bagi keinginan hawa nafsu.

2. Menurut Al Ghazali, maslahah mursalah yang dapat dijadikan dalil hanya

maslahah dharuriyah. Sedangkan maslahah hajjiyah dan maslahah

tahsiniyah tidak dapat dijadikan dalil.

3. Menurut Imam Malik, maslahah mursalah adalah dalil hukum syara.

Pendapat ini juga diikuti oleh Imam haromain. Mereka mengemukakan

argumen sebagai berikut:

9
At-Tufy sulaiman majmuddin, At-Tayin fi Syarhi Al-Arabin, (Beirut: Muassasah
Dayyan, 1998), hal. 239.
10
Chaerul Umam, dkk, Ushul Fiqih I, (Bandung: Pustaka Setia, 2000), hal. 141.
11
Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh, (Semarang: Dina Utama, 1994), hal. 121.

5
a. Nash-nash syara menetapkan bahwa syariat itu diundangkan untuk

merealisasikan kemaslahatan manusia, karenanya berhujjah dengan

maslahah mursalah sejalan dengan karakter syara dan prinsip-prinsip

yang mendasarinya serta tujuan pensyariatannya.

b. Kemaslahatan manusia serta sarana mencapai kemaslahatan itu

berubah karena perbedaan tempat dan keadaan. Jika hanya berpegang

pada kemaslahatan yang ditetapkan berdasarkan nash saja, maka

berarti mempersempit sesuatu yang Allah telah lapangkan dan

mengabaikan banyak kemaslahatan bagi manusia, dan ini tidak sesuai

dengan prinsip-prinsip umum syariat.

c. Para mujtahid dari kalangan sahabat dan generasi sesudahnya banyak

melakukan ijtihad berdasarkan maslahah dan tidak ditentang oleh

seorang pun dari mereka. Karenanya ini merupakan ijma.12

Ibnu Al Qayyim berkata: Diantara kaum muslimin ada sekelompok orang

yang berlebih-lebihan dalam memelihara maslahah mursalah, sehingga mereka

menjadikan syariat serba terbatas, yang tidak mampu melaksanakan

kemaslahatan hamba yang membutuhkan kepada lainnya. Mereka telah menutup

dirinya untuk menempuh berbagai jalan yang benar berupa jalan kebenaran dan

jalan keadilan. Diantara mereka ada pula orang-orang yang melampaui batas,

sehingga mereka memperbolehkan sesuatu yang menafikan syariat Allah dan

mereka memunculkan kejahatan yang panjang dan kerusakan yang luas.13

12
Suwarjin, Ushul Fiqh, (Yogyakarta: Teras, 2012), hal. 139.
13
Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh..., hal. 122

6
C. Kedudukan Maslahah Mursalah

Tidak dapat disangkal bahwa di kalangan mazhab ushul memang terdapat

perbedaan pendapat tentang kedudukan maslahah mursalah dan kehujjahannya

dalam hukum Islam baik yang menerima maupun menolak. Imam Malik beserta

penganut mazhab Maliki adalah kelompok yang secara jelas menggunakan

maslahah mursalah sebagai metode ijtihad. Imam Muhammad Abu Zahra bahkan

menyebutkan bahwa Imam Malik dan pengikutnya merupakan mazhab yang

mencanangkan dan menyuarakan maslahah mursalah sebagai dalil hukum dan

hujjah syariyyah.14 Maslahah mursalah juga digunakan dikalangan non Maliki

antara lain ulama Hanabilah. Menurut mereka maslahah mursalah merupakan

induksi dari logika sekumpulan nash, bukan dari nash rinci seperti yang berlaku

dalam qiyas.15 Bahkan Imam Syatibi mengatakan bahwa keberadaan dan kualitas

maslahah mursalah itu bersifat qati, sekalipun dalam penerapannya bersifat

zhanni (relatif).16

Penggunaan maslahah mursalah adalah ijtihad yang paling subur untuk

menetapkan hukum yang tak ada nashnya dan jumhur ulama menganggap

maslahah mursalah sebagai hujjah syariat karena:

1. Semakin tumbuh dan bertambah hajat manusia terhadap kemaslahatannya

,jika hukum tidak menampung untuk kemaslahatan manusia yang dapat

diterima,berarti kurang sempurnalah syariat mungkin juga beku.

14
Abu Ishak asy-Sythibi, Al-Itisham, Jilid II, (Beirut; Dr al-Marfah, 1975), hal. 39.
15
Amir Syarifuddin, Ushul Fiqih Jilid 2, Cet. I, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hal.
344.

Ibnu Qudmah, Raudhah an-Nadzr wa Junnah al-Munzhir (Beirut: Muassasah al-


16

Rislah, 1978), hal. 416.

7
2. Para shahabat dan tabiin telah mentapkan hukum berdasarkan

kemaslahatan,seperti abu bakar menyuruh mengumpulkan musyaf

Alquran demi kemaslahatan umum. Diantara ulama yang banyak

menggunakan maslahah mursalah ialah imam malik,dengan alasan,bahwa

tuhan mengutus Rasulnya untuk kemaslahatan manusia, maka

kemaslahatan ini jelas dikehendaki syara,sebagaimana Allah berfirman:




Artinya:

Tidaklah semata-mata aku mengutusmu (muhammad) kecuali

untuk kebaikan seluruh alam. (QS. Al-Anbiyaa 107).

Sedangkan menurut imam ahmad, bahwa maslahah mursalah adalah suatu

jalan menetapkan hukum yang tidak ada nash dan ijma. Disamping orang yang

menerima kehujjahan maslahah mursalah ada juga ulama yang menolak untuk

dijadikan dasar hukum, seperi imam syafii, dengan alasan bahwa maslahah

mursalah disamakan dengan istihsan, selain itu alasannya ialah:

1. Syariat islam mempunyai tujuan menjaga kemaslahatan manusi dalam

keadaaan terlantar tanpa petunjuk,petunjuk itu harus berdasarkan kepada

ibarat nash,kalau kemaslahatan yang tidak berpedoman kepada itibar

nash bukanlah kemaslahatan yang hakiki.

2. Kalau menetapkan hukum berdasarkan kepada maslahah mursalah yang

terlepas dari syara tentu akan dipengaruhi oleh hawa nafsu, sedangkan

hawa nafsu tak akan mampu memandang kemaslahatan yang hakiki.

8
Pembinaan hukum yang didasarkan kepada maslahah mursalah berarti

membuka pintu bagi keinginan dan hawa nafsu yang mungkin tidak akan dapat

terkendali. Jumhur fuqaha sepakat bahwa maslahah dapat diterima dalam fiqih

islam. Setiap maslahah wajib di ambil sebagai sumber hukum selama bukan

dilatar belakangi oleh dorongn syahwat dan hawa nafsu yang tidak bertentangan

dengan nash serta maqasid as-syari. Hanya saja golongan Syafiiyah dan

Hanafiyah sangat memperketat ketentuan maslahat. Maslahat harus mengacu

pada illat yang jelas batasannya. Golongan Maliki dan Hanbali berpendapat

bahwa sifat munasib yang merupakan alas an adanya maslahat, meskipun tidak

jelas batasannya, patut menjadi illat bagi qiyas.

Oleh karena itu ia dapat diterima sebagai sumber hukum sebagaimana

halnya diterimanya qiyas berdasarkan sifat munasib, yaitu hikmah, tanpa

memandang apakah illat itu mundhiabittah atau tidak. Karena begitu dekatnya

pengertian sifat munasib dan maslahat mursalah sehingga sebagian ulama

mazhab Maliki menganggap bahwa sesungguhnya semuanya ulama ahli fiqih

memakai dalil maslahat, meskipun mereka menanamkannya sifat munasib, atau

memasukkannya kedalam qiyas.

D. Penggunaan Maslahah Mursalah Sebagai Metode Untuk Memperoleh

Hukum

Beberapa penerapan masalahah mursalah yang berhubungan dengan isu-

isu kontemporer diuraikan sebagai berikut: Penetapan khamar di dalam Alquran

dinyatakan bahwa di dalamnya terdapat beberapa manfaat, namun dosanya lebih

besar. Meskipun dinyatakan memiliki manfaat untuk manusia, namun

9
mengkonsumsi minuman keras diharamkan dalam agama. Larangan mengonsumsi

khamar yang dinyatakan dalam Alquran memiliki manfaat menunjukkan bahwa

tidak setiap yang membawa manfaat dianggap sebagai maslahah dalam

pandangan agama dan tidak setiap yang membawa mafsadat dalam kehidupan

manusia dianggap sebagai mafsadat dalam pandangan agama. Penjelasan Allah

SWT dalam ketentuan khamar tersebut dijadikan sebagai acuan dalam memahami

kaidah yang masyhur, setiap ada kemaslahatan, maka disitu ada syariah Allah

SWT.

Penetapan nasab anak pada kasus nikah hamil, ditetapkan dalam kompilasi

hukum Islam pasal pasal 53 dan dikaitkan pasal 98, dinyatakan bahwa anak yang

lahir dari proses pernikahan yang sah maka anak tersebut adalah anak sah

dinisbahkan nasabnya pada ibu dan ayahnya. Hal ini sejalan dengan pendapat

imam Abu Hanifah, pendapat ulama hadis dan ulama Kufah dalam memahami

hadis al-walad li al-firasy (kajian lebih lanjut pada hadis al-walad li al-firasy)

dalam menetapkan nasab. Dikatakan bahwa selama anak tersebut lahir setelah

dilangsungkan aqad maka anak tersebut adalah anak sah dan nasabnya

dihubungkan dengan suami. Penetapan nasab anak dalam Islam sangat

mempertimbangkan kemaslahatan anak yang lahir dari rahim istri yang diingkari

oleh suaminya.

Dengan demikian diharapkan adanya pengakuan terhadap anak tersebut

untuk memberi kejelasan status keberadaan seorang anak. Hal ini untuk

menkonstatir bahwa setiap manusia yang lahir di dunia ini adalah ciptaan Tuhan

yang mempunyai hak asasi untuk hidup, untuk dihormati, untuk memiliki dan

10
untuk mendapatkan penghargaan yang sama dengan manusia lainnya. Penetapan

nasab anak sah ini bukan berarti menggugurkan hukum zina, perbuatan hubungan

diluar nikah adalah perbuatan zina yang diharamkan dalam Islam, maka perbuatan

tersebut akan mendapat ganjarannya baik di dunia maupun diakhirat. Penerapan

maslahah dalam ekonomi Islam (muamalah) memiliki ruang lingkup yang lebih

luas dibanding ibadah. Bidang Ekonomi Islam (muamalah) cukup terbuka bagi

inovasi dan kreasi baru dalam membangun dan mengembangkan ekonomi Islam.17

Oleh karena itu prinsip al-mashlahah dalam bidang muamalah menjadi

acuan dan patokan penting. Pengembangan ekonomi Islam dalam menghadapi

perubahan dan kemajuan sains teknologi yang pesat haruslah didasarkan kepada

maslahah, karena itu untuk mengembangkan ekonomi Islam, para ekonom

muslim cukup dengan berpegang kepada mashlahah. salah satu contoh penetapan

hukum Islam dengan menggunakan al-mashlahah al-mursalah adalah ketika Ibnu

Taimiyah membenarkan intervensi harga oleh pemerintah, padahal Nabi

Muhammad SAW tidak mencampuri persoalan harga di Madinah, ketika para

sahabat mendesaknya untuk menurunkan harga. Tetapi ketika kondisi berubah di

mana distorsi harga terjadi di pasar, Ibnu Taimiyah mengajarkan bahwa

pemerintah boleh campur tangan dalam masalah harga.

Secara tekstual, Ibnu Taimiyah kelihatannya melanggar nash hadis Nabi

Saw. tetapi karena pertimbangan kemaslahatan, dimana situasi berbeda dengan

masa Nabi, maka Ibnu Taimiyah memahami hadis tersebut secara kontekstual

berdasarkan pertimbangan maslahah. Kehadiran lembaga-lembaga perbankan dan

17
Abdul Wahab Khallaf, Kaidah-kaidah Hukum Islam..., hal. 130.

11
keuangan syariah juga berdasarkan kepada al-mashlahah al-mursalah. Inovasi

zakat produktif dan wakaf tunai juga didasarkan kepada maslahah. pendeknya

semua aktivitas dan perilaku dalam perekonomian acuannya adalah maslahah.18

Jika di dalamnya ada kemaslahatan, maka hal itu dibenarkan dan dianjurkan oleh

syariah. Sebaliknya jika di sana ada kemudaratan dan mufsadah, maka

prakteknya tidak dibenarkan, seperti ihtikar, najasy, spekulasi valas dan saham,

gharar, judi, dumping, dan segala jenis yang mengandung riba.

18
Ibid., hal. 131.

12
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Secara etimologi, masalahah merupakan bentukan dari kata shalaha,

yashluhu, shulhan, shilahiyyatan, yang berarti faedah, kepentingan, kemanfaatan

dan kemaslahatan. Sedangkan secara terminologi, maslahah diartikan sebagai

sebuah ungkapan mengenai suatu hal yang mendatangkan manfaat dan menolak

kerusakan/kemadharatan. Namun pengertian tersebut bukanlah pengertian yang

dimaksudkan oleh ahli ushul dalam terminologi mashalih al-mursalah. Menurut

pendapat mereka maslahah dalam term mashalih al-mursalah adalah al-

muhafazhah ala maqasid al-syariah (memelihara/melindungi maksud-maksud

hukum syari).

Kedudukan maslahah mursalah sebagai sumber hukum mengenai beberapa

perbedaan pendapat dari para ulama yang disertai dengan alasannya tersendiri.

Ada pula Imam Malik membolehkan berpegang kepadanya secara mutlak. Namun

menurut Imam Syafii boleh berpegang kepada maslahah mursalah apabila sesuai

dengan dalil-dalil kully atau dalil juziy dari syara. Tentunya mereka mempunyai

alasan tertersendiri pula.

Dari kalangan mazhab ushul memang terdapat perbedaan pendapat tentang

kedudukan maslahah mursalah dan kehujjahannya dalam hukum Islam, baik yang

menerima maupun menolak. Imam Malik beserta penganut mazhab Maliki adalah

kelompok yang secara jelas menggunakan maslahah mursalah sebagai metode

ijtihad. Imam Muhammad Abu Zahra bahkan menyebutkan bahwa Imam Malik

13
dan pengikutnya merupakan mazhab yang mencanangkan dan menyuarakan

maslahah mursalah sebagai dalil hukum dan hujjah syariyyah. Maslahah

mursalah juga digunakan dikalangan non Maliki antara lain ulama Hanabilah.

Menurut mereka maslahah mursalah merupakan induksi dari logika sekumpulan

nash, bukan dari nash rinci seperti yang berlaku dalam qiyas. Bahkan Imam

Syatibi mengatakan bahwa keberadaan dan kualitas maslahah mursalah itu

bersifat qati, sekalipun dalam penerapannya bersifat zhanni (relatif).

B. Saran

Demikianlah penyusunan makalah singkat ini kami selasaikan. Dengan

menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini tentunya tidak luput dari

kesalahan maupun kesilapan. Oleh karena itu, kita sebagai Mahasiswa Muslim,

kita harus meningkatkan pemahaman tentang mashlahah mursalah dengan lebih

banyak membaca dan mengkaji buku-buku Islam agar pemahaman tentang

mashlahah mursalah ini bisa lebih luas serta lebih sempurna. Namun demikian,

kami selaku penyusun juga berharap semoga makalah ini juga bisa diambil

hikmahnya.

14
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh, Semarang: Dina Utama, 1994.

Abdul Wahab Khallaf, Kaidah-kaidah Hukum Islam, Jakarta: Rajawali Press,


1993.

Abu Ishak asy-Sythibi, Al-Itisham, Jilid II, Beirut; Dr al-Marfah, 1975.

Ahmad Warson Munawir, Al-Munawir: Kamus Arab Indonesia, Surabaya:


Pustaka Progressif, 2002.

Al-Ghazali, Al-Mustashfa min al-Ilmi al-Ushul, Vol. I, Beirut: al-Resalah, 1997.

Al-Syahrastani, Al-Milal wa Al-Nihal, vol. 1, Kairo: al-Maktabah al-Taufiqiyyah,


tt.

Amir Syarifuddin, Ushul Fiqih Jilid 2, Cet. I, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999.

At-Tufy sulaiman majmuddin, At-Tayin fi Syarhi Al-Arabin, Beirut: Muassasah


Dayyan, 1998.

Chaerul Umam, dkk, Ushul Fiqih I, Bandung: Pustaka Setia, 2000.

Ibnu Qudmah, Raudhah an-Nadzr wa Junnah al-Munzhir, Beirut: Muassasah


al-Rislah, 1978.

Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh (Terj.) Saefullah Masum Jakarta:


Pustaka Firdaus, 2005.

Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqh, Beirut: Daar Al-Fkr Al-Araby, tt.

Musthafa Dib al-Bugho, Ushul al-Tasyri al-Islamiy: Atsar al-Adillah al-


Mukhtalif Fiha, cet. 3, Beirut: Dar al-Qalam. 1993.

Suwarjin, Ushul Fiqh, Yogyakarta: Teras, 2012.

15
Makalah Ushul Fiqh

MASLAHAH MURSALAH

Disusun Oleh Kelompok VI

Ainol Mardhiah : 161209257


Zubaidah : 151208731
Jurusan/Prodi :
Semester /Unit :

Dosen Pembimbing:

Tgk. M. Jafar, SHI., MA

16