Anda di halaman 1dari 2

Cegah Infeksi Nosokomial Setelah

dari Rumah Sakit

Cuci tangan

Jakarta - Selain menjadi tempat untuk menyembuhkan penyakit, rumah sakit


ternyata juga merupakan breeding ground atau tempat berkembang biaknya
kuman yang bisa menyebabkan infeksi nosokomial.

Dokter Anis Kurniawati, SpMK dari Departemen Mikrobiologi, FKUI


menjelaskan, infeksi nosokomial adalah infeksi yang berlangsung atau didapatkan
di rumah sakit. Infeksi nasokomial merupakan infeksi silang yang dapat ditularkan
di antara pasien, tenaga profesional kesehatan, staf rumah sakit, dan juga antar
pengunjung rumah sakit.

"Untuk membedakan antara infeksi nosokomial dengan yang bukan, ada batasan
waktu yang dibuat. Bila infeksi ini terjadi setelah 48 jam pasien masuk rumah
sakit, berarti itu adalah infeksi nosokomial," kata Anis Kurniawati saat ditemui di
Jakarta, Rabu (6/11).

Akibat yang ditimbulkan dari infeksi ini memang sangat beragam, mulai dari
kecacatan, sampai kematian. Waktu untuk perawatan pun jadi lebih lama. "Yang
terkena infeksi ini biasanya adalah orang-orang yang imunitasnya terganggu,"
tambah dia.

Menurut data WHO, infeksi terkait pelayanan kesehatan ini merupakan salah satu
penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian di dunia dengan 1,4 juta
angka kematian. Data lain menyebutkan, 10% pasien rawat inap di seluruh dunia
mengalami infeksi nosokomial. Sementara di Indonesia dalam sebuah penelitian
yang dilakukan di 11 rumah sakit di Jakarta tahun 2004 menyebutkan, 9,8 %
pasien rawat inap mendapatkan infeksi nosokomial.

Proses penularan infeksi nosokomial, tambah Anis, bisa berlangsung dalam


berbagai cara. Misalnya melalui interaksi langsung maupun tidak langsung antara
petugas medis kepada pasien, pasien satu kepada pasien lainnya, atau pasien
kepada orang yang berkunjung.

"Penularan kuman juga terjadi melalui peralatan medis, serangga, atau melalui
udara," jelasnya.

Masalah ini sebetulnya bisa dicegah dengan menerapkan kebiasaan cuci tangan
pakai sabun. Karena berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh RSCM pada
2002, ternyata 85,7% angka infeksi nosokomial dapat dikendalikan jika petugas
medis selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan medis.

Ketua Kompartemen Hospital Social Responsibility (HSR) Perhimpunan Rumah


Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Pusat, Dr. Robert Iman Sutedja menambahkan,
budaya cuci tangan pakai sabun di bawah air mengalir ini tentunya harus
dilakukan dengan cara yang benar sesuai standar WHO.

Ada enam langkah yang harus dilakukan saat mencuci tangan pakai sabun seperti
yang telah disosialisasikan PT Unilever Indonesia memalui brand Lifebuoy Clini-
shield10, yakni :

1. Gosok telapak dengan telapak


2. Gosok telapak kanan di atas punggung tangan kiri, dan sebaliknya.
3. Telapak dengan telapak dan jari sangat terkait.
4. Meletakkan punggung jari pada telapak satunya dengan jari saling mengunci.
5. Jempol kanan digosok memutar oleh telapak kiri, dan sebaliknya.
6. Jari kiri menguncup, gosok memutar ke kiri dan ke kanan pada telapak kanan
dan sebaliknya.

Penulis: Herman/MUT