Anda di halaman 1dari 380

PENILAIAN FORMASI

DAFTAR ISI

halaman
PF 00 Pengantar PF 00 - 01

PF 01 Koreksi pengaruh lubang bor


Tujuan PF 01 01
Metode dan Persyaratan PF 01 02
Langkah Kerja PF 01 02
Log Gamma Ray PF 01 02
Log Deep Induction PF 01 03
Deep Laterolog PF 01 03
Laterolog7 PF 01 03
Medium Induction log PF 01 03
Medium Laterolog (LLS) PF 01 04
16 normal (R16) PF 01 04
Spherically Focused Log (SFL) PF 01 04
Micro-Spherically Focused Log (MSF) PF 01 05
Micro-Laterolog (MLL) PF 01 05
Compensated Neutron Log (CNL) PF 01 05
Formation Density Compensated Log (FDC) PF 01 05
Koreksi Invasi untuk Induction Logs PF 01 06
Koreksi Invasi untuk Laterologs PF 01 06
Perhitungan diameter atau invasi PF 01 06
Daftar Pustaka PF 01 08
Daftar Simbol PF 01 09
Lampiran PF 01 11
Latar Belakang PF 01 11
Gambar dan Grafik PF 01 14

i
PF 02 Menghitung Porositas Dari Satu Jenis Log
Tujuan PF 02 01
Metode dan Persyaratan PF 02 01
Langkah Kerja PF 02 01
Log Listrik PF 02 01
Log Radioaktif PF 02 05
Log Sonic PF 02 13
Daftar Pustaka PF 02 16
Daftar Simbol PF 02 17
Lampiran PF 02 18
Latar Belakang PF 02 18
Contoh Penggunaan PF 02 31

PF 03 Menentukan Komposisi, Litologi Dan Porositas Batuan Dengan Kombinasi Dua Jenis Log
Tujuan PF 03 01
Metode dan Persyaratan PF 03 01
Langkah Kerja PF 03 01
Metode Cross Plot FDL Dan SNP PF 03 01
Metode Cross Plot FDL Dan CNL PF 03 02
Metode Cross Plot Sonik Dan SNP PF 03 03
Metode Cross Plot Sonik Dan CNL PF 03 03
Metode Cross Plot FDL Dan Sonik PF 03 03
Metode Cross Plot Litho Dan Density
Daftar Pustaka PF 03 05
Daftar Simbol PF 03 05
Lampiran PF 03 06
Latar Belakang dan Rumus PF 03 06
Contoh PF 03 08
Gambar yang Digunakan PF 03 09

ii
PF 04 Menentukan Komposisi, Litologi Batuan Dengan Kombinasi Tiga Log
Tujuan PF 04 01
Metode dan Persyaratan PF 04 01
Langkah Kerja PF 04 01
Metode M-N Plot PF 04 01
Metode MID Plot PF 04 03
Metode Litho-Density-Neutron Plot PF 04 03
Daftar Pustaka PF 04 05
Daftar Simbol PF 04 05
Lampiran PF 04 06
Latar Belakang dan Rumus PF 04 06
Contoh Perhitungan PF 04 06

PF 05 Penentuan Kandungan Shale (VSH)


Tujuan PF 05 02
Metode dan Persyaratan PF 05 02
Langkah Kerja PF 05 02
Metode Gamma Ray PF 05 02
Metode SP Log PF 05 03
Metode Rt Log PF 05 04
Metode Neutron Log PF 05 04
Metode Density-Neutron Log PF 05 04
Daftar Pustaka PF 05 05
Daftar Simbol PF 05 06
Lampiran PF 05 07
Latar Belakang dan Rumus PF 05 07
Contoh Soal PF 05 12
Gambar dan Grafik PF 05 14

iii
PF 06 Penentuan Rw Dari Log
Tujuan PF 06 01
Metode dan Persyaratan PF 06 01
Langkah Kerja PF 06 02
Metode SP PF 06 02
Metode Rt PF 06 04
Metode Resistivity-Porosity Cross Plot PF 06 05
Metode Rxo-Rt PF 06 06
Daftar Pustaka PF 06 06
Daftar Simbol PF 06 07
Lampiran PF 06 08
Latar Belakang dan Rumus PF 06 08
Contoh Perhitungan PF 06 08
Gambar dan Tabel PF 06 10

PF 07 Penentuan Rt
Tujuan PF 07 02
Metode dan Persyaratan PF 07 02
Langkah Kerja PF 07 03
Pembacaan Langsung PF 07 03
Metode Grafis PF 07 03
Daftar Pustaka PF 07 05
Daftar Simbol PF 07 06
Lampiran PF 07 07
Latar Belakang dan Rumus PF 07 07
Contoh Penggunaan PF 07 09
Tabel dan Gambar yang Digunakan PF 07 12

iv
PF 08 Penentuan Rxo Dari Log
Tujuan PF 08 01
Metode dan Persyaratan PF 08 01
Langkah Kerja PF 08 02
Penentuan Rxo Dari Microlog PF 08 02
Penentuan Rxo Dari Proximity Log PF 08 03
Penentuan Rxo Dari Microlaterolog PF 08 04
Penentuan Rxo Dari Microspherically Focused Log (MSFL) PF 08 04
Penentuan Rxo Dari Kombinasi Log Resistivity Jangkauan
Dangkal, Menengah dan Dalam PF 08 04
Daftar Pustaka PF 08 05
Daftar Simbol PF 08 06
Lampiran PF 08 07
Latar Belakang dan Rumus PF 08 07
Contoh PF 08 08
Gambar PF 08 09

PF 09 Interpretasi Log Untuk Clean Sand


Tujuan PF 09 01
Metode dan Persyaratan PF 09 01
Langkah Kerja PF 09 02
Metode Kualitatif PF 09 02
Metode Kuantitatif PF 09 03
Daftar Pustaka PF 09 05
Daftar Simbol PF 09 06
Lampiran PF 09 07
Latar Belakang dan Rumus PF 09 07
Contoh PF 09 08
Gambar dan Tabel PF 09 09

v
PF 10 Interpretasi Log Untuk Shally Sand
Tujuan PF 10 01
Metode dan Persyaratan PF 10 01
Langkah Kerja PF 10 03
Metode Automatic Compensation PF 10 03
Metode Dispersed Clay PF 10 04
Metode Simandoux PF 10 05
Metode Dual Water PF 10 06
Daftar Pustaka PF 10 08
Daftar Simbol PF 10 09
Lampiran PF 10 11
Latar Belakang dan Rumus PF 10 11
Contoh Perhitungan PF 10 16
Gambar-gambar yang Digunakan PF 10 20

PF 11 Floating Persamaan m
Tujuan PF 11 01
Metode PF 11 01
Langkah Kerja PF 11 01
Cementation Exponent Dari Formula Shell PF 11 01
Cementation Exponent Dari Formula Nugent PF 11 01
Cementation Exponent Dari Formula Rasmus PF 11 01
Daftar Pustaka PF 11 03
Daftar Simbol PF 11 03
Lampiran PF 11 06

vi
PF 12 Water Saturation Equations
Tujuan PF 12 01
Metode dan Persyaratan PF 12 01
Langkah Kerja PF 12 01
Saturasi Air Dari Metode Archie PF 12 01
Saturasi Air Dari Metode Simandoux PF 12 03
Saturasi Air Dari Methode Waxman-Smits (CEC) PF 12 03
Saturasi Air Dari Methode Waxman-Smits-Juhasz PF 12 04
Saturasi Air Dari Bulk Volume Water (Bulk Volume
Water) PF 12 05
Indonesian Water Saturation Untuk Dispersed Shaly Sands PF 12 05
Saturasi Air Dari Metode Ratio PF 12 06
Saturasi Air Dari Metode Poupon Untuk Laminated Sands PF 12 07
Saturasi Air Dari Methode Modified Simandoux Untuk
Laminated Sands PF 12 07
Water Saturation Smoothing PF 12 08
Daftar Pustaka PF 12 09

PF 13 Perkiraan Permeabilitas Dari Log


Tujuan PF 13 01
Metode dan Persyaratan PF 13 01
Langkah Kerja PF 13 02
Metode Resistivity Gradient PF 13 02
Metode Hubungan Porositas dan Saturasi PF 13 02
Daftar Pustaka PF 13 04
Daftar Simbol PF 13 05
Lampiran PF 13 06
Latar Belakang dan Rumus PF 13 06
Contoh Perhitungan PF 13 08
Gambar dan Tabel yang Digunakan PF 13 10

vii
PF 14 Perhitungan Densitas Hidrokarbon
Tujuan PF 14 01
Metode dan Persyaratan PF 14 01
Langkah Kerja PF 14 01
Metode Perhitungan PF 14 01
Metode Grafis PF 14 03
Daftar Pustaka PF 14 04
Lampiran PF 14 05

PF 15 Interpretasi Logging Sumur Di Lokasi Untuk Menghitung Saturasi (Quick Look)


Tujuan PF 15 01
Metode dan Persyaratan PF 15 01
Langkah Kerja PF 15 03
Metode Cross-Plot PF 15 03
Metode Pembacaan Langsung Dengan Mistar Khusus PF 15 05
Metode Grafis PF 15 05
Nomograph PF 15 05
Metode Perbandingan (Ratio Method) PF 15 05
Daftar Pustaka PF 15 07
Daftar Simbol PF 15 08
Lampiran PF 15 09
Latar Belakang dan Rumus PF 15 09
Contoh Perhitungan PF 15 11
Gambar yang Digunakan PF 15 16

PF 16 Persamaan Penentuan Lithology


Umum PF 16 01
Kombinasi Log Gamma Ray Neutron - Density PF 16 01
Plot Litologi M-N PF 16 02
Plot Litologi MID PF 16 07
Plot MID maa vs Umaa PF 16 10
Penentuan Tipe Batuan dan Pemetaan Fasies PF 16 14
Daftar Pustaka PF 16 17

viii
PF 17 Hydraulic Flow Unit PF 17 01

PF 18 Borehole Imager
Fullbore Formation MicroImager (FMI) PF 18 01
Oil-Base MicroImager (OBMI) PF 18 04
Ultrasonic Borehole Imager (UBI) PF 18 09

PF 19 CBL & VDL


Metode I (100% semen) PF 19 01
Metode II (80% semen) PF 19 03
Metode III (75% semen) PF 19 05

PF 20 CO Log PF 20 01

PF 21 NMR
Metode PF 21 01
Proton Alignment PF 21 02
Spin Tipping PF 21 02
Precession dan Dephasing PF 21 03
Refocusing: Spin Echoes PF 21 04
Transverse Relaxation, T2 PF 21 04
Longitudinal Relaxation, T1 PF 21 05
Mekanisme Relaksasi NMR PF 21 05
Relaksasi Permukaan Butir (Grain Surface Relaxation) PF 21 06
Relaksasi difusi molekul pada gradien medan magnetik PF 21 07
Relaksasi fluida-keseluruhan (Bulk fluid relaxation) PF 21 07
Kesimpulan proses relaksasi PF 21 08
Aplikasi PF 21 08
Distribusi T2 PF 21 08
Lithology-independent porosity PF 21 09
Permeabilitas PF 21 11
Free-fluid index PF 21 12

ix
PF 22 Log PEF Interpretation PF 22 01
Perhitungan Pe PF 22 01
Ketergantungan Pe terhadap Litologi PF 22 02
Kedalaman Penetrasi dan Resolusi vertikal PF 22 04
Pengaruh pengaruh di lubang sumur PF 22 04
Aplikasi PF 22 05
Interpretasi Litologi Dengan Kurva (b - Pe) PF 22 06

PF 23 Introduction to Cased Hole Log PF 23 01


Natural Gamma Ray Log PF 23 01
Natural Gamma Ray Spectometry Tool (NGS) PF 23 03
Neutron Log PF 23 07
Sonic Log PF 23 08
Thermal Decay Time Log PF 23 18
Gamma Ray Spectometry Tool PF 23 20

PF 24 Cased Hole Formation Resistivity PF 24 01

x
PENILAIAN FORMASI PF 00
Halaman :1/4
PENGANTAR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Sejak sekitar tahun 1970-an diperkenalkan synergy multi disiplin untuk melakukan pengkajian lapangan
migas yang kemudian berkembang pesat berkat kemajuan berbagai penelitian terapan maupun kontribusi
komputer dalam lingkup ini sekitar era tahun 1980-an, peranan penilaian formasi menjadi lebih signifikan
sebagai salah satu mata rantai penghubung antar disiplin geofisika, geologi dan reservoir/simulation
engineer. Kalau sebelumnya pengkajian lapangan migas dilakukan dengan pendekatan garis (line
approach), pada era synergy ini pendekatannya dapat digambarkan sebagai pendekatan spiral, dimana
semua disiplin melakukan assessment awalnya masing masing dan mengkomunikasikan hasilnya dalam
tim untuk mendapatkan gambaran bersama pemodelan awal, yang memerlukan penghalusan (refinement)
dengan assessments selanjutnya. Demikianlah penghalusan demi penghalusan akan senantiasa diperlukan
seiring dengan makin bertambah majunya (advanced) interpretasi yang dilakukan maupun adanya
tambahan data yang tersedia. Pada hakekatnya ekspresi kuantitatif menjadi bahan utama komunikasi antar
disiplin tersebut mengikuti karakter sarana utamanya yaitu suatu komunikasi berbasis komputer.

Pedoman ini ditujukan bagi mereka yang telah mengenal fundamentals of well logging. Isinya difokuskan
terutama pada uraian mengenai hubungan berbagai respons log menyangkut kelakuan petrofisis yang
penting misalnya porositas, saturasi hidrokarbon, permeabilitas dan lithologi, mulai dari formula
sederhana dengan data terbatas yang hanya mampu menghasilkan interpretasi yang kurang akurat tetapi
cepat didapat sampai teknik interpretasi lanjut seperti cross-plotting, dsb. yang memberikan hasil
perhitungan yang lebih akurat tetapi juga menuntut perhitungan yang lebih rumit dan tersedianya data
yang lebih lengkap. Suatu paket program komputer khusus disusun sebagai penunjang pemahaman dan
penggunaan modul PF-01 sampai dengan PF-16 pedoman ini untuk memudahkan perhitungan yang
diperlukan didalamnya.

Pada dasarnya penilaian formasi bertumpu pada interpretasi log. Pengalaman menunjukkan bahwa hal
utama yang perlu mendapat perhatian pada saat pertama kali mengkaji rekaman hasil log adalah meneliti
kondisi lubang bor. Tantangannya adalah bahwa seringkali zona yang menarik justru terletak pada zona-
zona dengan kondisi lubang bor yang kurang bagus (caving, dsb) karena kondisi batuannya (batu pasir
lepas, permeabel, berpori relatif besar, dsb) memang menyebabkan kondisi demikian saat dibor. Karena
itu koreksi semua hasil rekaman terhadap pengaruh kondisi lubang bor menjadi perhatian utama dan
ditempatkan pada modul pertama PF-01. Secara sederhana interpretasi log dapat diartikan sebagai
perkiraan besarnya pori, pemahaman padatannya dan perkiraan isi fluida porinya. Sejak awal kajian
porositas menjadi besaran pertama yang harus diperkirakan. Hal ini diuraikan berturut-turut pada modul

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI PF 00
Halaman :2/4
PENGANTAR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

PF-02, PF-03 dan PF-04 mulai dari cara perhitungan sederhana yang didapat dari satu jenis log, dua log
dan tiga jenis log hingga menjangkau perkiraan komposisi dan lithologi batuan. Besaran berikutnya yang
dikategorikan sebagai gangguan kemurnian (impurities) yaitu kandungan lempung (Vsh) diuraikan pada
PF-05. Selanjutnya menyangkut perkiraan fluida pengisi pori diperlukan perhitungan mengenai besarnya
tahanan listrik air formasi (Rw) diuraikan pada modul PF-06 yang dilanjutkan dengan penentuan tahanan
formasi Rt dan penentuan tahanan dinding lubang bor Rxo masing masing pada modul PF-07 dan PF-08.
Perhitungan komprehensif pertama diuraikan pada modul PF-09 menyangkut model interpretasi Clean
Sand yang diikuti modul PF-10 mengenai interpretasi lanjut (advanced) yang pertama yaitu model
interpretasi Shaly Sand. Modul selanjutnya PF-11, PF-12, PF-13, PF-14 dan PF15 merupakan modul
modul yang diperlukan bagi interpretasi lanjut (advanced) tetapi umumnya dilakukan pada suatu kajian
lengkap yaitu mengenai arti besaran m faktor sementasi batuan, penentuan saturasi air, perkiraan
permeabilitas batuan, densitas hidrokarbon dan penentuan lithologi batuan yang lebih kompleks. Bagian
yang dilengkapi dengan program komputer pendukung ini memberikan pula petunjuk praktis perhitungan
ringkas (Quick Look) yang umum dilakukan dilapangan sebagai panduan engineer melakukan apresiasi
kuantitatif awal terhadap rekaman log yang didapat on the spot, dan ditutup dengan modul PF16
mengenai Multimineral, merupakan apresiasi lanjut (advanced) data log yang memerlukan masukan dari
berbagai sumber data lainnya baik dari geofisika dan terutama geologi, sehingga pengguna disyaratkan
pula untuk membekali diri dengan pemahaman petrofisika yang lebih mendalam.

Modul-modul selanjutnya menguraikan berbagai teknik mutahir yang sudah umum dilakukan dilapangan
dewasa ini maupun beberapa teknik serta konsep (seperti Hydraulic Flow Unit) yang mempunyai
kecenderungan berperan penting dalam synergy multidisiplin dimasa mendatang. Modul modul ini tanpa
program komputer pendukung dan dimaksudkan sebagai pengantar mendalami masalah ini lebih lanjut
untuk memfasilitasi pembekalan kompetensi para engineer pemakai pedoman ini dalam berkomunikasi
dengan berbagai disiplin yang terkait.

Sebagai penutup pengantar ini diskemakan alur kerja interpretasi log sebagaimana dinyatakan pada
Gambar 00 -1.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI PF 00
Halaman :3/4
PENGANTAR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 00 - 1
Skema alur kerja interpretasi log

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI PF 00
Halaman :4/4
PENGANTAR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 00 - 1 (lanjutan)
Skema alur kerja interpretasi log

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 01
Halaman : 1 / 18
KOREKSI PENGARUH LUBANG BOR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Penilaian formasi sebagian besar bersandar pada interpretasi log. Sementara interpretasi log itu sendiri
mengandalkan data yang diperoleh dari log. Data itu sendiri membutuhkan pengolahan (treatment)
sebelum bisa dianggap layak dan memadai untuk dipergunakan.

Ada dua macam kendali mutu (Quality Control), yaitu mutu rekaman dan mutu penyidikan. Kendali mutu
rekaman dilakukan dengan meneliti kewajaran hasil rekaman digital. Ini dikoreksi dengan menghapus
bagian yang jelas jelas tidak wajar, mengosongkan bagian itu atau mengambil harga rata rata dari
sekitarnya. Koreksi jenis ini tidak dibahas dalam panduan ini, tetapi diberikan contoh cara melakukannya
pada perangkat lunak pendukung sebagai bagian yang mutlak diperlukan sebelum melakukan interpretasi.

Kendali mutu penyidikan dilakukan dengan melakukan koreksi dari pengaruh lingkungan (environment
corrections) karena meskipun sonde penyidik sudah dirancang sedemikian rupa agar tidak sensitif
terhadap keadaan yang berjarak dekat terhadap sonde, karena yang diharapkan justru data mengenai
keadaan alamiah bagian yang berada lebih jauh masuk kedalam formasi, tetapi sinyal parasit itu
senantiasa ada. Dengan mengenal kondisi sekitar yang dekat dengan sonde (besarnya lubang bor, densitas
lumpur, suhu, dsb.) dapat dilakukan koreksi yang dimaksud. Pengalaman menunjukkan, justru pada
kondisi lubang bor yang kurang bagus, biasanya dijumpai reservoir yang bagus, karena buruknya hasil
pemboran bisa jadi disebabkan oleh porositas dan permeabilitas yang bagus, sehingga untuk
mengapresiasi data pada kondisi lubang bor yang buruk, diperlukan kejelian yang ekstra. Koreksi jenis ini
diuraikan pada modul ini.

1. TUJUAN
Melakukan koreksi terhadap data logging. Data perlu dikoreksi karena adanya perbedaan atau
penyimpangan dari keadaan yang sebenarnya. Hal ini disebabkan oleh kondisi sumur yang diameternya
tidak seragam, pengaruh lumpur pemboran dan lain sebagainya. Penyesuaian harus dilakukan pada
pengukuran log untuk mengembalikannya pada kondisi standard, yang sesuai dengan peralatan yang
digunakan. Pada bab ini, koreksi yang digunakan adalah koreksi secara matematis, sebagai pengantar
untuk software pendamping.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 01
Halaman : 2 / 18
KOREKSI PENGARUH LUBANG BOR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

2. METODE DAN PERSYARATAN


2.1. METODE
Koreksi Gamma Ray terhadap Efek Lubang Sumur
Koreksi Deep Induction Log terhadap Efek Lubang Sumur
Koreksi Deep Laterolog terhadap Efek Lubang Sumur
Koreksi Laterolog7 terhadap Efek Lubang Sumur.
Koreksi Medium Induction Log terhadap Efek Lubang Sumur
Koreksi Medium Laterolog (LLS) terhadap Efek Lubang Sumur
Koreksi 16 normal (R16) terhadap Efek Lubang Sumur.
Koreksi Spherically Focused Log (SFL) terhadap Efek Lubang Sumur
Koreksi Micro-Spherically Focused Log (MSF) terhadap Efek Lubang Sumur
Koreksi Micro-Laterolog (MLL) terhadap Efek Lubang Sumur.
Koreksi Compensated Neutron Log (CNL) terhadap Efek Lubang Sumur.
Koreksi Formation Density Compensated Log (FDC) terhadap Efek Lubang Sumur.
Koreksi Invasi untuk Induction Logs.
Koreksi Invasi untuk Laterologs.
Perhitungan Diameter Invasi.
Induction Log
Laterologs

2.2. PERSYARATAN
Tersedia data log, data lubang sumur dan data lumpur yang akan dikoreksi.

3. LANGKAH KERJA
3.1. Koreksi Gamma Ray terhadap Efek Lubang Sumur
GRc = GR (1 + 0.04 (MW 8.3)) (1 + 0.06 (CAL 8))
Bila CAL = 0 maka CAL = HOLE SIZE
Bila MW = 0 maka GRc = GR

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 01
Halaman : 3 / 18
KOREKSI PENGARUH LUBANG BOR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

3.2. Koreksi Deep Induction Log terhadap Efek Lubang Sumur


Bila CAL 12 maka G = (0.0001 CAL ) 0.0011 .

Bila CAL > 12 maka G = (0.00073 CAL ) 0.0092

Rdeep RM (1 G )
Rdeepc =
(RM (G R )) deep

3.3. Koreksi Deep Laterolog terhadap Efek Lubang Sumur

Rdeep
X = LOG
RM
Bila X < 1 dan X > 0 maka X = 1
Bila X > 4 maka X = 4
Bila X 0 maka Rdeepc = Rdeep 0.83

(
Bila X < 1 maka Rdeepc = Rdeep 0.83 + (0.46 (LOG CAL ) 0.26) X
0.4
)
Bila X 1 maka A = 0.566 + 0.46 (LOG CAL )

Rdeepc = Rdeep ( A ( A 0.814) (0.334 ( X 1)) (0.334 ( X 1)))

3.4. Koreksi Laterolog7 terhadap Efek Lubang Sumur.

Rdeep
X = LOG
RM
( (
Y = 1 + (0.157 X ) 0.067 X 2 ))

A =
(CAL 11)
+ 11
1 + 0.498 ( X 1) ( X 1)
Rdeepc = Y Rdeep (0.78 + 0.02 A)

3.5. Koreksi Medium Induction Log terhadap Efek Lubang Sumur


Bila CAL 8 maka G = (0.0001 CAL) 0.0004

Bila CAL > 16 maka G = 0.0091 selain itu bila CAL > 8 , G = (0.001125 CAL) 0.0091

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 01
Halaman : 4 / 18
KOREKSI PENGARUH LUBANG BOR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Rmed RM (1 G )
Rmedc =
(RM (G Rmed ))

3.6. Koreksi Medium Laterolog (LLS) terhadap Efek Lubang Sumur

R
X = LOG med
RM
Bila X < 1 maka X = 1
Bila X > 4 maka X = 4
Bila X 0 maka R medc = R med (1.07 + 0.029 X (CAL 10.2 ))

Bila X < 1 maka Rmedc = Rmed (1.03 + 0.03 ( X .6 ) (CAL 10.2 ))


Bila X 1 dan X < 2 dan CAL < 13 maka Rmedc = Rmed 1.04 (0.011 X ) +
(CAL 8)

33
Selain dari itu ( X 2 ) ,


Rmedc = Rmed 1.04 (0.011 X ) +
(CAL 8) + R (0.01 (1 + ( X 2)))(CAL 10.2 )
med
33

3.7. Koreksi 16 normal (R16) terhadap Efek Lubang Sumur.

R
X = LOG med
RM
R medc = RM 10 ((1+ 0.02 (CAL 10 ))0.9 + X (1.07 0.35 CAL )+ X (0.035CAL 0.15 ))
2

Bila X < 0 maka Rmedc = Rmed

Bila X < 0.95 maka Rmedc = RM 10 ( X (1+ 0.02(CAL 10 )))

3.8. Koreksi Spherically Focused Log (SFL) terhadap Efek Lubang Sumur
R
X = LOG med
RM
Bila X < 0 maka Rmedc = Rmed 1.12

(
Bila X 0 dan X < 1 maka Rmedc = Rmed 1.12 + 0.033 (CAL 11) X 0.5 ( ))
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 01
Halaman : 5 / 18
KOREKSI PENGARUH LUBANG BOR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Bila X 1 dan X 2.5 maka Rmedc = Rmed (1.12 + 0.033 (CAL 11) 0.03 ( X 1))

Selain itu ( X > 2.5) , maka

( ( ( (0.39(CAL 3 ))
Rmedc = Rmed 1.12 + 0.033 (CAL 11) 0.03 ( X 1) + Rmed 0.01 ( X 1.5) )))

3.9. Koreksi Micro-Spherically Focused Log (MSF) terhadap Efek Lubang Sumur

R
X = LOG sh
RMC
Bila X < 1 maka X = 1
Bila X > 4 maka X = 4
Bila X 0 maka Rshc = Rsh 0.72

Selain nilai itu, maka Rshc = Rsh (0.7 + 0.1 X )

3.10. Koreksi Micro-Laterolog (MLL) terhadap Efek Lubang Sumur.

R
X = LOG sh
RMC
Bila X < 1 maka X = 1
Bila X > 4 maka X = 4
Bila X 0 maka Rshc = Rsh 0.77

(
Selain nilai itu, maka R shc = R sh 0.77 + 0.06 X 2 )

3.11. Koreksi Compensated Neutron Log (CNL) terhadap Efek Lubang Sumur.
CNLc = CNL (1 + 0.001(TF 75) + 0.016 (MW 8) 0.0004 SAL 0.0000053 PSI )

3.12. Koreksi Formation Density Compensated Log (FDC) terhadap Efek Lubang Sumur.
Bila CAL 9 maka FDC c = FDC

Selain diatas, FDC c = FDC 0.096 + 0.014 CAL 0.00033 CAL2

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 01
Halaman : 6 / 18
KOREKSI PENGARUH LUBANG BOR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

3.13. Koreksi Invasi untuk Induction Log


Bila RESD < RESM dan bila RESM < RESS ,

, D = 0.59 (H 2.21C + 1.35) ,


RESS RESM H
maka H = , B= ,C=
RESD 1 RESD 1 B

((
E = 1.44 H + 2.47 C 2.76 , G = 0.5 D 2 4 E )
0.5
+D )
Selain nilai di atas, maka G = 1
Rt = G RESD

3.14. Koreksi Invasi untuk Laterolog


RESD
Bila 1 maka Rt = 1.7 RESD 0.7 RESM
RESS
RESD
Bila 1.1 maka Rt = 1.1 RESD
RESM
RESM (RESD RESS )
Selain nilai tersebut, maka C =
RESS (RESD RESM )

Bila C = 1 maka Rt = RESD


1.78
RESD
Bila C 1 maka Rt = 2.18 C
1.78 1.78 C 1

3.15. Perhitungan Diameter Invasi.


Induction Log

RESM (RESD Rt )
C =
Rt (RESM RESD )
100
Di = 33 (C + 1) min 0.5 C 0.04
10

Laterologs
R
Rt t
1
Bila > 1 , maka Di = 10 RESD
RESD

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 01
Halaman : 7 / 18
KOREKSI PENGARUH LUBANG BOR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Rt RESD
Bila < 1 , maka Di = 160 1
RESD Rt
Rt
Bila = 1 , maka Di = 0
RESD

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 01
Halaman : 8 / 18
KOREKSI PENGARUH LUBANG BOR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

4. DAFTAR PUSTAKA
1. E.R. Crain, "The Log Analysis Handbook, Volume 1, Quantitative Log Analysis Methods",
PENNWELL Books, Tulsa, Oklahoma, USA, 2000.
2. www.pe.utexas.edu/Dept/Academic/Courses/F2002/PGE368/PDFs/Electrical_Logging.pdf
3. www.geogateways.com/browse.asp?topicID=9&subTopicID=91
4. www.reeves-wireline.com/chartpdfs/CompactCharts.pdf
5. www.crockerdata.com.au/petrolog.html

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 01
Halaman : 9 / 18
KOREKSI PENGARUH LUBANG BOR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

5. DAFTAR SIMBOL
CAL = pembacaan ukuran lubang dari caliper log (in.)
RM = resisitivitas lumpur pada temperature formasi (F)
RMC = resisitivitas mudcake pada temperatur formasi (F)
MW = berat lumpur (lb/gal)
HOLE SIZE = diameter sumur
GR = pembacaan log gamma ray (API units)
GRC = koreksi gamma ray corrected terhadap ukuran lubang sumur dan berat lumpur (API
units)
TF = temperatur formasi (F)
SAL = salinitas air formasi (ppm)/1000
PSI = tekanan pada kedalaman tertentu (pounds/in2)
CNLC = koreksi CNL
CNL = original CNL
FDCC = koreksi FDC
FDC = original FDC
Di = diameter invasi (in)
Untuk 3.2. Koreksi Deep Induction Log :
Rdeepc = koreksi deep induction
Rdeep = original deep induction
Untuk 3.3. Koreksi Deep Laterolog :
Rdeepc = koreksi deep Laterolog
Rdeep = original deep Laterolog
Untuk 3.4. Koreksi Laterolog7 :
Rdeepc = koreksi deep Laterolog7
Rdeep = original deep Laterolog7
Untuk 3.5. Koreksi Medium Induction Log :
Rmedc = koreksi medium induction
Rmed = original medium induction
Untuk 3.6. Koreksi Medium Laterolog (LLS) :
Rmedc = koreksi medium Laterolog
Rmed = original medium Laterolog

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 01
Halaman : 10 / 18
KOREKSI PENGARUH LUBANG BOR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Untuk 3.7. Koreksi 16 normal (R16) :


Rmedc = koreksi medium SFL
Rmed = original medium SFL
Untuk 3.8. Koreksi Spherically Focused Log (SFL) :
Rmedc = koreksi medium SFL
Rmed = original medium SFL
Untuk 3.9. Koreksi Micro-Spherically Focused Log (MSF) :
Rshc = koreksi shallow MSF
Rsh = original shallow MSF
Untuk 3.10. Koreksi Micro-Laterolog (MLL) :
Rshc = koreksi MLL
Rsh = original MLL
Untuk 3.13. Koreksi Invasi untuk Induction Log :
RESD = pembacaan log deep induction
Rt = koreksi pembacaan log deep induction untuk invasi
RESM = pembacaan log medium induction
RESS = pembacaan log shallow induction
Untuk 3.14. Koreksi Invasi untuk Laterolog :
RESD = pembacaan deep Laterolog
RESDC = koreksi pembacaan deep Laterolog untuk invasion
RESM = pembacaan log medium Laterolog (ohm-m)
RESS = pembacaan log shallow Laterolog (ohm-m)
Untuk 3.15. Perhitungan Diameter Invasi :
Rt = pembacaan log corrected deep Laterolog
RESM = pembacaan log medium Laterolog (ohm-m)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 01
Halaman : 11 / 18
KOREKSI PENGARUH LUBANG BOR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

6. LAMPIRAN
6.1. LATAR BELAKANG
Pengukuran yang dilakukan pada operasi logging, mengalami penyimpangan dengan keadaan
sebenarnya. Hal ini disebabkan oleh kondisi sumur yang diameternya tidak seragam, pengaruh
lumpur pemboran dan lain sebagainya. Penyesuaian harus dilakukan pada pengukuran log untuk
mengembalikannya pada kondisi standard, yang sesuai dengan peralatan yang digunakan.
Pengukuran yang berbeda membutuhkan koreksi yang berbeda pula. Sebagai contoh, pengukuran
resistivitas biasanya membutuhkan koreksi lubang bor, invasi dan shoulder beds, dan mungkin
juga dikoreksi terhadap apparent dip, anisotropy dan surrounding beds pada sumur horisontal.
Pengukuran density hanya membutuhkan koreksi terhadap ukuran lubang bor, dimana pengukuran
neutron porosity membutuhkan koreksi terhadap temperatur, tekanan dan paremeter lubang bor
dan formasi, dengan jumlah koreksi yang banyak. Tidak semua koreksi memberikan perubahan
signifikan pada setiap kondisi. Koreksi dapat dilakukan dengan melakukan perhitungan secara
manual, menggunakan chart atau menggunakan software. Secara umum, koreksi dilakukan sesuai
dengan urutan-urutan tertentu, sebagai contoh pertama-tama dikoreksi terhadap lubang bor,
kemudian dikoreksi terhadap invasi. Pada situasi tertentu, seperti kombinasi dari deep invasion dan
high apparent dip, pada pengukuran resistivitas, koreksi sangat tergantung pada urutannya, untuk
memperoleh hasil yang akurat.

Berdasarkan pengalaman, bila dijumpai kondisi lubang bor yang buruk, biasanya reservoir yang
dijumpai akan bagus. Kondisi lubang bor yang buruk dapat disebabkan oleh porositas dan
permeabilitas yang dimiliki oleh reservoir, sehingga untuk pembacaan pada kondisi lubang bor
yang buruk, diperlukan perhatian ekstra.

Koreksi Lubang Bor


Koreksi lubang bor adalah besaran koreksi yang digunakan pada pengukuran log yang harus
disesuaikan, dengan tujuan untuk menghilangkan pengaruh lubang bor. Walaupun pada umumnya
pengukuran lubang bor telah didesain untuk sekecil mungkin terpengaruh oleh lubang bor,
beberapa pengaruh masih ada. Pengaruh ini dapat dihilangkan dengan menggunakan software atau
dengan cara manual dengan menggunakan chart koreksi. Pada log resistivitas, koreksi yang ada
menggantikan pengaruh lubang bor dengan resistivitas yang sebanding dengan yang ada pada
formasi. Pada log nuklir (radioaktif), koreksi menyesuaikan hasil pembacaan dengan yang

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 01
Halaman : 12 / 18
KOREKSI PENGARUH LUBANG BOR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

seharusnya ditemukan pada keadaan standard, misalnya lubang 8 inch (20 cm) yang terisi dengan
fresh water.

Borehole Compensation
Borehole compensation adalah penyesuaian transducer ke atas maupun ke bawah pada alat
logging, yang pada umumnya bertujuan untuk menyesuaikan kesalahan-kesalahan pembacaan
yang diakibatkan oleh variasi ukuran lubang bor atau kesalahan pada posisi sonde. Teknik ini
digunakan untuk pengukuran yang berdasarkan pada kelakuan gelombang, seperti sonik
(gelombang suara), resistivitas dan pengukuran elektromagnetik.
Propagation log berdasarkan pada pengukuran perbedaan sifat gelombang pada dua buah
penangkap (receiver). Lubang bor mempengaruhi perbedaan ini bila alat mengalami perubahan
posisi atau bila ada gerowong pada posisi yang berlawanan pada salah satu receiver. Efek tersebut
dapat diatasi dengan menggunakan dua buah transmitter yang meradiasi pada arah yang
berlawanan. Pada kondisi ideal, efek dari perubahan posisi receiver atau gerowong selalu
berlawanan untuk kedua buah transmitter, jadi nilai rata-rata dari keduanya memberikan hasil
yang tepat. Borehole compensation ini berbeda dengan dengan borehole correction (koreksi
lubang bor).

Step Profile
Dengan melihat pada proses invasi, perubahan yang ekstrim dapat terjadi pada peralihan dari
flushed zone ke undisturbed zone, tanpa adanya transition zone (annulus). Step Profile, adalah
model sederhana yang digunakan secara umum untuk menyatakan log resistivity (yang lama),
sejak digunakan tiga parameter untuk mendefinisikan resistivitas, yaitu : resistivitas pada flushed
zone, resistivitas pada undisturbed zone dan diameter invasi. Model ini mengasumsikan kedalaman
invasi yang sama untuk semua arah.
Jenis log yang baru, menginterpretasikan model invasi yang kompleks.

Pengaruh Gerowong
Pengaruh gerowong yang dimaksud di sini adalah perubahan drastis pada diameter lubang bor,
misalnya yang disebabkan oleh gerowong (gua), pada log induksi (induction log). Pada lubang bor
yang bagus dengan diameter konstan, pengaruh lubang bor dapat dihitung dan dikoreksi. Tetapi,
pembesaran drastis pada diameter pada interval yang kecil dapat menimbulkan pembacaan yang

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 01
Halaman : 13 / 18
KOREKSI PENGARUH LUBANG BOR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

berbeda pada sensor tertentu dibandingkan dengan yang lain. Sinyal ini tidak dapat dikoreksi
dengan menggunakan koreksi lubang bor yang normal, tetapi dengan melakukan perubahan
koreksi pada titik log tersebut. Perubahan ini biasanya signifikan pada saat resistivity tinggi dan
terdapat perbedaan yang besar antara resistivitas formasi dan resistivitas lubang bor. Perlunya
penyesuaian ini juga tergantung pada desain sensor atau desain proses interpretasinya.
Perbedaan antara bagian luar alat logging dan dinding lubang bor mempunyai pengaruh yang
penting terhadap respon dari beberapa pengukuran logging, yaitu log induction dan neutron
porosity. Untuk peralatan resistivity, efek standoff ini dimasukkan ke dalam koreksi lubang bor.
Pada alat neutron porosity, biasanya dilakukan koreksi yang terpisah. Untuk lubang bor normal
dengan lubang yang bagus, standoff memiliki nilai konstan dan diperoleh berdasarkan geometri
rangkaian alat logging dan lubang bor. Untuk lubang yang tidak bagus (tidak umum), besarnya
standoff bervariasi tergantung pada kedalamannya.
Sebuat bagian dari alat logging didesain untuk menempatkan rangkaian alat logging tersebut agar
berjarak tertentu dari dinding lubang bor. Biasanya alat ini terbuat dari karet keras, terdiri dari
empat hingga enam sirip yang panjangnya disesuaikan dengan jarak yang diinginkan.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 01
Halaman : 14 / 18
KOREKSI PENGARUH LUBANG BOR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

6.2. GAMBAR DAN GRAFIK

Gambar 1. Pengaruh Lingkungan yang Ada pada Pengukuran Log

Gambar 2. Skema Terbentuknya Mud Cake

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 01
Halaman : 15 / 18
KOREKSI PENGARUH LUBANG BOR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 3. Open Hole Logging Environment, Dynamic Mud Filtrate Invasion and Mud Cake
Buildup (Oilfield Review, Schlumberger)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 01
Halaman : 16 / 18
KOREKSI PENGARUH LUBANG BOR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 4. Mud-Filtrate Invasion and Terminology (Baker Atlas)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 01
Halaman : 17 / 18
KOREKSI PENGARUH LUBANG BOR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 5. Alat Log Elektrik, Low Frequency Excitation : 10 Hz 500 KHz

Gambar 6. Alat Log Elektrik

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 01
Halaman : 18 / 18
KOREKSI PENGARUH LUBANG BOR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 7. Perbandingan Depth of Investigation untuk Berbagai Alat Log

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 1 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

Perkiraan besarnya porositas adalah hal paling mendasar dalam Penilaian Formasi, sehingga wajar kalau
ada aturan jempol (rule of thumb) dikalangan para ahli kebumian (earth scientists) bidang migas yang
menganjurkan angka 20% bila tidak ada data sama sekali. Ini menunjukkan begitu pentingnya besaran ini.
Karena itu bagaimanapun juga interpretasi log harus mampu menghaluskan (refine) perkiraan awal (hint)
tersebut dari data log paling minim apapun yang dimilikinya. Apabila dihadapi situasi sangat kurangnya
(scarce) data karena berbagai hal dan hanya tersedia satu jenis log saja, komputasi porositas harus
dilakukan juga. Hal ini diuraikan pada modul ini. Meskipun demikian pada umumnya senantiasa ada
kesempatan untuk menggabungkan perkiraan porositas dari beberapa log, sehingga hasilnya jauh lebih
akurat; hal ini diuraikan pada modul-modul selanjutnya.

1. TUJUAN
Menghitung porositas berdasarkan satu jenis log, yaitu log listrik, log radioaktif atau log sonik saja.

2. METODE DAN PERSYARATAN


2.1. METODE
Metode grafis
Metode perhitungan matematis

2.2. PERSYARATAN
1. Rekaman log pada lubang terbuka,
2. Lapisan dianggap bersih (clean formation) dan terdiri atas satu jenis batuan.

3. LANGKAH KERJA
3.1. LOG LISTRIK
a. Lapisan air (Sw = 100 %)
1. Hitung harga Ro (lihat PF 07) dan Rw (lihat PF 06.).
Ro
2. Hitung F = *)

Rw
*)
Apabila yang tersedia adalah log Micro, cara yang sama dapat diterapkan yaitu
R xo
F=
Rmf

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 2 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

3. Dengan menggunakan grafik Gambar 1. Por-1, tarik garis tegak lurus dari harga F pada
sumbu tegak sampai memotong salah satu grafik yang ada, dan harga porositas didapat pada
sumbu tegak.
1
Pilih grafik sesuai persamaan F =
m
Harga m disesuaikan dengan jenis batuan:
Batu pasir tidak terkonsolidasi (unconsolidated sand) : m = 1.4 1.6
Batu pasir : m = 1.6 2.0
Batu kapur : m = 2.0
Dolomit : m = 2.2
Apabila tersedia, gunakan m dari hasil analisa batuan inti.
Dua buah grafik yang lain untuk
0.62 0.81
F= dan F =
2.15
2

Gambar 1. Por-1
Perkiraan porositas dari log listrik.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 3 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

b. Lapisan hidrokarbon dan air


1. Hitung harga Rxo (lihat PF 07)
2. Dengan data Rmc dan Rmf, pergunakan nomogram Gambar 2 untuk mendapatkan harga .
Pemilihan harga m disesuaikan seperti pada langkah a.3 di atas.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 4 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

Gambar 2. Nomogram porositas dan faktor formasi (untuk clean sand)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 5 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

3.2. LOG RADIOAKTIF


a. Neutron
1. Untuk log SNP (Sidewall Neutron Porosity), lakukan koreksi tebal kerak lumpur
menggunakan Gambar 3. Por-15a: masukkan harga porositas SNP apparent limestone ( SNP )

pada sumbu mendatar (bagian bawah chart), tarik garis tegak lurus ke atas memotong garis
ketebalan kerak lumpur (diameter bit dikurangi hasil pembacaan kaliper), kemudian buatlah
garis diagonal dari titik tersebut sejajar dengan garis diagonal terdekat, perpotongan dengan
sisi atas gambar menunjukkan harga SNP terkoreksi (skala pada sumbu mendatar).

Contoh : SNP = 13 p.u

Kaliper = 7 5/8 in
Bit size = 7 7/8 in
Dari data yang diketahui, bit size kaliper = 7 7/8 - 7 5/8 = 1/4 in
Dengan menggunakan Gambar 3. Por-15a, diperoleh SNPcor = 11.3 p.u

Gambar 3. Por-15a, Koreksi Mudcake untuk SNP

2. Log CNL (Compensated Neutron Log) paling banyak dipengaruhi oleh kondisi lubang bor.
Harus dilakukan koreksi dengan Gambar 4. Por-14c dan Gambar 5. Por-14d. Alat CNL
umumnya hanya dikoreksi terhadap kaliper. Perhatikan bagian atas dari log CNL, apakah
pada log tersebut dilakukan koreksi kaliper otomatis (automatic caliper correction). Untuk

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 6 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

menggunakan Por-14c dan Por-14d, koreksi borehole tersebut tidak digunakan. Mulailah dari
bagian atas chart dengan memasukkan nilai pembacaan log dalam apparent limestone unit
dan buat garis yang memotong semua nomograf koreksi. Untuk setiap koreksi, masukkan
parameter lingkungan pada bagian nomograf dan buat garis ke kanan hingga bertemu dengan
garis vertikal yang telah dibuat tadi. Ikuti arah garis yang ada pada nomograf (berwarna biru)
ke bawah hingga bertemu dengan garis dari kondisi standard, yang diberi tanda titik ()
disebelah kanannya. Pada nomograf actual borehole size (bagian atas), standardnya adalah 8
in. Lakukan koreksi pada setiap nomograf untuk mendapatkan koreksi terhadap tiap
parameter di lingkungannya.
Contoh : Porositas neutron yang belum dikoreksi = 34 p.u (apparent limestone unit)
Diameter lubang bor = 12 in
Ketebalan mud cake = 1/4 in
Salinitas lubang bor = 100 kppm
Berat lumpur (natural mud) = 11 lbm/gal
Temperatur lubang bor = 150F
Tekanan (water-base mud) = 5 kpsi
Salinitas formasi = 100 kppm
Standoff = 1/2 in

Dengan menggunakan Gambar 4 Por-14-c, diperoleh sebagai koreksinya


dalam besaran p.u. masing masing sebagai berikut (lihat garis merah mengikuti
kurva) :

Diameter lubang bor - 2 3/4 p.u


Ketebalan mud cake 0 p.u.
Salinitas lubang bor + 1 p.u.
Berat lumpur (natural mud) + 1 1/2 p.u.
Temperatur lubang bor + 4 p.u.
Tekanan - 1 p.u.
Salinitas formasi - 3 p.u.
Standoff - 2 p.u.
Total koreksi - 2 1/4 p.u
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 7 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

Porositas yang telah dikoreksi menjadi 34 p.u - 2 1/4 p.u = 31 3/4 p.u (apparent
limestone unit)

Catatan : Kurva oil base mud (OBM) pada bagian pressure correction digunakan bagi
komponen liquid yang memiliki kompresibilitas empat kali lebih tinggi dari
kompresibilitas air. Untuk kasus lain, koreksi dapat dilakukan dengan
mengalikan koreksi water base mud (WBM) dengan rasio kompresibilitas
OBM/WBM

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 8 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

Gambar 4. Por-14c
Koreksi lubang bor untuk Log CNL (Compensated Neutron Log) untuk menentukan porositas.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 9 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

Gambar 5. Por-14d
Koreksi lubang bor untuk Log CNL (Compensated Neutron Log)
untuk menentukan porositas dengan data terbatas.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 10 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

3. Gunakan kurva Gambar 6. Por-13a: masukkan harga SNP atau CNL yang telah dikoreksi

pada sumbu mendatar, tarik garis tegak lurus hingga memotong kurva batuan yang sesuai.
Harga porositas N didapat pada sumbu tegak.

Ketika SNP direkam pada limestone porosity unit, chart Por-13a digunakan untuk
memperoleh porositas pada sandstone atau dolomite. Chart ini juga dapat digunakan untuk
memperoleh porositas apparent limestone (diperlukan pada chart crossplot CP) bila SNP
direkam dalam sandstone porosity unit atau dolomite porosity unit.
Contoh : lapisan sandstone memiliki SNP = 13 p.u (apparent limestone porosity)

Bit size = 7 7/8 in


Kaliper SNP = 7 5/8 in
Diperoleh, hmc = 1/4 in dan SNP = 11.3 p.u (telah dikoreksi terhadap mud cake)

Dari Gambar 6. Por-13a, diperoleh SNP (sandstone) = 14.5 p.u

Gambar 6 Por-13a
Kurva untuk menentukan porositas dari SNP atau CNL.
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 11 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

Gambar 7. Por-13b berikut ini dapat digunakan seperti Gambar 6. Por-13a di atas, untuk
mengkonversikan log porositas CNL (TNPH atau NPHI) dari satu litologi ke litologi lainnya.
Bila sebuah log direkam dalam sandstone porosity unit pada formasi quartz sandstone,
porositas sesungguhnya dapat ditentukan.
Contoh : Formasi Quartz sandstone
Hasil pembacaan CNL (TNPH) = 18 p.u (apparent limestone porosity)
Salinitas formasi = 250 kppm
Dari Gambar 7. Por-13-b, diperoleh porositas sesungguhnya pada sandstone
(true porosity in sandstone) = 24 p.u

Gambar 7. Por-13b
Konversi log porositas CNL (TNPH atau NPHI) dari satu litologi ke litologi lainnya.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 12 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

b. Density
1. Lakukan koreksi pengaruh lubang bor pada bulk density menggunakan Gambar 8. Por-15a.
Untuk log FDC (Compensated Formation Density), tempatkan diameter lubang (dh) pada
sumbu mendatar, tarik garis tegak lurus hingga memotong apparent formation density ( b )

hasil pembacaan log dan baca harga koreksi pada sumbu tegak. Tambahkan harga koreksi ini
pada harga bulk density terkoreksi.
Contoh : dh = 12 in
b = 2.20 g/cm3 (mud filled borehole)

diperoleh koreksi = 0.02 g/cm3


bcor = 2.20 + 0.02 = 2.22 g/cm3.

Gambar 8. Por-15-a
Penentuan porositas FDC

2. Gunakan kurva Gambar 9. Por-5: masukkan harga bulk density terkoreksi pada sumbu
mendatar, tarik garis tegak lurus hingga memotong kurva batuan yang sesuai. Harga porositas
kurva D didapat pada sumbu tegak.

Contoh : b = 2.31 g/cm3 pada litologi limestone

ma = 2.71 (calcite)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 13 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

f = 1.1 (salt mud)

Diperoleh D = 25 p.u

Gambar 9 Por-5
Konversi bulk density ke p.u.

3.3. LOG SONIK


Alat sonik berfungsi mengukur waktu rambat gelombang suara melalui formasi pada jarak
tertentu. Digunakan pemancar dan penerima yang dipisahkan pada jarak tertentu. Biasanya
digunakan kombinasi dua buah pemancar dan empat penerima (Borehole Compensated - BHC)
yang tersusun bertolak belakang (Double Inverted System), untuk mengeliminasi pengaruh
kemiringan dan meningkatkan keakuratan dalam pengukuran. Log sonik ini diukur dengan satuan

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 14 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

interval waktu transit (Interval Transit Time - t). Gunakan kurva Gambar 10 Por-3: masukkan
harga t pada sumbu mendatar, tarik garis tegak lurus hingga memotong kurva batuan yang sesuai.
Harga porositas S didapat pada sumbu tegak. Nilai t yang melalui beberapa matriks dapat

dilihat pada tabel berikut ini

Tabel 1. Nilai Vma dan t ma pada beberapa matriks

t ma ( s ft ) yang
Litologi Vma ( ft sec ) t ma ( s ft )
umum digunakan
Sandstone 18000 - 19500 55.5 - 51.0 55.5 - 51.0
Limestone 21000 - 23000 47.6 - 43.5 47.6
Dolomite 23000 - 26000 43.5 - 38.5 43.5
Anhydrite 20000 50.0 50.0
Salt 15000 66.7 67.0
Casing (iron) 17500 57.0 57.0
Air 189 189

Untuk pendekatan, dapat dipakai Tabel pada Gambar 10 Por-3.


Chart Por-3 pada Gambar 10, digunakan untuk mengkonversikan interval waktu transit (t) pada
log sonik menjadi porositas ( ) . Ada dua set garis pada chart tersebut, yang berwarna biru
diperoleh dari weighted-average transform, sedang yang merah berasal dari observasi empiris.
Untuk keduanya, fluida yang tersaturasi diasumsikan sebagai air dengan velocity 5300 ft/sec atau
1615 m/sec. Masukkan t dari log sonik pada bagian bawah chart. Tarik garis ke atas hingga
bertemu dengan matrix velocity atau litologi yang bersesuaian, lalu baca porositasnya pada bagian
kiri chart.
Untuk batuan campuran seperti sandstone yang mengandung limestone (limy sandstone) maupun
cherty dolomites, diperlukan garis-garis diantara matriks yang telah ditunjukkan. Ketika
menggunakan weighted-average transform pada unconsolidated sand harus dibuat koreksi
( )
kompaksi Bcp . Masukkan t, tarik ke atas hingga bertemu dengan garis koreksi kompaksi yang

bersesuaian, lalu baca porositas pada bagian kiri chart. Bila koreksi kompaksi tidak diketahui,
dapat ditentukan dengan cara kebalikannya, dari lapisan clean water sand yang porositasnya telah
diketahui (misalnya dari lapisan air, pada langkah kerja 3.1.a).

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 15 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

Gambar 10. Por-3


Konversi interval transit time ke p.u.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 16 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

4. DAFTAR PUSTAKA
1. John T. Dewan, Essentials of Modern Open-hole Log Interpretation, Penn-Well Books, Penn
Well Publishing Company, Tulsa, Oklahoma, 1983
2. Adi Harsono, Evaluasi Formasi dan Aplikasi Log - Edisi 8, 1997
3. Schlumberger, "Log Interpretation Chart", 1997
4. Schlumberger, "Log Interpretation Principles/Applications, 1989
5. George Asquith with Charles Gibson, "AAPG Methods in Exploration Series Number 3 - Basic
Well Log Analysis for Geologist", The American Association of Petrolum Geologists, 1982
6. Sylvain J. Pirson, Hand Book of Well Analysis for Oil and Gas Formation Evaluation, Prentice
Hall Inc, Englewood, N.J. , 1963

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 17 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

5. DAFTAR SIMBOL
= porositas

N = porositas dari log neutron ( SNP atau CNL )

D = porositas dari log density

N D = porositas dari log neutron-density


S = porositas dari log sonic

SW = saturasi air
Ro = resisitivitas lapisan air
RW = resisitivitas air formasi
Rxo = resisitivitas flushed zone
Rmf = resisitivitas filtrat lumpur
Rt mikro = resisitivitas dari log mikro
tS = cepat rambat bunyi yang terbaca pada log sonic (ft/sec)
tf = cepat rambat bunyi pada fluida (ft/sec)
tma = cepat rambat bunyi pada matriks batuan (ft/sec)
F = Formation Resistivity Factor
Fa = Formation Resistivity Factor apparent
Bcp = faktor koreksi kekompakan
a = faktor tortuosity
m = faktor sementasi...........................................................................................................................

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 18 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

6. LAMPIRAN
6.1. LATAR BELAKANG DAN RUMUS
Apabila tersedia inti (core), porositas dapat ditentukan dengan pengukuran pada inti tersebut, yang
umumnya mewakili lingkup ruang beberapa centimeter kubik. Sebaliknya peralatan logging
menyidik parameter global disekeliling titik pengamatan dalam ukuran beberapa meter kubik;
disamping itu formula yang dipakai dalam interpretasi log mengandung beberapa koefisien dan
parameter yang hanya diperkirakan harganya. Karena itu memperbandingkan porositas inti dan
porositas log, meskipun penting untuk mendapatkan harga porositas absolut, tetapi hendaknya
diinterpretasikan dengan berhati-hati; misalnya jika porositas inti 0.25, mungkin berpasangan
dengan porositas log sekitar 0.23 0.27. Perlu dilakukan kalibrasi log dengan menggunakan
batuan inti (core) karena log-log yang sudah diambil merupakan hasil pembacaan dari alat yang
belum tentu sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kalibrasi ini dilakukan untuk mengetahui log
mana saja yang memberikan hasil yang dekat dengan keadaan sebenarnya, sehingga dapat
dijadikan acuan dalam melakukan perhitungan dan interpretasi.

6.1.1. Log Listrik


Pada lapisan air, log lateral, induksi atau laterolog menghasilkan Ro, jadi Rw dapat dikenal
dari
Ro a
F= = m
RW

Formation Resistivity Factor F dapat dihitung pada daerah terbanjiri dengan perhitungan Rxo
dari Microlog atau Micro-laterolog (PF 06).
R xo a
F= = m
Rmf

Humble menggunakan persamaan rata-rata dengan formula:


0.62
F=
2.15

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 19 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

Untuk lapisan yang mengandung hidrokarbon, Formation Factor Apparent (Fa) dapat
dihitung dari zona terbanjiri dan membandingkan dengan resistivitas filtrat:
Rt micro
Fa =
Rmf

Formation Resistivity Factor yang nyata (F) lebih kecil dari Fa dan jika saturasi residual
(Sor) dapat diperkirakan, maka hubungan formula yang ada dapat dinyatakan dalam
nomograph untuk menghitung porositas.

6.1.2. Log Radioaktif


a. Log Neutron
Log neutron adalah log pororitas yang mengukur konsentrasi ion hidrogen dalam
formasi. Pada formasi bersih (clean formation) yang bebas dari shale, dimana
porositasnya terisi oleh air atau minyak, log neutron akan mengukur porositas dari
bagian yang terisi fluida.
Neutron dibuat dari bahan kimia yang biasanya adalah campuran americium dan
beryllium yang akan terus-menerus memancarkan neutron. Neutron-neutron ini akan
bertabrakan dengan atom-atom dari material formasi, dan mengakibatkan neutron akan
kehilangan sebagian energinya. Karena massa atom hidrogen hampir sama dengan
neutron, kehilangan energi terbesar akan terjadi bila keduanya bertabrakan. Kehilangan
energi terbesar adalah fungsi (pengaruh) dari konsentrasi hidrogen dalam formasi.
Karena hidrogen dalam formasi berada di pori-pori yang terisi fluida, kehilangan energi
akan berhubungan dengan porositas formasi.
Bila pori-pori terisi oleh gas, maka porositas neutronnya akan lebih kecil dibandingkan
bila pori-pori terisi oleh minyak atau air. Hal ini terjadi karena konsentrasi hidrogen pada
gas lebih kecil dibandingkan yang terdapat pada minyak maupun air. Penurunan
porositas neutron yang disebabkan oleh gak ini disebut efek gas.
Respon dari log neutron bervariasi, tergantung pada :
1. Perbedaan tipe detektor,
2. Jarak antara sumber neutron dan detektor
3. Litologi, misalnya sandstone, limestone dan dolomit.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 20 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

Dengan adanya perbedaan-perbedaan ini, maka digunakan chart-chart yang berbeda,


sesuai dengan alat dan kondisi yang ada. Interpretasi harus dilakukan pada chart yang
spesifik karena log neutron tidak dikalibrasi pada kondisi fisik alat yang standard, seperti
alat-alat lainnya.
Log neutron modern pertama adalah Sidewall Neutron Log (SNL). SNL ini memiliki
sepasang sumber (source) dan detektor yang kedua pasang alat tersebut diletakkan
bertolak belakang satu sama lain. Log neutron yang lebih modern adalah Compensated
Neutron Log (CNL) yang memiliki sebuah source dan dua buah detektor. Keuntungan
dari CNL dibandingkan SNP adalah lebih sedikit terpengaruh oleh ketidakseragaman
lubang bor. Kedua alat tersebut dapat merekam porositas dalam satuan apparent
limestone, sandstone maupun dolomit. Bila formasi yang kita ukur adalah limestone dan
log neutron mengukur porositas dalam satuan apparent limestone, maka apparent
limestone tersebut sama nilainya dengan porositas yang sesungguhnya. Akan tetapi, bila
ternyata litologi dari formasi tersebut berupa sandstone atau dolomit, porositas apparent
limestone harus dikoreksi menjadi porositas sesungguhnya dengan menggunakan chart
yang bersesuaian

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 21 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

Gambar 11. Sidewall Neutron Log

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 22 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

Gambar 12 Compensated Neutron Log

b. Log Density
Log density adalah log porositas yang mengukur densitas elektron pada formasi. Log ini
berguna untuk :
1. Mengidentifikasi mineral evaporit
2. Mendeteksi zona gas
3. Menentukan densitas hidrokarbon
4. Mengevaluasi reservoir yang mengandung shale (shaly sand) dan litologi
yang kompleks.
Peralatan log density adalah alat yang terdiri atas source gamma-ray yang memancarkan
gamma-ray ke formasi. Sumbernya dapat berupa Cobalt-60 atau Cesium-137. Gamma-
ray bertabrakan dengan elektron di dalam formasi yang menyebabkan hilangnya energi
dari partikel gamma-ray. Tittman dan Wahl (1965) menyebut interaksi antara partikel

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 23 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

gamma-ray yang datang dengan elektron formasi sebagai Compton Scattering. Sebaran
gamma-ray yang mencapai detektor yang ditempatkan pada jarak tertentu dari source,
akan dicatat sebagai indikator dari densitas formasi. Jumlah tumbukan Compton
Scattering adalah fungsi langsung dari jumlah elektron yang ada dalam formasi (densitas
elektron). Akibatnya, densitas elektron dapat dihubungkan dengan bulk density ( b )

formasi dalam gram/cc.


Densitas bulk formasi ( b ) adalah fungsi dari densitas matriks, porositas dan densitas

fluida yang berada di dalam pori-pori (salt mud, fresh mud atau hidrokarbon). Untuk
menentukan densitas porositas, baik dengan menggunakan chart maupun dengan
perhitungan, membutuhkan data tipe fluida dalam lubang bor.
Persamaan untuk menghitung densitas porositas, adalah sebagai berikut:
ma b
D =
ma f
dimana :
D = porositas yang diperoleh dari densitas
ma = densitas matriks (Tabel 2)
b = densitas bulk formasi
f = densitas fluida (1.1 salt mud, 1.0 fresh mud dan 0.7 gas)

Bila terjadi invasi yang dangkal pada formasi, rendahnya densitas hidrokarbon pada
formasi akan meningkatkan porositas density. Keberadaan minyak tidak memberikan
efek yang signifikan pada porositas density, akan tetapi gas memberikan efek yang besar
(efek gas). Bila densitas gas tidak diketahui, Hilchie (1978) menganjurkan untuk
menggunakan densitas gas 0.7 gram/cc untuk dimasukkan ke densitas fluida f ( ) pada
persamaan porositas density.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 24 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

Litologi ma (gr/cc)
Sandstone 2.648
Limestone 2.710
Dolomit 2.876
Anhydrite 2.977
Salt 2.032

Tabel 2. Densitas matriks pada litologi yang umum dijumpai.


Konstanta yang digunakan disini digunakan
dalam persamaan porositas density.

Gambar 13. Chart untuk melakukan konversi densitas bulk ( b )


Menjadi porositas ( ) menggunakan nilai yang diambil dari log density.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 25 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

c. Log Kombinasi Neutron-Density


Log kombinasi neutron-density adalah kombinasi dari log porositas. Selain digunakan
sebagai pengukur porositas, digunakan juga untuk menentukan litologi dan mendeteksi
zona gas. Kedua log neutron dan density, umumnya direkam dalam satuan porositas
limestone. Porositas sebenarnya dapat ditentukan dengan cara : pertama-tama baca
porositas limestone apparent dari kurva neutron dan density. Kemudian, nilai-nilai
tersebut di plot silang (cross plot) pada chart porositas neutron-density untuk
memperoleh porositas yang benar. Porositas dari log neutron-density dapat ditentukan
dengan cara matematis. Salah satu alternatif dalam penentuan porositas density adalah
dengan menggunakan persamaan akar rata-rata (root mean square) sebagai berikut :

N2 + D2
N D
2
dimana: N D = porositas neutron density
N = porositas neutron density (unit limestone)

D = porositas density (unit limestone)

Bila log neutron-density merekam porositas density yang bernilai lebih kecil dari 0.0
(nilai yang umum dijumpai pada reservoir anhydritic dolomite), gunakan persamaan
berikut ini :
N + D
N D
2

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 26 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

Gambar 14. Contoh kombinasi log neutron-density


dengan log gamma-ray dan kaliper.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 27 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

Gambar 15. Chart untuk melakukan koreksi porositas dari log neutron-density terhadap
(
litologi, dimana digunakan freshwater-based drilling mud Rmf > 3Rw )

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 28 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

Gambar 16. Chart untuk melakukan koreksi porositas dari log neutron-density terhadap
(
litologi, dimana digunakan saltwater-based drilling mud Rmf Rw )

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 29 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

6.1.3. Log Sonik.


Log sonik adalah log porositas yang mengukur interval waktu transit (transit travel time -
t ) yang berjalan melalui satu foot formasi. t dipengaruhi oleh litologi dan porositas
diukur dalam satuan microsecond per foot. Untuk itu, cepat rambat gelombang sonik pada
matriks batuan harus diketahui untuk memperoleh porositas sonik. Nilai tersebut dapat
dilihat pada Tabel 1. Porositas sonik dapat diperoleh dengan menggunakan chart pada
Gambar 3 seperti yang dijelaskan diatas maupun dengan menggunakan persamaan sebagai
berikut :
Formula Wyllie:
t log t ma
s =
t f t ma
dimana :
s = porositas dari log sonic (fraksi)

t ma = waktu interval transit pada matriks batuan (ft/sec), dari Tabel 1

t log = waktu interval transit yang terbaca pada log sonik (ft/sec)

t f = waktu interval transit pada fluida (ft/sec), untuk fresh mud = 189; salt mud = 185

Persamaan Wyllie ini dapat digunakan untuk menentukan porositas pada consolidated
sandstone dan karbonat dengan porositas intergranular (grainstones) atau porositas
interkristalin (sucrosic dolomites). Akan tetapi, apabila porositas sonik dari karbonat yang
memiliki porositas vuggy atau fracture dihitung dengan dengan persamaan Wyllie, akan
memberikan nilai porositas yang terlalu rendah. Hal ini terjadi akibat log sonik cenderung
merekam porositas matriks dibandingkan vuggy atau porositas sekunder dari fracture.
Persentase vuggy maupun porositas sekunder dapat dihitung dengan mencari selisih antara
porositas total dan porositas sonik. Nilai porositas total, ditentukan dari salah satu log nuklir,
misalnya log density maupun neutron. Persentase porositas sekunder (secondary porosity
index SPI), berguna dalam pemetaan parameter pada eksplorasi di batuan karbonat.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 30 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

Pada saat log sonik digunakan untuk menentukan porositas pada batuan unconsolidated
sand, harus ditambahkan faktor kompaksi C p ( ) ke dalam persamaan Wyllie, menjadi

sebagai berikut :
t t 1
s = log ma


t
f t ma C p

1
dimana : = faktor kompaksi.
Cp

Faktor kompaksi ini diperoleh dari persamaan :


t sh C
Cp =
100
dimana : t sh = waktu interval transit pada shale yang kontinu

C = konstanta yang umumnya bernilai 1.0

Waktu interval transit (t ) dari formasi akan meningkat, bila terdapat hidrokarbon (efek
hidrokarbon). Bila saturasi hidrokarbon tidak dikoreksi maka porositas sonik akan terlalu
tinggi. Hilchie (1978) menyarankan untuk menggunakan koreksi empiris untuk efek
hidrokarbon, sebagai berikut :
= s 0.7 (gas)
= s 0.9 (minyak)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 31 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

6.2. CONTOH PENGGUNAAN


6.2.1. Log Listrik
a. Pada lapisan pasir yang tebal diperoleh data Induction Electric Log 16' Normal 3.6 -m.
Data lainnya: Rm @ 70C = 0.6 -m; diameter lubang bor 7 7/8 inci dan SP = -100 mV.
Hitung porositas lapisan tersebut
Jawab:
1. Dari PF 06 diperoleh hasil perhitungan Ro = 3.5 -m dan Rw= 0.035 -m
0 .5
2. F = = 14.5
0.035
3. Gunakan grafik Gambar 1. Por-1.
1
Karena tidak ada petunjuk lain, umumnya diambil persamaan F = ; diperoleh =
2
0.26.

b. Pembacaan Mikrolog menghasilkan:


Kedalaman R5 cm R2.5x2.5 tmc
(kaki) (-m) (-m) (mm)
7890 3.2 1.9 11
7891 2.6 1.7 11
7892 2.5 1.7 10
7893 2.7 1.9 10
7894 3.1 2.0 10
7895 2.8 1.9 10
7896 2.6 1.7 11
7897 3.5 1.6 12
7898 3.5 1.7 11
7899 3.0 2.1 8
7900 2.5 1.7 11

Pada temperatur formasi : Rm = 0.55 -m


Rmc = 0.7 -m
Rmf = 0.3 -m
Diameter lubang 9 (22.8 cm). Hitung harga .
Jawab:
1. Dihitung harga Rxo menurut PF 06

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 32 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

2. Gunakan nomogram Gambar 2 dengan memasukkan harga Rmf dan Rmc.


Rekapitulasi hasil akhir adalah sebagai berikut:

Kedalaman R xo R xo
F
(kaki) R mf R mc
7890 90 210 170 0.18
7891 15 35 28 0.17
7892 13 30 24 0.18
7893 14 33 26 0.17
7894 20 47 37 0.15
7895 15 35 29 0.16
7896 15 35 28 0.17
7897 15 35 29 0.16
7898 13 30 25 0.18
7899 15 35 29 0.16
7900 13 30 25 0.18

6.2.2. Log Radioaktif


a. Diketahui SNP = 13 pu (porosity unit)

Kaliper = 7 5/8 inci


Bit size = 7 7/8 inci
Lapisan = batu pasir
Hitung harga porositasnya
Jawab :
1. Gunakan grafik Gambar 8. Por-15a, grafik paling bawah:
Bit size - kaliper = 7 7/6 - 7 5/8 = 1/4 inci.
Diperoleh SNP terkoreksi = 11 pu

2. Gunakan grafik Gambar 6 Por-13a, diperoleh N = 0.14.

b. Diketahui : b terbaca pada log 2.29 g/cc

Diameter lubang 12 inci; lubang terisi lumpur. Matrik batuan : dolomit.


Tentukan harga porositasnya.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 02
MENGHITUNG POROSITAS Halaman : 33 / 33
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DARI SATU JENIS LOG

Jawab:
1. Dengan grafik Gambar 8. Por-15a, grafik gambar atas diperoleh koreksi = + 0.02 gr/cc.
b terkoreksi = (2.29 + 0.02) = 2.31 gr/cc.
2. Gunakan kurva Gambar 9. Por-5, dengan f =1.1 (air asin), diperoleh D = 0.25

6.2.3. Log Sonik


Pada log terbaca Interval Transit Time 76 s/ft. Batu pasir (sandstone); tentukan
porositasnya.
Jawab:
Dengan kurva Gambar 10. Por-3 diperoleh s = 0.18.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 03
MENENTUKAN KOMPOSISI, LITOLOGI
Halaman : 1 / 17
DAN POROSITAS BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI DUA JENIS LOG

Sebagai kelanjutan upaya menghaluskan (refine) perkiraan porositas, dari kombinasi dua log ada
kesempatan bukan saja untuk memperbaiki akurasi perkiraan besarnya porositas, tetapi juga untuk
membuat perkiraan komposisi batuan dengan quartz sandstone, limestone dan dolomite sebagai acuan.

1. TUJUAN
Menentukan komposisi mineral pembentuk batuan (porsi quartz sandstone dan limestone, atau
limestone dan dolomite) serta perkiraan porositas batuan batuan yang lebih akurat.

2. METODE DAN PERSYARATAN


2.1. METODE
1. Cross Plot FDL dan SNP
2. Cross Plot FDL dan CNL
3. Cross Plot Sonic dan SNP
4. Cross Plot Sonic dan CNL
5. Cross Plot FDL dan Sonic
6. Cross Plot Litho dan Density Log

2.2. PERSYARATAN
Lapisan terdiri atas satu atau dua jenis mineral yang dipakai sebagai acuan (quartz sandstone,
limestone atau dolomite).

3. LANGKAH KERJA
3.1 METODE CROSS PLOT FDL DAN SNP
1. Siapkan data pendukung :
a. Diameter lubang bor (dh)
b. Diameter pahat
c. Kaliper
d. Data lumpur bor (air tawar ataupun air asin)
e. Berat jenis matrix batuan, ma
biasanya diambil ma = 2.71 gr/cc

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 03
MENENTUKAN KOMPOSISI, LITOLOGI
Halaman : 2 / 17
DAN POROSITAS BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI DUA JENIS LOG

2. Baca harga defleksi FDL dan SNP, kemudian tentukan harga b FDL dan SNP
3. Plot harga b FDL dan SNP dari langkah-2 pada Gambar 1. CP-1a atau Gambar 2. CP-1b (dari
buku Schlumberger: Log interpretation Charts, 1997) sesuai dengan jenis lumpur bornya .
SNP pada sumbu mendatar dan b FDL pada sumbu tegak.
Titik potong kedua harga porositas ini menunjukkan perbandingan komposisi litologi dan
porositas batuan dari lapisan yang bersangkutan.
4. Jika titik potong terletak dalam daerah yang dibatasi kurva sandstone dan dolomite, lapisan
berisi cairan. Perbandingan komposisi litologi relatif ditentukan dari jarak komplemen titik
tersebut ke masing-masing kurva mineral pembentuk batuannya, sedangkan harga porositas
dapat dibaca pada skala porositas pada kurva dengan interpolasi.
5. Jika titik potong kedua harga porositas terletak diluar daerah antara kurva sandstone dan
dolomite, dan terletak diatas kurva sandstone, lapisan mengandung gas. Pembacaan porositas
dilakukan dengan menarik garis sejajar dengan garis koreksi dari titik potong sampai
memotong kurva jenis mineral yang bersangkutan. Baca harga porositas batuan pada
perpotongan tersebut. Dalam hal ini komposisi litologi tidak dapat ditentukan.

3.2. METODE CROSS PLOT FDL DAN CNL


1. Siapkan data pendukung seperti pada langkah 1 butir 3.1
2. Baca harga defleksi FDL dan CNL, kemudian tentukan harga b FDL dan CNL
3. Plot harga b FDL dan CNL dari langkah 2 pada Gambar 3. CP-1c atau Gambar 4. CP-1d sesuai
dengan jenis lumpur bornya. CNL pada sumbu mendatar dan b FDL pada sumbu tegak.
Titik potong kedua harga porositas ini menunjukkan perbandingan komposisi litologi dan
porositas batuan dari lapisan yang bersangkutan.
4. Jika titik potong terletak dalam daerah yang dibatasi kurva sandstone dan dolomite, lapisan
berisi cairan. Perbandingan komposisi litologi relatif ditentukan dari jarak komplemen titik
tersebut ke masing-masing kurva mineral pembentuk batuannya, sedangkan harga porositas
dapat dibaca pada skala porositas pada kurva dengan interpolasi.
5. Jika titik potong kedua harga porositas terletak diluar daerah antara kurva sandstone dan
dolomite, dan terletak diatas kurva sandstone, lapisan mengandung gas. Pembacaan porositas
dilakukan dengan menarik garis sejajar dengan garis koreksi dari titik potong sampai

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 03
MENENTUKAN KOMPOSISI, LITOLOGI
Halaman : 3 / 17
DAN POROSITAS BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI DUA JENIS LOG

memotong kurva jenis mineral yang bersangkutan. Baca harga porositas batuan pada
perpotongan tersebut. Dalam hal ini komposisi litologi tidak dapat ditentukan.

3.3. METODE CROSS PLOT SONIK DAN SNP


1. Baca harga defleksi Sonik (t) dan SNP kemudian tentukan harga SNP (lihat PF 03)
2. Plot harga t dan SNP dari langkah 1 pada Gambar 5. CP-2a, SNP pada sumbu mendatar dan t
pada sumbu tegak.
Titik potong kedua harga ini menunjukkan harga porositas batuan dan litologi dari lapisan
yang bersangkutan. Dalam Gambar 5. CP-2a terlihat dua macam kurva : kurva dengan garis
penuh dibuat berdasarkan rumus waktu rata-rata (time average equation), sedang kurva
dengan garis putus-putus dibuat berdasarkan data pengamatan di lapangan.
Titik potong harga t dan SNP yang jatuh tepat pada kurva mineral lapisan bersangkutan
(sandstone, limestone atau dolomite) menunjukkan lapisan tersebut mempunyai komposisi
litologi tunggal yaitu 100% (sandstone, limestone atau dolomite), dengan porositas batuan
dapat langsung dibaca pada kurva yang bersangkutan.
3. Jika titik potong kedua harga t dan SNP jatuh pada daerah antara dua kurva, komposisi mineral
dan porositas dari lapisan yang bersangkutan dapat ditentukan dengan cara interpolasi.
Perbandingan komposisi litologi relatif ditentukan dari jarak komplemen titik tersebut ke
masing-masing kurva mineral pembentuk batuannya.

3.4. METODE CROSS PLOT SONIK DAN CNL


1. Baca harga defleksi Sonik (t) dan CNL kemudian tentukan harga CNL.
2. Plot harga t dan CNL dari langkah 1 pada Gambar 6. CP-2b, CNL pada sumbu mendatar dan t
pada sumbu tegak.
3. Lihat langkah 3 butir 3.3

3.5. METODE CROSS PLOT FDL DAN SONIK


1. Baca defleksi FDL (b) dan Sonic (t).
2. Plot harga b dan t dari langkah 1 pada Gambar 7. CP-16, t pada sumbu mendatar dan b pada
sumbu tegak.
3. Lihat langkah 3 butir 3.3
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 03
MENENTUKAN KOMPOSISI, LITOLOGI
Halaman : 4 / 17
DAN POROSITAS BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI DUA JENIS LOG

3.6. METODE CROSS PLOT LITHO DAN DENSITY


1. Siapkan data pendukung seperti pada langkah 1 butir 3.1
2. Baca harga defleksi litho log (Pe),dan density log (b).
3. Plot harga Pe dan b dari langkah 2 pada Gambar 8. CP-17 sesuai dengan jenis lumpur yang
digunakan. b pada sumbu tegak dan Pe pada sumbu mendatar. Titik potong kedua parameter
ini menunjukkan litologi dan porositas batuan lapisan yang bersangkutan.
4. Tentukan komposisi dari porositas batuan. Perbandingan komposisi litologi relatif ditentukan
dari jarak komplemen titik tersebut ke masing-masing kurva mineral pembentuk batuannya,
sedangkan harga porositas dapat dibaca pada skala porositas pada kurva dengan interpolasi.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 03
MENENTUKAN KOMPOSISI, LITOLOGI
Halaman : 5 / 17
DAN POROSITAS BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI DUA JENIS LOG

4. DAFTAR PUSTAKA
1. John T. Dewan, Essentials of Modern Open Hole Log Interpretation, Pennwell books Penwell
Publishing Co. Tulsa, Oklahoma, 1983.
2. Schlumberger, Log Interpretation Charts , 1997
3. Schlumberger, Log Interpretation Charts , 1986
4. Schlumberger, "Log Interpretation Principles/Applications, 1989
5. Adi Harsono, Evaluasi Formasi dan Aplikasi Log - Edisi 8, 1997
6. George Asquith with Charles Gibson, "AAPG Methods in Exploration Series Number 3 - Basic
Well Log Analysis for Geologist", The American Association of Petrolum Geologists, 1982

5. DAFTAR SIMBOL
CNL = Compensated Neutron Log
FDL = Formation Density Log
SNP = Side Wall Neutron Porosity Log
= porositas (fraksi).
r = berat jenis (gr/cc).
t = Sonic transit time ( sec/ft).
Pe = Photoelectric Cross Section (barns/electron).

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 03
MENENTUKAN KOMPOSISI, LITOLOGI
Halaman : 6 / 17
DAN POROSITAS BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI DUA JENIS LOG

6. LAMPIRAN
6.1. LATAR BELAKANG DAN RUMUS
Jenis porosity log yang ada sampai saat ini adalah :
1. Density Log
2. Neutron Log
3. Sonic Log
1Perkembangan terakhir peralatan dari ketiga jenis porosity log ini adalah :
1. Density Log - Compensated density Log
- Litho Density Log
2. Neutron Log - Compensated Neutron Log
- Dual Porosity Neutron Log
3. Sonic Log - Compensated Sonic Log
- Long Spaced Sonic Log
Setiap jenis alat akan memberikan respon pengukuran porositas yang dipengaruhi oleh kondisi
matrik dan kandungan fluida dari batuan yang berbeda. Sehingga setiap jenis log akan
memberikan harga porositas yang agak berbeda satu dengan yang lain.
Porositas yang diturunkan dari respon Density Log mempunyai hubungan sebagai berikut:
b = f + (1 ) ma (1)

Dari hubungan ini untuk dapat menghitung porositas diperlukan harga f dan ma yang tepat.
Penentuan kedua harga ini sulit karena tidak diketahui dengan tepat jenis mineral dan jenis fluida
yang dikandung suatu batuan reservoir.
Perkembangan baru dari Density Log adalah LithoDensity Log yang pada prinsipnya mengukur
Photoelectric Cross Section (Pe), Litho Density Log tidak mengukur porositas akan tetapi
memberikan indikasi litologi, sehingga kombinasi antara Pe dan b akan menghasilkan harga
yang lebih baik.

Respon dari Neutron Log (N) seperti halnya density log terutama tergantung pada porositas
formasi, meskipun demikian pengaruh dan litologi juga masih sangat dominan seperti terlihat
pada Gambar 1. CP-1a. Dengan demikian untuk dapat menentukan harga porositas dengan teliti

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 03
MENENTUKAN KOMPOSISI, LITOLOGI
Halaman : 7 / 17
DAN POROSITAS BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI DUA JENIS LOG

perlu diketahui litologi batuan yang diukur. Adanya gas didalam pori batuan akan menunjukkan
harga (N) rendah yang tidak wajar.
Respon dari Sonic Log selain tergantung porositas batuan, juga tergantung waktu rambat
gelombang sonic didalam fluida dan batuan matrik : dinyatakan dalam persamaan Wyllie seperti
berikut :
t = t f + (1 )t ma (2)

Terlihat jelas bahwa untuk mendapatkan harga diperlukan harga tf dan tma. Secara grafis
hubungan tersebut tercantum pada Gambar 9. Por-3.
Adanya gas akan mengakibatkan respon Sonic Log lebih besar. Pertambahan ini tidak berarti
untuk formasi yang dalam, dimana kontribusi fluida di dalam persamaan Wyllie makin kecil.
Sonic Log juga tidak dapat menunjukkan adanya secondary porositivity seperti vugs, channel dan
sebagainya.

Kalau diamati kembali respon dari masing-masing alat log porositas tersebut, jelas bahwa secara
terpisah akan sukar untuk mendapatkan harga porositas yang benar. Dengan demikian diperlukan
adanya petunjuk lain. Secara tidak langsung setiap jenis log mempunyai respon yang berbeda
pada setiap macam batuan, sehingga dengan kombinasi respon log-log tersebut akan diperoleh
harga porositas yang lebih benar. Petunjuk lain yang sangat bermanfaat misalnya adanya gas akan
sangat mudah dideteksi dengan kombinasi antar FDL dan SNP atau FDL dan CNL. Secondary
porosity serta indikasi ditemukannya mineral tertentu dapat diketahui dari kombinasi antar
Density-Neutron dan Sonic Log

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 03
MENENTUKAN KOMPOSISI, LITOLOGI
Halaman : 8 / 17
DAN POROSITAS BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI DUA JENIS LOG

6.2 CONTOH
1. Kombinasi Compensated Density dan Compensated Neutron Log pada formasi kedalaman
1900 kaki 1960 kaki memberikan respons Density Log (b) sebesar 2.32 dan respon Neutron
Log (N) sebesar 6% seperti terlihat pada Gambar 3. CP-1c. Jika diplot titik potong kedua
harga jatuh di atas kurva sandstone. Dengan demikian disimpulkan kandungan formasi sand
tersebut adalah gas.
2. Kombinasi FDC dan Litho Density Log memberikan respons density = 2.53 dan Litho Density
= 4.0. Jika lapisan tersebut terdiri dari dolomite dan limestone, maka dengan menggunakan
Gambar 8. CP-16 komposisi dolomite adalah 40% dan limestone 60%. Porositas batuan adalah
14.5 %.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 03
MENENTUKAN KOMPOSISI, LITOLOGI
Halaman : 9 / 17
DAN POROSITAS BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI DUA JENIS LOG

6.3 GAMBAR YANG DIGUNAKAN

Gambar 1. CP-1a, Kombinasi Log Neutron dan Log Density.


Contoh : bila bulk density 2.43 dan neutron porosity index 21 p.u. menunjukkan komposisi 50%
. calcite (limestone) dan 50% dolomite dengan porositas 20%.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 03
MENENTUKAN KOMPOSISI, LITOLOGI
Halaman : 10 / 17
DAN POROSITAS BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI DUA JENIS LOG

Gambar 2. CP-1b
Kombinasi Log Neutron dan Log Density.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 03
MENENTUKAN KOMPOSISI, LITOLOGI
Halaman : 11 / 17
DAN POROSITAS BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI DUA JENIS LOG

Gambar 3. CP-1c
Kombinasi Log Neutron dan Log Density.

Perhatikan contoh 6.2 1 diatas :


Kombinasi Compensated Density dan Compensated Neutron Log pada formasi kedalaman 1900
kaki 1960 kaki memberikan respons Density Log (b) sebesar 2.32 dan respon Neutron Log

(N) sebesar 6 % seperti terlihat pada Gambar 3. CP-1c. Jika diplot titik potong kedua harga

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 03
MENENTUKAN KOMPOSISI, LITOLOGI
Halaman : 12 / 17
DAN POROSITAS BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI DUA JENIS LOG

jatuh di atas kurva sandstone. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kandungan formasi
sand tersebut adalah gas.

Gambar 4. CP-1d
Kombinasi Log Neutron dan Log Density.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 03
MENENTUKAN KOMPOSISI, LITOLOGI
Halaman : 13 / 17
DAN POROSITAS BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI DUA JENIS LOG

Gambar 5. CP-2a
Kombinasi Log Neutron dan Log Sonik.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 03
MENENTUKAN KOMPOSISI, LITOLOGI
Halaman : 14 / 17
DAN POROSITAS BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI DUA JENIS LOG

Gambar 6. CP-2b
Kombinasi Log Neutron dan Log Sonik.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 03
MENENTUKAN KOMPOSISI, LITOLOGI
Halaman : 15 / 17
DAN POROSITAS BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI DUA JENIS LOG

Gambar 7. CP-16
Kombinasi Log Litho Density dan Log Density.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 03
MENENTUKAN KOMPOSISI, LITOLOGI
Halaman : 16 / 17
DAN POROSITAS BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI DUA JENIS LOG

Gambar 8. CP-17
Kombinasi Log Litho Density dan Log Density.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 03
MENENTUKAN KOMPOSISI, LITOLOGI
Halaman : 17 / 17
DAN POROSITAS BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI DUA JENIS LOG

Perhatikan contoh 6.2 2 :


Kombinasi FDC dan Litho Density Log memberikan respons density b = 2.53 dan Litho Density
Pe = 4.0. Jika lapisan tersebut terdiri dari dolomite dan limestone, maka diperoleh komposisi
dolomite adalah 40% dan limestone 60%. Porositas batuan adalah 14.5 %.

Gambar 9 Por-3
Konversi interval transit time dari Log Sonik ke p.u.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 04
PENENTUAN KOMPOSISI
Halaman : 1 / 11
LITOLOGI BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI TIGA LOG

Dalam petrofisika penilaian formasi hampir tidak pernah ada korespondensi langsung antara pengukuran
log dengan besaran formasi yang hendak diukur, karena itu diperlukan solusi simultan lithologi.
Pendekatan dilakukan dengan merepresentasikannya dalam bentuk plot silang (cross plot), terutama
neutron density crossplot dan berbagai plot lainnya (M/N plot oleh Burke et. al. (1969) atau MID plot
oleh Clavier & Rust (1976)) yang menambahkan pula sonic travel time untuk mengidentifikasi volume
mineral. Teknik tersebut diuraikan pada modul ini.

1. TUJUAN
Menentukan komposisi mineral pembentuk batuan dengan referensi kalibrasi empiris respons
berbagai mineral utama pembentuk batuan.

2. METODE DAN PERSYARATAN


2.1. METODE
- M - N plot
- MID plot
- Litho - Density - Neutron Plot

2.2. PERSYARATAN
- Untuk M-N dan MID plot diperlukan data dari Density Neutron dan Sonic Log
- Untuk Litho Density Neutron diperlukan data dari Litho Density dan Neutron Log

3. LANGKAH KERJA
3.1. METODE M-N PLOT
1. Siapkan data pendukung :
Jenis lumpur yang digunakan
Waktu perambatan gelombang suara di dalam fluida ( t f )

Kerapatan jenis fluida ( f )

Porositas neutron fluida ( Nf )

2. Baca defleksi Log Density ( b ),Log Neutron ( N ) dan Log Sonic (t)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 04
PENENTUAN KOMPOSISI
Halaman : 2 / 11
LITOLOGI BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI TIGA LOG

3. Hitung harga M dan N berdasarkan rumus berikut

M = 0.01
(t f t)
( b f ) (1)

N=
(Nf N )
( b f ) (2)

t, b dan N adalah harga t, b dan N pada langkah 2.

Harga f = 1.0 , Nf = 1.0 dan tf = 189 sec/ft untuk lumpur bor dengan dasar air tawar.

Harga f = 1.1, Nf = 1.0 dan tf = 185 sec/ft untuk lumpur bor dengan dasar air asin.

4. Gunakan Gambar 1. CP-8, (dari buku Schlumberger Log Interpretation Charts, 1997)
yaitu hasil plot antara M dan N berbagai mineral untuk menentukan jenis mineral
pembentuk batuan dan komposisinya.

5. Plot harga M dan N pada Gambar 1. CP-8.


Tentukan perbandingan komposisi mineral pembentuk batuan tersebut berdasarkan
posisinya di dalam segitiga batuan yang dibentuk oleh kombinasi mineral dolomite, calcite
dan anhydrite atau dolomite, calcite dan silica.
- Jika plot M-N jatuh pada garis sisi segitiga, maka batuan tersebut mempunyai komposisi
yang terdiri atas dua mineral dengan besarnya prosentase ditentukan oleh letak titik
tersebut terhadap ujung-ujung sisi segitiga tersebut.
- Jika plot M-N jatuh di dalam segitiga maka batuan tersebut mempunyai komposisi yang
terdiri dari tiga mineral dengan prosentase masing-masing mineral ditentukan oleh jarak
relatif jauh dekatnya terhadap sudut segitiga yang menyatakan komposisi tunggal (100%)
mineral yang bersangkutan.
- Jika plot M-N jatuh diluar segitiga, penentuan mineral utama pembentuk batuan
ditentukan oleh jarak terdekat terhadap salah satu sudut segitiga-tiga-mineral dan daerah-
daerah tertentu di dalam Gambar 1. CP-8 tersebut.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 04
PENENTUAN KOMPOSISI
Halaman : 3 / 11
LITOLOGI BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI TIGA LOG

3.2. METODE MID PLOT


1. Baca defleksi Log Density ( b ),Log Neutron ( N ) dan Log Sonic (t).

2. Tentukan porositas total terbaca ( ta ) dengan menggunakan salah satu cara penentuan ta

(lihat PF 03), sesuai dengan data macam log yang tersedia pada langkah 1. Jika harga f

tidak sama dengan 1.0 gr/cc kalikan harga total yang didapat dengan harga pengali menurut

tabel 1.

3. Tentukan harga kerapatan jenis (density) matrik batuan terbaca ( maa ) dengan

menggunakan Gambar 2. CP-14 (dari Schlumberger Log Interpretation Charts, 1997).


Masukkan harga b pada sumbu tegak disebelah kiri kemudian tarik garis mendatar sampai

pada harga porositas total terbaca ( ta ); baca harga ( maa ) pada sumbu mendatar bawah.

4. Tentukan harga travel time gelombang suara dalam matrik terbaca (tmaa) dengan
menggunakan Gambar 2. CP-14. Masukkan harga t pada sumbu tegak sebelah kanan
Gambar 2. CP-14; kemudian tarik garis mendatar sampai harga porositas total terbaca ( ta );

baca harga (tmaa) pada sumbu mendatar atas.

5. Plot harga ( maa ) dari langkah 3 dan harga (tmaa) dari langkah 4 pada MID plot Gambar 3.

CP-15 (dari buku Schlumberger, Log Interpretation Charts, 1997). Baca komposisi
mineral pembentuk batuan seperti pada langkah 4 butir 3.1. METODE M-N PLOT.

3.3. METODE LITHO DENSITY - NEUTRON PLOT


1. Siapkan data pendukung seperti pada langkah 1 butir 3.1

2. Baca defleksi Log Litho Density ( Pe ), Log Density ( b ) dan Neutron Log ( N )

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 04
PENENTUAN KOMPOSISI
Halaman : 4 / 11
LITOLOGI BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI TIGA LOG

3. Masukkan harga N dan b pada salah satu gambar dari cara penentuan ( ta ) yang sesuai

dan baca harga porositas total terbaca ( ta ) (lihat PF 03). Jika harga f tidak sama dengan

1.0 gr/cc, kalikan harga ta dengan pengali menurut tabel 1.

4. Tentukan harga densitas matrik batuan terbaca ( maa ) dengan menggunakan Gambar 4. CP-

14 seperti pada langkah 3 butir 3.2.

5. Baca harga apparent index absorbtion ( maa ) dari Gambar 4. dengan memasukkan harga

Pe, b kemudian ta (hasil langkah 3) seperti terlihat pada urutan arah panah di dalam

Gambar 4. CP-20

6. Dengan harga ( maa ) dari langkah 5 dan harga ( maa ) dari langkah 4, plot kedua besaran

tersebut - U plot Gambar 5. CP 21.

7. Tentukan komposisi mineral pembentuk sebagai berikut :


- Jika hasil plot langkah 6 terletak di dalam segitiga komposisi, % komposisi masing-
masing mineral dapat dibaca berdasarkan jarak relatif terhadap efeknya.
- Jika hasil plot jatuh di luar segitiga komposisi, secara kualitatif tidak dapat ditentukan
komposisi mineralnya. Komposisi secara kualitatif ditentukan berdasarkan letak hasil plot
terhadap mineral-mineral di sekitarnya.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 04
PENENTUAN KOMPOSISI
Halaman : 5 / 11
LITOLOGI BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI TIGA LOG

4. DAFTAR PUSTAKA
1. John T. Dewan. Essentials of Modern Open Hole Log Interpretation, Penn-Well Books, Penn-
Well Publishing Company, Tulsa, Oklahoma, 1983.
2. Schlumberger, Log Interpretation Charts, 1997
3. Adi Harsono, Evaluasi Formasi dan Aplikasi Log - Edisi 8, 1997
4. Schlumberger, "Log Interpretation Principles/Applications, 1989
5. George Asquith with Charles Gibson : "AAPG Methods in Exploration Series Number 3 - Basic
Well Log Analysis for Geologist", The American Association of Petrolum Geologists, 1982
6. Sylvain J. Pirson, Hand Book of Well Analysis for Oil and Gas Formation Evaluation, Prentice
Hall Inc, Englewood, N.J. , 1963

5 DAFTAR SIMBOL
M = salah satu parameter dalam M-N plot
N = salah satu parameter dalam M-N plot
MID = matrik identification
Pe = koefisien photoelectric absorbtion (barns/electric)
t = transit time (Sce)ft
tf = transit time dalam cairan (Sce/ft)
(tmaa) = transit time terbaca dalam matrik (Sce/ft)
= indeks photoelectric absorbtion
(maa) = indeks volumetric photoelectric absorbtion terbaca (barns/cc)
b = kerapatan jenis batuan, gr/cc

f = kerapatan jenis cairan, gr/cc

N = porositas neutron (%)

Nf = porositas neutron dalam fluida (%)

ta = porositas terbaca total (%)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 04
PENENTUAN KOMPOSISI
Halaman : 6 / 11
LITOLOGI BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI TIGA LOG

6. LAMPIRAN
6.1. LATAR BELAKANG DAN RUMUS
Lihat PF 02, PF 03 dan PF 16

6.2. CONTOH PERHITUNGAN


1. M-N Plot
Porosity log dari lapisan 1 dan 2 memberikan data sebagai berikut :
Lapisan 1 : t = 67 sec/ft
b = 2.05 gr/cc

CNL =0

f = 1.00 gr/cc

Lapisan 2 : t = 63 sec/ft
b = 2.05 gr/cc

CNL = 27 pu

Lapisan 1:
t f 1 189 67
M= 0.01 = = 1.16
b f 2.05 1.0

Nf N 1 . 0 0. 0
N= = = 0.95
b f 2.05 1.00
Plot harga M dan N pada Gambar 1. CP-8 menyatakan litologi lapisan 1 adalah NaCl.

Lapisan 2 :
189 63
M= 0.01 = 0.84
2.50 1.00
1.0 0.27
N= = 0.48
2.50 1.0
Plot harga M dan N pada Gambar 1. CP-8, menyatakan litologi lapisan 2 adalah dolomite.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 04
PENENTUAN KOMPOSISI
Halaman : 7 / 11
LITOLOGI BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI TIGA LOG

2. MID Plot
(Lihat contoh pada Gambar 3. CP-15).

3. Litho-Density-Neutron plot
(Lihat contoh pada Gambar 4. CP-20).

Tabel 1
Faktor Koreksi ta

Kerapatan Jenis Fluida ( f ) Faktor Pengali

1.00 1.00
1.05 0.98
1.1 0.95
1.15 0.93

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 04
PENENTUAN KOMPOSISI
Halaman : 8 / 11
LITOLOGI BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI TIGA LOG

Gambar 1. CP-8, M-N Plot


Perhatikan alur plot dari contoh lapisan 2 dengan M = 8.4 dan N = 0.48.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 04
PENENTUAN KOMPOSISI
Halaman : 9 / 11
LITOLOGI BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI TIGA LOG

Gambar 2. CP-14, MID Plot

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 04
PENENTUAN KOMPOSISI
Halaman : 10 / 11
LITOLOGI BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI TIGA LOG

Gambar 3. CP-15, MID Plot (lanjutan)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 04
PENENTUAN KOMPOSISI
Halaman : 11 / 11
LITOLOGI BATUAN Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
DENGAN KOMBINASI TIGA LOG

Gambar 4. CP-14
LITHO DENSITY - NEUTRON Plot

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 05
Halaman : 1 / 17
PENENTUAN KANDUNGAN SHALE (VSH) Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Salah satu harapan terhadap interpretasi logging, menentukan disatu sisi: wadah (tempat) yaitu kandungan
mineralogis dan prosentase elemen padatan utama (butiran, matriks dan semen) yang membentuk batuan;
disisi lain: isi kandungannya yaitu keadaan alamiah dan prosentase (porositas, saturasi) fluida yang
mengisi ruang antar elemen padatan tersebut. Logging secara umum membedakan 2 (dua) kategori
elemen padatan yaitu matriks dan lempung. Pembedaan ini, disatu sisi disebabkan adanya beda kelakuan,
dalam kaitannya dengan fenomena fisik yang dipakai pada logging terhadap kedua macam padatan
tersebut, disisi lain adanya pengaruh lempung terhadap kelakuan petrofisik reservoir (permeabilitas,
saturasi, dsb).

Yang disebut matriks dalam logging yaitu kumpulan elemen padatan yang membentuk kerangka (butiran
dan penghubungnya) pembentuk batuan, kecuali lempung (sebagaimana dijelaskan diatas). Matriks ini
disebut sederhana (simple) bila elemen dan semen sebagai perekatnya terbentuk dari mineral yang sama
(kapur, quartz, dsb). Ini disebut kompleks bila elemennya sendiri memiliki komposisi mineralogis yang
bervariasi dan / atau bila semen perekatnya memiliki keadaan alamiah yang berbeda (misalnya batuan
pasir quartz dengan semen kapuran, dsb.). Ini disebut bersih (clean) bila batuan ini tidak mengandung
lempung. Berbagai mineral pembentuk batuan sedimenter memiliki karakateristik kimia-fisika sendiri-
sendiri dan ini dapat dicirikan oleh logging sebagai respons bersih peralatan logging (radioaktivitas,
tahanan listrik, berat jenis, hydrogen index, cepat rambat gelombang akustik, dsb.).

Lempung, dimaksudkan untuk memberi nama kumpulan endapan sedimenter yang terdiri dari mineral-
mineral tipis lempengan alumunium-silikat yang terhidrasi. Secara mineralogis dibedakan berbagai
kelompok mineral berlempeng tipis berdasarkan ketebalan lempengannya atau jarak antar lempengan
tersebut.

Pada kenyataannya, respon logging terhadap lempung hampir tidak pernah didapati secara sederhana pada
batuan sedimen, sehingga penyederhanaan itu dianggap sebagai paparan teoritis, karena hanya terjadi
sebagai hal yang luar biasa. Yang umum terjadi senantiasa gabungan berbagai mineral maupun bentuk
seperti silt dan karbonat dalam komposisi parameter yang sangat bervariasi. Lebih jauh lagi, susunan
partikel lempung membentuk ruang-ruang pori yang bervariasi pula besarnya, bukan saja oleh pengaruh
susunan tadi, tetapi juga akibat pengaruh kompaksi batuan. Rongga pori ini biasanya terisi air, tetapi
kadang-kadang juga hidrokarbon padat, cair atau gas. Dengan demikian karakteristik respons peralatan
penyidik logging terutama tergantung pada komposisi, porositas dan saturasi hidrokarbon. Dapat

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 05
Halaman : 2 / 17
PENENTUAN KANDUNGAN SHALE (VSH) Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

dipahami bahwa kehadiran lempung pada batuan mempengaruhi respos peralatan penyidik logging secara
proposional menurut prosentase dan karakteristiknya.

1. TUJUAN
Menentukan jenis dan volume shale (Clay, VSH) di dalam batuan pasir. Jumlah shale perlu ditentukan
karena shale dapat menyebabkan penimpangan pembacaan log, yang akan dapat menyebabkan
kesalahan interpretasi.

2. METODE DAN PERSYARATAN


2.1. METODE
1. Log Gamma Ray
2. Log SP.
3. Log Rt
4. Log Neutron
5. Log Density Neutron

2.2. PERSYARATAN
1. Sifat-sifat shale di dalam batuan pasir dianggap sama dengan lapisan shale di dekatnya
2. Metode Density - Neutron Log tidak dapat digunakan jika lapisan mengandung gas.

3. LANGKAH KERJA
3.1. METODE GAMMA RAY LOG
(
1. Baca harga defleksi gamma rata-rata pada batuan yang bersangkutan GR = GRLog )
2. Baca harga defleksi gamma rata-rata pada batuan pasir bersih (clean sand), GRCL = GRminimum

3. Baca harga rata-rata defleksi gamma pada batuan shale (GRSH ) yang terdekat,

GRSH = GRmax imum .


4. Hitung indeks shale, ISH dengan rumus berikut:

I SH =
(GR GRCL ) (1)
(GRSH GRCL )
I SH = 0 untuk clean sand

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 05
Halaman : 3 / 17
PENENTUAN KANDUNGAN SHALE (VSH) Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

I SH = 1 untuk lapisan shale

Umumnya I SH = VSH

5. Jika untuk formasi tersebut tersedia juga log density, baca harga density rata-rata formasi yang
bersangkutan ( ) dan harga density rata-rata lapisan shale di dekatnya ( SH )

6. Hitung VSH dengan rumus berikut:


3

(VSH )GR = I SH (2)
SH

7. Jika rekaman density log tidak ada, gunakan grafik korelasi Gambar 2 untuk mendapatkan VSH
dari ISH. Hubungan linier digunakan jika density formasi tidak terlalu dipengaruhi oleh adanya
clay di dalamnya.
Hubungan melengkung digunakan jika adanya clay akan mempengaruhi bulk density dari
batuan.

3.2. METODE SP LOG


1. Tentukan garis alas shale (shale base line) yang menunjukkan defleksi kecil tetapi tampak
menerus dan senantiasa nyata nyata berhadapan dengan lapisan shale (diperlukan informasi
tambahan informasi dari sumber data lain seperti deskripsi serpih, deskripsi well site geologist,
dsb.) untuk konfirmasinya.
2. Tentukan harga PSP lapisan yang bersangkutan dengan membaca defleksi dihitung dari shale
base line.
3 . Tentukan harga SSP lapisan pasir bersih yang terdekat dengan cara yang sama dengan langkah
2.
4. Hitung VSH menurut hubungan berikut.

(VSH )SP = 1.0 PSP (dalam %) (3)


SSP
dimana :

Rmf
SSP = K log
Rw
K = 60 + (0.133 T f )
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 05
Halaman : 4 / 17
PENENTUAN KANDUNGAN SHALE (VSH) Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

3.3. METODE Rt LOG


1. Baca defleksi Rt log (Induction log atau Laterolog atau kedua-duanya) pada lapisan shale yang
bersangkutan (RSH) dan lapisan pasir bersih
2. Hitung harga besaran a menurut hubungan berikut

R R Rt
a = SH CL (4)
Rt RCL R SH
3. Gunakan grafik Gambar (2) untuk menentukan harga VSH dengan memasukkan besaran a pada
sumbu mendatar dan baca VSH pada sumbu tegak

3.4. METODE NEUTRON LOG


1. Baca harga porosity Neutron Log pada lapisan shale di dekatnya ( NSH ) dan pada lapisan yang

bersangkutan ( N )

2. Hitung (VSH )N berdasarkan rumus berikut:

N
(VSH ) N = (5)
NSH

3.5. METODE DENSITY - NEUTRON LOG


1. Baca harga rata-rata porositas neutron N lapisan yang bersangkutan.

2. Baca harga rata-rata porositas density ( D ) dari lapisan yang bersangkutan.

3. Baca harga porositas neutron rata-rata lapisan shale ( NSH ) yang terdekat.

4. Baca harga rata-rata porositas density lapisan shale ( DSH ) yang terdekat.

5. Hitung VCL dengan rumus berikut:

(VSH )ND = ( N D ) (6)


( NSH DSH )
Harga ( NSH DSH ) umumnya antara 0.15 0.30

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 05
Halaman : 5 / 17
PENENTUAN KANDUNGAN SHALE (VSH) Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

4. DAFTAR PUSTAKA
1. John T, Dewan, "Essentials of Modern Open-Hole Log Interpretation", Penn-Well Books, Tulsa,
Oklahoma, 1983
2. George Asquith with Charles Gibson, "AAPG Methods in Exploration Series Number 3 - Basic
Well Log Analysis for Geologist", The American Association of Petrolum Geologists, 1982
3. George B. Asquith, "Log Evaluation of Shaly Sandstones: A Practical Guide", The American
Association of Petrolum Geologists, Tulsa Oklahoma USA, 1982
4. Schlumberger, "Log Interpretation Principles/Applications, 1989
5. Schlumberger, "Log Interpretation Charts" 1997.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 05
Halaman : 6 / 17
PENENTUAN KANDUNGAN SHALE (VSH) Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

5. DAFTAR SIMBOL
N = porositas formasi dari neutron log, fraksi

D = porositas formasi dari density log, fraksi

DSH = porositas lapisan shale dari density log, fraksi

NSH = porositas lapisan shale dari neutron log, fraksi

GR = defleksi sinar gamma dari formasi (dari pembacaan log), APIU


GRCL = defleksi sinar gamma dari formasi bersih, APIU
GRSH = defleksi sinar gamma dari lapisan shale, APIU
ISH = indeks shale, tak bersatuan
= kerapatan jenis (density) batuan formasi, gr/cc

SH = kerapatan jenis shale, gr/cc

SP = spontaneous potensial, mV
SPCL = spontaneous potensial lapisan bersih, mV
SPSH = spontaneous potensial lapisan shale, mV
(VCL)ND = volume clay (shale) dari neutron density, fraksi
(VCL)GR = volume clay (shale) dari gamma ray log, fraksi
(VCL)SP = volume clay (shale) dari SP log, fraksi
Rt = defleksi log resistivity jangkauan dalam untuk lapisan yang bersangkutan, Ohm-m
RSH = defleksi log resistivity untuk lapisan shale, Ohm-m
RtCL = defleksi log resistivity jangkauan dalam untuk lapisan batu pasir bersih, Ohm-m
a = besaran perbandingan antara resistivitas shale dengan resistivitas total batuan

R R Rt
a = SH CL
Rt RCL R SH
PSP = Pseudostatic spontaneous potential, pembacaan log SP pada lapisan batu pasir yang
mengandung shale (shaly sand)
SSP = Static spontaneous potential, pembacaan log SP pada lapisan tipis batu pasir bersih
(clean sand)
Tf = Temperatur formasi, F

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 05
Halaman : 7 / 17
PENENTUAN KANDUNGAN SHALE (VSH) Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

6. LAMPIRAN
6.1. LATAR BELAKANG DAN RUMUS
Dalam dunia perminyakan, sering muncul permasalahan shaly sand (batu pasir yang mengandung
lempung). Pada interpretasi log, hal ini sering menjadi pertanyaan pada saat melakukan
identifikasi dan penentuan pengaruh kandungan shale di reservoir karena shale akan memberi
pengaruh pada porositas dan permeabilitas. Pemahaman tentang sifat dari shale dan koreksi data
log dibutuhkan bila jumlah shale dalam reservoir cukup banyak, agar tidak terjadi kesalahan
pengambilan keputusan, baik pada kegiatan eksplorasi maupun pengembangan.

Adanya clay atau shale di dalam batuan sedimen menyebabkan terjadinya penyimpangan
interpretasi log bila menggunakan rumus-rumus untuk batuan bersih. Efek adanya shale dalam
formasi :
Mengurangi porositas efektif, umumnya signifikan
Mengurangi permeabilitas, terkadang dengan drastis
Memberikan resistivitas yang berbeda dengan yang diperoleh berdasarkan persamaan
Archie
Shale memberikan pembacaan log porositas (neutron, density dan sonik) yang tidak sesuai
dengan keadaan sebenarnya. Porositas akan selalu dibaca terlalu tinggi, kecuali pada log
density yang tidak akan membaca porositas terlalu tinggi bila densitas shale (atau clay)
sama atau lebih besar dari densitas matriks.
Apabila mengetahui jumlah shale di dalam suatu batuan maka interpretasi log untuk jenis batuan
tersebut akan lebih teliti.

Clay adalah komponen utama dari shale, terdiri dari partikel-partikel sangat kecil dengan luas
permukaan yang sangat luas, dan akibatnya dapat mengikat air formasi dalam jumlah banyak
dipermukaannya. Untuk pasir, air ini berpengaruh pada konduktivitas elektrik tetapi tidak
berpengaruh pada konduktivitas hidroliknya. Air yang terikat itu tidak dapat didorong oleh
hidrokarbon dan tidak dapat mengalir. Berdasarkan hal ini, kita definisikan:
Porositas efektif : besarnya pori-pori yang terisi oleh fluida yang terikat dengan batuan
non-clay
Porositas total : besar pori-pori yang terisi oleh fluida yang terikat pada batuan clay
maupun non-clay.
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 05
Halaman : 8 / 17
PENENTUAN KANDUNGAN SHALE (VSH) Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Formasi hidrokarbon yang mengandung shale mungkin hanya menunjukkan sedikit perbedaan
pada log resistivity, dibandingkan dengan batu pasir yang mengandung air atau dengan shale-shale
lain yang berdekatan. Hal ini berakibat lapisan batu pasir yang mengandung shale sulit untuk
ditentukan pada log resistivity. Walaupun dapat ditentukan, penggunaan persamaan Archie dalam
kondisi ini akan memberikan hasil saturasi air yang tidak tepat.

Bila jumlah shale dalam reservoir dapat menghentikan produksi karena permeabilitasnya yang
sangat rendah, tetapi pada jumlah tertentu keberadaan shale dalam reservoir dapat menguntungkan
yaitu bila shale menyebar. Hal ini dapat menguntungkan karena shale akan mengikat air dan
mengurangi saturasi air. Dengan kondisi tersebut, suatu lapisan yang memiliki saturasi air yang
tinggi tetap dapat diproduksikan secara ekonomis.

Umumnya shale terdiri dari padatan sebagai berikut : 50% clay, 25% silica, 10% feldspar, 10%
karbonat, 3% besi oksida, 1% bahan organik dan 1% material lainnya. Shale dapat menyerap air
sebanyak 2-40% dari volumenya. Komponen clay yang terdapat dalam shale menyebabkan
terjadinya penyimpangan (abnormal) dalam pembacaan log. Mineral-mineral clay diklasifikasikan
dalam beberapa jenis, tergantung pada struktur kristalnya. Pada batuan sedimen, clay yang ditinjau
adalah jenis montmorillonite, illite, kaolinite, chlorite dan mineral campuran yang biasanya
berbentuk lapisan. Tabel 1 mendaftarkan sifat-sifat dari tiap jenis clay yang penting dalam
penilaian formasi.

CEC, (av ) , Minor Spectral GR Components (av)


Clay Type CNL
meq/g gr/cc Constituent K, % U, ppm Th, ppm

Montmorillonite 0.8-1.5 0.24 2.45 Ca, Mg, Fe 0.16 2-5 14-24


Illite 0.1-0.4 0.24 2.65 K, Mg, Fe, Ti 4.5 1.5 <2
Chlorite 0-0.1 0.51 2.8 Mg, Fe - - -
Kaolinite 0.03-0.06 0.36 2.65 - 0.42 1.5-3 6-19

Tabel 1 Sifat-sifat clay yang berpengaruh dalam logging

Kolom pertama dalam tabel menampilkan parameter yang penting, yaitu Kapasitas Perpindahan
Kation (Cation Exchange Capacity CEC). Perhatikan bahwa nilai CEC dari montmorillonite dan

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 05
Halaman : 9 / 17
PENENTUAN KANDUNGAN SHALE (VSH) Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

illite lebih besar dibandingkan dengan chlorite dan kaolite. Kolom kedua menampilkan porositas
yang dibaca oleh log CNL Neutron, pada keadaan (teoritis) 100% formasi clay. Kolom berikutnya
menunjukkan densitas clay rata-rata. Parameter ini memiliki nilai yang bervariasi, sesuai dengan
konsentrasi hidrogen dan mineral berat yang mengotori, misalnya mineral besi. Tiga kolom
terakhir pada Tabel 1 adalah konsentrasi rata-rata dari komponen radioaktif natural yang terdapat
dalam clay. Perlu diperhatikan bahwa konsentrasi potassium yang tinggi terdapat pada illite,
sedangkan konsentrasi thorium yang tinggi terdapat pada montmorillonite.

Distribusi shale atau clay dalam batu pasir (sand) dibagi menjadi :
Laminated
Dispersed
Structural.
Pembagiannya dapat dilihat pada Gambar 1.

Tidak ada satupun metode perekaman logging yang dapat mengukur secara tepat jumlah
kandungan shale di dalam batuan. Sampai saat ini penentuan jumlah shale dilakukan dengan cara
perhitungan dari beberapa rekaman log yang dapat menunjukkan adanya shale. Menentukan
volume shale di dalam batuan dikenal lima metode, yaitu:
1. Metode Log Gamma Ray
2. Metode Log SP
3. Metode Log Rt
4. Metode Log Neutron
5. Metode Log Density - Neutron

Karena shale lebih radioaktif dibandingkan dengan batu pasir dan karbonat, log gamma ray (GR)
dapat digunakan untuk menghitung volume shale dalam reservoir. Defleksi rekaman log sinar
gamma makin tinggi bila jumlah kandungan shale besar. Dengan demikian indeks kandungan
shale dalam batuan dapat diperoleh dari interpolasi linier antara harga sinar gamma di dalam
batuan bersih dari batuan shale, sebagai berikut:

I SH =
(GR GRCL ) (1)
(GRSH GRCL )

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 05
Halaman : 10 / 17
PENENTUAN KANDUNGAN SHALE (VSH) Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Untuk mendapatkan volume shale dalam batuan dapat dilakukan dengan grafik korelasi antara ISH
dengan VSH seperti terlihat pada Gambar 2 atau dari hubungan:
3

(VSH ) = I SH (2)
SH
jika untuk formasi tersebut tersedia rekaman log density.

Hal yang sama juga akan ditunjukkan oleh rekaman SP log, sehingga VSH dapat dihitung
berdasarkan hubungan berikut:

(VSH )SP = (SP SPCL ) (7)


(SPSH SPCL )
Adanya shale di dalam batuan cenderung memperkecil harga SP.

Harga resistivity batuan yang mengandung shale sangat ditentukan oleh resistivity shale dan
kandungan shale di dalamnya. Untuk batuan dengan porositas nol, berlaku rumus Archie sebagai
berikut :
RSH
Rt = (8)
(VSH )b

Jika batuan tersebut mempunyai porositas dan mengandung air formasi maka resistivitas batuan
akan berkurang, sehingga :
1
R b
(VSH )R = SH VSH (9)
Rt
t

Dengan syarat batas VSH = 0 dan untuk batuan yang mengandung hidrokarbon, Rt = RCL adalah
maksimum, persamaan (9) menjadi:
1
R R Rt b
(VSH )R = SH CL (10)
Rt RCL RSH
t

b adalah suatu konstanta dengan harga antara l sampai dengan 2


R SH
b = 1 untuk antara 0.5 sampai dengan 1.0
Rt

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 05
Halaman : 11 / 17
PENENTUAN KANDUNGAN SHALE (VSH) Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

R SH
2 b > untuk < 0.5
Rt
Neutron porosity indeks dapat dinyatakan sebagai berikut:
N = Nf + VSH NSH (11)

berhubung harga Nf selalu positif, maka:

N
(VSH ) N = V SH (5)
NSH

Harga (VSH)N akan memberikan harga VSH yang baik jika porositas batuan rendah dan atau harga
Nf kecil. Adanya ikatan hidrogen di dalam shale menyebabkan porositas neutron mempunyai
harga lebih tinggi dari porositas yang ditunjukkan oleh log density, dengan demikian makin tinggi
kandungan shale di dalam batuan perbedaan tersebut makin besar. Karena pengaruhnya adalah
linier maka volume shale di dalam batuan dapat dinyatakan menurut hubungan berikut:

(VSH )ND = ( N D ) (6)


( NSH DSH )

Untuk batuan yang mengandung gas maka porositas yang ditunjukkan oleh kedua log tersebut
tidak benar, sehingga metode ini tidak dapat digunakan. Dari kelima metode tersebut penentuan
VSH dengan SP akan memberikan harga yang paling besar.

Menurut konvensi maka harga VSH, yang akan digunakan adalah harga terendah dari kelima
metode tersebut. Sebagai pertimbangan dapat diutarakan bahwa adanya mineral berat akan
mempertinggi harga (VSH)ND, pembesaran lubang bor akan memperbesar (VSH)GR dan kandungan
hidrokarbon akan menyebabkan harga (VSH)SP membesar.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 05
Halaman : 12 / 17
PENENTUAN KANDUNGAN SHALE (VSH) Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

6.2. CONTOH SOAL


Rekaman Log SP, GR, Induction, SFL, Density dan Neutron suatu formasi shaly-sand seperti
terlihat pada Gambar 3 memberikan data sebagai berikut:
Untuk lapisan pasir 8510 - 8540 ft
Rt = 3
D = 0.26
N = 0.33
GR = 63
SP = -95
Pada batuan shale 8470 - 8500 ft
RSH = 1,2
DSH = 0.20
NSH = 0.50
GRSH = 87
SPSH = -75
Pada clean sand 8178 - 8193 ft
RCL = 0.65
CL = 0.34

GRCL = 36
SPCL = -122
Perhitungan VSH

1. (I SH )GR = (63 36) = 0.53


(87 36)
Dari Gambar l (VSH)GR = 0.34

2. (VSH )SP = ( 95 ( 122)) = 0.57


( 75 ( 122))
RSH R Rt 1.2 0.65 3 2.35
3. a = CL = = 0.4 = 1.7
Rt RCL RSH 3 0.65 1.2 0.55
Dari Gambar 2 (VSH)Rt tidak dapat dihitung.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 05
Halaman : 13 / 17
PENENTUAN KANDUNGAN SHALE (VSH) Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

0.33
4. (VSH )N = = 0.66
0.50

5. (VSH )ND = (0.33 0.26) = 0.23


0.50 0.20
Menurut pengamatan di lapangan formasi tersebut mengandung gas.
Jadi VSH = 0.34 (harga yang terendah)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 05
Halaman : 14 / 17
PENENTUAN KANDUNGAN SHALE (VSH) Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

6.3. GAMBAR DAN GRAFIK

Gambar 1. Bentuk distribusi shale dalam batuan sedimen (after Wilson, Schlumberger)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 05
Halaman : 15 / 17
PENENTUAN KANDUNGAN SHALE (VSH) Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 2. Konversi ISH terhadap VSH untuk Log Gamma Ray


Clavier et.al. menurunkan persamaan untuk dispersed shaly sand.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 05
Halaman : 16 / 17
PENENTUAN KANDUNGAN SHALE (VSH) Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 3. (VSH)RT terhadap a

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 05
Halaman : 17 / 17
PENENTUAN KANDUNGAN SHALE (VSH) Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 4. Rekaman log formasi Shale Sand-Offshore Louisiana.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 06
Halaman : 1 / 16
PENENTUAN RW DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Penentuan harga tahanan listrik air formasi (formation water resistivity) perlu dilakukan dengan seksama
mengingat perannya sebagai parameter penentu pada perhitungan saturasi air, yang pada gilirannya akan
menunjukkan ada tidaknya prospek hidrokarbon. Segala cara harus dilakukan untuk menjamin keakuratan
penentuan ini, termasuk diantaranya meneliti contoh air yang didapat langsung dari uji kandung lapisan
maupun uji produksi. Modul ini khusus memfokuskan uraian pada cara cara yang lazim dilakukan untuk
menentukan harga itu hanya dari data log.

1. TUJUAN
Menentukan harga resistivitas air formasi (Rw)

2. METODE DAN PERSYARATAN


2.1. METODE
1. Metode SP
2. Metode Rt
3. Metode Resistivity Porosity Cross Plot
4. Metode Rxo Rt Cross Plot

2.2. PERSYARATAN
1. Metode SP
a. Lapisan bersih (clean formation)
b. Lapisan yang bersangkutan mempunyai defleksi SP
c. Tersedia rekaman resistivitas jangkauan dalam dan jangkauan dangkal
2. Metode Rt
a. Lapisan bersih
b. Lapisan mempunyai zona air
c. Tersedia rekaman resistivitas jangkauan dalam dan dangkal
3. Metode Resistivity Porosity Cross Plot
(lihat PF 06)
4. Metode Rxo terhadap Rt Cross Plot
(lihat PF 07, PF 08)
5. Petunjuk kerja ini menggunakan chart-interpretasi Schlumberger. Jika peralatan yang
dipergunakan dari perusahaan lain, chart-interpretasi yang digunakan harus disesuaikan

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 06
Halaman : 2 / 16
PENENTUAN RW DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

3. LANGKAH KERJA
3.1. METODE SP
1. Siapkan data pendukung :
Diameter lubang bor (dh)
Gradien temperatur (G)
Resistivitas lumpur (Rm)
Bila tersedia gunakan juga :
Resistivitas filtrat lumpur (Rmf)
Resistivitas kerak lumpur (Rmc)
Kerapatan jenis lumpur (m)

2. Tentukan temperatur lapisan (TR) menggunakan Gambar GEN-6 dan hitung harga Rm pada
temperatur tersebut dengan rumus :
Ta
Rm @ TR = Rm @ Ta (1)
TR

3. Tentukan tebal lapisan (h) dari SP log dengan mengukur jarak antara titik belok (inflection
point) awal deflekesi dan titik belok akhir defleksi.

4. Tentukan garis shale (shale base line)


Garis ini merupakan harga rata-rata SP lapisan lapisan shale. Garis tersebut merupakan garis
referensi SP = 0

5. Tentukan harga SP lapisan dengan membaca harga skala log dimulai dari shale base sampai
garis rata-rata defleksi SP-nya (-mv)

6. Hitung harga Rmf, Rmfeq, Rmc pada temperatur formasi sebagai berikut :
Gunakan Gambar GEN-9 untuk mendapatkan harga Rmf @ TR
a. Jika harga Rmf @ Ta > 0.1 ohm-m
hitung harga Rmfeq dengan hubungan berikut :
Rmfeq = 0.85 Rmf
b. Jika harga Rmf @ Ta < 0.1 ohm-m, gunakan Gambar SP-2 untuk mendapatkan harga Rmfeq :
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 06
Halaman : 3 / 16
PENENTUAN RW DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Ta
Rmc @ TR = Rmc @ Ta
TR

7. Apabila tidak ada pengukuran langsung, hitung harga Rmf dan Rmc dari persamaan berikut :

Rmf = K m (Rm )
1.07

2.65
R
Rmc = 0.69(Rmf ) m
R
mf
Km tergantung densitas kerapatan jenis (density) lumpur seperti terlihat pada Tabel GEN-7.
Baca Rmf dari Gambar SP-2

8. Baca dari log resistivity harga Rxo, Ri, di, Rs, dan Rt (lihat PF 07 untuk pembacaan Rxo dan PF 06
untuk pembacaan Ri dan Rt)

Rs Rxo Ri Rxo h d
9. Hitung harga , , , , dan i
Rm Rm Rm Rt d h dh

10. Dari harga SP langkah 5 dan data yang diperoleh dari langkah 8 dan 9 gunakan Gambar SP-3
atau SP-4 untuk menentukan harga SP.
1
ESSPcor = ESP x
E SP / E SPcor
ESP = ESP x Faktor Koreksin
ESP adalah harga SP hasil langkah 5

11. Tentukan harga Rweq dengan menggunakan Gambar SP-1


Masukkan harga SP pada sumbu datar, tarik garis tegak lurus sehingga memotong kurva
dengan temperatur lapisan yang sesuai. Dari titik potong ini tarik garis mendatar sampai
memotong sumbu tegak untuk menentukan harga Rmfeq / Rweq. Dari harga Rmfeq/Rweq tersebut
tarik garis lurus melalui harga Rmfeq sehingga diperoleh Rweq

12. Dengan harga Rweq hasil langkah 10, gunakan gambar SP-2 untuk menentukan harga RW.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 06
Halaman : 4 / 16
PENENTUAN RW DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

3.2. METODE Rt
1. Siapkan data pendukung
Gradien temperatur (G)
Resistivitas lumpur bor (Rm)
Kerapatan jenis lumpur bor (m)
Bila tersedia gunakan juga :
Resistivitas filtrat lumpur (Rmf)
Resistivitas kerak lumpur (Rmc)

2. Tentukan temperatur lapisan (TR) menggunakan Gambar GEN-6, kemudian hitung harga Rm
pada temperatur tersebut dengan rumus:
Ta
Rm @ TR = Rm @ Ta (5)
TR

3. Hitung harga Rmf, Rmfeq, Rmc pada temperatur formasi sebagai berikut :
Gunakan Gambar GEN-9 untuk mendapatkan harga Rmf @ TR
a. Jika harga Rmf @ Ta > 0.1 ohm-m
Hitung harga Rmfeq dengan hubungan berikut :
Rmfeq = 0.85 Rmf
b. Jika harga Rmf @ Ta > 0.1 ohm-m, gunakan Gambar SP-2 untuk mendapatkan harga Rmfeq :
Ta
Rmc @ TR = Rmc @ Ta
TR

4. Apabila tidak ada pengukuran langsung, hitung harga Rmf dan Rmc dari persamaan berikut :

Rmf = K m (Rm )
1.07
(6)
2.65
R
Rmc = 0.69(Rmf ) m (7)
R
mf

atau untuk air lumpur garam


Rmf = 0.75 Rm (8)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 06
Halaman : 5 / 16
PENENTUAN RW DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Rmc = 1.5 Rm (9)


Km tergantung kerapatan jenis lumpur seperti terlihat pada Tabel GEN-7.

5. Tentukan harga ROS. Biasanya ROS diambil antara 10-20% atau sesuai pengalaman lapangan.

6. Pada lapisan yang mengandung 100% air tentukan harga Ro dan Rxo dari rekaman log resistivity
(lihat PF 07 untuk menentukan harga Rxo)
Ro adalah Rt lapisan yang mengandung 100 % air.

7. Hitung RW berdasarkan rumus :


Ro Rmf
RW = (10)
R xo (1 ROS ) 2

3.3 METODE RESISTIVITY POROSITY CROSS PLOT


1. Pilih log porositas-resistivitas yang sesuai untuk dikerjakan
2. Pilih skala dari porositas ( b , N , t ) . Titik matriks harus di dalam skala yang dipilih.

3. Gambar nilai log yang dibaca langsung dari log resistivitas-dalam dan log porositas di dalam
lapisan yang dikehendaki (skala resistivitas diatur agar sesuai dengan nilai resistivitas)
4. Tarik garis dari titik matriks (jika diketahui) melalui titik-titik paling kiri (Utara-Barat), didapat
garis air, dimana SW = 100% . Setiap titik pada garis itu memberikan nilai porositasnya dan

resistivitas Ro yang sesuai.

5. Untuk memperoleh nilai Rw , nyatakan skala porositas dalam absis (pakai grafik log yang

sesuai), kemudian :
1
Umpamakan F = , tarik garis vertikal dari titik = 20 (F=25), atau dari titik = 10
2
(F=100) ke garis-air kemudian tarik garis horisontal ke ordinat baca Ro .

Ro
Hitung Rw =
F
0.62
Untuk F = , pakai = 20 dengan cara yang sama.
2.15

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 06
Halaman : 6 / 16
PENENTUAN RW DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

3.4 METODE Rxo - Rt CROSS PLOT


(Lihat PF 07, PF 08)

4. DAFTAR PUSTAKA
1. Schlumberger, "Log Interpretation Principles/Applications, 1989
2. Schlumberger, Log Interpretation Charts, 1997
3. George Asquith with Charles Gibson, "AAPG Methods in Exploration Series Number 3 - Basic
Well Log Analysis for Geologist", The American Association of Petrolum Geologists, 1982
4. John T. Dewan, Essentials of Modern Open-hole Log Interpretation, Penn-Well Books, Penn
Well Publishing Company, Tulsa, Oklahoma, 1983
5. Pirson S. J., Oil Reservoir Engineering, Mc. Graw-Hill Book Co. Inc., New York, 1958
6. Pirson S. J., Hand Book of Well Analysis for Oil and Gas Formation Evaluation, Prentice Hall
Inc, Englewood, N.J. , 1963
.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 06
Halaman : 7 / 16
PENENTUAN RW DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

5. DAFTAR SIMBOL
di = diameter invasi, ft
dh = diameter lubang , ft
E SP = harga SP hasil pembacaan log

E SPcorr = harga SP hasil pembacaan log yang telah dikoreksi


G = gradien temperatur, F/100 ft
h = tebal lapisan , ft
m = kerapatan jenis lumpur, ppg
Ri = resistivitas formasi pada daerah invasi, ohm-m
Rm = resistivitas lumpur bor, ohm-m
Rmf = resistivitas filtrat lumpur, ohm-m
Rmfeq = resistivitas filtrat lumpur setara, ohm-m
Rmc = resistivitas kerak lumpur, ohm-m
Ro = resistivitas formasi dengan kejenuhan air formasi 100%, ohm-m
ROS = saturasi minyak tersisa, %
Rs = resistivitas lapisan shale, ohm-m
Rt = resistivitas lapisan batuan pada daerah yang tak terganggu (undistrub), ohm-m
Rxo = resistivitas batuan pada daerah flush, ohm-m
RW = resistivitas air formasi, ohm-m
Km = fungsi dari mud weight, diperoleh dari Tabel Gen-7

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 06
Halaman : 8 / 16
PENENTUAN RW DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

6. LAMPIRAN
6.1. LATAR BELAKANG DAN RUMUS
Perubahan litologi batuan dan kontak dengan Lumpur bor akan menimbulkan potensial listrik
yang disebut Static Spontaneous Potensial (SSP).
Dengan demikian besarnya SSP akan bergantung pada sifat batuan yang kontak satu sama lain,
misalnya shale dan pasir, fluida formasi dan lumpur bor. Secara kuantitatif besarnya SSP
dirumuskan sebagai berikut :
Rmf eq
SSP = K c log (11)
Rw eq

dimana Kc = 61 + 0.133 T (F)


Apabila harga SSP dan sifat-sifat lumpur bor diketahui, maka hubungan ini dapat digunakan
untuk menghitung resistivitas air formasi (Rw).

6.2 CONTOH PERHITUNGAN


Penentuan harga RW pada zone 9410 - 9440 ft dari contoh log Gambar 7.
Temperatur gradien (G) = 0.9 F/100 ft
Rm @ 60 oF = 1.63 ohm-m
dn = 9 7/8
m = 10.78 ppg
Dari gambar 2 didapat TR @ 9420 ft = 140 oF
Ta
Rm @ 140 oF = Rm @ 60 oF x
TR
60
= 1.63 = 0.69 ohm-m
140
h = 30 ft
SSP = -80 mv

= K m (Rm )
1.07
Rmf

Dari tabel, Km = 0.74


Rmf = 0.74 (0.69) 1.07 = 0.5 ohm-m @ TR
2.65
Rm
Rmc = 0.69(Rmf )
Rmf

Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 06
Halaman : 9 / 16
PENENTUAN RW DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

2.65
0.69
= (0.69)(0.5) = 0.81 ohm-m @ TR
0 .5
Dari gambar 6 dan harga Rmc = 0.81 maka diperoleh Rmfeq = 0.36 ohm-m
SSP dikoreksi dengan menggunakan gambar 5 yaitu untuk data masukkan R16, R64, Rxo, R1X1,
R2 sehingga SSPcor = -92 mv
Dari nomograph gambar 6 dengan mengikuti runtunan cara yang disertakan maka diperoleh
Rweq = - 0.032 ohm m
Menggunakan Gambar 7, yaitu hubungan RW terhadap Rweq pada suhu reservoir, maka dari
harga Rweq = 0.032 ohm-m akan diperoleh harga RW = 0.046 ohm-m

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 06
Halaman : 10 / 16
PENENTUAN RW DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

6.3 GAMBAR DAN TABEL

Gambar 1. GEN-6

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 06
Halaman : 11 / 16
PENENTUAN RW DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 2. GEN-9

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 06
Halaman : 12 / 16
PENENTUAN RW DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 3. SP-2

Tabel 1. GEN-7

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 06
Halaman : 13 / 16
PENENTUAN RW DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 4. SP-3

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 06
Halaman : 14 / 16
PENENTUAN RW DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 5. SP-4

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 06
Halaman : 15 / 16
PENENTUAN RW DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 6. SP-1

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 06
Halaman : 16 / 16
PENENTUAN RW DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 7. Example log Springer Sand, Oklahoma

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 07
Halaman : 1 / 18
PENENTUAN Rt Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Dari semua parameter yang dihasilkan log listrik, yang paling sulit diukur yaitu tahanan daerah yang
belum terinvasi Rt, karena semua pengukuran tahanan dipengaruhi oleh tahanan lapisan disekitarnya dan
oleh tahanan zona terinvasi yang terletak dekat dengan lingkaran dinding dalam lubang bor.
Umumnya Rt dihitung dari kombinasi tahanan dangkal, sedang dan dalam yang diperoleh dari penyidik
induksi dan laterolog. Pilihan peralatan tahanan yang dipakai pada operasi logging tergantung pada
tahanan batuan dan tahan lumpur..
Dari sisi peralatan log, grafik pada Gambar 1 berikut dapat menjadi panduan pemilihan tipe log yang
cocok dengan lumpur pemboran yang digunakan.

......................................................................Gambar 1
GGambar 1. Diagram panduan pemilihan tipe log untuk mendapatkan harga Rt
yang tepat pada berbagai macam lumpur pemboran.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 07
Halaman : 2 / 18
PENENTUAN Rt Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

1. TUJUAN
Mendapatkan harga Rt dari log konvensional (Normal, Lateral) maupun kombinasi log yang umum
dipakai dewasa ini.

2. METODE DAN PERSYARATAN


1. METODE
2.1.1. Pembacaan Langsung
Dilakukan dengan pembacaan langsung pada rekaman log normal atau lateral berdasarkan
aturan tertentu. Untuk normal 16 inci, hasil pembacaan perlu dikoreksi lagi terhadap
pengaruh lubang bor menggunakan kurva khusus.

2.1.2. Metode Grafis


Dilakukan terhadap kombinasi log resistivity jangkauan dalam, sedang dan dangkal, untuk
mengoreksi pengaruh keadaan lubang bor, tebal lapisan dan invasi filtrat lumpur.
Macam kombinasi yang dipakai dewasa ini antara lain:
Dual Induction - Laterolog 8
Dual Induction - SFL
Dual Induction - Laterolog 8 - Rxo
Dual Induction - SFL - Rxo
Dual Laterolog - Rxo
Dual Induction - Rxo
Petunjuk kerja ini menerangkan penentuan harga Rt untuk kombinasi Induction Log (RID,
RIM) dan laterolog 8 (RLL8). Cara yang sama dapat diterapkan untuk kombinasi lain dengan
menggunakan kurva yang sesuai. Khusus untuk kombinasi yang memakai Rxo dapat dilihat
pada PF 08.

2.2. PERSYARATAN
Tidak ada transisi antara flushed zone dengan uninvaded zone.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 07
Halaman : 3 / 18
PENENTUAN Rt Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

3. LANGKAH KERJA
3.1 PEMBACAAN LANGSUNG
1. Persiapkan data diameter lubang sumur (dh), ketebalan lapisan (h), resistivitas lumpur (Rm),
resistivitas lapisan sekitarnya (Rs). Koreksi harga Rm terhadap temperatur lapisan (lihat PF 06).
2. Pilih pada tabel petunjuk (Tabel 1) cara pembacaan Rt yang sesuai bagi data dari langkah 1.
R16
3. Khusus untuk normal 16, gunakan Gambar 2. Rcor-8 : masukkan data pada sumbu tegak,
Rm
R16 corr
pilih diameter lubang sumur sesuai data dan dapatkan harga .
Rm
Harga Rt = R16 corr

3.2 METODE GRAFIS


1. Persiapkan data diameter lubang sumur (dh), stand off, resistivitas lumpur (Rm), resistivitas
lapisan sekitarnya (Rs).
Koreksi harga Rm terhadap temperatur lapisan (lihat PF 06)
2. Koreksi pengaruh lubang bor :
a. Untuk Laterolog 8: Grafik Gambar 3. Rcor-1.
R LL8
Masukkan data pada sumbu mendatar dan pilih diameter lubang sumur serta Rm yang
Rm

R LL 8 corr
mendekati data, kemudian dapatkan harga .
R LL 8
RLL8 corr
RLL8 corr = RLL8'

RLL8

b. Untuk Induction log : grafik Gambar 4. Rcor - 4a :


Masukkan data diameter lubang sumur pada sumbu mendatar, pilih stand off sesui data dan
dapatkan barehole geometrical factor.
Tarik garis lurus dari titik borehole geometrical factor melalui harga resistivity factor (Rm)
untuk mendapatkan Hole Signal (dalam satuan Conductivity). Konversikan harga resistivitas

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 07
Halaman : 4 / 18
PENENTUAN Rt Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

1000
(RIM) hasil pembacaan menjadi Conductivity C IM = , kemudian kurangi dengan
R IM

Hole Signal, diperoleh Conductivity terkoreksi (C), yang dapat dikonversikan menjadi
1000
resistivitas terkoreksi RIM Corr = .
C
Cara yang sama dapat dilakukan untuk mengkoreksi RID.
3. Lakukan koreksi terhadap ketebalan lapisan atas harga RIM dan RID hasil langkah 2b
menggunakan Gambar 5. Rcor-6 :
Pilih kurva untuk Rs yang sesuai. Tarik garis tegak lurus dari data ketebalan lapisan pada sumbu
mendatar, sehingga berpotongan dengan kurva Ra*) yang sesuai.
Baca harga RIM terkoreksi pada sumbu tegak.
*)
Ra = RIM atau RID pada langkah 2b.
Cara sama dapat dilakukan untuk mengkoreksi RID hasil 2b menggunakan Gambar 6. Rcor-5.
4. Koreksi pengaruh invasi menggunakan Gambar 7. Rint-2a.

RIM R
Dari hasil langkah sebelumnya, hitung serta LLS .
RID RID
Rt Rxo
Gunakan hasil gambar tersebut pada Gambar Rint-2a sehingga diperoleh , dan di
ID
R t
R
(jauhnya invasi filtrat lumpur)

R
Hitung Rt = t RID
RID
Disamping itu diperoleh harga Rxo :

R
Rxo = xo RID
RID

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 07
Halaman : 5 / 18
PENENTUAN Rt Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

4. DAFTAR PUSTAKA
1. Adi Harsono, Evaluasi Formasi dan Aplikasi Log - Edisi 8, 1997.
2. Schlumberger, Log Interpretation Charts, 1997
3. Schlumberger, Log Interpretation Charts, 1986
4. Schlumberger, "Log Interpretation Principles/Applications, 1989
5. John T. Dewan, Essentials of Modern Open-hole Log Interpretation, Penn-Well Books, Penn
Well Publishing Company, Tulsa, Oklahoma, 1983
6. George Asquith with Charles Gibson, "AAPG Methods in Exploration Series Number 3 - Basic
Well Log Analysis for Geologist", The American Association of Petrolum Geologists, 1982.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 07
Halaman : 6 / 18
PENENTUAN Rt Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

5. DAFTAR SIMBOL
Rxo = resisitivitas Flushed Zone (-m)
Rt = resisitivitas lapisan sebenarnya (-m)
dh = diameter lubang bor (kaki)
h = tebal lapisan (kaki)
Rm = resisitivitas lumpur (-m)
Rs = resisitivitas batuan sekitar (-m)
R16 = resisitivitas Induction Log 16 Inci (-m)
R16 Corr = resisitivitas Induction Log 16 Inci terkoreksi (-m)
RLL8 = resisitivitas Laterolog-8 (-m)
RLL8 corr = resisitivitas Laterolog-8 terkoreksi (-m)
RIM = Induction Resistivity, medium investigation (-m)
CIM = Induction Conductivity, medium investigation (mhos)
RIM corr = Induction Resistivity, medium investigation terkoreksi (-m)
RID = Induction Resistivity, deep investigation (-m)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 07
Halaman : 7 / 18
PENENTUAN Rt Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

6. LAMPIRAN
6.1. LATAR BELAKANG DAN RUMUS
Resisitivitas adalah parameter pertama yang diukur pada awal sejarah diketemukannya teknik
logging pemboran sumur. Besaran ini bervariasi antara 0.2 hingga 2000 -m mengikuti porositas
dan sifat alamiah fluida pengisi pori.
Selanjutnya bila lubang bor tersebut dibor dengan menggunakan lumpur, terjadi invasi filtrat
lumpur sekitar lubang bor, sehingga resisitivitasnya berbeda dengan zona yang belum terganggu.
Oleh sebab itu pengukuran dilakukan berkali-kali dengan jangkauan investigasi yang berbeda-
beda, misalnya satu pengukuran hanya dipengaruhi oleh zona terinvasi filtrat lumpur dan yang lain
sedapat mungkin hanya dipengaruhi oleh zona yang belum terganggu (virgin). Dengan demikian
sifat dan resisitivitas lumpur serta filtratnya juga menentukan tipe pengukuran.
Pada dasarnya ada 3 dasar teknik pengukuran :
a. Teknik Klasik
- Normal 16 atau 64 :
Menghasilkan pembacaan Rt yang bagus bila tebal lapisan > 5 meter:
Rt R64 bila h > 5m.
- Lateral 32 atau 188 :
menghasilkan pembacaan Rt yang bagus bila tebal lapisan > 10 meter :
Rt Rlat jika h > 10 m

Logging klasik ini terutama dipakai sampai sekitar tahun 1950. Teknik ini memberikan hasil
pengukuran yang bagus pada formasi yang tidak terkonsolidasi dan dibor dengan lumpur air
tawar. Kualitas log berkurang bila formasinya keras atau karbonat misalnya.
Dari berbagai teknik ini, hanya Short Normal 16 yang kadang kala masih dipakai sampai saat
ini untuk pengukuran Rt atau Rxo. Teknik Log lateral praktis tidak digunakan lagi dewasa ini.

b. Pengukuran terarah
Teknik pengukuran berkembang kearah teknik yang tidak terpengaruh oleh resisitivitas lumpur,
diameter lubang bor dan tebal lapisan. Teknik-teknik tersebut dikenal dengan sebutan komersial
Laterolog (LL3, LL7, LL8, Double Laterolog, SFL).
Masing-masing tipe memiliki kelebihan untuk suatu penggunaan yang tepat, misalnya:
- Laterolog-7 bila :
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 07
Halaman : 8 / 18
PENENTUAN Rt Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Rmf Rt
<4 > 50
Rw Rm
Rxo < Rt dan h > 3 inci
- Laterolog-8 , bila h > 14 inci
- Double Laterolog memberikan 2 pengukuran resistivity dengan jarak jangkaun investigasi
yang berbeda (dangkal : RLLs dan dalam : RLLd), dengan rumus penentuan Rt sebagai
berikut:
RLLs = a Rxo + (1 a ) Rt ; a = f (d i )

RLLd = b Rxo + (1 b ) Rt ; b = g (d i )

- SFL bisanya digunakan dengan kombinasi Induksi Sonik untuk menggantikan peranan Short
Normal mengukur resisitivitas zona terinvasi.

c. Pengukuran dengan Induksi


Teknik pengukuran ini pada mulanya ditujukan untuk pengukuran resisitivitas pada lubang
sumur yang di bor dengan gas atau lumpur non konduktor. Meskipun demikian dapat juga
berfungsi pada lumpur konduktor.
- 6FF40 atau ILD
Hasil pengukuran perlu dikoreksi terhadap faktor geometri :
Conductivity apparent:
Ca = Cm Gm + Ci Gi + Ct (1 Gm Gm )
C = Conductivity
G = faktor geometri
Subscript m untuk Lumpur
i untuk invasi
t untuk total
atau
1 G G (1 Gi Gm )
= m + i +
Ra Rm Ri Rt
R = Resisitivitas
Subscript a untuk apparent

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 07
Halaman : 9 / 18
PENENTUAN Rt Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

- 6FF40 SFL
Kurva SFL biasanya diperkuat (amplified) untuk menampilkan informasi lebih detail
misalnya pada selang berlempung atau shale dengan resistivity rendah, yang dapat dipakai
untuk tujuan korelasi.
- Double Induction Laterolog 8 (DIL)
Terdiri dari satu sonde induksi dengan jangkauan investigasi dalam (ILd), satu sonde
jangkauan sedang (ILm) dan Laterolog-8.
Ketiga macam jangkauan tersebut memungkinkan pembacaan Rt yang akurat pada invasi
biasa maupun invasi dalam, berdasarkan persamaan :
1 1 (1 )
= +
RILd Rxo Rt
1 1 (1 )
= +
RILm Rxo Rt

= f ' (d i )
= g' (d i )
RLL8 = Rxo + (1 )Rt
= faktor geometri laterolog-8

6.2. CONTOH PENGGUNAAN


Metode Grafis
Bila diketahui diameter lubang bor (dh) = 14.6 inci; Stand off = 1.5 inci, Rm @ temperatur formasi
= 0.6 -m; Ketebalan lapisan = 2 m, resisitivitas lapisan sekitarnya (Rs) = 2 -m, tentukan
resisitivitas sebenarnya (Rt) dari kombinasi logging berikut:
RLL8 = 18 -m
RIM = 5.9 -m
R6FF40 = 5 -m

Jawab :
1. Diketahui data berikut : dh = 14.6 inci

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 07
Halaman : 10 / 18
PENENTUAN Rt Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Stand off = 1.5 inci


Rm = 0.6 -m (pada temperatur formasi)
Rs = 2
2. Koreksi Pengaruh Lobang bor :
a. RLL8 = 18 m
RLL8 18
= = 30
Rm 0.6
Rm = 0.6 -m
Hole diameter =14,6 inci
Gunakan grafik pada Gambar 3 Rcor-1, didapat
RLL 8 corr
= 1.4
RLL 8
berarti RLL8 corr = 1.4 x 18 -m = 25.2 -m

b. Diamater lubang = 14.6 inci


Stand off = 1.5 inci
Rm = 0.6 -m
Gunakan grafik Gambar 4. Rcorr-4a, diperoleh:
Borehole Geometrical Factor = 0.002
Hole signal = 3 ms/m
1000
R6FF40 = RID = 5 -m CID = = 200 ms/m
5
CID corr = 200 3 = 197 ms/m
1000
RID corr = = 5.07 -m
197
Diameter lubang = 14.6 inci
Stand off = 1.5 inci
Rm = 0.6 m
Gunakan grafik IM (----) pada Gambar 3. Rcor-4a
Hole signal = 12 ms/m

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 07
Halaman : 11 / 18
PENENTUAN Rt Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

1000
RIM = 5.9 m CIM = = 169.5 ms/m
5.9
1000
CIM corr = 169.5 12 = 157.5 ms/m berarti RIM = = 6.3 m
157.5

3. Koreksi terhadap pengaruh ketebalan lapisan:


RID = 5.07 m
Rs = 2 m
Ketebalan lapisan = 2 m
Gunakan grafik pada Gambar 5. Rcor-6
Diperoleh RID = 5.7 m
RIM = 6.3 m
Rs = 2 m
Ketebalan lapisan = 2 m
Gunakan grafik pada Gambar 6. Rcor-5
Diperoleh RIM = 6.5 m

2. RLL8 = 25.2 m
RIM = 6.5 m
RID = 5.07 m
Rm = 0.6 m
RLL8 25.2
= = 4.97
RID 5.07

RIM 6.5
= = 1.28
RID 5.07
Gunakan Gambar 7. Rint-2a, diperoleh :
Rt
= 0.96
RID
Diperoleh Rt = 0.96 x 5.07 = 4.86 m

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 07
Halaman : 12 / 18
PENENTUAN Rt Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

6.3. TABEL DAN GAMBAR YANG DIGUNAKAN

Tabel 1. Petunjuk Pembacaan Rt

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 07
Halaman : 13 / 18
PENENTUAN Rt Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 2. Rcor-8

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 07
Halaman : 14 / 18
PENENTUAN Rt Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 3. Rcor-1

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 07
Halaman : 15 / 18
PENENTUAN Rt Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 4. Rcor-4a

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 07
Halaman : 16 / 18
PENENTUAN Rt Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 5. Rcor-6

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 07
Halaman : 17 / 18
PENENTUAN Rt Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 6. Rcor 5

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 07
Halaman : 18 / 18
PENENTUAN Rt Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 7. Rint-2

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 08
Halaman : 1 / 12
PENENTUAN Rxo DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Sonde pengukur tahanan listrik zona terinvasi atau microresistivity menggunakan prinsip laterolog yang
didesain khusus untuk jangkauan penyidikan dangkal.
Proses invasi dan pengukuran kuantitatif tahanan listrik zona terinvasi Rxo merupakan parameter kunci
untuk interpretation log lengkap yang mengarah pada identifikasi adanya hidrokarbon.
Beberapa manfaat pengetahuan tentang Rxo diantaranya :
Diperlukan untuk penentuan tahanan listrik formasi Rt dengan akurat.
Mendeteksi adanya mud cake, karena adanya mud cake bisa membantu identifikasi zona
permeabel.
Beberapa metoda interpretasi untuk menghitung saturasi air Sw dan jauhnya invasi menggunakan
rasio Rxo/Rt ( lihat PF 07 ).

1. TUJUAN
Menentukan harga resistivitas batuan di dalam flushed zone

2. METODE DAN PERSYARATAN


2.1. METODE
Menggunakan alat jangkauan pengamatan pendek :
- Microlog
- Proximity log
- Microlaterolog
- Micro Spherically Focused log
Menggunakan kombinasi alat :
- Dual induction - Laterolog 8
- Dual induction (DIL) Spherically Focused Log

2.2. PERSYARATAN
1. Microlog dan proximity log hanya digunakan dalam lubang bor dengan lumpur dasar air tawar
(fresh water base mud) atau Rmf > 2 Rw dan resistivitas batuan tidak lebih dari 200 ohm-m (Rt
< 200 Ohm-m).

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 08
Halaman : 2 / 12
PENENTUAN Rxo DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

2. Microlaterolog dan Micro Spherically Focused Log hanya digunakan dalam lubang bor
dengan lumpur dasar air asin (salt water based mud) atau Rmf < 2 Rw dan resistivitas batuan
(Rt) lebih besar dari 200 ohm-m.
3. Petunjuk kerja ini menggunakan alat dan chart interpretasi Schlumberger. Untuk alat dari
perusahaan lain chart interpretasi yang digunakan harus disesuaikan.

3. LANGKAH KERJA
3.1. PENENTUAN Rxo DARI MICROLOG
1. Siapkan data pendukung
- diameter lubang bor (dh)
- resistivitas kerak lumpur (Rmc @ Ta)
- gradien temperatur (G)
- ketebalan kerak lumpur, kalau ada (hmc)
2. Baca kedalaman lapisan dan tentukan temperatur formasi menggunakan Gambar 1 serta hitung
resistivitas kerak lumpur Rmc pada temperatur tersebut dengan rumus :
Ta
Rmc @ TR = Rmc @ Ta (1)
TR
3. Untuk lapisan bersangkutan baca harga rata-rata resistivitas rekaman microlog 1 ( R11 ) dan

harga rata-rata resistivitas rekaman microlog 2 (R2).


R11 R2
4. Hitung harga dan
Rmc Rmc
R11
5. Koreksi harga terhadap diameter lubang bor dengan mengalikan terhadap faktor korelasi
Rmc
pada tabel 1 sebagai berikut :
Tabel 1
Diameter lubang bor Faktor koreksi
8 1.00
4 1.15
6 1.05
10 0.93

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 08
Halaman : 3 / 12
PENENTUAN Rxo DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

6. Dengan menggunakan Gambar 2. Rxo-1 (microlog interpretation chart), masukkan harga


R11 R2 R xo
pada sumbu tegak dan pada sumbu mendatar dan tentukan harga serta
Rmc Rmc Rmc
ketebalan kerak lumpur (hmc).
Dengan menggunakan harga Rmc yang diketahui, hitung harga Rxo.

7. Apabila ketebalan kerak lumpur (hmc) yang diperoleh dari Gambar 2. Rxo-1 tersebut berbeda
dari hmc yang diperoleh dari log kaliper atau pengukuran langsung maka dilakukan langkah-
langkah sebagai berikut:
R xo
a. Dari harga tarik garis dengan sudut kemiringan 45 hingga memotong kurva ketebalan
Rmc
kerak lumpur sebenarnya.
R xo R
b. Baca harga yang benar serta 2 . Hitung harga Rxo dari rumus berikut,
Rmc Rmc

R /R
R xo = R2 xo mc (2)
R2 / Rmc

3.2. PENENTUAN Rxo DARI PROXIMITY LOG


1. Siapkan data pendukung seperti pada langkah 1 butir 3.1. Harga ketebalan kerak lumpur hmc
harus diketahui.
2. Hitung Rmc pada temperatur lapisan seperti pada langkah 2 butir 3.1
3. Untuk lapisan bersangkutan baca harga rata- rata log proximity (Rp)
4. Hitung harga Rp/Rmc
5. Dengan menggunakan Gambar 3. Rxo-2 masukkan harga Rp/Rmc pada sumbu mendatar dan
tarik garis tegak lurus hingga memotong kurva dengan ketebalan kerak lumpur (hmc)
Baca harga Rp corr/Rp pada sumbu tegak. Hitung harga Rxo dengan rumus berikut:

R p corr
Rxo = R p (3)
Rt

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 08
Halaman : 4 / 12
PENENTUAN Rxo DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

3.3. PENENTUAN Rxo DARI MICROLATEROLOG


1. Siapkan data pendukung seperti pada langkah 1 butir 3.1
2. Hitung Rmc pada temperatur lapisan seperti pada langkah 2 butir 3.1
3. Untuk lapisan bersangkutan baca harga resistivity microlaterolog (RMLL)
4. Hitung harga RMLL/Rmc
5. Dengan menggunakan Gambar 3 Rxo-2, masukkan harga RMLL/Rmc pada sumbu mendatar dan
tarik garis tegak lurus hingga memotong kurva untuk ketebalan kerak lumpur (hmc). Baca
harga RMLLcorr/Rp.
Hitung harga Rxo dengan rumus berikut:

RMLL corr
Rxo = RMLL (4)
RMLL

3.4 PENENTUAN Rxo DARI MICROSPHERICALLY FOCUSED LOG (MSFL)


1. Siapkan data pendukung seperti pada langkah 1 butir 3.1
2. Hitung Rmc pada temperatur lapisan seperti pada langkah 2 butir 3.1
3. Untuk lapisan bersangkutan baca harga rata-rata resistivity MSFL (RMSFL)
4. Hitung harga RMSFL/Rmc
5. Masukkan harga RMSFL/Rmc pada Gambar 4 Rxo-3, (untuk standar MSFL) baca RMSF corr/RMSFL.
Hitung Rxo dengan rumus berikut:

RMSFL corr
Rxo = RMSFL (5)
RMSFL
Bila digunakan Slimhole MSFL gunakan Gambar 4 Rxo-3 (Slim MSFL) untuk mendapatkan
RMSFLcorr/RMSFL

3.5. PENENTUAN Rxo DARI KOMBINASI LOG RESISTIVITY JANGKAUAN DANGKAL


MENENGAH DAN DALAM
(Lihat PF 05 Penentuan harga Rt dari Log)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 08
Halaman : 5 / 12
PENENTUAN Rxo DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

4. DAFTAR PUSTAKA
1. John T.Dewan, Essentials of Modern Open Hole Log Interpretation , Penwell Publ.Co., Tulsa,
Oklahoma1983.
2. John T. Dewan, Essentials of Modern Open-hole Log Interpretation, Penn-Well Books, Penn
Well Publishing Company, Tulsa, Oklahoma, 1983
3. Adi Harsono, Evaluasi Formasi dan Aplikasi Log - Edisi 8, 1997
4. Schlumberger, "Log Interpretation Chart", 1997
5. Schlumberger, "Log Interpretation Principles/Applications, 1989
6. George Asquith with Charles Gibson, "AAPG Methods in Exploration Series Number 3 - Basic
Well Log Analysis for Geologist", The American Association of Petrolum Geologists, 1982
7. Pirson S.J., Hand Book of Well Analysis for Oil and Gas Formation Evaluation, Prentice Hall
Inc, Englewood, N.J. , 1963

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 08
Halaman : 6 / 12
PENENTUAN Rxo DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

5. DAFTAR SIMBOL
hmc = tebal kerak lumpur, in
Rm = resistivitas lumpur bor, ohm-m
RMLL = resistivitas Mikro Laterolog
RMLLcorr = resistivitas batuan pembacaan Mikro Laterolog, ohm-m
RMSFLcorr = resistivitas batuan pembacaan Mikro Spherically Focused Log (MSFL) yang dikoreksi,
ohm-m
R1x1 = resistivitas batuan pembacaan micro inverse, ohm-m
R2 = resistivitas batuan pembacaan micro normal, ohm-m
Rp = resistivitas batuan pembacaan Proximity Log, ohm-m
Rp corr = resistivitas batuan pembacaan Proximity Log yang dikoreksi, ohm-m
Rmc = resistivitas kerak lumpur, ohm-m
Rt = resistivitas batuan didaerah yang tidak terganggu, ohm-m
Rxo = resistivitas batuan di flushed zone, ohm-m
Ta = temperatur pemukaan, F
TR = temperatur formasi, F

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 08
Halaman : 7 / 12
PENENTUAN Rxo DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

6. LAMPIRAN
6.1. LATAR BELAKANG DAN RUMUS
Profil resistivitas lubang bor dan lapisan disekitarnya sangat tergantung pada sifat lumpur dan
kandungan fluida didalamnya.
Jika lapisan tersebut mengandung air asin (salt water bearing formation), maka resistivitas pada
uninvaded zone (Rt) rendah, dapat mencapai < 1 Ohm-m Rt tergantung pada resistivitas dari air
formasinya Rw. Untuk batuan water wet air formasi di dalam flushed zone akan didesak oleh filtrat
lumpur sepenuhnya, sehingga resistivitas daerah ini (Rxo) hanya bergantung pada faktor formasi F
dan resistivitas air tapisan atau :
Rxo = F Rmf (6)

Jika lumpur yang dipakai adalah lumpur dasar air tawar maka Rmf > Rw sehingga Rxo >Ro atau Rt.
Dalam hal dimana lapisan mengandung minyak, maka resistivity uninvaded zone Rt tinggi,
tergantung pada besarnya saturasi air Sw di dalamnya dan faktor formasi F. Sedangkan di dalam
flushed zone air tapisan mendesak seluruh air formasi dan hanya sebagian dari minyak, dengan
demikian resistivity pada daerah ini tergantung pada Rmf, F dan jumlah minyak yang tertinggal
(ROS) dan menurut Archie Rxo adalah :
Rxo = F Rmf (1 ROS )-2 (7)

Evaluasi secara sempurna dari suatu formasi dengan logging memerlukan data seperti Rmf, Rmc, Rw,
Rxo dan Rt. Dengan demikian diperlukan peralatan yang dapat mengukur besaran-besaran tersebut
dengan tepat.
- Untuk Rxo diperlukan logging dengan jangkauan perekaman dangkal sampai menengah
- Untuk Rt diperlukan log dengan jangkauan perekaman dalam seperti log normal, induction log
dan sebagainya.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 08
Halaman : 8 / 12
PENENTUAN Rxo DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

6.2. CONTOH
Penentuan Rxo dengan Microlog
Hasil rekaman microlog Gambar 1 pada zone 5824 36 ft memberikan data sebagai berikut :
R1x1 = 4.2 ohm-m
R2 = 5 ohm-m
Diketahui :
Rm @ TR = 1.2 ohm-m
Rmf @ TR = 0.95 ohm-m
Rmc @ TR = 1.4 ohm-m
Diameter lubang bor = 7 7/8
R11 4.2
= =3
Rmc 1.4
R2 5
= = 3.6
Rmc 1.4
R11
Koreksi terhadap diameter lubang bor, untuk lubang 7 7/8 faktor koreksi = 1
Rmc

R11
= 3
mc corr
R

Dengan menggunakan Gambar 2 Rxo-1


R xo
Harga = 7.8 dan hmc =
Rmc

R xo / Rmc
Rxo = R2
R2 / Rmc
7.8
=5 = 10.8 ohm-m
3.6

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 08
Halaman : 9 / 12
PENENTUAN Rxo DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

6.3. GAMBAR

Gambar 1. Summary dari Interpretasi Microlog

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 08
Halaman : 10 / 12
PENENTUAN Rxo DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 2. Rxo-1

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 08
Halaman : 11 / 12
PENENTUAN Rxo DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 3. Rxo-2

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 08
Halaman : 12 / 12
PENENTUAN Rxo DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 4. Rxo-3

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 09
Halaman : 1 / 16
INTERPRETASI LOG UNTUK CLEAN SAND Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Secara fisik batuan bersih (clean formation) adalah batuan endapan (sediment) termasuk dalam tipe
quartzose yang tidak mengandung mineral lempung. Meskipun ada batuan pasir halus, limestone,
dolomite, atau kapur yang mengganjal di pori-pori antar butir, masih dapat dikategorikan sebagai batuan
bersih dalam interpretasi log, karena fokus disini adalah kelakuan bahan dalam kaitannya dengan
kelistrikan (electricity). Dalam konteks ini lempung dianggap sebagai pengotor (impurities) karena
kelakuan kelistrikannya berbeda dengan mineral mineral diatas.
Dari log batuan demikian dapat dikenali dengan menilik bentuk dan alur defleksi SP yang dapat
dijelaskan dengan teori elektro kimia.

1. TUJUAN
Menentukan lapisan permeabel, lapisan mengandung hidrokarbon, untuk mencari harga-harga
porositas batuan ( ), saturasi air (Sw) dan ketebalan efektif lapisan (h).

2. METODE DAN PERSYARATAN


2.1. METODE
Interpretasi kualitatif dan kuantitatif

2.2. PERSYARATAN
Tersedia rekaman :
a. Log SP dan/atau Log Gamma Ray
b. Log jangkauan dangkal (shallow investigation); microlog (ML), proximity log (PL),
microlaterolog (MLL), atau micro spherically focused log (MSFL).
c. Log jangkauan menengah (medium investigation); short normal (R16), spherically focused
log (SFL) dan LL8
d. Log jangkauan dalam (deep investigation); Log normal (R64), Induction log (LLD, 6FF40),
atau laterolog (LL7, LL3, LLD), dan
e. Log Sonic, log neutron atau log density.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 09
Halaman : 2 / 16
INTERPRETASI LOG UNTUK CLEAN SAND Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

3. LANGKAH KERJA
3.1. METODE KUALITATIF
1. Dari rekaman log SP periksa apakah lapisan yang bersangkutan permeabel:
a. Tentukan garis shale (shale base line) dengan menarik satu garis yang menghubungkan
harga-harga SP pada lapisan shale. Kemudian tentukan garis pasir bersih (clean sand
line) dengan menarik garis lurus yang sejajar dengan lubang bor, dimulai pada formasi
pasir dengan harga simpangan SP tertinggi (Gambar 1)
b. Harga SP pada garis shale menunjukkan lapisan tidak porous dan permeabel.
Penyimpangan harga SP kearah kiri atau kanan dari garis ini menunjukkan lapisan pasir
atau lapisan kapur yang porous dan permeabel. (Catatan : syarat-syarat untuk terjadinya
penyimpangan SP dipenuhi)
2. Periksa bentuk dan kwalitas kurva SP untuk menentukan tipe batuan, dan proses
pengendapan (tipe endapan). Lihat Gambar 2-5
3. Jika tersedia rekaman Gamma Ray Log, tipe batuan dapat ditentukan berdasarkan rekaman
masing-masing lapisan. (Lihat Gambar 6).
4. Amati log resistivity jangkauan dalam (R64, 6FF40, ILD dan sebagainya). Harga resistivitas
yang relatif tinggi bisa jadi petunjuk adanya lapisan yang mengandung hidrokarbon atau
sebaliknya merupakan lapisan dengan porositas rendah. Harga resistivitas yang rendah
menunjukkan lapisan mengandung air (salt water bearing formation).
5. Bandingkan ketiga log jangkauan dangkal (misalnya LL8), jangkauan menengah (misalnya
ILM) dan jangkauan dalam (misalnya ILD) untuk melihat kedalaman invasi air lapisan
kedalam formasi (lihat tabel 1) (contoh di PF 05).
6. Perkirakan harga saturasi air (Sw) dari rumus berikut :

Ro
Sw = (1)
Rt

Ro adalah resistivitas formasi pada zona air, dibaca dari log resistivity jangkauan dalam.
7. Jika lapisan tidak ada zona airnya hitung Sw berdasarkan rumus berikut

C Rw
Sw = (2)
Rt

C = 1.0 untuk batuan kapur


C = 0.9 untuk batuan pasir
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 09
Halaman : 3 / 16
INTERPRETASI LOG UNTUK CLEAN SAND Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

RW dihitung dari lapisan yang mengandung air yang terdekat dengan rumus:

RW = Ro (3)
C
ditentukan dari log porosity

3.2. METODE KUANTITATIF


1. Tentukan tebal lapisan (h) dari log SP, dengan mengukur jarak antara titik belok defleksi
awal dan titik belok defleksi akhir dari kurva SP.
2. Tentukan harga resistivitas air formasi (Rw) dari SP log. (Lihat PF 06).
3. Tentukan harga porositas batuan ( )
(Lihat PF 03)
4. Tentukan harga resistivitas batuan (Rt)
(Lihat PF 07)
5. Tentukan harga F dengan rumus berikut :
Untuk formasi lunak
0.62
Formula Humble F = (4)
2.15
0.81
atau F= (5)
2
Untuk lapisan keras
1
F= (6)
m
dimana m = 1.4 2.8 atau bukan berdasarkan Gambar 7 Por-1 ( dari Schlumberger Log
Interpretation Charts, 1985).
Harga F dapat pula ditentukan dengan persamaan :
R xo
F= (7)
Rmf

untuk lapisan yang hanya mengandung air, dan


R xo (1 ROS ) 2
F= (8)
Rmf

untuk lapisan yang juga mengandung minyak.


Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 09
Halaman : 4 / 16
INTERPRETASI LOG UNTUK CLEAN SAND Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

6. Hitung harga Sw berdasarkan rumus berikut :

ERw
Sw = (9)
Rt

atau dengan menggunakan nomograph Gambar 8 Nomograph Por-1 (dari Schlumberger


Log Interpretation Charts, 1985)
7. Tentukan harga Rxo
(Lihat PF 08).
8. Hitung harga Sxo berdasarkan rumus berikut

C Rmf
S xo =
Rxo
C = 1.0 untuk batuan kapur
C = 0.9 untuk batuan pasir
9. Hitung harga saturasi minyak yang dapat bergerak (Shm)
S hr = 1 S hm (10)

S hm = S xo SW (11)

10. Hitung recoverable oil setiap acre-ft STB.


7758 RF (1 S w )
N= (12)
Bo
Penentuan RF lihat TR 03
Penentuan Bo lihat TR 02
11. Atau hitung recoverable gas setiap acre-ft dalam MMSCF
Pf
G = 1544 RF (1 S w ) (13)
Z (460 + T f )

Penentuan RF lihat TR 03
Penentuan Pf lihat TR 03
Penentuan Z lihat TR 02

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 09
Halaman : 5 / 16
INTERPRETASI LOG UNTUK CLEAN SAND Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

4. DAFTAR PUSTAKA
1. Pirson S.J, Handbook of Well Log Analysis for Oil and Gas Formation Evaluation, Prentice
Hall Inc. Englewood, NJ, 1963
2. John T. Dewan, Essentials of Modern Open Hole Log Interpretation, Penn-Well Books, Tulsa,
Oklahoma, 1983.
3. Schlumberger, Log Interpretation Charts, 1985
4. Schlumberger, "Log Interpretation Charts", 1997
5. Schlumberger, "Log Interpretation Principles/Applications, 1989
6. Adi Harsono, Evaluasi Formasi dan Aplikasi Log - Edisi 8, 1997
7. George Asquith with Charles Gibson, "AAPG Methods in Exploration Series Number 3 - Basic
Well Log Analysis for Geologist", The American Association of Petrolum Geologists, 1982

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 09
Halaman : 6 / 16
INTERPRETASI LOG UNTUK CLEAN SAND Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

5. DAFTAR SIMBOL
Bo = faktor volume formasi, bbl/STB
F = faktor formasi, tak bersatuan
m = faktor sementasi, tak bersatuan
= porositas batuan, fraksi
Rmf = resistivitas air lapisan, ohm-m
Rxo = resistivitas daerah terkuras, ohm-m
RW = resistivitas air formasi, ohm-m
Rt = resistivitas batuan, ohm-m
ROS = saturasi minyak tersisa, fraksi
SW = saturasi air formasi, fraksi
Shr = saturasi hidrokarbon tersisa, fraksi
Shm = saturasi hidrokarbon yang dapat bergerak, fraksi
Sxo = saturasi minyak di flushed zone, fraksi
RF = faktor perolehan, fraksi
Pf = tekanan formasi, F
Tf = temperatur formasi, F
Z = faktor deviasi gas, tak bersatuan

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 09
Halaman : 7 / 16
INTERPRETASI LOG UNTUK CLEAN SAND Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

6. LAMPIRAN
6.1. LATAR BELAKANG DAN RUMUS
Batuan bersih (clean formation) adalah batuan endapan (sediment) termasuk dalam tipe
quartzose yang tidak mengandung mineral lempung. Meskipun ada batuan pasir halus,
limestone, dolomite, atau kapur yang mengganjal di pori-pori antar butir, masih dapat
dikategorikan sebagai batuan bersih dalam interpretasi log, karena fokus disini adalah kelakuan
bahan dalam kaitannya dengan kelistrikan (electricity). Dalam konteks ini lempung dianggap
sebagai pengotor (impurities) karena kelakuan kelistrikannya berbeda dengan mineral mineral
diatas.
Dari log batuan demikian dapat dikenali dengan menilik bentuk dan alur defleksi SP yang dapat
dijelaskan dengan teori elektro kimia.
Pengenalan menurut log dapat dilakukan dengan melihat defleksi SP sesuai dengan teori elektro
kimia.
Untuk tipe batuan demikian berlaku hubungan hubungan berikut :
Jika batuan mengandung air
- dalam daerah terkuras
R xo = F Rmf (7)

- dalam daerah yang tak terganggu


Ro = F R w (14)

Jika batuan mengandung minyak


- dalam daerah terkuras

R xo = F Rmf (1 ROS )
2
(8)

- dalam daerah tak terganggu

F Rw
Sw = (9)
Rt

a
F= (15)
m
dan
Rmfeq
SSP = K C log (16)
R
weq

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 09
Halaman : 8 / 16
INTERPRETASI LOG UNTUK CLEAN SAND Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

dimana :
a = suatu konstanta
m = faktor sementasi batuan
KC = 61 + 0.133 Tf

6.2. CONTOH
Kombinasi log yang dilakukan pada formasi bersih, seperti Gambar 9, memberikan data sebagai
berikut :
SSP = -77 mV
R16 = 28 ohm-m
R64 = 17 ohm-m
R188 = 13 ohm-m
R1X1 = 9.5 ohm-m
R2 = 15.5 ohm-m
Rm = 2.6 ohm-m @ Tf
Dengan menggunakan PF 06
Rmf = 2.35 ohm-m
didapat harga Rw = 0.4 ohm-m
Dengan PF 03 dan PF 08 didapatkan harga Rxo = 32.4 ohm-m
ROS = 15%, F = 10 dan = 28 %
Dari PF 07
Harga Rt = 16 ohm-m
Menggunakan grafik Gambar 8
Sw = 52 %

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 09
Halaman : 9 / 16
INTERPRETASI LOG UNTUK CLEAN SAND Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

6.3. GAMBAR DAN TABEL

Gambar 1. Penentuan garis shale dan garis pasir bersih dari SP log

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 09
Halaman : 10 / 16
INTERPRETASI LOG UNTUK CLEAN SAND Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 2. Klasifikasi bentuk kurva SP untuk melihat pola pengendapan.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 09
Halaman : 11 / 16
INTERPRETASI LOG UNTUK CLEAN SAND Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 3. Pola pengendapan teoritis untuk log SP

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 09
Halaman : 12 / 16
INTERPRETASI LOG UNTUK CLEAN SAND Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 4. Pola pengendapan teoritis untuk log SP.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 09
Halaman : 13 / 16
INTERPRETASI LOG UNTUK CLEAN SAND Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 5 Pola pengendapan teoritis untuk log SP.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 09
Halaman : 14 / 16
INTERPRETASI LOG UNTUK CLEAN SAND Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 6. Respon gamma ray untuk berbagai mineral

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 09
Halaman : 15 / 16
INTERPRETASI LOG UNTUK CLEAN SAND Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 7. Contoh kombinasi log SP, resistivity dan microlog

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 09
Halaman : 16 / 16
INTERPRETASI LOG UNTUK CLEAN SAND Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

TABEL 1
Tabel jauhnya invasi filtrat lumpur merembes kedalam formasi.

Simpangan Simpangan Simpangan Jauhnya


Lumpur Bor Tipe Formasi
LL8 ILM ILD invasi
Dasar air tawar rendah
>> RILD RILD porous dangkal
Rmf >> Rw (LRSH)
Dasar air tawar rendah
>> Rt RLL8 porous dalam
Rmf >> Rw (LRSH)
Dasar air asin rendah
RLLD >> RLL8 porous dangkal
Rmf >> Rw (LRSH)
Dasar air asin rendah
RLL8 >> RLL8 porous dalam
Rmf >> Rw (LRSH)
tidak porous
Dasar air
RILM = RILD RLL8 = RILD RLL8 = RLLM tidak tidak ada
tawar/asin
permeabel

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 10
INTERPRETASI LOG UNTUK Halaman : 1 / 23
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
SHALLY SAND

Adanya batuan shale atau clay di dalam batuan pasir mempersulit interpretasi rekaman log, untuk
menentukan jumlah minyak di dalam pori batuan. Pengaruh adanya clay di dalam pori batuan akan
memperkecil porositas efektif, permeabilitas batuan dan membuat persamaan Archie tidak berlaku. Clay
terdapat di dalam batuan dapat berbentuk laminasi, struktural atau dispersed.
Kekhasan shale atau lempung adalah bidang permukaannya yang sangat luas, sehingga dapat mengikat air
dalam jumlah yang cukup besar pada permukaannya. Air ini akan mempengaruhi konduktivitas elektrik
batuan tetapi tidak mencerminkan konduktivitas kandungan cairan mobile yang kita maksudkan.
Penggunaan formula standard Archie untuk lapisan shaly sand yang mengandung minyak akan
memberikan harga saturasi air yang lebih besar sehingga sukar untuk menentukan kepastian adanya
minyak pada lapisan tersebut. Hadirnya clay di dalam batuan pasir yang cukup banyak akan merugikan
karena akan memperkecil permeabilitas batuan. Dengan adanya pengaruh shale terhadap interpretasi log
standard maka muncul model-model untuk interpretasi batuan pasir yang mengandung shale.

1. TUJUAN
Menentukan tebal dan porositas lapisan serta saturasi air yang terkandung dalam lapisan dengan
rekaman log sumur.

2. METODE DAN PERSYARATAN


2.1. METODE
- Automatic Compensation
- Dispersed Clay
- Simandoux
- Dual-Water

2.2. PERSYARATAN
1. Metode Automatic Compensation
- tersedia SP log, Porosity log (Sonic log atau Density atau Neutron log) dan Induction log
- batuan pasir mengandung dispersed clay
- porositas batuan antara medium sampai high ( > 15 %)
2. Metode Dispersed Clay
- tersedia 2 log porosity: Log Sonik dan Log Density
- batu pasir mengandung authigenic clay (dispersed)
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 10
INTERPRETASI LOG UNTUK Halaman : 2 / 23
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
SHALLY SAND

- lapisan tidak mengandung gas


3. Metode Simandoux
- Porosity yaitu tersedia 2 jenis rekaman log sumur yaitu Log Density dan Log Neutron
4. Metode Dual-Water
- Diperlukan q-log, jika tidak ada gunakan log yang dapat berfungsi sebagai shale indicator
untuk menghitung Vsh

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 10
INTERPRETASI LOG UNTUK Halaman : 3 / 23
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
SHALLY SAND

3. LANGKAH KERJA
3.1. METODE AUTOMATIC COMPENSATION
1. Siapkan data pendukung :
Resistivitas lumpur bor (Rm @ Ta)
Resistivitas mud cake (Rmc @ Ta)
Resistivitas air tapisan (Rmf @ Ta)
2. Baca tebal lapisan dari SP log
3. Baca defleksi SP, RIND, Sonic atau Density Neutron Log pada lapisan yang bersangkutan dan
lapisan shale di dekatnya.
4. Tentukan harga Rw
(lihat PF 06)
5. Tentukan harga Rt
(lihat PF 07)
6. Tentukan harga S tanpa koreksi adanya shale

(lihat PF 04)
7. Tentukan harga VSH
(lihat PF 05)
8. Hitung harga e dengan rumus berikut :

e = S (VSH SSH ) (1)

9. Jika porosity log yang digunakan adalah log density atau log neutron, tentukan harga D

atau N (uncorrected), lihat PF 02.

Hitung e dengan rumus :

e = D (VSH DSH ) (2)

10. Hitung harga saturasi air (Sw) dengan rumus berikut :

Rw Rt
S w = 0 .9 (3)
S
Jika Density dan Neutron log yang digunakan

Rw Rt
S w = 0 .9 (4)
DN

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 10
INTERPRETASI LOG UNTUK Halaman : 4 / 23
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
SHALLY SAND

di mana

DN =
( D
2
+ N
2
) (5)
2

3.2. METODE DISPERSED CLAY


1. Siapkan data pendukung
resistivitas lumpur bor (RW @ Ta)
resistivitas kerak lumpur bor (Rmc @ Ta)
resistivitas air tapisan (Rmf @ Ta)
2. Baca tebal lapisan dari SP log
3. Baca defleksi SP, Sonic Density dan Induction log (deep) pada lapisan yang bersangkutan
dan lapisan shale di dekatnya.
4. Tentukan harga Rw
(lihat PF 06)
5. Tentukan harga Rt
(lihat PF 07)
6. Tentukan harga porositas S dan D

7. Tentukan harga VSH (lihat PF 05).


8. Hitung porositas efektif e dengan rumus

e = D VSH SH (6)

9. Hitung harga q dengan rumus

q=
( S D ) (7)
S
10. Hitung saturasi air (SW) dengan rumus berikut :
0.8 R 2
q
q
w
+
S 2 Rt 2 2
Sw = (8)
(1 q )

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 10
INTERPRETASI LOG UNTUK Halaman : 5 / 23
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
SHALLY SAND

3.3. METODE SIMANDOUX


1. Siapkan data pendukung :
resistivitas lumpur bor (Rm @ Ta)
resistivitas kerak lumpur bor (Rmc @ Ta)
resistivitas air tapisan (Rmf @ Ta)
2. Baca tebal lapisan (h) dari SP log
3. Baca defleksi log SP, log resistivity, log density dan neutron log pada lapisan yang
bersangkutan, dan pada lapisan shale di dekatnya.
4. Tentukan harga resistivitas air formasi (RW)
(lihat PF 06)
5. Tentukan harga resistivitas batuan formasi (Rt)
(lihat PF 07)
6. Tentukan harga porositas D dan N pada lapisan yang bersangkutan dan pada lapisan

shale di dekatnya DSH dan NSH (lihat PF 02)

7. Tentukan harga VSH


(lihat PF 05)
8. Lakukan koreksi porositas D dan N terhadap shale sebagai berikut :

DC = D (VSH DSH ) (9)

NC = N (VSH NSH ) (10)

9. Hitung harga porositas efektif berdasarkan rumus

e =
( DC
2
+ NC
2
) (11)
2
10. Hitung harga saturasi air (Sw)
a. Menggunakan rumus (12.a) atau Monograp (Gambar 1 dan 2)
2 2
C Rw 5 e V SH
Sw = + SH (12a)
e 2 R Rt RSH RSH
w
di mana : C = 0.4 untuk batu pasir,
C = 0.45 untuk batu kapur

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 10
INTERPRETASI LOG UNTUK Halaman : 6 / 23
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
SHALLY SAND

b. Menggunakan rumus (21.b) untuk formasi di Indonesia

n 1 Rt
Sw 2 = (1VSH / 2 )
(12b)
VSH m/2
+
RSH a Rw

dimana : harga m = n = 2 dan a berkisar antara 0.8 sampai 1.0

3.4. METODE DUAL WATER


1. Siapkan data pendukung :
resistivitas lumpur bor (RW @ Ta)
resistivitas kerak lumpur bor (Rmc @ Ta)
resistivitas air tapisan (Rmf @ Ta)
2. Baca tebal lapisan (h) dari log SP untuk lapisan yang bersangkutan
3. Baca defleksi log SP, log resistivity, log gamma ray, log density dan log neutron untuk
lapisan yang bersangkutan, lapisan pasir bersih di dekatnya dan lapisan shale di dekatnya.
4. Tentukan harga resistivitas batuan (Rt), resistivitas pasir bersih (RCL) dan resistivitas shale di
dekatnya (RSH) (lihat PF 07)
5. Tentukan harga porositas D , N dan NSH dan bila perlu lakukan koreksi terhadap matrik

bantuannya.
(lihat PF 03 dan PF 04)
6. Hitung harga VSH
(lihat PF 05)
7. Lakukan koreksi porositas terhadap shale dengan rumus berikut :
DC = D (VSH DSH ) (13)

NC = N (VSH NSH ) (14)

Perhatikan apakah ada gas yaitu apabila NC < DC

8. Hitung porositas efektif ( e ) :

e =
( DC + NC )
Jika tidak ada gas (15)
2

Jika ada gas e =


( DC
2
NC
2
) (16)
2

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 10
INTERPRETASI LOG UNTUK Halaman : 7 / 23
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
SHALLY SAND

9. Tentukan porositas total pada lapisan shale terdekat


tSH = DSH + (1 ) NSH
dimana mempunyai harga antara 0.5 sampai 1
10. Hitung harga porositas total ( t ) dan saturasi air dalam ikatan shale (SB) dengan rumus :

t = e + VSH tSH (18)

tSH
S B = VSH (19)
t
11. Hitung harga resistivitas air formasi (Rw) batuan pasir bersih terdekat dengan rumus

RW = RCL CL
2
(20)

12. Hitung harga resistivitas air dalam ikatan shale pada lapisan shale terdekat dengan rumus

R B = RSH tSH
2
(21)

13. Hitung resistivitas air formasi apparent dalam lapisan yang bersangkutan (Rwa) dengan
rumus:

Rwa = Rt t
2
(22)

14. Hitung saturasi air formasi total

RW
Rwt = b + b 2 + (23)
Rwa

R
S B 1 W
RB
b= (24)
2
15. Hitung saturasi air efektif dalam lapisan yang bersangkutan (Swe) dengan rumus :

S we =
(S wt S B ) (25)
(1 S B )

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 10
INTERPRETASI LOG UNTUK Halaman : 8 / 23
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
SHALLY SAND

4. DAFTAR PUSTAKA
1. John T. Dewan, Essentials of Modern Open-hole Log Interpretation, Penn-Well Books, Penn
Well Publishing Company, Tulsa, Oklahoma, 1983
2. Schlumberger, Log Interpretation Charts, 1997
3. Adi Harsono : Evaluasi Formasi dan Aplikasi Log - Edisi 8, 1997
4. Schlumberger, "Log Interpretation Principles/Applications, 1989
5. George Asquith with Charles Gibson : "AAPG Methods in Exploration Series Number 3 - Basic
Well Log Analysis for Geologist", The American Association of Petrolum Geologists, 1982
6. George B. Asquith, Log Evaluation of Shaly Sandstones : A Practical Guide, The American
Association of Petrolum Geologists
7. Sylvain J. Pirson: Hand Book of Well Analysis for Oil and Gas Formation Evaluation, Prentice
Hall Inc, Englewood, N.J. , 1963

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 10
INTERPRETASI LOG UNTUK Halaman : 9 / 23
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
SHALLY SAND

5. DAFTAR SIMBOL
a = konstanta, tak bersatuan
h = tebal lapisan, ft
m = faktor sementasi batuan, tak bersatuan
n = konstanta, tak bersatuan
= porositas, fraksi

CL = porositas lapisan pasir bersih, fraksi


D = porositas dari density log, fraksi
DC = D dikoreksi terhadap shale , fraksi
DSH = D pada lapisan shale, fraksi
DN = porositas rata-rata antara D dan N , fraksi
e = porositas efektif, fraksi

N = porositas dari neutron log, fraksi


NC = N dikoreksi terhadap shale, fraksi
NSH = N pada lapisan shale, fraksi
S = porositas dari sonic log, fraksi

SSH = S pada lapisan shale, fraksi


t = porositas total, fraksi

tSH = t pada lapisan shale, fraksi


q = bagian pori batuan pasir bersih yang ditempati oleh clay, fraksi
Q = Cation Exchange Capacity, meq/cc
RB = resistivitas air dalam ikatan shale, ohm-m
RCL = resistivitas batuan pasir bersih, ohm-m
Rm = resistivitas lumpur bor, ohm-m
Rmc = resistivitas kerak lumpur, ohm-m
Rmf = resistivitas air lapisan, ohm-m
Rind = resistivitas dari induction log, ohm-m
Rt = resistivitas batuan, ohm-m
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 10
INTERPRETASI LOG UNTUK Halaman : 10 / 23
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
SHALLY SAND

Rw = resistivitas air formasi, ohm-m


Rwa = Rw apparent, ohm-m
SB = saturasi air yang terikat dalam shale, ohm-m
SP = spontaneous potensial, mv
Sw = saturasi air formasi, fraksi
Swe = saturasi air efektif, fraksi
Swt = saturasi air total, fraksi
Ta = temperatur permukaan, F
T = temperatur, F
VSH = volume shale, oF

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 10
INTERPRETASI LOG UNTUK Halaman : 11 / 23
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
SHALLY SAND

6. LAMPIRAN
6.1. LATAR BELAKANG DAN RUMUS
Adanya batuan shale atau clay di dalam batuan pasir mempersulit interpretasi rekaman log,
untuk menentukan jumlah minyak di dalam pori batuan.
Pengaruh adanya clay di dalam pori batuan akan memperkecil porositas efektif, permeabilitas
batuan dan membuat persamaan Archie tidak berlaku. Clay terdapat di dalam batuan dapat
berbentuk laminasi, structural atau dispersed, seperti terlihat pada Gambar 4.
Keistimewaan shale atau batuan lempung adalah memiliki bidang permukaan yang sangat luas,
sehingga dapat mengikat air dalam jumlah yang cukup besar pada permukaannya. Air ini akan
mempengaruhi konduktivitas elektrik batuan tetapi tidak mencerminkan konduktivitas
kandungan cairan sebenarnya di dalam. Penggunaan formula standar Archie untuk lapisan shaly
sand yang mengandung minyak akan memberikan harga saturasi air yang lebih besar sehingga
sukar untuk menentukan kepastian adanya minyak pada lapisan tersebut. Hadirnya clay di
dalam batuan pasir yang cukup banyak akan merugikan karena akan memperkecil permeabilitas
batuan. Dengan adanya pengarun shale terhadap interpretasi log standar maka muncul model-
model untuk interpretasi batuan pasir yang mengandung shale. Metode tersebut adalah :
1. Metode kompensasi otomatis (The Automatic Compensation Method).
2. Metode berdasar Dispersed Clay.
3. Metode berdasar Simandoux Model.
4. Metode berdasar Dual Water Model.

Metode kompensasi menggunakan log sonic dan log induction dimana kedua log tersebut akan
mengkompensir harga Rt yang terlalu rendah dan harga porositas yang terlalu tinggi yang dibaca
oleh masing-masing log pada lapisan shaly sand dalam persamaan standar Archie. Hubungan
untuk menentukan saturasi air dan porositas adalah :
e = S VSH SH (1)

Rw
Rt
S w = 0.9 (3)
S
atau kalau log sonik tidak tersedia maka dapat digunakan log density dan log neutron. Dalam
hal ini hubungan untuk mendapatkan saturasi air dan porositas adalah :

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 10
INTERPRETASI LOG UNTUK Halaman : 12 / 23
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
SHALLY SAND

D 2 N 2
DN = (5)
2
= D VSH DSH

Rw
Rt
S w = 0.9 (4)
DN
Berdasarkan pengalaman, metode ini akan memberikan hasil yang cukup baik untuk lapisan
dengan porositas batuan diatas 15 persen.
Metode shale tersebut menggunakan log sonik dan log density untuk menentukan harga
porositas batuan. log sonik merekam porositas total sedangkan log density merekam porositas
efektif, dengan demikian perbedaan keduanya menunjukkan banyaknya clay di dalam batuan
(q); q didefinisikan sebagai berikut :
S D
q= (7)
S
Modifikasi persamaan Archie untuk menghitung SW untuk metode ini adalah :

0.8 R w q 2 q
+
2 R 2 2
S t
Sw = (8)
(1 q )
harga porositas efektif adalah :
e = D VSH DSH (6)

Metode Simandoux menggunakan log neutron dan log density untuk menentukan porositas
batuan. Sedangkan untuk menentukan fraksi shale di dalam batuan ditentukan dengan log
gamma ray, log SP atau shale indicator yang lain.
Untuk menghitung porositas efektif ( e ) digunakan hubungan berikut :

DC 2 + NC 2
e = (11)
2
dimana :
DC = D VSH DSH (9)

NC = N VSH NSH (10)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 10
INTERPRETASI LOG UNTUK Halaman : 13 / 23
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
SHALLY SAND

dan Sw ditentukan berdasarkan rumus berikut :


2 2
C Rw 5 e V V
Sw = 2
+ SH SH (12.a)
e Rw Rt RSH RSH

dimana: C adalah konstanta 0.4 untuk batuan pasir dan 0.45 untuk batu kapur
Modifikasi persamaan Simandoux untuk formasi di Indonesia disebut Persamaan Indonesia,
yaitu :
n 1
Sw 2 = (12.b)
V d m
2
Rt SH
+
R a Rw
SH
VSH
dimana : d = 1
2
m = n = 2 dan
a = 0.8 sampai 1.0

Metode Dual Water model membedakan dua saturasi air di dalam batuan yang mengandung
shale, yaitu: saturasi air yang terikat oleh clay (SB) tergantung pada Cation Exchange
Capacity (CEC) dari batuan shale di dalam formasi atau Cation Exchange Capacity per unit
volume fluida di dalam pori batuan (Q) dimana :
CEC (1 )
Q= (26)

Berdasarkan hasil penelitian menyatakan bahwa Cation Exchange Capacity berbanding lurus
dengan luas permukaan batuan untuk clay harganya bervariasi antara 20 m2/gr (kaolinite) dan
800 m2/gr (montmorilonite). Sedangkan untuk batuan pasir berkisar antara 0.01 5 m2/gr.
Pengukuran di laboratorium memberikan hubungan besarnya ikatan clay atau anion free water
batuan shale (W) dengan konsentrasi NaCl di dalam air (C) sebagai berikut :
0.084
W = 0.22 + (27)
C
Untuk batuan dengan Cation Exchange Capacity, (Q, meq/cc) besarnya saturasi terikat (SB)
adalah :
SB = W Q (28)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 10
INTERPRETASI LOG UNTUK Halaman : 14 / 23
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
SHALLY SAND

Demikian pula di dalam model Dual Water, Conductivity air di dalam pori batuan (CW) dapat
dibedakan menjadi: konduktivitas air yang terikat (CB) dan konduktiviitas efektif air (Cwe)
C we = CW (1 S B ) + C B S B (38)

Jika batuan mengandung hidrokarbon, maka konduktivitas total (Ct) menjadi :

2 S S
Ct = (S wt t ) CW 1 B + C B B (29)
S wt S wt

Harga CB ternyata hanya tergantung pada temperatur yaitu :


CB = 6.8 Ohm/m @ 77 F (30)
atau
(
C B = 6.8 1 + 0.0545 T 1.127104 T 2 ) (31)
Conductivity batuan shale sendiri dapat dihitung berdasarkan rumus berikut :

C SH = SH C B
2
(32)

Dari hubungan tersebut maka interpretasi untuk batuan Shaly-Sand dapat dilakukan (lihat
langkah kerja 3.4).

Petunjuk Analisis Log untuk Shaly Sand


Petunjuk berikut ini akan sangat membantu pada saat memilih metode untuk menganalisis shaly
sand, yaitu sebagai berikut:
1. Bila log porositas tidak tersedia dan distribusi shale laminated, gunakan metode Dual
Water. Bila clay terdistribusi secara dispersed atau apabila distribusi shale/clay tidak
diketahui, gunakan metode Dual Water. (Elphick, 1988)
2. Bila log porositas yang tersedia hanya log sonik, gunakan metode Automatic Compensation
untuk distribusi shale yang dispersed maupun laminated. Metode ini paling baik digunakan
pada sandstone yang memiliki porositas sedang atau tinggi dengan clay terdistribusi
dispersed (Dewan, 1983)
3. Bila clay terdistribusi dispersed atau bila distribusi shale/clay tidak diketahui, gunakan
metode Dispersed Clay atau metode Fertl
4. Bila distribusi shale adalah laminated, gunakan metode Simandoux atau Dual Water

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 10
INTERPRETASI LOG UNTUK Halaman : 15 / 23
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
SHALLY SAND

5. Bila clay memiliki distribusi dispersed dan resistivitas dari clay terdispersi tersebut
diketahui sama dengan shale di sebelahnya (bioturbated atau turbidite shaly sand), gunakan
metode Simandoux atau metode Dual Water.
6. Bila resistivitas dari dispersed clay pada shaly sand diketahui, atau bila diasumsikan
resistivitas dispersed clay (Rcl) sebesar 0.4 kali resistivitas di shale sekitarnya (Rsh), gunakan
metode Simandoux atau Dual Water.
7. Di daerah yang resistivitas air formasinya tinggi (Rw > 0.1 -m), saturasi airnya dihitung
dengan metoda Fertl (1975). Metode Dispersed Clay harus digunakan dengan hati-hati.
Alasan untuk berhati-hati adalah karena diasumsikan dikedua persamaan tersebut bahwa Rsh
>> Rw. Pada shaly sand dengan resistivitas air formasi yang tinggi, asumsi ini mungkin
salah. Bila Rsh Rw, gunakan metode Dual Water.

Disarankan untuk menggunakan metode Dispersed Clay atau metoda Fertl ketika kondisi
dispersed clay atau ketika distribusi shale tidak diketahui adalah karena persamaan-persamaan
tersebut tidak membutuhkan resistivitas shale sebagai masukannya. Dengan tidak
dibutuhkannya nilai resistivitas shale maka akan sangat membantu dalam mempermudah
perhitungan, karena resistivitas dari dispersed clay umumnya memiliki nilai yang sangat
berbeda dari resistivitas lapisan shale. Resistivitas lapisan shale memiliki nilai yang lebih besar
dari resistivitas dispersed clay. Dengan tidak menggunakan resistivitas shale sebagai masukan
maka memberikan jalan yang lebih mudah untuk mengidentifikasi batuan clay yang terdispersi.
Bila menggunakan persamaan shaly sand yang lain (yang menggunakan resistivitas shale, Rsh
sebagai masukan) maka akan memberikan hasil saturasi air yang lebih tinggi dibandingkan
persamaan standard Archie.
Walaupun telah dibahas sekian banyak persamaan, analisa shaly sand tetap menjadi bagian
yang memiliki kombinasi antara sains dan seni. Parameter yang sangat penting, Vcl, masih sulit
untuk diukur secara tepat, dan demikian juga dengan penentuan total shale porosity (tsh ) . Hal

yang sama juga masih menjadi kesulitan, yaitu pada penentuan resistivitas dispersed clay (Rcl ) .

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 10
INTERPRETASI LOG UNTUK Halaman : 16 / 23
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
SHALLY SAND

6.2. CONTOH PERHITUNGAN


Gambar 3 adalah hasil rekaman log kombinasi antara SP, GR, Induction, SFL, Density dan
Neutron dari beberapa lapisan di suatu sumur minyak.
Pembacaan harga penyimpangan log untuk lapisan 2 A, B dan C adalah sebagai berikut.
Lapisan pasir A (8,510 8,540 ft)
Rt = 3
D = 0.26
N = 0.33
GR = 63
SP = -95

Lapisan shale B (8,470 8,500 ft)


RSH = 1.2
DSH = 0.20
NSH = 0.50
GRSH = 87
SPSH = -75

Lapisan pasir bersih C harga rata-rata antara interval (8,178 8,19 ft dan 8,180 9,193 ft)
RCL = 0.65
CL = 0.34
GRCL = 36
SPCL = -122

1. Perhitungan VSH :
Lapisan A diperkirakan mengandung gas sehingga ( VSH )ND tidak dapat digunakan.

(I SH )GR = 63 36 = 0.53
87 36
(VSH )GR = 0.34

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 10
INTERPRETASI LOG UNTUK Halaman : 17 / 23
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
SHALLY SAND

95 + 122
(VSH )SH = = 0.57
75 + 122
Harga umum Sw adalah 0.34

2. Perhitungan Sw dan e

a. Metode kompensasi otomatis karena log sonik tidak ada maka digunakan kombinasi log
density dan log neutron untuk menghitung porositas batuan.

D 2 + N 2
DN =
2

0.262 + 0.332
= = 0.29
2
Rw = RCL CL

= 0.65 0.342 = 0.075


Rw
Rt
S w = 0.9
DN

0.075
= 0 .9 3 = 0.49 = 49 %
0.29
DC = D VSH DSH
= 0.26 0.34 0.20 = 0.192
NC = N VSH NSH
= 0.33 0.34 0.50 = 0.16

DC 2 + NC 2
e =
2

0.1922 + 0.162
= = 0.176 = 17.6 %
2
Lapisan mengandung gas ( NC < DC )

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 10
INTERPRETASI LOG UNTUK Halaman : 18 / 23
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
SHALLY SAND

b. Metode Dispersed Clay


Metode ini tidak dapat digunakan karena lapisan diperkirakan mengandung gas, selain itu
log sonik dirun

c. Metode Simandoux
e = 17.6 % (lihat metode kompensasi otomatis)
2 2
C Rw 5 e VSH V
Sw = + SH (34)
e 2 Rw Rt RSH RSH

0.4 0.075 5 0.176 2 0.34 0.34


2

= +
0.176 2 0.075 3 1.2 1.2

= 0.574 57 %

n 1 Rt
Sw 2 = (1VSH / 2 )
VSH m/2
+
RSH a Rw

Kalau diambil harga n = 2, m = 2 dan a = 0.8


2 13
Sw 2 = (1 0.34 / 2 )
0.34 0.176 2 / 2
+
1.2 0.8 0.075

= 0.59 59 %

d. Metode Dual Water


tSH = DSH + (1 ) NSH
= 0.7 0.20 + 0.3 0.50 = 0.29

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 10
INTERPRETASI LOG UNTUK Halaman : 19 / 23
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
SHALLY SAND

t = e + VSH tSH
= 0.17 + 0.34 0.29 = 0.27
tSH
SB = VSH
t
0.29
= 0.34 = 0.36
0.27
Rw = 0.075 (lihat metode a)

= RSH tSH
2
RB

= 1.2 (0.29 ) = 0.10


2

= Rt t
2
Rwa

= 3 (0.27 ) = 0.22
2

R
S B 1 w
RB
B =
2
0.075
0.36 1
0.10
= = 0.045
2

Rw
S wt = B + B2 +
Rwa

0.075
= 0.045 + 0.0452 + = 0.63
0.22

S we =
(S wt S B )
(1 S B )

=
(0.63 0.36) = 0.42 = 42 %
(1 0.36)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 10
INTERPRETASI LOG UNTUK Halaman : 20 / 23
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
SHALLY SAND

6.3. GAMBAR-GAMBAR YANG DIGUNAKAN

Gambar 1. Saturasi air, cara Simandoux Chart 1


(dari Dresser)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 10
INTERPRETASI LOG UNTUK Halaman : 21 / 23
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
SHALLY SAND

Gambar 2. Saturasi air, cara Simandoux, Chart 2.


(dari Dresser)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 10
INTERPRETASI LOG UNTUK Halaman : 22 / 23
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
SHALLY SAND

Gambar 3. Gambar contoh log sumur.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 10
INTERPRETASI LOG UNTUK Halaman : 23 / 23
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
SHALLY SAND

Gambar 4. Bentuk bentuk distribusi clay didalam sedimen


(menurut Wilson, Schlumberger)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 11
Halaman :1/5
FLOATING PERSAMAAN m Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Archie (1942) mempublikasikan hasil investigasinya tentang hubungan antara resistivitas formasi (true
resistivity formation) dengan karakter fisik reservoir. Event ini menjadi peletak dasar interpretasi log
modern dan senantiasa menjadi acuan sampai saat ini. Dengan makin user friendly-nya komputer
beberapa kalangan mulai mengkhawatirkan abuse penggunaan m pada formula Archie oleh interpreter
yang kurang lengkap wawasannya bisa bisa menjurus pada hasil akhir yang menyesatkan, contoh
ekstreemnya adanya indikasi hidrokarbon hanya dengan sedikit mengubah harga m. Uraian pada
module ini memberikan resume kilas balik tentang investigasi Archie serta wacana yang berkembang
tentang apresiasi m seiring dengan makin rincinya deskripsi karakteristik reservoir dewasa ini.

1. TUJUAN
Menentukan saturasi dengan menggunakan eksponen sementasi (m)

2. METODE
1. Eksponen Sementasi dari Formula Shell
2. Eksponen Sementasi dari Formula Nugent
3. Eksponen Sementasi dari Formula Rasmus

3. LANGKAH KERJA
Formula untuk eksponen sementasi dari metode Shell (mshell) hanya digunakan untuk batuan karbonat
dengan melakukan variasi m terhadap porositas.
2.1. Eksponen Sementasi dari Formula Shell
0.0019
mshell = 1.87 +
e

2.2. Eksponen Sementasi dari Formula Nugent

mnug =
(2 (log sc ))
log e

2.3. Eksponen Sementasi dari Formula Rasmus

( )
X = sc + sc (1 e ) + ( e P sc )
3 2

Bila X 0 maka

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 11
Halaman :2/5
FLOATING PERSAMAAN m Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

log X
mras =
log e

Bila mras < 1 maka mras = 1

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 11
Halaman :3/5
FLOATING PERSAMAAN m Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

4. DAFTAR PUSTAKA
1. E. R. Crain : "The Log Analysis Handbook, Volume 1, Quantitative Log Analysis Methods",
PENNWELL Books, Tulsa, Oklahoma, USA, 2000
2. P. S. Adisoemarta, G. A. Anderson, S. M. Frailey, and G. B. Asquith, Center for Applied
Petrophysical Studies, Texas Tech University : Historical Use of m and a in Well Log
Interpretation : Is Conventional Wisdom Backward?, SPE 59699, 2000.

5. DAFTAR SIMBOL
mshell = eksponen sementasi dari formula Shell, tanpa satuan
mnug = eksponen sementasi dari formula Nugent, tanpa satuan
mras = eksponen sementasi dari formula Rasmus, tanpa satuan

e = porositas efektif dari berbagai sumber, fraksi

sc = sonic porosity corrected untuk shale

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 11
Halaman :4/5
FLOATING PERSAMAAN m Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

6. LAMPIRAN
Pada tahun 1942, Archie mempublikasikan hasil investigasinya tentang hubungan antara resistivitas
formasi (true resistivity formation) dan beberapa karakter fisik dari reservoir, sebagai berikut:
Ro
F=
Rw
dimana : F = Faktor resisitivitas formasi
Ro = Resistivitas dari batuan (formasi dengan pori-pori terisi cairan)

Rw = Resistivitas cairan (brine)

Hasil investigasi empiris lebih lanjut menghasilkan hubingan antara batuan reservoir dengan faktor
resistivitas formasinya bila seluruh pori-pori dijenuhi oleh cairan, sebagai berikut:
1
F=
m
dimana : = porositas
m = slope dari trendline yang dibentuk oleh batuan

Archie mendapatkan bahwa nilai m tergantung pada tipe batuan yang diinvestigasi, yang nilainya
bervariasi antara 1.3 hingga 2.0 (Gulf Coast sandstone). Untuk pengukuran clean unconsolidated
sand di laboratorium, nilai m sekitar 1.3. Persamaan ini diterima secara umum, contohnya digunakan
oleh Schlumberger Chart Book 1997, dalam chart Por-1. Perlu diingat Archie menggunakan asumsi
implisit, bahwa pada saat melakukan plot faktor resistivitas formasi terhadap porositas (pada
koordinat log-log), di intercept y (fraksi porositas) nilai faktor resistivitas formasi dan a adalah sama
dengan 1.0. Secara teoritis, hal ini tidak masuk akal.

Hasil pekerjaan Archie tersebut menunjukkan bahwa sifat-sifat batuan yang ada di dalamnya
mempengaruhi resistivitas formasi. Dia juga menunjukkan bahwa sifat-sifat batuan tersebut harus
dihubungan dengan sejarah pengendapan dari batuan formasi, seperti misalnya dengan fasies
sedimen dan hubungannya dengan variasi geografi dan stratigrafi dari fasies tersebut.

Perkembangan selanjutnya, dengan melakukan inverstigasi pada hubungan resistivitas dengan pasir
tersaturasi (brine-saturated sands) dan geometri pori, Winsauer, et al. (1952), menghasilkan
hubungan sebagai berikut:

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 11
Halaman :5/5
FLOATING PERSAMAAN m Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

0.62
F=
2.15
Pada persamaan ini, Winsauer menggunakan faktor m dari persamaan Archie sebagai Faktor
Sementasi. Pada saat ini digunakan dua parameter, faktor sementasi (cementation factor) dan
eksponent sementasi (cemantation exponent) dalam parameter eksponensial tersebut. Hal ini
berdasarkan pada tortuosity factor yang diperkenalkan oleh Etris et al., 1989), sehingga persamaan
Archie memiliki bentuk umum:
a
F= .
m

Bentuk dari faktor resistivitas formasi yang dikembangkan oleh Winsauer, kemudian dikenal
sebagai persamaan Humble, menunjukkan bahwa konsep dari persamaan Archie bahwa intercept F
pada porositas 100% adalah faktor konstanta bernilai 1.0, tidak tepat untuk sandstone diluar Gulf
Coast sandstone yang digunakan Archie. Hilchie (1982) menggunakan m dan a sebagai konstanta
yang berkaitan dengan geometri pori-pori, menunjukkan sekali lagi penggunaan prinsip Archie
bahwa pengenalan akan struktur dari pori-pori batuan adalah prinsip dasar untuk mengetahui true
formation resistivity.

Secara umum, hubungan faktor resistivitas formasi dari Archie, diaplikasikan secara luas untuk
melakukan analisis keseluruhan sisi dari litologi dan tekstur batuan, pada deteksi dan evaluasi
akumulasi hidrokarbon.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 12
Halaman :1/9
PENENTUAN SATURASI AIR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

1. TUJUAN
Menentukan harga saturasi air (Sw)

2. METODE DAN PERSYARATAN


2.1. METODE
1. Saturasi air dari metode Archie
2. Saturasi air dari metode Simandoux
3. Saturasi air dari metode Waxman-Smits (CEC)
4. Saturasi air dari metode Waxman-Smits-Juhasz
5. Saturasi air dari bulk volume water
6. Persamaan Indonesia Water Saturation untuk dispersed shaly sand
7. Saturasi air dari metode Ratio
8. Saturasi air dari metode Poupon untuk laminated sand
9. Saturasi air dari metode Modified Simandoux untuk laminated sand
10. Water saturation Smoothing

2.2. PERSYARATAN
Tersedia parameter-parameter yang dibutuhkan oleh tiap-tiap metode

3. LANGKAH KERJA
3.1. Saturasi Air dari Metode Archie
1
a R n
S w = m w
Rt
Sw = saturasi air dari zona uninvaded (metode Archie)

Rw = resistivitas formasi air pada temperatur formasi

Rt = true resistivity dari formasi (koreksi invasi dari RILd atau RLLd )

= porositas
a = faktor turtuosity
m = eksponen sementasi
n = eksponen saturasi, bervariasi dari 1.8 hingga 2.5. Nilai normalnya 2.0

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 12
Halaman :2/9
PENENTUAN SATURASI AIR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Saturasi air pada zona univaded (S w ) , yang dihitung dengan menggunakan persamaan Archie,

adalah parameter paling fundamental dalam evaluasi log. Tapi, walaupun saturasi zona air
diketahui, informasi itu tidak cukup untuk mengevaluasi potensi produktivitas suatu zona. Harus
diketahui pula:
1. Saturasi air cukup rendah untuk dilakukan komplesi bebas air (water-free completion)
2. Fluida hidrokarbon yang ada dapat bergerak (movable)
3. Zona permeabel
4. Cadangan hidrokarbon yang ada ekonomis dan dapat diproduksikan (recoverable)

1
a Rmf n
S xo = m
Rxo
S xo = saturasi air dari flushed zone (metode Archie)

Rmf = resistivitas formasi air pada temperatur formasi

Rxo = shallow resistivity dari Laterolog-8, Microspherical Focused Log atau Microlaterolog

= porositas
a = faktor turtuosity
m = eksponen sementasi
n = eksponen saturasi, bervariasi dari 1.8 hingga 2.5. Nilai normalnya 2.0

Saturasi air pada flushed zone (S xo ) dapat digunakan sebagai indikator dapat bergeraknya

hidrokarbon (hydrocarbon moveability). Contohnya, bila nilai S xo lebih besar dari S w , maka

hidrokarbon di flushed zone kemungkinan telah didorong dari dekat lubang bor oleh fluida
pemboran yang menginvasi formasi.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 12
Halaman :3/9
PENENTUAN SATURASI AIR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

3.2. Saturasi Air dari Metode Simandoux


Untuk formasi pasir dan clay, Simandoux menyarankan untuk menggunakan persamaan
konduktivitas sebagai berikut:

m
Ct = Vsh Cc S w + S w
n

a Rw
dimana
Cc = konduktivitas dispersed clay

Bila digunakan eksponen saturasi sebesar n = 2.0, diasumsikan terbentuk sebuah persamaan
parabolik, yang dapat ditulis sebagai
y = b x + c x2

Dengan beberapa modifikasi matematis dan disubstitusikan ke dalam persamaan Tixier,


menghasilkan persamaan saturasi air sebagai berikut:

Vsh
2
2
0.4 Rw Vsh
Sw = + + 5
2 Rc Rc Rt Rw

3.3. Saturasi Air dari Metode Waxman-Smits (CEC)


Metoda ini digunakan untuk dispersed clay, sebagai berikut:

n Rt Rw B Qv
Sw = 1 +
F Rw Sw
dengan
Qv dari persamaan Waxman & Thomas, sebagai berikut:

Qv = CEC (1 ) ma 1
dimana
Qv = konsentrasi ion dalam air formasi yang kontak dengan clay (meg/ml)

CEC = Cation Exchange Capacity (meg/gm)


B = ekuivalen konduktansi untuk clay exchange sebagai fungsi dari Rw

Metoda Waxman-Smits ini berlaku untuk berbagai salinitas air formasi

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 12
Halaman :4/9
PENENTUAN SATURASI AIR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

3.4. Saturasi Air dari Metode Waxman-Smits-Juhasz


R wsh = m Rsh
sh
Qvn = Vsh
d
S w1 = 1

(S w1 Rwsh Rwtf )
1
m
n

S w2 = d
(Q R ) + (S Q ) R

Rd
vn wtf w1 vn wsh

Bila S w1 S w 2 maka S w1 (S w1 S w 2 ) 0.5 , kemudian kembali lakukan perhitungan S w2

seperti di atas.
Persamaan ini menormalisasi CEC dan membutuhkan iterasi untuk menemukan solusinya.
dimana:
d = porosity dari log density, belum dikoreksi terhadap shale

sh = porositas shale total dari log density

m = eksponen sementasi, tanpa satuan


n = eksponen saturasi, tanpa satuan
Rsh = resistivity pada shale bersih

Rd = pembacaan log deep resistivity

Vsh = volume shale, fraksi

Rwtf = resistivity air pada temperatur formasi

S w2 = saturasi air dengan metoda Juhasz, fraksi

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 12
Halaman :5/9
PENENTUAN SATURASI AIR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

3.5. Saturasi Air dari Volume Air Bulk (Bulk Volume Water)
Hasil dari saturasi air formasi dan porositas ( ) adalah volume air bulk (BVW), sebagi berikut:

BVW = S w
dimana
BVW = volume bulk air
Sw = saturasi air di uninvaded zone (persamaan Archie)

= porositas

Bila hasil perhitungan untuk volume air bulk dilakukan disuatu formasi pada beberapa kedalaman,
memberikan hasil yang konstan atau dengan perbedaan yang sangat kecil, mengindikasikan zona
tersebut homogen dan berada pada saturasi air irreducible (irreducible water saturation, S wirr ).

Bila suatu zona berada pada saturasi air irreducible, air yang terhitung di zona uninvaded (S w )

tidak akan bergerak, karena tertahan di dalam batuan oleh tekanan kapiler. Akibatnya, produksi
hidrokarbon dari zona pada saturasi air irreducible akan bebas air.
Formasi yang tidak berada pada kondisi saturasi air irreducible akan memiliki nilai saturasi air
bulk yang bervariasi. Karena jumlah air yang dapat ditampung dalam batuan berbanding terbalik
dengan ukuran grain, maka volume air bulk akan berbanding terbalik dengan ukuran grain.

3.6. Indonesian Water Saturation Untuk Dispersed Shaly Sands


1Vsh
Vsh 2
C= 0.5
Rsh

m 0.5
D= e ( )
(A Rwtf )0.5

0.5
1
E =
Rd
1
E 2 n

S wi =
C + D

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 12
Halaman :6/9
PENENTUAN SATURASI AIR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

dimana
a = eksponen tortuosity, tanpa satuan
m = eksponen sementasi, tanpa satuan
n = eksponen saturasi, tanpa satuan
e = porositas efektif, fraksi

Rd = pembacaan log deep resistivity

Rsh = resistivitas shale (ohm-m)

Rwtf = resistivitas air pada temperatur formasi

S wi = saturasi air toal (fraksi)

Vsh = volume shale (fraksi)

3.7. Saturasi Air dari Metode Ratio


1
R xo Rd n

S wr =
Rmf @ ft Rw @ ft

dimana:
n = eksponen saturasi, tanpa satuan
Rd = pembacaan log deep resistivity, (ohm-m)

Rxo = pembacaan log shallow resistivity, (ohm-m)

Rmf @ ft = resistivitas filtrat lumpur pada temperatur formasi

Rw @ ft = resistivitas air pada temperatur formasi

S wr = saturasi air dari metode ratio

Ketika tidak ada data porosity yang tersedia, saturasi dapat diperoleh dengan membandingkan log
shallow resistivity dan deep resistivity. Formula ini belum terkoreksi terhadap shale.
Metode ini adalah cara terakhir untuk memperoleh saturasi bila tidak tersedia log porosity.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 12
Halaman :7/9
PENENTUAN SATURASI AIR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

3.8. Saturasi Air dari Metode Poupon Untuk Laminated Sands


Pada sistem laminated sandstone, Vsh = p
1
a
m
1 Vsh
n

Rwtf
sh
Sw = e d
R R
1 Vsh



dimana:
a = eksponen tortuosity, tanpa satuan
m = eksponen sementasi, tanpa satuan
n = eksponen saturasi, tanpa satuan
e = porositas efektif, fraksi

Rd = pembacaan log deep resistivity

Rsh = resistivitas shale (ohm-m)

Rwtf = resistivitas air pada temperatur formasi

S wi = saturasi air total (fraksi)

Vsh = volume shale (fraksi)

3.9. Saturasi Air dari Metode modified Simandoux Untuk Laminated Sands
S w = 0 ; S w1 = 1
1
1 Vsh S w1 n
m
a
S w =
Rd R sh
Rwtf
e 1

1 Vsh
S w + S w1
Bila S w S w1 , maka S w1 = , lalu kembali ke perhitungan S w di atas.
2

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 12
Halaman :8/9
PENENTUAN SATURASI AIR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

dimana:
a = eksponen tortuosity, tanpa satuan
m = eksponen sementasi, tanpa satuan
n = eksponen saturasi, tanpa satuan
e = porositas efektif, fraksi

Rd = pembacaan log deep resistivity

Rsh = resistivitas shale (ohm-m)

Rwtf = resistivitas air pada temperatur formasi

Sw = saturasi air total (fraksi)

S w1 = saturasi air iterasi (fraksi)

Vsh = volume shale (fraksi)

3.10. Water Saturation Smoothing


Schlumberger penyarankan fungsi smoothing untuk mengurangi kesalahan statistikal pada data
saturasi pada bagian atas dan bawah dari data tersebut
16 3
( )
Bila S w > 0.75 , maka S w = 1 (1 S w ) 5 128 (1 S w )
3

3
0.04 (1 4 S w )
bila S w < 0.25 , maka S w = S w +
1 + 21(S w )

bila 0.75 < S w < 0.25 , nilai S w tidak berubah

dimana:
Sw = saturasi air dari metode mana pun (fraksi)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 12
Halaman :9/9
PENENTUAN SATURASI AIR Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

4. DAFTAR PUSTAKA
1. Crain, E. R., "The Log Analysis Handbook Volume 1, Quantitative Log Analysis Methods",
PENNWELL Books, Tulsa, Oklahoma, USA, 2000
2. George Asquith with Charles Gibson, "AAPG Methods in Exploration Series Number 3 - Basic
Well Log Analysis for Geologist", The American Association of Petrolum Geologists, 1982
3. Schlumberger, Log Interpretation Charts, 1997
4. Schlumberger, "Log Interpretation Principles/Applications, 1989
5. Pirson S.J. Oil Reservoir Engineering, Mc. Graw-Hill Book Co. Inc., New York, 1958
6. Pirson S.J. Hand Book of Well Analysis for Oil and Gas Formation Evaluation, Prentice Hall
Inc, Englewood, N.J. , 1963
7. John T. Dewan : Essentials of Modern Open-hole Log Interpretation, Penn-Well Books, Penn
Well Publishing Company, Tulsa, Oklahoma, 1983

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 13
Halaman : 1 / 11
PERKIRAAN PERMEABILITAS DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Dalam konteks synergy multidisiplin, penilaian formasi dituntut pula menghasilkan apresiasi kuantitatif
mengenai kemampuan alir fluida di reservoir. Ini adalah besaran dinamis, sementara log pada dasarnya
merekam kondisi statis insitu sekitar lubang bor. Pada modul ini diberikan cara cara yang adekuat untuk
menjawab tantangan ini.

1. TUJUAN

Memperkirakan harga permeabilitas batuan dari log

2. METODE DAN PERSYARATAN

2.1. METODE

a. Resistivity Gradient.
Formula Tixier (1949) dapat diterapkan untuk membuat kurva permeabilitas karena pada
zona transisi permeabilitas dapat dianggap tetap.
b. Hubungan porositas dan saturasi
Berdasarkan formula Wyllie dan Rose (1950)

3
k 0,5 = C (1)
( S w ) irr
k = permeabilitas, mD
SW = saturasi, fraksi
= porositas, fraksi
(Sw)irr = irreducible water saturation (SW diatas zone transisi)
C = tetapan tergantung density hidrokarbon
(C = 250 untuk gas)
dapat dipersiapkan kurva untuk menentukan harga permeabilitas.

2.2. PERSYARATAN

a. Metode Resistivity Gradient


Tersedia rekaman resistivitas di daerah zona transisi. Salinitas air formasi dan densitas
minyak diketahui.
b. Metode Hubungan Porositas dan Saturasi
Tersedia kombinasi log untuk menentukan porositas dan saturasi (PF 03 dan PF 09).
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 13
Halaman : 2 / 11
PERKIRAAN PERMEABILITAS DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

3. LANGKAH KERJA

3.1. METODE RESISTIVITY GRADIENT

1. Tentukan zona transisi. Hitung resistivity pada daerah air dan daerah minyak.
Dari RW dan FR dapat dihitung Ro = FR RW

Selanjutnya hitung harga Basic Resistivity Gradient (a) :


R 1
a= (2)
D Ro

R = beda resistivitas pada daerah air dan daerah minyak zona transisi
D = beda kedalaman tempat harga-harga resistivitas dihitung
RO = resistivitas batuan dengan saturasi 100 % air

2. Hitung beda density air formasi dan hidrokarbon:


r = w h

w = density air formasi, dapat diperkirakan berdasarkan keasinannya dengan bantuan


tabel 1
h = density hidrokarbon, dapat diperkirakan berdasarkan API dengan bantuan tabel-2

3. Tempatkan harga Basic Resistivity Gradient (a) pada sumbu mendatar Gambar K-1, tarik
garis tegak lurus hingga memotong garis mendatar sesuai dengan beda density (langkah 2)
pada sumbu tegak. Perpotongan kedua garis tersebut menunjukkan harga permeabilitas.

3.2 METODE HUBUNGAN POROSITAS DAN SATURASI

1. Tentukan zona transisi dari log. Hitung porositas dan saturasi batuan di atas zona transisi
(Swirr).
2. Gunakan grafik Gambar-2 (Gambar K-3, pada buku Schlumberger Log Interpretation
Charts, 1985) dengan menempatkan pada sumbu mendatar dan Swirr pada sumbu tegak

untuk mendapatkan kurva permeabilitas pada perpotongan garis dan Swirr yang
menunjukkan harga permeabilitas.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 13
Halaman : 3 / 11
PERKIRAAN PERMEABILITAS DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

3. Apabila kandungan minyak di dalam formasi bukan medium gravity oil diperlukan koreksi
Swirr terhadap pengaruh density.
Gunakan grafik Gambar-2 (Gambar K-3, pada buku Schlumberger Log Interpretation
Chart, 1985).
h ( w O )
Hitung PC dari rumus PC = (3)
2.3
h = elevasi di atas lapisan air (ft)
o = density minyak (g/cc)
Tempatkan harga Swirr pada sumbu mendatar, tarik garis tegak lurus hingga memotong
garis PC atau interpolasinya.
Garis mendatar dari perpotongan tersebut menunjukkan Correction Factor (C) pada
sumbu tegak
S wirr terkoreksi = C S wirr
Selanjutnya gunakan Swirr terkoreksi pada grafik Gambar-2 (Gambar K-3, pada buku
Schlumberger Log Interpretation Charts, 1985).

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 13
Halaman : 4 / 11
PERKIRAAN PERMEABILITAS DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

4. DAFTAR PUSTAKA

1. Desbrandes, R, Borehole Logging, Technip, 1982


2. Schlumberger, Log Interpretation Charts, 1986
3. John T. Dewan, Essentials of Modern Open-hole Log Interpretation, Penn-Well Books, Penn
Well Publishing Company, Tulsa, Oklahoma, 1983
4. Schlumberger, "Log Interpretation Chart", 1997
5. Adi Harsono, Evaluasi Formasi dan Aplikasi Log - Edisi 8, 1997
6. Schlumberger, "Log Interpretation Principles/Applications, 1989
7. George Asquith with Charles Gibson, "AAPG Methods in Exploration Series Number 3 - Basic
Well Log Analysis for Geologist", The American Association of Petrolum Geologists, 1982
8. Sylvain J. Pirson, Hand Book of Well Analysis for Oil and Gas Formation Evaluation, Prentice
Hall Inc, Englewood, N.J. , 1963

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 13
Halaman : 5 / 11
PERKIRAAN PERMEABILITAS DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

5. DAFTAR SIMBOL

Rt = resistivitas batuan
Ro = resistivitas batuan tersaturasi 100 % air
R = beda resistivitas lapisan pada lapisan air dan lapisan di atas zona transisi
D = beda kedalaman lapisan di atas zona transisi dan lapisan air
R 1
a = Basic Resistivity Gradient =
P Ro

w = density air, g/cc


h = density hidrokarbon, g/cc
o = density minyak, g/cc
k = permeabilitas, mD
= porositas, fraksi
Swirr = irreducible water saturation
Swi = saturasi di atas zona transisi
h = elevasi di atas lapisan air
C = faktor koreksi

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 13
Halaman : 6 / 11
PERKIRAAN PERMEABILITAS DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

6. LAMPIRAN

6.1. LATAR BELAKANG DAN RUMUS

Metode-metode perkiraan permeabilitas didasarkan pada hubungan empiris atau statistik karena
pada kenyataannya fluida tidak mengalir waktu logging berlangsung, sehingga tidak
memungkinkan perhitungan kwantitatif langsung dari parameter yang diukur.
Penilaian permeabilitas secara kwalitatif dapat dilakukan antara lain dari :
SP Log
SP log merekam potensial pada lapisan permeabel bila keasinan air formasinya berbeda
dengan keasinan air tapisan lumpur.
Defleksi mencerminkan beda keasinan; jadi bila tergambar defleksi berarti merupakan
indikasi adanya permeabilitas batuan.
Invasi Air Tapisan Lumpur :
Invasi dapat dikaji dari rekaman log resistivitas dan log microresistivity. Jika Rmf > Rwi,
rekaman resistivitas log berjangkauan-kecil lebih besar daripada berjangkauan-besar pada
lapisan air. Gejala ini dikenal dengan istilah terdapat separasi untuk lapisan yang
mengandung hidrokarbon separasi dipengaruhi juga oleh harga Rmf/Rw dan Sw/Sxo.
Microlog
Rekaman log terutama menampilkan invasi lumpur air tawar atau dikenal sebagai separasi
positif yaitu R5cm > R2.5x2.5 cm
Caliper Log
Rekaman Caliper log dapat mendekati tebal kerak lumpur, yang mencerminkan adanya daerah
invasi. Pada sonde density dan neutron SNP, hasil pembacaan rekaman log kurang baik akibat
tekanan kaki sonde yang kuat pada dinding lubang bor. Meskipun demikian, masih dapat
dimanfaatkan untuk interpretasi kwalitatif.
Perkiraan kwantitatif dari rekaman log menghasilkan permeabilitas absolut metode evaluasi
umumnya memakai besaran (Sw)irr. Harga (Sw)irr tergantung pada porositas dan permeabilitas;
bervariasi antara 10 50 %. Harga (Sw)irr biasanya diambil harga Sw terkecil di atas zona transisi.
Apabila data suatu lapangan cukup banyak (dari pengintian, tes produksi dan lain-lain) sehingga
dapat diplot hubungan permeabilitas dan porositas, maka umumnya berbentuk linear atau bilinear
(skema Gambar 1). Untuk harga porositas tertentu dari log, umumnya dipilih harga permeabilitas
maksimum.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 13
Halaman : 7 / 11
PERKIRAAN PERMEABILITAS DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Metode Resistivity Gradient

Karena permeabilitas dapat dianggap tetap pada zone transisi, maka besarnya dapat diperkirakan
berdasarkan metode berikut :
Pengamatan Tixier (1949) menyimpulkan bahwa perubahan saturasi air 100 % ke saturasi
residual pada zone transisi terjadi pada selang kedalaman yang relatif pendek pada batuan berpori
besar dan permeabel. Untuk batuan berpori kecil dan kurang permeabel diperlukan selang yang
lebih panjang.
Tixier mengajukan teori tentang fenomena ini dilengkapi dengan kurva untuk berbagai kerapatan
jenis air dan hidrokarbon. Disimpulkan hubungan permeabilitas sebagai fungsi gradien resistivitas
batuan bersaturasi air adalah sebagai berikut :

R 1
k = f (4)
h Ro
R
= gradient resistivitas
h
Ro = resistivitas batuan bersaturasi 100 % air

Metode Hubungan Porositas dan Saturasi

Perusahaan service logging menyajikan rangkaian kurva sebagaimana tertera pada gambar K-3,
didasarkan pada formula Wyllie dan Rose (1950):

3
k 0 .5 = C (5)
(SW )irr
C = tetapan, tergantung pada kerapatan jenis hidrokarbon; C = 250 untuk
minyak dengan kerapatan sedang (d = 0.8)
C = 79 untuk gas
(SW)irr = SW dihitung di atas zone transisi

Pada selang transisi, dengan anggapan bahwa saturasi residual terdapat pada flushed zone,
dirumuskan:

(SW )irr = (S xo )5 (6)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 13
Halaman : 8 / 11
PERKIRAAN PERMEABILITAS DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Metode ini tidak berlaku untuk lapisan mengandung air. Timur (1968) mengusulkan formula
empirik yang dihitung dengan formula di atas yang ternyata cocok untuk batuan pasir bersih
yaitu:

4.4
k = 0.136 2
(7)
( S w ) irr

6.2. CONTOH PERHITUNGAN

6.2.1. Metode Resistivity Gradien

Diketahui : Rt pada 7010 kaki = 35 ohm-m


Rt pada 7050 kaki = 15 ohm-m
Formation Resistivity Factor FR = 50
RW = 0.035 ohm-m @ 222 0F (NaCl = 75000 ppm)
Gravity minyak = 30 API
Perkirakan permeabilitas lapisan tersebut
Jawab:
a. Ro = FR RW = 50 0.035 = 1.75 ohm-m

R = 35 15 = 20 ohm-m
D = (7050 7010) ft = 40 ft
R 1 20 1
a = = = 0.286
D Ro 40 1.75
b. Dari tabel dibuat interpolasi untuk 75000 ppm NaCl, diperoleh w = 1.053

Dari Tabel 2 untuk minyak 30 API diperoleh h = 0.876

r = w - h = 1.053 0.876 = 0.177

c. Gunakan grafik Gambar K-1 untuk a = 0,286 dan P = w h = 0.177 diperoleh k

= 275 md

6.2.2. Metode Hubungan Porositas dan Saturasi

Diketahui : = 0.23 (PF 02)


Swi = 0.30 (PF 15)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 13
Halaman : 9 / 11
PERKIRAAN PERMEABILITAS DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

h = 0.3 gram/cc
w = 1.1 gram/cc
elevasi di atas zona transisi h = 10 ft
Perkirakan permeabilitas lapisan.
Jawab :
a. Saturasi di atas zona transisi:
Swirr = 0.30
b. Karena minyaknya ringan, diperlukan koreksi
h ( w h ) 120 (1.1 0.3)
c. Pc = = = 42
2.3 2.3
Gunakan PC = 42 pada grafik Gambar 3 dan dengan Swi = 30% diperoleh faktor
koreksi C = 1.08
Swi terkoreksi = 1.08 x 0.30 = 0.324
Gunakan grafik Gambar K-3 dengan Swi = 0.324 dan = 0.23, diperoleh k = 130 md.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 13
Halaman : 10 / 11
PERKIRAAN PERMEABILITAS DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

6.3. GAMBAR DAN TABEL YANG DIGUNAKAN

Gambar 1. Memperkirakan harga permeabilitas dari log

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 13
Halaman : 11 / 11
PERKIRAAN PERMEABILITAS DARI LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Tabel 1
Larutan NaCl
(14.7 psi, 60 0F)
ppm x 1000 Gram/cc
0 1.000
50 1.034
100 1.071
150 1.109
200 1.189
250 1.189

Tabel 2
Minyak
(14.7 psi, 60 0F)

API gram/cc
15 0.966
20 0.934
25 0.904
30 0.876
40 0.825
50 0.780

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 14
Halaman :1/7
PERHITUNGAN DENSITAS HIDROKARBON Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Meskipun perkiraan densitas hidrokarbon merupakan besaran penting dalam mencirikan kandungan
reservoir, tetapi besaran ini hanya memadai untuk diinterpretasikan apabila semua prosedur telah
dilakukan dengan baik dan menyimpulkan adanya hidrokarbon. Karena itu modul ini hendaknya
ditempatkan sebagai interpretasi lanjut (advanced). Panduan mengenai validitas metode ini diuraikan
pada modul ini.

1. TUJUAN

Menentukan densitas fluida hidrokarbon

2. METODE DAN PERSYARATAN

2.1. METODE

2.1.1 Metode Perhitungan

Menentukan selang densitas hidrokarbon yang diinginkan pada harga saturasi air di
uninvaded zone(Sw) dan harga saturasi air di flushed zone (Sxo) tertentu.

2.1.2 Metode Grafis

Membaca harga densitas hidrokarbon (h) dari harga perhitungan saturasi hidrokarbon (Shr)

2.2. PERSYARATAN

2.2.1 Dalam Metode Perhitungan, perhitungan tidak dilakukan pada kondisi sumur yang buruk.
2.2.2 Dalam Metode Grafis, pengetahuan terhadap litologi reservoir akan sangat penting dalam
efektivitas perhitungan.

3. LANGKAH KERJA

3.1. Metode Perhitungan

3.1.1 Pembacaan log density terhadap porositas terkoreksi dari lempung (dc)
dc = D (Vsh dsh )
dimana : D = Pembacaan density-log terhadap porositas
dsh = Pembacaan density-log terhadap kandungan lempung

3.1.2 Pembacaan neutron-log terhadap porositas terkoreksi dari lempung (nc)


nc = N (Vsh nsh )
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 14
Halaman :2/7
PERHITUNGAN DENSITAS HIDROKARBON Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

dimana : N = Pembacaan log neutron terhadap porositas


nsh = Pembacaan log neutron terhadap kandungan lempung

3.1.3 Penentuan porositas efektif dari density-neutron log (edn)


0 .5
dc2 + nc2
edn =
2
3.1.4 Penentuan apparent fluid density (fla)
jika edn > 0, maka

MA w
fla = MA dc
edn
dimana : MA = densitas matriks
w = densitas air

3.1.5 Penentuan selang densitas fluida hidrokarbon (hmax, hmin)

jika S w 0.7 dan S xo 0.85 , maka

fla ( w S xo )
h max =
1 Sw
fla ( w S xo )
h min =
1 S xo

3.1.6 Penentuan densitas fluida hidrokarbon (hy)

h max + h min
hy =
2
hy 1.0 oil
jika :
hy < 0.5 gas
dan densitas gas (gas),
gas = 0.75 ( h min + 0.14 )

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 14
Halaman :3/7
PERHITUNGAN DENSITAS HIDROKARBON Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

3.2. Metode Grafis

Bila litologi tidak diketahui dengan pasti, maka h diperkirakan terlebih dahulu untuk kasus
ekstrim (misalnya batuan dianggap 100% pasir dan 100% dolomit) kemudian diambil nilai tengah
dan dilakukan koreksi berulang terhadap hidrokarbon untuk meyakinkan litologi dengan baik,
sehingga diperoleh h yang lebih baik.

Contoh dalam reservoir gamping-dolomit:


Dari pembacaan log: b (bulk density) = 2.1, N (porositas neutron) = 15%, Rxo (resistivitas formasi
pada flushed zone) = 4 dan Rmf (resistivitas filtrat lumpur) = 0.1, pada temperatur bawah
permukaan.

Dua kasus ekstrim ditinjau :


1. Reservoir itu hanya terdiri dari batuan gamping :
Cara penyelesaiannya:
Dengan Gambar 1, konversikan b = 2.14 gr/cc ke porositas gamping, diperoleh D = 34%.
Karena N = 5%, maka dengan menggunakan Gambar 2, didapat porositas pendekatan pertama
= 30% (1 dari Gambar 2).

Rmf 0.1
S xo = = = 0.52
Rxo 4 (0.3)
2 2
1

S hr = 1 S xo = 0.48
dengan Gambar 3, didapat h = 0.3 gr/cc

2. Reservoir itu hanya terdiri dari batuan dolomit :


Cara penyelesaiannya:
Dengan Gambar 1, konversikan b = 2.1 gr/cc ke porositas dolomit, diperoleh D = 38.4%.
Dengan Gambar 4, konversikan porositas neuron ke batuan dolomit N = 13.4%, maka dengan
menggunakan Gambar 2 didapat porositas pendekatan pertama = 33%.

Rmf 0.1
S xo = = = 0.48
Rxo 4 (0.33)
2 2
1

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 14
Halaman :4/7
PERHITUNGAN DENSITAS HIDROKARBON Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

S hr = 1 S xo = 0.52
dengan Gambar 3, didapat h = 0.25 gr/cc
Di lapisan ini kita menggunakan :
h 0.3 gr cc
Jika litologi sudah diketahui, kita dapat menghitung h dengan lebih tepat lagi.

4. DAFTAR PUSTAKA

1. Crain, E. R., "The Log Analysis Handbook Volume 1, Quantitative Log Analysis Methods",
PENNWELL Books, Tulsa, Oklahoma, USA, 2000
2. Harsono, Adi. Evaluasi Formasi dan Aplikasi Logging, Revisi ke 8, Jakarta, 1997
3. Schlumberger, Log Interpretation Charts, 1997.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 14
Halaman :5/7
PERHITUNGAN DENSITAS HIDROKARBON Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

5. LAMPIRAN

Gambar 1. Penentuan porositas melalui log density formasi

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 14
Halaman :6/7
PERHITUNGAN DENSITAS HIDROKARBON Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 2. Koreksi pengaruh hidrokarbon secara grafis

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 14
Halaman :7/7
PERHITUNGAN DENSITAS HIDROKARBON Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 3. Penentuan jenis hidrokarbon

Gambar 4. Kurva Ekivalen Thermal Neutron Porosity

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 15
INTERPRETASI LOGGING SUMUR DI Halaman : 1 / 21
LOKASI UNTUK MENGHITUNG SATURASI Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

(QUICK LOOK)

Meskipun dewasa ini kemudahan untuk menyediakan komputer pada situasi sekeras apapun dilokasi
pemboran sudah dapat diatasi, tetapi sangat manusiawi bila tetap memberikan peran terbesar kepada
engineer dengan membekali kemampuan melakukan interpretasi dan membuat keputusan cepat pada
situasi terburuk yang tidak bergantung pada komputer. Modul ini menguraikan panduan praktis, tetapi
hendaknya disadari bahwa hendaknya hasilnya diperlakukan sebagai informasi awal dan membutuhkan
penghalusan (refinement) keakuratannya lebih lanjut pada kesempatan pertama yang memungkinkan.

1. TUJUAN
Menghitung saturasi pada satu atau beberapa lapisan prospek

2. METODE DAN PERSYARATAN


2. 1. METODE
2. 1. 1. Metode Cross Plot
1
a. Cross plot terhadap
Rt

Karena merupakan fungsi linier b (FDC), t (sonik) atau N (SNP/CNL), maka


apabila harga tersebut di plot terhadap Rt pada skala khusus akan dapat menampilkan
kurva untuk berbagai saturasi.

b. Cross plot Rxo terhadap Rt


Sw
Pada lapisan air: Sw = Sxo = 1, berarti = 1 , sedang pada daerah hidrokarbon tak
S xo
Sw
bergerak (non movable) Sw = Sxo, berarti juga = 1 , maka dalam kedua hal tersebut
S xo
Rmf
R xo = Rt , yang merupakan persamaan berbentuk garis lurus dengan
Rw
kemiringan 1 apabila diplot pada skala log-log (garis saturasi Sw = 100%).

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 15
INTERPRETASI LOGGING SUMUR DI Halaman : 2 / 21
LOKASI UNTUK MENGHITUNG SATURASI Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

(QUICK LOOK)

Dengan alur yang sama, pada daerah hidrokarbon yang dapat bergerak (movable)
2
Sw Rmf S w
< 1 dan R xo = Rt , merupakan persamaan garis-garis untuk
S xo S xo S xo
berbagai harga saturasi yang sejajar dengan garis saturasi Sw = 100%.

2. 1. 2. Metode pembacaan langsung dengan mistar khusus.


Bila rekaman log resistivity berskala logaritmik, pembacaan dengan mistar khusus dapat
langsung memberikan perkiraan saturasi

2. 1. 3. Metode Grafis
a. Nomograph

Ro FRw
Didasarkan pada persamaan Archie tentang saturasi: S w = =
Rt Rt

b. Metode perbandingan (Ratio Method)

Didasarkan pada asumsi S xo = 5 S w

2. 1. 4. Metode dengan menggunakan mini-komputer (tidak dibahas dalam petunjuk kerja ini)

2. 2. PERSYARATAN
1. Lapisan dianggap bersih (clean-formation).
2. Ada lapisan air dengan Rw dianggap tetap; memiliki rekaman SP atau petunjuk lain untuk
pembanding Rw yang didapat (lihat PF 06),
3. Memiliki kombinasi sebagai berikut:
1
a. Untuk metode cross plot terhadap :
Rt
Resistivitas jangkauan dalam (Induction, Laterolog) dengan salah satu dari ketiga logging
berikut: b (FDC), t (sonik) atau N (SNP/CNL)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 15
INTERPRETASI LOGGING SUMUR DI Halaman : 3 / 21
LOKASI UNTUK MENGHITUNG SATURASI Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

(QUICK LOOK)

b. Untuk metode cross plot Rxo terhadap Rt:


Resistivitas jangkauan dalam (Induction, Laterolog) dan Rxo (Microlog, Proximity,
Microlaterelog, Micro SFL).
c. Untuk metode pembacaan langsung dengan mistar khusus: sama dengan butir 3.b tersebut
di atas, dinyatakan dalam skala log.

3. LANGKAH KERJA
3. 1. METODE CROSS PLOT
1
a. Cross Plot terhadap
Rt

1. Buat tabel : Kedalaman, Rt dan b (atau tsonic dan N).


Bacalah sebanyak mungkin harga-harga tersebut pada lapisan air paling sedikit 3 (tiga)
posisi kedalaman; selanjutnya bacalah pula harga pada lapisan prospek.
Rt diambil dari PF 07.

2. Pilihlah pola yang sesuai sebagai berikut:


0.62
Pola Gambar Sw-15, untuk matrik batupasir, dengan formula Humble F = dan matrik
2.15
= 2.65
1
Pola Gambar Sw-16, untuk batuan karbonat dengan matrik kalsit, dengan formula F =
2
dan matrik = 2.70
Pola Gambar SW-16, untuk batuan karbonat dengan matrik dolomit, dengan formula
1
F= dan matriks = 29
2
Bagilah skala absis sedemikian rupa sehingga harga b, terbesar masih dapat tercantum.

3. Plot b dan Rt pada pola langkah 2, dan tarik garis lurus dari sudut kiri bawah (matrik)
menghubungkan titik-titik (umumnya di daerah kuadran 2: kiri atas bidang gambar)
Ini merupakan garis saturasi Sw = 100%.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 15
INTERPRETASI LOGGING SUMUR DI Halaman : 4 / 21
LOKASI UNTUK MENGHITUNG SATURASI Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

(QUICK LOOK)

4. Garis untuk saturasi Sw = 50% dibuat sebagai berikut:


Rt R
Dari Rw = (S w ) , t dapat dihitung.
2

F F
Dipilih sembarang harga F untuk Menghitung pasangan harga Rt yang bersangkutan.
Selanjutnya tarik garis lurus menghubungkan titik sudut kiri bawah dengan titik pasangan F
dan Rt yang bersangkutan.
Cara analog dapat dikerjakan untuk saturasi Sw = 25%, dan seterusnya.

5. Plot pasangan Rt dan b lapisan prospek pola langkah 4, dari letak titik tersebut dapat
diperhitungkan saturasi lapisan.
Catatan: langkah kerja yang sama dapat diterapkan pada pasangan kedalaman, Rt dan tsonic
atau N (SNP/CNL).

b. Cross Plot Rxo terhadap Rt


1. Buat tabel : Kedalaman, Rt, Rxo
Baca sebanyak mungkin harga-harga tersebut pada daerah air paling sedikit 3 (tiga) posisi
kedalaman; selanjutnya baca pula pada lapisan prospek.

2. Pada kertas grafik log-log (contoh Gambar 1) tempatkan Rxo di sumbu tegak dan Rt di sumbu
mendatar. Plot pasangan Rt dan Rxo lapisan air dan tarik garis lurus dengan kemiringan 1
(45) melewati sebanyak mungkin titik dengan resistivitas kecil (paling sedikit 2 buah titik).
Ini adalah garis saturasi Sw = 100%.

3. Garis saturasi Sw = 50% dibuat sebagai berikut:


R
Tentukan harga xo , diperoleh pada sumbu tegak bila Rt = 1.
Rt max

R xo Rmf R R xo
Dari = (S w )58 , diisi mf = R xo dari aquifer, dan (S w )5 8 = 0.35 , didapat
Rt Rw Rw Rt Rt

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 15
INTERPRETASI LOGGING SUMUR DI Halaman : 5 / 21
LOKASI UNTUK MENGHITUNG SATURASI Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

(QUICK LOOK)

Pilih sembarang Rt untuk menempatkan Rxo pasangannya. Dari titik ini dibuat garis saturasi
Sw = 50% sejajar garis pada langkah 2. Cara analog dapat dikerjakan untuk saturasi Sw = 25%

dengan (S w )
5
8 = 0.075 , dan seterusnya.

4. Plot pasangan harga Rxo dan Rt lapisan prospek pada pola langkah 3.
Dari letak titik tersebut dapat diperkirakan saturasi lapisan tersebut.

3. 2. METODE PEMBACAAN LANGSUNG DENGAN MISTAR KHUSUS


1. Apabila kurva resistivity, baik microresistivity (microlaterolog, proximity log atau micro SLF)
maupun Induction Log atau Laterolog, direkam pada skala log seperti Gambar 2, pilihlah
lapisan air dan tempatkan mistar eksponen 1 pada Gambar 3 dengan indeks 1 pada kurva
resistivity jangkauan dalam (Induction Log atau Laterolog), sedang perpotongan mistar dengan
Rmf
resistivity mikro menunjukkan harga ; catat harga dan spasinya.
Rw

2. Pilih lapisan prospek, tempatkan mistar eksponen 5/8 seperti pada Gambar 4 dengan indeks 1
pada resistivity jangkauan dalam, kemudian geserlah mistar ke kanan sepanjang selang yang
Rmf
jaraknya sama dengan jarak dari indeks 1 ke harga pada langkah 1.
Rw

Bacalah harga Sw pada perpotongan mistar dengan kurva resistivitas mikro.

3. 3. METODE GRAFIS
a. Nomograph
1. Tentukan Rw pada temperatur formasi (PF 06) dan (PF 03)
2. Gunakan nomograph Gambar SW-1: tarik garis dari titik Rw pada sumbu Rw melalui titik
pada sumbu (atau FR) hingga memotong sumbu Ro (yang menyatakan harga Ro = FR =Rw).
3. Tentukan harga Rt (PF 07). Tarik garis dari Ro pada langkah 2, melalui Rt pada sumbu Rt

Ro
hingga memotong sumbu Sw yang menyatakan harga S w = .
Rt

b. Metode Perbandingan (Ratio Method)


- Untuk batuan pasir bersih (clean sand):

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 15
INTERPRETASI LOGGING SUMUR DI Halaman : 6 / 21
LOKASI UNTUK MENGHITUNG SATURASI Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

(QUICK LOOK)

1. Tentukan harga Rxo (PF 08) dan Rt (PF 07), serta Rmf dan Rw (PF 06)
Rxo Rmf
2. Gunakan grafik Gambar SW-2 : hitung , tempatkan pada sumbu tegak; hitung ,
Rt Rw

R Rmf
tempatkan pada sumbu mendatar untuk mendapatkan titik A xo , ; dari titik

Rt Rw
tersebut tarik garis sejajar dengan garis diagonal Sw yang ada hingga memotong pinggiran
Gambar sebelah kanan, selanjutnya dari titik pada pinggiran gambar ini ditarik garis
mendatar hingga memotong garis tegak yang menyatakan pilihan harga Sor (yang
diperkirakan dari kebiasaan yang umum dipakai pada lapangan tersebut); harga Sw dapat
diperkirakan dengan interpolasi kurva Sw yang ada.

- Untuk batuan pasir lempung (shally sand):


1. Gunakan grafik Gambar SW-2:
Tempatkan harga SP pada absis paling bawah, ikuti alur yang ada hingga memotong garis
temperatur lapisan atau harga K yang bersangkutan (kalau diketahui); dari perpotongan ini
R
tarik ke atas hingga mendapatkan titik B SP, xo . Selanjutnya tempatkan SSP pada
Rt

absis paling bawah dan ikuti kembali alur yang ada hingga memotong garis temperatur
atau K, kemudian ditarik ke atas hingga berpotongan dengan garis baru yang ditarik dari
titik (1, 1) melalui titik B yang telah diperoleh di atas, ini akan memberikan titik C yang
Rxo
menunjukkan harga yang telah dikoreksi terhadap kandungan lempung (shaliness)
Rt

yang dapat dibaca pada sumbu tegak.


Tarik garis mendatar dari titik C hingga memotong garis tegak yang ditarik dari Rmf, ini
menunjukkan titik C yang dapat dipakai untuk memperkirakan interpolasi harga Sw dari
garis diagonal yang telah berskala. Bila diketahui Sor, langkah kerja terakhir bagi batuan
pasir bersih (clean sand) tersebut diatas dapat diterapkan disini.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 15
INTERPRETASI LOGGING SUMUR DI Halaman : 7 / 21
LOKASI UNTUK MENGHITUNG SATURASI Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

(QUICK LOOK)

4. DAFTAR PUSTAKA
1. Desbrandes, R., Borehole Logging, Technip., 1982
2. Schlumberger, Well Evaluation Conference, 1973
3. Schlumberger, Log Interpretation Charts, 1986.
4. John T. Dewan, Essentials of Modern Open Hole Log Interpretation, Pennwell books Penwell
Publishing Co. Tulsa, Oklahoma, 1983.
5. Schlumberger, Log Interpretation Charts , 1997
6. Adi Harsono, Evaluasi Formasi dan Aplikasi Log - Edisi 8, 1997

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 15
INTERPRETASI LOGGING SUMUR DI Halaman : 8 / 21
LOKASI UNTUK MENGHITUNG SATURASI Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

(QUICK LOOK)

5. DAFTAR SIMBOL
= porositas
N = porositas dari log neuron
mf = porositas terisi filtrat lumpur
b = bulk density
ma = matriks = matrix density
mf = densitas filtrat lumpur
t = Sonic interval transit time
tma = Sonic interval transit time untuk batuan matriks
F = Formation Resistivity Factor
Rmf = Resistivitas Filtrat Lumpur
Rt = Resistivitas lapisan sebenarnya
RW = Resistivitas air formasi
Rxo = Resistivitas flushed zone
SW = Saturasi air
Sxo = Saturasi air flushed zone

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 15
INTERPRETASI LOGGING SUMUR DI Halaman : 9 / 21
LOKASI UNTUK MENGHITUNG SATURASI Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

(QUICK LOOK)

6. LAMPIRAN
6.1. LATAR BELAKANG DAN RUMUS
6.1.1. Metode Cross Plot
1
a. Cross plot terhadap
Rt
Pada lapisan air, Sw = 100%
a Rw
Rt = F Rw =
2
1
Sehingga = a Rw (1)
Rt

Dari densitas diperoleh:


b = mf + (1 ) ma (2)

= ma ( ma mf )

= ma ( ma mf )
1
a RW (3)
Rt

1
Terbukti b merupakan fungsi linier dan bila Rt , diperoleh b = ma
Rt

Persamaan sejenis dapat diturunkan dengan t (sonic) dan N (SNP/CNL).


Penerapan formula ini untuk lapisan air memberikan garis perkiraan saturasi Sw = 100%.
Untuk lapisan yang mengandung hidrokarbon (Sw < 100%) diperoleh dari formula:
Rt
Rw = Sw
2

F
dimana F = fungsi ()
= fungsi (b) pada persamaan (2),
dengan asumsi mf = 1 dan ma diketahui.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 15
INTERPRETASI LOGGING SUMUR DI Halaman : 10 / 21
LOKASI UNTUK MENGHITUNG SATURASI Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

(QUICK LOOK)

b. Cross plot Rxo terhadap Rt:


2
R xo Rwf S w
= (4)
Rt Rw S xo
Sw
Pada lapisan air Sw = Sxo = 1, sehingga = 1 , juga pada lapisan hidrokarbon tidak
S xo

Sw
bergerak (non movable) S w = S xo , =1
S xo

Rmf
Dalam kedua hal tersebut R xo = Rt , dan hubungan antara Rxo dan Rt pada skala log
Rw

merupakan garis lurus dengan kemiringan 1 (45).


Sw
Pada lapisan yang mengandung hidrokarbon yang dapat bergerak (movable), <1
S xo
2
Rmf S
dan R xo = Rt w yang ternyata merupakan garis-garis yang sejajar dimana
Rw S xo
Rmf
serta Sw diketahui.
Rw

R xo Rmf
Formula yang dipakai : = (S w )8 5 (5)
Rt Rw

Rmf
Dimana dan Sw diketahui.
Rw

6.1.2. Metode Pembacaan Langsung dengan Mistar Khusus


Pada lapisan air
R xo Rmf Rmf
= ; berarti log Rt + log (6)
Rt Rw Rw

Rmf
Mistar khusus pada Gambar 3 dengan eksponen = 1 menunjukkan harga = 1 , maka
Rw

mistar khusus pada Gambar 4 menunjukkan harga Sw menurut persamaan (5). Apabila

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 15
INTERPRETASI LOGGING SUMUR DI Halaman : 11 / 21
LOKASI UNTUK MENGHITUNG SATURASI Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

(QUICK LOOK)

Rmf
1 , maka diperlukan koreksi dengan menggeser indeks pada mistar tersebut sejauh
Rw

Rmf
harga yang bersangkutan.
Rw

6.2. CONTOH PERHITUNGAN


6.2.1. Metode Cross Plot
1
a. Metode Cross Plot terhadap
Rt
Buatlah evaluasi saturasi suatu formasi pasir dari data log sebagai berikut:
No Kedalaman (kaki) Rt (-m) b (gr/cc) Catatan
1 2320 2.25 2.32
2 2291 1.22 2.16
3 2289 1.25 2.22
4 2287 1.18 2.30 lap. air
5 2252 1.25 2.17
6 2248 1.04 2.20 lap. air
7 2244 2.25 2.32
8 2186 0.90 2.20 lap. air
9 2180 2.02 2.28
10 2170 1.80 2.20
11 2163 1.55 2.26
12 2159 1.10 2.20 lap. air
13 2151 2.25 2.28
14 2144 6.80 2.39
15 2126 3.60 2.29
16 2124 4.20 2.22
17 2122 6.20 2.20
18 2109 175.00 2.12
19 2107 11.00 2.29
20 2105 55.00 2.16
21 2103 20.00 2.28
22 2081 120.00 2.15
23 2079 8.60 2.46
24 2076 300.00 2.11

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 15
INTERPRETASI LOGGING SUMUR DI Halaman : 12 / 21
LOKASI UNTUK MENGHITUNG SATURASI Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

(QUICK LOOK)

Jawab :
1. Tabel lihat di atas
2. Pilih pola Gambar Sw-15 untuk matrik batuan pasir (matrik = 2.65) dan formula
Humble :
0.62
F=
2.15
3. Dibuat plotting data lapisan air, dan tarik garis saturasi Sw = 100%
4. Untuk b =2.32, = 20% dan F = 20.
Rt = 2 -meter.
Rt 2
Dari Rw = diperoleh RW = = 0.1 meter
F 20
Rt
Rw = (S w )2
F

Untuk Sw = 50% 0.1 =


Rt 1
F 2
( )2

Rt
= 0.1 0.25 = 0.025
F
Bila diambil F = 20, pasangan Rt = 0.025 20 = 0.5
Tarik garis saturasi Sw = 50% dari sudut kiri bawah (ma) melalui titik (20.05) yaitu:
(F = 20, Rt = 0.5).
Untuk Sw = 25%, ditarik garis dari sudut kiri bawah melalui (F = 25, Rt = 40)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 15
INTERPRETASI LOGGING SUMUR DI Halaman : 13 / 21
LOKASI UNTUK MENGHITUNG SATURASI Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

(QUICK LOOK)

5. Rekapitulasi evaluasi ditunjukkan pada Gambar 5 dengan tabulasi pada Tabel 1.


Tabel 1
Rekapitulasi hasil perhitungan
No Kedalaman (kaki) Rt (-m) b (gr/cc) Catatan Saturasi
1 2320 2.25 2.32 95
2 2291 1.22 2.16 90
3 2289 1.25 2.22 95
4 2287 1.18 2.30 lap. air 100
5 2252 1.25 2.17 90
6 2248 1.04 2.20 lap. air 100
7 2244 2.25 2.32 95
8 2186 0.90 2.20 lap. air 100
9 2180 2.02 2.28 90
10 2170 1.80 2.20 70
11 2163 1.55 2.26 95
12 2159 1.10 2.20 lap. air 100
13 2151 2.25 2.28 80
14 2144 6.80 2.39 70
15 2126 3.60 2.29 70
16 2124 4.20 2.22 50
17 2122 6.20 2.20 40
18 2109 175.00 2.12 15
19 2107 11.00 2.29 35
20 2105 55.00 2.16 20
21 2103 20.00 2.28 25
22 2081 120.00 2.15 20
23 2079 8.60 2.46 80
24 2076 300.00 2.11 15

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 15
INTERPRETASI LOGGING SUMUR DI Halaman : 14 / 21
LOKASI UNTUK MENGHITUNG SATURASI Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

(QUICK LOOK)

b. Metode Cross Plot Rxo terhadap Rt


Buatlah evaluasi saturasi data logging berikut :
No Kedalaman Rxo (-m) Rt (-m) Catatan
1 3330 4.80 50.00
2 3300 6.80 25.00
3 3290 10.00 50.00
4 3250 2.60 32.00
5 3240 2.20 12.00
6 3230 40.00 23.00
7 3220 5.50 20.00
8 3214 1.80 12.00
9 3210 16.00 62.00
10 3200 1.85 2.10
11 3185 1.55 2.20
12 3180 4.00 1.80 lap. air
13 3170 1.50 0.43 lap. air
14 3166 1.50 0.65 lap. air
15 3162 4.00 1.60 lap. air
16 3160 1.50 0.55 lap. air

Jawab :
1. Dibuat tabel seperti pada data
2. Plot Rxo terhadap Rt skala grafik log-log dinyatakan pada Gambar 1. Garis saturasi Sw
= 100% diperoleh dengan membuat garis lurus dengan kemiringan 1 (45) melalui
titik-titik 12, 13, 14, 15, dan 16.
R
3. xo diperoleh sebesar 2.85 pada Rt = 1.
Rt max

R xo Rmf
(S w ) 5
8
=
Rt Rw
R xo
= 2.85 0.35 = 0.9975 1
Rt

Garis saturasi Sw = 50% pada Rxo = Rt


R xo
Garis saturasi Sw = 25% = 2.85 0.075 = 0.9975 1
Rt

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 15
INTERPRETASI LOGGING SUMUR DI Halaman : 15 / 21
LOKASI UNTUK MENGHITUNG SATURASI Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

(QUICK LOOK)

atau Rxo = 0,075 Rt

4. Rekapitulasi evaluasi dinyatakan pada Gambar 6, dengan tabulasi pada Tabel 2.

Tabel 2.
Rekapitulasi hasil perhitungan
No Kedalaman Rxo (-m) Rt (-m) Catatan Sw (%)
1 3330 4.80 50.00 12
2 3300 6.80 25.00 22
3 3290 10.00 50.00 20
4 3250 2.60 32.00 10
5 3240 2.20 12.00 20
6 3230 40.00 23.00 70
7 3220 5.50 20.00 22
8 3214 1.80 12.00 18
9 3210 16.00 62.00 22
10 3200 1.85 2.10 49
11 3185 1.55 2.20 47
12 3180 4.00 1.80 lap. air 100
13 3170 1.50 0.43 lap. air 100
14 3166 1.50 0.65 lap. air 100
15 3162 4.00 1.60 lap. air 100
16 3160 1.50 0.55 lap. air 100

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 15
INTERPRETASI LOGGING SUMUR DI Halaman : 16 / 21
LOKASI UNTUK MENGHITUNG SATURASI Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

(QUICK LOOK)

6.3. GAMBAR YANG DIGUNAKAN

Gambar 1. Contoh grafik log-log

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 15
INTERPRETASI LOGGING SUMUR DI Halaman : 17 / 21
LOKASI UNTUK MENGHITUNG SATURASI Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

(QUICK LOOK)

Gambar 2. Rekaman Log pada skala Logaritmik

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 15
INTERPRETASI LOGGING SUMUR DI Halaman : 18 / 21
LOKASI UNTUK MENGHITUNG SATURASI Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

(QUICK LOOK)

Gambar 3. Mistar untuk problema pembagian biasa

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 15
INTERPRETASI LOGGING SUMUR DI Halaman : 19 / 21
LOKASI UNTUK MENGHITUNG SATURASI Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

(QUICK LOOK)

Gambar 4. Mistar untuk pembagian dengan pangkat 5/8

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 15
INTERPRETASI LOGGING SUMUR DI Halaman : 20 / 21
LOKASI UNTUK MENGHITUNG SATURASI Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

(QUICK LOOK)

1
Gambar 5. Rekapitulasi contoh metode cross plot terhadap
Rt

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 15
INTERPRETASI LOGGING SUMUR DI Halaman : 21 / 21
LOKASI UNTUK MENGHITUNG SATURASI Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

(QUICK LOOK)

Gambar 6. Rekapitulasi contoh metode cross plot Rxo terhadap Rt

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 16

PERSAMAAN PENENTUAN LITOLOGI Halaman : 1 / 17


Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Sebagai penutup modul modul yang dilengkapi perangkat lunak pendukung, modul ini dimaksudkan
sebagai interpretasi lanjut ( advanced ) yang mensyaratkan bukan saja bahwa langkah langkah interpretasi
lebih sederhana telah dilakukan, tetapi juga bahwa data tambahan dan informasi dari sumber lain cukup
memadai.

1. UMUM
Logging merupakan sumber utama data bawah permukaan bagi data-data reservoir. Disamping
kegunaannya untuk pengambilan keputusan dalam komplesi, juga berguna untuk pemetaan dan
identifikasi litologi. Teknik-teknik yang akan dijelaskan berikut ini, terutama berguna bila tidak
tersedia data litologi dari core dan sampel.

2. KOMBINASI LOG GAMMA RAY NEUTRON - DENSITY


Log gamma ray mengukur radiasi alami yang berasal dari formasi dan berfungsi utama sebagai log
litologi. Log ini membantu membedakan shale (radioaktif tinggi) dengan pasir, karbonat dan anhidrit
(radioaktif rendah). Log neutron merupakan peralatan resistivity yang digunakan untuk mengukur
jumlah hidrogen dalam formasi, sedangkan log density digunakan untuk mengukur densitas neutron.
Bila ketiga alat ini digunakan bersama-sama (kombinasi log Gamma Ray Neutron-Density), litologi
dapat ditentukan. Gambar 1 adalah ilustrasi skematik dari respon log Gamma Ray Neutron-Density
terhadap jenis batuan.
Gambar 1 adalah contoh log Gamma Ray Neutron-Density melalui Ordovician Stony Mountain Shale
dan formasi Red River di Richland County, Montana. Pada log ini dapat dilihat bahwa jenis batuan
akan terkait dengan respon log. Gambar tersebut juga menunjukkan perubahan pada respon log dari
batuan yang terisi minyak atau air dengan batuan yang terisi oleh gas.
Sebagai metode quick look, dimana terdapat hanya beberapa litologi, cara ini dapat menentukan
litologi dan memetakan fasies secara kasar. Tetapi, bila litologi telah mulai kompleks, diperlukan
peralatan dan teknik logging yang lebih sesuai, misalnya plot M-N dan MID.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 16

PERSAMAAN PENENTUAN LITOLOGI Halaman : 2 / 17


Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 1. Contoh Penentuan Litologi dengan


Kombinasi Log Gamma Ray Neutron-Density

3. PLOT LITOLOGI M - N
Plot M-N membutuhkan log sonik yang digabungkan dengan log neutron dan density. Log sonik
adalah log porosity yang mengukur interval transit time. Interval transit time (t ) ini adalah
kecepatan yang dibutuhkan oleh gelombang suara kompresional untuk melewati satu feet formasi
bolak-balik. Log sonik, neutron dan density penting artinya untuk memperkirakan variable M dan N.
Nilai M dan N tidak bergantung pada porositas matriks (sucrosic dan intergranular). Plot silang dari
kedua variabel ini akan menghasilkan litologi yang lebih baik. Nilai M dan N dihitung dengan
menggunakan persamaan:
t f t
M = 0.01
b f
Nf N
N=
b f
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 16

PERSAMAAN PENENTUAN LITOLOGI Halaman : 3 / 17


Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

dimana :
t f = waktu interval transit dari fluida (189 untuk fresh mud dan 185 untuk salt mud)

t = waktu interval transit dari log


t = densitas fluida (1.0 untuk fresh mud dan 1.1 untuk salt mud)
b = densitas bulk formasi
N = porositas neutron formasi dari log Compensated Neutron atau log Sidewall Neutron Porosity
Nf = porositas neutron fluida (gunakan 1.0)

Bila digunakan parameter matriks t ma , ma , Nma (pada Tabel 1), maka nilai M dan N dapat

ditentukan untuk berbagai jenis mineral (Tabel 2)

Tabel 1. Koefisien Matriks Batuan dan Fluida untuk Beberapa Mineral dan Tipe Porositas
(Lubang Bor Terisi Cairan).
t ma ma ( SNP )ma (CLN )ma
Sandstone (1) ( Vma =18,000) >10% 55.5 2.65 -0.035* -0.05*

Sandstone (2) ( Vma =19,500) >10% 51.2 2.65 -0.035 -0.005

Limestone 47.5 2.71 0.0 0.0


Dolomite (1) ( = 5.5 hingga 30%) 43.5 2.87 0.035* 0.085*

Dolomite (2) ( = 1.5% - 5.5% & > 30%) 43.5 2.87 0.02* 0.065*

Dolomite (3) ( = 0.0 - 1.5) 43.2 2.87 0.005* 0.04*


Anhydrite 50.0 2.98 -0.005 -0.002
Gypsum 52.0 2.35 0.49**
Salt 67.0 2.03 0.04 -0.01
* Nilai rata-rata ** Berdasarkan pada perhitungan indeks hidrogen

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 16

PERSAMAAN PENENTUAN LITOLOGI Halaman : 4 / 17


Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Tabel 2. Nilai Konstanta M dan N, untuk Mineral Umum


Fresh Mud ( = 1) Salt Mud ( = 1.1)

M N M N
Sandstone (1) ( Vma =18,000) >10% .810 .628 .835 .669

Sandstone (2) ( Vma =19,500) >10% .835 .628 .862 .669

Limestone .827 .585 .854 .621


Dolomite (1) ( = 5.5 hingga 30%) .778 .516 .800 .544

Dolomite (2) ( = 1.5% - 5.5% & > 30%) .778 .524 .800 .554

Dolomite (3) ( = 0.0 - 1.5) .778 .532 .800 .561


Anhydrite .702 .505 .718 .532
Gypsum 1.015 .378 1.064 .408
Salt 1.269 1.032

Gambar 2 adalah contoh plot data dari Ordovician Red River zona C di Alpar Resources Federal 1-10,
Richland Montana, pada kedalaman 11,870 11,900 feet. Pada track #2 dan #3, log neutron
ditunjukkan dengan garis putus-putus dan log density ditunjukkan oleh garis menerus. Data dari
interval ini, digabungkan di dalam segitiga litologi M N . Litologi ini diperoleh dari mineral
bagian sudut : anhydrite, dolomite dan limestone. Pada Gambar 3, litologinya adalah anhydritic limey
dolomite. Perhatikan bahwa dua titik data di atas garis dolomite-limestone, mengindikasikan adanya
porositas kedua (secondary porosity) dari vug dan/atau fracture.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 16

PERSAMAAN PENENTUAN LITOLOGI Halaman : 5 / 17


Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 2. Contoh Kombinasi Gamma Ray Log Neutron-Density, Menunjukkan Litologi

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 16

PERSAMAAN PENENTUAN LITOLOGI Halaman : 6 / 17


Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 3. Contoh Plot Silang M-N dari Data pada Gambar 2


pada Interval 11,870 11,900

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 16

PERSAMAAN PENENTUAN LITOLOGI Halaman : 7 / 17


Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

4. PLOT LITOLOGI MID


Seperti halnya plot M-N, plot MID (Matrix Identification) adalah sebuah teknik plot silang yang
membantu mengidentifikasikan litologi, gas dan secondary porosity. Plot MID ini juga membutuhkan
data dari log neutron, density dan sonic.
Langkah pertama dalam membuat plot MID adalah menentukan nilai dari porositas total apparent,
ta , dengan menggunakan log neutron-density yang bersesuaian dan ditentukan secara empiris dengan
menggunakan plot silang neutron-sonic (chart CP-1 dan CP-2 Schlumberger, lihat PF 03) . Untuk
plotting data diatas kurva sandstone pada chart-chart tersebut, porositas total apparent didefinisikan
dengan proyeksi vertikal ke kurva sandstone.
Selanjutnya, hitung waktu interval transit, t maa dan densitas batuan apparent, maa :

b ta f
maa =
1 ta
t ta t f
t maa = , time average relationship
1 ta
t ta t f
t maa = , field-observed relationship
c
dimana :
b = densitas batuan dari log density

t = waktu interval transit dari log sonic


f = densitas fluida dalam pori

tf = waktu transit fluida dalam pori

ta = porositas totoal apparent

c = konstanta (c 0.68) .

Porositas total apparent biasanya tidak sama untuk setiap persamaan. Untuk digunakan dalam
persamaan t maa , nilainya ditentukan dari plot silang neutron-sonic (Chart CP-2). Untuk penggunaan

dalam maa , nilai porositas total apparent ditentukan dari plot silang neutron-density (Chart CP-1).

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 16

PERSAMAAN PENENTUAN LITOLOGI Halaman : 8 / 17


Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Chart CP-14 (Gambar 4, lihat PF 04) dapat digunakan untuk memperoleh nilai maa secara grafis dan

untuk memperoleh nilai t maa menggunakan hubungan waktu transit terhadap porositas berdasarkan

pengamatan di lapangan. Bagian kanan atas dari chart digunakan untuk menentukan waktu interval
transit batuan, t maa . Bagian kiri bawah, untuk menentukan densitas apparent batuan, maa .

Gambar 4. Penentuan Parameter Matriks Apparent dari Densitas Bulk


atau Waktu Interval Transit dan Total Porositas Apparent. Densitas Fluida = 1 (CP-14).

Plot silang dari waktu interval transit batuan dan densitas apparent batuan pada plot MID akan
mengidentifikasikan mineralogi batuan berdasarkan kedekatannya pada titik-titik pada plot yang telah
di beri label. Pada chart CP-15, mineral matriks yang umum dijumpai (quatrz, calcite, dolomite,
anhydrite) telah diplot di dalamnya, seperti pada Gambar 5. Gabungan mineral akan di plot pada
lokasi diantara mineral-mineral murni yang saling bercampur. Kecenderungan litologi dapat dilihat
dengan melakukan plot pada banyak level pada suatu zona dan melihat kecenderungan
mengumpulnya titik-titik mineral pada chart.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 16

PERSAMAAN PENENTUAN LITOLOGI Halaman : 9 / 17


Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Kehadiran gas menggeser titik yang telah diplot ke arah kanan atas plot MID. Adanya secondary
porosity akan menggeser titik ke arah berkurangnya nilai t maa , yaitu ke arah kiri. Untuk log SNP,

shale biasanya diplot pada bagian sebelah kanan anhydrite pada plot MID. Untuk log CNL, shale
biasanya diplot pada bagian atas daerah titik anhydrite. Plot sulfur berada diluar plot, pada
t maa 122 dan maa 2.02 . Arah dari titik sulfur dari grup quartz, calcite, dolomite, anhydrite, kira-
kira searah dengan pergeseran akibat kehadiran gas. Gipsum di plot pada bagian kiri bawah plot MID.

Gambar 5. Plot MID (Matrix Identification)

Konsep plot MID ini serupa dengan plot M-N. Sebagai alternatif menghitung nilai M dan N, nilai
maa dan t maa dapat ditentukan dengan menggunakan chart (Chart CP-14). Untuk memperoleh hasil
yang lebih akurat, pembacaan log harus disesuaikan dan dikoreksi terhadap pengaruh lubang bor, dan
lainnya.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 16

PERSAMAAN PENENTUAN LITOLOGI Halaman : 10 / 17


Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

5. PLOT MID maa vs U maa

Teknik plot silang lain yang digunakan untuk mengidentifikasikan litologi adalah dengan
menggunakan data dari log Litho-Density. Plot ini menyilangkan matrix grain density, maa , dan

apparent matrix volumetric cross section, U maa (dalam satuan barns per sentimeter kubik). Apparent

matrix grain density diperoleh dari dengan cara seperti telah dibahas pada bagian plot MID. Chart CP-
1 dan CP-14 digunakan untuk penentuan ini. Apparent matrix volumetric cross section dihitung dari
indeks photoelectric cross section dan pengukuran densitas bulk
Pe e ta U f
U maa =
1 ta
dimana
Pe = indeks photoelectric absorption cross section

b + 0.1883
e = densitas elektron e =
1.0704
ta = porositas total apparent

Porositas total apparent dapat diestimasikan dari plot silang density-neutron, bila formasi terisi fluida.
Chart CP-20 digunakan untuk memperoleh hasil U maa secara grafis.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 16

PERSAMAAN PENENTUAN LITOLOGI Halaman : 11 / 17


Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 6. Plot Matrix Identification; maa vs U maa (CP-20).

Tabel 3 adalah daftar indeks photoelectric absorption cross section, densitas bulk dan volumetric cross
section untuk mineral dan fluida yang umum. Untuk mineral, nilai daftar adalah matrix value
( ma , U ma ) ; untuk fluida, daftarnya adalah ( f , U f ) . Chart-21 menunjukkan lokasi mineral-mineral
pada plot silang maa vs U maa . Segitiga menunjukkan tiga buah matriks yang umum, yaitu quartz,

calcite dan dolomite, yang diskalakan berdasarkan persentasi mineral tersebut. Sebagai contoh, titik
yang berada pada apparent matrix grain density 2.76 gr/cm2 dan volumetric cross section 10.2
barns/cm3, pada plot silang didefinisikan sebagai 40% calcite, 40% dolomite dan 20% quartz,
sehingga tidak terdapat mineral lain dan pori-pori terisi fluida.

Pada plot silang ini, saturasi gas menggeser titik ke arah atas chart dan mineral berat menggeser titik
ke arah kanan. Plot clay dan shale berada dibagian bawah titik dolomite.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 16

PERSAMAAN PENENTUAN LITOLOGI Halaman : 12 / 17


Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Tabel 3. Indeks Photoelectric Absorption Cross Section, Densitas Bulk


dan Volumetric Cross Section untuk Mineral dan Fluida yang Umum
Pe Sp.gr bLOG U
Quartz 1.810 2.65 2.64 4.780
Calcite 5.080 2.71 2.71 13.800
Dolomite 3.140 2.85 2.85 9.000
Anhydrite 5.050 2.96 2.98 14.900
Halite 4.650 2.17 2.04 9.680
Siderite 14.700 3.94 3.89 55.900
Pyrite 17.000 5.00 4.99 82.100
Barite 267.000 4.48 4.09 1065.000
Water (fresh) 0.358 1.00 1.00 0.398
Water (100K ppm NaCl) 0.734 1.06 1.05 0.850
Water (200K ppm NaCl) 1.120 1.12 1.11 1.360

Oil (n(CH2)) 0.119 o 1.22 o -0.118 0.136 g

Gas (CH4) 0.095 g 1.33 g -0.188 0.119 g

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 16

PERSAMAAN PENENTUAN LITOLOGI Halaman : 13 / 17


Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 7. Plot Matrix Identification

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 16

PERSAMAAN PENENTUAN LITOLOGI Halaman : 14 / 17


Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

6. PENENTUAN TIPE BATUAN DAN PEMETAAN FASIES


Untuk memperoleh hubungan antara respon dari log dan fasies karbonat, maka dilakukan analisa
bawah permukaan terhadap batuan karbonat. Dalam hal ini Pickett (1977), Asquith (1979), dan
Watney (1979; 1980) menggunakan crossplot untuk mengidentifikasi hubungan antara kedua hal
tersebut. Tabel 4 memperlihatkan daftar crossplot yang dipergunakan.

Tabel 4. Plot Silang Pengidentikasian Tipe Batuan Karbonat


(after Pickett, 1977; Asquith, 1979; and Watney, 1979 and 1980).
t (interval transit time) vs. N (neutron porosity)

b (bulk density) vs. N (neutron porosity)


b (bulk density) vs. t (interval transit time)
Rt (deep resistivity) vs. N (neutron porosity)

GR (gamma ray) vs. N (neutron porosity)

Rt (deep resistivity) vs. s (sonic porosity)


Watney (1979 dan 1980) juga menggunakan log neutron dengan satuan hitungan/detik

Sekarang ini, crossplot digunakan untuk memperlihatkan hubungan log vs litologi hanya bila tersedia
data petrografi dari core dan cutting sumur yang telah dipilih. Analisa ini sangat dibutuhkan untuk
menampilan tipe batuan.
Saat akan menampilan hubungan log/litologi, respon log dari sumur kontrol di-crossplot, kemudian
area yang memperlihatkan kelompok-kelompok tipe batuan di tandai (Gambar 8) pada crossplot.
Akhirnya, respon log dari sumur tanpa core ataupun cutting ditambahkan pada crossplot. Tipe batuan
karbonat dan lingkungan pengendapan sumur dapat ditentukan dari pengelompokan crossplot tanpa
analisa petrografi (Gambar 8)
Pada Gambar 8, titik-titik hitam mewakili data sumur dimana dipergunakan analisa petrografi untuk
menentukan tipe batuan karbonat dan lingkungan pengendapan. Titik-titik lainnya mewakili data
sumur tanpa analisa petrografi, dan keberadaan titik-titik ini memperlihatkan tipe batuan dan
lingkungan pengendapan dari sumur.
Gambar 9 adalah hasil crossplot antara deep resistivity (Rt ) dan sonic porosity ( s ) yang melalui

Lower Permian, B-zone Council Grove di Ochiltree County, Texas. Kelompok untuk ketiga tipe
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 16

PERSAMAAN PENENTUAN LITOLOGI Halaman : 15 / 17


Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

batuan karbonat (oolite grainstone, oolitic wackestone, dan argillaceous bioclastic wackestone)
terindikasi dari analisa petrografi dari core dan cutting (titik putih). Titik hitam menunjukkan
mewakili data sumur yang hanya menggunakan kontrol log. Gambar 10 adalah peta fasies dari zona-B
Council Grove berdasarkan persentasi distribusi dari ketiga tipe batuan karbonat yang diperlihatkan
oleh crossplot antara resistivity dan sonic porosity (Gambar 9).
Keuntungan penggunaan teknik crossplot log ini adalah kemampuan untuk memaksimalkan informasi
yang tersedia. Core dan cutting dapat diperoleh tanpa harus menganalisa seluruh sumur. Hal ini akan
sangat penting dalam hal pemetaan fasies bawah permukaan karena sulitnya memperoleh core dan
cutting dari setiap sumur dalam satu area. Selain itu, kita dapat menghemat banyak waktu karena
analisa petrografi dai setiap sumur tidak begitu penting.
Bagaimanapun, perlu ditekankan bahwa analisa petrografi terhadap core dan cutting dari sumur
kontrol adalah langkah pertama untuk memperlihatkan kegunaan dari pengelompokan tipe batuan
pada crossplot

Gambar 8. Contoh Plot Silang dari Log Formation Resistivity


( Rt , dalam contoh ini menggunakan Laterolog) vs Neutron Porosity ( N )

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 16

PERSAMAAN PENENTUAN LITOLOGI Halaman : 16 / 17


Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 9. Contoh Plot Silang dari Log Formation Resistivity ( Rt ,

dalam contoh ini menggunakan Deep Induction) vs Sonic Porosity ( s )

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 16

PERSAMAAN PENENTUAN LITOLOGI Halaman : 17 / 17


Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 10. Contoh Peta Fasies dari Lower Permian Council Crove B-zone, Ochiltree County, Texas.
Dibuat dari Plot Silang Data Gambar 9, after Asquith (1979).

7. DAFTAR PUSTAKA
1. George Asquith with Charles Gibson, "AAPG Methods in Exploration Series Number 3 - Basic
Well Log Analysis for Geologist", The American Assiciation of Petrolum Geologists, 1982
2. Schlumberger, Log Interpretation Charts, 1997
3. Schlumberger, "Log Interpretation Principles/Applications, 1989

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 17
Halaman :1/8
Hydraulic Flow Unit Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

1. Pendahuluan

Reservoir yang homogen sebetulnya suatu perkecualian atau asumsi saja, karena pada kenyataannya
hampir setiap reservoir isinya heterogen dan dapat dibagi menjadi lapisan lapisan yang masing
masing homogen (paling tidak dari sudut pandang operasional).

Karakterisasi reservoir umumnya merupakan hasil kerja bersama antara ahli geologi dan reservoir.
Kriteria pembagian atau pemilahan lapisan oleh ahli geologi biasanya didasarkan pada pengenalan
facies yang mengidentifikasi batuan berdasarkan genesanya. Seringkali unit genesa yang
didefinisikan oleh ahli geologi ini pas dengan kebutuhan operasional bagi ahli reservoir karena batas
batas nya bersesuaian dengan perubahan drastis kelakuan hydrauliknya. Meskipun demikian hal ini
tidak selalu terjadi sehingga diperlukan penajaman perhatian pada kelakuan hydraulik yang lebih
rinci.

Perlunya pemisahan pendekatan geologi dan engineering ini sudah dirasakan sekitar tahun 1980-an
sejak konsep hydraulic flow unit diperkenalkan. Flow unit didefinisikan sebagai suatu zona
reservoir yang memiliki kemenerusan lateral, dimana didalamnya terkandung sifat geologi tentang
aliran fluidanya konsisten dan berbeda dengan unit sekitarnya.

Pada dasarnya yang memberi ciri aliran fluida pada batuan adalah besarnya pore-throat. Dengan
demikian lebih spesifik lagi flow unit dapat diartikan sebagai zona yang didominasi oleh jari-jari
pore-throat yang relatif serba sama, sehingga menunjukkan kelakuan aliran fluida yang konsisten.

Mestinya flow unit dapat dicirikan dari kurva tekanan kapiler yang diukur pada contoh batuan inti
atau pendekatan (approximation) rasio permeabilitas / porositas pada batuan non-granular.

Pada bagian reservoir yang airnya tidak ikut terproduksi (water-free reservoir zone), penentuan flow
unit dapat juga didasarkan pada perubahan drastis saturasi air irreducible yang mencerminkan
perubahan drastis ukuran pore-throat-nya.

Karena jarang tersedianya pengukuran tekanan kapiler dan data pore-throat, maka pemilahan flow
unit seringkali didasarkan pada log talikawat (wireline logs).

Kandungan shale yang diukur dari log sinar Gamma atau log lain yang sensitif terhadap keberadaan
shale umum dipakai sebagai panduan pada reservoir klastik, tetapi menjadi kurang berperan pada
reservoir karbonat. Untuk itu biasanya faktor photoelectric dapat dipakai untuk memerikan unit
limestone dan dolomit yang menjadi tumpuan pemilahan flow unit.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 17
Halaman :2/8
Hydraulic Flow Unit Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

2. Metode dan Persyaratan

2.1. Metode

Persamaan Modifikasi Kozeny-Carmen dan Konsep Radius Hidrolik Rata-rata (Mean Hydraulic
Radius)

2.2. Persyaratan

Data core dan data log

3. Langkah Kerja dan Aplikasi

3.1. Langkah Kerja

3.1.1. Siapkan data permeabilitas (k), porositas (), tekanan kapiler (Pc) dan mineralogi

3.1.2. Periksa harga permeabilitas dan porositas dengan persamaan:

3.1.3. Konversi harga kair ke k

k = A k air

3.1.4. Konversi harga t ke C

e = t C
e = t (1 S wi )

3.1.5. Konversi data ambient stress ke in-situ stress

k z RQI
Y= = =
k i zi RQI i

i
Y = EXP bs 1 EXP
c

dimana b = stress sensitivity factor

3.1.6. Lakukan perhitungan terhadap z, RQI, FZI dan R


z =
1

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 17
Halaman :3/8
Hydraulic Flow Unit Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

k
RQI = 0.314

RQI
FZI =
z

3
R =
(1 )2
3.1.7. Plot antara log RQI vs log Z, log k vs log R, log k/ vs log R

FZI = RQI @ z = 1

k @R = 1
FZI = 4
D

k
FZI = @z = 1

3.1.8. Tentukan jumlah unit yang mengerjakan aplikasi statistik berikut ini:

Histogram
Test for normality
Cluster analysis
Error analysis

3.1.9. Karakterisasi unit-unit hidrolik

Secara mineralogi dan secara tekstur


Sensitivitas tekanan
Pore throat geometry
Modified J-function

3.1.10. Tampilkan hubungan antara variabel diatas dengan FZI

3.1.11. Hitung k

e3
k = 1014(FZI )
2
(1 )2
e

3.1.12. Plot ulang log k vs


Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 17
Halaman :4/8
Hydraulic Flow Unit Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

3.2. Aplikasi

Aplikasi berikut ini adalah hasil eksekusi di Niger Delta, Afrika Barat.

Gambar 3.1 memperlihatkan plot log k vs untuk kumpulan data dari Niger Delta. Tujuh jenis
HFU ditampilkan bersama-sama dengan interval core dengan menggunakan teknik sebelumnya.
Seperti diteliti sebelumnya, hubungan permeabilitas-porositas di Niger Delta tidak linier dan
dapat diprediksi. FZI berkisar antara 0.3 sampai 11 pada daerah ini. Variasi FZI pada batuan
Niger Delta terlihat terkontrol secara mineralogi dan tekstur.

Gambar 3.1 Crosssplot antara Permeabilitas Klinkenberg dan porositas

Pada Gambar 3.2 mencakup karakteristik pori secara geometri dan mencerminkan pengaruh
atribut geologi (Gambar 3.3 sampai 3.5) pada kualitas HFU. Contohnya HFU 4 (FZI = 4.83)
yang berbutir-halus, well-rounded dan butir pasir terdistribusi dengan baik, dengan kandungan

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 17
Halaman :5/8
Hydraulic Flow Unit Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

lempung yang rendah (1% kaolonit) (Gambar 3.3), memiliki distribusi ukuran rongga pori
sebagai berikut: makro = 83%, meso = 2% dan mikro 15%. Sebagai pembandingnya, HFU 5
(FZI = 3.7) dengan distribusi ukuran pori makro = 68%, meso = 5%, dan mikro = 27%, yang
terdiri dari urutan yang terlapis-lapis, menyebar, dan berbutir halus, dengan kandungan lempung
5% kaolinit (Gambar 3.4). Kualitas HFU yang terburuk (FZI = 0.4), yang terdiri dari urutan
batu-pasir terlapis-lapis, berbutir halus, well-rounded, terdistribusi dengan baik, memiliki
kandungan lempung yang tinggi (12% kaolinit dan klorit) (Gambar 3.5) dan distribusi ukuran
rongga pori makro = 22%, meso 29%, dan mikro = 49%.

Gambar 3.2 Distribusi rata-rata ukuran rongga pori


untuk berbagai harga HFU

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 17
Halaman :6/8
Hydraulic Flow Unit Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 3.3 HFU 4, batu-pasir berbutir baik, Kandungan Lempung = 1%


(Niger Delta, Afrika Barat)

Gambar 3.4 HFU 5, batu-pasir berbutir halus, berlapis, butir tersebar, Lempung = 5%
(Niger Delta, Afrika Barat)

Gambar 3.5 HFU 6, batu-pasir berbutir halus, berlapis, Kandungan Lempung = 12%
(Niger Delta, Afrika Barat)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 17
Halaman :7/8
Hydraulic Flow Unit Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

4. Daftar Pustaka

1. J. O. Amaefule, M. Altunbay, D. Tiab, D. G. Kersey dan D. K. Keelan: Enhanced Reservoir


Description:Using Core and Log Data to Identify Hydraulic Flow Units and Predict Permeability
in Uncored Intervals/Wells, SPE 26436, 1993

2. Trikoranto, Herutama: The Use of Neural Networks, Seismic Attributes, and Hydraulic Flow
Unit Concept for Estimating Permeability:A Case Study, Dissertation, Texas A&M university,
August 2002

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 17
Halaman :8/8
Hydraulic Flow Unit Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

5. Daftar Simbol

bs = faktor sensitivitas tekanan

c = konstanta tekanan kritis (2000 4000 psi)

Fs = shape factor

Fs2 = konstanta Kozeny

k = permeabilitas (m2)

r = radius rongga pori (m)

rmh = mean hydraulic radius (m)

RQI = Reservoir Quality Index (m)

= tekanan overburden (psi)

i = tekanan overburden initial (psi)

Sgv = surface area per unit grain volume (m-1)

Sw = saturasi air (volume pori fraksional)

Swr = saturasi air irreducible (volume pori fraksional)

e = porositas efektif (fraksi volume bulk)

R = indeks porositas tereduksi

z = rasio volume pori terhadap butiran

= tortuosity

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 18
Halaman : 1/ 22
Borehole Image Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

1. TUJUAN

Borehole-image merupakan pendekatan yang dilakukan untuk menentukan net-pay pada lingkungan
pengendapan fluvial dan turbidit. Dengan adanya tampilan sedimentasi, maka akan dapat ditentukan
geometri reservoir yang paling penting dan parameter petrofisis reservoir. Interpretasi data
sedimentary dip dari gambar akan memberikan pengertian tentang struktur sedimentasi. Informasi
geologis dari FMI (Fullbore Formation MicroImager) akan memberikan model stokastik dari
distribusi batu-pasir serpih. OBMI (Oil-Base MicroImager) merupakan peralatan imaging yang
memperluas microresistivity imaging ke dalam lingkungan sistem lumpur yang tidak konduktif dan
invert-emulsion. UBI (Ultrasonic Borehole Imager) menampilkan transducer dengan resolusi tinggi
yang akan memberikan gambaran akustik yang pasti pada lubang-terbuka bahkan pada lumpur yang
oil-base.

2. METODE DAN PERSYARATAN

2.1. Metode

2.1.1. Fullbore Formation MicroImager (FMI)

2.1.2. Oil-Base MicroImager (OBMI)

2.1.3. Ultrasonic Borehole Imager (UBI)

2.2. Persyaratan

Rekaman log pada lubang terbuka (open hole)

3. APLIKASI

3.1. FMI (Fullbore Formation MicroImager)

3.1.1. Menentukan net pay


Penentuan zona batu-pasir dan serpih dengan menentukan cutoff pada log kurva resistivitas
rata-rata (pengukuran FMI). Pada Gambar 3.1, interval resistivitas 0.5 - 2.5 (ohm-m) adalah
serpih dan interval resistivitas 2.5 5.5 (ohm-m) adalah batu-pasir.
3.1.2. Interpretasi struktur sedimentasi
Interpretasi data dip image-derived sedimentary (Gambar 3.2) yang
memberikan pemahaman struktur lingkungan pengendapan.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 18
Halaman : 2/ 22
Borehole Image Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 3.1 Menentukan net pay

3.1.3. Interpretasi arah permeabilitas fracture (rekahan)


Prinsip azimuth stress diperoleh dari analisa image lubang sumur, menggambarkan arah
permeabilitas maksimum di dalam rekahan reservoir. Rekahan yang di set sejajar dengan
stress horizontal maksimum mendominasi arah permeabilitas rekahan. Stylolite yang
tampak hitam pada FMI log, dengan corak yang tidak beraturan di tengah image ke kanan
merupakan permeabilitas vertical barrier (Gambar 3.3).

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 18
Halaman : 3/ 22
Borehole Image Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 3.2 Interpretasi struktur sedimentasi

Gambar 3.3 Interpretasi arah permeabilitas fracture (rekahan)

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 18
Halaman : 4/ 22
Borehole Image Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

3.1.4. Interpretasi Struktur Geologi


Interpretasi perlapisan (bedding dip) untuk mendapatkan log ketebalan stratigrafi yang
akurat (Gambar 3.4).

Gambar 3.4 Interpretasi Struktur Geologi

3.2. OBMI (Oil-Base MicroImager)

3.2.1. Resolusi dip dan struktur yang sangat baik

Pada Gambar 3.5, dapat dilihat perbedaan tampilan antara OBMI dan OBDT (Oil-Base
Dipmeter Tool) log, dimana tampilan OBMI tampak sangat baik untuk dip yang rumit dan
terstruktur. Pada formasi batu-lempung yang mempunyai perbedaan resistivitas yang sangat

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 18
Halaman : 5/ 22
Borehole Image Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

kecil, dalam perhitungan dip biasanya akan ditemukan beberapa kesalahan sehingga perlu
dilakukan secara manual.

Gambar 3.5 Perbandingan tampilan OBMI dan OBDT log

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 18
Halaman : 6/ 22
Borehole Image Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

3.2.2. Perairan-dalam

Pada perairan-dalam, tampilan OBMI akan menghasilkan interval core yang akurat.
Perubahan core dip yang tiba-tiba, sebelumnya diperkirakan karena coring induced,
merupakan tampilan yang alami (Gambar 3.7). Dengan OBMI, analisa stratigrafi dapat
diperluas melalui interval core. Data OBMI Rxo (Gambar 3.6) terkorelasi dengan baik
dengan informasi ukuran-butir dati sidewall core. Hasil perhitungan selang produksi (net
pay) meningkat sebesar lebih dari 50 ft dibandingkan dengan analisa log yang
konvensional.

Gambar 3.6 Tampilan OBMI dan perhitungan Rxo secara kuantitatif

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 18
Halaman : 7/ 22
Borehole Image Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 3.7 Perubahan dip pada kedalaman XXX36.5 ft

3.2.3. Pengetahuan terhadap latar kompleks secara terstruktur

Pada Gambar 3.8 dapat dilihat tampilan pilot hole untuk sumur horizontal pada poorly-
bedded-reef-buildup. Pemboran lateral direncanakan mengikuti axis panjang dari reservoir
untuk memaksimalkan interval produksi. Dari OBMI, struktur dip dapat diungkapkan
dengan jelas (Gambar 3.9), menegaskan bahwa reservoir telah terpenetrasi pada lokasi yang
direncanakan. Tampilan ini juga menegaskan keberadaan ketegaklurusan rekahan terhadao
pemboran lateral yang telah direncanakan, dimana hal ini merupakan faktor kritis untuk
memaksimalisasi produktivitas.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 18
Halaman : 8/ 22
Borehole Image Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 3.8 Tampilan pilot hole untuk sumur horizontal pada


poorly- bedded-reef-buildup

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 18
Halaman : 9/ 22
Borehole Image Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 3.9 Dip struktur

3.3. UBI (Ultrasonic Borehole Imager)

3.3.1. Deteksi rekahan

Peralatan UBI sesuai untuk aplikasi dalam mendapatkan data televiewer pada lubang sumur
terbuka karena akan sangat dibutuhkan dalam evaluasi rekahan. UBI , bersama-sama
dengan plot cross-sectional, juga dapat mendeteksi shear-sliding yang berhubungan dengan
bidang rekahan, yang nantinya akan memberikan bukti kuat dari tekanan tektonik yang
tidak seimbang dan rekahan terbuka.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 18
Halaman : 10/ 22
Borehole Image Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

3.3.2. Peningkatan analisa rekahan pada oil-base mud

Instrumen OBMI disiapkan untuk analisa dip struktur dan analisa stratigrafi pada sistem
oil-base mud, serta mendeteksi rekahan, sementara UBI akan sangat berguna untuk
karakterisasi rekahan lebih lanjut. Karena oil-base mud mempunyai sifat resistivitas
terhadap listrik, rekahan-terbuka (open fracture) dan rekahan-tertutup (cemented fracture)
akan terlihat sama dalam tampilan OBMI. Dalam hal ini instrumen UBI akan sangat
membantu karena UBI hanya akan memberikan respon terhadap rekahan-terbuka.
Instrumen ini juga lebih sensitif dibandingkan OBMI untuk rekahan dengan dip yang
berubah tajam terhadap lubang bor.

3.3.3. Kestabilan lubang bor dan analisa tekanan

Masalah kestabilan lubang bor berhubungan dengan pipa terjepit, kehilangan waktu dan
juga kehilangan bagian dari sumur, yang pada akhirnya akan meningkatkan biaya
pemboran. Radius UBI dan analisa cross-sectional akan memberikan keterangan yang
akurat mengenai bentuk lubang bor, memberikan analisa masalah yang detil dan jelas.

3.3.4. Keyhole Wear

Pada sumur miring, pipa pemboran yang sedang berputar akan selalu menyentuh dinding
lubang pada saat perubahan kemiringan, dan menghasilkan bentuk keyhole. Gambar 3.10
adalah bentuk yang dimaksud. Pada Gambar 3.11, dapat dilihat tampilan cerah dan gelap,
dimana bagian yang gelap adalah bagian yang tersentuh dari lubang bor, atau arah K
pada Gambar 3.10. Plot cross-sectional dapat digunakan untuk mendiagnosa anomali di
lubang bor secara otomatis, termasuk keyhole dengan ketebalan dan arahnya.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 18
Halaman : 11/ 22
Borehole Image Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 3.10 Plot cross-sectional dari keyhole

Gambar 3.11 Tampilan UBI untuk keyhole


Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 18
Halaman : 12/ 22
Borehole Image Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

3.3.5. Breakouts

Pada formasi, jarang terjadi tekanan horizontal yang seragam. Tekanan selalu kompresif
dan arah tekanan di satu tempat biasanya lebih besar dibandingkan tempat lain karena
adanya gaya tektonik dan patahan. Pemboran yang dilakukan pada formasi dengan tekanan
horizontal yang tidak seragam akan menyebabkan pemindahan medium silinder dari
material yang sebelumnya menahan gaya kompresif ini. Tanpa medium ini, formasi di
sekitar sumur akan mengalami penambahan tekanan secara terus menerus. Jika tekanan
horizontal maksimum berada pada arah barat-utara dan timur-selatan, formasi yang berada
di daerah ini akan mengalami tekanan kompresif tangensial yang lebih tinggi dari
sebelumnya, tapi masih dalam batas arah itu saja. Tekanan yang meningkat ini akan cukup
untuk menyebabkan compressive failure, fragmen batuan akan break-off dan sumur akan
mengalami caving (Gambar 3.12). Perluasan arah yang berbentuk oval ini disebut dengan
Breakouts. Pada Gambar 3.13 dapat dilihat bentuk plot cross sectional dari breakouts ini.

Gambar 3.12 Tampilan UBI untuk sumur yang mengalami breakouts

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 18
Halaman : 13/ 22
Borehole Image Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 3.13 Plot cross sectional untuk sumur yang mengalami breakouts

3.3.6. Shear-sliding

Pada Gambar 3.14 dapat dilihat tampilan yang mengindikasikan terjadinya shear sliding.
Lebih jelas lagi pada Gambar 3.15, yaitu plot cross sectional dari shear sliding, dimana
perluasan seperti yang terjadi pada proses breakout dan penyempitan lubang bor terjadi
bersama-sama. Ketika pemboran dilakukan melalui rekahan, lumpur pemboran akan
menginvasi rekahan sehingga tekanan hidrostatis lumpur akan terjadi di sekitar permukaan
rekahan. Jika tekanan hidrostatis ini lebih besar daripada tekanan fluida formasibiasanya
untuk menghindari terjadinya blowoutmaka tekanan closing rekahan akan berkurang, dan
kemudian mengurangi gesekan antara permukaan rekahan. Formasi yang berlawanan arah
dengan rekahan kemudian akan mengalami slip (Gambar 3.16).

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 18
Halaman : 14/ 22
Borehole Image Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 3.14 Tampilan UBI untuk sumur yang mengalami shear sliding

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 18
Halaman : 15/ 22
Borehole Image Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 3.15 Plot cross sectional untuk sumur yang mengalami shear sliding

Gambar 3.16 Variasi mekanisme slippage sepanjang permukaan rekahan

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 18
Halaman : 16/ 22
Borehole Image Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Proses slipping ini biasanya terjadi setelah mata bor menembus rekahan yang kemudian
akan membuat lumpur memasuki rekahan. Apabila displacement pada formasi dan lubang
sumur menjadi sangat signifikan, sticking akan mungkin terjadi terhadap matabor, peralatan
bawah permukaan dan pipa (Gambar 3.17). Displacement diindikasikan oleh garis
melintang hitam. Tampilan plot cross sectional dari displacement ini dapat dilihat pada
Gambar 3.18.

Gambar 3.17 Displacement pada lubang sumur

Terkadang garis melintang hitam ini tidak kontiniu, tetapi dalam interpretasinya sering
ditemukan ketidakpastian.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 18
Halaman : 17/ 22
Borehole Image Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 3.18 Plot cross sectional untuk sumur yang mengalami dsplacement

3.3.7. Shale alteration

Batu-serpih akan terhidrasi dan mengembang jika terjadi kontak dengan lumpur water-
base. Peristiwa ini kemudian akan diikuti dengan terjadinya collapse di lubang sumur
menyebabkan washout. Pada tampilan UBI, perubahan (alteration) ini biasanya
diindikasikan dengan dinding lubang sumur yang sangat kasar. Efek ini biasanya terjadi
pada batu-serpih-lembut (soft shale), khususnya yang mengandung smectite.

3.3.8. Penentuan tekanan horizontal

Instrumen UBI mengukur terjadinya displacement sepanjang bidang rekahan yang


merupakan fungsi dari tekanan. Jika displacement terjadi pada dua bidang rekahan dengan
arah yang berbeda, maka arah tekanan dan rasio tekanan horizontal maksimum ke
minimum dapat ditentukan. Rasio tekanan bahkan juga dapat diperoleh dari displacement
yang terjadi pada rekahan-tunggal jika arah tekanan horizontal maksimum diketahui
(contohnya dari arah breakout).
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 18
Halaman : 18/ 22
Borehole Image Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

4. DAFTAR PUSTAKA

4.1. FMI, Borehole geology, geomechanics and 3D reservoir modelling, Schlumberger, 2002.
4.2. UBI, Advanced borehole imaging independent of mud type, Schlumberger, 2002
4.3. OBMI, Borehole imaging in oil-base mud, Schlumberger, 2001

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 18
Halaman : 19/ 22
Borehole Image Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

5. Lampiran

5.1. Latar belakang

5.1.1. FMI (Fullbore Formation MicroImager)

Lapisan pasir tipis yang pada awalnya tidak ekonomis (karena konvensional log tidak dapat
menunjukkan crossover kurva density dan neutron), saat ini dapat diproduksi setelah FMI
logs membantu mengidentifikasi interval lapisan tersebut. Analisa image log FMI
membantu mengidentifikasi banyak lensa batu-pasir tipis dengan resistivitas rendah.
Adapun keuntungan lain yang bisa didapatkan dari penggunaan alat ini adalah interpretasi
formasi secara akurat, mendapatkan gambaran detail reservoir, membantu pengambilan
keputusan yang tepat dalam rangka komplesi dan produksi sumur, mampu menyediakan
data pada lingkungan sulit seperti sumur horizontal dan sumur berdeviasi/bersudut,
menghemat biaya dan waktu dengan hasil interpretasi lengkap yang didapatkan.

5.1.2. OBMI (Oil-Base MicroImager)

Peningkatan penggunaan lumpur sintetis dan oil-base untuk membatasi resiko pemboran
dan juga peningkatan efisiensi menimbulkan banyak tantangan terhadap formation imaging.
Bahkan lapisan tipis dari lumpur tidak-konduktif, yang sifatnya tak tembus cahaya,
mencegah imager mikroresistivitas yang konvensional untuk mengukur parameter formasi.
Hal ini akan jauh lebih rumit lagi dengan hadirnya mud-cake yang tidak-konduktif atau juga
filtrat lumpur. Lumpur oil-base dapat digantikan dengan yang water-base pada batas yang
bisa diperhitungkan, tetapi tidak menjamin pengukuran akan memungkinkan. Kebutuhan
akan image dari lingkungan yang sangat sulit inilah yang kemudian mendasari pendekatan
dan pengembangan alat ini.

5.1.3. UBI (Ultrasonic Borehole Imager)

Instrumen ini mempunyai transducer resolusi tinggi yang akan menampilkan tampilan
akustik yang lebih baik dari lubang sumur yang terbuka, bahkan pada lumpur oil-base, juga
sangat ideal dalam perhitungan geometri internal dari casing.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 18
Halaman : 20/ 22
Borehole Image Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

5.2. Spesifikasi Alat

5.2.1. FMI (Fullbore Formation MicroImager)

Spesifikasi FMI
Struktur geologi, stratigrafi (perlapisan batuan), analisa
Aplikasi
reservoir, heterogenitas, gambaran/distribusi shale
Resolusi Vertikal 0.2 in. dengan gambar yang tampak hingga 50-mikron
Resolusi Azimuthal 0.2 in. dengan gambar yang tampak hingga 50-mikron
Measuring electrodes 192
Pads and flaps 8
Cakupan 80% dalam 8-in. lubang sumur (fullbore image mode)
Tekanan Maksimum 20,000 psi
Temperatur Maksimum 350F [175C]

Diameter Lubang Sumur


Minimum 5 7/8 in.
Maksimum 21 in.
Deviasi Lubang Maksimum 90

Kecepatan Logging
Fullbore image mode 1,800 ft/jam dengan real-time processed image
Four-pad mode 3,600 ft/jam dengan real-time processed image
Dipmeter mode 5,400 ft/jam dengan real-time dip processing
Inclinometer mode 10,000 ft/jam
Resistivity Maksimum Lumpur 50 ohm-m

FMI tool
Diameter Maksimum 5 in.
Panjang Makeup 24.4 ft
Panjang Makeup dengan flex joint 26.4 ft
Berat di udara 433.7 lbm
Panjang jika terkompressi (TLC 12,000 lbf (safety factor of 2)
Tekanan Maksimum pad 44 lbf
Combinability Dapat dikombinasikan dengan wireline openhole

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 18
Halaman : 21/ 22
Borehole Image Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

5.2.2. OBMI (Oil-Base MicroImager)

Spesifikasi OBMI
Analisa struktural, analisa stratigrafi, analisa core, analisa
permeabilitas, perhitungan net-pay dengan resolusi tinggi,
Aplikasi
penempatan sampel dan uji formasi, deteksi tampilan
drilling-induced
Resolusi efektif 1.2 in.
Cakupan 32% dalam 8-in. lubang sumur (fullbore image mode)
Tekanan Maksimum 20,000 psi
Temperatur Maksimum 320F [160C]

Diameter Lubang Sumur


Rekomendasi ukuran lubang 7 - 16 in.

Kecepatan Logging
Kecepatan maksimum 3,600 ft/jam

OBMI tool
OD maksimum 5.75 in.
Panjang 17 ft.
Berat di udara 310 lbm.
Kaliper maksimum 17.5 in.
Ukuran tombol efektif 0.4 in.
Kedalaman investigasi 3.5 in.
Conveyance Wireline atau sistem TLC* Tough Logging Conditions
Combinability Atas dan bawah

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 18
Halaman : 22/ 22
Borehole Image Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

5.2.3. UBI (Ultrasonic Borehole Imager)

Spesifikasi UBI
Interpretasi dan imaging lubang sumur, analisa
struktur dip, analisa dan identifikasi rekahan,
Aplikasi evaluasi kestabilan lubang sumur, perhitungan volum
semen dan jari-jari lubang sumur, analisa otomatis
bentuk-lubang.
0.4 in. dengan 250-kHz frekwensi operasi
Resolusi (aproksimasi)
0.2 in. dengan 500-kHz frekwensi operasi
Tekanan Maksimum 20,000 psi
Temperatur Maksimum 350F [175C]

Diameter Lubang Sumur


Minimum 5 1/2 in.
Maksimum 12 1/2 in.

Kecepatan Logging
0.4-in vertical sampling rate 800 ft/jam
0.2-in vertical sampling rate 400 ft/jam
1-in vertical sampling rate 2100 ft/jam

UBI tool
Diameter (bervariasi tergantung
3.6 sampai 112 in.
subassembly)

Panjang (hanya sonde dan cartridge) 248 in.

Berat sonde di udara (bervariasi


188 sampai 210 lbm
tergantung transducer subassembly)

Berat cartridge di udara (bervariasi


153 lbm
tergantung transducer subassembly)

Berat lumpur maksimum


Lumpur water-base 15 lbm/gal
Lumpur oil-base 11.6 lbm/gal

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 19
Cement Bond Log (CBL) Halaman : 1/24
& Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
Variable Density Log (VDL)

1. Tujuan

Tujuan : Evaluasi hasil penyemenan.

2. Metoda dan persyaratan

2.1 Metoda
Metoda grafis
2.2 Persyaratan
Rekaman log pada lubang tertutup (cased hole)

3. Langkah Kerja

3.1 Metoda I

1. Siapkan data rekaman log CBL-VDL.


2. Baca rekaman log. Tentukan 100% semen yang merupakan harga amplitudo paling kecil
(tidak terpengaruh oleh collar). Bila tidak ada maka teknik ini tidak dapat digunakan.
Ketidakhadiran 100% ini mengindikasikan adanya microannulus atau channeling.
3. Tentukan 0% semen, merupakan harga amplitudo pada free casing. (Apabila tidak ada
maka boleh ditanyakan pada pabrik pembuatnya, biasanya amplitudo > 45 mV).
4. Plot pada kertas semi-log (Gambar 6.14), langkah 2 dan langkah 3 (absis adalah % semen
merupakan sumbu linier dan ordinat adalah amplitudo merupakan sumbu logaritma).
5. Untuk keperluan isolasi suatu zona, dibutuhkan 80% semen pada panjang minimum
tertentu sesuai dengan ukuran casingnya. Tentukan harga amplitudo 80% semen dengan
menarik garis vertikal dari absis 80% memotong grafik (Gambar 6.14) dan dari titik potong
ini tarik garis horizontal ke sumbu ordinat dan baca harga amplitudonya.
6. Baca grafik Gambar 6.15, tentukan panjang vertikal minimum yang harus diisi 80% semen.
Apabila ternyata pada rekaman log ditemukan panjang yang kurang dari hasil pembacaan,
maka perlu dilakukan squeeze cementing (penyemenan tahap kedua). Bila perekahan
hidrolik dilakukan, maka panjang minimum yang didapatkan dari grafik Gambar 6.15 harus
dikalikan tiga.
Contoh Perhitungan:
1. Data pendukung: ukuran diameter luar casing 7 in.
data rekaman log CBL-VDL

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 19
Cement Bond Log (CBL) Halaman : 2/24
& Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
Variable Density Log (VDL)

Gambar 3.1 Data Rekaman log CBL VDL (Metode I)

2. Baca rekaman log tersebut dan menentukan harga amplitudo yang paling kecil dan tidak
terpengaruh oleh collar adalah titik A kedalaman 11490 ft dengan amplitudo 0.8 mV . Titik
ini merupakan 100% semen, selanjutnya di plot pada kertas semilog (Gambar 6.14).

3. Baca kembali rekaman log untuk 0% semen (free casing), titik ini pada kedalaman 9910 ft
dengan amplitudo 87 mV. Harga ini di plot pada kertas semilog (Gambar 6.14).

4. Penentuan zona isolasi yang membutuhkan 80% semen. Tarik garis vertikal dari absis 80%
memotong plot garis langkah 2 dan langkah 3. Dari titik potong ini tarik garis horizontal ke
sumbu ordinat dan terbaca harga amplitudo 2 mV.

5. Dari grafik Gambar 6.15, untuk ukuran diameter casing 7 in, maka diperoleh panjang
minimum yang harus diisi oleh 80% semen adalah 10 ft. Pada rekaman log setelah ditarik
garis cutoff amplitudo 80% semen, tidak terdapat panjang melebihi 10 ft yang tidak terisi
semen, maka tidak perlu dilakukan penyemenan tahap ke dua.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 19
Cement Bond Log (CBL) Halaman : 3/24
& Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
Variable Density Log (VDL)

3.2 Metoda II

1. Siapkan data ukuran casing, berat casing, compressive strength semen dan hasil rekaman
log.
2. Tentukan amplitudo 100% semen dari Gambar 6.16.
- Dari data compressive strength tarik garis memotong ketebalan casing menuju titik
signal attenuation.
- Dari titik ini tarik garis horizontal memotong suatu titik di garis ukuran casing.
- Dari titik ini tarik garis sejajar garis amplitudo dan baca harganya.
3. Tentukan amplitudo 0% (free casing) dari Tabel 1, dengan menggunakan data casing.
- Tentukan travel time pada data ID casing dari Tabel 1.
- Tentukan travel time actual dari rekaman log, jika hampir sama dengan travel time
pada Tabel 1, maka amplitudo pada Tabel 1 dapat dipakai pada persamaan (1).
4. Tentukan amplitudo 80%, dengan menggunakan persamaan:
A80 = 10 [log A100 + 0.2 (log AFP log A100 )] ............................................. (1)

5. Buat cutoff A80 , baca rekaman log, tentukan panjang zona minyak yang akan diisolasi.

Jika tidak cukup terdapat semen, lakukan squeeze.


Contoh Perhitungan
1. Data pendukung: ukuran diameter luar casing, 9 5 8 in
berat casing, 47 /ft
compressive strength semen, 3000 psi
hasil rekaman CBL-VDL

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 19
Cement Bond Log (CBL) Halaman : 4/24
& Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
Variable Density Log (VDL)

Gambar 3.2 Data Rekaman log CBL VDL (Metode II)

2. Penentuan amplitudo 100 ( A100 ) dari chart Gambar 6.16 adalah 2.5 mV.

3. Dari Tabel 1. travel time yang diperkirakan pada ukuran casing yang digunakan adalah 311
s . Travel time actual dari data log adalah 309 s . Maka dari Tabel 1. harga amplitudo 0%
semen ( AFP ) adalah 52 mV.

4. Amplitudo 80% semen ( A80 )

A80 = 10 [log 2.5 + 0.2 (log 52 log 2.5 )] = 4.6 mV ................................... (2)

5. Dari Gambar 6.15, panjang minimum yang diperlukan yang diperlukan untuk isolasi zona
(80%) semen adalah 15 ft. Dari rekaman CBL-VDL terlihat bahwa untuk isolasi zona tidak
cukup terdapat semen, sehingga harus dilakukan squeeze.
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 19
Cement Bond Log (CBL) Halaman : 5/24
& Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
Variable Density Log (VDL)

3.3 Metoda III

Jika sekeliling pipa/casing diselimuti paling sedikit 75% semen, maka terdapat hubungan
amplitudo dan compressive strength cement seperti yang ditampilkan pada Gambar 6.17. Metoda
ini valid untuk alat yang dikalibrasi pada fresh water, namun berdasarkan eksperimen lapangan
untuk fluida lain dapat digunakan faktor koreksi pada Gambar 6.18.
1. Siapkan data diameter dan ketebalan casing, compressive strength cement rekaman log
CBL.
2. Tarik garis horizontal dari sumbu ketebalan pipa memotong kurva compressive strength
semen. Dari titik ini tarik garis vertikal ke atas memotong kurva bonded pipe pada ukuran
casing, kemudian tarik garis horizontal menuju absis 100% semen, grafik % semen (pipe
circumference bonded) vs amplitudo CBL. Titik ini merupakan bonded pipe/100% semen
(BP).
3. Tarik garis vertikal ke bawah pada ukuran casing memotong kurva free pipe (0% semen).
Dari titik ini tarik garis horizontal menuju absis 0% semen, grafik % semen (pipe
circumference bonded) vs amplitudo CBL. Titik ini merupakan free pipe/0% semen (FP).
4. Tarik garis dari titik FP dan BP.
5. Tentukan amplitudo CBL paling kecil dari rekaman log, yang tidak terpengaruh oleh collar.
6. Tarik garis horizontal memotong garis FP dan BP, dari titik ini tarik garis vertikal ke
bawah, dan baca harga % semen.
Contoh Perhitungan:
1. Data pendukung : diameter luar casing 7 in
ketebalan casing/pipa 8 mm
compressive strength cement 2000 psi
rekaman log CBL-VDL

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 19
Cement Bond Log (CBL) Halaman : 6/24
& Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
Variable Density Log (VDL)

Gambar 3.3 Data Rekaman log CBL VDL (Metode III)

2. Tarik garis horizontal (Gambar 6.17) dari sumbu ketebalan pipa memotong kurva
compressive strength semen 2000 psi. Dari titik ini ditarik garis vertikal ke atas memotong
kurva bonded pipe pada ukuran casing 7 in, kemudian tarik garis horizontal menuju absis
100% semen (BP), dibaca harga amplitudo CBL 1.8 mV.

3. Tarik garis vertikal ke bawah pada ukuran diameter luar casing 7 in, memotong kurva free
pipe (0% semen). Dari titik ini tarik garis horizontal menuju absis 0% semen (FP), dibaca
harga amplitudo CBL 60 mV.

4. Tarik garis dari titik FP dan BP.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 19
Cement Bond Log (CBL) Halaman : 7/24
& Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
Variable Density Log (VDL)

5. Amplitudo CBL paling kecil dari rekaman log CBL-VDL, yang tidak terpengaruh oleh collar
adalah 7 mV.
6. Tarik garis horizontal amplitudo 7 mV memotong garis FP dan BP, dari titik ini tarik garis
vertikal ke bawah, dan terbaca harga 60% semen.

4. Daftar Pustaka

1. Bigelow, E.L. : A Practical Approach To The Interpretation Of Cement Bond Logs, Journal of
Petroleum Technology, Richardson - Texas, July 1985.
2. Bihn, G.C.: An Introduction To Cement Bond Evaluation, Atlantic Richfield Indonesia Inc.
3. Fitzgerald, D.D., McGhee, B.F., dan McGuire, J. A. : Guidelines For 90% Accuracy In Zone
Isolation Decision, Journal of Petroleum Technology, Richardson - Texas, November 1985.
4. Schlumberger : Cased Hole Log Interpretation Principles/Applications, fourth printing,
Houston-Texas., 1997.
5. Website Schlumberger

5. Daftar Simbol

A80 = Amplitudo 80% semen, mV

A100 = Amplitudo 100% semen, mV


AFP = Amplitudo Free Casing (0% semen), mV

6. Lampiran

6.1 Latar Belakang

Bagian utama alat ini adalah transmitter (pemancar), yang bekerja berganti-ganti antara on dan of
seperti switch pada kecepatan tertentu, menyebabkan suatu klep bervibrasi menghasilkan
gelombang kompresi elastis. Gelombang vibrasi ini akan merambat seperti gelombang
bunyi/akustik secara spherical (bola) ke segala arah, setelah melewati fluida sumur, menumbuk
casing. Sebagian kecil energinya akan dipantulkan kembali oleh casing dan sebagian yang
lainnya akan diteruskan melewati casing, semen dan formasi.

Semua material yang ada di sekeliling transmitter akan bergetar dilewati gelombang akustik
dalam bentuk gelombang yang elastis. Material ini mempengaruhi kecepatan gelombang,
amplitudo dan frekwensi dari gelombang tersebut, setelah melewati lumpur bor, casing, semen,
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 19
Cement Bond Log (CBL) Halaman : 8/24
& Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
Variable Density Log (VDL)

formasi dan kembali ke receiver, gelombang ini akan mengalami perubahan, membentuk tipe
gelombang shear dalam material padat dan mengalami pengurangan amplitudo. Tipe gelombang
shear merambat lebih lambat daripada gelombang kompresi dan tidak dapat merambat melewati
fluida. Gelombang akustik termasuk keduanya, yaitu: gelombang kompresi dan gelombang shear.

Gelombang kompresi yang berupa energi mekanik dari transmitter akan ditransformasikan ke
dalam bentuk energi akustik selama transmisinya menuju receiver. Amplitudo dan waktu
kedatangannya di receiver akan direkam dan selanjutnya digunakan untuk evaluasi hasil
penyemenan. Dari referensi SPE 16817 Bila amplitudo mempunyai harga lebih besar dari 50
mV, maka interpretasi ikatan semen adalah jelek (sangat sedikit semen atau bahkan tidak ada
sama sekali). Bila amplitudo mempunyai harga lebih kecil dari 5 mV, maka ikatan yang
ditunjukkan adalah baik. Pada gambar berikut menerangkan hal tersebut.

Gambar 6.1 Interpretasi ikatan Semen

Cement Bond Logs (CBL) melakukan tiga pengukuran dan merekamnya secara simultan ke dalam
kertas log, yaitu: pengukuran travel time (lama waktu perambatan gelombang), amplitudo sinyal
casing dan tampilan atau display spectrum energy (tipe Variable Density Log-VDL dan Full
Waveform Signature/Wave Train).

a. Travel time

Travel time adalah total waktu yang diperlukan energi akustik yang dipancarkan dari
transmiter melewati fluida casing, casing, kembali ke fluida casing dan masuk ke receiver.
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 19
Cement Bond Log (CBL) Halaman : 9/24
& Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
Variable Density Log (VDL)

Hasil rekaman ini terdapat pada jalur/track kiri, digunakan untuk meyakinkan bahwa
amplitudo sinyal casing yang terekam adalah merupakan data yang akurat. Asumsi yang
digunakan adalah bahwa fluida dalam casing adalah homogen. Bila fluida dalam casing tidak
homogen, maka penyimpangan tidak dapat diprediksi.

Pertambahan harga travel time menyebabkan travel time lebih lama dari harga travel time
pada free casing/norma, kemungkinan disebabkan oleh casing collar, stretching atau cycle-
skipping. Hal ini tidak berpengaruh merugikan terhadap kualitas dari data amplitudo sinyal
casing.

Stretching terjadi karena gelombang akustik yang datang lemah, sehingga pengukuran travel
time menjadi terlambat sekitar 2 s sampai 3 s . Gambar berikut menunjukkan adanya
stretch.

Gambar 6.2 Stretching akibat gelombang akustik

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 19
Cement Bond Log (CBL) Halaman : 10/24
& Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
Variable Density Log (VDL)

Gambar 6.3 Stretching

Apabila travel time menunjukkan harga yang lebih besar daripada harga waktu perambatan
dalam casing yang dihitung, maka biasanya hal tersebut dikatakan sebagai cycle-skip yang
menunjukkan ikatan semen yang baik. Hal ini juga terjadi pada amplitudo dari casing, yang
disebabkan karena amplitudo yang dilemahkan, sehingga tiba di receiver belakangan dan
merupakan sinyal kuat dari formasi seperti yang ditampilkan pada gambar berikut.

Gambar 6.4 Skipping akibat gelombang akustik

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 19
Cement Bond Log (CBL) Halaman : 11/24
& Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
Variable Density Log (VDL)

Gambar 6.5 Skipping

Travel time yang lebih pendek mengindikasikan bahwa pengukuran amplitudo sinyal casing
tidak representatif terhadap adanya semen di annulus. Rekaman VDL dapat digunakan untuk
mengetahui apakah sinyal dari formasi yang menyebabkan turunnya travel time. Apabila
berkurangnya travel time ini disebabkan oleh sinyal dari fast formation, maka tidak ada
problem terhadap hasil penyemenan. Fast formation ialah formasi dimana sinyal dapat
merambat dengan kecepatan tinggi, sehingga travel time-nya menjadi rendah.

Gambar 6.6 Fast Formation

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 19
Cement Bond Log (CBL) Halaman : 12/24
& Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
Variable Density Log (VDL)

Bila casing terikat baik dengan fast formation, maka amplitudo sinyal yang datang dari
formasi akan lebih dulu terdeteksi. Hal yang sama juga akan terjadi bila casing bersentuhan
langsung dengan fast formation. Contoh fast formation ialah limestone dengan viskositas
rendah dan dolomite, dimana mempunyai kecepatan rambat gelombang antara 45 50
s ft . Ini lebih cepat dari cepat rambat gelombang di casing, yaitu: 57 s ft . Dalam hal
ini, kurva amplitudo menunjukkan energi dari formasi bukan energi dari casing dan energi ini
dapat lebih dulu datang dari energi casing apabila antara casing dan formasi terdapat cukup
semen yang merekatkannya. Kurva amplitudo ini tidak dapat digunakan untuk interpretasi
kwalitatif dan memang tidak perlu. Apabila turunnya travel time bukan disebabkan karena
adanya fast formation, maka disebabkan oleh ketidak-centre-an alat log. Gambar berikut
menunjukkan contoh rekaman dari tiga alat yan dijalankan dengan ketidak-centre-an yang
berbeda.

Gambar 6.7 Rekaman log akibat ketidak-center-an

Setiap run A, B dan C mengindikasikan banyaknya penurunan amplitudo sebagai fungsi


besarnya ketidak-centre-an alat yang ditunjukkan oleh rekaman travel time. Sebagai contoh
gambar, travel time kurva A pada 300.5 s direkam bersamaan dengan amplitudo kurva A
sebesar 17 mV pada kedalaman 10960 ft. Travel time kurva B pada 308 s direkam
bersamaan dengan amplitude kurva B sebesar 55 mV. Travel time kurva C pada 312 s
direkam bersamaan dengan amplitudo kurva C sebesar 77 mV. Amplitudo dari A ke C
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 19
Cement Bond Log (CBL) Halaman : 13/24
& Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
Variable Density Log (VDL)

sebesar 60 mV adalah akibat dari ketidak-centre-an alat yang ditunjukkan dengan perubahan
travel time dari 300.5 s menjadi 312 s (sebesar 11.5 s ). Gambar berikut menunjukkan
contoh rekaman CBL pada free casing dengan alat log tepat ditengah lubang bor.

Gambar 6.8 Rekaman CBL pada free casing (alat log tepat di tengah lubang bor)

Dari gambar tersebut terlihat bahwa kurva travel time berbentuk garis lurus (konstan) dan
harga pada casing collar saja akan sedikit membesar. Untuk perekaman VDL pada sumur dan
kedalaman yang sama dengan posisi alat tidak tepat di pusat lubang bor (eccentred),
penurunan amplitudonya dapat dilihat pada gambar berikut.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 19
Cement Bond Log (CBL) Halaman : 14/24
& Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
Variable Density Log (VDL)

Gambar 6.9 Kurva CBL-VDL pada Critical Travel Time

Hal ini dapat mengakibatkan kesalahan interpretasi, dimana dengan kecenderungan


mengecilnya harga amplitudo mengindikasikan adanya semen, padahal alat di run pada free
casing. Dalam hal ini harus diusahakan ke-centre-an alat log dengan menambahkan
centralizer atau mengganti centralizer yang tidak memadai. Besarnya penurunan travel time
adalah merupakan fungsi dari derajat ketidak-centre-an alat log.

b. Amplitudo sinyal casing

Pengukuran amplitudo sinyal yang merupakan besarnya rambatan energi akustik melewati
casing dari transmitter ke reciever. dimaksudkan untuk menyediakan data yang akan
digunakan dalam interpretasi kwantitatif log CBL. Hasil rekaman ini terdapat pada jalur/track
kanan kertas log.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 19
Cement Bond Log (CBL) Halaman : 15/24
& Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
Variable Density Log (VDL)

Amplitudo dari gelombang vibrasi pipa/casing ini menunjukkan banyaknya energi yang
diterima oleh receiver yang berjarak 3 ft dari transmitter. Gambar berikut menunjukkan
pengukuran amplitudo pada kondisi ikatan semen.

Gambar 6.10 Pengukuran amplitudo pada kondisi ikatan semen

Energi yang hilang selama transmisi gelombang dipakai istilah attenuation. Sedangkan
amplitudo yang diukur ialah amplitudo yang pertama kali datang/diterima di receiver. Dari
amplitudo ini didapatkan nilai compressive strength semen dan indeks ikatannya. Indeks
ikatan semen adalah perbandingan antara pelemahan gelombang pada zone of interest (zona
yang diukur) terhadapa pelemahan gelombang pada seksi semen.

Rambatan energi akustik selama perjalanannya mengalami kehilangan energi ke material-


material di dalam maupun di luar casing. Material yang ada di dalam casing biasanya ialah
fluida homogen, yang hanya sedikit sekali menghilangkan energi sehingga efek terhadap
system pengukuran juga kecil. Material yang ada di luar casing bermacam-macam. Bila
material tersebut liquid misalnya Lumpur bor atau air, maka kehilangan energi dalam
material ini kecil dan amplitudo yang terekam biasanya sebesar kira-kira 50 mV sampai 90
mV. Bila semen merekat kuat di sekeliling luar casing, maka kehilangan energi oleh semen
ini besar, sehingga amplitudo yang terekam oleh receiver menjadi kecil, yaitu sekitar 0.2 mV

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 19
Cement Bond Log (CBL) Halaman : 16/24
& Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
Variable Density Log (VDL)

sampai 8 mV. Bila sebagian annulus terisi semen dan sebagian lagi terisi oleh fluida
(katakanlah ada channeling), maka besarnya amplitudo yang terekam juga diantara keduanya.
Pengukuran amplitudo ini proporsional terhadap banyaknya semen yang merekat di sekeliling
casing. Amplitudo yang kecil menunjukkan kondisi ikatan semen yang baik, sedangkan
semakin besar amplitudo menunjukkan mutu ikatan semen semakin menurun. Bila amplitudo
memiliki harga lebih besar dari 50 mV maka dikatakan bahwa ikatan semennya jelek (sangat
sedikit semen atau bahkan tidak ada sama sekali).Bila amplitudo mempunyai harga lebih
kecil dari 5 mV maka ikatan semen baik.

c. Display spectrum energy

Alat yang digunakan adalah Variable Density Log yang merekam amplitudo sinyal yang
datang dalam bentuk pengaturan intensitas sepanjang sumbu z dan ditampilkan dengan
bayangan hitam sampai putih pada track/jalur kertas log. Perekaman ini dilakukan sepanjang
skala waktu dan kedalamannya, sehingga memungkinkan untuk melihat keadaan lubang bor
secara menyeluruh. Prisip perekaman seperti yang terlihat pada gambar berikut.

Gambar 6.11 Display spectrum energy

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 19
Cement Bond Log (CBL) Halaman : 17/24
& Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
Variable Density Log (VDL)

Rekaman pada sebelah kanan adalah tampilan pada tekanan 0 psi, sedangkan sebelah kiri
direkam pada tekanan 1500 psi. Pada 0 psi di kedalaman 12750 ft sampai 12800 ft, sinyal
casing tampak jelas. Namun demikian ketika tekanan menjadi 1500 psi, sinyal casing menjadi
hilang dan mengidentifikasikan adanya microannulus.

Terdapat dua gejala yang membuat penyemenan tidak sempurna, yaitu: channeling dan
microannulus. Channneling terjadi bila semen berhasil ditempatkan pada annulus tapi tidak
seluruhnya menempati/memenuhi annulus dan mengelilingi casing. Sedangkan microannulus
adalah merupakan rongga kecil yang terbentuk diantara casing dan semen atau antara semen
dan dinding sumur. Perbedaan keduanya adalah pada microannulus terdapat beberapa
penyekat, tetapi pada channeling penyekat tidak terbentuk.

Bentuk gelombang akustik ideal yang dipancarkan oleh sebuah transmitter seperti tampilan
gambar berikut, dimana amplitudonya sebagai ordinat dan waktu perambatan sebagai absis.

Gambar 6.12 Gelombang Akustik Ideal

Dalam perambatannya ada 4 tipe gelombang yang berbeda, yaitu secara urut dari yang paling
dekat dengan pemancar : (1) Gelombang kompressional (P-Wave), (2) Gelombang Shear atau
gelombang Rayleigh (S-Wave), (3) Mud Wave (M-Wave), (4) Gelombang Stonely (St-
Wave). Intepretasi gelombang sear menunjukkan integritas semen.

Gelombang kompresional ditransmisikan dengan gerakan partikel ke depan dan ke belakang


searah dengan arah rambat gelombang. Tipe gelombang ini mungkin ditransmisikan melewati
kolom Lumpur, pipa, semen dan formasi.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 19
Cement Bond Log (CBL) Halaman : 18/24
& Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
Variable Density Log (VDL)

Ketika energi akustik sampai pada formasi, molekul-molekul batuan akan bervibrasi dengan
cara compressive, kemudian dengan cepat molekul batuan tersebut berubah bervibrasi dengan
cara shear. Dalam medium padat, gelombang shear ini mempunyai persentasi yang tinggi,
tetapi kecepatan rambatnya lebih lambat dari gelombang kompressional. Karena fluida dalam
sumur tidak dapat mendukung gelombang shear ini, maka setengah dari energi yang
dipancarkan oleh transmitter sampai ke sisi lubang adalah sebagai gelombang kompressional
(P-Wave). Pada antar muka semen-formasi, gelombang kompressional dan gelombang shear
ini sebagian energinya akan dipantulkan, karena terjadi perubahan dalam impedansinya.
Impedansi ini dinyatakan sebagai perkalian antar densitas dan kecepatan. Semakin besar
perubahan impedansi ini semakin besar pula energi yang dipantulkannya.

Gelombang shear berbeda dengan gelombang kompressional, karena gelombang shear


mempunyai kecepatan yang lebih rendah. Waktu rambat gelombang shear kira-kira 1.6
sampai1.9 kali lebih lama daripada waktu rambat gelombang kompressional. Gelombang
shear biasanya mempunyai amplitudo yang lebih tinggi, tetapi karena gas dan liquid tidak
mempunyai shear strength, maka mereka tidak akan mendukung gelombang shear ini.
Gelombang shear ini ditransmisikan dengan gerakan partikel yang tegak lurus terhadap arah
rambat gelombang. Kecepatan gelombang shear dan gelombang kompressional dalam
berbagai medium dapat dilihat pada table berikut:

1. Raymer-Hunt data (1980)


2. Borehole conditions
3. Average value

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 19
Cement Bond Log (CBL) Halaman : 19/24
& Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
Variable Density Log (VDL)

Gelombang Rayleigh ditransmisikan oleh gerakan-gerakan partikel yang membentuk elips.


Setiap partikel bergerak ke depan dan belakang dan dari sisi-sisi lain membentuk elips.
Gelombang ini ialah paling kuat dalam lubang bor dan berkurang dengan cepat setelah lewat
dari lubang bor.

Mud wave (M-wave) adalah gelombang kompresional yang dirambatkan melewati lumpur
dari transmitter ke receiver. Dalam fluida, waktu rambatnya lebih lama daripada dalam pipa
atau formasi. M-wave ini tiba di receiver terlambat (belakangan), sehingga memudahkan
dalam indikasinya/interpretasinya.

Gelombang stoneley (St Wave) adalah gelombang dengan frekwensi rendah, yang merambat
sepanjang dinding lubang. Gelombang ini datang lebih terlambat dari pada mud wave.

Gelombang shear dapat diidentifikasi dengan mencari dua ciri; perubahan waktu kedatangan
gelombang shear tidak akan selalu paralel dengan perubahan waktu kedatangan gelombang
kompresional dan pertambahan amplitudo, diindikasikan dengan kontras gelap atau terang
dalam VDL. Secara normal, gelombang shear mempunyai amplitude kira-kira 1.5 kali
amplitude gelombang kompresional. Kita sering tidak mendapatkan gelombang shear ini,
terutama pada formasi dengan kecepatan rendah, sehingga ditutup oleh kedatangan
gelombang kompresional. Hal ini biasanya terjadi bila cepat rambat gelombang kompresional
dalam formasi lebih besar dari 100 s ft .

M-Wave dikenali dari waktu kedatangannya yang lebih konstan. Karena jarak antara
transmitter dan receiver konstan, serta sifat-sifat lumpur yang relative tidak berubah, maka
diharapkan bentuk rekaman M-wave adalah lurus. Namun demikian, sebagai akibat
interferensi, maka bentuknya terkadang tidak lurus. Selain itu, perubahan ukuran lubang juga
berpengaruh. Kemudian amplitudonya terpengaruh, dalam pipa dengan ID lebih besar, maka
amplitude dari M-Wave ini juga membesar. Gelombang ini tampak pada VDL, biasanya pada
190 s/ft kali jarak antara transmitter dan receiver (bila jarak transmitter-reciever 5 ft, maka
M wave tampak pada 190 x 5 = 950 s/ft). Untuk interpretasi, dapat dilihat pada gambar.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 19
Cement Bond Log (CBL) Halaman : 20/24
& Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
Variable Density Log (VDL)

Gambar 6.13 Interpretasi M-Wave

Apabila tiga sinyal dari casing, formasi dan lumpur dapat diidentifikasi dengan jelas, maka
ada tidaknya semen dalam annulus dapat lebih dipastikan.

6.2 Daftar Gambar dan Tabel

Gambar 6.14. Semilog Plot

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 19
Cement Bond Log (CBL) Halaman : 21/24
& Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
Variable Density Log (VDL)

Gambar 6.15. Grafik ukuran casing terhadap panjang minimum


interval semen yang diperlukan

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 19
Cement Bond Log (CBL) Halaman : 22/24
& Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
Variable Density Log (VDL)

Gambar 6.16. Chart Amplitudo CBL 100% semen terhadap compressive strength,
diameter casing, ketebalan casing, dan signal attenuation

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 19
Cement Bond Log (CBL) Halaman : 23/24
& Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
Variable Density Log (VDL)

Gambar 6.17. Penentuan % semen yang menyelimuti pipa/casing


dari interpretasi rekaman CBL

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 19
Cement Bond Log (CBL) Halaman : 24/24
& Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
Variable Density Log (VDL)

Gambar 6.18. Faktor pengali amplitudo untuk fluida selain fresh water

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 20
Karbon/Oksigen Log Halaman :1/4
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(C/O Log)

1. TUJUAN

Menghitung saturasi air berdasarkan rekaman Karbon Oksigen Log (C/O Log).

2. METODE DAN PERSYARATAN

2.1. Metode
Metode grafis

2.2. Persyaratan
Rekaman log

3. LANGKAH KERJA

1. Siapkan hasil rekaman log sumur, data lithologi dan porositas.

2. Baca log dan tentukan harga rasio C/O maksimum dan minimum.

3. Tentukan harga rasio C/Olog pada kedalaman yang akan dihitung saturasi airnya.

4. Hitung C Omin imum atau C O pada S w = 1 dengan persamaan berikut:

(1 ) + BC
C O min imum = A .....................................................(1)
(1 ) + BO

dimana: A = C O

5. Hitung C Omaksimum atau C O pada S w = 0 dan S o = 1

(1 ) + + BC
C O maksimum = A ............................................(2)
(1 ) + BO

6. Plot litologi sumur maka dapat ditentukan C/Omin dan C/Omaks sebelum perekaman pusat inelastic.

7. Pengukuran rasio C/O pada tiap pusat/area pengukuran di dalam sumur dan kemudian interpolasi
antara C/Omin dan C/Omaks memberikan "quick estimate" harga saturasi air.

6. Hitung saturasi air dengan persamaan

C Omaksimum C Olog
Sw = ....................................................(3)
C Omaksimum C Omin imum

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 20
Karbon/Oksigen Log Halaman :2/4
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(C/O Log)

4. DAFTAR PUSTAKA

Schlumberger : Cased-Hole Log Interpretation Principles/Applications, Houston, Texas, 1989.

5. DAFTAR SIMBOL

A = perbandingan rata-rata konsentrasi netron cepat (hasil gamma ray) karbon dan oksigen yang
melewati bagian/kedalaman yang akan diukur

C = konsentrasi netron cepat karbon yang meleati kedalam yang akan diukur rasio C/O-nya

O = konsentrasi netron cepat oksigen yang meleati kedalam yang akan diukur rasio C/O-nya

BC, B0 = kontribusi karbon dan oksigen dari lubangbor

SW = saturasi air

= konsentrasi atom (mol/cm2) karbon di dalam matriks (tergantung litologi batuan)

= konsentrasi atom (mol/cm2) karbon di dalam fluida formasi

= konsentrasi atom (mol/cm2) oksigen di dalam matriks (tergantung litologi batuan)

= konsentrasi atom (mol/cm2) oksigen di dalam fluida formasi

= porositas

S0 = saturasi minyak = (1 Sw)

SW = saturasi air

C/Omaks = perbandingan maksimum konsentrasi karbon dan oksigen yang terbaca pada rekaman log

C/Omin = perbandingan minimum konsentrasi karbon dan oksigen yang terbaca pada rekaman log

C/Olog = perbandingan konsentrasi karbon dan oksigen yang terbaca pada rekaman log pada
kedalaman yang akan dihitung saturasi airnya

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 20
Karbon/Oksigen Log Halaman :3/4
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(C/O Log)

6. LAMPIRAN

1. Latar Belakang

Kegunaan utama karbon/oksigen (C/O) logging adalah untuk menentukan saturasi minyak-air dan
kinerja (performance) reservoir di area salinitas air formasi yang kecil atau tidak diketahui.
Penentuan rasio C/O didasarkan pada reaksi karbon dan oksigen dengan fast neutron energi tinggi
yang dihasilkan oleh karakteristik gamma ray. Dari pengukuran ini, dapat dibedakan antara
hidrokarbon yang mengandung unsur karbon dan hidrogen dan air yang mengandung unsur
hydrogen dan oksigen.

2. Contoh Perhitungan

a. Data log dan plot lithologinya pada log C/O Ratio


b. Baca data log sebagai contoh pada kedalaman 750 ft. Didapat harga C/Omin = 0.13,
C/Omaks = 1.25 dan C/Olog = 0.80.
c. Hitung saturasi air,
C Omaksimum C Olog 1.25 0.80
Sw = = = 40%
C Omaksimum C Omin imum 1.25 0.13

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 20
Karbon/Oksigen Log Halaman :4/4
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(C/O Log)

Gambar 1. Plot litologi dan C/O Ratio

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 21
NMR Halaman : 1 / 15
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(NUCLEAR MAGNETIC RESONANCE)

1. Pendahuluan

Nuclear Magnetic Resonance didasarkan pada respon nuklei terhadap medan magnet.
Kebanyakan nuklei mempunyai momentum magnetik yang berperilaku seperti batang
magnet berputar (Gambar 1-1). Perputaran magnetik nuklei ini dapat berinteraksi dengan
medan magnet luar, yang nantinya akan menghasilkan sinyal yang dapat diperhitungkan.

Gambar 1-1 Precessing proton

Untuk kebanyakan elemen, sinyal yang terdeteksi sangat lemah. Walaupun demikian,
elemen hidrogen mempunyai momentum magnet yang besar dan berlimpah pada partikel air
dan hidrokarbon pada ruang batuan. Dengan menyetel peralatan logging NMR ke frekwensi
resonansi magnetik dari hidrogen, maka sinyal yang lemah tadi dapat dibaca dan diukur.

2. Metode

Pengukuran NMR terdiri dari beberapa manipulasi terhadap proton hidrogen pada molekul
fluida. Seperti yang telah disebutkan bahwa proton memiliki momentum magnetik, sehingga
arahnya dapat dikontrol oleh medan magnet. Partikel ini juga berputar, yang membuat
mereka berperilaku seperti giroskop.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 21
NMR Halaman : 2 / 15
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(NUCLEAR MAGNETIC RESONANCE)

Langkah-langkah pengukuran NMR antara lain proton alignment, spin tipping, precession
dan dephasing, refocusing. Transverse relaxation dan logitudinal relaxation berfungsi untuk
membatasi seberapa lama pengukuran NMR ini dapat berlangsung.

a. Proton alignment

Proton-proton hidrogen disejajarkan oleh aplikasi medan magnet dengan konstanta


B0. Pensejajaran berlangsung selama beberapa detik dan proton-proton tersebut akan
tetap sejajr kecuali bila ada gangguan. Peralatan logging yang mutakhir menggunakan
magnet permanen yang panjang, sekitar 550 gauss (1000 kali lebih besar
dibandingkan medan magnet bumi). Hal ini diaplikasikan terhadap formasi selama
pengukuran (Gambar 2-1).

Gambar 2-1 Proton Alignment

b. Spin tipping

Langkah selanjutnya adalah pembelokan arah proton sejajar melalui proses transmisi
dan mengosilasi medan magnet, B1, tegak lurus terhadap B0 (Gambar 2-2). Untuk
spin tipping yang efektif, digunakan persamaan:

f = B0

dimana f adalah frekwensi B1 (Frekwensi Larmor), dan adalah konstanta ratio


giromagnetik dari nuklei.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 21
NMR Halaman : 3 / 15
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(NUCLEAR MAGNETIC RESONANCE)

Gambar 2-2 Spin tipping

c. Precession dan dephasing

Partikel ini akan bergerak tegak lurus terhadap B0, yang dengan kata lain, partikel ini
berperilaku seperti giroskop pada medan gravitasi. Pada tahap awal, proton akan
berbelok secara serentak. Sementara itu, partikel ini juga akan menimbulakn medan
magnet kecil pada frekwensi Larmor yang akan dideteksi oleh antena dan
menghasilkan basis perhitungan NMR. Bagaimanapun, medan magnet Bo tidak
homogen, sehingga proton akan berbelok dengan frekwensi yang sedikit berbeda.
Secara berangsur-angsur, partikel ini akan kehilangan sinkronisasi (dephase) dan
mengakibatkan sinyal antena akan menurun (Gambar 2-3).

Gambar 2-3 Transverse Decay

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 21
NMR Halaman : 4 / 15
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(NUCLEAR MAGNETIC RESONANCE)

Penurunan sinyal ini dikenal dengan nama Free Induction Decay (FID) dan waktu
penurunannya disebut T2* (asteriks = variabel ini bukan merupakan variabel formasi).

d. Refocusing: spin echoes

Perubahan bentuk (dephasing) oleh ketidakhomogenan B0 ini bersifat reversibel,


dimana proton hidrogen pembelokannya berada pada frekwensi Larmor yang
sedikit berbeda dapat disatukan kembali ketika pulsa sebesar 1800 ditransmisikan.
Kekuatan pulsa 1800 sama dengan 900 tetapi dua kali lebih panjang. Ketika proton
dibentuk kembali, saat itu juga dihasilkan sinyal pada antena yaitu spin echoes.

e. Transverse relaxation, T2

Rangkaian pulsa CPMG yang berandil dalam dephasing, dihasilkan oleh


ketidaksempurnaan medan B0. Bagaimanapun juga, proses molekular juga dapat
mengakibatkan dephasing, tetapi tidak reversibel. Proses ini berkaitan dengan sifat-
sifat fisik seperti porositas fluida-bergerak, distribusi ukuran pori dan permeabilitas.
Dephasing yang tidak reversibel ini dimonitor dengan mengukur amplitudo
penurunan (decaying amplitude) dari spin echoes pada rentetan CPMG echo (Gambar
2-4). Karakteristik ini disebut dengan transverse relaxation time, T2.

Gambar 2-4 CPMG echo train

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 21
NMR Halaman : 5 / 15
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(NUCLEAR MAGNETIC RESONANCE)

f. Longitudinal relaxation, T1

Setelah beberapa selang T2, partikel-partikel proton akan sama sekali kehilangan
ikatan, dan tidak mungkin disatukan kembali. Setelah rangkaian pulsa CPMG
dihasilkan, maka partikel proton akan kembali kepada arah kesetimbangan, paralel
terhadap B0 (Gambar 2-5) untuk memulai pengukuran spin-tipping selanjutnya.
Proses ini berlangsung pada konstanta waktu yang berbeda yaitu longitudinal
relaxation, T1.

Gambar 2-5 Longitudinal Relaxation

T2 dan T2 kedua-duanya merupakan hasil dari sebuah proses molekular. Dari


pengukuran laboratorium pada batuan yang tersaturasi air, ditemukan bahwa nilai T1
hampir sama dengan 1.5 T2. Rasio ini akan berubah bila batuan tersaturasi minyak
dan gas.

3. Mekanisme Relaksasi NMR

Terdapat tiga mekanisme relaksasi NMR yang mempengaruhi waktu relaksasi T1 atau T2,
yaitu relaksasi permukaan-butir, relaksasi difusi molekul pada gradien medan magnetik dan
relaksasi proses fluida-keseluruhan.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 21
NMR Halaman : 6 / 15
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(NUCLEAR MAGNETIC RESONANCE)

a. Relaksasi permukaan-butir (grain surface relaxation)

Molekul dalam fluida berada pada gerak konstan (Gerak Brown) dan menyebar ke
seluruh ruang pori, menabrak permukaan butir beberapa kali dalam satu pengukuran
NMR. Ketika hal ini terjadi, akan terdapat dua interaksi. Pertama, partikel proton
hidrogen dapat memindahkan energi putar nuklir ke permukaan butir dan dan
tersusun kembali dengan medan magnet statis, B0 yang kemudian memperbesar
nilai T1. Kedua, partikel proton dapat terbentuk kembali secara irreversibel- yang
kemudian meperbesar nilai T2. Telah dibuktikan bahwa bentuk relaksasi ini paling
berpengaruh terhadap nilai T1 dan T2. Kemampuan permukaan butir untuk
merelaksasi ini disebut dengan surface relaxivity, . Kemampuan relaksasi batuan
pasir sekitar terhadap air pori tiga kali lebih efisien dibandingkan batuan karbonat.

Ukuran pori juga berperan penting dalam relaksasi permukaan. Kecepatan relaksasi
tergantung pada seberapa sering partikel proton dapat bertubrukan dengan permukaan
dan hal ini juga tergantung pada rasio surface-to-volume (S/V) (Gambar 2-6).
Tubrukan akan sering terjadi di pori yang kecil dibandingkan pori yang besar,
sehingga untuk pori kecil, nilai S/V akan lebih besar dan waktu relaksasi lebih
singkat. Untuk pori tunggal, magnetisasi putaran nuklir akan berkurang secara
eksponensial, sehingga gelombang amplitudo sinyal yang merupakan fungsi waktu
akan berkurang seiring dengan konstanta waktu karakteristik [2(S/V)]-1. Oleh karena
itu,

1 T2 = 2 S V , dan 1 T1 = 1 S V

Batuan mempunyai distribusi ukuran pori dengan masing-masing nilai S/V.


Magnetisasi total merupakan penjumlahan semua sinyal yang datang dari setiap pori.
Penjumlahan volume dari semua pori sama dengan volume fluida dalam batuan
porositas. Pengukuran NMR terhadap porositas dan distribusi pori merupakan
element penting dalam interpretasi NMR.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 21
NMR Halaman : 7 / 15
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(NUCLEAR MAGNETIC RESONANCE)

Gambar 2-6 Grain surface relaxation

b. Relaksasi difusi molekul pada gradien medan magnetik

Ketika terdapat gradien pada medan magnet statis, gerak molekular akan
mengakibatkan dephasing, begitu juga dengan relaksasi T2. Dalam hal ini, relaksasi
T1 tidak terpengaruh. Gerak molekular tidak mengakibatkan relaksasi NMR bila
beberapa gradien tidak ada. Gradien B0 bersumber dari: konfigurasi magnet dari
peralatan logging dan perbedaan pengaruh magnet antara materi butiran dan fluida
pori pada batuan berpori.

Dengan menjaga penjarakan CPMG echo tetap minimum dan pengaruh medan
magnet tetap kecil, akan mengurangi kontribusi difusi relaksasi T2 sampai level yang
dapat diabaikan.

c. Relaksasi fluida-keseluruhan (Bulk fluid relaxation)

Bahkan apabila permukaan-butir dan gradien magnet tidak ada, relaksasi tetap terjadi
pada bulk-fluid. Bulk-fluid relaxation acapkali dapat diabaikan, tetapi akan sangat
penting bila terdapat air pada pori-pori yang sangat besar, misalnya vuggy carbonate,
sehingga tabrakan partikel proton dengan permukaan akan jarang terjadi. Jenis
relaksasi ini juga akan sangat penting bila terdapat hidrokarbon. Fasa nonwetting
tidak menyentuh permukaan pori sehingga tidak dapat direlaksasi oleh mekanisme
relaksasi permukaan.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 21
NMR Halaman : 8 / 15
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(NUCLEAR MAGNETIC RESONANCE)

d. Kesimpulan proses relaksasi

Proses relaksasi bersifat paralel, dimana:

1 1 1 1
= + +
T2 total T2 S T2 D T2 B

dimana (1/T2)S adalah kontribusi permukaan butir, (1/T2)D adalah difusi pada
kontribusi medan magnet dan (1/T2)B adalah kontribusi bulk-fluid. Demikian juga
untuk T1, dimana:

1 1 1
= +
T1 total T1 S T1 B

Tidak ada kontribusi difusi terhadap T1 karena proses ini akan menghasilkan
mekanisme dephasing.

4. Aplikasi

Aplikasi ini melakukan pengukuran dengan menggunakan CMR (Combinable Magnetic


Resonance) yang digunakan oleh Schlumberger.

1. Distribusi T2

Pada media berpori, waktu relaksasi T2 proporsional terhadap ukuran pori. Si


sembarang kedalaman, CMR menyelidiki contoh batuan yang mempunyai tingkat
ukuran pori. Secara grafis, distribusi T2 mengindikasikan volume fluida pori
dihubungkan dengan setiap nilai T2, dan selanjutnya volume akan berhubungan
dengan setiap pori

Untuk reservoir batuan karbonat, distribusi T2 antara X340 ft sampai X405 ft


terinklinasi menuju batas tertinggi dari spektrum distribusi menandakan pori pori
besar (Gambar 2-7). Di bawah X405 ft, inklinasi menuju batas terendah spektrum
mengindikasikan pori-pori kecil. Hal ini bukan hanya untuk mengetahui zona mana
yang akan diproduksikan, tetapi juga akan membantu geologis dalam analisa fasies.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 21
NMR Halaman : 9 / 15
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(NUCLEAR MAGNETIC RESONANCE)

Gambar 2-7 Distribusi T2

2. Lithology-independent porosity

Penentuan porositas reservoir batuan karbonat dengan menggunakan CMR


dibandingkan dengan menggunakan density logging seperti diperlihatkan pada
Gambar 2-8 untuk membuktikan porositas yang didapatkan tidak tergantung pada
litologi. Setelah kedalaman X935 ft, reservoir adalah dolomit, dan porositas dari

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 21
NMR Halaman : 10 / 15
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(NUCLEAR MAGNETIC RESONANCE)

density log harus disesuaikan terhadap matriks dolomit untuk untuk melapisi
porositas dari CMR. Jika litologi tidak diketahui atau kompleks, porositas dari CMG
akan memberikan hasil yang paling baik. Juga alat ini tidak menghasilkan bahan
radioaktif, sehingga tidak akan bermasalah terhadap lingkungan.

Gambar 2-8 Lithology-independent porosity

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 21
NMR Halaman : 11 / 15
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(NUCLEAR MAGNETIC RESONANCE)

3. Permeabilitas

Data NMR dapat digunakan untuk memperkirakan harga permeabilitas. Contohnya


dengan menggunakan Standard Coates Model berikut:

( )
k NMR = C ( NMR ) 4 T2, log 2

atau MPERM = (MPOROSITY 10) 4 (FFI BVI ) 2

dimana:

kNMR (MPERM) = Prediksi permeabilitas NMR, mD


NMR (MPOROSITY) = Porositas NMR, persen
T2,log = Distribusi T2, skala logaritma
C = konstanta, batupasir = 4, karbonat = 0.1
FFI = Free Fluid Index, persen
BVI = Bulk Volume Irreducible, persen

FFI adalah persentase volume batuan yang kaya akan hidrogen dan bebas alir (gas,
miyak, air), sedangkan BBI merupakan persentase volume batuan yang ditempati oleh
air tak bergerak sebagai akibat dari tekanan kapiler.

Pada Gambar 2-9, diatas zona XX41 sampai XX49 m, variasi porositas sangat kecil.
Walaupun begitu, harga permeabilitas akan bervariasi dari harga terendah 0.07 mD
pada kedalaman XX48 m sampai harga tertinggi 10 mD pada kedalaman XX43 m.
Permeabilitas CMR juga menunjukkan nilai resolusi yang sangat baik dibandingkan
dengan nilai dari hasil core. Nilai C yang digunakan untuk sumur ini akan dipakai
dalam CMR log pada formasi, sehingga memungkinkan bagi oil company untuk
mengurangi biaya operasional coring.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 21
NMR Halaman : 12 / 15
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(NUCLEAR MAGNETIC RESONANCE)

Gambar 2-9 Perbandingan data core dan data log

4. Free-fluid index

Nilai free-fluid index ditentukan dengan membuat suatu cutoff terhadap kurva
relaksasi T2. Nilai yang berada diatas nilai cutoff megindikasikan pori-pori besar yang
potensial untuk berproduksi, dan nilai yang ada di bawahnya mengindikasikan pori-
pori kecil yang mengandung fluida yang terjebak akibat tekanan kapiler dan tidak
dapat berproduksi. Telah banyak percobaan dilakukan untuk membuktikan asumsi
ini. Distribusi T2 diukur pada core yang tersaturasi air sebelum dan sesudah core
tersebut dicentrifuge di udara untuk memisahkan air. Hal ini dilakukan pada tekanan
100 psi untuk mensimulasikan tekanan kapiler reservoir. Sangat logis bila
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 21
NMR Halaman : 13 / 15
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(NUCLEAR MAGNETIC RESONANCE)

diasumsikan bahwa pori yang besar akan kosong terlebih dahulu. Secara tidak
mengejutkan, waktu relaksasi yang panjang akan hilang dari pengukuran T2 (Gambar
2-10).

Gambar 2-10 Kurva distribusi T2

Pada reservoir batu pasir, data interpretasi dari log konvensional memperlihatkan
saturasi air sebesar 70 sampai 80% pada formasi pasir berlempung. Bagaimanapun
juga, pada log CMR, kebanyakan distribusi T2 akan turun dibawah cutoff (33-msec),
mengindikasikan ait terbatas-kapiler (capillary-bound water). Interpretasi termasuk
data CMR menunjukkan bahwa kebanyakan dari air tersebut adalah irreducible.
Ketika sumur telah selesai, akan dihasilkan jumlah gas dan minyak yang ekonomis
dengan water-cut yang rendah (Gambar 2-11). Harga water-cut dapat diperkirakan
dari perbedaan antara saturasi air residual dengan saturasi air dari resistivity log.

Sedangkan untuk reservoir karbonat, yang dipermasalahkan adalah terjadinya water-


coning selama produksi. Data log CMR memperlihatkan harga T2 yang rendah di
bawah kedalaman X405 ft mengindikasikan ukuran pori yang kecil. Dengan memakai
harga cutoff untuk batuan karbonat sebesar 100-msec, diperlihatkan bahwa hampir
keseluruhan air adalh irreducible, sehingga selanjutnya perlu dilakukan perforasi
tambahan (Gambar 2-12)
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 21
NMR Halaman : 14 / 15
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(NUCLEAR MAGNETIC RESONANCE)

Gambar 2-12 Distribusi ukuran pori dan free-fluid index

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 21
NMR Halaman : 15 / 15
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(NUCLEAR MAGNETIC RESONANCE)

5. Daftar Pustaka

1. Kenyon B, Kleinberg R, Straley C, Gubelin G and Morriss C, Nuclear Magnetic


Reservoir Imaging-Technology for the 21st Century, Oilfield Review (Autumn 1995):
19-33.

2. Kennaird T, Application of Core Analysis In Reservoir Description and


Characterization, presented at Network of Excellence in Training, Corelab Reservoir
Optimization, Bandung, Jawa Barat, Indonesia, August 4-8, 2003, chapter 9.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 22
Halaman : 1 / 10
Log PEF Interpretation Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

1. Pendahuluan

PEF adalah log yang merekam kelakuan absorpsi photoelectric formasi. Pengukuran ini
dinyatakan dalam faktor Pe yang didefinisikan sebagai (Z/10)x 3.6 dimana Z adalah nomor
atom rata rata formasi. Pe tidak berdimensi, tetapi karena ini sebanding dengan penampang
photoelectric per elektron, biasanya dinyatakan dalam besaran barns/elektron. Karena nomor
atom fluida sangat rendah, pengaruhnya sangat kecil, sehingga Pe dapat dianggap
mencerminkan kelakuan batuan di formasi. Secara umum dapat digambarkan bahwa batuan
pasiran (sandstones) Pe nya rendah, sementara dolomites dan limestones Pe nya tinggi.
Lempung, mineral mineral berat dan mineral mineral yang mengandung besi menunjukkan
Pe yang tinggi. PEF bisa juga dinyatakan dalam besaran penampang volumetrik U yaitu
perkaliannya dengan density sehingga besarannya adalah barns/cm3.
Log ini direkam sebagai bagian dari pengukuran density dengan jangkauan penyidikan
sekitar satu inci (biasanya sudah di zona terbanjiri / flushed zone). PEF bisa dipengaruhi
oleh adanya mineral berat seperti barite di mud cake atau mud filtrate.
Log ini diperkenalkan sekitar tahun 1970-an.

2. Perhitungan Pe

Pulse rate memberikan respon terhadap indeks absorpsi fotoelektrik dengan persamaan:

U = Pe e ...................................................................... (1)

Semakin besar harga U, maka harga pulse rate akan semakin kecil, begitu juga sebaliknya.
Dengan suatu kalibrasi, maka akan dapat ditentukan harga U untuk setiap formasi.
Densitas elektron, e, berhubungan dengan bulk density (sebagai hasil kalibrasi terhadap
formasi lempung tersaturasi-air) dengan persamaan:

b + 0.1883
e = ........................................................... (2)
1.0704
sehingga dari kedua persamaan tersebut didapat :

1.0704 U
Pe = ........................................................... (3)
b + 0.1883

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 22
Halaman : 2 / 10
Log PEF Interpretation Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 24-1. Plot jumlah sinar Gamma yang mencapai detektor

3. Ketergantungan Pe Terhadap Litologi

Parameter Pe mencerminkan litologi formasi karena sangat bergantung pada jumlah atom
efektif dari media yang mengabsorpsi sinar Gamma. Untuk atom tunggal, Z, harga P
diberikan dengan satuan logging (barns/elektron, dimana 1 barn = 10-24 cm2), yaitu:
3. 6
Z
Pe =
10

Untuk formasi yang mengandung elemen yang lebih banyak, nilai Pe ayng efektif didapat
dengan menjumlahkan nilai (Z 10) 3. 6
, setelah memberikan weighting value, yang
merupakan densitas elektron relatif terhadap campuran, kepada masing-masing elemen.
Tabel 24-1 kolom 2 memberikan harga Pe yang efektif untuk material sedimen yang umum.
Harga Pe untuk quartz, calcite, dan dolomite sangat berbeda. Anhydrite dan calcite relatif
mempunyai harga Pe yang sama tetapi sangat berbeda untuk harga densitasnya (kolom 3).

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 22
Halaman : 3 / 10
Log PEF Interpretation Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Siderite (FeCO3) dan pyrite (FeS2) mempunyai harga Pe yang tinggi karena nilai atom Fe
yang besar (Z = 26). Begitu juga untuk Barite, dimana nilai atom Barium; Z = 56.

Gambar 24-3 memperlihatkan harga Pe untuk limestone, dolomite dan sandstone dengan
porositas 0 35% dimana pori-porinya mengandung air bersih dan methana dengan densitas
0.1 gr/cc.

Tabel 24-1. Harga Pe dan U untuk material sedimen yang umum

Pe Sp. Gr. b U

Quartz 1.81 2.65 2.64 4.78

Calcite 5.18 2.71 2.71 13.8

Dolomite 3.14 2.87 2.88 9.00

Anhydrite 5.05 2.96 2.98 14.9

Halite 4.65 2.17 2.04 9.68

Siderite 14.7 3.94 3.89 55.9

Pyrite 17.0 5.00 4.99 82.1

Barite 267 4.48 4.09 1065

Water (fresh) 0.358 1.00 1.00 0.398

Water (100K ppm NaCl) 0.734 1.06 1.05 0.850

Water (200K ppm NaCl) 1.12 1.12 1.11 1.36

Oil (n(CH2)) 0.119 oil 1.22 oil 0.188 0.136 oil

Gas (CH4) 0.095 gas 1.33 gas 0.188 0.119 gas

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 22
Halaman : 4 / 10
Log PEF Interpretation Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 24-2. Koefisien absorpsi fotoelektrik sebagai


fungsi porositas dan tipe fluida

4. Kedalaman Penetrasi Dan Resolusi Vertikal

Dalam perhitungan b, kedalaman pentrasi dan resolusi vertikal hampir sama dengan yang
dihasilkan oleh Compensated Density, juga dengan perhitungan Pe, walaupun belum ada
publikasi yang membahas tentang hal ini.

5. Pengaruh-pengaruh di Lubang Sumur

Untuk kurva b, pengaruh lubang sumur hampir sama dengan yang dihasilkan oleh
instrumen Compensated Density. Koreksi kekasaran dan mud cake dibuat dengan metode
spine-and-ribs. Koreksi ini akan memenuhi selama lebih kecil dari 0.15 gr/cc. Tidak
demikian halnya dengan kurva Pe, dimana tidak ada informasi yang jelas tentang apakah
perhitungan U terkoreksi oleh mud cake dan kekasaran, sementara data ini sangat
diperlukan.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 22
Halaman : 5 / 10
Log PEF Interpretation Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Dalam penggunaan Litho-Density log, lumpur pemboran yang mengandung barite akan
menimbulkan masalah. Jika lumpur ini berada di antara formasi dan alat, harga Pe yang
sangat tinggi akan mengaburkan harga formasi sehingga kurva Pe akan tidak berguna.

6. Aplikasi

Pada Gambar 24-4, dapat dilihat Litho-Density log dijalankan bersama-sama dengan
Gamma Ray log dan Compensated Neutron log. Kurva b, dikonversikan ke porositas
menggunakan densitas matriks limestone sebesar 2.71 gr/cc berada di Track 3. Garis putus-
putus merupakan kurva Neutron porosity log. Kurva Pe berada pada Track 2, sedangkan
Gamma Ray dan Caliper log dicatat di Track 1. Di bagian bawah, selang Pe untuk sandstone,
dolomite, dan limestone ditandai untuk interval porositas 0 12%. Lebih jelasnya, formasi
pada level A adalah limestone dan pada level C adalah murni Batu pasir. Pada level B, jenis
formasi tidak dapat ditentukan dengan kurva Pe. Bisa saja 50% limestone dan 50% dolomite,
atau 70% limestone dan 30% sandstone, atau bahkan konminasi dari ketiga jenis formasi
batuan tersebut.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 22
Halaman : 6 / 10
Log PEF Interpretation Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

7. Interpretasi Litologi Dengan Kurva (b - Pe)

Skema interpretasi sederhana dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 24-3 Skema interpretasi sederhana

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 22
Halaman : 7 / 10
Log PEF Interpretation Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Sedang pada evaporit dapat diskemakan sebagai berikut :

Gambar 24-4 Skema interpretasi sederhana pada evaporit.

Jika hanya dua dua matriks batuan yang ada, fraksi volume dan porositas masing-masing
matriks dapat ditentukan dari kombinasi harga b dan Pe seperti terlihat di Gambar 24-5.

Dengan harga b dan Pe, maka titik potong keduanya dapat ditemukan. Misalnya, gunakan
titik B pada Gambar 4 dan asumsikan matriksnya merupakan campuran calcite dan
dolomite. Didapat harga Pe = 4.0, dan porositas sama dengan 2%. Harga porositas ini
digunakan pada Gambar 24-6 yang kemudian memotong garis ma = 2.71, didapat harga b
= 2.68. Dengan menggunakan Gambar 24-5, didapat harga porositas 6% dan matriksnya
50% calcite dan 50% dolomite. Bila diasumsikan matriksnya merupakan campuran calcite
dan sandstone, didapat harga porositas 0% dan matriksnya calcite dan sandstone.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 22
Halaman : 8 / 10
Log PEF Interpretation Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Penggunaan kurva Neutron akan memungkinkan kita menghitung tiga kemungkinan


campuran matriks batuan.

Gambar 24-5. Contoh Litho-Density Log

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 22
Halaman : 9 / 10
Log PEF Interpretation Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 24-6. Penentuan harga porositas dan litologi untuk


dua komponen matriks batuan

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 22
Halaman : 10 / 10
Log PEF Interpretation Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 24-7. Penentuan porositas dari bulk density

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 23
Halaman : 1 dr 22
CASED HOLE LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

1. Tujuan

Pengenalan jenis-jenis log, prinsip pengukuran dan aplikasi log.

2. Latar Belakang

Evaluasi formasi pada cased hole biasanya menggunakan alat pengukur yang memanfaatkan prinsip
radiasi, seperti: Thermal Decay Time (TDT), Gamma Ray Spectrometry (GST), Compensated
Neutron (CNL), Standard Gamma Ray (GR), dan Natural Gamma Ray Spectrometry (NGS).
Sebagai tambahan adalah Array Sonic atau Long-Spaced Sonic (LSS) ynag membutuhkan informasi
porositas, lithologi dan salinitas air dari log open hole.

3. Natural Gamma Ray Log

Alat ini mencatat (merekam) radioaktifitas di formasi. Ada dua tipe GR (Gamma Ray) Log, yaitu:
standard GR Log yang hanya mengukur total radioaktifitas dan NGS (Natural Gamma Ray
Spectrometry) Log yang mengukur radioktifitas dan konsentrasi potasium, thorium, dan uranium
hasil radioaktifitas unsur, yang secara kontinu memancarkan Gamma Ray (sinar gamma) dalam
bentuk pulsa energi radiasi tinggi. GR mampu menembus batuan dan dideteksi oleh sensor sinar
gamma yang umumnya berupa detektor sintilasi. Setiap sinar gamma yang terdeteksi menimbulkan
pulsa listrik pada detektor. Parameter yang direkam adalah jumlah pulsa yang tercatat per satuan
waktu, yang tercatat pada track 1 (track kiri) dari log dan biasanya dihubungkan dengan hasil
rekaman log lain, seperti: CBL log atau TDT log. Penggunaan GR dan NGS log adalah : untuk
membedakan batuan reservoir, seperti: sandstone, limestone dan dolomite (yang merupakan batuan
porous dan permeabel) dari clay dan shale (batuan non permeabel), mendefenisikan batas bed,
memonitor jejak radioaktif, memberikan indikasi kualitatif salinitas air formasi, membantu
identifikasi lithologi dan mineral batuan, evaluasi (deteksi) deposit mineral radioaktif dan
menunjukkan konsentrasi potasium, thorium dan uranium dalam formasi, khusus alat NGS.

Pada formasi sedimen GR log biasanya merefleksikan kandungan shale formasi sehingga rekaman
log cenderung defleksi ke kanan. Hal ini disebabkan karena kecenderungan unsur radioaktif
terkonsentrasi di dalam clay dan shale. Formasi bersih (clean sand) memiliki level radioaktifitas
yang kecil, pada kertas log menunjukkan defleksi ke kiri kecuali jika formasi terdapat kontaminan
radioaktif seperti volcanic ash dan granite wash atau air formasi mengandung dissolved radioactive
salts.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 23
Halaman : 2 dr 22
CASED HOLE LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

a. Sifat-sifat Gamma Ray

Spektrum emisi (pancaran) mineral radioaktif Gamma Ray untuk unsur potassium memiliki
energi tunggal 1.46 MeV, sedangkan uranium dan thorium bervariasi. Ketika melewati formasi
spektrum ini menyebar berbenturan dengan atom material formasi, dan kehilangan energinya
dimana energi ini diserap oleh formasi melalui efek fotolistrik.

Kecepatan penyerapan energi (absorbsi) bervariasi terhadap densitas formasi. Dua formasi yang
mengandung unsur radioaktif per unit volume yang sama namun berbeda densitas, akan
menunjukkan perbedaan level radioaktifitasnya. Formasi yang memiliki densitas lebih kecil
akan tampak lebih radioaktif.

Respon GR Log setelah dikoreksi tehadap kondisi lubangbor adalah proporsional terhadap
konsentrasi berat unsur radioaktif di dalam formasi:

i Vi Ai
GR =
b

dimana :
i = densitas mineal radioaktif

Vi = faktor volume bulk mineral

Ai = faktor proporsional sesuai dengan radioktifitas mineral

b = densitas bulk formasi

b. Kalibrasi

Kalibrasi alat GR diset terhadap standard API (America Standard International). Radioaktifitas
formasi sediment umumnya pada interval harga API unit yang kecil pada anhydrit atau salt dan
200 API unit atau lebih dalam shale.

Prosedur kalibrasi alat awalnya dikalibrasi pada skala mikrogram ekivalen radium per ton
formasi ( gm Ra eq / ton ). Konversi unit ini terhadap API unit dapat dilihat pada Tabel 3-1.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 23
Halaman : 3 dr 22
CASED HOLE LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Tabel 3-1 Konversi unit lama ke unit API untuk log GR


yang digunakan Schlumberger

Hasil logging NGT disebut log NGS. Uranium dan thorium dalam skala ppm (part per million),
dan potasium dalam persentase bobot (1%=104 ppm). Walaupun konsentrasi potassium jauh
lebih besar dibandingkan dua unsur lainnya, tingkat aktifitas ketiga unsur radioaktif itu adalah
hampir sama.

4. NGS log

Tidak seperti log GR, yang hanya mengukur radioaktivitas total, log ini mengukur jumlah gamma
ray dan juga mengukur tingkat energi dari masing-masing unsur radioaktif potassium, thorium dan
uranium dan juga penentuan konsentrasinya dalam batuan formasi.

a. Prinsip

Kebanyakan dari radiasi gamma-ray di bumi berasal dari tiga isotop radioaktif, yaitu potassium,
uranium dan thorium. Diasumsikan pembentukannya melalui kesetimbangan tersendiri, dimana
isotop anak membelah tepat pada saat mereka terproduksi dari isotop induk, sehingga secara
proporsional, jumlah isotop induk dan isotop anak akan relatif konstan pada waktu tertentu.

Alat ukur NGS menggunakan detektor sodium iodide scintillation. Sinar gamma terpancar
secara acak menuju detektor. Interaksi dengan formasi akibat dari; efek fotoelektrik, efek
Compton, dan pair production, akan mengakibatkan sinar tersebut menghambur dan kehilangan
energi sehingga spektrum yang semula seperti diperlihatkan pada Gambar 3-2 akan berubah
menjadi spektrum Gambar 3-3.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 23
Halaman : 4 dr 22
CASED HOLE LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 3-2 Spektrum emisi sinar Gamma dari mineral radioaktif

Gambar 3-3 Kurva respon potassium, thorium dan uranium


(detector Nal crystal)
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 23
Halaman : 5 dr 22
CASED HOLE LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

b. Presentasi log

NGS log membutuhkan pencatatan jumlah atau konsentrasi potassium, thorium dan uranium
dari formasi. Pencatatan ini biasanya diperlihatkan pada track 2 dan 3 di Gambar 3-4.
Konsentrasi thorium dan uranium dalam skala parts per million (ppm), sedangkan potassium
dalam skala persen (%). Dalam Gambar 3-3, dengan mengetahui respon dari peralatan dan
jumlah yang didapat dari setiap window (W1, W2, W3), maka akan dapat ditentukan jumlah
dari thorium 232, uranium 238, dan potassium 40 di formasi.

Sangat jarang sekali pengukuran dilakukan pada selang energi yang tinggi dengan penentuan
puncak yang paling baik, sehingga pengukuran dilakukan untuk mendapatkan variasi statistik
yang lebih luas, bahkan pada logging dengan kecepatan rendah. Dengan memasukkan
kontribusi penghitungan selang energi yang tinggi, bagian energi rendah pada spektrum (W1
dan W), maka variasi statistik pada windows energi tinggi akan dapat dikurangkan dengan
faktor 1.5 sampai 2 yang kemudian dapat dikurangi lagi dengan menggunakan teknik
penyaringan, yang membandingkan perhitungan pada kedalaman tertentu dengan elemen
radioaktif, sehingga kurva GR standar (total) dapat dilihat pada track 1.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 23
Halaman : 6 dr 22
CASED HOLE LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 3-4 Log spektometri sinar Gamma

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 23
Halaman : 7 dr 22
CASED HOLE LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

c. Interpretasi

Contoh unsur radioaktif yang terdapat di alam antara lain:

Potassium: mika, feldspar, lempung-bermika


Thorium: sepih, mineral berat
Uranium: fosfat, bahan-bahan organik

d. Aplikasi

Log NGS, selain dapat digunakan untuk mendeteksi, mengidentifikasi dan mengevaluasi
mineral radioaktif, juga digunakan untuk membantu menidentifikasi tipe lempung dan
menghitung volume lempung, yang pada akhirnya kita akan dapat memperhitungkan
lingkungan pengendapan, sejarah diagenesa dan karakter petrofisis batuan.

Respon thorium dan potassium dari log NGS biasanya mengindikasikan lempung lebih baik
dibandingkan dengan log GR ataupun indikator lempung lainnya, demikian juga halnya untuk
pasir-berlempung. Log NGS juga dapat digunakan dalam membuat suatu korelasi pada lapisan
yang mengandung thorium dan potassium.

Dengan mengkombinasikan log NGS dengan log litologi-sensitif lainnya (seperti GST dan log
neutron), maka kita akan dapat melakukan analisa terhadap campuran litologi yang sangat rumit
secara volumetrik. Untuk campuran yang tidak begitu rumit, kita akan dapat mengidentifikasi
mineral dengan tingkat kepastian yang lebih tinggi dan juga perhitungan volume yang lebih
akurat.

5. Neutron Log

Log neutron pada cased-hole digunakan untuk menggambarkan formasi berpori dan penentuan
porositasnya, dimana log merespons jumlah hidrokarbon yang terdapat dalam formasi. Log neutron
juga mempunyai kelebihan dalam menggambarkan korelasi untuk open-hole dibandingkan log
gamma ray. Zona gas dapat diidentifikasi dengan membandingkan log neutron terhadap log sonic-
porosity atau core porosity.

a. Prinsip dasar

Neutron adalah partikel listrik yang netral, yang mempunyai massa hampir sama dengan massa
atom hidrogen. Neutron berenergi tinggi terpancar secara berkesinambungan dari sumber
radioaktif, yang kemudian bertubrukan dengan nukleus dari material formasi, yang dikenal
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 23
Halaman : 8 dr 22
CASED HOLE LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

dengan tubrukan bola biliar, dimana neutron akan kehilangan sebagian dari energinya setiap
kali terjadi tubrukan. Kehilangan energi ini tergantung pada massa relatif nukleus yang
bertubrukan dengan neutron. Energi yang hilang akan semakin besar bila neutron bertubrukan
dengan partikel yang massanya hampir sama, contohnya hidrogen, dalam arti bahwa
perlambatan partikel neutron akan sangat bergantung pada jumlah partikel hidrogen dalam
formasi.

Perlambatan ini akan berlangsung dalam jangka waktu mikrodetik, bersamaan dengan
hilangnya energi sekitar 0.025 eV. Partikel neutron ini kemudian akan menyebar secara acak
sampai tertangkap oleh partikel atom lainnya, seperti klorin, hidrogen atau silikon. Ketika
konsentrasi hidrogen dari material yang menangkap partikel neutron sangat besar, maka
sebagian besar partikel neutron akan mengalami perlambatan dan tertangkap tidak jauh dari
sumbernya. Sebaliknya, jika konsentrasi partikel hidrogen kecil, maka neutron akan menempuh
jarak yang lebih jauh sampai tertangkap. Berdasarkan hal ini, derajat penghitungan detektor
akan meningkat seiring dengan menurunnya konsentrasi hidrogen, dan juga sebaliknya.

6. Sonic Log

a. Prinsip

Dalam kasus well-log, dinding sumur, lapisan formasi, kekasaran lubang dan rekahan
merupakan gambaran diskontinuitas akustik yang signifikan. Sehingga, fenomena pembelokan
gelombang, pemantulan, dan konversi pada akhirnya akan menuju kemunculan banyak
gelombang akustik dalam lubang sumur ketika log suara sedang dijalankan. Dari pertimbangan
ini, dianggap akan banyak energi akustik yang diterima oleh penerima di peralatan sonic log.
Penerimaan energi ini dalam casing diperlihatkan dalam bentuk gelombang akustik pada
Gambar 3-10.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 23
Halaman : 9 dr 22
CASED HOLE LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 3-10 Bentuk gelombang suara dalam cased hole dengan


ikatan semen yang baik

Untuk pengukuran kecepatan di cased-hole, biasanya digunakan Array-Sonic. Alat ini dua
transmitter piezoelektrik (5 sampai 18 kHz), yang jarak antaranya berkisar 2 ft (3 ft dan 5 ft dari
bagian atas transmitter. Untuk cased-hole, penerima transmisi ini digunakan untuk membuat
CBL 3-ft dan VDL 5-ft standar. Ilustrasi perlatan ini dapat dilihat pada Gambar 3-12.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 23
Halaman : 10 dr 22
CASED HOLE LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 3-12 Peralatan Array-Sonic pada mode CBL

b. Presentasi log

Pada umumnya kecepatan suara pada litologi formasi berkisar antara 6000 sampai 23000 ft/sec.
Untuk menghindari nilai desimal yang sangat kecil, t direkam dalam satuan mikrodetik/kaki
(s/ft) dimana nilainya akan berkisar 44 s/ft untuk dolomite padat (porositas sama dengan nol)
hingga 190 s/ft untuk air. Waktu transit interval biasanya diukur dengan skala linier di trek 2
dan trek 3 dari log (Gambar 3-13)..

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 23
Halaman : 11 dr 22
CASED HOLE LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 3-13 Presentasi Sonic Log

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 23
Halaman : 12 dr 22
CASED HOLE LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

c. Penentuan Porositas (Persamaan Waktu Rata-rata Wyllie)

1. Batupasir gabungan dan kompak (Consolidated and Compacted Sandstone)

Dari hasil beberapa percobaan, untuk formasi yang kompak dan bersih, dengan distribusi
pori-pori kecil yang merata, Wyllie memebuat suatu persamaan hubungan weighted-
average antara porositas dan waktu transit kompresional, yaitu:

tLOG = tf+ (1 ) tma

dimana : tLOG = pembacaan di log sonic (s/ft)

tma = waktu transit pada material matriks

tf = waktu transit dari fluida pensaturasi (sekitar 189 s/ft untuk sistem lumpur
air bersih

Pada umumnya, batupasir gabungan dan kompak mempunyai porositas berkisar antara 15
sampai 25%. Di beberapa formasi, respon dari log sonic terlihat tidak bergantung terhadap
kandungan pori; air, minyak, gas dan serpih. Untuk batupasir dengan porositas yang lebih
tinggi (>30%) yang mempunyai saturasi air yang kecil, saturasi hidrokarbon yang besar,
dan invasi yang dangkal (shallow invasion), nilai t dapat lebih besar dibandingkan dengan
formasi yang sama dimana porinya tersaturasi air.

2. Batuan karbonat (Carbonates)

Untuk batuan karbonat, struktur pori dan distribusi ukuran pori akan sangat berbeda
dengan batuan pasir. Biasanya akan terdapat porositas sekunder seperti vugs dan rekahan
yang ukurannya lebih besar dibandingkan porositas primer. Porositas sekunder ini dapat
ditentukan dengan menggunakan persamaan:

2 = t SV

dimana:

SV = (tLOG - tma)/(tf tma)

t adalah porositas total yang nilainya dapat diperoleh dari log neutron dan/atau log
densitas.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 23
Halaman : 13 dr 22
CASED HOLE LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

3. Batupasir tidak-kompak (Uncompacted Sandstone)

Jika formasi tidak cukup kompak, nilai t yang didapatkan akan lebih besar dibandingkan
dengan nilai porositas yang didaptkan dari rumus waktu rata-rata (time-average formula),
tetapi hubungan antara dan t masih tetap linier. Untuk kasus ini, digunakan faktor
koreksi empirikal, BCp terhadap nilai SV, sehingga persamaan menjadi:

SV = [(tLOG - tma)/(tf tma)] x (1/BCp)

Dengan menggunakan metode Neutron, N dapat dibandingkan dengan SV (atau t)


dengan menggunakan Chart Por-3, dimana BCp = SV/ N.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 23
Halaman : 14 dr 22
CASED HOLE LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

4. Persamaan empiris berdasarkan penelitian lapangan

Transform empiris ini dapat diperkirakan dengan menggunakan persamaan:

SV = [C(tLOG tma)]/(tLOG)

dimana untuk beberapa partikel, nilai tma antara lain:


Pasir kwarsa 56 s/ft (17,850 ft/det)
Batu kapur 49 s/ft (20,500 ft/det)
Dolomit 44 s/ft (22,750 ft/det)

5. Interpretasi shear-wave

Data waktu transit dari shear-wave berguna untuk mengidentifikasi mineral dalam matriks
dan fluida pori (Gambar 3-14).

Gambar 3-14 Sonic-derived compressional dan shear crossplot

Dari sebaran shear-wave, parameter yang dapat diperkirakan antara lain:

Batu pasir tma = 86 s/ft


Batu kapur tma = 90 s/ft
Dolomit tma = 76 s/ft
Anhidrit tma = 100 s/ft
Air tma = 350 s/ft

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 23
Halaman : 15 dr 22
CASED HOLE LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

d. Kualitas log

Kualitas dari sonic log bergantung pada acoustic coupling dari casing dan formasi. Gambar 3-
15 memperlihatkan perbandingan antara BHC log yang dijalankan pada saat open hole dengan
Array-Sonic log yang dijalankan setelah sumur ditutup dengan casing 7-in.

Gambar 3-15 Perbandingan openhole dan cased-hole log sonic dengan peralatan CET

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 23
Halaman : 16 dr 22
CASED HOLE LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Dari Gambar 3-16 dapat dilihat kesesuaian antara openhole dan cased-hole dari log sonic
walaupun dari hasil Variabel-Density log, yang dijalankan bersamaan dengan Array-Sonic tool,
memperlihatkan beberapa zona dengan bonding yang buruk.

Gambar 3-16 Perbandingan openhole dan cased-hole dengan tampilan VDL

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 23
Halaman : 17 dr 22
CASED HOLE LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

e. Aplikasi

Bila dikombinasikan dengan CNL neutron log, sonic log akan dapat menemukan litologi dan
kehadiran gas. Gambar 3-17 memperlihatkan cased-hole sonic/CNL porosity log yang
dijalankan melalui formasi gas bearing. Zona antara 3424 sampai 3432 ft diperforasi dan
menghasilkan 2 juta ft3/D gas.

Gambar 3-17 Cased-hole sonic dan CNL log memperlihatkan zona gas setebal 8-ft

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 23
Halaman : 18 dr 22
CASED HOLE LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

7. Thermal Decay Time Log

Ada dua jenis TDT yang sering dipakai di lapangan, yaitu Dual-Burst TDT dan TDT-K yang masing-
masing dipergunakan dipergunakan sebagai standar industri dalam waktu yang lama. Masing-masing
alat ini mempunyai diameter 111/16 inci. Dual-Burst TDT menggunakan model difusi untuk
menganalisa penurunan ledakan neutron di lingkungan bawah permukaan. TDT-K merekam bagian
thermal neutron dari formasi dengan menghitung derajat thermal-neutron dari setiap penurunan.

a. TDT-K

Alat ini memberikan nilai waktu penurunan thermal dan kurva rasio yang diturunkan dari
derajat perhitungan dari kedua detektor. Pada Gambar 3-18 diperlihatkan bagian garis lurus
yang merupakan penurunan eksponensial dari densitas neutron. Sedangkan pada Gambar 3-19,
diperlihatkan penurunan neytron secara thermal pada pasir kwarsa dengan porositas 38% yang
mengandung air dengan kegaraman 95,000 ppm. Waktu = 0 merupakan akhir dari ledakan
neutron.

Gambar 3-18 Penurunan dari derajat perhitungan sinar gamma

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 23
Halaman : 19 dr 22
CASED HOLE LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 3-19 Kurva penurunan eksponensial

Faktor-faktor yang mempengaruhi penghitungan TDT-K adalah efek difusi dan juga efek dari
ketidakhomogenan dan lingkungan lubang sumur.

b. Dual Burst TDT

Alat ini menggunakan metode difusi yang memberikan solusi perhitungan yang lebih akurat
terhadap persamaan difusi neutron dibandingkan dengan model penurunan eksponensial.
Kelebihan metode ini adalah hasil algoritma untuk sigma formasi dan perhitungan tidak
bergantung pada fluida pemboran dan tidak perlu memakai koreksi Log Interpretation Charts.
Pada Gambar 3-22 diperlihatkan dual burst timing. Grafik ini menggambarkan pengaturan dari
ledakan neutron dan counting gates. Ledakan neutron diwakili oleh garis vertikal, sedangkan
counting gates diwakili oleh titik-titik.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 23
Halaman : 20 dr 22
CASED HOLE LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Gambar 3-22 Dual-Burst TDT timing

c. Aplikasi

Kedua peralatan ini dipergunakan untuk menentukan porositas dan pendeteksian gas.

7. Gamma Ray Spectometry Tool

Hasil dari elemen GST berhubungan dengan fluida atau mineral tertentu yang ditemukan di formasi,
antara lain:
H H2O, lempung, minyak
Ca CaCO3, CaMg(CO3)2, CaSO4, CaSO4(H2O)2
Si SiO2, lempung
Cl NaCl
S S, CaSO4, CaSO4(H2O)2
Fe FeS2, lempung
C hidrokarbon, CaCO3, CaMg(CO3)2
Dengan menggunakan hubungan ini, kemudian dapat diperhitungkan karakteristik formasi, seperti
litologi, porositas, kegaraman, dan saturasi hidrokarbon. Pada peralatan GST, terdapat dua jenis
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 23
Halaman : 21 dr 22
CASED HOLE LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

interaksi, yaitu fast neutron interaction seperti terlihat di Gambar 3-39, dan neutron capture
interaction pada Gambar 3-40.

Gambar 3-39 Fast Neutron Interaction

Gambar 3-40 Neutron Capture Interaction

Hubungan antara GST dan elemen mineral dan fluida yang umum terdapat di formasi diperlihatkan
pada Tabel 3-7.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 23
Halaman : 22 dr 22
CASED HOLE LOG Revisi/Thn : 2 / Juli 2003

Tabel 3-7 Hubungan antara GST dengan mineral dan fluida formasi

Kombinasi dari perhitungan jumlah elemen mineral serta fluida dan peralatan GST dipergunakan
untuk memperkirakan:

Saturasi minyak di belakan casing

Penipisan hidrokarbon dan pergerakan muka-air

Tingkat kegaraman air formasi

Pengembangan dan perhitungan tudung gas

Karakteristik formasi seperti porositas, litologi dan shaliness

Identifikasi mineral yang lebih spesifik

Gelombang uap dan CO2

Kualitas batubara

8. Daftar Pustaka

Schlumberger: Cased Hole Log Interpretation Principles/Applications, Houston, Texas, 1989.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 24
Cased Hole Formation Resistivity Halaman : 1/ 10
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(CHFR)

1. Tujuan

Pengukuran resistivitas formasi di belakang casing, untuk membedakan apakah di formasi terdapat air
garam atau hidrokarbon.

2. Metode dan Persyaratan

2.1. Metode

Mengeluarkan arus listrik besar ke casing, yang akan membocorkan sedikit ke formasi. Susunan
elektroda yang dilekatkan ke casing, akan mengukur berapa besar bocornya arus ini, yang akan
menunjukkan resistivitas di belakang casing

2.2. Persyaratan

2.2.1. Peralatan harus dikalibrasi untuk perbedaan antara dua segmen, yaitu segmen alat dan
segmen casing
2.2.2. Peralatan menggunakan frekwensi rendah arus AC
2.2.3. Tidak ada karat atau scale
2.2.4. Resistivitas semen lebih kecil dari resistivitas formasi

3. Prinsip Perhitungan dan Aplikasi

3.1. Prinsip Perhitungan

Selama pengukuran, peralatan akan diam untuk semampunya mengurangi suara. Dengan
menggunakan aliran seperti laterolog di open-hole log, arus listrik dikirim melalui wireline ke
peralatan, dan diteruskan ke casing dengan elektroda. Setelah di casing, ia akan mengalir
melalui dua arah ke permukaan. Kebanyakan arus akan lewa casing tetapi sebagian akan bocor
ke formasi. Peralatan ini juga menggunakan tiga elektroda voltage A, B dan C pada casing untuk
mengukur arus yang bocor ke formasi (Gambar 3.1). Arus bocor ini sebanding dengan
konduktivitas formasi. Karena peralatan ini mengukur penurunan voltage di casing, dimana arus
I akan mengalami tahanan dari segmen casing, maka peralatan harus dikalibrasi untuk perbedaan
antara dua segmen tersebut. Hasil output akan sebanding dengan arus formasi I, dan perbedaan
tahanan di casing Rc. Kalau switch ditaruh dikalibrasi, maka arus dialirkan (garis terputus-
putus) dengan sumber arus di dalam sumur yang mempunyai jarak kecil antara sumber dan

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 24
Cased Hole Formation Resistivity Halaman : 2/ 10
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(CHFR)

sebaliknya. Dalam hal ini harga arus formasi I dapat diabaikan dan harga Rc dapat dukur
langsung. Kombinasi kedua pengukuran, akan dapat diturunkan harga resistivitas formasi.

Gambar 3.1 Prinsip Pengukuran Instrumen CHFR

Biasanya formasi akan mempunyai resistivitas ribuan juta kali dari casing. Dalam hal ini volum
batuan akan mengakibatkan perbandingan antara arus di formasi dan arus yang dikeluarkan
sekitar 10-3 sampai 10-5 dan tidak 10-9.

Wireline akan membatasi arus yang bisa dipakai sampai beberapa amper saja, sehingga arus di
formasi hanya beberapa miliamper pula. Karena kita mengukur arus formasi melalui penurunan
di resistan casing (hanya beberapa puluh mikroohms), maka pengukuran sebenarnya dibuat pada
nanoVolt range. Pengukuran pada nanoVolt ini yang menjadi tantangan bagi pembuatan
peralatan ini.

Peralatan akan menggunakan frekwensi rendah arus AC karena bila digunakan arus DC, akan
terjadi polarisasi dan mengarah ke lainnya (drift) untuk pengukuran disini. Skin effect di casing
( = 10 mm pada 5 Hz) membatasi frekwensi alat hanya beberapa Hertz saja.

Kontak listrik antara elektroda alat dengan casing penting sekali dan harus stabil selama dua
langkah pengukuran dilakukan. Kalau ada karat atau scale, bisa mempersulit kestabilan ini dan
pengukuran bisa salah.
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 24
Cased Hole Formation Resistivity Halaman : 3/ 10
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(CHFR)

Gambar 3.2. Efek Semen Pada Apparent Resistivity Pada Lapisan Resistivitas Besar.

Sebagai tambahan, arus yang bocor dari casing akan melalui lapisan semen. Kalau resistivitas
semen lebih kecil dari resistivitas formasi, efeknya akan dapat diabaikan (Gambar 3.2). Tetapi
bila resistivitas semen sangat tinggi, ini akan menaikkan resistivitas sistim semen-formasi, dan
akan menaikkan apparent resistivity (total resistivity) seperti terlihat di Gambar 3.3.

Gambar 3.3. Efek Semen Pada Apparent Resistivity Untuk Formasi Resistivitas Rendah.
Manajemen Produksi Hulu
PENILAIAN FORMASI NO : PF 24
Cased Hole Formation Resistivity Halaman : 4/ 10
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(CHFR)

Gambar 3.4 Koreksi Semen Untuk Casing 7 Dengan Ketebalan Variabel Semennya.

Efek semen ini dapat dikoreksi seperti untuk openhole log untuk borehole effect berdasarkan
proses 1-D dan gambar 3.4 memberikan koreksi ini. Tetapi karena pengukuran resistivitas semen
tidak biasa dilakukan, maka terpaksa harus diasumsi. Klein (1993) melakukan studi resistivitas
semen dan mendapatkannya antara 1 dan 10 ohm-m. Dari grafik terlihat bahwa untuk formasi
dengan resistivitas diatas 1 2 ohm-m akibatnya tidak besar.

Selain itu dari pengalaman di lapangan terlihat bahwa efek sekitar dapat diabaikan dibandingkan
dengan open hole log. Casing memberikan kesulitan besar tetapi pada saat yang sama
memberikan arus terfokus ke formasi. Ia juga membuat short-circuit fluida sumur dan juga
formasi diatas zone yang diinginkan, sangat mengurangi efeknya.

3.2. Aplikasi

3.2.1. Pengawasan Reservoir

Untuk mengawasi pergerakan fluida dan kinerja injeksi, instrumen CHFR dijalankan
sebanyak empat kali dua kali sebelum injeksi air dimulai pada sumur terdekat dan dua
kali setelah injeksi dilakukan (Gambar 3.5).

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 24
Cased Hole Formation Resistivity Halaman : 5/ 10
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(CHFR)

Gambar 3.5 Tampilan log CHFR di Abu Dhabi

Hidrokarbon diamati pada dua pelaksanaan pertama, yang direkam sebelum injeksi air
pada sumur injeksi-air pertama. Pada penjalanan alat yang ketiga, dengan injeksi air aktif
300 ft dari sumur observasi, saturasi air meningkat pada interval tertentu.

Hasil logging CHFR, di bagian kiri atas, memperlihatkan harga logging di belakang-
casing dan pembacaan yang lebih mendalam dan akurat dalam menetapkan initial water
saturation sebelum melakukan injeksi dan pengawasan perubahan saturasi jauh dari
lubang bor.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 24
Cased Hole Formation Resistivity Halaman : 6/ 10
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(CHFR)

3.2.2. Logging untuk evaluasi primer

Instrumen CHFR memberikan data resistivitas untuk sumur baru yang sebelumnya tidak
mempunyai data log open-hole. Dalam hal ini, peralatan CHFR dapat digunakan untuk
evaluasi formasi primer. Instrumen CHFR dijalankan setelah liner 5 in. disemen.
Tampilan log secara jelas memperlihatkan interval batu-pasir yang tetap unflushed.
Setelah perforasi, zona ini memproduksi minyak-kering sebesar 12,000 B/D.

Gambar 3.6 Perforasi yang dilakukan pada zona produktif

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 24
Cased Hole Formation Resistivity Halaman : 7/ 10
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(CHFR)

3.2.3. Penambahan umur ekonomis lapangan

Instrumen CHFR dapat mengidentifikasi zona hidrokarbon yang terlewati sebelum


keputusan untuk menutup sumur diambil. Informasi ini akan sangat signifikan dalam
perhitungan ekonomis lapangan. Pada Gambar 3.7, tampilan log membuktikan bahwa
interval dibawah X720 ft telah kering. Juga diperlihatkan adanya hidrokarbon pada
interval antara X680 dan X700 ft.

Gambar 3.7 Identifikasi zona hidrokarbon

Penjalanan alat ini dilakukan di Bakersfield, California, dimana satu sumur pada
lapangan dengan program injeksi-air ditutup pada tahun 1998 ketika produksi air

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 24
Cased Hole Formation Resistivity Halaman : 8/ 10
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(CHFR)

mencapai harga yang tidak ekonomis sebesar 1600 BWPD. Pada tahun 2001, sumur ini
kemudian dievaluasi kembali menggunakan instrumen CHFR.

Plug diset pada kedalaman X710 ft, dan perforasi dilakukan pada interval antara X680
dan X697 ft. Setelah prosedur work-over, sumur menghasilkan 300 B/D minyak. Kedua
sumur lainnya di lapangan tersebut juga di-log dengan instrumen CHFR dengan hasil
yang sama. Keputusan untuk mengevaluasi kembali kedua sumur ini terbukti sangat
menguntungkan karena volume minyak komersial yang signifikan dihasilkan dari ketiga
sumur ini (Gambar 3.8).

Gambar 3.8 Perubahan OWC dari lapangan yang diperforasi tersebut.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 24
Cased Hole Formation Resistivity Halaman : 9/ 10
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(CHFR)

3.2.4. Akurasi dan presisi

Akurasi perhitungan CHFR tergantung pada ketebalan dan resistivitas semen. Untuk
semen dengan resistivitas kecil, keakuratan perhitungan sebelum dilakukan koreksi
adalah sebesar 10% pada 1 ohm-m dan meningkat 3% lebih baik sampai 10 ohm-m.
Dengan menggunakan faktor koreksi lingkungan terhadap data log akan meningkatkan
akurai perhitungan jika parameter semen diketahui dengan baik.

Gambar 3.9 Hubungan CHFR Dengan Ketebalan dan Resistivitas Semen

Presisi perhitungan CHFR tergantung pada rasio signal-to-noise dari perhitungan


tegangan (voltage). Pada resistivitas rendah, presisi perhitungan lebih baik dari 1%.
Bila resistivitas tinggi dan ukuran casing yang besar, presisi dapat mencapai 7% (pada
100 ohm-m). Presisi ini dapat ditingkatkan dengan menambah station time, seperti
diperlihatkan pada Gambar 3.10.

Manajemen Produksi Hulu


PENILAIAN FORMASI NO : PF 24
Cased Hole Formation Resistivity Halaman : 10/ 10
Revisi/Thn : 2 / Juli 2003
(CHFR)

Gambar 3.10 Peningkatan presisi dengan penambahan station time.

4. Daftar Pustaka

4.1. A New Method for Formation Evaluation, Formation Resistivity Behind Casing , Schlumberger,
June 2003.

4.2. P. Beguin, D. Benimeli, A. Boyd, I. Dubourg, A. Ferreira, A. McDougall, G. Rouault, P. van der
Wal, Recent Progress on Formation Resistivity Measurement Through Casing, Schlumberger,
March 2000.

5. Daftar Simbol

I = Arus Listrik
I = Perbedaan Arus Listrik antara Dua Segmen Casing
K = Tool Factor
Rc = Casing Resistance
Rc = Perbedaan Resistansi antara Dua Segmen Casing
Rt = Resistivitas formasi
= Skin Effect
X = kedalaman

Manajemen Produksi Hulu