Anda di halaman 1dari 60

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pajak sebagai sumber penerimaan dalam negeri semakin lama semakin

terasa sebagai andalan penerimaan negara. Untuk lebih meningkatkan

penerimaan dibidang perpajakan, telah beberapa kali dilakukan penyempurnaan,

penambahan, bahkan perubahan dibidang perpajakan.

Pajak merupakan kewajiban yang harus dibayar masyarakat baik pribadi

maupun badan dari pendapatan atau penghasilannya kepada pemerintah yang

ditujukan untuk kegiatan pembangunan di segala bidang.

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) merupakan pajak yang dikenakan atas

penyerahan barang/jasa kena pajak di daerah pabean yang dilakukan oleh

pabrikan, penyalur utama atau agen utama,importer,pemegang hak paten/merek

dagang dari barang/jasa kena pajak tersebut. Menurut Soemarso (2003:269)

dalam buku Akuntansi suatu Pengantar mengatakan bahwa Pajak Pertambahan

Nilai merupakan pajak yang dikenakan pada waktu perusahaan melakukan

pembelian atas Barang Kena Pajak (BKP) / Jasa Kena Pajak (JKP) yang

dikenakan dari Dasar Pengenaan Pajak (DPP). Setiap pembelian barang yang

ada hubungannya secara langsung dengan barang yang dihasilkan/dijual, maka

atas pajak yang dikenakan terhadap barang tersebut oleh Pengusaha Kena Pajak

(PKP) merupakan pajak masukan yang besarnya 10% dari hasil beli barang,

sedangkan bila barang tersebut akan menambahkan 10% dari harga jual sebelum
2

pajak sebagai PPN yang merupakan pajak pengeluaran untuk masa pajak yang

bersangkutan.

CV. Delapan - Delapan merupakan suatu perusahaan yang bergerak dalam

bidang perdagangan, yang beralamat di Jl. Tgh Faisal Blok/Kav/No 88X, Sweta

Mataram. Bila perusahaan melakukan pembelian terhadap Barang Kena Pajak

(BKP) maka dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) masukan dari Dasar

Pengenaan Pajak (DPP) barang tersebut. Sebaliknya bila perusahaan ini

melakukan penjualan barang tersebut, maka perusahaan berhak melakukan

pemungutan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) keluaran terhadap Barang Kena

Pajak (BKP) tersebut. Pajak Masukan yang telah disetor dapat dikreditkan

dengan Pajak Keluaran yang telah di pungut. Kelebihan atas Pajak Pertambahan

Nilai (PPN) ini dapat dikompensasikan ke masa tahun Pajak berikutnya.

Masalah yang timbul dalam pencatatan Pajak Masukan maupun Pajak

Keluaran adalah berbedanya saat penyerahan barang kena pajak dan saat

pembuatan faktur pajak. Faktur pajak dapat di buat pada akhir bulan setelah

bulan penyerahan barang kena pajak atau jasa kena pajak. Akibatnya, pada saat

penyerahan barang / jasa kena pajak, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sudah

terutang dan menurut pajak belum diakui karena faktur belum di terbitkan, tetapi

pihak perusahaan sudah menganggapnya sebagai penghasilan atas penjualan

lokal dari barang kena pajak tersebut dan mencatatnya sebagai pendapatannya

(Prinsip Akrual). Dari segi Akuntasi, saat penyerahan barang merupakan salah

satu perolehan aktiva. Penetapan penghasilan atau pendapatan sangat penting

bagi perusahaan dan juga aparat Perpajakan (Fiskus) karena kekeliruan dalam
3

menentukan penghasilan atau pendapatan tersebut akan mengakibatkan

informasi yang salah. Penetapan pajak yang terlalu kecil atau terlalu tinggi akan

mengakibatkan kesalahan dalam membuat keputusan.

Penyampain jumlah penghasilan kena Pajak yang salah, misalnya lebih

rendah dari pada yang sebenarnya merupakan suatu kesalahan yang dapat di

kenakan sanksi perpajakan.

Prosedur Akutansi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) lebih kompleks bila

dibandingkan dengan Pajak Penjualan (PPn) sebelumnya. Namun, Undang

Undang Pajak Pertambahan Nilai (PPN) tidak mengatur secara jelas bagaimana

mekanisme pembukuan Pajak Masukan dan Pajak Keluaran, sehingga masing-

masing perusahaan membukukannya sesuai dengan persepsinya. Tidak ada

aturan yang jelas mengenai Pajak Masukan dan Pajak Keluaran sehingga akan

menyebabkan terjadinya kesalahan pencatatan oleh perusahaan di dalam laporan

Keuangan khususnya neraca. Apabila terjadi kesalahan di dalam Pajak Keluaran

yang di sajikan terlalu besar menyebabkan informasi yang dihasilkan di dalam

neraca menjadi tidak akurat serta mengakibatkan tingkat Likuiditas perusahaan

semakin kecil, maka untuk menghindari kesalahan- kesalahan yang akan terjadi

sangat diperlukan pencatatan yang baik mengenai Akutansi Pajak sesuai UU

Perpajakan. Berdasarkan uraian tersebut maka penulis termotivasi untuk

membahas masalah ini dengan judul Perlakuan Akuntansi Pajak Pertambahan

Nilai (PPN) pada CV.DelapanDelapan Mataram.


4

1.2 TUJUAN DAN MANFAAT


1.2.1 Tujuan
Praktik kerja lapangan (PKL) ini bertujuan untuk mengaplikasikan

teori yang didapatkan pada lembaga pendidikan dengan

penerapannya pada CV. Delapan Delapan Mataram dengan tujuan

utama adalah sebagai berikut:


1. Untuk mengetahuai apakah CV. Delapan Delapan Mataram

sudah menerapkan akuntansi pajak pertambahan nilai sesuai

dengan UU perpajakan.
2. Untuk mengetahui dan memahami cara pengarsipan invoice dan

faktur pajak pada CV. Delapan Delapan.


3. Untuk mengetahui bagaimana cara perhitungan pajak masukan

dan keluaran CV. Delapan Delapan Mataram.


4. Sebagai suatu inspirasi dalam mencari pengalaman pekerjaan

disuatu perusahaan lokal sehingga dapat lebih memahami masalah

Laporan Laporan yang terdapat di CV. Delapan Delapan

Mataram.
1.2.2 Manfaat
Adapun manfaat yang diharapkan dalam pelaksanaan praktek kerja

lapangan (PKL) ini adalah:


1. Secara akademik adalah salah satu persyaratan sebagai suatu

kebulatan dalam mencapai jenjang Program Studi Diploma III

Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Mataram.


2. Sebagai sarana bagi penulis untuk melatih diri mengaplikasikan

teori yang telah didapat di bangku kuliah dengan kenyataan dunia

kerja.
3. Secara praktek mendapatkan pengalaman bekerja yang berharga

pada CV. Delapan Delapan Mataram.


5
6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Akuntansi

Akuntansi adalah Sistem informasi yang mengukur aktivitas bisnis,

mengolah data menjadi laporan, dan mengomunikasikan hasilnya kepada para

pengambil keputusan. ( Jusup, 2011 : 4 )

Dari pengertian diatas terkandung tujuan utama akuntansi adalah

menghasilkan atau menyajikan informasi keuangan yang dapat dipercaya oleh

pihak-pihak yang berkepentingan. Informasi akutansi itu dasarnya menyajikan

informasi ekonomi kepada banyak pihak yang memerlukan, sehingga akutansi

juga sering di sebut dengan bahasa dunia usaha karena akutansi merupakan alat

komunikasi dan informasi bagi pihak-pihak yang memerlukannya. Adapun pihak

yang memerlukan akuntansi dapat dibedakan menjadi dua yaitu pihak intern dan

pihak ekstern.

2.1.1 Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

2.1.1.1 Pengertian Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Untuk memahami pengertian Pajak Pertambahan Nilai (PPN), perlu

diketahui definisi dari PPN yang dikemukan oleh beberapa ahli, antara lain:

- Menurut Waluyo (2011:9) dalam buku Perpajakan Indonesia

mengatakan bahwa Pajak Pertambahan Nilai merupakan pajak

yang dikenakan atas konsumsi di dalam negeri (di dalam daerah

pabean), baik konsumsi barang maupun jasa.


7

- Menurut Yusdianto (2002:117) dalam buku Akuntansi Perpajakan

terapan mengatakan bahwa Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

merupakan pajak menggantikan Pajak Penjualan (PPn) karena

memiliki karekter positif yang tidak dimiliki oleh Pajak

Penjualan.

- Menurut Ilyas dan Suhartono (2007:8) dalam buku Pajak

Pertambahan Nilai dan Penjualan Barang Mewah mengatakan

Bahwa Dalam UU PPN tidak terdapat definisi mengenai Pajak

Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah

(PPnBM), sehingga setiap orang dapat secara bebas memberikan

definisi mengenai pajak tersebut.

Dasar hukum Pajak Pertambahan Nilai adalah UU no. 8 Tahun 1983.

Kemudian UU ini diubah dengan UU no.11 Tahun 1994, kemudian

UU diubah lagi dengan UU no. 18 Tahun 2000 dan yang terakhir

diubah menjadi UU no 42 Tahun 2009 tentang pajak Pertambahan

Nilai (PPN) barang atau Jasa dan Pajak Penjualan Barang Mewah

(PPnBM).

- Menurut UU PPn No. 42 Tahun 2009 Pasal 1 :

Pajak Masukan adalah Pajak Pertambahan Nilai yang seharusnya


sudah dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak karena perolehan
Barang Kena Pajak dan atau penerimaan Jasa Kena Pajak dan
atau pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar
Daerah Pabean dan atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar
Daerah Pabean dan atau impor Barang Kena Pajak.
8

Pajak Keluaran adalah Pajak Pertambahan Nilai terutang yang


wajib dipungut oleh pengusaha kena pajak yang melakukan
penyerahan barang kena pajak, jasa kena pajak, ekspor barang
kena pajak berwujud, ekspor barang kena pajak tidak berwujud
dan/atau ekspor jasa kena pajak.
2.1.1.2 Karakteristik Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

a. Pajak Tidak Langsung

Pemikul beban pajak/pembeli dan penanggung jawab pembayaran /

penjual berada pada pihak yang berbeda. Apabila terjadi

penyimpangan pemungutan pajak, maka fiskus akan meminta

pertanggung jawaban penjual.

b. Pajak Objektif

Timbul kewajiban membayar PPN ditentukan oleh adanya objek

pajak.

c. Multi Stage Tax

PPN dikenakan pada setiap mata rantai jalur produksi maupun jalur

distribusi.

d. Indirect Subtraction Method / Credit Method / Invoice Method

PPN yang dipungut tidak langsung disetorkan ke kas Negara. PPN

yang disetor ke Kas Negara merupakan hasil perhitungan Pajak

Masukan dengan Pajak Keluaran.

Pajak Masukan yang diperhitungkan untuk memperoleh jumlah

PPN yang harus dibayar ke Kas Negara merupakan Kredit Pajak.


9

Untuk mendeteksi kebenaran jumlah Pajak Masukan dan Pajak

Keluaran dibutuhkan suatu dokumen sebagai alat bukti yang

dinamakan Faktur Pajak.

e. Pajak Atas Konsumsi Umum Dalam Negeri PPN hanya dikenakan

atas konsumsi Barang Kena Pajak (BKP)/ Jasa Kena Pajak (JKP) di

dalam negeri.

f. Netral

PPN dikenakan Atas konsumsi barang maupun jasa dan

pemungutannya menganut prinsip tempat tujuan (PPN dipungut

ditempat barang/jasa dikonsumsi)

g. Tidak Menimbulkan Pajak Berganda

PPN hanya dikenakan atas nilai tambah dan PPN yang dibayar

dapat diperhitungakan dengan PPN yang dipungut.

h. Consumption Type Value Added Tax (VAT)

Dalam Pajak Pertambahan Nilai di Indonesia, pajak Masukan atas

pembelian dan pemeliharaan barang modal dapat dikreditkan

dengan Pajak Keluaran yang dipungut atas penyerahan Barang

Kena dan Jasa Kena Pajak.

2.1.1.3 Kelebihan dan Kekurangan Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Dari beberapa karakteristik PPN tersebut diatas, dapat

dikemukakan bahwa PPN memiliki beberapa kelebihan yang tidak

dimiliki oleh Pajak Penjualan. Meskipun demikian, sebagai suatu

sistem, ternyata PPN juga tidak bebas sama sekali dari beberapa

kekurangan.
10

- Kelebihan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) :

1. Mencegah terjadinya pengenaan Pajak Berganda

2. Netral dalam perdagangan dalam dan luar negeri

3. Pajak Pertambahan Nilai atas perolehan barang modal dapat

diperoleh kembali pada bulan perolehan, sesuai denagan tipe

konsumsi dan metode pengurangan tidak langsung.

4. Ditinjau dari sumber pendapatan negara, Pajak Pertambaahan

Nilai mendapat predikat sebagai money maker karena

konsumen selaku pemikul beban pajak tidak merasa dibebani oleh

pajak tersebut sehingga memudahkan fiskus untuk memungutnya.

- Kekurangan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) :

1. Biaya administrasi relative tinggi bila dibandingkan dengan pajak

tidak langsung lainya, baik dipihak administrasi pajak maupun

dipihak wajib pajak.

2. Menimbulkan dampak regresif, yaitu semakin tinggi tingkat

kemampuan konsumen semakin ringan beban pajak yang dipikul,

dan sebaliknya semakin renda tingkat kemampuan konsumen

semakin berat beban pajak yang dipikul. Dampak ini timbul

sebagai konsekuensi karakteristik PPN sebagai pajak objektif.

3. PPN sangat rawan dari upaya penyeludupan pajak. Kerawanan ini

ditimbulkan sebagai akibat dari mekanisme pengkreditan yang

merupakan upaya memperoleh kembali pajak yang dibayar oleh

perusahaan dalam bulan yang sama tanpa terlebih dahulu melalui

prosedur administrasi fiskus.


11

Konsekuensinya dari kelemahan PPN tersebut menuntut tingkat

pengawasan yang lebih cermat oleh administrasi pajak terhadap

tingkat kepatuhan wajib pajak dalam melakukan kewajiban

perpajakan.

2.1.2 Subjek dan Objek Pajak Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

2.1.2.1 Subjek Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

1. Pengusaha Kena Pajak (PKP)

Pengusaha adalah orang pribadi atau badan yang dalam kegiatan

usaha/ pekerjaannya :

a) Menghasilkan barang, merakit, memasak, mencampur,

mengemas, membotolkan, menambangkan, menyediakan

makanan dan minuman yang dilakukan oleh usaha catering

b) Mengimpor barang

c) Mengekspor barang

d) Melakukan usaha perdagangan

e) Memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar Pabean

f) Melakukan Usaha Jasa

g) Memanfaatkan jasa dari luar daerah pabean PKP adalah

pengusaha yang melakukan penyerahan BKP/JKP yang

dikenakan PPN, tidak termasuk usaha kecil yang batasanya

ditetapkan dengan keputusan Menteri Keuangan, kecuali

Pengusaha kecil yang memilih dikukuhkan sebagai

Pengusaha Kena Pajak.


12

2. Yang melakukan penyerahan BKP/JKP


3. Yang mengekspor BKP
4. Yang menyerahkan Aktiva yang menurut tujuan semula tidak

untuk diperjual belikan.

- Bukan Pengusaha Kena Pajak (Non PKP)

1. Siapapun yang mengimpor BKP dari luar daerah pabean.

2. Siapapun yang memanfaatkan BKP tidak berwujud /JKP dari

luar Daerah Pabean.

3. Siapapun yang membangun sendiri tidak dalam lingkungan

perusahaan / pekerjaaan.

2.1.2.2 Objek Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

a) Barang Kena Pajak (BKP)

BKP adalah barang berwujud yang menurut sifatnya atau

hukumnya dapat berubah barang bergerak atau barang tidak

bergerak dan barang tidak berwujud yang dikenai PPN

- Penyerahan barang dapat dikenakan PPN bila dipenuhi unsur :

1) Penyerahan BKP

2) Daerah Pabean

3) Dilakukan dalam lingkungan kegiatan usaha/ pekerjaan

4) Yang melakukan harus PKP

- PPN dikenakan atas :

1) Penyerahan BKP di dalam Daerah yang dilakukan oleh

pengusaha

2) Import BKP
13

3) Penyerahan JKP di dalam daerah Pabean yang dilakukan

oleh pengusaha.

4) Pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar daerah Pabean

di dalam daerah Pabean.

5) Pemanfaatan JKP dari luar Daerah pabean di dalam

daerah pabean.

6) Ekspor BKP olek PKP

7) Kegiatan membangun sendiri yang dilakukan tidak dalam

kegiatan uasaha/ pekerjaan oleh orang pribadi/badan yang

hasilnya digunakan sendiri atau digunakan pihak lain.

8) Penyerahan aktiva oleh PKP yang menurut tujuan semula

aktiva tersebut tidak digunakan untuk diperjualbelikan,

sepanjang PPN yang dibayar pada saat perolehannya dapat

dikreditkan.

b) Barang Tidak Kena Pajak (Non BKP) :

1) Barang Hasil Pertambangan atau hasil pengeboran yang

diambil langsung dari sumbernya :

Minyak Mentah (Crude oil)

Gas Bumi, Panas bumi

Pasir dan kerikil

Batubara sebelum di olah menjadi briket

Biji besi, biji timah, biji emas, biji nikel, biji tembaga,

biji perak, biji bauksit


14

2) Barang-barang kebutuhan pokok yag sangat dibutuhkan oleh

masyarakat :

Beras, gabah

Jagung

Sagu

Kedelai

Garam

3) Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran,

rumah makan, warung dan sejenisnya.

4) Uang, emas batangan, dan surat-surat berharga

c) Jasa Kena Pajak (JKP)

JKP adalah setiap kegiatan pelayanan berdasarkan suatu

perikatan/ perbuatan hukum yang menyebabkan suatu barang,

fasilitas, kemudahan dan hak tersedia untuk dipakai, termasuk

jasa yang dilakukan untuk menghasilkan barang karena pesanan

atau permintaan dengan bahan dan atas petunjuk dari pemesanan

yang dikenakan PPN.

- Penyerahan Jasa dapat dikenakan PPN bila penuhi unsur :

1. Penyerahan JKP

2. Daerah Pabean

3. Dilakukan dalam lingkungan kegiatan usaha/ pekerjaan

4. Yang melakukan PKP

d) Jasa Tidak Kena Pajak (Non JKP)

1. Jasa dibidang pelayanan kesehatan medik


15

2. Jasa dibidang pelayan sosial

3. Jasa dibidang pengiriman surat dengan perangko

4. Jasa dibidang perbankan asuransi dan sewa guna usaha

dengan hak opsi

5. Jasa dibidang keagamaan

6. Jasa dibidang pendidikan

7. Jasa dibidang kesenian dan hiburan yang telah dikenakan

pajak tontonan.

8. Jasa dibidang penyiaran yang bukan bersifat iklan

9. Jasa dibidang angkutan umum di darat dan di air

10. Jasa dibidang tenaga kerja

11. Jasa dibidang perhotelan

12. Jasa yang disedikakan pemerintahan dalam rangka

menjalankan pemerintahan secara umum.

2.1.3 Penghitungan dan Prosedur/Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai


(PPN)

2.1.3.1 Penghitungan Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

a. Dasar Pangenaan Pajak (DPP)

DPP adalah jumlah harga jual, penggantian, nilai impor, nilai

ekspor, atau nilai lain yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri

Keuangan yang dipaki sebagai dasar untuk menghitung pajak

yang terhutang.

- Dasar pengenaan pajak adalah dasar yang dipakai untuk

menghitung pajak yang terutang yaitu:


16

1) Harga jual adalah nilai berupa uang, termasuk biaya yang

diminta atau seharusnya diminta oleh penjual karena

penyerahan BKP, tidak termasuk PPN yang dipungut dan

potongan harga yang dicantumkan dalam faktur pajak. Harga

jual dapat di peroleh dengan menjumlahkan harga pembelian

bahan baku, bahan pembantu, alat pelengkap lainnya

ditambah biaya-biaya seperti penyusutan barang modal,

bunga pinjaman dari bank, gaji dan upah tenaga kerja,

manajemen, serta laba usaha yang di harapkan.

2) Penggantian adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya

yang diminta oleh pemberi jasa karena penyerahan JKP, tidak

termasuk pajak yang dipungut dan potongan harga yang di

cantumkan dalam Faktur pajak. Nilai penggantian merupakan

taksiran biaya untuk mengganti biaya yang dikeluarkan untuk

mendapatkan profesi, keterampilan dan pengalaman yang

memberikan pelayanan dalam arti Jasa tersebut. Jika harga

jual atau nilai penggantian menggunakan mata uang asing,

maka harus di konversikan ke dalam mata uang rupiah

dengan Keputusan Menteri Keuangan mengenai Kurs yang

berlaku saat ini.

3) Nilai impor adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar

perhitungan Bea Masuk ditambah pemungutan lainya yang di

kenakan pajak berdasarkan ketentuan dalam peraturan


17

perundang-undangan pabean untuk Impor BKP, tidak

termasuk PPN yang dipungut menurut Undang-undang Pajak

Pertambahan Nilai. Nilai Impor yang menjadi Dasar

Pengenaan pajak adalah harga patokan Impor atau cost

Insurance and Freight (CIF) sebagai dasar penghitungan bea

masuk ditambah dengan semua biaya dan pungutan lain

menurut ketentuan peraturan perundang-undangan pabean.

4) Nilai Eksport adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya

yang diminta adalah seharusnya diminta oleh eksportir

5) Nilai lain adalah suatu jumlah yang ditetapkan sebagai dasar

Pengenaan Pajak dengan Keputusan Mentri Keuangan. Nilai

lain yang ditetapkan sebagai Dasar pengenaan Pajak adalah

Sebagai berikut :

Untuk pemakaian sendiri BKP dan atau JKP adalah Harga

Jual atau Peggantian setelah dikurangi laba kotor.

Untuk pemberian Cuma-Cuma BKP dan atau JKP adalah

harga jual atau penggantian setelah dikurangi laba kotor

Untuk penyerahan media rekaman suara atau gambar adalah

perkiraan harga jual rata-rata.

Untuk penyerahan film cerita adalah perkiraan hasil rata-rata

perjudulan film.

Untuk persediaan BKP yang masih tersisa pada saat

pembubaran adalah harga pasar yang wajar.


18

Untuk aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk di

perjualbelikan sepanjang PPN atas perolehan aktiva tersebut

menurut ketentuan dapat dikreditkan adalah harga pasar

wajar.

Untuk kendaraan bermotor bekas adalah 10% dari harga jual.

Untuk penyerahan jasa biro perjalanan atau jasa biro

pariwisata adalah 10% dari jumlah tagihan atau jumlah yang

seharusnya ditagih.

Untuk jasa pengiriman paket adalah 10% dari jumlah tagihan

atau jumlah yang harus ditagih.

Untuk jasa anjak piutang adalah 5% dari jumlah seluruh

imbalan yang diterima berupa service charge, provisi dan

diskon.

Untuk penyerahan BKP dan atau JKP dari pusat ke cabang

atau sebaliknya dan penyerahan BKP dan atau JKP antar

cabang adalah Harga jual atau penggantian setelah dikurangi

laba kotor.

Untuk Penyerahan BKP kepada pedagang perantara atau

melalui juru lelang adalah harga lelang.

b. Tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Sistem PPN menganut tarif tunggal yaitu sebesar 10%. Namun

demikian mengingat UU PPN menganut Azas destination

principle dalam pengenaan pajaknya maka untuk kegiatan ekspor

dikenakan tarif 0%. Pengenaan tarif 0% atas Eksport BKP adalah


19

dimaksudkan agar dalam harga barang yang di ekspor tidak

terkandung PPN.

- Menurut UU No. 42 Tahun 2009, Tarif PPN adalah sebagai berikut:

1) Tarif Pajak Pertambahahan Nilai sebesar 10 %

Tarif Pajak Pertambahan Nilai Barang Kena Pajak dan Jasa Kena

pajak merupakan tarif tunggal yang dikenakan terhadap semua

jenis Barang Kena pajak dan Jasa Kena Pajak. Dalam keadaan

tertentu sesuai peraturan pemerintah, tarif pajak Pertambahan

Nilai dapat dinaikan menjadi setinggi-tingginya 15% dan

serendah-rendahnya 5%.

2) Tarif Pajak Pertambahan Nilai sebesar 0%

Tarif Pajak Pertambahan Nilai Barang Kena Pajak sebesar 0% di

kenakan atas eksport Barang Kena Pajak, dimaksudkan untuk

mendorong para pengusaha agar mampu menghasilkan barang

untuk diekspor sehingga dapat bersaing di pasar luar negeri.

Penerapan tarif Pajak Pertambahan Nilai sebesar 0% bukan

berarti pembebasan dari pengenaan pajak Pertamabahan Nilai,

tetapi agar Pajak Masukan yang telah dibayar oleh pengusaha

pada saat pembelian barang ekspor tersebut dapat dikreditkan.

2.1.3.2 Prosedur/ Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

a. Mekanisme Pemungutan Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

1) Saat terutang adalah saat pembayaran

2) Faktur dan SSP dibuat pada saat PKP mengajukan tagihan

3) Faktur dan SPP merupakan bukti pemungutan dan penyetoran


20

4) Pemungutan Pajak wajib memungut PPN terutang pada saat

pembayaran(bukan saat penyerahan).

5) Bendahara wajib setor paling lambat 7 hari setelah bulan

dilakukan pembayaran atas tagihan.

6) PPN yang telah disetor dilaporkan dalam SPT masa PPN bagi

pemungut PPN 20 hari setelah dilakukan pembayaran tagihan.

b. Mekanisme Penghitungan Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Penghitungan PPN yang terutang dilakukan dengan cara

mengalihkan jumlah harga jual/ pengganti/ nilai impor/ nilai

ekspor atau nilai lain yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri

Keuangan dengan tarif pajak sebagaimana ditetapkan. Pajak yang

terutang ini merupaka Pajak Keluaran, yang dipungut oleh

Pengusaha Kena Pajak. Dasar Pengenaan Pajak Pertambahan

Nilai (PPN) ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan

hanya untuk menjamin rasa keadilan dalam hal Harga jual. Nilai

penggantian, Nilai Impor, Nilai Ekspor atau nilai yang suka di

tetapkan, dan atau Penyerahan Barang Kena Pajak yang di

butuhkan oleh Masyarakat banyak seperti minum, listrik dan

sejenisnya.
21

2.1.4 Faktur Pajak

Faktur Pajak adalah bukti pemungutan pajak yang dibuat oleh Pengusaha

Kena Pajak yang melakukan Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) atau

penyerahan Jasa Kena pajak atau bukti pungutan pajak karena impor

barang kena pajak yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Bea Cukai.

Faktur Pajak juga merupakan sarana untuk mengkreditkan Pajak Masukan.

Oleh karena Itu Faktur Pajak harus benar baik secara formal maupun

material. Faktur pajak harus diisi secara lengkap , jelas dan benar dan

ditanda tangani oleh pejabat yang ditunjuk oleh Pengusaha Kena pajak

untuk mendatanganinya. Pengusaha Kena Pajak membuat Faktur Pajak

untuk setiap penyerahan Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak. Orang

pribadi atau Badan yang tidak dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak

dilarang Membuat faktur Pajak , dan apabila Faktur pajak telah dibuat

maka orang pribadi atau badan tersebut harus menyetor jumlah pajak Yang

tercantum dalam Faktur pajak ke Kas Negara. Dengan demikian

pengusaha yang memenuhi syarat sebagai Pengusaha kena pajak namun

belum dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak dan menyerahkan

Barang Kena pajak / Jasa Kena pajak dilarang membuat Faktur pajak.
22

2.1.5 Pengakuan dan Pengukuran Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Menurut SAK dan UU Perpajakan

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) timbul akibat adanya transaksi pembelian

dan penjualan terhadap BKP/JKP. Apabila Pengusaha Kena Pajak (PKP)

melakukan pembelian BKP maka akan di kenakan Pajak Masukan.

Selanjutnya bila PKP tersebut melakukan

penjualan atas BKP tersebut maka mereka berhak untuk melakukan

pemungutan PPN yang telah mereka setor sebelumnya dan hal yang

merupakan Pajak keluaran, seperti halnya pendapatan, PPN juga harus

diketahui kapan diakui dan bagaimana cara pengkurangannya.

Menurut Kerangka dasar Penyusunan dan Penyajian laporan dalam SAK

(2007 :22) dijelaskan bahwa :

Penghasilan diakui dalam laporan laba rugi kalau kenaikan manfaat

ekonomi dimasa depan yang berkaitan dengan peningkatan aktiva atau

penurunan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur dengan andal. Ini

berarti pengakuan penghasilan terjadi dengan pengakuan kenaikan aktiva

atau penurunan kewajiban (misalnya, kenaikan bersih aktiva yang timbul

dari penjualan barang atau jasa atau penurunan kewajiban yang timbul dari

pembebasan pinjaman yang masih harus dibayar) Menurut UU

Perpajakan no.36 Tahun 2008 Pasal 4 ayat 1. Dijelaskan bahwa :

Penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima

atau diperoleh wajib pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari

Luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah

kekayaan wajib pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk
23

apapun Menurut Donald E. Kieso, dkk dalam Buku Akutansi

Intermediate ( 2002:53), pendapatan umumnya diakui jika :

a. Telah direalisasi atau dapat direalisasi

b. Telah dihasilkan

Pengakuan pendapatan dari penjualan barang dalam Pernyataan

Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.23 (2007 : 23) menyebutkan

bahwa Pendapatan dari penjualan barang harus diakui seluruh kondisi

berikut terpenuhi:

a. Perusahaan telah memindahkan resiko secara signifikan dan telah


memindahkan manfaat kepemilikan barang kepada pembeli
b. Perusahaan tidak lagi mengelolah atau melakukan

pengendalian efektif atas barang yang dijual

c. Jumlah Pendapatan tersebut dapat diukur dengan andal

d. Besar kemungkinan manfaat ekonomi yang dihubungkan dengan

transaksi akan mengalir kepada perusahaan tersebut

e. Biaya yang terjadi atau yang akan terjadi sehubungan dengan

transaksi penjualan dapat diukur dengan andal

Pengukuran pendapatan dalam PSAK no. 23 ( 2007: 23) dijelaskan

bahwa Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar imbalan yang

diterima atau yang dapat diterima.

Dalam UU Perpajakan no. 42 Tahun 2009 dijelaskan bahwa Pajak

Pertambahan Nilai yang terutang dihitung dengan Dasar Pengenaan

Pajak
24

Dalam UU PPN no. 42 Tahun 2009, terutang pajak terjadi pada saat :

a. Penyerahan Barang Kena Pajak

b. Impor Barang Kena Pajak

c. Penyerahan Jasa Kena Pajak

d. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar daerah


Pabean

e. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari Luar daerah Pabean

f. Ekspor Barang Kena Pajak

Menurut kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan

dalam SAK (2007:23), dijelasakan bahwa, beban diakui dalam

laporan laba rugi kalau penurunan aktiva atau peningkatan kewajiban

telah terjadi dan data diukur dengan andal. Hal ini berarti pengakuan

beban terjadi bersamaan dengan pengakuan kenaikan kewajiban atau

penurunan aktiva (misalnya, akrual hak karyawan atau penyusutan

aktiva tetap).

Menurut UU perpajakan No.42 Tahun 2009, dijelaskan bahwa dalam

hal pembayaran diterima sebelum penyerahan barang kena pajak atau

sebelum penyerahan jasa kena pajak, atau dalam hal pembayaran

dilakukan sebelum dimulainya pemanfaatan barang kena pajak tidak

berwujud sebagaimana dimaksud saat terutangnya pajak adalah pada

saat pembayaran.

Dalam Akuntansi, saat penyerahan barang melupakan salah satu saat

pengakuan beban atau perolehan aktiva (PSAK No. 23). Begitu juga

dengan Pajak, pengakuan beban atau perolehan aktiva diakui pada saat
25

penyerahan barang kena pajak, tetapi karena pembuatan faktur pajak

dapat diserahkan bulan berikutnya maka pendapatan tersebut tidak

dapat dilaporkan pada bulan saat pembayaran BKP.

Terutangnya PPN menurut Akuntansi yaitu pada saat penyerahan BKP

walaupun faktur pajak belum dibuat dan belum diterima

pembayarannya. Menurut, UU perpajakan terutangnya PPN sama

dengan Akuntansi yaitu pada saat penyerahan BKP atau sudah terjadi

penjualan , tetapi apabila diterima uang muka dari penjualan tersebut

maka terutangnya PPN secara administratif adalah pada saat

pembayaran uang muka dan diterbitkan faktur pajaknya.

Efek dari pengakuan dan pengukuran beban PPN ini memiliki

pengaruh terhadap pelaporan keuangan yaitu laba rugi terlalu rendah

sehingga mengakibatkan pajak terutangnya juga rendah.

Menurut UU perpajakan, saat diterima uang muka PPN, penjualan

sudah diakui dan faktur pajak diterbitkan pada saat itu juga.

Sedangkan menurut SAK, penjualan belum diakui karena barang

belum diserahkan dan faktur belum diterbitkan, tetapi uang muka atas

penjualan barang tersebut sudah diakui dan dikenakan PPN keluaran.

Jadi, penjualan diakui menurut Akuntansi adalah pada saat penyerahan

barang pada bulan berikutnya. Perbedaan pengakuan penjualan

menurut SAK dan pajak, akan menyebabkan laba yang dihasilkan

perusahaan terlalu rendah. Hal ini terjadi karena menurut Akuntansi,

penjualan belum diakui bila belum terjadi penyerahan barang.


26

Sedangkan dalam pajak, apabila pembayaran diterima lebih dahulu

sebelum barangnya diserahkan maka pada saat pembayaran uang

muka tersebut penjualan dan PPN sudah diakui. Oleh karena itu,

perusahaan harus melakukan koreksi fiskal atas pendapatan dan beban

untuk mendapatkan penghasilan kena pajak.

2.1.6 Akuntansi Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Proses pembukuan pajak pertambahan nilai (PPN) terdiri dari:

1. Pembelian barang yang PPN-nya dapat dikreditkan dan yang tidak

dapat dikreditkan.

2. Penjualan dan PPN terutang.

3. PPN yang masih harus dibayar atau lebih.

4. Dan lain-lain.

Dilihat dari pengenaan PPN, barang yang dibeli oleh perusahaan dapat

digolongkan ke dalam dua jenis barang, yaitu barang yang PPN-nya dapat

dikreditkan dan yang tidak dapat dikreditkan. Pembelian kedua jenis

barang tersebut perlu dipertimbangkan dalam rangka pembukuan, karena

PPN yang tidak dapat dikreditkan tersebut dapat dimasukkan ke dalam

biaya dalam perhitungan pajak penghasilan nantinya. Pembelian barang

yang PPN-nya dapat dikreditkan masih dapat dikelompokkan kedalam dua

jenis, yaitu:

1. Pembelian barang untuk diolah (persediaan), dan pembelian

barang modal yang ada hubungannya dengan proses produksi.


27

Menurut Tjahjono, Ahmad (2003:234) Pendekatan soal tanya jawab

tentang PPN ada 3 metode pencatatan Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

yaitu :

1. PPN Masukan dan PPN Keluaran yang dibukukan pada satu

perkiraan. Pembukuan dengan cara ini, hanya mengunakan satu

perkiraan yaitu PPN yang saldonya mungkin Debit atau Kredit

tergantung mana yang lebih besar antara Pajak Masukan atau Pajak

Keluaran untuk suatu masa tertentu.

2. PPN Masukan dan PPN Keluaran yang dibukukan secara terpisah

tanpa prosedur pada setiap masa pajak. Dengan cara ini PPN

Masukan dan PPN Keluaran dibukukan pada perkiraan yang

berbeda, dimana saldo masing masing perkiraan akan terus

menerus bertambah karena terjadi akumulasi PPN Masukan dan PPN

Keluaran selama periode tertentu.

3. PPN Masukan dan PPN Keluaran yang dibukukan secara terpisah

dengan prosedur offset pada setiap akhir masa pajak. Dengan ini

prosedur pembukuan sampai dengan penyetoran selisih PPN

Masukan dan PPN Keluaran ke Kas Negara atau penerimaan restitusi

dari kas Negara sama seperti prosedur pembukuan pada alternatif

kedua. Pada akhir masa pajak ( akhir bulan ) dilakukan penjurnalan

untuk mengetahui perkiraan PPN Masukan dan PPN Keluaran pada

saat selesainya pembuatan SPT PPN bulan bersangkutan.


28

2.1.7 Pajak Keluaran dan Pajak Masukan

Pajak Keluaran adalah PPN yang didapat dari penjualan dan biasanya

dijurnal sebagi hutang PPN, sedangkan Pajak Masukan adalah PPN yang

didapat dari pembelian dan biasanya dijurnal sebagai PPN dibayar dimuka.

Apabila dalam pelaporan hutang pajak PPN keluaran lebih kecil dari PPN

masukan maka selisih kelebihan antara PPN Keluaran dengan PPN

masukan dapat dikonpensasikan ke masa pajak berikutnya. Sedangkan

selisih kekurangan antara PPN Keluaran dengan PPN Masukan dapat

dibayarkan oleh wajib pajak ke Bank persepsinya.


29

BAB III

KEGIATAN SELAMA PKL

3.1 Kegiatan PKL di CV. DELAPAN DELAPAN MATARAM

PKL ini dimulai tanggal 1 Februari sampai 31 Maret 2017 adapun kegiatan

yang dilakukan selama PKL berlangsung adalah sebagai berikut:

1. Perkenalan dengan kepala divisi pajak dan staf pegawai lainnya. Pada hari

pertama PKL, diberikan penjelasan dan arahan mengenai tugas-tugas yang

dilakukan di bagian pajak. Adapun tugas pokok yang dilakukan selama

PKL adalah Input PPN masukan dan keluaran serta mengarsip invoice dan

faktur pajak penjualan. Penjelasan waktu jam masuk kerja mulai dari

pukul 08.00 wita sampai dengan pukul 17.00 wita.

2. Mengamati dan memahami cara kerja di CV. Delapan Delapan bagian

pajak.

3. Membantu karyawan untuk menginput PPN masukan dan keluaran.

4. Menjurnal beban cabang Sumbawa.

5. Membantu karyawan mengurutkan No. Invoice sebelum diarsip.

6. Membantu karyawan mengurutkan faktur pajak sebelum diarsip.

7. Mengarsip invoice dan faktur pajak.

8. Menjurnal beban cabang Selong.

9. Menghitung PPN yang terutang.


30

10. Perpisahan dengan seluruh pegawai CV. Delapan Delapan bagian Pajak.
31

3.1.1. Tabel Praktik Kerja Lapangan (PKL) DI CV. DELAPAN DELAPAN


MATARAM
No Kegiatan Januari Februari Maret
4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Penjajakan lokasi

PKL
2 Melengkapi

persyaratan PKL
3 Memulai kegiataan

PKL sekaligus

pengenalan dengan

pegawai bagian pajak

CV. Delapan

Delapan
4 Input PPN masukan
5 Input PPN keluaran
6 Arsip invoice

penjualan th 2016
7 Arsip faktur pajak

penjualan th 2016
8 Jurnal PM dan PK

CV. 88 Mataram
32

9 Jurnal pajak cbg.

Selong
10 Jurnal pajak cbg.

Sumbawa
11 Arsip invoice bln

januari 2017
12 Mengurutkan no.

Invoice dan faktur

pajak bulan februari


13 Arsip invoice dan

faktur pajak bulan

februari
14 Perpisahan dengan

karyawan karyawan

kantor
33

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL

4.1.1 Gambaran Umum Obyek PKL / Sejarah Organisasi

CV. Delapan Delapan Mataram bergerak dalam bidang

perdagangan dan jasa mempunyai cabang di Selong dan Sumbawa. CV. Delapan

Delapan Mataram didirikan oleh bapak DARMINTO pada tahun 1992 dengan

nama OKI NENTAL sebelum berubah nama menjadi CV. Delapan Delapan.

Pada awal pendirian masih terdapat 20 orang karyawan dan tempat usahanya

masih bersifat sewa di sweta Mataram. Barang dagangannya masih kurang

lengkap hanya kotak nasi, kertas nasi, dan kotak mika.

Pada tahun 1994 OKI NENTAL berubah nama menjadi CV. DELAPAN

DELAPAN dengan tambahan persediaan barang dagangan adalah mamy poko.

Pada tahun 2002 CV. DELAPAN DELAPAN membeli lahan seluas

kurang lebih 1 hektar sebagai tempat usaha dan membeli satu buah mobil puso.

Pada tahun 2003 baru bisa membangun satu gudang tempat barang

dagangan.

Pada tahun 2006 dibangun lagi gudang tempat barang dagangan untuk

mempermudah perusahaan dalam membedakan tempat barang dagangan.

Pada tahun 2009 dibangun lagi gudang tempat barang dagangan untuk

lebih mempermudah perusahaan dalam menempatkan barang dagangan sesuai

dengan jenis dan produknya.


34

Pada tahun 2009 juga dibuka cabang Selong.

Pada tahun 2010 dibuka cabang Sumbawa

Dari tahun 2010 sampai sekarang baru semuanya lengkap terlihat dari

jumlah persediaan dan aktiva tetap yang dimiliki seperti gudang, kendaraan puso,

kendaraan truk bok, dan kendaraan kendaraan lainnya seperti kijang, dan

avanza.

4.1.2 Logo dan Visi Misi Perusahaan.

4.1.2.1. Logo Perusahaan

Pada gambar 4.1 di bawah ini, merupakan logo perusahaan


CV. Delapan Delapan yang digunakan baik ditingkat daerah maupun

cabang.

GAMBAR 4.1

LOGO PERUSAHAAN

CV. DELAPAN DELAPAN MATARAM

Sumber: Logo perusahaan CV. Delapan Delapan.


35

4.1.2.2. Visi dan Misi

Setiap perusahaan ataupun organisasi memiliki visi tersendiri,

begitupula CV. Delapan - Delapan. Visi dari CV. Delapan - Delapan sendiri ialah

Menuju CV. Delapan-Delapan yang profesional, berkualitas dan bermartabat.

Tak hanya visi, CV. Delapan Delapan memiliki misi tersendiri pula yakni

Meningkatkan hubungan antar kelembagaan. Mengembangkan serta

meningkatkan pendapatan setiap masa dan yang lebih utama adalah memenuhi

kepuasan konsumen dalam memberikan pelayanan yang baik.

4.1.3 STRUKTUR ORGANISASI CV. DELAPAN DELAPAN MATARAM

Untuk mengatur berjalanya perusahaan diperlukan suatu struktur

organisasi. Bentuk Struktur organisasi tergantung dari besar kecilnya

perusahaan. Bagaimana juga bentuk struktur organisasi itu perlu ditetapkan atau

dipilih terlebih dahulu, agar tujuan perusahaan lebih efektif dan efisien. Dengan

adanya struktur organisasi akan lebih jelas pembagian kerja dan tanggung

jawabnya. Hal ini akan memudahkan dalam menentukan dan mengarahkan serta

mengontrol pelaksanaan kegiatan kegiatan suatu perusahaan dan apakah tujuan

yang telah ditentukan semua tercapai atau tidak. Dalam Pencapaian tujuan

perusahaan harus melakukan aktivitas pekerjaan dan kumpulan aktivitas ini

dilaksanakan orang orang yang menjadi anggota organisasi. Agar anggota

organisasi mengetahui tugasnya maka harus diadakan pengorganisasian.

Pengorganisasian dapat dilaksanakan dimana pekerjaan dapat dibagi bagi dan

merupakan sekumpulan tugas tugas yaang kemudian orang orang ditugaskan


36

untuk melaksanakannya. Adapun struktur organisasi CV. Delapan Delapan

sebagai berikut:

GAMBAR 4.2

STRUKTUR ORGANISASI

CV. DELAPAN DELAPAN MATARAM


DIREKTUR

SOM

KEP. DIVISI KANCAB SUPERVISOR

INVOIC PAJAK GUDANG AKUNT SALES MD


E ANSI

PENAGIH HRD SPG


AN
KANCAB KANCAB
SBW SELONG
BESAR

Sumber: Struktur organisasi CV. Delapan Delapan Mataram.

Adapun uraian nama-nama struktur organisasi CV. Delapan Delapan

Mataram sebagai berikut :

a. DIREKTUR : AA. LINGGA WATI

b. SOM : TROE HENDRO BANYU AJI


37

c. KEP. DIVISI INVOICE : ANGGARAYINI

d. KEP. DIVISI PENAGIHAN : NI WAYAN EKA

e. KEP. DIVISI HRD : MIEN ISMAYANI

f. KEP. DIVISI PAJAK : I. PUTU SUMATHA

g. KEP. DIVISI GUDANG : WAYAN KARSINI

h. KEP. DIVISI AKUNTANSI : SANTI FEBRARTI

i. KANCAB SBW BESAR : MARIYANI FAESAL

j. KANCAB SELONG : MUH. IKHSAN

k. SUPERVISOR SALES : RAMA PURNAMA

l. SUPERVISOR MD : NI MADE LINDA

m. SUPERVISOR SPG : SINTA FEBRARTI

4.1.4 Bidang Usaha dan Nama Distributor Serta Jenis Barangnya.

CV. Delapan Delapan Mataram bergerak dalam bidang perdagangan

yang merupakan pusat perusahaan dari CV. Delapan Delapan cabang Selong dan

cabang Sumbawa berkordinasi bisnis dan operasi pemasaran ke cabang cabang

untuk meningkatkan distribusi domestik terhadap kebutuhan masyarakat seperti

Mamy poko, kits, alat pembersih rumah, dan lain lain.

- Adapun Persediaan barang dagangan CV. Delapan Delapan Mataram

sendiri antara lain sebagai berikut:

a. Mamy poko

b. Cam (pembalut)
38

c. Anlene

d. Clear

e. Kits

f. Mablin

g. Garnier

h. Bronis

i. Parfum es kulin

j. Vitamin rambut

k. Choko pae

l. Kacang kulit dan atom

m. Keju

n. Mentega

o. Makan makanan ringan seperti cokelat, apilo, dan lain lain.

TABEL 4.1
DAFTAR NAMA PRINCIPLE, PRODUK, DAN MEREK BARANG

CV. DELAPAN DELAPAN MATARAM

NAMA PRODUK MEREK


39

PRINCIPLE BARANG
PT. UNICAM Diavers Mamy Poko

Pembalut Cam
PT. PONTERA Susu Anlene

INDONESIA
PT. GANDUM Han Bronis, Dan

MAS KENCANA Tepung


PT. DUTA Parfum Es Kulin Dan

LESTARI Elive Vitamin

SENTRATAMA Rambut
PT. LOTTE TRDE Permen Permen Karet,

AND Dan Choko Pae

DISTRIBUTION
PT. MITRA Kacang Kacang Kulit,

SATRYA PERKASA Dan Kacang

UTAMA Atom
PT. MULYA BOGA Pemanis Makanan Keju, Dan

RAYA Mentega
PT. DUA Pembersih Rumah Tangga Glade, Dan Clear

BERLIAN Pembersih Mobil Kits

PT. LOREAL Make Up Mablin.


Sabun Wajah Garnier

Sumber: Nama principle dan jenis barang CV. Delapan Delapan Mataram.
40

4.2 PEMBAHASAN

4.2.1 Dasar Pengenaan Pajak (DPP)

Dasar Pengenaan Pajak (DPP) yang digunakan CV. Delapan - Delapan

dalam melakukan perhitungan terhadap pajak pertambahan nilai adalah dengan

menggunakan harga jual. Harga jual yang diterapkan adalah berdasarkan semua

nilai berupa uang yang termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya

diminta oleh penjual karena penyerahan barang kena pajak.

4.2.2 Tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Tarif pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang dikenakan adalah 10% dari

Dasar Pengenaan Pajak (DPP) untuk semua jenis barang kena pajak (BKP).

4.2.3 Penghitungan dan Pencatatan Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Dalam melakukan penghitungan besarnya PPN yang harus disetor serta

PPN yang harus dipungut perusahaan adalah berdasarkan rumus sebagai berikut :

PPN = DPP x Tarif pajak (10%)

a. Perhitungan dan pencatatan PPN keluaran


CV. Delapan Delapan Mataram melakukan penjualan sebesar Rp.

177.729,00 kepada Swarning Ibu. Sesuai dengan faktur 010.001-

17.20962402, maka perhitungannya sebagai berikut:


DPP = Rp. 177.729,00
PPN 10% = Rp. 17.772,00
41

Pencatatan secara tunai sebagai berikut:


Kas Rp. 195.501,00
Penjualan Rp. 177.729,00
PPN Keluaran Rp. 17.772,00
Pencatatan secara kredit sebagai berikut:
Piutang dagang Rp. 195.501,00
Penjualan Rp. 177.729,00
PPN Keluaran Rp. 17.772,00
Apabila terjadi pelunasan piutang, maka jurnalnya sebagai

berikut:

Kas Rp. 195.501,00

Piutang dagang Rp. 195.501,00

b. Perhitungan dan pencatatan PPN masukan


CV. Delapan Delapan Mataram melakukan pembelian kredit sebesar
Rp. 9.824.305,00 kepada PT. THE UNIVENUS. Sesuai dengan faktur

0341605742405, maka perhitungannya sebagai berikut:


DPP = Rp. 9.824.305,00
PPN 10% = Rp. 982.430,00
Pencatatan secara kredit sebagai berikut:
Persediaan Rp. 9.824.305,00
PPN masukan Rp. 982.430,00
Utang Rp. 10.806.735,00
Apabila terjadi pelunasan utang, maka jurnalnya sebagai

berikut:

Utang Rp. 10.806.735,00

Kas Rp. 10.806.735,00

4.2.4 Evaluasi atas pemungutan PPN Keluaran

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) keluaran yang terdapat pada CV. Delapan

Delapan merupakan PPN atas penyerahan barang kena pajak atau penyerahan jasa

kena pajak. Penyerahan BKP atau JKP ini salah satunya adalah kegiatan penjualan

yang dilaksanakan oleh perusahaan. Penjualan dilakukan hanya lingkup dalam

negeri saja, baik secara tunai maupun kredit. Dalam kegiatan penjualan ada yang
42

langsung ke kantor untuk beli barang dan langsung dibuatin faktur pajak dan ada

juga yang didasarkan pada adanya pesanan pembelian yang dituangkan dalam

order pembelian. Untuk transaksi penjualan kredit, faktur pajak akan diterbitkan

pada saat dilakukan penagihan biasanya dilakukan minimal tujuh hari setelah

tanggal transaksi maksimal satu bulan setelah tanggal transaksi. Sebaliknya

apabila transaksinya penjualan tunai maka langsung diterbitkan faktur pajak pada

saat penyerahan barang. Dalam melakukan penyerahan barang kena pajak (BKP)

atau jasa kena pajak (PJK), CV. Delapan - Delapan menerbitkan faktur pajak

elektronik (e-faktur) sebagai bukti pemungutan pajak yang dibuat dan disertakan

pada saat pengiriman BKP atau JKP tersebut ke pelanggan. Atas penerbitan faktur

pajak ini tidak perlu lagi ditandatangani oleh direktur Perusahaan, karna dalam

e-faktur sudah terdapat barkot (QR code) yang menunjukkan nama direktur

Perusahaan dan jenis barang yang dibeli sebagai pengganti tanda tangan basah

tersebut. Apabila ada pelanggan baru yang melakukan pemesanan atau pembelian

pada perusahaan, perusahaan menanyakan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)

pelanggan baru tersebut kemudian disimpan dalam file perusahaan untuk

digunakan pada transaksi transaksi selanjutnya.

GAMBAR 4.3

FAKTUR PAJAK ELEKTRONIK

CV. DELAPAN DELAPAN MATARAM

FAKTUR PAJAK
Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak:
Pengusaha kena pajak
Nama:

Alamat:
43

NPWP:
Pembeli barang kena pajak/penerima jasa kena pajak
NO. Nama Barang Kena Pajak / Jasa Kena Pajak Harga Jual / pengganti

/ Uang Muka / Termin

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Harga Jual / Penggantian -


44

Dikurangi Potongan Harga -


Dikurangi Uang Muka -
Dasar Pengenaan Pajak -
PPN = 10 % x Dasar Pengenaan Pajak -
Total PPnBM ( Pajak Penjualan Barang Mewah ) -
Sesuai dengan peraturan yang berlaku, Direktorat Jendral Pajak mengatur

bahwa Faktur Pajak ini telah ditanda tangani secara elektronik sehingga

tidak diperlukan tanda tangan basah pada faktur pajak ini.

Kota Matam ...........................

DARMINTO

Sumber: Faktur pajak elektronik CV. Delapan Delapan Mataram.

4.2.5 Evaluasi atas pemungutan PPN Masukan

Pajak Masukan adalah PPN yang dibayar oleh pengusaha kena pajak

karena perolehan barang kena pajak dan atau jasa kena pajak. Selanjutnya akan

diuraikan pajak masukan yang telah dibayar oleh CV. Delapan - Delapan yang

timbul karena adanya pembelian BKP. Pembelian tersebut yaitu persediaan barang

dagangan. Pada setiap perolehan BKP yang berupa pembelian barang dagang, CV.

Delapan Delapan menerima faktur pajak elektronik dari PKP penjual yang dapat

digunakan sebagai sarana untuk mengkreditkan pajak masukan yang akan dibayar

pada akhir masa pajak. PPN atas perolehan BKP adalah berdasarkan faktur pajak

dari PKP penjual. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pajak masukan atas
45

pembelian barang dagangan ini dikreditkan dengan pajak keluaran atas penjualan

barang dagangan.

4.2.6 Prosedur pencatatan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) CV. Delapan

Delapan Mataram untuk bulan januari tahun 2017

Pencatatan jurnal yang dilakukan CV. Delapan Delapan Mataram terkait

dengan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk masa bulan januari adalah

sebagai berikut:

TABEL 4.2

DAFTAR JURNAL PPN KELUARAN

CV. DELAPAN DELAPAN MATARAM

Tanggal nama Jenis Nama No.Invoice kode debet kredit


Faktur transaksi Bayar Lawan
Transaksi
03-Jan- 8IAP20170 Rp 51.000,00
penjualan PERMANA 111
17 TUNAI 100001
03-Jan- 8IAP20170 Rp 4.636,00
Penjualan PERMANA 542
17 TUNAI 100001
03-Jan- 8IAP20170 Rp 46.364,00
Penjualan PERMANA 411
17 TUNAI 100001
04-Jan- 8IAP20170 Rp 195.918,00
penjualan ERNA 112
17 KREDIT 100025
04-Jan- 8IAP20170 Rp 17.811,00
Penjualan ERNA 542
17 KREDIT 100025
04-Jan- 8IAP20170 Rp178.107,00
Penjualan ERNA 411
17 KREDIT 100025
05-Jan- 8IAP20170 RP 294.055,00
penjualan LILY 112
17 KREDIT 100050
05-Jan- 8IAP20170 Rp 26.732,00
Penjualan LILY 542
17 KREDIT 100050
05-Jan- 8IAP20170 Rp267.323,00
Penjualan LILY 411
17 KREDIT 100050
46

06-Jan- 8IAP20170 Rp 230.201,00


penjualan ALPHA 112
17 KREDIT 100074
06-Jan- 8IAP20170 Rp 20.927,00
Penjualan ALPHA 542
17 KREDIT 100074
06-Jan- 8IAP20170 Rp209.274,00
Penjualan ALPHA 411
17 KREDIT 100074
07-Jan- 8IAP20170 Rp 195.918,00
penjualan SAPRI H 112
17 KREDIT 100099
07-Jan- 8IAP20170 Rp 17.811,00
Penjualan SAPRI H 542
17 KREDIT 100099
07-Jan- 8IAP20170 Rp178.107,00
Penjualan SAPRI H 411
17 KREDIT 100099
09-Jan- 8IAP20170 Rp 97.957,00
penjualan IRMA 112
17 KREDIT 100142
09-Jan- 8IAP20170 Rp 8.905,00
Penjualan IRMA 542
17 KREDIT 100142
09-Jan- 8IAP20170 Rp 89.052,00
Penjualan IRMA 411
17 KREDIT 100142
10-Jan- 8IAP20170 Rp 97.957,00
penjualan T & R KIOS 112
17 KREDIT 100136
10-Jan- 8IAP20170 Rp 8.905,00
Penjualan T & R KIOS 542
17 KREDIT 100136
10-Jan- 8IAP20170 Rp 89.052,00
Penjualan T & R KIOS 411
17 KREDIT 100136
11-Jan- 8IAP20170 Rp 145.401,00
penjualan YASNA IBU 111
17 TUNAI 100211
11-Jan- 8IAP20170 Rp 13.218,00
penjualan YASNA IBU 542
17 TUNAI 100211
11-Jan- 8IAP20170 Rp132.183,00
Penjualan YASNA IBU 411
17 TUNAI 100211
12-Jan- 8IAP20170 Rp 365.428,00
penjualan SUTRA UD 111
17 TUNAI 100232
12-Jan- 8IAP20170 Rp 33.220,00
penjualan SUTRA UD 542
17 TUNAI 100232
12-Jan- 8IAP20170 Rp332.208,00
Penjualan SUTRA UD 411
17 TUNAI 100232
47

13-Jan- 8IAP20170 Rp 345.428,00


penjualan CAHAYA 112
17 KREDIT 100258
13-Jan- 8IAP20170 Rp 31.402,00
Penjualan CAHAYA 542
17 KREDIT 100258
13-Jan- 8IAP20170 Rp314.026,00
Penjualan CAHAYA 411
17 KREDIT 100258
14-Jan- CV. JB 8IAP20170 Rp1.557.296,00
penjualan 112
17 KREDIT RETAIL 100268
14-Jan- CV. JB 8IAP20170 Rp141.573,00
Penjualan 542
17 KREDIT RETAIL 100268
14-Jan- CV. JB 8IAP20170 Rp
Penjualan 411
17 RETAIL 100268 1.415.723,00
KREDIT
16-Jan- 8IAP20170 Rp 72.936,00
penjualan LINDA 112
17 KREDIT 100290
16-Jan- 8IAP20170 Rp 6.630,00
Penjualan LINDA 542
17 KREDIT 100290
16-Jan- 8IAP20170 Rp 66.306,00
Penjualan LINDA 411
17 KREDIT 100290
17-Jan- 8IAP20170 Rp 229.402,00
penjualan TINA KIOS 112
17 KREDIT 100305
17-Jan- 8IAP20170 Rp 20.854,00
Penjualan TINA KIOS 542
17 KREDIT 100305
17-Jan- 8IAP20170 Rp208.548,00
Penjualan TINA KIOS 411
17 KREDIT 100305
Jumlah PPN keluaran = Rp. 115.318.857,00

Sumber: Pajak keluaran CV. Delapan Delapan Mataram bulan januari

2017.
48

TABEL 4.3

DAFTAR JURNAL PPN MASUKAN

CV. DELAPAN DELAPAN MATARAM

Nama No. Faktur


Tanggal Keterangan kode
transaksi jenis bayar Pajak debet Kredit
21-Dec- pembelian PT. THE 034160574 Rp
511
16 kredit UNIVENUS 2405 9.824.305,00
21-Dec- pembelian PT. THE 034160574
541
16 kredit UNIVENUS 2405 Rp 982.430,00
21-Dec- pembelian PT. THE 034160574 Rp
211
16 kredit UNIVENUS 2405 10.806.735,00
PT. DELTA
30-Dec- 034165291
pembelian SATRIA 511 Rp34.770.000,
16 8417
kredit DEWATA 00
PT. DELTA
30-Dec- 034165291
pembelian SATRIA 541 Rp
16 8417
kredit DEWATA 3.477.000,00
PT. DELTA
30-Dec- 034165291
pembelian SATRIA 211 Rp
16 8417
kredit DEWATA 38.247.000,00

5-Jan- pembelian PT. THE 000176523 Rp


511
17 kredit UNIVENUS 4383 34.897.203,00
5-Jan- pembelian PT. THE 000176523 Rp
541
17 kredit UNIVENUS 4383 3.489.720,00
5-Jan- pembelian PT. THE 000176523 Rp
211
17 kredit UNIVENUS 4383 38.386.923,00
PT. ANDIRA
5-Jan- 001174424
pembelian INFOMEDI 511 Rp
17 6668
kredit A 5.000.000,00
PT. ANDIRA
5-Jan- 001174424
pembelian INFOMEDI 541
17 6668
kredit A Rp500.000,00
PT. ANDIRA
5-Jan- 001174424
pembelian INFOMEDI 211 Rp
17 6668
kredit A 5.500.000,00
PT. DELTA
6-Jan- 000174921
pembelian PUSAKA 511 Rp
17 5899
kredit INDAH 24.548.900,00
49

PT. DELTA
6-Jan- 000174921
pembelian PUSAKA 541 Rp
17 5899
kredit INDAH 2.454.890,00
PT. DELTA
6-Jan- 000174921
pembelian PUSAKA 211 Rp
17 5899
kredit INDAH 27.003.790,00
PT. UNI-
7-Jan- 000171681
pembelian CHARM 511 Rp
17 8676
kredit INDONESIA 92.809.395,00
PT. UNI-
7-Jan- 000171681
pembelian CHARM 541 Rp
17 8676
kredit INDONESIA 9.280.940,00
PT. UNI- Rp
7-Jan- 000171681
pembelian CHARM 211 102.090.335,0
17 8676
kredit INDONESIA 0
13-Jan- pembelian PT. THE 000176523 Rp
511
17 kredit UNIVENUS 6258 25.644.135,00
13-Jan- pembelian PT. THE 000176523 Rp
541
17 kredit UNIVENUS 6258 2.564.413,00
13-Jan- pembelian PT. THE 000176523 Rp
211
17 kredit UNIVENUS 6258 28.208.548,00
PT. DUTA
17-Jan- LESTARI 000173065
511
17 pembelian SENTRATA 9286 Rp
kredit MA 21.812.318,00

PT. DUTA
17-Jan- LESTARI 000173065
541
17 pembelian SENTRATA 9286 Rp
kredit MA 2.181.232,00
PT. DUTA
17-Jan- LESTARI 000173065
211
17 pembelian SENTRATA 9286 Rp
kredit MA 23.993.550,00
PT. DUTA
17-Jan- LESTARI 000173065
511
17 pembelian SENTRATA 9287
kredit MA Rp668.864,00
PT. DUTA
17-Jan- LESTARI 000173065
541
17 pembelian SENTRATA 9287
kredit MA Rp66.886,00
17-Jan- pembelian PT. DUTA 000173065 211 Rp 735.750,00
17 kredit LESTARI 9287
SENTRATA
50

MA

21-Jan- pembelian PT. DUA 001171703 Rp


511
17 kredit BERLIAN 8240 18.237.614,00
21-Jan- pembelian PT. DUA 001171703 Rp
541
17 kredit BERLIAN 8240 1.823.761,00
21-Jan- pembelian PT. DUA 001171703 Rp
211
17 kredit BERLIAN 8240 20.061.375,00
PT. UNI-
24-Jan- 000171682
pembelian CHARM 511 Rp
17 0369
kredit INDONESIA 91.305.338,00
PT. UNI-
24-Jan- 000171682
pembelian CHARM 541 Rp
17 0369
kredit INDONESIA 9.130.534,00
PT. UNI- Rp
24-Jan- 000171682
pembelian CHARM 211 100.435.872,0
17 0369
kredit INDONESIA 0
PT. UNI-
25-Jan- 000171682
pembelian CHARM 511 Rp188.573.65
17 0509
kredit INDONESIA 4,00
PT. UNI-
25-Jan- 000171682
pembelian CHARM 541 Rp
17 0509
kredit INDONESIA 18.857.365,00
PT. UNI- Rp
25-Jan- 000171682
pembelian CHARM 211 207.431.019,0
17 0509
kredit INDONESIA 0
PT. UNI-
26-Jan- 000171682
pembelian CHARM 511 Rp177.667.25
17 0626
kredit INDONESIA 1,00
PT. UNI-
26-Jan- 000171682
pembelian CHARM 541 Rp
17 0626
kredit INDONESIA 17.766.725,00
PT. UNI- Rp
26-Jan- 000171682
pembelian CHARM 211 195.433.976,0
17 0626
kredit INDONESIA 0
27-Jan- pembelian PT. THE 000176524 Rp
511
17 kredit UNIVENUS 0276 7.693.753,00
27-Jan- pembelian PT. THE 000176524
541
17 kredit UNIVENUS 0276 Rp769.375,00
27-Jan- pembelian PT. THE 000176524 Rp
211
17 kredit UNIVENUS 0276 8.463.128,00
51

PT. ASIA
SAKTI
30-Jan- WAHID 001171407
511
17 FOODS 1121
pembelian MANUFACT Rp
kredit URE 56.517.897,00
PT. ASIA
SAKTI
30-Jan- WAHID 001171407
541
17 FOODS 1121
pembelian MANUFACT Rp
kredit URE 5.651.784,00
PT. ASIA
SAKTI
30-Jan- WAHID 001171407
211
17 FOODS 1121
pembelian MANUFACT Rp
kredit URE 62.169.681,00
PT. ASIA
SAKTI
30-Jan- WAHID 001171407
511
17 FOODS 1122
pembelian MANUFACT Rp
kredit URE 38.442.666,00
PT. ASIA
SAKTI
30-Jan- WAHID 001171407
541
17 FOODS 1122
pembelian MANUFACT Rp
kredit URE 3.844.261,00
PT. ASIA
SAKTI
30-Jan- WAHID 001171407
211
17 FOODS 1122
pembelian MANUFACT Rp
kredit URE 42.286.927,00
PT. ASIA
SAKTI
30-Jan- WAHID 001171407
511
17 FOODS 1123
pembelian MANUFACT Rp
kredit URE 82.480.514,00
30-Jan- pembelian PT. ASIA 001171407 541 Rp
17 kredit SAKTI 1123 8.248.049,00
WAHID
FOODS
MANUFACT
52

URE

PT. ASIA
SAKTI
30-Jan- WAHID 001171407
211
17 FOODS 1123
pembelian MANUFACT Rp
kredit URE 90.728.563,00
PT. UNI-
31-Jan- 000171682
pembelian CHARM 511 Rp129.483.82
17 1177
kredit INDONESIA 8,00
PT. UNI-
31-Jan- 000171682
pembelian CHARM 541 Rp
17 1177
kredit INDONESIA 12.948.383,00

31-Jan- PT. UNI- Rp


000171682
17 pembelian CHARM 211 142.432.211,0
1177
kredit INDONESIA 0
Jumlah PPN masukan bulan januari 2017 = Rp. 104.037.748,00

Sumber: Pajak masukan CV. Delapan Delapan Mataram untuk bulan januari

2017.

Keterangan Kode Rekening antara lain:

111 . Kas

112 . Piutang dagang

211 . Utang dagang

411 . Dasar Pengenaan Pajak keluaran

511 . Dasar Pengenaan Pajak masukan

541 . PPN masukan

542 . PPN keluaran


53
54

Penghitungan hutang pajak CV. Delapan Delapan Mataram

untuk masa januari 2017

Total PPN keluaran bulan januari 2017 = Rp. 115.318.857,00

Total PPN masukan bulan januari 2017 = Rp. 104.037.748,00

PPN kurang bayar = Rp. 11.281.109,00

Jurnal untuk bulan januari atas timbulnya hutang pajak

pertambahan nilai (PPN)

Penjualan Rp. 115.318.857,00

Pembelian Rp. 104.037.748,00

Pajak terutang Rp. 11.281.109,00

Jurnal untuk pembayaran hutang pajak masa januari 2017 yang

dibayarkan pada bulan berikutnya

PPN kurang bayar Rp. 11.281.109,00

Bank Rp. 11.281.109,00


55

4.2.7 Prosedur pelaporan pajak pertambahan nilai (PPN) CV. Delapan

Delapan Mataram untuk masa pajak bulan januari 2017


56
57

Tidak ada perbedaan dalam pencatatan maupun pelaporan pajak pertambahan nilai

baik menurut teori yang didapat di bangku kuliah dengan kenyataan di dunia

kerja.
58

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari uraian di atas tentang perlakuan akuntansi pajak pertambahan nilai

(PPN) pada CV. DELAPAN DELAPAN MATARAM dapat di tarik kesimpulan

sebagai berikut :

1. Pada setiap akhir bulan CV. Delapan Delapan Mataram membuat

perhitungan perkiraan PPN, yaitu apabila pajak masukan lebih

kecil dari pajak keluaran berarti terdapat kekurangan pembayaran

atas PPN, sedangkan apabila pajak masukan lebih besar dari pajak

keluaran maka terdapat kelebihan pembayaran atas PPN.


2. CV. Delapan Delapan Mataram dalam melakukan pencatatan

akuntansi PPN atas transaksi pembelian dan penjualan ternyata

perusahaan sudah menyajikan dengan jelas dan lengkap.


3. Dalam hal pelunasan kewajiban pembayaran pajak, CV. Delapan

Delapan selalu tepat waktu, tidak pernah ada keterlambatan.


4. Perhitungan PPN CV. Delapan Delapan Mataram telah sesuai

dengan UU no. 42 Tahun 2009 baik pencatatannya maupun

pelaporannya.
5. Faktur faktur pajak sudah disimpan dengan rapi sehingga

memudahkan perusahaan untuk penyetoran dan pelaporan PPN.


6. Faktur faktur pajak yang disimpan perusahaan tidak ada yang

cacat dan semuanya sudah diisi dengan lengkap termasuk tanda

tangan, nama lengkap dan jabatan serta cap atau stempel dari

perusahaan.

5.2 Saran
59

1. Semoga CV. Delapan Delapan Mataram dapat mempertahankan

dalam menjurnal dan mengarsipkan data PPN dengan baik dan benar sehingga

tidak ada terjadi kekeliruan dalam pencatatan maupun penghitungan PPN nya.

2. CV. Delapan Delapan Mataram agar dapat melaporkan lebih awal

lagi tanggal pelaporan data PPN nya sehingga tidak ada keterlambatannya dan

menghindari sanksi yang ada .


60

DAFTAR PUSTAKA

Waluyo. 2011. Perpajakan Indonesia. Buku 2, edisi 10, Penerbit


Salemba Empat, Jakarta.

B.Ilyas, Wiryawan, Rudy Suhartono. 2007. Pajak Pertambahan Nilai dan


Penjualan Barang Mewah. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia, Jakarta.

Ikatan Akutansi Indonesia. 2007. Standar Akutansi Keuangan. Salemba Empat,


Jakarta.

Soermarso, S.R. 2003. Perpajakan Pendekatan kompehensif. Penerbit


Salemba Empat, Jakarta.

Tjahjono, Achmad. 2003. Perpajakan Indonesia : Pendekatan Soal Jawab


dan Kasus. Jakarta.

Undang Undang Perpajakan Pertambahan Nilai no. 42 Tahun 2009

Waluyo, B.Ilyas, Wirawan. 2003. Perpajakan Indonesia. Buku Satu, edisi


revisi, Penerbit Salemba empat, Jakarta.

Yusdianto. 2002. Akutansi Perpajakan , Jakarta.

http://pajak.efaktur.id