Anda di halaman 1dari 14
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id U Nomor 229 K/Pdt.Sus-Pailit/2013 P U T S

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

U

Nomor 229 K/Pdt.Sus-Pailit/2013

P

U

T

S

A

N

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

M A H K A M A H

A G U N G

memeriksa perkara perdata khusus Kepailitan dalam tingkat kasasi telah memutuskan

sebagai berikut dalam perkara :

Ny.TUTI SUPRIATI, bertempat tinggal di Villa Pertiwi Blok Q4

Nomor 8, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Sukmajaya, Depok, dalam

hal ini memberi kuasa kepada Elvi Noor, SH., Bayu Rizal, SH, dan

Fernando Billy Wibawa, SH., para Advokat - Penasihat Hukum,

berkantor di Bintaro Puspita GG Nomor 19, Bintaro Permai, Jakarta

Selatan., berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal 25 Maret 2013,

sebagai Pemohon Kasasi dahulu Pemohon Pailit;

T e r h a d a p:

PT.ASURANSI JIWA BUANA PUTRA, berkedudukan di Apartemen

Taman Rasuna Said, Jalan HR.Rasuna Said Tower 10, Lantai.11 C,

Kuningan, Jakarta 12920, diwakili oleh Nur Ario Bimo sewlaku

Direktur, dalam hal ini memberi kuasa kepada : Diana Thoha, SH., dan

Helmi N. Tanjung, SH, para Advokat/ Pengacara dan Konsultan

Hukum, berkantor di Ruko Plaza Pondok Aren, Kav. 15-16, Jalan Raya

Pondok Aren No.51 Bintaro-Tangerang Selatan, berdasarkan Surat

Kuasa Khusus tertanggal 4 Maret 2013, sebagai Termohon Kasasi

dahulu Termohon Pailit;

Mahkamah Agung tersebut;

Membaca surat-surat yang bersangkutan;

Menimbang, bahwa dari surat-surat tersebut ternyata bahwa sekarang Pemohon

Kasasi dahulu sebagai Pemohon telah mengajukan permohonan pernyataan pailit di

muka persidangan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada

pokoknya atas dalil-dalil sebagai berikut:

A Adanya Utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih

1 Bahwa Pemohon adalah pemegang polis dari polis asuransi Dwiguna

Bertahap Khusus yang ditebitkan oleh Termohon berdasarkan polis nomor

186894 tertanggal 28 Juli 1993 atas nama Pemohon dengan masa

Hal. 1 dari 14 hal. Put. No. 229 K/Pdt.Sus-Pailit/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 1

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia 2 putusan.mahkamahagung.go.id pertanggungan selama 15 tahun yang mulai

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

2

putusan.mahkamahagung.go.id

pertanggungan selama 15 tahun yang mulai efektif berlaku sejak tanggal 1

Juli 1993 (selanjutnya disebut “Polis No.186894”); dengan kewajiban

Pemohon untuk melakukan pembayaran premi setiap tahunnya kepada

Termohon;

2 Bahwa Pemohon telah memenuhi kewajibannya dengan melakukan

pembayaran premi secara teratur setiap tahunnya kepada Termohon, dengan

perincian sebagai berikut :

Periode Juli 1993 s/d Juni 1994 sebesar Rp217.625,00;

Periode Juli 1994 s/d Juni 1995 sebesar Rp235.800,00;

Periode Juli 1995 s/d Juni 1996 sebesar Rp256.600,00;

1 Bahwa berdasarkan Polis No.186894 diatur bahwa dalam masa

pertanggungan selama Pemohon masih hidup, maka Pemohon memiliki hak

untuk menerima pembayaran pertanggungan asuransi dari Termohon setiap

bulan Juli pada tahun 1996, 1999, 2002, 2005 dan 2008 sebesar

Rp500.000,00 (lima ratus ribu Rupiah);

2 Bahwa Termohon berdasarkan ketentuan dalam Polis No.186894 telah

melakukan pembayaran pertanggungan asuransi untuk periode tahun 1996

yaitu pada tanggal 1 Juli 1996 kepada Pemohon;

3 Bahwa namun ternyata pembayaran pertanggungan asuransi untuk periode

selanjutnya yaitu periode tahun 1999, tahun 2002 dan tahun 2005, Termohon

tanpa alasan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan tidak

lagi melaksanakan kewajibannya untuk melakukan pembayaran pertanggungan

asuransi kepada Pemohon sebagaimana yang telah diatur dalam Polis No.186894,

meskipun Termohon telah diperingatkan Pemohon berkali-kali secara lisan maupun

secara tertulis;

4 Bahwa berdasarkan hal-hal di atas maka utang pembayaran pertanggungan

asuransi yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih dari Termohon kepada

Pemohon berdasarkan Polis No.186894 sampai dengan diajukannya

Permohonan Pernyataan Pailit ini adalah sebasar Rp1.500.000,00 (satu juta

lima ratus ribu Rupiah) dengan perincian sebagai berikut :

Pembayaran pertanggungan asuransi periode tahun 1999 sebesar Rp500.000,00

(lima ratus ribu Rupiah) yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih pada tanggal

1 Juli 1999;

2

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 2

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia 3 putusan.mahkamahagung.go.id • Pembayaran pertanggungan asuransi

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

3

putusan.mahkamahagung.go.id

Pembayaran pertanggungan asuransi periode tahun 2002 sebesar Rp500.000,00

(lima ratus ribu Rupiah) yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih pada tanggal

1 Juli 2002;

Pembayaran pertanggungan asuransi periode tahun 2005 sebesar Rp500.000,00

(lima ratus ribu Rupiah) yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih pada tanggal

1 Juli 2005;

1 Bahwa karena Termohon telah tidak lagi melakukan pembayaran atas

pembayaran pertanggungan asuransi yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih

kepada Pemohon sebagaimana tersebut di atas maka sebagai konsekuensinya

berdasarkan Pasal 139 dan Pasal 275 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004

tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

(selanjutnya disebut “UUK”) adalah bahwa semua kewajiban Pemohon

menjadi jatuh tempo seketika, dan oleh karenanya Pemohon mempunyai hak

untuk menagih pelunasan kewajiban Termohon, termasuk manfaat asuransi

ke depan yang masih harus dibayar Termohon kepada Pemohon sampai

dengan berakhirnya manfaat asuransi sebagaimana diperjanjikan dalam Polis

No.186894 yaitu sebesar Rp2.000.000,00 (dua juta Rupiah), dengan perincian

sebagai berikut :

Pembayaran pertanggungan asuransi periode tahun 1999 dan tahun 2002 sebesar

Rp1.000.000,00 (satu juta Rupiah);

Pembayaran pertanggungan asuransi periode tahun 2005 sebesar Rp500.000,00

(lima ratus ribu Rupiah);

Pembayaran pertanggungan asuransi periode tahun 2008 sebesar Rp500.000,00

(lima ratus ribu Rupiah);

1 Bahwa berdasarkan Polis No.186894 tersebut di atas maka kewajiban/utang

Termohon kepada Pemohon yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih sebesar

Rp2.000.000,00 (dua juta Rupiah), berikut bunga yang harus dibayarkan

Termohon kepada Pemohon sebesar Rp8.400.000,00 (delapan juta empat

ratus ribu Rupiah) dengan perhitungan bunga sebesar 30% (tiga puluh persen)

pertahun, terhitung sejak bulan Juli 1999 s/d diajukannya gugatan ini (selama

14 tahun), ditambah lagi dengan segala biaya yang telah dikeluarkan oleh

Pemohon dalam rangka menuntut haknya untuk mendapatkan pembayaran

manfaat polis dari Termohon sejak tahun 1999 s/d gugatan ini diajukan yaitu

sebesar Rp12.000.000,00 (dua belas juta Rupiah) yang meliputi biaya

Hal. 3 dari 14 hal. Put. No. 229 K/Pdt.Sus-Pailit/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 3

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia 4 putusan.mahkamahagung.go.id transportasi, biaya telepon, fax, surat

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

4

putusan.mahkamahagung.go.id

transportasi, biaya telepon, fax, surat menyurat dan biaya operasional lainnya.

Sehingga total kewajiban/utang Termohon kepada Pemohon adalah sebesar

Rp22.400.000,00 (dua puluh dua juta empat ratus ribu Rupiah) dengan

perincian sebagai berikut :

Pokok polis

Rp 2.000.000,00

Bunga (30% per tahun dari th.1999 s/d 2013)

Rp 8.400.000,00

Biaya transportasi, telepon, fax, surat menyurat

dan operasional lainnya

Rp12.000.000,00

Total kewajiban yang harus dibayar

Rp22.400.000,00

1 Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut pada butir 1 s/d 8 maka jelas terbukti

secara sumir bahwa terdapat utang/kewajiban Termohon kepada Pemohon

yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih. Dengan demikian jelas bahwa unsur

adanya utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih” dari Termohon

kepada Pemohon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) UUK telah

terpenuhi dengan sempurna;

B Fakta/Bukti Hukum Termohon harus dinyatakan Pailit

10. Adanya surat pencabutan izin usaha dari Menkeu RI ;

10.1. Surat Departemen Keuangan Republik Indonesia Badan Pengawas Pasar Modal

dan Lembaga Keuangan No.S-5911/BL/2007 tanggal 22 November 2007

perihal pemberitahuan tentang PT.Asuransi Jiwa Buana Putra jo. SK Mentri

Keuangan No.Kep-053/KM.10/2007 tertanggal 5 April 2007 tentang

pencabutan izin usaha PT.Asuransi Jiwa Buana Putra;

10.1.1.Bahwa angka 1 dan angka 5 dari Surat Departemen Keuangan Republik

Indonesia Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan

No.S-5911/BL/2007 tanggal 22 November 2007 menyebutkan:

angka 1

Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan nomor KEP-053/

KM.10/2007 tanggal 5 April 2007, izin usaha PT.Asuransi

Jiwa Buana Putra telah dicabut. Pencabutan izin usaha

dilakukan karena PT.Asuransi Jiwa Buana Putra tidak

memenuhi ketentuan perundang-undangan di bidang usaha

perasuransian”;

4

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 4

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia 5 putusan.mahkamahagung.go.id angka 3 “ Sesuai dengan ketentuan yang

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

5

putusan.mahkamahagung.go.id

angka 3

Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, meskipun telah

dilakukan pencabutan izin usaha, PT.Asuransi Jiwa Buana

Putra tetap berkewajiban menyelesaikan status dan hak-

haknya kepada karyawan maupun utang kepada kreditur,

terutama pemegang polis atau tertanggung”;

11. Adanya jurisprudensi atas kasus serupa :

11.1. Putusan Nomor 26/Pailit/2008/PN.Niaga.Jkt.Pst. tanggal 9 Juni 2008, yang

menyatakan :

- PT.Adam Skyconnection Airlines pailit, yang didahului dengan

pencabutan izin usaha penerbangan atas nama “ADAM AIR”, yang

berakibat hukum seluruh kegiatan operasional Adam Air terhenti;

11.2. Putusan Nomor 41/Pilit/2007/PN.Niaga.Jkt.Pst. tanggal 4 September 2007

yang menyatakan :

- PT.Dirgantara Indonesia (Persero) pailit;

C Termohon juga mempunyai utang kepada Kreditur Lainnya

12.Bahwa disamping memiliki utang/kewajiban kepada Pemohon, Termohon juga

memiliki utang terhadap kreditur lainnya selain Pemohon, yakni para pemegang polis

dari Termohon yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, yang jumlahnya cukup

banyak, disamping ex. karyawan Termohon yang menuntut hak mereka; sebagai

akibat dicabutnya izin usaha Termohon oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia

vide bukti P-5; antara lain, namun tidak terbatas :

a. Yunus Yuliawan, beralamat di Villa Pertiwi Blok Q 4/8 Rt/Rw 05/16 Kelurahan

Sukamaju, Kecamatan Sukmajaya, Depok, Jawa Barat;

b. Suwanto, beralamat di Jl. KH. Maisin No.27 Rt.001/Rw.015 Kelurahan Klender,

Kec. Duren Sawit, Jakarta Timur;

c. Joeliarman Bakir, beralamat di Jl. Danau Tondano 4/40 Rt.05/Rw.03, Kelurahan

Abadi Jaya, Kec. Sukmajaya, Kota Depok;

d. Sumedi, beralamat di Villa Pertiwi Blok R-1 No.6 Rt.04/16 Kel. Sukamaju, Kec.

Sukmajaya, Depok;

dimana jumlah piutang pemegang polis dari Termohon tersebut baru dapat diketahui

secara pasti apabila Termohon telah dinyatakan pailit dan para kreditur/pemegang

polis hadir dalam rapat-rapat verifikasi yang diadakan oleh Kurator nantinya;

D Termohon harus dinyatalan Pailit

Hal. 5 dari 14 hal. Put. No. 229 K/Pdt.Sus-Pailit/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 5

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia 6 putusan.mahkamahagung.go.id 13.Bahwa dari uraian-uraian di atas,

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

6

putusan.mahkamahagung.go.id

13.Bahwa dari uraian-uraian di atas, terbukti bahwa unsur-unsur untuk menyatakan

Termohon pailit sebagaimana yang disyaratkan pada Pasal 2 ayat (1) UUK yang

berbunyi sebagai berikut telah terpenuhi dengan sempurna:

Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak membayar lunas

sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit

dengan putusan Pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun atas

permohonan satu atau lebih kreditornya”;

E Pengurus/Pemberesan Harta Pailit

14.Guna pengurusan dan pemberesan harta pailit Pemohon menunjuk :-------

- Sdr. Reza Syafa’at Rizal. SH, beralamat di Ruko Golden Boulevard Blok O-17,

Jl. Pahlawan Seribu, BSD City, Tangerang;

sebagai Kurator Pemohon guna mengurus dan melakukan pemberesan harta pailit

sesuai Pasal 64 ayat (1) UUK; satu dan lain sesuai Surat Pernyataan dari Sdr. Reza

Syafa’at Rizal. SH tanggal 15 Januari 2013 dan Surat Pengangkatan sebagai

Kurator Nomor: AHU.AH.04.03-49 tanggal 02 Maret 2011;

Bahwa berdasarkan alasan tersebut di atas Pemohon mohon kepada Pengadilan

Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat agar memberikan putusan sebagai berikut :

1 Mengabulkan permohonan Pemohon untuk seluruhnya;

2 Menyatakan Termohon, PT.Asuransi Jiwa Buana Putra pailit dengan segala

akibat hukumnya;

3 Mengangkat Hakim Pengawas dari Hakim Pengadilan Niaga pada Pengadilan

Negeri Jakarta Pusat dalam Kepailitan ini;

4 Mengangkat :

Sdr. Reza Syafa’at Rizal. SH, beralamat di Ruko Golden Boulevard

Blok O-17, Jl. Pahlawan Seribu, BSD City, Tangerang;

sebagai Kurator dalam kepailitan Termohon;

5.

Menghukum Termohon untuk membayar biaya perkara ini;

Atau,

Apabila

Majelis Hakim yang Terhormat berpendapat lain mohon putusan yang

seadil-adilnya (ex aequo et bono);

Menimbang, bahwa terhadap permohonan Pailit tersebut, Termohon Pailit

mengajukan eksepsi pada pokoknya adalah sebagai berikut:

1. Permohonan Pernyataan Pailit Pemohon di Pengadilan Niaga terhadap Termohon

adalah Prematur/Prematoir.

6

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 6

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia 7 putusan.mahkamahagung.go.id - Bahwa permohonan Pailit yang diajukan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

7

putusan.mahkamahagung.go.id

- Bahwa permohonan Pailit yang diajukan Pemohon kepada Termohon belum

memenuhi syarat menurut hukum dapat diajukan. Oleh karena kewajiban

pembayaran premi dari Pemohon kepada Termohon belum dilaksanakan secara

baik dan teratur, dimana sebuah hak dan kewajiban dikarenakan adanya

hubungan hukum melalui Polis pertanggungan harus secara seimbang dijalankan

oleh para pihak;

- Bahwa Termohon terhitung sejak adanya permohonan ini, secara tegas Termohon

sampaikan masih memiliki kemampuan untuk menyelesaikan pembayaran nilai

pertanggungan kepada nasabah. Satu dan lain hal dikarenakan masih adanya

beberapa proses hukum yang sedang berjalan baik berkaitan dengan asset

kepemilikan maupun upaya hukum administrasi Negara lainnya. Sehingga

sebelum saatnya perkara ini dimasukkan kedalam perkara Kepailitan pada

Pengadilan Niaga;

2. Permohonan Pernyataan Pailit Pemohon adalah Obscur Libel.

- Bahwa terjadi ketidaksesuaian dan tidak adanya saling mendukung antara

posita dan petitum permohonan pernyataan Pailit yang disampaikan oleh

Pemohon. Oleh karena di dalam posita dinyatakan oleh Pemohon rincian tuntutan

pembayaran yang harus diselesaikan oleh Termohon kepada Pemohon termasuk

tidak terbatas pada adanya bunga dan biaya-biaya lain, satu dan lain hal tidak

diatur sama sekali di dalam oils yang merupakan perjanjian mengikat bagi para

pihak. Bahwa semestinya tuntutan dengan unsur nilai tuntutan seperti itu

semestinya diajukan oleh Pemohon melalui gugatan Wanprestasi melalui

Pengadilan Negeri atau dilakukan upaya hukum mekanisme penundaan

kewajiban pembayaran utang (PKPU);

- Bahwa di dalam posita Pemohon juga menyampaikan adanya Kreditur lain

yang merupakan ex. Karyawan Termohon (PT.Asuransi Jiwa Buana Putra) di

mana hak-hak sebagai karyawan belum terpenuhi oleh Termohon. Hal demikian

sangatlah tidak tepat dan menyimpang jauh dari ketentuan hukum yang berlaku

apabila Pemohon atas dasar tuntutan ex. karyawan itu mengajukan

permohonan pernyataan Pailit pada Pengadilan Niaga adalah lebih tepat apabila

permasalahan tersebut dimasukkan melalui Pengadilan Negeri dengan gugatan

melawan hukum;

Bahwa terhadap permohonan pernyataan pailit tersebut Pengadilan Niaga pada

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah mengambil putusan, yaitu putusan Nomor : 06/

Hal. 7 dari 14 hal. Put. No. 229 K/Pdt.Sus-Pailit/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 7

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia 8 putusan.mahkamahagung.go.id Pdt.Sus/Pailit/2013/PN.Niaga Jkt.Pst.,

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

8

putusan.mahkamahagung.go.id

Pdt.Sus/Pailit/2013/PN.Niaga Jkt.Pst., tanggal 21 Maret 2013, yang amarnya sebagai

berikut :

DALAM EKSEPSI :

Menolak eksepsi yang diajukan oleh Termohon Pailit;

DALAM POKOK PERKARA :

Menyatakan Permohonan Pernyataan Pailit yang diajukan oleh

Pemohon Pailit tidak dapat diterima;

Menghukum Pemohon Pailit untuk membayar biaya Permohonan ini

sebesar Rp416.000,00 (empat ratus enam belas ribu Rupiah);

Menimbang, bahwa sesudah putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri

Jakarta Pusat tersebut diucapkan pada sidang terbuka untuk umum pada tanggal 21

Maret 2013 dengan dihadiri oleh Kuasa Pemohon, kemudian terhadapnya oleh Pemohon

dengan perantara kuasanya berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 25 Maret 2013

diajukan permohonan kasasi secara lisan pada tanggal 26 Maret 2013 sebagaimana

ternyata dari akte permohonan kasasi Nomor : 17/Kas/Pailit/2013/PN.Niaga Jkt.Pst. Jo.

Nomor : 06/Pdt.Sus/ 2013/PN.Niaga Jkt.Pst. yang dibuat oleh Panitera Pengadilan

Negeri/Niaga Jakarta Pusat, permohonan mana disertai dengan memori kasasi yang

memuat alasan-alasan yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri/Niaga Jakarta

Pusat pada tanggal 26 Maret 2013;

Bahwa setelah itu oleh Termohon Kasasi/Termohon yang pada tanggal 27 Maret

2013 telah disampaikan memori kasasi dari Pemohon Kasasi/ Pemohon, diajukan kontra

memori kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri/Niaga Jakarta Pusat

pada tanggal 04 April 2013;

Menimbang, bahwa permohonan kasasi a quo beserta alasan-alasannya telah

diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam tenggang waktu dan

dengan cara yang ditentukan dalam undang-undang, maka oleh karena itu permohonan

kasasi tersebut formal dapat diterima;

Menimbang, bahwa alasan-alasan yang diajukan oleh Pemohon Kasasi /

Pemohon dalam memori kasasinya tersebut pada pokoknya ialah:

I. Bahwa Hakim tingkat pertama dalam mengadili perkara a quo melanggar ketentuan

Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan

Kehakiman yang berbunyi:

“ Hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa

keadilan yang hidup dalam masyarakat.”

8

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 8

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia 9 putusan.mahkamahagung.go.id 1 Hakim tingkat pertama di dalam

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

9

putusan.mahkamahagung.go.id

1 Hakim tingkat pertama di dalam pertimbangan hukum dari putusan a quo

menyatakan antara lain:

(i). Bahwa debitur PT. Asuransi Jiwa Buana Putra (selanjutnya disebut “debitur”

terbukti mempunyai hutang yang jatuh tempo dan dapat ditagih dan karenanya

debitur harus dipailitkan; namun berdasar ketentuan Pasal 2 ayat (5) Undang-

Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban

Pembayaran Utang (selanjutnya disebut “UUK”) yang berbunyi:

“Dalam hal Debitur adalah Perusahaan Asuransi, Perusahaan Reasuransi,

Dana Pensiun atau Badan usaha milik Negara yang bergerak di bidang

kepentingan Publik, Permohonan pernyataan Pailit hanya dapat diajukan

oleh Menteri Keuangan”;

2 Bahwa Hakim tingkat pertama tidak menggali, tidak mengikuti dan tidak

memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.

(i). Nilai-nilai hukum yang tidak diikuti dan tidak dipahami

a). Bahwa menurut hemat dan pendapat terbaik dari Pemohon Kasasi,

Pasal 2 ayat (5) dari UUK berlaku bagi debitur yang masih aktif tapi

mempunyai hutang, dan guna mencegah dipailitkan maka diperlukan

partisipasi aktif dari Menteri Keuangan agar tidak terjadi rush dan

kegoncangan di dalam masyarakat seperti halnya kasus pailitnya PT.

Asuransi Jiwa Prudential di tahun 2003, dimana waktu itu pailitnya PT.

Asuransi Jiwa Prudential yang masih aktif menimbulkan pro dan kontra

dalam masyarakat, hal-hal mana mendasari timbulnya perubahan/

penambahan pasal-pasal dalam UUK; sedangkan putusan pailitnya PT.

Asuransi Jiwa Prudential yang Masih aktif dianulir oleh Mahkamah

Agung Republik Indonesia sehingga pailitnya PT. Asuransi Jiwa

Prudential dibatalkan;

b). Bahwa dalam kasus a quo, posisi hukum berbeda, debitur sejak tahun 1999

sudah tidak aktif (sudah 14 tahun) dan klimaksnya dengan SK. Menteri

Keuangan No. Kep.-053/KM.10/2007 tertanggal 5 April 2007 Menteri

Keuangan qq. Bapepam menegaskan tentang pencabutan izin usaha PT.

Asuransi Jiwa Buana Putra;

(ii). Pengenaan Pasal 2 ayat (5) UUK tidak dapat diterapkan dalam kasus a quo ;

mengingat :

c). Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan

(selanjutnya disebut “OJK”) Pasal 55 ayat (1) berbunyi:

Hal. 9 dari 14 hal. Put. No. 229 K/Pdt.Sus-Pailit/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 9

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia 10 putusan.mahkamahagung.go.id “Sejak tanggal 31 Desember 2012,

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

10

putusan.mahkamahagung.go.id

“Sejak tanggal 31 Desember 2012, fungsi, tugas, dan wewenang

pengaturan dan pengawasan kegiatan jasa keuangan di sector Pasar

Modal, Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan

Lembaga Jasa Keuangan Lainnya beralih dariMenteri Keuangan dan

Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan ke OJK”.

dan karenanya menurut hukum dengan keluarnya undang-undang yang

baru maka undang-undang yang lama tidak berlaku lagi; dan dalam kasus

a quo, semua kewenangan Menteri Keuangan khususnya yang berkaitan

dengan perasuransian beralih dari Menteri Keuangan ke OJK, dengan

demikian juga wewenang untuk hal-hal yang berkaitan dengan masalah

kepailitan beralih ke OJK;

d). Bahwa dalam kaitan ini, OJK dengan suraT No. S-50/NB.12/2003 tanggal

18 Februari yang ditujukan kepada kantor hukum Tafrizal Hasan Gewang,

menjelaskan dalam angka 1 dan angka 2 berbunyi:

- angka 1

Sesuai pasal 55 ayat (1) Undang-Undang No. 21 Tahun 2011 tentang

Otorisasi Jasa Keuangan, bahwa sejak tanggal 31 Desember 2012,

wewenang pengaturan dan pengawasan kegiatan Jasa Keuangan di

sektor Pasar Modal, Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan

dan Lembaga Jasa Keuangan beralih dari Menteri Keuangan dan

Bapepam LK kepada Otoritas Jasa Keuangan.

- angka 2

Dengan dicabutnya izin usaha PT. Asuransi Jiwa Buana Putra, maka

perusahaan diwajibkan untuk menyelesaikan seluruh utang dan

kewajiban termasuk hak pemegang polis atas pembagian harta kekayaan

perusahaan dalam hal perusahaan dilakukan likuidasi.

e). Bahwa penjelasan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40

Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (selanjutnya disebut “UUPT”)

dalam Pasal 142 huruf b berbunyi:

yang dimaksud dengan dicabutnya izin usaha perseroan sehingga

menimbulkan perseroan melakukan likuidasi adalah ketentuan yang tidak

memungkinkan perseroan untuk berusaha dalam bidang lain setelah izin

usaha dicabut, misalnya izin usaha perbankan, izin usaha perasuransian.”

f). Bahwa dari dasar hukum berdasar kedua undang-undang di atas, yaitu:

10

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 10

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia 11 putusan.mahkamahagung.go.id (i) Undang-Undang No. 21 Tahun 2011

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

11

putusan.mahkamahagung.go.id

(i) Undang-Undang No. 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa

Keuangan;

(ii) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas;

dapat disimpulkan antara lain, namun tidak terbatas:

- Tugas Menteri Keuangan RI mengenai fungsi, tugas dan wewenang

perasuransian telah beralih ke OJK;

- OJK telah menjelaskan bahwa debitur berkewajiban untuk

menyelesaikan selutuh hutang perusahaan maupun pembagian harta

kekayaan daqlam hal dilakukan likuidasi;

- Bahwa likuidasi tidask berbeda dengan kepailitan karena ending dari

kepailitan bias berakhir pada likuidasi sesuai Pasal 142 ayat (1) huruf e

UUPT yang berbunyi:

“Pembubaran perseroan terjadi karena harta pailit Perseroan yang

telah dinyatakan pailit berada dalam keadaan insolvensi sebagaimana

diatur dalam Undang-Undang tentang Kepailitan dan Penundaan

Kewajiban Pembayaran Utang.”

Atau likuidasi dahulu baru pemberesan sesuai Pasal 149 ayat (2) UUPT

yang berbunyi:

Dalam hal likuidator memperkirakan bahwa utang Perseroan lebih besar

dari pada kekayaan Perseroan, likuidator wajib mengajukan permohonan

pailit Perseroan, kecuali peraturan perundang-undangan menentukan

lain, dan semua kreditor yang diketahui identitas dan alamatnya,

menyetujui pemberesan dilakukan di luar kepailitan.”

3. Hakim tingkat pertama tidak memahami rasa keadilan yang hidup dalam

masyarakat.

g). Bahwa debitur sejak tahun 1999 sudah tidak aktif lagi dan resmi dicabut izin

usahanya pada tanggal 5 April 2007, hampir 14 tahun perusahaan tidak aktif

dan berusaha; Bagaimana nasib ratusan mungkin ribuan nasabah/pemegang

polis Asuransi Jiwa Buana Putra yang tersebar di seluruh Indonesia? Apakah

menunggu para pemegang saham mengadakan Rapat Pemegang Saham dan

menyetujui untuk melikuidasi perusahaan? Sudah 14 tahun sejak perusahaan

tidak aktif, tidak ada niat pemegang saham untuk membubarkan perusahaan

apalagi membayar hutang kepada para nasabah?

Apakah harus menunggu Menteri Keuangan Republik Indonesia

mempailitkan debitur dengan ketentuan Pasal 2 ayat (5) UUK?, yang notabene

Hal. 11 dari 14 hal. Put. No. 229 K/Pdt.Sus-Pailit/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 11

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia 12 putusan.mahkamahagung.go.id berdasar Undang-Undang Nomor 21 tahun

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

12

putusan.mahkamahagung.go.id

berdasar Undang-Undang Nomor 21 tahun 2011; kewenangannya telah

dicabut dan diganti oleh Instansi OJK? Dimana letak keadilan? Sekian tahun

pemegang asuransi debitur menunggu pengembalian uang mereka? Sudah

cukuplah menurut hemat Pemohon Kasasi, Negara kita yang tercinta dewasa

ini digerogot oleh oknum-oknum koruptor; jangan sampai pula rakyat kecil

dipermainkan pula oleh swasta yang bermain di air keruh; menikmati

keuntungan di atas kesengsaraan hidup masyarakat kecil; menurut hemat

Pemohon Kasasi; Inilah rasa keadilan yang harus dipahami dan diikuti oleh

Hakim tingkat pertama, bukannya dengan pertimbangan Hakim tingkat

pertama dalam putusan a quo; di satu pihak mengakui debitur pailit tapi yang

mengajukan harus Menteri Keuangan Republik Indonesia (???) Quo Vadis

(?).

II. Bahwa Hakim tingkat pertama berat sebelah dan tidak memperhatikan bukti-bukti

yang diajukan oleh Pemohon Kasasi dalam Permohonan Pernyataan Pailit:

h). Bahwa bukti-bukti yang tidak diperhatikan oleh Judex Facti adalah:

- Bukti P-5 tentang Surat Departemen Keuangan Republik Indonesia Badan

Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan No.S-5911/BL/2007 tanggal

22 November 2007 perihal pemberitahuan tentang PT. Asuransi Jiwa Buana

Putra jo. SK. Menteri Keuangan No. Kep-053/KM.10/2007 tertanggal 5 April

2007 tentang pencabutan izin usaha PT. Asuransi Jiwa Buana Putra;

- Bukti P-6 tentang putusan Nomor: 26/Pailit/2008/PN.Niaga Jkt.Pst., tanggal 9

Juni 2008;

- Bukti P-7 tentang putusan Nomor: 41/Pailit/2007/PN.Niaga Jkt.Pst., tanggal 4

September 2007;

- Bukti P-9 tentang Surat tanggal 18 Februari 2013 No.S-50/N.B.12/2013 dari

Otoritas Jasa Keuangan, yang menjelaskan bahwa:

a). Sesuai Pasal 55 ayat (1) Undang-Undang No. 21 Tahun 2011 tentang

Otorisasi Jasa Keuangan, bahwa sejak tanggal 31 Desember 2012,

wewenang pengaturan dan pengawasan kegiatan Jasa Keuangan di sector

Pasar Modal, Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan dan

Lembaga Jasa Keuangan beralih dari Menteri Keuangan dan Bapepam

LK kepada Otoritas Jasa Keuangan;

b). Dengan dicabutnya izin usaha PT. Asuransi Jiwa Buana Putra, maka

perusahaan diwajibkan untuk menyelesaikan seluruh utang dan kewajiban

12

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 12

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia 13 putusan.mahkamahagung.go.id termasuk hak pemegang polis atas

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

13

putusan.mahkamahagung.go.id

termasuk hak pemegang polis atas pembagian harta kekayaan perusahaan

dalam hal perusahaan dilakukan likuidasi.

Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung

berpendapat:

Bahwa alasan-alasan kasasi tersebut tidak dapat dibenarkan, Judex Facti tidak

salah menerapkan hukum, pertimbangan Judex Facti sudah tepat dan benar;

Bahwa sesuai dengan Pasal 2 ayat (5) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004,

yang berhak mengajukan permohonan pailit terhadap perusahaan asuransi sebagai

debitor adalah Menteri Keuangan;

Bahwa sesuai dengan fakta persidangan perkara a quo pihak Termohon adalah

perusahaan asuransi sedangkan pihak Pemohon bukan Menteri Keuangan sehingga telah

tepat permohonan dalam perkara a quo dinyatakan tidak dapat diterima;

Bahwa lagi pula alasan-alasan kasasi lainnya mengenai penilaian hasil

pembuktian yang bersifat penghargaan tentang suatu kenyataan, hal mana tidak dapat

dipertimbangkan dalam pemeriksaan pada tingkat kasasi, karena pemeriksaan dalam

tingkat kasasi hanya berkenaan dengan adanya kesalahan penerapan hukum, adanya

pelanggaran hukum yang berlaku, adanya kelalaian dalam memenuhi syarat-syarat yang

diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan

batalnya putusan yang bersangkutan atau bila pengadilan tidak berwenang atau

melampaui batas wewenangnya sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 30 Undang-

Undang No. 14 Tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang No.

5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang No. 3 Tahun 2009;

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, lagi pula ternyata

putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam perkara ini tidak

bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, sehingga permohonan kasasi yang

diajukan oleh Pemohon Kasasi : Ny.TUTI SUPRIATI, tersebut harus ditolak;

Menimbang, bahwa oleh karena permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi ditolak,

Pemohon Kasasi harus dihukum untuk membayar biaya perkara;

Memperhatikan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan

Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009

tentang Kekuasaan Kehakiman, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang

Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun

2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 serta

peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan;

Hal. 13 dari 14 hal. Put. No. 229 K/Pdt.Sus-Pailit/2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 13

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia 14 putusan.mahkamahagung.go.id M E N G A D I

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

14

putusan.mahkamahagung.go.id

M E N G A D I L I

:

Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi : Ny.TUTI SUPRIATI

tersebut;

Menghukum Pemohon Kasasi untuk membayar biaya perkara dalam tingkat

kasasi yang ditetapkan sebesar Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah);

Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah Agung pada

hari Senin tanggal 20 Mei 2013 oleh I MADE TARA, SH., Hakim Agung yang

ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, SYAMSUL

MA’ARIF, SH., LL.M., Ph.D., dan Prof. Dr. TAKDIR RAHMADI, SH., LL.M.,

Hakim-Hakim Agung, masing-masing sebagai Anggota, dan diucapkan dalam sidang

terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua Majelis dengan dihadiri oleh Hakim-

Hakim Anggota tersebut dan RITA ELSY, SH., MH., Panitera Pengganti dengan tanpa

dihadiri oleh kedua belah pihak.

Hakim-Hakim Anggota :

ttd./ SYAMSUL MA’ARIF, SH., LL.M., Ph.D.

ttd./ Prof. Dr. TAKDIR RAHMADI, SH., LL.M.

K e t u a,

ttd./ I MADE TARA, SH.

Biaya Kasasi :

Panitera Pengganti,

ttd./RITA ELSY, SH., MH.

1 Meterai ……………… Rp 6.000,00

2 Redaksi …………… Rp 5.000,00

3 Administrasi Kasasi… Rp4.989.000,00

J

u

m

l

a

h

…… Rp5.000.000,00

UNTUK SALINAN

MAHKAMAH AGUNG RI.

a.n Panitera

Panitera Muda Perdata Khusus,

RAHMI MULYATI, SH., MH.

NIP: 19591207 198512 2 002

14

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 14