Anda di halaman 1dari 103

KARAKTERISASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIHIPERURISEMIA

EKSTRAK ETANOL TERIPANG Pearsonothuria graeffei


(Semper) PADA TIKUS PUTIH JANTAN YANG
DIINDUKSI KAFEIN DAN HATI AYAM

SKRIPSI

OLEH:
Mona Asiah
NIM 131524014

PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2015
KARAKTERISASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIHIPERURISEMIA
EKSTRAK ETANOL TERIPANG Pearsonothuria graeffei
(Semper) PADA TIKUS PUTIH JANTAN YANG
DIINDUKSI KAFEIN DAN HATI AYAM

SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara

OLEH:
MONA ASIAH
NIM 131524014

PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2015
PENGESAHAN SKRIPSI
KARAKTERISASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIHIPERURISEMIA
EKSTRAK ETANOL TERIPANG Pearsonothuria graeffei
(Semper) PADA TIKUS PUTIH JANTAN YANG
DIINDUKSI KAFEIN DAN HATI AYAM

OLEH:
MONA ASIAH
NIM 131524014

Dipertahankan di Hadapan Panitia Penguji Skripsi


Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara
Pada tanggal12Oktober 2015

Disetujui Oleh :
Pembimbing I, Panitia Penguji,

Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt. Prof. Dr. Urip Harahap, Apt.
NIP 195107231982032001 NIP195301011983031004

Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt.


Pembimbing II, NIP 195107231982032001

Prof. Dr. Rosidah, M.Si., Apt. Dr. Poppy Anjelisa Z. Hasibuan, M.Si., Apt.
NIP 195103261978022001 NIP 197506102005012003

Drs. Suryadi Achmad, M.Sc., Apt.


NIP 195109081985031002
Medan, Oktober 2015
Disahkan Oleh:
Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara
Pejabat Dekan

Dr. Masfria, M.S., Apt.


NIP 195707231986012001
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala

limpahan berkat, rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

penelitian dan penyusunan skripsi ini. Skripsi ini disusun untuk melengkapi salah

satu syarat mencapai gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas

Sumatera Utara, yang berjudul Karakterisasi dan Uji Efek Antihiperurisemia

Ekstrak Etanol Teripang Pearsonothuria graeffei(semper) Pada Tikus Yang

Diinduksi Kafein dan Hati Ayam.

Pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan

terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Dr. Masfria, M.S., Apt., selaku

Pejabat Dekan Fakultas Farmasi yang telah menyediakan fasilitas kepada penulis

selama perkuliahan di Fakultas Farmasi. Penulis juga mengucapkan terima kasih

kepada Ibu Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt., dan Prof. Dr. Rosidah, M.Si., Apt.,

selaku pembimbing yang telah memberikan waktu, bimbingan, motivasi dan

saran selama penelitian hingga selesainya skripsi ini. Ucapan terima kasih juga

penulis sampaikan kepada Bapak Prof. Dr. Urip Harahap., Apt., selaku ketua

penguji, Ibu Dr. Poppy Anjelisa Z. Hasibuan, M.Si., Apt., dan Bapak Drs, Suryadi

Achmad, M.Sc., Apt., selaku anggota penguji yang telah memberikan saran untuk

menyempurnakan skripsi ini, dan Bapak Prof. Dr.Hakim Bangun., Apt., selaku

dosen pembimbing akademik, Ibu Marianne, S.Si., M.Si., Apt., selaku kepala

Laboratorium Farmakologi Farmasi USU dan Ibu Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt.,

selaku kepala Laboratorium Farmakognosi Farmasi USU yang telah memberikan

izin dan fasilitas serta semangat untuk penulis sehingga dapat mengerjakan dan

iv
menyelesaikan penelitian. Bapak dan Ibu staf pengajar Fakultas Farmasi USU

yang telah banyak membimbing penulis selama masa perkuliahan hingga selesai.

Penulis juga mempersembahkan rasa terimakasih dan penghargaan yang

tulus kepada Ayahanda (Alm) Abdul Razak dan Ibunda Nuraini dan kakanda

Hayaton, Liza Maulidar, Muhammad Saleh dan Arief Rahman yang selalu

memberikan doa, nasehat, motivasi, semangat dan pengorbanan baik moril

maupun materil dalam menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini masih belum

sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang

membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap semoga

skripsi ini bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya di bidang farmasi.

Medan, Oktober 2015


Penulis,

Mona Asiah
NIM 131524014

v
KARAKTERISASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIHIPERURISEMIA
EKSTRAK ETANOL TERIPANG Pearsonothuria graeffei
(Semper) PADA TIKUS PUTIH JANTAN YANG
DIINDUKSI KAFEIN DAN HATI AYAMFa
rmasi
ABSTRAK

Teripang merupakan salah satu biota laut yang banyak tersebar diseluruh
perairan laut Indonesia. Masyarakat Indonesia menggunakannya sebagai sumber
makanan dan diekspor keluar negeri. Teripang juga dapat dimanfaatkan sebagai
sumber obat tradisional karena kandungan Senyawa triterpen dan saponin yang
terdapat didalamnya mempunyai berbagai khasiat diantaranya, dapat menurunkan
asam urat dengan cara menghambat aktivitas xantin oksidase pada purin sehingga
akan menurunkan produksi asam urat.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik simplisia
teripang Pearsonothuria graeffei (Semper) dan uji aktivitas antihiperurisemia
pada tikus putih jantan yang diinduksi kafein dan hati ayam.
Tahapan-tahapan dalam penelitian ini yaitu pengumpulan dan pengolahan
bahan, pembuatan simplisia, karakterisasi simplisia meliputi pemeriksaan
makroskopik, pemeriksaan mikroskopik, penetapan kadar air simplisia dengan
metode azeotropi (destilasi toluen), penetapan kadar sari larut air dan penetapan
kadar sari larut etanol, penetapan kadar abu total dan penetapan kadar abu tidak
larut asam dengan menggunakan metode gravimetri, pembuatan ekstrak etanol
teripang dengan menggunakan metode perkolasi dan uji aktivitas
antihiperurisemia dari ekstrak etanol teripang dengan menggunakan alat Easy
Touch dan sebagai penginduksinya adalah kafein dan hati ayam segar. Ekstrak
etanol teripang dengan dosis 100, 200 dan 300 mg/kg bb diberikan secara oral dan
pengamatan dilakukan selama 9 hari setelah kondisi tikus hiperurisemia.
Allopurinol dosis 10 mg/kg bb digunakan sebagai kontrol positif dan Natrium-
karboksimetilsellulosa (Na-CMC) 0,5% sebagai kontrol negatif. Masing-masing
kelompok perlakuan terdiri dari 5 ekor tikus jantan. Data hasil pengujian
kemudian dianalisis dengan metode analisis variansi (ANAVA), kemudian
dilanjutkan dengan Post Hoc Tukey HSD.
Hasil Penetapan kadar air serbuk simplisia teripang adalah 9,47%, kadar sari
larut air 36,6%, kadar sari larut etanol 24,01%, kadar abu total 28,75%, kadar abu
tidak larut asam 3,66%. Hasil uji aktivitas antihiperurisemia pada tikus jantan
menunjukkan bahwa ekstrak etanol teripang efektif pada dosis 200 mg/kg bb.

Kata Kunci : teripang Pearsonothuria graeffei (Semper), asam urat, kafein dan
hati ayam.

vi
CHARACTERIZATION AND ACTIVITY TEST ANTIHIPERURISEMIA
OF ETHANOL EXTRACT OF SEA CUCUMBER Pearsonothuria graeffei
(Semper) ON MALE RATS WHICH ARE INDUCED BY CAFFEINE AND
HOMOGENATED CHICKEN LIVER

ABSTRACT

Sea cucumbersareone of many marine biota which is widely spreads


throughout themarineregions inIndonesia. Indonesian people use it generally as a
source of food and being exported overseas. Sea cucumbers are also being used as
a source of traditional medicine due to Triterpene and Saponin that contained in it,
which has a variety of efficacious for reducing uric acid level by inhibit the
activity of xantin oxide in purine, in order to decrease the production of uric acid.
The purpose of this study is to determine the simplicia characteristic of sea
cucumber Pearsonothuria graeffei (Semper) and antihiperurisemiaactivity
testonmale rats which are induced bycaffeineand homogenated chickenliver.
The phases in this study are gathering and processing the materials,
simplicia manufacturing, simplicia characterization including
macroscopicalexamination, microscopical examination, determination of simplicia
water contentbyazeotrophmethod(toluene distillation), the assay ofthe
watersoluble extractandethanolsoluble extractassay byusing gravimetricmethod,
determination oftotalash content, the assay ofacid insoluble ash, manufacture of
ethanol extract ofsea cucumberby usingpercolationmethod and antihiperurisemia
activity testof ethanol extract ofsea cucumberby usingthe EasyTouch instrument
with caffeine and fresh homogenated chicken liver as the inducers. Ethanol
extractof sea cucumbers with doses are 100, 200 and 300 mg/Kg which is given
orally and observation for 9 days after rats reach hyperuricemia condition.
Allopurinol with dose 10 mg/Kg used as positive control and Natrium
Carboxymethylcellulose (Na-CMC) 0.5% as negative control. Eachtreatment
groupconsistedof5male rats.
Test results data analyzedbyanalysis ofvariance(ANAVA) method, then
followed byPostHocTukeyHSD. The water content determination result
ofsimplicia powder of sea cucumberis9.47%, watersoluble extractcontent is36.6%,
soluble extractethanol content is24.01%, total ash content is 28.75%, acid
insolubleash content is3.66%. The result of antihiperurisemia activity test on male
rats showed that ethanol extract of sea givesdecreasing effect onuricacid levelsin
male ratswithan effective doseis 200mg/kg.

Keywords: sea cucumbers Pearsonothuria graeffei (Semper), uric acid,


caffeineand homogenated chickenliver.

vii
DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL ..................................................................................................... i

HALAMAN PENGESAHAN .................................................................. iii

KATA PENGANTAR ............................................................................. iv

ABSTRAK ................................................................................................ vi

ABSTRACT ............................................................................................. vii

DAFTAR ISI ........................................................................................... viii

DAFTAR TABEL .................................................................................... xii

DAFTAR GAMBAR ............................................................................... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................ xiv

BAB I PENDAHULUAN ................................................................. 1

1.1 Latar Belakang ............................................................... 1

1.2 Kerangka Pikir .............................................................. 3

1.3 Perumusan Masalah ...................................................... 4

1.4 Hipotesis ........................................................................ 4

1.5 Tujuan Penelitian .......................................................... 5

1.6 Manfaat Penelitian ........................................................ 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................ 6

2.1 Uraian Hewan ................................................................ 6

2.1.1 Sistematika hewan ......................................... 6

2.1.2 Habitat ............................................................... 6

2.1.3 Morfologi .......................................................... 7

2.1.4 Kandungan kimia dan manfaat ........................ 8

viii
2.2 Ekstraksi ...................................................................... 9

2.2.1 Metode ekstraksi ............................................ 10

2.3 Asam Urat ................................................................. 11

2.3.1 Metabolisme asam urat ..................................... 12

2.3.2 Hiperurisemia dan gout .................................... 13

2.4 Obat Antihiperurisemia .................................................. . 15

2.5 Kafein ............................................................................. . 17

BAB III METODE PENELITIAN ........................................................ 19

3.1 Alat dan Bahan ...................................................... ..... 20

3.1.1 Alat- alat yang digunakan ................................. 20

3.1.2 Bahan - bahan yang digunakan ........................ 20

3.2 Penyiapan Teripang ...................................................... 20

3.2.1 Pengumpulan teripang ...................................... 20

3.2.2 Identifikasi teripang ......................................... 21

3.2.3 Pengolahan teripang .......................................... 21

3.3 Pembuatan Pereaksi . . . 21

3.3.1 Air kloroform .................................................... 21

3.3.2 Pereaksi molish ................................................. 21

3.3.3 Asam klorida P .................................................. 22

3.3.4 Asam sulfat P .................................................... 22

3.3.5 Larutan Asam klorida 2 N................................. 22

3.3.6 Larutan timbal (II) asetat 0,4 M ....................... 22

3.3.7 Larutan kloralhidrat .......................................... . 22

3.3.8 Pereaksi Liebermann-Burchard ....................... 22

ix
3.4 Pemeriksaan Karakteristik Simplisia ........................... 22

3.4.1 Pemeriksaan makroskopik ............................... 22

3.4.2 Pemeriksaan mikroskopik ................................. 23

3.4.3 Penetapan kadar air ........................................... 23

3.4.4 Penetapan kadar sari larut air ........................... 24

3.4.5 Penetapan kadar sari larut etanol ..................... 24

3.4.6 Penetapan kadar abu total ................................ 24

3.4.7 Penetapan kadar abu tidak larut asam .............. 25

3.5 Uji Senyawa Kimia ....................................................... 25

3.5.1 Pemeriksaan glikosida ...................................... 25

3.5.2 Pemeriksaan saponin ......................................... 26

3.5.3 Pemeriksaan steroid/triterpenoid ...................... 26

3.6 Pembuatan Ekstrak Etanol Teripang ............................ 26

3.7 Pengujian Aktivitas Antihiperurisemia ........................ 27

3.7.1 Pembuatan suspensi Na-CMC 0,5% ............... 27

3.7.2 Pembuatan suspensi ekstrak etanol


teripang (EET)............ ...................................... 27

3.7.3 Pembuatan suspensi allopurinol 10 mg/kgBB .. 27

3.7.4 Pembuatan suspensikafein 135 mg/kgBB ........ 28

3.7.5 Pembuatan induksi hati ayam................. ......... 28

3.7.6 Penyiapan hewan uji ......................................... 28

3.7.7 Penentuan kadar asam urat................................ 29

3.7.8 Uji pendahuluan ............................................... 29

3.7.9 Pengujian efek ekstrak etanol teripang


terhadap kadar asam urat .................................. 30

x
3.8 Analisis Data ................................................................ 31

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................. 32

4.1 Simplisia dan ekstrak ................................................... 32

4.2 Pengujian efekpenurunan kadar asam urat .................. 35

4.2.1 Hasil pengujian efek EET terhadap


kadar asam urat .................................................... 38

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .............................................. 52

5.1 Kesimpulan .................................................................... 52

5.2 Saran ................................................................................ 53

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 54

LAMPIRAN ............................................................................................. 57

xi
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

3.1 Matrix Rancangan Penelitian ...................................................... 19

4.1 Hasil Karakteristik Simplisia Teripang ...................................... 33

4.2 Hasil Skrining Uji Senyawa Kimia Teripang ............................ 34

4.3 Persentase Penurunan Kadar Asam Urat antar Individu Tikus ... 39

4.4 Persentase Penurunan Kadar Asam Urat antar Kelompok Tikus 43

4.5 Nilai Delta (Selisih) Kadar Asam Urat ........................................... 46

xii
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1.2 Kerangka Pikir Penelitian ....................................................... 3

2.1 Rumus Bangun Asam Urat ..................................................... 12

2.2 Mekanisme Kerja Allopurinol ................................................ 17

2.3 Struktur Kafein ....................................................................... 17

3.1 Teripang Segar Pearsonothuria graeffei ................................ 58

3.2 Simplisia teripang Pearsonothuria graeffe ............................. 59

3.3 Mikroskop serbuk simplisia teripang Pearsonothuria graeffei 60

3.4 Bagan Pembuatan simplisia teripang Pearsonothuria graeffei 61

3.5 Bagan Pembuatan Ekstrak Etanol teripang Pearsonothuria


graeffei ................................................................................... 62

3.6 Bagan Kerja Uji Pendahuluan ................................................. 63

3.7 Bagan Kerja Uji Penurunan Kadar Asam Urat ...................... 64

3.8 Alat Pengukur Kadar Asam urat ............................................ 65

3.9 Gambar Hewan Percobaan ...................................................... 66

4.1 Grafik Penurunan Kadar Asam Urat ...................................... 36

4.2 Grafik Persen Penurunan Kadar Asam Urat antar Individu


tikus ....................................................................................... 39

4.3 Grafik Persen Penurunan Kadar Asam Urat antar Kelompok


tikus ....................................................................................... 43

4.4 Grafik delta (selisih) Kadar Asam Urat antar Kelompok


tikus ....................................................................................... 47

xiii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman
1. Hasil Identifikasi Sampel ....................................................... 57

2. Makroskopik teripang Pearsonothuria graeffei .................... 58

3. Hasil Mikroskopik simplisia teripang .................................. 60

4. Bagan Pembuatan Simplisia teripang Pearsonothuria


graeffei .................................................................................. 61

5. Bagan Pembuatan ekstrak etanol teripang ........................... 62

6. Bagan Kerja Uji pendahuluan ............................................. 63

7. Bagan Kerja Uji Penurunan Kadar Asam Urat Darah .......... 64

8. Gambar Alat Pengukur Kadar Asam Urat ............................. 65

9. Gambar Hewan Percobaan ................................................... 66

10. Rekomendasi Persetujuan Etik Penelitian ............................ 67

11. Perhitungan Penetapan Kadar Air Simplisia Teripang ........ 68

12. Perhitungan Penetapan Kadar Sari Larut Air ........................ 69

13. Perhitungan Penetapan Kadar Sari Larut Etanol .................. 70

14. Perhitungan Penetapan Kadar Abu Total ............................. 71

15. Perhitungan Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam ....... 72

16. Perhitungan Dosis dan Pembuatan Bahan Uji ..................... 73

17. Perhitungan Dosis Ekstrak Etanol Teripang (EET) ............. 74

18. Tabel Konversi ..................................................................... 75

19. Tabel Hasil Pengukuran Kadar Asam Urat .......................... 76

20. Tabel Hasil Persen Penurunan Kadar Asam Urat antar


Individu tikus ..................................................................... 77

21. Tabel Hasil Persen Penurunan Kadar Asam Urat antar


Individu tikus ANAVA ...................................................... 78

xiv
22. Tabel Hasil Persen Penurunan Kadar Asam Urat antar
Kelompok tikus ................................................................... 79

23. Tabel Hasil Persen Penurunan Kadar Asam Urat antar


Kelompok tikus ANAVA .................................................... 80

24. Tabel hasil Perhitungan delta (selisih) kadar asam urat tikus
\ setelah perlakuan dengan kadar asam urat puasa ........................ 81

25. Tabel hasil Perhitungan delta (selisih) kadar asam urat tikus
setelah perlakuan dengan kadar asam urat puasa ANAVA......... 82

26. Tabel Post Hoc Tukey persen penurunan data perbandingan


individu................................................................................. 83

27. Tabel Post Hoc Tukey persen penurunan data perbandingan


kelompok .............................................................................. 84

28. Tabel Post Hoc Tukey persen penurunan data perbandingan


kelompok .............................................................................. 85

xv
KARAKTERISASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIHIPERURISEMIA
EKSTRAK ETANOL TERIPANG Pearsonothuria graeffei
(Semper) PADA TIKUS PUTIH JANTAN YANG
DIINDUKSI KAFEIN DAN HATI AYAMFa
rmasi
ABSTRAK

Teripang merupakan salah satu biota laut yang banyak tersebar diseluruh
perairan laut Indonesia. Masyarakat Indonesia menggunakannya sebagai sumber
makanan dan diekspor keluar negeri. Teripang juga dapat dimanfaatkan sebagai
sumber obat tradisional karena kandungan Senyawa triterpen dan saponin yang
terdapat didalamnya mempunyai berbagai khasiat diantaranya, dapat menurunkan
asam urat dengan cara menghambat aktivitas xantin oksidase pada purin sehingga
akan menurunkan produksi asam urat.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik simplisia
teripang Pearsonothuria graeffei (Semper) dan uji aktivitas antihiperurisemia
pada tikus putih jantan yang diinduksi kafein dan hati ayam.
Tahapan-tahapan dalam penelitian ini yaitu pengumpulan dan pengolahan
bahan, pembuatan simplisia, karakterisasi simplisia meliputi pemeriksaan
makroskopik, pemeriksaan mikroskopik, penetapan kadar air simplisia dengan
metode azeotropi (destilasi toluen), penetapan kadar sari larut air dan penetapan
kadar sari larut etanol, penetapan kadar abu total dan penetapan kadar abu tidak
larut asam dengan menggunakan metode gravimetri, pembuatan ekstrak etanol
teripang dengan menggunakan metode perkolasi dan uji aktivitas
antihiperurisemia dari ekstrak etanol teripang dengan menggunakan alat Easy
Touch dan sebagai penginduksinya adalah kafein dan hati ayam segar. Ekstrak
etanol teripang dengan dosis 100, 200 dan 300 mg/kg bb diberikan secara oral dan
pengamatan dilakukan selama 9 hari setelah kondisi tikus hiperurisemia.
Allopurinol dosis 10 mg/kg bb digunakan sebagai kontrol positif dan Natrium-
karboksimetilsellulosa (Na-CMC) 0,5% sebagai kontrol negatif. Masing-masing
kelompok perlakuan terdiri dari 5 ekor tikus jantan. Data hasil pengujian
kemudian dianalisis dengan metode analisis variansi (ANAVA), kemudian
dilanjutkan dengan Post Hoc Tukey HSD.
Hasil Penetapan kadar air serbuk simplisia teripang adalah 9,47%, kadar sari
larut air 36,6%, kadar sari larut etanol 24,01%, kadar abu total 28,75%, kadar abu
tidak larut asam 3,66%. Hasil uji aktivitas antihiperurisemia pada tikus jantan
menunjukkan bahwa ekstrak etanol teripang efektif pada dosis 200 mg/kg bb.

Kata Kunci : teripang Pearsonothuria graeffei (Semper), asam urat, kafein dan
hati ayam.

vi
CHARACTERIZATION AND ACTIVITY TEST ANTIHIPERURISEMIA
OF ETHANOL EXTRACT OF SEA CUCUMBER Pearsonothuria graeffei
(Semper) ON MALE RATS WHICH ARE INDUCED BY CAFFEINE AND
HOMOGENATED CHICKEN LIVER

ABSTRACT

Sea cucumbersareone of many marine biota which is widely spreads


throughout themarineregions inIndonesia. Indonesian people use it generally as a
source of food and being exported overseas. Sea cucumbers are also being used as
a source of traditional medicine due to Triterpene and Saponin that contained in it,
which has a variety of efficacious for reducing uric acid level by inhibit the
activity of xantin oxide in purine, in order to decrease the production of uric acid.
The purpose of this study is to determine the simplicia characteristic of sea
cucumber Pearsonothuria graeffei (Semper) and antihiperurisemiaactivity
testonmale rats which are induced bycaffeineand homogenated chickenliver.
The phases in this study are gathering and processing the materials,
simplicia manufacturing, simplicia characterization including
macroscopicalexamination, microscopical examination, determination of simplicia
water contentbyazeotrophmethod(toluene distillation), the assay ofthe
watersoluble extractandethanolsoluble extractassay byusing gravimetricmethod,
determination oftotalash content, the assay ofacid insoluble ash, manufacture of
ethanol extract ofsea cucumberby usingpercolationmethod and antihiperurisemia
activity testof ethanol extract ofsea cucumberby usingthe EasyTouch instrument
with caffeine and fresh homogenated chicken liver as the inducers. Ethanol
extractof sea cucumbers with doses are 100, 200 and 300 mg/Kg which is given
orally and observation for 9 days after rats reach hyperuricemia condition.
Allopurinol with dose 10 mg/Kg used as positive control and Natrium
Carboxymethylcellulose (Na-CMC) 0.5% as negative control. Eachtreatment
groupconsistedof5male rats.
Test results data analyzedbyanalysis ofvariance(ANAVA) method, then
followed byPostHocTukeyHSD. The water content determination result
ofsimplicia powder of sea cucumberis9.47%, watersoluble extractcontent is36.6%,
soluble extractethanol content is24.01%, total ash content is 28.75%, acid
insolubleash content is3.66%. The result of antihiperurisemia activity test on male
rats showed that ethanol extract of sea givesdecreasing effect onuricacid levelsin
male ratswithan effective doseis 200mg/kg.

Keywords: sea cucumbers Pearsonothuria graeffei (Semper), uric acid,


caffeineand homogenated chickenliver.

vii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan wilayah yang memiliki potensi laut yang cukup

besar, salah satunya adalah teripang. Di Indonesia teripang (Sea cucumber)

tersebar di seluruh perairan laut, beberapa daerah penyebaran antara lain perairan

pantai di Jawa Timur, Maluku, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Pantai Barat

Sumatera, Sumatera Utara, Aceh, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur

(Martoyo dan Aji, 2006). Teripang hidup di daerah terumbu karang, perairan yang

berdasar pasir, berbatu karang dan pasir bercampur lumpur (Yusron, 2009).

Di Indonesia teripang telah dimanfaatkan cukup lama terutama oleh

masyarakat disekitar pantai. Salah satunya masyarakat Pulau Barang Lompo

Kecamatan Ujung Tanah, Makassar menggunakan teripang sebagai bahan

makanan dan untuk diekspor keluar negeri, salah satu teripang yang digunakan

adalah teripang Orange fish(Pearsonothuria graeffei).Indonesia adalah

pengekspor teripang terbesar di dunia, teripang terutama diekspor ke Cina,

Jepang, Korea, Singapore, Taiwan, Afrika dan Australia dalam bentuk kering (Al-

Rashdi, et al., 2007).

Teripang juga dapat digunakan sebagai sumber obat tradisional karena

teripang berkhasiat sebagai antioksidan, antitumor, antikoagulan

(antipenggumpal), analgetik dan antiinflamasi (Dhinakaran dan Lipton, 2014).

Manfaat dan fungsi teripang untuk kesehatan dikaitkan dengan kandungan

teripang yang mengandung berbagai senyawa bioaktifterutama triterpenoid,

saponin, kondroitin, glukosamin, Polisakarida sulfat, sterol, fenolat, peptide,

1
cerberosida dan lektin (Bordbar, et al., 2011). Senyawa triterpenoid-saponin

mempunyai berbagai khasiat diantaranya dapat menurunkan asam urat dengan

cara menghambat aktivitas xantin oksidase pada purin sehingga akan menurunkan

produksi asam urat (Mehta dan Naira, 2014). Hasil penelitian sebelumnya

menunjukkan bahwa teripang (Holothuria scabra) memiliki aktivitas

antihiperurisemia terhadap kelinci jantan (Hasan, 2013). Hasil penelitian lain

terhadap teripang jenis lain yaitu Holothuria artha juga dapat menurunkan kadar

asam urat tikus putih jantan (Dakrory, et al., 2014).

Asam urat merupakan hasil metabolisme akhir dari purin yaitu salah satu

komponen asam nukleat yang terdapat dalam inti sel tubuh. Peningkatan kadar

asam urat dapat mengakibatkan gangguan pada tubuh manusia seperti perasaan

pegal linu di daerah persendian dan sering disertai timbulnya rasa nyeri bagi

penderitanya. Hal ini disebabkan oleh penumpukan kristal di daerah tersebut.

Penyakit ini sering disebut hiperurisemia atau lebih dikenal masyarakat sebagai

penyakit asam urat (Price dan Wilson, 2005).

Asam urat dapat diobati dengan menggunakan obat sintetik maupun

alamiah. Obat sintetik mempunyai berbagai efek samping, seperti alergi dan iritasi

lambung, pengobatan dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada

merupakan salah satu alternatif. Salah satu biota laut Indonesia yang berpotensi

sebagai sumber daya alam penyedia bahan baku untuk industri farmasi adalah

teripang.

Berdasarkan uraian di atas maka penulis melakukan penelitian uji aktivitas

antihiperurisemia ekstrak etanol teripang dengan jenis lain yaitu Pearsonothuria

graeffei pada tikus putih yang diinduksi kafein dan hati ayam.

2
1.2 Kerangka Pikir Penelitian

Terdapat empat variabel pada penelitian ini yaitu waktu, kontrol negatif

(Na-CMC), kontrol positif (allopurinol) dan variasi dosis ekstrak etanol teripang

sebagai variabel bebas dan efek antihiperurisemia pada tikus sebagai variabel

terikat seperti yang ditunjuk pada Gambar 1.1

Variabel Bebas Variabel Terikat Parameter

Kontrol Negatif
Suspensi Na-CMC 0.5%

Kontrol positif :
Suspensi allopurinol
Dosis 10 mg/kg BB

EET100 mg/kg BB,


200 mg/kg BB, Efek Kadar asam Urat
300 mg/kgBB antihiperurisemia Nilai normal tikus
1,7-3,0

Waktu pengamatan
9 Hari
12 hari
15 hari

Gambar 1.1. Kerangka pikir penelitian

3
1.3 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka perumusan masalah pada penelitian ini

adalah:

a. apakah karakteristik simplisia teripang Pearsonothuria graeffei yang

diteliti memenuhi persyaratan mutu simplisia secara umum?

b. apakah golongan senyawa kimia yang terdapat dalam teripang

pearsonothuria graeffei?

c. apakah ekstrak etanol teripang Pearsonothuria graeffei mempunyai

aktivitas antihiperurisemia pada tikus putih jantan yang diinduksi kafein

dan hati ayam?

1.4 Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka hipotesis pada penelitian

ini adalah:

a. karakteristik simplisia teripang Pearsonothuria graeffei memenuhi

persyaratan mutu simplisia secara umum.

b. golongan senyawa kimia yang terdapat dalam teripang Pearsonothuria

graeffei adalah saponin, triterpenoid/steroid dan glikosida.

c. ekstrak etanol teripangPearsonothuria graeffei mempunyai aktivitas

antihiperurisemia pada tikus putih jantan yang diinduksi kafein dan hati

ayam.

4
1.5 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini untuk:

a. mengetahui karakteristik simplisia teripang Pearsonothuria graeffeiyang

diteliti memenuhi persyaratan mutu simplisia secara umum.

b. mengetahui golongan senyawa kimia yang terdapat dalam teripang

Pearsonothuria graeffei yang berpengaruh terhadap penurunan kadar asam

urat.

c. mengetahui ekstrak etanol teripang Pearsonothuria graeffei mempunyai

aktivitas antihiperurisemia pada tikus putih jantan yang diinduksi kafein

dan hati ayam.

.
1.6 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi:

a. informasi dan bukti ilmiah untuk mengembangkan obat baru

antihiperurisemia dari alam bahari.

b. informasi tentang aktivitas antihiperurisemia ekstrak etanol teripang

Pearsonothuria graeffei pada tikus putih jantan yangdiinduksi kafein dan

hati ayam.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Hewan

Teripang merupakan salah satu anggota hewan berkulit duri dari

(Echinodermata), Namun tidak semua jenis teripang mempunyai duri pada

kulitnya. Ada beberapa jenis teripang yang tidak berduri. Diantara empat famili

teripang hanya suku Holothuridae pada marga Holuthuria, Muelleria, dan

Stichopus yang dapat dimakan dan bernilai ekonomis (Martoyo dan Aji, 2006).

Teripang merupakan salah satu biota yang dapat dijadikan sebagai sumber

senyawa bioaktif dari laut. Senyawa tersebut memiliki efek biologi seperti anti

kanker, jamur, hemolisis dan aktivitas kekebalan tubuh (Albuntana, et al., 2011).

2.1.1 Sistematika hewan

Identifikasi sampel teripang dilakukan di pusat penelitian Oseanografi

LIPI (Semper, 1868), dengan hasil sebagai berikut:

Filum : Echinodermata

Kelas : Holothuroidea

Bangsa : Aspidochirotida Grube, 1840

Suku : Holothuriidae Ludwig, 1894

Marga : Pearsonothuria Levin, Kalin & Stonink, 1984

Jenis : Pearsonothuria graeffei

2.1.2 Habitat

Teripang dapat ditemukan hampir diseluruh perairan pantai di indonesia,

mulai dari daerah pasang surut yang dangkal sampai perairan yang lebih dalam.

Teripang lebih menyukai perairan yang jernih dan airnya relatif tenang.

6
Umumnya, masing-masing jenis teripang mempunyai habitat yang spesifik, ada

jenis teripang yang hidup berkelompok ada pula yang hidup sendiri. Makanan

utama teripang adalah organisme-organisme kecil, detritus (hasil dari penguraian)

binatang laut yang telah mati dan rumput laut. Jenis makanan lainnya adalah

hancuran karang dan cangkang- cangkang hewan lainnya (Widodo, 2014).

Pearsonothuria graeffei merupakan salah satu teripang yang tersebar di

Makassar. Habitat dari Pearsonothuria graeffei yaitu terumbu karang, lereng

terumbu, di perairan dangkal pada kedalaman 0 dan 25 meter, ia mencari makan

pada malam hari dan membenamkan diri di pasir pada pagi hari (Purcell, et al.,

2012).

Beberapa daerah penyebaran antara lain perairan pantai di Jawa Timur,

Maluku, Irian, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Pantai Barat Sumatera,

Sumatera Utara, Aceh, Nusa Tenggara Barat Dan Nusa Tenggara Timur (Martoyo

dan Aji, 2006).

2.1.3 Morfologi

Tubuh teripang berbentuk lunak, berdaging dan berbentuk silindris

memanjang seperti buah ketimun. Oleh karena itu hewan ini disebut ketimun laut.

Warna tubuh teripang bermacam-macam mulai dari hitam, abu-abu, kecoklat-

coklatan, kemerah-merahan, kekuning-kuningan sampai putih. Ukuran tubuh

setiap teripang berbeda-beda. Diseluruh permukaan badan teripang terdapat bintil-

bintil halus. Teripang mudah dikenali karena warnanya indah. Sebagian besar

bagian punggungnya berwarna hitam keungu-unguan atau kebiru-biruan.

Sementara bagian perut, sisi sekitar mulut dan duburnya kemerah-merahan

(Martoyo dan Aji, 2006).

7
Pearsonothuria graeffei berwarna krim sampai cokelat dengan bintik yang

berwarna hitam tersebar ditubuhnya. Tubuhnya memanjang, lonjong dibagian

perut terdapat lipatan melintang, mempunyai 23-28 tentakel pada mulut bagian

depan. Permukaan punggung (dorsal) dan perut (ventral) tampak kasar. Ukuran

teripang Pearsonothuria graeffei kering adalah sekitar 15 cm. Duri-duri pada

teripang Pearsonothuria graeffei dapat dilihat menggunakan mikroskop dengan

bentuk batang, rossete (20-90 m), pseudo-tables (30-50 m) yang berasal dari

tubuh teripang. Pearsonothuria graeffei segar biasanya mempunyai panjang 45

cm dan berat yang beragam mulai dari 130 g- 700 g (Purcell, et al., 2012).

2.1.4 Kandungan kimia dan manfaat

a. Saponin

Saponin merupakan senyawa glikosida triterpenoid dan sterol yang

merupakan senyawa aktif permukaan dan bersifat seperti sabun serta dapat

dideteksi berdasarkan kemampuannya membentuk busa dan menghemolisa sel

darah merah, struktur saponin cukup rumit karena banyak saponin yang

mempunyai satuan gula sampai lima dan komponen yang umum ialah asam

glukuronat (Harborne, 1987).

Saponin sangat beracun untuk ikan dalam larutan yang sangat encer, dan

tumbuhan yang mengandung saponin telah digunakan sebagai racun ikan dan

beberapa saponin bekerja sebagai antimikroba. Dikenal dua jenis saponin yaitu

glikosida triterpenoid alkohol dan glikosida struktur steroid tertentu yang

mempunyai rantai samping spirorektal, kedua jenis saponin ini larut dalam air dan

etanol tetapi tidak larut dalam eter. Aglikonnya disebut sapogenin diperoleh

8
dengan hidrolisi dalam suasan asam atau memakai enzim, dan tanpa bagian gula

ciri kelarutannya sama dengan ciri sterol lain (Robinson, 1995).

b. Triterpenoid

Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam

satuan isopren dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C-30 asiklik

yaitu skualena. Triterpenoid dapat dibagi atas empat golongan yaitu triterpenoid

sebenarnya, steroid, saponin dan glikosida jantung. Triterpenoid atau steroid yang

terutama terdapat sebagai glikosida merupakan senyawa yang tidak berwarna,

berbentuk kristal, bertitik leleh tinggi dan optik aktif, yang umumnya sukar

dicirikan karena tidak mempunyai kereaktifan kimia. Kebanyakan senyawa ini

memberikan warna hijau-biru dengan pereaksi Liebermann-Burchard (asam asetat

anhidrid-asam sulfat) (Harborne, 1987).

Penelitian menyebutkan bahwa triterpenoid-saponin yang terdapat di

dalam hewan ini dapat menghilangkan nyeri yang biasanya dialami oleh penderita

penyakit asam urat dan berperan sebagai inhibitor xantin oksidase, sehingga dapat

menghambat proses pembentukan asam urat (Xu, et al., 2014).

2.2 Ekstraksi

Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut

sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan menggunakan suatu

pelarut cair (Ditjen, POM., 2000).

Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat

aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang

sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau

9
serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah

ditetapkan (Depkes, RI., 1995).

2.2.1 Metode ekstraksi

Metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut, dibedakan:

a. Cara Dingin

Metode ekstraksi cara dingin dibedakan menjadi:

i. Maserasi

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan

menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau

pengadukan pada temperatur ruangan (kamar).

ii. Perkolasi

Perkolasi adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut yang

selalu baru sampai sempurna (exhaustive extraction) yang umumnya

dilakukan pada temperatur ruangan.

b. Cara Panas

Metode dengan cara panas dibedakan menjadi:

i. Refluks

Refluks adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut pada

temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut

terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik.

ii. Soxhletasi

Soxhletasi adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu

baru yang umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi

ekstraksi kontinu dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya

10
pendingin balik.

iii. Digesti

Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu)

temperatur yang lebih tinggi dari temperatur ruangan (kamar), yaitu

secara umum dilakukan pada temperatur 40-50oC.

iv. Infundasi

Infundasi adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur

90oC selama 15 menit di penangas air, dapat berupa bejana infus

tercelup dalam penangas air mendidih.

v. Dekoktasi

Dekoktasi adalah ekstraksi dengan pelarut airdengan waktu

yang lebih lama ( 30 menit) pada temperatur 90oC(Ditjen, POM.,

2000).

2.3 Asam Urat

Asam urat merupakan suatu senyawa yang sukar larut yang merupakan

produk akhir katabolisme purin dalam tubuh yang tidak memiliki tujuan fisiologis

sehingga dapat dianggap sebagai produk buangan. Akumulasi yang berlebih ini

dapat disebabkan pembentukan asam urat tubuh yang berlebih dan penurunan

eksresi asam urat (Katzung, et al., 2002). Nama kimia asam urat adalah 2,6,8

trioksipurin. Rumus bangun asam urat dapat dilihat pada Gambar 2.1

11
Gambar 2.1 Rumus bangun asam urat (Murray, et al., 2003)

Kadar serum asam urat normal pada laki-laki adalah 5,1 1.0 mg/dl dan

pada perempuan adalah 4,0 1.0 mg/dl. Nilai ini akan meningkat sampai 9-10

mg/dl pada seseorang dengan gout (Price dan Wilson, 2005). Sedangkan pada

Kadar asam urat normal pada tikus adalah 1,7-3,0 mg/dL, dan tikus dikatakan

hiperurisemia jika kadar asam uratnya diatas 3,0 (Anandagiri, et al., 2014).

Manusia memiliki kadar asam urat yang lebih tinggi dari hewan mamalia lain

karena manusia tidak memiliki enzim urikase, yaitu enzim yang menguraikan

asam urat menjadi allantoin yang mudah larut (Katzung, et al., 2002). Asam urat

yang terbentuk setiap hari dibuang melalui saluran pencernaan atau ginjal. Pada

kedaan normal, jumlah asam urat terakumulasi pada laki-laki kurang lebih 1200

mg dan pada perempuan 600 mg. Jumlah akumulasi ini meningkat beberapa kali

lipat pada penderita gout. Berlebihan akumulasi ini dapat berasal dari produksi

asam urat berlebih atau ekskresi yang kurang (Dipiro, et al., 2008)

2.3.1 Metabolisme asam urat

Nukleotida purin yang utama pada manusia adalah adenosine monofosfat

(AMP) dan guanosin monofosfat (GMP). Kedua nukleotida tersebut akan dipecah

menjadi bentuk nukleosida oleh fosfomonoesterase menjadi adenosine dan

guanosin. Adenosine akan mengalami deaminasi menjadi inosin oleh enzim

adenosine deaminase. Fosforilasi ikatan N-glikosinat inosin dengan guanosin

12
dikatalis oleh nukleosida purin fosforilase sehingga akan dilepaskan senyawa

ribose-1-fosfat dan basa purin. Setelah itu, hipoxantin dan guanin membentuk

xantin yang masing-masing dikatalis oleh enzim xantin oxidase dan guanase.

Xantin yang terbentuk akan kembali dikatalisis oleh xantin oxidase menjadi asam

urat (Murray, et al., 2003).

2.3.3 Hiperurisemia dan gout

Hiperurisemia adalah keadaan dimana terjadi peningkatan kadar asam urat

darah di atas normal (Price dan Wilson, 2005).

Gout adalah penyakit metabolik yang ditandai atritis akut berulang karena

endapan natrium urat dipersendian dan tulang rawan, dapat juga terjadi

pembentukan batu asam urat diginjal. Gout dikaitkan dengan kadar asam urat

yang tinggi didalam serum yang merupakan senyawa yang sukar larut (Katzung,

et al., 2002). Istilah gout digunakan untuk menggambarkan keadaan penyakit yang

berkaitan dengan hiperurisemia. Gout adalah diagnosis klinis sedangkan

hiperurisemia adalah kondisi biokimia (Mariani, et al., 2012).

Gout dapat bersifat primer dan sekunder. Gout primer merupakan akibat

langsung pembentukan asam urat tubuh yang berlebihan atau akibat penurunan

eksresi asam urat. Gout sekunder disebabkan karena pembentukan asam urat yang

berlebihan atau ekskresi asam urat yang berkurang akibat proses penyakit lain

atau pemakaian obat-obat tertentu. Masalah akan timbul jika terbentuk kristal-

kristal natrium urat pada sendi-sendi dan jaringan sekitarnya. Kristal-kristal

berbentuk seperti jarum ini akan mengakibatkan reaksi peradangan yang jika

berlanjut akan menimbulkan nyeri hebat yang disertai dengan gout (Price dan

Wilson, 2005).

13
Gout merupakan gangguan metabolik yang sudah dikenal sejak masa

Hippocrates. Pada masa itu penyakit ini sering disebut dengan penyakit para

raja dan raja dari penyakit. Julukan ini muncul karena asam urat sering terjadi

pada kelompok masyarakat dengan kemampuan sosial ekonomi tinggi yang sering

mengkonsumsi daging, khususnya daging dari alat dalaman seperti hepar, ginjal,

pankreas, dan otak (Price dan Wilson, 2005).

Pada keadaan normal kadar asam urat serum pada laki-laki mulai

meningkat setelah pubertas. Pada perempuan kadar asam urat tidak meningkat

sampai setelah menopause karena estrogen meningkatkan ekskresi asam urat

melalui ginjal. Setelah menopause, kadar asam urat pada perempuan akan

meningkat seperti pada pria (Price dan Wilson, 2005).

Terdapat empat tahap perjalanan klinis gout yang tidak terobati, yaitu:

a. Tahap hiperurisemia asimtomatik

Pada tahap ini pasien tidak menunjukkan gejala-gejala selain dari

peningkatan kadar asam urat serum. Hanya 20% dari pasien hiperurisemia

asimtomatik yang berlanjut menjadi serangan gout akut.

b. Tahap arthritis gout akut

Serangan gout akut terjadi ketika kristal urat mulai terbentuk pada cairan

sinovial. Pada tahap ini gejala yang muncul sangat khas, yaitu radang sendi yang

akut dan timbul sangat cepat dalam waktu singkat. Keluhan berupa nyeri,

bengkak, merah dan hangat, disertaidemam, menggigil dan merasa lelah.

c. Tahap interkritis

Tahap interkritis merupakan kelanjutan stadium gout akut, dimana secara

klinik tidak muncul tanda-tanda radang akut, meskipun pada cairan sendi masih

14
ditemukan kristal urat, yang menunjukkan proses kerusakan sendi yang terus

berlangsung progesif. Stadium ini bisa berlangsung beberapa bulan sampai

beberapa tahun. Kebanyakan orang mengalami serangan gout berulang dalam

waktu kurang dari 1 tahun jika tidak diobati.

d. Tahap gout kronik

Pada tahap ini terjadi timbunan asam urat yang terus bertambah.

Peradangan kronik akibat kristal asam urat mengakibatkan nyeri, sakit dan kaku

disertai pembesaran dan penonjolan sendi yang bengkak. Timbunan natrium urat

(tofi) terbentuk pada tahap ini akibat sukar melarutnya timbunan natrium urat.

Gout dapat merusak ginjal sehingga eksresi asam urat akan bertambah buruk.

Batu ginjal juga dapat terbentuk sebagai akibat dari gout (Price dan Wilson,

2005).

2.4 Obat Antihiperurisemia

Berikut ini adalah golongan obat-obat yang digunakan untuk mengatasi

kondisi hiperusemia:

a. Golongan urikosurik

Golongan urikosurik yaitu golongan obat yang dapat meningkatkan eksresi

asam urat. Obat-obat ini bekerja dengan cara menghambat reabsorbsi asam

urat di tubulus ginjal sehingga peningkatan eksresi asam urat melalui urin.

Oleh karena itu, fungsi ginjal yang baiksangat mendukung mekanisme

kerja obat golongan ini. Probenesid dan sulfinpirazon adalah contoh obat

golongan urikosurik yang banyak dipakai (Price dan Wilson, 2005).

15
b. Golongan urikostatik

Golongan urikostatik yaitu golongan obat yang dapat menghambat

pembentukan asam urat obat golongan ini bekerja menghambat aktivitas

enzim xantin oksidase yang berperan dalam metabolisme hipoxantin

menjadi xantin menjadi asam urat, berdasarkan mekanisme tersebut,

produksi asam urat akan berkurang(Dipiro, et al., 2008).Allopurinol adalah

satu-satunya obat golongan urikostatik yang digunakan sampai saat ini.

Allopurinol dan metabolitnya oksipurinol (alloxantine) merupakan

inhibitor xantin oksidase dan mempengaruhi perubahan hipoxantin

menjadi xantin dan xantin menjadi asam urat.Oleh karena waktu paruh

metabolitnya panjang dan mampu mempertahankan hambatan xanthin

oxidase lebih dari 24 jam dengan dosis harian tunggal, allopurinol cukup

diberikan satu kali sehari. Selain menghambat xantin oksidase, Allopurinol

juga dapat mengecilkan ukuran tophi yang terbentuk akibat tumpukan

asam urat (Sukandar, et al., 2002). Dosis awal untuk allopurinol adalah

100 mg sehari dan dapat ditingkatkan sampai 300 mg/hari tergantung pada

respon kadar asam urat.Efek samping pada pemakaian allopurinol yaitu

terjadi gangguan gastrointestinal termasuk mual, muntah dan diare, terjadi

reaksi alergi, toksisitas hati, neuritis perifer dan lain-lain (Katzung, et al.,

2002). Mekanisme inhibisi sintesis asam urat oleh allopurinol dapat dilihat

pada Gambar 2.2

16
Keterangan :
= menghambat

Gambar 2.2 Mekanisme inhibisi sintesis asam urat oleh allopurinol


(Katzung, et al., 2002)

2.5 Kafein

Kafein adalah basa sangat lemah dalam larutan air atau alkohol, tidak

berbentuk garam yang stabil. Kafein terdapat sebagai serbuk putih, atau sebagai

jarum mengkilap putih, tidak berbau dan rasanya pahit (Ditjen, POM., 1979).

Rumus bangun kafein dapat dilihat pada Gambar 2.3

Gambar 2.3 Rumus kafein (Ditjen, POM., 1979)

Kafein merupakan komponen alkaloid derivat xanthin yang mengandung

gugus metil yang akan dioksidasi oleh xanthin oksidase membentuk asam urat

dalam tubuh (Azizahwati, et al., 2005). Kafein merupakan stimulan sistem saraf

17
pusat, diabsorpsi cepat pada saluran cerna dan mempunyai nilai T1/2 3,5 jam-4

jam. Konsumsi kafein secara rutin juga dapat menimbulkan toleransi. Tanda-tanda

dan gejala dari konsumsi kafein secara berlebihan antara lain kecemasan,

insomnia, wajah memerah, diuresis, dan gangguan saluran cerna (Sukandar, et al.,

2002).

18
BAB III

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan adalah metode eksperimental meliputi penyiapan

bahan, karakterisasi simplisia, uji golongan senyawa kimia, pembuatan ekstrak

dan uji aktivitas antihiperurisemia ekstrak etanol teripang Pearsonothuria graeffei

pada tikus putih jantanyang diinduksi kafein dan hati ayam segar.

Penelitian ini dilakukan di LaboratoriumFarmakognosi dan Laboratorium

Farmakologi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Matrix rancangan

penelitian dapat dilihat pada Tabel 3.1 .

Tabel 3.1. Matrix rancangan penelitian


Waktu
Hari ke-9 Hari ke-12 Hari ke-15
Dosis
Na-CMC 0,5% 1. X1Y9Z1 1. X1Y12Z1 1. X1Y15Z1
2. X1Y9Z2 2. X1Y12Z2 2. X1Y15Z2
3. X1Y9Z3 3. X1Y12Z3 3. X1Y15Z3
4. X1Y9Z4 4. X1Y12Z4 4. X1Y15Z4
5. X1Y9Z5 5. X1Y12Z5 5. X1Y15Z5
Allopurinol 1. X2Y9Z1 1. X2Y12Z1 1. X2Y15Z1
dosis 10 mg/kg 2. X2Y9Z2 2. X2Y12Z2 2. X2Y15Z2
3. X2Y9Z3 3. X2Y12Z3 3. X2Y15Z3
BB 4. X2Y9Z4 4. X2Y12Z4 4. X2Y15Z4
5. X2Y9Z5 5. X2Y12Z5 5. X2Y15Z5
EET 100 mg/kg 1. X3Y9Z1 1. X3Y12Z1 1. X3Y15Z1
BB 2. X3Y9Z2 2. X3Y12Z2 2. X3Y15Z2
3. X3Y9Z3 3. X3Y12Z3 3. X3Y15Z3
4. X3Y9Z4 4. X3Y12Z4 4. X3Y15Z4
5. X3Y9Z5 5. X3Y12Z5 5. X3Y15Z5
EET 200 mg/kg 1. X4Y9Z1 1. X4Y12Z1 1. X4Y15Z1
BB 2. X4Y9Z2 2. X4Y12Z2 2. X4Y15Z2
3. X4Y9Z3 3. X4Y12Z3 3. X4Y15Z3
4. X4Y9Z4 4. X4Y12Z4 4. X4Y15Z4
5. X4Y9Z5 5. X4Y12Z5 5. X4Y15Z5
EET 300 mg/kg 1. X5Y9Z1 1. X5Y12Z1 1. X5Y15Z1
BB 2. X5Y9Z2 2. X5Y12Z2 2. X5Y15Z2
3. X5Y9Z3 3. X5Y12Z3 3. X5Y15Z3
4. X5Y9Z4 4. X5Y12Z4 4. X5Y15Z4
5. X5Y9Z5 5. X5Y12Z5 5. X5Y15Z5
Keterangan: X: Dosis, Y : Waktu, Z : Hewan Percobaan

19
3.1Alat dan Bahan

3.1.1Alat alat

Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini meliputi lemari pengering,

blender (Panasonic), oven (Dynamica), neraca listrik (Vibra AJ), neraca hewan

(GW-1500), mikroskop (Olympus), penangas air, hair dryer (Panasonic), rotary

evaporator (Stuart), alat pengukur kadar asam urat (Easy touch) dan strip kadar

asam urat (Easy touch), spuit, oral sonde, mortir dan stamfer dan alat-alat gelas

laboratorium.

3.1.2Bahan-bahan

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah teripang Pearsonothuria

graeffei, allopurinol (Kimia Farma), karboksimetilsellulosa (Na-CMC), kafein.

Bahan kimia yang digunakan berkualitas proanalisis kecuali dinyatakan lain

adalah kloralhidrat, -naftol, toluen, asam nitrat, timbal (II) asetat, serbuk seng,

serbuk magnesium, asam asetat anhidrida, isopropanol, asam klorida pekat, asam

sulfat pekat, kloroform, n-heksan, metanol, etanol 96% (teknis) dan air suling

(teknis).

3.2 Penyiapan Teripang

3.2.1 Pengumpulan teripang

Pengumpulan teripang dilakukan secara purposif yaitu tanpa

membandingkan dengan hewan dari daerah lain. Bahan yang digunakan dalam

penelitian ini adalah teripang Pearsonothuria graeffei yang diperoleh dari Pulau

Barang Lompo Kecamatan Ujung Tanah, Makassar.

20
3.2.2Identifikasi teripang

Identifikasi dilakukan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),

Pusat Penelitian Oseanografi Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta. Teripang

yang digunakan dalam penelitian ini sama dengan teripang yang digunakan oleh

Claudya Natasya Tobing. Hasil identifikasi dapat dilihat pada Lampiran 1

halaman 55.

3.2.3 Pengolahan teripang

Teripang dibersihkan dari kotoran dengan cara membuang bagian dalam

perut, dicuci di bawah air mengalir hingga bersih, ditiriskan, ditimbang dan

diperkecil potongannya dengan ukuran 2x2, dikeringkan di lemari pengering,

teripang yang sudah kering ini disebut simplisia hewani. Simplisia hewani

tersebut ditimbang, diblender sampai menjadi serbuk dan ditimbang beratnya.

Serbuk disimpan dalam wadah plastik dan terlindung dari cahaya. Bagan

pembuatan simplisia teripang dapat dilihat pada Lampiran 4 halaman 59.

3.3 Pembuatan Pereaksi

3.3.1 Air kloroform

Campur 2,5 ml kloroform P dengan air secukupnya hingga 1000 ml, kocok

hingga larut (Depkes, RI., 1995).

3.3.2 Pereaksi Molish

Larutan -naftol P 3% b/v dalam asam nitrat 0,5 N(Depkes, RI., 1995).

3.3.3 Asam klorida P

Larutan HCl murni pereaksi, mengandung lebih kurang 25% HCl (Depkes,

RI., 1995).

21
3.3.4 Asam sulfat P

Larutan H2SO4 murni pereaksi, mengandung tidak kurang dari 94% dan

tidak lebih dari 96% H2SO4 (Depkes, RI., 1995).

3.3.5Larutan asam klorida 2 N

Larutan asam klorida P 7,293 % b/v (Depkes, RI., 1995).

3.3.6 Larutan timbal (II) asetat 0,4 M

Larutan timbal (II) asetat P 9,5% b/v dalam air yang baru dididihkan

(Depkes, RI., 1995).

3.3.7 Larutan pereaksi kloralhidrat

Larutkan 50 g kloralhidrat dalam 20 ml air (Depkes, RI., 1995).

3.3.8 Larutan pereaksi Liebermann-Burchard

Campurkan 5 bagian volume asam sulfat P dengan 50 bagian volume

etanol 95% P. Tambahkan hati-hati 5 bagian volume asetat anhidrida kedalam

campuran tersebut (Depkes, RI., 1995).

3.4Pemeriksaan Karakteristik Simplisia

Pemeriksaan karakteristik simplisia meliputi pemeriksaan makroskopik

teripang segar dan simplisia teripang, pemeriksaan mikroskopik serbuk simplisia

hewani, penetapan kadar air, penetapan kadar sari yang larut dalam air, penetapan

kadar sari yang larut dalam etanol, penetapan kadar abu total dan penetapan kadar

abu yang tidak larut dalam asam.

3.4.1Pemeriksaan makroskopik

Pemeriksaan makroskopik teripang segar dilakukan dengan mengamati

bentuk, ukuran dan permukaan dari teripang segar. Pemeriksaan makroskopik

simplisia teripang dilakukan dengan melihat perubahan bentuk, ukuran dan

22
permukaan dari teripang yang telah dikeringkan serta mengamati organoleptis

simplisia berupa melakukan pemeriksaan terhadap bau, rasa dan warna dari

serbuk simplisia teripang Pearsonothuria graeffei.

3.4.2 Pemeriksaan mikroskopik

Pemeriksaan mikroskopik terhadap serbuk simplisia teripang

Pearsonothuria graeffei dilakukan dengan cara serbuk simplisia diletakkan di atas

kaca objek yang telah diteteskan dengan larutan kloralhidrat dan ditutup dengan

kaca penutup kemudian diamati dibawah mikroskop.

3.4.3Penetapan kadar air

Penetapan kadar air dilakukan dengan metode Azeotropi (destilasi toluen),

prosedur kerja:

1. Penjenuhan toluen

Sebanyak 200 ml toluen dan 2 ml air suling dimasukkan ke dalam labu

alas bulat, didestilasi selama 2 jam, kemudiaan toluen didinginkan selama 30

menit dan volume air pada tabung penerima dibaca dengan ketelitian 0,05 ml

(WHO., 1998).

2. Penetapan kadar air simplisia

Sebanyak 5 g simplisia yang telah ditimbang seksama dimasukkan

kedalam labu alas bulat berisi toluen tersebut, lalu dipanaskan hati-hati selama 15

menit, setelah toluen mendidih kecepatan tetesan diatur lebih kurang 2 tetes

perdetik sampai bagian air terdestilasi, bagian dalam pendingin dibilas dengan

toluen. Destilasi dilanjutkan selama 5 menit kemudian tabung penerima dibiarkan

dingin sampai suhu kamar, setelah air dan toluen memisah sempurna volume air

23
dibaca sesuai dengan kandungan air yang terdapat dalam bahan yang diperiksa.

Kadar air dihitung dalam persen (WHO., 1998).

3.4.4Penetapan kadar sari larut air

Sebanyak 5 g serbuk yang telah dikeringkan diudara, dimaserasi selama 24

jam dalam 100 ml air kloroform (2,5 ml kloroform dalam air suling 1000 ml)

dalam labu bersumbat sambil sesekali dikocok selama 6 jam pertama, dibiarkan

selama 18 jam, kemudian disaring. Diuapkan 20 ml filtrat sampai kering dalam

cawan penguap yang berdasar rata yang telah dipanaskan dan ditara.Sisa

dipanaskan pada suhu 105C sampai bobot tetap. Kadar dalam persen sari yang

larut dalam air dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan(Depkes, RI.,

1995).

3.4.5Penetapan kadar sari larut etanol

Sebanyak 5 g serbuk yang telah dikeringkan diudara, dimaserasi selama 24

jam dalam 100 ml etanol (95%) dalam labu bersumbat sambil sesekali dikocok

selama 6 jam pertama, dibiarkan selama 18 jam dan disaring dan diuapkan20 ml

filtrat sampai kering dalam cawan penguap yang berdasar rata yang telah

dipanaskan dan ditara.Sisa dipanaskan pada suhu 105C sampai bobot tetap.

Kadar dalam persen sari yang larut dalam etanol (95%) dihitung terhadap bahan

yang telah dikeringkan(Depkes, RI., 1995).

3.4.6Penetapan kadar abu total

Sebanyak 2 g serbuk yang telah digerus dan ditimbang seksama

dimasukkan dalam krus platina atau krus silikat yang telah dipijar dan ditara,

kemudian diratakan. Krus dipijar perlahan-lahan sampai arang habis, pemijaran

dilakukan pada suhu 600C sampai arang habis, kemudian didinginkandidesikator

24
dan ditimbang sampai diperoleh bobot tetap.Kadar abu dihitung terhadap bahan

yang telah dikeringkan(WHO., 1998).

3.4.7Penetapan kadar abu yang tidak larut asam

Abu yang telah diperoleh dalam penetapan abu dididihkan dengan 25 ml

asam klorida encer selama 5 menit, bagian yang tidak larut dalam asam

dikumpulkan, disaring dengan kertas masir atau kertas saring bebas abu, cuci

dengan 5 ml air panas, dipijarkan sampai bobot tetap, kemudian didinginkan di

desikator dan ditimbang. Kadar abu yang tidak larut dalam asam dihitung

terhadap bobot yang dikeringkan diudara (WHO., 1998).

3.5 Uji Senyawa Kimia

3.5.1 Pemeriksaan glikosida

Serbuk simplisia ditimbang sebanyak 3 g kemudian disari dengan 30 ml

campuran 7 bagian volume etanol 96% dan 3 bagian volume air suling (7:3),

direfluk selama 10 menit didinginkan dan disaring, pada 20 ml filtrat tambahkan

25 ml air dan 25 ml timbal (II) asetat 0,4 M, dikocok, diamkan selama 5 menit

lalu disaring. Filtrat disari sebanyak 3 kali, setiap kali dengan 20 ml campuran 3

bagian volume kloroform P dan 2 bagian volume isopropanolol P, pada sari yang

dikumpukan tambahkan natrium sulfat anhidrida P, disaring dan uapkan pada

suhu tidak lebih dari 50. Larutkan sisa dengan 2 ml metanol P, diambil 0,1

mldimasukkan kedalam tabung reaksi, uapkan di atas penangas air, ditambahkan 2

ml air dan 5 tetes Molish, ditambahkan hati-hati 2 ml asam sulfat P, bila terbentuk

cincin berwarna ungu pada batas cairan, menunjukkan adanya ikatan gula (reaksi

Molish) (Depkes, RI., 1995).

25
3.5.2 Pemeriksaan saponin

Sebanyak 0,5 g sampel dimasukan ke dalam tabung reaksi dan

ditambahkan 10 ml air suling panas, didinginkan kemudian dikocok kuat-kuat

selama 10 detik, terbentuk buih atau busa tidak kurang dari 10 menit setinggi 1-10

cm, pada penambahan 1 tetes larutan asam klorida 2N apabila buih tidak hilang

menunjukkan adanya saponin(Depkes, RI., 1995).

3.5.3 Pemeriksaan steroid/triterpenoid

Sebanyak 1 g simplisia teripang dimaserasi dengan 20 ml n-heksan selama

2 jam, lalu disaring. Filtrat diuapkan dalam cawan penguap. Pada sisa dalam

cawan penguap ditambahkan beberapa tetes pereaksi Liebermann-Burchard.

Timbul warna biru atau biru hijau menunjukkan adanya steroid, sedangkan warna

merah, merah muda atau ungu menunjukan adanya triterpenoid (Harborne, 1987).

3.6Pembuatan Ekstrak Teripang

Pembuatan ekstrak dilakukan secara perkolasi dengan pelarut etanol 96%.

Cara kerja:

Sebanyak 300 g serbuk teripang dibasahi dengan penyari, ditutup dan

dibiarkan selama 3 jam, kemudian dimasukkan ke dalam alat perkolator. Larutan

penyari etanol 96% dituang secukupnya sampai semua simplisia terendam dan

terdapat selapis cairan penyari diatasnya, mulut tabung perkolator ditutup dengan

aluminium foil dan dibiarkan selama 24 jam, kemudian kran dibuka dan dibiarkan

tetesan ekstrak mengalir. Perkolasi dihentikan ketika 500 mg perkolat terakhir

diuapkan tidak meninggalkan sisa (Ditjen POM, 1979). Ekstrak diuapkan dengan

alat rotary evaporator pada temperature tidak lebih dari 50csampai diperoleh

ekstrak kental, kemudian ekstrak dikeringkan dengan hair dryer. Bagan

26
pembuatan ekstrak teripang Pearsonothuria graeffei dapat dilihat pada Lampiran

5 halaman 60.

3.7 Pengujian Aktivitas Antihiperurisemia

Pengujian aktivitas antihiperurisemia meliputi pembuatan sediaan uji,

penyiapan hewan uji, uji pendahuluan dan pengujian ekstrak etanol teripang

terhadap kadar asam urat.

3.7.1 Pembuatan larutan suspensi Na-CMC 0,5%b/v

Pembuatan suspensi Na-CMC 0.5% (b/v) dilakukan dengan cara sebagai

berikut, ditimbang sebanyak 500 mg Na-CMC, ditaburkan kedalam lumpang yang

berisi air suling panas sebanyak dua puluh kali berat Na-CMC yaitu 10 ml,

didiamkan selama 15 menit hingga diperoleh massa yang transparan, digerus

hingga berbentuk gel dan diencerkan dengan sedikit air kemudian dituangkan

kedalam labu tentukur 100 ml, ditambahkan air suling sampai batas.

3.7.2 PembuatanSuspensiekstrak etanol teripang (EET)

Ditimbang masing-masing 50 mg, 100 mg, 200 mg dan 300 mg ekstrak

etanol teripang dimasukkan kedalam lumpang kemudian digerus dengan

penambahan suspensi Na-CMC 0.5% sampai homogen, kemudian dimasukkan

kedalam labu tentukur 10 ml, dicukupkan sampai garis tanda dengan suspensi Na-

CMC 0.5%. Perhitungan dosis ekstrak dapat dilihat pada Lampiran 17 halaman

72.

3.7.3 Pembuatan suspensi allopurinol 10 mg/kg bb

Ditimbang Allopurinol secara seksama sebanyak 10 mg dimasukkan

kedalam lumpang kemudian digerus dan disuspensikan dengan Na-CMC 0,5 %

sedikit demi sedikit hingga homogen. Larutan yang homogen dituang kedalam

27
labu tentukur 10 ml dan dicukupkan dengan Na-CMC 0,5 % hingga 10 ml.

Suspensi allopurinol yang telah siap kemudian diberikan oral pada hewan uji

dengan volume yang sesuai dengan berat badan. Perhitungan dosis allopurinol

dapat dilihat pada Lampiran 16a halaman 71.

3.7.4 Pembuatan kafein 135 mg/kg bb

Ditimbang secara seksama kafein 135 mg dimasukkan kedalam lumpang,

kemudian ditambahkan sedikit Na-CMC 0,5 % digerus sampai homogen, dituang

kedalam labu tentukur 10 ml, ditambah Na-CMC 0,5 % sampai batas tanda.

kemudian diberikan secara oral kepada hewan uji sesuai dengan berat badan.

Perhitungan dosis kafein dapat dilihat pada Lampiran 16b halaman 71.

3.7.5 Pembuatan induksi hati ayam

Ditimbang 200 g hati ayam lalu dicuci sampai bersih, dipotong-potong

untuk mempermudah pada waktu dihaluskan, diblender sampai halus, tanpa

penambahan air, diberikan kepada hewan uji secara oral sebanyak 2 ml/200 g bb

(Fitrya dan muharni, 2014).

3.7.6 Penyiapan hewan uji

Hewan yang digunakan pada penelitian ini adalah tikus putih jantan yang

sehat dan dewasa sebanyak 25 ekor dengan berat badan 150-250 g, yang terlebih

dahulu diaklimatisasi selama 2 minggu untuk menyesuaikan diri dengan

lingkungannya. Hewan yang digunakan dalam penelitian ini telah disetujui

penggunaannya oleh Ketua Komite Etik Penelitian Hewan Fakultas Matematika

dan Ilmu Pengetahuan Alam-Universitas Sumatera Utara (Animal Research Ethics

Commitees/AREC). Rekomendasi Persetujuannya dapat dilihat pada Lampiran 10

halaman 65.

28
3.7.7 Penentuan kadar asam urat

Sebelum percobaan dilakukan, tikus dipuasakan (tidak makan tetapi tetap

minum) selama 10-16 jam, lalu ditimbang berat badan tikus masing-masing dan

diberi tanda pada ekor. Kemudian masing-masing tikus diukur kadar asam uratnya

yaitu dengan cara mengambil darahnya melalui pembuluh darah vena ekor. Darah

yang keluar disentuhkan pada test strip yang telah terpasang pada alat pengukuran

kadar asam urat Easy touch dan dibiarkan alat mengukur kadar asam urat secara

otomatis. Angka yang tampil pada layar alat dicatat sebagai kadar asam urat

(mg/dl).

3.7.8 Uji pendahuluan (uji orientasi dosis ekstrak etanol teripang)

Sebelum dilakukan pengujian, dilakukan uji pendahuluan terlebih dahulu.

Hal ini dikarenakan belum adanya penelitian terdahulu mengenai ekstrak etanol

teripang Pearsonothuria graeffei sebagai penurun kadar asam urat. Dosis yang

digunakan adalah 50 mg/kg bb, 100 mg/kg bb, 200 mg/kg bb dan 300 mg/kg bb

dan 400 mg/kg bb, setelah itu didapatkan rentang dosis uji masing-masing ekstrak

untuk diujikan kepada hewan uji. Sebelum pengujian tikus dipuasakan selama 10-

16 jam (tidak makan tetapi tetap diberi minum). Hewan dikelompokkan ke dalam

4 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 2 ekor tikus. Masing-masing

tikus dalam setiap kelompok ditimbang dan diberi tanda pada bagian ekor. Tiap

kelompok diukur kadar asam urat dengan meneteskan darah yang berasal dari

vena ekor tikus pada test strip, darah akan langsung meresap keujung strip, dalam

20 detik, kadar asam urat dalam darah tikus akan tampil pada layar alat, kemudian

tikus diberikan suspensi kafein dosis 27 mg/200 g bb tikus dan hati ayam2ml/200

g bb secara oral selama 6 hari. Setelah penginduksian tersebut, kadar asam urat

29
tikus dikontrol dan diukur pada hari ke-6 untuk meyakinkan bahwa kafein dan

hati ayam dengan dosis tersebut dapat menyebabkan hiperurisemia. Selesai

perlakuan, semua tikus diistirahatkan dalam kandang dan diberi makan dan

minum. Hari ke-7 dilakukan pemberian dosis ekstrak etanol teripang sesuai

dengan dosis yang digunakan dan hati ayam secara oral selama 3 hari setelah tikus

hiperurisemia. Pengukuran kadar asam urat dilakukan 3 hari setelah dilakukan

pemberian esktrak etanol teripang (Azizahwati, et al., 2005). Bagan kerja uji

orientasi dosis ekstrak etanol teripang dapat dilihat pada Lampiran 6 halaman 61.

3.7.9 Pengujian efek ekstrak etanol teripang terhadap kadar asam urat

Sebelum pengujian tikus dipuasakan selama 10-16 jam (tidak makan tetapi

tetap diberi minum). Hewan dikelompokkan ke dalam 5 kelompok, yang masing-

masing kelompok terdiri dari 5 ekor tikus. Masing-masing tikus dalam setiap

kelompok ditimbang dan diberi tanda pada bagian ekor. Tiap kelompok diukur

kadar asam urat dengan meneteskan darah yang berasal dari vena ekor tikus pada

test strip, darah akan langsung meresap sampai ujung strip sampai terdengar bunyi

beep, dalam 20 detik, kadar asam urat tikus akan tampil pada layar alat, kemudian

tikus diberikan suspensi kafein dosis 27 mg/200 g bb tikus secara oral dan hati

ayam2ml/200 g bb secara oral selama 6 hari.

Setelah penginduksian tersebut, kadar asam urat tikus dikontrol dan diukur

pada hari ke-6 untuk meyakinkan bahwa kafein dan hati ayam dengan dosis

tersebut dapat menyebabkan hiperurisemia. Selesai perlakuan, semua tikus

diistirahatkan dalam kandang masing-masing dan diberi makan dan minum. Hari

ke-7 dilakukan pemberian perlakuan berdasarkan kelompoknya masing-masing

setiap hari, masing-masing tikus diberi perlakuan sebagai berikut:

30
Kelompok I : Diberikan suspensi Na-CMC 0,5%

Kelompok II : Diberikan suspensi allopurinol dosis 10 mg/kg bb.

Kelompok III : Diberikan suspensi ekstrak etanol teripang dosis 100 mg/kg bb

Kelompok IV : Diberikan suspensi ekstrak etanol teripang dosis 200 mg/kg bb

Kelompok V : Diberikan suspensi ekstrak etanol teripang dosis 300 mg/kg bb.

Bahan uji dan induksi hati ayam secara oral diberikan selama 9 hari setelah

tikus hiperurisemia. Dilakukan pengukuran kadar asam urat pada hari ke-3, hari

ke-6 dan hari ke-9 setelah dilakukan perlakuan. Bagan kerja uji penurunan kadar

asam urat darah dapat dilihat pada Lampiran 7 halaman 62.

3.8 Analisis Data

Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis variasi (ANAVA)

pada tingkat kepercayaan 95%, dilanjutkan dengan uji Tukey HSD untuk melihat

perbedaan nyata antar kelompok perlakuan. Analisis statistik ini menggunakan

program SPSS versi 17. Selanjutnya dihitung persen penurunan kadar asam urat

dengan perbandingan antar individu maupun kelompok dan menghitung nilai

delta (selisih) penurunan kadar asam urat dengan rumus sebagai berikut:

Persen penurunan perbandingan antar individu


Kadar asam urat hari pengamatan kadar asam urat induksi
% penurunan = x 100%
kadar asam urat induksi

Persen penurunan perbandingan antar kelompok.


(Kadar asam urat Na CMC) (kadar asam hari pengamatan)
% penurunan = x 100%
(kadar asam urat Na CMC)

Nilai delta (selisih) kadar asam urat


(Selisih)= kadar asam urat hari pengamatan kadar asam urat puasa (Hari ke-
0)

31
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Simplisia dan Ekstrak

Hasil identifikasi teripang segar yang dilakukan di Lembaga Ilmu

Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Penelitian Oseanografi, menunjukkan bahwa

teripang yang diteliti adalahPearsonothuria graeffei, divisi Echinodermata, kelas

Holothuroidea, bangsa Aspidochirotida, suku Holothuridae Ludwig.

Pearsonothuria graeffei merupakan teripang yang hidupnya diterumbu karang dan

hidup pada kedalaman sampai 25 meter (Purcell, et al., 2012).

Pemeriksaan karakteristik simplisia meliputi pemeriksaan makroskopik,

pemeriksaan mikroskopik, penetapan kadar air, penetapan kadar sari larut air,

penetapan kadar sari larut etanol, penetapan kadar abu total dan penetapan kadar

abu tidak larut asam.

Hasil pengamatan makroskopik teripang segar menunjukkan bahwa

teripang mempunyai bentuk tubuh lonjong dan memanjang seperti mentimun,

badannya lunak dan berlendir, mempunyai panjang 65 cm dan lebar 10 cm,

berwarna coklat dengan bintik-bintik hitam pada permukaannya.Pemeriksaan

makroskopik simplisia teripang dilakukan dengan melihat perubahan ukuran dan

permukaan dari teripang serta mengamati organoleptis simplisia berupa

melakukan pemeriksaan terhadap bau, rasa dan warna dari serbuk simplisia

teripang Pearsonothuria graeffei. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa

simplisia teripang mengalami perubahan ukuran menjadi lebih kecil, permukaan

kulit yang berkerut, berwarna cokelat pucat yang keras, dan rasa yang asin serta

32
bau yang khas. Pemeriksaan mikroskopik serbuk simplisia teripang menunjukkan

terlihat adanya spikula berbentuk kancing (buttons), bentuk meja semu (pseudo-

tables)dan spikula dari tentakel, hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan

bahwa secara mikroskopik Pearsonothuria graeffeimemiliki bentuk spikula yang

spesifik dengan bentukbentuk meja semu (pseudo-tables)dan spikula dari tentakel

(Purcell, et al., 2012).

Penetapan kadar air simplisia dilakukan dengan menggunakan metode

azeotropi (destilasi toluen), penetapan kadar sari larut air dan penetapan kadar sari

larut etanol, penetapan kadar abu total, dan penetapan kadar abu tidak larut asam

menggunakan metode gravimetri. Hasil pemeriksaan karakterisasi dari serbuk

simplisia teripangPearsonothuria graeffei dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Hasil karakterisasi serbuk simplisia teripang Pearsonothuria graeffei


No Karakteristik serbuk simplisia Kadar (%) SPI-kan

1 Kadar air 9,47 <20%

2 Kadar sari larut dalam air 36,56% -

3 Kadar sari larut dalam etanol 24,01% -

4 Kadar abu total 28,75 -

5 Kadar abu tidak larut dalam asam 3,66 <7%

Hasil penetapan kadar air yang diperoleh adalah 9,47% dan hasilnyasesuai

dengan standar mutu teripang kering Sistem Pengendalian Intern Perikanan (SPI-

kan/02/29/1987) berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian no.

701/Kpts/TP>830/10/1987 tentang penetapan standar mutu hasil perikanan

standar Indonesia oleh Dewan Standarisasi Nasional,yaitu tidak lebih dari 20%

(Martoyo dan Aji, 2006).Kelebihan air dalam simplisia menyebabkan

33
pertumbuhan mikroba, jamur atauserangga, serta mendorong kerusakan bahan

aktif (WHO., 1998).

Kadar sari larut air 36,56% menunjukkan bahwa teripang Pearsonothuria

graeffeimengandung banyak zat yang larut dalam air seperti saponin, vitamin B1,

B2 (Martoyo dan Aji, 2006). Kadar larut etanol 24,01% menunjukkan bahwa

teripangmengandung zat yang larut dalam etanol seperti lemak, protein, vitamin

A, riboflavin, saponin, steroid-triterpenoid (Martoyo dan Aji, 2006). Kadar abu

total 28,75% menunjukkan bahwa kadar abu teripang tinggi, hal ini disebabkan

karena teripang mengandung berbagai mineral seperti kalsium, fosfor, besi,

kalium dan natrium (Martoyo dan Aji, 2006). Kadar abu tidak larut asam 3,66%

dan hasil tersebut sesuai dengan standar mutu teripang kering (SPI-

kan/02/29/1987) berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian no.

701/Kpts/TP>830/10/1987 yaitu tidak lebih dari 7%, kadar abu tidak larut asam

menunjukkan bahwa cemaran dari luar tubuh teripang banyak yang kemungkinan

berasal dari laut (Martoyo dan Aji, 2006).

Hasil uji senyawa kimia serbuk simplisia teripang Pearsonothuria graeffei

, dapat dilihat pada Tabel 4.2 berikut ini.

Tabel 4.2 Hasil Uji senyawa kimia serbuk simplisia teripang Pearsonothuria
graeffei
No Pemeriksaan Serbuk simplisia
1 Steroid/Triterpenoid +
2 Glikosida +
3 Saponin +

Berdasarkan hasil uji senyawa kimia diatas, menunjukkan bahwa simplisia

teripang Pearsonothuria graeffeimengandungberbagai metabolit sekunder,

34
diantaranya yaitu steroid/triterpenoid, glikosida dan saponin. Hal ini sesuai

dengan penelitian sebelumnya yang mengatakan bahwa teripang Pearsonothuria

graeffeimengandung golongan senyawa kimia tersebut (Bordbar, et al., 2011).

4.2 Pengujian Efek Penurunan Kadar Asam Urat

Hiperusemia pada tikus dilakukan dengan cara diinduksi dengan

menggunakan kafein 27 mg/200g bb dan jus hati ayam 2ml/200g bb. Pengukuran

kadar asam urat dilakukan dengan menggunakan alat pengukur kadar asam urat

Easy Touch.

Kafein digunakan sebagai zat penginduksi asam uratkarena kafein adalah

komponen alkaloid derivat xantin yang mengandung gugus metil yang akan

dioksidasi oleh xantin oksidase membentuk asam urat sehingga dapat

meningkatkan kadar asam urat didalam tubuh (azizahwati,et al., 2005). Jus hati

ayam digunakan juga sebagai penginduksi asam urat karena mengandung senyawa

purin (xantin) yang tinggi nomor 2 setelah otak, setiap 100 gram hati ayam

mengandung sampai 1000 mg purin, adanya purin yang cukup tinggi didalam

darah akan memicu terjadinya hipersaturasi yaitu kelarutan asam urat didalam

serum yang melewati ambang batasnya sehingga menyebabkan tikus mengalami

hiperurisemia, cara mendapatkannya mudah, harga murah dan tidak toksik

(Juwita, et al., 2014).

Penurunan kadar asam urat dapat dilihat dengan menggunakan

pembanding. Allopurinol dipilih sebagai pembanding karena merupakan obat

sintetik yang umum digunakan untuk menurunkan asam urat pada penderita gout.

Allopurinol dapat menurunkan kadar asam urat melalui mekanisme kerja

35
urikostatik yaitu menghambat pembentukan asam urat,sehingga produksi asam

urat yang dihasilkan berkurang.

Untuk menentukan dosis dalam penelitian ini, dilakukan orientasi dosis

terlebih dahulu dengan dosis 50, 100, 200, 300 dan 400 mg/kg bb. Dosis yang

dipilih dalam penelitian adalah 100, 200 dan 300 mg/kg bbkarena memiliki efek

penurunan yang lebih baik, dibandingkan yang lainnya. Selanjutnya dilakukan

percobaan untuk masing-masing kelompok, dimana setiap kelompok diulang

sebanyak 5 kali. Hasil pengukuran kadar asam urat dapat dilihat pada Gambar 4.1

dibawah ini:

5
Kadar Asam Urat

4 Allopurinol
EET 100
3
EET 200
2
EET 300
1
Na-CMC 0,5%
0
H0 H6 H9 H12 H15
Waktu (Hari)

Gambar 4.1 Grafik Kadar Asam Urat Rata-rata Vs Waktu

Pada hari ke-0 sebelum diinduksi dengan kafein dan jus hati ayam,

dilakukan pengukuran kadar asam urat darah untuk mengetahui dan memastikan

seluruh kelompok tikus yang digunakan mempunyai kadar asam urat darah yang

normal. Kadar asam urat normal pada tikus adalah 1,7-3,0 mg/dL (Anandagiri, et

al., 2014), kemudian pada hari ke-6 dilakukan pengukuran kadar asam urat darah

36
pada tikus untuk memastikan tikus yang digunakan mengalami kenaikan kadar

asam urat.

Berdasarkan grafik diatas dapat dilihat bahwa setelah terinduksi, kelompok

perlakuan yang diberikan Na-CMC 0,5 %, suspensi allopurinol 10 mg/kg bb,

suspensi EET 100 mg/kg bb, suspensi EET 200 mg/kg bb dan suspensi EET 300

mg/kg bb, kadar asam uratnya mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan kafein dan

jus hati ayam meningkatkan purin sehingga kadar asam urat di dalam darah tikus

meningkat .

Pada hari ke-9, ke-12, dan ke-15 kelompok yang diberikan suspensi

allopurinol 10 mg/kg bb, suspensi EET 100, 200 dan 300 mg/kg bb memberikan

efek penurunan kadar asam urat, sedangkan kelompok yang diberikan suspensi

Na-CMC0,5 % tidak memberikan efek penurunan kadar asam urat, hal ini

dikarenakan tidak terdapat zat berkhasiat yang dapat menurunkan kadar asam urat

pada Na-CMC 0,5% tersebut.

Untuk melihat kekuatan ektrak etanol teripang dan allopurinol dalam

menurunkan kadar asam urat, maka dihitung persen penurunan kadar asam urat

dan mencari nilai selisih (delta) penurunan kadar asam urat. Perhitungan persen

penurunan kadar asam urat rata-rata setiap kelompok perlakuan setelah pemberian

suspensi allopurinol dan suspensi ekstrak etanol teripang baik secara individu

maupun pebandingan antar kelompok. Ekstrak yang memiliki efek

antihiperurisemia yang baik adalah yang mempunyai persen penurunan yang

tinggi baik dengan perhitungan persen penurunan antar individu maupun antar

kelompok tikus dan memiliki nilai selisih (delta) penurunan yang paling kecil,

37
karena makin kecil nilai delta maka makin besar penurunan kadar asam uratnya,

bahkan lebih kecil dari nilai sebelum tikus diinduksi.

4.2.1 Hasil Pengujian Efek EET terhadap Penurunan Kadar Asam Urat
Darah Tikus yang Diinduksi Kafein dan Jus Hati Ayam.

Tikus uji dikelompokkan dalam 5 kelompok perlakuan, masing-masing

kelompok terdiri dari 5 ekor tikus yaitu kelompok kontrol yang diberikan

suspensi Na-CMC 0,5%, kelompok uji dengan 3 variasi dosis perlakuan suspensi

EET dosis 100 mg/kg bb, suspensi EET dosis 200 mg/kg bb, dan suspensi EET

dosis 300 mg/kg bb dan kelompok pembanding yang diberikan Allopurinol dosis

10 mg/kg bb.

Tikus terlebih dahulu dipuasakan 10-16 jam, kemudian dilakukan

pengukuran kadar asam urat darah untuk memastikan tikus tidak hiperurisemia,

setelah dilakukan pengukuran kadar asam urat, tikus diinduksi dengan kafein

dosis 27 mg/ 200 g bb dan jus hati ayam 2 ml/200 g bb secara oral, diamati

tingkah laku tikus, serta diukur kadar urat darahnya pada hari ke-6. Tikus yang

telah memiliki kadar asam urat 3,1 mg/dL disebut tikus asam urat.

Tikus asam urat diberi perlakuan dengan pembagian kelompok yaitu

kelompok I diberikan suspensi Na-CMC 0,5%, Kelompok II diberikan suspensi

allopurinol 10 mg/kg bb, III dan IV dan kelompok V masing-masing diberi

suspensi EET dosis 100, 200, 300 mg/kg bb.

Tikus mempunyai suatu enzim uricase yaitu suatu enzim yang dapat

mengubah asam urat menjadi alantoin yang dapat larut dapat air (Mariani, et al.,

2012). Untuk mempertahankan kondisi hiperurisemia, tikus tetap diberikan

induksi hati ayam. Persen penurunan kadar asam urat tikus dapat dilihat pada

Tabel 4.3 berikut ini:

38
Tabel 4.3 Persentase Penurunan Kadar Asam Urat Tikus Rata-rata berdasarkan
perbandingan antar individu
Penurunan kadar asam urat SEM (mg/dL)
Perlakuan N Hari ke-9 Hari ke-12 Hari ke-15
Suspensi EET dosis
5 10,45 4,60 19,59 3,74 33,50 2,79
100 mg/kg bb
Suspensi EET dosis
5 30,22 1,45 42,52 2,12 48,23 2,92
200 mg/kg bb
Suspensi EET dosis
5 15,40 4,99 31,32 2,75 33,99 4,04
300 mg/kg bb
SuspensiAllopurinol
5 31,64 3,60 46,43 2,99 59,70 2,26
dosis 10 mg/kg bb
Hasil perhitungan persen penurunan kadar asam urat yang diperoleh dari

setiap perlakuan dapat dilihat pada Gambar 4.2 berikut ini:

80
Persentase penurunan kadar asam urat

70
60
50
EET 100
40
(%)

EET 200
30
EET 300
20
Allopurinol
10
0
H9 H12 H15
waktu (Hari)

Gambar 4.2 Grafik Persentase Penurunan Kadar Asam Urat Vs Waktu antar
individu tikus.

Pada hari ke-9 setelah pemberian suspensi EET dan allopurinol

menunjukkan suspensi allopurinol 10 mg/kg bbmempunyai daya menurunkan

kadar asam urat paling tinggi dimana persen penurunannya adalah 31,64%, diikuti

dengan suspensi EET dosis 200 mg/kg bb memberikan efek penurunan kadar

39
asam urat sebesar 30,22%, suspensi EET 300 mg/kg bb dengan persen penurunan

kadar asam urat 15,40% dan yang paling lemah adalah suspensi EET 100 mg/kg

bb dengan persen penurunan kadar asam urat 10,45%.

Pada hari ke-12 setelah pemberian suspensi EET dan allopurinol

menunjukkan suspensi allopurinol 10 mg/kg bb memiliki daya menurunkan kadar

asam urat paling tinggi persen penurunannya adalah 46,43%, diikuti dengan

suspensi EET dosis 200 mg/kg bb persen penurunannya 42,52%. Suspensi EET

300 mg/kg bb dengan persen penurunan kadar asam urat 31,32% dan yang paling

lemah adalah suspensi EET 100 mg/kg bb dengan persen penurunan kadar asam

urat 19,59%.

Pada hari ke-15 setelah pemberian suspensi EET dan allopurinol

menunjukkan suspensi allopurinol 10 mg/kg bbmemiliki persen penurunan kadar

asam urat paling tinggipersen penurunannya adalah 59,70%, diikuti dengan

suspensi EET dosis 200 mg/kg bb persen penurunannya 48,23%. Suspensi EET

300 mg/kg bb dengan persen penurunan kadar asam urat 33,99% dan yang paling

lemah adalah suspensi EET 100 mg/kg bb dengan persen penurunan kadar asam

urat33,50%. Jadi berdasarkan perhitungan persen penurunan kadar asam urat

dengan perbandingan antar individu tikus ekstrak dengan dosis 200 mg/kg bb

memiliki aktivitas antihiperurisemia yang paling bagus diantara dosis lainnya,

persen penurunan paling besar diperoleh pada hari ke-15 dengan persen

penurunan 48,23%.

Kekuatan ekstrak etanol teripang dan allopurinol dalam menurunkan kadar

asam urat dapat juga lebih dipastikan dengan menganalisa persen penurunan

kadar asam urat berdasarkan perbandingan antar individu tikus secara statistik

40
dengan metode ANAVA lalu dilanjutkan dengan uji Post Hoc Tukey HSD untuk

melihat perbedaan semua kelompok perlakuan dari hari ke-9 sampai dengan hari

ke-15.

Uji Tukey HSD pada hari ke-9 dengan perlakuan masing-masing diulang

sebanyak 5 kali menunjukkan hasil bahwa kelompok suspensi EET 100 mg/kg bb

memiliki persen penurunan kadar asam urat yang berbeda dengan suspensi EET

200 mg/kg bb dan suspensi allopurinol dosis 10 mg/kg bb, tetapi tidak berbeda

signifikan dengan EET 300 mg/kg bb dengan nilai signifikansi 0,852 (p>0,05).

Pada tabel juga terlihat EET 200 mg/kg bb menunjukkan persen penurunan kadar

asam urat yang tidak berbeda signifikan dengan allopurinol 10 mg/kg bb dengan

nilai signifikansi 0,998 (p>0,05). Jadi dosis yang menunjukkan efek hampir sama

dengan allopurinol adalah suspensi EET dosis 200 mg/kg bb. Tabel dapat dilihat

pada Lampiran 26a Halaman 81.

Uji Tukey HSD pada hari ke-12 menunjukkan hasil bahwa kelompok

suspensi EET 100 mg/kg bb memiliki persen penurunan kadar asam urat yang

berbeda signifikan dengan suspensi EET 200 mg/kg bb, EET 300 mg/kg bb dan

suspensi allopurinol dosis 10 mg/kg bb dengan nilai signifikansi 1,000 (p>0,05).

Suspensi EET 300 mg/kg bb memiliki persen penurunan kadar asam urat yang

berbeda signifikan dengan Allopurinol, tetapi tidak berbeda signifikan dengan

EET 200 mg/kg bb dengan nilai signifikansi 0,059 (p>0,05),. Suspensi EET 200

mg/kg bb menunjukkan persen penurunan kadar asam urat yang tidak berbeda

signifikan dengan allopurinol 10 mg/kg bb dengan nilai signifikansi 0,844

(p>0,05). Jadi dosis yang menunjukkan efek hampir sama dengan allopurinol

41
adalah suspensi EET dosis 200 mg/kg bb. Tabel dapat dilihat pada Lampiran 26b

Halaman 81.

Uji Tukey HSD pada hari ke-15 dengan perlakuan masing-masing diulang

sebanyak 5 kali menunjukkan hasil bahwa kelompok EET 100 mg/kg bb memiliki

persen penurunan kadar asam urat yang berbeda dengan suspensi EET 200 mg/kg

bb dan suspensi allopurinol dosis 10 mg/kg bb, tetapi tidak berbeda signifikan

dengan EET 300 mg/kg bb dengan nilai signifikansi 1,000 (p>0,05). Suspensi

EET 200 mg/kg bb menunjukkan persen penurunan kadar asam urat yang tidak

berbeda signifikan dengan allopurinol 10 mg/kg bb dengan nilai signifikansi

0,107 (p>0,05). Jadi dosis yang menunjukkan efek hampir sama dengan

allopurinol adalah suspensi EET dosis 200 mg/kg bb. Tabel dapat dilihat pada

Lampiran 26c Halaman 81.

Untuk lebih memastikan dosis ekstrak yang memiliki efek hampir sama

dengan allopurinol, dilakukan juga perhitungan kadar asam urat tikus berdasarkan

perbandingan kelompok yang dilakukan dengan cara membandingkan penurunan

kadar asam urat kontrol negatif (Na-CMC 0,5%) dengan bahan uji (ekstrak dan

obat). Persentase rata-rata penurunan kadar asam urat tikus berdasarkan

perbandingan kelompok dapat dilihat pada Tabel 4.4berikut.

42
Tabel 4.4 Persentase Penurunan Kadar Asam Urat Tikus Rata-rata berdasarkan
perbandingan antar kelompok.
Penurunan kadar asam urat SEM (mg/dL)
Perlakuan N Hari ke-9 Hari ke-12 Hari ke-15
Suspensi EET dosis
5
100 mg/kg bb 15,84 3,47 27,22 4,13 42,61 1,81
Suspensi EET dosis
5
200 mg/kg bb 28,05 1,44 42,58 2,64 50,94 1,69
Suspensi EET dosis
5
300 mg/kg bb 19,51 3,70 37,5 0,69 32,46 6,09
Suspensi Allopurinol
5
dosis 10 mg/kg bb 26,38 1,41 44,44 2,32 59,84 1,84

Hasil perhitungan persen penurunan kadar asam urat yang diperoleh dari
setiap perlakuan dapat dilihat pada Gambar 4.3 berikut ini

80

70
Persentase penurunan

60
kadar asam urat (%)

50
EET 100
40
EET 200
30
EET 300
20 Allopurinol
10

0
H9 H12 H15
Waktu (hari)

Gambar 4.3 Grafik Persentase Penurunan Kadar Asam Urat Vs Waktu antar
Kelompok tikus

Pada hari ke-9 setelah pemberian suspensi EET dan allopurinol

menunjukkansuspensi EET dosis 200 mg/kg bbmempunyai persen penurunan

kadar asam urat paling tinggi persen penurunannya adalah 28,05%,diikuti dengan

suspensi Allopurinol 10 mg/kg bbyang memberikan efek penurunan kadar asam

43
urat sebesar 26,38 %, kemudian suspensi EET 300 mg/kg bb dengan persen

penurunan kadar asam urat 19,51% dan yang paling lemah adalah suspensi EET

100 mg/kg bb dengan persen penurunan kadar asam urat 15, 84%.

Pada hari ke-12 setelah pemberian suspensi EET dan allopurinol

menunjukkan suspensi allopurinol 10 mg/kg bb mempunyai persen penurunan

kadar asam urat paling tinggi yaitu 44,44%, diikuti dengan suspensi EET dosis

200 mg/kg bb persen penurunannya 42,61%, kemudian suspensi EET 300 mg/kg

bb dengan persen penurunan kadar asam urat 37,5% dan yang paling lemah adalah

suspensi EET 100 mg/kg bb dengan persen penurunan kadar asam urat 27,22%.

Pada hari ke-15 setelah pemberian suspensi EET dan allopurinol

menunjukkan suspensi allopurinol 10 mg/kg bb memiliki persen penurunan kadar

asam urat paling tinggi yaitu59,84%, diikuti dengan suspensi EET dosis 200

mg/kg bb persen penurunannya 50,94%. Suspensi EET 100 mg/kg bb dengan

persen penurunan kadar asam urat 42,61%dan yang paling lemah adalah suspensi

EET 300 mg/kg bb dengan persen penurunan kadar asam urat32,46%. Jadi

berdasarkan perhitungan persen penurunan kadar asam urat dengan perbandingan

antar kelompok tikus, ekstrak dengan dosis 200 mg/kg bb memiliki aktivitas

antihiperurisemia yang paling bagus diantara dosis lainnya. Persen penurunan

paling besar diperoleh pada hari ke-15 dengan persen penurunan 50,94%.

Kekuatan ekstrak etanol teripang dan allopurinol dalam menurunkan kadar

asam urat selanjutnya dipastikan dengan menganalisa persen penurunan kadar

asam urat berdasarkan perbandingan antar individu tikus secara statistik dengan

metode ANAVA lalu dilanjutkan dengan uji Post Hoc Tukey HSD untuk melihat

perbedaan antar kelompok perlakuan dari hari ke-9 sampai dengan hari ke-15 .

44
Uji Tukey HSD pada hari ke-9 dengan perlakuan masing-masing diulang

sebanyak 5 kali menunjukkan hasil bahwa kelompok suspensi EET 100 mg/kg bb

memiliki persen penurunan kadar asam urat yang tidak berbeda dengan suspensi

EET 300 mg/kg bb dengan nilai signifikansi 0,810(p>0,05), tetapi berbeda

signifikan dengan EET 200 mg/kg bb dan suspensi allopurinol 10 mg/kg bb. Pada

tabel juga terlihat EET 300 mg/kg bb menunjukkan persen penurunan kadar asam

urat yang tidak berbeda signifikan dengan allopurinol 10 mg/kg bb dan dengan

suspensi EET 200 mg/kg bbdengan nilai signifikansi 0,142 (p>0,05). Jadi dosis

suspensi EET yang menunjukkan efek hampir sama dengan allopurinol adalah

suspensi EET dosis 300 mg/kg bb dan suspensi EET dosis 200 mg/kg bb. Tabel

dapat dilihat pada Lampiran 27a Halaman 82.

Uji Tukey HSD pada hari ke-12 dengan perlakuan masing-masing diulang

sebanyak 5 kali menunjukkan hasil bahwa kelompok suspensi EET 100 mg/kg bb

memiliki persen penurunan kadar asam urat yang tidak berbeda dengan suspensi

EET 300 mg/kg bb dengan nilai signifikansi 0,065 (p>0,05), tetapi berbeda

signifikan dengan EET 200 mg/kg bb dan suspensi alopurinol. Pada tabel juga

terlihat EET 300 mg/kg bb menunjukkan persen penurunan kadar asam urat yang

tidak berbeda signifikan dengan allopurinol 10 mg/kg bb dan dengan suspensi

EET 200 mg/kg bbdengan nilai signifikansi 0,325 (p>0,05). Jadi dosis suspensi

EET yang menunjukkan efek hampir sama dengan allopurinol adalah suspensi

EET dosis 200 mg/kg bb dan suspensi EET dosis 300 mg/kg bb. Tabel dapat

dilihat ada Lampiran 27b Halaman 82.

Uji Tukey HSD pada hari ke-15 dengan perlakuan masing-masing diulang

sebanyak 5 kali menunjukkan hasil bahwa kelompok suspensi EET 100 mg/kg bb

45
memiliki persen penurunan kadar asam urat yang berbeda dengan suspensi EET

300 mg/kg bb, EET 200 mg/kg bb dan suspensi allopurinol 10 mg/kg bb dengan

nilai signifikansi 1,000 (p>0,05). Tabel dapat dilihat pada Lampiran 27c Halaman

82.

Pembuktian selanjutnya kekuatan ekstrak dilakukan dengan menghitung

nilai delta (selisih) kadar asam urat, perhitungan ini dilakukan dengan

membandingkan asam urat dihari pengamatan dengan kadar asam urat normal.

Nilai delta (selisih) kadar asam urat dapat dilihat pada Tabel 4.5 berikut:

Tabel 4.5. Hasil Selisih (delta) Kadar Asam Urat Rata-Rata Tikus
Kadar asam urat setelah perlakuan
Perlakuan induksi hari ke- hari ke-12 hari ke-15
N
9
Na-CMC 0,5 % 5 2,460,11 2,660,11 2,860,12 3,080,24
Suspensi EET dosis
5 2,30,09 1,820,13 1,40,15 0,740,10
100 mg/kg bb
Suspensi EET dosis
5 2,620,32 10,16 0,40,16 0,080,13
200 mg/kg bb
Suspensi EET dosis
5 2,160,19 1,440,24 0,680,14 0,560,13
300 mg/kg bb
SuspensiAllopurino
l dosis 10 mg/kg bb 5 3,120,32 1,360,10 0,580,07 -0,120,16

Hasil perhitungan delta (selisih) penurunan kadar asam urat yang diperoleh
dari setiap perlakuan dapat dilihat pada Gambar 4.4berikut ini

46
5

3
kadar asam urat

Na-CMC 0,5%
2 Allopurinol

1 EET 100
EET 200
0
EET 300
induksi H9 H12 H15
-1

-2
Waktu (hari)

Gambar 4.4 Grafik Hasil selisih (delta) Rata-Rata Kadar Asam Urat Vs Waktu .
Pada hari ke-6, setelah pemberian induksi hati ayam dan kafein

menunjukkan semua kelompok berhasil terinduksi dengan baik akibat pemberian

makanan purin tinggi (hati ayam) dan kafein yang dapat meningkatkan kadar

asam urat, hal ini dapat dilihat dari nilai delta dari tiap kelompok. suspensi

allopurinol memiliki nilai delta (selisih) kadar asam urat paling banyak yaitu

sebesar 3,12, suspensi EET 200 mg/kg bb sebesar 2,62, kemudian Na-CMC 0,5%

sebesar 2,46, suspensi EET 100 mg/kg bb sebesar 2,3 dan suspensi EET 300

mg/kg bb memiliki selisih kadar asam urat paling sedikit dibandingkan yang

lainnya yaitu sebesar 2,16.

Pada hari ke-9, setelah pemberian bahan uji dan induksi hati ayam yang

dimaksudkan untuk mempertahankan kondisi hiperurisemia, menunjukkan bahwa

suspensi EET 200 mg/kg bb memberikan penurunan asam urat terbaik karena

memiliki nilai delta (selisih) terkecil yaitu sebesar 1,00 kemudian suspensi

allopurinol memiliki nilai delta sebesar 1,36, suspensi EET 300 mg/kg bb

memiliki nilai delta (selisih) sebesar 1,44, kemudian suspensi EET 100 mg/kg bb

47
memiliki nilai delta (selisih) sebesar 1,82 dan Na-CMC 0,5% memiliki nilai delta

paling besar yaitu sebesar 2,66 artinya Na-CMC 0,5% tidak dapat menurunkan

kadar asam urat karena ia tidak mempunyai zat aktif yang dapat menurunkan

kadar asam urat.

Pada hari ke-12, setelah pemberian bahan uji dan induksi hati ayam

menunjukkan bahwa suspensi EET 200 mg/kg bb memberikan penurunan asam

urat terbaik karena memiliki nilai delta (selisih) terkecil yaitu sebesar 0,4,

kemudian suspensi allopurinol memiliki nilai delta sebesar 0,5, suspensi EET 300

mg/kg bb memiliki nilai delta (selisih) sebesar 0,68, kemudian suspensi EET 100

mg/kg bb memiliki nilai delta (selisih) sebesar 1,4 dan Na-CMC 0,5% memiliki

nilai delta yang semakin besar dari hari ke-6 yaitu sebesar 2,86.

Pada hari ke-15, setelah pemberian bahan uji dan induksi hati ayam

menunjukkan bahwa suspensi allopurinol memberikan penurunan asam urat

terbaik karena memiliki nilai delta (selisih) terkecil yaitu sebesar -0,12 artinya

kadar asam urat yang diperoleh lebih kecil dibandingkan kadar asam urat normal

sebelum diinduksi, kemudian suspensi EET 200 mg/kg bb memiliki nilai delta

sebesar 0,08, suspensi EET 300 mg/kg bb memiliki nilai delta (selisih) sebesar

0,56, kemudian suspensi EET 100 mg/kg bb memiliki nilai delta (selisih) sebesar

0,74 dan Na-CMC 0,5% memiliki nilai delta yang semakin besar dari hari ke-6

yaitu sebesar 3,08.

Berdasarkan data diatas terlihat bahwa semakin lama maka efek yang

ditimbulkan oleh ekstrak teripang semakin bagus hal ini terlihat dari nilai delta

yang semakin hari semakin kecil, kecuali Na-CMC 0,5% yang semakin hari

semakin meningkat hal ini dikarenakan oleh tikus diberikan induksi secara terus

48
menerus dan tidak diberikan ekstrak. Penurunan kadar asam urat terbaik diberikan

oleh suspensi allopurinol 10 mg/kg bb dengan nilai delta terkecil pada hari ke-15

yaitu sebesar -0,12, ekstrak yang memiliki efek mendekati allopurinol adalah EET

dosis 200 mg/kg bb dengan nilai delta terkecil pada hari ke-15 yaitu sebesar 0,08.

Kekuatan ekstrak etanol dalam menurunkan kadar asam urat kemudian

dibuktikan secara statistik dengan metode ANAVA lalu dilanjutkan dengan uji

Post Hoc Tukey HSD untuk melihat perbedaan antar kelompok perlakuan dari

hari ke-9 sampai dengan hari ke-15.

Uji Tukey HSD pada hari ke-9 dengan perlakuan masing-masing diulang

sebanyak 5 kali menunjukkan hasil bahwa kelompok EET 200 mg/kg bb memiliki

nilai delta (selisih) yang tidak berbeda signifikan dengan suspensi allopurinol

dosis 10 mg/kg bb dan suspensi EET 300 mg/kg bb dengan nilai signifikansi

0,302 (p>0,05), tetapi berbeda signifikan dengan EET 100 mg/kg bbdan Na-CMC

0,5%. EET 100 mg/kg bb tidak berbeda signifikan dengan allopurinol dan EET

300 mg/kg bb dengan nilai signifikansi 0,263 (p>0,05). Tabel dapat dilihat pada

Lampiran 28a Halaman 83.

Uji Tukey HSD pada hari ke-12 dengan perlakuan masing-masing diulang

sebanyak 5 kali menunjukkan hasil bahwa kelompok EET 200 mg/kg bb memiliki

nilai delta (selisih) yang tidak berbeda signifikan dengan suspensi allopurinol

dosis 10 mg/kg bb dan suspensi EET 300 mg/kg bb dengan nilai signifikansi

0,586 (p>0,05), tetapi berbeda signifikan dengan EET 100 mg/kg bbdan Na-CMC

0,5%. Tabel dapat dilihat pada Lampiran 28b Halaman 83.

Uji Tukey HSD pada hari ke-15 dengan perlakuan masing-masing diulang

sebanyak 5 kali menunjukkan hasil bahwa kelompok EET 200 mg/kg bb memiliki

49
nilai delta (selisih) yang tidak berbeda signifikan dengan suspensi allopurinol

dosis 10 mg/kg bb dengan nilai signifikansi 0,899 (p>0,05), tetapi berbeda

signifikan dengan EET 100 mg/kg bbdan Na-CMC 0,5% dan suspensi EET 300

mg/kg bb. EET 200 mg/kg bb memiliki nilai delta (selisih) yang tidak berbeda

signifikan dengan suspensi EET 100 mg/kg bb dan suspensi EET 300 mg/kg bb

dengan nilai signifikansi 0,057 (p>0,05). Tabel dapat dilihat pada Lampiran 28c

Halaman 83.

Jadi dapat disimpulkan, ekstrak dengan dosis 200 mg/kg bb memiliki

aktivitas antihiperurisemia yang paling bagus dan mendekati obat pembanding

allopurinol 10 mg/kg bb jika dibandingkan dosis lainnya baik dilihat dari nilai

delta (selisih) penurunan kadar asam urat maupun persen penurunan kadar asam

urat yang dibandingkan antar individu maupun secara kelompok, persen

penurunan paling besar diperoleh pada hari ke-15.

Menurut Zastrow dan Bourne (2001), peningkatan dosis obat harusnya

akan meningkatkan respon yang sebanding dengan dosis yang ditingkatkan,

namun dengan peningkatan dosis, peningkatan respon akhirnya akan menurun,

karena sudah tercapai dosis yang sudah tidak dapat meningkatkan respon lagi.

Hal ini sering terjadi pada obat bahan alam karena komponen senyawa

yang dikandungnya tidak tunggal melainkan terdiri dari berbagai senyawa kimia,

dimana komponen-komponen tersebut saling bekerja sama untuk menimbulkan

efek, namun peningkatan dosis menyebabkan senyawa kimia yang dikandungnya

juga meningkat, sehingga terjadi interaksi merugikan yang menyebabkan

menurunnya efek (Mariani, et al., 2012).

50
Umumnya sifat-sifat farmakologi simplisia yang untuk mengobati asam

urat mempunyai sifat inhibitor xantin oksidase dan antiiflamasi. (Mariani, et al.,

2012). Metabolit sekunder sangat berhubungan dengan khasiat simplisia secara

farmakologi, adanya triterpenoid-saponin yang terdapat di dalam hewan ini sangat

mendukung simplisia ini sebagai obat antihiperurisemia. Triterpenoid-saponin

yang terdapat pada teripang berperan dalam menghilangkan nyeri yang biasanya

dialami oleh penderita hiperurisemia dan triterpenoid-saponin pada teripang juga

berperan sebagai inhibitor xantin oksidase yang menghambat pembentukan asam

urat (Xu, et al., 2014). Triterpenoid-saponin yang ada pada teripang juga dapat

menurunkan kadar asam urat didalam tubuh yang telah tinggi (Qiang, et al.,

2012).

Teripang juga dapat meningkatkan kesehatan penderita asam urat. Hal ini

diakibatkan oleh glukosamin dan kondroitin yang merangsang tubuh

mensekresikan cairan sinovial untuk lubrikasi persendian dan memulihkan sendi,

pada penderita asam urat jumlah glukosamin dan kondroitin lebih

sedikit(Widodo, 2014).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol

teripang cukup efektif menurunkan kadar asam urat. Hal ini memberikan

gambaran atas potensi ekstrak etanol teripang yang dapat dikembangkan menjadi

produk yang bermanfaat sebagai obat antihiperusemia dari alam bahari.

51
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5. 1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa:

a. hasil makroskopik teripang segarPearsonothuria graeffeimemiliki

panjang65 cm dan lebar 10 cm. Kulit teripang yang lunak dan berlendir

dengan warna cokelat berbintik-bintik hitam. Hasil makroskopik

simplisia teripang menunjukkan bahwa teripang menjadi lebih kecil,

permukaan kulit berkerut, dengan warna coklat, rasa asin dan bau yang

khas. Hasil mikroskopik serbuk simplisia teripang terlihat spikula

bentuk buttons, spikula dari tentakel dan bentuk pseudo-tables.Hasil

penetapan kadar air teripang Pearsonothuria graeffei sebesar 9,47%.

kadar sari larut air 36,6%, kadar sari larut etanol 37,11%, kadar abu

total 28,75%, dan kadar abu tidak larut asam 3,66%.

b. golongan senyawa kimia yang terdapat dalam simplisia teripang

Pearsonothuria graeffei adalah saponin, triterpenoid dan glikosida.

c. ekstrak etanol teripang Pearsonothuria graeffeimemiliki efek

antihiperurisemia, dari ketiga dosis yang digunakan, suspensi EET200

mg/kg bb mempunyai efektifitas hampir sama dengan allopurinol 10

mg/kg bb.

52
5.2 Saran

Disarankan untuk peneliti selanjutnya untuk:

a. Mengisolasi senyawa triterpenoid-saponin dari teripang Pearsonothuria

graeffeiyang berkhasiat sebagai antihiperurisemia.

b. Melakukan pengujian toksisitas akut dan kronis untuk menunjang tingkat

keamanan penggunaan dari ekstrak teripang etanol Pearsonothuria

graeffei.

53
DAFTAR PUSTAKA

Albuntana, A., Yasman., dan Wisnu, W. (2011). Uji Toksisitas Ekstrak Empat
Jenis Teripang Suku Holothuriidae Dari Pulau Penjaliran Timur,
Kepulauan Seribu, Jakarta Menggunakan Brine Shrimp Lethality Test
(Bslt). Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. 3(1): 65-72.

Al-Rashdi, K. M., S. S. Al-Busaidi., dan I. H. Al-Rassadi. (2007). Status Of The


Sea Cucumber Fishery In The Sultanate Of Oman. SPCBeche de mer
information Bulletin. 25(1): 17-21.

Anandagiri, D. A. W., I, B. Putra., dan Ni, G. Dwi. (2014). Pemanfaatan Tehh


Kombucha Sebagai Obat Hiperurisemia Melalui Penghambatan Aktivitas
Xanthin Oksidase Pada Rattus novergicus.Jurnal Kimia. 8(2): 220-225

Azizahwati, W., Sumali., dan Prihandini, K. (2005). Efek Penurunan Kadar Asam
Urat Dalam Darah Tikus Putih Jantan Dari Rebusan Akar Tanaman Akar
Kucing (Accalypha indica L). Jurnal Bahan Alam Indonesia. 4(1): 213-
218.

Bordbar, S., Farooq, A., dan Nazamid, S. (2011). High-Value Components and
Bioactives from Sea Cucumbers for Functional FoodsA Review. Marine
Drugs Journal. 9: 1761-1805.

Dakrory, I. A., Sohair, R., Amel, M. S., Ayman, S. M., dan Sayed, A. M. A.
(2014). Protective and Curative Effects of the Sea Cucumber Holothuria
atra Extract agains DMBA-Induced Hepatorenal Disease in Rats. Biomed
Research International Article. Halaman 1, 6, 11.

Dhinakaran, I. D., dan Lipton, A. P. (2014). Pharmacological Potentials of Sea


Cucumber Holothuria artha extracts from the Indian Ocean. Asian journal
of biomedical and pharmaceutical siences. 35(4): 36-43.

Ditjen POM. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi Ketiga. Departemen Kesehatan


RI. Jakarta. Halaman 29-31, 175.

Ditjen POM. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Cetakan
ke-I. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 10-11, 17, 31-32.

54
Dipiro, J.T., Robert, L. T., Gary, C.Y., Barbara, G. W., dan L, M. P. (2008).
Pharmacotheraphy a pathophysiologic approach 7th. United States.:
McGraw-Hill Companies. Halaman 1539-1547.

Depkes RI. (1995). Materia Medika Indonesia, Jilid VI. Departemen Kesehatan
RI. Jakarta. Halaman 297-307, 321-326, 333-337.

Fitrya., dan Muharni. (2014). Efek Hiperurisemia Ekstrak Etanol Akar Tumbuhan
Tunjuk Langit (Helminthostachys zaylanicaL.) Terhadap Mencit Jantan
Galur Swiss. Traditional Medicine Journal. 19 (1): 14-18.

Harborne, J.B. (1987). Metode Fitokimia. Terjemahan dari Phytochemical


Methods oleh Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro. Penerbit ITB.
Bandung. Halaman 123-157.

Harmita., dan Radji, M. (2008). Buku Ajar Analisis Hayati. Edisi III. Jakarta:
Penerbit EGC.

Hasan, H. (2013). Efek Antiurisemia Ekstrak Teripang Pasir (Holothuria scabra)


pada Kelinci Jantan (Oryctolagos cuniculus). Jurnal Entropi Universitas
Negeri Gorontalo. 8(1): 1-6.

Juwita, D. A., Helmi, A., dan Popy, H. (2014). Pengaruh fraksi air Herba Seledri
(Apium graveolens L.) terhadap kadar asam urat mencit putih jantan
hiperurisemia. Prosiding seminar Nasional dan workshop Perkembangan
Terkini Sains Farmasi dan Klinik. Halaman 187-188.

Katzung, B.G. (2002). Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi kesepuluh. Jakarta:
EGC. Halaman 609-611.

Mariani, I., Saiful, S., dan Awaluddin, S. (2012). Aktivitas Antihiperurisemia


Ekstrak Etanol Herba Suruhan (Peperomia pellucida (L.) Kunth) pada
Mencit Jantan.Journal of Pharmaceutics and Pharmacology. 1(1): 37-43.

Martoyo, J., dan Aji, N., T. (2006). Budi Daya Teripang. Cetakan Keenam. Edisi
Revisi, Penebar Swadaya. Jakarta. Halaman 5, 11, 16, 18, 56.

Mehta, S. K., dan Naira, N. (2014). Natural Xanthine Oxidase Inhibitors For
Management Of Gout. Journal Of Medical And Health Sciences. 3(3): 4-
13.

Murray, K. R., Granner, K. D., Rodwell, W. V. (2003). Biokimia Harper edisi 27.
Jakarta: EGC. Halaman 387-390.

55
Price, S. A., dan Wilson, L. M. (2005). Patofisiologi, konsep klinis proses-proses
penyakit. Diterjemahkan oleh : Dharma Adji. Edisi VI. Jakarta: Penerbit
EGC. Halaman 1403-1405.

Purcell, W. S., Yves, S., dan Chantal, C. (2012). Commercially Important Sea
Cucumber Of The World. Southern Cross University. Halaman 38.

Qiang, Z., Li, Y., dan Guo, F. J. (2012). Aplication of sea cucumber extract rich in
triterpen sapogenin. Research of shanghai university of traditional chinese
medicine. Halaman 1-5.

Robinson, T. (1995). Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Bandung. Penerbit


ITB. Halaman 139-132.

Sukandar, E. Y., Retnosari, A., Joseph, I. S., I, K. A., dan Adji, P. S. (2002). Iso
farmakoterapi. Jakarta: PT. ISFI Penerbitan. Halaman 272.

World Health Organization. (1998). Quality Control Methods For Medicinal


Plant Materials. Geneva: WHO. Halaman 26-27.

Widodo, A. (2014). Budidaya teripang khasiat & cara olah untuk pengobatan.
Yogyakarta: Pustaka Baru Press. Halaman 18, 40-43.

Xu, F., Xueqian, Z., Lingli, Y., Xiuhua, W., dan Jing, Z. (2014). A New
Cycloartane-Type Triterpenoid Saponin Xanthine Oxidase Inhibitor From
Homonoia riparia Lour. Research of Yunnan Province in China Article.
Halaman 6.

Yusron, E. (2009). Keanekaragaman Jenis Teripang (Holothuroidea) Di Perairan


Minahasa Utara Sulawesi Utara. Oseanologi dan Limnologi.
Indonesia35(1): 19-28.

Zastrow, V. M., dan Bourne, R. H. (2001). Reseptor dan Farmakodinamika Obat.


Dalam Betram G. Katzung (Editor). Farmakologi dasar dan Klinik. Edisi I.
Jakarta: Selemba Medika. Halaman 12.

56
Lampiran 1. Hasil identifikasi teripang

57
Lampiran 2

Gambar 3.1 Teripang segar Pearsonothuria graeffei (Semper, 1868)

58
Lampiran 2. (Sambungan)

Gambar 3.2 Simplisia teripang Pearsonothuria graeffei(Semper, 1868)

59
Lampiran 3.

Gambar 3.3 Mikroskopik serbuk simplisia teripang Pearsonothuria graeffei


(Semper, 1868)pada pembesaran 10 x 40

Keterangan:
a. Spikula bentuk kancing (buttons)
b. Spikula bentuk meja semu (pseudo-tables)
c. Spikula dari tentakel

60
Lampiran 4.

Teripang segar

Dibersihkan isi perutnya


Dicuci dari pengotornya hingga
bersih, tiriskan
Ditimbang berat basah
Dipotong kecil-kecil
Dikeringkan dalam lemaripengering
Simplisia teripang

Ditimbang beratnya
Diperiksa Organoleptis dan
makroskopis
Dihaluskan menjadi serbuk dengan
blender

Serbuk simplisia

Ditimbang serbuknya

Karakterisasi Uji senyawa kimia Pembuatan


Simplisia (Pemeriksaan Glikosida, Ekstrak Etanol
penetapan kadar (air, sari larut air, Pemeriksaan Saponin ,
sari larut etanol,abu total, Pemeriksaan
abu tidak Steroid/triterpenoid)
larut asam)
Pemeriksaan makroskopik
Pemeriksaan mikroskopik

Gambar 3.4Bagan pembuatan simplisia teripang Pearsonothuria graeffei


(Semper, 1868)

61
Lampiran 5.

300 g Serbuk simplisia

direndam selama 3 jam


dimasukkan ke dalam alat perkolator
dituangkan cairan penyari etanol 96%
secukupnya sampai semua simplisia
terendam
ditutup mulut tabung perkolator dengan
alumunium foil
dibiarkan selama 24 jam
kran perkolator dibuka
perkolat diatur menetes dengan kecepatan 20
tetes/menit
perkolasi dihentikan ketika hasil 500 mg
hasil perkolat diuapkan diatas penangas air
tidak meninggalkan sisa.

Ampas Perkolat

diuapkan dengan rotary evaporator


pada suhu 50o C, dikeringkan dengan
hairdryer

Ekstrak kentaletanol

Gambar 3.5 Bagan pembuatan ekstrak etanol teripang Pearsonothuria graeffei


(Semper, 1868)

62
Lampiran 6.

Aklitimasi tikus untuk uji pendahuluan

8 ekor tikus ditimbang dan dibagi menjadi 4 kelompok

Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 kelompok 4

Pengukuran kadar asam urat darah normal (Hari ke-0)

Induksi Kafein dosis 27 mg/200 g BB tikus dan jus hati ayam 2ml/200 g

Pengukuran kadar asam asam urat darah hiperurisemia awal (hari ke-6)

Uji dosis Uji dosis Uji dosis Uji dosis


suspensi suspensi Suspensi Suspensi
ekstrak etanol ekstrak etanol ekstrak etanol ekstrak etanol
teripang dosis teripang dosisteripang dosis teripang dosis
50 mg/ kg BB 100 mg/ kg BB 200 mg/ kg BB 300 mg/kg BB

Perlakuan dan pemberian bahan uji selama 3 hari

Pengukuran kadar asam urat darah (hari ke- 9)

Gambar 3.6Bagan kerja uji pendahuluan (Orientasi)

63
Lampiran 7.

Aklitimasi Tikus untuk uji

25 ekor tikus ditimbang dan dibagi menjadi 5 kelompok

Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V

Pengujian kadar asam urat darah normal (hari ke-0)

Induksi Kafein dosis 27 mg/200 g BB tikus dan jus hati ayam 2ml/200

Pengukuran kadar asam urat hiperurisemia awal (hari ke-6)

Suspensi Suspensi Suspensi Suspensi Suspensi


Na-CMC Allopurinol esktrak ekstrak ekstrak
0,5% 10 mg/kg BB etanol teripang etanol teripang etanol teripang
100 mg/ kgBB 200 mg/ kgBB 300 mg/ kgBB

Perlakuan dan pemberian bahan uji selama 9 hari

Pengukuran kadar asam urat hiperurisemia awal (hari ke-9)

Pengukuran kadar asam urat hiperurisemia awal (hari ke-12)

Pengukuran kadar asam urat hiperurisemia awal (hari ke-15)

Analisa data

Gambar 3.7Bagan Kerja uji penurunan kadar asam urat darah

64
Lampiran 8.

Gambar 3.8 Alat pengukur kadar asam urat

Keterangan :

1. Memori strip
2. Wadah penyimpanan strip
3. Strip
4. Alat Easy Touch

65
Lampiran 9.

Gambar 3.9 Hewan percobaan

66
Lampiran 10.Rekomendasi persetujuan etik penelitian

67
Lampiran 11.

Perhitungan hasil penetapan kadar air serbuk simplisia teripang

volume air (ml)


Kadar air = x 100%
berat sampel (g)

1. Sampel 1
Berat sampel = 5,010 g
Volume air = 0,5 ml
0,5
Kadar air = x100%
5,010
= 9,98 %
2. Sampel 2
Berat sampel = 5,003 g
Volume air = 0,45 ml
0,45
Kadar air = x100%
5,003
= 8,99 %
3. Sampel 3
Berat sampel = 5,026 g
Volume air = 0,65 ml
0,65
Kadar air = x100%
5,026
= 9,45 %

9,98%+8,99%+9,45%
Kadar air rata rata =
3
= 9,47%

68
Lampiran 12.

Perhitungan hasil penetapan kadar sari larut air serbuk simplisia teripang

berat sari 100


Kadar sari yang larutdalam air = x x 100%
berat simplisia 20

1. Kadar sari yang larutdalam air I


Beratcawan = 45,038 g
Beratcawan + berat sari = 45,481 g
Beratsampel = 5,008 g
Berat sari = 0,443 g
0,443 100
Kadar sari yang larut dalam air = x x 100% = 44,23 %
5,008 20
2. Kadar sari yang larutdalam air II
Beratcawan = 44,879 g
Beratcawan + berat sari = 45,217 g
Beratsampel = 5,009 g
Berat sari = 0,339 g
0,339 100
Kadar sariyang larut dalam air = x x 100% = 33,84 %
5,009 20
3. Kadar sari larutdalam air III
Beratcawan = 44,759 g
Beratcawan + berat sari = 45,077 g
Beratsampel = 5,012 g
Berat sari = 0,318 g
0,318 100
Kadar sari yang larut dalam air = x x 100%= 31,73 %
5,012 20

44,23%+33,84%+31,73%
Kadar sari yang larutdalam air rata rata =
3
= 36,6% %

69
Lampiran 13.

Perhitungan hasil penetapan kadar sari larut etanol serbuk simplisia teripang
berat sari 100
Kadar sari larut etanol = x x 100%
berat simplisia 20

1. Kadar sarilarut etanol I


Berat cawan = 37,168g
Berat cawan + Berat Sari = 37,426 g
Berat sampel = 5,021 g
Berat sari = 0,258 g
0,258 100
Kadar sari larut etanol = x x100%
5,021 20
= 25,73%
2. Kadar sari larutetanol II
Berat cawan = 47, 140 g
Berat cawan + Berat Sari = 47, 375 g
Berat sampel = 5,004 g
Berat sari = 0,235 g
0.235 100
Kadar sari larut etanol = x x100%
5,004 20
= 23,53%
3. Kadar sari larut etanol III
Berat cawan = 37,172 g
Berat cawan + Berat Sari = 37,400 g
Berat sampel = 5,009 g
Berat sari = 0.228 g
0,228 100
Kadar sari larut etanol = x x 100%
5,009 20
= 22,78%
25,73% +23,53%+22,78%
Kadar sarilarut etanol rata-rata = = 24,01 %
3

70
Lampiran 14

Perhitungan hasil penetapan kadar abu total serbuk simplisia teripang

berat abu
Kadar abu total = x 100%
Berat sampel

1. Kadar abu total I


Berat kurs kosong = 38,510 g
Berat kurs setelah dipijar = 39,943 g
Berat sampel = 2,016 g
Berat abu = 0,583 g
0,583 g
Kadar abu total = x 100%
2,016 g
= 28,92%

2. Kadar abu total II


Berat kurs kosong = 42,389 g
Berat kurs setelah dipijar = 43,767 g
Berat sampel = 2,007 g
Berat abu = 0,629 g
0,629 g
Kadar abu total = x 100%
2,007 g
= 31,34%

3. Kadar abu total III


Berat kurs kosong = 39,250 g
Berat kurs setelah dipijar = 41,785 g
Berat sampel = 2,012 g
Berat abu = 0,523 g
0,523 g
Kadar abu total = x 100%
2,012 g
= 25,99%

28,92%+31,34%+25,99%
Kadar abu total rata-rata =
3

= 28,75 %

71
Lampiran 15.

Perhitungan hasil penetapan kadar abu tidak larut asam serbuk simplisia teripang
Berat kurs kosong I = 38,510 g
Berat kurs yang telah dipijar I = 38,510 g
Berat kurs kosong II = 42,389 g
Berat kurs yang telah dipijar II = 42,480 g
Berat kurs kosong III = 39,250 g
Berat kurs yang telah dipijar III = 39,320 g
Sampel I
Berat simplisia =2, 016 g
Berat abu = 0,06 g
Berat abu
Kadar abu tidak larut asam = x 100%
Berat sampel

0,06 g
= 2,016 gx 100%

= 2,98 %
Sampel II = 2,007 g
Berat abu = 0,091 g
Berat abu
Kadar abu total = x 100%
Berat sampel

2,007 g
= 0,091 gx 100%= 4,53 %

Sampel III = 2,012 g


Berat abu = 0,070 g
Berat abu
Kadar abu total = x 100%
Berat sampel

0,07 g
= 2,012 gx 100%= 3,48 %

2,98%+4,53%+3,48%
Kadar abu total rata-rata = = 3,66%
3

72
Lampiran 16.

Perhitungan dosis dan pembuatan bahan uji

a. Allopurinol
Dosis Allopurinol untuk manusia adalah 100-300 mg/hari.
Konversikan ke tikus, faktor konversi dari manusia ke tikus yaitu 0,018
Dosis untuk tikus = 0,018 x 111,11 mg/hari= 2 mg/200 gBB tikus
= 10 mg/kgBB tikus
Berat bahan aktif allopurinol dalam 20 tablet adalah = 20x 100 mg= 2000 mg
Misal, waktu ditimbang 20 tablet Allopurinol= 2135 mg.
mg
10 BB x
kg
Maka serbuk yang ditimbang = 2000 mg = 2135 mg

= 10,675 mg ~ 10,675 mg.


Jadi dalam serbuk Allopurinol 10,675 mg mengandung 10 mg serbuk.
Dibuat suspensi dengan cara menimbang serbuk Allopurinol sebanyak 10,675mg
kemudian ditambahkan sedikit Na-CMC 0,5 % digerus sampai homogen.
Dituang kedalam labu tentukur 10 ml, ditambah Na-CMC 0,5% sampai batas
tanda (konsentrasi 10 mg/10 ml)
2 mg
Volume pemberian untuk tikus 200 g= 10 mg /10 ml = 2 ml.

b. Kafein
Dosis kafein untuk manusia adalah 1500 mg/hari.
Konversikan ke tikus, faktor konversi dari manusia ke tikus yaitu 0,018
Dosis untuk tikus = 0,018 x 1500 mg/hari= 27 mg/200 gBB tikus
= 135 mg/kgBB tikus
Dibuat suspensi dengan menimbang secara seksama kafein 135 mg kemudian
ditambahkan sedikit Na-CMC 0,5 % digerus sampai homogen.
Dituang kedalam labu tentukur 10 ml, ditambah Na-CMC 0,5 % sampai tanda
batas (Konsentrasi 135 mg/ 10 ml).
27 mg
Volume pemberian untuk tikus 200 g= 135 mg /10 ml

= 2 ml

73
Lampiran 17
Perhitungan dosis ekstrak etanol teripang (EET)Pearsonothuria graeffei (Semper,
1868).
Dosis ekstrak etanol teripang Pearsonothuria graeffei (Semper, 1868)
yang dibuatadalah 100 mg/ kgBB, 200 mg/ kgBB dan 300 mg/ kgBB.
a. Cara pembuatan ekstrak etanol teripang.
Timbang 100 mg, 200 mg dan 300 mg ekstrak etanol teripang, masing-masing
dilarutkan dalam 10 ml Na-CMC 0,5 %.
b. Berapa volume ekstrak etanol teripang yang akan diberikan pada tikus?
Misal BB tikus = 200 g
200
Jumlah EET dosis 100 mg/ kgBB = 1000 x 100 mg = 20 mg
20
Volume larutan yang diberi = 100 x 10 ml = 2 ml
200
Jumlah EET dosis 200 mg/ kgBB = 1000 x 200 mg = 40 mg
40
Volume larutan yang diberi = 200 x 10 ml = 2 ml
200
Jumlah EET dosis 300 mg/ kgBB = 1000 x 300 mg = 60 mg
60
Volume larutan yang diberi = 300 x 10 ml = 2 ml

74
Lampiran 18

a. Tabel volume maksimum larutan sediaan uji yang dapat diberikan pada hewan
uji (Harmita dan Radji, 2008)
Volume maksimal (ml) sesuai jalur pemberian
Jenis hewan uji
i.v i.m i.p s.c p.o
Mencit (20-30 g) 0,5 0,005 1 0,5-1 1
Tikus (100 g) 0,1 0,1 2-5 2-5 5,0
Hamster (50 g) - 0,1 1-2 2,5 2,5
Marmut (250 g) - 0,25 2-5 5 10
Merpati (300 g) 2 0,5 2 2 10
Kelinci (2,5 kg) 5-10 0,5 10-20 5-10 20
Kucing (3 kg) 5-10 1 10-20 5-10 50
Anjing (5 kg) 10-20 5 20-30 10 100

b. Tabel konversi dosis antara jenis hewan dengan manusia (Harmita dan Radji,
2008)

Mencit Tikus Marmut Kelinci Kera Anjing Manusia


20 g 200 g 400 g 1,2 kg 4 kg 12 kg 70 kg
Mencit
1,0 7,0 12,25 27,8 64,1 124,2 387,9
20 g
Tikus
0,14 1,0 1,74 3,9 9,2 17,8 56,0
200 g
Marmu
0,08 0,57 1,0 2,25 5,2 10,2 31,5
t 400 g
Kelinci
0,04 0,25 0,44 1,0 2,4 4,5 14,2
1,2 kg
Kera
0,016 0,11 0,19 0,42 1,0 1,9 6,1
4 kg
Anjing
0,008 0,06 0,10 0,22 0,52 1,0 3,1
12 kg
Manusi
0,0026 0,018 0,031 0,07 0,16 0,32 1,0
a 70 kg

75
Lampiran 19

Tabel hasil pengukuran kadar asam urat

Kadar asam (mg/dL)


Kadar asam Kadar asam
Berat Urat Puasa Urat Induksi
Kelompok
Badan (mg/dL) (mg/dL) Hari ke- Hari ke- Hari ke-
(Hari ke-0) (Hari ke-6) 9 12 15

Na-CMC 0,5% 155 2,5 4,7 4,9 5,2 5,3


159,7 2,1 4,5 4,7 5 5,1
183,4 2,3 4,9 5,1 5,1 5,3
153,2 2,4 4,7 4,9 5 5
147,9 2 4,8 5 5,3 6
Rata-Rata 159,84 2,26 4,72 4,92 5,12 5,34
Allopurinol 175,3 2,2 6 3,5 2,7 2,5
169,5 2,5 4,7 3,7 3,1 2
153 2,2 5,9 3,8 3 2
158,9 2,4 5,8 3,5 2,8 2
154 2 4,5 3,6 2,6 2,2
Rata-Rata 162,14 2,26 5,38 3,62 2,84 2,14
EET 100 152 2 4 3,5 3,1 3
176,5 2,4 4,6 4,2 3,7 2,9
150 2,3 4,8 4,5 4,2 2,8
154,5 2,4 4,9 4,4 4 3,2
153,2 2,5 4,8 4,1 3,6 3,4
Rata-Rata 157,24 2,32 4,62 4,14 3,72 3,06
EET 200 160,7 2,7 5,9 3,6 3,2 2,4
158,5 2,5 6 3,3 3 2,6
164,2 2,3 4,8 3,9 3,1 2,8
160 2,5 4,6 3,5 2,9 2,6
152 2,7 4,5 3,4 2,5 2,7
Rata-Rata 159,08 2,54 5,16 3,54 2,94 2,62
EET 300 156 2,2 4,6 4 3,4 3,2
149 2,4 4,8 3,4 3,1 2,9
162,4 2,7 4,5 3,9 3,3 3,2
160 2,8 4,4 3,8 3,2 3
162,5 2,5 5,1 4,7 3 3,1
Rata-Rata 157,98 2,52 4,68 3,96 3,2 3,08

76
Lampiran 20.

Tabel hasil persen penurunan kadar asam urat berdasarkan perbandingan antar individu

Rumus =

100%

Kadar asam Kadar asam Urat


Berat Kadar asam urat (mg/dL)
kelompok urat (mg/dL) Induksi(mg/dL)
Badan
(Hari ke-0) (Hari ke-6) Hari ke-9 Hari ke-12 Hari ke-15
Allopurinol 155 2,2 6 41,67 55 58,33
159,7 2,5 4,7 21,27 34,04 57,45
183,4 2,2 5,9 35,59 49,15 66,10
153,2 2,4 5,8 39,66 51,72 65,52
147,9 2 4,5 20 42,22 51,11
Rata-Rata 159,84 2,26 5,38 31,65 46,43 59,70
EET 100 175,3 2 4 12,5 22,5 25
169,5 2,4 4,6 8,69 19,56 36,95
153 2,3 4,8 6,25 12,5 41,67
158,9 2,4 4,9 10,20 18,37 34,69
154 2,5 4,8 14,58 25 29,17
Rata-Rata 162,14 2,32 4,62 10,45 19,59 33,49
EET 200 152 2,7 5,9 38,98 45,76 59,32
176,5 2,5 6 45 50 56,67
150 2,3 4,8 18,75 35,42 41,67
154,5 2,5 4,6 23,91 36,96 43,48
153,2 2,7 4,5 24,44 44,44 40
Rata-Rata 157,24 2,54 5,16 30,22 42,52 48,23
EET 300 160,7 2,2 4,6 13,043 26,087 30,43
158,5 2,4 4,8 29,17 35,42 39,58
164,2 2,7 4,5 13,33 26,67 28,89
160 2,8 4,4 13,64 27,27 31,82
152 2,5 5,1 7,84 41,18 39,22
Rata-Rata 159,08 2,52 4,68 15,41 31,32 33,99

77
Lampiran 21.

Hasil Perhitungan Persen Penurunan Kadar Asam Urat perbandingan antar


individu ANAVA

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

kelompok Statistic df Sig. Statistic df Sig.

DELTAH3 Na-CMC 0,5% .246 5 .200* .956 5 .777

Allopurinol .298 5 .169 .800 5 .082

EET 100 .300 5 .162 .808 5 .093

EET 200 .160 5 .200* .989 5 .975

EET 300 .241 5 .200* .890 5 .356

DELTAH6 Na-CMC 0,5% .221 5 .200* .902 5 .421

Allopurinol .158 5 .200* .978 5 .922


EET 100 .183 5 .200* .950 5 .736

EET 200 .334 5 .071 .745 5 .027

EET 300 .260 5 .200* .835 5 .151


DELTAH9 Na-CMC 0,5% .341 5 .059 .830 5 .140

Allopurinol .315 5 .117 .832 5 .143

EET 100 .352 5 .042 .850 5 .196


EET 200 .279 5 .200* .815 5 .107

EET 300 .217 5 .200* .900 5 .412


a. Lilliefors Significance Correction
*. This is a lower bound of the true significance.

Test of Homogeneity of Variances

Levene Statistic df1 df2 Sig.

DELTAH3 7.586 4 20 .001


DELTAH6 1.853 4 20 .158
DELTAH9 .950 4 20 .456

78
Lampiran 22.

Tabel hasil persen penurunan kadar asam urat berdasarkan perbandingan antar kelompok

Rumus =

100%

Kadar asam Urat Kadar asam Urat Kadar asam (mg/dL)


Berat
kelompok Puasa (mg/dL) Induksi (mg/dL)
Badan
(Hari ke-0) (Hari ke-6) Hari ke-9 Hari ke-12 Hari ke-15
Allopurinol 155 2,2 6 28,57 48,08 52,83
159,7 2,5 4,7 21,28 38,00 60,78
183,4 2,2 5,9 25,49 41,18 62,26
153,2 2,4 5,8 28,57 44,00 60,00
147,9 2 4,5 28,00 50,94 63,33
Rata-Rata 159,84 2,26 5,38 26,38 44,44 59,84
EET 100 175,3 2 4 28,57 40,38 43,40
169,5 2,4 4,6 10,64 26,00 43,14
153 2,3 4,8 11,76 17,65 47,17
158,9 2,4 4,9 10,20 20,00 36,00
154 2,5 4,8 18,00 32,08 43,33
Rata-Rata 162,14 2,32 4,62 15,84 27,22 42,61
EET 200 152 2,7 5,9 26,53 38,46 54,72
176,5 2,5 6 29,79 40,00 49,02
150 2,3 4,8 23,53 39,22 47,17
154,5 2,5 4,6 28,57 42,00 48,00
153,2 2,7 4,5 32,00 52,83 55,00
Rata-Rata 157,24 2,54 5,16 28,05 42,58 50,94
EET 300 160,7 2,2 4,6 18,37 34,62 31,25
158,5 2,4 4,8 27,66 38,00 34,48
164,2 2,7 4,5 23,53 35,29 31,25
160 2,8 4,4 22,45 36,00 33,33
152 2,5 5,1 6,00 43,40 32,26
Rata-Rata 159,08 2,52 4,68 19,60 37,46 32,51

79
Lampiran 23.

Hasil Perhitungan persen penurunan Kadar Asam Urat perbandingan antar


kelompok ANAVA.
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
KELOMPOK Statistic df Sig. Statistic df Sig.
*
DELTA NA-CMC .198 5 .200 .957 5 .787
INDUKSI *
ALLPURINOL .250 5 .200 .868 5 .260
*
EET100 .227 5 .200 .910 5 .468
*
EET200 .190 5 .200 .942 5 .677
EET300 .310 5 .131 .871 5 .272
*
DELTA9 NA-CMC .198 5 .200 .957 5 .787
*
ALLPURINOL .251 5 .200 .868 5 .257
EET100 .179 5 .200* .962 5 .823
EET200 .300 5 .161 .836 5 .154
*
EET300 .273 5 .200 .852 5 .201
*
DELTA12 NA-CMC .241 5 .200 .903 5 .427
*
ALLPURINOL .246 5 .200 .956 5 .777
*
EET100 .214 5 .200 .887 5 .341
EET200 .300 5 .161 .879 5 .303
EET300 .274 5 .200* .867 5 .254
DELTA15 NA-CMC .359 5 .034 .820 5 .117
*
ALLPURINOL .215 5 .200 .901 5 .415
EET100 .251 5 .200* .868 5 .257
*
EET200 .272 5 .200 .942 5 .680
*
EET300 .245 5 .200 .931 5 .601

a. Lilliefors Significance Correction


*. This is a lower bound of the true significance.

Test of Homogeneity of Variances

Levene Statistic df1 df2 Sig.

DELTAH3 3.468 4 20 .026

DELTAH6 3.716 4 20 .020

DELTAH9 2.457 4 20 .079

80
Lampiran 24.

Tabel hasil Perhitungan delta (selisih) kadar asam urat tikus setelah perlakuan dengan
kadar asam urat puasa.

Rumus = kadar asam urat hari pengamatan kadar asam urat puasa (Hari ke-0)

Kadar asam Urat Kadar asam Urat


Berat hari hari hari
kelompok Puasa (mg/dL) Induksi (mg/dL)
Badan Induksi ke-9 ke-12 ke-15
(Hari ke-0) (Hari ke-6)
Na-CMC
0,5% 155 2,5 4,7 2,2 2,4 2,7 2,8
159,7 2,1 4,5 2,4 2,6 2,9 3
183,4 2,3 4,9 2,6 2,8 2,8 3
153,2 2,4 4,7 2,3 2,5 2,6 2,6
147,9 2 4,8 2,8 3 3,3 4
Rata-Rata 159,84 2,26 4,72 2,46 2,66 2,86 3,08
Allopurinol 175,3 2,2 6 3,8 1,3 0,5 0,3
169,5 2,5 4,7 2,2 1,2 0,6 -0,5
153 2,2 5,9 3,7 1,6 0,8 -0,2
158,9 2,4 5,8 3,4 1,1 0,4 -0,4
154 2 4,5 2,5 1,6 0,6 0,2
Rata-Rata 162,14 2,26 5,38 3,12 1,36 0,58 -0,12
EET 100 152 2 4 2 1,5 1,1 1
176,5 2,4 4,6 2,2 1,8 1,3 0,5
150 2,3 4,8 2,5 2,2 1,9 0,5
154,5 2,4 4,9 2,5 2 1,6 0,8
153,2 2,5 4,8 2,3 1,6 1,1 0,9
Rata-Rata 157,24 2,32 4,62 2,3 1,82 1,4 0,74
EET 200 160,7 2,7 5,9 3,2 0,9 0,5 -0,3
158,5 2,5 6 3,5 0,8 0,5 0,1
164,2 2,3 4,8 2,5 1,6 0,8 0,5
160 2,5 4,6 2,1 1 0,4 0,1
152 2,7 4,5 1,8 0,7 -0,2 0
Rata-Rata 159,08 2,54 5,16 2,62 1 0,4 0,08
EET 300 156 2,2 4,6 2,4 1,8 1,2 1
149 2,4 4,8 2,4 1 0,7 0,5
162,4 2,7 4,5 1,8 1,2 0,6 0,5
160 2,8 4,4 1,6 1 0,4 0,2
162,5 2,5 5,1 2,6 2,2 0,5 0,6
Rata-Rata 157,98 2,52 4,68 2,16 1,44 0,68 0,56

81
Lampiran 25.

Hasil Perhitungan nilai delta (selisih) Kadar Asam Urat ANAVA.

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

KELOMPOK Statistic df Sig. Statistic df Sig.


DELTAIN NA-CMC .198 5 .200* .957 5 .787
DUKSI ALLPURINOL .250 5 .200* .868 5 .260

EET100 .227 5 .200* .910 5 .468

EET200 .190 5 .200* .942 5 .677

EET300 .310 5 .131 .871 5 .272


DELTA-9 NA-CMC .198 5 .200* .957 5 .787

ALLPURINOL .251 5 .200* .868 5 .257


EET100 .179 5 .200* .962 5 .823

EET200 .300 5 .161 .836 5 .154

EET300 .273 5 .200* .852 5 .201


DELTA-12 NA-CMC .241 5 .200* .903 5 .427

ALLPURINOL .246 5 .200* .956 5 .777

EET100 .214 5 .200* .887 5 .341


EET200 .300 5 .161 .879 5 .303

EET300 .274 5 .200* .867 5 .254


DELTA15 NA-CMC .359 5 .034 .820 5 .117
ALLPURINOL .215 5 .200* .901 5 .415

EET100 .251 5 .200* .868 5 .257

EET200 .272 5 .200* .942 5 .680

EET300 .245 5 .200* .931 5 .601


a. Lilliefors Significance Correction
*. This is a lower bound of the true significance.

Test of Homogeneity of Variances

Levene Statistic df1 df2 Sig.

DELTAH3 3.468 4 20 .026


DELTAH6 3.716 4 20 .020

82
Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

KELOMPOK Statistic df Sig. Statistic df Sig.


DELTAIN NA-CMC .198 5 .200* .957 5 .787
DUKSI ALLPURINOL .250 5 .200* .868 5 .260

EET100 .227 5 .200* .910 5 .468

EET200 .190 5 .200* .942 5 .677

EET300 .310 5 .131 .871 5 .272


DELTA-9 NA-CMC .198 5 .200* .957 5 .787

ALLPURINOL .251 5 .200* .868 5 .257

EET100 .179 5 .200* .962 5 .823

EET200 .300 5 .161 .836 5 .154

EET300 .273 5 .200* .852 5 .201


DELTA-12 NA-CMC .241 5 .200* .903 5 .427

ALLPURINOL .246 5 .200* .956 5 .777

EET100 .214 5 .200* .887 5 .341


EET200 .300 5 .161 .879 5 .303

EET300 .274 5 .200* .867 5 .254


DELTA15 NA-CMC .359 5 .034 .820 5 .117
ALLPURINOL .215 5 .200* .901 5 .415

EET100 .251 5 .200* .868 5 .257

EET200 .272 5 .200* .942 5 .680


EET300 .245 5 .200* .931 5 .601
a. Lilliefors Significance Correction
DELTAH9 2.457 4 20 .079
Lampiran 26.

Tabel Post Hoc Tukey persen penurunan data perbandingan individu.


a. Tabel Post Hoc Tukey persen penurunan kadar asam urat (KUA) hari ke-9

Kelompok Subset for alpha = 0.05

N 1 2 3
EET 100 5 10.4466 10.4466
EET 300 5 15.4046
EET 200 5 30.2181

83
Allopurinol 5 31.6383
Sig. .053 .852 .998

Means for groups in homogeneous subsets are displayed.


a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 5,000.

b. Tabel Post Hoc Tukey persen penurunan KUA hari ke-12

Kelompok Subset for alpha = 0.05

N 1 2 3
EET 100 5 19.5865
EET 300 5 31.3239
EET 200 5 42.5161 42.5161
Allopurinol 5 46.4283
Sig. 1.000 .059 .844
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 5,000.

c. Tabel Post Hoc Tukey persen penurunan KUA hari ke-15

kelompok Subset for alpha = 0.05


N 1 2
EET 100 5 33.4967
EET 300 5 33.9882
EET 200 5 48.2267
Allopurinol 5 59.7020
Sig. 1.000 .107
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 5,000.

Lampiran 27.

Tabel Post Hoc Tukey persen penurunan data perbandingan antar kelompok.
a. Tabel Post Hoc Tukey persen penurunan KUA hari ke-9
Subset for alpha = 0.05
kelompok N 1 2
EET 100 5 15.8357
EET 300 5 19.5111 19.5111
Allopurinol 5 26.3819

84
EET 200 5 28.0537
Sig. .810 .142

Means for groups in homogeneous subsets are displayed.


a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 5,000.

b. Tabel Post Hoc Tukey persen penurunan KUA hari ke-12


Subset for alpha = 0.05
kelompok N 1 2
EET 100 5 27.2214
EET 300 5 37.4611 37.4611
EET 200 5 42.5015
Allopurinol 5 44.4394
Sig. .065 .325
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 5,000.

c. Tabel Post Hoc Tukey persen penurunan KUA hari ke-15


Subset for alpha = 0.05
kelompok N 1 2 3 4
EET 300 5 32.5148
EET 100 5 42.6073
EET 200 5 50.7813
Allopurinol 5 59.8424
Sig. 1.000 1.000 1.000 1.000

Means for groups in homogeneous subsets are displayed.


a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 5,000.

Lampiran 28.
Tabel Post Hoc Tukeynilai delta (selisih) Kadar Asam Urat .
a. Tabel Tabel Post Hoc Tukey Kadar Asam Urat Hari ke-9.
Subset for alpha = 0.05
KELOMPOK N 1 2 3
EET200 5 1.0000
ALLPURINOL 5 1.3600 1.3600
EET300 5 1.4400 1.4400

85
EET100 5 1.8200
Na-CMC 5 2.6600
Sig. .302 .263 1.000
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 5,000.

b. Tabel Tabel Post Hoc Tukey Kadar Asam Urat Hari ke-12
Subset for alpha = 0.05
KELOMPOK N 1 2 3
EET200 5 .4000
ALLPURINOL 5 .5800
EET300 5 .6800
EET100 5 1.4000
Na-CMC 5 2.8600
Sig. .586 1.000 1.000

Means for groups in homogeneous subsets are displayed.


a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 5,000.

c. Tabel Tabel Post Hoc Tukey Kadar Asam Urat Hari ke-15

Subset for alpha = 0.05


KELOMPOK N 1 2 3
ALLPURINOL 5 -.1200
EET200 5 .0800 .0800
EET300 5 .5600
EET100 5 .7400
NA-CMC 5 3.0800
Sig. .899 .057 1.000
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 5,000.

86