Anda di halaman 1dari 5

Pada praktikum kali ini, dilakukan pembuatan sediaan setengah padat yang meliputi

krim kloramfenikol. Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi mengandung air tidak
kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar (Depkes RI, 1979). Cara pembuatan
krim yaitu dengan cara melebur terlebih dahulu bagian lemak diatas penangas air, kemudian
tambahkan bagian airnya dengan zat pengemulsi. Setelah itu, diaduk sampai terbentuk suatu
campuran yang berbentuk krim (Syamsuni, H., 2005).
Suatu sediaan krim terdiri dari dua fase, yaitu fase minyak dan fase air. Kedua fase ini
perlu dilakukan peleburan diatas penangas air setelah masing-masing bahan yang termasuk
kedalam fasenya dicampurkan dalam wadah yang berbeda berupa cawan porselen. Dalam
formula krim klormfenikol ini yang termasuk ke dalam fase minyak yaitu paraffin cair, asam
stearate, dan setil alkohol. Sedangkan yang termasuk ke dalam fase air adalah gliserin, TEA,
nipagin dan air. Kedua fase ini dileburkan pada suhu 70 C. Karena pada suhu ini (70 C)
merupakan titik dimana menjadi titik leleh tertinggi untuk melelehkan/meleburkan bahan
dalam fase minyak. Bahan tersebut adalah asam stearate dengan titik leleh 69-70 C, diikuti
setil alkohol dengan titik leleh 45-52 C dan paraffin cair dengan titik leleh -12,2-(-9,4) C.
Asam stearate termasuk ke dalam fase minyak karena asam stearate praktis tidak larut dalam
air. Dan fase air dipanaskan hingga suhu yang sama (70 C) karena bila fase air tidak sama
temperaturnya dengan fase minyak, maka beberapa bahan akan menjadi padat, sehingga
terjadi pemisahan antara fase minyak dan fase air.
Untuk bahan-bahan atau komponen yang tidak bercampur dengan air seperti minyak
dan lilin dicairkan bersama-sama diatas penangas air pada suhu 70-75 C, pada saat yang
sama campurkan bahan-bahan yang bercampur dengan air diatas penangas air dengan suhu
yang sama. Kemudian campuran lemak secara perlahan-lahan ditambahkan ke dalam larutan
berair yang cair dan diaduk secara konstan, temperature dipertahankan selama 5-10 menit
untuk mencegah kristalisasi dari lilin/lemak. Selanjutnya campuran perlahan-lahan
didinginkan dengan pengadukan yang terus-menerus sampai campuran mengental. Bila
larutan berair tidak sama temperaturnya dengan leburan lemak, maka beberapa lilin akan
menjadi padat, sehingga terjadi pemisahan antara fase lemak dan fase cair (Munson, 1991).
Asam stearate berfungsi sebagai emulsifying agent, pelarut, dan sebagai zat tambahan
untuk melembutkan kulit. Konsentrasi penggunaan asam stearate dalam formula ini sudah
sesuai dengan literature yaitu jika digunakan dalam salep atau krim ada pada konsentrasi 1-
20% dan dalam formula ini digunakan 7%. Setil alkohol berfungsi sebagai stiffening agent
atau untuk meningkatkan viskositas sediaan krim ini. Gliserin berfungsi sebagai kosolven,
emollient, dan humektan. Dimana humektan berfungsi untuk meminimalkan hilangnya air
dari sediaan mencegah kekeringan (kehilangan air) dan meningkatkan kualitas usapan dan
konsistensi secara umum. TEA berfungsi sebagai surfaktan dan dapar sehingga sediaan stabil
selama penyimpanan. Nipagin berfungsi sebagai zat antimikroba. Karena sediaan krim
kloramfenikol ini mengandung air dengan kadar yang cukup tinggi (hampir 50% pada setiap
formula), dengan jumlah air yang banyak ini semakin memungkinkan mikroba untuk dapat
tumbuh dan berkembang. Maka dengan penambahan nipagin ini diharapkan dapat
meminimalisir sediaan tercemar mikroba. Air berfungsi sebagai pelarut dan fase air dalam
pembuatan basis.
Setelah fase air dan fase minyak dicampur diatas penangas hingga terbentuk massa
putih seperti susu, campuran diturunkan suhunya hingga mencapai 60-65oC lalu ditambahkan
kloramfenikol dan diaduk sampai homogen. Fungsi penambahan kloramfenikol pada sediaan
krim ini sebagai zat aktif dimana kadar kloramfenikol yang dibolehkan dalam krim hanya 2%
(Oktavia, 2012). Kloramfenikol adalah antibiotik yang dihasilkan oleh Streptomyces
venezuelae. Pada dasarnya kloramfenikol bersifat sebagai bakteriostatik dan pada konsentrasi
tinggi kadang kadang bersifat sebagai bakterisid terhadap kuman kuman tertentu (Gun,
1995; Tan & Raharja, 1981). Aktifitas antibakterinya dengan menghambat sintesa protein
dengan jalan mengikat ribosom 50S, yang merupakan langkah penting dalam pembentukan
ikatan peptida. Kloramfenikol merupakan antibiotik spectrum luas, dimana efektif terhadap
bakteri aerob gram positif termasuk Streptococcus penumoniae dan beberapa bakteri aerob
gram negatif termasuk Haemophilus influenzae dan lain-lain (Hanifiyah, T.T.).
Kloramfenikol bisa digunakan secara eksternal (topical). Antibiotik topical memegang
peranan penting pada penanganan kasus dibidang kulit. Antibiotik topical biasanya
diresepkan untuk pasien yang mengalami ache vulgaris ringan samapi sedang serta
merupakan terapi adjunctive dengan obat oral. Kloramfenikol ditujukan pada bagian
appedages di kulit. Dipilih bentuk sediaan krim karena dapat mengurangi iritasi obat
terhadap saluran cerna, mendapatkan efek emollient pada jaringan, untuk menghindari first
pass metabolism serta mudah diterima dan digunakan oleh pasien. (Hanidiyah, T.T.)
Langkah selanjutnya adalah penurunan suhu sampai 40oC dan ditambahkan BHT
(Butylated Hydroxytoluene). Tujuan dari penurunan suhu karena kelembaban dan panas dapat
menyebabkan perubahan warna dan aktifitas BHT berkurang. BHT ini berfungsi sebagai
antioksidan pada sediaan topikal. Lalu dilakukan penambahan parfum yang berfungsi untuk
memberikan aroma yang menyenangkan pada sediaan topikal. Penambahan BHT dalam
sediaan sebagai zat antioksidan karena beberapa bahan/komponen krim ini bersifat tidak
stabil dan mudah teroksidasi, seperti paraffin cair yang mudah teroksidasi oleh panas dan
cahaya dan juga asam stearate yang kurang stabil dan lebih baik ditambahkan dengan zat
antioksidan. BHT ditambahkan terakhir karena BHT tidak stabil jika terkena panas (berlebih)
dan dapat menyebabkan perubahan warna adan aktifitasnya sebagai antimikroba dapat
berkurang. Oleh karena itu BHT ditambahkan terakhir setelah suhu campuran tidak terlalu
tinggi yaitu +/- 40 C. BHT pada beberapa sediaan krim juga dimaksudkan untuk mencegah
ketengikan akibat oksidasi oleh cahaya pada minyak tak jenuh. Namun apabila BHT
dipanaskan dengan asam dapat menyebabkan bau tengik. BHT tidak termasuk ke dalam fase
air karena BHT praktis tidak larut dalam air. Tetapi lebih larut dalam minyak/lemak.
Pembanding pada sediaan krim kloramfenikol adalah jumlah setil alkohol yang
berbeda dari ketiga formulasi. Pada F1 (Kel.1 dan 2) digunakan setil alkohol 1%, F2 (Kel.3
dan 4) 2% dan F3 (Kel.5 dan 6) 3%. Perbedaan jumlah setil alkohol pada sediaan krim ini
mempengaruhi viskositas dan kepadatan tekstur krim karena Setil alkohol selain berfungsi
sebagai emulgator juga berfungsi untuk meningkatkan stabilitas, tekstur, dan konsistensi krim
juga untuk menaikkan viskositas dimana dengan naiknya viskositas maka sifat fisik dan
stabilitas krim semakin bagus.
Dari hasil pengamatan, kelompok 5 yang menggunakan F3 merupakan krim dengan
tekstur terpadat dan hal ini sesuai dengan literatur dimana konsentrasi setil alkohol pada F3
merupakan yang terbanyak yakni 3%. Namun terjadi ketidaksesuaian pada kelompok 6 yang
menggunakan formula yang sama tetapi memiliki hasil krim yang teksturnya lebih halus
disbanding kelompok 5, hal ini dapat terjadi karena perbedaan pada saat pembuatan sediaan.
Hasil dari krim kelompok 1 yang menggunakan F1 menunjukan hasil yang sesuai dengan
literature karena penggunaan setil alcohol dengan jumlah yang paling sedikit yaitu 1%
membuat krim yang dihasilkan memiliki tekstur yang lembut halus seperti lotion dan sedikit
encer. Pada F2 tekstur krim yang didapatkan baik agak encer spt krim namun tidak lebih
encer dari pada F1 hal ini karena setil alcohol yang digunakan adalah diantara F1 dan F3
yaitu 2%. Namun harus diperhatikan juga, penggunaan yang kurang tepat dalam formulasi
akan menyebabkan krim menjadi terlalu keras, kental dan berubah warna menjadi lebih
gelap, sehingga menimbulkan rasa kurang nyaman saat penggunaan dan sediaan krim yang
kurang stabil (Ansel, 1989). Rentang konsentrasi setil alkohol sebagai emollient dan
emulsifying agent adalah 2-5%, sedangkan sebagai stiffening agent memiliki rentang
konsentrasi 2-10% (Rowe dkk., 2009).
Evaluasi dari sediaan krim dengan zat aktif kloramfenikol dilihat dari segi
organoleptis, pH, dan homogenitas. Evaluasi pertama adalah uji organoleptis, evaluasi yang
dilakukan dengan cara mengamati sediaan krim tersebut dengan dilihat bentuk, warna, dan
bau dari sediaan krim kloramfenikol yang dibuat. Organoleptis pada setiap kelompok
memiliki warna dan bau yang sama, yaitu berwarna putih dan berbau rosa.
Evaluasi kedua adalah uji pH. Uji pH dilakukan dengan menempelkan kertas
indikator pada krim. Hasil dari uji pH yakni kel.1 pHnya antara 7-8, kel.2 dan kelompok 3
antara 6-7 sedangkan pH kelompok 4,5, dan 6 memiliki pH 6. Dari hasil uji pH ini kelompok
2, 3, 4, 5, dan 6 memenuhi syarat pH ideal untuk sediaan krim. Karena menurut literatur,
pada sediaan krim pH sediaan harus berada dalam rentang pH kulit untuk mencegah
terjadinya iritasi pada kulit (CT, Ueda, dkk, 2009) dimana nilai pH dari kelompok tersebut
sesuai dengan pH kulit yaitu 6,0 7,0 (Safitri, 2014) sehingga aman untuk diaplikasikan ke
kulit. Sedangkan pH krim kelompok 1 memiliki rentang 7-8 atau lebih tinggi daripada
sediaan krim yang lain. Peningkatan pH ini dapat disebabkan karena penggunaan TEA yang
berlebihan akibat kesalahan penimbangan. pH dari TEA yang berfungsi sebagai dapar
sekaligus agen pengemulsi adalah 10,5 (Rowe, 2009) sehingga penambahan TEA yang
berlebihan akan menaikkan nilai pH krim.
Evaluasi yang ketiga adalah uji homogenitas. Uji homogenitas dilakukan dengan cara
mengoleskan krim ke lapisan kulit, dimana sediaan krim tidak boleh terdapat gumpalan-
gumpalan partikel di dalamnya (CT, Ueda, dkk, 2009). Dari hasil uji homogenitas diperoleh
hasil homogen pada setiap kelompok namun masi terdapat butiran dari kloramfenikol, hanya
pada kelompok 6 yang terasa sedikit atau hampir tidak ada butiran dari kloramfenikol pada
saat pengolesan krim pada kulit.

DAFTAR PUSTAKA

Ansel, H.C., 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Penerjemah : F. Ibrahim. Edisi ke-4.
Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.

Ditjen POM. (1985). Formularium Kosmetika Indonesia. Jakarta: Penerbit Departemen


Kesehatan RI.

Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan RI

Gun, S., 1995, Farmakologi dan Terapi, edisi IV (edisi perbaikan), Bagian Farmakologi
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Hanifiyah, Izzatul. T.T. Laporan Semi Solid Krim Kloramfenikol. Diakses dari:
www.academia.edu/283371/LAPORAN_sEMSOL_KRIM_KLORAMFENIKOL (13
Mei 2017)

Munson. 1991. Analisis Farmasi diterjemahkan oleh Harjana. Surabaya: Universitas


Airlangga

Oktavia, Maria Dona, Sri Kartika Ayu, Auzal Halim. 2012. PENGARUH BASIS KRIM
TERHADAP PENETRASI KLORAMFENIKOL MENGGUNAKAN KULIT
MENCIT. Jurnal Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi STIFARM Padang. Fakultas Farmasi
Universitas Andalas. Padang

Rowe, Raymon C et al. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients. Lonon:


Pharmaceutical Press And American Pharmacict Association

Safitri, Nabila Ayu, dkk. 2014. Optimasi Formula Sediaan Krim Ekstrak Stroberi (Fragaria x
ananassa) sebagai Krim Anti Penuaan. Majalah Kesehatan FKUB Volume 1.

Syamsuni, H. 2005. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC

Ueda CT, Shah VP, Derdzinski K, Ewing G, Flynn G, Maibach H et al. 2009. Topical and
Transdermal Drug Product-Stimuli to the revision process. Pharmacopeial Forum.