Anda di halaman 1dari 84

BAB III

PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PEMBAHASAN

A. GAMBARAN UMUM INDUSTRI/PERUSAHAAN DAN


STRUKTUR ORGANISASI PROYEK
1. Latar Belakang Proyek
Jalan merupakan prasarana transportasi yang
menghubungkan satu tempat tertentu dengan yang lain
dalam suatu sistem jaringan jalan. Jalan tol merupakan
jalan umum yang merupakan bagian sistem jaringan
jalan dan sebagai jalan nasional. Fungsinya adalah
sebagai jalan alternatif untuk mengatasi kemacetan lalu
lintas ataupun untuk mempersingkat jarak dari satu
tempat ke tempat lain. Pembangunan jalan tol akan
berpengaruh pada perkembangan wilayah dan
peningkatan ekonomi antara dua wilayanh yang
dihubungkan oleh jalan tol tersebut.
Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang
semakin pesat, maka harus diimbangi dengan sarana
transportasi yang memadai agar perpindahan dari
daerah asal ke daerah tujuan menjadi lebih cepat.
Pembangunan jalan tol Trans Jawa merupakan salah satu
proyek untuk memperlancar transportasi di pulau Jawa.
Jalan tol ini menghubungkan dua kota terbesar di
Indonesia yaitu Jakarta dan Surabaya. Tol Trans Jawa
terdiri dari tujuh ruas dengan total panjang mencapai
498, 23 dan total investasi yang dibutuhkan mencapai Rp.
40,37 triliun (Kompas, 12 Januari 2016). Adapun status
proses pengusahaan jalan tol Trans Jawa dapat diamati
pada gambar 3.1 berikut:

31
32

Gambar 3.1 Proyek Jalan Tol Trans Jawa

Salah satu ruas jalan tol Trans Jawa ini adalah


proyek Tol Surabaya Mojokerto dengan panjang 36,27
km yang menghubungkan antara kota Surabaya dan kota
Mojokerto, dibangun mulai dari Bundaran Waru
(Sidoarjo) masuk ke kota Mojokerto melalui jalan akses
bypass Mojokerto. Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yang
menangani proyek ini adalah PT. Marga Nujayasumo
Agung yang berinvestasi senilai Rp. 3,79 triliun (Kompas,
12 Januari 2016).

2. Gambaran Umum Proyek


Pembangunan Jalan Tol Surabaya-Mojokerto
melewati 4 (empat) wilayah Kota/Kabupaten yaitu Kab.
Sidoarjo, Kab. Gresik, Kota Surabaya, dan Kab.
Mojokerto, melewati 37 desa/kelurahan dengan
kebutuhan lahan seluas 311 Ha. Pembangunan jalan tol
terbagi atas 5 seksi dimulai dari Seksi IA (Waru-
33

Sepanjang) sepanjang 2,3 km, Seksi IB (Sepanjang WRR)


sepanjang 4,3 km, Seksi II (WRR-Driyorejo) sepanjang 5,1
km, Seksi III (Driyorejo-Krian) sepanjang 6,1 km, dan
Seksi IV (Krian-Mojokerto) sepanjang 18,47 km.
Pembagian lokasi proyek setiap seksi ini dapat diamati
pada gambar 3.2 berikut:

Gambar 3.2 Peta Lokasi Proyek Pembangunan Jalan Tol


Surabaya-Mojokerto (Sumber: PT. Wika (Persero), Tbk.)

Seksi IA sudah mulai beroperasi sejak 5 September


2011, Seksi IB sedang dalam proses konstruksi, Seksi II
sedang dalam proses pengadaan tanah dan mulai
konstruksi, Seksi III sedang dalam proses pengadaan
tanah dan mulai konstruksi, dan Seksi VI sudah
beroperasi sejak 19 maret 2016. Rute proyek Jalan Tol
Surabaya-Mojokerto dapat di amati pada gambar 3.3
berikut:
34

Gambar 3.3 Rute Jalan Tol Surabaya-Mojokerto


(Sumber: PT. Wika (Persero), Tbk.)

Adapun spesifikasi Jalan Tol Surabaya-Mojokerto


dapat diamati pada table 3.1 sebagai berikut:
Tabel 3.1 Spesifikasi Jalan Tol Surabaya-Mojokerjo
Uraian Spesifikasi

Urban Rural

Lebar Lajur 3,6 m/lajur 3,6 m/lajur

Jumlah Lajur (Tahap Awal) 2 x 2 lajur 2 x 2 lajur

Jumlah Lajur (Tahap Akhir) 2 x 4 lajur 2 x 3 lajur

Bahu Dalam 1m 1,5 m

Bahu Luar 3m 3m

Kecepatan Rencana 80 km/jam 120 km/jam

Tipe Perkerasan Rigid Rigid


35

Jumlah Simpang Susun 3 bh 3 bh

Damija 50 95 m 3,6 m/lajur

Jumlah Jembatan 63 buah

Sumber: PT. Wika (Persero), Tbk.

3. Organisasi dan Manajemen Industri/Perusahaan


Proyek merupakan kegiatan usaha yang kompleks,
sifatnya tidak rutin, memiliki keterbatasan terhadap
waktu, anggaran dan sumber daya, serta memiliki
spesifikasi tersendiri atas produk yang dihasilkan.
Pelaksanaan kegiatan dalam suatu proyek adalah proses
penggunaan tenaga, pikiran, dan penetapan metode yang
tepat untuk mencapai hasil pekerjaan yang sesuai dengan
tujuan yang diharapkan dengan mempertimbangkan
efesiensi dan efektifitas serta ketetapan waktu
pelaksanaan pekerjaan. Dengan adanya keterbatasan
waktu pelaksanaan mengerjakan sebuah proyek maka
sebuah organisasi proyek sangat dibutuhkan untuk
mengatur dan memanajemen proyek sehingga tujuan
dapat tercapai.
Organisasi merupakan sebuah tim yang terdiri dari
kesatuan yang utuh untuk mencapai tujuan yang telah
disepakati bersama, untuk itu dalam perencanaan sebuah
proyek diperlukan sebuah organisasi proyek yang
mewadahi pelaksanaan pengerjaan sebuah proyek mulai
dari tahap perencanaan awal. Adapun secara garis besar
struktur organisasi proyek pada proyek Jalan Tol
Surabaya-Mojokerto dapat diamati pada gambar 3.4
berikut:
36

Owner
PT. Jasa Marga
(Persero) Tbk

PIMPRO
Project Engineer
PT. Wika (Persero) Tbk

Konsultan Pengawas Kontraktor


KSO Dressa Badja PT. Wika (Persero) Tbk

Gambar 3.4 Struktur Organisasi Proyek

Tugas dari masing-masing pihak yang ada di


struktur organisasi tersebut adalah sebagai berikut:
a. Pemilik Proyek ( Owner )
1) Menyiapkan kerangka acuan (TOR) sebagai
dasar penyusunan studi kelayakan proyek,
2) Pengelolaan keuangan proyek,
3) Administrasi kontrak berupa penyusunan berita
acara kemajuan pekerjaan untuk pembayaran
angsuran dan berita acara lainnya yang berkaitan
dengan pekerjaan konstruksi,
4) Penerimaan hasil proyek yang telah selesai
dikerjakan oleh kontraktor.
5) Penyerahan hasil proyek dari pimpinan proyek
kepada departemen atau lembaga pemerintahan.

b. Konsultan Pengawas
1) Memeriksa dokumen kontrak yang akan
dijadikan dasar dalam tugas pengawasan.
37

2) Mengawasi pelaksanaan pemakaian material,


peralatan serta metode pelaksanaan, mengawasi
ketepatan waktu dan pembiayaan konstruksi.
3) Mengawasi pelaksanaan konstruksi dari aspek
kualitas, kuantitas, pencapaian volume pekerjaan
apakah sesuai denga kontrak yang disetujui.
4) Meneliti gambar-gambar yang sesuai dengan
pekerjaan yang dilaksanakan, sebelum serah
terima yang pertama.
5) Menyelenggarakan rapat-rapat lapangan secara
berkala, membuat laporan pekerjaan
pengawasan berkala mingguan dan bulanan
dengan masukkan hasil rapat lapangan serta
laporan-laporan pelaksanaan harian, mingguan
dan bulanan yang dibuat oleh kontraktor.

c. Kontraktor Pelaksana
1) Sebagai bertugas untuk mengubah dokumen
perencanaan menjadi keluaran-keluaran berupa
bangunan fisik.
2) Penyusunan value engineering change proposal
(VECP) untuk pekerjaan berdasarkan anjuran
yang telah ditetapkan.
3) Membuat dan menyusun as built drawing
sebelum serah terima pertama yang harus
disetujui konsultan pengawas dan diketahui oleh
konsultan perencana.
38

Struktur organisasi dari pihak kontraktor pelaksana


(PT. Wijaya Karya Persero. Tbk) dapat diamati pada
gambar 3.5 berikut:

Gambar 3.5 Struktur Organisasi Proyek Jalan Tol


Surabaya-Mojokerto Seksi 1B
39

Adapun tugas dan tanggung jawab masing-masing


personil adalah sebagai berikut (Sumber: PT. Wijaya
Karya):
a. Manager Project
1) Pimpinan tertinggi dalam suatu proyek dan
bertanggung jawab penuh atas dalam proyek.
2) Merencanakan strategi/metode yang akan
dipakai dalam melaksanakan pekerjaan.
3) Mengevaluasi hasil pelaksanaan di lapangan
berdasarkan gambar rencana proyek.
4) Merencanakan urutan pekerjaan dan jadwal
pelakanaan pekerjaan.

b. SHE (Safety, Healthy, Environtment)


1) Menjaga keamanan proyek sekaligus mengecek
keselamatan kerja para pekerja agar selalu patuh
terhadap peraturan yang ada dalam proyek.
2) Menerapkan dan mempromosikan program kerja
SHE.
3) Melakukan inspeksi rutin dan tindak lanjut
terhadap pekerja yang kedapatan tidak
mengindahkan peraturan SHE.
4) Melakukan diklat keamanan rutin.
5) Melaksanakan penilaian resiko dan kontrol pada
kegiatan situs.
6) Menyiapkan alat pelindung diri.
7) Pembuatan papan nama tentang keselamatan di
area situs.
8) Pengamanan alat berat yang akan keluar masuk
situs.
9) Pengamanan terhadap aktivitas yang ada di
bawah situs.
40

c. Engineering
1) Tugas Engineering adalah sebagai berikut:
a) Perencana perubahan struktur sesuai dengan
kondisi kerja yang ada dalam proyek.
Biasanya mengusulkan jalan keluar masalah
kepada konsultan perencana akibat adanya
struktur yang kurang baik atau tidak
mungkin dilaksanakan akibat sesuatu
permasalahan.
b) Membantu pejabat pelaksana teknis kegiatan
dalam penyelesaian administrasi kemajuan
proyek. Bantuan ini termasuk
mengumpulkan data proyek seperti
kemajuan pekerjaan, kujungan pekerjaan,
kunjungan lapangan, rapat-rapat koordinasi
di lapangan, data pengukuran kuantitas,
pembayaran pada kontraktor. Semua
dikumpulkan dalam bentuk laporan
kemajuan bulanan dan memberi saran-saran
untuk mempercepat pekerjaan serta
memberikan penyelesaian terhadap kesulitan
yang timbul baik secara teknis maupun
kontraktual untuk menghindari
keterlambatan pekerjaan.
c) Membantu dan memberikan petunjuk
kepada tim di lapangan dalam mencari
pemecahan atas permasalahan yang timbul
baik sehubungan dengan teknis maupun
permasalahan kontrak.
d) Melakukan pengecekan apakah pelaksanaan
pekerjaan di lapangan sudah sesuai dengan
gambar pelaksanaan atau shop drawing.
41

2) Tugas Surveyor adalah sebagai berikut:


a) Mengukur rencana pembangunan yang
meliputi titik as, sudut elevasi horizontal dan
vertical, mengecek ketegakan dan kelurusan
pekerjaan.
b) Melakukan dokumentasi situasi/geografis
lokasi yang akan dikerjakan.
c) Menyelidiki/mencari akses yang paling
mudah dan lancer menuju tempat lokasi
(berhubungan dengan mobilisasi alat berat).

3) Tugas Drafter adalah sebagai beriku:


a) Membuat gambar pelaksanaan atau gambar
shop drawing.
b) Menyesuaikan gambar perencana dengan
kondisi nyata di lapangan.
c) Menjelaskan gambar shop drawing kepada
pelaksana dan surveyor.

d. Quality Assurance
1) Tugas QC Engineer (pengendali mutu) adalah
sebagai beriku:
a) Membuat permintaan untuk pemeriksaan
atau pengetesan barang untuk intern
kontraktor maupun bersama dengan
konsultan pengawas atau owner untuk
memastikan material yang akan digunakan
sudah sesuai dengan kriteria yang
diinginkan pemilik proyek bangunan.
b) Membuat surat teguran atau menegur secara
langsung kepada pelaksana, sub kontraktor
atau mandor apabila terjadi penyimpangan
42

dalam pelaksanaan atau pengadaan material


yang mempengaruhi mutu hasil pekerjaan
dilapangan.
c) Melakukan pengecekan terhadap material
yang akan didatangkan maupun yang sudah
tiba di lokasi proyek untuk memberikan
status kepada bahan bangunan tersebut
apakah ditolak atau diterima setelah melihat
kualitas bahan.
d) Mengikuti jalannya pelaksanaan
pembangunan sehingga setiap
penyimpangan dalam pelaksanaan yang
dapat mengurangi mutu pekerjaan dapat
dicegah, hal ini lebih baik jika dibandingkan
perlakuan pengecekan pekerjaan pada hasil
akhir saja, sehingga apabila terjadi mutu
yang kurang baik harus dilakukan bongkar
pasang yang dapat menyebabkan biaya
tambahan.
e) Meminta contoh material atau brousur yang
berisi spesifikasi material bahan kepada
supplier sebelum melakukan pembelian
sehingga material terpilih sesuai dengan
standar kualitas yang dalam kontrak kerja.
f) Membuat laporan dan data-data yang
dibutuhkan perusahaan yang berhubungan
dengan pekerjaan quality control pada proyek
bangunan.

2) Tugas QC Inspector/Lab (Penjamin mutu) adalah


sebagai berikut:
43

a) Mengadakan tindakan-tindakan yang


dibutuhkan untuk memberikan kepercayaan
kepada semua pihak yang berkepentingan
(pelanggan) bahwa bahwa semua tindakan
yang dipergunakan untuk mencapai tingkat
mutu objek (produk) telah dilaksanakan
dengan berhasil.
b) Perencanan yang sistematis, merinci dan
menjabarkan pada setiap tahap proyek
langkah-langkah yang akan ditempuh untuk
mencapai sasaran mutu.
c) Penyusunan batasan dan kriteria spesifikasi
dan standart mutu yang akan dipergunakan
dalam desain engineering, pembelian material,
dan konstruksi.
d) Pembuatan prosedur pelaksanaan kegiatan
pengendalian mutu, yang meliputi
pemantauan, pemeriksaan, pengujian,
pengukuran, dan pelaporan hasil-hasilnya.

e. Danlat
1) Bertanggungjawab terhadap pengadaan alat dan
logistik proyek serta bertanggungjawab terhadap
mechanical electrical dalam proyek.
2) Identifikasi peralatan yang akan digunakan.
3) Pengadaan alat, bahan, serta pengelolaannya.
4) Bertanggungjawab atas operasi alat-alat.
5) Mendukung operasi dari pelaksanan lapangan.

f. Komersial
1) Bertanggung jawab terhadap pengadaan kontrak
kerja di proyek terhadap supliyer.
44

2) Membuat daftar rincian pekerjaan secara lengkap


berdasarkan gambar bestek proyek.
3) Melakukan perhitungan volume dari setiap item
pekerjaan.
4) Membuat analisa perhitungan dari setiap item
pekerjaan (yan terdiri dari bahan dan upah
pekerja).
5) Melakukan rekapitulasi (perhitungan total)
Rencana Anggaran Biaya (RAB) tersebut.
6) Membuat Time Schedule dan Kurva S, sebagai
acuan waktu pelaksanaan pekerjaan yang
berguna sebagai control waktu dan progress dari
setiap item pekerjaan pada sebuah proyek.
7) Ikut membantu dalam menyusun berkas
Penawaran Harga Borongan, yang biasanya
dibuat untuk owner dan Lelang Tender Proyek
Swasta atau Pemerintah.
8) Memberikan Data Informasi pada bagian
Pembelian (Purchasing), untuk membeli bahan
dan barang kebutuhan proyek di lapangan, baik
itu jumlah (quantity), jenis, merk, dan spesifikasi
barang yang hendak dibeli.
9) Melakukan kontrol terhadap pemakaian bahan
yang dilakukan di lapangan (proyek), apakah
sesuai dengan perhitungan semula atau tidak.
Memeriksa apabila ada terjadi selisih dan
mencari penyebabnya. Apabila ada keborosan
pemakaian bahan, sebaiknya ditindak lanjuti.
10) Melakukan kontrol terhadap pengeluaran biaya
upah kerja. Hal ini dilakukan dengan cara cross-
chek antara nilai progress kerja (poin 2) dan rekap
pengeluarkan gaji upah pekerja setiap minggu
45

atau bulannya. Apabila pengeluaran gaji upah


pekerja melebihi dari estimasi semula, maka
sebaiknya ditindak lanjuti juga.
11) Membuat berkas penagihan termin pembayaran
(termijn), yang biasanya berbentuk laporan
progress kerja. Penagihan termyn bias dibuat
berdasarkan prosentase proyek yang sudah
dikerjakan, misalnya 20%, 50%, dan sebagainya,
bias juga dibuat periodic setiap bulannya
(misalnya setiap awal bulan). Hal ini ditetapkan
pada kontrak kerja sebuah proyek.

g. Keuangan dan Administrasi


1) Mengurus keuangan terhadap kebutuhan proyek
selama berlangsungnya pembangunan baik
pemasukan dan pengeluaran secara umum.
Membuat laporan dalam bentuk harian,
mingguan, bulanan. Melakukan penagihan
terhadap pihak owner untuk membayar sesuai
kesepakatan pembayaran.
2) Melakukan seleksi atau perekrutan pekerja
diproyek untuk pegawai bulanan sampa
pegawai harian dengan spesialisasi keahlian
masing-masing sesuai dengan posisi organisasi
proyek yang dibutuhkan.
3) Pembuatan laporan keuangan atau laporan kas
bank proyek, kaporan pergudangan, laporan
bobot prestasi proyek, daftar hutang dan lain-
lain.
4) Membuat dan melakukan verifikasi bukti-bukti
pekerjaan yang akan dibayar oleh owner sebagai
pemilik proyek.
46

5) Melayani tamu-tamu intern perusahaan maupun


ekstern dan melakukan tugas umum.
6) Mengisi data-data kepegawaian, pelaksanaan,
asuransi tenaga kerja, menyimpan data-data
kepegawaian karyawan dan pembayaran gaji
serta tunjangan karyawan.
7) Membuat laporan akuntansi proyek dan
menyelesaikan perpajakan dan retribusi.
8) Mengurus tagihan kepada pemilik proyek atau
jika kontraktor nasional dengan banyak proyek
maka bertugas juga membuat laporan ke kantor
pusat serta menyiapkan dokumen untuk
permintaan dana ke bagian keuangan pusat.

h. Manajer Konstruksi
1) Bertanggungjawab terhadap semua kegiatan
pelaksanaan konstruksi di proyek.
2) Melaksanakan dan bertangungjawab atas
perencanaan pelaksanaan proyek.
3) Menetapkan, merundingkan dan menjamin atas
segala sesuatu yang dimobilisasi untuk
melaksanakan proyek.
4) Mengatur dan mengkoordinasikan seluruh
elemen yang terlibat dalam proyek.
5) Memonitor segala kegiatan dan melaporkan
progress dan permasalahan yang ada dalam
proyek.
6) Memberikan antisipasi atas permasalahan yang
terjadi dalam pelaksanaan proyek.
47

i. Pelaksana
1) Mengontrol proses pekerjaan dengan gambar
yang ada.
2) Mengecek hasil pekerjaan.
3) Melaksanakan seluruh tahapan pekerjaan sesuai
dengan gambar shop drawing yang sudah dibuat
bagian engineering dan disetujui konsultan
pengawas dan penyedia jasa pelaksanaan
pembangunan.
4) Melaporkan situasi pekerjaan ke Site Manager
apabila ada hambatan atau kendala.

4. Deskripsi Pelaksanaan Kegiatan Praktik Kerja Lapangan


Pelaksanaan kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL)
yang dilaksanakan mahasiswa merupakan suatu
pembelajaran nyata yang terkait dengan proses
pelaksanaan kerja nyata dilapangan. Dalam Praktik Kerja
Lapangan (PKL) ini, mahasiswa dituntut untuk
mengetahui hal-hal yang terkait dalam proyek
pembangunan ini, khususnya pelaksanaan pekerjaan
struktur bangunan. Hal-hal yang harus diketahui
diantaranya sebagai berikut :
a. Identitas Proyek
Adapun identitas proyek yang akan ditempati
Praktik Kerja Lapangan adalah sebagai berikut :
Nama Proyek : Pembangunan Jalan Tol
Surabaya-Mojokerto Seksi 1B
Alamat Proyek : Jl. Taman Indah 4 Waru,
Sidoarjo
Jenis Proyek : Pemerintah
Pemilik Proyek : PT. Jasa Marga (Persero) Tbk
48

Alamat Pemilik : Jl. Raya Taman, Plaza Tol Waru


& Ramp, Sidoarjo 61257
Nama Kontraktor : PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk
Alamat Kontraktor : Jl. Ah. Yani 176-178, Surabaya
Konsultan Pengawas : KSO Dressa Badja
Alamat Konsultan : Jl. Menanggal Utara D12 No. 60,
Surabaya

b. Ruang Lingkup Praktik Kerja Lapangan (PKL)


Ruang lingkup penyusunan laporan ini
berdasarkan pengamatan di lapangan dan di kantor
kontraktor pelaksana selama 400 jam kerja yang
dimulai dari tanggal 3 Oktober 2016 sampai dengan 2
Desember 2016 dan dilaksanakan mulai jam 08.00
sampai dengan jam 17.00 kecuali hari libur dan jadwal
kuliah. Laporan ini membahas tentang pengamatan
metode pelaksanaan proyek pembangunan Jembatan
Kali Surabaya Jalan Tol Surabaya-Mojokerto Seksi 1B
yang mencakup beberapa hal berikut:
1) Pengamatan secara langsung pada pelaksanaan
proyek Jembatan Kali Surabaya Jalan Tol Surabaya-
Mojokerto Seksi 1B.
2) Mengumpulkan data-data tentang proyek
pembangunan yang dilaksanakan, yang meliputi
data proyek atau lapangan dan data literatur atau
teori dari buku atau pustaka.
3) Pengamatan mengenai unsur-unsur yang terkait
dalam proses kegiatan pelaksanaan proyek.
4) Pengamatan kondisi lingkungan proyek.

Dengan adanya praktik kerja lapangan ini


mahasiswa diharapkan mendapatkan bekal dalam
praktik sebagai pelakasana, pengawas dan perencana
49

yang profesional ataupun pengembang pembangunan


jembatan jalan tol setelah menyelesaikan studinya
nanti. Laporan ini juga dilengkapi foto dan gambar
dari lapangan untuk memperjelas penulisan laporan,
serta hal-hal lainnya yang dapat mendukung
penyelesaian laporan ini sehingga menjadi laporan
yang mendekati kesempurnaan yang mempunai nilai
yang semaksimal mungkin.

c. Keterlibatan Mahasiswa dalam Proyek


Keterlibatan mahasiswa secara langsung dan tidak
langsung dalam sistem manajemen proyek, khususnya
pada bidang pekerjaan yang dikerjakan pada saat PKL
(Praktik Kerja Lapangan) berikut:
1) Mekanisme Perencanaan Pekerjaan
Perencanaan pekerjaan merupakan hal yang
paling mendasar dilakukan oleh
pelaksana/kontraktor sebelum melakukan proses
produksi. Konsultas perencana harus menetapkan
dan memelihara prosedur tertulis untuk
pengendalian semua cacatan kualitas yang
dibutuhkan untuk manajemen dari proses-proses.
Prosedur tertulis itu harus menetapkan untuk
keperluan identifikasi, penyimpanan,
pemeliharaan dan disposisi dari catatan kualitas.
Catatan kualitas diperlukan untuk
memberikan bukti kesesuaian terhadap
persyaratan-persyaratan dan efektifitas operasional
dari sistem manajemen pelaksanaan sebuah
pekerjaan sesuai standar kerja yang berlaku.
Mekanisme perencanaan pada tahap pekerjaan ini
sangat dibutuhkan untuk mengendalikan sumber
50

daya yang berkonstribusi di dalam proses


pelaksanaan proyek pembangunan Jalan Tol
Surabaya-Mojokerto.
Tahapan pelaksanaan proyek pembangunan
Jalan Tol Surabaya-Mojokerto dapat diamati pada
gambar flow chart berikut:

Mulai

Persiapan

Tidak Oke

Kontrol

Acc Owner dan Konsultan

Pelaksana

Tidak Oke

Kontrol

Oke

Pembayaran

Selesai

Gambar 3.6 Flow Chart Mekanisme Perencanaan


Pelaksanaan Proyek Pembangunan Jalan Tol
Surabaya-Mojokerto Seksi 1B
51

Dalam pelaksanaan proyek harus memiliki time


schedule untuk mengetahui adanya kemajuan dan
keterlambatan proyek sesuai rencana. Semua
pekerjaan yang telah dilakukan oleh pihak
kontraktor selama proyek berlangsung harus
tercatat dalam diagram kurva S supaya kontraktor
mengetahui seberapa jauh progress pada setiap item
pekerjaan yang tela dikerjakan apakah ada
kemajuan atau keterlambatan dari rencana awal
terhadap realisasi yang telah dilaksanakan di
lapangan. Untuk mengetahui perkembangan
progress pada seksi 1B dapat diamati pada gambar
berikut:

Gambar 3.7 Diagram Kurva S

Mahasiswa dalam tahapan ini terlibat langsung


dalam pelaksanaan pekerjaan. Mahasiswa
melakukan pengamatan pada proses pelaksanaan
pekerjaan struktur di lapangan. Mahasiswa
52

melakukan pengamatan selama proses


pelaksanaan pekerjaan, pengamatan ini dilakukan
dengan cara melihat langsung ke lapangan dengan
melakukan wawancara (interview) kepada
pelaksana di lapangan.

2) Spesifikasi Produk
Pengamatan serta wawancara terhadap
spesifikasi umum pelaksanaan pekerjaan erection
girder proyek Pembangunan Jembatan Kali
Surabaya Jalan Tol Surabaya-Mojokerto antara lain
sebagai berikut:
Produk : Balok PC - I
Panjang Balok : 46 m
Jumlah Segmen : 7 segmen
Tinggi Balok : 2,1 m
Mutu Beton : K-800
Jumlah Tendon :5
Jenis Strand : Uncoated 7 wiresuper
strands ASTM A-416 grade-270
Diameter Strand : 12,7 mm
Tegangan Putus : 18950 kg/cm2

3) Kebutuhan Sumber Daya


Pengamatan, observasi dan wawancara
terhadap sumber daya yang dibutuhan dalam
proyek Pembangunan Jembatan Kali Surabaya
Jalan Tol Surabaya-Mojokerto ini terdiri dari
beberapa sumber daya, antara lain sebagai berikut :
a) Tenaga Kerja (Man)
Tenaga kerja pada proyek Pembangunan
Jalan Tol Surabaya-Mojokerto adalah semua
53

pekerja di kantor dan di lapangan meliputi


anggota dalam sistem organisasi proyek dan
semua tenaga kerja yang berkonstribusi di
lapangan. Adapun sumber daya manusia
(tenaga kerja) lapangan untuk pelasksanaan
pekerjaan Jembatan Kali Surabaya adalah
sebagai berikut:
Pelaksana Utama : PT.Wika (Persero), Tbk.
Pelaksana Stressing : PT. Wika Beton
Pelaksana Launching : PT. Jatra Sejahtera
Pelaksana Erection : PT. Jatra Sejahtera
Pengawas Pengawas : KSO Dressa Badja

b) Sumber Dana (Money)


Uang (money) adalah sumber daya yang
berasal dari biaya operasional selama proses
pelaksanaan dari awal hingga akhir. Sumber
dana pada proyek Pembangunan Jalan Tol
Surabaya-Mojokerto tidak dapat dipublikasikan,
adapun komposisi pemegang saham berdasarkan
RUPSLB tanggal 1 April 2009 adalah sebagai
berikut:
PT. Jasa Marga
(Persero) Tbk PT. Moeladi

55 % 25 %

PT. Wijaya Karya


(Persero) Tbk
20 %

Gambar 3.8 Komposisi Pemegang Saham Proyek


Jalan Tol Surabaya-Mojokert
54

c) Peralatan (Machine)
Peralatan yang digunakan untuk
mendukung pengerjaan proyek Jalan Tol
Surabaya Mojokerto adalah sebagai berikut:
Truk Trailler

Gambar 3.9 Truk Trailler


Mobile Crane

Gambar 3.10 Mobile Crane


Launcher

Gambar 3.11 Launcher


55

Portal 3 Kaki

Gambar 3.12 Portal 3 Kaki

Hidrolik Jack

Gambar 3.13 Hidrolik Jack

Katrol

Gambar 3.14 Katrol


56

Dongkrak Hidrolik

Gambar 3.15 Dongkrak Hidrolik

Genset

Gambar 3.16 Genset

Stressing Jack

Gambar 3.17 Stressing Jack


57

Stressing Pump

Gambar 3.18 StressingPump


Gurinda Potong

Gambar 3.19 Gurinda Potong


Grouting Pump

Gambar 3.20 Grouting Pump


58

d) Bahan (Material)
Pada proyek Pembangunan Jembatan Kali
Surabaya Jalan Tol Surabaya-Mojokerto ini
digunakan material-material dalam
pelaksanakan pekerjaan erection balok PCI girder,
antara lain sebagai berikut :
Balok PC-I Girder

Gambar 3.21 Balok PC-I Girder


Kawat Strand

Gambar 3.22 Kawat Strand


Solasi dan Stemplet

Gambar 3.23 Stempet


59

Lem Beton
(a) (b)

Gambar 3.24 Lem Beton (a) Cardolyt; (b)


Epoxy
Semen

Gambar 3.25 Semen


Intrapast

Gambar 3.26 Intrapast


60

Pasir, Kerikil dan Air

Gambar 3.27 Pasir, Kerikil dan Air

e) Metode (Method)
Metode yang di gunakan dalam pekerjaan
erection girder balok PCI girder Jembatan Kali
Surabaya ini adalah dengan menggunakan
metode Launcher. Adapaun secara garis besar
pelaksanaan erection girder di lapangan adalah:
1) Stressing Girder
2) Launching Girder
3) Erection Girder

4) Standarisasi dan Kendali Mutu


Pelaksanaan pekerjaan Jembatan Kali Surabaya
Jalan Tol Surabaya-Mojokerto ini dikerjakan sesuai
dengan proposal yang telah dibuat berdasarkan
literatur yang ada, diajukan oleh PT. Wika Beton
kemudian diterima oleh pihak PT. Wika selaku
kontraktor pelaksana, dan disetujui oleh pengawas
dari KSO Dressa Badja.
61

1) Sertifikat No. 33/WB.2F/TM/III/2016 Balok


Jembatan I Segmental dari PT.Wika Beton yang
berisi tentang:
Spesifikasi Produk
Tes Analisa Kimia Air
Sertifikat Test Semen Type I
Sertifikat Viscocrete 7080 HE 1210
Hasil Pengujian Material Pasir dan Slip
Sertifikasi Besi Polos dia. 8,0 mm
Sertifikasi PC Strand dia. 12,7 mm
Sertifikasi Besi Ulir dia. 13,0 mm
Sertifikasi Besi Ulir dia. 16,0 mm
Sertifikasi Besi Ulir dia. 32,0 mm
Evaluasi Mutu Beton

2) Proposal Stressing PCI-Girder Post Tension


Segmental Angkur Hidup Angkur Hidup dari
PT. Wika Beton yang berisi tentang:
Metode Stressing
Analisa Stressing
Tabel Stressing
Tahapan Stressing
Pressure Gauge Calibration Certificate
From Stressing
Komposisi Grouting

5) Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)


Menggunakan APD saat di lingkungan proyek,
seperti yang terlihat pada gambar 3.28 berikut:
62

Helm Safety

Rompi Safety

Sepatu Safety

Gambar 3.28 Contoh Penggunaan APD

Mengidentifikasi bahaya, penilaian, dan


pengendalian resiko (hirarc) pada pekerjaan
erection girder, antara lain sebagai berikut:
1. Crane tergelincir/terguling saat melakukan
pengangkatan/erection.
2. Crane swing sendiri tanpa operator.
3. Girder yang sudah diletakkan
diabutmen/pier terguling ke bawah.
4. Girder jatuh dari atas pierhead karena
tersangkut sling crane ketika swing.
5. Terhirup fumes pengelasan (keracunan
logam)
6. Cahaya pijar pengelasan (iritasi mata)
7. Sparks (luka bakar)

Melaksanakan program kerja SHE yang telah


disusun, salah satunya yaitu safety morning talk
seperti pada gambar 3.29 dan 3.30 berikut:
63

Gambar 3.29 Safety Morning Talk di Kantor

Gambar 3.30 Safety Morning Talk di Lapangan

Spanduk dan Rambu-rambu proyek

Gambar 3.31 Spanduk K3 di lapangan


64

Gambar 3.32 Spanduk K3 di Launcher

Gambar 3.33 Tempat Sampah di Lapangan

Gambar 3.34 Rambu Police Line dan Safety Net


65

Pengadaan APAR

Gambar 3.35 APAR

5. Faktor-Faktor Pendukung dan Penghambat


a. Faktor-Faktor Pendukung
Faktor yang mendukung selama praktik kerja
lapangan, antara lain :
1) Adanya perhatian dari pihak kontraktor kepada
mahasiswa, sehingga mahasiswa mendapat
kemudahan untuk mendapatkan data dan
informasi yang dibutuhkan.
2) Terciptanya komunikasi yang baik di lapangan,
dalam hal diskusi ataupun pertanyaan yang
diajukan selalu dilayani dengan baik selama
tidak mengganggu kesibukan pelaksana.
3) Suasana kerja yang ramah dan menyenangkan,
sehingga menimbulkan rasa kekeluargaan.
4) Kebebasan untuk bertanya dan
mendokumentasikan setiap pekerjaan.
66

b. Faktor-Faktor Penghambat
Faktor yang dinilai dapat menghambat praktik
kerja lapangan, antara lain:
1) Ketika Praktik Kerja Lapangan (PKL) sering
terjadi hujan karena waktu pelaksanaan proyek
bertepatan pada musim hujan, sehingga sedikit
terganggu.
2) Kurangnya kesadaran para pekerja proyek dalam
penggunaan alat keselamatan kerja.
67

B. PEMBAHASAN
1. Tinjauan Umum
Balok jembatan mempunyai fungsi sebagai pemikul
beban bergerak (kendaraan, mobil, kereta api, dan
manusia). Balok ini dapat dibuat dari beton, baja, atau
kayu. Tetapi dalam metode pelaksanaan jembatan Kali
Surabaya proyek Tol Surabaya-Mojokerto ini
menggunakan balok beton yaitu Precast Concrete type I.
PCI girder dipesan oleh PT.Wika (Persero) Tbk dan
diproduksi oleh PT.Wika Beton Tbk, dengan
spesifikasinya adalah balok girder type I dengan H=2.10
cm, L=46.00 m dan mutu beton K-800. Precast Concrete
type I merupakan bentuk yang paling banyak digunakan
untuk pekerjaan balok jembatan. Profil PCI girder
berbentuk penampang I dengan penampang bagian
tengah lebih langsing dari bagian pinggirnya. PCI girder
merupakan penampang yang ekonomis karena PCI
girder mempunyai penampan yang lebih kecil dibanding
dengan girder lainnya.

2. Metode Pelaksanaan
Lingkup kerja balok girder ini adalah pekerjaan atas
sebuah jembatan, yang meliputi pekerjaan stressing girder,
launching girder, dan erection girder. Jembatan Kali
Surabaya membunyai panjang bentang 46 m dan lebar
19,3 m. Metode pelaksanaan erection PCI girder jembatan
Kali Surabaya adalah sebagai berikut:
a. Distribusi Girder
1) Pemesanan
PT. Wika mengirim pesanan produk berupa
balok PCI girder sesuai spesifikasi ke PT. Wika
Beton. Selanjutnya dilakukan proses produksi
68

dan pengujian. Pengujian dilakukan untuk


mengetahui mutu beton dan strand, selain itu
juga untuk mengetahui kualitas material lain
penyusunnya. Pemesanan produk disesuaikan
dengan surat pemesan seperti gambar 3.36 (a),
dan pengerjaan girder disesuaikan dengan
proposal stressing seperti pada gambar 3.36 (b):
(a) (b)

Gambar 3.36 Proposal Order (a) Surat Pemesanan


PCI Girder; (b) Proposal Stressing PCI Girder

2) Proses Distribusi
Setelah hasil uji memenuhi syarat dan
ketentuan yang telah ditentukan, balok siap
untuk didistribusikan ke lokasi proyek. Balok
diangkut menggunakan truk trailler. Setiap
trailler mampu mengangkut 3 atau 4 segmen
balok. Hal tersebut dapat diamati seperti gambar
3.37 daqn 3.38 berikut:
69

Gambar 3.37 Distribusi Girder dengan Menggunakan


Truk Trailler

Gambar 3.38 Distribusi Girder ke Lokasi Proyek

3) Surat Jalan Truk


Setiap pendistribusian PT. Wika Beton selalu
menyertakan surat jalan pada setiap truk. Surat
jalan merupakan tanda bukti jika pesanan telah
diantar dan diterima oleh pihak pemesan dalam
hal ini yaitu PT.Wika. Surat jalan terdiri dari 3
rangkap, yaitu kertas berwarna merah muda,
kertas berwarna biru, dan kertas berwarna putih.
Adapun form surat jalan adalah sebagai berikut:
70

(a) (b)

Gambar 3.39 Surat Jalan Pengantaran Barang


(a) Strand; (b) Balok Segmental Girder

Gambar 3.39 (a) merupakan surat jalan untuk


balok PCI girder. Adapun surat jalan pengantar
balok girder berisi tentang:
Nomor Urut Balok
QC dari pihak PT. Wika mengontrol
nomor urut balok, urutan segmen
berdasarkan nomor urut segmen. Biasanya
dalam satu truk belum tentu mengangkut
nomer urut balok yang sama, jadi harus di
cek dan di atur sedemian rupa sehingga
mempermudah dalam proses penurunan
balok girder.
Keterangan Kondisi Balok
QC dari pihak PT. Wika mengontrol
kondisi produk apakah dalam kondisi baik
atau cacat dan berhak mengembalikan
produk jika dinilai cacat dan dapat
mengurangi kekuatan produk tersebut.
71

Gambar 3.39 (b) merupakan surat pengantar


barang untuk kawat strand. Adapun surat jalan
pengantar strand berisi tentang:
Jumlah Strand
QC dari pihak PT. Wika mengontrol
jumlah lonjor dan panjang strand untuk
setiap tendonnya. Strand untuk setiap tendon
diberi tanda warna cat yang berbeda, hal ini
menghindari kesalahan pada saat install
strand.
Keterangan lainnya
QC dari pihak PT. Wika harus
mengamati keterangan cacatan pada surat,
sehingga tidak terjadi kesalahan selama
proses pengiriman barang. selain itu, harus
diperhatikan keterangan nomor balok untuk
menghindari strand tertukar dengan balok
lain.

b. Penurunan Girder
Proses penurunan girder pada proyek ini, pihak
kontraktor yaitu PT. Wika bekerjasama dengan
Subkontraktor PT. Jatra Sejahtera. Adapun proses
pelaksanaan penurunan girder adalah sebagai
berikut:
1) Persiapan Tumpuan
Pekerjaan penurunan girder di awali dengan
menyiapkan tumpuan balok. Tumpuan balok
berguna untuk mengatur elevasi balok sehingga
mempermudah pada saat proses stressing dan
launching balok PCI girder. Lokasi stressing harus
diusahakan sedatar mungkin agar tidak
72

menyebabkan girder mengalami perpindahan


dalam arah lateral. Proses perletakan tumpuan
dilapangan seperti pada gambar 3.40 berikut:

Gambar 3.40 Perletakan Tumpuan

Tumpuan balok terdiri dari 2 jenis, yaitu:


Tumpuan Bed Stressing
Tumpuan ini terbuat dari balok beton
yang bersifat tetap dan hanya diletakkan di
ujung balok saja. Tumpuan ini digunakan
acuan pada saat levelling, sehingga
kemiringan horizontal balok tetap terjaga.
Tumpuan Balok Kayu
Setiap balok kayu rata-rata berukuran
10/18 dengan panjang 1 m ini disusun
sedemian rupa sehingga elevasinya sama
dengan tumpuan bed stressing. Tumpuan ini
bersifat sementara dan akan dipindahkan
saat proses stressing girder selesai.

Posisi perletakan kedua jenis tumpuan ini dapat


diamati pada gambar 3.41 berikut:
73

Bed Stressing Balok Kayu

Gambar 3.41 Tumpuan Balok Girder

2) Penurunan Balok Girder


Setelah tumpuan diletakkan pada posisi
yang dianggap tepat, selanjutnya balok
diturunkan sesuai nomor urutnya. Penurunan
balok ini menggunakan mobile crane berkapasitas
35 ton dengan safety factor 2%. Proses ini dapat
diamati pada gambar berikut:

Gambar 3.42 Proses Penurunan Girder


Menggunakan Mobile Crane
74

Gambar 3.43 Proses Perletakan Girder sesuai dengan


Nomor Urut Segmen Balok

Gambar 3.44 Perletakan Balok Sesuai Nomor Urut


Balok dan Nomor Urut Segmen Balok
Balok diletakkan secara zig-zag, hal ini
bermaksud untuk menyesuaikan dengan
kapasitas struktur integral bridge sehingga tidak
75

mengalami over load. Hal ini dapat diamati pada


gambar 3.45 berikut:
1 2 3 4 5 6

Gambar 3.45 Peletakan Balok Girder di Lapangan

Selain itu, perletakan jarak antar balok juga


harus diperhatikan. Hal ini bertujuan untuk
mempermudah pekerjaan selanjutnya dan ruang
untuk mobilitas proyek harus tetap diperhatikan.
Adapun jarak rata-rata untuk perletakan balok
antar segmen dapat diamati pada gambar
berikut:

Gambar 3.46 Pengaturan Jarak Antar Segmen


Saat Proses Penurunan Girde
76

(a) 20-30 cm (b) 15-20 cm

Gambar 3.47 Pengaturan Jarak di Lapangan (a)


Jarak Perletakan Antar Balok; (b) Jarak
Perletakan Antar Segmen

c. Levelling
Pekerjaan levelling dilakuakan oleh PT. Jatra
Sejahtera, pekerjaan ini bertujuan mengatur elevasi
balok girder. Balok girder yang terdiri dari 7 segmen
ini harus diluruskan untuk mempermudah proses
install strand dan stressing girder. Pekerjaan levelling
ada dua macam, yaitu adalah:
Levelling Horizontal
Levelling horizontal dilakukan dengan
menggunakan tali senar atau benang yang
ditarik dari ujung sampai ujung balok. Jika balok
tidak dalam kondisi lurus secara horizontal maka
akan mempengaruhi proses stressing girder.
Kontrol kelurusan horizontal tampak pada
gambar 3.48 berikut:
77

Gambar 3.48 Benang Levelling Horizontal

Setelah itu, balok yang belum lurus di setting


menggunakan dongkrak hidrolik berkapistas 30
ton. Biasanya beberapa segmen balok dibagian
tengah masih ada yang belum lurus, hal ini
disebabkan peletakan balok yang kurang tepat
pada saat proses penurunan, operator masih
kurang berpengalaman atau karena mobile crane
yang sudah tidak layak guna. Proses setting
horizontal balok dapat diamati pada gambar 3.49
berikut:

Gambar 3.49 Setting Levelling Horizontal Balok


Menggunakan Dongkrak Hidrolik 30 ton
78

Levelling Vertikal
Levelling vertikal dilakukan dengan
menggunakan tali senar atau benang yang
ditarik pada tepi atas dan diberi pemberat
dibawahnya. Jika pada pekerjaan launching girder
terjadi guling atau elevasi kemiringan yang tidak
sama dapat dikontol melalui benang ini, seperti
yang tampak pada gambar 3.50 berikut:
(a) (b)

Gambar 3.50 Levelling Vertikal Balok (a) Benang


Levelling Vertikal; (b) Kontrol Kemiringan Balok
Menggunakan Benang Levelling Vertikal

Setelah benang senar di pasang, balok yang


masih miring di setting menggunakan dongkrak
hidrolik berkapasitas 30 ton dan diberi triplek
untuk menyamakan kelurusannya. Kondisi
tersebut tampak pada gambar 3.51 berikut:
79

Gambar 3.51 Setting Levelling Vertikal Balok


Menggunakan Dongkrak Hidrolik 30 ton

d. Install Strand
Pekerjaan install strand dilakukan oleh PT. Wika
Beton. Pekerjaan ini dilakukan setelah setting levelling
selesai dan dilakukan berdasarkan proposal yang
telah disetujui oleh pihak kontraktor. Adapun
pelaksanaan pekerjaannya sebagai berikut:

1) Persiapan
Tim Stressing dari PT. Wika Beton memulai
pekerjaan dengan mengamati stressing order
mengenai balok dengan nomor urut berapa yang
akan dikerjakan, berapa jumlah strand setiap
tendon dan berapa panjang strand setiap
tendonnya. Hal ini juga dapat diamati pada
surat jalan strand. Terdapat keterangan tanda
warna cat strand untuk setiap tendonnya dan
juga panjang strand untuk setiap tendonnya, hal
ini dapat dilihat pada gambar 3.52 berikut ini:
80

(a) (b)

Gambar 3.52 Kawat Strand di Lapangan (a) Kawat Strand


Cat Warna Merah; (b) Kawat Strand Cat Warna Biru

Strand yang sudah diatur sesuai nomor balok


kemudian dipindahkan ke tempat install strand
balok, seperti pada gambar 3.53 berikut:

Gambar 3.53 Pemindahan Kawat Strand Ke


Tempat Install Strand Balok

Strand yang akan diinstall dibagi dan diatur


untuk setiap tendonnya sesuai dengan stressing
order, seperti pada gambar 3.54 berikut:
81

C1 = Strand Warna Biru


L = 48,20 meter 19 Lonjor

C2 = Strand Warna Merah


L = 49,10 meter 19 Lonjor

C3 = Strand Warna Merah


L = 46,20 meter 19 Lonjor

C4 = Strand Polos
L = 46,00 meter 19 Lonjor

C5 = Strand Polos
L = 46,00 meter 19 Lonjor

Gambar 3.54 Strand Pada Setiap Tendon

2) Proses Install Strand


Install Strand adalah proses memasukkan
strand ke tendon sesuai dengan stressing order.
Strand yang sudah disiapkan kemudian diurai
lonjoran dan diatur untuk setiap tendon. Setiap
tendon yang berisi 19 kawat strand tidak bisa
dilakukan penginstallan sekaligus. Caranya
adalah dengan mengambil 3 sampai dengan 5
lonjor kawat strand kemudian di solasi untuk
menyatukan ujungnya. Setelah itu diberi stempet
yang berfungsi sebagai pelicin untuk
82

memudahkan proses install strand. Hal ini


tampak seperti gambar 3.55 berikut:

Gambar 3.55 Pemberian Solasi dan Stempet


Sebagai Pelicin Install Strand

Setelah pemberian stempet dirasa cukup,


strand kemudian pelan-pelan dimasukkan ke
dalam tendon seperti gambar 3.56 dibawah ini:

Gambar 3.56 Proses Install Strand

Pekerjaan di atas diulang hingga strand yang


diinstall sesuai dengan jumlah kebutuhan
disetiap tendon berdasarkan stressing order.
83

e. Stressing Girder
Pekerjaan stressing girder dilakukan oleh PT.
Wika Beton dan dibantu oleh PT. Jatra Sejahtera.
Pekerjaan ini dilakukan setelah install strand selesai
dan dilakukan berdasarkan stressing order yang telah
disetujui oleh pihak kontraktor. Adapun proses
pelaksanaan sebagai berikut:
1) Persiapan
Pekerjaan persiapan yang dilakukan sebelum
stressing girder dilakukan adalah sebagai berikut:
Menyiapkan peralatan yang dibutuhkan

Gambar 3.57 Pemasangan Katrol Chen Block

Gambar 3.58 Proses Stressing di Lapangan


84

Pemasangan block yang berfungsi untuk


menahan tekanan dari jaw, seperti pada
gambar berikut:

Gambar 3.59 Block


strand block

Gambar 3.60 Pemasangan Block

Block ini bersifat permanen, dan tidak akan


terlihat dari luar karena nantinya akan di
tutup pada saat patching.

Pemasangan Jaw yang berfungsi sebagai


pengunci pada saat stressing jack dilepas,
seperti pada gambar berikut:
85

Gambar 3.61 Jaw

Gambar 3.62 Pemasangan Jaw

Jaw ini bersifat permanen, dan tidak akan


terlihat dari luar karena nantinya akan di
tutup pada saat patching, seperti pada
gambar 3.63 berikut:

Block Strand Jaw

Gambar 3.63 Block dan Jaw Setelah Dipasang


86

Pemasangan Temporary Block yang berfungsi


untuk memaksimalkan tekanan yang
diberikan Stressing Jack kepada Jaw, seperti
pada gambar berikut:

Gambar 3.64 Temporary Block

Gambar 3.65 Pemasangan Temporary Block

Temporary block ini bersifat sementara dan


akan dilepas setelah proses streesing selesai.

Pemasangan Pendorong yang berfungsi


untuk memaksimalkan tekanan yang
diberikan oleh stressing jack, seperti pada
gambar berikut:
87

Gambar 3.66 Pendorong

Strand Temporary Block Pendorong

Gambar 3.67 Pemasangan Pendorong


Pendorong ini bersifat sementara dan dapat
dilepas setelah proses streesing girder selesai.

Pemasangan Stressing Jack yang berfungsi


menarik strand dengan perpanjangan piston
yang digunakan maksimal 20 cm, dan
pemasangan Stressing Pump yang berfungsi
untuk memompa minyak ke dalam Stressing
Jack, seperti pada gambar berikut:
88

Gambar 3.68 Stressing Jack

Gambar 3.69 Pemasangan Stressing Jack

Gambar 3.70 Stressing Pump


89

Gambar 3.71 Pemasangan Slang Stressing Pump

Stressing Jack akan dilepas setelah proses


stressing girder selesai, sedangkan slang
stressing pump tidak perlu dilepas.

Pemasangan Temporary Block dan Temporary


Jaw
Pemasangan temporary block berfungsi
untuk menahan perpanjangan piston akibat
adanya tekanan dari stressing jack, sedangkan
temporary jaw berfungsi untuk mengunci
temporary block agar tidak mengalami
perubahan posisi saat proses stressing. Hal ini
dapat diamati pada gambar berikut:

Gambar 3.72 Pemasangan Temporary Block


90

Block Stressing Jack Strand

Pendorong Temporary Block Temporary Jaw


Gambar 3.73 Pemasangan Temporary Jaw

2) Pengeleman
Pekerjaan pengeleman dilakukan setelah
proses persiapan selesai. Pengeleman berfungsi
untuk merapatkan segmen-segmen balok
sehingga menjadi satu balok utuh. Bahan untuk
pengeleman seperti pada gambar 3.74 berikut:
(a) (b)

Gambar 3.74 Pencampuran Lem Beton (a)


Cardolit; (b) Epoxy

Kedua bahan tersebut dicampur dengan


perbandingan 1:1. Cardolit berfungsi sebagai zat
hardener atau pengental, sedangkan epoxy sebagai
91

zat perekat. Lem beton dioleskan ke seluruh


celah-celah segmen balok, seperti yang terlihat
pada gambar 3.75 berikut:

Gambar 3.75 Proses Pengeleman

3) Proses Stressing Girder


Setelah proses persiapan dan pengeleman
sudah selesai, maka balok girder siap untuk
dilakukan penyatuan balok dan stressing girder.
Stressing dilaksanakan berdasarkan stressing order
yang telah disetujui dari pihak kontraktor.
Adapun proposal stressing order seperti pada
gambar 3.76 dibawah ini:

Gambar 3.76 Stressing Order


92

Proposal stressing order adalah acuan yang


digunakan untuk melaksanakan stressing, dan di
dalamnya terdapat urutan tahapan stressing. Jika
pelaksanaan tidak sesuai maka bisa
mengakibatkan berkurangnya kekuatan balok
girder yang telah direncanakan. Selain itu hal
penting yang perlu diperhatikan adalah note
pada proposal stressing order. Jika terdapat
keterangan batas toleransi perpanjangan 7%
untuk posttension maka artinya jika cara
penarikan strand baja dilakukan secara posttension
maka perpanjangan yang di izinkan terjadi pada
interval 7% dari perpanjangan rencana.
Batas perpanjangan maksimal piston pada
jacking force adalah 20 cm. Maka jika penarikan
yang dilakukan belum memenuhi nilai
perpanjangan dan nilai gaya rencana maka
dilakukan release atau penarikan ulang pada
tendon yang sama. Kemudian dilakukan balance,
yaitu penarikan pada ujung girder disisi yang
satunya yang bertujuan sebagai penyeimbang.

f. Patching
Patching adalah proses penempelan atau
penutupan angkur strand yang terdapat pada kedua
sisi balok girder yang sudah di stressing dengan
menggunakan beton. Pelaksanaan patching
dikerjakan oleh PT. Jatra Sejahtera. Pekerjaan ini
bertujuan untuk menutup block dan jaw agar
terhindar dari korosi. Adapun prosesnya adalah
sebagai berikut:
93

1) Pemotongan Strand
Strand dipotong menggunakan gurinda
potong dengan memberi perpanjang 3 cm dari
ujung pengangkuran. Proses pemotongan strand
seperti pada gambar 3.77 berikut:

Gambar 3.77 Pemotongan Strand Menggunakan


Gurinda Potong

2) Memasukkan Slang Grouting 3/4, lubang slang


dapat diamati pada gambar 3.78 berikut:

Gambar 3.78 Slang 3/4 pada Lubang Grouting


94

3) Pemasangan Bekisting Patching


Bekisting terbuat dari triplek tebal 0,7 mm,
balok kayu berdimensi rata-rata 2,5 x 4,5 cm, dan
lebar bekisting 61 cm. Bekisting dirakit
menggunakan kawat bendrat dan dibuat
sedemikian rupa sehingga kuat, ekonomis,
mudah dibongkar dan dapat memberi bentuk
yang baik. Proses pemasangan bekisting dapat
diamati pada gambar 3.79 berikut:

Gambar 3.79 Pemasangan Bekisting Patching

4) Pembuatan Material Patching


Material patching terbuat dari perbanding
campuran 1 pasir + 1 semen + 1 kerikil dan air
secukupnya. Material patching yang dibuat tidak
perlu diambil sample untuk diuji mutunya karena
fungsinya hanya sebagai penutup angkur dan
kualitasnya tidak mempengaruhi kekutan girder.
Material ini dibuat langsung di lapangan secara
manual seperti gambar 3.80 berikut:
95

Gambar 3.80 Pembuatan Material Patching

5) Penuangan Material Patching


Material patching yang sudah dibuat
kemudian dituang ke dalam cetakan bekisting
dengan menggunakan ember. Proses ini dapat
diamati pada gambar 3.81 berikut:

Gambar 3.81 Penuangan Material Patching ke


dalam Cetakan Bekisting

6) Bongkar Bekisting Patching


Bekisting dibongkar setelah cetakan
dibiarkan selama kurang lebih 24 jam, seperti
pada gambar 3.82 berikut:
96

Gambar 3.82 Pembongkaran Bekistig Patching

g. Grouting
Pekerjaan grouting dikerjakan oleh PT. Wika
Beton, pekerjaan ini bertujuan untuk menutup
rongga yang terdapat pada tendon agar strand
terhindar dari korosi. Adapun proses pengerjaannya
adalah sebagai berikut:
1) Persiapan
Siapkan bahan yang dibutuhkan untuk membuat
material grouting, yaitu seperti pada gambar
berikut:
Semen

Gambar 3.83 Semen


97

Intraplast

Gambar 3.84 Intraplast


Air

Gambar 3.85 Air


Setelah itu, masukkan seluruh bahan ke dalam
tangki. Perbandingan bahan grouting adalah 50
kg semen + 25 liter air + 1 bungkus interplast.
Inteplast berfungsi sebagai pengembang agar
campuran tidak menggumpal. Bahan grouting
diambil sample untuk dilakukan uji mutu,
seperti pada gambar berikut:

Gambar 3.86 Benda Uji Bahan Grouting


98

Tangki Road Pump

Gambar 3.87 Proses Pencampuran Material Grouting

2) Proses Grouting
Setelah pekerjaan persiapan selesai, proses
selanjutnya adalah memasukan material ke
dalam slang grouting, pemberian tekanan
tertentu dengan grouting pump sehingga material
grouting dapat mengalir masuk ke slang.
Lakukan proses grouting sampai material
grouting keluar dari slang kontrol yang ada di
ujung balok, seperti yang terlihat pada gambar
3.88 berikut:

Slang Grouting 3/4

Slang Kontrol

Material Masuk ke
Slang Grouting

Gambar 3.88 Proses Grouting


99

Setelah itu, kunci slang grouting dan slang


kontrol dengan menggunakan kawat bendrat
dan catut seperti pada gambar 3.89 berikut:

Gambar 3.89 Kunci Slang Grouting dengan


Bendrat

3) Kontrol Chamber
Balok girder didiamkan dan ditunggu
selama 2X24 jam setelah proses grouting selesai.
Lalu kemudian dilakukan kontrol chamber
dengan menggunakan waterpass. Kontrol chamber
dilakukan untuk mengetahui beda elevasi antara
tepi balok dan as balok akibat adanya pengaruh
stressing girder, seperti pada gambar berikut:

Gambar 3.90 Kontrol Chamber 1 pada Tepi Balok


100

Gambar 3.91 Kontrol Chamber 2 pada As Balok

Gambar 3.92 Kontrol Chamber 3 pada Tepi Balok

h. Erection Girder
Erection PCI girder adalah suatu kegiatan
pemasangan balok PCI girder ke atas tumpuannya.
Titik tumpu atau dudukan yang digunakan pada
proyek pembangunan jembatan Kali Surabaya Jalan
Tol Surabaya-Mojokerto berupa bearing pad.
Pertimbangan penting yang perlu diperhatikan
adalah metode pemasangan yang dapat diterapkan
secara mudah sesuai dengan kondisi lapangan,
karena penentuan metode ini secara langsung
101

berkaitan erat dengan biaya operasi yang


dikeluarkan, waktu yang digunakan serta
kemudahan dalam pelaksanaannya.
Pada proyek ini, pelaksanaan erection girder
menggunakan metode launcher. Launcher girder bukan
metode erection yang paling murah dalam
pembangunan jembatan karena launcher girder
membutuhkan banyak analisis, keahlian dan alat
khusus dalam pelaksanaannya. Namun metode ini
menjadi harus digunakan karena hal berikut:
1) Memberi sedikit dampak buruk bagi lingkungan.
2) Hanya memerlukan sedikit area dalam
pengerjaannya, melihat kondisi jembatan Kali
Surabaya yang dibangun di atas sungai dan
pemukiman padat penduduk.
3) Tidak menutup akses jalan masyarakat yang
berada dibawah tempat pelaksanan erection,
karena launcher tidak diletakkan dibawah area
proyek.
4) Launcher dapat digunakan untuk untuk area
yang terbatas dan atau karena keterbatasan akses
seperti erection yang harus dilakukan di atas Kali
Surabaya akses mobilisasi proyek yang terbatas.
Pelaksanaan erection girder pada proyek jembatan
Kali Surabaya I adalah sebagai berikut:
1) Pekerjaan Persiapan
Penataan tumpuan dengan menggunakan
balok kayu rata-rata berukuran 10/18
panjang 1 m, disusun sedemikian rupa
sehingga mampu menumpu hidrolik jack
berkapasitas 200 ton. Hal ini dapat diamati
pada gambar 3.93 berikut:
102

Gambar 3.93 Penataan Tumpuan Balok Kayu

Letakkan hidrolik jack berkapasitas 200 ton


di atas tumpuan balok kayu,
penganggakatan hidrolik jack dapat
menggunakan katrol. Hidrolik jack diberikan
tekanan tertentu denagn menggunakan
hidrolik pump sehingga dapat mengangkat
balok girder. Hal ini dapat diamati pada
gambar berikut:

Gambar 3.94 Peletakan Hidrolik Jack di atas


Tumpuan Balok Kayu
103

Hidrolik 200 ton Hidrolik Pump


Gambar 3.95 Pengangkatan Balok Girder

Persiapan pemindahan balok ke troli geser,


proses ini dapat diamati pada gambar 3.96
berikut:

Hidrolik girder Statik Kaki 3

Rel Luncur Troli Geser


Gambar 3.96 Pemindahan Balok Girder ke Troli Geser
104

2) Pekerjaan Pemindahan Balok Girder


Setelah posisi balok girder sudah sejajar
dengan rel luncur, selanjutnya adalah
memindahkan balok girder dari troli geser ke
troli luncur. Troli geser bersifat sementara
dan dapat di pindahkan posisinya sesuai
kebutuhan. Sedangkan troli luncur bersifat
tetap. Kegiatan ini dapat diamati pada
gambar berikut:
Troli geser Rel luncur

Troli luncur Rel geser


Gambar 3.97 Pemindahan Troli Geser
Troli luncur

Gambar 3.98 Pemindahan Balok ke Troli Luncur


105

Balok girder diikat dengan rantai besi agar


tidak terjadi guling atau tergelincir dan dicek
lintasan relnya agar tidak terjadi selip,
kemudian balok girder siap diluncurkan.
Proses ini dapat diamri pada gambar 3.99
berikut:
Rel Luncur Troli Luncur Rantai Besi

Gambar 3.99 Balok Girder Siap Meluncur

3) Pekerjaan Launching (Peluncuran) Balok Girder


Proses peluncuran balok di atas rel lintasan
dengan kecepatan luncur 50 m/jam, seperti
pada gambar berikut:

Gambar 3.100 Balok Girder Mulai Meluncur


106

Hoist Launcher Girder

Gambar 3.101 Balok Girder di Atas Rel Luncur

Balok girder ditumpu dengan balok besi


berbentuk U untuk menjaga keseimbangan
beban balok girder dan launcher pada saat
pemasangan sling hoist 1, seperti yang terlihat
pada gambar berikut:
Launcher Sling Hoist 1 Hoist 2

Troli Luncur Tumpuan Balok Besi U


Gambar 3.102 Pemasangan Sling pada Hoist
107

Launcher Hoist 1 Girder

Gambar 3.103 Kepala Balok Memasuki Launcher

Rel Geser Hoist 1 Launcher

Gambar 3.104 Arah Pergerakan Girder pada Launcher

Balok ditumpu dengan balok besi berbentuk


U untuk menjaga keseimbangan beban balok
dan launcher saat pemasangan sling pada
hoist 2, seperti yang terlihat pada gambar
3.105 berikut:
108

Hoist 2 Hoist 1

Tumpuan Balok Besi U Pasang Sling


Gambar 3.105 Pemasangan Sling Pada Hoist 2

Menggeser balok girder ke posisi tumpuan


bearing pad yang dituju, seperti pada gambar
berikut 3.106:

Gambar 3.106 Arah Pergeseran Launcher

4) Pekerjaan Erection Girder


Proses erection girder dimulai dari proses
penurunan balok. Kemudian balok diletakan
109

di atas tumpuan bearing pad, proses ini sangat


mengandalkan kekuatan sling pada kedua
hoist. Proses ini dapat diamati pada gambar
berikut:

Gambar 3.107 Balok Girder Mulai Turun

Sling pada Hoist 2 Tumpuan

Surveyor Pelaksana
Gambar 3.108 Proses Penurunan Girder
110

Tumpuan Bearing pad girder

Gambar 3.109 Kontrol Jarak pada Bearing Pad

Shear
Conector

Bearing Pad

Mortar Pad

Gambar 3.110 Perletakan Girder di atas Bearing Pad

Setelah proses erection girder selesai,


selanjutnya dilakukan proses bressing yaitu
pengelasan besi pengaku antar girder. Proses
ini dapat diamati pada gambar berikut:
111

Gambar 3.111 Prose Bressing

Gambar 3.112 Besi Bressing


112

Tabel 3.2. Rekapitulasi Pelaksanaan Pekerjaan Erection Girder


Jembatan Kali Surabaya 1 Proyek Jalan Tol
Surabaya -Mojokerto

Total
No. Uraian Pekerjaan Durasi Durasi/ Pelaksana
Balok
1. Penurunan Balok Girder @segmen 70 menit PT. Jatra
= 10 menit Sejahtera
2. Levelling 60 menit
3. Install Strand 180 menit PT. Wika
4. Stressing Girder Beton
a. Persiapan Alat @tendon = 50 menit
10 menit
b. Pemasangan Block @tendon = 25 menit
5 menit
c. Pemasangan Jaw @tendon = 25 menit
5 menit
d. Pemasangan @tendon = 10 menit
Temporary Block 1 2 menit
e. Pemasangan @tendon = 2,5 menit
Pendorong 0,5 menit
f. Pemasangan @tendon = 10 menit
Stressing Jack 2 menit
g. Pemasangan @tendon = 10 menit
Stressing Pump 2 menit
h. Pemasangan @tendon = 10 menit
Temporary Block 2 2 menit
i. Pemasangan @tendon = 15 menit
Temporary Jaw 3 menit
j. Persiapan @tendon = 10 menit
Stressing 2 menit
k. Stressing Girder
Tendon C3 30 menit
100%
113

Total
No. Uraian Pekerjaan Durasi Durasi/ Pelaksana
Balok
Tendon C2 15 menit
100%
Tendon C1 15 menit
100%
Tendon C4 7 menit
25%
Tendon C5 7 menit
25%
Tendon C4 7 menit
75%
Tendon C5 7 menit
75%
l. Balancing 30 menit
5. Pemotongan Strand @tendon = 25 menit
5 menit
6. Patching 15 menit PT. Jatra
Sejahtera
7. Grouting @tendon = 30 menit PT. Wika
6 menit Beton
8. Kontrol Chamber 15 menit PT. Wika
9. Launching Girder PT. Wika
a. Persiapan 10 menit dan PT.
Peletakan Jatra
Tumpuan Sejahtera
b. Pemasangan 2 menit
Katrol
c. Pemasangan 0,5 menit
Benang Levelling
Vertikal
d. Peletakan 7 menit
Hidrolik ke
114

Total
No. Uraian Pekerjaan Durasi Durasi/ Pelaksana
Balok
Tumpuan
e. Hidrolik Mulai 12 menit
Mengangkat
Balok
f. Persiapan Rel dan 20 menit
Troli Geser
g. Pemindahan Rel 10 menit
dan Troli Geser
h. Persiapan Troli 5 menit
Luncur
i. Persiapan 10 menit
Meluncur
j. Balok Girder 60 menit
Meluncur
10 Erection Girder 60 menit
11 Bressing atau Pengelasan 15 menit PT. Jatra
Pengaku Antar Girder Sejahtera
Diperiksa : PT. Wijaya Karya (Persero), Tbk.