Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan salah satu penyebab


kematian terbanyak di negara dengan pendapatan tinggi sampai rendah. Menurut
World Health Organization (WHO), PPOK menempati urutan ke-4 dan ke-5
bersama HIV/AIDS sebagai penyebab kematian utama di negara maju dan
berkembang. Di tahun 2004, terhitung 64 juta orang menderita PPOK di seluruh
dunia dan di tahun 2005, 3 juta orang meninggal karena PPOK. Di Amerika
Serikat, PPOK menyebabkan masalah kesehatan berat dan beban ekonomi bahkan
diperkiran pada tahun 2020 akan menjadi penyebab kematian ke-3 terbanyak pada
pria maupun wanita. Diperkirakan juga di Amerika Serikat terdapat 16 juta
penduduk terdiagnosa PPOK dan ada 14 juta penduduk atau lebih yang belum
terdiagnosa.

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah penyakit paru yang


ditandai dengan adanya hambatan aliran udara yang bersifat progresif dan tidak
sepenuhnya reversible, yang disebabkan proses inflamasi pada paru. Prevalensi
PPOK diperkirakan akan meningkat sehubungan dengan peningkatan usia harapan
hidup penduduk dunia, pergeseran pola penyakit infeksi yang menurun sedangkan
penyakit degeneratif meningkat serta meningkatnya kebiasaan merokok dan
polusi udara. Merokok merupakan salah satu faktor risiko terbesar PPOK.
Perokok dilaporkan memiliki risiko 45% lebih tinggi terkena PPOK dibandingkan
dengan yang tidak merokok. Walaupun begitu merokok bukan penyebab utama
dari PPOK, banyak factor risiko lain yang mempengaruhi PPOK.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)

PPOK adalah penyakit paru kronik yang ditandai oleh hambatan aliran
udara di saluran napas yang bersifat progressif non-reversibel atau reversibel
parsial. PPOK terdiri dari bronkitis kronik dan emfisema atau gabungan
keduanya.
Bronkitis kronik
Kelainan saluran napas yang ditandai oleh batuk kronik berdahak
minimal 3 bulan dalam setahun, sekurang-kurangnya dua tahun berturut -
turut, tidak disebabkan penyakit lainnya.
Emfisema
Suatu kelainan anatomis paru yang ditandai oleh pelebaran rongga
udara distal bronkiolus terminal, disertai kerusakan dinding alveoli.

B. Etiologi
1. Kebiasaan merokok merupakan satu - satunya penyebab kausal yang
terpenting, jauh lebih penting dari faktor penyebab lainnya.
Dalam pencatatan riwayat merokok perlu diperhatikan :
a. Riwayat merokok
- Perokok aktif
- Perokok pasif
Perokok aktif memiliki prevalensi lebih tinggi untuk mengalami
gejala respiratorik, abnormalitas fungsi paru, dan mortalitas yang lebih
tinggi dari pada orang yang tidak merokok. Resiko untuk menderita
COPD bergantung pada dosis merokoknya, seperti umur orang
tersebut mulai merokok, jumlah rokok yang dihisap per hari dan
berapa lama orang tersebut merokok.

Enviromental tobacco smoke (ETS) atau perokok pasif juga dapat


mengalami gejala-gejala respiratorik dan PPOK dikarenakan oleh
partikel-partikel iritatif tersebut terinhalasi sehingga mengakibatkan

2
paru-paru terbakar. Merokok selama masa kehamilan juga dapat
mewariskan faktor resiko kepada janin, mempengaruhi pertumbuhan
dan perkembangan paru-paru dan perkembangan janin dalam
kandungan, bahkan mungkin juga dapat mengganggu sistem imun dari
janin tersebut.
b. Derajat berat merokok dengan Indeks Brinkman (IB), yaitu
perkalian jumlah rata-rata batang rokok dihisap sehari dikalikan lama
merokok dalam tahun :
- Ringan : 0-200
- Sedang : 200-600
- Berat : >600
2. Riwayat terpajan polusi udara di lingkungan dan tempat kerja
3. Hipereaktiviti bronkus
4. Riwayat infeksi saluran napas bawah berulang
5. Defisiensi antitripsin alfa - 1, umumnya jarang terdapat di Indonesia

C. Patofisiologi

Hambatan aliran udara merupakan perubahan fisiologi utama pada PPOK


yang diakibatkan oleh adanya perubahan yang khas pada saluran nafas bagian
proksimal, perifer, parenkim dan vaskularisasi paru yang dikarenakan adanya
suatu inflamasi yang kronik dan perubahan struktural pada paru. Dalam
keadaan normal radikal bebas dan antioksidan berada dalam keadaan
seimbang.
Apabila terjadi gangguan keseimbangan maka akan terjadi kerusakan di
paru. Radikal bebas mempunyai peranan besar menimbulkan kerusakan sel
dan menjadi dasar dari berbagai macam penyakit paru.
Asap mengiritasi jalan nafas dan menyebabkan hipersekresi dan inflamasi.
Karena iritasi konstan menyebabkan hipertrofi dan hyperplasia kelenjar yang
mensekresi mukus. Secara umumnya, jumlah sel goblet pada saluran
pernafasan turut bertambah terutama di bagian perifer dari saluran pernafasan
dengan fungsi silia yang menurun. Perubahan ini menyebabkan mukus

3
meningkat dan dengan komposisi yang lebih kental. Sebagai akibat lumen
bronkiolus menyempit dan tersumbat.
Selain itu, alveoli yang berdekatan bronkiolus menjadi rusak dan
membentuk fibrosis yang kemudian mengakibatkan perubahan fungsi
makrofag alveolar yang berperan penting dalam menghancurkan partikel
asing. Hal ini menyebabkan pasien lebih rentan terhadap infeksi pernafasan.
Pada dinding bronchial juga ditemukan terjadinya proses inflamasi dengan
infiltrasi sel sel radang dan jaringan fibrosis yang menyebabkan
penyempitan lebih lanjut pada bonchial. Pada waktunya mungkin terjadi
perubahan yang irreversible. Temuan patologis utama pada bronkitis kronis
adalah hipertrofi kelenjar mukosa bronkus, hipertrofi dan hyperplasia sel sel
golet, infiltrasi sel sel radang dengan edema pada mukosa
bronkus.pembentukan mukus yang meningkat menyebabkan gejala yang khas
yaitu batuk produktif.

Gambar 2.1 Patofisiologi PPOK

D. Klasifikasi

Berdasarkan Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease


(GOLD) 2011, PPOK diklasifikasikan berdasarkan derajat berikut.

4
1.Derajat 0 (berisiko)
Gejala klinis : Memiliki satu atau lebih gejala batuk kronis, produksi
sputum, dan dispnea. Ada paparan terhadap faktor resiko.
Spirometri : Normal

2. Derajat I (PPOK ringan)


Gejala klinis : Dengan atau tanpa batuk. Dengan atau tanpa produksi
sputum.Sesak napas derajat sesak 0 sampai derajat sesak 1
Spirometri : FEV1/FVC < 70%, FEV1 80%
3. Derajat II (PPOK sedang)
Gejala klinis : Dengan atau tanpa batuk. Dengan atau tanpa produksi
sputum. Sesak napas derajat sesak 2 (sesak timbul pada saat aktivitas).
Spirometri :FEV1/FVC < 70%; 50% < FEV1 < 80%
4. Derajat III (PPOK berat)
Gejala klinis : Sesak napas derajat sesak 3 dan 4
Eksaserbasi lebih sering terjadi
Spirometri :FEV1/FVC < 70%; 30% < FEV1 < 50%
5. Derajat IV (PPOK sangat berat)
Gejala klinis : Pasien derajat III dengan gagal napas kronik. Disertai
komplikasi kor pulmonale atau gagal jantung kanan.
Spirometri :FEV1/FVC < 70%; FEV1 < 30% atau < 50%

Tabel 2.1 Skala Sesak

Sesak Keluhan Sesak Berkaitan dengan Aktivitas


0 Tidak ada sesak kecuali dengan aktivitas berat
1 Sesak mulai timbul bila berjalan cepat atau naik tangga 1
tingkat
2 Berjalan lebih lambat karena merasa sesak
3 Sesak timbul bila berjalan 100 m atau setelah beberapa
menit
4 Sesak bila mandi atau berpakaian

5
E. Diagnosis
Diagnosis PPOK di tegakkan berdasarkan :

A. Anamnesis
- Riwayat merokok atau bekas perokok dengan atau tanpa gejala
pernapasan
- Riwayat terpajan zat iritan yang bermakna di tempat kerja
- Riwayat penyakit emfisema pada keluarga
- Terdapat faktor predisposisi pada masa bayi/anak, mis berat badan lahir
rendah (BBLR), infeksi saluran napas berulang, lingkungan asap rokok
dan polusi udara
- Batuk berulang dengan atau tanpa dahak
- Sesak dengan atau tanpa bunyi mengi

B. Pemeriksaan fisis
Inspeksi
- Pursed - lips breathing (mulut setengah terkatup mencucu)
- Barrel chest (diameter antero - posterior dan transversal sebanding)
- Penggunaan otot bantu napas
- Hipertropi otot bantu napas
- Pelebaran sela iga
- Bila telah terjadi gagal jantung kanan terlihat denyut vena jugularis
leher dan edema tungkai
- Penampilan pink puffer atau blue bloater

Palpasi
Pada emfisema fremitus melemah, sela iga melebar

Perkusi
Pada emfisema hipersonor dan batas jantung mengecil, letak
diafragma rendah, hepar terdorong ke bawah

6
Auskultasi
- suara napas vesikuler normal, atau melemah
- terdapat ronki dan atau mengi pada waktu bernapas biasa atau pada
ekspirasi paksa
- ekspirasi memanjang
- bunyi jantung terdengar jauh

C. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan rutin
1. Faal paru
Spirometri (VEP1, VEP1prediksi, KVP, VEP1/KVP
Uji bronkodilator
2. Darah rutin
Hb, Ht, leukosit
3. Radiologi
Foto toraks PA dan lateral berguna untuk menyingkirkan penyakit paru
Lain :
Pada emfisema terlihat gambaran :
- Hiperinflasi
- Hiperlusen
- Ruang retrosternal melebar
- Diafragma mendatar
- Jantung menggantung (jantung pendulum / tear drop / eye drop
appearance)

7
Gambar 2.1 Gambaran Radiologis Emfisema

Pada bronkitis kronik :


1. Corakan bronkovaskuler bertambah pada 21 % kasus
2. Tram-track appearance : Penebalan dinding bronkial

8
Gambar 2.3 Gambaran Radiologis Bronkitis Kronik

F. Diagnosis Banding
1. Asma
2. SOPT (Sindroma Obstruksi Pascatuberculososis)
Adalah penyakit obstruksi saluran napas yang ditemukan pada penderita
pascatuberculosis dengan lesi paru yang minimal.

G. Penatalaksanaan
Adapun tujuan dari penatalaksanaan PPOK ini adalah :
Mencegah progesifitas penyakit
Mengurangi gejala
Mencegah dan mengobati komplikasi
Mencegah dan mengobati eksaserbasi berulang
Meningkatkan kualitas hidup penderita
Menurunkan angka kematian

9
Terapi Farmakologis
o Bronkodilator
Secara inhalasi (MDI), kecuali preparat tak tersedia / tak terjangkau
Rutin (bila gejala menetap) atau hanya bila diperlukan (gejala
intermitten)
3 golongan bronkodilator :
Agonis -2 : fenopterol, salbutamol, albuterol, terbutalin,
formoterol, salmeterol
Antikolinergik : ipratropium bromid, oksitroprium bromid
Metilxantin : teofilin lepas lambat, bila kombinasi -2 dan steroid
belum memuaskan dianjurkan bronkodilator kombinasi daripada
meningkatkan dosis bronkodilator monoterapi
o Steroid
PPOK yang menunjukkan respon pada uji steroid
PPOK dengan VEP1 < 50% prediksi (derajat III dan IV)
Eksaserbasi akut
o Obat-obat tambahan lain
Mukolitik (mukokinetik, mukoregulator) : ambroksol, karbosistein,
gliserol iodida
Antioksidan : N-Asetil-sistein
Imunoregulator (imunostimulator, imunomodulator): tidak rutin
Antitusif : tidak rutin
Vaksinasi : influenza, pneumokokus

Usaha usaha yang dapat dilakukan untuk memperlambat perjalanan


penyakit:
1. Menghentikan kebiasaan merokok,
2. Menghindari Polusi udara dan kerja di tempat yang resiko terjadinya iritasi
saluran nafas,
3. Menghindari infeksi dan mengobati sedini mungkin agar tidak terjadi
eksaserbasi.

10
H. Prognosis
Dubia, tergantung dari stage / derajat, penyakit paru komorbid,
penyakit komorbid lain. Dalam menentukan prognosis PPOK ini, dapat
digunakan BODE index untuk menentukan kemungkinan mortalitas dan
morbiditas pasien. BODE ini adalah singkatan dari :
- Body mass index
- Obstruction [FEV1]
- Dyspnea [modified Medical Research Council dyspnea scale]
- Exercise capacity

Penghitungannya melalui perhitungan skor 4 faktor berikut ini:


- Body Mass Index
o Lebih dari 21 = 0 poin
o Kurang dari 21 = 1 poin
- Obstruction ; dilihat dari nilai FEV1
o >65% = 0 poin
o 50-64% = 1 poin
o 36-49% = 2 poin
o <35% = 3 poin
- Dyspnea scale [MMRC]
o MMRC 0= Sesak dalam latihan berat = 0 poin
o MMRC 1 = Sesak dalam berjalan sedikit menanjak = 0 poin
o MMRC 2 = sesak ketika berjalan dan harus berhenti karena
kehabisan napas = 1 poin
o MMRC 3 = sesak ketika berjalan 100 m atau beberapa menit = 2
poin
o MMRC 4 = tidak bisa keluar rumah; sesak napas terus menerus
dalam pekerjaan sehari-hari = 3 poin
- Exercise
Dihitung dari jarak tempuh pasien dalam berjalan selama 6 menit :

o 350 meter = 0 poin

o 250 349 meter = 1 poin

11
o 150-249 meter = 2 poin
o < 149 meter = 3 poin

Berdasarkan skor diatas, angka harapan hidup dalam 4 tahun pasien


sebagai berikut:
1. 0-2 points = 80%
2. 3-4 points = 67%
3. 5-6 points = 57%
4. 7-10 points = 18%

I. Komplikasi
Gagal Napas Kronik
Ditandai dengan hasil analisis gas darah PO2 <60 mmHg dan PCO2 >60
mmHg dan pH normal
Gagal Napas akut pada Gagal Napas Kronik, ditandai oleh:
o Sesak napas dengan atau tanpa adanya sianosis
o Sputum bertambah dan purulen
o Demam
o Kesadaran menurun
Infeksi Berulang
Pada pasien PPOK produsi sputum berlebihan menyebabkan terbentuk
koloni kuman, hal ini memudahkan terjadinya infeksi berulang, pada
kondisi kronik ini imunitas menjadi kebih rendah, ditandai dengan
menurunnya kadar limfosit darah.
Kor Pulmonale
Ditandai oleh P pulmonal pada EKG, hematokrit >50%, dapat disertai
gagal jantung kanan.

12
BAB III
KESIMPULAN

PPOK adalah penyakit paru kronik yang ditandai oleh hambatan aliran
udara di saluran napas yang bersifat progressif non-reversibel atau reversibel
parsial. PPOK terdiri dari bronkitis kronik dan emfisema atau gabungan
keduanya.
Asap rokok merupakan satu-satunya penyebab terpenting, jauh lebih
penting dari faktor penyebab lainnya. Faktor resiko genetik yang paling sering
dijumpai adalah defisiensi alfa-1 antitripsin, yang merupakan inhibitor sirkulasi
utama dari protease serin.
Berdasarkan Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease
(GOLD) 2011, dibagi atas 5 derajat, yaitu : derajat 0 (beresiko), derajat 1 (COPD
ringan), derajat 2 (COPD sedang), derajat 3 (COPD berat), dan derajat 4 (COPD
sangat berat).
Penderita PPOK akan datang ke dokter dan mengeluhkan sesak nafas,
batuk-batuk kronis, sputum yang produktif, faktor resiko (+). Sedangkan PPOK
ringan dapat tanpa keluhan atau gejala. Dan baku emas untuk menegakkan PPOK
adalah uji spirometri. Prognosa PPOK tergantung dari stage / derajat, penyakit
paru komorbid, penyakit komorbid lain.

13
DAFTAR PUSTAKA

1. PDPI. PPOK Pedoman Praktis Diagnosis & Penatalaksanaan di


Indonesia. Jakarta: 2011. p. 1-68.

2. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.


Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2010.

3. COPD International. COPD Statistics [Internet]. 2009 diunduh dari :


http://www.copd-international.com

4. World Health Organization (WHO). Chronic Obstructive Pulmonary Disease


(COPD) [Internet]. 2012 Diunduh dari :
http://www.who.int/respiratory/copd/en/

5. Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD). Global


Strategy for The Diagnosis, Management, and Prevention of Chronic
Obstructive Pulmonary Disease. 2011 Diunduh dari : www.goldcopd.com

14