Anda di halaman 1dari 5

1.

Bandung, Jawa Barat (23 Februari 2010):


Lokasi : Perkebunan Teh, Kampung Dewata, Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasir
Jambu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat
Waktu : Selasa, 23 Februari 2010
Intensitas :
Korban : 33 meninggal, 17 luka, 11 hilang, dan 936 orang mengungsi.
kerugian minimal Rp. 5 Miliyar

Secara umum daerah bencana dan sekitarnya berupa daerah perbukitan bergelombang
yang agak terjal hingga terjal. Lokasi longsor di wilayah dengan morfologi lahan
pegunungan dengan ketinggian 1500-1700 m dpl. Kelerengan lahan sedang-hingga
sangat curam (25-40%, >40%). Kondisi bantuan penyusun berupa perselingan breksi
dan tuf bersusunan andesit. Ketebalan tanah cukup tebal. Tanah sebagai hasil dari
pelapukan batuan mengandung pasir yang cukup rapuh. Berdasarkan Peta Prakiraan
Potensi terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Februari 2010 di Jawa Barat (Badan Geologi,
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana terletak pada zona
potensi terjadi gerakan tanah menengah sampai tinggi, artinya daerah ini dapat terjadi
gerakan tanah jika curam hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan
dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan, dan
gerakan tanah lama dapat aktif kembali.
Kondisi tutupan lahan pada daerah bencana berupa hutan primer, hutan sekunder, dan
perkebunan teh. Permukiman yang dihuni oleh karyawan perkebunan teh berada pada
lembah perbukitan yang sangat rawan longsor.
Longsor timbul sebagai akumulasi dari berbagai faktor seperti: curah hujan, kondisi
batuan/geologi dan kemiringan lereng. Curah hujan yang terjadi dari tanggal 1 hingga
23 Februari 2010 sebesar 960 mm. Curah hujan ini 480% dari rata-rata normal bulan
Februari sekitar 200 mm/bulan. Curah hujan yang besar ini telah menimbulkan beban
bagi batuan yang kondisinya sudah rapuh karena mengalami pelapukan dan berada pada
lereng yang curam. Timbulnya mata air pada mahkota longsor makin mempercepat
proses kejenuhan dan menurunkan kestabilan tanah sehingga terjadi longsor. Mahkota
longsor berasal dari lereng bukit dengan kemiringan curam. Kelerengan dititik longsor
(70% hingga >100%). Meskipun kondisi hutan pada hulu berupa hutan dengan kondisi
yang sangat baik dan di bagian longsor berupa hutan sekunder dan perkebunan teh,
namun longsor tetap terjadi. Material longsoran berupa bahan rombakan di tebing
mengalir melalui celah bukit, berbelok kea rah permukiman penduduk. Jenis longsoran
: debris flow

2. Banjarnegara, Jawa Tengah (12 Desember 2014):


Informasi terbaru dari BNPB menyebut 51 orang meninggal, 11 orang mengalami
luka-luka dan 88 orang hilang.
Material penyusun Bukit Telaga Lele adalah endapan vulkanik tua, sehingga solum
(bagian atas tanah) tanah tebal dan ada pelapukan. Kemiringan lereng di Bukit Telaga
Lele lebih dari 60 persen. Mahkota longsor, kata dia, berada tepat di kemiringan lereng
60-80 persen. Tanaman di atas bukit adalah tanaman semusim, seperti palawija dan
tanaman tahunan yang tidak rapat. Budidaya pertanian dengan tidak mengindahkan
konservasi tanah dan air, di mana tidak ada terasering pada lereng tersebut.

3. Agam, Sumatera Barat (27 Januari 2013):


20 meninggal, 6 luka-luka.

4. Buru, Maluku (23 Juli 2010):


18 meninggal, tujuh luka-luka.
5. Hotel Bali Club, Cianjur, Jawa Barat (09 Maret 2016)
3 meninggal, 8 luka-luka
6.