Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

TENTANG INTRACRANIAL HEMATOMA (ICH)

Disusun oleh :

Rosmini
16.04.067

CI LAHAN CI INSTITUSI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


PANAKKUKANG PROFESI NERS
MAKASSAR
2017

INTRACEREBRAL HEMATOMA (ICH)

A. KONSEP DASAR MEDIS


1. PENGERTIAN
Perdarahan intracerebral adalah perdarahan yang terjadi pada jaringan
otak biasanya akibat robekan pembuluh darah yang ada dalam jaringan otak.
Secara klinis ditandai dengan adanya penurunan kesadaran yang kadang-
kadang disertai lateralisasi, pada pemeriksaan CT Scan didapatkan adanya
daerah hiperdens yang indikasi dilakukan operasi jika Single, Diameter lebih
dari 3 cm, Perifer, Adanya pergeseran garis tengah, Secara klinis hematom
tersebut dapat menyebabkan gangguan neurologis/lateralisasi. Operasi yang
dilakukan biasanya adalah evakuasi hematom disertai dekompresi dari tulang
kepala. Faktor-faktor yang menentukan prognosenya hampir sama dengan
faktor-faktor yang menentukan prognose perdarahan subdural. (Paula, 2009)
Intra Cerebral Hematom adalah perdarahan kedalam substansi otak
.Hemorragi ini biasanya terjadi dimana tekanan mendesak kepala sampai
daerah kecil dapat terjadi pada luka tembak ,cidera tumpul. (Suharyanto,
2009)
Intra secerebral hematom adalah pendarahan dalam jaringan otak itu
sendiri. Hal ini dapat timbul pada cidera kepala tertutup yang berat atau
cidera kepala terbuka .intraserebral hematom dapat timbul pada penderita
stroke hemorgik akibat melebarnya pembuluh nadi. (Corwin, 2009)

2. ETIOLOGI
Etiologi dari Intra Cerebral Hematom menurut Suyono (2011) adalah :
a. Kecelakaan yang menyebabkan trauma kepala
b. Fraktur depresi tulang tengkorak
c. Gerak akselerasi dan deselerasi tiba-tiba
d. Cedera penetrasi peluru
e. Jatuh
f. Kecelakaan kendaraan bermotor
g. Hipertensi
h. Malformasi Arteri Venosa
i. Aneurisma
j. Distrasia darah
k. Obat
l. Merokok

3. MANIFESTASI KLINIK
Intracerebral hemorrhage mulai dengan tiba-tiba. Dalam sekitar
setengah orang, hal itu diawali dengan sakit kepala berat, seringkali selama
aktifitas. Meskipun begitu, pada orang tua, sakit kepala kemungkinan ringan
atau tidak ada. Dugaan gejala terbentuknya disfungsi otak dan menjadi
memburuk sebagaimana peluasan pendarahaan.
Beberapa gejala, seperti lemah, lumpuh, kehilangan perasa, dan mati
rasa, seringkali mempengaruhi hanya salah satu bagian tubuh. orang
kemungkinan tidak bisa berbicara atau menjadi pusing. Penglihatan
kemungkinan terganggu atau hilang. Mata bisa di ujung perintah yang
berbeda atau menjadi lumpuh. Pupil bisa menjadi tidak normal besar atau
kecil. Mual, muntah, serangan, dan kehilangan kesadaran adalah biasa dan
bisa terjadi di dalam hitungan detik sampai menit. Menurut Corwin (2009)
manifestasi klinik dari dari Intra cerebral Hematom yaitu :
a. Kesadaran mungkin akan segera hilang, atau bertahap seiring dengan
membesarnya hematom.
b. Pola pernapasaan dapat secara progresif menjadi abnormal.
c. Respon pupil mungkin lenyap atau menjadi abnormal.
d. Dapat timbul muntah-muntah akibat peningkatan tekanan intra cranium.
e. Perubahan perilaku kognitif dan perubahan fisik pada berbicara dan
gerakan motorik dapat timbul segera atau secara lambat.
f. Nyeri kepala dapat muncul segera atau bertahap seiring dengan
peningkatan tekanan intra cranium.

4. PATOFISIOLOGI
Perdarahan intraserebral ini dapat disebabkan oleh karena ruptur
arteria serebri yang dapat dipermudah dengan adanya hipertensi. Keluarnya
darah dari pembuluh darah didalam otak berakibat pada jaringan disekitarnya
atau didekatnya, sehingga jaringan yang ada disekitarnya akan bergeser dan
tertekan. Darah yang keluar dari pembuluh darah sangat mengiritasi otak,
sehingga mengakibatkan vosospasme pada arteri disekitar perdarahan,
spasme ini dapat menyebar keseluruh hemisfer otak dan lingkaran willisi,
perdarahan aneorisma-aneorisma ini merupakan lekukan-lekukan berdinding
tipis yang menonjol pada arteri pada tempat yang lemah. Makin lama
aneorisme makin besar dan kadang-kadang pecah saat melakukan aktivitas.
Dalam keadaan fisiologis pada orang dewasa jumlah darah yang mengalir ke
otak 58 ml/menit per 100 gr jaringan otak. Bila aliran darah ke otak turun
menjadi 18 ml/menit per 100 gr jaringan otak akan menjadi penghentian
aktifitas listrik pada neuron tetapi struktur sel masih baik, sehingga gejala ini
masih revesibel. Oksigen sangat dibutuhkan oleh otak sedangkan O2
diperoleh dari darah, otak sendiri hampir tidak ada cadangan O2 dengan
demikian otak sangat tergantung pada keadaan aliran darah setiap saat. Bila
suplay O2 terputus 8-10 detik akan terjadi gangguan fungsi otak, bila lebih
lama dari 6-8 menit akan tejadi jelas/lesi yang tidak putih lagi (ireversibel)
dan kemudian kematian. Perdarahan dapat meninggikan tekanan intrakranial
dan menyebabkan ischemi didaerah lain yang tidak perdarahan, sehingga
dapat berakibat mengurangnya aliran darah ke otak baik secara umum
maupun lokal. Timbulnya penyakit ini sangat cepat dan konstan dapat
berlangsung beberapa menit, jam bahkan beberapa hari. (Corwin, 2009)
5. PATHWAYS

Trauma kepala, Fraktur depresi tulang tengkorak, , Hipertensi, Malformasi Arteri Venosa,
Aneurisma, Distrasia darah, Obat, Merokok

Pecahnya pembuluh darah


otak (perdarahan intracranial)

Darah masuk ke dalam


jaringan otak

Penatalaksanaan : Darah membentuk massa


Kraniotomi atau hematoma

Luka insisi Port dentri


Penekanan pada jaringan
pembedahan Mikroorganisme
otak

Resiko infeksi
Peningkatan Tekanan
Intracranial

Metabolisme Gangguan aliran darah Fungsi otak menurun


Sel melepaskan
anaerob dan oksigen ke otak
mediator nyeri :
prostaglandin, Refleks menelan menurun
sitokinin Ketidakefektifan Kerusakan
Vasodilatasi
perfusi jaringan neuromotorik
pembuluh darah
cerebral
Kelemahan otot Anoreksia
Impuls ke pusat
nyeri di otak progresif
(thalamus) Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
ADL dibantu Kerusakan mobilitas
kebutuhan tubuh
Impuls ke pusat fisik
nyeri di otak
(thalamus)
Defisit perawatan
Somasensori korteks diri:makan, mandi,
otak : nyeri eliminasi, berpakain.
dipersepsikan

Nyeri
(Corwin, 2009)

6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang dari Intra Cerebral Hematom menurut Sudoyo
(2006) adalah sebagai berikut :
a. Angiografi
b. Ct scanning
c. Lumbal pungsi
d. MRI
e. Thorax photo
f. Laboratorium
g. EKG

7. PENATALAKSANAAN
Pendarahan intracerebral lebih mungkin menjadi fatal dibandingkan
stroke ischemic. Pendarahan tersebut biasanya besar dan catastrophic,
khususnya pada orang yang mengalami tekanan darah tinggi yang kronis.
Lebih dari setengah orang yang mengalami pendarahan besar meninggal
dalam beberapa hari. Mereka yang bertahan hidup biasanya kembali sadar
dan beberapa fungsi otak bersamaan dengan waktu. Meskipun begitu,
kebanyakan tidak sembuh seluruhnya fungsi otak yang hilang.
Pengobatan pada pendarahan intracerebral berbeda dari stroke
ischemic. Anticoagulant (seperti heparin dan warfarin), obat-obatan
trombolitik, dan obat-obatan antiplatelet (seperti aspirin) tidak diberikan
karena membuat pendarahan makin buruk. Jika orang yang menggunakan
antikoagulan mengalami stroke yang mengeluarkan darah, mereka bisa
memerlukan pengobatan yang membantu penggumpalan darah seperti :
a. Vitamin K, biasanya diberikan secara infuse.
b. Transfusi atau platelet. Transfusi darah yang telah mempunyai sel darah
dan pengangkatan platelet (plasma segar yang dibekukan).
c. Pemberian infus pada produk sintetis yang serupa pada protein di dalam
darah yang membantu darah untuk menggumpal (faktor penggumpalan).
Operasi untuk mengangkat penumpukan darah dan menghilangkan
tekanan di dalam tengkorak, bahkan jika hal itu bisa menyelamatkan hidup,
jarang dilakukan karena operasi itu sendiri bisa merusak otak. Juga,
pengangkatan penumpukan darah bisa memicu pendarahan lebih, lebih lanjut
kerusakan otak menimbulkan kecacatan yang parah. Meskipun begitu, operasi
ini kemungkinan efektif untuk pendarahan pada kelenjar pituitary atau pada
cerebellum. Pada beberapa kasus, kesembuhan yang baik adalah mungkin.
Menurut Corwin (2009) menyebutkan penatalaksanaan untuk Intra
Cerebral Hematom adalah sebagai berikut :
a. Observasi dan tirah baring terlalu lama.
b. Mungkin diperlukan ligasi pembuluh yang pecah dan evakuasi hematom
secara bedah.
c. Mungkin diperlukan ventilasi mekanis.
d. Untuk cedera terbuka diperlukan antibiotiok.
e. Metode-metode untuk menurunkan tekanan intra kranium termasuk
pemberian diuretik dan obat anti inflamasi.
f. Pemeriksaan Laboratorium seperti : CT-Scan, Thorax foto, dan
laboratorium lainnya yang menunjang.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. PENGKAJIAN
a. Primary Survey (ABCDE)
1) Airway. Tanda-tanda objektif-sumbatan Airway
a) Look (lihat) apakah penderita mengalami agitasi atau kesadarannya
menurun. Agitasi memberi kesan adanya hipoksia, dan penurunan
kesadaran memberi kesan adanya hiperkarbia. Sianosis menunjukkan
hipoksemia yang disebabkan oleh kurangnya oksigenasi dan dapat
dilihat dengan melihat pada kuku-kuku dan kulit sekitar mulut. Lihat
adanya retraksi dan penggunaan otot-otot napas tambahan yang
apabila ada, merupakan bukti tambahan adanya gangguan airway.
Airway (jalan napas) yaitu membersihkan jalan napas dengan
memperhatikan kontrol servikal, pasang servikal kollar untuk
immobilisasi servikal sampai terbukti tidak ada cedera servikal,
bersihkan jalan napas dari segala sumbatan, benda asing, darah dari
fraktur maksilofasial, gigi yang patah dan lain-lain. Lakukan intubasi
(orotrakeal tube) jika apnea, GCS (Glasgow Coma Scale) < 8,
pertimbangan juga untuk GCS 9 dan 10 jika saturasi oksigen tidak
mencapai 90%.
b) Listen (dengar) adanya suara-suara abnormal. Pernapasan yang
berbunyi (suara napas tambahan) adalah pernapasan yang tersumbat.
c) Feel (raba)
2) Breathing. Tanda-tanda objektif-ventilasi yang tidak adekuat
a) Look (lihat) naik turunnya dada yang simetris dan
pergerakan dinding dada yang adekuat. Asimetris menunjukkan
pembelatan (splinting) atau flail chest dan tiap pernapasan yang
dilakukan dengan susah (labored breathing) sebaiknya harus
dianggap sebagai ancaman terhadap oksigenasi penderita dan harus
segera di evaluasi. Evaluasi tersebut meliputi inspeksi terhadap
bentuk dan pergerakan dada, palpasi terhadap kelainan dinding dada
yang mungkin mengganggu ventilasi, perkusi untuk menentukan
adanya darah atau udara ke dalam paru.
b) Listen (dengar) adanya pergerakan udara pada
kedua sisi dada. Penurunan atau tidak terdengarnya suara napas pada
satu atau hemitoraks merupakan tanda akan adanya cedera dada.
Hati-hati terhadap adanya laju pernapasan yang cepat-takipneu
mungkin menunjukkan kekurangan oksigen.
c) Gunakan pulse oxymeter. Alat ini mampu
memberikan informasi tentang saturasi oksigen dan perfusi perifer
penderita, tetapi tidak memastikan adanya ventilasi yang adekuat
3) Circulation dengan kontrol perdarahan
a) Respon awal tubuh terhadap perdarahan adalah takikardi untuk
mempertahankan cardiac output walaupun stroke volum menurun
b) Selanjutnya akan diikuti oleh penurunan tekanan nadi (tekanan
sistolik-tekanan diastolik)
c) Jika aliran darah ke organ vital sudah dapat dipertahankan lagi, maka
timbullah hipotensi
d) Perdarahan yang tampak dari luar harus segera dihentikan dengan
balut tekan pada daerah tersebut
e) Ingat, khusus untuk otorrhagia yang tidak membeku, jangan sumpal
MAE (Meatus Akustikus Eksternus) dengan kapas atau kain kasa,
biarkan cairan atau darah mengalir keluar, karena hal ini membantu
mengurangi TTIK (Tekanan Tinggi Intra Kranial)
f) Semua cairan yang diberikan harus dihangatkan untuk menghindari
terjadinya koagulopati dan gangguan irama jantung.
4) Disability
a) GCS setelah resusitasi
b) Bentuk ukuran dan reflek cahaya pupil
c) Nilai kuat motorik kiri dan kanan apakah ada parese atau tidak
5) Expossure dengan menghindari hipotermia. Semua pakaian yang
menutupi tubuh penderita harus dilepas agar tidak ada cedera terlewatkan
selama pemeriksaan. Pemeriksaan bagian punggung harus dilakukan
secara log-rolling dengan harus menghindari terjadinya hipotermi
(America College of Surgeons ; ATLS)
b. Secondary Survey
1) Kepala dan leher
Kepala. Inspeksi (kesimetrisan muka dan tengkorak, warna dan
distribusi rambut kulit kepala), palpasi (keadaan rambut,
tengkorak, kulit kepala, massa, pembengkakan, nyeri tekan,
fontanela (pada bayi)).
Leher. Inspeksi (bentuk kulit (warna, pembengkakan, jaringan
parut, massa), tiroid), palpasi (kelenjar limpe, kelenjar tiroid,
trakea), mobilitas leher.

2) Dada dan paru


Inspeksi. Dada diinspeksi terutama mengenai postur, bentuk dan
kesimetrisan ekspansi serta keadaan kulit. Inspeksi dada
dikerjakan baik pada saat dada bergerak atau pada saat diem,
terutama sewaktu dilakukan pengamatan pergerakan pernapasan.
Pengamatan dada saat bergerak dilakukan dengan tujuan untuk
mengetahui frekuensi, sifat dan ritme/irama pernapasan.
Palpasi. Dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji keadaan kulit
pada dinding dada, nyeri tekan, massa, peradangan, kesimetrisan
ekspansi, dan tactil vremitus (vibrasi yang dapat teraba yang
dihantarkan melalui sistem bronkopulmonal selama seseorang
berbicara)
Perkusi. Perhatikan adanya hipersonor atau dull yang
menunjukkan udara (pneumotorak) atau cairan (hemotorak)
yang terdapat pada rongga pleura.
Auskultasi. Berguna untuk mengkaji aliran udara melalui batang
trakeobronkeal dan untuk mengetahui adanya sumbatan aliran
udara. Auskultasi juga berguna untuk mengkaji kondisi paru-
paru dan rongga pleura.
3) Kardiovaskuler
Inspeksi dan palpasi. Area jantung diinspeksi dan palpasi secara
stimultan untuk mengetahui adanya ketidaknormalan denyutan
atau dorongan (heaves). Palpasi dilakukan secara sistematis
mengikuti struktur anatomi jantung mulai area aorta, area
pulmonal, area trikuspidalis, area apikal dan area epigastrik
Perkusi. Dilakukan untuk mengetahui ukuran dan bentuk
jantung. Akan tetapi dengan adanya foto rontgen, maka perkusi
pada area jantung jarang dilakukan karena gambaran jantung
dapat dilihat pada hasil foto torak anteroposterior.

4) Ekstermitas
Beberapa keadaan dapat menimbulkan iskemik pada ekstremitas
bersangkutan, antara lain :
a) Cedera pembuluh darah.
b) Fraktur di sekitar sendi lutut dan sendi siku.
c) Crush injury.
d) Sindroma kompartemen.
e) Dislokasi sendi panggul.
Keadaan iskemik ini akan ditandai dengan :
a) Pusasi arteri tidak teraba.
b) Pucat (pallor).
c) Dingin (coolness).
d) Hilangnya fungsi sensorik dan motorik.
e) Kadang-kadang disertai hematoma, bruit dan thrill.
Fiksasi fraktur khususnya pada penderita dengan cedera kepala
sedapat mungkin dilaksanakan secepatnya. Sebab fiksasi yang
tertunda dapat meningkatkan resiko ARDS (Adult Respiratory
Disstress Syndrom) sampai 5 kali lipat. Fiksasi dini pada fraktur
tulang panjang yang menyertai cedera kepala dapat menurunkan
insidensi ARDS.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral b.d Tahanan
pembuluh darah ;infark
b. Nyeri kepala akut b.d peningkatan tekanan intracranial (TIK)
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d
anoreksia
d. Kerusakan mobilitas fisik b.d Kelemahan neurotransmiter
e. Defisit perawatan diri: makan, mandi, eliminasi, dan berpakaian b.d
kelemahan fisik.
f. Resiko infeksi berhubungan dengan invasi mikroorganisme.
3. RENCANA KEPERAWATAN
No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
Keperawatan

1 Risk for Neurogical status: Cerebral 1. Identifikasi


Setelah dilakukan
ineffective perfusion hipertensi.
perawatan 3 hari,
cerebral tissue promotion: 2. Mengetahui
resiko Aktivitas:
perfusion perkembangan
Definisi: ketidakefektifan
- Memonitor 3. Mengetahui
resiko untuk perfusi jaringan
status perkembangan
menurunkan serebral
neurologi 4. Acuan
sirkulasi berkurang dengan
- Memonitor intervensi
jaringan otak kriteria hasil:
intake dan yang tepat.
yang mungkin
- Kesadaran baik output cairan 5. Meningkataka
mempengaruh
- Tekanan intra - Memonitor n tekanan
i kesehatan.
kranial dalam tanda arteri dan
batas normal overload sirkulasi atau
- Pola nafas cairan perfusi
dalam batas - Memonitor cerebral.
normal status
- Respiratory respirasi 6. Membuat
Rate dalam - Memonitor klien lebih
batas normal efek obat- tenang.
- Tekanan darah obat osmotik
dalam batas - Pemberian
normal antiplatelet
- Nadi dalam - Menjaga
batas normal level pco2
pada level
No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
Keperawatan

25mmhg atau
lebih
2 Nyeri kepala - Setelah 1. Observasi 1. Mengetahui
akut b.d dilakukan keadaan respon
peningkatan asuhan umum dan autonom
tekanan keperawatan tanda-tanda tubuh
intracranial selama 3x24 vital
(TIK) jam diharapkan 2. Lakukan 2. Menentukan
nyeri terkontrol pengkajian penanganan
atau berkurang nyeri secara nyeri secara
dengan kriteria komprehensi tepat
hasil : f 3. Mengetahui
- Ekspresi wajah 3. Observasi tingkah laku
rileks reaksi ekspresi
- Skala nyeri abnormal dalam
berkurang dan merespon
- Tanda-tanda ketidaknyam nyeri
vital dalam anan 4. Meminimalka
batas normal 4. Control n factor
lingkungan eksternal yang
yang dapat dapat
mempengaru mempengaruh
hi nyeri i nyeri
5. Pertahankan 5. Meningkatkan
tirah baring kualitas tidur
6. Ajarkan dan istirahat
tindakan non 6. Terapi dalam
farmakologi penanganan
dalam nyeri tanpa
No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
Keperawatan

penanganan obat
nyeri 7. Terapi
7. Kolaborasi penanganan
pemberian nyeri secara
analgesic farmakologi
sesuai
program
3 Ketidakseimb Kebutuhan nutrisi 1. Kaji 1. Menentukan
angan nutrisi terpenuhi setelah kebiasaan intervensi
kurang dari dilakukan makan- yang tepat.
kebutuhan tindakan makanan 2. Mengurangi
tubuh b.d keperawatan yang disukai rasa bosan
anoreksia selama 3x24 jam dan tidak sehingga
dengan KH: disukai. makanan
2. Anjurkan habis.
- Asupan nutrisi
klien makan 3. Agar
adekuat.
sedikit tapi kebutuhan
- BB meningkat.
sering. nutrisi
- Porsi makan
3. Berikan terpenuhi.
yang disediakan
makanan 4. Mulut bersih
habis.
sesuai diet meningkatkan
- Konjungtiva
RS. nafsu makan.
tidak ananemis.
4. Pertahankan 5. Menentukan
kebersihan diet yang
oral. sesuai.
5. Kolaborasi
dengan ahli
gizi.
4 Kerusakan Mobilitas 1. Kaji tingkat 1. Menentukan
No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
Keperawatan

mobilitas fisik meningkat setelah mobilisasi intervensi.


b.d dilakukan fisik klien. 2. Meningkatka
Kelemahan tindakan 2. Ubah posisi n
neutronsmiter keperawatan secara kanyamanan,
selama 3 x 24 jam periodik. cegah
dengan KH: 3. Lakukan dikobitas.
ROM 3. Melancarkan
- Klien mampu
aktif/pasif. sirkulasi.
melakukan
4. Dukung 4. Mencegah
aktifitas dbn.
ekstremitas kontaktur.
- Kekuatan otot
pada posisi 5. Menentukan
meningkat.
fungsional. program yang
- Tidak terjadi
5. Kolaborasi tepat.
kontraktur.
dengan ahli
fisio terapi.
5 Defisit Pemenuhan 1. Kaji 1. Mengetahui
perawatan kebutuhan ADL kemampuan kemampuan
diri: makan, terpenuhi setelah ADL. ADL.
mandi, dilakukan 2. Mempermuda
eliminasi, dan tindakan 2. Dekatkan h pemenuhan
berpakaian keperawatan barang- ADL.
b.d selama 3 x 24 jam barang yang 3. Meningkatka
kelemahan dengan KH: dibutuhkan n
fisik. klien. kemandirian
- Mampu
3. Motivasi klien.
memenuhi
klien untuk 4. Meningkatka
kebutuhan
melakukan n
secara mandiri.
aktivitasa kemandirian
- Klien dapat
secara klien dan
beraktivitas
No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
Keperawatan

secara bertahap. bertahap. meningkatkan


- Nadi normal. 4. Dorong dan menyamanan.
dukung 5. Pemenuhan
aktivitas kebutuhan
perawatan klien dapat
diri. terpenuhi.
5. Menganjurka
n keluarga
untuk
membantu
klien
memenuhi
kebutuhan
klien.
6 Resiko infeksi 1. Mempertahank 1. Berikan 1. Cara pertama
berhubungan an perawatan untuk
dengan invasi normotermia, aseptik dan menghidari
mikroorganis bebas tanda- antiseptic. infeksi
me tanda infeksi nosokomial.
2. Mencapai 2. pertahankan 2. Deteksi dini
penyembuhan teknik cuci perkembangan
luka tangan yang infeksi
(craniotomi) baik. 3. memungkinka
tepat pada 3. catat n untuk
waktunya. karakteristik melakukan
dari drainase tindakan
dan adanya dengan segera
inflamasi. dan
pencegahan
No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
Keperawatan

4. Pantau suhu terhadap


tubuh secara komplikasi
teratur. Catat selanjutnya
adanya 4. Dapat
demam, mengindikasik
menggigil, an
diaforesis dan perkembangan
perubahan sepsis yang
fungsi mental selanjutnya
(penurunan memerlukan
kesadaran). evaluasi atau
tindakan

5. Batasi dengan

pengunjung segera.

yang dapat 5. Menurunkan

menularkan pemajanan

infeksi atau terhadap

cegah pembawa

pengunjung kuman

yang penyebab

mengalami infeksi.

infeksi 6. Terapi

saluran napas profilaktik

bagian atas. dapat


digunakan
pada pasien
6. Berikan
yang
antibiotik
mengalami
sesuai
trauma (luka,
No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
Keperawatan

indikasi. kebocoran
CSS atau

7. Ambil bahan setelah

pemeriksaan dilakukan

(spesimen) pembedahan

sesuai untuk

indikasi menurunkan
risiko
terjasdinya
infeksi
nasokomial).
7. Kultur/sensivi
tas.
Pewarnaan
Gram dapat
dilakukan
untuk
memastikan
adanya infeksi
dan
mengidentifik
asi organisme
penyebab dan
untuk
menentukan
obat pilihan
yang sesuai.
DAFTAR PUSTAKA

ABTA, 2014, Meningioma. American Brain Tumor Association available at


http://www.abta.org/secure/meningioma-brochure.pdf and
http://www.abta.org/brain-tumor-information/types-of-
tumors/meningioma.html
Elizabeth J. Corwin. (2009). Buku Saku Patofisiologi Corwin. Jakarta: Aditya
Media
Johnson, M., Maas, M., Moorhead, S. 2008. Nursing Outcomes Classification
Fourth Edition. Mosby, Inc : Missouri.
Mardjono M, Sidharta P. Dalam: Neurologi klinis dasar. : Fakultas Kedokteran
Universtas Indonesia; 2003. Hal 393-4.
McCloskey, J.C., Bulechek, G.M. 2008. Nursing Intervention Classification
Fourth Edition. Mosby, Inc : Missouri.
North American Nursing Diagnosis Association. 2012. Nursing Diagnoses :
Definition & Classification 2012-2014. Philadelphia.