Anda di halaman 1dari 21

TEORI MODEL MADELEINE LEININGER

DALAM PRAKTIK KEPERAWATAN KOMUNITAS

Oleh

Lokal : III.C
Kelompok : 1 (Satu0
Anggota :
1. Nela Indriani
2. Atika Putri
3. Atiqah
4. Cindy Ardyantika
5. Desfiana S
6. M. Aizat
7. Sakinah Hijriani
8. Uci Wandri Maiyana
9. Zulmaida

PRODI S.1 KEPERAWATAN


STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya
karena penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa salawat serta salam semoga
senantiasa tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada
keluarganya, sahabatnya hingga kepada kita selaku umatnya hingga akhir zaman.

Pada makalah ini penulis membahas mengenai penerapan teori model Madeleine
Leininger dalam praktek keperawatan komunitas. Dalam menyusun makalah ini, penulis
menggunakan beberapa sumber sebagai referensi, penulis mengambil referensi dari buku dan
internet.

Pembuatan makalah ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan, baik
materi maupun moral dari pihak-pihak tertentu. Saya ucapkan terima kasih kepada Allah swt,
kedua orangtua yang sudah mendoakan dan memberi semangat kepada kami, teman-teman
kelompok 1 yang sudah bekerja sama dalam menyelesaikan tugas ini dengan baik.

Penulis mengharapkan kritik dan saran sebagai bahan pembelajaran pada masa depan.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Padang, 11 April 2017

Kelompok 1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ ..................i

DAFTAR ISI.......................................................................................................... ..................ii

BAB I ...................................................................................................................... ..................1

PENDAHULUAN ................................................................................................. ..................1

1.1 Latar Belakang ........................................................................................... ..................1

1.2 Identifikasi Masalah ................................................................................... ..................1

1.3 Tujuan ........................................................................................................ ..................1

BAB II ................................................................................................................. ..................3

PEMBAHASAN ................................................................................................. ..................3

2.1 Biografi Madeleine Leininger .................................................................... ..................3

2.2 Teori Madeleine Leininger (Diversity dan Universalitas Budaya) ............ ..................4

2.3 Tujuan Teori Madeleine Leininger ............................................................ ..................6

2.4 Kelebihan Teori Madeleine Leininger ....................................................... ..................6

2.5 Kelemahan Teori Madeleine Leininger ..................................................... ..................6

2.6 Penerapan Teori Madeleine Leininger dalam Keperawatan ...................... ..................6

BAB III.................................................................................................................................11

PENUTUP ............................................................................................................................11

3.1 Simpulan .....................................................................................................................11

3.2 Penutup .......................................................................................................................11

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................12


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keperawatan merupakan salah satu profesi tenaga kesehatan yang memberikan
pelayanan kesehatan langsung baik kepada individu, keluarga, dan masyarakat. Sebagai
salah satu tenaga profesional, keperawatan menjalankan dan melaksanakan kegiatan
praktek keperawatan dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teori keperawatan yang
dapat dipertanggung jawabkan. Dimana ciri sebagai profesi adalah mempunyai body of
knowledge yang dapat diuji kebenarannya serta ilmunya dapat diimplementasikan kepada
masyarakat langsung.
Perawat dalam mempratikan keperawatannya harus memperhatikan budaya dan
keyakinan yang dimiliki oleh klien, sebagaimana yang disebutkan oleh teori model
Madeleine Leininger bahwa teori model ini memiliki tujuan yaitu menyediakan bagi klien
pelayanan spesifik secara kultural. Untuk memberikan asuhan keperawatan dengan budaya
tertentu, perlu memperhitungkan tradisi kultur klien, nilai-nilai kepercayaan ke dalam
rencana perawatan.
Berdasarkan latar belakang di atas kami membuat makalah mengenai penerapan teori
model Madeleine Leininger dalam praktek keperawatan. Hal ini ditujukan supaya lebih
memahami teori model menurut Madeleine Leininger dalam praktek keperawatan, agar
perawat mampu melakukan pelayanan kesehatan peka budaya kepada klien menjadi lebih
baik.

B. Identifikasi Masalah
a. Apa yang dimaksud teori model Madeleine Leininger dalam praktek keperawatan ?
b. Apa tujuan dari teori model Madeleine Leininger dalam praktek keperawatan
c. Apa kelebihan dari teori model Madeleine Leininger dalam praktek keperawatan ?
d. Apa kelemahan dari teori model Madeleine Leininger dalam praktek keperawatan ?
e. Bagaimana penerapan dari teori model Madeleine Leininger dalam praktek
keperawatan ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari teori model Madeleine Leininger dalam praktek
keperawatan.
2. Untuk mengetahui tujuan dari teori model Madeleine Leininger dalam praktek
keperawatan.
3. Untuk mengetahui kelebihan dari teori model Madeleine Leininger dalam praktek
keperawatn.
4. Untuk mengetahui kelemahan dari teori model Madeleine Leininger dalam praktek
keperawatan.
5. Untuk mengetahui penerapan dari teori model Madeleine Leininger dalam praktek
keperawatan
BAB II
PEMBAHASAN

A. Biografi Madeleine Leininger


Madeleine M. Leininger lahir di Suton, Nebraska. Dia menempuh pendidikan
Diploma pada tahun 1948 di St.Anthony Hospital School of Nursing, di daerah Denver.
Dia juga mengabdi di organisasi Cadet Nurse Corps, sambil mengejar pendidikan dasar
keperawatannya. Pada tahun 1950 dia meralih gelar Sarjana dalam bidang Ilmu Biologi
dari Benedictine College di Kansas. Setelah menyelesaikan studi keperawatannya di
Creighton University, Ohama, dia menempuh pendidikan magister dalam bidang
keperawatan jiwa di Chatolic University, Washington DC, Amerika. Dia merupakan
perawat pertama yang mempelajari ilmu antropologi pada tingkat doktoral, yang diraih di
University of Washington. Dan pada tahun terakhir, dia tinggal di Ohama, Nebraska.
Pada pertengahan tahun 1950. Saat Leininger bekerja untuk membimbing anak-anak
rumahan di Cincinnati, dia menemukan bahwa salah seorang dari stafnya tidak mengerti
tentang faktor budaya yang mempengaruhi perilaku anak-anak. Dia menyimpulkan, bahwa
diagnosis keperawatan dan tindakannya belum membantu anak secara memadai.
Pengalaman tersebut, mendorong Leininger untuk menempuh pendidikan doktoral dalam
bidang antropologi. Awalnya dia menulis pada akhir tahun 1970. Tulisannya ini berfokus
membahas caring dan transcultural nursing. Dia melanjutkan untuk menulis mengenai
permasalahan tersebut. Namun sebelumnya dia telah mempublikasikan teori mengenai
caring dalam keanekaragaman budaya dan universalitas.
Leininger mempunyai peran dalam bidang edukasi dan administrasi. Dia sempat
menjadi dekan keperawatan di Universities of Washington dan Utah. Dia juga merupakan
direktur dari organisasi Center for Health Research di Wayne States University, Michigan.
Sampai akhirnya dia pensiun sebagai professor emeritus. Dia juga belajar di New Guinea
sampai program doktoral, dia telah mempelajari 14 macam budaya di daerah pedalaman.
Dia merupakan pendiri dan pimpinan (pakar) dari bidang transcultural nursing dan dia
telah menjadi konsultan di bidang tersebut dan teorinya tentang culture care around the
globe. Dia telah mempublikasikan jurnal yang berjudul
The Journal of Transcultural Nursing in 1989 yang telah direvisi selam 6 tahun. Dia
berhasil mendapatkan honor yang tinggi dan meraih penghargaan nasional dan menjadi
penceramah di lebih dari 10 negara.
B. Teori Madeleine Leininger (Cultural Diversity and Universality)
Garis besar teori Leininger adalah tentang culture care diversity and universality, atau
yang kini lebih dikenal dengan transcultural nursing. Awalnya, Leininger memfokuskan
pada pentingnya sifat caring dalam keperawatan. Namun kemudian dia menemukan teori
cultural diversity and universality yang semula disadarinya dari kebutuhan khusus anak
karena didasari latar belakang budaya yang berbeda. Transcultural nursing merupakan
subbidang dari praktik keperawatan yang telah diadakan penelitiannya. Berfokus pada
nilai-nilai budaya, kepercayaan, dan pelayanan kesehatan berbasis budaya.
Bahasan yang khusus dalam teori Leininger, antara lain adalah :
1. Culture
Apa yang dipelajari, disebarkan dan nilai yang diwariskan, kepercayaan, norma, cara
hidup dari kelompok tertentu yang mengarahkan anggotanya untuk berfikir, membuat
keputusan, serta motif tindakan yang diambil.
2. Culture care
Suatu pembelajaran yang bersifat objektif dan subjektif yang berkaitan dengan nilai
yang diwariskan, kepercayaan, dan motif cara hidup yang membantu, menfasilitasi
atau memampukan individu atau kelompok untuk mempertahankan kesejahteraannya,
memperbaiki kondisi kesehatan, menangani penyakit, cacat, atau kematian.
3. Diversity
Keanekaragaman dan perbedaan persepsi budaya, pengetahuan, dan adat kesehatan,
serta asuhan keperawatan.
4. Universality
Kesamaan dalam hal persepsi budaya, pengetahuan praktik terkait konsep sehat dan
asuhan keperawatan.
5. Worldview
Cara seseorang memandang dunianya
6. Ethnohistory
Fakta, peristiwa, kejadian, dan pengalaman individu, kelompok, budaya, lembaga,
terutama sekelompok orang yang menjelaskan cara hidup manusia dalam sebuah
budaya dalam jangka waktu tertentu.

Untuk membantu perawat dalam menvisualisasikan Teori Leininger, maka Leininger


menjalaskan teorinya dengan model sunrise. Model ini adalah sebuah peta kognitif yang
bergerak dari yang paling abstrak, ke yang sederhana dalam menyajikan faktor penting
teorinya secara holistik
Sunrise model dikembangkan untuk memvisualisasikan dimensi tentang pemahaman
perawat mengenai budaya yang berdeda-beda. Perawat dapat menggunakan model ini saat
melakukan pengkajian dan perencanaan asuhan keperawatan, pada pasien dengan berbagai
latar belakang budaya. Meskipun model ini bukan merupakan teori, namun setidaknya
model ini dapat dijadikan sebagai panduan untuk memahami aspek holistik, yakni
biopsikososiospiritual dalam proses perawatan klien. Selain itu, sunrise model ini juga
dapat digunakan oleh perawat komunitas untuk menilai faktor cultural care pasien
(individu, kelompok, khususnya keluarga) untuk mendapatkan pemahaman budaya klien
secara menyeluruh. Sampai pada akhirnya, klien akan merasa bahwa perawat tidak hanya
melihat penyakit serta kondisi emosional yang dimiliki pasien. Namun, merawat pasien
secara lebih menyeluruh. Adapun, sebelum melakukan pengkajian terhadap kebutuhan
berbasis budaya kepada klien, perawat harus menyadari
dan memahami terlebih dahulu budaya yang dimilki oleh dirinya sendiri. Jika tidak,
maka bisa saja terjadi cultural imposition.

C. Tujuan Teori Madeleine Leininger


Tujuan penggunaan keperawatan transkultural adalah mengembangkan sains dan
pohon keilmuan yang humanis, sehingga tercipta praktik keperawatan pada kebudayaan
yang spesifik dan universal (Leininger, dalam Ferry Efendi dan Makhfudli, 2009). Dalam
hal ini, kebudayaan yang spesifik merupakan kebudayaan yang hanya dimiliki oleh
kelompok tertentu. Misalnya kebudayaan Suku Anak Dalam, Suku Batak, Suku Minang.
Sedangkan kebudayaan yang universal adalah kebudayaan yang umumnya dipegang oleh
masyarakat secara luas. Misalnya, kebiasaan mencuci tangan sebelum makan merupakan
perilaku yang baik, untuk meminimalisir tubuh terkontaminasi oleh mikroorganisme
ketika makan. Dengan mengetahui budaya spesifik dan budaya universal yang dipegang
oleh klien, maka praktik keperawatan dapat dilakukan secara maksimal.

D. Kelebihan Teori Madeleine Leininger


1. Merupakan perspektif teori yang bersifat unik dan kompleks, karena tidak kaku
memandang proses keperawatan. Bahwa kebudayaan klien juga sangat patut
diperhatikan dalam memberikan asuhan.
2. Pengaplikasiannya memaksimalkan teori keperawatan lain, seperti Orem, Virginia
Henderson, dan Neuman.
3. Teori transkultural ini dapat mengarahkan perawat untuk membantu klien dalam
mengambil keputusan, guna meningkatkan kualitas kesehatannya.
4. Mengatasi berbagai permasalahan hambatan budaya yang sering ditemukan saat
melakukan asuhan keperawatan.

E. Kelemahan Teori Madeleine Leininger


Teori ini tidak mempunyai metode spesifik yang mencakup proses asuhan keperawatan.

F. Penerapan Teori Madeleine Leininger dalam Keperawatan


a. Riset (Research)
Teori Leininger telah diuji cobakan menggunakan metode penelitian dalam
berbagai budaya. Pada tahun 1995, lebih dari 100 budaya telah dipelajari dipelajari.
Selain itu juga, digunakan untuk menguji teori ethnonursing. Teori transcultural
nursing ini, merupakan satu-satunya teori yang yang membahas secara spesifik tentang
pentingnya menggali budaya pasien untuk memenuhi kebutuhannya.
Kajian yang telah dilakukan mengenai etnogeografi dilakukan pada keluarga yang
salah-satu anggota keluarganya mengalami gangguan neurologis yang akut. Hal yang
dilihat disini, adalah bagaimana anggota keluarga yang sehat menjaga anggota keluarga
yang mengalami gangguan neurologis, tersebut. Akhirnya, anggota keluarga yang sehat
di wawancara dan diobservasi guna memperoleh data. Ternyata mereka melakukan
penjagaan terhadap anggota keluarga yang sakit, selama kurang lebih 24 jam. Hanya
satu orang saja yang tidak ikut berpartisipasi untuk merawat anggota yang sakit. Setelah
dikaji, ada beberapa faktor yang memengaruhi kepedulian anggota keluarga yang sehat
untuk menjaga anggota yang sakit. Faktor tesebut, dintaranya adalah komitmen dalam
kepedulian, pergolakan emosional, hubungan keluarga yang dinamis, transisi dan
ketabahan. Penemuan ini menjelaskan pemahaman yang nyata. Bahwa penjagaan
terhadap pasien merupakan salah ekspresi dari sifat caring dan memperikan
sumbangsih pada pengetahuan tentang perawatan peka budaya.
Tujuan dari kajian kedua adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis ekspresi
dari pelaksaan sifat caring warga Anglo Amerika dan Afrika Amerika dalam sift caring
jangka panjang dengan menggunakan metode ethonursing kualitatif. Data dikumpulkan
dari 40 orang partisipan, termasuk di dalamnya adalah para penduduk Anglo Amerika
dan Afrika Amerika, staf keperawatan, serta penyedia pelayanan. pemelihara gaya
hidup preadmission, perawatan yang profesional dan memuaskan bagi penduduk,
perbedaan yang besar antara appartemen dengan rumah para penduduk, dan sebuah
lembaga kebudayaan yang mencerminkan motif dan pelaksanaan keperawatan.
Penemuan ini berguna bagi masyarakat dan para staf profesional untuk
mengembangkan teori culture care diversity and universality.

b. Edukasi (Education)
Dimasukannya keanekaragaman budaya dalam kurikulum pendidikan keperawatan
bukan merupakan hal yang baru. Keanekaragaman budaya atau dalam dunia
keperawatan mulai diintegrasikan ke dalam kurikulum keperawatan pada tahun 1917,
saat komite kurikulum dari National League of Nursing (NLN) mempublikasikan
sebuah panduan yang berfokus pada ilmu sosiologi dan isu sosial yang sering dihadapi
oleh para perawat. Kemudian, tahun 1937 komite NLN mengelompokan latar belakang
budaya ke dalam panduan untuk mengetahui reaksi seseorang terhadap rasa sakit yang
dimilikinya.
Promosi kurikulum pertama tentang Transcultural Nursing dilaksanakan antara
tahun 1965-1969 oleh Madeleine Leininger. Saat itu Leininger tidak hanya
mengembangkan Transcultural Nursing di bidang kursus. Tetapi juga mendirikan
program perawat besama ilmuwan Ph-D, pertama di Colorado School of Nursing.
Kemudian dia memperkenalkan teori ini kepada mahasiswa pascasarjana pada tahun
1977. Ada pandangan, jika beberapa program keperawatan tidak mengenali
pengaruh dari perawatan peka budaya, akan berakibat pelayanan yang diberikan kurang
maksimal. Teori Leininger memberikan pengaruh yang sangat besar dalam proses
pembelajaran keperawatan yang ada di dunia. Namun, Leinginger merasa khawatir
beberapa program menggunkannya sebagai fokus utama. Karena saat ini pengaruh
globalisasi dalam pendidikan sangatlah signifikan dengan presentasi dan konsultasi di
setiap belahan dunia.
Di Indonesia sendiri, sangat penting untuk menerapkan teori transcultural nursing
dalam sistem pendidikannya. Karena kelak, saat para perawat berhadapan langsung
dengan klien, mereka tidak hanya akan merawat klien yang mempunyai budaya yang
sama dengan dirinya. Bahkan, mereka juga bisa saja menghadapi klien yag berasal dari
luar negara Indonesia.
c. Kolaborasi (Colaboration)
Asuhan keperawatan merupakan bentuk yang harus dioptimalkan dengan mengacu
pada kemungkinan variasi pendekatan keperawatan yang dibutuhkan untuk
memberikan asuhan budaya yang menghargai nilai budaya individu, kepercayaan dan
tindakan termasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu yang datang dan
individu yang mungkin kembali lagi (Leininger, 1985).
Dalam mengaplikasikan teori Leininger di lingkungan pelayanan kesehatan
memerlukan suatu proses atau rangkaian kegiatan sesuai dengan latar belakang budaya
klien. Hal ini akan sangat menunjang ketika melakukan kolaborasi dengan klien,
ataupun dengan staf kesehatan yang lainnya. Nantinya, pemahaman terhadap budaya
klien akan diimplentasikan ke dalam strategi yang digunakan dalam melaksanakan
asuhan keperawatan. Strategi ini merupakan strategi perawatan peka budaya yang
dikemukakan oleh Leininger, antara lain adalah :
i. Strategi I, Perlindungan/mempertahankan budaya.
Mempertahankan budaya dilakukan bila budaya pasien tidak bertentangan dengan
kesehatan. Perencanaan dan implementasi keperawatan diberikan sesuai dengan
nilai-nilai yang relavan, misalnya budaya berolah raga setiap pagi.
ii. Strategi II, Mengakomodasi/negosiasi budaya.
Intervensi dan implementasi keperawatan pada tahap ini dilakukan untuk
membantu klien beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan
kesehatan. Perawat membantu klien agar dapat memilih dan menentukan budaya
lain yang lebih mendukung peningkatan kesehatan, misalnya klien sedang hamil
mempunyai pantang makan yang berbau amis, maka ikan dapat diganti dengan
sumber protein hewani atau nabati lain yang nilai gizinya setara dengan ikan.
iii. Strategi III, Mengubah/mengganti budaya klien
Restrukturisasi budaya klien dilakukan bila budaya yang dimiliki merugikan status
kesehatan. Perawat berupaya merestrukturisasi gaya hidup klien yang biasanya
merokok menjadi tidak merokok. Pola rencana hidup yang dipilih biasanya yang
lebih menguntungkan dan sesuai dengan keyakinan yang dianut.

d. Pemberi Perawatan (Care Giver)


Perawat sebagai care giver diharuskan memahami konsep teori Transcultural
Nursing. Karena, bila hal tersebut diabaikan oleh perawat, akan mengakibatkan
terjadinya cultural shock atau culture imposition. Cultural shock akan dialami oleh
klien pada suatu kondisi dimana perawat tidak mampu beradaptasi dengan perbedaan
nilai budaya. Culture imposition adalah kecenderungan tenaga kesehatan (perawat),
baik secara diam maupun terang-terangan memaksakan nilai budaya, keyakinan, dan
kebiasaan/perilaku yang dimilikinya pada individu, keluarga, atau kelompok dan
budaya lain karena mereka meyakini bahwa budayanya lebih tinggi dari pada budaya
kelompok lain.
Contoh kasus, seorang pasien penderita gagal ginjal memiliki kebiasaan selalu
makan dengan sambal sehingga jika tidak ada sambal pasien tersebut tidak mau makan.
Ini merupakan tugas perawat untuk mengkaji hal tersebut karena ini terkait dengan
kesembuhan dan kenyamanan pasien dalam pemberian asuhan keperawatan. Ada 3 cara
melaksanakan tindakan keperawatan yang memiliki latar budaya atau kebiasaan yang
berbeda. Dalam kasus ini berarti perawat harus mengkaji efek samping sambal terhadap
penyakit gagal ginjal pasien, apakah memberikan dampak yang negatif atau tidak
memberikan pengaruh apapun. Jika memberikan dampak negatif tentunya sebagai care
giver perawat harus merestrukturisasi kebiasaan pasien dengan mengubah pola hidup
pasien dengan hal yang membantu penyembuhan pasien tetapi tidak membuat pasien
merasa tidak nyaman sehingga dalam pemberian asuhan keperawatan.
Pemahaman budaya klien oleh perawat sangat mempengaruhi efektivitas
keberhasilan menciptakan hubungan perawat dan klien yang bersifat terapeutik. Bila
perawat tidak memahami budaya klien maka akan timbul rasa tidak percaya sehingga
tidak akan terjadi hubungan terapeutik.

e. Manajemen
Dalam pengaplikasiannya di bidang keperawatan Transcultural Nursing bisa
ditemukan dalam manajemen keperawatan. Diantaranya ada beberapa rumah sakit yang
dalam memberikan pelayanan menggunakan bahasa daerah yang digunakan oleh
pasien. Hal ini memugkinkan pasien merasa lebih nyaman, dan lebih dekat dengan
pemberi pelayanan kesehatan. Bisa saja, tidak semua warga negara Indonesia fasih dan
nyaman menggunakan bahasa Indonesia. Terutama bagi masyarakat awam, mereka
justru akan merasa lebih dekat dengan pelayanan kesehatan yang menggunakan bahasa
ibu mereka. Hal ini dikarena nilai-nilai budaya yang dipegang oleh tiap orangnya masih
cukup kuat.
f. Sehat dan Sakit
Leininger menjelaskan konsep sehat dan sakit sebagai suatu hal yang sangat
bergantung, dan ditentukan oleh budaya. Budaya akan mempengaruhi seseorang
mengapresiasi keadaan sakit yang dideritanya.
Apresiasi terhadap sakit yang ditampilakan dari berbagai wilayah di Indonesia juga
beragam. Contohnya, Si A, yang berasal dari suku Batak mengalami influenza disertai
dengan batuk. Namun, dia masih bisa melakukan aktivitas sehari-harinya secara
normal. Maka dia dikatakan tidak sedang sakit. Karena di Suku Batak, seseorang
dikatakan sakit bila dia sudah tidak mampu untuk menjalankan aktivitasnya secara
normal

Paradigma Keperawatan Teori Keperawatan Leininger


a. Manusia / pasien
Manusia adalah individu atau kelompok yang memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang
diyakini yang berguna untuk menetapkan pilihan dan melakukan tindakan
Manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada setiap saat
dimanapun dia berada.
b. Kesehatan
Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki pasien dalam mengisi
kehidupannnya
c. Lingkungan
Lingkungan dipandang sebagai suatu totalitas kehidupan dimana pasien dengan
budayanya saling berinteraksi, baik lingkungan fisik, sosial dan simbolik.
d. Keperawatan
Keperawatan dipandang sebagai suatu ilmu dan kiat yang diberikan kepada pasien
dengan berfokus pada prilaku, fungsi dan proses untuk meningkatkan dan
mempertahankan kesehatan atau pemulihan dari sakit.
Konsep Utama Teori Transkultural
1. Culture Care
Nilai-nilai, keyakinan, norma, pandangan hidup yang dipelajari dan diturunkan serta
diasumsikan yang dapat membantu mempertahankan kesejahteraan dan kesehatan serta
meningkatkan kondisi dan cara hidupnya.
2. World View
Cara pandang individu atau kelompok dalam memandang kehidupannya sehingga
menimbulkan keyakinan dan nilai.
3. Culture and Social Structure Dimention
Pengaruh dari factor-faktor budaya tertentu (sub budaya) yang mencakup religius,
kekeluargaan, politik dan legal, ekonomi, pendidikan, teknologi dan nilai budaya yang
saling berhubungan dan berfungsi untuk mempengaruhi perilaku dalam konteks
lingkungan yang berbeda
4. Generic Care System
Budaya tradisional yang diwariskan untuk membantu, mendukung, memperoleh kondisi
kesehatan, memperbaiki atau meningkatkan kualitas hidup untuk menghadapi kecacatan
dan kematiannya.
5. Profesional system
Pelayanan kesehatan yang diberikan oleh pemberi pelayanan kesehatan yang memiliki
pengetahuan dari proses pembelajaran di institusi pendidikan formal serta melakukan
pelayanan kesehatan secara professional.
6. Culture Care Preservation
Upaya untuk mempertahankan dan memfasilitasi tindakan professional untuk mengambil
keputusan dalam memelihara dan menjaga nilai-nilai pada individu atau kelompok
sehingga dapat mempertahankan kesejahteraan.
7. Culture Care Acomodation
Teknik negosiasi dalam memfasilitasi kelompok orang dengan budaya tertentu untuk
beradaptasi/berunding terhadap tindakan dan pengambilan kesehatan.
8. Cultural Care Repattering.
Menyusun kembali dalam memfasilitasi tindakan dan pengambilan keputusan
professional yang dapat membawa perubahan cara hidup seseorang.
9. Culture Congruent / Nursing Care
Suatu kesadaran untuk menyesuaikan nilai-nilai budaya / keyakinan dan cara hidup
individu/ golongan atau institusi dalam upaya memberikan asukan keperawatan yang
bermanfaat.
Transkultural Care Dengan Proses Keperawatan
Model konseptual asuhan keperawatan transkultural dapat dilihat pada gambar
berikut.
Penerapan teori Leineger (Sunrise Model) pada proses keperawatan
dapat dijelaskan sebagai berikut :
Proses Sunrise Model
Keperawatan
Pengkajian dan Pengkajian terhadap Level satu, dua dan tiga yang meliputi :
Diagnosis Level satu : World view and Social system level
Level dua : Individual, Families, Groups communities and
Institution in diverse health system
Level tiga : Folk system, professional system and nursing
Perencanaan dan Level empat : Nursing care Decition and Action
Implementasi Culture Care Preservation/maintanance
Culture Care Accomodation/negotiations
Culture Care Repatterning/restructuring
Evaluasi

Penerapan Asuhan Keperawatan Berdasarkan teori Leininger.


A. Pengkajian
Pengkajian dilakukan terhadap respon adaptif dan maladaptif untuk memenuhi kebutuhan
dasar yang tepat sesuai dengan latar belakang budayanya. Pengkajian dirancang berdasarkan
7 komponen yang ada pada Leiningers Sunrise models dalam teori keperawatan
transkultural Leininger yaitu :
1. Faktor teknologi (technological factors)
Berkaitan dengan pemanfaatan teknologi kesehatan maka perawat perlu mengkaji berupa
: persepsi pasien tentang penggunaaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi
permasalahan kesehatan saat ini, alasan mencari bantuan kesehatan.
2. Faktor Agama dan Falsafah Hidup (religious and Philosophical factors)
Faktor agama yang perlu dikaji perawat seperti : agama yang dianut, kebiasaan agama
yang berdampak positif terhadap kesehatan, berikhtiar untuk sembuh tanpa mengenal
putus asa, mempunyai konsep diri yang utuh, status pernikahan, persepsi dan cara
pandang pasien terhadap kesehatan atau penyebab penyakit.
3. Faktor sosial dan keterikatan kekeluargaan ( Kinship & Social factors)
Pada faktor sosial dan kekeluargaan yang perlu dikaji oleh perawat : nama lengkap dan
nama panggilan di dalam keluarga, umur atau tempat dan tanggal lahir, jenis kelamin,
status, tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam anggota keluarga, hubungan pasien
dengan kepala keluarga, kebiasaan yang dilakukan rutin oleh keluarga misalnya arisan
keluarga, kegiatan yang dilakukan bersama masyarakat misalnya : ikut kelompok olah
raga atau pengajian.
4. Faktor nilai-nilai budaya dan gaya hidup (Cultural values & Lifeways)
Hal-hal yang perlu dikaji berkaitan dengan nilai-nilai budaya dan gaya hidup adalah :
posisi dan jabatan misalnya ketua adat atau direktur, bahasa yang digunakan, bahasa non
verbal yang ditunjukkan pasien, kebiasaan membersihkan diri, kebiasaan makan, makan
pantang berkaitan dengan kondisi sakit, sarana hiburan yang biasa dimanfaatkan dan
persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, misalnya sakit apabila sudah
tergeletak dan tidak dapat pergi ke sekolah atau ke kantor.
5. Faktor kebijakan dan peraturan Rumah Sakit (Political and Legal factors)
Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala sesuatu yang
mempengaruhi kegiatan individu dan kelompok dalam asuhan keperawatan transkultural
(Andrew & Boyle, 1995), seperti jam berkunjung, pasien harus memakai baju seragam,
jumlah keluarga yang boleh menunggu, hak dan kewajiban pasien, cara pembayaran
untuk pasien yang dirawat.
5. Faktor ekonomi (economical factors)
Faktor ekonomi yang perlu dikaji oleh perawat antara lain seperti pekerjaan pasien,
sumber biaya pengobatan , kebiasaan menabung dan jumlah tabungan dalam sebulan
6. Faktor pendidikan (educational factors)
Perawat perlu mengkaji latar belakang pendidikan pasien meliputi tingkat pendidikan
pasien dan keluarga, serta jenis pendidikannnya.
B. Diagnosa Keperawatan
Perawat merumuskan masalah yang dihadapi Pasien dan keluarganya adalah :
Perlunya perlindungan, kebutuhan akan kehadiran orang lain dan rasa ingin berbagi
sebagai nilai yang penting untuk Pasien dan keluarganya.
Perkembangan dari pola ini adalah kesehatan dan kesejahteraan yang bergantung pada
ketiga aspek tersebut.
Hal lain yang ditemukan adalah suatu pola yang dapat membangun kehidupan social dan
aspek penting lainnya yaitu masalah kerohanian, kekeluargaan dan ekonomi yang sangat
besar mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan
C. Perencanaan dan Implementasi
Perencanaan dan implementasi keperawatan transkultural menawarkan tiga strategi sebagai
pedoman Leininger (1984) ; Andrew & Boyle, 1995 yaitu :
Perlindungan/mempertahankan budaya (Cultural care preservation/maintenance) bila
budaya pasien tidak bertentangan dengan kesehatan,
Mengakomodasi/menegosiasi budaya (Cultural care accommodation atau
negotiations) apabila budaya pasien kurang mendukung kesehatan
Mengubah dan mengganti budaya pasien dan keluarganya (Cultural care repartening /
recontruction).
Adapun implementasi yang dilakukan terkait masalah yang telah ditemukan :
1. The goal of culture care preservation or maintenance :
Agama dapat digunakan sebagai mekanisme yang memperkuat dalam merawat
pasien. Dipandang penting untuk konsultasi dengan toko agama seperti ustad di
mesjid.
Membantu pasien untuk menghilangkan persepsi negatif yang mengatakan
bahwa dosa di masa lalu mempengaruhi keadaan sakitnya dan mendapatkan
pertolongan dari hasil berkonsultasi kepada " dukun" yang memindahkan
beberapa kutukan kepadanya.
Pengobatan yang baik adalah adanya kepedulian dari keluarga pasien dan teman-
temannya yang juga berperan untuk kesembuhan pasien.

2. Culture Care accommodation or Negotiation:


Perawat merencanakan kordinasi dengan tata kota untuk memperbaiki
lingkungan yang tidak sehat dan selokan yang meluap di halaman tetangga
pasien.
Perawat lain (yang merawat Pasien) akan mengidentifikasi dan menetapkan
obat-obatan untuk menentukan apakah sesuai dengan metode yang digunakan
pada pasien.

3. Culture care Repatterning or restructuring:


Kepedulian akan aspek social budaya perlu untuk dipertimbangkan, seorang ahli
diet akan dikirim untuk menyusun menu pasien dan mengatasi anemia yang
dialami.
Perawat juga akan membantu pasien dalam menghentikan kebiasaan merokok,
penyuluhan tentang pengaruh rokok terhadap, dan anjurkan para perokok untuk
merokok di luar ruangan.

D. Evaluasi
Evaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadap :
keberhasilan pasien mempertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan
Negosiasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan kesehatannya
Restrukturisasi budaya yang bertentangan dengan kesehatan.
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Garis besar teori Leininger adalah tentang culture care diversity dan universality, atau
yang lebih dikenal dengan transcultural nursing. Berfokus pada nilai-nilai budaya,
kepercayaan, dan pelayanan kesehatan berbasis budaya, serta di dalam teorinya membahas
khusus culture, culture care, diversity, universality, worldview, ethnohistory. Tujuan
penggunaan keperawatan transkultural adalah mengembangkan sains dan pohon keilmuan
yang humanis, sehingga tercipta praktik keperawatan pada kebudayaan yang spesifik dan
universal . Dalam teori ini terdapat beberapa kelebihan dan juga kekurangan yang perlu
diperbaiki dan dipertahankan. Selain itu teori ini juga dapat diterapkan dalam berbagai
bidang/aspek diantaranya bidang riset, edukasi, kolaborasi, pemberi perawatan,
manajemen, dan sehat sakit.
Dalam bidang riset, teori Leininger telah diuji cobakan menggunakan metode
penelitian dalam berbagai budaya, dimana hasil penemuan ini berguna bagi masyarakat
dan para staf profesional untuk mengembangkan teori transcultural nursing. Dalam bidang
edukasi, Leininger mengembangkan Transcultural Nursingdi bidang kursus dan di sebuah
program sekolah perawat. Teori Leininger memberikan pengaruh yang sangat besar dalam
proses pembelajaran keperawatan yang ada di dunia karena teori ini sangat penting guna
menciptakan perawatan profesional yang peka budaya.
Dalam bidang kolaborasi, teori Leininger ini diterapkan di lingkungan pelayanan
kesehatan ketika melakukan kolaborasi dengan klien, ataupun dengan staf kesehatan yang
lainnya. Dalam pemberian perawatan, perawat diharuskan memahami konsep teori
Transcultural Nursing untuk menghindari terjadinya cultural shock atau culture imposition
saat pemberian asuhan keperawatan.
Dalam bidang manajemen teori Transcultural Nursing bisa diaplikasikan saat
pemberian pelayanan menggunakan bahasa daerah yang digunakan oleh pasien. Hal ini
memungkinkan pasien merasa lebih nyaman, dan lebih dekat dengan pemberi pelayanan
kesehatan.Dalam aspek sehat dan sakit, Leininger menjelaskan hal tersebut sebagai suatu
hal yang sangat bergantung, dan ditentukan oleh budaya, karena budaya akan
mempengaruhi seseorang mengapresiasi keadaan sakit yang dideritanya.
B. Saran
Penerapan teori Leinienger diperlukan pengetahuan dan pemahaman tentang ilmu
antropologi agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang baik.
Pelaksanaan teori leininger memerlukan pengabungan dari teori keperawatan yang
lain yang terkait seperti teori adaptasi, self care, dll
DAFTAR PUSTAKA

Johnson, Betty M & Pamela B. Webber. 2005. Theory and Reasoning in Nursing.
Virginia: Wolters Kluwer

Sagar, Priscilla Limbo. 2014.Transculural Nursing Education Strategies. United States:


Spinger Publishing Company.

George, J.B. 1995. Nursing Theories. 4th ed. New Jersey: Prentice Hall.

Aplikasi Teori Transcultural Nursing dalam Proses Keperawatan oleh Rahayu Iskandar,
Ners, M.Kep. Diperoleh, 19 Februari 2015, dari,
https://www.academia.edu/5611692/Aplikasi_Leininger .

Efendi, Ferry & Makhfudli. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan
Praktik dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika. Diakses, 23 Februari 2015, dari
https://books.google.co.id/books?
id=LKpz4vwQyT8C&printsec=frontcover&hl=id#v=onepage&q&f=false.

Janes, Sharyn & Karen Saucier Lundy. 2009. Community Health Nursing-Caring for
the Publics Health-Third Edition. United States: Jones & Barklett Learning. Diakses,
23 Februari 2015, dari https://books.google.co.id/books?
id=OYAmBgAAQBAJ&pg=PA286&dq=sunrise+model&hl=id&sa=X&ei=nMbqVIH
P K4eLuATx1oKwCw&redir_esc=y#v=onepage&q=sunrise%20model&f=false.