Anda di halaman 1dari 25

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Fraktur telah menjadi masalah yang banyak dijumpai di pusat pelayanan


kesehatan di seluruh dunia. Kasus fraktur kebanyakan disebabkan oleh cedera antara
lain karena jatuh, kecelakaan lalu lintas dan trauma benda tajam atau tumpul. WHO
mengakui bahwa kematian dan kecacatan dari trauma lalu lintas adalah masalah
kesehatan masyarakat yang utama di seluruh dunia dan fraktur merupakan kasus yang
sering terjadi dalam kecelakaan lalu lintas.1
Fraktur adalah terputusnya hubungan atau diskontinuitas struktur tulang.
Fraktur dapat bersifat total ataupun parsial yang umumnya disebabkan oleh tekanan
yang berlebihan, sering diikuti oleh kerusakan jaringan lunak dengan berbagai macam
derajat, mengenai pembuluh darah, otot dan persarafan. Fraktur dapat berupa retakan,
patah, atau serpihan dari korteks; sering patahan terjadi sempurna dan bagian tulang
bergeser. 2,3
Kebanyakan fraktur terjadi akibat dari trauma. Trauma yang menyebabkan
tulang patah dapat berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung. Trauma
langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah
tekanan. Trauma tidak langsung, apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih
jauh dari daerah fraktur. Beberapa fraktur terjadi karena proses penyakit seperti
osteoporosis, yang menyebabkan fraktur patologis.2
Penegakan diagnosis fraktur dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik,
yang ditunjang dengan pemeriksaan radiologis. Pemeriksaan pencitraan diperlukan
untuk membantu menegakkan diagnosis fraktur dan mengevaluasi komplikasi yang
terjadi dalam rangka menunjang pengambilan keputusan terapi pada pasien.1,3
Penanganan terhadap fraktur dapat dengan pembedahan atau tanpa
pembedahan. Prinsip penanganan fraktur meliputi: (1) Reduksi yaitu memperbaiki
posisi fragmen yang patah terdiri dari reduksi tertutup yaitu tindakan yang dilakukan

1
tanpa operasi dan reduksi terbuka yaitu tindakan yang dilakukan dengan operasi, (2)
Immobilisasi yaitu suatu tindakan untuk mencegah terjadinya pergeseran dengan cara
traksi terusmenerus, pembebatan dengan gips, fiksasi internal dan fiksasi eksternal,
(3) Rehabilitasi yaitu memulihkan fungsi agar pasien dapat kembali ke aktifitas
normal.2
Manajemen awal yang tidak tepat dari patah tulang dapat menyebabkan
morbiditas jangka panjang yang signifikan dan berpotensi kematian, oleh karena itu
fraktur menjadi salah satu kasus yang penting untuk dibahas dan diketahui.

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Tulang Panjang


Tulang adalah jaringan hidup yang memiliki kemampuan untuk merubah
strukturnya sebagai hasil dari stres yang diarahkan kepadanya. Sebagaimana jaringan
ikat, tulang terdiri dari sel, serat, dan matriks. Tulang memiliki struktur yang keras
karena adanya kalsifikasi dari matriks ekstraseluler dan memiliki tingkat elastisitas
karena adanya serat organik.4
Tulang memiliki fungsi protektif: tulang tengkorak dan collumna vertebrae,
sebagai contohnya, untuk melindungi otak dan korda spinalis dari cedera. Selain itu,
tulang juga berfungsi sebagai alat gerak, sebagaimana yang dapat terlihat pada tulang
panjang, dan sebagai tempat penyimpanan deposit garam kalsium. Tulang juga
menjadi tempat untuk sumsum tulang.4
Tulang tersusun dari dua, kompakta dan spongiosa. Tulang kompakta sebagai
massa padat; spongiosa terdiri atas trabekula atau balok tulang langsing, tidak teratur,
bercabang, dan saling berhubungan membentuk anyaman. Celah di antara anyaman
ditempati oleh sumsum tulang. Trabekula tersususun sedemikian rupa untuk menahan
tegangan dan tekanan yang mengenainya.4
Tulang panjang terdiri dari epifisis, metafisis dan diafisis. Epifisis merupakan
bagian paling atas dari tulang panjang. Diafisis merupakan bagian tulang panjang
yang di bentuk dari pusat osifikasi primer. Tulang ini mempunyai corpus berbentuk
tubular. Selama masa pertumbuhan, diaphysis dipisahkan dari epiphysis oleh
cartilago epiphysis. Metafisis merupakan bagian yang lebih lebar dari ujung tulang
panjang, yang berdekatan dengan diskus epifisialis.3,4
Corpus mempunyai cavitas medullaris di bagian tengah yang berisi medulla
ossium (sumsum fulang). Bagian luar corpus terdiri dari tulang kompakta yang
diliputi oleh selubung jaringan ikat, periosteum. Ujung-ujung tulang panjang terdiri
dari tulang spongiosa yang dikelilingi oleh selapis tipis tulang kompakta. Facies
articularis ujung-ujung tulang diliputi oleh cartilago hyalin.4

3
Gambar 1. Struktur tulang panjang

4
2.2. Definisi Fraktur
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas struktural dari tulang. Mungkin saja tidak
lebih dari sebuah celah atau retakan dari korteks tulang; tetapi yang lebih sering
terjadi adalah fraktur inkomplet dan fragmen tulang yang berpindah tempat. Apabila
kulit di permukaan daerah fraktur tetap intak, tergolong ke dalam fraktur tertutup atau
sederhana. Namun, apabila kulit di permukaannya rusak, tergolong ke dalam fraktur
terbuka yang cenderung terkena infeksi dan kontaminasi. Fraktur tulang di dekat
sendi atau mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang disertai luksasi sendi
yang disebut fraktur dislokasi.2
Fraktur atau patah tulang umumnya disebabkan oleh trauma. Trauma yang
menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung, misalnya benturan pada
lengan bawah yang menyebabkan fraktur tulang radius dan ulna, dan dapat berupa
trauma tidak langsung, misalnya jatuh bertumpu pada tangan yang menyebabkan
tulang klavikula atau radius distal patah.2

2.3. Etiologi Fraktur2,3


Etiologi fraktur yang dimaksud adalah peristiwa yang dapat menyebabkan
terjadinya fraktur diantaranya peristiwa trauma (kekerasan) dan peristiwa patologis.
1. Peristiwa Trauma (kekerasan)
a) Kekerasan langsung
Kekerasan langsung dapat menyebabkan tulang patah pada titik
terjadinya kekerasan itu, misalnya tulang kaki terbentur bumper mobil,
maka tulang akan patah tepat di tempat terjadinya benturan. Patah tulang
demikian sering bersifat terbuka, dengan garis patah melintang atau
miring.
b) Kekerasan tidak langsung
Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang di tempat
yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah
bagian yang paling lemah dalam hantaran vektor kekerasan. Contoh patah
tulang karena kekerasan tidak langsung adalah bila seorang jatuh dari

5
ketinggian dengan tumit kaki terlebih dahulu. Yang patah selain tulang
tumit, terjadi pula patah tulang pada tibia dan kemungkinan pula patah
tulang paha dan tulang belakang. Demikian pula bila jatuh dengan telapak
tangan sebagai penyangga, dapat menyebabkan patah pada pergelangan
tangan dan tulang lengan bawah.
2. Repetitive stress
Fraktur ini terjadi pada orang yang yang melakukan aktivitas
berulang-ulang pada suatu daerah tulang atau menambah tingkat aktivitas
yang lebih berat dari biasanya. Tulang akan mengalami perubahan struktural
akibat pengulangan tekanan pada tempat yang sama, atau peningkatan beban
secara tiba tiba pada suatu daerah tulang maka akan terjadi retak tulang.
3. Peristiwa Patologis
Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal karena lemahnya suatu
tulang akibat penyakit infeksi, penyakit metabolisme tulang misalnya
osteoporosis, dan tumor pada tulang. Sedikit saja tekanan pada daerah tulang
yang rapuh maka akan terjadi fraktur.

2.4. Klasifikasi Fraktur


Fraktur menurut ada tidaknya hubungan antara patahan tulang dengan dunia luar
dibagi menjadi dua, yaitu fraktur tertutup dan fraktur terbuka. Fraktur tertutup jika
kulit diatas tulang yang fraktur masih utuh, tetapi apabila kulit diatasnya tertembus
maka disebut fraktur terbuka. Patah tulang terbuka dibagi menjadi tiga derajat yang
ditentukan oleh berat ringannya luka dan berta ringannya patah tulang.4

Tabel 1. Klasifikasi Fraktur terbuka menurut Gustillo dan Anderson (1976).2


Derajat Luka Fraktur
I Laserasi <2 cm Sederhana, dislokasi fragmen
minimal
II Laserasi >2 cm, kontusi otot disekitarnya Dislokasi fragmen jelas

6
III Luka lebar, rusak hebat, atau hilangnya Kominutif, segmental, fragmen
jaringan di sekitarnya tulang ada yang hilang

Tabel 2. Klasifikasi lanjut fraktur terbuka tipe III (Gustillo dan Anderson, 1976) oleh
Gustillo, Mendoza dan Williams (1984):2
Tipe Batasan
IIIA Periosteum masih membungkus fragmen fraktur dengan kerusakan jaringan
lunak yang luas
IIIB Kehilangan jaringan lunak yang luas, kontaminasi berat, periosteal striping
atau terjadi bone expose
IIIC Disertai kerusakan arteri yang memerlukan repair tanpa melihat tingkat
kerusakan jaringan lunak.

Gambar 2. Fraktur terbuka dan fraktur tertutup

7
Menurut garis frakturnya, fraktur dibagi menjadi fraktur komplet atau
inkomplet (termasuk fisura dan greenstick fracture), transversa, oblik, spiral,
kompresi, simpel, kominutif, segmental, kupu-kupu, dan impaksi.3
a) Komplet yaitu garis fraktur menyilang atau memotong seluruh tulang dan
fragmen tulang biasanya tergeser
b) Inkomplet yaitu meliputi hanya sebagian retakan pada sebelah sisi tulang
c) Transversal adalah fraktur yang garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu
panjang tulang atau bentuknya melintang dari tulang. Fraktur semacam ini
biasanya mudah dikontrol dengan pembidaian gips.
d) Spiral adalah fraktur meluas yang mengelilingi tulang yang timbul akibat torsi
ekstremitas atau pada alat gerak. Fraktur jenis ini hanya menimbulkan sedikit
kerusakan jaringan lunak.
e) Oblik adalah fraktur yang memiliki patahan arahnya miring dimana garis
patahnya membentuk sudut terhadap tulang.
f) Segmental adalah dua fraktur berdekatan pada satu tulang, ada segmen tulang
yang retak dan ada yang terlepas menyebabkan terpisahnya segmen sentral
dari suplai darah.
g) Kominuta adalah fraktur yang mencakup beberapa fragmen, atau terputusnya
keutuhan jaringan dengan lebih dari dua fragmen tulang.
h) Greenstick adalah fraktur tidak sempurna atau garis patahnya tidak lengkap
dimana korteks tulang sebagian masih utuh demikian juga periosterum.
Fraktur jenis ini sering terjadi pada anak anak.
i) Fraktur Impaksi adalah fraktur yang terjadi ketika dua tulang menumbuk
tulang ketiga yang berada diantaranya, seperti pada satu vertebra dengan dua
vertebra lainnya.
j) Fraktur Fissura adalah fraktur yang tidak disertai perubahan letak tulang yang
berarti, fragmen biasanya tetap di tempatnya setelah tindakan reduksi.

8
Gambar 3. Mekanisme Fraktur. (a) Spiral (berputar); (b) Oblik/serong (kompresi);
(c) Triangular butterfly fragment/kupu-kupu (membengkok);
(d) Transversal/lintang (tension)3

Gambar 4. Jenis Fraktur. Fraktur komplet : (a) Transversal; (b) Segmental; (c) Spiral.
Fraktur inkomplete : (d) Buckle/torus/melengkung; (e,f) greenstick.3

9
Gambar 5. Jenis Fraktur: Kominuta, Greenstick, Impaksi, Fissura

Berpindahnya fragmen tulang dari tempatnya semula disebut displacement.


Displacement ini dibagi menjadi 4, yaitu : 2,3
1. Aposisi
Aposisi merupakan suatu keadaan dimana fragmen tulang mengalami
perubahan letak sehingga terjadi perubahan dalam kontak antara fragmen tulang
proksimal dan distal. Pada pemeriksaan radiologik, aposisi dinyatakan dalam
persentase kontak antara fragmen proksimal dan distal. Jadi, misalnya dari hasil
pemeriksaan rontgen terlihat bahwa tidak ada kontak sama sekali antara
permukaan fragmen proksimal dengan distal maka dinyatakan aposisi 0%,
disebut juga aposisi komplet. Kalau kontak masih terjadi disebut aposisi parsial,
misalnya aposisi 80%, berarti 80% permukaan fragmen proksimal masih kontak
dengan fragmen distal.
2. Alignment
Alignment merupakan suatu kondisi miringnya fragmen tulang panjang
sehingga arah aksis longitudinalnya berubah. Apabila antara aksis longitudinal
fragmen proksimal dan distal membentuk sudut maka disebut angulasi. Pada
pemeriksaan radiologi, angulasi ini dinyatakan dalam derajat.

10
3. Rotasi
Rotasi adalah berputarnya fragmen tulang pada aksis longitudinalnya,
misalnya fragmen distal mengalami perputaran terhadap fragmen proksimal.
4. Length (panjang)
Length dapat dibagi menjadi 2, yaitu overlapping (tumpang tindihnya
tulang) yang menyebabkan pemendekan (shortening) tulang serta distraksi yang
menyebabkan tulang memanjang.

Gambar 6. Macam-macam Displacement

Satu bentuk fraktur yang khusus pada anak adalah fraktur yang mengenai
cakram pertumbuhan. Fraktur yang mengenai cakram epifisis ini perlu mendapat
perhatian khusus karena dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan. Fraktur cakram
epifisis ini dibagi menjadi lima tipe. 8

11
Tabel 3. Klasifikasi Salter Harris pada patah tulang epifisis
Tipe 1 Epifisis dan cakram epifisis lepas dari metafisis, tetapi periosteumnya
masih utuh
Tipe 2 Periosteum robek di satu sisi sehingga epifisis dan cakram epifisis
lepas sama sekali dari metafisis
Tipe 3 Fraktur cakram epifisis yang melalui sendi
Tipe 4 Terdapat fragmen fraktur yang garis patahannya tegak lurus cakram
epifisis
Tipe 5 Terdapat kompresi pada sebagian cakram epifisis yang menyebabkan
kematian dari sebagian cakram tersebut

Gambar 7. Klasifikasi Salter Harris pada patah tulang epifisis

2.5. Penyembuhan Fraktur


Proses penyembuhan fraktur pada tulang kortikal terdiri atas lima fase, yaitu :1,2,3
1. Fase Hematoma
Hematom terbentuk dari darah yang mengalir yang berasal dari pembuluh
darah yang robek
Hematom dibungkus jaringan lunak sekitar (periosteum & otot)

12
Terjadi sekitar 1-2 x 24 jam

2. Fase Stadium Proliferasi Sel / Inflamasi :


Sel-sel berproliferasi dari lapisan dalam periosteum, sekitar lokasi fraktur
Sel-sel ini menjadi precursor osteoblast
Sel-sel ini aktif tumbuh ke arah fragmen tulang
Proliferasi juga terjadi di jaringan sumsum tulang
Terjadi setelah hari ke-2 kecelakaan terjadi

3. Fase pembentukan kalus (fase union secara klinis)


Osteoblast membentuk tulang lunak (kallus)
Kallus memberikan rigiditas pada fraktur
Jika terlihat massa kallus pada X-ray berarti fraktur telah menyatu
Terjadi setelah 6-10 hari setelah kecelakaan terjadi

4. Fase konsolidasi (fase union secara radiologik)


Kallus mengeras dan terjadi proses konsolidasi. Fraktur teraba telah
menyatu
Secara bertahap menjadi tulang mature
Terjadi pada minggu ke 3-10 setelah kecelakaan

5. Fase remodelling
Lapisan bulbous mengelilingi tulang khususnya pada lokasi eks fraktur
Tulang yang berlebihan dibuang oleh osteoklast
Pada anak-anak remodeling dapat sempurna, pada dewasa masih ada
tanda penebalan tulang.

13
Gambar 8. Fase Penyembuhan Tulang

2.6. Diagnosis Fraktur


Gejala klasik fraktur adalah adanya riwayat trauma, rasa nyeri dan bengkak di
bagian tulang yang patah, deformitas (angulasi, rotasi, diskrepansi), gangguan fungsi
muskuloskeletal akibat nyeri, putusnya kontinuitas tulang, dan gangguan

14
neurovaskuler. Apabila gejala klasik tersebut ada, secara klinis diagnose fraktur dapat
ditegakkan walaupun jenis konfigurasinya belum dapat ditentukan.2,3
Anamnesis dilakukan untuk menggali riwayat mekanisme cedera (posisi
kejadian) dan kejadian-kejadian yang berhubungan dengan cedera tersebut. riwayat
cedera atau fraktur sebelumnya, riwayat sosial ekonomi, pekerjaan, obat-obatan yang
dia konsumsi, merokok, riwayat alergi dan riwayat osteoporosis serta penyakit lain.2,3
Pada pemeriksaan fisik dilakukan tiga hal penting, yakni inspeksi/look:
deformitas (angulasi, rotasi, pemendekan, pemanjangan), bengkak. Palpasi / feel
(nyeri tekan, krepitasi). Status neurologis dan vaskuler di bagian distalnya perlu
diperiksa. Lakukan palpasi pada daerah ekstremitas tempat fraktur tersebut, meliputi
persendian diatas dan dibawah cedera, daerah yang mengalami nyeri, efusi, dan
krepitasi. Neurovaskularisasi bagian distal fraktur meliputi : pulsasi aretri, warna
kulit, pengembalian cairan kapler, sensasi. Pemeriksaan gerakan/move dinilai apakah
adanya keterbatasan pada pergerakan sendi yang berdekatan dengan lokasi fraktur.3,5
Pemeriksaan trauma di tempat lain meliputi kepala, toraks, abdomen, pelvis.
Sedangkan pada pasien dengan politrauma, pemeriksaan awal dilakukan
menurut protokol ATLS. Langkah pertama adalah menilai airway, breathing, dan
circulation. Perlindungan pada vertebra dilakukan sampai cedera vertebra dapat
disingkirkan dengan pemeriksaan klinis dan radiologis.2,3
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan antara lain laboratorium meliputi
darah rutin, faktor pembekuan darah, golongan darah, cross-test, dan urinalisa.
Pemeriksaan radiologis untuk lokasi fraktur harus menurut rule of two: dua
gambaran, anteroposterior (AP) dan lateral, memuat dua sendi di proksimal dan distal
fraktur, memuat gambaran foto dua ekstremitas, yaitu ekstremitas yang cedera dan
yang tidak terkena cedera (pada anak) dan dua kali, yaitu sebelum tindakan dan
sesudah tindakan.2,3,5

2.7. Komplikasi Penyembuhan Fraktur


Komplikasi fraktur dapat diakibatkan oleh trauma itu sendiri atau akibat
penanganan fraktur yang disebut komplikasi iatrogenik.

15
2.7.1. Komplikasi umum
Syok karena perdarahan ataupun oleh karena nyeri, koagulopati diffus dan
gangguan fungsi pernafasan. Ketiga macam komplikasi tersebut diatas dapat terjadi
dalam 24 jam pertama pasca trauma dan setelah beberapa hari atau minggu akan
terjadi gangguan metabolisme, berupa peningkatan katabolisme. Komplikasi umum
lain dapat berupa emboli lemak, trombosis vena dalam (DVT), tetanus atau gas
gangren.

2.7.2. Komplikasi Lokal


a. Komplikasi dini
Komplikasi dini adalah kejadian komplikasi dalam satu minggu pasca
trauma, sedangkan apabila kejadiannya sesudah satu minggu pasca trauma
disebut komplikasi lanjut.
Pada Tulang
1. Infeksi, terutama pada fraktur terbuka.
2. Osteomielitis dapat diakibatkan oleh fraktur terbuka atau tindakan
operasi pada fraktur tertutup. Keadaan ini dapat menimbulkan
delayed union atau bahkan non union
Komplikasi sendi dan tulang dapat berupa artritis supuratif
yang sering terjadi pada fraktur terbuka atau pasca operasi yang
melibatkan sendi sehingga terjadi kerusakan kartilago sendi dan
berakhir dengan degenerasi.
Pada Jaringan lunak
1. Lepuh
Kulit yang melepuh adalah akibat dari elevasi kulit superfisial
karena edema. Terapinya adalah dengan menutup kasa steril kering
dan melakukan pemasangan elastik.
2. Dekubitus

16
Terjadi akibat penekanan jaringan lunak tulang oleh gips. Oleh
karena itu perlu diberikan bantalan yang tebal pada daerah-daerah
yang menonjol.
Pada Otot
Terputusnya serabut otot yang mengakibatkan gerakan aktif otot
tersebut terganggu. Hal ini terjadi karena serabut otot yang robek melekat
pada serabut yang utuh, kapsul sendi dan tulang. Kehancuran otot akibat
trauma dan terjepit dalam waktu cukup lama akan menimbulkan sindroma
crush atau thrombus.
Pada pembuluh darah
Pada robekan arteri inkomplit akan terjadi perdarahan terus menerus.
Sedangkan pada robekan yang komplit ujung pembuluh darah mengalami
retraksi dan perdarahan berhenti spontan.
Pada jaringan distal dari lesi akan mengalami iskemi bahkan nekrosis.
Trauma atau manipulasi sewaktu melakukan reposisi dapat menimbulkan
tarikan mendadak pada pembuluh darah sehingga dapat menimbulkan
spasme. Lapisan intima pembuluh darah tersebut terlepas dan terjadi
trombus. Pada kompresi arteri yang lama seperti pemasangan torniquet
dapat terjadi sindrome crush. Pembuluh vena yang putus perlu dilakukan
repair untuk mencegah kongesti bagian distal lesi.
Sindroma kompartemen terjadi akibat tekanan intra kompartemen otot
pada tungkai atas maupun tungkai bawah sehingga terjadi penekanan
neurovaskuler sekitarnya. Fenomena ini disebut Iskhemi Volkmann. Ini
dapat terjadi pada pemasangan gips yang terlalu ketat sehingga dapat
menggangu aliran darah dan terjadi edema dalam otot.
Apabila iskemi dalam 6 jam pertama tidak mendapat tindakan dapat
menimbulkan kematian/nekrosis otot yang nantinya akan diganti dengan
jaringan fibrus yang secara periahan-lahan menjadi pendek dan disebut
dengan kontraktur volkmann. Gejala klinisnya adalah 5 P yaitu Pain

17
(nyeri), Parestesia, Pallor (pucat), Pulseness (denyut nadi hilang) dan
Paralisis
Pada saraf
Berupa kompresi, neuropraksi, neurometsis (saraf putus), aksonometsis
(kerusakan akson). Setiap trauma terbuka dilakukan eksplorasi dan
identifikasi nervus.1

b. Komplikasi lanjut
Pada tulang dapat berupa malunion, delayed union atau non union. Pada
pemeriksaan terlihat deformitas berupa angulasi, rotasi, perpendekan atau
perpanjangan.
Delayed union
Proses penyembuhan lambat dari waktu yang dibutuhkan secara
normal. Pada pemeriksaan radiografi, tidak akan terlihat bayangan sklerosis
pada ujung-ujung fraktur.
Terapi konservatif selama 6 bulan bila gagal dilakukan Osteotomi.
Bila lebih 20 minggu dilakukan cancellus grafting (12-16 minggu)
Non union
Dimana secara klinis dan radiologis tidak terjadi penyambungan.

Tabel 4. Tipe non union


Tipe Klasifikasi
Tipe I Tidak akan terjadi proses penyembuhan fraktur dan
(hypertrophic diantara fragmen fraktur tumbuh jaringan fibrus yang
non union) masih mempunyai potensi untuk union dengan melakukan
koreksi fiksasi dan bone grafting.

Tipe II (atrophic Disebut juga sendi palsu (pseudoartrosis) terdapat


non union) jaringan sinovial sebagai kapsul sendi beserta rongga

18
sinovial yang berisi cairan, proses union tidak akan
dicapai walaupun dilakukan imobilisasi lama.

Beberapa faktor yang menimbulkan non union seperti disrupsi


periosteum yang luas, hilangnya vaskularisasi fragmen-fragmen fraktur,
waktu imobilisasi yang tidak memadai, implant atau gips yang tidak
memadai, distraksi interposisi, infeksi dan penyakit tulang (fraktur
patologis)
Mal union
Penyambungan fraktur tidak normal sehingga menimbukan deformitas.
Tindakan refraktur atau osteotomi koreksi.
Osteomielitis
Osteomielitis kronis dapat terjadi pada fraktur terbuka atau tindakan
operasi pada fraktur tertutup sehingga dapat menimbulkan delayed union
sampai non union (infected non union). Imobilisasi anggota gerak yang
mengalami osteomielitis mengakibatkan terjadinya atropi tulang berupa
osteoporosis dan atropi otot.
Kekakuan sendi
Kekakuan sendi baik sementara atau menetap dapat diakibatkan
imobilisasi lama, sehingga terjadi perlengketan peri artikuler, perlengketan
intraartikuler, perlengketan antara otot dan tendon. Pencegahannya berupa
memperpendek waktu imobilisasi dan melakukan latihan aktif dan pasif
pada sendi. Pembebasan periengketan secara pembedahan hanya dilakukan
pada penderita dengan kekakuan sendi menetap.

2.8. Penanganan Fraktur2,3,5


Penanganan Fraktur Tertutup
Prinsip penanggulangan cedera muskuloskeletal adalah rekognisi (mengenali),
reduksi (mengembalikan), retaining (mempertahankan), dan rehabilitasi. Agar
penanganannya baik, perlu diketahui kerusakan apa saja yang terjadi, baik pada

19
jaringan lunaknya maupun tulangnya. Mekanisme trauma juga harus diketahui,
apakah akibat trauma tumpul atau tajam, langsung atau tak langsung.
Reduksi berarti mengembalikan jaringan atau fragmen ke posisi semula
(reposisi). Dengan kembali ke bentuk semula, diharapkan bagian yang sakit dapat
berfungsi kembali dengan maksimal. Retaining adalah tindakan mempertahankan
hasil reposisi dengan fiksasi (imobilisasi). Hal ini akan menghilangkan spasme otot
pada ekstremitas yang sakit sehingga terasa lebih nyaman dan sembuh lebih cepat.
Rehabilitasi berarti mengembalikan kemampuan anggota gerak yang sakit agar dapat
berfungsi kembali.

Ada dua metode reduksi: terbuka dan tertutup.


1. Reduksi tertutup (closed reduction)
Dilakukan dengan anestesi yang cukup dan pelemas otot (muscle relaxant),
fraktur direduksi dengan 3 langkah: (1) bagian distal ditarik sesuai garis panjang
tulang; (2) pada saat fragmen tulang terlepas, mereka akan terreposisi, dan (3)
alignment diatur pada setiap bidang. Hal ini efektif bila periosteum dan otot pada
salah satu sisi fraktur masih intak. Beberapa fraktur sulit direduksi karena tarikan
otot yang kuat dan memerlukan pemsangan traksi dalam waktu yang lama.
Skeletal traksi atau skin traksi selama beberapa hari menugkinkan tekanan
jaringn lunak berkurang dan memungkinkan alignment yang lebih baik. Secara
umum reduksi tertutup digunakan pada fraktur dengan minimal displace, fraktur
pada anak, dan fraktur yang menjadi stabil setelah reduksi dan dapat ditahan
dengan cast.
2. Reduksi terbuka (open reduction)
Reduksi operatif merupakan indikasi: (1) jika reduksi tertutup gagal, baik karena
sulitnya mengontrol fragmen atau karena adanya jaringan lunak diantara fragmen
tulang; (2) jika ada fragmen artikular yang besar yang memerlukan posisi yang
akurat; atau (3) pada fraktur avulsi.
Beberapa metode dapat digunakan untuk menahan traksi:
Traksi kontinu

20
Traksi dipasang pada bagian distal dari lokasi fraktur, kemudian ditarik sesuai
axis panjang tulang. Tindakan ini berguna pada fraktur pada shaft dengan
konfigurasi oblique atau spiral yang mudah berubah posisinya akibat
kontraksi otot. Traksi dapat berupa:
Traksi dengan gravitasi - Digunakan pada cedera ekstremitas atas,
misalnya pada U-slab atau velcro
Skin traksi - Skin traksi tidakdapat menahan beban lebih dari 4 atau 5
kg.
Skeletal traksi - Kawat atau pin dimasukan ke dalam tulang dan
sebuah tali diikatkan untuk membuat traksi.
Berdasarkan cara tarikannya, traksi dapat dibedakan menjadi:
Fixed traction: tarikan diikatkan pada titik yang tetap
Balanced traction: tarikan pada traksi dengan menggunakan beban
Combined traction
Komplikasi traksi antara lain (1) gangguan sirkulasi, terutama pada anak, (2)
cedera saraf, (3) pin site infection.
Cast splintage
Yang paling sering digunakan adalah plaster of paris. Kelemahan cara ini
adalah sendi tidak dapat bergerak dan menjadi kaku. Beberapa bentuk cast
baru meimilki kelebihan dari pada plaster of paris, yaitu tahan air dan lebih
ringan, namun prinsip kerjanya sama. Kaku sendi dapat diminimalkan dengan
cara: (1) menunda splintage, (2) awalnya dimulai dengan menggunakan cast
konvensional kemudian dilanjutkan dengan fungsional brace yang
memungkinkan terjadi gerakan. Komplikasi pada penggunaan cast adalah
pemasangan cast yang terlalu kencang, nyeri arena penekanan dan abrasi atau
laserasi pada kulit
Fungsional brace
Fungsional brace memungkinkan untuk memegang fraktur dan dapat
mencegah kaku sendi. Fungsional brace digunakan pada fraktur jika fraktur
sudah mulai union, 3-6 minggu setelah pemasangan traksi atau cast.

21
Internal fiksasi
Fiksasi tulang dengan menggunakan plate dan screw, intramedular nail,
circumferential band atau kombinasi. Penggunaan internal fiksasi
memungkinkan terjadi gerakan dini. Bahaya yang paling besar dari
penggunaan internal fiksasi adalah infeksi. Infeksi dapat terjadi bergantung
pada : (1) pasien (2) ahli bedah, (3) fasilitas Indikasi pemasanagan interna
fiksasi:
Fraktur yang tidak dapat direduksi kecuali dengan operasi
Fraktur yang tidak stabil dan dapat bergeser lagi setelah reduksi
Fraktur yang sembuh dalam waktu lama, misalnya colum femur
Fraktur patologis
Fraktur multiple
Fraktur pada pasien yang sulit dalam perawatan (paraplegi, cedera
multiple dan pada pasien usia tua)

Eksternal fiksasi Eksternal fiksasi bermanfaat pada:


Fraktur dengan kerusakan jaringan lunak parah atau dengan
kontaminasi
Fraktur pada sendi yang sebenarnya cocok untuk internal fiksasi tetapi
jaringan lunak di seiktarnya terlalu bengkak
Pasien dengan multiel injury yang parah dan berhubungan dengan
cedera kepala
Fraktur yang gagal menyatu (ununited)
Fraktur yang terinfeksi
Prinsip dari eksternal fiksasi sangat sederhana: tulang difiksasi di atas
dan bawah fraktur dengan screw atau kawat dan dihubungkan satu sama lain
menggunakan batang yang keras. Komplikasi yang sering terjadi adalah
(kerusakan pada struktur jaringan lunak (2) overdistraksi (3) pin track
infection.

22
Penanganan Fraktur Terbuka
Pasien dengan fraktur terbuka sering terjadi pada cedera multiple, segera atasi
kondisi yang dapat mengancam nyawa sesuai dengan ATLS. Setelah kita siap
menangani fraktur, lihat luka dengan hati-hati, bersihkan luka dari kontaminasi, ambil
foto dengan kamera untuk data kemudian cuci dengan menggunakan salin dan
ditutup. Kondisi ini dibiarkan hingga pasien siap dioperasi. Pasien diberi antibiotic,
antitetanus profilaksis dan dipasang splint. Periksa sirkulasi dan status neurologis,
awasi tanda kompatemen sindrom. Semua fraktur terbuka harus dianggap
terkontaminasi, dan sangat penting untuk mencegah infeksi. Ada 4 hal yang esensial:
(1) Antibiotik profilaksis (2) debridement fraktur dan luka secara urgent (3)
stabilisasi fraktur (4) penutupan luka definitif sesegera mungkin.

23
BAB III
KESIMPULAN

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan
atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Fraktur menurut ada
tidaknya hubungan antara patahan tulang dengan dunia luar dibagi menjadi dua, yaitu
fraktur tertutup dan fraktur terbuka. Fraktur diklasifikasikan Berdasarkan garis patah
tulang yaitu greenstick, transversal, spiral, dan obliq. Berdasarkan bentuk patah
tulang yaitu complet, incomplet, avulsi, comminuted, simple, dan complikata.
Penyebab fraktur ini dapat berupa trauma langsung, tak langsung, maupun penyakit
yang menyertai.
Gejala klasik fraktur adalah adanya riwaayat trauma, rasa nyeri dan bengkak
di bagian tulang yang patah, deformitas (angulasi, rotasi, diskrepansi, gangguan
fungsi muskuloskeletal akibat nyeri, putusnya kontinuitas tulang, dan gangguan
neurovaskuler.
Prinsip penanggulangan cedera muskuloskeletal adalah rekognisi (mengenali),
reduksi (mengembalikan), retaining (mempertahankan, dan rehabilitasi. Pada fraktur
terbuka harus diperhatikan bahaya terjadi infeksi, baik infeksi umum maupun infeksi
lokal pada tulang yang bersangkutan.

24
DAFTAR PUSTAKA

1. Richard, Buckley. (2012). General Principles of Fracture Care. Diakses dari


http://emedicine.medscape.com/article/1270717-overview
2. Sjamsuhidajat R, De Jong Wim. (2011). Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-2.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
3. Apley, A.Graham. (2010). Apleys System of Orthopaedics and Fractures Ed
9. UK : Hodder Arnold.
4. Snell, Richard S. (2006) Anatomi Klinis Berdasarkan Sistem ed. 6. EGC :
Jakarta.
5. Rasjad, Chairuddin. (2007) Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta : PT.

Yarsif Watampone.

25