Anda di halaman 1dari 102

farliyanti guamo

Jumat, 02 Juli 2010

FARMAKOLOGI

Makalah Farmakologi

Penisilin

Keperawatan B

Farliyanti Guamo

Fakultas ilmu-ilmu kesehatan dan keolahragaan


Universitas negeri gorontalo

2009/2010

Kata pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat allah swt karena atas berkat dan karunianyalah
sehingga dapat disusun makalah ini dengan judul PENISILIN

Penyusun menyadari makalah ini masih terdapat kekurangan sehingga saran dan
kritikan yang bersifat membangun sangat diharapkan demi untuk kesempurnaan makalah ini.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk kita semua Amien.

Gorontalo,juni 2010

Penyusun
Daftar isi

Kata Pengantar

Daftar isi

Bab
I.Pendahuluan.1

1. latar Belakang.1

2. Tujuan 1

3. Rumusan masalah ..1

Bab II.Pembahasan.............2

2.1.Definisi dari Antimikroba.....2

2.2.Pembuatan2

2.3.Mekanisme Kerja.3

2.4.Aktivitas......3

2.5.Penisilin...4
Bab III
Penutup...14

3.1.Kesimpulan..4

3.2.Saran..14

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Kemoterapika Antibakteri di golongkan atas dasar mekanisme kerjanya dalam zat


bakterisid dan zat bakteriasis.

Istilah antibiotika seering kali digunakan dalam erti luas dengan demikian tidak
terbatas pada obat-obat antibakteri yang dihasilkan fungi daan kuman (definisi dari Waksman
untuk antibiotika 0melainkan juga untuk obat-obat sintesis.Selanjutnya istilah tersebut
dengan arti luas yang akan digunanakan dalam pemakaran makalah ini.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu agar kita sebagai mahasiswa
keperawatan dapat mengetahui fungsi serta kerja dari obat penisilin yang selanjutnya dapat
diaplikasikan dalam praktek klinis serta untuk menambah ilmu pengetahuan.

1.3.Rumusan Masalah
Mengetahui Definisi dari Antimikroba

Mengetahui Pembuatan

Mengetahui Mekanisme Kerja

Mengetahui Aktivitas

Mengetahui Jenis-Jenis Antimikroba

BAB II

PEMBAHASAN

Antimikroba

2.1 DEFINISI

Antimikroba (L,anti = lawan,mikro = kecil ) Adalah zat-zat kimia yang dihasilkan


oleh fungi dan bakteri,yang memiliki fungsi khasiat kuman,sedangkan toksistasnya bagi
manusia relative kecil.Turunan zat tersebut yang dibuat secara semi sintesis termasuk
kelompok ini,begitu pula senyawa sintesis dengan khasiat antibakteri lazimnya disebut
antibiotika.kegiatan antibiosis untuk pertama kalinya ditemukan secara kebetulan oleh
dr.Alexander Fleming (Inggris,1928,penisilin ).Tetapi penemuan ini baru dikembangkan dan
digunakan pada permulaan perang Dunia II di tahun 1941,ketika obat-obat antibakteri sangat
diperlukan untuk menaggulangi infeksi dari luka-luka akibat pertempuran.
Kemudian,para peneliti diseluruh dunia memperoleh banyak zat lain dengan khasiat
antibiotis.akan tetapi,berhubung dengan sifat toksinnya bagi manusia,hanya disebagian kecil
saja yang dapat digunakan sebagai obat.Akan tetapai berhubung dengan sifat toksinnya bagi
manusia,hanya sebagian kecil saja yang digunakan sebagai obat.yang terpenting diantaranya
adalah streptomisin(1994),kloramfenikol (1947),tetrasiklin (1948),eritromisin (1965) dan
doksorubisin (1969),minosiklin (1972),dan tobramisin (1974).

2.2 PEMBUANTANNYA

Lazimnya antibiotika dibuat secara mikrobiologi,yaitu fungi dibiakan dalam tangki


besar bersama zat-zat gizi khusus.Oksigen atau udara steril disalurkan kedalan cairan
pembiakan guna mempercepat pertumbuhan fungi guna meningkatkan produksi
antibiotiknya.setelah diisolasi dari cairan kultur antibiotikum dimurnikan dan aktivitasnya
ditentukan.

Antibiotika semisintesis :yaitu apabila pada persemaian (culture substrate )dibubuhi


zat-zat pelopor tertentu,maka zat-zat ini diinkorporisasi kedalam antibiotikum
dasarnya.hasilnya disebut senyawa semisintesis disebut penisilin-V.

Antibiotika sintesis tidak dibuat lagi dengan jalan biosintesis tersebut,melainkan


dengan sintesa kimiawi misalnya kloramfenikol.

2.3 MEKANISME KERJA

Cara kerja terpenting adalah perintangan sintasa protein,sehingga kuman musnah atau
tidak berkembang lagi,misalnya kloramfenikol,tetrasiklin,aminoglikosida,makrolida,dan
linkomisin.selai it beberapa antibiotika bekerja terhadap dinidng sel(penicillin dan
selfalosporin) atau membarn sel (polymiksin zat-zat piloyen dan imidazol).

Antibiotika tidak aktif terhadap kebanyakan virus kecil,mungkn karena virus tidak
memiliki proses metabolism sesungguhnya melainkan tergantung seluruhnya dari proses tuan
rumah.

2.4 AKTIVITASNYA
Pada umumnya aktivitas dinyatakan dengan satuan berat (mg),kecuali zat-zat yang
belum dapat diperoleh seratus persen murni dan terdiri dari campuran bebrapa zat
misalnya,polimiksin B,Basitrasin,dan nistatin,yang aktivitasnya selalu dinyatakan denngan
satuan Internasional(I.U)

Begitu pula senyawa kompleks dari penisilin,yakni prokain dan benzatin


penisilin,yakni prokain dan benzatin penisilin.

Penggunaan

Antimikroba digunakan mengobati berbagai jenis infeksi kuman atau juga untuk
prevensi infeksi misalnya pada pembedahan besar.secara profilaktis juga diberikan pada
pasien dengan sendi klep jantung buatan,juga sebelum cabut gigi.

Penggunaan penting non-terapeutis adalah sebagai stimulan pertumbuhan dalam


peternakan sapi,babi dan ayam.efek ini secara kebetulan ditemukan pada tahun 1940-an,tatapi
mekanisme kerjanya belum diketahui dengan jelas.Diperkirakan antimikroba bekerja
setempat didalam usus dengan menstabilisir floranya.Kuman-kuman buruk yang
merugikan dikurangi jumlah aktivitasnya,sehingga zat-zat gizi dapat dipergunakan lebih
baik.Pertumbuhan dapat distimulasi dengan rat-rata 10%.yang digunakan adalah terutama
makrolida dan glikopeptida dalam makanan ternak dan jumlahnya kini sudah meningkat
sampai lebih dari 3 kali daripada penggunaanya sebagai obat pada manusia.

2.5 JENIS-JENIS ANTIMIKROBA

Dibawah ini akan dibahas berturut-turut kelompok antibiotika

A. SULFONAMID DAN KOTRIMOKSAZOL

1. SULFONAMID

Sulfonamid adalah kemoterapeutik yang pertama digunakan secara sistemik untuk


pengobatan dan pencegahan penyakit infeksi pada manusia.Penggunaan sulfonamid
kemudian terdesak oleh antibiotik.Pertengahan tahun 1970 penemuan kegunaan sediaan
kombinasi trimetoprim dan sulfametoksazol menigkatkan kembali penggunaan sulfonamide
untuk pengobatan penyakit infeksi tertentu.

a. Kimia

Sulfonamid berbentuk kristal putih yang umumnya sukar larut dalam air,tetapi garam
natriumnya mudah larut.Rumus dasarnya adalah Sulfanilamid.

b. Aktivitas Antimikroba

Sulfonamid mempunyai spekrum antibakteri yang luas,meskipun kurang kuat


dibandingkan dengan antibiotik dan strain mikroba yang resisten makin meningkat.Golongan
obat ini umunya hanya bersifat bakteriostatik,namun pada kadar yang tinggi dalam urin,
sulfonamide dapat bersifat bakterisid.

c. Spektrum Antibakteri

Kuman yang sensitif terhadap sulfa secara in vitro ialah s. pyogenes,s. pneumonia,
beberapa galur Basicilus anthracis dan Corynebacterium diphtheria, Haemophilus
influenzae, H. ducreyi, Brucella, vibrio cholerae, nocardia, actinomyces,
Calymmatobacterium granulomatis, Chlamydia trachomatis dan beberapa protozoa.
Beberapa kuman enterik juga dihambat. Pseudomonas, Serratia,proteus dan kuman-kuman
multiresisten tidak peka terhadap obat ini.Beberapa srain E.coli penyebab infeksi saluran
kemih telah resisten terhadap sulfonamid,karena itu sulfonamid bukan obat pilihan lagi untuk
penyakit infeksi tersebut.

Banyak galur meningokokus ,pnemokokus,stertokokus,stafilokokus dan gonokokus


yang sekarang telah resisten terhadap sulfonamid.

d. Mekanisme Kerja

Kuman memerlukan PABA (p-aminobenzoid acid)untuk membentuk asam folat yang


digunakan untuk sintesis purin dan asam nukleat. Sulfonamid merupakan penghambat
kompetitif PABA.
PABA

Sulfonamid

Berkompetisi dengan

PABA

Asam dihidrofolat

Trimetoprim

Asam tetrahidrofolat

Purin

DNA

Gambar Mekanisme Kerja Sulfonamid Dan Trimetoprim

Efek antibakteri sulfonamid dihambat oleh adanya darah,nanah dan jaringan nekrotik,
karena kebutuhan mikroba akan asam folat berkurang dalam media yang mengandung basa
purin dan trimidin.

Sel-sel mamalia tidak dipengaruhi oleh sulfonamid karena menggunakan folat jadi
yang terdapat dalam makanan (tidak mensintesis sendri senyawa tersebut)

Dalam sintesis asam folat,bila PABA digantikan oleh sulfonamid,maka akan terbentuk
analog asam polat yang tidak fungsional.
e. Kombinasi Dengan Trimetoprim

Senyawa yang memperlihatkan efek sinergistik paling kuat bila digunakan bersama
sulfonamid ialah trimetoprin.Senyawa merupakan penghambat enzim dihidrofolat reduktase
yang kuat dan selektif.Enzim ini berfungsi mereduksi asam dihidrofolat menjadi asam
tetrahidrofolat,jadi pemberian sulfonamid bersama trimetroprin yang menyebabkan berangkai
dalam reaksi pembentukan asam tetra hidrofolat (gambar 39-2).Kombinasi kedua obat ini
akan dibahas lebih lanjut pada bagian lain dari bab ini.

f. Resistensi Bakteri

Bakteri yang semula sensitive terhadap sulfonamid dapat menjadi resisten secara in
vitro maupun in vivo.Resistensi ini biasanya bersifat reversible,tetapi tidak disertai resistensi
silang terhadap kemoterapeutik lain .Resistensi ini mungkin disebabkan oleh mutasi
meningkatkan produksi PABA atau mengubaah struktur molekul enzim yang berperan dalam
sintesis folat sedemikian rupa sehingga afinitasnya terhadap sulfonamid menurun.

Timbulnya resistensi merupakan factor yang membatasi manfaat sulfonamid dalam


pengobatan penyakit infeksi,terutama infeksi yang disebabkan oleh gonokokus, stafilokokus,
meningokokus, streptokokus,dan beberapa galur shigella.

g. Farmakokinetik

Absorbsi

Absorbsi melalui saluran cerna mudah dan cepat,kecuali beberapa macam sulfonamid
yang khusus digunakan untuk infeksi local pada usus.Kira-kira 70-100% dosis oral
sulfonamid di absorbs melalui saluran cerna dan dapat di temukan dalam urin 30 menit
setelah pemberian.Absorbsi terutama terjadi pada usus halus,tetapi beberapa jenis sulfa dapat
diabsorbsi melalui lambung.

Absorbsi melalui tempat-tempat lain,misalnya vagina,salurannapas,kulit yang


terluka,pada umumnya kurang baik,tetapi cukup menyebabkan reaksi toksik atau reaksi
hipersensitivitas.
Distribusi

Semua sulfonamid terikat pada protein plasma terutama albumin dalam derajat yang
berbeda-beda.Obat ini tersebar keseluruh jaringan tubuh,karena itu berguna untuk infeksi
sistemik.Dalam cairan tubuh kadar obat bentuk bebas mencapai 50-80% kadar dalam
darah.Pemberian sulfadiazin dan suflisoksazol secara sistemik dengan dosis adekuat dapat
mencapai kadar efektif dalam CSS (Cairan Serebrospinal) otak.Kadar taraf mantap di dalam
CSS mancapai 10-80% dari kadarnya dalam darah ; pada meningitis kadar ini lebih tinggi
lagi.Namun oleh karena timbulnya resistensi mikroba terhadap sulfonamid ,obat ini jarang
lagi digunakan untuk pengobatan meningitis.Obat dapat melalui sawar uri dan menimbulkan
efek antimikroba dan efek toksik pada janin.

Metabolisme

Dalam tubuh,sulfa mengalami asetilasi dan oksidasi.Hasil oksidasi inilah yang sering
menyebabkan reaksi toksik sistematik berupa lesi pada kulit dan gejala hipersensitivitas,
sedangkan hasil asetilasi menyebabkan hilangnya aktivitas obat.Bentuk asetil pada N-4
merupakan metabolit utama,dan beberapa sulfonamid yang terasetilasi lebih sukar larut
dalam air sehingga sering menyebabkan kristaluria atau komplikasi ginjal lain. Bentuk asetil
ini lebih banyak terikat protein plasma daripada bentuk asalnya .Kadar bentuk terkonyugasi
ini tergantung terutama pada besarnya dosis,lama pemberian,keadaan fungsi hati dan ginjal
pasien.

Ekskresi

Hampir semua diekskresi melalui ginjal,baik dalam bentuk asetil maupun bentuk
bebas. Masa paruh sulfonamid tergantung pada keadaan fungsi ginjal.Sebagian kecil
diekskresi melalui tinja,empedu dan air susu ibu.

h. Klasifikasi,Sediaan dan Posologi

Cara pemberian yang paling aman dam mudah ialah per oral,absorpsinya cepat dan
kadar yang cukup dalam darah segera tercapai.Bila pemberian per oral tidak mungkin
dilakukan maka dapat diberikan parenteral (IM atau IV).Penggunaan topikal sulfonamid
umumya telah ditinggalkan kecuali sulfasetamid untuk mata,mafenid asetat dan Ag-
sulfadlazin ntuk luka bakar,serta sulfasalazin untuk kolitis ulseratif.
Dosis obat tergantung dari umur pasien,macam dan hebatnya penyakit,cara
pemberian,jenis sulfa daan keadaan fungsi ginjal; dan ini akan diterangkan lebih lanjut pada
pembicaraan masing-masing golongan sulfa.

Berdasarkan kecepatan absorpsi dan ekskresinya, sulfonamid dibagi dalam 4


golongan besar :

1. Sulfonamid dengan absorpsi dan ekskresi cepat, antara lain sulfadiazine dan
sulfisoksazol

2. Sulfonamid yang hanya diabsorpsi sedikit bila diberikan per oral dan karena itu
kerjanya dalam lumen usus,antara lain ftalilsulfatiazol dan sulfasalazin

3. Sulfonamid yang terutama digunakan untuk pemberian topikal, antara lain


sulfasetamid , mefanid, dan Ag-sulfadiazin

4. Sulfonamid dengan masa kerja panjang,seperti sulfadoksin, absorpsinya cepat dan


ekskresinya lambat.

i. Sulfonamid dengan absorpsi dan ekskresi cepat

Sulfisoksazol

Merupakan prototip golongan ini dengan efek antibakteri kuat. Sulfisoksazol hanya
didistribusinya ke dalam cairan ekstrasel dan sebagian besar terikat pada protein
plasma.Kadar puncak dalam darah tercapai dalam 2-4 jam setelah pemberian dosis oral 2-4
g.Hampir 95% obat dieksresi melalui urin dalam 24 jam sesudah pemberian dosis
tunggal.Kadar obat ini dalam urin jauh melebihi kadarnya dalam darah sehingga mungkin
bersifat bakterisid.Kadarnya dalam CSS hanya 1/3 dari kadar dalam darah.

Kelarutan sulfisoksazol dalam urin jauh lebih tinggi daripada sulfadiazin sehingga
jarang menyebabkan hematuria atau kristaluria (0,2-0,3 %).Sulfa ini dapat menggantikan
golongan sulfa yang sukar larut dan toksik terhadap ginjal.Dosis permulaan untuk dewasa 2-4
g dilanjutkan dengan 1g setiap 4-6 jam,sedangkan untuk anak 150 mg/kg berat badan sehari.
Mula-mula diberikan setengah dosis tersebut,kemudian dilanjutkan dengan 1/6 dosis per hari
setiap 4 jam (Maksimal 6 g sehari).Sulfisoksazol dapat menyebabkan reaksi hipersensitivitas
yang kadang-kadang bersifat letal.Sediaan sulfisoksazol tersedia dalam bentuk tablet 500 mg
untuk pemberian oral.

Sulfametoksazol

Obat ini merupakan derivat sulfisoksazol dengan absorpsi dan ekskresi yang lebih
lambat.Dapat diberikan pada pasien dengan infeksi saluran kemih dan infeksi
sistematik.Kristal uria lebih sering timbul karena persentase asetilasinya tinggi.

Sulfametoksazol umumnta digunakan dalam bentuk kombinasi tetap dengan


trimetoprim (di luar negeri ada sediaan tablet sulfametoksazol saja yang mengandung 500 mg
zat aktif).

Sulfadiazin

Absorbsi di usus terjadi cepat dan kadar maksimal dalam darah di capai dalam waktu
3-6 jam sesudah pemberian dosis tunggal.

Kira-kira 15-40% dari obat yang diberikan diekskresikan dalam bentuk senyawa
asetil.Hampir 70% obat ini mengalami reabsorpsi ditubuli.Karena beberapa macam sulfa
sukar larut dalam urin yang asam,maka sering timbul kristarulia dan komplikasi ginjal
lainnya.Untuk mencegah ini pasien dianjurkan minum banyak air agar produksi urin tidak
kurang dari 1200 mL/hari atau diberikan sediaan alkalis seperti Na-bikarbonat untuk
menaikkan pH urin.

Dosis permulaan oral pada orang dewasa 2-4 g,dilanjutkan dengan 2-4 g dalam 3-6
kali pemberian ; lamanya pemberian tergantung dari keadaan penyakit.Anak-anak lebiah dari
umur 2 bulan di beriakan dosis awal setengah dosis/hari kemudian dilsnjutkan dengan 60-150
mg/kg BB (maksimum 6 g/hsri) dalam 4-6 kali pemberian. Sedian biasanya terdapat dalam
bentuk tablet 500 mg.

Sulfasitin
Sulfasitin (Sulfacytin) adalah sulfonamid yang ekskresinya cepat untuk penggunaan
per oral pada infeksi saluran kemih. Masa paruhnya dalam darah lebih pendek daripada
sulfisoksazol (4 jam vs 7 jam). Kadarnya dalam darah lebih rendah dari pada kadar
sulfiksolsazol, oleh karena itu hsnya digunakan untuk infeksi saluran kemih. Pemberian
dimulai dengan dosis awal 500 mg dilanjutkan dengan dosis 250 mg 4 kali sehari sulfasitin
tesedia dala bentuk tablet 250 mg (tidak dipasarkan di Indonesia).

Sulfametizol

Sulfametizol termasuk golongan Sulfonamid yang ekresinya cepat, sehingga kadarnya


dalam darah rendah setelah pemberian dosis biasa. Digunakan untuk pengobatan infeksi
saluran kemih dengan dosis 500-1000 mg dalam 3-4 kali pemberian sehari. Sulfametizol
tersedia dalam bentuk tablet 250-500 mg .

Kombinasi Sulfa

Untuk mengurangi atau mencegah terjadinya kristalrulia dibuat sediaan kombinasi


tepat beberapa kombinasi sulfa, misalnya sulfadiazin, sulfanerazin dan sulfa meatazin yang
dikenal sebagai trisulfapirimidin. Kombinasi ini tersedia dalam bentuk tablet atau suspense
oral. Kombinasi sulfa ini tidak menghasilkan potensi atau perluasan spectrum anti bateri.

j. Sulfonamid yang hanya diabsorsi sedikit oleh saluran cerna

Sulfasalazin

Obat ini digunakan untuk pengobatan kolitis ulseratif dan enteritis regional dan
remotoid artritis.Sulfasalazin dalam usus diuraikan menjadi sulfapiridin yang diabsorpsi dan
ekskresi melalui urin,dan 5-aminosalisilat yang mempunyai efek antiinflamasi.Reaksi toksik
yang terjadi antara lain Heinz body anemia, hemolisis akut pada pasien defisiensi G6PD , dan
agranulositosis. Mual,demam dan artralgia serta ruam kulit terjadi pada 20 % pasien dan
desensitisasi dapat mengurangi angka kejadian.Dosis awal ialah 0,5 g sehari yang
ditingkatkan sampai 2-6 g sehari.Sulfasalazin tersedia dalam bentuk tablet 500 mg dan
bentuk suspense 50 mg/ml.

Suksinilsulfatiazol Dan Ftalilsulfatiazol

Dalam kolon,kedua sulfa ini dihidrolisis oleh bakteri usus menjadi sulfatiazol yang
berkhasiat antibakteri dan hampir tidak diabsorpsi oleh usus.Kedua obat ini tidak lagi
dianjurkan penggunaannya karena tebukti tidak efektif untuk enteritis.

k. Sulfonamid untuk Penggunaan Topikal

Sulfasetamid

Natrium sulfasetamid digunakan secara topical untuk infeksi mata.Kadar tinggi dalam
larutan 30% tidak mengiritasi jaringan mata,karena pHnya netral (7,4),dan bersifat
bakterisid.Obat ini dapat menembus kedalam cairan dan jaringan mata mencapai kadar yang
tinggi sehingga sangat baik untuk kongjungtivitis akut maupun kronik.

Meskipun jarang menimbulkan reaksi sentisitisasi,obat ini tidak boleh di berikan pada
pasien yang hipersensitif terhadap sulfonamid.

Obat ini tersedia dalam bentuk salep mata 10% atau tetes mata 30%.Pada infeksi
kronik diberikan 1-2 tetes setiap 2 jam untuk infeksi yang berat atau 3-4 kali sehari untuk
penyakit kronik.

Ag-Sulfadiazin (Sulfadiazin-Perak)

In vitro obat ini menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur termasuk spesies yang
telah resisten terhadap sulfonamid.Ag-sulfadiazin digunakan untuk mengurangi jumlah
koloni mikroba dan mencegah infeksi luka bakar.Obat ini tidak dianjurkan untuk pengobatan
luka yang besar dan dalam.Ag dilepaskan secara perlahan sampai mencapai kadar toksik
yang selektif untuk mikroba.Namun mikroba dapat menjadi resistin terhadap obat ini.Ag
hanya sedikit diserap tetapi sulfadiazin dapa mancapai kadar terapi bila permukaan yang
diolesi cukup luas.Walaupun jarang terjadi,efek samping dapat timbul dalam bentuk rasa
terbakar,gatal dan erupsi kulit.Ag-sulfadiazin merupakan obat pilihan untuk pencegahan
infeksi pada luka bakar.Obat ini tersedia dalam bentuk krim (10 mg/g) yang diberikan 1-2
kali sehari.

Mafenid

Mafenid (Mafenid Asetat) mengandung alfa-amino-p-toluen sulfonamide,digunakan


secara topikal dalam bentuk krim (85 mg/g) untuk mengurangi jumlah koloni bakteri dan
mencegah infeksi luka bakar oleh mikroba gram positif dan gram negatif.Obat ini tidak
dianjurkan untuk pengobatan luka infeksi yang dalam.Kadang-kadang dapat terjadi
superinfeksi oleh kandida.Pemberian kim 1-2 kali sehari dengan ketebalan 1-2 mm pada
permukaan luka bakar.Sebelum pemberian obat,luka harus di bersihkan.Pengobatan di
anjurkan sampai dilakukan pencangkokan kulit.

Mafenid cepat diabsorbsi melalui permukaan luka bakar,kadar puncak tercapai daalm
2-4 jam setelah pemberian.Efek samping berupa nyeri pada tempat pemberian,reaksi alergi
dan kekeringan jaringan karena luka tidak dibalut dan metabolit obat menghambat enzim
karbonat anhidrase.Urin dapat menjadi alkalis dan dapat terjadi asidosis metabolik yang
berakibat sesak nafas dan hiperventilasi.

l. Sulfonamid Dengan Masa Kerja Panjang

Sulfadoksin

Sulfadoksin adalah sulfonamid dengan masa kerja 7-9 hari.Obat ini digunakan dalam
bentuk kombinasi tetap dengan pirimetamin (500 mg sulfadoksin dan 25 mg
pirimetamin)untuk pencegahan dan pengobatan malaria akibat P.falciparum yang resisten
terhadap klorokuin. Namun karena efek samping hebat seperti gejala Steven-Johnson yang
kadang-kadang sampai menimbulkan kematian, obat hanya digunakan untuk pencegahan bila
risiko resistensi malaria cukup tinggi. Kombinasi ini juga digunakan untuk pencegahan
pneumonia ( Pneumocystis carinii syndrome) pada pasien AIDS ( acquired immuno
deficiency syndrome ), meskipun penggunaannya belum luas dan efek sampingnya mungkin
hebat.

m. Efek Samping
Efek samping sering timbul (sekitar 5%) pada pasien yang mendapat sulfonamide.
Reaksi ini dapat hebat dan kadang-kadang bersifat fatal. Karena itu pemakaiannya harus hati-
hati. Bila mulai terlihat adanya gejala reaksi toksik atau sensitisasi, pemakaiannya secepat
mungkin dihentikan. Mereka yang pernah menunjukan reaksi tersebut,untuk seterusnya tidak
boleh diberi sulfonamid.

Gangguan Sistem Hematopoetik

Anemia hemolitik akut dapat disebabkan oleh reaksi alergi atau karena defisiensi
aktivitas G6PD.Sulfadiazin jarang menimbulkan reaksi ini (0,05 %).Agranulositosis terjdi
pada sekitar 0,1 % pasien yang mendapatkan sulfadiazine.Kebanyakan pasien sembuh
kembali dalam beberapa minggu atau bulan setelah pemberiann sulfonamid dihentikan.
Anemia aplastik, sangat jarang terjadi dan dapat bersifat fatal.Hal ini diduga berdasarkan efek
mielotoksik langsung.

Trombositopenia berat,jarang terjadi pada pemakain sulfonamid.Trombositopenia ringan


selintas lebih sering terjadi.Mekanisme terjadinya tidak diketahui.

Eosinifilia,dapat terjadi dan bersifat reversibel.Kadang-kadang disertai dengan gejala


hipersensivitas terhadap sulfonamid.

Pada pasien dengan gangguan sumsum tulang pasien AIDS atau yang mendapat kemoterapi
dengan mielosupreasan sering menimbulkan hambatan sumsum tulang yang bersifat
reversibel.

Gangguan Saluran Kemih

Pemakaian sistemik dapat meimbulkan komplikasi pada saluran kemih,meskipun


sekarang jarang terjadi karena telah banyak ditemukan sulfa yang lebih mudah larut seperti
sulfisoksazol.Penyebab utama ialah pembentukan dan penumpukan kristal dalam ginjal,
kaliks, pelvis, ureter atau kandug kemih, yang menyebabkan iritasi dan obstruksi. Anuria dan
kematian dapat terjadi tanpa kristaluria atau hematuria; pada otopsi ditemukan nekrosis
tubular dan angiitis nerkotikans.

Bahaya kristaluria dapat dikurangi dengan membasakan (alkalinisasi)urin atau minum


air yang banyak sehingga produksi urin mencapai 1000-1500 ml sehari. Kombinasi beberapa
jenis sulfa dapat pula mengurangi terjadinya kristaluria seperti telah diterangkan diatas.
presipitasi sulfadiazin atau sulfamerazin tidak akan terjadi pada pH urin 7,15 atau lebih.

Reaksi Alergi

Gambaran hipersensitivitas pada kulit dan mukosa bervariasi, berupa kelainan


morbiliform, skarlantitform , urtikariform, erispeloid, pemifigoid, purpura, petekia, juga
timbul eritema nodosum,eritema multiformis tipe Stevens-Johnson,sindrom Behcet,dermatitis
eksfoliativ dan fotosensitivitas.Kontak dermatitis sekarang jarang terjadi. Gejala umumnya
timbul setelah minggu pertama pengobatan tetapi mungkin lebih dini pada pasien yang telah
tersensitisasi. Kekerapan terjadinya reaksi kulit 1,5% dengan sulfadiazin dan 2% dengan
sulfisoksazol.Suatu sindrom yang menyerupai penyakit serum (serum sickness)dapat terjadi
beberapa hari setelah pengobatan dengan sulfonamide. Hipersensitivitas sistemik divus
kadang-kadang pula terjadi. Sensitivitas hilang dapat terjadi antara bermacam-macam sulfa.

Demam obat terjadi pada pemakaian sulfonamid dan mungkin juga disebabkan oleh
sentsitisasi ; terjada pada 3% kasus yang mendapat sulfitoksazol. Timbulnya demam tiba-tiba
padahari ke tujuh sampai pada ke sepuluh pengobatan, dan dapat disertai sakit kepala,
menggigil, rasa lemah, pruritus, dan erupsi kulit, yang semuanya bersifat refersibel. Demam
obat ini perlu dibedakan dari demam yang menandai reaksi toksik berat misalnya
agranulositosis dan anemia hemolitik akut.

Hepatitis yang terjadi pada 0,1 % pasien dapat merupakan efak tiksik atau akibat
sensitisasi. Tanda-tanda seperti sakit kepala, mual, muntah, demam, hepatomegali, ikterus,
dan gangguan sel hati tampak 3-5 hari setalah pangobatan, dapat berlanjut menjadi atrofi
kuning akut dan kematian. Kerusakan pada hepar dapat memburuk walaupun obat dihentikan.

Lain Lain

1 -2 % pasien mengeluh mual dan muntah yang mungkin bersifat sentral karena meski
diberikan parenteral efak ini kadang kadang juga timbul. Pemberian obat pada bayi dapat
menyebabkan pergeseran ikatan bilirubin dengan albumin. Sulfonamid tidak boleh diberikan
dapa wanita hamil aterm.

n. Interaksi Obat
Sulfonamid dapat berinteraksi dengan anti koagulan oral, anti dia betik, sulfonylurea,
dan fenitoin. Dalam hal tersebut sulfa dapat memperkuat efek obat lain dengan cara hambatan
metabolisme atau pergeseran ikatan dengan albumin. Pada pemberian bersama sulfonamid
dosis obat tersebut perlu disesuaikan.

o. Penggunaan Klinik

Penggunaan sulfonamid sebagai obat pilihan pertama untuk pengobatan penyakit


infeksi tertentu makin tedesak oleh perkembangan obat anti mikroba lain yang lebih efektif
serta meningkatnya jumlah mikroba yang resisten terhadap sulfa. Namun peranannya
meningkat kembali dengan ditemukannya kotrimuksazol.

Pengguaan topikal tidak dianjurkan karena kurang/tidak efektif, sedangkan resiko


terjadi reaksi sensitisasi tinggi, kecuali pemakaian local dari Na-sulfasetamid pada infeksi
mata.

Infeksi Saluran Kemih

Sulfonamid pada saat ini bukan lagi obat pilihan utama untuk infeksi saluran kemih,
karena jumlah mikroba yang resisten makin meningkat. Namun demikian sulfisoksazol masih
efektif untuk pengobatan infeksi saluran kemih dimana prevalensi resistensi mikroba masih
rendah atau mikroba masih peka. Obat pilihan lain untuk infeksi saluran kemih antara lain
trimetoprim-sulfametoksazol, antiseptic saluran kemih, derivate kuinolon dan ampisilin.

Kombinasi trimetoprim-sulfametoksazol sangat berguna untuk infeksi saluran kemih.


Masalah ini akan dibahas pada judul kotrimoksazol.

Disentri Basiler

Sulfonamid tidak lagi merupakan obat terpilih, karena banyak strain yang telah
resisten. Obat terpilih sekarang adalah ampisilin atau kloramfenikol. Trimetoprim-
sulfametoksazol agaknya masih efektif pada pemberian per oral, meskipun dibeberapa tempat
telah terjadi resistensi. Dosis dewasa ialah 160 mg trimetoprim dan 800 mg sulfametoksazol
setiap 12 jam selama 5 hari.

Meningitis Oleh Meningokokus


Banyak strain telah resisten terhadap sulfonamide, sehingga obat terpilih adalah
penisilin G, ampisilin, sefolosporin generasi ketiga, atau kloramfenikol. Kemoprofilaksis
perlu dipertimbangkan diberikan pada subyek yang berkontak langsung dengan pasien yang
terinfeksi meningokokus. Rifampisin merupakan obat terpilih profilaksis. Bila strain
penyebabnya sensitive diberikan sulfisoksazol dengan dosis 1 gram setiap 12 jam sebanyak 4
dosis.

Nokardiosis

Sulfonamid sangat berguna untuk pengobatan infeksi oleh Nocardia asteroids.


Sulfisoksazol atau sulfadiazine dapat diberikan 6-8 gram per hari sampai beberapa bulan
setelah semua gejala hilang. Untuk infeksi yang berat sulfonamide diberikan bersama
ampisilin, eritromisin dan streptomisin.

Trakoma Dan Inclusion Conjunctivitis

Walaupun bukan merupakan obat terpilih, pemberian sulfonamide secara oral selama
3 minggu efektif untuk trakoma. Walaupun pemberian topical mensupresi gejala infeksi,
eradikasi mikroorganisme tidak tercapai. Infeksi sekunder dengan bakteri piogeinik dapat
diobati dengan tetrasiklin topical. Dalam beberapa hari gejala-gejala local akan menghilang.
Untuk inclusion conjunctivitis (inclusion blenorrhea) diberikan salep sulfasetamid 10%
topical selama 10 hari dapat juga dipergunakan tetrasiklin.

Toksoplasmosis

Infeksi toksoplasmosis gondii paling baik diobati dengan pirimetamin. Tetapi menurut
pengalaman, lebih baik bila obat tersebut dikombinasi dengan sulfadiazine, sulfisoksazol atau
trisulfapirimidin dosis penuh. Bila terjadi korioretinitis sebaiknya juga diberikan
kortikosteroid.

Kemoprofilaksis Dengan Sulfonamid


Sulfonamid juga digunakan sebagai kemoprofilaksis untuk infeksi spesifik dengan
bakteri-bakteri yang sensitive terhadap sulfa. Untuk mencegah infeksi maupun kambuhnya
demam rematik oleh streptococcus-hemolycus group A, sulfa sama efektifnya dengan
penisilin oral. Sulfa tidak dapat membasmi carrier streptokokus, tetapi dapat mencegah
timbulnya faringitis dan demam rematik. Tetapi karena toksisitas sulfa dan kemungkinan
infeksi oleh streptokokus yang resisten terhadap sulfa, maka penisilin lebih disukai untuk
maksud ini. Sulfisoksazol dengan dosis 1 gram, 2 kali sehari digunakan pada pasien yang
hipersensitif terhadap penisilin. Dosis untuk anak setengah dari orang dewasa. Bila timbul
efek samping yang umumnya terjadi pada 8 minggu pertama pengobatan, maka perlu
dilakukan pemeriksaan hitung leukosit setiap minggu selaama 8 minggu. Untuk
kemoprofilaksis disentri basiler dengan penyebab shigella, kecuali stain yang telah resisten,
dapat digunakan sulfadiazin atau sulfisoksazol 1 sampai 2 gram selama 7 hari. Beberapa
penulis menyatakan bahwa infeksi oleh meningokokus yang sensitive dapat dicegah dengan
sulfadiazine atau sulfisoksazol. Namun resistensi terhadap obat ini sekarang sangat
meningkat. Profilaksis infeksi dengan sulfonamide sewaktu manipulasi misalnya katererisasi,
diragukan kegunaannya

2. KOTRIMOKSAZOL

Trimetoprim dan sulfametoksazol menghambat reaksi enzimatik obligat pada dua tahap yang
berurutan pada mikroba, sehingga kombinasi kedua obat memberikan efek sinergi. Penemuan
sediaan kombinasi ini merupakan kemajuan penting dalam uasaha meningkatkan efektivitas
klinik antimikroba. Kombinasi ini lebih dikenal dengan kotrimoksazol.

a. Efek Terhadap Mikroba

Spectrum Antibakteri

Spectrum antibakteri trimetoprim sama dengan sulfametoksazol, meskipun daya


antibakterinya 20-100 kali lebih kuat daripada sulfametoksazol.

Mikroba yang peka terhadap kombinasi trime toprim-sulfametoksazol ialah ; S.


pneumoniae, C. diphtheria, dan N meningitis, 50-59 % strain S. aureus, S. epidermidis, S.
pyogenes, S. viridians, S. faecalis, E. coli, P. mirabilis, P. morganii, P. rettgeri, Enterobacter,
Aerobacter spesies, Salmonela, Shigela, Serratia dan Alcaligenes spesies dan Klebsiela
spesies. Juga beberapa strain stafilokokus yang resisten terhadap metisilin, trimetoprim atau
sulfometoksazol sendiri, peka terhadap kombinasi tersebut. Kedua komponen
memperlihatkan interaksi sinergistik. Kombinasi ini mungkin efektif walaupun mikroba telah
resisten terhadap tirmetropim. Sinergisme maksimum akan terjadi bila mikroba peka terhadap
kedua komponen.

b. Mekanisme Kerja

Aktifitas antibakteri kotrimoksazol berdasarkan atas kerjanya pada dua tahap yang berurutan
dalam reaksi enzimatik untuk membentuk asam tetrahidrofolat. Sulfonamide menghambat
masuknya molekul PABA ke dalam molekul asam folat dan trimetoprim menghambat
terjadinya reaksi reduksi dari dihidrofolat menjadi tetrshidrofolat. Tetrahidrofolat penting
untuk reaksi-reaksi pemindahan satu atom C, seperti pembentukan basa purin (adenin,
guanin, dan timidin) dan beberapa asam amino (metionin, glisin). Sel-sel mamalia
menggunakan folat jadi yang terdapat dalam makanan dan tidak mensintensis senyawa
tersebut. Trimetoprim menghambat enzim dihidrofolat reduktase mikroba secara sangat
selektif. Hal ini penting, karena enzim tersebut juga terdapat pada sel mamalia.

Untuk mendapatkan efek sinergi diperlukan perbandingan kadar yang optimal dari kedua
obat. Untuk kebanyakan kuman, rasio kadar sulfametoksazol : trimetoprim, yang optimal
ialah 20 : 1. Sifat farmakokinetik sulfonamide yang dipilih untuk kombinasi dengan
trimetoprim sangat penting mengingat diperlukannya rasio kadar yang relative tetap dari
kedua obat tersebut dalam tubuh. Trimetropim pada umumnya 20-100 kali lebih poten
daripada sulfametoksazol, sehingga sediaan kombinasi diformulasikan untuk mendapatkan
kadar sulfametoksezol in vivo 20 kali lebih besar daripada trimetoprim.

c. Resistensi Bakteri

Frekuensi terjadinya resistensi terhadap kotrimaksazol lebih rendah daripada terhadap


masaing masing obat, karena mikroba yang resisten terhadap salah satu komponen masih
peka terhadap komponen lainnya. Resistensi mikroba terhadap trimetropim dapat terjadi
karena mutasi. Resistensi yang terjadi pada bakteri gram-negatif disebabkan oleh adanya
plasmid yang membawa sifat menghambat kerja obat terhadap enzim dihidrofolat reduktase.
Resistensi S. aureus terhadap trimetropim ditentukan oleh gen kromosom, bukan oleh
pasmid. Resistensi terhadap bentuk kombinasi juga terjadi in vivo. Pravalensi resistensi E.coli
dan S. aureus terhadap kotrimoksazol meningkat pada pasien yang diberi pengobatan dengan
sediaan kombinasi tersebut. Selama lima tahun penggunaan resistensi S. aureus meningkat
dari 0,4% menjadi 12,6%. Dilaporkan pula terjadinya resistensi pada beberapa jenis mikroba
Gram-negatif.

d. Farmakokinetik

Rasio kadar sulfametoksazol dan trimetoprim yang ingin dicapai dalam darah ialah sekitar 20
: 1. Karena sifatnya yang lipofilik, trimetoprim mempunayi volume distribusi yang besar
daripada sulfametoksazol. Dengan memberikan sulfametoksazol 800 mg dan trimetoprim 160
mg per oral (rasio sulfametoksazol : trimetoprim = 5 : 1) dapat diperoleh rasio kadar kedua
obat tersebut dalam darah kurang lebih 20 : 1.

Trimetoprim cepat didistribusi ke dalam jaringan dan kira-kira 40% terikat pada protein
plasma dengan adanya sulfametoksazol. Volume distribusi trimetoprim hampir 9 kali lebih
besar daripada sulfametoksazol. Obat masuk ke CSS dan saliva dengan mudah. Masing-
masing komponen juga ditemukan dalam kadar tinggi di dalam empedu. Kira-kira 65%
sulfametoksazol terikat pada protein plasma. Sampai 60% trimetropim dan 25-50%
sulfametoksazol diekskresi melalui urin dalam 24 jam setelah pemberian. Dua-pertiga dari
sulfonamid tidak mengalami konjugasi. Metabolit trimetropim ditemukan juga di urin. Pada
pasien uremia, kecepatan ekskresi dan kadar urin kedua obat jelas menurun.

e. Sediaan Dan Posologi

Kotrimoksazol tersedia dalam bentuk tablet oral, mengandung 400 mg sulfametoksazol dan
80 mg trimetoprim. Untuk anak tersedia juga bentuk suspense oral yang mengandung 200 mg
sulfametoksazol dan 40 mg trimetoprim/5 mL, serta tablet pediatric yang mengandung 100
mg sulfametoksazol dan 80 mg trimetoprim. Untuk pemberian IV tersedia sediaan infuse
yang mengandung 400 mg sulfametoksazol dan 80 mg trimetoprim/5 mL. dosis dewasa pada
umumnya ialah 800 mg sulfametoksazol dan 160 mg trimetoprim setiap 12 jam. Pada infeksi
yang berat diberikan dosis yang lebih besar. Pada pasien dengan gagal ginjal, diberikan dosis
biasa bila klirens kreatinin lebih dari 30 mL/menit; bila klirens kreatinin 15-30 mL/menit,
dosis 2 tablet diberikan setiap 24 jam dan bila klirens kreatinin kurang dari 15 mL/menit, obat
ini tidak boleh diberikan.
Dosis yang dianjurkan pada anak ialah trimetoprim 8 mg/kg/BB/hari dan sulfametoksazol 40
mg/kg/BB/hari yang diberikan dalam 2 dosis. Pemberian pada anak di bawah usia 2 tahun
dan pada ibu hamil atau menyusui tidak dianjurkan.

Trimetoprim juga terdapat sebagai sediaan tunggal dalam bentuk tablet 100 dan 200 mg.

f. Efek Samping

Pada dosis yang dianjurkan tidak terbukti bahwa kotrimoksazol menimbulkan defisiensi folat
pada orang normal. Namun batas antara toksisitas untuk bakteri dan untuk manusia relative
sempit bila sel tubuh mengalami defisiensi folat. Dalam keadaan demikian obat ini mungkin
menimbulkan megaloblastosis, leucopenia, atau trombositopenia. Kira-kira 75% efek
samping terjadi pada kulit, berupa reaksi yang khas ditimbulkan oleh sulfonamid. Namun
demikian kombinasi trimetoprim-sulfametoksazol dilaporkan dapat menimbulkan reaksi kulit
sampai tiga kali lebih sering dibandingkan sulfisoksazol pada penberian tunggal (5,9% vs
1,7%). Dermatitis eksfoliatif, sindrom Stevens-Johnson dan toxic epidermal necrolysis jarang
terjadi. Gejala-gejala saluran cerna terutama berupa mual dan muntah; diare jarang terjadi.
Glositis dan Stomatitis relatif sering. Ikterus terutama terjadi pada pasien yang sebelumnya
telah mengalami hepatitis kolestatik alergik. Reaksi susunan saraf pusat berupa sakit kepala,
depresi dan halusinasi, disebabkan oleh sulfonamid. Reaksi hematologik lainnya ialah
berbagai macam anemia (aplastik, hemolitik dan makrositik), gangguan koagulasi,
granulositopenia, agranulositosis, purpura, purpura Henoch-Schonlein dan
sulfhemoglobinemia. Pemberian diuretik sebelumnya atau bersamaan dengan kotrimoksazol
dapat mempermudah timbulnya trombositopenia, terutama pada pasien usia lanjut dengan
payah jantung; kematian dapat terjadi. Pada pasien AIDS (Aqcuired immune-deficiency
syndrome) yang diberi pengobatan kotrimoksazol umtuk infeksi oleh Pneumocystis carinii,
sering terjadi efek samping demam, lemah, erupsi kulit, dan/atau pansitopenia.

g. Penggunaan Klinik

Infeksi Saluran Kemih

Sulfonamid masih berguna untuk infeksi ringan saluran kemih bagian bawah. Tetapi
timbulnya resistensi makin meningkat terutama pada bakteri Gram-negatif, sehingga
sulfonamide tidak dapat diandalkan untuk pengobatan infeksi yang lebih berat pada saluran
kemih bagian atas. Penting untuk membedakan infeksi pada ginjal dan infeksi pada saluran
kemih bagian bawah. Pada keadaan pielonefritis akut yang disertai demam hebat dan bila ada
kemungkinan timbulnya bakteremia dan syok, sebaiknya jangan diberi pengobatan dengan
sulfonamid; tetapi dianjurkan pemberian suatu antimikroba yang bakterisid secara parenteral
yangb dipilih berdasarkan uji sensitivitas mikroba dari hasil kultur urin. Sulfonamid
digunakan untuk pengobatan sistitis akut maupun kronik, infeksi kronik saluran kemih bagian
atas dan bakteriuria yang ansimtomatik. Sulfonamid efektif untuk sistitis akut tanpa penyulit
pada wanita. Pengobatan infeksi ringan saluran kemih bagian bawah, dengan kotrimoksazol
ternyata sangat efektif, bahkan untuk infeksi oleh mikroba yang telah resisten terhadap
sulfonamid sendiri. Dosis 160 mg trimetoprim dan 800 mg sulfametoksazol setiap 12 jam
selama 10 hari menyembuhkan sebagian besar pasien. Efek terapi sediaan kombinasi lebih
baik daripada masing-masing komponennya terutama bila mikroba penyebabnya golongan
enterobacteriaceae. Pemberian dosis tunggal ( 320 mg trimetoprim dengan 1600
sulfametoksazol) selama 3 hari, juga efektif untuk pengobatan infeksi akut saluran kemih
yang ringan. Sediaan kombinasi ini terutama efektif untuk infeksi kronik dan berulang
saluran kemih. Pada wanita, efektivitasnya mungkin disebabkan oleh tercapainya kadar terapi
dalam secret vaginal. Jumlah mikroba disekitar orificium urethrea menurun sehingga
kemungkinan terjadinya infeksi ulang pada saluran kemih bagian bawah berkurang.
Tirmetoprim juga ditemukan dalam kadar terapi pada sekret prostat dan efektif untuk
pengobatan infeksi prostat. Dosis kecil (200 mg sulfametoksazol dan 40 mg trimetoprim per
hari atau 2-4 kali dosis tersebut yang diberikan satu atau dua kali per minggu) efektif untuk
mengurangi frekuensi kambuhnya infeksi saluran kemih pada wanita. Harus diingat bahwa
trimetoprim saja juga cukup efektif untuk pengobatan infeksi saluran kemih. Dosis dewasa
yang umum digunakan ialah 100 mg setiap 12 jam. Untuk memberikan pengobatan dengan
sediaan kombinasi tersebut perlu dipertimbangkan hasil pemeriksaan sensitivitas mikroba.

Infeksi saluran kemih berulang lebih sukar ditanggulangi daripada infeksi akut. Pengobatan
infeksi kronik dengan sediaan kombinasi ini perlu mempertimbangkan hasil pemeriksaan
sensitivitas mikroba.

Infeksi saluran kemih berulang lebih sukar ditanggulangi daripada infeksi akut; infeksi kronik
ini mungkin disebabkan infeksi ulang oleh mikroba lain ataun karena persistensi mikroba
yang sama. Infeksi ulang biasanya dapat diatasi dengan antimikroba seperti sulfisoksazol,
sedangkan kambuh oleh mikroba yang sama biasanya lebih sukar diatasi dan menunjukkan
adanya sumber infeksi yang persisten di saluran kemih bagian atas yang sukar dibasmi. Sebab
persistensi ini antara lain : (1) obstruksi yang bersifat funsional atau mekanik yang
menghambat pengosongan kandung kemih; (2) resistensi mikroba terhadap antibiotik yang
biasa digunakan; (3) gangguan daya tahan tubuh seperti pada pasien diabetes mellitus; (4)
kombinasi dari ketiga hal di atas. Mikroba penyebabnya antara lain Escherichia,
Enterobacter (Aerobacter), Alcaligenes, Klebsiella, Proteus, kokus Gram-positif (termasuk
enterokokus) dan mikroba campuran. Lajub penyembuhan infeksi kronik saluran kemih
relatif rendah, apapun antimikroba yang digunakan, dan terapi supresif kronik atau
pengobatan intermiten terhadap kambuhnya gejala merupakan tujuan pengobatan yang paling
baik. Pengobatan dengan antibiotik pada kasus demikian ternyata tidak memberikan hasil
yang lebih baik dan pemberian antibiotic jangka lama sering menimbulkan efek samping.

Infeksi Saluran Napas

Kotrimoksazol tidak dianjurkan untuk mengobati faringitis akut oleh S. pyogenes,


karena tidak dapat membasmi miroba. Preparat kombinasi ini efektif untuk pengobatan
bronchitis kronis dengan eksaserbasi akut. Perparat kombinasi ini juga efektif untuk
pengobatan otitis media akut pada anak dan sinusitis maksilaris akut pada orang dewasa yang
disebabkan oleh strain H. influenza dan S. pneumoniae yang masih sensitif. Beberapa galur
pneumokokus penyebab bakteremia dilaporkan telah resisten terhadap obat ini.

Infeksi Saluran Cerna

Sediaan kombinasi ini berguna untuk pengobatan shigellosis karena beberapa strain
mikroba penyebabnya telah resisten terhadap ampisillin. Namun demikian akhir-akhir ini
dilaporkan terjadinya resistensi mikroba terhadap kotrimoksazol. Obat ini juga efektif untuk
demam tifoid. Kloramfenikol tetap merupakan obat terpilih untuk demam tifoid, karena
prevalensi resistensi mikroba penyebabnya terhadap obat ini masih rendah.

Kotrimoksazol efektif untuk carier S. typhi dan salmonella spesies lain. Dosis yang
dianjurkan : 160 mg trimetoprim-800 mg sulfametoksazol dua kali sehari selama 3 bulan,
tetapi dengan dosis ini penyakit masih dapat kambuh. Terjadinya penyakit kronik pada
kandung empedu diduga karena kegagalan menghilangkan carier state ini. Diare akut karena
E. coli dapat dicegah atau diobati dengan pemberian trimetoprim tunggal atau kotrimoksazol.
Infeksi Oleh Pneumocystis Carinii

Pengobatan dengan dosis tinggi (trimetoprim 20 mg/kgBB perhari dengan


sulfametoksazol 100 mg/kgBB per hari, dalam 3-4 kali pemberian) efektif untuk pasien
infeksi yang berat pada pasien AIDS. Beberapa hasil penelitian telah memperlihatkan bahwa
pengobatan dengan dosis kecil efektif untuk pencegahan infeksi pneumocystis carinii pada
pasien neutropenia.

Infeksi Genitalia

Karena resistensi mikroba, kotrimoksazol tidak dianjurkan lagi untuk pengobatan


gonore. Pemberian eritromisin 500 mg 4 kali sehari selama 10 hari atau 160 mg trimetoprim
dan 800 mg sulfametoksazol per oral dua kali sehari selama 10 hari efektif untuk pengobatan
chancroid.

Infeksi Lainnya

Infeksi oleh jamur nokardia dapat diobati dengan kombinasi ini. Banyak laporan
mengemukakan bahwa sulfametoksazol mungkin efektif untuk pengobatan bruselosis bahkan
bila ada lesi local seperti arthritis, endokarditis atau epididimorkitis. Dosis yang diberikan
berkisar antara 2 tablet (800 mg sulfametoksazol dan 160 mg trimetoprim) tiga kali sehari
selama 1 minggu diikuti dengan 2 tablet per hari selama 2 minggu sampai 4-8 tablet per hari
selama 2 bulan. Sebagian besar pasien sembuh terutama setelah pemberian rangkaian dosis
yang disebut terakhir, namun 4% pasien kambuh dengan rangkaian dosis tersebut. Pemberian
kotrimoksazol secara IV dengan karbenisilin ternyata efektif untuk pengobatan infeksi pada
pasien neutropenia. Trimetoprim-sulfametoksazol juga berguna untuk pengobatan berbagai
penyakit infeksi berat pada anak. Strain S. aureus yang telah resisten terhadap metisilin
mungkin masih peka terhadap kotrimoksazol, tetapi vankomisin masih tetap merupakan obat
pilihan untuk infeksi berat yang disebabkan oleh S. aureus yang telah resisten terhadap
metisilin.

B. ANTISEPTIK SALURAN KEMIH


Berbagai obat antimikroba tidak dapat di gunakan untuk mengobati infeksi sistemik yang
berasal dari saluran kemih karena bioavailabilitasnya dalam plasma tidak mencukupi. Tetapi
pada tubuli renalis, obat-obat ini akan mengalami pemekatan dan berdifusi kembali ke
parenkim ginjal sehingga bermanfaat untuk pengobatan infeksi saluran kemih. Oleh Karena
kadarnya hanya cukup tinggi pada saluran kemih saja., maka antimikroba seperti ini sering
dianggap sebagai antiseptic local untuk infeksi saluran kemih yang bekerja di mukosa saluran
kemih.

1. METENAMIN

Kimia

Metenamin atau heksamin adalah heksametilentetramin. Dalam suasana asam,


metenamin terurai dan membebaskan formaldehid yang bekerja sebagai antiseptik saluran
kemih. Formaldehid mematikan kuman dengan jalan menimbulkan denatursi protein.

Reaksi ini berlangsung baik pada pH yang rendah. Pada pH lebih dari 7.4 obat ini tidak
efektif.

Efek Antimikroba

Metenamin aktif terhadap berbagai jenis mikroba. Kuman gram negative umumnya
dapat dihambat dengan metenamin, kecuali Proteus karena kuman dapat mengubah urea
menjadi amonium hidroksida yang menaikkan pH sehingga menghambat perubahan
metenamin menjadi formaldehid.

Karena tidak terjadi resistensi kuman terhadap formaldehid, efektivitas metenamin


tetap baik.

Efek Samping Dan Kontraindikasi

Metenamin dikontraindikasikan pada gangguan fungsi hati karena dalam lambung


obat ini membebaskan ammonia. Iritasi lambung sering terjadi bila di berikan dosis lebih dari
500 mg per kali.
Dosis 4-8 gr sehari selama lebih dari 3 minggu mungkin menimbulkan iritasi kandung kemih,
proteinuria, hematuria dan erupsi kulit. Oleh karena itu dosis harus segera di turunkan bila
urin telah steril.

Metenamin jangan diberikan bersama sulfonamide karena dapat menimbulkan


kristaluria. Selama pengobatan dengan metenamin, pasien harus menghindarkan diri dari
makanan atau obat yang dapat meningkatkan pH urin misalnya susu, antacid.

Sediaan Dan Posologi

Metenamin dan metenamin mendelat tersedia dalam bentuk tablet 0.5 gr. Dosis untuk
orang dewasa ialah 4 kali 1 gram/hari, diberikan setelah makan dosis untuk anak kurang dari
6 tahun ialah 50 mg /kgBB/hari yang dibagi dalam beberapa dosis.

Indikasi

Obat ini digunakan untuk profilaksis terhadap infeksi saluran kemih brulang,
khususnya bila ada residu kemih. Metenamin tidak di indikasikan untuk infeksi akut saluran
kemih.

2. ASAM NALIDIKSAT

Kimia

Kristal asam nalidiksat berupa bubuk putih atau kuning muda. Kelarutan dalam air
rendah sekali, tetapi mudah larut dalam hidroksida alkali dan karbonat.

Spektrum Antimikroba

Asam nalidiksat bekerja dengan menghambat enzim DNA girase bakteri dan biasanya
bersifat bakterisid terhadap kebanyakan kuman pathogen penyebab infeksi saluran kemih.
Obat ini menghambat E. coli, proteus spp., Klebsiella spp. Dan kuman-kuman koliform
lainnya. Pseudomonas spp. Biasanya resisten.
Resistensi terhadap asam nalidiksat tidak dipindahkan melalui plasmid (factor R), tetapi
dengan mekanisme lain. Resistensi terhadap asam nalidiksat telah menimbulkan masalah
klinik.

Farmakokinetik

Pada pemberian per oral, 96% obat akan diserap. Konsentrasinya dalam plasma kira-
kira 20-50 mikrogram/mL, tetapi 95% terikat dengan protin plasma. Dalam tubuh, sebagian
dari obat ini akan di ubah menjadi asam hidroksinalidiksat yang juga mempunyai daya
antimikroba.

Efek Samping Dan Kontraindikasi

Pemberian asam nalidiksat per oral kadang-kadang menimbulkan mual, muntah, ruam
kulit dan urtikaria. Diare, demam, eosinofilia, dan fotosensivitas kadang-kadang timbul,
walaupun hal ini jarang terjadi dan diduga karena defisiensi enzim G6PD.

Gejala SSP dapat berupa sakit kepalam, vertigo dan kantuk. Pada anak dan bayi mendapat
asam nalidiksat dosis tinggi, dapat timbul kejang yang mungkin disebabkan oleh peningkatan
tekanan intrakaranial. Efek samping ini dapat pula timbul bila obat diberikan kepada pasien
parkinsonisme, epilepsy dan gangguan sirkulasi darah pada otak.asam naliksidat tidak boleh
diberikan pada bayi berumur kurang dari 3 bulan juga pada trimester 1 kehamilan.

Sediaan Dan Posologi

Asam naliksidat tersedia dalam bentuk tablet 500 mg. dosis untuk orang dewasa iala 4
kali 500 mg/hari. Obat ini di kontraindikasikan pada wanita hamil trimester pertama dan juga
anak prapubertas.

Indikasi
Asam nalidiksat di gunakan untuk menobati infeksi saluran kemih bawah tanpa
penyulit (misalnya sistisis akut). Obat ini tidak efektif untuk infeksi saluran kemih bagian
atas, misalny pielonefritis.

Dengan ditemukannya fluorokuinolon (spirofloksasin, ofloksasin, dll.) yang mempunyai daya


antibakteri dan sifat farmakokinetik yang lebih baik,tampaknya asam nalidiksat tidak akan
banyak digunakan lagi di masa yang akan dating.

3. NITROFURANTOIN

Kimia Dan Efek Antibakteri

Nitrofurantoin ada antiseptic saluran kemih derivate furan. Obat ini efektif untuk
kebanyakan kuman penyebab infeksi saluran kemih seperti E. coli, proteus, sp., klebsiella,
enterobacter, enterococcus, dll. Untuk Proteus mirabilis dan pseudomonas obat ini kurang
efektif. Resistensi dapat bekembang melalui pemindahan plasmid.

Farmakokinetik

Nitrofurantoin diserap dengan cepat dan lengkap melalui saluran cerna. Pemberian
bersama makanan bukan hanya mengurangi kemungkinan terjadinya iritasi lambung tapi juga
mempertinggi biovailabilitasnya.

Setelah diserap, obat ini terikat kuat dengan protein plasma dan cepat di ekskresi melalui
ginjal sehingga kada obat bebas dalam darahtidak dapat mencapai kadar terapi. Masa [aruhny
dalam serum hany 20 menit dan kira-kira 40% obat ini di ekskresi dalam bentuk asalnya,
sehingga didapatkan kadar yang cukup tinggi dalam urin bila faal ginjal cukup baik.

Bila klirens kreatinin kurang dari 40 ml/menit maka kadar obat dalam urin tidak cukup tinggi,
sebaliknya terjadi akumulasi dalam darah sehingga kemungkinan terjadinya intoksikasi juga
lebih besar. Dengan demikian nitrofurantion tidak boleh di berikan pada pasien gagal gijal.

Nitrofurantion menyebabkan urin berwarna agak coklat.


Efek Samping Dan Kontraindikasi

Efek samping yang paling sering di jumpai ialah mual, muntah dan diare. Keluhan-
keluhan ini dapat dikuranngi dengan pemberian bersama makanan atau susu. Reaksi
hipersensivitas mungkin timbul berupa demam, leucopenia, granulositopenia, anemia
hemolitik, ikterus kolekstatik dan kerusakan hepatoselulerr. Selain itu dapat timbul
pneumonitis akibat reaksi alergi dan fibrosis pulmonus interstinal (jarang sekali terjadi).

Efek samping lain yang mungkin timbul iallah kelainan neurologic seperti sakit kepala,
vertigo, kantu, nistagmus, dan nyeri otot. Kelainan-kelainan lain bersifat sementara.
Polineuropati lebih mudah terjadi pada pasien dengan gangguan faal ginjal, anemia, diabetes,
defisiensi vitamin b kompleks atau gangguan keseimbangan elektrolit.

Netrofurantion di kontraindikasikan pda gangguan faal ginjal dengan klirens kreatinin kurang
dari 40 mL/menit. Obat ini jga dikontraindikasikan pada gangguan faal ginjal bagi wanita
hamil aterm dan bayi berumur kurang dari 3 bulan, karena dapat menimbulkan anemia
hemolitik.

Sediaan Dan Posologi

Nitrofurantion tersedia dalam bentuk kapsul atau tablet 50-100mg. dosis untuk orang
dewasa ialah 3-4 kali 50-100 mg/hari. Untuk anak diberikan dosis 5-7 mg/kgBB/hari yang
dibagi dalam beberapa dosis. Obat ini tidak tersedia di Indonesia.

Penggunaan Klinik

Nitrofurantion efektif untuk mengobati bakteriuria yang disebabkan oleh infeksi


saluran kemih bagian bawah. Penggunaanya terbatas untuk tujuan profilaksdis atau
pengobatan syupresif infeksi saluran kemih menahun, yaitu setelah kuman penyebanya
dibasmi atau dikurangi dengan antimikroba lain yang l;ebih efektif.

Hidroksimetilnitrofurantion digunakan dengan indikasi yang sama dengan nitrofurantion.


Dosisnya 4 kali 40 mg sehari per oral.
4. FOSFOMISIN TROMETAMIN

Obat ini bekerja dengan menghambat tahap awal sintesis dinding sel kuman. Fosfomisin aktif
terhadap kuman gram-positif maupun gram-negatif. Biovailabilitasnya pada pemberian oral
hanya 37%. Pemberian bersama makanan akan mengurani penyerapan obat ini sebanyak
30%. Obat ini tidak terikat dengan protin plasma. Masa paruh eliminasinya sekitar 5.7 jam.
Ekskresi renal obat ini ialah 38%. Fofomisin tidak mengalami metabolism dalam tubuh dan
di keluarkan dalam urin dan tinja sebagai induknya.

Obat ini di indikasikan untuk infeksi saluran kemih tanpa komplikasi (sistisis akut0 pada
wanita yang di sebabkan oleh E.coli dan e.faecalis. efek samping yng di hubungkan dengan
penggunaan obat ini ialah diare, mual, sakit kepala, dan vaginitis. Obat ini dapat di berikan
pada wanita hamil. Fosfomisin trometamin tersedia sebagai bubuk dalam sachet berisi 3 g
yang harus di campur dengan air kurang lebih 100 ml dan diminum sebagai dosis tunggal. Air
panas tidak boleh digunakan untuk pelarut obat ini. Obat yang telah dilarutkan harus segera
di minum.

ANTIMIKROBAKTERIA ATIPIK

Mikrobakteria atipik tidak ditularkan dari manusia ke manusia, penyakit yang ditimbulkan
oleh kuman ini umumnya kurang berat dibadingkan tuberkulosis. Pada umumnya obat
antituberkulosis kurang aktif terhadap mikrobakteria atipik, sedangkan antibiotik eritromisin,
sulfonamid dan tetrasiklin yang aktif terhadap mikrobakteria atipik ternyata tidak aktif pada
tuberkulosis.

Antibiotik Makrolid

Mycrobacterium avium compleks ( MAC ), yang mencakup M avium dan M


intracelullare, peyebab tersering dan peting dar penyakit pada penyakit desiminasi
stadium lanjut pada AIDS. Kombinasi beberapa obat diperlukan untuk mengatasi
penyakit ini. Infeksi MACdiseminasi sangat sulit untuk disembuhkan. Penggunaan
kombinasi berbagai obat akan menimbulkan berbagai efek samping yang sulit
dikelola.

Rifabutin
Rifabutin dosis sekali sehari 300 mg telah terbukti meurunkan insidens bakteremia
M avium compleks pada pasien AIDS.

Mikobakteria atipik tidak di tularkan dari manusia ke manusia. Penyakit yang di timbulkan
oleh kuman ini umumnya kurang berat di bandingkan tuberculosis. Pada umunya obat
antituberkulosis kurang aktiv terhadap mikobakteria atipik, sedangkan antibiotic eritromisin,
sulfonamide dan tetrasiklin yang aktif terhadap tuberculosis. Seperti mikrobakteria lain,
mikobakteria atipik juga cepat timbul resistensi terhadap penggunaan obat tunggal, sehingga
harus di beri obat dalam kombinasi. M.kansaii peka terhadap rifampisin dan etambutal, tetapi
kurang peka terhadap INH dan resisten penuh terhadap pirazinamid. Pada tabel 40-1
tercantum obat-obat yang diindikasi untuk infeksi oleh barbagai mikobakteria apitik.

Antibiotik Makrolid

Mycobacteium avium complex (MAC), yang mencakup M. avium dan M. intracellular,


penyebab tersering da n penting dari penyakit diseminasi pada stadium lanjut pada AIDS
(CD4 <>M.avium complex kurang peka di banding M. tuberculosis terhadap kebanyakan
antituberkulosis. Kombinasi beberapa obat diperlukan untuk mengatasi penyakit ini. Infeksi
MAC diseminasi sangat sulit untuk dapat di sembuhkan dan bila CD4 <>

Klaritromisin dan azitromisin merupakan obat yang penting untuk pengobatan infeksi MAC
dan mikobakteria nontuberkulosis lain. Klaritromisin dapat berinteraksi dengan obat-obat
yang di metabolisme oleh system enzim P450. Farmakologi antibiotic makrolid di bahas di
bab 45 di buku ini. Klaritomisin in vitro lebih aktif di bandingkan azitromisin terhadap
bakteri MAC, tetapi secara klinis tidak berpengaruh karena kadar azitromisin di jaringan jauh
melebihi kadar dalam darah, sehinggga melebihi KHM MAC. Untuk pengobatan MAC
klaritomisin maupun azitromisin tidak boleh di berikan sebagai monoterapi karena akan
timbul resistensi pada penggunaan jangka panjang.

Rifabutin

Rifabutin dosis sekali sehari 300 mg telah terbukti menurunkan insidens bakteremia
M. avium complex pada pasien AIDS dengan CD4 <>
C. TUBERKULOSTATIK DAN LEPROSTATIK

1. TUBERKULOSTATIK

Obat yang digunakan untuk tuberkulosis di golongkan atas dua kelompok, yaitu kelompok
obat lini pertama dan lini kedua. Kelompok obat lini pertama yaitu, isoniazid, rifampisin,
etambutol, streptomisin, dan pirazinamid memperlihatkan efektifitas yang tinggi dengan
toksitas yang dapat diterima. Antituberkolosis lini kedua adalah antibiotik golongan
fluorokulnolon ( siprofloksasin, ofloksasin, levofloksasin), sikloserin, etionamid, amikasin,
kanamisin, kepromisin, dan paraaminosalisilat.

1.1 Isoniazid

Isoniazid atau isonikotinil hidrazid yang sering disingkat INH, hanya satu derivatnya
menghambat pembelahan kuman tuberkolosis yakni iproniazid, tetapi obat ini terlalu toksik
baut manusia.

Efek Antibakteri

Isoniazid secara in vitro bersifat tuberkolostatik dan tuberkolosid dengan KHM


( Kadar Hambat Minimum ) sekitar 0.025-0.05g/ml. Pembelahan kuman masih
berlangsung 2 sampai 3 kali sebelum dihambat sama sekali. Efek bakterisidnya
haya terlihat pada kuman yang sedang tumbuh aktif. Pada hewan ternyata aktifitas
isoniazid lebih kuat dibandingkan streptomisin, isoniazid dapat menembus
kedalam sel dengan mudah.

Mekanisme Kerja

Mekanisme kerja isoniazid belum diketahui, tetapi ada beberapa hipotesisi yang
diajukan, diantaranya efek pada lemak, biosintesis asam nukleat dan glikolisis.

Resistensi

Petunjuk yang ada memberikan kesan bahwa mekanisme terjadinya resistensi


berhubungan denga adaya kegagalan obat mencapai kuman atau kuman tidak
menyerap obat. Peggunaan INH juga dapat menyebabkan timbulnya strain baru
yang resisten. Perubahan sifat dari sensitif menjadi resisten biasanya terjadi
dalambeberapa minggu setelah pengobatan dimulai. Waktu yang diperlukan untuk
timbulnya resistensi berbeda pada kasus yang berlainan.

Farmakokinetik

Isoniazid mudah diabsorpsi pada pemberian oral maupun parenteral. Kadar


puncak dicapai dalam waktu 1-2 jam setelah pemberian oral. Di hati, isoniazid
terutama mengalami asetilasi dan pada manusia kecepatan metabolisme ini
dipengaruhi oleh faktor genetik yang secara bermakna mempengaruhi kadar obat
dalam plasma dan masa paruhnya. Isoniazid muda berdifusi kedalam sel dan
semua cairan tubuh. Obat terdapat degan kadar yang cukup dalam cairan pleura
dan cairan asites. Antara 75-95 % isiniazid di ekskresi melalui urin dalam waktu
24 jam dn hampir seluruhnya dalam bentuk metabolit. Ekskresi teutama dalam
bentuk asetil isoniazid.

Efek samping

Reaksi hipersensitivitas mengakibatkan demam, berbagai kelainan kulit berbetuk


morbiliform, makulopapular, dan urtikaria. Isoniazid dapat mencetuskan
terjadinya kejang pada pasien dengan riwayat kejang. Neuritis optik dengan atropi
dapat juga terjadi. Isoniazid juga dapat menimbulkan ikterus dan kerusakan hati
yang fatal akibat terjadinya nekrosis multilobular.

Status dalam Pengobatan

Isoniazid masih tetap merupakan obat yang sangat penting untuk mengobati
semua tipe tuberkolosis. Efek samping dapat dicegah dengan pemberian
peridoksin dan pengawasan yang cermat pada pasien. Untuk tujuan terapi, obat ini
harus digunakan berasama obat lain, untuk tujuan pencegahan dapat diberikan
tunggal.

1.2 Rifampisin

Rifampisin adalah derivat semisetetik rifamisin B yaitu salah satu kelompok


antibiotik makrosiklik yang disebut rifamisin.
Aktivitas Antibakteri

Rifampisin menghambat pertumbuhan berbagai kuman gram positif dan gram


negatif. Terhadap kuman gram positif kerjanya tidak sekuat penisilin G, tetapi
sedikit lebih kuat dari eritomisin, linkomisin dan sefalotin. Terhadap kuma gram
negatif kerjanya lebih lemah dari tetrasiklin, kanamisin.

Farmakokinetik

Setelah diserap dari saluran cerna, obat ini cepat diekskresi melalui empedu dan
kemudian mengalami sirkulasi enterohepatik. Penyerapanya dihambat oleh adanya
makanan sehinnga dalam waktu 6 jam hampir semua obat yang berada dalam
saluran empedu berbentuk diasetil rifampisin, yang mempunyai aktivitas
atibakteri penuh. Obat ini berdifusi baik ke berbagai jaringa termasuk ke cairan
otak.

Efek Samping

Rifampisin jarang menimbulkan efek yag tidak diingini. Dengan dosis biasa,
kurang dari 4 % pasien tuberkolosis mengalami efek toksik. Yang paling sering
ialah ruam kulit, demam, mual da muntah.

Interaksi Obat

Pemberian PAS bersama rifampisin akan menghambat absorpsi rifampisin


sehingga kadarnya dalam darah tidak cukup. Rifampisin merupakan pemacu
metabolisme obat yang cukup kuat, sehinnga berbagai obat hipoglikemik oral,
kortikosteroid dan kontrasepsi oral akan berkurang evektivitasnya bila di berikan
bersama rifampisin.

Status dalam Pengobatan

Rifampisin merupakan obat yang sangat efektif untuk pegobatan tuberkolosis dan
sering digunaka bersama isoniazid untuk terapi tuberkolosis jangka pendek. Efek
sampingnya beraneka ragam, tetapi insidensnya rendah dan jarang sampai
menghentikan terapi.
Sediaan dan Posologi

Rifampisin di Indonesia terdapat dalam bentuk kapsul 150 mg dan 300 mg. Selain
itu terdapat pula tablet 450 mg dan 600 mg serta suspensi yang mengandung 100
mg/ 5 ml rifampisin. Beberapa sediaan dikombinasikan dengan isoniazid.

3. Etambutol

Aktivitas Antibakteri

Hampir semua galur M. tuberkolosis da M. kansasli sensitif terhadap etambutol.


Etambutol tidak efektif untuk kuman lain. Obat ini tetap menekan pertumbuhan
kuman tuberkolosis yang telah resisten terhadap isiniazid dan streptomisin.
Kerjanya menghambat sintetis metabolit sel sehinnga metabolisme sel terhambat
dan sel mati.

Farmakokinetik

Pada pemberian oral sekitar 75-80 % etambutol diserap dari saluran cerna. Kadar
puncak dalam plasma dicapai dalam waktu 2-4 jam setelah pemberian. Dalam
waktu 24 jam, 50 % etambutol yang diberikan diekskresikan dalam bentuk asal
melalui urin, 10 % sebagai metabolit, berupa derivat aldehid dan asam karboksilat.

Efek Samping

Etambutol jarang menimbulkan efek samping. Efek samping yang paling peting
adalah gagguan penglihatan, biasanya bilateral, yang merupakan neoritis
retrobulbar yang berupa turunnya tajam penglihatan, hilangnya kemampuan
membedakan warna dan lainnya.

Status dalam Pengobatan

Etambutol telah berhasil digunakan dalam pengobatan tuberkolosis dan


menggantikan tempat asam para amino Sali silat karena tidak menimbulkan efek
samping yang berbahaya dan dapat diterima dalam terapi.

Sediaan dan Posologi


Di Indonesia etambutol terdapat dalam bentuk tablet 250 mg dan 500 mg. Ada
pula sediaan yang dicampur dengan isoiazid dalam betuk kombinasi tetap.

3. Pirazinamid

Pirazinamid adalah analog niklatinamid yang telah dibuat sintetiknya. Obat ini
tidak larut dalam air.

Aktivitas Antibakteri

Piranizamid di dalam tubuh dihidrolisis oleh enzim pirazinamidase menjadi asam


pirazinoat yang aktif sebagai tuberkulostatik hanya pada media yang bersifat
asam.

Farmakokinetik

Piranizamid mudah diserap di usus da tersebar luas keseluruh tubuh. Dosis 1 gr


menghasilkan kadar plasma sekitar 45 g/ml pada dua jam setelah pemberian
obat. Ekskresinya terutama melalui filtrasi glomelurus. Asam pirazinoat yag aktif
kemudian mengalami hidroksilasi menjadi asam hidropirazinoat yang merupaka
metabolit utama.

Efek Samping

Efek samping yang paling umum dan serius adalah kelainan hati. Efek samping
lain adalah artralgia, anoreksia, mual dan muntah, juga disuria, malaise dan
demam.

Sediaan dan Posologi

Pirazinamid terdapat dalam bentuk tablet 250 mg dan 50 mg. Dosis oral ialah 20-
35 mg./kgBB sehari.

Status dalam Pengobatan


Sejak pengobatan tuberkolosis jangka pendek, kedudukan pirazinamid berubah
menjadi obat primer, obat ini lebih aktif pada suasana asam dan merupakan
bakterisid yang kuat untuk bakteri tahan asam yang berada dalam sel makrofag.

3. Streptomisin

Streptomisin ialah antituberkolosis pertama yang secara kliik dinilai efektif.

Aktivitas Antibakteri

Streptomisin in Vitro bersifat bakteriostatik da bakterisid terhadap kuman


tuberkolosis. Obat ini dapat mencapai kavitas, tetapi relatif sukar berdifusi
kecairan intrasel.

Resitensi

Dalam populasi yang besar selalu terdapat kuman yang resisten terhadap
streptomisin. Secara umum dapat dikatakan bahwa makin lama terapi denga
streptomisin belangsung, makin meningkat resitensinya.

Farmakokinetik

Setelah diserap dari tempat suntikan, hampir semua streptomisin berada dalam
plasma. Hanya sedikit sekali yang masuk dalam eritrosit. Stretomisin kemudian
meyebar keseluruh cairan ekstrasel. Kira-kira sepertiga streptomisin yang berada
dalam plasma, terikat protein plasma. Streptomisi di ekskresi melalui filtrasi
glomelurus.

Iteraksi Obat

Interaksi dapat terjadi dengan obat penghambat neuromoskular berupa potensial


penghambatan. Selain itu interaksi juga terjadi denga obat lainyang juga bersifat
ototoksik.

Sediaan dan Posologi

Streptomisin terdapat dalam bentuk bubuk injeksi dalam vial 1 dan 5 gr.
3. Fluorokuinolon

Selain aktivitasnya terhadap berbagai gram positif dan gram negatif


siprofloksasin, ofloksasin, dan levoflaksasin mempuyai aktivitas yang baik terhadap
M. tubercolosis sehingga digunakan dalam pengobatan tuberkulosissebagai obat lini
kedua.

3. Asam Paraaminosalisilat

Paraaminosalisilat ( PAS ) merupakan obat yang sering dikombinasikan dengan


anti tuberkolosis yang lain.

Aktivitas Antibakteri

Obat ini bersifat bakteriostatik. Sebagian besar mikrobakterium atipitik tidak


dihambat oleh obat tersebut. Efektivitas obat ini kurang jika dibandingkan dengan
isoniazid, streptomisin dan rifampisin.

Mekanisme Kerja

Mekanisme kerjanya sangat mirip dengan sulfonamide. Karena sulfonamide tidak


efektif terhadap M tuberkulosis dan PAS tidak efektif terhadap kuman yag sensitif
terhadap sulfonamide.

Resistensi

Secara umu resistensi in vitro terhadap PAS lebih sukar terjadi dibadingkan
terhadap streptomisin.

Farmakokinetik

PAS mudah diserap melalui saluran cerna. Obat ini mencapai kadar tinggi dalam
berbagai cairan tubuh kecuali dalam cairan otak.

Efek Samping
Insidens efek samping pada pemberian PAS hampir mencapai 10 , gejala yang
agak menonjol ialah mual dan gangguan saluran cerna lainnya. Pada keadaan
tertentu dapat timbul hemolisis.

Sediaan dan Posologi

PAS terdapat dalam bentuk tablet 500 mg yang diberikan dengan dosis oral 8-12 g
sehari, dibagi dalam beberapa dosis.

3. Sikloserin

Sikloserin merupkan antibiotik yang dihasilkan oleh Stretomyces orchidaceus, dan


sekarang dapat dibuat secara sintetik.

Aktivitas Antibakteri

In vitro sikloserin menghambat pertumbuhan M tuberculosis pada kadar 5-20


g/ml melalui penghambatan sintesis dinding sel.

Farmakokinetik

Setelah pemberian oral absorpsinya baik, kadar puncak dalam darah dicapai 4-8
jam setelah pemberian obat. Distribusi dan difusi keseluruh cairan dan jaringan
tubuh baik sekali. Ekskersi maksimal tercapai dalam 2-6 jam setelah pemberian
obat dan 50 % di ekskresi melalui urin dalam bentuk utuh selama 12 jam pertama.

Sediaan dan Posologi

Sikloserin dalam bentuk kapsul 250 mg, diberikan 2 kali sehari.

Efek Samping

Efek samping yang palig sering timbul dalam pegguanaan sikloserin ialah pada
SSP dan biasanya terjadi dalam 2 minggu pertama pengobatan.

3. Etionamid
Etionamid merupakan turunan tiosonikotinamid. Zat ini berwarna kuning dan
tidak larut dalam air.

Aktivitas Antibakteri

In vitro, etionamid menghambat pertumbuhan M tuberculosis jenis human.


Resistensi mudah terjadi bila dosis kurang tinggi atau obat ini diguakan sendiri.

Farmakokinetik

Pada pemberian peroral etionamid mudah diabsorpsi. Kadar puncak tercapai


dalam 3 jam dan kadar terapi bertahan selama 12 jam. Distribusi cepat, luas dan
merata keseluruh jaringan dan cairan tubuh. Ekskresi berlangsung cepat dan
terutama dala bentuk metabolitnya haya 1 % dalam betuk aktif.

Efek Samping

Efek samping yang paling sering dijumpai adalah aoreksia, mual dan
muntah.sering juga terjadi hipotensi postural yang hebat, depresi mental,
mengantuk dan asthenia.

Sediaan dan Posologi

Etionamid tedapat dalam betuk tablet 250 mg. Dosis awal ialah 2 kali 250 mg
perhari.

Status dalam pengobatan

Etionamid merupakan antituberkulosis sekunder yang harus dikombinasi dengan


antituberkulosis lain bila obat primer tidak efektif lagi.

3. Kanamisin dan Amikasin

Kedua obat ini termasuk antibiotik golongan aminoglikosida.

Kanamisin
Kanamisin telah lama digunakan sebagai antituberkulosis lini kedua untuk
pengobatan tuberkulosis yang disebabkan oleh bakteri yang sudah resiste terhadap
streptomisin, tetapi semenjak ditemukan amikasin da kapreomisin yag relaitif
kurang toksik, maka kini telah ditinggalkan.

Amikasin

Amikasin adalah semisintetik kaimasin dan lebih resisten terhadap berbagai enzim
yang dapat merusak aminoglikosida lain.

Farmakokinetik : melalui salura cerna amikasin tidak diabsorpsi. Melalui suntikan


intramuskular dosis 500 mg/12 jam.

3. Kapreomisin

Kapreomisin adalah suatu antituberkulosis polipeptida yang dihasilkan juga oleh


Streptomyces Sp.

Efek Samping

Kapreomisin merusak saraf otak VIII, oleh karena itu perlu dilakukan audometrik
dan pemeriksaan fungsi vestibuler sebelum mulai pemberiannya. Efek samping
lain adalah hipoglikemia, memburuknya angka-angka uji fungsi hati dan lainnya.

Status Dalam Pengobatan

Kapreomasin hanya digunakan dalam kombinasi dengan antituberkulosis lain.

3. Rifabutin ( Ansamisin )

Rifabutin suatu antubiotik derivat rifamisi seperti juga rifampisin dan rifapentin. Obat
ini aktif terhadap M tuberculosis, M. avrium intraselular, M. fortuitum. Ributin efektif
untuk terapi pencegahan dan pengobataninfeksi disseminated atypical mycobakteria.

3. Rifapentin

Rifapentin suatu indikator poten enzim sitokrom P450. ripafentin diindikasikan untuk
pengobatan tuberkulosis oleh mikrobakteria yang sensitif terhadap rifampisin.
1.14 Pengobatan Tuberkulosis

Tuberkulosis ( TB ) dapat meyerang beberapa organ tubuh, diantaranya paru-paru,


ginjal, tulang dan usus. Tujuan pengobatan Tuberkulosis adalah memusnakan basil
tuberkulosis dengan cepat dan mencegah kambuh. Selain itu juga bertujuan
mengurangi transmisi TB kepada orang lain dan mencegah/memperlambat timbulnya
retensi TB terhadap obat. Yang menjadi poin penting Pada pengobatan TB adalah :

Pemilihan Obat

Resistensi

Panduan Terapi

Panduan terapi tuberkulosis pada pasien defisiensi imun

Efek samping

Pengobatan, Pencegahan

Terapi kortikosteroid pada tuberkulosis

Penilaian hasil pengobatan

2. LEPROSTATIK

Penyakit lepra di Indonesia cukup banyak dan memerlukan perhatian yang serius. Dalam bab
ini akan di bahas antilepra golongan sulfon, rifampisin, klofazimin, amitiozon dan obat-obat
lain.

Sifat farmakologi yang sama. Banyak senyawa yang telah di kembangkan, tetapi
secara klinis hanya masalah pengobatan lepra. WHO menganjurkan penggunaan kombinasi 3
obat sekaligus yaitu dapson, ifampisin dank lofazimin untuk pemberantasan global penyakit
lepra.

1. Sulfon
Golongan sulfon merupakan derivate 4.4 diamino difenil sulfon (DDS, dapson) yang
memiliki dapson dan sulfokson yang bermanfaat.

Aktivitas In Vitro Dan In Vivo

Aktivitas sulfon terhadap basil lepra secara in vitro tidak dapat di ukur mengingat
hasil ini belum dapat di biakkan dalam media buatan. Tehadap basil tuberculosis obat ini
bersifat bakteripstatik; dapson dapat menghambat pertumbuhan basil pada kadar 10 /mL.
penelitian pada hewan coba menunjukkan bahwa sulfon bersifat bakteriostatik dengan KHM
sebesar 0,02 /mL. resistensi dapat terjadi selama pengobatan berlangsung.

Mekanisme kerja sulfon sama dengan sulfonamide. Kedua golongan obat ini
mempunyai spectrum antibakteri yang sama, dan dapat ldi hambat aktivitasnya oleh PABA
secara bersaing.

Farmakokinetik

Dapson di serap lambat di saluran cerna, tetapi hampir sempurna. Sulfokson di serap
kurang sempurna sehingga banyak tebuang bersama feses. Kadar puncak tercapai setelah 1-3
jam , yaitu 10-15 /mL. setelah pemberian dosis yang di anjurkan. Kadar puncak cepat
turun, tetapi masih di jumpai dalam jumlah cukup setelah 8 jam. Waktu paruh eliminasi
berkisar antara 10-50 jam dengan rata-rata 28 jam. Pada dosis berulang, sejumlah kecil obat
masih di temukan sampai 35 hari setelah pemberian obat di hentikan.

Golongan sulfon tersebar luas di seluruh jaringan dan cairan tubuh. Obat ini cenderung
tertahan dalam kulit dan otot, tetapi lebih banyak dalam hati dan ginjal. Obat tetrikat pada
protein plasma sebanyak 50-70%, dan mengalami daur enterohepatik. Daur ini yang
menyebabkan obat masih di temukan dala darah lama setelah pemberiannya di hentikan.
Sulfon mengalami metabolisme dalam hati dan kecepatan asetilasinya di etntukan oleh factor
genetic.
Ekskresi melalui urin berbeda jumlahnya bagi setiap sediaan sulfon. Dapson dosis tunggal di
ekskresi sebanyak 70-80% terutama dalam bentuk metabolitnya. Probenesid dapat
menghambat ekskresi dapson dan metabolitnya.

Efek Samping

Efek samping sediaan sulfon yang paling sering terlihat ialah hemolisis yang
berhubungan erat dengan besarnya dosis. Hemolisis dapat tejadi pada hampir setiap pasien
yang menerima 200-300 mg dapson sehari. Dosis 100 mg pada orang normal atau dosis
kurang dari 50 mg pada orang yang menderita kekurangan enzim G6PD tidak menimbulkan
hemolisis. Methemoglobinemia sering pula terlihat, kadang-kadang di sertai pembentukan
Heinz body.

Walaupun sulfon menyebabkan hemolisis, anemia hemolisis jarang tetrjadi kecuali bila
pasien juga menderita kelainan eritrosit atau sumsum tulang. Tanda hipoksia akan tampak
bila hemolisis sudah sedemikian berat.

Anoreksia, mual dan muntah dapat terjadi pada pemberian sulfon. Gejala lain yang pernah di
laporkan ialah sakit kepala, gugup, sukar tidur, penglihatan kabur, parestesia, neuropati
perifer yang mampu pulih, demam, hematuria, pruritus, psikosis, dan berbagai bentuk
kelainan kulit. Gejala mirip mononucleosis infeksiosa yang berakibat fatal pernah pula di
laporkan.

Sulfon dapat pula menimbulkan reaksi lepromatosis yang analog dengan reaksi jarisch
Herxhelmer. Sindrom yang di sebut sindrom sulfon ini dapat timbul 5-6 minggu setelah
awal terapi pada pasien yang bergizi buruk. Gejalanya dapat berupa demam, malaise,
dermatitis eksfoliatif, ikterfus yang di sertai nekrosis hati, limfadenopati, methemoglobnemia,
dan anemia.

Sediaan Dan Pasologi

Sulfon dapat di gunakan dengan aman selama beberapa tahun bila pemberian di
lakukan dengan seksama. Pengobatan harus di mulai dengan dosis kesil, kemudian di naikkan
perlahan-lahan dengan pengawasan klinik dan laboratorium secara teratur. Reaksi
lepromatosis berupa sindrom sulfondapat demikian parah dan memerlukan penghentian
terapi.
Dapson diberikan dalam bentuk tablet 25 dan 100 mg secara oral. Pengobatan di mulai
dengan dosis 25 mg. dalam 2 minggu pertama dosis ini di berika sekali dalam seminggu;
kemudian setiap 2 minggu frekuensi pemberian di tambahkan satu kali sampai tercapai
pemberian 5 kali seminggu. Setelah itu dosis di naikkan menjadi 50 mg, yang di berikan 3
kali seminggu selama 1 bulan dan akhirnya di naikkan 4 kali seminggu untuk waktu yang
tidak terbatas. Pemberian dapson 100 mg dua kali seminggu mungkin cukup efektif untuk
pengobatan jangka lama.

Natrium sulfokson di berikan pada pasien yang mengalami gangguan saluran cerna akibat
dapson. Natrium sulfokson terdapat dalam bentuk tablet bersalut gula 165 mg. dosis awal
ialah 330 mg di berikan 2 kali seminggu selama 2 minggu pertama, kemudian pemberian di
naikkan lagi menjadi 6 kali seminggu. Dosis maksimum perhari ialah 600 mg.

2. Rifampisin

Farmakologi obat ini telah di tinjau sebagai antituberkulosis. Pada hewan coba, antibiotic ini
cepat mengadakan sentralisasi kaki mencit yang diinfeksi dengan M.leprae dan tampaknya
mempunyai efek bakterisid. Walaupun obat ini mampu menembus sel dan saraf, dalam
pengobatan yang berlangsung lama masih saja di temukan kuman hidup. Beberapa pasien
yang makan obat ini selama 10 tahun tidak timbul masalah, tetapi resistensi timbul dalam
waktu 3-4 tahun. Atas dasar inilah penggunaaan rifampisin pada penyakit lepra hanya di
anjurkan dalam kombinasi dengan obat lain. Kini di beberapa Negara sedang di coba
pengunaan dirafmpisin bersama dapson untuk M.leprae yang sensitive terhadap dapson, serta
kombinasi rifampisin dengan klofazimin atau etinamid untuk M.leprae yang resisten terhadap
dapson. Dosisnya untuk semua jenis lepra adalah 600 mg/hari. Kini juga sedang di teliti
paduan yang menggunakan rifampisin dosis 300 mg/hari atau untuk pengunaan intermiten
dengan dosis 600 mg sampai 1500 mg.

3. Amitiozon

Obat turunan tuosemikarbazon ini lebih efektif terhadap lepra jenis tuberkuloid di
bandingkan terhadap lepra jenis lepramatosis. Resistensi dapat terjadi selama pengobatan
sehingga pada tahun kedua pengobatan perbaikan melambat dan pada tahun katiga penyakit
mungkin kambuh. Karena itu amitiozon di anjurkan penggunaannya bila dapson tidak dapat
di terima pasien.
Efek samping yang paling sering terjadi ialah anoreksia, mula, dan muntah. Anemia karena
depresi sumsumvtulang terlihat pada sebagian besar pasien. Leukopenia dan agarnulositosis
dapat terjadi, tetapi yang berat keadaan nya terdapat pada 0,5% pasien. Anemia hemolitik
akut dapat terjadi dengan dosis tinggi. Ruam kulit dan albuminuria tidak jarang pula tetrlihat.
Kejadian ikterus cukup tinggi dan gejala ini menandakan obat bersifat hepatotoksik tetapi
sifatnya reversibel.

Amitiozon mudah di serap melalui saluran cerna dan ekskresinya melalui urin. Dosis
permulaan ialah 50 mg setiap hari selama 1-2 minggu, kemudian dosis dapat di naikkan
perlahan-lahan sampai mencapai 200 mg. obat ini sama efektif baik pada pemberian dosis
tunggal maupun dosis terbagi.

4. Pengobatan Lepra

Pengobatan lepra juga mengalami perubahan setelah suksesnya pengobatan tuberculosis


dengan paduan terapi jangka pendek. Di masa lalu pengobatan lepra biasanya dengan obat
tunggal, kini banyak di usahakan pengobatan minimal dengan dua obat, dan rifampisin jega
merupakan komponen yang penting. Untuk mengerti pengobatan lepra, perlu di pahami
bentuk klinik penyakit tersebut. Di kenal dua macam pembagian penyakit lepra menurut
bentuk kliniknya.

Klasifikasi

Madrid membagi penyakit ini menjadi 4 tipe yaitu tipe indeterminate, tuberculoid,
borderline, dan lepromatosa, sedangkan Ridley dan Jopling membaginya menjadi 6 tipe yaitu
tipe indeterminate (tipe 1), tuberculoid (tipe TT), borderline tuberculoid (tipe BT),
borderline atau midborderline (tipe BB), borderline lepromatosa (tipe LL). Lepra tipe
indeterminate merupakan bentuk permulaan penyakit lepra yang memperlihatkan bermacam
bentuk macula hipopigmentasi. Sekitar 75% leai ini sembuh spontan, yang lain mungkin
menetap sebagai tipe indeterminate atau berkembang menjadi bentuk-bentuk tuberculoid,
borderline untuk seterusnya menjadi bentuk lepromatosa. Tanda klinik bentuk tuberculoid
sampai bentuk lepromatosa dapat di lihat pada tabel 40-8.

Tabel 40-8. KALSIFIKASI PENYAKIT LEPRA MENURUT RIDLEY DAN JOPLING


Tanda-tanda TT BT BB-BL LL

Jumlah lesi kulit biasanya tunggal tunggal/sedikit beberapa banyak sangat banyak

Besar lesi beragam beragam beragam kecil

Permukaan lesi sangat kering/bersisik kering mengkilap mengkilap

Pertumbuhan rambut pada lesi tak ada berkurang agak berkurang tak berpengaruh

Daya rasa pada lesi hilang sama sekali menurun jelas menurun ringan tidak hilang

BTA dari apus jaringan kulit nol nol/jarang beberapa banyak sangat banyak

BTA dari korekan hidung nol nol nol/jarang sangat banyak

tesblepromin +++ +/++ negative negative

keterangan : TT = lepra tipe tberkuloid ; BT = borderline tuberculoid ; BB-BL mid


borderline-borderline lepromatous

LL = lepra lepromatous

Untuk kepentingan pengobatan penyakit lepra dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan ada
tidaknya BTA dalam pemeriksaan bakteriologis yaitu bentuk pausibasiler (tipe PB) dan
bentuk multibasiler (HB).

Yang tergolong bentuk BB ialah semua tipe pada pemeriksaan laboratorium tidak di temukan
BTA yang termasuk dalam kelompok ini ialah tipe indeterminate dan tipe tuberculoid. Tetapi
bila pada tipe ini di temukan BTA positif, maka tipe ini tergolong dalam bentuk multibasiler
(MB).

Bentuk multibasiler (MB) secara garis besar ialah semua tipe yang pada pemeriksaan
laboratorium BTA-nya positif. Tipe borderline dan lepromatosa termasuk bentuk multibasiler
walaupun BTA negative.
Pemilihan Obat

Dapson atau DDS merupakan obat terpilih untuk semua tipe penyakit lepra. Obat ini
di gunakan baik pada terapi obat tunggal maupun kombinasi. Bila terjadi resistensi terhadap
DDS, atau reaksi alergi, baru di gunakan obat lain. Klofazimin yang beberapa tahun lalu
hanya di gunakan untuk menggantikan DDS, kini di gunakan bersama DDS untuk lepra tipe
multibasiler dan rifampisin merupakan komponen penting dalam terapi kombinasi baik pada
lepra tpe pausibasiler maupun multibasiler. Selain itu pada reaksi lepra juga di gunakan
kortikostiroid untuk efek antiinflamasinya. Juga di gunakan klorokuin untuk efek
antiinflamasinya. Talidomid di gunakan untuk reaksi eritema nodosum leprosum, untuk
reaksi reversal obat ini tidak bermanfaat.

Regimen Pengobatan

Pengobatan lepra di Indonesia ada dua cara yaitu terapi kombinasi dan terapi obat
tunggal. Tetapi obat kombinasi yang di anjurkan di Indonesia sesuai dengan yang di anjurkan
oleh WHO.

Paduan obat untuk kelompok pausibasiler adalah DDS 100 mg/hari selama 6-9 bulan dan
rifampisin 600 mg sebulan sekali untuk 6 bulan. Penggunaan DDS di serahkan kepada
pasien, tetapi untuk menjamin kepatuhan, pemberian rifampisin harus dibawah pengawasan
dokter. Paduan obat untuk kelompok smultibasiler adalah DDS 100 mg/hari, rifampisin 600
mg sebulan sekali, klofazimin 50 mg/hari, dan klofazimin 300 mg setiap bulan. Rifampisin
dan klofazimin yang diberikan sebulan sekali juga harus diawasi pemberiannya. Lama
pengobatan paling sedikit 2 tahun dan paling baik sampai hasil pemeriksaan BTA negative.

Terapi Obat Tunggal

Di daerah-daerah yang belum terjangkau terapi obat kombinasi masih di lakukan


terapi obat tunggal. Untuk tipe PB di berikan DDS 100 mg/hari yang lamanya paling sedikit
2-3 tahun, sedang untuk MB lama pengobatan tidak di tentukan. Kini pengobatan dengan
obat tunggal tidak di anjurkan lagi. Oleh karena itu bila pasien yang sedang dalam terapi obat
tunggal kemudian memperoleh kesempatan untuk mendapatkan obat kombinasi, maka
pengobatan di mulai lagi seolah belum pernah mendapat pengobatan.

Reaksi Lepra
Reaksi lepra adalah kejadian atau episode dalam perjalanan penyakit lepra yang
merupakan manifestasi reaksi imun (kekebalan) seluler maupun humoral. Reaksi ini dapat
terjadi sebelum, selama, atau sesudah pengobatan. Yang sering terjadi ialah dalam
pengobatan, biasanya antara 6 bulan 1 tahun pertama. Ada jug reaksi lepra :

(1) reaksi tipe atau tipe reaksi reversal yang terjadi pada tipe tuberkuloid biasanya dalam 6
bulan pertama masa pengobatan. Gejala yang menonjol ialah neuritis sampai hilangnya
sensorimotor, kulit menjadi kemerahan dan berluka, serta edema di muka, tangan, dan kaki.
Reaksi tipe ini merupakan reaksi hipersensitivitas tipe lambat yang berhubungan dengan
meningkatnya respon imun seluler.

Pada reaksi yang ringan di berikan klorokuin 3 kali 1 tablet selama 3-5 hari sementara
antilepra tetap di teruskan kalau perlu dapat di beri analgesic dan sedative. Pada reaksi yang
berat perlu di berikan kortikostiroid.

(2) reaksi tipe ii atau eritema nodosum leprosum (ENL) biasanya timbul lebih lambat dari
pada reaksi tipe I. gejala dan tandanya ialah timbulnya benjol-benjol kecil kemerahan di kulit
(di mana saja), sering di sertai neuritis, orchitis, iridosiklitis, arthritis, proteinuria, dan
limfadenopati.

Pengobatan reaksi tipe II sama dengan tipe I hanya klorokuin di berikan 1 minggu. Pada
reaksi yang berat di berikan kortikosteroid dan dosis klofazimin di naikkan menjadi 3 x 100
mg/hari selama 1 minggu. Bila reaksi berkurang dosis klofazimin di turunkan menjadi 2 kali
100 mg/hari sampai reaksi hilang. Kemudian dosis di kembalikan menjadi 50 mg/hari.

Beberapa pusat pemberantasan penyakit lepra di luar negeri seperti amerika serikat
menggunakan talidomid untuk mengobati reaksi lepra tipe II yang berat dengan dosis awal
400 mg, kemudian di lanjutkan dengan dosis rumat 100 mg/hari.

Penilaian Hasil Pengobatan

Kemajuan pengobatan dinilai dengan melihat perbaikan gejala dan tanda klinik
maupun laboratorium, serta ketekunan berobat. Setelah memenuhi criteria sembuh, pasien di
beri surat pernyataan sembuh oleh petugas kusta setempat.
Pasien kelompok pausibasiler yang telah menjalani pengobatan selama 6-9 bulan dan
memenuhi criteria sembuh klinik dan laboratories di nyatakan selesai menjalani pengobatan
(released from treatment/RTF). Tetapi mereka masih harus di awasi dan di periksa terus
secara klinik dan laboratories sedikitnya setahun sekali selama 2-3 tahun. Bila selama itu
tidak terjadi perubahan klinik yang menuju kambuh, maka mereka di nyatakan bebas dari
control atau released from control/RFC. Bila selama masa control itu terjadi kambuh, maka
pengobatan di mulai lagi dari permulaan.

Pasien kelompok multibasiler yang telah menjalani pengobatan selama 24-36 bulan dengan
tekun dan memenuhi krietria sembuh klinik dan laboratories di nyatakan telah selesai
manjalani pengobatan (released from treatment/RTF). Selanjutnya mereka dalam masuk
dalam masa pengawasan sedikitnya selama 5 tahun. Minimal setahun sekali mereka harus di
periksa secara klinik dan laboratoris untuk melihat perkembangan penyakitnnya. Bila selama
lima tahun itu tidak terjadi perkembangan menuju kambuh, maka mereka di nyatakan bebas
dari control (released from control). Tetapi bila dalam masa pengawasan itu terjadi
perkembangan menuju kambuh, maka pengobatan di mulai lagi mulai dari permulaan.

D. TETRASIKLIN

1. Asal dan Kimia

Antibiotik golongan tetrasiklin yang pertama ditemukan ialah klortetrasiklin yang


dihasilkan oleh Streptomyces aureofaciens. Kemudian ditemukan oksitetrasiklin dari dari
Streptomyces rimosus. Tetrasiklin sendiri dibuat secara semisintetik dari klortetrasiklin,
tetapi juga dapat diperoleh dari species Stretomyces lain.

Tetrasiklin merupakan basa yang sukar larut dalam air, tetapi bentuk garam natrium
atau garam HCl-nya mudah larut. Dalam keadaan kering, bentuk basa dan garam HCl
tetrasiklin bersifat relative stabil. Dalam larutan kebanyakan tetrasiklin sangat labil
sehingga cepat berkurang potensinya.

Struktur kimia golongan tetrasiklin dapat dilihat pada gambar 43-1. Tigesiklin
adalah suatu antibiotika dari golongan baru yaitu glisilsiklin.
R1 R2 R3 N(CH3 )2

OH

OH O OH

Gambar Struktur kimia golongan tetrasiklin

Tabel . Struktur kimia golongan tetrasiklin

Gugus

No Jenis Tetrasiklin

R1 R2 R3

1 Klortetrasiklin -CH -CH3 , -OH -H , -H

2 Oksitetrasiklin -H -CH3 , -OH -OH , -H

3 Tetrasiklin -H -CH3 , -OH -H , -H


4 Demeklosiklin -Cl -H , -OH -H , -H

5 Doksisiklin -H -CH3 , -H -OH , -H

6 Minosiklin -N(CH3)2 -H , -H -H , -H

N(CH3 )2 N(CH3 )2

Gambar Struktur kimia tigesiklin

2. Farmakodinamik
Golongan tetrasiklin menghambat sintesis protein bakteri pada ribosomnya. Paling
sedikit terjadi 2 proses dalam masuknya antibiotik ke dalam ribosom bakteri Gram-
negatif : pertama secara difusi pasif melalui kanal hidrofilik, kedua melalui system
transport aktif. Setelah masuk antibiotic berikatan secara reversible dengan ribosom 30S
dan mencegah ikatan Trna-aminoasil pada kompleks mRNA-ribosom. Hal tersebut
mencegah perpanjangan rantai peptide yang sedang tumbuh dan berakibat terhentinya
sintesis protein.

Efek Antimikroba

Golongan tetrasiklin termasuk antibiotic yang terutama bersifat bakteriostasik.


Hanya mikroba yang cepat membelah yang dipengaruhi obat ini.

Spektrum Antimikroba

Tetrasiklin memperlihatkan spectrum antibakteri luas yang meliputi kuman Gram-


positif dan negatif, aerobic dan an-aerobik. Selain itu juga ia aktif terhadap spiroket,
mikoplasma, riketsia, klamidia, legionela dan protozoa tertentu.

Spektrum golongan tetrasiklin umumnya sama sebab mekanisme kerjanya sama,


namun terdapat perbedaan kuantitatif dari aktifitas masing-masing derivate terhadap
kuman tertentu.

Tetrasiklin dapat digunakan sebagai pengganti penisilin dalam pengobatan infeksi


batang Gram-positif seperti B. anthracis, Erysipelothrix rhusiophatiae, Clostridium tetani
dan Listeria monocytogenes.

Kebanyakan strain N. gonorrhoeae sensitive terhadap tetrasiklin, tetapi N.


gonorrhoeae penghasil penisilinase (PPNG) biasanya resisten terhadap tetrasiklin.
Efektifitasnya tinggi terhadap infeksi batang Gram-negativ seperti Brucella,
Francisella tularensis, Pseudomonas mallei, Pseudomonas pseudomallei, Vibrio cholera,
Campylobacter fetus, Haemophilus ducreyi dan Calymmatobacterium granulomatis,
Yersinia pestis, Pasteurella multocida, Spilillum minor, Leptotrichia bucalis, Bordetella
pertussis, Acinetobacter dan Fusobacterium. Strain terte3ntu H. influenza mungkin
sensitive, tetapi E. Coli, Klebsiella, Enterobacter, Proteus indol positif dan Pseudomonas
umumnya resisten.

Tetrasiklin juga merupakan obat yang sangat efektif untuk infeksi Mycoplasma
pneumonia, Ureaplasma urealyticum, Chlamydia trachomatis, Clamydia psittaci dan
berbagai riketsia. Selain itu obat ini juga aktif terhadap Borrelia recurrentis, Treponema
pallidum, Treponema pertenue, Actinomyces israelii. Dalam kadar tinggi antibiotic ini
menghambat pertumbuhan Entamoeba hystolitica.

Tigestin berspektrum luas dan efektiv untuk menghambat kuman E. Coli, E.


Faecallis, S. agalactiae, S. anginosus, S. pyogenes, B. fragilis, E. Cloacae, C. freundii, S.
aureus (termasuk galur yang resisten terhadap metisilin MRSA).

Obat ini diindikasikan untuk infeksi kulit dan infeksi intra-abdominal dengan
penyulit yang disebabkan oleh kuman-kuman tersebut di atas.

Resistensi

Beberapa spesies kuman, terutama Streptococcus beta hemolitikus, E. Coli,


Pseudomonas aeruginosa, S. Pneumoniae, N. Gonorrhoeae, Bacteroides, Shigella dan S.
Aureusmakin meningkat resistensinya terhadap tetrasiklin. Mekanisme resistensi yang
terpenting adalah diproduksinya protein pompa yang akan mengeluarkan obat dari dalam
sel bakteri. Protein ini di kode dalam plasmid dan dipindahkan dari satu bakteri ke bakteri
yang lain melalui proses transduksi atau konjugasi. Resistensi terhadap satu jenis
tetrasiklin biasanya disertai resistensi terhadap semua tetrasiklin lainnya, kecuali
minosiklin pada resistensi S. Aureus dan doksisiklin pada resistensi B. Fragilis.
1. Farmakokinetik

a. Absorpsi

Kira-kira 30 80 % tetrasiklin diserap lewat saluran cerna. Doksisiklin dan


minosiklin diserap lebih dari 90 %. Absorpsi ini sebagian besar berlangsung di
lambung dan usus halus bagian atas. Berbagai factor dapat menghambat penyerapan
tetrasiklin seperti adanya makanan dalam lambung (kecuali minosiklin dan
doksisiklin), pH tinggi, pembentukan kelat ( kompleks tetrasiklin dengan zat lain
yang sukar diserap seperti kation Ca , Mg , Fe , Al , yang terdapat dalam susu dan
antacid ). Oleh sebab itu sebaiknya tetrasiklin diberikan sebelum atau 2 jam setelah
makan.

Tetrasiklin fosfat kompleks tidak terbukti lebih baik absorpsinya dari sediaan
tetrasiklin biasa.

b. Distribusi

Dalam plasma semua jenis tetrasiklin terikat oleh protein plasma dalam jumlah
yang bervariasi.

Pemberian oral 250 mg tetrasiklin, klortetrasiklin dan oksitetrasiklin tiap 6 jam


menghasilkan kadar sekitar 2.0 2.5 g/Ml.

Masa paruh doksisiklin tidak berubah pada insufisiensi ginjal sehingga obat ini
boleh diberikan pada gagal ginjal.

Dalam cairan serebrospinal (CSS) kadar golongan tetrasiklin hanya 10 20%


kadar dalam serum. Penetrasi ke CSS ini tidak tergantung dari adanya meningitis.
Penetrasi ke cairan tubuh lain dan jaringan tubuh cukup baik. Obat golongan ini di
timbun dalam system retikuloendotelial di hati, limpa dan sum-sum tulang, serta di
dentin dan email gigi yang belum bererupsi. Golongan tetrasiklin menembus sawar
uri, dan terdapat dalam air susu ibu dalam kadar yang relative tinggi. Dibandingkan
dengan tetrasiklin lainnya, daya penetrasi doksisiklin dan minosiklin ke jaringan lebih
baik.
c. Metabolisme

Obat golongan ini tidak di metabolism secara berarti di hati. Doksisiklin dan
minosiklin mengalami metabolism di hati yang cukup berarti sehingga aman
diberikan pada pasien gagal ginjal.

d. Ekskresi

Golongan tetrasiklin di ekskresi melalui urine berdasarkan filtrasi glomerulus.


Pada pemberian per oral kira-kira 20 55% golongan tetrasiklin di ekskresi melalui
urine. Golongan tetrasiklin yang di ekskresi oleh hati ke dalam empedu mencapai
kadar 10 kali kadar serum. Sebagian besar obat yang di ekskresi ke dalam lumen usus
ini mengalami sirkulasi enterohepatik : maka obat ini masih terdapat dalam darah
untuk waktu lama setelah terapi dihentikan. Bila terjadi obstruksi pada saluran
empedu atau gangguan faal hati obat ini akan mengalami kumulasi dalam darah. Obat
yang tidak diserap diekskresi melalui tinja.

Antibiotik golongan tetrasiklin yang diberi peroral dibagi menjadi 3 golongan


berdasarkan sifat farmakokinetiknya yaitu :

Tetrasiklin, Klortetrasiklin dan Oksitetrasiklin.

Absorpsi kelompok tetrasiklin ini tidak lengkap dengan masa paruh 6 12 jam.

Demetilklortetrasiklin

Absorpsnya lebih baik dan masa paruhnya kira-kira 16 jam sehingga cukup
diberikan 150 mg per oral tiap 6 jam.

Doksisiklin dan Minosiklin

Absorpsinya baik sekali dan masa paruhnya 17 20 jam. Tetrasiklin golongan ini
cukup diberikan 1 atau 2 kali 100 mg sehari.

4. Penggunaan Klinik
Karena penggunaan yang berlebih, dewasa ini terjadi resistensi yang mengurangi
efektivitas tetrasiklin. Penyakit yang obat pilihannya golongan tetrasiklin adalah :

a. Riketsiosis

Perbaikan yang dramatis tampak setelah pemberian golongan tetrasiklin. Demam


mereda dalam 1 3 hari dan ruam kulit menghilang dalam 5 hari. Perbaikan klinis
yang nyata telah tampak 24 jam setelah terapi di mulai.

b. Infeksi Klamidia

Limfogranuloma Venereum.

Untuk penyakit ini golongan tetrasiklin merupakan obat pilihan utama. Pada
infeksi akut diberikan terapi selama 3 4 minggu dan untuk keadaan kronis
diberikan terapi 1 2 bulan. Empat hari setelah terapi diberikan bubo mulai
mengecil.

Psitakosis

Pemberian golongan tetrasiklin ini selama beberapa hari dapat mengatasi gejala
klinis. Dosis yang digunakan adalah 2 gram per hari selama 7 10 hari atau 1
gram per hari selama 21 hari.

Konjungtivitis inklusi.

Penyakit ini dapat di obati dengan hasil baik selama 2 3 minggu dengan
memberikan salep mata atau obat tetes mata yang mengandung golongan
tetrasiklin.

Trakoma

Pemberian salep mata golongan tetrasiklin yang dikombinasikan dengan


doksisiklin oral 2 x 100 mg/hari selama 14 hari memberikan hasil pengobatan
yang baik.
Uretritis Non spesifik

Infeksi yang disebabkan oleh Ureaplasma urealyticum atau Chlamydia


trachomatis ini terobati baik dengan pemberian tetrasiklin oral 4 kali 500 mg
sehari selama 7 hari. Infeksi C. Trachomatis sering kali menyertai uretritis akibat
gonokokkus.

c. Infeksi Mycoplasma Pneumoniae

Pneumoniae primer atipik yang disebabkan oleh mikroba ini dapat diatasi dengan
pemberian golongan tetrasiklin. Walaupun penyembuhan klinis cepat dicapai
Mycoplasma pneumonia mungkin tetap terdapat dalam sputum setelah obat
dihentikan.

d. Infeksi Basil

Bruselosis

Pengobatan dengan golongan tetrasiklin memberikan hasil baik sekali untuk


penyakit ini. Hasil pengobatan yang memuaskan biasanya di dapat dengan
pengobatan selama 3 minggu. Untuk kasus berat seringkali perlu diberikan
bersama Streptomisin1 g sehari IM.

Tularemia

Obat pilihan utama untuk penyakit ini sebenarnya adalah Streptomisin, tetapi
terapi dengan golongan tetrasiklin juga memberikan hasil yang baik.

Kolera
Doksisiklin dosis tunggal 300 mg merupakan antibiotik yang efektif untuk
penyakit ini. Pemberian dapat mengurangi volume diare dalam 48 jam.

Sampar

Antibiotik terbaik untuk mengobati infeksi ini adalah Streptomisin. Bila


Streptomisin tidak dapat diberikan, maka dapat dipakai golongan tetrasiklin.
Pengobatan di mulai dengan pemberian secara IV selama 2 hari dan dilanjutkan
dengan pemberian per oral selama 1 minggu.

e. Infeksi Kokus

Golongan tetrasiklin sekarang tidak lagi diindikasikan untuk infeksi stafilokokus


maupun streptokokus karena sering dijumpai resistensi. Tigesiklin efektif untuk
infeksi kulit dan jaringan lunak oleh stretokokus dan stafilokokus (termasuk MRSA).

f. Infeksi Venerik

Sifilis

Tetrasiklin merupakan antibiotic pilihan kedua setelah penisilin untuk mengobati


sifilis. Dosisnya 4 kali 500 mg sehari per oral selama 15 hari. Tetrasiklin juga efektif
untuk mengobati chancroid dan granuloma inguinal. Karena itu dianjurkan
memberikan dosis yang sama dengan dosis untuk terapi sifilis.

g. Akne Vulgaris

Tetrasiklin di duga menghambat produksi asam lemak dari ebum. Dosis yang
diberikan untuk ini adalah 2 kali 250 mg sehari selama 2 -3 minggu, bila perlu terapi
dapat diteruskan sampai beberapa bulan dengan dosis minimal yang masih efektif.

h. Penyakit Paru Obstruktif Menahun


Eksaserbasi akut penyakit paru obstruktif menahun dapat diatasi dengan
doksisiklin oral 2 kali 100 mg/hari. Antibiotika lain yang juga bermanfaat adalah
kotrimosazol dan koamoksiklav.

i. Infeksi Intra Abdominal

Tigesiklin efektif untuk pengobatan ibfeksi intra abdominal yang disebabkan oleh
Entamoeba Coli, C. Freundil, E. Faecalis, B. Fragilis dan kuman-kuman lain yang
peka.

j. Infeksi Lain

a. Aktinokmikosis

Golongan tetrasiklin dapat digunakan untuk mengobati penyakit ini bila


penisilin G tidak dapat diberikan kepada pasien.

b. Frambusia

Respons penderita terhadap pemberian golongan tetrasiklin berbeda-beda.


Pada beberapa kasus hasilnya baik, yang lain tidak memuaskan. Antibiotik pilihan
utama untuk penyakit ini adalah penisilin.

c. Leptospirosis

Walaupun tetrasiklin dan penisilin G sering digunakan untuk pengobatan


leptospirosis, efektifitasnya tidak terbukti secara mantap.

d. Infeksi Saluran Cerna

Tetrasiklin mungkin merupakan ajuvan yang bermanfaat pada amuniasis


intestinal akut, dan infeksi Plasmodium Falciparum. Selain itu mungkin efektif
untuk disentri yang disebabkan oleh Strain Shigella yang peka.

k. Penggunaan Topikal

Pemakaian topical hanya dibatasi untuk infeksi mata saja. Salep mata golongan
tetrasiklin efektif untuk mengobati trakoma dan infeksi lain pada mata oleh kuman.
Gram positif dan Gram Negatif yang sensitive. Selain itu juga salep mata ini dapat
pula digunakan untuk profilaksis oftalmia neonatorum pada neonatus.

5. Efek Samping

Efek samping yang mungkin timbul akibat pemberian golongan tetrasiklin dapat
dibedakan dalam 3 kelompok yaitu reaksi kepekaan, reaksi toksik dan iritatif serta reaksi
yang timbul akibat perubahan biologik.

a. Reaksi Kepekaan

Rekasi kulit yang mungkin timbul akibat pemberian golongan tetrasiklin adalah
erupsi mobiliformis, ultikaria dan dermatitis eksfoliatif. Reaksi yang lebih hebat
adalah edema angioneurotik dan reaksi anafilaksis. Demam dan eosinofilia dapat pula
terjadi pada waktu terapi berlangsung. Sensitisasi silang antara berbagai derivate
tetrasiklin sering terjadi.

b. Reaksi Toksik dan Iritatif

Iritasi lambung paling sering terjadi pada pemberian tetrasiklin per oral, terutama
dengan oksitetrasiklin dan doksisikli. Makin besar dosis yang diberikan makin sering
terjadi reaksi ini. Keadaan ini dapat diatasi dengan mengurangi dosis untuk sementara
waktu atau memberikan golongan tetrasiklin bersama dengan makanan, tetapi jangan
dengan susu atau antacid yang mengandung aluminium, magnesium atau kalsium.
Diare seringkali timbul akibat iritasi dan harus dibedakan dengan diare akibat
superinfeksi stafilokokus atau Clostridium Difficile yang sangat berbahaya.

Manifestasi reaksi iritatif yang lain adalah terjadinya tromboflebitis pada


pemberian IV dan rasa nyeri setempat bila golongan tetrasiklin disuntikkan IM tanpa
anestetik local.
Terapi dalam waktu lama dapat menimbulkan kelainan darah tepi seperti
leukositosis, limfosit atipik, granulasi toksik pada granulosit dan trombosittopenia.

Reaksi fototoksik paling jarang timbul dengan tetrasiklin, tetapi paling sering
timbul pada pemberian dimetilklortetraskilin. Manifestasinya berupa fotosensitivitas,
kadang-kadang disertai demam dan eosinofilia. Pigmentasi kuku dan onikolisis yaitu
lepasnya kuku dari dasarnya juga dapat terjadi.

Hepatotoksisitas dapat terjadi pada pemberian golongan tetrasiklin dosis tinggi


(lebih dari 2 gram sehari) dan paling sering terjadi setelah pemberian parenteral. Sifat
hepatotoksisitas oksitetrasiklin dan tetrasiklin lemah dibandingkan dengan golongan
tetrasiklin lain. Wanita hamil atau masa nifas dengan pielonefritis atau gangguan
fungsi ginjal lain cenderung menderitakerusakan hati akibat pemberian golongan
tetrasiklin. Karena itu tetrasiklin jangan diberikan pada wanita hamil kecuali bila
tidak ada terapi pilihan lain. Kecuali doksisiklin, golongan tetrasiklin bersifat
kumulatif dalam tubuh, karena itu dikontraindikasikan pada gagal ginjal. Efek
samping yang paling sering timbul biasanya berupa azotemia, hiperfosfatemia dan
penurunan berat badan.

Golongan tetrasiklin memperlambat koagulasi darah dan memperkuat efek


antikoagulan kumarin. Di duga hal ini disebabkan oleh terbentuknya kelat kalsium,
tetapi mungkin juga karena obat-obatan ini mempengaruhi sifat fisikokimia
lipoprotein plasma.

Tetrasiklin terikat sebagai kompleks pada jaringan tulang yang sedang tumbuh.
Pertumbuhan tulang yang sedang tumbuh. Pertumbuhan tulang akan terhambat
sementara pada fetus dan anak. Bahaya ini terutama terjadi mulai pertengahan masa
hamil sampai dan sering berlanjut sampai umur 7 tahun atau lebih. Timbulnya
kelainan ini lebih ditentukan oleh jumlah dari pada lamanya penggunaan tetrasiklin.

Pada gigi susu maupun gigi tetap, tetrasiklin dapat menimbulkan disgenesis,
perubahan warna permanen dan kecenderungan terjadinya karies. Perubahan warna
bervariasi dari kuning cokelat sampai kelabu tua. Karena itu tetrasiklin termasuk
tigesiklin jangan digunakan mulai pertengahan kedua kehamilan, masa menyusui dan
anak sampai berumur 8 tahun. Efek ini terjadi lebih sedikit pada oksitetrasiklin dan
doksisiklin.

Tetrasiklin yang sudah kadaluwarsa akan mengalami degradasi menjadi bentuk


anhidro 4 epitetrasiklin. Pada manusia hal ini mengakibatkan timbulnya sindrom
Fanconi dengan gejala poliuria, polidipsia, proteinuria, asidosis, glukosuria, amino-
asiduria di sertai mual; dan muntah. Kelianan ini biasanya bersifat reversible dan
menghilang kira-kira satu bulan setelah pemberian tetrasiklin kadaluwarsa ini
dihentikan.

Semua tetrasiklin dapat menimbulkan imbang nitrogen negative dan


meningkatkan kadar ureum darah. Hal ini tidak berarti secara klinis pada pasien
dengan faal ginjal normal yang mendapat dosis biasa, tetapi pada keadaan gagal ginjal
dapat timbul azotemia.

Pemberian golongan tetrasiklin pada neonates dapat mengakibatkan peninggian


tekanan intra cranial dan mengakibatkan fontanel menonjol, sekalipun obat-obat ini
diberikan dalam dosis terapi. Pada keadaan ini tidak deitemukan kelainan CSS dan
bila terapi dihentikan maka tekannya akan menurun kembali dengan cepat.

Minosiklin sering bersifat vestibulotoksik dan dapat menimbulkan vertigo, ataksia


dan muntah yang bersifat reversibel.

c. Reaksi Akibat Peubahan Biologik

Seperti antibiotic lain yang berspektrum luas, pemberian golongan tetrasiklin


kadang-kadang diikuti oleh terjadinya superinfeksi oleh kuman resisten dan jamur.
Super infeksi kandida biasanya terjadi dalam rongga mulut, faring, bahkan kadang-
kadang menyebabkan infeksi sistemik. Faktor predisposisi yang memudahkan
terjadinya super infeksi ini adalah diabetes mellitus, leukemia, lupus eritematosus
diseminata, daya tahan tubuh yang lemah dan pasien yang mendapat terapi
kortikosteroid dalam waktu lama.

Salah satu manifestali super infeksi adalah diare akibat terganggunya


keseimbangan flora normal dalam usus. Di kenai 3 jenis diare akibat super infeksi
dalam saluran cerna sehubungan dengan pemberian golongan tetrasiklin adalah
sebagai berikut :

a. Enterokolitis Stafilokokus

Dapat timbul setiap saat selama terapi berlangsung. Tinja cair sering
mengandung darah serta leukosit polimorfonuklear. Pemeriksaan mikroskopik
dan kultur sering menunjukkan adanya stafilokokus koagulase positif dalam
jumlah besar pada tinja, yang pada keadaan normal hanya sedikit. Diagnosis
harus ditegakkan dengan cepat karena keadaan ini seringkali mengakibatkan
kematian. Bila terjadi septicemia maka harus diberikan antibiotic yang efektif
secara parenteral.

b. Kandidiasis Intestinal

Sekali pun menjadi anggapan umum bahwa diare yang timbul karena
pemberian golongan tetrasiklin disebabkan oleh super infeksi kdalam saluran
cerna, ternyata hasil kultur tinja dari pasien ini tidak menunjukkan adanya
kandida dalam jumlah besar. Bila jelas terjadi kandidiasis intestinal maka perlu
diberikan nistatin atau amfoterisin B per oral.

c. Kolitis Pseudomembranosa

Efek samping ini dapat terjadi tetapi tidak sesering pada penggunaan
linkomisin. Pada keadaan ini terjadi nekrosis pada saluran cerna. Jumlah
stafilokokus dalam tinja tidak bertambah. Diare yang terjadi sangat hebat, di
sertai demam dan terdapat jaringan mukosa yang nekrotik dalam tinja.

Untuk memperkecil kemungkinan timbulnya efek samping golongan


tetrasiklin maka perlu diperhatikan beberapa hal dalam memberikan terapi
dengan antibiotic ini yaitu :

Hendaknya tidak diberikan pada wanita hamil

Bila tidak ada indikasi yang kuat, jangan diberikan pada anak-anak

Hanya doksisiklin yang boleh diberikan kepada pasien gagal ginjal


Hindarkan sedapat mungkin pemakaian untuk tujuan profilaksis

Sisa obat yang tidak terpakai hendaknya segera dibuang

Jangan diberikan pada pasien yang hiper sensitive terhadap obat ini.

6. Sediaan dan Posologi

Untuk pemberian oral, tetrasiklin tersedia dalam bentuk kapsul dan tablet. Untuk
pemberian parenteral tersedia bentuk larutan obat suntik (oksitetrasiklin) atau bubuk yang
harus dilarutkan lebih dahulu ( tetrasiklin HCl, tigesiklin, doksisiklin, minosiklin ).
Posologi golongan tetrasiklin dapat dilihat pada tabel 43 1 berikut ini :

Tabel 43-1. Sediaan dan Posologi Golongan Tetrasiklin

Derivat Sediaan Dosis untuk orang dewasa

Tetrasiklin Kapsul / tablet 250 dan 500 mg Oral, 4 x 250 500 mg/hari

Bubuk obat suntik IM 100 dan 200 Parenteral, 300 IM mg


mg/vial sehari yang dibagi dalam 2-
3 dosis, dosis atau 250
Bubuk obat suntik IV 250 dan 500 5000 mg IV diulang 2 4
mg/vial kali sehari.

Saleb kulit 3 % Parenteral untuk pemberian


IB 15-25 mg/kgBB/hari
Saleb / obat tetes mata 1 % sebagai dosis tunggal atau
dibagi dalam 2-3 dosis dan
(tetrasiklin HCl dan tetrasiklin IV 20-30 mg/kgBB/hari
kompleks fosfat untuk oral tersedia dibagi dalam 2-3 dosis
dengan ukuran yang sama)

Klortetrasiklin Kapsul 250 mg Lihat tetrasiklin

Salep kulit 3 %

Salep mata 1 %

Oksitetrasiklin Kapsul 250 mg dan 500 mg Oral, 4 kali 250-500


mg/hari
Larutan obat suntik IB 250 dan 100
mg/ampul 2 mL dan 500 mg/vial 10 Parenteral, 100 mg IM,
mL diulangi 2-3 sehari 500-
1000 mg/hari IV ( 250 mg
Bubuk obat suntik IV 250 mg bubuk dilarutkan dalam 100
mL larutan garam faal atau
Salep Kulit 3 % dekstrosa 5 %)

Salep Mata 1 % Parenteral, 15-25


mg/kgBB/hari, IM dibagi
dalam 2 dosis dan 10-20
mg/kgBB/hari IV dibagi
dalam 2 dosis.

Kapsul atau tablet 150 dan 300 mg Oral, 4 kali 150 mg atau 2
kali 300 mg / hari
Demeklosiklin Sirup 75 mg/5 mL.

Kapsul atau tablet 100 mg, tablet 50 Oral, dosis awal 200 mg,
mg selanjutnya 100-200
Doksisiklin mg/hari
Sirup 10 mg / mL.

Oral, dosis awal 200 mg,


Minosiklin Kapsul 100 mg dilanjutkan 2 kali sehari
100 mg/hari

Infus 100 mg IV dalam


waktu 30-60 menit. Dosis
Tigesiklin Vial 50 mg atau vial 100 mg pemeliharaan 50 mg/12 jam
selama 5 14 hari.

Untuk pasien dengan gangguan fungsi hati yang berat menurut klasifikasi Child Pugh
C Tigesiklin diberikan dosis muat yang sama namun dosis pemeliharaannya dikurangi
menjadi 25 mg tiap 12 jam. Pengurangan dosis tidak diperlukan bagi pasien dengan
gangguan fungsi ginjal dan pasien berusia lanjut.

Tigesiklin tersedia dalam vial yang mengandung 50 dan 100 mg yang harus di
rekonstitusi dengan larutan garam faal atau dekstrosa 5 % untuk mendapat larutan
tigesiklin yang berkadar 10 mg/mL. Larutan dalam vial ini segera diencerkan lagi dalam
100 mL pelarut yang sama dalam kantong untuk infus. Larutan infuse ini stabil pada suhu
kamar selama 6 jam atau pada suhu 2 - 8C sel;ama 24 jam.

E. PENISILIN

a. Sejarah dan Sumber

Penisilin diperoleh dari jamur Penicillium chrysogenum; dari berbagai macam jenis yang
dihasilkan,perbedaannya hanya terletak pada gugusan samping R saja.Benzilpenisilin yang
paling aktif.sefalosprin diperternyata paling aktif.Kedua kelompok antibiotika memiliki
rumus bangun serupa,keduanya memiliki cincin beta-laktam dengan rumus dasar yang tertera
di halaman berikut.cicin ini merupakan syarat mutlak untuk khasiatnya.jika cicin ini di buka
misalnya oleh enzim beta-laktamase (penisilinase atau sefalosporinase 0maka zat menjadi
inaktif

b. Mekanisme Kerja

Dinding kuman terddiri dari suatu jaringan peptidoglikan yaitu polimer dasri senyawa
amino dan gula yang saling terikat dengan yang lain dan dengan demikian memberikan
kekuatan yang mekanis pada dinding.Peniosilin dan sefalosprin menghindarkan sintesa
lengkap dari polimer ini yang spesifik bagi kuman dan disebut murein.bila sel tumbuh dan
plasmanya bertambah atau menyerap air dengan jalan osmosis.maka dinding sel yang tak
sempurna itu akan pecah dan bakteri musnah.Dinding sel manusia dan hewan tidak terdiri
dafri murein,maka antibiotika ini tidak toksis untuk manusia.

c. Indikasi Penggunaan

Indikasi masing-masing penisilin dapat berbeda satu dengan yang lain karena adanya
perbedaan dalam berbagai sifat.dalam menentuukan berbagai macam jenis penisilin perlu
diperhatikan factor-faktor berikut potensi,spectrum antimikroba ketahanannya terhadap
asam,adanya penilinase dan sifat farmakokinetik.pedoman umum dalam memilih jenis
penisilin adalah sebagai berikut;

1. Untuk mikroba yang sensitive terhadap penisilin khususnya yang gram positif,penisilin G
memiliki potensi yang baik.Indikasi penisilin V dan fenitsilin pad umumnay sama dengan
penisillin G.

2. Ampisilin dan amoksilin umumnya digunakan untuk infeksi E.coli Da P.Mirabilis,Terhadap


kuman gram positif bukan pengahsil penisilinase golonagan obat ini kurang efektif daripada
penisiline G Kabernisilin dan penisilin antipseudomonas lainnya umunya hanya digunakan
untuk infeksi. P.aeruginosa dan proteus indol positif

3. penisilin tahan asam umumnya efektif bila di berikan oral

4. Penisiine yang tahan terhadap penisilinase hanya di gunakan untuk infeksi oleh
stafilokokus dan penisilinase
5. Sifat farmakokinetik perlu diperhatikan untuk dapat mengendalikan kadar masing-masing
penisiline dalam darah sehingga efektifitasnya terjamin.untuk menjelaskan hal itu perlu di
gunakan contoh-contoh berikut : penisiline g yang larut dalam air (Kristal na-panisiline G )
bila diberikan Im akan cepat mengahasilkan kadar obat yang lebih tinggi dalam darah di
banding seiaan penisilne repositer.Kadar ampisilin dalam CSS pasien
meningitis,H,Influenza turun cukup besar setelah hari ketiga pengobatan karena penurunan
pearmebilitas meningen akibat perbaikan yang diperoleh dengan pengobatan.

d. Penggolongan

Penisiline dapat dibagi dalam beberapa jenis menutur aktivitas dan resisitensinya
terhadap laktamase sebagai berikut:

a. Zat-zat spectrum sempit benzilpenisilne,penisilin-V,dan fenitisiline.Zat-zat ini terutama


aktif terhadap kuman gram positif dan diuraikan oleh penisilinase

b. Zat-zat tahan laktamase metisiline,kloksasiline.Zat ini hanya aktif terhadap stafilokok dan
streptokok.Asam klavulanat,sulbaktam dan tazaboktam memblokir lakmase dan dengan
demikian menjamin aktifitas penisiline yang diberikan bersamaan;

c. Gram positif dan sejumlah kuman gram negative,keculai antara lain pseudomonas
Klebsieela dan B fragilis tidak tahan laktamase maka sering digunakan terkombinasi dengan
suatu laktamase bloker

d. Zat-zat antipesudomonas tikarsiline fdan piperasiline.Antibiotika spectrum luas ini


meliputi lebih banyak kuman gram negative,termasuk pseudomonas ,Proteus,klbesiella,dan
bacteroides fragilis.mtiodak tahan laktamase-blocker.

e. Efek samping

Yang terpenting adalah reaksi alergi karena hipersensitisasi yang jarang sekali dapat
menimbulkan shock anfilaktis (dan kematian) .Pada prokail-benzilpenisiline diduga prokain
yang memegang peranan pada hipersensitisasi tersebut.pada penisiline broad spectrum agak
sering terjadi gangguan lambung usus (diare,mual muntah,dan lain-lain).pada dosis amat
tinggi dapat terjadi reaksi nefrotoksis dan neurotoksis.
f. Farmakokinetik

Absorbsi penisilin G mudah rusak dalam suasana asam (pH 2 ).Cairan lambung
dengan pH 4 tidak terlalu merusak penisiline.

Bila dibandingkan dengan dosis oral terhadap IM,maka untuk mendapatkan kadar
efektif dalam darah,dosis penisilin G oral haruslah 4 sampai 5 kali lebih besar daripada dosis
IM.Oleh karena itu penisilin G tidak dianjurkan di berikan oral.jumlah ampisilin dan senyawa
sejenisnya yang diabsorbsi pada pemebrian oral dipengarhi besarnya dosiss dan ada tidaknya
makanan dalam saluran cerna.dengan dosis lebih kecil presentase yang diabsorbsi relative
besar.

Absorbsi ampisilin oral tidak lebih baik cdaripada penisilin v atau fenetsiline.danya
makanan dalam aluran cerna akan menghambat absorbs obat.Perbedaan absorbs oabat
ampisilin dan bentuk trihidrat dan bentuk anhidrat tidak memberikan perbedaan bermakna
pada penggunaan klinik.

Absorbsi amoksilin disaluran cerna jauh lebih baik daripada ampisilin.dengan dosis
orak yang sama,amoksilin mencapai kadar dalam darah yang tingginya kira-kira 2 kali lebih
besar daripada yang dicapai ampisilin,sedang masa paruh eliminasi kedua obat ini hamper
sama.penyerapan ampisilin terhambat oleh adanya makan dilambung,sedang amoksilin tidak.

Distribusi penisilin G didistribusi luas didalam tubuh.kadar obat yang memadai dapat
tercapai dalam hati,empedu ginjal usus,limfe dan semen,tetapi dalam css sukar di capai.Bila
meningen dalam keadaan normal,sukar sekali dicapai kadar 0,5 IU/mL dalam css walaupun
kadar plasmanya 50 IU/mL.adanya radang meningen lebih memudahkan penetrasi penisilin
G ke CSS tetapi tercapai tidaknya kad

Efektif tetapi tidaknya kadar efektif sukar diramalakan.Pemberian intertekal jarang


dikerjakan karena resiko yang lebih tingi dan efektifitasnya tidak lebih memuaskan.

Distribusi amoksilin secara garis besar sama dengan ampisilin.Kebernisilan pad


aumumnya memperlihatkan sifat distribusi yang sama dengan penisilin lainnya termasuk
distribusi ke dalam empedu dan dapat mencapai CSS pada meningitis.
Bio transformasi dan eksresi.Biotransformasi penisilin umunya dilakukanoleh
mikroba berdasarkan pengaruh enzim penisilinase dan amidase.Proses biotransformasi oleh
hospes toidak bermakna.akibat pengaruh penisilinase terjadi pemecahan cincin berlaktan
dengan kehilangan seluruk aktivitas antimikroba.amidase memecah rantai samping,dengan
ekibat penurunan potensi antimikroba.

Penisilin umumnya disekresi melalui peoses sekresi di tubli ginjal yang dapat
dihambat oeh proben esid.masa paruh eliminasi penisilin dalam darah diperpanjang oleh
probenesid,bebrapa obat juga lain juga meningkatkan masa paruh eliminasi penisilin dalam
darah antara lain fenibutazon,sulfinpirazon,asetosal,dan indometasin.Kegagalan fungsi ginjal
sangat memperlambat eksresi penisilin.

g. Sediaan dan Pasologi

Penisilin biasanya digunakn secara parental.sediaan terdapat daalam bentuk penisilin


G larut iar dan lepas lambat untuk suntikan IM.

Penislin V (fenoksimitel penislin ) ;tersedia sebagai garam kalium,dalam bentuk tablet


250 mg dan 625 mg sirup 125 mg/5 mL.

Penisilin isoksazoil terdapat berbagai sediaan oral ( garam natrium dalam bentuk
tablet),kapsul 125 mg/250 mg,500 mg suspense 62,5 mg.Untuk pemberian parentedral
adalah garam natrium dalam vial 250 mg ,500mg,dan 1 gram.

Ampisilin untuk pemberian oral tersedia dalam bentuk tabelet atau kapsul sebagai
ampisilin trihidrat atau ampisilin anhidrat 125mg,500 mg/5 mL.Selain itu ampisilin
tersedia untuk jenis suntikan.dosis ampisilin tergantung dari beratnya penyakit ,fungsi
ginjal,dan umur pasien.garis besar penentuan dosis ialah sbb dewasa penyakit ringan
sampai sedang di berikan 2-4 g sehari,dibagi un tuk 4 kali pemberian untuk penyakit
berat sebaiknay diberikan preparat parental sebanyak,4-8 g sehari.Pada meningitis
bahkan dibutuhkan dosis lebih tinggi lagi.Untuk anak berat badan dengan berta
kurang dari 20 kg diberikan peroral.

Amoksisilin diberikan sebagai kapsul atau tablet 125,250,500,mg sirup 125 mg/5
mL.Dosis sehari dapat diberikan lebih kecil dariipada ampiusilin karena absorbsinya
lebih baik daripada ampisilin.
Karbenisilin tersedia untuk suntikan sebagai garam natrium sebagai vial 1,2,5 dan 10
gram.Pada infeksi berat dosis fdewasa berkisar 25-30 g sehari.

Sulbenisilin untuk suntikan tersedia dala vial 1 g.dosis yang dianjurkan ialah dewasa
2-4 g sehari.

Tikarsilin suatu karbonpeniksilin yang tidak di absorbs melalui saluran cerna,sehingga


harus diberikan secara parenteral (IV dan IM ).Spektrum aktivitas antibakterinya
terhadap bakteri gram negative lebih luas darik aminopenisilin.

Aziosilin,meziosilin,piperasilin.Obat-obat ini tergolong uroidopenisilin ;yang


diindikasikan untuk infeksi berat /oleh kuman gram negative,termasuk diantaranya
P.aeruginosa ,proteus indol positif dan enterobacter.ketganya lebih paten daripada
karbonisilin terhadap kuman.

h. Jenis- Jenis Penisilin

Amoxicillin

Ampicillin 125 mg/5ml

Ampisilina digunakan untuk pengobatan :


Infeksi saluran pernafasan,seperti pneumonia faringitis, bronkitis, laringitis.
Infeksi saluran pencernaan, seperti shigellosis, salmonellosis.
Infeksi saluran kemih dan kelamin, seperti gonore (tanpa komplikasi), uretritis, sistitis,
pielonefritis.
Infeksi kulit dan jaringan kulit.
Septikemia, meningitis.
Ampicillin 500 mg

Binotal

Infeksi saluran kemih, saluran pencernaan, bakterial otitis media.

PT Bayer Indonesia

Cefadroxil 500 mg

Cefadroxil diindikasikan untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme


yang sensitif seperti:
- Infeksi saluran pernafasan : tonsillitis, faringitis, pneumonia, otitis media.
- Infeksi kulit dan jaringan lunak.
- Infeksi saluran kemih dan kelamin.
- Infeksi lain: osteomielitis dan septisemia.

Cefixime Kapsul

Cefixime diindikasikan untuk pengobatan infeksi-infeksi yang disebabkan oleh


mikroorganisme yang rentan antara lain:

Infeksi saluran kemih tanpa komplikasi yang disebabkan oleh Escherichia coli dan
Proteus mirabilis.

Otitis media disebabkan oleh Haemophilus influenzae (strain ?-laktamase positif) dan
Streptococcus pyogenes.

Faringitis dan tonsilitis yang disebabkan oleh Streptococcus pyogenes.

Bronkitis akut dan bronkitis kronik dengan eksaserbasi akut yang disebabkan oleh
Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae (strain beta-laktamase positif
dan negatif).

PT Dexa Medica
Cefixime Sirup

Cefixime diindikasikan untuk pengobatan infeksi-infeksi yang disebabkan oleh


mikroorganisme yang rentan antara lain:

1. Infeksi saluran kemih tanpa komplikasi yang disebabkan oleh Escherichia coli dan
Proteus mirabilis.

2. Otitis media yang disebabkan oleh Haemophilus influenzae (strain ?-laktamase positif
dan negatif), Moraxella (Branhamella) catarrhalis (sebagian besar adalah ?-laktamase
positif) dan Streptococcus pyogenes.

3. Faringitis dan tonsillitis yang disebabkan oleh Streptococcus pyogenes.

4. Bronkitis akut dan bronkitis kronik dengan eksaserbasi akut yang disebabkan oleh
Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae (strain ?-laktamase positif

Ceftazidime

Infeksi-infeksi yang disebabkan oleh kuman yang susceptible antara lain:


Infeksi umum:
septicaemia; bacteriaemia; peritonitis; meningitis; penderita ICU dengan problem
spesifik, misalnya luka bakar yang terinfeksi.

Infeksi saluran pernapasan bagian bawah :


pneumonia, bronkopneumonia; pleuritis pada paru-paru; emfisema; bronciectasis yang
terinfeksi; abcess pada paru-paru; infeksi paru-paru pada penderita cystic fibrosis.

Infeksi saluran kemih :


pyelonephritis akut dan kronis; pyelitis; prostatitis; berbagai abscess renal

Infeksi jaringan lunak dan kulit :


celullitis; erysipelas; abscess; mastitis; luka bakar atau luka lain yang terinfeksi; ulkus
pada kulit

Infeksi tulang dan sendi :


osteotitis, osteomyelitis; artritis septik; bursitis yang terinfeksi
infeksi abdominal dan bilier
cholangitis, cholecystitis; peritonitis; diverkulitis; penyakit radang pelvic
Dialysis
Infeksi-infeksi yang dikaitkan dengan dialisis haemo dan peritoneal dan CAPD
(continous ambulatory peritoneal dialysis).

Gentamicin

Untuk pengobatan infeksi kulit primer maupun sekunder seperti impetigo kontagiosa,
ektima, furunkulosis. pioderma, psoriasis dan macam-macam dermatitis lainnya.

PT Indofarma

Griseofulvin

Untuk pengobatan infeksi jamur (ring-worm) pada kulit, rambut dan kuku yang
disebabkan oleh Microsporum, Epidermophyton dan Trichophyton.

PT Indofarma

Berikut informasi-informasi kesehatan terkait dengan Penisilin:

Mengenal Simbol Kemasan Obat

Huruf K di dalamnya br Obat yang termasuk dalam golongan ini misalnya antibiotik
seperti tetrasiklin Penisilin obat-obatan yang mengandung hormon obat penenang dan lain-
lain Obat jenis ini tidak bisa sembarang ...

Alergi dan Penyebabnya

Alergi Serbuk tanaman jenis rumput tertentu jenis pohon yang berkulit halus dan tipis serbuk spora Pe
Alergi dan Penyebabnya

F. SEFALOSPORIN

a. Kimia dan Klasifikasi

Sefalosporin berasal dari fungsi Cephalosporium acremonium yang diidolasi pada tahun 1948 oleh Br
tetapi di rusak oleh se falosporinase.

Hindrolisis asam sefalosporin C menghasailkan 7-ACA yang kemudian dapat dikembangkan menjadi berbaga
digunakan dalam pengobatan telah mencapai generasi keempat.

b. Aktivitas Antimikroba

Sefalosporin aktif terhadap kuman Gram positif maupun Gram negative, tetapi spectrum sntimikroba m

a. Sefalosporin Generasi Pertama (SG 1)

Sefalosporin generasi pertama memperlihatkan spectrum antimikroba yang terutama katif terhadap ku
S. anaerob, Closstrudum perfinges, Listeria monocytogenes dan Corynebactrium diphteriae.

Aktivitas antimikroba berbagai jenis safolosporin generasi pertama sama satu dengan yang lain, hanya

Mikroba yang resisten atnra lain ialah strain S. aureus resisten metilisin, S. epidermidis dan S. faecali

b. Sefalosporin Generasi Kedua (SG 11)

Golongan ini kurang aktif terhadap bakteri gram positif dibandingkan dengan generasi pertama, tetepi
anjurkan karena dikhawatirkan entrokokus termasuk salah satu penyebab infeksi. Sefaksitin aktif terh

c. Sefalosporin Generasi Ketiga (SG III)

Golongan ini umumnya kurang aktif dibandingkan dengan generasi pertama terhadap kokus gram pos

d. Sefalosporin Generasi Keempat (SG IV)

Antibiotika golongan ini ( misalnya sefepim,sefpirom) mempunyai spectrum aktivitas lebih luas dari g

c. Sifat Umum

Dari sifat farmakokinetik sefalosporin dibedakan dalam 2 golongan. Sefaleksin, sefradin, sefaklor, sef
menyebabkan iritasi local dan nyeri pada pemberian IM.

d. Efek Samping

Reaksi alergi merupakan efek samping yang paling sering terjadi, gejalanya mirip dengan reaksi alerg
Alergi dan Penyebabnya

polimiksin. Nekrosis ginjal dapar tejadi pada pemberian sefaloridin 4 g/hari.

e. Indikasi Klinik

Sefalosporin generasio I sangat baik untuk mengatasi infeksi kulit dan jaringan lunak oleh S. aureus d

Sefalospori generasi III tunggal atau dalam kombinasi dengan aminoglikosida merupakan obat pilihan utama
yang memproduksi betalaktamase denganspektrum diperluas.

f. Monografi

SEFALOSPORIN GENERASI PERTAMA

1. SEFALOTIN

2. SEFAZOLIN

3. SERADIN

4. SEFADROKSIL

SEFALOSPORIN GENERASI KEDUA

1. SEFAMANDOL

2. SEFOKSITIN

3. SEFAKLOR

4. SEFUROKSIN

SEFALOSPORIN GENERASI KETIGA

1. SEFOTAKSIM

2. MOKSALAKTAM

3. SETRIAKSON

4. SEFOPERAZON

5. SEFTAZIDIM

6. SEFIKSIM.
Alergi dan Penyebabnya

ANTIBIOTIKA BELATAKAM LAINNYA

Dewasa ini telah dikembangkan antibiotika belatakam lain yang tidak tergolong penisilin maupun sefa

KARBAPENEM

Karbapenem merupakan belatakam yang struktur kimianya berbeda dengan penisilin dan sefalospori

IMIPENEM

Obat ini di pasarkan dalam kombinasi dengan silastatin agar imipenem tidak didegradasi oleh enzim dipeptid

Imipenem, suatu turunan tienamisin, merupakan karbapenem pertama yang digunakan dalam pengobatan. Tie
menjadi metabolit yang nefrotoksik. Hanya sedikit yang terdeteksi dalam bentuk asal di urin.

Silastatin, penghambat dehidropeptidase-1, tidak beraktivitas anti bakteri. Bila diberikan bersama imipenem d

MEKANISME KERJA DAN SPEKTRUM ANTIBAKTERI

Imipenem mengikat PBP2 dan menghambat sintesis dinding sel kuman. In vitro obat ini berspektrum
aktif terhadap kokus gram positif, termasuk stafilikok, streptokok, pneumokokdan E. faecalis serta kuman pe
aztreonam dan sefalosporin generasi ketiga. Selain itu spektrumnya meluas mencakup kuman yang resisyen p
aktivitasnya sebanding dengan seftazdimin. Terhadap kuman anaerob aktivitasnya sebandimg dengan klindam

Indikasi

Imipenem/ silastatin digunakan untuk pengobatan infeksi berat oleh kuman yang sensitif, termasuk inf
agar dikombinasikan dengan aminoglikosida, karena berefek sinergistik.

Efek samping

Efek samping yang paling sering dari imipenem adalah mual, muntah, kemerahan kulit dan reaksi loka
diberikan bersama siklosporin sebaiknya hati-hati, karena keduanya dapat mengganggu susunan s saraf pusat

Farmakokinetik

Imipenem maupun silastatin tidak diabsorbsi melalui saluran cerna, sehingga haris diberikan secara su
plasma (10 dan 12/ml) dicapai dalam 2 jam. Kadar puncak silastatin 24 dan 33 g/ml yang dicapai 1 jam sesu
cairan otak setinggi 0,5 dan 11g/ml. kadar imipenem dalam empedu umumnya rendah. Obat ini diekskresi m
Alergi dan Penyebabnya

Bila diberikan bersama silastatin, kurang lebih 70% dari dosis imipenem diekskresi diurin dalam bentuk asal

Waktu paruh imipenem dan silastatin kurang lebih 1 jam pada orang deawasa. Pada kelaianan fungsi ginjal w
suplemen.

MEROPENEM

Meropenem suatu derivat dimetilkarbamoil pirolidinil dari tienamisin.berbeda dengan imipinem,obat ini tidak
aktivitas in vitro dan efek kliniknya sebanding dengan imipinem.

MONOBAKTAM

Monobaktan merupakan suatu senyawa betalaktam monosiklik,dengan inti dasar berupa cincin tunggal,asam-

Struktur ini berbeda dengan struktur kimia golongan antibiotika betalaktam terdahulu misalnya penisilin,sefa

Monobaktan pada awalnya diisolasi dari kuman a.I Gluconocabacter,Acetobacter,chromobacterium, te


gugus alfa-metil pada posisi 4.perubahan struktur tersebut sangat meningkatkan stabilitas aztreonam terhadap

AZTREONAM

Aztreonam merupakan derivat monobaktam pertama yang terbukti bermanfaat secara klinis.

Mekanisme kerja

Aztreonam bekeraja dengan menghambat sintesis dinding sel kuman,seperti antibiotika betelaktam lai
bentuk filamen,pembelahan sel terhambat dan mati.Kadar bunuh minimal aztreonam terhadap kuman yang pe

Aztreonam hanya aktif terhadap kuman Gram-negatif aerob termasuk Haemophilis influinzae dan meningoko
berbagai strain Pseudomonas aeruginosa,aztreonam sangat aktif,tetapi seftazidim sedikit labih poten.obat ini
seperti yang di hasilkan Klebsiella oxytoca suatu uamn yang jarang di temukan.

Kadar puncak dalam serum darah pada pemberian 1g IM dalam waktu 60 nmenit mencapai 46g/mL dan pad
didistribusi luas ke dalam berbagai jaringan dan cairan tubuh yaitu sinovial,pleural,perikardial,peritoneal,cair
jauh lebih tinggi dari KHM enterobacteriaceae pada umunya.

G. KLORAMFENIKOL

a. Asal Dan Kimia


Alergi dan Penyebabnya

Kloramfenikol meruopakan Kristal putih yang sukar larut dalam air (1; 4000) dan rasanya sangat pahi

b. Farmakodinamik

Efek Antimikroba

Kloramfenikolbekerja dengn menghambat sintesis protein kuman. Obat ini terikat pada ribosom subun
mekanisme kerja obat. Spektrum antibakterinya yaitu meliputi d. pneumonia, s. pyogenes, Bacillus spp, Trepo

Resistensi

Meknisme resistensi terhadap klorofenikol terjadi mellui inaktivasi obat oleh asetil transferase yang di

Beberapa strain D. pneumonia, h.influenza, dan N. meningitides bersifat resisten; S. aureus umumnya sensitiv

c. Farmakokinetik

Setelah pemberian oral, kloramifenikol di serap dengan cepat. Kadar puncak dalam darah tercaoai dalam 2 ja

Untuk pemberian secara parental di gunakan klorofenikol suksinat yang akan di hidrolisis dalam jaringan dan

Masa paruh eliminsinya pada oran dewasa kuran lebih 3 jam, pada bayi berumur kurang dari 2 minggu sekita

Di dalam hati kloramfenikol mengalami konjugasi dengan saam glukuronat oleh enzim glukuronil transferase
kloramfenikol yang diberikan aral telah di ekskrsi melalui ginjal. Dari seluruh kloramfenikol yang di ekskresi
glomerulus sedangkan metabolitnya dengan sekresi tubulus.

Pada gagal ginjal masa paruh kloramfenikol bentuk aktif tidak banyak berubah sehingg tidak di perlkan peng

Interaksi

Dalam dosis terapi, kloramfenikol menghambat biotransformasi tolbutamid, fenition, dikumarol, dan obat lain
paruh dari kloramfenikol sehingga kadar obat ini dalam darah menjadi subterapeutik.

d. Penggunaan Klinik

Banyak perbedaan pendapat mengenai indikasi penggunaan kloramfenikol, tetapi sebaiknya obat ini hanya di
neonates, dosisnya jangn melebihi 25 mg/kgBB sehari.

Demam Tifoid

Kloramfenikoltidak lagi menjadi pilihan utama untuk mengobati penyakit tersebut karena telah tersedi

Untuk pengobatan demam tifoid diberikan dosis 4 kali 500 mg sehari sampai 2 minggu bebas demam. Bila te
Alergi dan Penyebabnya

Suatu uji klinik di Indonesia menunjukkan bahwa terapi kloramfenikol ( 4x500 mg/hari) dan siprofloksasin (2
salmonella.

Meningitis Purulenta

Kloramfenikol efektif untuk mengobati meningitis purulenta yang disebabkan oleh H. influenza. Untu
kepekaan, setelah itu dianjurkan dengan pemberian obat tunggal yang sesuai dengan hasil kultur.

Riketsiosis

Terasiklin merupakan obat terpilih untuk penyakit ini. Bila oleh karena sesuatu hal tetrasiklin tidak dapat dibe

e. Efek Samping

Reaksi Hematologik

Terdapat dalam 2 bentuk yaitu yang pertama reaksi toksik dengan manifestasi depresi sumsum tulang.
eritrosit bentuk muda. Reaksi ini terlihat bila kadar kloramfeniikol dalam serum melampaui 25 mikrogram/m
1:24.000-50.000. efek samping ini diduga merupakan reaksi idiosinkrasi dan mungkin disebabkan oleh adany

Hitung sel darah yang dilakukan secara periodic dapat memberi petunjuk untuk mengurangi dosis atau mengh
mungkin merupakan petunjuk terjadinya leukopeni.

Reaksi Saluran Cerna

Bermanifestasi dalam bentuk mual, muntah, glositis, diare dan enterokolitis.

Sindrom Gray

Pada neonates, terutama bayi premature yang mendapat dosis tinggi (200 mg/kgBB) 2 sampai hari ke
tubuh bayi menjadi lemas dan berwarna keabu-abuan; terjdi pula hepotermia. Efek toksik diduga di sebabkan
maka dosis kloramfenikol untuk bayi berumur kuran dari 1 bulan tidak booleh nelebihi 25 mg/kgBB sehari. S

f. Interaksi Obat

Kloramfenikol adalah penghambat yang poten dari sitokrom P450 isoform CYP2C19 dan CYP3A4 pada man

g. Tiamfenikol
Alergi dan Penyebabnya

Tiamfenikol digunakan untuk indikasi yang sama dengan klooramfenikol. Selain itu juga telah diberik

Obat ini diserap dengan baik pada pemberian per oral dan penetrasinya baik ke cairan serebrospinal, t
payah ginjal.

Efek samping yang timbul ialah depresi sumsum tulang yang reversible dan berhubungan dengan besa
leucopenia, trombositopenia dan peningkatan kadar serum iron.

H. AMINOGLUKOSIDA

Aminolukosimida adalahgolongan antibiotika bakterisidal yang dikenal toksid terhadap saraf otak VII
misalnya streptomisin,neomisin kanamisin,paramomisin,gentamisin,tobramisin,amitasin,sisomisin dan netil m

Kimia

Aminoglikosida merupakan senyawa yang terdiri dari dua atau lebih gugus gula amino yang terikat lew
garam,bersifat mudah larut dalam air..sediaan suntikan,berupa garam sulfat sebabpaliing kurang nyeri untuk s

Stabilitasnya cukup baik pada suhu kamaar teruttama dalam bentuk kering misalnya strotomisin stabil untuk

Efek Anti Mikroba

1). aktivitas dan mekanisme kerja

Aktivitas atibakeri, gentamisin,amikasin,trobmisin,kanamisn,netilmisin terutama tertuju pada basil gra


sangat terbatas.

Basil gram berbeda susepbilitasnya terhadap berbagai aminoglikosdik.miktoorganisme dinyatakan bil

Aktivitas aminoglikosidik terutama dipengaruhi oleh faktor terutama perubahan pH keadaan aerobik,n

Mekanisme kerja Aminoglikosidik berdifusi lewat kanal air yang dibentuk porin protein pada membra
anaerobiksuatu abses atau urin yang bersifat hiperosmolar.Terikatnya aminoglikosidik mempercepat transpor

Aminoglikosidik Bersifat bakterisidal .pengaruh aminoglikosidik mengahambat sintesis protein yang m

2). Spektrum antimikroba

Kadar pula rata-rata dala serum yang dicapai dengan pemberian dosis lazim merupakan pegangan dala
jelas akan menyebabkan perubahan dalam spektrum antimikroba akibat berkembangnya resistensi .
Alergi dan Penyebabnya

Spekrum aminoglikosid pada umumnya lebih luas daripada streptomasin.beberapa perbedaan kecil da

3). Resistensi

Masalah resistensi merupakan kesulitan utama dalam penggunaan streptomisin secara kronik misalnya
streptomisin.resistensi terhadap streptomisin dapat terjadi sedangakan reistensi tehadap aminoglikosidk lainn

Mekanisme resistensi bakteri terhadap aminoglikosid perlu diketahui untuk dimengerti spektrum antimi
menjelaskan resistensi didapat melalui aminoglikosid dalam klinik.

4).Farmakokinetik

Aminoglikosidik dalam bentuk garam sulfat yang diberikan IM baik sekali absorbsinya.kadar puncaka
aminoglikosid yang sukar masuk sel.sdifusi ke cairan pleura dan sinovium lambat tetapi mencapai keseimbba
meningitis.Eksresi aminoglikosid berlangsung melalui ginjal terutama dengan filtrasi gromelurus.penggunana
glomerulussedangkan sekresi tubular tidak berperan.hal i8n dapat disimpulkan berdasrkan bersihan ginjal unt

Streptomisin dan gentamisin dapat disekresi dalam jumlah lebih besar melalui empedu sehingga kadar

5). Efek Samping

Efek samping oleh aminoglikosid dalam garis besarnya dapat dibagi dalam tiga keloompok

1 alergi

2.reaksi iritasi dengan toksik

3.Perubahan biologik.

Secara umum potensi aminogllikosid untuk menyebabkan alrgi rendah Rash,demam,diskrasia darah,an
tersebut tetapi dalam derajat yang berbeda.streptimisin dan gentamisin lebih mempengaruhi komponen vestib
gangguan faal ginjal,usia tua,penggunaan oobat ototoksik lain pemberrian bersama asam etakrinat.Efek netrro
lainnya adalah pemberianstreptomisin secara intraporitenal sewaktu bedah abdomen dapat menimbulkan gang

6). Perubahan biologik efek samping dapat bermaniifestasi dalam dua bentuk yaitu ganggaun pada pola mikri

7). Interaksi Obat

Penisilin anti peudomonas yang umum diberikan dalam dosis besar ternyata menginaktivasi aminoglikosid te
toksik tersebut memerlukan penneliitian yang cermatterhadap tanda dan gejala nefrotoksitas dan otoksitas.pen

8). Sediaan dan Pasologi


Alergi dan Penyebabnya

Sediaan aminoglikosid dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu

1 Sediaan aminoglikosid sitemik untuk pemberian IM atau Iv yaituamikasin gen ksid topikal,kinamisin dan st

2. Aminoglikosid topikal terdiri dari aminosidin,kinamisin,neomisisn,gentamisin dan streptomisin.dalam kelo

1. Streptomisin

Tersedia untuk bubuk kering dalam viaal yang mengandung 1 ATAU 5 GRAM.Kadar larutan ergantun

2. Genntamisin

Tersedia sebaggai larutan steril dalam vial atau ampuh 60 mg/1,5 mL;80 mg:129 mg/3 mLdan 280 mg

3. Kanamisin

Untuk suntikan tersedia larutan dalam bubuk kering.Lrutan dalam vial ekuivalen dengan basa kanamis

4. Amikasin

Obat ini tersedian untuk suntiikan IM IV dalam vial berisi 250-500 dan 1000 mg.Dosisnya adalah 500

5. Tobramisin

Obat ini tersedia sebagai larutan 80-mg /2 mL untuk suntikan IM.dosis dosis dan cara pemberian sama

Untuk dosis tobramisin dilarytkan dalam dextrosee 5 % atau larutan NaCl isotonis dan diberikan dalam

8.Indikasi dan kontaraindikasi penggunaan klinik

Aminoglukosid sekalipun berspektrum antimikroba lebarv jangan digunakan pada setiap jenis infeksi

1 resistensi terhadap aminpglukosid terhadap aminoglukosid relatif cepat beerkembang

2.Tositasnya relatif tinggi

3.tersediany berbagai antibiotik yang lain yang cukup efektif dan toksitasnya rendah.

I. GOLONGAN KUINOLON DAN FLUOROKUINOLON


Alergi dan Penyebabnya

Asam nalidiksat adalah prototip golongan kuinolon lama yang dipasarkan sekitar tahun 1960. Walaup
praktis terbatas sebagai antiseptik saluran kemih saja. Selain itu resistensi cepat timbul terhadap obat itu.

Pada awal tahun 1980, diperkenalkan golongan kuinolon baru dengan atom fluor pada cincin kuinolon
masa kerja obat. Golongan fluokuinolon ini dapat digunakan untuk infeksi sistemik.

Dalam garis besarnya golongan kuinolon dapat dibagi menjadi 2 kelompok : (1) kuinolon : kelompok
antiseptik saluran kemih. Yang termasuk dalam kelompok ini ialahasam nalidiksat dan asam pipemidat; (2
obat ini diserap dengan baik pada pemberian oral, dan beberapa derivatnya tersedia juga dalam bentuk pa
siprofloksasin, pefloksasin, ofloksasin, norfloksasin, enoksasin, levofloksasin, fleroksasin, dll.

Mekanisme Kerja Dan Spektrum Antibakteri

Bentuk double helix DNA harus dipisahkan menjadi 2 rantai DNA pada saat akan berlangsungnya rep
girase (topoisimerase II) yang kerjanya menimbukan negative supercoiling. Golongan kuinolon mengham

Fluorokuinolon bekerja dengan mekanisme yang sama dengan kelompok kuinolon terdahulu. Fluorok
waktu transkripsi dalam proses replikasi DNA. Topoisomerase IV berfungsi dalam pemisahan DNA baru

Spektrum Anti Bakteri

Kuinolon yang lama aktif terhadap beberapa kuman Gram-negatif, antara lain E. Coli, Proteus, Klebsi

Flurokuinolon lama (siprofloksasin, ofloksasin, norfloksasin dll) mempunyai daya antibakteri yang sa
antibakterinya kurang baik.

Flurokuinolon tertentu aktif terhadap beberapa Mikobakterium. Kuman-kuman anaerob pada umumny

Flurokuinolon baru (moksifloksasian, gatifloksasian) mempunyai daya antibakteri yang baik terhadap
kronis, dan sinusitis. Kelompok fluorokuinolon baru ini terkadang disebut respiratory quinolones.

Resistensi

Mekanisme resistensi malalui plasmid seperti yang banyak terjadi pada antibiotika lain tidak dijumpai pad
lain; (2) perubahan pada permukaan sel kuman yang mempersulit penetrsi obat ke dalam sel; dan (3) Peni
Alergi dan Penyebabnya

Farmakokinetik

Asam nalidiksat diserap baik oleh saluran cerna tetapi diekskresi dengan cepat melalui ginjal. Obat in
diserap baik sekali pada pemberian oral.

Peflokasasin adalah flurokuinolon yang absorpsinya paling baik dan masa paru eliminasinya paling pa
sedikit terikat dengan protein. Golongan obat ini didistribusi dengan baik pada beberapaa organ tubuh. Da
ini mampu mencapai kadar tinggi dalam jaringn prostat. Beberapa fluorokuinolon seperti siprovloksasin o
Kebanyakan fluorokuinolon dimetabolisme dihati dan diekskresikan melalui ginjal. Masa paru eliminasi o
tidak diperlukan.

Indikasi

Asam nalidiksat dan asam pipemidat hanya digunakan sebagai antiseptik saluran kemih, khususnya untuk

Fluorokuinolon digunakan untuk indikasi yang jauh lebih luas antar lain:

a. Infeksi saluran kemih (ISK)

Fluorokuinolon efektif untuk ISK dengan atau tanpa penyulit, termasuk yang disebabkan oleh kuman-

b. Infeksi saluran cerna

Fluorokuinolon juga efektif untuk diare yang disebabkan oleh shigella, salmonella, E. coli dan campy

c. Infeksi saluran nafas (ISN)

Secara umum efektifitas fluoronkuinolon generasi pertama (siprofloksasin, ofloksasin, enoksasin) unt

Kuinolon baru (Gatifloksasin, moksifloksasin, gemifloksasin) dan levo floksasin mempunyai daya ant

Siprofloksasin efektif untuk mengatasi eksaserbasi cysticfi brosis yang didebabkan oleh P. aeruginosa
terhadap banyak obat (multidrug resistant) serta mikobakteria atipik.

d. Penyakit yang ditularkan malalui hubungan seksual

Siprofloksasin oral dan levofloksasin oral merupakan obat pilihan utama disamping seftriagson dan se

e. Infeksi tulang dan sendi


Alergi dan Penyebabnya

Siprofloksasin oral dengan dosis 2 kali 500-350 mg/hari yang diberikan selama 4/6 minggu efektif un
pasien dapat berobat jalan sehingga biaya pengobatan banyak berkurang

f. Infeksi kulit dan jaringn lunak

Fluorokuinolon oral mempunyai efektifitas sebanding dengan sefalosporin parenteral generasi ke tiga

g. Dosis dan posologi

Dosis yang lazim digunakan untuk beberapa fluorokuinolon yang sering digunakan diklinik

Efek Samping

Secara umum dapat dikatakan bahwa efek samping golongan kuinolon sepadan dengan antibiotika

Saluran cerna

Efek samping ini paling sering timbul akibat penggunaan golongan kuinolon (prevalensi sekitar 3-17%

susunan syaraf pusat

yang paling sering dijimpai ialah sakit kepala dan pusing. Bentuk yang jarang timbul ialah halusinasi,

Hepatotoksisitas

Efek samping ini jarang dijumpai, namun kematian akibat hepatotoksisitas yang berat pernah terjad

Kardiotoksisitas

Beberapa fluorokuinolon antara lain sparfloksasin dan grepafloksasin (kedua obat ini dipasarkan l
kuinolon baru antara lain moksifloksasin juga dapat sedikit memperpanjang Qtc interval dan tidak ber

Disglikemia

Gatif floksasin baru-baru ini dilaporkan dapat menimbulkan hiper atau hipoglikemia, da pasien be

Fototoksisitas

Klinaf floksasin (tidak dipasarkan lagi) dan sparfloksasin adalah fluorokuinolon yang relative seri

Interaksi obat

Golongan kuinolon dan fluorokuinolon berinteraksi dengan beberapa obat, misalnya :


Alergi dan Penyebabnya

Anatasid dan preparat besi (Fe)

Absorpsi kuinolon dan fluorokuinolon dapat berkurang hingga 50 % atau lebih. Karena itu pembarian

Teofilin

Beberapa kuinolon misalnya siprofloksasin, pefloksasin, dan enoksasin menghambat merabolisme teo

Obat-obat yang dapat memperpanjang interval Qtc.

Golongan kuinolon sebaiknya tidak dikombinasikan dengan obat-obat yang dapat memperpanjang Qt

J. ANTIMIKROBA LAIN

1. ERITROMISIN DAN MAKROLID LAIN

Antibiotika golongan makrolid, mempunyai persamaan yaitu terdapat cincin lakton yang besar da

1. Eritromisis

Asal dan kimia

Eritromisin dihasilkanolah suatu strain streptomyces erythreus. Zat ini dapat berupa krisatal be

Antibiotic ini tidak stabil pada suhu rendah. Aktivitas in vitro paling besar dalam suasana alka

Aktivitas antimikroba

Golongan mikrolid menghambat mikrolid sintesis protein kuman dengan jalan berikatan secar

Spektrum antimikroba

In vitro, efek terbesar eritromisin terhadap kokus Gram-positif, seperti S.pyogenes dan S.pneum
nosokomial). Batang Gram-positif yang peka terhadapp eritromisin ialah C. perfringens, C. dip

Resistensi
Alergi dan Penyebabnya

Resitensi terhadap erotromisin terjadi melalui 3 mekanisme yang diperantarai oleh plasmid ya
antara berbagai makrolid.

Farmakokinetik

Basa eritromisin diserap baik oleh usus kecil bagian atas; aktivitasnya menurun karena obat di

Hanya 2-5% eritromisin yang diekskresi dalam bentuk aktif melalui urin. Eritromisin mengala

Masa paru eliminasi eritromisin adalah sekitar 1,5 jam. Dalam keadaan insufisiensi ginjal tidak

Eritromisin berdifusi dengan baik ke berbagai jaringan tubuh kecuali ke otak dan cairan serebr

Obat itu diekskresi terutama melalui hati. Dialysis perionial dan hemodialis tidak dapat menge

Pada wanita hamil pemberian eritromisin streat dapat meningkatkan sementara kadar SGOT/S

Efek samping

Efek samping yang berat akibat pemakaian eritromisin dan turunannnya jarang terjadi.

Reaksi alergi mungkin timbul dalam bentuk demam, eosinifilis dan eksantem yang cepat hilan
terapi dihentikan . efek samping ini dujimpai pula pada penggunaan eritromisin etilsuksinat tet
1 dengan infuse IV sering disusul oleh timbulnya tromboflebitis.

2. Spiramisin

Obat ini efektif terhadap kuman stafilokokuds, steptokokus, pnemokokus, enterokokus, Neisseria,

Spiramisin umunya diberikan peroral. Absorpsi sluran cerna tidak lengkap, namun tidak dipengaru
rendah sekali.
Alergi dan Penyebabnya

Preparat spiramisin yang tersedia ialah bentuk tablet 500 mg, yang setara dengan 1,5 MIU dan tab

Dosis orang untuk pasien dewasa ialah 3-4 kali 500 mg sehari. Pada infeksi berat, dosis dapat ditin

Seperti eritromisin, spiramisin, digunakan untuk terapi infeksi rongga mulut dan saluran napas.

Spiramisin digunakan juga sebagai obat alternative untuk pasien toksoplasmosis yang karena sesu
ialah 3g/hari yang dibagi dalam 3 dosis, yang diberikan selam kehamilan.

Spiramisin efektif untuk mencegah transmisi transplasental toksoplasma dari ibu ke anak.

Pemberian spiramisin oral kadang-kadang menimbulkan iritasi saluran cerna.

3. Roksitromisin Dan Klaritromisin

Roksitromisin adalah derivat eritromisin yang diserap dengan baik pada pemberian oral. Obat ini
Masa paruh eliminasinya sekitar 10 jam sehingga obat ini dapat diberikan 2 kali sehari. Pengguna

Klaritromisin juga digunakan untuk indikasi yang sama seperti eritromisin. Secara in vitro, obat i
adalah iritasi saluran cerna (lebih jarang dibandingkan dengan eritromisin) dan peningkatan seme

4. Azitromisin

Obat ini, mempunyai indikasi klinik serupa dengan klaritromisin. Aktivitasnya sangat baik terhad
dilepaskan pelahan-lahan sehngga dapat diperoleh masa paruh eliminasi sekitas 3 hari. Dengan d
praktis tidak menimbulkan masalah interaksi obat.

Dosis azitromisin dapat dilihat pada tabel 46-3.

Indikasi Dosis Keterangan


Alergi dan Penyebabnya

Dewasa :

1. Community- 1x500 mg/hari Bentuk kemasan:

acquidred pneumonia selama 3 hari Tablet 250 dan 500 mg

Anak : Suspensi yang


mengandung 200 mg/5
10 mg/kgBB/hari, mL

sekali sehari

selama 3 hari

2. Uretritis non spesifik Dewasa :

Dosis tunggal 1 g

1.5 Telitromisin

Telitromisin adalah antibiotika baru dari golongan keloid yang bekerja pada 2 site of action di ribisom
streptokus beetahemolitikus grup A.

Pada pemberian oral, biovailabilitas obat ini hanya 57% namun pemberian bersama makanan tidak me

Pengurangan dosis tidak diperlukan bagi pasien insufisiensi ginjal ringan/ sedang atau gagal fungsi ha

Telitrominisin tersedia dalam bentuk tablet 400 mg. Dosisnya ialah 800 mg sekali sehari selama 5 har

Efek samping yang dihubungkan dengan penggunaan obat in ialah keluhan saluran cerna yaitu mual, m

2. LINKOMISIN DAN KLINDAMISIN

1. Linkomisin
Alergi dan Penyebabnya

Pengguna linkomisin dewasa ini telah ditinggalkan karena daya antibakterinya yang lemah dan absorpsin

2. Klindamisin

aktivitas antibakteri

Obat ini pada umumnya aktif terhadap S. aureus, S. pneumoniae, S. pyogenes, S. anaerobic, S. viridan

farmakokinetik

Klindamisin diserap hampir lengkap pada pemberian oral. Adanya makanan dalam lambung tidak ban

Klindamisin didistribusikn dengan baik ke berbagai cairan tubuh, jaringan dan tulang, kecuali ke CS
alveolar tetapi makna klinik dari fenomena ini belum jelas.

Hanya sekitar 10% klndamisin diekskresikan delam bentuk asal melalui urin. Sejumlah kecil klindam
sedikit pada pasien gagal ginjal sehingga diperlukan penyesuaian dosis dan pengukuran kadar obat dalam pla

efek samping

Diare dilapotkan terjadi pada 2-10% pasien yang mendapat klindamisin. Diperkirakan 0,01-10% pasie
Kelainan yang dapat bersifat fatal ini disebabkan oleh toksin yang diekskresi oleh C. difficile, suatu kuman ya
Timbulnya penyakit tersebut tidak tergantung dari besarnya dosis dan dapat terjadi pada pemberian oral maup
yang akan diberikan 4 kali 125 mg sehari per oral selama 7-10 hari atau metronidazol oral 3x500 mg/hari atau

sediaan dan posologi

Klindamisin tersedia dalam kapsul 150 dan 300 mg. Selain itu terdapat suspensi oral dengan konsentra

Dosis oral untuk orang dewasa ialah 150-300 mg tiap 6 jam. Untuk infeksi berat dapat diberikan 450 mg tiap
Alergi dan Penyebabnya

Untuk pemberian secara IM atau IV digunakan larutan klindamisin fosfat 150 mg/mL dalam kapsul berisi 2 d
2,7 g sehari yang dibagi dalam beberapa pemberian. Dosis lebih dari 00 mg sebaiknya tidak disuntikan pada s

Untuk anak atau bayi berumur lebih darei 1 bulan diberikan 15-25 mg/kgBB sehari, untuk infeksi barat dosisn

pengguanaan klinik

Walaupun beberapa infeksi kokus Gram-positif dapat diobati dengan klindamisin, penggunaan obat ini harus

2. GLIKOPEPTIDA

Yang termasuk glikopeptida ialah vankomisisn dan teikoplanin.

1. Vankomisin

Obat ini diserap melalui saluran cerna, dan untuk mendapatkan efek sistemik selalu harus diberikan IV

Obat ini hanya aktif terhadap kuman Gram-positif, khususunya golongan kokus. Indikasi utama vanko
aminoglikosid lainnya. Pada pemberian per oral obat ini juga bermanfaat untuk enterokolitis oleh staf
antibiotik.

Vankomisin HCL tersedia dalam bentuk bubu 500 mg untuk pemberian IV. Dosis untuk dewasa ialah
tersedia bubuk 10 g untuk dilarukan dengan 115 ml air.

2. Teikoplanin

Obat ini bekerja dengan menghambat sintesis dinding sel. Seperti halnya dengan vankomisisn, teikopl
vankomisisn, tapi tidak dengan golongan betalaktam atau makrolid.

Pasien yang alergi terhadap vankomisisn mungkin juga bereaksi sama terhadap teikoplamin, namun e

Efek samping yang dihubungkan dengan penggunaan teikoplanin ialah:

Rekasi local pada tempat suntikan.


Alergi dan Penyebabnya

Rekasi hipersensitivitas yang bermanifestasi dalam berbagai bentuk

Kenaikan kadar transaminase serum

Rekasi hematologic yang bermanifestasi antar lain dalam bentuk trombositopenia, leucopenia, neutrop

Nefrotoksisitas

Ototoksisitas berupa ketulian dan/atau gangguan keseimbangan

Kelughan saluran cerna berupa mual, muntah dan diare

Keluhan pada susunan syaraf pusat berupa sakit kepala, pusing, dan kejang bila diberikan ventricular.

Pengobatan dengan teikoplanin dimulai dengan memberikan dosis muat 400-800 mg (atau 6-12 mg/kg

Untuk pasien dengan gangguan faal ginjal diperlukan pengurangan dosis sebagai berikut mulai keemp

Klirens keratin (mL/menit) Dosis

40-60 <40> 50% dari dosis nirmal

30 dari dosis normal

Obat-obat ini tersedia dalam bentuk bubuk obat suntik (400 mg/vial) yang harus direkonstitusi dulu pa

2. LAIN-LAIN

1. Polimiksin B
Alergi dan Penyebabnya

Polimiksin B sekarang hanya diberikan peroral atau topical, jarang secara parental karena sangat nefro

Obat ini efektif terhadap berbagai kuman Gram-negatif, khususnya P. aeruginosa. Kuman lain yang p
Resisten terhadap antibiotic ini jarang terjadi.

Untuk penggunaan topical tesedia krimatau salep kulit dan salep mata yang mengandung 5.000-10.00

2. Basitrasin

Antibiotic ini bersifat bekterisid terhadap kuman-kuman Gram-positf.

Basitrin tersedia dalam bentuk salep kulit dan mata yang mengandung 500 unit/gram. Gram seng basi

Basitrasin stabil dalam bentuk salep, tetapi tidak stabil dalam bentuk krim.

3. Natrium Fusidat

Suatu antibacterial steroidal dengan efek bakteriostatik/bakteriosidik terutam terhadap kuman Gram-p

4. Mupirosin

Mupirosin efektif menghambat kuman aerobic Gram-positif, termasuk methicillin-resistant S. aureus.


menimbulkan efek nefrotoksik.

5. Spektinomisin

Spektinomisin digunakan untuk uretritis oleh gonokokus yang resiten terhadap obat lain.

Tidak ada resisten silang antar obat ini dengan antibiotika lain dalam pengobatan gonore. Obat ini bia

Efek sampingnya ialah nyeri ditempat suntikan, terkadang demam dan mual. Obat terpilih untuk gono

6. Streptogramin

Streptogram merupakan kombinasi tetap dari 2 antibiotika yang strukturnya berlainan yaitu kuinuprist
Alergi dan Penyebabnya

Kombinasi tetap yang relative baru ini aktif terhadap kuman S. aureus (yang resisten maupun sensitif
spp., H. Influenzae, M. catarrhalis, dan Neiserria spp.

Frekuensi efek samping mual, muntah , dan kemerahan kulit akibat obat ini kurang lebih sama dengan

Kombinasi ni selalu diberikan secara IV dan dosisnya ialah 7,5 mg/kgBB setiap 8 atau 12 jam.

Obat ini tersedia dalam bentuk sediaan dalam bentuk infus IV yang mengandung 150 mg kuinupristin

7. Oksazolidindinon

Linezolid adalah derivate sintetik pertama dari golongan oksazolidindinon. Obat ini aktif terhadap kum
stafilokokus, tetapi bakterisidal terhadap streptokokus.

Efek samping obat ini umumnya bersifat ringan atau sedang dan bermanifestasi dalam bentuk keluhan
yang berasal dari komunitas), dan infeksi kulit dan jaringan lunak yang disebabkan oleh Enterococcus
dengan penyullit, dosis linesolid ialah 2 kali 600)

8. Daptomisin

Obat ini termasuk antibiotika golongan lipopeptit suatu kelas antibiotika yang baru. Daptomisin memp
hanya pada kuman Gram-positif yaitu berbagai jalur kuman S. aureus, Enterococcus dan S. pneumonia
Alergi dan Penyebabnya

3.1 Kesimpulan

Mekanisme antimikroba

Menghambat metabolisme sel mikroba

Menghambat sintesis dinding

Mengganggu keutuhan membran sel mikroba

Menghambat sintesis sel mikroba,

Menghambat sintesis asam nukleat mikroba

Reaksi alergi

Reaksi idiosinkrasi

Reaksi toksik Perubahan biologik dan metabolik

3.2 Saran

Sebaiknya dalam pembelajaran farmakologi kita harus lebih mengenal jenis obat anastesi yang berhub
umumnya dapat bermanfaat pada masyrakat luas.
Alergi dan Penyebabnya

DAFTAR PUSTAKA

1. American Medical Association. Drug Evaluations Annual 1995. P. 1689.

2. Chambers HF. Antimycobacterial drugs. In: Katzung BG, ed. Basic & Clinical
Pharmacology. 9th ed.Singapore: McGraw-Hill;2004.p.782-791.

3. Document WHO/CDS/TB/2000,279.

4. Petri WA. Jr. Chemotherapy of tuberculosis, Mycobacterium avium complex disease,


and leprosy. In: Brunton LL, Lazo JS, Parker KL, eds. Goodman & Gilmans the
Pharmacological Basis of Therapeutics. 11th ed. New York; McGraw-
Hill;2006.p.1203-23.
5. WHO/CDC/TB/2003,313. Treatment of tuberculosis; guidelines for national
programmes, 3th edition. Revision approved by STAG, June 2004.