Anda di halaman 1dari 29

Referat

KARSINOMA TIROID
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Kepaniteraan Klinik Senior (KKS)

di Departemen Ilmu Bedah RSMH Palembang

Oleh:

Dwijaya Sari, S.Ked 04054821517052

Adiguna Darmanto, S.Ked 04054821517060

Pembimbing:

dr. Burmansyah, Sp.B (K) Onk, FINACS

DEPARTEMEN ILMU BEDAH RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PALEMBANG
2016
HALAMAN PENGESAHAN

REFERAT:
Karsinoma Tiroid

Oleh :
Dwijaya Sari 04054821517052

Adiguna Darmanto 04054821517060

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti
Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran
Univesitas Sriwijaya/ Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang periode 8
Agustus 2016 16 Oktober 2016.

Palembang, Agustus 2016

Pembimbing

dr. Burmansyah, Sp.B (K) Onk, FINACS

ii
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan seluruh alam semesta, yang telah
memberikan seluruh kasih sayang, nikmat, rahmat, dan karunia-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul Karsinoma Tiroid ini tepat
pada waktunya. Selain itu, penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada dr. Burmansyah, Sp.B (K) Onk, FINACS selaku pembimbing,
yang telah membantu membimbing dalam penyelesaian referat ini.

Penulis juga mengucapan terima kasih kepada orang tua penulis, kakak-
kakak residen, teman-teman dan semua pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan referat ini.

Penulis menyadari bahwa referat ini masih memiliki banyak kekurangan,


oleh karena itu, penulis berharap kritik dan saran yang membangun demi
perbaikan referat ini di masa yang akan datang. Walaupun demikian, dengan
segala kekurangan dan keterbatasan yang terdapat dalam referat ini, penulis tetap
berharap agar referat ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak.

Palembang, Agustus 2016

Penulis

DAFTAR ISI

iii
HALAMAN JUDUL.....................................................................................................
LEMBAR PENGESAHAN..........................................................................................
KATA PENGANTAR..................................................................................................
DAFTAR ISI................................................................................................................
BAB I. PENDAHULUAN............................................................................................
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA..................................................................................
2.1. Kelenjar tiroid............................................................................................
2.1.1. Anatomi Kelenjar Tiroid.....................................................................
2.1.2. Histologi Kelenjar Tiroid....................................................................
2.1.3. Fisiologi Kelenjar Tiroid.....................................................................
2.2. Definisi Kelenjar Tiroid.............................................................................
2.3. Klasifikasi Karsinoma Tiroid.....................................................................
2.3.1. Klasifikasi Berdasarkan Histopatologi................................................
2.3.1.1. Papillary Thyroid Carcinoma....................................................
2.3.1.2. Follicular Thyroid Carcinoma...................................................
2.3.1.3. Anaplastic Thyroid Carcinoma..................................................
2.3.1.4. Medullary Thyroid Carcinoma...................................................
2.3.2. Klasifikasi Sistem TNM....................................................................
2.4. Epidemiologi Karsinoma Tiroid...............................................................
2.5. Faktor Resiko Karsinoma Tiroid..............................................................
2.6. Manifestasi Klinis Karsinoma Tiroid.......................................................
2.7. Pemeriksaan Klinis Karsinoma Tiroid.....................................................
2.7.1. Anamnesis.........................................................................................
2.7.2. Pemeriksaan Fisik.............................................................................
2.7.3. Pemeriksaan Penunjang....................................................................
2.8. Penatalaksanaan Karsinoma Tiroid..........................................................
2.9. Prognosis Karsinoma Tiroid.....................................................................
BAB III.KESIMPULAN.............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................

iv
BAB I

PENDAHULUAN

Malignansi merupakan suatu keadaan dimana ditandai dengan adanya


pertumbuhan sel yang tidak terkontrol dan dapat menginvasi ke jaringan
sekitarnya. Karsinoma adalah sebuah malignansi yang berawal dari kulit atau
jaringan yang melintasi atau menutupi organ dibawahnya. Penyebab dari
karsinoma dibagi menjadi dua, yaitu faktor eksternal seperti merokok,
mikroorganisme, serta gaya hidup yang tidak sehat dan faktor internal seperti
mutasi genetik, hormon, dan kelainan dari sistem imun tubuh.1,2
Karsinoma tiroid merupakan salah satu kanker organ kelenjar endokrin yang
paling sering ditemui. Menurut National Cancer Institute pada tahun 2016,
karsinoma tiroid menempati urutan ke delapan dengan perkiraan 64.300 kasus
baru dan 1.980 orang meninggal akibat karsinoma tiroid atau sekitar 3,8% jumlah
kasus baru di Amerika Serikat. Insiden karsinoma tiroid di Indonesia menempati
urutan ke-9 dari 10 kanker terbanyak yaitu sebesar 4,43%. Pada tahun 2013
karsinoma tiroid menduduki urutan ke 5 setelah karsinoma jaringan lunak,
karsinoma nasofaring, karsinoma hepatoma, dan karsinoma usus besar. 1,3
Karsinoma tiroid merupakan keganasan yang sebagian besar berasal dari
epitel folikel yang dipengaruhi oleh beberapa faktor resiko seperti radiasi daerah
leher, riwayat penyakit tiroid terdahulu, sindroma genetik, riwayat keluarga
dengan kanker tiroid, dan gaya hidup. Faktor resiko tersebut diyakini dapat
mengakibatkan mutasi pada proto-onkogen RET yang berlokasi di kromosom 10
yang memegang peranan penting dari terbentuknya karsinoma tiroid. Selain itu
ditemukan juga delesi pada gen p53 yang memerankan peranan penting dalam
tahap akhir karsinogenesis pada karsinoma tiroid. 1,4

Diagnosis karsinoma tiroid dapat dilakukan mulai dari anamnesis, palpasi


pada pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang berupa fine needle aspiration
biopsy (FNAB), fine needle aspiration cytology (FNAC), atau dengan
menggunakan USG. Klasifikasi WHO berdasarkan temuan histopatologi untuk
neoplasia tiroid dapat diklasifikasikan menjadi tumor primer dan sekunder.

1
Bentuk maligna dari tiroid terdiri dari empat varian yaitu karsinoma papilar,
karsinoma folikular, karsinoma medular, dan karsinoma anaplastik. Selain itu
terdapat klasifikasi berdasarkan staging berdasarkan dari ukuran, kelenjar getah
bening regional dan metastasis dengan menggunakan TNM staging.5,6
Insiden karsinoma tiroid memang meningkat setiap tahunnya namun
mortalitas kasus ini cenderung menurun selama tiga dekade terakhir. Diagnosis
dini dan respon tatalaksana yang cepat memungkinkan penurunan angka
mortalitas kasus ini dengan death rate sebesar 0,5 per 100.000 populasi per tahun.
Dalam referat ini akan dibahas mengenai definisi, klasifikasi, epidemiologi, faktor
risiko, manifestasi klinis, penegakan diagnosis, penatalaksanaan, dan prognosis
dari karsinoma tiroid.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kelenjar Tiroid


2.1.1 Anatomi Kelenjar Tiroid
Glandula tiroid terdiri atas lobus kanan dan kiri yang dihubungkan oleh
isthmus yang sempit, kelenjar ini merupakan organ vaskular yang dibungkus
oleh selubung yang berasal dari lamina pretrachealis fascia profundae.
Selubung ini melekatkan glandula pada larynx dan trachea.7

Setiap lobus berbentuk seperti buah alpukat, dengan apexnya menghadap


ke atas sampai linea oblique cartilago tiroideae, sementara itu basisnya
terletak di bawah setinggi cincin trachea keempat atau kelima. Isthmus
meluas melintasi garis tengah di depan cincin trachea 2, 3, dan 4. Sering
terdapat lobus pyramidalis yang menonjol ke atas dari isthmus, biasanya ke
sebelah kiri garis tengah. Uniknya ada beberapa orang tidak memiliki bagian
organ ini, yaitu ditemukan sekitar 50% dari temuan pasien. Sebuah pita
fibrosa atau muskular sering menghubungkan lobus pyramidalis dengan os
hyoideum. Bila pita ini muscular, disebut m. levator glandula tiroid.7

Kelenjar tiroid dibungkus oleh selubuh yang berasal dari fascia


pretrachealis. Selubung ini menempelkan kelenjar ini ke laring dan trakea.
Penempelan ini menjelaskan mengapa glandula tiroidea mengikuti gerakan
laring sewaktu menelan. Hal inipenting karena benjolan patologi apapun di
leher, yang merupakan bagian dari kelenjar tiroid akan bergerak keatas
ketika pasien menelan.7

3
Gambar 2.1 Anatomi Kelenjar Tiroid

Suplai utama tiroid berasal dari arteri tiroid superior dan arteri tiroid
inferior. Arteri superior merupakan cabang ipsilateral dari arteri karotis
eksterna dan akan bercabang memperdarahi bagian anterior dan posterior
dari lobus tiroid. Sedangkan arteri tiroid inferior merupakan cabang dari
bagian cabang trunkus tiroservikalis yang merupakan percabangan langsung
dari arteri arteri subklavia. Arteri tiroid inferior berjalan dari atas pada
posterior leher ke karotis dan memasuki bagian tengah lobus tiroid. Sebuah
arteri bernama arteri ima muncul sebagai cabang langsung dari aorta dan
memperdarahi bagian isthmus dan secara klinis dapat menggantikan arteri
tiroid inferior apabila terjadi kerusakan. Arteri tiroid inferior akan menyilang
n. recurrent laryngeal.7

4
Gambar 2.2 Aliran Limfatik pada kelenjar Tiroid

Pembuluh limfe tiroid terutama mengalir ke lateral ke dalam nodi


lymphoidei cervicales profundi. Beberapa pembuluh limfe berjalan turun ke
nodi lymphoidei paratracheales.7

N. recurrent laryngeal sinistra merupakan cabang dari n. vagus di mana


nervus ini akan menyilang di arkus aorta, kemudian memutari ligamentum
arteriousum dan naik ke atas medial ke alur trakeoesofageal. N. recurrent
laryngeal dekstra merupakan cabang dari n. vagus yang melingkari bagian
bawah arteri subklavia dekstra. Nervus ini biasanya melewari bagian
posterior arteri sebelum naik ke arah leher dan n. recurrent laryngeal dekstra
lebih oblik dibandingkan n. recurrent laryngeal sinistra. Sepanjang daerah
leher N. recurrent laryngeal akan berjalan dan bercabang dan melewati
bagian anterior, posterior, atau diantara dari cabang arteri tiroid inferior.7

5
Gambar 2.3 Percabangan nervus pada tiroid

2.1.2 Histologi Kelenjar Tiroid


Kelenjar tiroid memiliki struktur berlobus-lobus dua di bawah dan di
depan laring. Kelenjar berkembang dari satu evaginasi epitel faring yang
turun ke posisi normalnya di leher anterior. Tiroid terdiri unit fungsional
yang disebut folikel yang umumnya sferis dan dilapisi oleh epitel kolumnar
sampai kuboid rendah. Sel-sel yang mengelilingi folikel yaitu sel folikel,
menyekresi dan menimbun produknya di luar sel menyekresi dan menimbun
substansinya ke koloid. Koloid terdiri atas tiroglobulin, yaitu suatu
glikoprotein yang mengandung sejumlah asam amino teriodinasi. Sel-sel
parafolikel yang lebih besar juga terdapat di kelenjar tiroid. Sel-sel ini
terdapat dalam epitel folikel atau celah antar folikel.8
Kelenjar tiroid ditandai dengan banyak folikel bulat dengan berbagai
diameter yang terisi koloid asidofilik. Folikel ini biasanya dilapisi oleh
epitel selapis kuboid yang terdiri atas sel-sel folikel yang menyekresi
hormon tiroid. Selain sel-sel folikel terdapat juga sel parafolikel yang dapat
berkelompok atau tunggal di tepi folikel. Sel parafolikel menyintesis dan
menyekresi hormon karsitonin. Septa jaringan ikat membagi kelenjar tiroid
dalam lobuli, di dalamnya banyak pembuluh darah, arteriol, kapiler, dan
venul. 8

6
Gambar 2.4 Gambaran mikroskopik kelenjar tiroid

2.1.3 Fisiologi Kelenjar Tiroid dan Mekanisme Feedback Negative


Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid utama, yaitu tiroksin
(T4). Bentuk aktif hormon ini adalah triidotironin (T3) yang sebagian
besar berasal dari konversi hormon T4 di perifer, dan sebagian kecil
langsung dibentuk oleh kelenjar tiroid. Iodida anorganik yang diserap
dari saluran cerna merupakan bahan baku hormon tiroid. Sel kelenjar
tiroid secara aktif melakukan transportasi iodium ke dalam
sitoplasmanya, zat ini dipekatkan kadarnya menjadi 30-40 kali
sehingga afinitasnya sangat tinggi di jaringan tiroid. Iodida anorganik
teroksidasi menjadi bentuk organiknya dan selanjutnya menjadi bagian
dari tirosin yang terdapat dalam tiroglobulin sebagai monoiodotirosin
(MIT) atau diiodotirosin (DIT).5
Konjugasi DIT dengan MIT atau dengan DIT yang lain akan
menghasilkan T3 atau T4, yang disimpan di dalam koloid kelenjar
tiroid. Sebagian besar T4 dilepaskan ke dalam sirkulasi, sedangkan
sisanya tetap berada di dalam kelenjar dan kemudian mengalami
deiodinasi untuk selanjutnya menjalani daur ulang. Dalam sirkulasi,
hormon tiroid terikat pada protein, yaitu globulin pengikat tiroid
(tiroid-binding globulin, TBG) atau prealbumin pengikat tiroksin
(thyroxine-binding prealbumine, TBPA).5

7
Gambar 2.5 Axis hormon hipotalamus-pituitari-kelenjar tiroid

Ketika kebutuhan akan hormon T3 dan T4 meningkat, sel folikel


kelenjar tiroid melakukan ingesti koloid sekarsinomara pirositosis.
Dengan bantuan enzim lisosomal, hormon T3 dan T4 dilepas dari
tiroglobulin, berdifusi ke dalam sirkulasi darah, lalu ditranspor dalam
bentuk kombinasi kimiawi dengan protein dalam plasma.5

Sekresi hormon tiroid dikendalikan oleh tiroid stimulating


hormon (TSH) yang dihasilkan oleh lobus anterior kelenjar hipofisis.
Kelenjar hipofisis sekarsinomara langsung dipengaruhi dan diatur
aktivitasnya oleh kadar hormon tiroid dalam sirkulasi yang bertindak
sebagai negative feedback terhadap lobus anterior hipofisis dan
terhadap sekresi thyrotropine releasing hormone (TRH) oleh
hipotalamus. Hormon kelenjar tiroid mempunyai pengaruh yang sangat
bervariasi terhadap jaringan/organ tubuh yang pada umum
berhubungan dengan metabolisme sel. Pada kelenjar tiroid, juga
terdapat sel parafolikular yang menghasilkan kalsitonin. Kalsitonin
adalah suatu polipeptida yang turut mengatur metabolisme kalsium,
yaitu menurunkan kadar kalsium serum, melalui pengaruhnya terhadap
tulang.5

2.2 Definisi Karsinoma Tiroid

8
Karsinoma tiroid adalah suatu pertumbuhan baru yang ganas dan
cenderung menginfiltrasi jaringan disekitarnya dari kelenjar tiroid.
Karsinoma tiroid merupakan tumor ganas epitel yang berasal dari sel
folikuler.9

2.3 Klasifikasi Karsinoma Tiroid


2.3.1 Klasifikasi Berdasarkan Histopatologi
Klasifikasi tumor tiroid dapat dijelaskan melalui Tabel 1 yang
merupakan klasifikasi berdasarkan struktur histologi dari WHO. Tumor
tiroid dapat dibagi menjadi dua subdivisi yaitu tumor tiroid primer dan
tumor tiroid sekunder atau tumor metastase. Tumor metastase sangat jarang
ditemukan, sedangkan tumor primer ditemukan lebih dari 90% kasus.10

Tumor primer diklasifikasikan menjadi benign follicular adenoma,


malignany well-differentiated papillary dan follicular carcinoma. Poorly
differentiated dan anaplastic carcinoma juga berasal dari sel folikuler
namun banyak yang beranggapan bahwa kedua tipe tersebut merupakan
deferensiasi dari well differentiated papillary carcinoma atau follicular
carcinoma.11,12

Tabel 1. Klasifikasi berdasarkan Histopatologi


Papillary Carcinoma Follicular Anaplastic
Carcinoma Carcinoma

Insidensi 80%-85% 10%-15% 1%-2%

FNAB Bisa dilakukan Tidak bisa Bisa dilakukan


dilakukan

Pembesaran (+) (-) (+)


KGB

Foto Rontgen Terdapat kalsifikasi Tidak Tidak terdapat


terdapat kalsifikasi
kalsifikasi

9
Histopatologi Orphan Annie eyed Unifocal, Extensive
thickly necrosis,pleomorphi
encapsulated, c giant cell, spindle
invasi sampai cell dan squamoid
ke kapsul dan
pembuluh
darah

2.3.1.1 Papillary Thyroid Carcinoma (PTC)


Tipe ini merupakan golongan terbesar dari karsinoma tiroid yaitu
sebesar 90% dari temuan kasus. Umumnya tipe ini tumbuh lambat,
biasanya terdapat pada usia kurang dari 40 tahun dan jarang ditemukan
pada anak-anak. Termasuk golongan yang berdiferensiasi baik,
multisentris dan didapatkan varian yang dapat menentukan prognosis.
Beberapa kasus memiliki prognosis yang baik namun 10% pasien dengan
PTC cenderung mengalami rekuren.3,12
Secara klinikopatologi, usia di atas 45 tahun, besaran tumor, invasi
ekstratrioidal, metastase ke pembuluh darah dan diferensiasi yang buruk
merupakan indikator dalam penilaian prognosis. Gambaran histopatologi
PTC berupa gambaran dari nukleus yang bening menyerupai ground
glass atau dapat dikenal sebagai Orphan Annie eyed. Nukleus ini
berbentuk lebih besar dari ukuran normal dan saling tumpang tindih,
mengandung inti yang eosinofilik dan memiliki cekungan longitudinal.12

2.3.1.2 Follicular Thyroid Carcinoma (FTC)


Golongan terbanyak kedua yaitu FTC, ditemukan sekitar 10%-20%
dari keganasan tiroid dan lebih ganas dibandingkan PTC. Lebih sering
ditemukan di daerah yang kekurangan iodium. Tipe ini dapat ditemukan
disegala usia dan mencapai puncak pada usia 40 tahun. FTC lebih banyak
ditemukan pada lesi unilateral dibandingkan bilateral. FTC merupakan
tumor ganas berkapsul soliter berwarna pink keabu-abuan. FTC dapat
menginvasi sampai ke kapsul dan atau pembuluh darah yang merupakan

10
indikator penilaian terhadap diagnosis FTC. Mortalitas pada pasien FTC
dapat menkarsinomapai 20% karena cenderung mengalami metastasis
jauh secara hematogen ke paru, tulang, dan hati, sedangkan metastase ke
kelenjar regional jarang terjadi. Kemungkinan untuk bertransformasi
menjadi ATC dua kali lebih besar dari tipe PTC.13

2.3.1.3 Anaplastic Thyroid Carcinoma (ATC)


ATC didapatkan pada 5%-15% dari keganasan tiroid yang
merupakan salah satu neoplasma yang paling agresif. Tumor ini terutama
timbul pada bisa lanjut terutama di dekade 6 sampai 8 kehidupan,
terutama pada daerah endemik gondok. ATC bermanifestasi sebagai
massa yang besar yang biasanya tumbuh pesat melebihi kapsul tiroid dan
masuk ke struktur leher di sekitarnya. Secara mikroskopis, neoplasma
terdiri atas sel yang sangat anaplastik, memperlihatkan tiga morfologik
berbeda, sering dalam kombinasi; sel raksasa pleomorfik besar, sel
gelondong dengan penampakan sarkomatosa, atau sel dengan gambaran
skuamoid samar.10,14

Karsinoma tiroid anaplastik berasal dari sel folikuler dan diduga


merupakan kelanjutan dari PTC atau FTC. Karsinoma ini
dikarakteristikan dengan ketidakstabilan kromosom, yang ditandai
dengan mutasi BRAF atau mutasi ras, yang juga ditemukan pada
karsinoma tiroid berdiferensiasi baik, serta mutasi I-catenin (CTNNB1)
dan p53 yang hanya ditemukan pada karsinoma tiroid anaplastik. Selain
itu, serine/threnonine kinase dari keluarga aurora memiliki peran utama
dalam regulasi siklus sel, dan ekspresi aurora B pada karsinoma tiroid
anaplastik lebih besar 10 hinggan 20 kali lipat dibanfingkan karsinoma
tiroid berdiferensiasi baik. Secara mikroskopis, neoplasma terdiri atas sel
yang sangat anaplastik, memperlihatkan tiga morfologik berbeda, sering
dalam kombinasi; sel raksasa pleomorfik besar, sel gelondong dengan
penampakan sarkomatosa, atau sel dengan gambaran skuamoid samar.10,14

11
Gambar 2.6. Histopatologi Anaplastic Thyroid Carcinoma

2.3.1.4 Medullary Thyroid Carcinoma (MTC)


MTC merupakan neoplasma neuroendokrin yang berasal dari sel
parafolikuler atau sel C. Sering ditemukan pada usia 50-60 tahun. Insiden
MTC ditemukan 5% dari kasus keganasan karsinoma tiroid. MTC
muncul secara sporadis pada 80% kasus sedangkan 20% merupakan
kasus familial. MTC timbul sebagai nodul soliter atau lesi multiple yang
mengenai dua lobus tiroid. Gambaran mikroskopis terdapat sel berbentuk
polygonal hingga gelondong yang mungkin membentuk sarang-sarang,
trabekula, dan bahkan folikel. Gambaran unik pada MTC adalah adanya
hiperplasia sel C multisentrik di sekitar parenkim tiroid. Gambaran klinis
yang sering terjadi adalah massa di leher yang menimbulkan penekanan
seperti disfagia atau suara serak.12,13

2.3.2 Klasifikasi Sistem TNM


TNM staging merupakan klasifikasi tumor berdasarkan tiga komponen
dasar, yaitu tumor primer (Tx), kelenjar regional (Nx), dan metastasis (Mx).
Angka di bawahnya (x) digunakan untuk menunjukkan ukuran dan derajat
keterlibatannya. Klasifikasi dengan menggunakan TNM staging bertujuan
membantu dalam menentukan prognosis suatu penyakit. Berikut TNM
Staging untuk tumor primer (Tx), kelenjar regional (Nx), dan metastasis (Mx)
karsinoma tiroid.4,14

Tabel 2. Klasifikasi Sistem TNM 4,14


TUMOR PRIMER
Tx Tumor primer tidak dapat dinilai
T0 Tidak ddidapat tumor primer (misal: sudah dioperasi)
T1 Tumor dengan ukuran sebesar <= 2cm, masih terbatas pada tiroid
T2 Tumor dengan ukuran terkecil > 2cm, dan ukuran terbesar tidak

12
lebih dari 4, dan masih terbatas pada tiroid
T3 Tumor dengan ukuran lebih dari 4 cm, dan masih terbatas pada
tiroid; atau ukuran berapa saja dengan ekstensi minimal extra
tiroid (misalnya ke otot sternotiroid atau jaringan lunak
peritiroid)
T4a Tumor dengna eksternsi keluar kapsul tiroid dan menginfiltrasi
jaringan lunak subkutan, laring, trakea, esofakus, N. Laringeus
rekuren
T4b Tumor menginfiltrasi fascia prevertebra, pembuluh darah
mediastinum atau A. Karotis
T4a* (Karsinoma Anaplasia) Tumor dengan ukuran berapa saja masih
terbatas pada tiroid
T4b* (Karsinoma anaplasia) Tumor dengan ukuran berapa saja dan
extensi keluar kapsul tiroid
NODES
Nx Kelenjar getah bening tidak dapat dinilai
N0 Tidak terdapat metastasis kelenjar getah bening
N1 Terdapat metastasis pada kelenjar getah bening
N1a Terdapat metastasis pada kelenjar getah bening level VI (pretrakea,
para-trakea, delphian)
N1b Terdapat metastasis pada kelenjar getah bening servikal unilateral.,
bilateral, kontra lateral atau KGB mediastinum
METASTASIS JAUH
Mx Metastasis jauh tidak dapat dinilai
M0 Tidak terdapat metastasis jauh
M1 Terdapat metastasis jauh

Karsinoma Tiroid Papilari atau Folikular Umur <45 Tahun


Stadium I Tiap T Tiap N M0
Stadium II Tiap T Tiap N M1
Karsinoma Papilari atau Folikular umur 45 Tahun dan
Karsinoma Medulari
Stadium I T1 N0 M0
Stadium II T2 N0 M0
Stadium III T3 N0 M0
T1,T2,T3 N1a M0
Stadium IVA T1,T2,T3 N1b M0
T4a N0, N1a, N1b M0
Stadium IVB T4b Tiap N M0
Stadium IVC Tiap T Tiap N M1
Karsinoma Anaplastik/Undifferentiated (Semua kasus stadium IV)

13
Stadium IVA T4a Tiap N M0
Stadium IVB T4b Tiap N M0
Stadium IVC Tiap T Tiap N M1

2.4 Epidemiologi Karsinoma Tiroid


Kasus karsinoma tiroid banyak terjadi pada usia dewasa dengan
insidensi tertinggi pada usia 21-40 tahun4 meskipun beberapa bentuk
terutama karsinoma papilar dapat timbul pada masa anak-anak.10
Karsinoma tiroid yang paling banyak ditemukan adalah tipe PTC yaitu
ditemukan sebesar 85%-90 % dari semua kasus karsinoma tiroid, diikuti
oleh FTC (5%-10 %) dan MTC (sekitar 2%) dan ATC untuk <2% dari
karsinoma tiroid dan biasanya muncul pada usia yang lebih tua. Telah
dilaporkan insiden terus meningkat sejalan dengan peningkatan usia dan
morbiditas meningakat juga tiap tahunnya, namun angka mortalitas
dilaporkan telah menurun karena diagnosis yang telah ditegakkan sejak
dini.10
2.5 Faktor Resiko Karsinoma Tiroid
Faktor risiko merupakan sesuatu yang dapat memengaruhi kesempatan
seseorang untuk terpapar sebuah penyakit seperti kanker. Namun faktor risiko
tidak dapat menentukan segalanya. Memiliki faktor risiko, atau beberapa
faktor risiko, tidak selalu akan menyebabkan suatu penyakit. Beberapa
peneliti telah menemukan faktor risiko yang dapat memicu terjadinya
karsinoma tiroid, antara lain paparan radiasi, intake yodium, stimulasi yang
kronik dari thyroid stimulating hormone (TSH), riwayat memiliki goiter
sebelumnya, serta riwayat keluarga yang memiliki karsinoma tiroid
sebelumnya.2,4,14
Paparan radiasi pada daerah leher sewaktu kecil, usia, jenis kelamin,
dan riwayat keluarga merupakan faktor risiko untuk karsinoma tiroid tipe
well-differentiated. Sekarsinomara klinis, khusus untuk karsinoma tiroid,
berbagai hipotesis muncul tentang etiologi karsinoma tiroid, yang
menggambarkan bahwa sebenarnya etiologi yang pasti belum diketahui,

14
seperti berbagai keganasan yang lain yang juga yang belum diketahui
penyebabnya.6
Terdapat beberapa faktor risiko yang dianggap memiliki risiko
terhadap terjadinya keganasan tiroid yaitu:6
a. Usia : Secara umum, kanker tiroid terjadi pada usia antara 20 hingga 60
tahun. Faktor risiko ini berkaitan dengan jenis histopatologi yang
ditemukan. Pada anak berusia kurang dari 20 tahun dengan nodul tiroid,
risiko keganasan didapatkan 2 kali lipat lebih besar daripada kelompok
dewasa.
b. Jenis Kelamin: Perbandingan terjadinya karsinoma tiroid pada
perempuan dan laki-laki ialah 3:1
c. Ras
d. Genetik
e. Riwayat penyakit dalam keluarga
f. Diet: Masyarakat yang tinggal pada daerah endemik goiter memiliki
risiko karsinoma tiroid lebih tinggi, khususnya pada jenis papiler dan
folikuler.
g. Riwayat paparan radiasi: faktor risiko yang sering dikaitkan terhadap
insiden karsinoma tiroid adalah paparan terhadap radiasi nuklir yang
secara tidak sengaja terkena pada orang-orang yang berada disekitar
pabrik ataupun pada kejadian bom nuklir. Pada daerah epidemik
karsinoma tiroid, insiden tertinggi berada pada usia di bawah 9 tahun
terutama anak-anak usia 5 tahun yang pada saat itu menerima paparan
ledakan nuklir dan beberapa secara tidak langsung mengonsumsi susu
sapi yang sehari-hari memakan rumput yang sudah terkontaminasi isotop
iodine. Masa laten pada anak-anak ini adalah sekitar 9 tahun atau
beberapa data menyebutkan dapat lebih cepat yaitu sekitar 6-7 tahun.14
h. Riwayat terapi radiasi internal atau eksternal: Paparan radiasi semasa
anak-anak merupakan faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap
kejadian karsinoma tiroid. Radiasi eksternal maupun internal radioiodine
I131 dapat meningkatkan pembentukan tumorigenisasi selama 4 tahun
setelah paparan terjadi.8 Pada suatu pengamatan yang dilakukan oleh
Duffy dan Fitzgerald6 menyatakan bahwa terdapat proporsi tinggi
kejadian karsinoma tiroid pada pasien yang mendapat x-irradiation di
daerah atas mediastinum atau leher untuk mengontrol lesi benign pada

15
pembesaran timus, tonsil atau adenoid. Hal ini diperkuat dengan hasil
penelitian Winship dan Rosvoll pada 562 dari beberapa bagian dunia,
bahwa anak-anak dengan karsinoma tiroid dimana 80% diantaranya
memiliki riwayat terapi x-ray. Hasil yang signifikan terhadap x-
irradiation pada kepala, leher, dan dada pada masa anak-anak akan
meningkatkan frekuensi terjadinya karsinoma tiroid menjadi 100 kali.
Insiden ini baru muncul 30 setelah paparan dengan masa laten sekitar
10-20 tahun.6
i. Kelainan tiroid sebelumnya

2.6 Manifestasi Klinis Karsinoma Tiroid


Kebanyakan penderita dengan diagnosa karsinoma tiroid datang
disebabkan oleh karena pembesaran tiroid atau dijumpainya nodul atau
beberapa nodul. Pasien atau dokter menemukan sebagian besar nodul ini
selama palpasi rutin leher. Nodul tiroid teraba hadir di sekitar 4-7% dari
populasi umum dan sebagian merupakan manifestasi dari penyakit jinak.

Untuk alasan yang tidak diketahui, kebanyakan penderita adalah


perempuan. Usia tidaklah begitu penting oleh karena lesi-lesi maligna dapat
ditemukan pada usia yang sangat muda hingga yang sangat tua. Meskipun
demikian, hal yang penting diketahui adalah telah berapa lama kelainan
tersebut dijumpai dan apakah pertumbuhannya lambat, cepat atau timbul
secara tiba-tiba. Informasi ini merupakan diagnostik yang signifikan karena
nodulatau massa multipel yang tumbuh perlahan sedikit sekali yang menjadi
malignan dibandingkan dengan pembesaran nodul soliter yang berkembang
dengan cepat. Ukuran yang bertambah dengan tiba-tiba dapat diduga
sebagai hemorrhage. Nodul tiroid ganas biasanya tidak menimbulkan rasa
nyeri. Nyeri lebih kuat yang tiba tiba muncul dapat dikaitkan dengan
penyakit jinak, seperti perdarahan dalam kista jinak atau tiroiditis virus
subakut, dibandingkan dengan keganasan.

Sebagian besar keganasan pada tiroid tidak memberikan gejala yang


berat,kecuali jenis anaplastik yang sangat cepat membesar bahkan dalam
hitungan minggu. Pada pasien dengan nodul tiroid yang besar, kadang

16
disertai dengan adanya gejalapenekanan pada oesofagus dan trakea. Suara
serak menunjukkan adanya penekanan pada n. laringeal recurren dan
mengakibatkan paralisis pada pita suara. Disfagia mungkin menjadi tanda
penekanan dari saluran pencernaan.

2.7 Pemeriksaan Klinis Karsinoma Tiroid


2.7.1 Anamnesis
Pada anamnesis didapatkan bahwa pasien-pasien dengan
karsinoma tiroid sebagian besar memiliki faktor risiko terjadinya
keganasan yaitu (1) pengaruh usia dan jenis kelamin. Untuk beberapa
alasan yang belum jelas, karsinoma tiroid terjadi tiga kali lebih banyak
pada wanita dibandingkan laki-laki. Karsinoma tiroid dapat terjadi pada
semua usia dengan puncak usia lebih awal pada wanita (biasanya pada
wanita usia 40-50 tahun ketika terdiagnosis) dibandingkan dengan laki-
laki (biasanya terdiagnosis pada usia 60-70 tahun);(2) pengaruh radiasi
didaerah leher dan kepala. Radiasi pada masa kanak-kanak dapat
menyebabkan malignansi pada tiroid kurang lebih 33 37%; (3) daerah
struma endemis mempunyai insiden sedikit lebih tinggi terjadinya
karsinoma tiroid tipe folikuler dan anaplastik. Daerah tanpa defisiensi
yodium mempunyai angka insiden karsinoma papiler lebih tinggi
dibandingkan daerah endemis; (4) benjolan pada kelenjar tiroid yang
tumbuh lebih cepat pada beberapa waktu terakhir. Pada umumnya,
tumor jinak atau karsinoma tiroid berdiferensiasi mempunyai pertumbuhan
yang sangat lambat; (5) riwayat gangguan mekanik di daerah leher.
Keluhan gangguan menelan, perasaan sesak, perubahan suara dan nyeri
dapat terjadi akibat desakan dan atau infiltrasi tumor; (6) adanya benjolan
pada kelenjar tiroid yang terbukti sebagai karsinoma tiroid medulare.4,14
2.7.2 Pemeriksaan Fisik10
Lakukan pemeriksaan sistematis (urut dari atas ke bawah), simetris
(bandingkan kanan dan kiri), simultan (kanan dan kiri bersamaan ),
seksama dan jangan lupa melihat kepala bagian belakang. Secara rutin
harus dievaluasi juga keadaan kelenjar getah bening lehernya, adakah

17
pembesaran, lakukan evaluasi tersebut secara sistematis pula. Pembesaran
kelenjar tiroid sangat bervariasi dari tidak terlihat sampai besar sekali dan
mengadakan penekanan pada trakea, membuat dilatasi sistem vena serta
pembentukan vena kolateral.10
Pemeriksaan stroma penderita kita lakukan dari belakang, kepala
penderita sedikit fleksi sehingga muskulus sternokleidomastoideus
relaksasi, dengan demikian tumor tiroid lebih mudah dievaluasi dengan
palpasi. Gunakan kedua tangan bersamaan dengan ibu jari posisi
ditengkuk penderita sedang ke-4 jari yang lain dari arah lateral
mengevaluasi tiroid serta mencari pole bawah kelenjar tiroid sewaktu
penderita disuruh menelan. Pada stroma yang besar dan masuk retrosternal
maka kita tidak bisa meraba trakea serta pole bawah tiroid. Kelenjar tiroid
yang normal teraba sebagai bentukan yang lunak dan ikut bergerak pada
waktu menelan.10
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan (1) adanya benjolan padat
pada tiroid; bisa mono-noduler atau multinoduler; benjolan kistik masih
belum menyisihkan karsinoma tiroid tipe papiler; (2) adanya pembesaran
KGB leher; (3) ada tidaknya keluhan dan tanda-tanda metastase jauh
benjolan pada kalvaria, tulang belakang, klavikula, sternum dan tanda-
tanda yang menunjukkan metastasis pada paru, serebral hati, dan lain-lain;
(4) kadang dijumpai Horner Syndrome, suatu sindrom yang terdiri dari
kelainan berupa masuknya bola mata, ptosis kelopak mata atas, kelopak
mata atas sedikit naik, kontraksi dari pupil, penyempitan dari fissura
palpebra, anhidrosis dan warna kemerahan di sisi wajah yang sakit,
disebabkan oleh paralisa saraf-saraf simpatis servikal, terutama pada
karsinoma tiroid tipe anaplastik.10,14

2.7.3 Pemeriksaan Penunjang


Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menunjang
diagnosis dari karsinoma tiroid adalah (1) pemeriksaan darah rutin; (2)
pemeriksaan fungsi tiroid, seperti FT3, FT4, dan TSH harus rutin
dilakukan, meskipun tidak spesifik untuk karsinoma tiroid; (3)
pemeriksaan foto polos leher dengan tekhnik jaringan lunak, dapat melihat

18
mikrokalsifikasi, infiltrasi/pendesakan jaringan sekitar; (4) pemeriksaan
histopatologi; Pemeriksaan jaringan pembedahan atau histopatologi
merupakan gold standard diagnosis karsinoma tiroid pascabedah. Biopsi
pada karsinoma tiroid yang operabel tidak dibenarkan. Biopsi hanya
dilakukan pada karsinoma yang in-operabel, seperti pada karsinoma
anaplastik.2,14
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan:
1. Pemeriksaan tiroglobulin sebagai turmor marker. Kegunaan
tiroglobulin sebagai alat diagnosis dan skrining tidak dianjurkan.
Tiroglobulin diperginakan sebagai monitor kekambuhan jika pada
pemeriksaan inisial meningkat.
2. Pemeriksaan fungsi tiroid, seperti FT3, FT4, dan TSH harus rutin
dilakukan, meskipun tidak spesifik untuk karsinoma tiroid.
3. Pemeriksaan kadar kalsitonin untuk mendiagnosis suatu karsinoma
tiroid tipe medulare. Sselain untuk diagnostik pemeriksaan kalsitonin
juga digunakan untuk skrining dengan atau Imaging terutama USG.
Pemeriksaan USG sangan bergantung pada operator. USG selain
dapat membedakan nodul solid, kistik atau kistik dengan
pertumbuhan papiler. USG sangat berguna untuk evaluasi post-
operatif untuk melihat masih adanya thyroid remnant, adanya nodul
yang terisa, ataupun pembesaran KGB leher. USG juga dapat
membantu menentukan ada tidaknya hipervaskuler seperti pada
hipertiroidisme
4. Pemeriksaan fto polos leher dengan tekhnik jaringan lunak, dapat
melihat mikrokalsifikasi, infiltrasi/pendesakan jaringan sekitar
5. Pemeriksaan dengan Biopsi Jarum Halus (FNBC (Fine Needle
Aspiration Biopsy)): merupakan pemeriksaan sitologi. Ketepatan
dari biopsi jarum halus bergantung pada beberapa hal, yaitu
ketepatan memilih nodul yang tepat, pembuatan slides yang baik dan
fiksasi yang tepat, kemampuan dan pengalaman ahli sitologi untuk
menginterpretasi slides yang diperiksa. Kelemahan dari pemeriksaan
sitologi adalah jika nodul yang diperiksa terdiri dari kista (cairan
diaspirasi habis, sisa diperiksa) dan untuk membedakan antara
adenoma dan karsinoma tipe folikuler, yang interpretasi keganasan

19
tidak tergantung dari morfologi sel/inti sel, tetapi pada infiltrasi
kapsel dan invasi ke dalam vaskuler yang hanya dilihat pada
pemeriksaan histopatologi. Pemeriksaan potong beku banyak
memberikan kontroversi tentang akurasinya dan kegunaannya, dan
pada kepustakaan tidak dianjurkan lagi
6. Pemeriksaan histopatologi; Pemeriksaan jaringan pembedahan atau
histopatologi merupakan gold standard diagnosis karsinoma tiroid
pascabedah. Biopsi pada karsinoma tiroid yang operabel tidak
dibenarkan. Biopsi hanya dilakukan pada karsinoma yang in-
operabel, seperti pada karsinoma anaplastik

2.8 Penatalaksanaan Karsinoma Tiroid


Secara umum penanganan nodul tiroid meliputi observasi, operasi,
radiasi ekstrena, radiasi interna dan terapi hormonal. Menurut protokol
PERABOI 2010,14 pertama-tama dilakukan pemeriksaan klinis untuk
menentukan apakah nodul tiroid tersebut suspek maligna atau benigna. Bila
nodul suspek maligna dibedakan operable atau inoperable. Bila kasus yang
dihadapi inoperabel maka dilakukan tindakan biopsi insisi dengan
pemeriksaan histopatologi secara blok parafin. Dilanjutkan dengan tindakan
debulking dan radiasi eksterna atau kemoradioterapi. Bila nodul tiroid
suspek maligna tersebut operabel dilakukan tindakan isthmolobektomi dan
pemeriksaan potong beku (VC). Ada 5 kemungkinan hasil yang didapat dari
VC :
1. Lesi jinak: maka tindakan operasi selesai dilanjutkan dengan observasi
2. PTC: Dibedakan atas risiko tinggi dan risiko rendah berdasarkan
klasifikasi AMES. Bila risiko rendah tindakan operasi selesai dilanjutkan
dengan observasi. Bila risiko tinggi dilakukan tindakan tiroidektomi
total.
3. FTC: Dilakukan tindakan tiroidektomi total
4. MTC: Dilakukan tindakan tiroidektomi total
5. ATC: Bila memungkinkan dilakukan tindakan tiroidektomi total. Bila
tidak memungkinkan, cukup dilakukan tindakan debulking dilanjutkan
dengan radiasi eksterna atau kemoradioterapi.
Bila nodul tiroid secara klinis suspek benigna dilakukan tindakan fine
needle aspiration biopsy ada dua kelompok hasil yang mungkin didapat
yaitu:3

20
1. Hasil FNAB suspek maligna, foliculare Pattern dan Hurthle Cell:
Dilakukan tindakan isthmolobektomi dengan pemeriksaan potong beku
seperti di atas.
2. Hasil FNAB benigna: Dilakukan terapi supresi TSH dengan tablet
Thyrax selama 6 bulan kemudian dievaluasi, bila nodul tersebut
mengecil diikuti dengan tindakan observasi dan apabila nodul tersebut
tidak ada perubahan atau bertambah besar sebaiknya dilakukan tindakan
isthmolobektomi dengan pemeriksaan potong beku seperti diatas.

Tabel 3. Penatalaksanaan Karsinoma Tiroid


Stadium I dan II Papillary dan Follicuar Thyroid Cancer
Total thyroidectomy (tumor 1 cm)
Lobectomy (tumor <1 cm)
Stage III papillary dan follicular thyroid cancer
Total thyroidectomy ditambah pengangkatan kelenjar getah
bening yang terlibat atau bagian ekstratiroid yang terlibat
131
Ablasi dengan menggunakan I setelah total thyroidectomy jika
tumor menunjukan penyerapan yang baik dengan isotope ini
Terapi radiasi sinar eksternal jika penyerapan 131I
Stage IV papillary dan follicular thyroid cancer
131
I: bila metastase dari tumor menunjukkan penyerapan yang baik
dengan isotope ini
Terapi radiasi eksternal untuk pasien dengan lesi local yang tidak
respon dengan 131I
Reseksi metastase terbatas, terutama metastase yang disertai
gejala, harus dipertimbangkan bahwa tumor tidak menyerap 131I
Supresi Thyroid-stimulating hormone dengan tiroksis juga efektif
pada banyak lesi yang tidak sensitive terhadap131I
Anaplastic thyroid cancer
Terapi radiasi eksternal apabila tidak bisa dilakukan operasi
Chemotherapy: doxorubicin plus cisplatin sebagai sensitisasi
radiasi dan tidak respon terhadap 131I

21
Gambar 2.7 Bagan penatalaksaan nodul tirioid jika ada fasilitas VC

Apabila karsinoma tiroid telah mencapai metastasis regional maka


dipastikan terlebih dahulu apakah kasus yang dihadapi operabel atau
inoperabel. Bila inoperabel tindakan yang dipilih adalah dengan radioterapi
eksterna atau dengan kemoradioterapi dengan memakai Adriamicin. Dosis
50-60mg/m2 luas permukaan tubuh (LPT). Bila kasus tersebut operabel
dilakukan penilaian infiltrasi kelenjar getah bening terhadap jaringan
sekitar. Bila tidak ada infiltrasi dilakukan tiroidektomi total (TT) dan

22
Functional Radical Neck Dissection (RND). Bila ada infiltrasi pada
n.Ascesorius dilakukan TT + RND standar. Bila ada infiltrasi pada vena
Jugularis interna tanpa infiltrasi pada n. Ascesorius dilakukan TT + RND
modifikasi 1. Bila ada infiltrasi hanya pada m. Sternocleidomastoideus
dilakukan TT + RND modifikasi.3

Penatalaksanaan karsinoma tiroid dengan metastasis jauh harus


dibedakan terlebih dahulu apakah kasus yang dihadapi berdiferensiasi baik
atau buruk. Bila berdiferensiasi buruk dilakukan kemoterapi dengan
adriamicin. Bila berdiferensiasi baik dilakukan TT + radiasi interna dengan
I131 kemudian dinilai dengan sidik seluruh tubuh, bila respon (+) dilanjutkan
dengan terapi supresi atau subtitusi.3

Syarat untuk melakukan radiasi interna adalah tidak boleh ada jaringan
tiroid normal yang akan bersaing dalam afinitas terhadap jaringan radioaktif.
Ablatio jaringan tiroid itu bisa dilakukan dengan pembedahan atau
radioablatio dengan jaringan radioaktif. Bila respon (-) diberikan
kemoterapi adriamicin. Pada lesi metastasisnya, bila operabel dilakukan
eksisi luas.3

2.9 Prognosis Karsinoma Tiroid


PTC dan FTC dikenal sebagai karsinoma berdiferensiasi baik dan
umumnya memiliki prognosis yang baik tapi pada proporsi tertentu
mengalami rekurensi. Beberapa scoring atau staging telah digunakan untuk
membedakan low risk atau high risk dari rekurensi tersebut. Klasifikasi
staging yang sering dipakai adalah AMES, AGES, dan MACIS.4
2.9.1 AGES
Pronosis berdasarkan usia, histologic grade tumor, penyebaran tumor baik
invasi ekstrapiramidal atau metastasis jauh, dan ukuran dari tumor.
Skor prognosis: 0,05 x usia (jika usia 40 tahun):
+1 jika grade 2
+3 jika grade 3 atau 4
+1 jika invasi ke ekstratiroidal
+3 jika metastasis jauh
+ 0,2 x diameter maksismal tumor (cm)
Angka harapan hidup 20 tahun
3,99 = 99%

23
4-4.99 = 80%
5-5.99 = 67%
6 = 13%

2.9.2 MACIS
Berdasarkan metastasis, usia, reseksi komplit, invasi lokal, dan ukuran
tumor.
Skor: 3,1 (jika usia <40 tahun) atau 0,08 x usia (jika usia 40
tahun)
+0,3 x diameter maksimum tumor (cm)
+1 jika direseksi tidak sempurna
+1 invasi lokal
+3 metastasis jauh
Angka harapan hidup 20 tahun
<6 = 99%
6-6.99 = 89%
7-7.99 = 56%
8 = 24%

2.9.3 AMES
Berdasarkan usia, metastasis, penyebaran, dan ukuran tumor primer.
Resiko rendah (Angka harapan hidup 99%): pasien dengan usia 50
tahun tanpa metastasis, pasien yang lebih tua dengan intrathyroid
papillary, minor capsular invasion for follicular lesions, ukuran tumor
primer <5 cm, tidak ada metastasis jauh.
Resiko tinggi (Angka harapan hidup 61%): semua pasien dengan
metastasis jauh, invasi ekstratiroid, invasi kapsular mayor, ukuran tumor
5 cm pada pasien tua (laki-laki >40 tahun, wanita >50 tahun)

24
BAB III
KESIMPULAN

Karsinoma tiroid merupakan salah satu kanker organ kelenjar endokrin


yang paling sering ditemui. Menurut National Cancer Institute pada tahun 2016,
karsinoma tiroid menempati urutan ke delapan dan terjadi 3 kali lebih banyak
pada wanita daripada laki-laki. Riwayat paparan radiasi, riwayat keluarga, dan
pola hidup dapat mempengaruhi munculnya karsinoma tiroid.Telah diketahui
bahwa terdapat sekitar 90% karsinoma tiroid merupakan kanker yang
berdiferensiasi baik, 5-9% merupakan medular, 1-2% anaplastik, 1-3% limfoma,
dan <1% merupakan sarcoma atau tumor lain yang jarang terjadi.
Meskipun pertumbuhan tumor tergolong lambat, sebagian kecil tumor
tumbuh lebih cepat dan sangat ganas dengan prognosis yang fatal. Seringkali
karsinoma tiroid terdiagnosis pada usia tua dengan derajat keganasan yang tinggi.
Mortalitas akibat kanker tiroid kecil dan prognosis pada penderita kanker tiroid
relatif baik, tetapi menegakkan diagnosis keganasan tiroid menjadi tantangan
tersendiri karena banyak kelainan atau nodul tiroid yang lain tetapi bukan suatu
karsinoma.
Penegakkan diagnosis pada karsinoma tiroid dapat melalui anamnesis,
pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang seperti histopatologi, FNAB, dan
laboratorium. Penegakan diagnosis lebih awal dapat meningkatkan kualitas hidup
penderita. PTC dan FTC dikenal sebagai karsinoma berdiferensiasi baik dan
umumnya memiliki prognosis yang baik.

25