Anda di halaman 1dari 4

PENCEGAHAN PENYAKIT

Pencegahan penyakit merupakan upaya menghalangi perkembangan penyakit


dan kesakitan agar tidak mencapai tahap lanjut yang lebih buruk. Perkembangan
penyakit diketahui melalui riwayat alamiah penyakit, artinya dengan mengetahui
perjalanan penyakit dari waktu ke waktu serta perubahan yang terjadi disetiap
masa/fase tersebut, dapat dipikirkan upaya-upaya pencegahan apa yang sesuai. Upaya
pencegahan yang dilakukan akan sesuai dengan perkembangan patologis penyakit
tersebut dari waktu ke waktu, sehingga upaya pencegahan itu dibagi atas berbagai
tingkat seseuai dengan perjalanan penyakit.

Kemungkinan suatu penyakit dapat dicegah sehingga tidak mengganggu


kesehatan masyarakat, besarnya sangat terbatas. Antara lain tergantung pada riwayat
almiah penyakit yang ingin dicegah, kedalaman pengetahuan dan kemajuan teknologi
kedokteran. Terdapat penyakit yang relatif dapat mudah dicegah dan sebaliknya
terdapat penyakit yang sulit bahkan tidak dapat dicegah.

Pengetahuan tentang besarnya kemungkinan pencegahan penyakit akan sangat


bermanfaat dalam menentukan pilihan prioritas penyakit yang akan diberantas.
Penyakit yang sepenuhnya dicegah misalnya polio, mendapat prioritas utama untuk
diberantas. Walaupun semua penyakit adalah masalah kesehatan yang penting, pilihan
memang selalu harus dilakukan. Penyakit yang lebih mudah dicegah, mudah menular
dan mengenai banyak populasi tentu akan didahulukan.

Pendekatan atau strategi pencegahan dibagi dalam bentuk pendekatan


populasi dan pendekatan individual berdasarkan kelompok risiko tinggi. Pendekatan
populasi melakukan penekanan pencegahan penyakit berdasarkan banyaknya
penduduk yang terpapar. Sedangkan pendekatan risiko tinggi, menekankan
pentingnya pencegahan berdasarkan kelompok yang berisiko tinggi. Antara kedua
pendekatan ini, secara umum masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Variasi pilihan akan banyak ditentukan oleh keadaan masing-masing penyakit.

Tahapan Pencegahan Penyakit

Tahapan pencegahan penyakit meliputi 4 tahap, yaitu :

1. Tahap primordial

Tujuan dari tahapan ini adalah untuk menghindari kemunculan dan kemapanan di
bidang sosial, ekonomi, dan pola kehidupan yang diketahui mempunyai kontribusi
untuk meingkatkan risiko penyakit. Upaya ini sesuai dengan masalah penyakit tidak
menular yang saat ini cenderung menunjukkan peningkatan. Contohnya adalah :
a. Adanya peraturan pemerintah tentang larangan merokok di tempat-tempat umum

b. Adanya aturan tentang gizi

c. Impor dan ekspor makanan

d. Penanganan komprehensif rokok

e. Pencegahan hipertensi dan promosi aktivitas fisik/olahraga

Pencegahan awal ini diarahkan untuk mempertahankan kondis dasar atau status
kesehatan masyarakat yang bersifat positif yang dapat mengurangi kemungkinan
suatu penyakit atau faktor risiko yang dapat berkembanga atau memberikan efek
patologis. Upaya pimordial adalah mempertahankan kondisi kesehatan yang positif
yang dapat melindungi masyarakat dari gangguan kondisi kesehatan yang sudah baik.

2. Pencegahan Primer

Pencegahan primer merupakan segala kegiatan yang dapat menghentikan kejadian


suatu penyakit atau gangguan kesehatan sebelum hal itu terjadi. Tujuan pencegahan
primer adalah untuk mengurangi insidensi penyakit dengan cara mengendalikan
penyebab-penyebab penyakit dan faktor risikonya. Pencegahan ini meliputi tiga
aspek, yaitu :

a. Promosi kesehatan

b. Pendidikan kesehatan

c. Perlindungan kesehatan

Pencegahan primer dilakukan dengan dua cara yaitu

a. Menjauhkan agen untuk dapat kontak atau memampar pejamu

b. Menurunkan kepekaan pejamu (host susceptibility)

Intervensi ini dilakukan sebelum perubahan patologis terjadi (fase prepatogenesis).


Jika suatu penyakit lolos dari pencegahan primordial, maka giliran pencegahan
tingkat pertama ini dilakukan. Apabila penyebab penyakit dapat lolos dari upaya
pencegahan, maka penyakit akan timbul yang secara epidemiologi tercipta sebagai
suatu penyakit yang endemis atau yang lebih berbahaya, apanila timbul dalam bentuk
Kejadian Luar Biasa).
Contohnya adalah pengurangan polusi udara di perkotaan dengan pengukuran sulfur
dioksida dan emisi-emisi lainnya yang berasal dari mobil dan industri. Penggunaan
kondom untuk pencegahan infeksi HIV.

3. Pencegahan Sekunder

Pencegahan ini lebih ditujukan untuk mengobati para penderita dan mengurangi
akibat-akibat yang lebih serius dari penyakit melalui diagnosis dini dan pemberian
pengobatan. Program skrining sering dilakukan pada program kesehatan. Pencegahan
sekunder merupakan metode efektif untuk melakukan intervensi, karena deteksi yang
dilakukan masih dalam periode dini (tahap pra klinik). Contohnya : skrining
hipertensi dan pengobatan hipertensi pada usia lanjut.

Bentuk utama pencegahan tingkat kedua (sekunder) adalah penyaringan atau


screening. Dengan skrining diharapkan dapat dideteksi indikator fisiologi awal (early
psuyhological indicator) yang ada sebelum orang menunjukkan keluhannya. Contoh
skrining aalah papsmear untuk kanker serviks, tes pendengaran untuk kerusakan
ketulian, skin test untuk tuberkulin, VDRR untuk sifilis dan vhenylalanine test untuk
thenylketonuria (PKU) retardasi mental.

4. Pencegahan Tersier

Pencegahan tersier merupakan pembatasan terhadap segala ketidakmampuan dengan


menyediakan rehabilitasi saat penyakit, cidera, atau ketidakmampuan sudah terjadi
dan menimbulkan kerusakan. Pencegahan tersier bertujuan untuk mengurangi
komplikasi penyakit yang sudah terjadi. Sasaran pencegahan tersier adalah membantu
mereka yang terkena penyakit dan mengalami cidera atau ketidakmampuan untuk
menghindari penggunaan yang tidak bermanfaat dari pelayanan kesehatan agar tidak
terjadi ketergantungan kepada praktisi kesehatan dan instistusi pelayanan kesehatan.

Rehabilitasi merupakan upaya yang dlakukan untuk memulihkan seseorang yang


sakit sehingga menjadi manusia yang lebih berdaya guna, produktif dn memberikan
kualitas hidup sebaik mungkin. Misalnya rehabilitasi luka-luka, terapi latihan untuk
mempertahankan kondisi otot, pergerakan, dan mencegah kontraktor bagi penderita
paralise akibat stroke.

Daftar Pustaka :

Adnani, Hariza. 2010. Prinsip Dasar Epidemiologi. Jogyakarta: Nuha Medika.

Bustan, MN. 2006. Pengantar Epidemiologi. Jakarta : Asdi Mahasatya