Anda di halaman 1dari 9

ILMU PERILAKU

Perilaku adalah aktivitas organisme atau makhluk hidup. Perilaku merupakan respon atau reaksi terhadap
stimulus.

Stimulus - organism respon

Jenis respon

1. Respondent respons (Reflexive respons)


Yaitu respon yang ditimbulkan oleh stimulus tertertu yang disebut ecliting stimuli karena menimbulkan respon
yang relative tetap

2. Operant respon
Respon yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimuli lain (Reinforcing stimuli/reinforce)

Jenis Perilaku
1. Perilaku tertutup (covert behavior)
Terjadi bila respon terhadap stimulus tersebut masih belum dapat diamati orang lain secara jelas. Covert
behavior dapat diukur : pengetahuan, sikap

2. Perilaku terbuka (overt behavior)


Terjadi bila respon terhadap stimulus tersebut sudah berupa tindakan yang dapat diamati oleh orang lain.

Ilmu-ilmu Dasar Perilaku


Perilaku terbentuk dari 2 faktor :
1. Stimulus (eksternal)
Lingkungan fisik, sosial, budaya

2. Respons (internal)
Perhatian, pengamatan, motivasi, persepsi, intelegensi, fantasi. Respon seseorang terhadap stimulus yang
berhubungan dengan sehat, sakit, penyakit dan faktor-faktor yang mempengaruhi sekahat sakit

BATASAN ILMU PERILAKU


Ilmu perilaku adalah suatu ilmu multidispliner. Maksudnya pengkajian ilmu perilaku itu menyangkut banyak
aspek yang dikaji/ditinjau dari berbagai macam ilmu. Hal ini wajar karena perilaku merupakan refleksi dari
berbagai macam aspek, baik fisik maupun non fisik. Setidaknya ada tiga kelompok ilmu yang mempelajari
perilaku, yaitu ilmu social, antropologi dan psikologi. Objek atau sasaran ilmu perilaku adalah perilaku manusia
(human behavior).

Pengertian perilaku menurut Soekidjo & Sarwono, dapat dibatasi sebagai keadaan jiwa (berpendapat, berpikir,
bersikap, berpersepsi, dll) untuk memberikan responsi terhadap situasi di luar subjek tersebut. Respon ini dapat
bersikap pasif (tanpa tindakan) dan dapat bersifat aktif (tanpa tindakan). Bentuk operasionalisasi dari perilaku
dikelompokkan menjadi 3 jenis: 1) Perilaku dalam bentuk Pengetahuan, yakni dengan mengetahui situasi atau
rangsangan dari luar; 2) Perilaku dalam bentuk Sikap, yakni tanggapan bathin terhadap keadaan atau
rangsangan dari luar diri si subjek; 3) Perilaku dalam bentuk tindakan yang sudah konkret, berupa perbuatan
(action) terhadap situasi dan atau rangsangan dari luar.

Ahli psikologi social Sears, at.al, (1985), mengemukakan empat pendekatan dalam memahami proses
terbentuknya perilaku social, yaitu: 1) Pendekatan Biologis, yang melihat perilaku sebagai karakteristik bawaan
atau mekanisme fisiologis, 2) Pendekatan Belajar, yang melihat perilaku sebagai refleksi dari apa yang pernah
dipelajari seseorang di masa lalu, 3) pendekatan insentif, yang melihat perilaku sebagai upaya untuk
mendapatkan keuntungan dan memperkecil kerugian, 4) Pendekatan Kognitif, yang melihat perilaku sebagai
sesuatu yang terutama ditentukan oleh persepsi seseorang terhadap situasi social di sekitarnya.

Ahli antropologi Suparlan (1986), melihat terbentuknya perilaku individu sebagai totalitas atau resultan dari tiga
buah komponen internal diri manusia yang secara bersama-sama membentuk perilaku manusia, yaitu: 1)
adanya kebutuhan individu pada saat tertentu; 2) adanya upaya individu untuk memenuhi kebutuhan tersebut; 3)
adanya pengethauan kebudayaan yang dimiliki individu sebagai warga negara/masyarakat, yang diperoleh
melalui proses belajar dari lingkungannya sejak ia dilahirkan, kemudian secara selektif dipergunakannya sebagai
kerangka rujukan untuk menginterprestasikan suatu objek, secara selektif pula dijadikannya acuan untuk
bertindak sesuatu terhadap objek tersebut.

Menurut ahli pendidikan, perilaku adalah proses belajar yang menyakitkan, yang mengandung motif atau minat
tertentu. Sementara Fishbein & Ajzen (1975), mengemukakan seseorang mempunyai minat untuk berperilaku,
tercermin dari hasil analisis sikap dan norma subjektifnya terhadap objek tertentu. Sikap sebagai awal
berperilaku belum merupakan tindakan nyata, tetapi merupakan kecendrungan untuk berperilaku.Berdasarkan
uraain singkat di atas, penulis mengilustrasikan proses terbentuknya perilaku individu dalam seperti dibawah ini:

Proses Pembentukan Perilaku


Unsur-Unsur Pembentuk Perilaku
Perilaku seseorang terbentuk melalui dari berbagai unsure-unsur yang bersifat alamiah maupun bersifat
non alamiah. Secara skematis unsure-unsur pembentuk perilaku dapat dilihat:

Unsur-Unsur Pembentuk Perilaku

Konsep Perubahan Perilaku dan Determinannya


Skinner, mengemukakan bahwa perilaku adalah merupakan hasil hubungan antara
peransang (stimulus) dan tanggapan (respon). Secara operasional perilaku diartikan sebagai
suatu respon seseorang terhadap rangsangan (stimlus) dari luar subjek.
Menurut Bloom, membagi perilaku manusia kedalam 3 domain (ranah) yaitu ranah kognitif, ranah
afektif dan ranah psikomotor. Ketiga ranah tersebut diukur melalui : pengetahuan (knowledge)
sikap/tanggapan (attitude) dan praktek (practical).

1. Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu yang terjadi setelah seseorang malakukan
penginderaan terhadap objek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting
untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan merupkan domain yang sangat penting
untuk terbentuknya tindakan seseorang.
Menurut Rogers bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru) di dalam diri
orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yaitu :
a. Awarenes (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih
dahulu terhadap stimulus.
b. Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut.
c. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya.
d. Trial, subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh
stimulus.
e. Adaption, subjek telah berperilaku sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya
terhadap stimulus

Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat yaitu:


a. Tahu (know) artinya mengingat kembali suatu materi (Recall) yang telah dipelajari.
b. Memahami (comprehension) artinya kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang
diketahui.
c. Aplikasi adalah kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi
sebenarnya.
d. Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek kedalam komponen-
komponen yang masih dalam suatu struktur organisasi.
e. Sintesis adalah kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang
sudah ada.
f. Evaluasi adalah kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek.
Pengetahuan dapat diukur dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi
yang ingin diukur.

2. Sikap
Menurut Likert (Azwar, 1995) sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan seseorang
terhadap satu objek perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak
mendukung atau tidak memihak (unfavorable).
Menurut Notoatmodjo orang mau menerima dan memperhatikan tingkatan, antara lain:
a. Menerima artinya orang mau menerima dan memperhatikan stimulus yang diberikan objek.
b. Merespon artinya memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas
adalah suatu indikasi dari sikap.
c. Menghargai artinya mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang
lain suatu masalah.
d. Bertanggungjawab adalah bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan
segala resiko.
Pengukuran sikap dilakukan dengan cara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat
ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek (sangat setuju,
tidak setuju, sangat tidak setuju)

3. Praktek atau Tindakan


Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung yang
memungkinkan, antara lain fasilitas dan dukungan (support). Praktek meliputi beberapa tingkat
antara lain :
a. Persepsi adalah mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang
akan diambil.
b. Respon terpimpin yaitu dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar.
c. Mekanisme yaitu apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara
otomatis dan sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan.
d. Adaptasi adalah suatu praktek yang sudah berkembang dengan baik, artinya tindakan itu
sudah dimodifikasi sendiri tanpa mengurangi kebenaran.

Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara langsung yaitu dengan mengobservasi tindakan
atau kegiatn responden, atau secara tak langsung dengan wawancara terhadap kegiatan-
kegiatan yang telah dilakukan (Recall).

Faktor-Faktor Perubahan Perilaku


Ajzen dan Fishbein (1980) dalam Teori Behavioral Intention theory atau Theory of reasoned Action, yang
menghubungkan antara keyakinan (beliefs),sikap(attitude),kehendak/intensi (intention), dan perilaku seseorang.
Menyatakan bahwa intensi merupakan prediktor terbaik dari perilaku, dan Sikap merupakan hasil pertimbangan
untung dan rugi dari perilaku tersebut(outcomes of the behavior). Disamping itu seseorang juga
mempertimbangkan pentingnya konsekuensi-konsekuensi yang akan terjadi bagi individu (evaluation regarding
the outcome). Norma sosial mengacu pada keyakinan seseorang terhadap bagaimana dan apa yang dipikirkan
orang-orang yang dianggapnya penting(referent persons) dan motivasi seseorang untuk mengikuti pikiran
tersebut.

Menurut Mantra (1997), Perilaku ialah respon individu terhadap stimulasi, baik yang berasal dari luar maupun
dari dalam dirinya. Perubahan perilaku perlu waktu yang lama dan diperlukan rangsangan untuk merubah
perilaku. Rangsangan tersebut meliputi: rangsangan fisik, rangsangan rasional, rangsangan emosional,
ketrampilan, jaringan perorangan dan keluarga (Family and personal Network), struktur sosial, biaya ekonomi
dan sosial serta perilaku yang bersaing.

Menurut Ewles dan Simnett (1994), promosi kesehatan adalah proses membuat orang mampu meningkatkan
kontrol terhadap, dan memperbaiki, kesehatan mereka.

Menurut Depkesos (2000), promosi kesehatan adalah upaya pemberdayaan lingkungannya. Memberdayakan
adalah upaya untuk membangun daya atau mengembangkan kemandirian, yang dilakukan dengan
menimbulkan kesadaran, kemauan dan kemampuan, serta dengan mengembangkan iklim yang mendukung
kemandirian tersebut. Istilah dan pengertian promosi kesehatan merupakan pengembangan dan rangkuman dari
Pendidikan kesehatan, penyuluhan kesehatan, komunikasi, informasi dan edukasi.

Promosi kesehatan adalah proses memberdayakan/memandirikan masyarakat untuk memelihara, meningkatkan


dan melindungi kesehatannya melalui peningkatan kesadaran, kemauan dan kemampuan, serta pengembangan
lingkungan sehat,

Konsep perubahan perilaku menurut L. Green, menyatakan bahawa perilaku seseorang akan berubahan dapat
diupayakan melalui usaha-usaha pendidikan kesehatan (health education) dan atau promosi kesehatan.
Sedangkan keberhasilan pendidikan kesehatan dan atau promosi kesehatan menurutnya, antara lain
dipengaruhi oleh faktor pendukung (predisposing), meliputi aspek pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi,
paraktek dan kebiasaan, dan dipengaruhi oleh faktor pemudah (enabling), seperti potensi sumber daya
masyarakat, keterjangkuan, tersedianya fasilitas kesehatan, dll, serta faktor pendukung (reinforcing), seperti
sikap & perilaku petugas kesehatan, dukungan toma, saran keluarga, teman dan bantuan masyarakat.
Implikasi Perilaku Individu

Perilaku seseorang menurut Kurt Lewin, harus dilihat dalam konteksnya, artinya dalm situasi dan kondisi apa
perilaku itu terjadi. Perhatian pada dua konteks ini penting, karena perilaku manusia bukan sekedar respons
terhadap stimulan yang diterimanya saja, akan tetapi merupakan produk akhir atau resultan dari berbagai gaya
yang mempengaruhinya secara spontan. Lein menyebut gaya-gaya tersebut sebagai ruang hayat (life space),
yang terdiri dari semua tujuan, serta semua factor yang disadarinya dan kesadaran dirinya sendiri.
Meminjam istilah dalam matematika, Lewin menjelaskan bahwa perilaku seseorang merupakan fungsi dari
kepribadian dan pengaruh lingkungan disekitarnya, yang kemudian di formulasikan dalm bentuk rumus, seperti
berikut ini:

B=Behavior, P=Personal, E=Environtment

Perilaku seseorang, pada saat tertentu, merupakan totalitas dari interaksi antara factor personal, yaitu unsure
internal yang ada dalam dirinya, seperti nilai-nilai yang diyakininya, tingkat kecerdasan dan sebagainya, dengan
factor lingkungan, yaitu unsure eksternal, yang secara psikologis mempengaruhi dirinya, seperti adat-istiadat dan
norma-norma yang berlaku di masyarakat dan tata ruang lingkungannya (Rahmat, 1986). Apabila sejumlah
individu membawa perilaku dan masing-masing kepribadiannya ke dalam kelompok, maka akan terjadi proses
interaksi sedemikian rupa, sehingga menghasilkan suatu totalitas kelompok yang mirip medan magnet dalam
ilmu fisika.

Selanjutnya menurut Lewin ada tiga bentuk kekuatan yang berpengaruh dalam sebuah medan, yang berasal
dari seorang aktor, yaitu appreciation, influence dan control (AIC). Ketiga kekuatan tersebut sekaligus
mempunyai aktor/individu yang saling berinteraksi dan saling mempengaruhi satu sama lain, menghasilkan
suatu totalitas atau resultante gaya, yang realitanya tergambar sebagai perilaku kelompok secara keseluruhan.
Perilaku individu dalam akan terwujud dalam di lingkungan kelompoknya, dalam bentuk:

1. Apreciation (penghargaan): merupakan kekuatan yang bersumber dari hubungan penghargaan dari seorang
aktor terhadap lingkungan disekitarnya, terhadap individu yang berpengaruh terhadap tujuannya.
2. Influence (pengaruh): merupakan kekuatan yang bersumber dari adanya pengaruh yang diberikan oleh
seorang aktor terhadap lingkungannya.
3. Controll (kontrol): merupakan kekuatan yang bersumber pada kemampuan seseorang aktor untuk mengontrol
dan mengendalikan segenap potensi diri dan seluruh sumber daya yang dimilikinya.

Dengan demikian setiap individu dalam kelompok akan memiliki tanggung jawab: 1) kepada dirinya sendiri,
berupa daya kontrol, dimana ia bias melakukan pilihan, membuat rencana, melakukan refleksi, serta melakukan
tindakan melalui sumber daya yang dimilikinya, 2) kepada individu lain disekitarnya berupa daya pengaruh,
melalui suatu bentuk dialog, menyusun strategi dan kebijaksanaan tertentu, 3) kepada kelompok atau
lingkungannya berupa daya apresiasi. Kekuatan-kekuatan tersebutlah yang merupakan wujud perilaku individu
dalam konteks fungsi perilaku kelompok, yang secara mekanistis membentuk dinamika kelompok.
Wujud perilaku individu di atas sangat dipengaruhi juga oleh karakteristik individu, seperti : 1) Persepsi; 2)
Motivasi; 3) Gaya Belajar; dan 4) Inventarisasi Gaya Kepribadian

Dalam konteks kesehatan, implikasi perilaku individu akan secara jelas tergambar pada perilaku dirinya dalam
memahami dan mempersepsikan perilaku sehat sebagai bagian dari perilaku hidupnya. Perilaku sehat individu
dapat berupa persepsi, pengetahuan, sikap, motivasi, kepedulian, dan perilaku/tindakan kaitannya dengan gaya
hidup sehat, seperti personal hygiene, kebiasaan makan, istirahat, olah raga, bekerja, beraktualisasi social,
mencari pengalaman baru, beribadat dan lain sebagainya. Perilaku-perilaku sehat individu akan
dimanifestasikan dalam perilaku sehat kelompok, dalam rangka mencapai tujuan sehat dirinya dan kelompok.

Implikasi Perilaku Kelompok

Meskipun pakar sosilogi membedakan antara istilah kerumunan (crowding) dengan kelompok (grouping), namun
pakar dinamika kelompok tidak terlalu peduli dengan perbedaan tersebut, seperti definisi Brodbeck & Lewin
(1958): kelompok adalah individu-individu yang mempunyai hubungan-hubungan tertentu, yang membuat
mereka saling ketergantungan satu sama lain dalam ukuran-ukuran yang bermakna.

Malkolm and Knowles (1975), kualifikasi perilaku berkelompok:


1. Keanggotaan yang jelas, teridentifikasi melalui nama atau identifikasi lainnya.
2. Adanya kesadaran kelompok, dimana semua sadar dan berpersepsi mereka adalah bagian dari kelompok dan
sementara di luar mereka adalah bukan kelompoknya.
3. Suatu perasaan adanya kesamaan tujuan
4. Saling ketergantungan dalam upaya pemenuhan kebutuhan-kebutuhan kelompok dan individu
5. Terjadinya interaksi, berkomunikasi dan mempengaruhi dalam melakukan aktifitasnya.
6. Kemampuan untuk berperilaku dengan cara tertentu yang telah disepakati kelompok.

Manusia sebagai individu membutuhkan kelompok untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, karena ia adalah
mahluk individu sekaligus mahluk social. Untuk memenuhi kebutuhannya, manusia melakukan berbagai upaya.
Upaya tersebut selalu berpedoman kepada pengetahuan kebudayaan yang dimiliki dan digunakannya untuk
mempersepsikan suatu objek yang dihadapinya, dan disertai dengan harapan-harapan teretntu kepada objek,
kemudian bertindak sesuatu atau berperilaku terhadap objeknya atas dasar kesepakatan kelompok.
Secara mekanistis, kelompok bisa terbentuk melalui kedekatan (proximity) dan daya tarik (atraction) tertentu.
Selain itu adanya kesamaan tujuan dan alasan ekonomi dapat pula sebagai alasan mengapa ia berperilaku
dalam kelompok (Gibson, at.al, 1992). Meskipun manusia secara individual mempunyai perbedaan kebutuhan,
namun sesungguhnya amnusia memiliki sifat konformitas, kemauan untuk menyesuaikan diri terhadap apa yang
diinginkan orang lain, meskipun ia sebenarnya tidak ingin berperilaku demikian. Sifat konformitas ini didasarkan
atas rasa takut dicela dari lingkungan kelompoknya.

Bagaimana sekumpulan individu yang semula berbeda, belum saling mengenal, kemudian menjadi sebuah
kelompok yang solid dan kohesif, jawabannya adalah adanya rasa saling percaya (trust) diantara mereka.
Namun demikian, sekohesif atau sesolid apapun kelompok, kemungkinan terjadi perpecahan kelompok,
merupakan fenomena yang menarik dalam perilaku kelompok.

Dalam konteks implikasi perilaku kelompok terhadap kesehatan, pada dasarnya perilaku kelompok mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap terjadinya status kesehatan masyarakat. Perilaku sebagai salah satu faktor
yang mempengaruhi kesehatan menurut HL. Blum, selain lingkungan, pelayanan kesehatan dan keturunan,
merupakan realitas yang sudah terbukti. Demikian pula pada perilaku kelompok, efek pengaruhnya justru
semakin besar terhadap status kesehatan, karena perilaku sehat kelompok merupakan sekumpulan individu
yang sepaham dan sepakat untuk bertindak terhadap sesuatu terhadap objek kesehatan.
Perilaku kelompok dalam kaitannya dengan perilaku sehat, dapat dikelompokkan menjadi: 1) perilaku sehat
kelompok temporer, yaitu perilaku dari sekelompok orang terhadap objek kesehatan yang bersifat sementara,
dimana bila tujuan kelompok telah tercapai, maka kelompok tersebut membubarkan diri, contoh kelompok ibu
hamil yang mengikuti senam hamil atau mengikuti tabulin, JPKM dan lainnya 2) perilaku sehat kelompok
permanent, yaitu perilaku kelompok terhadap objek kesehatan yang bersifat abadi sesuai dengan kesepakatan
atau komitment-nya, sampai tujuannya tercapai. Contohnya keluarga sehat, dimana satu keluarga besar (nuclear
family) terdiri dari Kakek, Nenek, Bapak, Ibu dan anak-anaknya bersepakat untuk hidup bersih dan sehat.
Akan tetapi pada kenyataannya, sesungguhnya tidak ada satupun di dunia ini yang permanent, sehingga sering
pula kelompok kecil seperti RT pun bisa pecah. Kekompakan maupun keberantakan kelompok sangat
dipengaruhi oleh: 1) kepemimpinan yang ada di kelompok, 2) kecocokan anggota-anggotanya, 3) besar kecilnya
perhatian anggota terhadap proses yang terjadi dalam kelompok (Malcolm-Konwles, 1975).
Perilaku kelompok merupakan suatu kehidupan yang sangat kompleks dan rumit, seperti halnya manusia,
mempunyai proses pertumbuhan, yaitu: tahap bayi, tahap kekanak-kanakan dan tahap dewasa. Dalam setiap
tahapan tersebut perlu diperhatikan dimensi perilakunya, diemnsi tugas atau hasilnya, dimensi hubungan pribadi
dan dimensi kepemimpinannya. Masing-masing dimensi berimplikasi terhadap perilaku sehat dan kesehatannya
masing-masing anggota kelompok.

Menurut Tuckman at.al (1982) fase pertumbuhan kelompok adalah sebagai berikut:

Implikasi Perilaku Massa

Individu-individu yang mempunyai minat yang sama dan merasa saling memiliki membentuk sebuah masyarakat
dan individu-individu yang mempunyai ikatan emosional dan ikatan primordial yang sama akan membentuk
massa. Di masyarakat orang biasanya mempunyai norma yang sama, sejarah yang sama (atau latar belakang)
dan menerima bentuk perilaku tertentu dari sekumpulan individu-individu sebagai bentuk perilaku yang normal
bagi semua anggota masyarakat. Perilaku-perilaku dari sekumpulan individu tersebut pada mulanya hanya
menjadi perilaku kelompok, kemudian seiring dengan berjalannya waktu, maka perilaku kelompok bertambah
individu-individu baru yang mempunyai kesamaan norma, latar belakang budaya, keturunan, ras dan hubungan
darah. Pertambahan individu baru tersebut kemudian bertambah banyak dan pada titik tertentu terjadilah
kesepakatan dan kesepahaman membentuk perilaku masyarakat (WHO, 1992).

Sama dalam hal proses terbentuknya perilaku masyarakat, maka perilaku massa merupakan sekumpulan
perilaku individu-individu yang karena mempunyai latar belakang kesamaan emosional dan ikatan primordial,
seperti norma, kepercayaan, kebudayaan, rasa kedaerahan, agama, sedarah (keturunan), dan lainnya, sepakat
membentuk perilaku kelompok, kemudian dalam jumlah banyak membentuk perilaku massa.
Perbedaan perilaku masyarakat dengan perilaku massa terletak pada kekuatan ikatan emosional dan primordial
tersebut. Perilaku masyarakat cenderung permanen & stabil sesuai dengan keberadaan masyarakat itu sendiri,
sedangkan perilaku massa cenderung lebih temporer dan instabil. Contoh perilaku masyarakat dalam
membangun rumah, merayakan resepsi pernikahan, menguburkan jenazah, merayakan panen, menghadapi
musim kemarau dan lainnya. Sedangkan contoh perilaku massa, antara lain kerumunan massa pada saat
kampanye, menonton pertunjukkan sepak bola, mendengarkan khotbah, mengikuti pemilihan lurah, demonstrasi,
dan lain sebagainya.

Menurut Wayne (1979), yang melakukan pengkajian terhadap perilaku massa, kaitannya dengan program
kesehatan menemukan, bahwa dalam upaya menggerakkan/memobilisasi perilaku massa agar mempraktekan
pesan-pesan promosi kesehatan dalam kehidupannya, dapat dilakukan dengan menggunakan 4 pendekatan
yaitu :

1. Pendekatan kesesuaian(compatibility approach),


2. Pendekatan pembentukan kebiasaan (habit formation),
3. Pendekatan pengontrolan arus komunikan(control of audience flows),
4. Pendekatan daya penarik massa(mass appeal)
Dalam pendekatan kesesuaian, yang harus diperhatikan adalah waktu penyampaian pesan, penyampaian
pesan harus dijadwalkan sesuai dengan kesibukan mereka, maksudnya adalah bahwa aktivitas komunikasi yang
dilakukan untuk promosi kesehatan ini, jangan sampai mengganggu aktivitas hidup mereka yang penting. Hal ini
untuk menghindari terjadinya rasa terpaksa hadir dalam aktivitas penyuluhan. Pesan-pesan promosi
hendaknya disesuaikan dengan kemampuan mereka dalam hal waktu, biaya, tenaga ketika komunikan dituntut
untuk melakukan/mempraktekkan isi pesan itu.

Pendekatan pembentukan kebiasaan, yaitu dengan aktivitas komunikasi penyuluhan yang dilakukan secara
intensif dan kontinyuitas yang tinggi, diharapkan isi pesan dapat membentuk suatu kesadaran bahwa perilaku
hidup sehat itu adalah suatu kebutuhan dan hal ini dilakukan atas inisiatif sendiri, dan bukan bukan karena atas
suatu perintah atau di suruh orang lain. Dengan kata lain pendekatan ini diharapkan dapat membentuk dan
membangun kesadaran pada masyarakat bahwa hidup sehat adalah suatu hal yang hakiki tanpa harus melalui
perintah orang lain.

Pendekatan pengontrolan arus komunikan, pendekatan ini dilakukan untuk mengetahui dan kemudian
meminimalisir faktor-faktor yang dapat mengganggu munculnya kesadaran masyarakat untuk hidup sehat.
Dengan kata lain harus diantisipasi apa kira-kira hal yang menjadikan aktivits promosi kesehatan tidak berjalan
optimal atau bahkan gagal sama sekali, untuk kemudian dirumuskan langkah-langkah selanjutnya agar factor
pengganggu itu dapat dihindari atau bahkan dihilangkan.

Pendekatan daya penarik massa, dimaksudkan dalam kegiatan komunikasi penyuluhan kesehatan hendaknya
disajikan dengan menggunakan daya penarik berupa adanya reward atau ganjaran untuk komunikan, apabila
dia melakukan/mempraktekkan isi pesan. Komunikator dituntut harus mampu menunjukkan keuntungan-
keuntungan apa yang bakal diperoleh komunikan apabila mereka melaksanakan isi pesan. Keuntungan-
keuntungan yang ditunjukkan hendaknya realistis dan tidak mengada-ada, untuk menghindarkan terjadinya
kebohongan/penipuan. Sebab sekali masyarakat dikecewakan/dobohongi oleh suatu aktivitas komunikasi
penyuluhan, maka akan sulit sekali unutk membangun keprcayaan dirinya lagi.

Untuk mempengaruhi agar terjadi perilaku massa, kaitannya dengan pelibatan massa dalam program kesehatan,
maka diperlukan pengimplementasikan sebuah kegiatan komunikasi promosi kesehatan, dengan langkah-
langkah operasional sebagai berikut:
Dalam kegiatan penyuluhan, komunikator hendaknya memerankan diri sebagai fasilitator dan bukan sebagai
guru, dengan cara ini diharapkan komunikator juga mau belajar dari pengalaman komunikannya, serta
membeikan prakarsa-prakarsa yang lebih besar pada diri komunikannya.
Harus disenergikan antara pengalaman dan pengetahuan tradisional yang produktif dengan pengetahuan dan
pengalaman yang modern(inovatif) yang relevan dengan kondisi masyarakatnya. Dengan cara ini akan terjadi
proses saling melengkapi dan menyempurnakan dalam kegiatan komunikasi kesehatan ini (Karsidi,2001).

Agar hal itu dapat terlaksana maka harus dilakukan tindakan-tindakan yang berupa :

1. Pengenalan masalah, kebutuhan dan potensi yang ada dalam masyarakat, dengan cara menggali informasi-
informasi yang mengungkapkan kharaktristik dan potensi yang ada pada diri komunikannya.
2. Merumuskan suatu skala prioritas untuk dijadikan sebagai acuan tindakan dalam menangani permasalahan
yang dihadapi itu.
3. mengidentifikasikan alternatif-alternatif pemecahan masalah dalam bentuk diskusi-diskusi antara komunikator
dan komunikannya(masyaarakat).
4. Pemilihan alternatif pemecahan masalah yang paling tepat berdasarkan kemampuan sumber daya komunikan
dan kemudian kemudian mengenalkannya kepada komunikan(masyarakat).
5. Menyusun jadwal kegiatan yang konkrit, serta prsonil-personil yang akan bertanggung jawab dalam
mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan ini. Penyusunan jadwal kegaiatan ini harus melibatkan penyuluh dan
komunikan guna diperoleh masukan-masukan untuk penyempurnaan dan ketepatannya.
6. Dilakukan pemantauan dan pengamatan kegiatan. Semua kegiatan yang telah dijadwalkan perlu dipantau
secara berkelanjutan oleh komunikator(penyuluh) bersama sasaran penyuluhnya untuk melihat kesesuaiannya
dengan rencana yang telah di susun, jika menyimpang perlu tindakan-tindakan untuk meluruskannya lagi.
7. Evaluasi dan rencana tindak lanjut, setelah suatu tahapan kerja selesai maka, hasilnya di evaluasi, apakah
hasilnya sudah sesuai dengan harapan atau belum

Jadi apabila sebuah kegiatan komunikasi massa dapat dilaksanakan dengan menggunakan rancangan strategis
yang terukur serta dilakukan langkah-langkah operasional yang jelas, maka perubahan perilaku massa
diharapkan efektif, dan terjadi perubahan perilaku yang lebih lama (permanen) dan tidak hanya didasarkan
ikatan emosional serta primordialisme.

Implikasi pengaruh perilaku massa terhadap kesehatan dapat tercermin dari partisipasi masyarakat dalam
program-program kesehatan. Seperti program pemberantasan sarang nyamuk melalui program 3 M, partisipasi
masyarakat dalam kegiatan PIN, program pencegahan anti merokok, program pemberantasan narkoba dan lain
sebagainya.

Keberhasilan program promosi kesehatan dalam mempengaruhi perilaku massa, sangat tergantung dari
kemampuan kita untuk membuat opini publik melalui berbagai media, baik media massa (cetak & elektronik),
media tradisional, media pendidikan, seminar, advokasi dan lain-lainnya. Apabila opini publik sudah terbentuk,
maka tugas kita adalah menggerakan atau memobilisasi masyarakat dan atau memberdayakan mereka melalui
berbagai kegiatan program kesehatan.

Namun hal yang harus diingat dalam memanage perilaku massa ini, adalah sifat dari perilaku massa adalah
instabil dan cenderung emosional, sehingga diperlukan penjagaan terhadap kondisi yang kondusif dan
menyejukkan dalam rangka upaya mencapai tujuan. Yang penting lagi, adalah jangan sampai program
kesehatan tersebut merugikan masyarakat, atau dalam pelaksanaannya massa dibohongi dengan berbagai
ketidakjujuran, seperti kebohongan publik, pemerdayaan, korupsi, kolusi dan nepotisme yang sekarang menjadi
sesuatu yang tabu di masyarakat.

SUMBER
1. http://catatankuliahnya.wordpress.com/2008/12/16/ilmu-perilaku/
2. http://wdnurhaeny.blogspot.com/2010/05/ilmu-perilaku-2-wd-nurhaeny-emba.html