Anda di halaman 1dari 19

Skrining Kanker Cerviks dengan Tes Inspeksi Vagina Asam Asetat

M.Ibnu Sinna Faiz


102013471
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta 11510

Pendahuluan

Kanker adalah suatu penyakit neoplastik yang dapat berakibatan fatal. Sel kanker tidak
seperti sel tumor, ia mempunyai kebolehan untuk menginvasi dan bermetastasi kebagian lain
dalam tubuh dan bersifat sangat anaplastik yaitu bisa membelah tanpa berdiferensiasi. Kanker
leher rahim atau yang biasa disebut kanker serviks adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam
leher rahin atau serviks. Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun. 90%
dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari
sel kelenjar penghasil ledir pada saluran servikal yang menuju ke dalam rahim 1

Hingga saat ini kanker serviks merupakan penyebab kematian terbanyak akibat penyakit
kanker di negara berkembang. Diperkirakan setiap tahun dijumpai sekitar 500.000 penderita baru
di seluruh dunia dan umumnya terjadi di negara berkembang. Sesungguhnya penyakit ini dapat
dicegah bila program skirining sitologi dan pelayanan kesehatan diperbaiki.1

Skrining diperlukan untuk mencari penyakit pada subjek yang asimtomatik, untuk
kemudian dapat dilakukan pemeriksaan selanjutnya agar diagnosis dini dapat ditegakkan. Uji
diagnostic untuk keperluan skrining harus memiliki sensitivitas yang sangat tinggi meskipun
spesifisitasnya sedikit rendah. Penyakit yang perlu dilakukan skrining memiliki syarat-syarat,
antara lain (1) prevalensi penyakit harus cukup tinggi, (2) penyakit tersebut menunjukkan
morbiditas dan/atau mortalitas yang bermakna apabila tidak diobati, (3) harus tersedia terapi atau
intervensi yang efektif yang dapat mengubah perjalanan penyakit, dan (4) pengobatan dini harus
memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan pengobatan pada kasus yang lanjut.2

Definisi
Kanker serviks merupakan kanker ganas yang terbentuk dalam jaringan serviks (organ
yang menghubungkan uterus dengan vagina).Ada beberapa tipe kanker serviks. Tipe yang paling
umum dikenal adalah squamous cell carcinoma (SCC), yang merupakan 80 hingga 85% dari
seluruh jenis kanker serviks. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) merupakan salah satu
faktor utama tumbuhnya kanker jenis ini. Tipe-tipe lain kanker serviks seperti adenocarcinoma,
small cell carcinoma, adenosquamous, adenosarcoma, melanoma dan lymphoma, merupakan tipe
kanker serviks yang langka yang tidak terkait dengan HPV.Beberapa tipe kanker yang telah
disebutkan, tidak dapat ditanggulangi seperti SCC.3

Epidemiologi Kanker Serviks

Kanker serviks merupakan salah satu penyebab kematian wanita yang berhubungan
dengan kanker. Di seluruh dunia, diperkirakan terjadi sekitar 500.000 kanker serviks baru dan
250.000 kematian tiap tahunnya yang kurang lebih 80% terjadi di negara-negara berkembang. Di
Indonesia, insidens kanker serviks diperkirakan kurang lebih 40.000 kasus pertahun dan masih
merupakan kanker wanita yang tersering. Dari jumlah itu, Insidens dan angka kematian kanker
serviks 50% di negara-negara berkembang. Hal ini terjadi karena pasien datang dalam keadaan
lanjut.4

Menurut data Departemen Kesehatan RI, penyakit kanker leher rahim saat ini menempati
urutan pertama daftar kanker yang diderita kaum wanita. Saat ini di Indonesia ada sekitar 100
kasus per 100 ribu penduduk atau 200 ribu kasus setiap tahunnya. Kanker serviks yang sudah
masuk ke stadium lanjut sering menyebabkan kematian dalam jangka waktu relatif cepat. Selain
itu, lebih dari 70% kasus yang datang ke rumah sakit ditemukan dalam keadaan stadium lanjut.4

Selama kurun waktu 5 tahun, usia penderita antara 30-60 tahun, terbanyak antara 45-50
tahun. Periode laten dari fase prainvasif menjadi invasif memakan waktu selama 10 tahun.
Hanya 9% dari wanita berusia <35 tahun menunjukkan kanker serviks yang invasif pada saat
diagnosis, sedangkan 53% dari KIS (kanker in situ) terdapat pada wanita di bawah usia 35
tahun.4

Etiologi
Penyebab primer kanker leher rahim adalah infeksi kronik leher rahim oleh satu atau
lebih virus HPV (Human Papiloma Virus) tipe onkogenik yang beresiko tinggi menyebabkan
kanker leher rahim yang ditularkan melalui hubungan seksual (sexually transmitted disease).
Perempuan biasanya terinfeksi virus ini saat usia belasan tahun, sampai tiga puluhan, walaupun
kankernya sendiri baru akan muncul 10-20 tahun sesudahnya. Infeksi virus HPV yang berisiko
tinggi menjadi kanker adalah tipe 13,16, 18, 45, 56, dimana HPV tipe 16 dan 18 ditemukan pada
sekitar 70% kasus. Infeksi HPV tipe ini dapat mengakibatkan perubahan sel-sel leher rahim
menjadi lesi intra-epitel derajat tinggi (high-grade intraepithelial lesion/ LISDT) yang
merupakan lesi prakanker. Sementara HPV yang berisiko sedang dan rendah menyebabkan
kanker (tipe non-onkogenik) berturut turut adalah tipe 30, 31, 33, 35, 39, 51, 52, 58, 66 dan 6,
11, 42, 43, 44, 53, 54,55.13. 1

Faktor predisposisi
Faktor risiko terjadinya infeksi HPV adalah hubungan seksual pada usia dini,
berhubungan seks dengan berganti-ganti pasangan, dan memiliki pasangan yang suka berganti-
ganti pasangan. Infeksi HPV sering terjadi pada usia muda, sekitar 25-30% nya terjadi pada usia
kurang dari 25 tahun. Beberapa ko-faktor yang memungkinkan infeksi HPV berisiko menjadi
kanker leher rahim adalah: 1

a. Faktor HPV :
- tipe virus
- infeksi beberapa tipe onkogenik HPV secara bersamaan
- jumlah virus (viral load)
b. Faktor host/ penjamu :
- status imunitas, dimana penderita imunodefisiensi (misalnya penderita HIV positif)
yang terinfeksi HPV lebih cepat mengalami regresi menjadi lesi prekanker dan kanker.
- jumlah paritas, dimana paritas lebih banyak lebih berisiko mengalami kanker
c. Faktor eksogen
- merokok
- ko-infeksi dengan penyakit menular seksual lainnya

Cara penularan

1. Perilaku seksual
Banyak faktor yang disebut-sebut mempengaruhi terjadinya kanker serviks. Pada
berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa golongan wanita yang mulai
melakukan hubungan seksual pada usia < 20 tahun atau mempunyai pasangan seksual
yang berganti-ganti lebih berisiko untuk menderita kanker serviks. Faktor risiko lain yang
penting adalah hubungan seksual suami dengan wanita tuna susila (WTS) dan dari
sumber itu membawa penyebab kanker (karsinogen) kepada isterinya.2
Data epidemiologi yang tersusun sampai akhir abad 20, menyingkap
kemungkinan adanya hubungan antara kanker serviks dengan agen yang dapat
menimbulkan infeksi. Keterlibatan peranan pria terlihat dari adanya korelasi antara
kejadian kanker serviks dengan kanker penis di wilayah tertentu. Lebih jauh
meningkatnya kejadian tumor pada wanita monogami yang suaminya sering berhubungan
seksual dengan banyak wanita lain menimbulkan konsep Pria Berisiko Tinggi sebagai
vektor dari agen yang dapat menimbulkan infeksi. Banyak penyebab yang dapat
menimbulkan kanker serviks, tetapi penyakit ini sebaiknya digolongkan ke dalam
penyakit akibat hubungan seksual (PHS). Penyakit kelamin dan keganasan serviks
keduanya saling berkaitan secara bebas, dan diduga terdapat korelasi non-kausal antara
beberapa penyakit akibat hubungan seksual dengan kanker serviks.5
2. Merokok
Tembakau mengandung bahan-bahan karsinogen baik yang dihisap sebagai
rokok/sigaret atau dikunyah. Asap rokok menghasilkan polycyclic aromatic hydrocarbon
heterocyclic nitrosamines. Pada wanita perokok konsentrasi nikotin pada getah serviks 56
kali lebih tinggi dibandingkan di dalam serum. Efek langsung bahan-bahan tersebut pada
serviks adalah menurunkan status imun lokal sehingga dapat menjadi kokarsinogen
infeksi virus. 5
3. Nutrisi
Antioksidan dapat melindungi DNA/RNA terhadap pengaruh buruk radikal bebas
yang terbentuk akibat oksidasi karsinogen bahan kimia. Banyak sayur dan buah
mengandung bahan-bahan antioksidan dan berkhasiat mencegah kanker misalnya
advokat, brokoli, kol, wortel, jeruk, anggur, bawang, bayam, tomat. Dari beberapa
penelitian ternyata defisiensi asam folat (folic acid), vitamin C, vitamin E, beta
karoten/retinol dihubungkan dengan peningkatan risiko kanker serviks. Vitamin E,
vitamin C dan beta karoten mempunyai khasiat antioksidan yang kuat. Vitamin E banyak
terdapat dalam minyak nabati (kedelai, jagung, biji-bijian dan kacangkacangan). Vitamin
C banyak terdapat dalam sayur-sayuran dan buah-buahan.5
4. Hygiene yang buruk

Ketika terdapat virus ini pada tangan seseorang, lalu menyentuh daerah genital,
virus ini akan berpindah dan dapat menginfeksi daerah serviks atau leher rahim Anda.
Cara penularan lain adalah di closet pada WC umum yang sudah terkontaminasi virus ini.
Seorang penderita kanker ini mungkin menggunakan closet, virus HPV yang terdapat
pada penderita berpindah ke closet. 5

Skrining

Skrining merupakan suatu pemeriksaan asimptomatik pada satu atau seklompok orang
untuk mengklasifikasikan mereka dalam kategori yang diperkirakan mengidap atau tidak
mengidap penyakit. Tes skrining merupakan salah satu cara yang dipergunakan pada
epidemiolodi untuk mengetahui prevalensi suatu penyakit yang tidak didiagnosis atau keadaan
ketika angka kesakitan tinggi pada sekelompok individu atau masyarajat beresiko tinggi serta
pada keadaan yang kritis dan serius memerlukan penanganan segera. Namun demikan, harus
dilengkapi dengan pemeriksaan lain untuk menentukan diagnosis definitif. Tujuan skrining :5

a. Menentukan orang yang terdeteksi menderita suatu penyakit sedini mungkin sehingga
dapat segera memperoleh pengobatan.
b. Mencegah meluasnya penyakit dalam masyarakat
c. Mendidik dan membiasakan masyarakat untuk memeriksakan diri sedini mungkin.
d. Mendapatkan keterangan epidemiologis yang berguna bagi klinis dan peneliti.

Untuk dapat menyusun suatu program penyaringan, diharuskan memenuhi beberapa kriteria
atau ketentuan-ketentuan khusus yang merupakan persyaratan suatu tes penyaringan : 5

1. Penyakit harus merupakan masalah kesehatan yang penting


2. Harus ada cara pengobatan yang efektif
3. Tersedia fasilitas pengobatan dan diagnosis
4. Diketahui stadium prepatogenesis dan pathogenesis
5. Telah dimengerti riwayat alamiah penyakit
Macam-macam skrining5

1. Mass screening adalah screening secara masal pada masyarakat tertentu


2. Selective screening adalah screening secara selektif berdasarkan kriteria tertentu, contoh
pemeriksaan ca paru pada perokok; pemeriksaan ca servik pada wanita yang sudah
menikah
3. Case finding screening adalah upaya dokter/tenaga kesehatan untuk menyelidiki suatu
kelainan yang tidak berhubungan dengan keluhan pasien yang datang untuk kepentingan
pemeriksaan kesehatan
4. Single disease screening adalah screening yang dilakukan untuk satu jenis penyakit
5. Multiphasic screening adalah screening yang dilakukan untuk lebih dari satu jenis
penyakit contoh pemeriksaan IMS; penyakit sesak nafas

Deteksi Dini Kanker Leher Rahim


Kanker leher rahim adalah penyakit yang diawali oleh infeksi virus HPV yang merubah
sel-sel leher rahim sehat menjadi displasia dan bila tidak diobati pada gilirannya akan tubuh
menjadi kanker leher leher rahim. Prinsip dasar kontrol penyakit ini adalah memutus mata rantai
infeksi, atau mencegah progresivitas lesi displasia sel-sel leher rahim (disebut juga lesi
prakanker) menjadi kanker. Bila lesi displasia ditemukan sejak dini dan kemudian segera diobati,
hal ini akan mencegah terjadinya kanker leher rahim dikemudian hari.2
Perempuan yang terkena lesi prakanker diharapkan dapat sembuh hampir 100%,
sementara kanker yang ditemukan pada stadium dini memberikan harapan hidup 92%.
Karenanya deteksi sedini mungkin sangat penting untuk mencegah dan melindungi perempuan
dari kanker leher rahim.WHO menyebutkan 4 komponen penting yang menjadi pilar dalam
penanganan kanker leher rahim, yaitu : pencegahan infeksi HPV, deteksi dini melalui
peningkatan kewaspadaan dan program skrining yang terorganisasi, diagnosis dan tatalaksana,
serta perawatan paliatif untuk kasus lanjut. Deteksi dini kanker leher rahim meliputi program
skirining yang terorganisasi dengan sasaran perempuan kelompok usia tertentu, pembentukan
sistem rujukan yang efektif pada tiap tingkat pelayanan kesehatan, dan edukasi bagi petugas
kesehatan dan perempuan usia produktif. Beberapa hal penting yang perlu direncanakan dalam
melakukan deteksi dini kanker, supaya skrining yang dilaksanakan terprogram dan terorganisasi
dengan baik, tepat sasaran dan efektif, terutama berkaitan dengan sumber daya yang terbatas.2
Sasaran yang akan menjalani skrining

WHO mengindikasikan skrining dilakukan pada kelompok berikut :6

1. Setiap perempuan yang berusia antara 25-35 tahun, yang belum pernah menjalani tes
Pap sebelumnya, atau pernah mengalami tes Pap 3 tahun sebelumnya atau lebih.
2. Perempuan yang ditemukan lesi abnormal pada pemeriksaan tes Pap sebelumnya
3. Perempuan yang mengalami perdarahan abnormal pervaginam, perdarahan pasca
sanggama atau perdarahan pasca menopause atau mengalami tanda dan gejala
abnormal lainnya
4. Perempuan yang ditemukan ketidak normalan pada leher rahimnya

Keunggulan Tes IVA6,7


a. Hasil segera diketahui saat itu juga.
b. Efektif karena tidak membutuhkan banyak waktu dalam pemeriksaan, aman karena
pemeriksaan IVA tidak memiliki efek samping bagi ibu yang memeriksa, dan praktis.
c. Teknik pemeriksaan sederhana, karena hanya memerlukan alat-alat kesehatan yang
sederhana, dan dapat dilakukan dimana saja.
d. Butuh bahan dan alat yang sederhana dan murah.
e. Sensivitas dan spesifikasitas cukup tinggi.
f. Dapat dilakukan oleh semua tenaga medis terlatih

Dalam penerapan skrining kanker leher rahim di Indonesia, usia target saat ini adalah antara
usia 30-50 tahun, meskipun begitu pada perempuan usia 50-70 tahun yang belum pernah
diskrining sebelumnya masih perlu diskrining untuk menghindari lolosnya kasus kanker leher
rahim. Selain sasaran diatas, semua perempuan yang pernah melakukan aktivitas seksual perlu
menjalani skrining kanker leher rahim. WHO tidak merekomendasikan perempuan yang sudah
menopause menjalani skrining dengan metode IVA karena zona transisional leher rahim pada
kelompok ini biasanya berada pada endoleher rahim dalam kanalis servikalis sehingga tidak bisa
dilihat dengan inspeksi spekulum.5 Namun untuk pelaksanaan di Indonesia, perempuan yang
sudah mengalami menopause tetap dapat diikut sertakan dalam program skrining, untuk
menghindari terlewatnya penemuan kasus kanker leher rahim. Perlu disertakan informed consent
pada perempuan golongan ini, mengingat alasan di atas. Tidak ditemukannya lesi prekanker
tidak berarti tidak ada lesi prakanker pada golongan perempuan ini.6

Program IVA di Puskesmas

Di negara maju, skrining secara luas dengan metode pemeriksaan sitologi tes Pap telah
menunjukkan hasil yang efektif dalam menurunkan insidens kanker leher rahim. Namun di
negara-negara berkembang yang hanya memiliki sumber daya terbatas, skrining hanya
menjangkau sebagian kecil perempuan saja, terutama di daerah perkotaan.8

Ada beberapa kelemahan tes Pap diantaranya keterbatasan jumlah laboratorium sitologi
dan tenaga sitoteknologi terlatih, sehingga menyebabkan hasil tes Pap baru didapat dalam
rentang waktu yang relatif lama (berkisar 1 hari- 1 bulan). Skrining dengan metode tes Pap
memerlukan tenaga ahli, sistem transportasi, komunikasi dan tindak lanjut (follow-up) yang
belum dapat dipenuhi oleh negara-negara berkembang. Hanya sebagian kecil dari perempuan
yang menjalani dan mendapatkan hasil tes Pap juga menjalani evaluasi dan pengobatan yang
semestinya bila ditemukan abnormalitas. Sebagai konsekuensinya, angka insidens kanker leher
rahim tetap tinggi dan kebanyakan pasien datang pada stadium lanjut.8 Masalah yang
berkembang akibat keterbatasan metode tes Pap inilah yang mendorong banyak penelitian untuk
mencari metode alternatif skrining kanker leher rahim. Salah satu metode yang dianggap dapat
dijadikan alternatif adalah metode inspeksi visual dengan asam asetat (IVA). Efektivitas IVA
sudah di teliti oleh banyak peneliti. Walaupun demikian perbandingan masing-masing penelitian
tentang IVA sepertinya sulit dievaluasi karena perbedaan protokol dan populasi. 8

Pertimbangan metode alternatif didasarkan oleh pemikiran, bahwa metode skrining IVA itu.
Mudah, praktis dan sangat mampu laksana. Dapat dilaksanakan oleh tenaga kesehatan bukan dokter
ginekologi, dapat dilakukan oleh bidan di setiap tempat pemeriksaan kesehatan ibu. Alat-alat yang
dibutuhkan sangat sederhana. Metode skrining IVA sesuai untuk pusat pelayanan sederhana. 8

Metode IVA memberi peluang dilakukannya skrining secara luas di tempat-tempat yang
memiliki sumberdaya terbatas, karena metode ini memungkinkan diketahuinya hasil dengan
segera dan terutama karena hasil skrining dapat segera ditindaklanjuti. Metode satu kali
kunjungan (single visit approach) dengan melakukan skrining metode IVA dan tindakan bedah
krio untuk temuan lesi prakanker (see and treat) memberikan peluang untuk peningkatan
cakupan deteksi dini kanker leher rahim, sekaligus mengobati lesi prakanker. 6

Dasar Pemeriksaan IVA


Pemeriksaan inspeksi visual dengan asam asetat (IVA) adalah pemeriksaan yang
pemeriksanya (dokter/bidan/paramedis) mengamati leher rahim yang telah diberi asam
asetat/asam cuka 3-5% secara inspekulo dan dilihat dengan penglihatan mata telanjang.
Pemeriksaan IVA pertama kali diperkenalkan oleh Hinselman (1925) dengan cara memulas leher
rahim dengan kapas yang telah dicelupkan dalam asam asetat 3-5%. Pemberian asam asetat itu
akan mempengaruhi epitel abnormal, bahkan juga akan meningkatkan osmolaritas cairan
ekstraseluler. Cairan ekstraseluler yang bersifat hipertonik ini akan menarik cairan dari
intraseluler sehingga membran akan kolaps dan jarak antar sel akan semakin dekat. Sebagai
akibatnya, jika permukaan epitel mendapat sinar, sinar tersebut tidak akan diteruskan ke stroma,
tetapi dipantulkan keluar sehingga permukaan epitel abnormal akan berwarna putih, disebut juga
epitel putih (acetowhite). 6,7
Daerah metaplasia yang merupakan daerah peralihan akan berwarna putih juga setelah
pemulasan dengan asam asetat tetapi dengan intensitas yang kurang dan cepat menghilang. Hal
ini membedakannya dengan proses prakanker yang epitel putihnya lebih tajam dan lebih lama
menghilang karena asam asetat berpenetrasi lebih dalam sehingga terjadi koagulasi protein lebih
banyak. 6,7
Jika makin putih dan makin jelas, makin tinggi derajat kelainan jaringannya. Dibutuhkan
1-2 menit untuk dapat melihat perubahan-perubahan pada epitel. Leher rahim yang diberi 5%
larutan asam asetat akan berespons lebih cepat daripada 3% larutan tersebut. Efek akan
menghilang sekitar 50-60 detik sehingga dengan pemberian asam asetat akan didapatkan hasil
gambaran leher rahim yang normal (merah homogen) dan bercak putih (mencurigakan displasia).
Lesi yang tampak sebelum aplikasi larutan asam asetat bukan merupakan epitel putih, tetapi
disebut leukoplakia; biasanya disebabkan oleh proses keratosis.6,7

Teknik Pemeriksaan IVA dan Interpretasi


Prinsip metode IVA adalah melihat perubahan warna menjadi putih (acetowhite) pada
lesi prakanker jaringan ektoserviks rahim yang diolesi larutan asam asetoasetat (asam cuka). Bila
ditemukan lesi makroskopis yang dicurigai kanker, pengolesan asam asetat tidak dilakukan
namun segera dirujuk ke sarana yang lebih lengkap. 8,9
Untuk melaksanakan skrining dengan metode IVA, dibutuhkan tempat dan alat sebagai berikut:
8,9

- Ruang tertutup, karena pasien diperiksa dengan posisi litotomi.


- Meja/tempat tidur periksa yang memungkinkan pasien berada pada posisi litotomi.
- Speculum vagina
- Asam asetat (3-5%)
- Swab-lidi berkapas
- Sarung tangan

Dengan speculum melihat leher rahim yang dipulas dengan asam asetat 3-5%. Pada lesi
prakanker akan menampilkan warna berkankerk putih yang disebut aceto white epithelium.
Dengan tampilnya portio dan berkankerk putih dapat disimpulkan bahwa tes IVA positif, sebagai
tindak lanjut dapat dilakukan biopsi. Andai kata penemuan tes IVA positif oleh bidan, maka
beberapa negara bidan tersebut dapat langsung melakukan terapi dengan cryosergury. Hal ini
tentu mengandung kelemahan-kelemahn dalam menyingkirkan lesi invasive.8

Tabel 1. Kategori temuan IVA sumber: wira-swastika.blogspot.com

Reliabilitas dan Validitas

Reliabilitas dan Validitas merupakan suatu hal yang umum pada semua instumen
pengukukuran. Masalah ini berhubungan dengan pertanyaan tentang tingkat kemampuan
kuesioner dan wawancara dalam mengukur kepuasan pasien yang akurat. 8,9
1. Reliabilitas
Reliabilitas dari suatu pengukuran adalah suatu indikator tingkat, seberapa jauh
pengukuran dapat direplikasi, artinya apakah hasilnya selalu sama, jika pengukuran oleh
siapa pun, kapan pun dan dalam lingkungan yang berbeda sekalipun. Reliabilitas
berhubungan dengan kesalahan acak yang terjadi dalam segala bentuk pengukuran.
Pengukuran yang semakin reliable, kesalahan acak yang terjadi semakin kecil.
Reliabilitas adalah sangat mendasar bagi setiap keperluan pengukuran mutu layanan
kesehatan, karena jika pengukuran tidak reliable, hasil pengukuran menjadi tidak
bermanfaat. Namun, demikian, banyak pengukurn mutu layanan kesehatan tidak di
ujicoba reliabilitasnya dengan tepat. 8
2. Validitas
Validitas tes skrining adalah kemampuan tes skrining tersebut dalam mengukur
sesuatu yang seharusnya diukur. Validitas tes skrining dapat dinilai dengan sensitivitas,
spesifisitas, nilai prediksi positif, nilai prediksi negatif, dan akurasi. 8,9

1. Sensitivitas
Sensitifitas menggambarkan kemampuan tes skrining menentukan
seseorang menderita suatu penyakit. Sensitivitas ditunjukkan oleh probabilitas
hasil tes benar positif dibandingkan hasil positif menurut standar (gold standart).
Probabilitas dalam per sen dihitung dengan membagi hasil pemeriksaan benar
positif (true positive) dengan jumlah hasil pemeriksaan benar positif dan negatif
palsu. Semakin tinggi nilai sensitivitas sebuah tes skrining maka semakin baik
kemampuan mendeteksi seseorang menderita penyakit tertentu sehingga dapat
memperoleh penanganan dini.9
2. Spesifisitas
Spesifisitas menggambarkan kemampuan tes skrining menentukan
seseorang bukan penderita suatu penyakit. Spesifisitas ditunjukkan oleh
probabilitas hasil tes benar negatif dibandingkan hasil negatif menurut standar
(gold standart). Probabilitas dalam per sen dihitung dengan membagi hasil
pemeriksaan benar negatif (true negatif) dengan jumlah hasil pemeriksaan benar
negatif dan positif palsu. Semakin tinggi nilai sensitivitas sebuah tes skrining
maka semakin baik kemampuan mendeteksi seseorang tidak menderita penyakit
tertentu. 9
3. Nilai Prediksi Positif
Nilai Prediksi Positif (NPP/PPV) menggambarkan kemampuan tes
skrining memprediksi kemungkinan seseorang benar-benar menderita penyakit
dari hasil pemeriksaan positif menurut tes skrining. Nilai Prediksi Positif dihitung
dengan membandingkan hasil benar positif dengan seluruh hasil tes positif
menurut uji skrining (True Positif dan Palse Positif) dalam per sen. Semakin
tinggi kemampuan tes skrining memperkirakan seseorang menderita penyakit
akan membantu petugas kesehatan memberikan penanganan yang tepat dan
segera. 9
4. Nilai Prediksi Negatif
Nilai Prediksi Negatif (NPN/NPV) menggambarkan kemampuan tes
skrining memprediksi kemungkinan seseorang benar-benar tidak menderita
penyakit dari hasil pemeriksaan negatif menurut tes skrining. Nilai Prediksi
Negatif dihitung dengan membandingkan hasil benar negatif dengan seluruh hasil
tes negatif menurut uji skrining (True Negatif dan Palse Negatif) dalam per sen.
Semakin tinggi kemampuan tes skrining memperkirakan seseorang tidak
menderita suatu penyakit akan sangat membantu petugas kesehatan
menghindarkan penanganan atau pengobatan yang tidak perlu sehingga terhindar
dari efek samping pengobatan. 9

Tabel 2. Distribusi populasi berdasarkan Status Penyakit dan Hasil Tes Skrining 7
Tes Skrining Diagnosis pasti Total
Sakit Tidak Sakit
Positif a (TP) b (FP) a+b
Negatif c (FN) d (TN) c+d
Total a+c b+d a+b+c+d
Rumus: 9
1. Sensitivitas dan Spesifisitas
a
Sensitivitas =(a+c) x 100

Negatif palsu =(+) 100

Spesifisitas = (+) 100

Positif palsu = (+) 100

2. Nilai prediksi

Nilai prediksi tes (+) atau PPV= (+) 100

Nilai prediksi tes (-) atau NPV= ( +) 100

Pencegahan

Pencegahan adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk mengurangi angka kesakitan dan
angka kematian akibat kanker serviks. Pencegahan terdiri dari beberapa tahap yaitu pencegahan
primimodial, pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tertier. 10

1. Pencegahan primodial
Tujuan pencegahan primodial adalah mencegah timbulnya faktor resiko kanker
serviks bagi perempua yang belum mempunyai faktor resiko dengan cara seperti
pendidikan seks bagi remaja, menunda hubungan seks remaja sampai pada usia yang
matang yaitu lebih dari 20 tahun. 10
2. Pencegahan primer
Pencegahan tingkat primer bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan
faktor resiko bagi perempuan yang mempunyai faktor resiko, untuk mengetahui
bagaimana pencegahan primer dapat dilakukan pada kanker srviks. Maka perlu diketahui
karsiogenesisnya yaitu bagaimana kanker dapat timbul.pencegahan dilakukan dengan
menghindari diri dari bahan karsinogenik atau penyebab kanker berikut adalah beberapa
cara yang dapat dilakukan. 10
1. Segi kebiasaan
a. Hindari hubungan seks terlalu dini
Hubungan seks idealnya dilakukan setelah seorang perempuan yang
sudah benar-benar matang. Ukuran kematangan bukan hanya dilihat ia sudah
menstruasi atau belum, tetapi juga bergantung pada kematangan sel-sel
mukosa yang terdapat diselput kulit bgian dalam rongga tubuhn. Umumnya
sel-sel muikosa baru marang setelah perempuan berusia 20 tahun ke atas.
Terutama untuk perempuan yang masih dibawah 16 tahun mempunyai resiko
kanker serviks lebih tinggi bila telah melakukan hubungan seks. Hal ini
berkaitan dengan kematangan sel-sel mukosa pada serviks perempuan. Pada
usia muda, sel-sel mukosa pada serviks belum matang. Artinya, masih rentan
terhadap rangsangan sehingga belum siap menerima rangsangan dari luar
termasuk zat-zat kimia yang dibawa sperma sehingga sel ini bisa berubah
sifanya menjadi kanker. 10
2. Hindari berganti-ganti pasangan seks
Resiko terkena kanker serviks lebih tinggi pada perempuan yang berganti-
ganti pasangan seks daripada yang tidak. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan
tertularnya penyakit kelaimin salah satunya HPV. Virus ini mengubah sel di
permukaan mukosa sehingga memebelah menjadi lebih banyak, bila terlalu
banyak dan tidak sesuai dengan kebutuhan akan menjadi kanker.10
3. Hindari kebiasaan pencucian vagina
Kebiasaan mencuci vagina dengan obat-obatan antiseptik bisa
menimbulkan kanker serviks. Douching atau cuci vagina menyebabkan iritasi di
serviks seperti penggunaan betadine untuk pencucian vagina. Iritasi berlebihan
dan terlalu sering akan merangsang terjadinya perubahan sel, yang akhirnya
menjadi kaner. Sebainya pencucia vaginan dengan bahan-abahan kimia tidak
dilakukan secara rutin. Kecuali bila ada indikasinya misalkan infeksi yang
memerlukan pencucian dengan zat-zat kimia dan atas saran dokter. Terlebih lagi
pembersih tersebut umumnya akan membunuh kuman termasuk Basillus
doderlain di vagina yang memproduksi asam laktat untuk mempertahanlkan pH
vagina, bila pH vagina tidak seimbang maka kuman patogen seperti jamur dan
bakteri mempunyai kesempatan untuk hidup di vagina. 10
4. Hindari kebiasaan menaburi talk
Ketika vagina terasa agak dan merah-merah sering sekali seorang
perempuan menaburkan talk disekitarnya. Pemakaian talk pad vagian perempuan
usia subir bisa memicu terjadinya kanker di daerah serviks dan ovarium, kaena
pada usia subur sering ovulasi dan saat ovulasi dipastikan terjadi perlukaan di
ovarium. Bila partikel talk masuk dan menempel di atas permukaan luka akan
merangsang luka untuk berubah sifat menjadi kanker, dan kanker di ovarium akan
menyebaab ke area lainnya termasuk serviks. Apabila talk tersebut menumpuk
dan mengendap makan akan menjadi benda asing dalam tubuh yang dapat
merangsang sel normal menjadi kanker. 10
5. Upayaka hidup sehat dan periksa kesehatan secara berkala dan teratur. 10
6. Segi makanan
Pengaturan pola makan sehari-hari juga diperlukan agar tubuh mempunyai
cadangan antioksidan yang cukup sebagai penangkal radikal bebas yang merusak
tubuh. 10
7. Perbanyak makan buah dan sayuran berwarna kuning atau hijau karena banyak
mengandung vitamin seperti betakarotein, vitamin C, mineral, klorofil dan
fitonutrein;ainnya, klorofil bersifat radio protektif, antimutagenik, dan
antikarsinogenik. 10
8. Kurangi makanan yang diasinkan, dibakar, diasap, atau diawetkan dengan nitrit
karena dapat menghasilkam senyawa kimia yang dapat merubah menjadi
kasinogen aktif. 10
9. Konsumsi makanan golongan kubis seperti kubis bunga, kubis tunas, kubis rabi,
brokoli karena dapat melindungi tubuh dari sinar radiasi dan menghasilkan suatu
enzim yang daoat menguraikan dan membuang zat beracun yang beredar dalam
tubuh. 10
3. Penceganan sekunder.10
Pencegahan sekunder adalah upaya yang dilakukan untuk menentukan kasus dini
sehingga kemungkinan penyembuhan dapat ditingkatka, temasuk skrining, deteksi dini
(Paps smear) dan pengobatan.
Deteksi dini penyakit kanker dengan program skrining, dimana dengan program
skrining dapat memperoleh beberapa keuntungan yaitu : memperbaiki prognosis ada
sebagian penderita sehingga terhinda dari kematian akibat kanker, tidak diperlukan
pengobatan radikal untuk mencapau kesembuhan, adanya perasaan tentram bagi mereka
yang menunjukan hasil negatif dan penghematan biaya karena pengibatan yang relatif
murah. Kanker serviks mengenal stadium pra-kanker yang dapat ditemukan dengan
skrining sitologi yang relatif murah, tidak sakit, cukup akurat dan dengan bantuan
koloskopi, satdium ini dapat diobatai dengan cara konservatif seperti krioterapi,
kauterisasi atau sinar laser dengan memperhatikan fungsi reproduksi. Adapun pengobatan
yang dilakukan untuk penderita kanker serviks sebagai pencegahan tingkat kedua adalah:
10

a. Operasi (bedah).
Pada prinsipnya operasi sebagai pengobatan apabila kanker belum
menyebar yang tujuannya agar kanker tidak kambuh lagi. Operasi terutama
dilakukan untuk kuratif disamping tujuan paliatif (meringankan). Operasi
dilakukan pada karsinoma in situ dan mikrovasif, dalam operasi tumor dibuang
dengan konisasi, koagulasi, ataupun histerektomi. Khusus karsinoma mikrovasif
banyak ahli ginekoligik memilih tindakan histerektomi radikal (seluruh rahim
diangkat berikut sepertiga vagina, serta penggantung rahim akan dipotong hingga
sedekat mungkin dengan dinding panggul). Pada perempuan yang masih
menginginkan anak atau penderita yang menolak histerektomi dapat
dipertimbangkan konisasi atau elektrokoagulasi. 10
Pada karsinoma invasif stadium IB dan IIA, lebih banyak dipilih tindakan operasi
pengangkatan rahim secara total berikut kelenjer getah bening sekitarnya
(histerektomi radikal). 10
b. Radioterapi
Radioterapi adalah terapi untuk menghancurkan kanker dengan sinar
ionisasi. Kerusakan yang terjadi akibat sinar tidak terbatas pada sel-sel kanker
saja tetapi juga pada sel-sel normal disekitarnya, tetapi kerusakan pada sel kanker
umumnya lebih besar dari pada sel normal, karena itu perlu diatur dosis radiasi
sehingga kerusakan jaringan yang normal minimal dan dapat pulih kembali.
Radioterapi dilakukan pada karsinoma invasif stadium lanjut (IIB, III, IV). Terapi
biasanya hanya bersifat paliatif (mengurangi atau mengatasi keluhan penderita),
dititik beratkan pada radisi eksternal dan internal. Kemajuan teknologi radioterapi
pada saai ini dimana radiasi dapat diarahkan pada massa tumor secara akurat,
sehingga pemberian dosis tinggi tidak memberikan penyulit yang berarti. Pada
stadium IV lebih banyak memilih mutilasi eksentaris total yaitu mengangkat
kantong kemih, rektum dan dibuat uretra dan anus tiruan (Praeter naturalis). 10
c. Kemoterapi
Kemoterapi ialah terapi untuk membunuh sel-sel kanker dengan obat-obat anti
kanker yang disebut sitostatika. Pada umumnya sitostatika hanya merupakan
terapi anjuvant (terapi tambahan yaitu : terapi yang bertujuan untuk
menghancurkan sisa-sisa sel kanker yang mikroskopik yang mungkin masih ada)
setelah terapi utama dilakukan. Khemoterapi yang sering dipergunakan pada
karsinoma serviks adalah Methotrexate, Cyclophospahanimide, Adiamycin dan
Mitomicin-C. Sitostatika biasanya diberi kombinasi. 10
4. Pencegahan tertier
Pencegahan tertier biasanya diarahkan pada individu yang telah positif menderita
kanker serviks. Penderita yang menjadi cacat karena komplikasi penyakitnya atau karena
pengobatan perlu direhabilitasi untuk mengembalikan bentuk dan/atau fungsi organ yang
cacat itu supaya penderita dapat hidup dengan layak dan wajar di masyarakat.
Rehabilitasi yang dapat dilakukan untuk penderita kanker serviks yang baru menjalani
operasi contohnya seperti melakukan gerakan-gerakan untuk membantu mengembalikan
fungsi gerak dan untuk mengurangi pembengkakan, bagi penderita yang mengalami
alopesia (rambut gugur) akibat khemoterapi dan radioterapi bisa diatasi dengan memakai
wig untuk sementara karena umumnya rambut akan tumbuh kembali. 10
Kesimpulan

Skrining adalah strategi yang digunakan dalam suatu populasi untuk mendeteksi suatu
penyakit individu tanpa tanda-tanda atau adanya gejala . Tes Pap smear merupakan pilihan utama
metode skrining kanker cerviks. Namun dalam penerapan di pelayanan primer yang lebih luas,
metode IVA direkomendasikan menjadi metode alternatif pada kondisi yang tidak
memungkinkan dilakukan untuk pemeriksaan sitologi. Skrining yang sering dilakukan di
Puskesmas adalah skrining Ca cerviks dengan tes IVA karena skrining ini mudah, praktis.
Skrining kanker serviks telah memberikan dampak yang baik terhadap masalah kanker serviks.
Penurunan jumlah penderita kanker serviks dikarenakan skrining yang dilakukan pada wanita
yang memiliki faktor resiko. Skrining memiliki nilai sensitivitas dan spesifisitas yang berguna
untuk menentukan nilai prediksi uji positif dan nilai prediksi uji negatif.
Daftar Pustaka

1. Kampono N. Kanker serviks. Dalam: Anwar M, Baziad A, Prabowo P. Ilmu kandungan.


Edisi 3. Jakarta: Bina pustaka sarwono prawirohardjo; 2005.h. 263-9.
2. Sastroasmoro S. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. Jakarta: Sagung Seto; 2011. h.
219-30.
3. Dalimartha S. Deteksi dini kanker dan simplisia antikanker. Jakarta: Penebar Swadaya;
2004.h. 14 -8.
4. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk teknis pencegahan, deteksi dini
kanker leher rahim dan kanker payudara. Jakarta: DEPKES RI; 2007. h. 1-32.
5. Nursalam. Konsep dan penerapan metodologi penelitian. Jakarta : Salemba Medika;
2003.
6. Rajab W. Buku ajar Epidemiologi untuk mahasiswa. Jakarta : EGC, 2009.h.155-8.
7. Sankaranarayanan R, Budukh AM, Rajkumar R, Effective Screening programmes for
cervical cancer in low- and middle-income developing countries. Bulletin of the World
Health Organization, 2001; 79:954-962.
8. Melianti M. Skining Kanker Serviks dengan Metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat
(IVA) test. Departmen Kesehatan Republik Indonesia; Jakarta; 2008.
9. Pohan I. Jaminan mutu layanan kesehatan: dasar-dasar pengertian dan penerapan. Jakarta:
EGC; 2007.h.148-50.
10. Gede MAA. Manajemen kesehatan. Jakarta: EGC; 1999 .h. 10-1.