Anda di halaman 1dari 7

Sejarah Promosi Kesehatan

Kesehatan masyarakat tidak terlepas dari 2 tokoh metologi Yunani, yakni Asclepius dan Higeia.
Berdasarkan cerita mitos Yunani tersebut Asclepius disebutkan sebagai seorang dokter pertama
yang tampan dan pandai meskipun tidak disebutkan sekolah atau pendidikan apa yang telah
ditempuhnya tetapi diceritakan bahwa ia telah dapat mengobati penyakit dan bahkan melakukan
bedah berdasarkan prosedur-prosedur tertentu (surgical procedure) dengan baik. Higeia, seorang
asistennya, yang kemudian diceritakan sebagai isterinya juga telah melakukan upaya-upaya
kesehatan.
Beda antara Asclepius dengan Higeia dalam pendekatan / penanganan masalah kesehatan adalah,
Asclepius melakukan pendekatan pengobatan penyakit setelah penyakit tersebut terjadi pada
seseorang. Sedangkan Higeia mengajarkan kepada pengikutnya dalam pendekatan masalah
kesehatan melalui "hidup seimbang", menghindari makanan / minuman beracun, makan
makanan yang bergizi baik, cukup istirahat dan melakukan olahraga. Apabila orang yang sudah
jatuh sakit Higeia lebih menganjurkan melakukan upaya-upaya secara alamiah untuk
menyembuhkan penyakitnya tersebut, antara lain lebih baik dengan memperkuat tubuhnya
dengan makanan yang baik daripada dengan pengobatan / pembedahan.
Dari cerita mitos Yunani, Asclepius dan Higeia tersebut, akhirnya muncul 2 aliran atau
pendekatan dalam menangani masalah-masalah kesehatan. Kelompok atau aliran pertama
cenderung menunggu terjadinya penyakit (setelah sakit), yang selanjutnya disebut pendekatan
kuratif (pengobatan). Kelompok ini pada umumnya terdiri dari dokter, dokter gigi, psikiater dan
praktisi-praktisi lain yang melakukan pengobatan penyakit baik fisik, psikis, mental maupun
sosial. Sedangkan kelompok kedua, seperti halnya pendekatan Higeia, cenderung melakukan
upaya-upaya pencegahan penyakit dan meningkatkan kesehatan (promosi) sebelum terjadinya
penyakit. Kedalam kelompok ini termasuk para petugas kesehatan masyarakat lulusan-lulusan
sekolah atau institusi kesehatan masyarakat dari berbagai jenjang.
Dalam perkembangan selanjutnya maka seolah-olah timbul garis pemisah antara kedua
kelompok profesi, yakni
1. Pelayanan kesehatan kuratif (curative health care)
Pendekatan kuratif pada umumnya dilakukan terhadap sasaran secara individual, kontak terhadap
sasaran (pasien) pada umumnya hanya sekali saja. Jarak antara petugas kesehatan (dokter, drg,
dan sebagainya) dengan pasien atau sasaran. Cenderung bersifat reaktif, artinya kelompok ini
pada umumnya hanya menunggu masalah datang. Seperti misalnya dokter yang menunggu
pasien datang di Puskesmas atau tempat praktek. Kalau tidak ada pasien datang, berarti tidak ada
masalah, maka selesailah tugas mereka, bahwa masalah kesehatan adalah adanya penyakit.
cenderung melihat dan menangani klien atau pasien lebih kepada sistem biologis manusia atau
pasien hanya dilihat secara parsial, padahal manusia terdiri dari kesehatan bio-psikologis dan
sosial, yang terlihat antara aspek satu dengan yang lainnya.
2. Pelayanan pencegahan atau preventif (preventive health care).
Pendekatan preventif, sasaran atau pasien adalah masyarakat (bukan perorangan) masalah-
masalah yang ditangani pada umumnya juga masalah-masalah yang menjadi masalah
masyarakat, bukan masalah individu. Hubungan antara petugas kesehatan dengan masyarakat
(sasaran) lebih bersifat kemitraan tidak seperti antara dokter-pasien. Kelompok preventif lebih
mengutamakan pendekatan proaktif, artinya tidak menunggu adanya masalah tetapi mencari
masalah. Petugas kesehatan masyarakat tidak hanya menunggu pasien datang di kantor atau di
tempat praktek mereka, tetapi harus turun ke masyarakat mencari dan mengidentifikasi masalah
yang ada di masyarakat, dan melakukan tindakan. Melihat klien sebagai makhluk yang utuh,
dengan pendekatan yang holistik. Terjadinya penyakit tidak semata-mata karena terganggunya
sistem biologi individual tetapi dalam konteks yang luas, aspek biologis, psikologis dan sosial.
Dengan demikian pendekatannya pun tidak individual dan parsial tetapi harus secara menyeluruh
atau holistik.

Munculnya Istilah Promosi Kesehatan


Istilah Health Promotion (Promosi Kesehatan) sudah mulai dicetuskan pada tahun 1986, pada
waktu diselenggarakan Konferensi International Pertama tentang Health Promotion di Ottawa,
Canada, pada tahun 1986. Pada waktu itu dicanangkan the Ottawa Charter, yang memuat definisi
dan prinsip-prinsip dasar Health Promotion. Namun istilah tersebut pada waktu itu di Indonesia
belum bergema. Pada waktu itu, istilah yang ada tetap Penyuluhan Kesehatan, disamping juga
populer istilah-istilah lain seperti: KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi), Pemasaran Sosial
(Social Marketing), Mobilisasi Sosial, dll.
Suatu ketika pada sekitar akhir tahun 1994, Dr. Ilona Kickbush, yang baru saja menjabat sebagai
Direktur Health Promotion WHO Headquarter Geneva, datang ke Indonesia. Pada waktu itu
Kepala Pusat Penyuluhan Kesehatan Depkes baru saja diangkat, yaitu Drs. Dachroni MPH, yang
menggantikan Dr. IB Mantra yang purna bakti (pensiun). Dengan kedatangan Dr. Kickbush,
diadakanlah pertemuan dengan pimpinan Depkes dan pertemuan lainnya baik internal
penyuluhan kesehatan maupun external dengan lintas program dan lintas sektor, termasuk FKM
UI. Ia kemudian menyampaikan usulan agar Indonesia dapat menjadi tuan rumah Konferensi
International Health Promotion yang keempat, yang sebenarnya memang sudah waktunya
diselenggarakan.
Usulan itu diterima oleh pimpinan Depkes (Menteri Kesehatan waktu itu Prof. Dr. Suyudi).
Kunjungan Dr. Kickbush itu ditindak lanjuti dengan kunjungan pejabat Health Promotion WHO
Geneva lainnya, yaitu Dr. Desmond O Byrne, sampai beberapa kali, untuk mematangkan
persiapan konferensi Jakarta. Sejak itu khususnya Pusat Penyuluhan Kesehatan Depkes berupaya
mengembangkan konsep promosi kesehatan tersebut serta aplikasinya di Indonesia. Sebagai tuan
rumah konferensi internasional tentang promosi kesehatan, seharusnyalah kita sendiri
mempunyai kesamaan pemahaman tentang konsep dan prinsip-prinsipnya serta dapat
mengembangkannya paling tidak di beberapa daerah
sebagai percontohan.
Dengan demikian penggunaan istilah promosi kesehatan di Indonesia tersebut dipacu oleh
perkembangan dunia internasional. Nama unit Health Education di WHO baik di Headquarter,
Geneva maupun di SEARO, India juga sudah berubah menjadi Unit Health Promotion. Nama
organisasi profesi internasional juga sudah berubah menjadi International Union for Health
Promotion and Education (IUHPE). Istilah promosi kesehatan tersebut juga ternyata sesuai
dengan perkembangan pembangunan kesehatan di Indonesia sendiri, yang mengacu pada
paradigma sehat.

Strategi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)


Pada pertengahan tahun 1995 dikembangkanlah Strategi atau Upaya Peningkatan Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat (disingkat PHBS), sebagai bentuk operasional atau setidaknya sebagai embrio
promosi kesehatan di Indonesia. Strategi tersebut dikembangkan melalui serangkaian pertemuan
baik internal Pusat Penyuluhan Kesehatan maupun external secara lintas program dan lintas
sektor, termasuk dengan organisasi profesi, FKM UI dan LSM.
Beberapa hal yang dapat disarikan tentang pokok-pokok Promosi Kesehatan (Health Promotion)
atau PHBS yang merupakan embrio Promosi Kesehatan di Indonesia ini, adalah bahwa:
1. Promosi Kesehatan (Health Promotion), yang diberi definisi : Proses pemberdayaan
masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya (the process of
enabling people to control over and improve their health), lebih luas dari Pendidikan atau
Penyuluhan Kesehatan. Promosi Kesehatan meliputi Pendidikan/ Penyuluhan Kesehatan, dan di
pihak lain Penyuluh/Pendidikan Kesehatan merupakan bagian penting (core) dari Promosi
Kesehatan.
2. Pendidikan/Penyuluhan Kesehatan menekankan pada upaya perubahan atau perbaikan
perilaku kesehatan. Promosi Kesehatan adalah upaya perubahan/perbaikan perilaku di bidang
kesehatan disertai dengan upaya mempengaruhi lingkungan atau hal-hal lain yang sangat
berpengaruh terhadap perbaikan perilaku dan kualitas kesehatan.
3. Promosi Kesehatan juga berarti upaya yang bersifat promotif (peningkatan) sebagai perpaduan
dari upaya preventif (pencegahan), kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan) dalam
rangkaian upaya kesehatan yang komprehensif. Promosi Kesehatan juga merupakan upaya untuk
menjajakan, memasarkan atau menjual yang bersifar persuasif, karena sesungguhnya
kesehatan merupakan sesuatu yang sangat layak jual, karena sangat perlu dan dibutuhkan
setiap orang dan masyarakat.

4. Pendidikan/penyuluhan kesehatan menekankan pada pendekatan edukatif, sedangkan pada


promosi kesehatan, selain tetap menekankan pentingnya pendekatan edukatif yang banyak
dilakukan pada tingkat masyarakat di strata primer (di promosi kesehatan selanjutnya digunakan
istilah gerakan pemberdayaan masyarakat), perlu dibarengi atau didahului dengan upaya
advokasi, terutama untuk strata tertier (para pembuat keputusan atau kebijakan) dan bina suasana
(social suppoprt), khususnya untuk strata sekundair (mereka yang dikategorikan sebagai para
pembuat opini). Maka dikenallah strategi ABG, yaitu Advokasi, Bina Suasana dan
Gerakan/pemberdayaan Masyarakat.
5. Pada pendidikan/penyuluhan kesehatan, masalah diangkat dari apa yang ditemui atau dikenali
masyarakat (yaitu masalah kesehatan atau masalah apa saja yang dirasa penting/perlu diatasi oleh
masyarakat. Pada PHBS, masyarakat diharapkan dapat mengenali perilaku hidup sehat, yang
ditandai dengan sekitar 10 perilaku sehat (health oriented). Masyarakat diajak untuk
mengidentifikasi apa dan bagaimana hidup bersih dan sehat, kemudian mengenali keadaan diri
dan lingkungannya serta mengukurnya seberapa sehatkah diri dan lingkungannya itu.
Pendekatan ini kemudian searah dengan paradigma sehat, yang salah satu dari tiga pilar
utamanya adalah perilaku hidup sehat.
6. Pada pendidikan/penyuluhan kesehatan yang menonjol adalah pendekatan di masyarakat
(melalui pendekatan edukatif), sedangkan pada PHBS/promosi kesehatan dikembangkan adanya
5 tatanan: yaitu di rumah/tempat tinggal (where we live), di sekolah (where we learn), di tempat
kerja (where we work), di tempat-tempat umum (where we play and do everything) dan di sarana
kesehatan (where we get health services). Dari sini dikembangkan kriteria rumah sehat, sekolah
sehat, tempat kerja sehat, tempat umum sehat, dll yang mengarah pada kawasan sehat seperti :
desa sehat, kota sehat, kabupaten sehat, dll sampai ke Indonesia Sehat.
7. Pada promosi kesehatan, peran kemitraan lebih ditekankan lagi, yang dilandasi oleh kesamaan
(equity), keterbukaan (transparancy) dan saling memberi manfaat (mutual benefit). Kemitraan ini
dikembangkan antara pemerintah dengan masyarakat termasuk swasta dan Lembaga Swadaya
Masyarakat, juga secara lintas program dan lintas sektor.
8. Sebagaimana pada Pendidikan dan Penyuluhan, Promosi Kesehatan sebenarnya juga lebih
menekankan pada proses atau upaya, dengan tanpa mengecilkan arti hasil apalagi dampak
kegiatan. Jadi sebenarnya sangat susah untuk mengukur hasil kegiatan, yaitu perubahan atau
peningkatan perilaku individu dan masyarakat. Yang lebih sesuai untuk diukur: adalah mutu dan
frekwensi kegiatan seperti: advokasi, bina suasana, gerakan sehat masyarakat, dll. Karena
dituntut untuk dapat mengukur hasil kegiatannya, maka promosi kesehatan mengaitkan hasil
kegiatan tersebut pada jumlah tatanan sehat, seperti: rumah sehat, sekolah sehat, tempat kerja
sehat, dst.

Konsep Promosi Kesehatan dan/atau PHBS tersebut selanjutnya digulirkan ke daerah dan
beberapa daerah mencoba mengembangkannya paling tidak di beberapa kabupaten.

Konferensi Internasional Health Promotion IV dan Deklarasi Jakarta


Konferensi I di Ottawa, Canada (1986) menghasilkan Ottawa Charter, memuat 5 strategi
pokok Promosi Kesehatan, yaitu :
1. Mengembangkan kebijakan yang berwawasan kesehatan (healthy public policy);
2. Menciptakan lingkungan yang mendukung (supportive environment);
3. Memperkuat gerakan masyarakat (community action);
4. Mengembangkan kemampuan perorangan (personnal skills);
5. Menata kembali arah pelayanan kesehatan (reorient health services).
Konferensi II di Adelaide, Australia (1988), membahas lebih lanjut tentang pengembangan
kebijakan yang berwawasan kesehatan, dengan menekankan 4 bidang prioritas, yaitu:
1. Mendukung kesehatan wanita;
2. Makanan dan gizi;
3. Rokok dan alkohol;
4. Menciptakan lingkungan sehat.
Pada tahun 1989 diadakan pertemuan Kelompok Promosi Kesehatan negara-negara berkembang
di Geneva, sebagai seruan untuk bertindak (A call for action). Dalam pertemuan ini ditekankan
bahwa 3 strategi pokok promosi kesehatan untuk pembangunan kesehatan:
1. Advokasi Kebijakan (advocacy);
2. Pengembangan aliansi yang kuat dan sistem dukungan sosial (social support);
3. Pemberdayaan masyarakat (empowerment).
Selanjutnya pada tahun 1991 diselenggarakan Konferensi ke III di Sundval, Swedia. Konfrensi
ini menghasilkan pernyataan perlunya dukungan lingkungan untuk kesehatan. Untuk dukungan
ini diperlukan 4 strategi kunci, yakni:
1. Memperkuat advokasi diseluruh lapisan masyarakat;
2. Memberdayakan masyarakat dan individu agar mampu menjaga kesehatan dan lingkungannya
melalui pendidikan dan pemberdayaan;
3. Membangun aliansi;
4. Menjadi penengah diantara berbagai konflik kepentingan di tengah masyarakat.
Ketiga konferensi internasional tersebut diselenggarakan di negara maju. Timbul pertanyaan
apakah promosi kesehatan itu hanya sesuai untuk negara maju saja dan tidak cocok untuk negara
berkembang. Untuk membantah keraguan itu, maka konferensi yang ke IV ini diselenggarakan di
salah satu negara sedang berkembang. Indonesia memperoleh kehormatan untuk menjadi
penyelenggaranya yang pertama.
Konferensi Internasional Promosi Kesehatan IV ini terselenggara pada bulan Juli 1997 bertempat
di Hotel Horison, Ancol, Jakarta.Konferensi ke IV di Jakarta ini dihadiri oleh sekitar 500 orang
dari 78 negara, termasuk sekitar 150 orang Indonesia, khususnya dari daerah. Ini karena
konferensi tersebut juga merupakan konferensi nasional promosi kesehatan yang pertama
(Selanjutnya nanti ada konferensi nasional kedua di Hotel Bidakara, Jakarta, tahun 2000, dan
konferensi nasional ketiga di Yogyakarta, tahun 2003). Konferensi dibuka oleh Presiden RI,
Bapak Soeharto, di Istana Negara. Selain pembicara-pembicara internasional, juga tampil
pembicara Indonesia, yaitu Prof Dr. Suyudi selaku Menteri Kesehatan, dan Prof. Dr. Haryono
Suyono, selain selaku Menteri Kependudukan juga sebagai pakar komunikasi. Pada acara
Indonesia Day, tampil pembicara-pembicara dari berbagai program, sektor dan daerah,
menyampaikan pengalamannya dalam berbagai kegiatan promosi kesehatan atau pendidikan
kesehatan dalam program atau daerah masing-masing (diselenggarakan dalam sidang-sidang
yang berjalan secara serentak/pararel).
Konferensi ini bertema: New players for a new era: Leading Health Promotion into the 21st
century dan menghasilkan Deklarasi Jakarta, yang diberi nama: The Jakarta Declaration on
Health Promotion into the 21st Century. Selanjutnya Deklarasi Jakarta ini memuat berbagai hal,
antara lain sebagai berikut:
Bahwa Konferensi Promosi Kesehatan di Jakarta ini diselenggarakan hampir 20 tahun setelah
Deklarasi Alma Ata dan sekitar 10 tahun setelah Ottawa Charter, serta yang pertama kali
diselenggarakan di negara sedang berkembang dan untuk pertama kalinya pihak swasta ikut
memberikan dukungan penuh dalam konferensi.
Bahwa Promosi Kesehatan merupakan investasi yang berharga , yang mempengaruhi faktor-
faktor penentu di bidang kesehatan guna mencapai kualitas sehat yang setinggi-tingginya.
Bahwa Promosi Kesehatan sangat diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan dan
perubahan faktor penentu kesehatan. Berbagai tantangan tersebut seperti: adanya perdamaian,
perumahan, pendidikan, perlindungan sosial, hubungan kemasyarakatan, pangan, pendapatan,
pemberdayaan perempuan, ekosistem yang mantap, pemanfaatan sumber daya yang
berkelanjutan, keadilan sosial, penghormatan terhadap hak-hak azasi manusia, dan persamaan,
serta kemiskinan yang merupakan ancaman terbesar terhadap kesehatan, selain masih banyak
ancaman lainnya.
Bahwa untuk menghadapi berbagai tantangan yang muncul terhadap kesehatan diperlukan
kerjasama yang lebih erat , menghilangkan sekat-sekat penghambat, serta mengembangkan mitra
baru antara berbagai sektor, di semua tingkatan pemerintahan dan lapisan masyarakat.
Bahwa prioritas Promosi Kesehatan abad 21 adalah :
1. Meningkatkan tanggungjawab sosial dalam kesehatan;
2. Meningkatkan investasi untuk pembangunan kesehatan;
3. Meningkatkan kemitraan untuk kesehatan;
4. Meningkatkan kemampuan perorangan dan memberdayakan masyarakat;
5. Mengembangkan infra struktur promosi kesehatan.

Selanjutnya menyampaikan himbauan untuk bertindak, dengan menyusun rencana aksi serta
membentuk atau memperkuat aliansi promosi kesehatan di berbagai tingkatan, mencakup antara
lain :
1. Membangkitkan kesadaran akan adanya perubahan faktor penentu kesehatan;
2. Mendukung pengembangan kerjasama dan jaringan kerja untuk pembangunan kesehatan;
3. Mendorong keterbukaan dan tanggungjawab sosial dalam promosi kesehatan.
Promosi Kesehatan Pada Program-program Kesehatan
Sebenarnya pada setiap program kesehatan ada komponen promosi kesehatannya, karena semua
masalah kesehatan mengandung komponen perilaku. Namun karena keterbatasan sumberdaya,
pada kurun waktu ini secara nasional, promosi kesehatan terbatas pada beberapa program
prioritas saja. Program-program kesehatan tersebut adalah: Kesehatan Ibu, Bayi dan Anak
(Khususnya Pertolongan persalinan dan Penggunaan ASI Eklusif), Peningkatan Gizi Keluarga
dan Masyarakat (termasuk GAKY), Kesehatan Lingkungan (khususnya penggunaan air bersih,
penggunaan toilet/jamban, mencuci tangan dengan sabun), Penanggulangan Penyakit Tidak
Menular (khususnya Aktivitas fisik, makan gizi seimbang dan masalah merokok),
Penanggulangan penyalahgunaan NAPZA, dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat
(JPKM). Di daerah, prioritas program tersebut disesuaikan dengan keadaan, masalah dan potensi
daerah.
Selain itu juga dilakukan promosi kesehatan untuk mendukung beberapa program khusus.
Sebagai contoh adalah kampanye Pekan Imunisasi Nasional (dalam rangka penanggulangan
polio). Demikian pula dalam penanggulangan HIV/AIDS yang dilakukan promosi kesehatan
secara lintas sektoral, juga dalam menghadapi SARS. Selain itu dilakukan pula promosi
kesehatan dalam rangka penanggulangan masalah tembakau, promosi penggunaan obat generik,
dll. Perlu diakui bahwa masih banyak promosi kesehatan untuk berbagai program kesehatan
lainnya yang belum dapat tertangani.

Era Globalisasi Dan Promosi Kesehatan


Kurun waktu 2000 an ini juga merupakan era globalisasi. Batas-batas antar negara menjadi lebih
longgar. Persoalan menjadi lebih terbuka. Berkaitan dengan era globalisasi ini dapat
menimbulkan pengaruh baik positif maupun negatif. Di satu pihak arus informasi dan
komunikasi mengalir sangat cepat. Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Dunia
menjadi lebih terpacu dan maju. Di pihak lain penyakit menular yang ada di satu negara dapat
menyebar secara cepat ke negara lain apabila negara itu rentan atau rawan. Misalnya AIDS,
masalah merokok, penyalahgunaan NAPZA, dll sudah menjadi persoalan dunia. Demikian pula
budaya negatif di satu bangsa/negara dengan cepat juga dapat masuk dan mempengaruhi budaya
bangsa/negara lain.
Sementara itu khususnya di bidang Promosi Kesehatan, dalam era globalisasi ini Indonesia
memperoleh banyak masukan dan perbandingan dari banyak negara. Melalui berbagai pertemuan
internasional yang diikuti, setidaknya para delegasi memperoleh inspirasi untuk mengembangkan
promosi kesehatan di Indonesia. Beberapa pertemuan itu adalah sebagai berikut :
1. Konferensi Internasional Promosi Kesehatan. Konferensi ini bersifat resmi, para utusannya
diundang oleh WHO dan mewakili negara. Selama kurun waktu 1995-2005 ada tiga kali
konferensi internasional, yaitu: the 4th International Conference on Health Promotion, Jakarta,
1997, the 5th International Conference on Health Promotion, Mexico City, 2000, dan the 6th
Global Conference on Health Promotion, Bangkok, 2005. Pada pertemuan di Bangkok istilah
International Conference diganti dengan Global Conference, a.l. karena dengan istilah Global
tersebut menunjukkan bahwa sekat-sekat antar negara menjadi lebih tipis dan persoalan serta
solusinya menjadi lebih mendunia. Menkes RI yang hadir pada konferensi di Jakarta adalah Prof.
Dr. Suyudi yang juga menjadi pembicara kunci pada konferensi tersebut; di Mexico City: Dr.
Achmad Suyudi, yang juga menjadi salah satu pembicara kunci dan bersama para menteri
kesehatan dari negara-negara lain ikut menandatangani Mexico Ministerial Statements on health
Promotion; dan yang hadir di Bangkok adalah Drs. Richard Panjaitan, Staf Ahli yang mewakili
Menteri Kesehatan yang harus berada di tanah air menjelang peringatan proklamasi
kemerdekaan RI. Konferensi di Bangkok ini menghasilkan The Bangkok Charter. Ketiga
konferensi tersebut baik proses maupun hasil-hasilnya memberikan sumbangan yang bermakna
dalam perkembangan promosi kesehatan di Indonesia.
2. Konferensi internasional Promosi dan Pendidikan Kesehatan. Konferensi ini bersifat
keilmuan. Utusannya datang atas kemauan sendiri dengan mendaftar lebih dahulu.
Penyelenggaranya adalah Organisasi Profesi, yaitu International Union for Health Promotion and
Education. Dalam kurun waktu ini sebenarnya ada empat kali pertemuan, tetapi Indonesia hanya
hadir di tiga pertemuan yaitu di Ciba, Jepang, tahun 1995, di Paris, Perancis, tahun 2001, dan
Melbourne, Australia, 2004. Indonesia tidak hadir pada pertemuan di Pourtorico, tahun 1998,
karena situasi tanah air yang tidak memungkinkan untuk pergi. Dengan mengikuti konferensi
seperti ini, selain menambah wawasan dan gagasan, juga menambah teman dan jaringan.
3. Pertemuan-pertemuan WHO tingkat regional dan internasional. Pertemuan seperti ini biasanya
diikuti oleh kelompok terbatas, antara 20-30 orang. Sifatnya merupakan pertemuan konsultasi
atau juga pertemuan tenaga ahli (expert). Pesertanya adalah utusan yang mewakili unit Promosi
Kesehatan di masing-masing negara, atau perorangan yang dianggap ahli, yang diundang oleh
WHO. Dalam kurun waktu 1995-2005 beberapa kali diselenggarakan pertemuan konsultasi di
New Delhi, India, di Bangkok, Thailand, di Jakarta, Indonesia, dan beberapa kali di Genewa,
Swis, khususnya dalam kaitannya dengan Mega Country Health Promotion Network. Pertemuan-
pertemuan seperti ini juga memacu perkembangan promosi kesehatan di Indonesia. Khusus
dalam Mega country network ini diupayakan penanggulangan penyakit tidak menular secara
bersama melalui upaya aktivitas fisik, makan gizi seimbang dan tidak merokok.
4. Pertemuan regional ASEAN. Pertemuan ini diselenggarakan oleh negara-negara anggota
ASEAN. Pertemuan seperti ini diselenggarakan beberapa kali, tetapi yang menyangkut promosi
kesehatan diselenggarakan pada tahun 2002 di Vientiane, Laos. Pertemuan ini menghasilkan
Deklarasi Vientiane atau Kesepakatan Menteri Kesehatan ASEAN tentang Healthy ASEAN
Lifestyle (antara lain ditandatangani oleh Dr. Achmad Suyudi selaku Menkes RI) yang pada
pokoknya merupakan kesepakatan untuk mengintensifkan upaya-upaya regional untuk
meningkatkan gaya hidup sehat penduduk ASEAN. Dalam kesepakatan itu ditetapkan antara lain
tentang visinya, yaitu bahwa pada tahun 2020 semua penduduk ASEAN akan menuju kehidupan
yang sehat, sesuai dengan nilai, kepercayaan dan budaya lingkungannya.
5. Pertemuan-pertemuan internasional atau regional lainnya, seperti: International Conference on
Tobacco and Health di Beijing, 1997; International Conference on Working Together for better
health di Cardiff, UK, 1998; dan masih banyak pertemuan lainnya, misalnya tentang HIV/AIDS
di Bangkok, Manila, dll; pertemuan tentang kesehatan lingkungan di Nepal; pertemuan tentang
Health Promotion di Bangkok, di Melbourne, dll. Ini semua memperkuat jaringan dan semakin
memantapkan langkah di Indonesia.

Selain itu, Indonesia juga banyak menerima kunjungan persahabatan dari negara-negara sahabat,
kebanyakan dari negara-negara yang sedang berkembang seperti dari Bangladesh, India,
Myarmar, Sri Langka, Maladewa (Maldives) dan beberapa negara di Afrika. Dalam kesempatan
diskusi di kelas maupun kunjungan lapangan, mereka juga sering memberi masukan dan
perbandingan tentang kegiatan promosi kesehatan.
Diposkan oleh Akbid SM di 07.35