Anda di halaman 1dari 14

Obat Tradisional dan Tanaman Obat di

Indonesia
DokterSehat.com Sejak ratusan tahun yang lalu, nenek moyang bangsa kita telah terkenal
pandai meracik jamu dan obat-obatan tradisional. Beragam jenis tumbuhan, akar-akaran, dan
bahan-bahan alamiah lainnya diracik sebagai ramuan jamu untuk menyembuhkan berbagai
penyakit. Ramuan-ramuan itu digunakan pula untuk menjaga kondisi badan agar tetap sehat,
mencegah penyakit, dan sebagian untuk mempercantik diri. Kemahiran meracik bahan-bahan
itu diwariskan oleh nenek moyang kita secara turun temurun, dari satu generasi ke generasi
berikutnya, hingga ke zaman kita sekarang. Di berbagai daerah di tanah air, kita menemukan
berbagai kitab yang berisi tata cara pengobatan dan jenis-jenis obat tradisional. Di Bali,
misalnya, ditemukan kitab usadha tuwa, usadha putih, usadha tuju, dan usadha seri yang
berisi berbagai jenis obat tradisional. Dalam cerita rakyat seperti cerita Sudamala, dikisahkan
bagaimana Sudamala berhasil menyembuhkan mata pendeta Tambapetra yang buta.
Demikian pula relief cerita Mahakarmmawibhangga pada kaki Candi Borobudur,
menggambarkan seorang anak kecil yang sakit dan sedang diobati dua orang tabib. Salah satu
relief lainnya, juga memperlihatkan kegiatan seorang tabib sedang meracik obat.

Indonesia dan Obat Tradisional

Sejak ratusan tahun yang lalu, nenek moyang bangsa kita telah terkenal pandai meracik jamu
dan obat-obatan tradisional. Beragam jenis tumbuhan, akar-akaran, dan bahan-bahan alamiah
lainnya diracik sebagai ramuan jamu untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Ramuan-
ramuan itu digunakan pula untuk menjaga kondisi badan agar tetap sehat, mencegah
penyakit, dan sebagian untuk mempercantik diri. Kemahiran meracik bahan-bahan itu
diwariskan oleh nenek moyang kita secara turun temurun, dari satu generasi ke generasi
berikutnya, hingga ke zaman kita sekarang.

Di berbagai daerah di tanah air, kita menemukan berbagai kitab yang berisi tata cara
pengobatan dan jenis-jenis obat tradisional. Di Bali, misalnya, ditemukan kitab usadha tuwa,
usadha putih, usadha tuju, dan usadha seri yang berisi berbagai jenis obat tradisional. Dalam
cerita rakyat seperti cerita Sudamala, dikisahkan bagaimana Sudamala berhasil
menyembuhkan mata pendeta Tambapetra yang buta. Demikian pula relief cerita
Mahakarmmawibhangga pada kaki Candi Borobudur, menggambarkan seorang anak kecil
yang sakit dan sedang diobati dua orang tabib. Salah satu relief lainnya, juga memperlihatkan
kegiatan seorang tabib sedang meracik obat.

Demikian pula dalam tradisi Melayu, ditemukan naskah-naskah yang menyajikan resep obat-
obatan. Naskah-naskah itu, antara lain memuat berbagai jamusawan, jamu sorong, jamu
untuk ibu hamil dan melahirkan, obat sakit mata,obat sakit pinggang, hingga obat penambah
nafsu makan. Peralihan dari zaman Hindu-Budha ke zaman Islam, telah memperkaya
khazanah tradisi pengobatan dalam masyarakat kita. Berbagai buku kedokteran Islam yang
ditulis dalam bahasa Arab dan Persia, telah diterjemahkan baik ke dalam bahasa Jawa
maupun bahasa Melayu.Semua ini berlangsung tanpa terputus, sampai bangsa kita mengenal
ilmu kedokteran dari Eropa pada zaman penjajahan.

Di tengah-tengah serbuan obat-obatan modern, jamu dan ramuan tradisional tetap menjadi
salah satu pilihan bagi masyarakat kita. Tidak hanya masyarakat di pedesaan, masyarakat di
perkotaan pun mulai mengkonsumsi obat-obatan tradisional ini. Diberbagai pelosok tanah air,
dengan mudah kita menjumpai para penjual jamu gendong berkeliling menjajakan jamu
sebagai minuman sehat dan menyegarkan. Demikian pula, kios-kios jamu tersebar merata di
seluruh penjuru tanah air. Jamu dan obat-obatan tradisional, telah menjadi bagian yang tidak
terpisahkan dari kehidupan masyarakat kita.

Keragaman obat-obatan tradisional di tanah air, telah memperkaya khasanah ilmu


pengetahuan, dan kesehatan bangsa kita. Negara kita menjadi salah satu pusat tanaman obat
di dunia. Ribuan jenis tumbuhan tropis, tumbuh subur di seluruh pelosok negeri. Belum
semua jenis tanaman itu kita ketahui manfaat dan khasiatnya. Kita hanya berkeyakinan
bahwa Tuhan menciptakan semua jenis tumbuhan itu, pastilah tidak sia-sia. Semua itu pasti
ada manfaatnya. Olehkarena itu, perlu dilakukan konservasi sumber daya alam, agar jangan
ada jenis tanaman yang punah. Kebakaran hutan bukan saja memusnahkan satwa dan fauna,
tetapi juga menimbulkan polusi dan meningkatkan suhu pemanasan global.

Jamu dan obat tradisional, sampai saat ini belum dikembangkan secara optimal. Produksi
jamu dan obat-obatan tradisional lebih banyak diproduksi oleh homeindustry. Hanya sebagian
kecil jamu dan obat-obatan tradisional yang diproduksi secara masal melalui industri jamu
dan obat tradisional di pabrik-pabrik. Untuk meningkatkan kualitas, mutu, dan produk jamu
serta obat-obatan yang dihasilkan oleh masyarakat kita, diperlukan kerjasama seluruh pihak
yang terkait.Kerjasama itu dimaksudkan agar jamu dan obat tradisional yang dihasilkan dapat
bersaing, baik di pasar regional maupun global.

Beredarnya jamu dan obat-obatan yang tidak terdaftar di Badan Pengawasan Obatdan
Makanan, akan merugikan konsumen. Di samping itu, secara ekonomi, beredarnya obat-
obatan seperti itu justru akan merusak citra obat tradisional. Citra yang rusak akhirnya akan
memukul produksi dan pemasaran obat-obatan tradisional, di dalam maupun di luar negeri.
Pemerintah, terus berupaya melakukan pengawasan demi meningkatkan keamanan, mutu,
dan manfaat obat tradisional. Hal ini dilakukan agar masyarakat terlindung dari obat
tradisional yang dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan.

Melalui penelitian dan pengembangan yang cermat dan teliti, jamu dan obat-obatan
tradisional dapat diarahkan untuk menjadi obat yang dapat diterima dalam pelayanan
kesehatan formal. Memang harus kita akui, bahwa para dokter dan apoteker, hingga saat ini
masih belum dapat menerima jamu sebagai obat yang dapat mereka rekomendasikan kepada
para pasiennya. Akibatnya, pemasaran produk jamu tidak dapat menggunakan tenaga detailer
seperti pada obat modern.

Akhir-akhir ini, tampak adanya trend hidup sehat pada masyarakat untuk menggunakan
produk yang berasal dari alam. Oleh karena itu, jamu dan obat-obatan tradisional perlu
didorong untuk menjadi salah satu pilihan pengobatan. Jamudan obat-obatan tradisional harus
didorong pula untuk menjadi komoditi unggulan yang dapat memberikan sumbangan positif
bagi meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Kegiatan itu juga memberikan
peluang kesempatan kerja, dan mengurangi kemiskinan.
Disarikan dari Sambutan Pembukaan Musyawarah Nasional ke-5 Gabungan Pengusaha Jamu
dan Obat Tradisional Indonesia oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang
Yudhoyono.

Penggolongan Obat Tradisional

Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan
hewan, bahan mineral, sediaan sarian ( galenik) atau campuran dari bahan tersebut, yang
secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.

Obat bahan alam yang ada di Indonesia saat dapat dikategorikan menjadi 3, yaitu jamu, obat
herbal terstandar, dan fitofarmaka.

1. Jamu (Empirical based herbalmedicine)

Logo Jamu Tradisional

Jamu adalah obat tradisional yang disediakan secara tradisional, yang berisi seluruh
bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut, higienis (bebas cemaran) serta
digunakan secara tradisional. Jamu telah digunakan secara turun-temurun selama
berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin ratusan tahun, Pada umumnya, jenis ini dibuat
dengan mengacu pada resep peninggalan leluhur . Bentuk jamu tidak memerlukan
pembuktian ilmiah sampai dengan klinis, tetapi cukup dengan bukti empiris turun
temurun.

2. Obat Herbal Terstandar (Scientificbased herbal medicine)

Logo Obat Herbal terstandar

Adalah obat tradisional yang disajikan dari ekstrak atau penyarian bahan alam yang
dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral. Untuk melaksanakan proses
ini membutuhkan peralatan yang lebih kompleks dan berharga mahal, ditambah
dengant enaga kerja yang mendukung dengan pengetahuan maupun ketrampilan
pembuatan ekstrak. Selain proses produksi dengan teknologi maju, jenis ini telah
ditunjang dengan pembuktian ilmiah berupa penelitian-penelitian pre-klinik (uji pada
hewan) dengan mengikutis tandar kandungan bahan berkhasiat, standar pembuatan
ekstrak tanaman obat, standar pembuatan obat tradisional yang higienis, dan uji
toksisitas akutmaupun kronis.

3. Fitofarmaka (Clinical basedherbal medicine)

Logo Fitofarmaka
Fitofarmaka adalah obat tradisional dari bahan alam yang dapat disetarakan dengan
obat modern karena proses pembuatannya yang telah terstandar, ditunjang dengan
bukti ilmiah sampai dengan uji klinik pada manusia dengan kriteria memenuhi syarati
lmiah, protokol uji yang telah disetujui, pelaksana yang kompeten, memenuhi prinsip
etika, tempat pelaksanaan uji memenuhi syarat. Dengan uji klinik akan lebih
meyakinkan para profesi medis untuk menggunakan obat herbal di sarana pelayanan
kesehatan. Masyarakat juga bisa didorong untuk menggunakan obat herbal karena
manfaatnya jelas dengan pembuktian secara ilimiah.

Mengenal Tanaman Obat Keluarga

Pengertian TOGA

Toga adalah singkatan dari tanaman obat keluarga. Tanaman obat keluarga pada hakekatnya
sebidang tanah baik di halaman rumah, kebun ataupun ladang yang digunakan untuk
membudidayakan tanaman yang berkhasiat sebagai obat dalam rangka memenuhi keperluan
keluarga akan obat-obatan. Kebun tanaman obat atau bahan obat dan selanjutnya dapat
disalurkan kepada masyarakat , khususnya obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Pemanfaatan Tanaman Obat

Sejak terciptanya manusia di permukaan bumi, telah diciptakan pula alam sekitarnya mulai
dari sejak itu pula manusia mulai mencoba memanfaatkan alam sekitarnya untuk memenuhi
keperluan alam bagi kehidupannya, termasuk keperluan obat-obatan untuk mengatasi
masalah-masalah kesehatan. Kenyataan menunjukkan bahwa dengan bantuan obat-obatan
asal bahan alam tersebut, masyarakat dapat mengatasi masalah-masalah kesehatan yang
dihadapinya. Hal ini menunjukkan bahwa obat yang berasal dari sumber bahan alam
khususnya tanaman telah memperlihatkan peranannya dalam penyelenggaraan upaya-upaya
kesehatan masyarakat.

Pemanfaatan TOGA yang digunakan untuk pengobatan gangguan kesehatan keluarga


menurut gejala umum adalah:

1. Demam panas

2. Batuk

3. Sakit perut

4. Gatal-gatal

Jenis-jenis Tanaman Untuk TOGA

Jenis tanaman yang harus dibudidayakan untuk tanaman obat keluarga adalah jenis-jenis
tanaman yang memenuhi kriteria sebagai berikut:

1. Jenis tanaman disebutkan dalam buku pemanfaatan tanaman obat.

2. Jenis tanaman yang lazim digunakan sebagai obat didaerah pemukiman.


3. Jenis tanaman yang dapat tumbuh dan hidup dengan baik di daerah pemukiman.

4. Jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain misalnya: buah-buahan
dan bumbu masak

5. Jenis tanaman yang hampir punah

6. Jenis tanaman yang masih liar

7. Jenis tanaman obat yang disebutkan dalam buku pemanfaatan tanaman adalah
tanaman yang sudah lazim di tanam di pekarangan rumah atau tumbuh di daerah
pemukiman.

Fungsi Toga

Salah satu fungsi Toga adalah sebagai sarana untuk mendekatkan tanaman obat kepada
upaya-upaya kesehatan masyarakat yang antara lain meliputi:

1. Upaya preventif (pencegahan)

2. Upaya promotif (meniungkatkan derajat kesehatan)

3. Upaya kuratif (penyembuhan penyakit)

Selain fungsi diatas ada juga fungsi lainnya yaitu:

1. Sarana untuk memperbaiki status gizi masyarakat, sebab banyak tanaman obat yang
dikenal sebagai tanaman penghasil buah-buahan atau sayur-sayuran misalnya lobak,
saledri, pepaya dan lain-lain.

2. Sarana untuk pelestarian alam.

3. Apabila pembuatan tanaman obat alam tidak diikuti dengan upaya-upaya


pembudidayaannya kembali, maka sumber bahan obat alam itu terutama tumbuh-
tumbuhan akan mengalami kepunahan.

4. Sarana penyebaran gerakan penghijauan.

5. Untuk menghijaukan bukit-bukit yang saat ini mengalami penggundulan, dapat


dianjurkan penyebarluasan penanaman tanaman obat yang berbentuk pohon-pahon
misalnya pohon asam, pohon kedaung, pohon trengguli dan lain-lain.

6. Sarana untuk pemertaan pendapatan.

7. Toga disamping berfungsi sebagai sarana untuk menyediakan bahan obat bagi
keluarga dapat pula berfungsi sebagai sumber penghasilan bagi keluarga tersebut.

8. Sarana keindahan.
Dengan adanya Toga dan bila di tata dengan baik maka hal ini akan menghasilkan keindahan
bagi orang/masyarakat yang ada disekitarnya. Untuk menghasilkan keindahan diperlukan
perawatan terhadap tanaman yang di tanam terutama yang ditanam di pekarangan rumah.

PETUNJUK PENGGUNAAN TANAMAN OBAT

Dalam menggunakan tumbuhan obat, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sehingga
hasil pengobatan yang maksima. Bacalah dengan seksama semua petunjuk seputar timbuhan
obat di bawah ini.

1. A. WAKTU PENGUMPULAN

Guna mendapatkan bahan yang terbaik dari tumbuhan obat, perlu diperhatikan saat-
saat pengumpulan atau pemetikan bahan berkhasiat.

Berikut ini pedoman waktu pengumpulan bahan obat secara umum.

o Daun dikumpulkan sewaktu tanaman berbunga dan sebelum buah menjadi


masak.

o Bunga dikumpulkan sebelum atau segera setelah mekar.

o Buah dipetik dalam keadaan masak.

o Biji dikumpulkan dari buah yan g masak sempurna.

o Akar, rimpang (rhizome), umbi (tuber), dan umbi lapis (bulbus) dikumpulkan
sewaktu proses tumbuhan berhenti.

2. PENCUCIAN DAN PENGERINGAN

Bahan obat yang sudah dikumpulkan segera dicuci bersih, sebaiknya dengan air yang
mengalir. Setelah bersih, dapat segera dimanfaatkan bila diperlukan pemakaian yang
bahan segar. Namun, bisa pula dikeringkan untuk disimpan dan digunakan bila
sewaktu-waktu dibutuhkan.

Pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air dan mengcegah pembusukan oleh
cendawan atau bakteri. Dengan demikian, bahan dapat disimpan lebih lama dalam
stoples atau wadah yang tertutup rapat. Bahan kering juga mudah dihaluskan bila
ingin dibuat serbuk.

Berikut ini cara mengeringkan bahan obat :

o Bahan berukuran besar dan banyak mengandung air dapat dipotong-potong


seperlunya terlebih dahulu.

o Pengeringan bisa langsung dibawah sinar matahari, atau memakai pelindung


seperti kawat halus jika menghendaki pengeringan yang tidak terlalu cepat.
o Pengeringan bisa juga dilakukan dengan mengangin-anginkan bahan ditempat
yang teduh atau di dalam ruang pengering yang aliran udaranya baik.

3. SIFAT DAN CITA RASA

Didalam Traditional Chinese Pharmacology dikenal 4 macam sifat dan 5 macam cira
rasa tumbuhan obat, yang merupakan bagian dari cara pengobatan tradisional timur.
Adapun keempat macam sifat tumbuhan obat itu ialah dingin, panas, hangat, dan
sejuk. Tumbuhan obat yang sifatnya panas dan hangat dipakai untuk pengobatan
sindroma dingin, seperti pasien yang takut dingin, tangan dan kaki dingin, lidah pucat
atau nadi lambat. Tumbuhan obat yang bersifat dingin dan sejuk digunakan untuk
pengobatan sindroma panas, seperti demam, rasa haus, warna kencing kuning tua,
lidah merah atau denyut nadi cepat.

Lima macam cita rasa dari tumbuhan obat ialah pedas, manis, asam, pahit, dan asin.
Cita rasa ini digunakan untuk tujuan tertentu karena selain berhubungan dengan organ
tubuh, juga mempunyai khasiat dan kegunaan tersendiri. Misalnya rasa pedas
mempunyai sifat menyebar dan merangsang. Rasa manis berkhasiat tonik dan
menyejukan. Rasa asam berkhasiat mengawetkan dan pengelat. Rasa pahit dapat
mengilangkan panas dan lembab. Sementara rasa asin melunakkan dan sebagai
pencahar. Kadang-kadang ada juga yang menambahkan cita rasa yang keenam, yaitu
netral atau tawar yang berkhasiat sebagai peluruh kencing.

4. CARA MEREBUS RAMUAN OBAT

Perebusan umumnya dilakukan dalam pot tanah, pot keramik, atau panic email,. Pot
keramik dapat dibeli di took obat tradisional Tionghoa. Panic dari besi, alumunium
atau kuningan sebaiknya tidak digunakan untuk merebus. Hal ini diingatkan karena
bahan tersebut dapat menimbulkan endapan, konsentrasi larutan obat yang rendah,
terbentuknya racun atau menimbulkan efek samping akibat terjadinya reaksi kimia
dengan bahan obat.

Gunakan air yang bersih untuk merebus. Sebaiknya digunakan air tawar, kecuali
ditentukan lain. Cara merebus bahan sebagai berikut. Bahan dimasukkan ke dalam pot
tanah. Masukkan air sampai bahan terendam seluruhnya dan permukaan air sekitar 30
mm diatasnya. Perebusan dimulai bila air telah meresap kedalam bahan ramuan obat.

Lakukan perebusan dengan api sesuai petunjuk pembuatan. Apabila nyala api tidak
ditentukan, biasanya perebusan dilakukan dengan api besar sampai airnya mendidih.
Selanjutnya api dikecilkan untuk mencegah air rebusan meluap atau terlalu cepat
kering. Meski demikian, adakalanya api besar dan api kecil digunakan sendiri-sendiri
sewaktu merebus baha obat. Sebagai contoh, obat yang berkhasiat tonik umumnya
direbus dengan api kecil sehingga zat berkhasiatnya dapat secara lengkap dikeluarkan
dalam air rebusan. Demikian pula tumbuhan obat yang mengandung racun perlu
direbus dengan api yang kecil dalam waktu yang agak lama, sekitar 3-5 jam untuk
mengurangi kadar racunnya. Nyala api yang besar digunakan untuk ramuan obat yang
dimaksudkan agar pendidihan menjadi cepat dan penguapan berlebih dari zat yang
merupakan komponen aktif tumbuhan dapat dicegah.

5. WAKTU MINUM OBAT


Bila tidak terdapat petunjuk pemakaian, biasanya obat diminum sebelum makan
kecuali obat tersebut merangsang lambung maka diminum setelah makan. Obat
berkhasiat tonik diminum sewaktu perut kosong, dan obat berkhasiat sedative
diminum sewaktu ingin tidur. Pada penyakit kronis diminum sesuai jadwal secara
teratur. Rebusan obat bisa diminum sesering mungkin sesuai kebutuhan atau diminum
sebagai pengganti teh.

6. CARA MINUM OBAT

Obat biasanya diminum satu dosis sehari yang dibagi untuk 2-3 kali minum.
Umumnya diminum selagi hangat, terutama untuk pengobatan sindroma luar. Setelah
minum obat, pakailah baju tebal atau tidur berselimut supaya tubuh tetap hangat dan
mudah mengeluarkan keringat.

Untuk pengobatan sindroma panas, obat diminum dalam keadaan dingin. Sebaliknya
untuk pengobatan sindroma dingin obat diminum dalam keadaan hangat. Obat yang
sedikit toksik, diminum sedikit demi sedikit tetapi sering. Tambahkan dosisnya secara
bertahap sehingga efek pengobatan tercapai.

7. LAMA PENGOBATAN

Tumbuhan obat yang masih berupa simplisia, hasil pengobatannya tampak lambat,
namun sifatnya konstruktif atau membangun. Hal ini berbeda dengan obat kimiawi
yang hasil pengobatannya terlihat cepat namun destruktif. Oleh karena itu, obat yang
berasal dari tumbuhan tidak dianjurkan penggunaannya untuk penyakit-penyakit
infeksi akut. Tumbuhan obat lebih diutamakan untuk memelihara kesehatan dan
pengobatan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan dengan obat kimiawi, atau
memerlukan kombinasi antara obat kimiawi dengan obat dari tumbuhan berkhasiat.

Sumber : Rektorat Universitas Negeri Bangka Belitung

Read more: http://doktersehat.com/obat-tradisional-dan-tanaman-obat-di-


indonesia/#ixzz4Lbue48oo

Read more: http://doktersehat.com/obat-tradisional-dan-tanaman-obat-di-


indonesia/#ixzz4Lbue4drc

MACAM OBAT HERBAL DAN


CARA MEMAKAIAN
Penggolongan Obat Tradisional

Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan
hewan, bahan mineral, sediaan sarian ( galenik) atau campuran dari bahan tersebut, yang
secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.
Obat bahan alam yang ada di Indonesia saat dapat dikategorikan menjadi 3, yaitu jamu, obat
herbal terstandar, dan fitofarmaka.

1. Jamu (Empirical based herbalmedicine)

Logo Jamu TradisionalJamu adalah obat tradisional yang disediakan secara


tradisional, yang berisi seluruh bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu
tersebut, higienis (bebas cemaran) serta digunakan secara tradisional. Jamu
telah digunakan secara turun-temurun selama berpuluh-puluh tahun bahkan
mungkin ratusan tahun, Pada umumnya, jenis ini dibuat dengan mengacu pada
resep peninggalan leluhur . Bentuk jamu tidak memerlukan pembuktian ilmiah
sampai dengan klinis, tetapi cukup dengan bukti empiris turun temurun.

1. Obat Herbal Terstandar (Scientificbased herbal medicine)

Logo Obat Herbal terstandarAdalah obat tradisional yang disajikan dari


ekstrak atau penyarian bahan alam yang dapat berupa tanaman obat, binatang,
maupun mineral. Untuk melaksanakan proses ini membutuhkan peralatan
yang lebih kompleks dan berharga mahal, ditambah dengant enaga kerja yang
mendukung dengan pengetahuan maupun ketrampilan pembuatan ekstrak.
Selain proses produksi dengan teknologi maju, jenis ini telah ditunjang dengan
pembuktian ilmiah berupa penelitian-penelitian pre-klinik (uji pada hewan)
dengan mengikutis tandar kandungan bahan berkhasiat, standar pembuatan
ekstrak tanaman obat, standar pembuatan obat tradisional yang higienis, dan
uji toksisitas akutmaupun kronis.

1. Fitofarmaka (Clinical basedherbal medicine)

Logo FitofarmakaFitofarmaka adalah obat tradisional dari bahan alam yang dapat
disetarakan dengan obat modern karena proses pembuatannya yang telah terstandar,
ditunjang dengan bukti ilmiah sampai dengan uji klinik pada manusia dengan kriteria
memenuhi syarati lmiah, protokol uji yang telah disetujui, pelaksana yang kompeten,
memenuhi prinsip etika, tempat pelaksanaan uji memenuhi syarat. Dengan uji klinik
akan lebih meyakinkan para profesi medis untuk menggunakan obat herbal di sarana
pelayanan kesehatan. Masyarakat juga bisa didorong untuk menggunakan obat herbal
karena manfaatnya jelas dengan pembuktian secara ilimiah.

Mengenal Tanaman Obat Keluarga

Pengertian TOGA

Toga adalah singkatan dari tanaman obat keluarga. Tanaman obat keluarga pada hakekatnya
sebidang tanah baik di halaman rumah, kebun ataupun ladang yang digunakan untuk
membudidayakan tanaman yang berkhasiat sebagai obat dalam rangka memenuhi keperluan
keluarga akan obat-obatan. Kebun tanaman obat atau bahan obat dan selanjutnya dapat
disalurkan kepada masyarakat , khususnya obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Pemanfaatan Tanaman Obat

Sejak terciptanya manusia di permukaan bumi, telah diciptakan pula alam sekitarnya mulai
dari sejak itu pula manusia mulai mencoba memanfaatkan alam sekitarnya untuk memenuhi
keperluan alam bagi kehidupannya, termasuk keperluan obat-obatan untuk mengatasi
masalah-masalah kesehatan. Kenyataan menunjukkan bahwa dengan bantuan obat-obatan
asal bahan alam tersebut, masyarakat dapat mengatasi masalah-masalah kesehatan yang
dihadapinya. Hal ini menunjukkan bahwa obat yang berasal dari sumber bahan alam
khususnya tanaman telah memperlihatkan peranannya dalam penyelenggaraan upaya-upaya
kesehatan masyarakat.

Pemanfaatan TOGA yang digunakan untuk pengobatan gangguan kesehatan keluarga


menurut gejala umum adalah:

1. Demam panas

2. Batuk

3. Sakit perut

4. Gatal-gatal

Jenis-jenis Tanaman Untuk TOGA

Jenis tanaman yang harus dibudidayakan untuk tanaman obat keluarga adalah jenis-jenis
tanaman yang memenuhi kriteria sebagai berikut:

1. Jenis tanaman disebutkan dalam buku pemanfaatan tanaman obat.

2. Jenis tanaman yang lazim digunakan sebagai obat didaerah pemukiman.

3. Jenis tanaman yang dapat tumbuh dan hidup dengan baik di daerah pemukiman.

4. Jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain misalnya: buah-buahan
dan bumbu masak

5. Jenis tanaman yang hampir punah

6. Jenis tanaman yang masih liar

7. Jenis tanaman obat yang disebutkan dalam buku pemanfaatan tanaman adalah
tanaman yang sudah lazim di tanam di pekarangan rumah atau tumbuh di daerah
pemukiman.

Fungsi Toga
Salah satu fungsi Toga adalah sebagai sarana untuk mendekatkan tanaman obat kepada
upaya-upaya kesehatan masyarakat yang antara lain meliputi:

1. Upaya preventif (pencegahan)

2. Upaya promotif (meniungkatkan derajat kesehatan)

3. Upaya kuratif (penyembuhan penyakit)

Selain fungsi diatas ada juga fungsi lainnya yaitu:

1. Sarana untuk memperbaiki status gizi masyarakat, sebab banyak tanaman obat yang
dikenal sebagai tanaman penghasil buah-buahan atau sayur-sayuran misalnya lobak,
saledri, pepaya dan lain-lain.

2. Sarana untuk pelestarian alam.

3. Apabila pembuatan tanaman obat alam tidak diikuti dengan upaya-upaya


pembudidayaannya kembali, maka sumber bahan obat alam itu terutama tumbuh-
tumbuhan akan mengalami kepunahan.

4. Sarana penyebaran gerakan penghijauan.

5. Untuk menghijaukan bukit-bukit yang saat ini mengalami penggundulan, dapat


dianjurkan penyebarluasan penanaman tanaman obat yang berbentuk pohon-pahon
misalnya pohon asam, pohon kedaung, pohon trengguli dan lain-lain.

6. Sarana untuk pemertaan pendapatan.

7. Toga disamping berfungsi sebagai sarana untuk menyediakan bahan obat bagi
keluarga dapat pula berfungsi sebagai sumber penghasilan bagi keluarga tersebut.

8. Sarana keindahan.

Dengan adanya Toga dan bila di tata dengan baik maka hal ini akan menghasilkan keindahan
bagi orang/masyarakat yang ada disekitarnya. Untuk menghasilkan keindahan diperlukan
perawatan terhadap tanaman yang di tanam terutama yang ditanam di pekarangan rumah.

PETUNJUK PENGGUNAAN TANAMAN OBAT

Dalam menggunakan tumbuhan obat, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sehingga
hasil pengobatan yang maksima. Bacalah dengan seksama semua petunjuk seputar timbuhan
obat di bawah ini.

1. A. WAKTU PENGUMPULANGuna mendapatkan bahan yang terbaik dari


tumbuhan obat, perlu diperhatikan saat-saat pengumpulan atau pemetikan
bahan berkhasiat.Berikut ini pedoman waktu pengumpulan bahan obat secara
umum.
Daun dikumpulkan sewaktu tanaman berbunga dan sebelum buah
menjadi masak.

Bunga dikumpulkan sebelum atau segera setelah mekar.

Buah dipetik dalam keadaan masak.

Biji dikumpulkan dari buah yan g masak sempurna.

Akar, rimpang (rhizome), umbi (tuber), dan umbi lapis (bulbus)


dikumpulkan sewaktu proses tumbuhan berhenti.

1. PENCUCIAN DAN PENGERINGANBahan obat yang sudah dikumpulkan


segera dicuci bersih, sebaiknya dengan air yang mengalir. Setelah bersih,
dapat segera dimanfaatkan bila diperlukan pemakaian yang bahan segar.
Namun, bisa pula dikeringkan untuk disimpan dan digunakan bila sewaktu-
waktu dibutuhkan.Pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air dan
mengcegah pembusukan oleh cendawan atau bakteri. Dengan demikian, bahan
dapat disimpan lebih lama dalam stoples atau wadah yang tertutup rapat.
Bahan kering juga mudah dihaluskan bila ingin dibuat serbuk.

Berikut ini cara mengeringkan bahan obat :

Bahan berukuran besar dan banyak mengandung air dapat dipotong-


potong seperlunya terlebih dahulu.

Pengeringan bisa langsung dibawah sinar matahari, atau memakai


pelindung seperti kawat halus jika menghendaki pengeringan yang
tidak terlalu cepat.

Pengeringan bisa juga dilakukan dengan mengangin-anginkan bahan


ditempat yang teduh atau di dalam ruang pengering yang aliran
udaranya baik.

1. SIFAT DAN CITA RASADidalam Traditional Chinese Pharmacology dikenal


4 macam sifat dan 5 macam cira rasa tumbuhan obat, yang merupakan bagian
dari cara pengobatan tradisional timur. Adapun keempat macam sifat
tumbuhan obat itu ialah dingin, panas, hangat, dan sejuk. Tumbuhan obat yang
sifatnya panas dan hangat dipakai untuk pengobatan sindroma dingin, seperti
pasien yang takut dingin, tangan dan kaki dingin, lidah pucat atau nadi lambat.
Tumbuhan obat yang bersifat dingin dan sejuk digunakan untuk pengobatan
sindroma panas, seperti demam, rasa haus, warna kencing kuning tua, lidah
merah atau denyut nadi cepat.Lima macam cita rasa dari tumbuhan obat ialah
pedas, manis, asam, pahit, dan asin. Cita rasa ini digunakan untuk tujuan
tertentu karena selain berhubungan dengan organ tubuh, juga mempunyai
khasiat dan kegunaan tersendiri. Misalnya rasa pedas mempunyai sifat
menyebar dan merangsang. Rasa manis berkhasiat tonik dan menyejukan.
Rasa asam berkhasiat mengawetkan dan pengelat. Rasa pahit dapat
mengilangkan panas dan lembab. Sementara rasa asin melunakkan dan sebagai
pencahar. Kadang-kadang ada juga yang menambahkan cita rasa yang
keenam, yaitu netral atau tawar yang berkhasiat sebagai peluruh kencing.

1. CARA MEREBUS RAMUAN OBATPerebusan umumnya dilakukan dalam


pot tanah, pot keramik, atau panic email,. Pot keramik dapat dibeli di took
obat tradisional Tionghoa. Panic dari besi, alumunium atau kuningan
sebaiknya tidak digunakan untuk merebus. Hal ini diingatkan karena bahan
tersebut dapat menimbulkan endapan, konsentrasi larutan obat yang rendah,
terbentuknya racun atau menimbulkan efek samping akibat terjadinya reaksi
kimia dengan bahan obat.Gunakan air yang bersih untuk merebus. Sebaiknya
digunakan air tawar, kecuali ditentukan lain. Cara merebus bahan sebagai
berikut. Bahan dimasukkan ke dalam pot tanah. Masukkan air sampai bahan
terendam seluruhnya dan permukaan air sekitar 30 mm diatasnya. Perebusan
dimulai bila air telah meresap kedalam bahan ramuan obat.

Lakukan perebusan dengan api sesuai petunjuk pembuatan. Apabila nyala api
tidak ditentukan, biasanya perebusan dilakukan dengan api besar sampai
airnya mendidih. Selanjutnya api dikecilkan untuk mencegah air rebusan
meluap atau terlalu cepat kering. Meski demikian, adakalanya api besar dan
api kecil digunakan sendiri-sendiri sewaktu merebus baha obat. Sebagai
contoh, obat yang berkhasiat tonik umumnya direbus dengan api kecil
sehingga zat berkhasiatnya dapat secara lengkap dikeluarkan dalam air
rebusan. Demikian pula tumbuhan obat yang mengandung racun perlu direbus
dengan api yang kecil dalam waktu yang agak lama, sekitar 3-5 jam untuk
mengurangi kadar racunnya. Nyala api yang besar digunakan untuk ramuan
obat yang dimaksudkan agar pendidihan menjadi cepat dan penguapan
berlebih dari zat yang merupakan komponen aktif tumbuhan dapat dicegah.

1. WAKTU MINUM OBATBila tidak terdapat petunjuk pemakaian, biasanya


obat diminum sebelum makan kecuali obat tersebut merangsang lambung
maka diminum setelah makan. Obat berkhasiat tonik diminum sewaktu perut
kosong, dan obat berkhasiat sedative diminum sewaktu ingin tidur. Pada
penyakit kronis diminum sesuai jadwal secara teratur. Rebusan obat bisa
diminum sesering mungkin sesuai kebutuhan atau diminum sebagai pengganti
teh.

1. CARA MINUM OBATObat biasanya diminum satu dosis sehari yang dibagi
untuk 2-3 kali minum. Umumnya diminum selagi hangat, terutama untuk
pengobatan sindroma luar. Setelah minum obat, pakailah baju tebal atau tidur
berselimut supaya tubuh tetap hangat dan mudah mengeluarkan
keringat.Untuk pengobatan sindroma panas, obat diminum dalam keadaan
dingin. Sebaliknya untuk pengobatan sindroma dingin obat diminum dalam
keadaan hangat. Obat yang sedikit toksik, diminum sedikit demi sedikit tetapi
sering. Tambahkan dosisnya secara bertahap sehingga efek pengobatan
tercapai.

1. LAMA PENGOBATANTumbuhan obat yang masih berupa simplisia, hasil


pengobatannya tampak lambat, namun sifatnya konstruktif atau membangun. Hal ini
berbeda dengan obat kimiawi yang hasil pengobatannya terlihat cepat namun
destruktif. Oleh karena itu, obat yang berasal dari tumbuhan tidak dianjurkan
penggunaannya untuk penyakit-penyakit infeksi akut. Tumbuhan obat lebih
diutamakan untuk memelihara kesehatan dan pengobatan penyakit kronis yang tidak
dapat disembuhkan dengan obat kimiawi, atau memerlukan kombinasi antara obat
kimiawi dengan obat dari tumbuhan berkhasiat.