Anda di halaman 1dari 24

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR

DINAS PENDIDIKAN
SMK NEGERI 1 SINGOSARI MALANG
Jalan Raya MondorokoNo. 3 SingosariTelp.(0341) 458138 Fax. 458139
Website :http://www.smkn1sgs.sch.id Email : smkn1_sgs@yahoo.com

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


(R P P)

Satuan Pendidikan : SMK Negeri 1 Singosari


Mata Pelajaran : Kelistrikan dan Sistem Kontrol Alat Berat
Kelas/ Semester : XI TAB / Gasal
Materi Pokok : Sistem Stater
Pertemuan Ke : 1 (Pertama)
Alokasi Waktu : 4 x 45 menit

A. Kompetensi Inti

KI 3. Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif
berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam
wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian
dalam bidang kerja yang spesifik untuk memecahkan masalah.

KI 4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari
yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu melaksanakan
tugas spesifik di bawah pengawasan langsung.

B. Kompetensi Dasar
3. 1 Menjelaskan cara kerja system starter
4..1 Merawat pada system starter

C. Indikator Pencapaian Kompetensi


3.1.1 Dapat menjelaskan cara kerja system starter
3.1.1 Melaksanakan perawatan starter motor sesuai prosedur

D. Tujuan Pembelajaran
1. Peserta didik dapat menjelaskan prinsip kerja system starter dengan benar tanpa melihat referensi
2. Peserta didik dapat melaksanakan perawatan system stator dengan benar sesuai dengan prosedur

E. Materi Pembelajaran

PRINSIP KERJA MOTOR STARTER

Sebelum mempelajari prinsip dasar motor starter beberapa prinsip dasar magnet perlu diulas. Prinsip-prinsip ini antara lain
adalah :
Kutub yang sama saling menolak, kutub yang berbeda saling menarik
Garis-garis fluks magnet merupakan garis kontinyu yang menghasilkan gaya
Konduktor penghantar arus memiliki medan magnet yang mengelilingi konduktor tersebut dalam arah yang
ditentukan oleh aliran arus

Potongan kutub (Pole Piece)


Field Winding
Armature Sederhana
Commutator dan Brush
KONSTRUKSI MOTOR STARTER
Armature
Field winding
Karakteristik Motor Starter
Starter adalah motor listrik berkapasitas tinggi dengan intermittent duty yang cenderung memiliki karakteristik spesifik dalam
operasi:
Jika motor tersebut diperlukan untuk memberikan daya pada komponen mekanik (atau beban) tertentu, motor
tersebut akan menggunakan sejumlah daya dalam watt
Jika beban tersebut disingkirkan, kecepatan akan meningkat serta tarikan pada saat ini akan menurun
Jika muatan ditambah, kecepatan akan menurun dan tarikan pada saat ini akan meningkat. Motor starter memiliki
resistensi rendah dan aliran arus yang tinggi.

Medan motor starter dapat dihubungkan bersama dalam empat konfigurasi yang berbeda untuk menghasilkan kekuatan
medan yang diperlukan:
Seri
Shunt
Paralel
Seri parallel

Mekanisme Starter Drive

Gear pada flywheel disebut ring gear. Bagaimana starter pinion gear mengaktifkan flywheel ring gear tergantung pada jenis
penggerak yang dipergunakan. Starter pinion gear serta mekanisme penggeraknya dapat dibagi menjadi dua jenis yang
berbeda:
Penggerak inersia (inertia drive)
Overrunning clutch

STARTING CIRCUIT CONTROL

Gambar 13

Rangkaian starting memiliki perangkat pengontrol dan pelindung. Perangkat ini dibutuhkan untuk operasi alternatif motor
starter serta untuk mencegah operasi saat mesin sedang berada dalam mode operasi karena alasan keamanan. Rangkaian
listrik starter dapat terdiri atas perangkat berikut ini:
Battery
Cable & wire
Key start switch
Switch pengaman netral/switch pengaman clutch (jika ada)
Starter relay
Starter solenoid
OPERASI SISTEM STARTER

Gambar 16
Sistem starter beroperasi sebagai berikut:
Pada saat ignition switch ditutup, arus battery mengalir ke dua arah. Arus mengalir dari battery ke start switch dan
kemudian melalui pull-in winding, field winding, armature, brush dan ke ground.
Aktivasi dari pull-in winding dan hold-in winding menghasilkan gaya magnet. Gaya magnet menarik plunger ke arah kiri,
yang menggerakkan overrunning clutch dan pinion ke arah flywheel ring gear.

Gambar 17
Pada saat penghisap ditarik ke arah kiri, kontak solenoid akan menutup.
Pada tahap ini pinion mulai bercampur dengan flywheel ring gear dan pull-in winding dipersingkat, yang menyebabkan arus
mengalir melalui solenoid menyentuh field winding, armature, brush dan mengalir ke ground.
Arus masih mengalir melalui hold-in winding ke ground. Motor starter kemudian di-energize, pinion akan mengaktifkan
flywheel ring gear dan engine akan mulai mengcrank. Pada saat ini plunger dipertahankan dalam posisi pull-in hanya oleh
gaya magnet dari hold-in winding.

Gambar 18
Segera setelah engine dihidupkan, flywheel ring gear akan memutar pinion lebih cepat daripada kecepatan rotasi motor
starter. Overrunning clutch akan memutuskan koneksi mekanis antara clutch dengan motor starter.
Pada saat ignition switch dilepaskan, arus mengalir melalui hold-in winding dan pull-in winding berada dalam arah yang
sama, yang menyebabkan gaya magnet hold-in winding. Kontak solenoid kemudian terbuka.
Plunger dan overrunnning clutch ditarik kembali ke posisi awalnya oleh gaya balik pegas (return spring force). Armature
berhenti dan motor berada dalam posisi OFF.
F. Pendekatan / Model / Metode Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran : Saintifik
Model pembelajaran : Dicovery Learning
Metode pembelajaran : Ceramah, presentasi, diskusi

G. Kegiatan Pembelajaran
Alokasi
Kegiatan Deskripsi
Waktu
Pendahuluan Fase menyampaikan tujuan dan memotivasi 15
1. Guru meminta peserta didik untuk berdoa dipimpin oleh ketua kelas menit
2. Guru bersama siswa menyanyikan lagu Indonesia Raya
3. Guru memberikan salam dan menanyakan kabar para siswa.
4. Guru mengabsen siswa sebelum memulai pembelajaran.
5. Guru meminta peserta didik untuk membaca literature atau sumber
bacaan lainnya baik berupa buku,koran, majalah, atau internet
dengan topik bebas
6. Guru menjelaskan tentang mata pelajaran Kelistrikan Dan Sistim
Kontrol Alat Berat.
7. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
8. Guru memotivasi peserta didik dengan menggali potensi siswa,
memahami tentang materi ajar agar kompetisi yang diinginkan
tercapai.
Inti Fase menyajikan informasi 160
1. Prinsip dasar system starting mengubah energi mekanik menjadi menit
energi listrik
2. Arus Searah
3. Arus bolak-balik/alternating current
4. Operasi dasar Starting
a. Operasi normal
b. Operasi puncak

Fase mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar


1. Guru membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari
4 atau 5 orang dengan tingkat kemampuan yang berbeda.
2. Guru meminta setiap kelompok untuk saling bertanya jawab tentang
materi dan diskusi sesama kelompok.

Fase membimbing kelompok bekerja dan belajar


1. Guru mengarahkan atau membimbing siswa memecahkan masalah
yang ditemui selama melakukan diskusi.
2. Guru menekankan pada siswa untuk mengemukakan ide
kelompoknya sendiri tentang cara menyelesaikan masalah.
Fase evaluasi
1. Memandu menyimpulkan materi pelajaran dengan cara
mengajukan pertanyaan- pertanyaan penuntun kepada siswa.
2. Guru meminta beberapa perwakilan kelompok untuk
mempresentasikan hasil diskusinya sedangkan kelompok lain
memberi tanggapan (sharing).
3. Guru bertindak sebagai fasilitator (Guru memandu jalannya diskusi
dan merumuskan jawaban yang benar).

Penutup Fase kegiatan menutup pembelajaran 15


1. Siswa diminta menyimpulkan materi yang telah didiskusikan menit
dengan bimbingan guru.
2. Guru memberikan soal-soal latihan yang harus dikerjakan oleh
individu.
3. Guru menginformasikan tentang materi yang akan dipelajari
pada pertemuan yang akan datang.
Alokasi
Kegiatan Deskripsi
Waktu
4. Guru mengakhiri pelajaran dan memberikan pesan untuk selalu
belajar dan tetap semangat.
5. Salah satu siswa diminta memimpin doa untuk mengakhiri pelajaran

H. Alat / Media / Sumber Pembelajaran


1. Presentasi bahan ajar powerpoint dilengkapi infocus
2. Trainner Kelistrikan
3. Video
4. Modul Kelistrikan dan Sistem Kontrol Alat Berat

I. Penilaian Hasil Belajar

1. Teknik penilaian : Pengamatan, tanya jawab, tes tertulis


2. Prosedur penilaian :
No Aspek Penilaian Teknik Penilaian Waktu Penilaian
1 Sikap Pengamatan Selama pembelajaran
a. Terlibat aktif dalam pembelajaran sitem starter dan saat diskusi
b. Bekerjasama dalam kegiatan kelompok.
c. Toleran terhadap perbedaan pendapat
2 Pengetahuan Pengamatan Penyelesaian tugas
a. Menjelaskan cara kerja system starter dan tes individu dan
kelompok

3 Keterampilan Pengamatan / Penyelesaian tugas (baik


Terampil menyajikan hasil pemahaman tentang lisan individu maupun
komunikasi dalam jaringan. kelompok) dan saat
diskusi

J. Instrumen Penilaian Hasil Belajar


1. Form Pengamatan Sikap (Terlampir 1)
2. Form Pengetahuan
a. Soal Pengetahuan, Kunci Jawaban, dan Cara Pengolahan Nilai (Terlampir 2)

3. Form Keterampilan
a. Soal, Lembar penilaian, Kreteria Penilaian dan Cara Pengolah Nilai (Terlampir 3,4,5)

4. Form Pengayaan dan Remidial (lampiran 6)


Lampiran 1

FORM LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN SIKAP

Mata Pelajaran : Kelistrikan dan Sistem Kontrol Alat Berat


Kelas/Semester : X Teknik Pemesinan / Gasal
Tahun Pelajaran : 2015 / 2016
Waktu Pengamatan : Nopember 2015

Indikator sikap aktif dalam pembelajaran Kelistrikan dan Sistem Kontrol Alat Berat
1. Kurang baik jika menunjukkan sama sekali tidak ambil bagian dalam kegiatan pembelajaran.
2. Cukup baik jika sesekali berusaha bertanya dan berdiskusi dalam kegiatan pembelajaran
3. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha ambil bagian dalam kegiatan pembelajaran tetapi belum konsisten
4. Sangat baik jika menunjukkan sudah ambil bagian secara aktif dalam kegiatan menyelesaikan tugas
secara terus menerus dan ajeg/konsisten

Indikator sikap kerjasama dalam kegiatan kelompok.


1. Kurang baik jika sama sekali tidak berusaha untuk bekerjasama dalam kegiatan diskusi kelompok.
2. Cukup baik jika sesekali berusaha untuk bekerjasama dalam bekerjasama dalam kegiatan diskusi kelompok
3. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bekerjasama dalam kegiatan diskusi kelompok tetapi masih
belum ajeg/konsisten.
4. Sangat baik jika menunjukkan adanya usaha bekerjasama dalam kegiatan diskusi kelompok secara terus
menerus dan ajeg/konsisten.

Indikator sikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
1. Kurang baik jika sama sekali tidak bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda
dan kreatif.
2. Cukup baik jika berusaha bersikap toleran dan tidak mendominasi dalam proses pemecahan masalah yang
berbeda dan kreatif
3. Baik jika menunjukkan sudah ada sedikit usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan
masalah yang berbeda dan kreatif tetapi masuih belum ajeg/konsisten.
4. Sangat baik jika menunjukkansudah ada usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang
berbeda dan kreatif secara terus menerus dan ajeg/konsisten.

Bubuhkan tanda pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan.


Sikap Nilai
No Nama Aktif Bekerjasama Toleran
KB C B SB KB C B SB KB C B SB
1 4 3 4 4 (SB)
2 3 4 4 4 (SB)
3 3 3 3 3 (B)
...
Penilaian untuk sikap diambil dari modus dari aktif, bekerjasama, dan toleran

Keterangan:
KB : Kurang baik dengan bobot 1
C : Cukup dengan bobot 2
B : Baik dengan bobot 3
SB : Sangat baik dengan bobot 4

Singosari, 17 Juli 2017


Guru Mata Pelajaran

DONI TRI PRASETIO, S.Pd


NIP. 198008052010011017
Lampiran 2
Kisi-Kisi, Soal Pengetahuan, Kunci Jawaban, dan Cara Pengolahan Nilai

Mata Pelajaran: Kelistrikan Dan Sistim Kontrol Alat Berat


KD 3.1 Menjelaskan cara kerja system stater

Kompetensi Dasar Indikator Indikator Soal Jenis Soal Soal


3.1 Menjelaskan cara 3.1.1 Menjelaskan cara Siswa Dapat Tes tulis 1. Prisipadalah
kerja sistem kerja system menjelaskan cara Memperoleh energi listrik
starter starter kerja system dari battery dan
starter mengubahnya menjadi
energi mekanik rotasi untuk
mengcrank engine.
a. Motor Stater
b. Regulator
c. Alternator
d. Compresor

Kunci Jawaban Soal:


1. a. Motor Stator

Penskoran Jawaban dan Pengolahan Nilai


1. Nilai 1 : jika sesuai kunci jawaban dan ada pengembangan jawaban
Nilai 0 : jika jawaban tidak sesuai dengan kunci jawaban

Contoh Pengolahan Nilai


IPK No Soal Skor Penilaian 1 Nilai
Nilai perolehan KD pegetahuan : rerata dari nilai IPK
1. 1 4
(1/1) * 100 = 100

Singosari, 17 Juli 2017


Guru Mata Pelajaran

DONI TRI PRASETIO, S.Pd


NIP. 198008052010011017
SOAL Lampiran 3
UJIAN PRAKTIK KEJURUAN

Satuan Pendidikan : Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)


Kompetensi Keahlian : Teknik Alat Berat
Kode : 1298
Alokasi Waktu : 8 jam
Bentuk Soal : Penugasan Perorangan

I. PETUNJUK
Dalam ujian praktik ini anda akan berhadapan dengan beberapa job yang harus dikerjakan yaitu:

Job Ketiga : 1 jam; Merawat Pada System Starting

Catat semua hasil pemeriksaan dan pengukuran dalam lembar/buku yang telah disediakan.

II. KESELAMATAN KERJA

1. Gunakan alat keselamatan kerja sebelum melakukan pekerjaan.


2. Gunakan peralatan tangan dan peralatan ukur sesuai dengan fungsinya.
3. Lakukan pekerjaan dengan teliti.
4. Hati-hati bekerja dengan cairan yang dapat mengenai cat.

III. DAFTAR PERALATAN, KOMPONEN, DAN BAHAN

No. Nama Spesifikasi Jumlah Keterangan


Alat dan Bahan
1 2 3 4 5
Merawat Pada System Starting
1. Caddy Tools set Metric 8 24 mm 1 set
2. AVO meter General 1buah
3. Motor Stater Tester elektrik 1 unit
4. Training Obyek Motor Starter 1 unit
5. Majun
6. Service manual sesuai dengan 1 buku
Motor Starter

Soal/Tugas

1. Bongkar dan pasang Motor Starter (waktu 1 jam)


Lakukan pekerjaan
a. Bongkar dan pasang motor Starter sesuai dengan SOP,
b. lakukan pemeriksaan motor starter.
d. Catat semua hasil pengkuran.
Lampiran 4
LEMBAR PENILAIAN
UJIAN PRAKTIK KEJURUAN

Satuan Pendidikan : Sekolah Menengah Kejuruan


Kompetensi Keahlian : Teknik Alat Berat
Kode : 1298
Alokasi Waktu : 8 jam
Bentuk Soal : Penugasan Perorangan

Nomor Peserta :

Nama Peserta :

Pencapaian Kompetensi
Ya
No Komponen/Sub komponen Penilaian
Tidak
7,0-7,9 8,0-8,9 9,0-10
1 2 3 4 5 6
I Persiapan Kerja
Merawat pada system starter
1.1. Menyiapkan mesin
1.2. Menyiapkan alat dan perlengkapan
II Proses (Sistematika & Cara Kerja)
2.1.Membongkar unit motor starter dari mesin
2.2.Membongkar unit motor starter
2.3.Memeriksa dan membersihkan komponen
motor starter
2.4.Memasang kembali unit motor starter pada
mesin.
III Hasil Kerja
3. Merawat Pada System Starting
IV Sikap Kerja
4.1.Pakaian kerja
4.2.Kesiapan kerja
4.3.Penggunaan alat dan perlengkapan
4.4.Kerapian kerja
V Waktu
5.1. Waktu penyelesaian

Keterangan :
Skor masing-masing komponen penilaian ditetapkan berdasarkan perolehan skor terendah dari sub komponen
penilaian
Perhitungan nilai praktik (NP) :

Prosentase Bobot Komponen Penilaian Nilai Praktik


(NP)
Persiapan Proses Sikap Hasil Waktu NK
Kerja
1 2 3 4 5 6
Skor Perolehan
160 660 210 320 80
Skor Maksimal
5% 50% 20% 20% 5%
Bobot (%)
NK

Keterangan:
Skor Perolehan merupakan penjumlahan skor per komponen penilaian
Skor Maksimal merupakan skor maksimal per komponen penilaian
Bobot diisi dengan prosentase setiap komponen. Besarnya prosentase dari setiap komponen ditetapkan secara
proposional sesuai karakteristik kompetensi keahlian. Total bobot untuk komponen penilaian adalah 100
NK = Nilai Komponen merupakan perkalian dari skor perolehan dengan bobot dibagi skor maksimal

NP = Nilai Praktik merupakan penjumlahan dari NK


Jenis komponen penilaian (persiapan, proses, sikap kerja, hasil, dan waktu) disesuaikan dengan karakter program
keahlian.

, . 2016
Penilai 1/ Penilai 2 *)

*) Coret yang tidak perlu


Lampiran 5
KRITERIA PENILAIAN UJIAN
PRAKTIK KEJURUAN

Satuan Pendidikan : Sekolah Menengah Kejuruan


Kompetensi Keahlian : Teknik Alat Berat
Kode : 1298
Alokasi Waktu : 8 jam
Bentuk Soal : Penugasan Perorangan

No. Komponen/Subkomponen Indikator Skor


Penilaian
1 2 3 4
I Persiapan Kerja
3. Merawat Pada System Starting
1.1.Menyiapkan mesin Memposisikan engine stand dengan baik, dan 9,0-10
mengamati kondisi dan kelengkapan-nya.
Memposisikan engine stand dengan baik, dan tidak 8,0-8,9
mengamati kondisi dan kelengkapannya.
Memposisikan engine stand tidak dengan baik, dan 7,0-7,9
tidak mengamati kondisi dan kelengkapannya.
Tidak melakukan apapun Tidak
1.2.Menyiapkan alat dan Menyiapkan alat dan perlengkapan secara rapi dan 9,0-10
perlengkapan untuk tune up lengkap dimeja kerja
Menyiapkan alat dan perlengkapan dimeja kerja 8,0-8,9
lengkap tapi tidak rapi
Menyiapkan alat dan perlengkapan tanpa mengecek 7,0-7,9
kelengkapannya
Tidak menyiapkan Tidak
II Proses (Sistematika dan Cara Kerja)
3. Merawat Pada System Starting
3.1.Pemasangan motor starter Motor starter dan kabel-kabel terpasang dengan 9,0-10
pada mesin benar dan rapi
Motor starter dan kabel-kabel terpasang dengan 8,0-8,9
benar dan tidak rapi
Motor starter terpasang dengan benar dan kabel- 7,0-7,9
kabel tidak terpasang dengan benar
Motor starter dan kabel-kabel tidak terpasang dengan Tidak
benar
3.2.Motor starter dapat berfungsi Motor starter dapat berfungsi normal 9,0-10
Motor starter dapat berfungsi kurang baik 8,0-8,9
Motor starter memutar mesin lambat 7,0-7,9
Motor starter tidak berfungsi Tidak
III Hasil Kerja
3. Merawat Pada System Starting
3.1.Pemasangan motor starter Motor starter dan kabel-kabel terpasang dengan 9,0-10
pada mesin benar dan rapi
Motor starter dan kabel-kabel terpasang dengan 8,0-8,9
benar dan tidak rapi
Motor starter terpasang dengan benar dan kabel- 7,0-7,9
kabel tidak terpasang dengan benar
Motor starter dan kabel-kabel tidak terpasang dengan Tidak
benar
3.2.Motor starter dapat berfungsi Motor starter dapat berfungsi normal 9,0-10
Motor starter dapat berfungsi kurang baik 8,0-8,9
Motor starter memutar mesin lambat 7,0-7,9
No. Komponen/Subkomponen Indikator Skor
Penilaian
1 2 3 4
Motor starter tidak berfungsi Tidak
IV Sikap Kerja
3. Merawat Pada System Starting
4.1.Pakaian kerja Berpakaian kerja yang rapi memenuhi standardnya 9,0-10
Berpakaian kerja yang rapi tidak memenuhi 8,0-8,9
standardnya
Berpakaian kerja tidak rapi tidak memenuhi 7,0-7,9
standardnya
Tidak berpakaian kerja yang memenuhi standardnya Tidak
4.2.Kesiapan kerja Bekerja dengan tenang dengan tahapan yang tepat 9,0-10
Bekerja kurang tenang dengan tahapan yang tepat 8,0-8,9
Bekerja kurang tenang dengan tahapan yang kurang 7,0-7,9
tepat
Bekerja tidak tenang dengan tahapan tidak tepat Tidak
4.3.Penggunaan alat dan Tepat penggunaan, cermat dan teliti 9,0-10
perlengkapan
Tepat penggunaan, kurang cermat dan teliti 8,0-8,9
Kurang tepat penggunaan, kurang cermat dan teliti 7,0-7,9
Tidak bisa menggunakan dengan baik Tidak
4.4.Kerapian kerja Mesin dan alat dalam kondisi rapi dan bersih sebelum 9,0-10
dan sesudah kerja
Mesin dan alat dalam kondisi rapi dan bersih sebelum 8,0-8,9
dan sesudah kerja alat tidak
Mesin dan alat dalam kondisi rapi dan bersih sebelum 7,0-7,9
dan sesudah kerja keduanya tidak
Mesin dan alat dalam kondisi rapi dan bersih sebelum Tidak
dan sesudah tidak ada usaha merapikan dan
membersihkan
V Waktu
3. Merawat Pada System Starting
5.1.Waktu penyelesaian Tepat 1 jam semua selesai 9,0-10
Tepat 1 jam tugas selesai alat belum dirapikan 8,0-8,9
kembali
Tepat 1 jam masih ada tugas yang belum selesai dan 7,0-7,9
alat belum dirapikan kembali
Tepat 1 jam tugas masih banyak yang belum selesai Tidak
dan alat belum dirapikan kembali
Lampiran 6
PENGAYAAN DAN REMIDIAL
KISI-KISI, SOAL PENGETAHUAN, KUNCI JAWABAN, DAN CARA PENGOLAHAN NILAI

Mata Pelajaran: Kelistrikan Dan Sistim Kontrol Alat Berat


KD 3.1 Menjelaskan cara kerja system stater

Remidial
Kompetensi Dasar Indikator Indikator Soal Jenis Soal Soal
3.1 Menjelaskan cara 3.1.2 Menjelaskan cara Siswa Dapat Tes tulis 1. Alat yang digunakan untuk
kerja sistem kerja system menjelaskan cara mengecrank engine adalah
starter starter kerja system a. Regulator
starter b. Motor Stater
c. Alternator
d. Compresor

Kunci Jawaban Soal:


1. b. Motor Stator

Penskoran Jawaban dan Pengolahan Nilai


1 Nilai 1 : jika sesuai kunci jawaban dan ada pengembangan jawaban
Nilai 0 : jik a jawaban tidak sesuai dengan kunci jawaban

Contoh Pengolahan Nilai


IPK No Soal Skor Penilaian 1 Nilai
Nilai perolehan KD pegetahuan : rerata dari nilai IPK
1. 1 1
(1/1) * 100 = 100

Singosari, 17 Juli 2017


Guru Mata Pelajaran

DONI TRI PRASETIO,


NIP. 198008052010011017
Mata Pelajaran: Kelistrikan Dan Sistim Kontrol Alat Berat
KD 3.1 Menjelaskan cara kerja system stater

Pengayaan
Indikator
Kompetensi Dasar Indikator Jenis Soal Soal
Soal
3.1 Menjelaskan 3.1.3 Menjelaskan Siswa Dapat Tes tulis
cara kerja cara kerja menjelaskan
sistem starter system cara kerja
starter system
starter

Berikut adalah skema tentang:


a. Regulator
b. Alternator
c. Motor Stater
d. Compresor

Kunci Jawaban Soal:


1. c. Motor Stator

Penskoran Jawaban dan Pengolahan Nilai


1 Nilai 1 : jika sesuai kunci jawaban dan ada pengembangan jawaban
Nilai 0 : jika jawaban tidak sesuai dengan kunci jawaban

Contoh Pengolahan Nilai


Skor
IPK No Soal Nilai
Penilaian 1
Nilai perolehan KD pegetahuan : rerata dari nilai IPK
1. 1 1
(1/1) * 100 = 100

Singosari, Juli 2017


Guru Mata Pelajaran

DONI TRI PRASETIO,


NIP. 198008052010011017
LAMPIRAN MATERI

Gambar 1
Pada saat switch starter diaktifkan sejumlah kecil arus mengalir dari battery ke solenoid serta mengalir kembali ke battery
melalui rangkaian ground (Gambar 1).

Solenoid melaksanakan dua fungsi. Solenoid mengaktifkan pinion dengan menggunakan flywheel serta menutup switch
dalam solenoid di antara battery dan motor starter, yang melengkapi siklus rangkaian serta membuat arus tinggi dapat
mengalir kembali ke dalam motor starter.
Motor starter mengambil energi listrik dari battery dan merubahnya menjadi energi mekanik yang berputar untuk
menghidupkan mesin.
Cara kerja ini serupa dengan motor listrik yang lain. Semua motor listrik menghasilkan gaya balik melalui interaksi medan
magnet di dalam motor.
PRINSIP KERJA MOTOR STARTER

Gambar 2

Sebelum mempelajari prinsip dasar motor starter beberapa prinsip dasar magnet perlu diulas. Prinsip-prinsip ini antara lain
adalah :
Kutub yang sama saling menolak, kutub yang berbeda saling menarik
Garis-garis fluks magnet merupakan garis kontinyu yang menghasilkan gaya
Konduktor penghantar arus memiliki medan magnet yang mengelilingi konduktor tersebut dalam arah yang
ditentukan oleh aliran arus

Jika sebuah konduktor memiliki arus yang mengalir melaluinya, maka akan terbentuk medan magnet. Sebuah magnet
permanen memiliki medan di antara kedua kutubnya. Pada saat konduktor yang menghantarkan arus diletakkan dalam
medan magnet permanen, maka timbul gaya yang dihasilkan pada konduktor karena medan magnet tersebut. Jika
konduktor terbentuk dalam sebuah simpul dan ditempatkan dalam medan magnetik, maka hasilnya adalah sama. Karena
aliran arus berada dalam arah yang berlawanan dalam coil, sebuah sisi akan tertekan ke atas dan sisi lainnya tertekan ke
bawah. Hal ini akan membuat efek rotasi atau torsi pada koil (Gambar 2).
Potongan kutub (Pole Piece)

Gambar 3
Potongan kutub (Pole Piece) dalam rangkaian rangka medan dapat dibandingkan dengan ujung sebuah magnet. Jarak
antara kutub inilah yang merupakan medan magnet (Gambar 69).
Field Winding

Gambar 4
Jika sebuah kawat/wire, yang disebut field winding, digulung diantara potongan kutub (Pole Piece) dan arus dialirkan
melaluinya, kekuatan medan magnetik di antara kedua kutub akan meningkat (Gambar 70).

Gambar 5

Jika sebuah arus diberikan dari sumber battery ke sebuah simpul kawat/wire, maka juga akan terbentuk medan magnetik
disekeliling kawat/wire.

Armature Sederhana
Gambar 76
Jika suatu simpul kawat/wire ditempatkan dalam medan magnet diantara dua potongan kutub (Pole Piece) dan arus
dialirkan melalui simpul tersebut, maka akan terbentuk sebuah armature sederhana. Medan magnet di sekitar simpul dan
medan diantara potongan kutub (Pole Piece) akan saling menolak, yang menyebabkan simpul tersebut berputar (Gambar
6)
Commutator dan Brush

Gambar 7
Sebuah commutator dan beberapa brush dipergunakan untuk menjaga motor listrik agar tetap berputar dengan cara
mengendalikan arus yang mengalir melalui simpul kawat/wire (Gambar 73). Commutator berfungsi sebagai sebuah
sambungan listrik geser antara simpul kawat/wire dan brush. Commutator memiliki banyak segmen, yang saling terisolasi
satu dengan lainnya.
Brush berada pada bagian atas commutator serta menggeser commutator untuk membawa arus battery ke simpul
kawat/wire yang berputar. Ketika simpul kawat/wire berputar menajauh dari sepatu kutup, segmen commutator merubah
sambungan listrik antara brush dan simpul kawat/wire. Hal ini akan membalikkan medan magnet pada sekeliling simpul
kawat/wire.
Simpul kawat/wire akan tertarik kembali serta melalui potongan kutub (Pole Piece) yang lain. Koneksi listrik yang berubah
terus-menerus akan membuat motor berputar. Sebuah gerakan tarik-dorong terus dibuat ketika setiap simpul bergerak di
dalam potongan kutub (Pole Piece).
Berbagai simpul kawat/wire serta sebuah commutator dengan segemen banyak dipergunakan untuk meningkatkan daya
motor beserta kehalusannya. Setiap simpul kawat/wire dihubungkan dengan segmen tersendiri pada commutator untuk
menghasilkan aliran arus melalui setiap simpul kawat/wire ketika brush menyentuh setiap segmen. Pada saat motor
berputar, banyak simpul kawat/wire memberikan kontribusi pada gerakan tersebut dengan menghasilkan gaya putar yang
halus dan konstan.
KONSTRUKSI MOTOR STARTER
Armature

Gambar 8
Motor starter, berbeda dengan motor listrik sederhana, harus menghasilkan torsi yang sangat besar pada kecepatan yang
relatif tinggi. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah sistem untuk mendukung simpul kawat/wire serta untuk meningkatkan
kekuatan setiap medan magnetik simpul kawat/wire tersebut.
Sebuah starter armature (Gambar 8) terdiri atas armature shaft, armature core, commutator dan armature winding (simpul
kawat/wire). Starter motor shaft menopang armature pada saat armature tersebut berputar dalam starter housing.
Commutator ditempatkan pada salah satu ujung armature shaft. Armature core menahan lilitan pada tempatnya. Armature
core terbuat dari bahan besi untuk meningkatkan kekuatan medan magnetik yang dihasilkan oleh lilitan.
Field winding

Gambar 9

Field winding (Gambar 75) adalah sebuah kawat/wire stationer terisolasi yang digulung dalam bentuk melingkar, dan
menciptakan medan magnetik yang kuat di sekitar motor armature. Pada saat arus mengalir melalui lilitan kawat/wire,
medan magnetik antara potongan kutub (Pole Piece) menjadi sangat besar. Medan tersebut dapat berukuran 5 hingga 10
kali medan magnet permanen. Pada saat medan magnet d iantara sepatu kutub saling menolak medan yang dihasilkan
armature, maka motor tersebut akan berputar dengan daya ekstra.
Karakteristik Motor Starter
Starter adalah motor listrik berkapasitas tinggi dengan intermittent duty yang cenderung memiliki karakteristik spesifik dalam
operasi:
Jika motor tersebut diperlukan untuk memberikan daya pada komponen mekanik (atau beban) tertentu, motor
tersebut akan menggunakan sejumlah daya dalam watt
Jika beban tersebut disingkirkan, kecepatan akan meningkat serta tarikan pada saat ini akan menurun
Jika muatan ditambah, kecepatan akan menurun dan tarikan pada saat ini akan meningkat. Motor starter memiliki
resistensi rendah dan aliran arus yang tinggi.

Jumlah torsi yang dikembangkan oleh sebuah motor listrik meningkat seiring dengan peningkatan Ampere yang mengalir
melalui motor. Motor starter dirancang untuk beroperasi dalam periode waktu yang singkat dengan beban yang ekstrim.
Motor starter menghasilkan tenaga kuda yang sangat besar dibandingkan dengan ukurannya.
Counter Electromotive Force (CEMF) bertanggungjawab untuk perubahan dalam aliran arus jika kecepatan berubah. CEMF
meningkatkan resistensi aliran arus dari battery, melalui starter, ketika kecepatan starter meningkat. Hal ini terjadi karena,
pada saat konduktor dalam armature dipaksa berputar, konduktor memotong melalui medan magnet yang diciptakan oleh
field winding. Ini akan menginduksi suatu gaya yang menciptakan tegangan/voltage lawan dalam armature yang bertindak
menolak tegangan/voltage battery, tegangan/voltage lawan ini meningkat jika kecepatan armature meningkat. Hal ini
bertindak sebagai sebuah pengendali kecepatan serta mencegah kecepatan bebas yang terlalu tinggi.
Walaupun sebagian motor listrik memiliki beberapa bentuk perangkat perlindungan arus pada rangkaiannya, sebagian
besar motor starter tidak memilikinya. Beberapa starter memiliki perlindungan temperatur, ini disediakan dengan
menggunakan switch termostatik yang sensitif terhadap panas. Switch termostatik tersebut akan membuka pada saat suhu
starter meningkat karena usaha untuk menghidupkan mesin yang berlebihan, switch menutup secara otomatis pada saat
menjadi dingin. Switch tersebut dikategorikan sebagai motor operasi alternatif. Jika dipergunakan sebagai motor operasi
kontinyu, maka ukurannya akan hampir sebesar ukuran mesin itu sendiri. Karena tuntutan torsi yang tinggi pada motor
starter, sejumlah besar panas dihasilkan selama operasi. Operasi motor starter yang terlalu lama akan menyebabkan
kerusakan internal karena panas tersebut. Semua komponen rangkaian listrik motor starter merupakan perangkat keras
yang dapat menangani aliran arus yang tinggi yang berhubungan dengan pengoperasiannya.
Jika beban yang lebih besar memerlukan lebih banyak daya untuk beroperasi, maka setiap motor starter harus memiliki
torsi yang cukup untuk menyediakan kecepatan putaran yang diperlukan untuk menghidupkan enginen. Daya ini
berhubungan langsung dengan kekuatan medan magnet, karena kekuatan medan itulah yang menghasilkan daya.
Gambar 10
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, motor starter memiliki komponen stasioner (field winding) dan komponen yang
berputar (armature). Field winding dan armature umumnya dihubungkan bersama agar semua arus yang memasuki motor
melalui medan dan armature tersebut. Inilah yang disebut rangkaian motor. Brush merupakan sarana untuk membawa arus
dari rangkaian eksternal (field winding) ke rangkaian internal (lilitan armature). Brush ditempatkan dalam brush holder.
Umumnya, setengah brush dihubungkan ke rangka ujung dan setengah lainnya diisolasikan dan dihubungkan ke field
winding.
Medan motor starter dapat dihubungkan bersama dalam empat konfigurasi yang berbeda untuk menghasilkan kekuatan
medan yang diperlukan:
Seri
Shunt
Paralel
Seri parallel

Starter yang digulung secara seri (Gambar 76) dapat menghasilkan torsi awal yang sangat tinggi pada saat diaktifkan. Torsi
ini kemudian menurun pada saat beroperasi karena counter-electromotive force, yang menurunkan aliran arus karena
semua lilitan berada dalam rangkaian seri.
Motor gabungan (Compound) memiliki tiga gulungan seri dan satu gulungan paralel. Hal ini menghasilkan torsi awal yang
baik untuk starting serta memiliki keuntungan dari penyesuaian muatan karena gulungan paralelnya. Jenis starter ini juga
memiliki keuntungan tambahan berupa pengendali kecepatan karena medan paralel.
Motor paralel menyediakan aliran arus yang lebih tinggi dan torsi yang lebih besar dengan cara membagi gulungan seri
menjadi dua rangkaian paralel. Motor seri-paralel menggabungkan keuntungan dari motor seri dan motor paralel.
Banyak heavy duty starter motor memiliki empat medan dan empat brush. Starter yang diperlukan untuk menghasilkan
torsi yang sangat tinggi dapat memiliki hingga enam medan dan brush, sementara starter untuk light duty mungkin hanya
memiliki dua medan.
Banyak motor starter heavy-duty tidak dibumikan melalui rangka starter. Jenis motor starter seperti ini dibumikan melalui
sebuah insulated terminal yang harus dihubungkan dengan ground battery agar dapat beroperasi. Sebuah kawat/wire
ground untuk solenoid dan perangkat listrik mesin lainnya juga harus dihubungkan pada terminal starter ground untuk
operasi listrik yang benar.
Hingga saat ini kita telah membahas komponen listrik motor starter. Setelah daya listrik ditransmisikan ke motor starter,
diperlukan sejenis koneksi untuk membuat energi ini bekerja. Penggerak motor starter memungkinkan penggunaan energi
mekanik yang dihasilkan oleh motor starter. Walaupun torsi yang dihasilkan oleh motor starter tinggi, torsi tersebut tidak
memiliki kemampuan untuk mengcrank engine secara langsung. Sarana lain harus dipergunakan guna menyediakan
kecepatan yang cukup untuk mengcrank engine serta torsi yang dibutuhkan.
Untuk menyediakan torsi yang mencukupi untuk menghidupkan engine, kecepatan starter dirubah dengan rasio dari pinion
gear pada flywheel starter dan mesin. Rasio ini dapat bervariasi antara 15:1 hingga 20:1. Sebagai contoh, jika starter drive
gear memiliki 10 gigi, ring gear dapat memiliki 200 gigi untuk memperoleh rasio 200:10 atau 20:1.

Mekanisme Starter Drive

Gambar 11
Jika starter (Gambar 11) dibiarkan terhubung pada flywheel setelah engine dihidupkan, armature dapat mengalami
kerusakan karena kecepatan sangat tinggi yang diciptakan ketika RPM engine meningkat. Pada kecepatan yang tinggi,
armature akan melempar lilitannya karena gaya sentrifugal. Gear yang mengaktifkan dan menggerakkan flywheel disebut
pinion gear.
Gear pada flywheel disebut ring gear. Bagaimana starter pinion gear mengaktifkan flywheel ring gear tergantung pada jenis
penggerak yang dipergunakan. Starter pinion gear serta mekanisme penggeraknya dapat dibagi menjadi dua jenis yang
berbeda:
Penggerak inersia (inertia drive)
Overrunning clutch

Penggerak inersia diaktuasi oleh gaya rotasi pada saat armature berputar. Jenis penggerak ini diaktifkan setelah motor
mulai bergerak. Lengan penggerak memiliki ulir sekrup yang kasar, yang sesuai dengan ulir dalam pinion.
Pada saat motor mulai berputar, inersia yang diciptakan pada penggerak membuat pinion bergerak ke atas ulir hingga
pinion tersebut mengaktifkan ring gear pada flywheel.
Anda dapat menciptakan kembali gaya ini dengan cara memutar sebuah mur yang berat pada sebuah baut serta
mengamati bagaimana gerakan rotasi berubah menjadi gerakan linear pada saat mur bergerak naik dan turun. Satu
kekurangan dari penggerak inersia ini adalah bahwa pinion belum diaktifkan secara positif sebelum starter mulai berputar.
Jika penggerak tidak mengaktifkan flywheel, maka starter akan berputar pada kecepatan tinggi tanpa menghidupkan mesin
atau jika pinion tertinggal maka pinion tersebut akan menabrak gear dengan kekuatan tinggi, yang dapat merusak giginya.

Gambar 12
Overrunning clutch drive (Gambar 78) adalah jenis penggerak clutch paling sederhana yang dipergunakan pada motor
starter heavy duty. Overrunning clutch drive membutuhkan sebuah tuas untuk menggerakkan pinion berupa kasa dengan
flywheel ring gear. Pinion tersebut diaktifkan dengan flywheel ring gear sebelum armature mulai berputar.
Dengan jenis sistem penggerak ini, sebuah metoda yang berbeda harus dipergunakan untuk mencegah armature agar
tidak bekerja pada kecepatan yang terlalu tinggi. Sebuah tuas akan menarik penggerak dari operasinya, sedangkan
overrunning clutch mencegah kecepatan yang terlalu tinggi.
Overrunning clutch mengunci pinion dalam satu arah serta melepaskannya ke arah yang lain. Hal ini memungkinkan pinion
gear dapat memutar flywheel ring gear untuk menghidupkan mesin. Overrunning clutch juga membuat pinion gear bergerak
bebas pada saat engine mulai berjalan.
Overrunning clutch terdiri atas sebuah roller yang ditahan dalam posisinya oleh pegas terhadap roller clutch. Roller clutch
ini memiliki sisi menirus yang memungkinkan roller dapat mengunci pinion pada porosnya selama pengcrankan.

Torsi berjalan melalui clutch housing dan ditransfer oleh roller ke pinion gear. Pada saat engine dihidupkan dan kecepatan
drive pinion melampaui kecepatan armature shaft, roller didorong ke arah bawah ramp dan memungkinkan pinion berputar
secara terpisah dari armature shaft. Pada saat starter drive pinion dilepaskan dari flywheel serta tidak beroperasi, tekanan
pegas akan memaksa roller menyentuh ramp sebagai persiapan untuk urutan starting berikutnya. Terdapat berbagai
rancangan heavy duty untuk penggerak ini.
STARTING CIRCUIT CONTROL

Gambar 13
Rangkaian starting memiliki perangkat pengontrol dan pelindung. Perangkat ini dibutuhkan untuk operasi alternatif motor
starter serta untuk mencegah operasi saat mesin sedang berada dalam mode operasi karena alasan keamanan. Rangkaian
listrik starter dapat terdiri atas perangkat berikut ini:
Battery
Cable & wire
Key start switch
Switch pengaman netral/switch pengaman clutch (jika ada)
Starter relay
Starter solenoid

Battery
Battery menyuplai semua kebutuhan energi listrik ke starter, sehingga starter dapat mengcrank engine. Adalah penting
bahwa battery terisi penuh serta berada dalam kondisi baik agar sistem starter dapat beroperasi pada potensi penuh.
Cable & wire
Aliran arus tinggi yang melalui motor starter membutuhkan kawat/wire yang harus berukuran cukup besar agar memiliki
resistansi rendah. Dalam sebuah rangkaian seri, setiap resistansi tambahan dalam rangkaian akan mempengaruhi operasi
muatan karena pengurangan dalam jumlah total aliran arus di dalam rangkaian. Dalam beberapa sistem, kabel akan
menghubungkan battery dengan relay dan relay dengan motor starter, sementara dalam sistem yang lain kabel akan
dihubungkan langsung dari battery ke starter. Kabel pembumian juga harus berukuran cukup besar untuk dapat menangani
aliran arus. Semua konektor dan sambungan dalam sistem starter harus memiliki resistansi sekecil mungkin.

Key Start Switch

Gambar 14
Key start switch mengaktifkan motor starter dengan cara menyediakan daya ke starter relay dari battery. Switch tersebut
dapat dioperasikan secara langsung dengan menggunakan kunci atau tombol atau diaktifkan dari jarak jauh dengan
menggunakan kunci pengontrol, serta dapat ditempatkan pada dashboard assembly atau pada kolom kemudi.
Switch Pengaman Netral atau Switch Pengaman Clutch
Semua kendaraan yang dilengkapi dengan power shift atau transmisi otomatis memerlukan switch pengaman netral yang
hanya memungkinkan operasi starter dalam posisi parkir atau netral. Switch ini dapat ditempatkan pada transmisi, pada
shifter atau pada linkage. Kontak switch akan menutup pada saat selektor transmisi berada dalam kondisi parkir atau netral
serta membuka pada saat selektor transmisi berada dalam posisi gigi yang lain.
Beberapa kendaraan dapat menggunakan switch pengaman clutch yang akan membuka pada saat clutch berada dalam
posisi aktif dan menutup pada saat operator menekan pedal clutch. Hal ini mencegah operasi starter selama clutch
diaktifkan.
Beberapa transmisi juga menggunakan sebuah switch gear netral untuk mencegah operasi, kecuali jika transmisi berada
dalam posisi netral. Semua switch pengaman jenis ini harus dijaga kondisinya serta tidak boleh di-bypass atau disingkirkan.
Starter Relay

Gambar 15
Starter relay (switch magnet) dapat dipergunakan dalam beberapa sistem starter. Switch ini terletak diantara key start
switch dan starter solenoid. Switch ini merupakan sebuah switch magnet yang diaktifkan oleh daya dari battery yang
disuplai melalui key start switch. Relay umumnya ditempatkan sedemikian rupa sehingga kabel antara starter dan battery
adalah sependek mungkin.

Starter relay menggunakan sejumlah kecil arus dari key start switch untuk mengendalikan arus yang lebih besar ke starter
solenoid serta mengurangi beban pada key start switch. Melakukan energising pada relay winding akan menyebabkan
plunger tertarik ke atas karena gaya magnet yang dihasilkan dari aliran arus melalui lilitan. Disk kontak juga akan tertarik
ke atas serta akan menyentuh ujung battery dan ujung terminal starter. Arus akan mengalir dari battery memasuki starter
solenoid.
Starter Solenoid

Gambar 16
Solenoid mengkombinasikan operasi sebuah switch magnet (relay) dengan kemampuan untuk melaksanakan tugas
mekanik (mengaktifkan penggerak). Starter solenoid menghasilkan sebuah medan magnet yang menarik solenoid plunger
dan disk ke coil winding, yang melengkapi rangkaian sistem starter. Solenoid ditempatkan pada motor starter sehingga
hubungan dapat terpasang ke overrunning clutch drive untuk mengaktifkan penggerak.
Solenoid memiliki dua lilitan yang berbeda untuk memperoleh operasi yang efektif. Pada saat ignition switch diputar ke
posisi start, arus dari battery mengalir melalui pull-in winding serta hold-in winding. Lilitan ini memiliki banyak koil kawat/wire
serta menghasilkan medan magnet yang kuat untuk menarik plunger yang berat ke depan serta mengaktifkan starter drive.
Pada saat sebuah plunger mencapai akhir gerakan melalui solenoid, maka plunger tersebut mengaktifkan disk kontak
yang akan beroperasi sebagai relay serta menyebabkan arus mengalir ke motor starter dari battery. Hal ini juga dapat
dipergunakan untuk memutuskan lilitan penarik seri dari rangkaian serta membiarkan arus hanya mengalir melalui lilitan
shunt hold-in winding.
Hanya medan magnet lebih ringan yang diciptakan oleh hold-in winding diperlukan untuk menahan plunger pada
tempatnya. Hal ini mengurangi jumlah arus kendali yang diperlukan, pembentukan panas serta menyediakan lebih banyak
arus untuk motor starter.
OPERASI SISTEM STARTER

Gambar 16
Sistem starter beroperasi sebagai berikut:
Pada saat ignition switch ditutup, arus battery mengalir ke dua arah. Arus mengalir dari battery ke start switch dan
kemudian melalui pull-in winding, field winding, armature, brush dan ke ground.
Aktivasi dari pull-in winding dan hold-in winding menghasilkan gaya magnet. Gaya magnet menarik plunger ke arah kiri,
yang menggerakkan overrunning clutch dan pinion ke arah flywheel ring gear.

Gambar 17
Pada saat penghisap ditarik ke arah kiri, kontak solenoid akan menutup.
Pada tahap ini pinion mulai bercampur dengan flywheel ring gear dan pull-in winding dipersingkat, yang menyebabkan arus
mengalir melalui solenoid menyentuh field winding, armature, brush dan mengalir ke ground.
Arus masih mengalir melalui hold-in winding ke ground. Motor starter kemudian di-energize, pinion akan mengaktifkan
flywheel ring gear dan engine akan mulai mengcrank. Pada saat ini plunger dipertahankan dalam posisi pull-in hanya oleh
gaya magnet dari hold-in winding.

Gambar 18
Segera setelah engine dihidupkan, flywheel ring gear akan memutar pinion lebih cepat daripada kecepatan rotasi motor
starter. Overrunning clutch akan memutuskan koneksi mekanis antara clutch dengan motor starter.
Pada saat ignition switch dilepaskan, arus mengalir melalui hold-in winding dan pull-in winding berada dalam arah yang
sama, yang menyebabkan gaya magnet hold-in winding. Kontak solenoid kemudian terbuka.
Plunger dan overrunnning clutch ditarik kembali ke posisi awalnya oleh gaya balik pegas (return spring force). Armature
berhenti dan motor berada dalam posisi OFF.