Anda di halaman 1dari 8

TUGAS MAKALAH

ASUHAN KEBIDANAN NEONATUS


HIPOGLIKEMIA

Oleh :
KELOMPOK 17

1. Indrias Hapsari A2010049


2. Ita Purnama Sari A2010050
3. Jannah Isnaini Putri A2010051

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AISYIYAH SURAKARTA


DIII KEBIDANAN
2011

DAFTAR ISI
0
Judul

Daftar Isi . 1

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang .... 2

2. Tujuan ..... 2

3. Rumusan Masalah ... 2

BAB II PEMBAHASAN

1. Hipoglikemia ... 3

2. Manifestasi Klinis .... 4

3. Pengobatan ... 4

4. Prognosis .. 5

5. Contoh Kasus ... 5

BAB III PENUTUP

1. Kesimpulan ... 6

2. Daftar Pustaka ... 7

BAB I
PENDAHULUAN
1
1. Latar Belakang

Ketakutan terhadap rendahnya kadar gula darah pada bayi baru lahir menjadi
alasan baru yang lumrah untuk memisahkan ibu dengan bayinya, dan
memberikan bayi tambahan susu formula pada masa awal setelah bayi lahir.
Alasan kekhawatiran para dokter anak dan ahli neonatal tersebut adalah karena
kadar gula darah yang rendah dapat menyebabkan kerusakan pada otak, sehingga
hal ini menjadi sesuatu yang sangat diperhatikan. Bagaimanapun, telah terbentuk
perhatian yang berlebihan mengenai kadar gula darah rendah yang sebenarnya
tidak diperlukan. Pada kenyataannya, kebanyakan bayi yang diuji kadar gula
darahnya sebetulnya tidak membutuhkan pengujian tersebut, dan mereka yang
menerima susu formula sebenarnya tidak memerlukan susu formula. Dengan
memberikan susu formula, khususnya karena hampir selalu diberikan dengan
botol, kita telah mengganggu proses menyusui dan telah memberi kesan bahwa
formula adalah obat yang bagus.

Glukosa dalam darah mempunyai peranan penting dalam tubuh manusia,


antara lain : sebagai pengatur bahan bakar manusia, sumber penyimpanan energy
dalam bentuk glikogen, lemak dan protein, sumber energy cepat, penting untuk
metabolism energy cerebral. Berdasarkan penelitian otak bayi dapat menggunakan
glukosa pada kecepatan melebihi 4-5 mg/100 gr berat otak/menit dan otak
neonatus cukup bulan beratnya 420 gram, pada bayi BB 3500 gram memerlukan
glukosa dengan kecepatan 20 mg/menit. Untuk setiap neonatus manapun, kadar
glukosa <40-45mg/dL dianggap tidak normal. Menurut WHO hipoglikemi adalah
bila kadar glukosa/gula darah <47 mg/dL. Gejala sering tidak jelas/asimptomatik,
semua tenaga kesehatan perlu mewaspadai kemungkinan adanya hipoglikemia.
Diagnosis dini dan pengobatan yang tepat dapat mencegah konsekuensi yang
serius

2. Tujuan

1. Mahasiswa mampu memahami tentang batasan-batasan hipoglikemia


2. Mahasiswa mampu memahami manifestasi klinis dari hipoglikemia
3. Mahasiswa mampu menentukan terapi untuk hiplogikemia

3. Rumusan Materi

1. Hipoglikemia
2. Manifestasi klinis dari hipoglikemia
3. Pengobatan hipoglikemia pada bayi
4. Prognosis dari hipoglikemia
5. Contoh kasus nyata hipoglikemia pada bayi

BAB II
PEMBAHASAN
2
1. Hipoglikemia

Istilah hipoglikemia digunakan bila kadar gula darah bayi secara bermakna di
bawah kadar rata-rata bayi seusia dan berat badan yang sama. Sebagai batasan
pada bayi aterm dengan berat badan 2500 gram atau lebih, kadar glukosa plasma
darah lebih rendah dari 30 mg/dl dalam 72 jam pertama dan 40 mg/dl pada hari
berikutnya, sedangkan pada berat badan lahir rendah di bawah 25 mg/dl. Glukosa
merupakan sumber utama energy selama masa janin, meskipun asam amino dan
laktat ikut berperan pada kehamilan lanjut. Kecepatan glukosa yang diambil janin
sekitar dua per tiga kadar gula darah ibu. Karena terputusnya hubungan plasenta
dan janin maka terhenti pula pemberian glukosa, bayi aterm dapat
mempertahankan kadar gula darah sekitar 50-60 mg/dl selama 72 jam pertama,
sedangkan bayi berat lahir rendah dalam kadar 40 mg/dl.

Beard (1971) membagi hipoglikemia pada bayi baru lahir dalam 4 golongan
perbedaan patofisiologi yang nyata, yaitu :
1. Bayi dari ibu penderita diabetes melitus, pradiabetes mellitus dan bayi
eritroblastosis berat. Bayi demikian cenderung menderita hiperinsulinisme,
mempunyai jumlah glikogen dan deposit lemak yang banyak dan mempunyai
respon terhadap glikemia dengan peninggian 5-20 kali pada pengeluaran
insulin.
2. Bayi berat badan lahir rendah, yang kemungkinan mengalami malnutrisi
intrauterine. Misalnya bayi dari ibu penderita toksemia, bayi dengan kelainan
plasenta dan bayi kembar yang terkecil. Bayi seperti ini mempunyai kadar
glikogen pada hepar yang rendah dan perbandingan yang besar antara berat
otak dan berat hati dengan peninggian konsumsi oksigen dan peninggian
metabolism, kadar glikogen hati dan otot akan berkurang. Sebagian bayi
seperti ini tidak mampu meninggikan pengeluaran adrenalin untuk
memperbaiki hipoglikemia seperti yang terjadi pada bayi normal. Pada bayi
yang lebih tua yang menderita hipoglikemia sejak lahir dan tergolong pada
bayi kecil untuk masa kehamilannya ditemukan kadar katekolamin yang
sangat rendah oleh Brobeger dan Zettrstrom (1961).
3. Bayi yang sangat imatur, yang rentan terhadap komplikasi sindrom gangguan
pernapasan atau asfiksia dan membutuhkan metabolisme yang lebih tinggi
daripada kemampuan yang ada pada bayi tersebut.
4. Golongan terkecil ditemukan dan termasuk defek genetik atau defek
kembangan seperti galaktosemia, penyakit penimbunan glikogen, kepekaan
terhadap leusin, insulinismus dan gangguan metabolik dan atau gangguan
anatomis lain.

Frekuensi hipoglikemia secara keseluruhan berkisar 2-3/1000 kelahiran hidup,


secara bermakna lebih tinggi pada bayi berat lahir rendah dengan riwayat
komplikasi kehamilan atau sakit berat. Kejadian paling tinggi pada bayi dan ibu
diabetes (sekitar 75%), menyusul pada bayi dengan ibu diabetes waktu hamil, dan
lebih rendah pada berat badan lahir rendah.

2. Manifestasi Klinis

3
Berbeda dengan hipoglikemia kimiawi, maka hipoglikemia simtomatik paling
banyak dijumpai pada bayi kecil menurut kehamilan. Bayi tersebut biasanya
termasuk golongan (2) atau (3) berdasarkan pengelompokan patofisiologi dan
beberapa diantaranya merupakan hipoglikemia neonatal idiopatik simtomik
sementara. Kejadian hipoglikemia simtomatik sukar diketahui karena gejalanya
juga dijumpai bila disertai keadaan lain seperti infeksi terutama sepsis dan
meningitis, kelainan perdarahan dan edema susunan saraf pusat, asfiksia,
penghentian obat, apnea pada prematuritas, kelainan jantung bawaan, polisitemia,
dan juga dapat dijumpai pada bayi sehat normoglikemik. Kejadian diduga berkisar
1-3/1000 kelahiran hidup, kira-kira 5-15% mempunyai berat badan lahir rendah;
kejadian tertinggi pada bayi di bawah persentil 50 usia kehamilan.

Saat timbulnya gejala bervariasi dari beberapa hari sampai satu minggu setelah
lahir. Berikut ini merupakan gejala klinis yang disusun mulai dengan frekuensi
tersering, yaitu gemetar atau tremor, serangan sianosis, apati, kejang, serangan
apnea intermiten atau takipnea, tangis yang lemah atau melengking, kelumpuhan
atau letargi, kesulitan minum, dan terdapatnya gerakan putar mata. Dapat pula
timbul keringat dingin, pucat, hipotermia, gagal jantung dan henti jantung. Sering
berbagai gejala muncul bersama-sama. Karena gejala klinis tersebut dapat
disebabkan oleh bermacam-macam sebab, maka bila gejala tidak menghilang
setelah pemberian glukosa yang adekuat, perlu dipikirkan penyebab lain.

3. Pengobatan

Bila tanpa kejang, bolus intravena 200 mg/kg BB (2 ml/kg BB) glukosa 10%
cukup efektif untuk meninggikan kadar gula darah. Bila terdapat kejang
digunakan larutan glukosa 10-25% dengan dosis total 1-2 g/kg BB. Kemudian
dilanjutkan dengan infus glukosa 4-8 mg/kg BB/menit. Bila hipoglikemia
berulang, digunakan infus glukosa 15-20% dan bila tidak mencukupi diberikan
hidrokortison 2,5 mg/kg BB/12 jam atau prednisone 1 mg/kg BB/24 jam.
Pemeriksaan kadar gula darah dilakukan setiap 2 jam sampai beberapa hasil
menunjukkan kadar diata 40 mg/dl. Kemudian pemeriksaan dilanjutkan setiap 4-6
jam, pengobatan dikurangi dan dihentikan bila kadar gula darah sudah normal dan
bayi tidak menunjukkan gejala selama 24-48 jam. Biasanya diperlukan
pengobatan selama beberapa hari sampai satu minggu, jarang sampai beberapa
minggu.
Diazoksida, epinefrin, dan fruktosa tidak banyak bermanfaat. Epinefrin dan
fruktosa dapat menimbulkan asidosis laktik. Bila terdapat hiperinsulinisme
neonatal, seperti pada nesidioblastosis, dan tidak responsive terhadap pemberian
glukosa dan steroid, dapat digunakan diazoksida dan SusPhrine. Pada
nesidioblastosis dan adenoma sel pulau pancreas pengobatan definitifnya adalah
operasi;pada beberapa kasus diperlukan pula glukagon dan somatostatin.
Bayi dengan resiko hipoglikemia memerlukan pemeriksaan kadar gula darah
sejak 1 jam kehidupan dan diulangi setiap1-2 jam selama 6-8 jam pertama,
kemudian setiap 4-6 jam selama 24 jam kehidupan. Bayi demikian, walaupun
normoglikemik, memerlukan susu formula secara oral sejak 2-3 jam pertama
dengan interval 2 jam selama 24-48 jam. Bila hal ini tidak dapat ditoleransi atau
terjadi hipoglikemia neonatal asimtomatik sementara, perlu diberikan glukosa 4
mg/kg/menit secara intravena.

4
4. Prognosis

Bila tidak dijumpai kelainan bawaan yang membahayakan, prognosisnya baik.


Dengan pengobatan adekuat kejadian hipoglikemia masih berulang 10-15% kasus.
Pernah dilaporkan hipoglikemia sampai umur 8 bulan, Rekurensi lebih sering
terjadi bila pemberian intravena tidak tepat atau dihentikan terlampau cepat
sebelum pemberian oral dapat diberikan. Bayi yang kelak menderita hipoglikemia
ketotik, mempunyai kekerapan hipoglikemia neonatal yang tinggi. Hipoglikemia
yang berat dan berlangsung lama dapat menimbulkan gejala sisa neurologic dan
kematiaan, karena itu perlu pula dipantau fungsi intelektualnya. Hipoglikemia
simtomatik terutama pada bayi BBLR dan bayi besar dari ibu diabetes berat
mempunyai prognosis lebih buruk terhadap perkembangan intelektualnya.

5. Contoh Kasus

Hipoglikemia dengan makroglosia (sindrom Beck-with)

Beckwith mengemukakan sindrom hipoglikemia yang sukar diatasi disertai


terdapatnya makroglosia, berat badan lahir lebih viseromegali, mikrosefali ringan,
kelainan umbilicus, facial nevus flammeus, kelainan lipatan telinga dan dysplasia
medulla ginjal. Viseromegali terutama mengenai hepar dan ginjal berupa
hiperplasi nonkistik. Beberapa bayi menderita polisitemia atau hiperinsulinisme.
Pengobatan seperti pada hipoglikemia umumnya. Hipoglikemia yang terjadi
biasanya berat dan berlangsung beberapa bulan. Prognosisnya buruk.
Hipoglikemia berat juga dijumpai pada bayi dengan berat badan lahir yang sangat
besar tanpa sindrom Beckwith. Bayi raksasa disertai hiperplasi pankreas.
Contoh :
Bayi dengan berat badan 3,8 kg dan didiagnosa gula darahnya menurun,
sehingga harus dimasukkan incubator. Penurunan gula darah (hipoglikemia),
merupakan salah satu resiko yang dihadapi bayi makrosomia (bayi yang besar
untuk masa kehamilannya). Hipoglikemia terjadi karena selama masa kehamilan,
janin terpapar kadar insulin yang tinggi. Pada waktu lahir, ketika hubungan
metabolisme ibu dan anak terpisah, kadar insulin yang tinggi ini berlanjut pada
bayi. Insulin yang tinggi ini akan menyebabkan penurunan kadar gula darah.
Menurut penelitian, dampak Hipoglikemia pada perkembangan anak di kemudian
hari boleh dikatakan tidak ada.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Batasan
5
Timbul bila kadar glukosa serum lebih rendah daripada kisaran bayi
normal sesuai usia pasca lahir
Bayi atterm BB 2500 gr : gula darah <30 mg/dl : 72 jam, selanjutnya
40mg/dl
BBLR : GD <25 mg/dl

2. Beard (1971) membagi hipoglikemia pada bayi baru lahir dalam 4 golongan
perbedaan patofisiologi yang nyata, yaitu :
1. Bayi dari ibu penderita diabetes melitus, pradiabetes mellitus dan bayi
eritroblastosis berat. Bayi demikian cenderung menderita hiperinsulinisme,
mempunyai jumlah glikogen dan deposit lemak yang banyak dan
mempunyai respon terhadap glikemia dengan peninggian 5-20 kali pada
pengeluaran insulin.
2. Bayi berat badan lahir rendah, yang kemungkinan mengalami malnutrisi
intrauterine. Misalnya bayi dari ibu penderita toksemia, bayi dengan
kelainan plasenta dan bayi kembar yang terkecil. Bayi seperti ini
mempunyai kadar glikogen pada hepar yang rendah dan perbandingan
yang besar antara berat otak dan berat hati dengan peninggian konsumsi
oksigen dan peninggian metabolism, kadar glikogen hati dan otot akan
berkurang. Sebagian bayi seperti ini tidak mampu meninggikan
pengeluaran adrenalin untuk memperbaiki hipoglikemia seperti yang
terjadi pada bayi normal. Pada bayi yang lebih tua yang menderita
hipoglikemia sejak lahir dan tergolong pada bayi kecil untuk masa
kehamilannya ditemukan kadar katekolamin yang sangat rendah oleh
Brobeger dan Zettrstrom (1961).
3. Bayi yang sangat imatur, yang rentan terhadap komplikasi sindrom
gangguan pernapasan atau asfiksia dan membutuhkan metabolisme yang
lebih tinggi daripada kemampuan yang ada pada bayi tersebut.
4. Golongan terkecil ditemukan dan termasuk defek genetik atau defek
kembangan seperti galaktosemia, penyakit penimbunan glikogen,
kepekaan terhadap leusin, insulinismus dan gangguan metabolik dan atau
gangguan anatomis lain.
3. Manifestasi klinis
Kasus bisa menunjukan gejala ataupun tidak. Kecurigaan tinggi harus
selalu diterapkan dan selalu antisipasi hipoglikemia pada neonatus dengan
faktor risiko :

Tremor
Sianosis
Apatis
Kejang
Apnea intermitten
Tangisan lemah/melengking
Letargi
Kesulitan minum
Gerakan mata berputar/nistagmus
Keringat dingin
Pucat
Hipotermi
Refleks hisap kurang
6
Muntah
4. Terapi
Tanpa kejang, bolus intravena 200 mg/BB (2 ml/kgBB) glukosa 10%
Ada kejang, larutan glukosa 10-25%, dosis total 1-2 gr/kgBB, dilanjutkan
infus glukosa 4-8 mg/kgBB/menit
Hipoglikemi berulang, infus glukosa 15-20%, bila tidak mencukupi beri
hidrokortison 2,5 mg/kgBB/12 jam atau prednison 1 mg/kgBB/24 jam
Pemeriksaan gula darah sampai kadar diatas 40 mg/dl kemudian
pemeriksaan dilanjutkan tiap 4-6 jam
Bila gula darah normal terapi dihentikan
Berikan ASI
Penanganan penyulit

5. Prognosa
Bila tidak ada kelainan bawaan
Dengan pengobatan adekuat kejadian hipoglikemia masih berulang pada
10-15%
Hipoglikemia berat dan berlangsung lama, dapat menimbulkan gejala sisa
neurologik dan kematian

2. Daftar Pustaka

Markum, AH. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak; jilid 1. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI. 1991; 349-0.
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan
Anak; 3. Jakarta : Percetakan INFOMEDIKA. 1985; 1119-22.
Sudarti. Kelainan dan Penyakit pada Bayi dan Anak. Yogyakarta : Nuha
Medika. 2010; 60-1.
http://lenteraimpian.wordpress.com/2010/03/02/hipoglikemia/
http://www.breastfeedinginc.ca/content.php?pagename=doc-HN-indo