Anda di halaman 1dari 15

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam ilmu geologi dikenal beberapa cabang ilmu, salah satunya adalah

geologi teknik yang merupakan aplikasi geologi untuk kepentingan keteknikan

yang menjamin pengaruh faktor-faktor geologi terhadap lokasi, desain,

konstruksi, pelaksanaan, pembangunan dan pemeliharaan hasil kerja keteknikan

serta mempelajari tentang kelerengan, mekanika tanah dan batuan termasuk

struktur bawah tanah.

PT. Pamapersada Nusantara merupakan industri pertambangan Batubara di

Kalimantan timur. Secara geomorfologi pada daerah ini terdapat perbukitan dan

berkembang struktur geologi seperti perlipatan, sesar mendatar mengiri sebagai

struktur mayornya, sesar turun sebagai sesar penyerta, sehingga analisis kestabilan

lereng menjadi persoalan yang dihadapi dalam pekerjaan geoteknik di

pertambangan ini. Kestabilan lereng pada industri pertambangan merupakan salah

satu hal penting dalam pertambangan karena proses penggalian dan pengangkutan

untuk mendapatkan sumber daya alam, semakin lebar dan dalam tambang terbuka

tersebut dilakukan penggalian, maka tentunya akan semakin besar risiko yang

akan muncul atau semakin meningkatkan ketidakpastian pada faktor - faktor yang

mempengaruhi kestabilan lereng tambang terbuka

Longsor merupakan salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan,

ataupun percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat terganggunya

kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng. Lereng adalah bagian dari
permukaan bumi yang berbentuk miring sedangkan kestabilan lereng merupakan

suatu kondisi yang mantap atau stabil terhadap dimensi lereng.

Dalam analisis kestabilan lereng metode yang digunakan adalah metode

Fellenius, yang mana metode ini pertama kali dikemukakan oleh Fellenius pada

tahun (1927-1936) dengan anggapan bahwa keruntuhan terjadi melalui rotasi

suatu blok tanah pada permukaan tanah longsor berbentuk lingkaran dengan (O)

sebagai titk pusat. Metode ini juga menganggap bahwa gaya normal (P) bekerja

ditengah-tengah slice dimana resultan gaya pada setiap irisan adalah sama dengan

0 atau resultan gaya diabaikan.

Tidak semua lereng mempunyai kestabilan yang aman sehingga

diperlukan suatu informasi mengenai kestabilan lereng. Berlatar belakang hal

tersebut di atas, maka penelitian tentang kestabilan lereng menjadi sangat penting

untuk memberikan informasi mengenai daerah atau lokasi-lokasi yang berpotensi

terjadinya gerakan tanah dengan kenampakan-kenampakan yang ada sehingga

kita bisa melakukan berbagai macam cara pencegahan sebelum gerakan tanah

menjadi bencana yang tidak kita harapkan, untuk itu penulis melakukan penelitian

dengan mengambil studi kasus Analisis Kestabilan Lereng dalam penentuan

lokasi potensi gerakan tanah.


B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana analisis kestabilan lereng dan faktor keamanannya pada daerah

penelitian?

2. Bagaimana pengaruh sifat fisik mekanika tanah dan batuan daerah

penelitian?

3. Bagaimana pengaruh kemiringan lereng terhadap stabilitas lereng daerah

penelitian?

4. Bagaimana cara penanggulangan kestabilan lereng daerah penelitian?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah :

1. Untuk menentukan analisis kestabilan lereng daerah penelitian dan faktor

keamananya pada daerah penelitian.

2. Untuk menentukan pengaruh sifat fisik mekanika tanah dan batuan daerah

penelitian.

3. Untuk menentukan kemiringan lereng terhadap stabilitas lereng daerah

penelitian.

4. Untuk menentukan cara penanggulangan kestabilan lereng daerah

penelitian.
D. Manfaat Penelitian

Penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak diantaranya:

1. Bagi keilmuan

a. Dapat menentukan analisis kestabilan lereng daerah penelitian dan

faktor keamananya pada daerah penelitian.

b. Dapat menentukan pengaruh sifat fisik mekanika tanah dan batuan

daerah penelitian.

c. Dapat menentukan kemiringan lereng terhadap stabilitas lereng daerah

penelitian.

d. Dapat menentukan cara penanggulangan kestabilan lereng daerah

penelitian.

2. Bagi pemerintah khususnya PT. Pamapersada Nusantara

Sebagai acuan dalam menentukan lokasi yang aman dari gerakan tanah

3. Bagi penulis

Penelitian ini sangat bermanfaat bagi penulis dalam mengaplikasikan dan

mengembangkan pengetahuan yang telah didapat di perkuliahan.


II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Geomorfologi Regional

Pulau Kalimantan berada dibagian tenggara dari lempeng Eurasia. Pada

bagian utara dibatasi oleh cekungan marginal Laut China Selatan, di bagian timur

oleh selat Makassar dan di bagian selatan oleh Laut Jawa. Tinggian Meratus di

bagian tenggara Kalimantan yang membatasi Cekungan Barito dengan Cekungan

Asem-asem. Cekungan Barito dan Cekungan Kutai dibatasi oleh Adang flexure

(Bachtiar, 2006).

B. Stratigrafi Regional

Urutan stratigrafi Cekungan Barito dari tua ke muda adalah :

1. Formasi Tanjung (Eosen Oligosen Awal)

Formasi ini disusun oleh batupasir, konglomerat, batulempung, batubara,

dan basalt. Formasi ini diendapkan pada lingkungan litoral neritik.

2. Formasi Berai (Oligosen Akhir Miosen Awal)

Formasi Berai disusun oleh batugamping berselingan dengan

batulempung/serpih dibagian bawah, dibagian tengah terdiri dari batugamping

masif dan pada bagian atas kembali berulang menjadi perselingan batugamping,

serpih, dan batupasir. Formasi ini diendapkan dalam lingkungan lagoon-neritik

tengah dan menutupi secara selaras Formasi Tanjung yang terletak di bagian

bawahnya. Kedua Formasi Berai, dan Tanjung memiliki ketebalan 1100 m pada

dekat Tanjung.
3. Formasi Warukin (Miosen Bawah Miosen Tengah)

Formasi Warukin diendapkan di atas Formasi Berai dan ditutupi secara

tidak selaras oleh Formasi Dahor. Sebagian besar sudah tersingkap, terutama

sepanjang bagian barat Tinggian Meratus, malahan di daerah Tanjung dan

Kambitin telah tererosi. Hanya di sebelah selatan Tanjung yang masih dibawah

permukaan. Formasi ini terbagi atas dua anggota, yaitu Warukin bagian bawah

(anggota klastik), dan Warukin bagian atas (anggota batubara). Kedua anggota

tersebut dibedakan berdasarkan susunan litologinya. Warukin bagian bawah

(anggota klastik) berupa perselingan antara napal atau lempung gampingan

dengan sisipan tipis batupasir, dan batugamping tipis di bagian bawah, sedangkan

dibagian atas merupakan selang-seling batupasir, lempung, dan batubara.

Batubaranya mempunyai ketebalan tidak lebih dari 5 m., sedangkan batupasir bias

mencapai ketebalan lebih dari 30 m. Warukin bagian atas (anggota batubara)

dengan ketebalan maksimum 500 meter, berupa perselingan batupasir, dan

batulempung dengan sisipan batubara. Tebal lapisan batubara mencapai lebih dari

40 m, sedangkan batupasir tidak begitu tebal, biasanya mengandung air tawar.

Formasi Warukin diendapkan pada lingkungan neritik dalam innerneritik)

deltaik dan menunjukkan fasa regresi.

4. Formasi Dahor (Miosen Atas Pliosen)

Formasi ini terdiri atas perselingan antara batupasir, batubara,

konglomerat, dan serpih yang diendapkan dalam lingkungan litoral supra litoral.
C. Struktur Regional
III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Daerah penelitian termasuk dalam wilayah penambangan PT.

Pamapersada Nusantara yang terletak di Kecamatan Kabupaten Provinsi

Kalimantan timur dengan waktu penelitian 3 bulan.

Gambar 5. Peta daerah penelitian

23
B. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan yaitu penelitian lapangan dan penelitian

laboratorium. Penelitian lapangan berupa pengukuran jurus dan kemirngan bidang

lemah, pemboran inti dan pembuatan sumuran untuk memperoleh data geologi,

penyebaran batuan dan untuk mendapatkan contoh tanah serta pengamatan dengan

piezometer untuk mengetahui tinggi permukaan air tanah. Penelitian laboratorium

berupa pengujian triaksial, pengujian geser langsung, pengujian kuat tekan uniaksial,

percobaan untuk menentukan berat isi, kadar air dan berat jenis dari contoh tanah yang

didapat dilapangan.

C. Bahan atau Materi Penelitian

Data yang diambil berupa:

1. Data primer

Data primer diperoleh dari pengamatan langsung dilapangan dan

hasil analisis laboratorium. Data lapangan berupa data litologi, foliasi, arah

penggambaran dan arah foto serta sketsa dan foto, sedangkan hasil analisis

laboratorium berupa tekstur dan himpunan mineral batuan metamorf.

2. Data sekunder

Data sekunder diperoleh dari peta geologi regional daerah

penelitian dan literatur yang berkaitan dengan batuan metamorf.


D. Instrumen Penelitian

Tabel 1 . Instrumen yang digunakan dalam penelitian


No. Nama Fungsi
1. Peta Topografi skala Peta dasar untuk melakukan orientasi medan
1:25.000 dan pengeplotan titik pengamatan di lapangan
serta mengetahui kondisi topografi
2. GPS (Global Menentukan titik koordinat
Positioning Sistem)

3. Kompas Geologi Menentukan arah foto atau arah penggambaran

4. Palu Geologi Mengambil sampel

5. Loupe Untuk mengamati mineral penyusun batuan di


lapangan
6. Buku Lapangan Media pencatatan data pengamatan
7. Alat tulis menulis Mencatat hasil pengamatan lapangan
8. Rol Meter Mengukur dimensi singkapan
9. Kantong sampel Tempat menyimpan sampel batuan
10. Kamera Untuk mengambil foto

11. Mikroskop Untuk mengamati sampel batuan secara


mikroskopis

E. Prosedur Penelitian
1. Tahap Persiapan

Kegiatan ini berupa persiapan perlengkapan lapangan dan studi pustaka.

Perlengkapan lapangan telah diuraikan pada tabel 1. Studi pustaka dimaksudkan

untuk mengetahui kondisi geologi regional, metode penelitian dan literatur

tentang batuan metamorf.

2. Tahap pengambilan data

a. Data primer

Data primer diperoleh dari pengamatan langsung dilapangan berupa data

litologi, foliasi, arah penggambaran dan arah foto serta sketsa dan foto, sedangkan

hasil analisis laboratorium berupa tekstur dan himpunan mineral batuan metamorf.

b. Data sekunder

Data sekunder diperoleh dari peta geologi regional daerah penelitian dan

literatur yang berkaitan dengan batuan metamorf.

3. Tahap analisis data

Sampel batuan dipilih untuk dilakukan analisis petrografi. Sampel batuan

yang akan dianalisis terlebih dahulu disayat dengan ketebalan 0,03 mm dan 0,05

mm untuk dapat diamati dibawah mikroskop polarisator. Alat yang digunakan

dalam menganalisa batuan metamorf adalah dengan menggunakan mikroskop


polarisator Nikon seri UFX-DX perbesaran lensa okuler 10X dan lensa obyektif

perbesaran 10X, 20X DAN 40X.

4. Hasil

Dari pengamatan sampel batuan menggunakan metode petrografi

diperoleh hasil yaitu tekstur dan himpunan mineral batuan metamorf pada daerah

penelitian. Dari data ini dapat ditentukan fasies metamorfisme yang terbentuk

pada daerah penelitian dan tipe metamorfisme daerah penelitian dengan melihat

klasifikasi penentuan fasies metamorfisme dan tipe metamorfisme.

F. Diagram Alir Penelitian

Tahap Persiapan 1. Perlengkapan Lapangan


2. Studi Literatur

Data Lapangan

1. Pengukuran jurus dan kemirngan


bidang lemah.
2. Pemboran inti dan pembuatan
sumuran untuk memperoleh data
geologi, penyebaran batuan dan untuk
mendapatkan contoh tanah.
3. Pengamatan dengan piezometer untuk
mengetahui tinggi permukaan air
Tahap Pengumpulan
Data tanah.

Data Laboratorium
1. Pengujian triaksial.
2. Pengujian geser langsung.
3. Pengujian kuat tekan uniaksial.
4. Percobaan untuk menentukan berat isi,
kadar air dan berat jenis dari contoh
tanah yang didapat dilapangan.
Analisis Data Menggunakan metode Hoek dan Bray

1. Kestabilan lereng
Hasil 2. Jenis longsoran

Gambar 6. Diagram alir penelitian

G. Jadwal Penelitian

Tabel 2. Jadwal penelitian

No Uraian Kegiatan Bulan ke-I


Bulan Bulan-III Bulan
ke-II ke-IV
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3
1. Studi Literatur
2. Pembuatan
Proposal
3. Seminar
Proposal
4. Izin Penelitian
di Perusahaan
5. Penelitian
Lapangan
6. Penelitian
Laboratorium
7. Analisis Data
8. Penyusunan
Laporan dan
Hasil Penelitian
9. Seminar Hasil
Penelitian
10. Ujian Akhir