Anda di halaman 1dari 6

Pemilu dari Tahun 1955 sampai 2014

Sepanjang sejarah Indonesia, telah diselenggarakan 11 kali pemilu anggota


lembaga legislatif yaitu pada tahun 1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999,
2004, 2009, dan 2014.

Pemilu tahun 1955


Pemilihan Umum Indonesia 1955 adalah pemilihan umum pertama di Indonesia
yang diadakan pada tahun 1955. Pemilu ini sering dikatakan sebagai pemilu Indonesia
paling demokratis. Pemilu tahun 1955 ini dilaksanakan saat keamanan negara masih
kurang kondusif; beberapa daerah dirundung kekacauan oleh DI/TII (Darul
Islam/Tentara Islam Indonesia) khususnya pimpinan Kartosuwiryo.

Dalam keadaan seperti ini, anggota angkatan bersenjata dan polisi juga memilih.
Mereka yang bertugas di daerah rawan digilir datang ke tempat pemilihan. Pemilu
akhirnya pun berlangsung aman. Pemilu ini bertujuan memilih anggota-anggota MPR
dan Konstituante.

Jumlah kursi MPR yang diperebutkan berjumlah 260, sedangkan kursi


Konstituante berjumlah 520 (dua kali lipat kursi MPR) ditambah 14 wakil golongan
minoritas yang diangkat pemerintah. Pemilu ini dipersiapkan di bawah pemerintahan
Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo. Namun, Ali Sastroamidjojo mengundurkan diri dan
pada saat pemungutan suara, dan kepala pemerintahan telah dipegang oleh Perdana
Menteri Burhanuddin Harahap.

Pemilu 1955 dibagi menjadi dua tahap, yaitu:


Tahap pertama adalah Pemilu untuk memilih anggota MPR. Tahap ini
diselenggarakan pada tanggal 29 September 1955, diikuti oleh 29 partai politik dan
individu.
Tahap ke-dua adalah Pemilu untuk memilih anggota Konstituante. Tahap ini
diselenggarakan pada tanggal 15 Desember 1955.

Lima besar dalam Pemilu ini adalah Partai Nasional Indonesia mendapatkan 57
kursi MPR dan 119 kursi Konstituante (22,3 persen), Masyumi 57 kursi MPR dan 112
kursi Konstituante (20,9 persen), Nahdlatul Ulama 45 kursi MPR dan 91 kursi
Konstituante (18,4 persen), Partai Komunis Indonesia 39 kursi MPR dan 80 kursi
Konstituante (16,4 persen), dan Partai Syarikat Islam Indonesia (2,89 persen).

Partai-partai lainnya, mendapat kursi di bawah 10. Seperti PSII (8), Parkindo (8),
Partai Katolik (6), Partai Sosialis Indonesia (5). Dua partai mendapat 4 kursi
(IPKI dan Perti). Enam partai mendapat 2 kursi (PRN, Partai Buruh, GPPS, PRI,
PPPRI, dan Murba). Sisanya, 12 partai, mendapat 1 kursi (Baperki, PIR
Wongsonegoro, PIR Hazairin, Gerina, Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia, Partai
Persatuan Dayak, PPTI, AKUI, Partai Rakyat Indonesia Merdeka, Persatuan Rakyat
Desa (bukan PRD modern), ACOMA dan R. Soedjono Prawirosoedarso).

Pemilu Tahun 1971


5 Juli 1971 menjadi pemilu kedua yang dilaksanakan dan merupakan Pemilu
pertama sesudah orde baru. Dimana saat itu diikuti 10 partai politik dan partai baru
golongan karya (golkar) menjadi pemenangnya.

Beberapa parpol pada Pemilu 1955 tak lagi ikut serta karena dibubarkan, seperti
Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), Partai Sosialis Indonesia (PSI), dan Partai
Komunis Indonesia (PKI).

Dalam pelaksanaan Pemilu menggunakan sistem proporsional dengan daftar


tertutup dan semua kursi terbagi habis di setiap daerah pemilihan. Golkar menang
dengan mengantongi 62,8 persen suara (236 kursi DPR). Disusul partai lain seperti
Nahdlatul Ulama (NU), Parmusi, Partai Nasional Indonesia, dan Partai Syarikat Islam
Indonesia.

Banyak perdebatan antara pakar sejarah politik tentang kadar demokrasi dalam
pemilu 1971 ini. Karena banyaknya indikator sebuah pemilihan umum demokratis yang
tidak terpenuhi atau bahkan ditinggalkan sama sekali.

Hal ini tidak terlepas dari proses transisi kepemimpinan yang diawali oleh
peristiwa berdarah yang kemudian membuat politik Indonesia disebut-sebut masuk
kedalam sebuah era pretorianisme militer. Sebuah era dimana militer selalu mempunyai
peran penting dalam menjaga serta mempertahankan kekuasan.

Meskipun demikian, di pemilu ini, golput yang pertama kali dicetuskan dan
dikampanyekan justru mengalami penurunan sekitar 6,67 persen.

Pemilu Tahun 1977


Pemilu ke tiga dilakukan pada tanggal 2 Mei 1977. Secara proses tidak berbeda
jauh dengan yang digunakan pada pemilu 1971 yaitu menggunkan Sistem
Proporsional.

Ciri khas dari pelaksanaan sistem pemilu 1977 ialah jumlah partai yang mengikuti
pemilu hanya tiga, yakni PPP, PDI dan golkar. Ini terjadi setelah sebelumnya
pemerintah bersama-sama dengan DPR berusaha menyederhanakan jumlah partai
dengan membuat UU No. 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan Golkar.
Dalam penghitungannya, dari 70 Juta lebih pemilih, hampir 64 juta suara yang sah
atau sekitar 90,93 persen.

Pemilu Tahun 1982


Pemilihan Umum tahun 1982 dilakukan serentak tanggal 4 Mei 1982. Sistem dan
tujuannya sama dengan tahun 1977, di mana hendak memilih anggota DPR
(parlemen).

Hanya saja, komposisinya sedikit berbeda. Sebanyak 364 anggota dipilih


langsung oleh rakyat, sementara 96 orang diangkat oleh presiden. Pemilu ini dilakukan
berdasarkan Undang-undang No. 2 tahun 1980.

Sementara untuk suara yang sah dalam perhitungan tahun 1982 mencapai 75
Juta lebih. Dimana golkar tetap menjadi pemenangnya.

Pemilu Tahun 1987


Pemilu berikutnya tahun 1987 yang dilakukan tanggal 23 April 1987. Masih dalam
masa orde baru secara sistem dan tujuan pemilihan masih sama dengan pemilu
sebelumnya yaitu memilih anggota parlemen.

Total kursi yang tersedia adalah 500 kursi. Dari jumlah ini, 400 dipilih secara
langsung dan 100 diangkat oleh Presiden Suharto. Sistem Pemilu yang digunakan
sama seperti pemilu sebelumnya, yaitu Proporsional dengan varian Party-List.

Di pemilu tahun ini dari 93 Juta lebih pemilih, sekitar 85 juta suara yang sah atau
sebanyak 91,32 persen.

Pemilu Tahun 1992


Pemilu kelima yang dilakukan secara periodik pada pemerintahan Orde Baru
dilaksanakan pada tanggal 9 Juni 1992. Tidak jauh beda dengan pemilu sebelumnya,
secara sistem dan tujuan juga masih tetap sama.

Sementara untuk suara yang sah tahun 1992 mencapai 97 Juta lebih suara, dari
total pemilih terdaftar 105.565.697 orang.

Pemilu tahun 1999


Pemilihan Umum Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah 1999 diselenggarakan secara serentak pada tanggal 7 Juni 1999 untuk memilih
462 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah (DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota) se-Indonesia periode 1999-
2004.
Pemilihan Umum ini merupakan yang pertama kali diselenggarakan setelah
runtuhnya Orde Baru dan juga yang terakhir kalinya diikuti oleh Provinsi Timor Timur.

Pemilihan Umum ini diikuti oleh 48 partai politik, yang mencakup hampir semua
spektrum arah politik (kecuali komunisme yang dilarang di Indonesia). Penentuan kursi
dilakukan secara proporsional berdasarkan persentase suara nasional.

Pemilihan Umum ini seharusnya diselenggarakan pada tahun 2002, namun atas
desakan publik untuk mengadakan reformasi serta mengganti anggota-anggota
parlemen yang berkaitan dengan Orde Baru, maka pemilihan umum dipercepat dari
tahun 2002 ke tahun 1999 oleh pemerintah waktu itu.

Walaupun Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan meraih suara terbanyak


(dengan perolehan suara sekitar 35 persen), yang diangkat menjadi presiden bukanlah
calon dari partai itu, yaitu Megawati Soekarnoputri, melainkan dari Partai Kebangkitan
Bangsa, yaitu Abdurrahman Wahid (Pada saat itu, Megawati hanya menjadi calon
presiden).

Hal ini dimungkinkan untuk terjadi karena Pemilu 1999 hanya bertujuan untuk
memilih anggota MPR, DPR, dan DPRD, sementara pemilihan presiden dan wakilnya
dilakukan oleh anggota MPR.

Tidak seperti pemilu-pemilu sebelumnya, Pemilu 1999 mengalami beberapa


hambatan diantaranya dalam proses perhitungan suara, dimana terdapat 27 partai
politik yang tidak bersedia menandatangani berkas hasil pemilu 1999. Masalah
selanjutnya adalah pembagian kursi.

Perbedaan antara Pemilu 1999 dengan Pemilu 1997 adalah bahwa pada Pemilu
1999 penetapan calon terpilih didasarkan pada rangking perolehan suara suatu partai di
daerah pemilihan.

Pemilu 1999 ini sama dengan metode yang digunakan pada Pemilu 1971.
Sedangkan angka partisipasi pemilih mencapai 94.63 persen. Sementara angka Golput
hanya sekitar 5,37 persen saja.

Pemilu tahun 2004


Pemilu 2004 diselenggarakan secara serentak pada tanggal 5 April 2004 untuk
memilih 550 Anggota DPR, 128 Anggota DPD, serta Anggota DPRD (DPRD Provinsi
maupun DPRD Kabupaten/Kota) se-Indonesia periode 2004-2009.

Sedangkan untuk memilih presiden dan wakil presiden untuk masa bakti 2004-
2009 diselenggarakan pada tanggal 5 Juli 2004 (putaran I) dan 20 September 2004
(putaran II).
Pemilu 2004 merupakan sejarah tersendiri bagi pemrintahan Indonesia. Dimana
untuk pertama kalinya rakyat Indonesia memilih presidennya secara langsung.
Sekaligus membuktikan upaya serius mewujudkan sistem pemerintahan Presidensil
yang dianut oleh pemerintah Indonesia.

Sistem pemilu yang digunakan adalah Proporsional dengan Daftar Calon Terbuka.
Proporsional Daftar adalah sistem pemilihan mengikuti jatah kursi di tiap daerah
pemilihan. Jadi, suara yang diperoleh partai-partai politik di tiap daerah selaras dengan
kursi yang mereka peroleh di parlemen.

Untuk memilih anggota parlemen, digunakan sistem pemilu Proporsional dengan


varian Proporsional Daftar (terbuka). Untuk memilih anggota DPD, digunakan sistem
pemilu Lainnya, yaitu Single Non Transverable Vote (SNTV). Sementara untuk memilih
presiden, digunakan sistem pemilihan Mayoritas/Pluralitas dengan varian Two Round
System (Sistem Dua Putaran).

Pemilu 2004 ini adalah periode pertama kemenangan Susilo Bambang


Yudhoyono. Meski demikian di Pemilu Legislatif jumlah pemilih terdaftar yang tidak
memakai hak pilihnya cukup besar yakni sekitar 23 juta lebih suara, dari jumlah pemilih
terdaftar 148 Juta pemilih, atau 16 persen tidak memakai hak pilihnya.

Pemilu tahun 2009


Pemilu 2009 merupakan pemilu ketiga pada masa reformasi yang
diselenggarakan secara serentak pada tanggal 9 April 2009 untuk memilih 560 Anggota
DPR, 132 Anggota DPD, serta Anggota DPRD (DPRD Provinsi maupun DPRD
Kabupaten/Kota) se-Indonesia periode 2009-2014. Sedangkan untuk memilih presiden
dan wakil presiden untuk masa bakti 2009-2014 diselenggarakan pada tanggal 8 Juli
2009 (satu putaran).

38 partai memenuhi kriteria untuk ikut serta dalam pemilu 2009. Partai
Demokrat memenangkan suara terbanyak, diikuti dengan Golkar dan Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan (PDI-P).

Pemilu 2009 dilaksanakan menurut Undang-undang Nomor 10 tahun 2008.


Jumlah kursi di tiap dapil yang diperebutkan minimal tiga dan maksimal sepuluh kursi.
Ketentuan ini berbeda dengan Pemilu 2004. Pemilu 2009 menjadi periode kedua
terpilihnya presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan didampingi Prof. Dr. Boediono
sebagai wakil presiden.

Sementara untuk jumlah golput hampir 50 juta suara atau sekitar 30 persen.
Jumlah angka golput ini tergolong besar meskipun masih lebih kecil dari hasil survei
yang memprediksi angka golput mencapai 40 persen.
Pemilu Tahun 2014
Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah,
dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah 2014 (biasa disingkat Pemilu Legislatif 2014)
diselenggarakan pada 9 April 2014 untuk memilih 560 anggota Dewan Perwakilan
Rakyat (DPR), 132 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), serta anggota Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota) se-
Indonesia periode 2014-2019.

Pemilihan ini dilaksanakan pada tanggal 9 April 2014 serentak di seluruh wilayah
Indonesia. Namun untuk warga negara Indonesia di luar negeri, hari pemilihan
ditetapkan oleh panitia pemilihan setempat di masing-masing negara domisili pemilih
sebelum tanggal 9 April 2014. Pemilihan di luar negeri hanya terbatas untuk anggota
DPR di daerah pemilihan DKI Jakarta II, dan tidak ada pemilihan anggota perwakilan
daerah.

Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Tahun


2014 (disingkat Pilpres 2014) dilaksanakan pada tanggal 9 Juli 2014 untuk
memilih Presiden dan Wakil Presiden Indonesia untuk masa bakti 2014-2019.
Pemilihan ini menjadi pemilihan presiden langsung ketiga di Indonesia.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak dapat maju kembali dalam pemilihan
ini karena dicegah oleh undang-undang yang melarang periode ketiga untuk seorang
presiden. Menurut UU Pemilu 2008, hanya partai yang menguasai lebih dari 20% kursi
di Dewan Perwakilan Rakyat atau memenangi 25% suara populer dapat mengajukan
kandidatnya. Undang-undang ini sempat digugat di Mahkamah Konstitusi, namun pada
bulan Januari 2014, Mahkamah memutuskan undang-undang tersebut tetap berlaku.

Pemilihan umum ini akhirnya dimenangi oleh pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla
dengan memperoleh suara sebesar 53,15%, mengalahkan pasangan Prabowo
Subianto-Hatta Rajasa yang memperoleh suara sebesar 46,85% sesuai dengan
keputusan KPU RI pada 22 Juli 2014. Presiden dan Wakil Presiden terpilih dilantik pada
tanggal 20 Oktober 2014, menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono.