Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA KASUS POST OPERASI


SECTIO CAESAREA

Di susun oleh :

KELOMPOK IV

NURDINIYAH SALIS
SUGIARTO
RUDI ISWANTO
RIANTI ASTUTI
DWI AGUS NUSANTARA
VITA RUSDIANAN
MIRAWATI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BANYUWANGI


PRODI D-III KEPERAWATAN
2010
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN POST OPERASI SECTIO CAESAREA


DI RUANG SHOFA RSI FATIMAH BANYUWANGI
TELAH DITERIMA DAN DISETUJUI

TANGGAL :

OLEH :

Pembimbing Ruangan Pembimbing Institusi

(Nanik S. Amd. Keb) ( )

Mengetahui
Kepala Ruang Shofa

(Nanik S. Amd. Keb)


LAPORAN PENDAHULUAN
PADA POST OPERASI SECTIO CAESAREA

I. Pengertian
Sectio Caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan
membuka dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi
untuk melahirkan janin dari dalam bibir.

II. Jenis-jenis Operasi Sectio Caesarea


Abdomen (sectio caesarea abdominatis)
a. Sectio caesarea transperitomealis :
1. SC klasik atau proporal dengan resensi memanjang pada corpus uteri
dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada corpus uteri
kira-kira 10 cm.
- Kelebihan
Mengeluarkan janin lebih cepat
Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik
Sayatan bisa diperpanjang atau distal
- Kekurangan
Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak
ada reperitonealis yang baik
Untuk persalinan yang berikutnya lebih sering terjadi repture
uteri spontan.
2. SC ismika atau profunda (low servical dengan insisi pada segmen
bawah rahim)
- Kelebihan
Penjahitan luka lebih mudah
Penutupan luka dengan reperinealisasi yang baik
Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk
menahan penyebaran isi uterus kerongga peritoneum
Perdarahan tidak begitu banyak
Kemungkinan rupture uteri spontan berkurang atau lebih
kecil.
- Kekurangan
Luka dapat melebar kekiri, kanan, dan bawah sehingga dapat
menyebabkan uteri pecah sehingga mengakibatkan
perdarahan banyak.
Keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi.
b. SC ekstra peritonealis yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis
dengan demikian tidak membuka cavum abdominal
Vagina (Sectio Vaginalis)
Menurut sayatan pada rahim, section caesarea dapat dilakukan sebagai
berikut :
1. Sayatan memanjang (longitudional)
2. Sayatan melintang (tranversal)
3. Sayatan huruf T ( T insicion)

III. Indikasi
Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran prevaginal mungkin
akan menyebabkan resiko pada ibu ataupun pada janin, dengan pertimbangan
hal-hal yang perlu SC proses persalinan normal lama / kegagalan proses
persalinan normal (dystosia) :
- Fetal distress
- His lemah / melemah
- Janin dalam posis sungsang atau melintang
- Bayi besar (BBL > 4,2 kg)
- Plasenta previa
- Sulosiu plasenta
- Disproporsi cevalo pelvic (ketidak seimbangan antar ukuran kepala dan
panggul)
- Rupture uteri mengancam
- Hydrocepalus
- Primi muda atau tua
- Partus dengan komplikasi
- Problema plasenta
- Distocia, karena kekurangan His
- Kehamilan serotinus (lebih dari 42 minggu)
- Tumor cervic
- Kelemahan umum, partus tidak maju / artus lama, penyakit jantung,
- Placenta previa dengan perdarahan hebat atau placenta previa marginalis
- Pintu vagina lemah, tumor vagina
IV. Pohon Masalah
Section Caesarea

Perdarahan Nyeri abdomen Gangguan Integritas


Perlukaan

Shock Gangguan rasa Resiko tinggi


nyaman infeksi

Deficit vol cairan Gangguan aktivitas

V. Pemeriksaan Diagnostik
1. Elektroensefalogram (EEG) : dipakai untuk membantu menetapkan jenis
focus dari kejang.
2. Pemindahan CT : menggunakan kajian sinar x yang lebih sensitive dari
biasanya untuk mendeteksi perbedaan kerapatan jaringan.
3. Magneti resonance imaging (MRI) : menghasilkan bayangan dengan
menggunakan lapangan magnetic dan gelombang radio, berguna untuk
memperlihatkan daerah-daerah otak yang tidak jelas terlihat bila
menggunakan pemindahan CT.
4. Pemindahan position emission tomography (PET) : untuk mengevaluasi dan
menetapkan lokasi lesi ; perubahan metabolic, atau aliran darah dalam otak.
5. Uji laboratorium
- Fungsi lumbal : menganalisis cairang serebrovaskuler
- Hilang darah lengkap : mengevaluasi trombosit dan hematrokit
- Panel elektrolit
- Skrining toksik dari serum dan uring
- GDA
- Kadar kalsium darah
- Kadar magnesium darah

VI. Penatalaksanaan Pasca bedah


Penatalaksanaan luka
- Luka dengan sedikit eksudat ditutup dengan band-aid operative dressing
- Luka dengan sedang eksudat ditutup dengan regal filmated swabs
- Luka dengan banyak eksudat ditutup dengan surgipad
- Untuk kenyaman bergerak sebaiknya menggunakan gurita
Tempat perawatan pasca bedah
Pemberian cairan
Setelah tindakan di kamar operasi selesai, penderita dipindahkan kedalam
kamar rawat khusus (recovery room) yang dilengkapi dengan alat pendingin
udara selama beberapa hari. Bila gawat dipindahkan ke unit perawatan
darurat (ICU). Jika mulai pulih dipindahkan ke tempat penderita semula di
rawat. Disini perawatan luka dan pengukuran tanda-tanda vital penderita
dilanjutkan seperti biasa.
Diit
24 jam pertama pasien puasa pasca operasi maka cairan yang diberikan yang
mengandung elekrolit. Biasanya cairan dextrose 5-10%, garam fisiologis,
dan RL secara bergantian 20 tts/menit. Bila kadar hemoglobin rendah
diberikan transfusi darah.
Nyeri
Untuk mengurangi neyeri diberikan :
- Injeksi IM pethidin dosis 100-150 mg
- Morfin 10-15 mg / secara perinfus
Mobilisasi
1. Hari ke-1
a. Berbaring miring kekanan dan miring kekiri yang dapat dimulai ejak
6-10 jam setelah penderita sadar.
b. Latihan pernafasan dapat dilakukan ibu sambil tidur terlentang sedini
mungkin setelah sadar.
2. Hari ke-2
a. Ibu dapat duduk 5 menit dan diminta untuk bernafas dalam, lalu
menghembuskannya disertai batuk-batuk kecil yang gunanya untuk
melonggarkan pernafasan dan sekaligus menumbuhkan kepercayaan
pada diri ibu / penderita bahwa ia mulai pulih.
b. Kemudian posisi tidur terlentang diubah menjadi setengah duduk
c. Selanjutnya secara berturur-turut, hari demi hari penderita / ibu yang
sudah melahirkan dianjurkan belajar duduk.
3. Hari ke-3
1. Belajar berjalan kemudian berjalan sendiri
2. Mobilisasi secara teratur dan bertahap serta diikuti dengan istirahat
dapat membantu penyembuhan ibu.
Katerisasi
Pemasangan dower kateter atau balon kateter selama 24 jam sampai 48 jam
atau lebih lagi tergantung jenis operasi.
Pemberian obat-obatan
1. Anti biotika, kemoterapi dan anti inflamasi
2. Obat-obat pencegah perut kembung
3. Obat-obatan lainnya
Perawatan rutin
- TD
- Nadi
- RR
- Jumlah cairan masuk dan keluar
- Suhu badan
- Pemeriksaan lainnya menurut jenis operasi

VII. Konsep Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian
1. Sirkulasi : riwayat masalah jantung, odema pulmonal, penyakit vaskuler
perifer, atau status vaskuler (peningkatan resiko pembentukan thrombus)
2. Integritas ego : perasaan cemas, takut, marah, apatis, serta adanya
faktor-faktor stress multipel seperti financial, hubungan, gaya hidup,
dengan tanda-tanda tidak dapat beristirahat, peningkatan ketegangan,
stimulasi simpatis.
3. Makanan / cairan : mal nutrisi, membrane mukosa yang kering
pembatasan puasa pra operasi insufisiensi pancreas / DM, posisi untuk
hipoglikemia / ketoasidosis.
4. Pernafasan : adanya infeksi, kondisi yang kronik / batuk merokok.
5. Keamanan :
- Adanya alergi atau sensitive terhadap obat, makanan, plester dan
larutan
- Adanya defisiensi imun
- Munculnya kanker / adanya terapi kanker
- Riwayat keluarga, tentang hipertermia malignan / reaksi anastesi
- Riwayat penyakit hepatic
- Riwayat tranfusi darah
- Tanda munculnya proses infeksi
B. Diagnosa Keperawatan
1. Defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan
2. Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan
sirkulasi
3. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan luka post operasi
4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan perdarahan, luka post operasi
5. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan tindakan pembedahan

C. Intervensi Keperawatan
Dx 1. Defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan
Tujuan : tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan
output baik jumlah maupun kwalitas.
Intervensi :
a. Kaji kondisi status hemodinamika
R/ Pengeluaran cairan akibat operasi yang berlebih merupakan faktor
utama masalah.
b. Ukur pengeluaran harian
R/ Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah
dengan jumlah cairan yang hilang selama masa postoperasi dan
harian.
c. Berikan sejumlah cairan pengganti harian
R/ Tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan masif
d. Evaluasi status hemodinamika
R/ Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui pemeriksaan
fisik.

Dx 2. Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan


sirkulasi
Tujuan : Klien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi
intervensi.
Intervensi :
a. Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas
R/ Mungkin klien tidak mengalami perubahan berarti, tetapi
perdarahan masih perlu diwaspadai untuk mencegah kondisi klien
lebih buruk.
b. Kaji pengaruh terhadap kondisi luka dan kondisi tubuh umum.
R/ Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan pulsasi organ
reproduksi, tetapi dapat mempengaruhi kondisi luka post operasi dan
berkurangnya energi.
c. Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari
R/ Mengistirahatkan klien secara optimal
d. Bantuk klien melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan/kondisi
klien.
R/ Mengoptimalkan kondisi klien, pada abortus immines, istirahat
mutlak sangat didperlukan.
e. Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas
R/ Menilai kondisi umum klien.

Dx. 3 Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan luka post operasi
Tujuan : Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami
Intervensi :
a. Kaji kondisi nyeri yang dialami klien
R/ Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan skala
maupun dekripsi.
b. Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya
R/ Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance
mengatasi nyeri.
c. Ajarkan teknik distraksi
R/ Pengurangan persepsi nyeri
d. Kolaborasi pemberian analgesic
R/ Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan
pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas /
spesifik.

Dx. 4 Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan perdarahan, luka post


operasi
Tujuan : Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan dan luka
operasi.
Intervensi :
a. Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar : jumlah, warna, dan bau
dari luka operasi.
R/ Perubahan yang terjadi pada dischart di kaji setiap saat dischart
keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak
mungkin merupakan tanda infeksi.
b. Terngkan pada klien pentingnya perawatan luka selama masa postr
operasi.
R/ Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan luka
c. Lakukan pemeriksaan akibat pada bischart
R/ Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart
d. Lakukan perawatan luka
R/ Inkubasi kuman pada area luka dapat menyebabkan infeksi
e. Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda infeksi
R/ Berbagai manifestasi klinik dapat menjadi tanda non spesifik
infeksi : demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan
gejala infeksi.
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J. 2001. Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC

Dongoes, M.E. 2002. Rencana Askep Pedoman Untuk Perencanaan Dan


Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC

Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis obstetric jilid 2. Jakarta : EGC

Prawiharjo, S. 2000. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan


Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka

Johsen, Ruth. Taylor, wendy. 2004. Buku Ajar Praktek Kebidanan. Jakarta : EGC

http : //honey 72.wordpress.com/2010/06/15/mobilisasi-dini-pada-ibu-podt-sc/


ASUHAN KEPERAWATAN
PADA Ny. S DENGAN KASUS POST SC
DI RUANG SHOFA RSI FATIMAH
BANYUWANGI

Di susun oleh :

KELOMPOK IV

NURDINIYAH SALIS
SUGIARTO
RUDI ISWANTO
RIANTI ASTUTI
DWI AGUS NUSANTARA
VITA RUSDIANAN
MIRAWATI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BANYUWANGI


PRODI D.3 KEPERAWATAN
2010
LEMBAR PENGESAHAN

Asuhan Keperawatan Pada Ny. S dengan Kasus


POST OPERASI SECTIO CESAREA
Di ruang Shofa RSI Fatimah Banyuwangi

Telah Diterima dan Disetujui


Tanggal :

Oleh :

Pembimbing Ruangan Pembimbing Institusi

NANIK S., Amd. Keb ___________________

Mengetahui,
Kepala Ruang SHOFA

NANIK S., Amd. Keb


TINJAUAN KASUS

Pengkajian
1. Biodata
a. Nama : Ny. s
b. Umur : 25 tahun
c. Jenis Kelamin : Perempuan
d. Agama : Islam
e. Suku / Bangsa : Jawa / Indonesia
f. Alamat : Kertosari Banyuwangi
g. Pekerjaan : -
h. No.Reg : 064109
i. Tanggal MRS : 06 Juli 2010, jam 20.30 WIB
j. Tanggal Pengkajian : 08 Juli 2010, jam 12.00 WIB
k. Dx Medis : Gipogemeli KPD

Biodata Penanggung Jawab


a. Nama : Tn. M
b. Umur : 27 tahun
c. Jenis Kelamin : Laki-laki
d. Agama : Islam
e. suku / Bangsa : Jawa / Indonesia
f. Alamat : Kertosari Banyuwangi
g. Pekerjaan : Wiraswasta

2. Keluhan utama
a. Keluhan saat MRS
Klien mengatakan bahwa keluar cairan dari vagina mulai dari pukul 13.00
WIB, kehamilannya yang ke I dan sudah cukup bulan dan klien merasakan
slemet-slemet pada bagian perut.
b. Keluhan saat pengkajian
Klien mengatakan nyeri pda luka bekas operasi.

3. Riwayat penyakit sekarang


Klien mengatakan hamil 9 bulan dan ini adalah kehamilannya yang
pertama. Klien mengatakan pada tanggal 6 Juli 2010 jam 13.00 WIB ada cairan
yang keluar dari vagina, kemudian klien periksa pada salah satu bidan swasta.
Setelah diperiksa ternyata ketuban klien sudah pecah, kemudian klien diberikan
terapi infus. Sampai dengan pukul 20.00 WIB, klien masih belum merasakan apa-
apa, kemudian klien dirujuk oleh bidan swasta untuk menjalani proses persalinan
dirumah sakit. Kemudian pada tanggal 6 Juli 2010 pada pukul 20.30 WIB, klien
dirujuk di RSI Fatimah, setelah dilakukan pemeriksaan, dengan indikasi adanya
janin gemilli dan klien tidak mengalami his sama sekali, maka klien akan
menjalani operasi sectio cesarea pada tanggal 7 Juli 2010 pada pukul 08.00 WIB.
Saat pengkajian pada tanggal 08 Juli 2010 jam 12.00 WIB, diruang Shofa
klein mengatakan nyeri pada luka yang habis di operasi yaitu pada perutnya, nyeri
itu dirasakan saat klien akan bergerak dan nyeri tersebut timbul setiap saat klien
akan bergerak dan nyeri tersebut timbul setiap saat baik pagi, sore maupun
malam.

Riwayat post natal


Post SC pukul 09.30 WIB pasien datang dari ruang bedah langsung dikirim di
ruang marwah untuk di observasi lebih lanjut.

Riwayat BBL
Bayi gemelli lahir tanggal 8 Juli 2010 dengan bayi laki-laki BB: 2,5 kg, PB: 50
dan bayi perempuan BB: 2,3 kg, PB: 49 dengahn keadaan normal.

4. Riwayat kebidanan masa lalu


a. Riwayat haid
- Menarche : umur 13 tahun
- Fluor albus : ketika akan haid saja
- Siklus dan lama : 28 hari dan 7 hari
- Warna dan bau : merah kecoklatan dan bau khas
- dismenore : hanya sakit perut saja
- Pada saat haid kelien merasakan nyeri.
b. Riwayat perkawinan
Klien mengatakan menikah umur 23 tahun dan ini adalah pernikahan yang
pertama, umur pernikahan 2 tahun.
c. Riwayat kehamilan persalinan dan BBL yang lalu
Anak ke Persalinan Cara lahir Penolong BBL
I Hamil ini
d. Riwayat KB
Klien mengatakan sebelumnya tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi.
e. Riwayat sistem reproduksi
Klien mengatakan tidak pernah mengalami pada sistem reproduksi.

5. Riwayat kesehatan keluarga


Klien mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit menular
ataupun menurun.

6. Riwayat psikososial dan spiritual


a. Riwayat psikologi
Klien mengatakan bahagia dengan keadaan dirinya setelah dilakukan operasi,
karena kedua anaknya lahir dengan keadaan normal.
b. Riwayat aspek sosial
hubungan klien dengan keluarga dan orang-orang disekitarnya sangat baik,
hal ini ditunjukkan dari perhatian keluarganya untuk menjaga dan merawat
saat di RS dan hubungan klien dengan perawat juga baik ditunjukkan klien
sangat kooperatif bila diajak untuk berkomunikasi.
c. Riwayat aspek spiritual
Klien beragama islam, setiap hari menjalankan ibadahnya, tetapi saat sakit
hanya berbaring dan tidak melaksanakan ibadahnya.

7. Pola kebiasaan sehari-hari


a. Pola nutrisi
1) Saat hamil
Klien mengatakan makan 3x sehari dengan komposisi nasi, lauk pauk dan
sayuran, minum air putih 6 gelas/hari dan minum susu 1 gelas/hari.
2) Setelah melahirkan
Klien mengatakan setelah 2 hari post op, hanya MSS (minum sedikit saja).
b. Pola eliminasi
1) BAB
a) sebelum sakit
Klien mengatakan BAB 1x/hari pada pagi hari dengan komposisi
sistensi lembek dan warna dan bau khas feses.
b) saat sakit
klien mengatakan belum BAB sama sekali saat di RS.
2) BAK
a) sebelum sakit
Klien mengatakan BAK 5 10 x sehari warna kuning jernih, bau khas
urine.
b) saat sakit
Klien dipasang DC. UT: 200 L/24 jam
c. Pola kebersihan sehari-hari
1) sebelum sakit
Klien mengatakan mandi 2x sehari yaitu pagi dan sore, keramas 2x
seminggu dan gosok gigi 2x sehari saat mandi.
2) saat sakit
Klien mengatakan saat di RS hanya diseka 2x sehari pagi dan sore.
d. Pola aktivitas latihan dan bermain
1) sebelum sakit
Klien mengatakan jarang tidur siang dan memulai tidur malamnya jam
21.00 WIB 05.00 WIB.
2) saat sakit
Klien mengatakan tidurnya sering terbangun karena nyeri yang dirasakan.

8. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
- K.U : cukup
- kesadaran : compos mentis/4, 5, 6
b. Tanda-tanda vital
TD : 110/70 mmHg
RR : 20 x/m
S : 36,4o c
N : 88 x/m
c. Pemeriksaan cepalo caudal
1) Kepala dan rambut
Bentuk kepala bulat, kulit kepala sedikit kotor, warna rambut hitam, tidak
ada lesi dan tidak ada nyeri tekan.
2) Hidung
Bentuk hidung simetris, tidak terdapat pernafasan cuping hidung, tidak
ada nyeri tekan.
3) Telinga
Bentuk simetris, warna kulit sama seperti sekitar, tidak ada nyeri tekan,
tidak ada lesi, pendengaran baik, tidak menggunakan alat Bantu
pendengaran.
4) Mata
Bentuk mata simetris antara kanan / kiri, palpebra tidak odem, selera
ikterus, conjunctiva merah muda.
5) Mulut, gigi, lidah, tonsil dan pharing
Mulut bersih, mukosa bibir kering, tidak ada carles pada gigi, lidah agak
kotor, tidak ada pembesaran tonsil, tidak ada nyeri tekan dan tidak
stomatitis.
6) Leher dan tenggorokan
Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid dan pembesaran vena jugularis,
tidak ada lesi, warna sama dengan kulit sekitar.
7) Dada / Thorax
a) Pemeriksaan paru
1. Inspeksi : warna sama dengan kulit sekitar, bentuk dada
simetris, tidak ada lesi.
2. Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada ketinggalan gerak
saat bernafas, tidak ada peningkatan atau penurunan
vocal vremiks.
b) Pemeriksaan jantung
1. Inspeksi : ictus cordis tidak tampak pada ICS V midclavicula
sinistra.
2. Palpasi : ictus cordis teraba pada ICS V midclavicula sinistra.
3. Perkusi : bunyi jantung terdengar redup pada ICS 4-5
midclavicula sinistra.
4. Auskultasi : tidak ada suara tambahan, terdengar suara jantung I
dan II tunggal.
c) Payudara
1. Inspeksi : tidak ada lesi, terdapat hiperpigmentasi pada papilla
dan aerola, putting susu menonjol.
2. Palpasi : payudara kencang, tidak terdapat nyeri tekan,
kolostum belum keluar.
8) Abdomen
a) Inspeksi : ada stirae, umbilicus antari umbilicus dan simpisis
publis tidak menonjol, ada luka post op dibagian bawah
10 cm tertutup kasa.
b) Palpasi : tidak ada massa, terdapat nyeri ntekan. Skala nyeri 5.
c) Perkusi : suara pekak
d) Auskultasi : bising usus 12 x/m.
9) Ekstrimitas, kuku dan kekuatan otot
Pada tangan sebelah kiri terpasang infus RL 20 tts/menit, kuku bersih,

5|5
kekuatan otot , hanya mika / miki.
4|5

10) Genetalia dan anus


Terpasang DC pada genetalia, tidak ada hemoroid pada anus, lochea rubra.
11) Neurologi
Tidak terdapat kelainan pada system neurologi.

9. Pemeriksaan penunjang
Tanggal 6 Juli 2010 : HB : 7,9 (Pre ops)
Hematorokit : 26,8
Leukosit : 11.700
Trombosit : 154.000
Hitung jenis : 82 / 12 / 6
Tanggal 8 Juli 2010 : HB : 9,3 (post op)
Tanggal 9 Juli 2010 : HB : 9,5

10. Penatalaksanaan
- Infus RL 20 tts/menit
- Inj. Ccfo
- Inj. Vitamin C
- Inj. Alinamin
- Inj. Ketorolax
- Transfusi WB 2 kolf (tanggal 7 Juli 2010)
ANALISA DATA

Nama : Ny. S
No. Register : 064109

No Kelompok Data Masalah Etiologi


1. Ds = klien mengatakan nyeri Gangguan rasa Gemelli
pada bekas operasi. nyaman nyeri
Do = - Obs TTV Pembedahan SC
TD = 110/70 mmHg
RR = 20 x/m Dekontinuitas
S = 36,4o c jaringan
N = 88 x/m
Terdapat luka post op di Merangsang
abdomen bagian bawah mediator nyeri
antara umbilicus dan (postaglandin,
simpisis 10 cm pusat serokonin,
skala nyeri = 5. bladikinin)

Nyeri

G3 rasa nyaman
nyeri

2. Ds = klien mengatakan sangat Gangguan pola Sectio cesarea


sulit melakukan aktivitas / aktivitas
bergerak klarena nyeri Pengaruh anastesi
pada luka post op
sehingga mika / miki. Kelemahan fisik
Do = - Obs TTV akibat nyeri
TD = 110/70 mmHg
S = 36,4o c Ketidak mampuan
RR = 20 x/m gerak
N = 88 x/m
- tampak mika / miki Gangguan pola
- terpasang infus pada aktivitas
tangan sebelah kiri.
- terpasang DC
DAFTAR MASALAH

Nama : Ny. S
No. Register : 064109

Tanggal
No Tanggal Diagnosa Keperawatan TTD
Teratasi
1. 08 Juli 2010 Gangguan rasa nyaman nyeri
berhubungan dengan adanya
dekontuinitas jaringan ditandai
dengan :
- Ku = cukup, kesadaran
compos mentis
- obs TTV, skala nyeri = 5
T = 110/70 mmHg
N = 88 x/m
RR = 20 x/m
S = 36,4o c
- terdapat luka post partum op
di abdomen bawah antara
umbilicus dan simpisis pusat
10 cm.

2. Gangguan pola aktivitas 09 Juli 2010


berhubungan dengan
kelemahan fisik akibat nyeri
luka post op SC ditandai :
- K.U = cukup, kesadaran
compos mentis.
- obs TTV
T = 110/70 mmHg
N = 88 x/m
RR = 20 x/m
S = 36,4o c
- tampak mika / miki
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Nama : Ny. S
No.Register : 064109

No Diagnosa Tujuan Kriteria Hasil Intervensi Rasional


1. Gangguan rasa nyaman Setelah dilakukan tindakan - Klien mengatakan nyeri 1. BHSP 1. Dapat mempermudah perawat
nyeri b/d adanya dekonti- keperawatan 2 x 24 jam berkurang. untuk melakukan tindakan
nitas jaringan. diharapkan nyeri berkurang - nyeri tekan pada daerah post op kepe-rawatan.
sampai dengan hilang. berkurang. 2. Beri penjelasan tentang 2. Agar klien mengerti apa
- TTV kembali normal nyeri / penyebab nyeri. penyebab nyeri yaitu karena
TD = 120/80 140/80 mmHg kontraksi dan post SC.
S = 36o c 37o c 3. Kaji tingkat nyeri. 3. Untuk mengetahui skala nyeri
N = 80 x/m 100 x/m dan mene-ntukan rencana
RR = 20 x/m selan-jutnya.
- Skala nyeri = 1 3 4. jarkan tehnik distrasi 4. Untuk mengurangi rasa nyeri.
relaksasi.
5. observasi TTV 5. Untuk mengetahui perubahan
sedini mung-kin.
6. kolaborasi dengan tim medis 6. Analgesik dapat menghambat
dalam pemberian analgesik pusat ambang nyeri.
dan anti biotik
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Nama : Ny. S
No.Register : 064109

No Diagnosa Tujuan Kriteria Hasil Intervensi Rasional


1. Gangguan pola aktivitas Setelah dilakukan tindakan - Klien mampu melakukan 1. Jelaskan pada klioen dan 1. Pengetahuanklien bertambah
b/d kelemahan fisik keperawatan 2 x 24 jam aktivitas sendiri. keluarga tentang tindakan sehingga koo-peratif.
akibat nyeri luka post op diharapkan aktivitas klien - Klien mampu mobilisasi yang akan dilakukan dan
SC. dapat kembali semula. sendiri. pentingnya mobilisasi.
2. Anjurkan klien untuk mela- 2. Peningkatan mobilisasi ber-
kukan mobilisasi secara tahap mencegah peningkatan
bertahap. curah jantung.
3. Berikan latihan gerak. 3. Mempertahankan mobilisasi
dan fungsi posisi normal
ekstrimitas.
4. Menganjurkan kepada ke- 4. agar klien mudah mobilisasi.
luarga untuk membantu
klien mobilisasi.
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Nama : Ny. S
No. Register : 064109

No.
Tanggal Jam Tindakan Keperawatan TTD
dx
08-07-2010 14.00 1. 1. BHPS
H = hubungan klien dengan perawat
baik kooperatif.
15.00 2. Mengkaji tehnik distraksi relaksasi
H = klien mengerti dan paham tentang
penyebab nyeri.
21.00 3. Mengkaji tingkat nyeri
H = klien terkaji nyeri yang dirasakan
nyeri dengan skala = 5
22.00 4. Mengajarkan tehnik distraksi relaksasi
H = klien mampu melakukan tehnik
tersebut dengan bernafas dalam
(relaksasi) dan mengobrol dengan
saudara-saudaranya (distraksi).
09-07-2010 18.00 5. Mengobservasi TTV
H = TD = 110/70 mmHg
H = 88 x/m
RR = 20 x/m
N = 36,4o c
08-07-2010 18.30 6. Melaksanakan advis dokter
H = - infs. RL / Ds 2/2
- inj. Cefo, vit C, alinamin,
ketorolak.

19.00 2. 1. Menjelaskan pada klien dan keluarga


tentang tindakan yang akan dilakukan
H = klien dan keluarga mendengarkan
dan mengerti dengan baik.
16.00 2. Menganjurkan klien untuk mobilisasi
secara bertahap.
H = klien berusaha meskipun agak
sulit.
05.00 3. Memberikan latihan gerak
H = klien mulai menggerakkan tangan
dan kaki secara bertahap.
09-07-2010 07.00 4. Mengannurkan kepada keluarga untuk
membantu klien mobilisasi.
H = keluarga merespon dengan baik.
CATATAN PERKEMBANGAN

Nama : Ny. S
No. Register : 064109

No.
Tgl. 08 07 2010 Tgl. 08 07 2010 Tgl. 09 07 - 2010
dx
1. DS : klien mengatakan DS = klien mengatakan DS = klien mengatakan
masih nyeri pada luka nyeri luka post op nyeri luka post op
post op.
Do : - K.U = lemah Do = - K.U = lemah Do = - K.U = lemah
- terdapat luka post - terdapat luka post op - terdapat luka post
op. 10 cm tertutup op tertutup kasa
- nyeri tekan, skala kasa dibagian perut diabdomen antara
nyeri = 5 antara umbilicus dan umbilicus dan
- TTV : simpisis pubis. simpisis pubis.
TD=100/90 mmHg - nyeri tekan pada - nyeri tekan pada
N = 80 x/m abdomen, skala abdomen, skala
S = 36,8o c nyeri = 5 nyeri = 5
RR = 20 x/m - TTV : - TTV :
TD=110/70 mmHg TD=110/70 mmHg
N = 84 x/m N = 84 x/m
S = 37o c S = 37o c
RR = 18 x/m RR = 20 x/m
A = masalah belum A = masalah teratasi A = masalah teratasi
teratasi. sebagian sebagian
P = lanjutkan intervensi P = lanjutkan intervensi P = intervensi dilanjut-
- kaji tingkat nyeri - obs. TTV kan.
- ajarkan tehnik - kolaborasi dengan - obs. TTV
distraksi relaksasi tim medik dengan - kolaborasi dengan
- obs. TTV pemberian anal- tim medik dengan
- kolaborasi dengan gesik dan anti biotik. pemberian anal-
tim medik dengan gesik dan anti
pemberian anal- biotik.
gesik dan anti
biotik.
No.
Tgl. 08 07 2010 Tgl. 08 07 2010 Tgl. 09 07 - 2010
dx
Ds = Klient mengatakan Ds = Klien mengatakan Ds = Klien mengatakan
sulit untuk beraktivi- sudah bisa beraktivi- sudah bisa
tas tas beraktivitas

Do = - K.U Lemah Do = - K.U = Lemah Do = - K.U = Cukup


- terpasang - Terpasang infus - Terpasang
infus - Terpasang DC infus potong di
- terpasang - Sudah bisa mika bagian sebelah
DC miki kiri
- aktivitas - Sebagian aktivitas - Jalan-
dibantu keluarga/ dibantu keluarga jalan
perawat - Kekuatan otot - Kekuatan
- kekuatan
5 5 otot
otot 5 5
5 5
5 5 5 5
A = Masalah teratasi
4 5
sebagian
P = Lanjutkan Intervensi
- Berikan latihan
A = Masalah teratasi
gerak
A = Masalah belum
- Mengajurkan
teratasi P = Hentikan intervensi
kepada keluarga
untuk membantu
P = Intervensi
klien mobilisasi
- Anjurkan klient
untuk melakukan
mobilisasi secara
bertahap
- Berikan latihan
gerak
- Menganjurkan
kepada keluarga
untuk membantu
klien mobilisasi