Anda di halaman 1dari 12

Jumat, 04 November 2011

FITRAH DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM


A. DEFINISI DAN TEORI TENTANG FITRAH
Manusia diciptakan Allah dalam struktur yang paling baik di antara makhluk Allah yang
lain. Struktur manusia terdiri dari unsur jasmaniah dan rohaniah, atau unsur fisiologis dan unsur
psikologis.

Dalam struktur jasmaniah dan rohaniah itu, Allah memberikan seperangkat kemampuan
dasar yang memiliki kecenderungan berkembang, dalam psikologi disebut potensialis atau
disposisi, yang menurut aliran psikologi behaviorisme disebut prepotence reflexes (kemampuan
dasar yang secara otomatis dapat berkembang).

Dalam pandangan islam kemampuan dasar/pembawaan ibu disebut dengan fitrah yang
dalam pengertian etimologis mengandung arti kejadian, oleh karena kata fitrah itu berasal dari
kata kerja yang berarti menjadikan.

Kata fitrah ini disebut dalam Surat ar-Rum: 30 sebagai berikut:




( )
Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan selurus-lurusnya (sesuai dengan
kecenderungan aslinya) itulah fitrah Allah, yang Allah menciptakan manusia dia atas fitrah itu.
Itulah agama yang lurus. Namun kebanyakan orang tidak mengetahuinya. (Ar-Rum:30)

Di samping itu tedapat beberapa sabda Nabi SAW dengan beberpa riwayat dari para
sahabat yang berbeda pula mantannya. Sebuah sabda nabi SAW yang populer, yang banyak
disetir oleh para ulama antara lain adalah sebagai berikut:




tiap-tiap anak dilahirkan diatas fitrah maka Ibu Bapaknyalah yang mendidiknya
menjadi orang yang beragama yahudi, nashrani, dan majusi". [1]

Menurut Prof. Dr. Abdul Mujib, M.Ag. dan Dr. Jusuf Mudzakkir, M.Si. fitrah dapat
diartikan dengan citra asli yang dinamis, yang terdapat pada sitem-sistem psikofisik[2]manusia,
dan dapat diaktualisasikan dalam bentuk tingkah laku. Citra unik tersebut telah ada sejak awal
penciptaannya [3]
Bila diinterprestasikan lebih lanjut dari istilah fitrah sebagaimana tersebut dalam Al-
Quran dan Al-Hadis diatas, maka dapat diambil pengertian secara terminalogis sebagai beriku:

1. Fitrah yang disebutkan dalam ayat tersebut mengandung implikasi kependidikan yang
berkonotasi kepada paham nativisme. Oleh karena kata fitrah mengandung makna kejadian yang
didalamnya berisi potensi dasar beragama yang benar dan lurus yaitu Islam. Potensi dasar ini
tidak dapat diubah oleh siapapun atau oleh lingkungan apapun, karena fitrah itu merupakan
ciptaan Allah yang tidak akan mengalami perubahan baik isi maupun bentuknya dalam tiap
pribadi manusia.

Berdasarkan interpretasi demikian, maka ilmu pendidikan Islam bisa dikatakan berpaham
nativisme yaitu suatu paham yang menyatakan bahwa perkembangan manusia dalam hidupnya
secara mutlak ditentukan oleh potensi dasarnya. Proses kependidikan sebagai upaya untuk
mempengaruhi jiwa anak didik tidak berdaya merubahnya. Paham nativisme ini berasal dari
pandangan filosofis ahli pikir Italia bernama Lomrosso, dan ahli pikir Jerman bernama
Schopenheuer pada abad pertengahan.

Pengertian yang bercorak nativistik diatas berkaitan juga dengan faktor hereiditas atau
keturunan yang bersumber dari ortu, termasuk keturunan beragama atau religiousitas. Faktor
keturunan religiousitas ini didasarkan atas beberapa dalil dari Al-Quran dan Al-Hadis antara lain

.


( )

Artiya: Berkatalah Nabi Nuh: Hai Tuhanku, janganlah Engkau memberikan tempat di
bumi ini kepada orang kafir. Jika Kau memberikan tempat kepada mereka, maka mereka akan
menyesatkan hambamu dan mereka tidak akan melahirkan anak, melainkan anak yang kafir
pula terhadapmu. (Q.S Nuh :26-27)

Agama Islam sebagai agama fitrah disamakan oleh Ibnu Qayyim dengan kecenderungan
asli anak bayi secara instinktif (naluriah) menerima tetek ibunya.[4]Manusia menerima agama
Islam bukan paksaan, melainkan karena adanya kecenderungan asli itu yaitu fitrah Islamiah.

2. Dalil lainnya yang dapat di interpretasikan untuk mengartikan fitrah yang mengandung
kecenderungan yang netral ialah antara lain sebagai berikut:

. .

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu, tidaklah kamu mengetahui sesuatu
apapun dan Ia menjadikan bagimu, pendengaran, penglihatan, dan hati. An-Nahl: 78

Menurut dokter Muhammad Fadhil Al-Djamali, firman Allah diatas menjadi petunjuk
bahwa kita harus melakukan usaha pendidikan, aspek eksternal (mempengaruhi dari luar diri
anak didik). Dan dengan kemampuan yang ada dalam diri anak didik yang menumbuhkan dan
mengembangkan keterbukaan diri terhadap pengaruh eksternal (dari luar) yang bersumber dari
fitrah itulah, maka pendidikan secara operasional bersifat hidayah (menunjukkan).[5]

Pengaruh dari luar diri manusia terhadap fitrah yang memiliki kecenderungan untuk
berubah sejalan dengan pengaruh tersebut dapat disimpulkan dari interpretasi atas kata fitrah
yang disebutkan dalam sabda nabi Muhammad riwayat Abu Hurairah sebagai berikut

Tidaklah anak dilahirkan kecuali dilahirkan atas fitrah, maka kedua orangtuanya
mendidiknya menjadi yahudi atau nasrani. (H.R. Abu Hurairah).

Atas dasar Al-Hadis diatas maka kita dapat memperoleh petunjuk bahwa fitrah sebagai
faktor pembawaan sejak lahir manusia dapat dipengaruhi oleh lingkungan luar dirinya; bahkan ia
tak akan dapat berkembang sama sekali bila tanpa adanya pengaruh lingkungan itu. Sedang
lingkungan itu sendiri juga dapat diubah bila tidak favorable (tidak menyenangkan karena tidak
sesuai dengan cita-cita mansia).
Dari interpretasi tentang fitrah diatas dapat disimpulkan bahwa meskipun fitrah itu dapat
dipengaruhi oleh lingkungan, namun kondisi fitrah tersebut tidaklah netral terhadap pengaruh
dari luar. Potensi yang terkandung di dlamnya secara dinamis mengadakan reaksi atau respons
(jawaban) terhadap pengaruh tersebut.

Dengan istilah lain, dalam proses perkembangannya, terjadilah interaksi (saling


mempengaruhi) antara fitrah dan lingkungan sekitar, sampai akhir hayat manusia.

Dikaitkan dengan interpretasi tersebut diatas, maka paham behaviorisme (yang


bersumber dari sarjana psikologi dan pendidikan Amerika Serikat) berpandangan bahwa memang
manusia itu tidak dilahirkan menjadi baik atau buruk; sebagaimana pendapat Skinner yang
menyatakan bahwa lingkungan sekitar menentukan perkembangan hidup seseorang, namun ia
sendiri juga dapat menrubah lingkungan itu.[6] Lingkungan sekitar berperan sangat crusial
(rumit) berbagai faktor kemungkinan yang bersumber dari dalam diri seseorang yang juga
berpengaruh.

Jika kita mempercayai paham Jhon Lock sebagai dalil bahwa jiwa anak sejak lahir berada
dalam keadaan suci, bersih bagaikan meja lilin (Tabula rasa) yang secara pasif menerima
pengaruh dari lingkungan eksternal, berarti kita tidak menghargai benih-benih potensial manusia
yang dapat dikemnbang tumbuhkan melalui pengaruh pendidikan. Sikap demikian akan
membawa pikiran kita ke arah paham Empirismedalam pendidikan yaitu paham yang
memandang bahwa pengaruh lingkungan Esternal termasuk pendidikan merupakan satu-satunya
pembentuk dan penentu perkembangan hidup manusia.

Telah dibuktikan oleh para ahli psikologi dan pendidikan yang berpaham behaviorisme
bahwa perkembangan manusia tidaklah secara mutlak ditentukan oleh pengaruh eksternal,
sehingga seolah-olah ia menjadi budaknya lingkunagn. Mereka membuktikan bahwa meskipun
seseorang yang hidup dalam lingkungan yang sama dengan orang lain, dan masing-masing akan
memberikan respon yang sama terhadap stimulus (rangsangan) yang sama namun dengan cara
yang berbeda.

Dengan cara-cara yang berbeda, dalam memberikan respon (reaksi) terhadap stimulus,
terbukti bahwa orang tidaklah secara mutlak tunduk kepada pengaruh lingkungan sekitarnya.
Oleh karena itu jiwa seseorang tidak netral dalam menghadapi pengaruh lingkungan sekitarnya,
tapi responsive dan aktif.

Dengan demikian, pengertian Fitrah menurut interpretasi kedua ini bila dilihat dari segi
paham kependidikan tidak dapat dikatakan, bahwa Al-Quran dan Al-Hadis dapat dijadikan
sumber ilmu pendidikan islam yang berpaham Empirisme, oleh karena faktor fitrah tidak hanya
mengandung kemampuan dasar pasif yang beraspek hanya pada kecerdasan semata dalam
kaitannya dengan pengembangan ilmu pengetahuan, melainkan mengandung pula tabiat atau
watak dan kecenderungan-kecenderungan untuk mengacu kepada pengaruh lingkungan
eksternal itu, sekalipun tidak aktif.

3. Konsepsi Al-Quran yang menunjukkan bahwa tiap manusia diberi kecenderungan nafsu untuk
menjadikannya kafir yang ingkar terhadap TuhanNya dan kecenderungan yang membawa sikap
bertakwa mentaati perintahnya, adalah firman Allah dalam surat Asy-Syams, 7-10 sebagai
berikut:

. .

Demi jiwa dan apa yang menyempurnakannya; lalu diilhamkan kepadanya oleh Allah
jalan yang salah dan jalan yang benar. Sesungguhnya beruntuglah orang yang membersihkan
jiwanya, dan sesungguhnya rugilah orang yang mengotorinya.

Firman tersebut dapat dijadikan sumber pandangan bahwa usaha mempengaruhi jiwa
manusia melalui pendidikan dapat berperan positif untuk mengarahkan perkembangannya
kepada jalan kebenaran yaitu Islam. Dengan tanpa melalui pendidikan, manusia akan terjerumus
ke jalan yang salah atau sesat yaitu menjadi kafir.

Dan firman Allah yang lain ialah:

( )

Sesungguhnya Aku telah menunjukkannya jalan itu; (tapi) ada kalanya ia mensyukurinya
(mengikuti jalan itu) dan ada kalanya ia mengkufurinya (mengingkarinya). (Al-Insan, 3).
Atas dasar ayat tersebut diatas kita dapat menginterpretasikan bahwa dalam FITRAHnya,
manusia diberi kemampuan untuk memilih jalan yang benar dari jalan yang salah. Kemampuan
memilih tersebut, mendapatkan pengarahan dalam proses kependidikan yang mempengaruhinya.

Jelaslah bahwa faktor kemampuan memilih yang terdapat didalam fitrah (Human Nature)
manusia berpusat pada berfikir sehat (berakal sehat), karena akal sehat mampu membedakan hal-
hal yang benar dari yang salah, sedangkan seseorang yang mampu menjatuhkan pilihan yng
benar secara benar dan tepat hanyalah orang yang berpendidikan sehat.

Dengan demikian berfikir benar dan sehat adalah merupakan kemampuan fitrah yang
dapat dikembangkan melalui pendidikan dan latihan.

Sejalan dengan interpretasi tersebut, maka kita dapat mengatakan bahwa faktor
lingkungan yang disengaja yaitu pendidikan dan latihan berproses secara interaktif dengan
kemampuan fitrah manusia. Dalam pengertian ini, pendidikan islam berproses secara
konvergensis yang dapat membawa kepada Konvergensi dalam pendidikan islam.

Dari uraian diatas dpat disimpulkan bahwa Ilmu pendidikan islam dapat berorientasi
kepada salah satu paham Filosofis pendidikan saja atau campuran paham tersebut diatas. Namun
apapun paham filosofis yang dijadikan dasar pandangan, ilmu pendidikan islam tetap berpijak
pada kekuatan hidayah Allah yang menentukan hasil akhir.

Dalam pendidikan islam hidayah Allah menjadi sumber spiritual yang menjadi penentu
keberhasilan terakhir dari proses ikhtiariah manusia dalam pendidikan.

4. Komponen Psikologis dalam FITRAH

Jika kita perhatikan berbagai pandangan para ulama dan ilmuan islam yang telah
memberikan makna terhadap istilah FITRAH , maka dapat diambil kesimpulan bahwa fitrah
ialah suatu kemampuan dasar berkembang manusia yang dianugerahkan Allah kepadanya.
Didalamnya terkandung berbagai komponen psikologis yang satu sama lain saling berkaitan dan
saling menyempurnakan bagi kehidupan manusia.[7]

Komponen-komponen dasar tersebut meliputi:

a) Bakat
b) Insting

c) Nafsu dan dorongan-dorongannya (drives)

d) Karakter

e) Hereiditas

f) Intuisi[8]

B. EMPAT PANDANGAN TENTANG FITRAH[9]


Menurut Yasien Mohammad pemahaman terhadap konsep fitrah dapat dibedakan menjadi
empat yaitu pandangan fatalis, pandangan netral, pandangan positif, dan pandangan dualis.
1. Pandangan fatalis
Yaitu mempercayai bahwa setiap individu melalui ketetapan Allah adalah baik atau jahat
secara asal, baik ketetapan semacam ini terjadi secara semuanya atau sebagian sesuai dengan
rencana Allah. Pendapat para Tokoh fatalis adalah:
Menurut Syaikh Abdul Qodir Jailani
Mengungkapkan bahwa seorang pendosa akan masuk surga jika hal itu menjdi nasibnya yang
ditentukan Allah.
Menurut Al-Azhari
Menyatakan bahwa sifat dasar yang tidak berubah dari fitrah berkaitan dengan nasib seseorang
untuk masuk neraka atau surga. Dengan demikian, tanpa memandang factor eksternaldari
petunjuk dan kesalahan petunjuk, seseorang individu terikat oleh kehendak Alloh untuk
menjalani cetak biru kehidupannya yang telah ditetapkan baginya sebelumnya.
Ibnu Mubarok
Menafsirkan bahwa anak-anak orang musrik terlahir dalam keadaan kufur atau iman
2. Pandangan Netral
Pandang ini dikomandani Ibnu Abd Al Barr yang mendasarkan pandangannya pada
firman Alloh:




Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu
pun. ( An Nahl 16:78).
Pandangan ini berpendapat bahwa anak terlahir dalam keadaan suci, suatu keadaan
kosong sebagai mana adanya, tanpa kesadaran akan iman atau kufur. Manusia dilahirkan dalam
keadaan bodoh dan tidak bedosa. Dia akan memperoleh pengetahuan tentang yang benar dan
yang salah, tentang kebaikkan dan kebenaran serta keburukan dan kejahatan, dari lingkungn
eksternal.
Menurut pandangan ini keburukan dan kebaikkan hanya mewujud ketika anak tersebut
mencapai kedewasaan. Setelah mencapai kedewasaan seorang menjadi bertanggung jawab atas
perbuatannya.

3. Pandangan Positif
Ibnu Taimiyyah
Semua anak terlahir dalam keadaan fitrah, yaitu dalam keadaan kebajikan bawaan, dan
lingkungan social itulah yag menyebabkan individu menyimpang dari keadaan ini.
Muhammad Ali Ash Shabuni
Seorang ulamak kontoporer mengatakan bahwa kebaikan menyatu pada manusia, sementara
kejahatan bersifat aksidetal. Manusia secara ilmiah cenderung kepada kebaikkan dan kesucian.
Akan tetapi, lingkungan sosial, terutama orang tua bias menjadi pengaruh merusak pada fitrah
anak.
Ismail Raji Al Faruqi
Manusia makhluk yang dikaruniai suatu kemampuan yang unik, yang dengan kemampuan ini
semua manusia bias mengakui Alloh sebagai Tuhan Dan mengenali Perintahnya sebagai norma
atau keharusan.
4. Pandangan Dualis
Sayyid Quthb
Dua unsur pembentuk esensial dari struktur manusia secara menyeluruh, yaitu roh dan tanah,
mengakibatkan kejahatan dan kebaikkan sebagai suatu kecenderungan yang setara pada manusia,
yaitu kecenderungan untuk mengikuti Alloh dan kecenderungan untuk tersesat. Kebaikkan yang
ada dalam diri manusia dilengkapi dengan pengaruh-pengaruh eksternal seperti kenabian dan
wahyu Alloh sementara kejahatan yang ada dalam diri manusia di lengkai factor eksternal seperti
godaan dan kesesatan.
Shariati
Tanah simbol terendah dari kehinaan digabungkan dengan ruh dari Alloh. Dengan demikian
Manusia adalah makhluk berdimansi ganda dengan sifat dasar ganda, suatu susunan dari dua
kekuatan, bukan saja berbeda, tetapi juga berlawanan. Yang satu lebih cenderung turun pada
materi dan yang lain cenderung naik pada ruh suci.

C. JENIS - JENIS FITRAH


Menurut Syahminan Zaini jenis fitrah itu memiliki banyak dimensinya, tetapi dimensi
yang terpenting adalah :[10]
1. Fitrah agama; Sejak lahir, manusia mempunyai naluri atau insting beragama, insting yang
mengakui adanya Dzat Yang Maha Pencipta dan Maha Mutlak, yaitu Allah SWT. Sejak di dalam
roh, manusia telah mempunyai komitmen bahwa Allah adalah Tuhannya (QS. Al-Araf: 172),
sehingga ketika dilahirkan ia berkecenderungan pada al-hanif, yakni rindu akan kebenaran
mutlak (Allah) (QS. Ar-Rum: 30)
2. Fitrah intelek; Intelek adalah potensi bawaan yang mempunyai daya untuk memperoleh
pengetahuan dan dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang
salah. Allah SWT sering memperingatkan manusia untuk menggunakan fitrah inteleknya,
misalnya dengan kalimat : afala taqilun, afala tatafakkarun, afala tubsirun, afala
tadabarun, dan sebagainya, karena daya dan fitrah intelek ini yang dapat membedakan antara
manusia dan hewan.
3. Fitrah social; kecenderungan manusia untuk hidup berkelompok yang di dalamnya terbentuk
suatu cirri-ciri yang khas yang disebut dengan kebudayan.
4. Fitrah susila; kemampuan manusia untuk mempertahankan diri dari sifat-sifat amoral, atau sifat-
sifat yang menyalahi tujuan Allah menciptakannya. Fitrah ini menolak sifat-sifat yang menyalhi
kode etik yang telah disepakati oleh masyarakat Islam. Manusia yang menyalahi fitrah susilanya,
akibatnya menjadi hina. (QS. Al-Anfal: 55, al-Araf:179).
5. Fitrah ekonomi (mempertahankan hidup); daya manusia untuk mempertahankan hidupnya
dengan upaya memberikan kebutuhan jasmani, demi kelangsungan hidupnya. Maksud fitrah ini
adalah memanfaatkan kekayaan alam sebagai realisasi dari tugas-tugas kekhalifahan dalam
rangka beribadah kepada Allah SWT.
6. Fitrah seni; kemampuan manusia yang menimbulkan daya estetika, yang mengacu padaal-
jamal Allah SWT. Tugas pendidikan yang terpenting adlah memberikan suasana gembira, senang
dan aman dalam proses belajar mengajar, karena pendidikan merupakan proses kesenian, yang
karenanya dibutuhkan seni mendidik.
7. Fitrah kemajuan, keadilan, kemerdekaan, kesamaan, ingin dihargai, kawin, cinta tanah air, dan
kebutuhan-kebuthan hidup yang lainnya.Semua kebutuhan manusia adalah fitrahnya yang
menuntut untuk dipenuhi.
Sayyid Qutub[11] mengemukakan kebutuhan pokok manusia yang terbagi atas empat
macam, yaitu: (1) kebutuhan hati nurani setiap insan untuk memperolaeh kepuasan, ketentraman,
dan ketenangan; (2) kebutuhan akal pikiran setiap insan untuk memperoleh kebebasan,
kemerdekaan dan kepastian; (3) kebutuhan perasaan setiap insan untuk memperoleh rasa saling
pengertian, kasih sayang, dan perdamaian; dan (4) kebutuhan hak dan kewajiban setiap insan
untuk memperoleh perundang-undangan, ketertiban dan keadilan.
Menurut Abd al-Rahman al-Bani, yang dikutip al-Nahlawi[12], tugas pendidikan Islam
adalah menjaga dan memelihara fitrah peserta didik, dan mengembangkan dan mempersiapkan
segala potensi yang dimiliki dan mengarahkan fitrah dan potensi tersebut menuju kebaikan dan
kesempurnaan, serta merealisasikan progam tersebut secara berharap.
D. IMPLIKASI FITRAH DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Manusia adalah makhluk paedagogik maksudnya adalah manusia adalah makhluk
Allah yang dilahirkan membawa potensi dapat dididik dan dapat mendidik sehingga mampu
menjadi khalifah di bumi, dan pengembang kebudayaan. Ia dilengkapi dengan fitrah Allah,
berupa bentuk atau wadah yang dapat diisi dengan berbagai kecakapan dan ketrampilan yang
dapat berkembang, sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk mulia. Firman Allah:



( )

Artinya:
......(tegakkanlah) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia berdasarkan fitrah itu. Tidak
ada perubahan pada ciptaan Allah itu..... (Q.S. Ar-Rum 30).
Firman Allah yang berbentuk potensi itu tidak akan mengalami perubahan dengan
pengertian bahwa Manusia dapat terus berfikir, merasa dan bertindak dan terus berkembang.
Potensi manusia dapat dididik dan mendidik memiliki kemungkinan berkembang dan meningkat
sehingga kemampuannya dan melampaui jauh dari kemampuan fisiknya yang tidak berkembang.
Meskipun demikian, kalau potensi itu tidak dikembangkan niscaya ia akan kurang
bermakna dalam kehidupan. Oleh karena itu perlu dikembangkan dan pengembangan itu
senantiasa dilakukan dalam usaha dan kegiatan pendidikan. Teori nativis dan empiris yang
dipertemukan oleh Kerchenteiner dengan teori konvergensinya, telah ikut membuktikan bahwa
manusia itu adalah makhluk yang dapat dididik dan dapat mendidik. Dengan pendidikan dan
pengajaran potensi itu dapat dikembangkan manusia, meskipun dilahirkan seperti kertas putih,
bersih belum berisi apa-apa dan meskipun ia lahir dengan pembawaan yang dapat berkembang
sendiri, namun perkembangan itu tidak dapat maju kalau tidak melaui proses tertentu, yaitu
proses pendidikan. Pendidikan adalah usaha dan kegiatan pembinaan pribadi. Adapun materi,
tujuan dan prinsip serta cara pelaksanaannya dapat dipahami dalam petunjuk Allah yang
disampaikan oleh para Rasul-Nya.
Pendidikan Islam berarti pembentukan pribadi muslim. Isi pribadi muslim itu adalah
pengamatan sepenuhnya ajaran Allah dan Rasulu-Nya. Tetapi pribadi muslim itu tidak akan
tercapai atau terbina kecuali dengan pengajaran dan pendidikan.
Manusia adalah makhluk paedagonik, maka kewajiban menyelenggarakan pendidikan
adalah kewajiban syarI yang berarti pula bahwa perintah bertakwa adalah sekaligus perintah
menyelenggarakan pendidikan yang menuju kepada pembinaan manusia bertakwa.[13]

[1] Prof. H. M. Arifin, M.Ed, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1994, Cet ke-4, hlm.
88.
[2] Abdul Mujib Dan Jusuf Mudzakkir, Nuansa- Nuansa Psikologi Islam, Jakarta: Raja Wali
Press,2001, hal. 78-85.
[3] Abdul mujib, Fitrah Dan Kepribadian Islam, Jakarta: Darul Falah, 1999, hal, 8-36.
[4] Ibnu Qayyyim, Syifa Al-Alil, hlm 381
[5] Prof. Dr. Muhammad Fadhil Al-Djamali, Nahwa Tarbiyatin Muminatin, hlm. 14.
[6] Skinner, Science and Human Behaviour, hal. 448.
[7] Prof. H. M. Arifin, M.Ed ,Op.Cit.,hlm 89-97.
[8] Prof. H. M. Arifin, M.Ed, Ibid., hal.101
[9] Fuad Nashori, Potensi- Potensi manusia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2003. Hal, 55-
63.
[10] Syahminan zaini, Prinsip-prinsip Dasar Konsepsi Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia,
1986, hal, 5-9.
[11] Warminta Masykar, Gaung Ukhuwah Dan Fenomenal AgamaSebagai kesadaran insani, Al
Muslimun, 1989, hal. 101.
[12] Abd al Rahman al nahlawi, Ushul Al Tarbiyah Al Islamiyah Wa Asalibuhan, Beirut: Dar Al
Fikr, 1979. Hal 13.