Anda di halaman 1dari 25

RAHASIA MEDIS

SUMPAH HIPPOCRATES
Sudah sejak zaman kuno, norma norma kesusilaan yang menjadi
pegangan para dokter ialah sumpah yang diciptakan oleh Bapak
Ilmu Kedokteran HIPPOCRATES ( 469 377 SM ). Sumpah
Hippocrates yang umurnya telah berabad abad itu, maknanya
tersimpul dalam segala sesuatu yang kulihat kudengar dalam
melakukan praktekku, akan kusimpan sebagai rahasia.

Pasal 12 Kode Etik Kedokteran Indonesia


Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang
diketahuinya tentang seorang pasien, bahkan juga setelah pasien
itu meninggal dunia.
Kewajiban memegang teguh rahasia jabatan merupakan isyarat yang
senantiasa dipenuhi, untuk menciptakan suasana percaya
mempercayai yang mutlak di perlukan dalam hubungan dokter
pasien.Soal ini dibahas secara mendalam disini dan isinya hampir
seluruhnya diambil dan uraian anggota "Dewan Pelindung Susila
Kedokteran" Prof. Sutomo Tjokronegono.
Sejak dahulu kala terdapat beberapa jabatan tertentu yang
mewajibkan para pejabatnya untuk merahasiakan segala sesuatu
yang bersangkutan dengan pekerjaan mereka.
Kewajiban tersebut berdasarkan baik pada kepentingan umum maupun
kepentingan perorangan. Termasuk ke dalam golongan pejabat
tertentu ialah pejabat tinggi negara, pejabat militer, pendeta,
pengacara dan beberapa pejabat dalam dunia kedokteran seperti
dokter, dokter gigi, ahli farmasi, bidan dan perawat.
Pada umumnya, kewajiban seorang pejabat untuk merahasiakan hal-
hal yang diketahuinya adalah karena tanggung jawabnya
mengharuskannya demikian. Untuk itu, setiap pelantikan dalam
jabatan senantiasa dilakukan pengambilan sumpah antara lain
berintikan kesanggupan untuk menyimpan rahasia jabatan, karena
kebocoran rahasia jabatan dapat mengakibatkan gangguan
stabilitas ataupun kerugian dipihak lain, yang dapat dituntut
dalam pengadilan militer dan sebagainya tergantung dan peraturan
perundang-undangan yang mengaturnya.
Kebocoran rahasia dalam jabatan dokter dapat berakibat kerugian
pihak berkepentingan dan mungkin dapat berakibat tuntutan
kepengadilan, terlebih dalam masyarakat yang telah maju,
menyebabkan seorang kehilangan pekerjaannya.
Tidak mematuhi Pasal 12 Kode Etik Kedokteran Indonesia, ada
ancaman hukumannya yaitu:
1. Pasal 322 Kitab UU Hukum Pidana (KUHP)
2. Pasal 1365 Kitab UU Hukum Perdata
3. Sanksi Administratif dari MenKes (berdasar PP no. 10 tahun
1966 tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran)
Menurut hukum setiap warganegara dapat dipanggil untuk didengar
sebagai saksi, berarti Dokter seolah olah melanggar rahasia
jabatannya. Kejadian yang bertentangan ini dapat dihindarkan
karena adanya HAK UNDUR DIRI. Dokter mendapat perlindungan hukum
berdasar pasal 170 KUHP.
Untuk mengetahui apakah juga ada penyelenggaraan pasal 322 KUHP
yang dapat dibebaskan dari ancaman hukuman, perlu kita tinjau
beberapa pasal dalam KUHP yang semuanya termasuk pelanggaran
undang undang yang tidak dihukum, yaitu:
1. Pasal 48 KUHP
2. Pasal 50 KUHP
3. Pasal 51 KUHP

Sumpah Hippocrates yang umurnya telah berabad-abad itu, maknanya


tersimpul dalam "segala sesuatu yang kulihat dan kudengar dalam
melakukan praktekku, akan kusimpan sebagai rahasia".
Untuk memahami soal rahasia jabatan dan Sumpah Dokter yang akan
diuraikan lebih lanjut sebaiknya dibaca Sumpah Hippocrates
selengkapnya yang telah dialih-bahasakan ke dalam bahasa
lnggris.
Berikut ini dicantumkan hanya salah satu pasal tentang rahasia
jabatan Dokter yang bunyinya sebagai berikut : "Saya tidak akan
menyebarkan segala sesuatu yang mungkin saya dengar atau yang
mungkin saya lihat dalam kehidupan pasien-pasien saya, baik
waktu menjalankan tugas jabatan saya maupun di luar waktu
menjalankan tugas jabatan itu. Semua itu akan saya pelihara
sebagal rahasia".
Norma-norma kesusilaan yang bersumber pada Sumpah Hippocrates
tersebut diatas, kemudian dianggap tidak mencukupi karena
ragamnya perilaku dan tabiat perseorangan, yang sudah tentu
sangat berbeda-beda dan tidak selalu baik. Oleh karena itu, di
berbagai negeri ditegakkan norma-norma hukum. Norma-norma hukum
itu pada umumnya disusun untuk memperkokoh kedudukan rahasia
jabatan sehingga dapat menjamin kepentingan masyarakat.
Setiap anggota masyarakat, di negeri manapun juga menghendaki
agar derajat kesehatan yang baik. Derajat kesehatan yang baik
dapat tercapai jika setiap anggota masyarakat dengan perasaan
bebas dapat mengunjungi dokter, mengemukakan dengan hati terbuka
segala keluhan tentang penderitaannya, baik jasmani maupun
rohani agar mendapat pengobatan yang sesuai. Rangkaian tersebut
di atas hanya mungkin terjadi, bila setiap pasien di atas hanya
menaruh kepercayaan sepenuhya kepada dokter yang memeriksanya,
tanpa perasaan takut atau khawatir, bahwa dokter tersebut akan
memberitahukan hal-hal mengenai penyakit kepada orang lain.
Jika kepercayaan itu tidak ada, maka tidak mustahil bahwa orang
yang sakit akan segan pergi ke dokter, karena khawatir bahwa
penyakitnya yang mungkin sama sekali mereka sembunyikan, kelak
diketahui oleh umum. Perasaan takut dan khawatir itu dapat
menjadi salah satu penyebab penting dan tingginya angka
kesakitan di masyarakat. OIeh karena itu, rahasia jabatan dokter
berarti sendi utama bagi tercapamnya keadaan sehat bagi setiap
anggota masyarakat. Berdasarkan pikiran tersebut di atas, norma-
norma kesusilaan yang telah ada dikuatkan dengan norma-norma
hukum, yang kemudian dicantumkan dalam beberapa peraturan
perundang-undangan. Salah satu diantara peraturan itu diwujudkan
dalam sumpah atau janji dokter, yang harus diucapkan oleh setiap
mahasiswa kedokteran waktu Ia lulus ujian dokternya dan menerima
ijazah. Karena sumpah Hippocrates telah mengandung norma
kesusilaan yang selayaknya dan yang bermutu tinggi, maka
mudahlah dipahami bahwa dengan sendirinya maknanya dimasukkan ke
dalam lafal sumpah dokter atau janji yang harus diucapkan itu.
Walaupun di berbagai negara lafal atau janji ini berbeda-beda
dan tidak sama bunyinya, dalam garis besarnya berpokok sama
yaitu mengandung makna sumpah Hippocrates.
Sebelum kita tinjau satu persatu seluruh peraturan dan undang-
undang yang menentukan norma-norma hukum rahasia jabatan pada
umumnya dan norma-norma hukum rahasia jabatan dokter khususnya,
dan permulaan harus kita insyafi akan satu hak asasi yang sangat
penting. Hak asasi yang sangat penting itu, sayang sekali tidak
diketahui atau disadari, tidak hanya di luar, melainkan di dalam
dunia kedokteran sendiri.
Hak asasi itu, yang telah ditegaskan pada permulaan uraian ini,
ialah bahwa "kewajiban untuk menyimpan rahasia pokoknya adalah
kewajiban moral, yang telah lama ada sebelum diadakan peraturan
atau undang-undang yang mengatur soal ini".
Oleh karena itu tidaklah mungkin bila rahasia jabatan itu
didasarkan pada sumpah atau janji. Sejak awal harus sudah kita
sadari bahwa rahasia jabatan dokter terutama berpokok pada
kewajiban moril yang sekali-kali tidak perlu didasarkan pada
sumpah atau janji apapun.
Rahasia jabatan dokter ialah suatu hal yang secara intrinsik
berkaitan dengan segala pekerjaan yang bersangkutan dengan ilmu
kedokteran seluruhnya. Oleh karena itu kita harus ingat bahwa
semua orang yang dalam pekerjaannya bergaul atau sedikit-
dikitnya mengetahui keadaan pasien, tetapi tidak atau belum
mengucapkan sumpah/janji secara resmi, sudah selayaknya
berkewajiban juga untuk menunjung tinggi rahasia jabatan itu.
Mereka itu antara lain mahasiswa kedokteran, perawat dan
karyawan bidang kesehatan lainnya. Selanjutnya yang ditinjau
norma-norma hukum yang bersangkutan dengan rahasia jabatan.
Pelanggaran norma-norma kesusilaan, seperti telah diuraikan di
atas, tidak diancam oleh hukum, kecuali mungkin dihukum oleh
masyarakat. Sedangkan pelanggaran norma hukum berakibat ancaman
hukuman.
Hukuman umumnya dijatuhkan oleh hakim setelah soal yang
bersangkutan menjadi perkara pengadilan dan terbukti adanya
pelanggaran hukum. Cara mengadakan dan mengatur norma-norma
hukum itu dalam berbagai negara berbeda-beda sehingga ada yang
menimbulkan kebingungan pada yang berkepentingan.
Hal itu disebabkan oleh susunan peraturan atau undang-undang
yang bersangkutan dapat ditafsirkan berlainan dengan yang
sebenarnya. Hukuman yang dapat dijatuhkan oleh hakim, dapat
berupa hukuman pidana dan atau hukum perdata.
Untuk memahami soal rahasia jabatan yang ditinjau dan sudut
hukum ini, ada baiknya kita bagi perilaku dokter dalam :
1. Perilaku yang bersangkutan dengan pekerjaan sehari-hari
2. Perilaku dalam keadaan khusus
Perilaku yang bersangkutan dengan pekerjaan sehari-hari.
Dalam hal ini perlu diperhatikan ialah:
1. Pasal 322 Kitab Udang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
a. Barang siapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib
disimpan karena jabatan atau pencariannya, balk sekarang
maupun yang dahulu, diancam dengan pidana penjara paling
lama sembilan bulan atau denda paling banyak enam ratus
rupiah.
b. Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang tertentu, maka
perbuatan itu hanya dapat dituntut diatas pengaduan orang
itu.
Undang-undang tersebut sudah selayaknya berlaku untuk
setiap orang, yang atas pekerjaannya wajib menyimpan
rahasia, bukan hanya untuk dokter pemerintah, dokter
praktek swasta, maupun dokter yang telah pensiun dan atau
tidak praktek lagi.
Seorang dokter yang dikenal sebagai pembuka rahasia mungkin
sekali prakteknya makin lama makin merosot sebagal akibat
hukuman masyarakat.
Ayat b pasal 322 KUHP in penting terutama berkenaan dengan
rahasia jabatan dokter. Menurut ayat ini seorang dokter
yang "membuka rahasia" tentang pasiennya tidak dengan
sendirinya akan dituntut di pengadilan, melainkan hanya
sesudah terhadapnya diadakan pengaduan oleh pasien yang
bersangkutan.

2. Pasal 1365 KUH Perdata


Tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian kepada
seorang lain mewajibkan orang yang karena salahnya
menerbitkan kerugian, mengganti kerugian tersebut.
Seorang dokter berbuat salah kalau tanpa disadari "membuka
rahasia" tentang penderitaannya yang kebetulan terdengar
oleh majikan pasien itu, selanjutnya majikan itu melepaskan
pegawai tersebut karena takut penyakitnya akan menulari
pegawai-pegawai lainnya.
Dengan demikian dokter dapat diajukan ke pengadilan karena
pengaduan pasien itu.
Selain hukum karena tindak pidana menurut pasal 322 KUH
pidana, dokter itu dapat pula dihukum perdata dengan
diwajibkan mengganti rugi.
Pada hakekatnya adanya ancaman hukuman perdata ini
menimbulkan berbagai soal yang sulit yang dapat terjadi
dalam pekerjaan dokter sehari-hari. Tentang hal ni kelak
akan diuraikan lebih lanjut.

3. Sumpah (janji) dokter


Sumpah dokter yang lafalnya sebagai pengganti pasal 36
Reglement F.D.V.G., Pemenintah No. 26 tahun 1960 dan
diundangkan pada tanggal 2 Juni 1960. Sumpah mi sesual
dengan pernyataan Geneva tahun 1948 yang dimuat dengan asas
Etik Kedokteran yang bersumber pada sumpah Hippocrates,
ditambah dengan beberapa asas baru yang ditegakkan atas
dasar pengalaman tentang kejahatan Nazi Jerman dalam Perang
Dunia II.
Dengan berlakunya sumpah dokter baru itu, dapat dihapus
segala pertentangan yang menjadi kekurangan utama lafal
sumpah yang lama dalam Pasal 36 Reglement D.V.G., dan tidak
lagi menimbulkan kebimbangan para dokter yang tidak
menguasai asasrahasia jabatan. Selanjutnya Musyawarah Kerja
Nasional Etik Kedokteran di Jakarta tahun 1981 telah
mengusulan kepada pemerintah penyempurnaan lafal Sumpah
Dokter tersebut.
4. Dengan Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1966 tentang Wajib
Simpan Rahasia Kedokteran, Menteri Kesehatan dapat
mengambil tindakan administratif terhadap pelanggaran wajib
simpan rahasia itu, yang dapat dihukum menurut KUHP.

Perilaku dalam keadaan khusus


Menurut hukum, setiap warga negara dapat dipanggil untuk
didengar sebagai saksi. Selain itu, seorang yang mempunyai
keahlian dapat juga dipanggil sebagai saksi ahli. Maka dapat
terjadi bahwa seorang yang mempunyal keahlian umpamanya seorang
dokter dipanggil sebagai saksi, sebagal ahli atau sekaligus
sebagai saksi (expert witness). Sebagai saksi atau saksi ahli,
mungkin sekali ia diharuskan memberi keterangan tentang
seseorang (umpamanya terdakwa) yang sebelum itu telah pernah
menjadi pasien yang ditanganmnya. Ini berarti Ia seolah-olah
melanggar rahasia jabatannya.
Kejadian yang bertentangan ini dapat dihindarkan karena adanya
hak undur diri dimana ia mendapat perlindungan hukum
berdasarkan, menurut Pasal 170 KUHP :
1. Mereka yang karena pekerjaan, harkat martabat atau
jabatannya diwajibkan menyimpan rahasia, dapat dibebaskan
dan kewajiban untuk membeni keterangan sebagai saksi, yaitu
tentang hal yang dipercayakan kepada mereka.
2. Hakim menentukan sah atau tidaknya segala alasan untuk
permintaan tersebut, maka pengadilan negeri memutuskan
apakah alasan yang dikemukakan oleh saksi atau saksi ahli
untuk tidak berbicara itu, layak dan dapat ditenima atau
tidak.
Penegakan hak undur diri dapat dianggap sebagai pengakuan para
ahli hukum, bahwa kedudukan jabatan itu harus dijamin sebaik-
baiknya. Hal tersebut membebaskan seorang dokter untuk menjadi
saksi ahIi dan kewajibannya untuk membuka rahasia jabatan, namun
pembebasan itu tidak selalu datang dengan sendirinya.
Dalam hal ini mungkin sekali timbul pertentangan keras antara
pendapat dokter dengan pendapat hakim, yakni bila hakim tidak
dapat menerima alasan yang dikemukakan oleh dokter untuk
menggunakan hak undur dirinya, karena ia berkeyakinan bahwa
keterangan yang harus dibenikan itu melanggar rahasia
jabatannya.
Bagi dokter, pedoman yang harus menentukan sikapnya tetap ialah
bahwa rahasia jabatan dokter itu adalah kewajiban moril yakni
alasan untuk melepaskan rahasia jabatan dan pertimbangan sehat
atas ada atau tidak adanya kepentingan hukum.
Umpamanya seorang dokter sebagai saksi harus memberikan
keterangan mengenai seseorang yang telah diperiksa dan
diobatinya karena mendenita luka-luka. Pada sidang pengadilan
diketahui bahwa ternyata pasien itu adalah seorang penjahat
besar yang melakukan tindakan pidananya. Keterangan dokter itu
sangat diperlukan oleh pengadilan agar rangkaian bukti menjadi
lengkap.
Kita mudah mengerti bahwa dalam hal demikian dokter itu wajib
memberi keterangan, agar masyarakat dapat dihindarkan dari
kejahatan-kejahatan yang lain yang mungkin dilakukan bila ia
dibebaskan.
Pada peristiwa seperti tersebut di atas, kita harus sadar bahwa
rahasia jabatan dokter tidak bermaksud untuk melindungi
kejahatan.
Golongan yang berpendirian mutlak, yang juga dalam hal serupa
tidak mau melepaskan rahasia jabatannya, bukan saja bertentangan
dengan tujuan yaitu menjamin kepentingan umum, malahan
sebaliknya membahayakannya.
Untuk mengetahui apakah juga ada penyelenggaraan pasal 322 KUHP
yang dapat dibebaskan dan ancaman hukuman, perlu kita tinjau
beberapa pasal dalam KUHP yang semuanya termasuk pelanggaran
undang-undang yang tidak dihukum.
Beberapa Pasal itu adalah :
1. Pasal 48 KUHP
Siapapun tak terpidana, jika melakukan peristiwa karena
terdorong oleh keadaan terpaksa.

2. Pasal 50 KUHP
Siapapun tak terpidana, jika peristiwa itu dilakukan untuk
menjalankan ketentuan perundang-undangan.

3. Pasal 51 KUHP
Siapapun tak terpidana jika melakukan peristiwa untuk
menjalankan sesuatu perintah jabatan yang diberikan oleh
penguasa yang berwenang untuk itu.
Perintah jabatan yang diberikan oleh penguasa yang
berwenang tidak membebaskan dan keadaan terpidana, kecuali
dengan itikad baik pegawai yang dibawahnya itu menyangka
bahwa penguasa ituberwenang untuk memberi perintah itu dan
perintah menjalankan terletak dalam lingkungan kewajiban
pegawai yang diperintah itu.

Pasal 48 KUHP
Mengenai pasal 48 KUHP yang dalam bahasa Belanda yang asli :
"Artikel 48 wet boek van strafrecht is hij, die een feit begaat
waartoe hij door overmachti gedwongen".
Sayang sekali pasal yang sangat penting untuk tafsiran banyak
permasalahan yang sulit mengenai rahasia jabatan dokter ini
belum ada terjemahannya yang tepat ke dalam bahasa Indonesia
terutama mengenai kata "overmacht". Dalam buku Engelbrecht,
kitab undang-undang dan peraturan-peraturan serta undang undang
dasarsementara terbitan 1954, kata "overmacht" diterjemahkan
dengan "berat lawan". Dalam kitab Himpunan Perundang-Undangan
Negara Republik Indonesia yang diterbitkan pada tahun 1956 oleh
Kementerian Penerangan "Overmacht" diterjemahkan sebagai "suatu
sebab paksaan". Untuk sementara dipergunakan kata yang dianggap
tepat, yakni "adi paksa" yang didapat dari saudara Mr. Moedigdo
Moeliono, pimpinan Lembaga Kriminologi Fakultas Hukum dan
Pengetahuan Masyarakat, Universitas Indonesia Jakarta.
Pertama-tama perlu ditegaskan bahwa yang dimaksud dalam pasal 48
KUHP ini bukanlah "adi paksa mutlak" (absolut overmacht).
Seorang mengalami adi paksa mutlak bila ia dihadapkan kepada
kekerasan atau tekanan jasmani atau rohani sedemikan, hingga ia
tidak berdaya lagi dan kehilangan kehendak (willoos) untuk
tindakan pidana yang melakukan pelanggaran hukum.
Pada kenyataan adi paksa nisbi, yang kebanyakan terjadi karena
adanya tekanan rohani, timbulnya keadaan terpaksa atau darurat,
sehingga yang bersangkutan berbuat sesuatu yang pasti tidak akan
diperbuatnya, jika keadaan terpaksa atau darurat itu tidak ada.
Keadaan serupa ini menjadi sebab timbuInya pertentangan dalam
jiwa orang yang bersangkutan (konflik) yang hanya dapat diatasi
bila ia melakukan perbuatan yang melanggar hukum. Hal ini biasa
berarti pengorbanan kepentingan pihak lain.
Beberapa contoh praktek dan pertentangan serupa adalah :
1. Seorang pengemudi yang menderita penyakit ayan (epilepsi),
yang bilamana mendapatkan bangkitan serangan penyakitnya
pada waktu ia sedang melakukan tugasnya pasti sangat
membahayakan keselamatan umum.
2. Seorang guru yang menderita penyakit tuberkulosis dan
menimbulkan bahaya akan menulari murid-muridnya pada waktu
ia mengajar.

Justru pada persoalan seperti digambarkan dalam keadaan contoh


tersebut di atas, terdapat pertentangan tajam antara golongan
penganut aliran mutlak dan golongan penganut aliran nisbi. Dalam
kedua soal itu, golongan mutlak menganggap rahasia jabatan
dokter sebagai faktor terpenting. Tidak perlu diadakan
pertimbangan apakah dengan memperhatikan rahasia secara mutlak
itu, ada kemungkinan bahwa kepentingan yang lain yang hakikatnya
lebih utama dirugikan atau dikorbankan. Sebaliknya golongan
nisbi berdasarkan kenyataan bahwa rahasia jabatan dokter berarti
juga sendi utama bagi kepentingan masyarakat.
Selalu mempertimbangkan hal itu agar dapat diambil sikap yang
terbaik yang sesuai dengan makna rahasia jabatan dokter. Dalam
perkembangannya, sebagian dokter cenderung menganut "adi paksa
nisbi".
Dalam hal demikian berbagai alasan yang dipergunakan untuk
melepas rahasia jabatan harus kokoh dan kuat, sehingga dapat
meyakinkan orang lain, termasuk hakim. Kalau berbagai alasan itu
memang kuat dan meyakinkan, maka akhirnya atas kekuatan pasal 48
KUHP, dokter yang bersangkutan akan dibebaskan dari ancaman
hukuman pasal 322 KHUP. Sebelum mengambil tindakan, sebaiknya
dokter yang bersangkutan berusaha agar risiko dan tindakannya
menjadi seminimal mungkin.
Sebagai contoh, pasien dengan penyakit yang sukar disembuhkan
dapat diberi cuti terlebih dahulu sampai sembuh. Bila
penyakitnya ternyata tidak dapat disembuhkan dan tetap merupakan
bahaya bagi orang lain, maka sebelum membuka rahasia jabatan,
dokter hendaknya memberikan penjelasan tentang penyakitnya dan
akibatnya bagi orang lain sehingga pasien memahami keadaannya
dan hubungannya dengan pekerjaannya. Bila rahasia jabatan
terpaksa harus diungkapkan setelah segala ikhtiar dilakukan
tanpa hasil, maka untuk pegawai negeri, dalam hal inihendaknya
dokter tersebut mengirimkan surat rahasia kepada atasan pegawai
negeri yang bersangkutan, kemudian atasan pegawai yang
bersangkutan meminta pertimbangan Majelis Penguji Kesehatan
(MPK). Dalam keadaan adipaksa serupa itu, kewajiban dokter ialah
memberitahukan kepada majikan pasien bahwa dokter menggangap
pasien perlu diperiksa kesehatannya lebih lanjut. Dengan jalan
ini MPK yang menurut Undang-Undang, tugasnya menguji kesehatan
pegawal negeri, dapat melaporkan pendapat secara bebas. Tanpa
melanggar KUHP pasal 322 KUHP maka keterangan tentang penyakit
yang diuji itu, dapat diteruskan kepada majikannya.
Diagnosa penyakit dan seorang karyawan tidak perlu diberitahukan
kepada majikan karyawan tersebut. Cukuplah bila dokter yang
bersangkutan menerangkan atas sumpah jabatan, bahwa karyawan
yang dimaksud menderita penyakit yang tidak memungkinkan untuk
bekerja terus menerus atau sementara, karena penyakitnya dapat
menular membahayakan orang lain maupun dirinya sendiri.
Misalnya seorang pengemudi yang menderita epilepsi dapat
membahayakan diri maupun orang lain. Dokterjuga menasehatkan
agar pegawai yang bersangkutan dibebaskan dari pekerjaannya yang
saat ini dikerjakan, sesuai peraturan yang berlaku.
Dalam kedudukan sebagai dokter Majelis Penguji Kesehatan,
seorang Dokter dapat mengalami konflik kejiwaan. Hal ini dapat
terjadi bila pasien yang diperiksanya juga merupakan pasien
dalam praktek swasta yang dilakukan oleh dokter itu. Bila dokter
tersebut memasukkan seluruh data yang diketahuinya tentang
pasien, maka berarti ia melanggar rahasia jabatannya, sebaliknya
bila tidak memasukkan secara Iengkap, laporannya sesuai dengan
kebenarannya.
Oleh karena itu hanya ada satu jalan yang dapat ditempuhnya,
yaitu menolak untuk menguji setiap orang yang pernah menjadi
pasiennya dan menyerahkannya kepada dokter lain. Seorang dokter
yang meminta konsultasi mengenai seorang pasien, pada asasnya
melanggar rahasia jabatan.
Demikian juga tiap pengajar klinik pada fakultas kedokteran,
dalam setiap pertemuan klinik yang disertai dengan demonstrasi
pasien, pada asasnya melanggar rahasia jabatan. Hal ini biasanya
tidak kita sadari karena kita anggap sudah selayaknya.
Oleh karena itu, dalam pendidikan atau pertemuan klinik, seperti
juga pada konsultasi, sebaiknya pasien diberitahu lebih dahulu
dan dimintakan persetujuannya. Pelanggaran rahasia jabatan yang
terjadi pada saat tersebut sebenarnya adalah hal-hal yang
termasuk dalam keadaan adipaksa karena dalam hal ini tidak hanya
menyangkut kepentingan yang lebih luas dan lebih besar. Tujuan
akhir dan pendidikan dan pertemuan klinik tidak lain adaIah
untuk membina dan memajukan ilmu kedokteran yang sebenarnya
berorientasi kepada masyarakat yang lebih luas.

Pasal 50 KUHP
"Tidak boleh di hukum barang siapa melakukan perbuatan untuk
menjalankan urusan undang-undang".
Pasal 50 KUHP ini sering dikaitkan dengan kewajiban seorang
dokter untuk melaporkan kelahiran, kematian dan penyakit
menular. Kewajiban melapor penyakit menular di Indonesia diatur
dalam Undang-Undang No. 6 tahun 1962 tentang wabah, diundangkan
pada tanggal 5 Maret 1962 yang saat ini telah diganti dengan
Undang-Undang Wabah Penyakit Menular No. 4 tahun 1984, kemudian
diganti dengan Undang-Undang Penanggulangan Wabah Penyakit
Menular No. 40 tahun 1991.
Mengenai hal ini dapat dibaca pasal-pasal yang mengatur
kewajiban masyarakat dan tenaga kesehatan serta aparatur
Pemerintah Daerah untuk melaporkan kejadian luar biasa dalam
waktu yang singkat.

Pasal 51 KUHP
"Tidak boleh di hukum barang siapa melakukan perbuatan atau
menjalankan perintah jabatan yang diberikan oleh pembesar yang
berhak untuk itu".
Pasal 51 KUHP terutama penting bagi seorang dokter yang
mempunyai jabatan rangkap seperti dokter TNI/Polri yang juga
menjabat sebagai anggota Majelis Penguji Kesehatan. Selaku
seorang dokter, seorang dokter angkatan bersenjata wajib
menyimpan rahasia jabatan dokter, namun di lain pihak sebagai
seorang anggota TNI/Polri ia harus tunduk pada disiplin
TNI/Polri dan taat perintah atasannya.
Konflik tentang wajib simpan rahasia jabatan dapat terjadi
misalnya pada keadaan sebagai berikut :
Ia diperintah oleh atasannya untuk menyusun daftar nama
perwira yang menderita penyakit sifilis. Kalau diantara
perwira yang harus dicantumkan namanya dalarn daftar
ternyata juga pernah menjadi pasien yang diperiksanya, maka
ia harus memilih antara 2 jalan berikut :
1. Menjunjung tinggi rahasia jabatan sebagai dokter tetapi
tidak taat pada perintah militer; atau
2. Taat kepada perintah militer tetapi melepaskan rahasia
jabatan sebagai dokter.
Dalam hal yang demikian, yang dapat dijadikan pegangan ialah
perhitungan dan pertimbangan yang matang untuk menentukan apa
yang harus diutamakan.
Sumber: Kode Etik Kedokteran Indonesia
UNDANG-UNDANG NOMOR 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN
Pasal 57 :
1. Setiap orang berhak atas rahasia kondisi kesehatan
pribadinya yang telah dikemukakan kepada penyelenggara
pelayanan kesehatan.
2. Ketentuan mengenai hak atas rahasia kondisi kesehatan
pribadi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku
dalam hal :
a. perintah undang-undang;
b. perintah pengadilan;
c. izin yang bersangkutan;
d. kepentingan masyarakat; atau
e. kepentingan orang tersebut.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1966


TENTANG WAJIB SIMPAN RAHASIA KEDOKTERAN
Presiden Republik Indonesia,
Menimbang : bahwa perlu ditetapkan peraturan tentang wajib
simpan rahasia kedokteran.
Mengingat :
1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945;
2. Pasal 10 ayat (4) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1960 tentang
Pokok-pokok Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1960 No. 131);
3. Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 1960 tentang lafal sumpah
dokter (Lembaran Negara Tahun 1960 No.69);
Mendengar : Presidium Kabinet Dwikora yang disempurnakan.
MEMUTUSKAN :
Menetapkan :
"PERATURAN PEMERINTAH TENTANG WAJIB SIMPAN RAHASIA KEDOKTERAN".
Pasal 1.
Yang dimaksud dengan rahasia kedokteran ialah segala sesuatu
yang diketahui oleh orang-orang tersebut dalam pasal 3 pada
waktu atau selama melakukan pekerjaannya dalam lapangan
kedokteran.

Pasal 2.
Pengetahuan tersebut pasal 1 harus dirahasiakan oleh orang-orang
yang tersebut dalam pasal 3, kecuali apabila suatu peraturan
lain yang sederajat atau lebih tinggi daripada Peraturan
Pemerintah ini menentukan lain.
Pasal 3.
Yang diwajibkan menyimpan rahasia yang dimaksud dalam pasal 1
ialah:
a. tenaga kesehatan menurut pasal 2 Undang-undang tentang
Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara tahun 1963 No. 79).
b. mahasiswa kedokteran, murid yang bertugas dalam lapangan
pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan, dan orang lain
yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.

Pasal 4
Terhadap pelanggaran ketentuan mengenai: wajib simpan rahasia
kedokteran yang tidak atau tidak dapat dipidana menurut pasal
322 atau pasal 112 Kitab Undang-undang Hukum Pidana, Menteri
Kesehatan dapat melakukan tindakan administratif berdasarkan
pasal 11 Undang-undang tentang Tenaga Kesehatan.

Pasal 5.
Apabila pelanggaran yang dimaksud dalam pasal 4 dilakukan oleh
mereka yang disebut dalam pasal 3 huruf b, maka Menteri
Kesehatan dapat mengambil tindakan-tindakan berdasarkan wewenang
dan kebijaksanaannya.

Pasal 6.
Dalam pelaksanaan peraturan ini Menteri Kesehatan dapat
mendengar Dewan Pelindung Susila Kedokteran dan/atau badan-badan
lain bilamana perlu.

Pasal 7.
Peraturan ini dapat disebut "Peraturan Pemerintah tentang Wajib
Simpan Rahasia Kedokteran".

Pasal 8.
Peraturan ini mulai berlaku pada hari diundangkannya. Agar
setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran
Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta pada
tanggal 21 Mei 1966.
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
SUKARNO
Diundangkan di Jakarta pada
tanggal 21 Mei 1966.
SEKRETARIS NEGARA
MOHD. ICHSAN.

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH No. 10 TAHUN 1966 TENTANG


WAJIB SIMPAN RAHASIA KEDOKTERAN UMUM .
Setiap orang harus dapat meminta pertolongan kedokteran dengan
perasaan aman dan bebas. Ia harus dapat menceriterakan dengan
hati terbuka segala keluhan yang mengganggunya, baik yang
bersifat jasmaniah maupun rohaniah, dengan keyakinan bahwa hak
itu berguna untuk menyembuhkan dirinya. Ia tidak boleh merasa
khawatir bahwa segala sesuatu mengenai keadaannya akan
disampaikan kepada orang lain, baik oleh dokter maupun oleh
petugas kedokteran yang bekerja sama dengan dokter tersebut. Ini
adalah syarat utama untuk hubungan baik antara dokter dengan
penderita.
Pada waktu menerima ijazah seorang dokter bersumpah:"Saya akan
merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan
saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter". Dan sebagai
pemangku suatu jabatan ia wajib merahasiakan apa yang
diketahuinya karena jabatannya, menurut pasal 322 KUHP yang
berbunyi: :
"Barangsiapa dengan sengaja membuka suatu rahasia yang ia wajib
menyimpan oleh karena jabatan atau pekerjaannya, baik yang
sekarang maupun yang dahulu, dihukum dengan hukuman penjara
selama-lamanya sembilan bulan atau denda sebanyak-banyaknya enam
ratus rupiah".
"Jika kejahatan ini dilakukan terhadap seseorang yang tertentu
maka ini hanya dituntut atas pengaduan orang itu".
Peraturan Pemerintah ini diperlukan untuk mereka yang melakukan
perbuatan-perbuatan pelanggaran rahasia kedokteran yang tidak
dapat dipidana menurut pasal 322 KUHP tersebut atau pasal 112
KUHP tentang perahasiaan sesuaatu yang bersifat umum.
PENJELASAN PASAL DEMI PASAL
Pasal 1.
Dengan kata-kata "segala sesuatu yang diketahui", dimaksud :
Segala fakta yang didapat dalam pemeriksaan penderita,
interpretasinya untuk menegakkan diagnose dan melakukan
pengobatan: dari anamnesis, pemeriksaan jasmaniah, pemeriksaan
dengan alat-alat kedokteran dan sebagainya. Juga termasuk fakta
yang dikumpulkan oleh pembantu-pembantunya. Seorang ahli obat
dan mereka yang bekerja dalam apotik harus pula merahasiakan
obat dan khasiatnya yang diberikan dokter kepada pasiennya.
Merahasiakan resep-dokter adalah sesuatu yang penting dari etik:
pejabat yang bekerja dalam Apotik.
Pasal 2.
Berdasarkan pasal ini orang (selain dari pada tenaga kesehatan)
yang dalam pekerjaannya berurusan dengan orang sakit atau
mengetahui keadaan si sakit, (baik) yang tidak maupun yang belum
mengucapkan sumpah jabatan, berkewajiban menjunjung tinggi
rahasia mengenai keadaan si sakit. Dengan demikian para
mahasiswa kedokteran, mahasiswa kedokteran gigi, ahli farmasi,
ahli laboratorium, ahli sinar, bidan, para pegawai, murid para
medis dan sebagainya termasuk dalam golongan yang diwajibkan
menyimpan rahasia. Menteri Kesehatan dapat menetapkan, baik
secara umum, maupun secara insidentil, orang-orang lain yang
wajib menyimpan rahasia kedokteran, misalnya pegawai tata-usaha
pada rumah-rumah sakit dan laboratorium-laboratorium,
Pasal 3.
Cukup jelas.
Pasal 4.
Berdasarkan pasal 322 KUHP, maka membocorkan rahasia jabatan,
dalam hal ini rahasia kedokteran, adalah suatu tindak pidana
yang dituntut atas pengaduan (klachdelict), apabila kejahatan
itu ditujukan pada seseorang tertentu. Demi kepentingan umum
Menteri Kesehatan dapat bertindak terhadap pembocoran rahasia
kedokteran, meskipun tidak ada suatu pengaduan. Sebagai contoh:
Seorang pejabat kedokteran berulangkali membicarakan di depan
orang banyak tentang keadaan dan tingkah laku pasien yang
diobatinya. Dengan demikian ia merendahkan martabat jabatan
kedokteran dan mengurangi kepercayaan orang kepada penjabat-
penjabat kedokteran.
Pasal 5.
Berdasarkan pasal ini Menteri Kesehatan dapat meminta kepada
instansi yang bersangkutan (umpama untuk urusan mahasiswa kepada
Departemen P.T.I.P dan sebagainya) agar mengambil tindakan
administratip yang wajar bilamana dilanggar wajib simpan rahasia
kedokteran ini.
Pasal 6.
Menteri Kesehatan membentuk Dewan Pelindung Susila Kedokteran
justru untuk mendapat nasehat dalam soal-soal susila kedokteran.
Pasal 7 dan 8.
Cukup jelas.

SUMPAH HIPPOCRATES
I swear by Apollo Physician and Asclepius and Hygieia and
Panaceia and all the gods and goddesses, making them my
witnesses, that I fulfil according to my ability and judgement
this oath and this covenant.
Saya bersumpah demi (Tuhan) ... bahwa saya akan memenuhi sesuai
dengan kemampuan saya dan penilaian saya guna memenuhi sumpah
dan perjanjian ini.

To hold him who has taught me this art as equal to my parents


and to live my life in partnership with him, and if he is in
need of money to give him a share of mine, and to regard his
offspring as equal to my brothers in male lineage and to teach
them this art-if they desire to learn it-without fee and
covenant; to give a share of precepts and oral instruction and
all the other learning of my sons and to the sons of him who
instructed me and to pupils who have signed the covenant and
have taken an oath according to medical law, but to no one else.
Memperlakukan guru yang mengajarkan ilmu (kedokteran) ini kepada
saya seperti orangtua saya sendiri dan menjalankan hidup ini
bermitra dengannya, dan apabila ia membutuhkan uang, saya akan
memberikan, dan menganggap keturunannya seperti saudara saya
sendiri dan akan mengajarkan kepada mereka ilmu ini bila mereka
berkehendak, tanpa biaya atau perjanjian, memberikan persepsi
dan instruksi saya dalam pembelajaran kepada anak saya dan anak
guru saya, dan murid-murid yang sudah membuat perjanjian dan
mengucapkan sumpah ini sesuai dengan hukum kedokteran, dan tidak
kepada orang lain.

I will use treatment to help the sick according to my ability


and judgment, but never with a view to injury and wrongdoing.
neither will I administer a poison to anybody when asked to do
so, not will I suggest such a course.
Saya akan menggunakan pengobatan untuk menolong orang sakit
sesuai kemampuan dan penilaian saya, tetapi tidak akan pernah
untuk mencelakai atau berbuat salah dengan sengaja. Tidak akan
saya memberikan racun kepada siapa pun bila diminta dan juga tak
akan saya sarankan hal seperti itu.

Similarly I will not give to a woman a pessary to cause an


abortion. But I will keep pure and holy both my life and my art.
I will not use the knife, not even, verily, on sufferers from
stone, but I will give place to such as are craftsmen therein.
Juga saya tidak akan memberikan wanita alat untuk menggugurkan
kandungannya, dan saya akan memegang teguh kemurnian dan
kesucian hidup saya maupun ilmu saya. Saya tak akan menggunakan
pisau, bahkan alat yang berasal dr batu pada penderita(untuk
percobaan), akan tetapi saya akan menyerahkan kepada ahlinya.

Into whatsoever houses I enter, I will enter to help the sick,


and I will abstain from all intentional wrongdoing and harm,
especially from abusing the bodies of man or woman, slave or
free.
Ke dalam rumah siapa pun yang saya masuki, saya akan masuk untuk
menolong yang sakit dan saya tidak akan berbuat suatu kesalahan
dengan sengaja dan merugikannya, terutama menyalahgunakan tubuh
laki-laki atau perempuan, hamba atau bebas.

And whatsoever I shall see or hear in the course of my


profession, as well as outside my profession in my intercourse
with men, if it be what should not be published abroad, I will
never divulge, holding such things to be holy secrets.

Dan apa pun yang saya lihat dan dengar dalam proses profesi
saya, ataupun di luar profesi saya dalam hubungan saya dengan
masyarakat, apabila tidak diperkenankan untuk dipublikasikan,
maka saya tak akan membuka rahasia, dan akan menjaganya seperti
rahasia yang suci.

Now if I carry out this oath, and break it not, may I gain for
ever reputation among all men for my life and for my art; but if
I transgress it and forswear myself, may the opposite befall me.

Apabila saya menjalankan sumpah ini, dan tidak melanggarnya,


semoga saya bertambah reputasi dimasyarakat untuk hidup dan ilmu
saya, akan tetapi bila saya melanggarnya, semoga yang berlawanan
yang terjadi.
UNDANG-UNDANG NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK KEDOKTERAN
Rahasia Kedokteran
Pasal 48 :
1. Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik
kedokteran wajib menyimpan rahasia kedokteran.
2. Rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan
kesehatan pasien, memenuhi permintaan aparatur penegak
hukum dalam rangka penegakan hukum, permintaan pasien
sendiri, atau berdasarkan ketentuan perundang-undangan.
3. Ketentuan lebih lanjut mengenai rahasia kedokteran diatur
dengan Peraturan Menteri.

RAHASIA MEDIS
" Whatever. In connection with from my professional practice or
not in connection with it, I see or hear, in the life of men,
which ought not to be spoken of abroad, I will not divulge, as
reckoning that all should be kept secret." (The Hippocratic
Oath)
Selain didalam Sumpah Hippocrates, kewajiban menyimpan Rahasia
Medis juga terdapat pada:
1. Declaration of Geneve
Ini adalah suatu versi Sumpah Hippocrates yang di
modernisasi dan di introduksikan oleh World Medical
Association. Khusus yang Menyangkut Rahasia Medis berbunyi:
"I will respect the secrets which are confided in me, even
after the patient has died."

2. International Code of Medical Ethics


Pada tahun 1968 di Sidney diadakan perubahan pada
Declaration of Geneve yang kemudian menjadi pedoman dasar
untuk International Code of Medical Ethics.
Yang menyangkut Rahasia Medis berbunyi: " A doctor shall
preserve absolute secrecy on all he knows about his patient
because the confident entrusted in him."

3. Declaration of Lisbon, 1981


Deklarasi ini menetapkan pula bahwa pasien berhak untuk
meminta kepada dokternya agar mengindahkan sifat rahasia
dari segala data medis dan data pribadinya. "The patient
has the right toexpect that his physician will respect the
confidential nature of all his medical and personal
details."
4. Kode Etik Kedokteran Indonesia ( KODEKI ), tahun 2002
Pasal 12: " Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu
yang diketahuinya tentang seorang pasien, bahkan juga
setelah pasien itumeninggal dunia."

5. Peraturan Pemerintah No.26 Tahun 1966


Peraturan ini juga memuat Lafal Sumpah Kedokteran.

6. Peraturan Pemerintah No.10 Tahun 1966


Didalam Peraturan Pemerintah tersebut diperluas berlakunya
wajibsimpan Rahasia Medis ini juga bagi tenaga kesehatan
lainnya, seperti perawat, bidan, mahasiswa kedokteran, ahli
farmasi, laboratorium, radiologi dan lain lainnya.
Sumpah, dalam hubungan dengan Rahasia Medis, secara yuridis
tidak mempunyai arti. Ia hanya merupakan suatu ikrara, suatu
pernyataan kehendak sepihak yang pelaksanaannya sangat
tergantung kepada hati nurani si pelaku itu sendiri. Suatu
sumpah tidak dapat dipergunakan sebagai dasar hukum untuk
penuntutan.
Demikian pula KODEKI yang termasuk di bidang Etik yang sifatnya
merupakan " self imposed regulations".
Suatu Etik Kedokteran bersifat intern, yang sanksinya hanya
dapat dijatuhkan dalam kaitan organisasi dan oleh organisasi itu
sendiri, misalnya teguran, jatuhkan sanksi atau pemecatan
sebagai anggota.Juga tidak mempunyai nilai yuridis, dalam arti
tidak mempunyai akibat hukum.
Berkaitan erat dengan Rahasia Medis adalah Hak Hak Asasi Manusia
(HAM. Sejak Sumpah Hippocrates dikeluarkan sampai kini sudah
berlalu beberapa puluh abad, materi yang terdapat dalam sumpah
tersebut ada yang masih tetap relevan, namun ada pula yang perlu
diadakan evaluasi dan penyesuaian.
Jadi asal mulanya Rahasia Medis adalah dari pasien itu sendiri
yang menceritakan kepada dokter. Dan sewajarnyalah bahwa pasien
itu sendiri adalah dan dianggap sebagai pemilik Rahasia Medis
itu atas dirinya, bukanlah dokter yang diberitahukan dan
kemudian menarik kesimpulan tentang penyakit yang diderita
pasiennya. Jadi apa yang dahulu dinamakan Rahasia Kedokteran
adalah Rahasia Medis Pasien, bukanlah Rahasia Dokternya. Istilah
Rahasia Kedokteran adalah Rahasia di bidang Kedokteran (di
bidang Medis), bukan Rahasia Dokternya.
Mengapa dari profesi dokter ada yang beranggapan bahwa Rahasia
Medis adalah urusan profesi dokter yang tidak perlu diketahui
oleh pasiennya? Rahasia yang hanya boleh diketahui oleh sesama
teman sejawatnya. Alam pikiran ini berdasarkan Sumpah
Hippocrates (469 - 399 SM) versi World Medical Association yang
berbunyi: "Saya akan menghargai rahasia rahasia yang
dipercayakan kepada saya, bahkan sampai sesudah pasien
meninggal." (I will respect the secrets which are confided in
me, even after the patient has died)
Hal ini disebabkan karena dalam alam pikiran dahulu, jika pasien
tidak diberitahukan penyakitnya, maka ia tidak menjadi cemas dan
tegang, hal ini bisa mempengaruhi penyembuhannya. Jika pasien
menyerahkan dirinya kepada dokter untuk diobati, maka
penyembuhannya akan berjalan lancar.
Dengan berlalunya waktu, maka alam pikiran manusia, situasi dan
kondisi mengalami perubahan pula. Pertanyaan pertanyaan yang
menyangkut kerahasiaan dan pengungkapan di bidang medis telah
mengundang banyak pembahasan. Para dokterpun ada yang menyadari
bahwa kewajiban tradisional untuk melindungi kerahasiaan sudah
bukan waktunya lagi, mereka juga merasakan timbulnya banyak
dilema dari kewajiban tradisional tersebut.
Dengan perkembangan zaman tentang HAM misalnya, mulai timbul
konflik penafsiran tentang Rahasia Medis tersebut. Pengungkapan
Rahasia Medis harus dengan persetujuan dan izin pasien, misalnya
kepada pihak asuransi yang memerlukan data data medis pasien
yang telah menutup asuransi kesehatan. Untuk memeriksa benar
tidaknya suatu klaim, maka diperlukan data data medis pasien,
yang harus diajukan ke rumah sakit melalui dokternya. Untuk itu
pasien harus membuat pernyataan tertulis bahwa ia telah memberi
kuasa untuk meminta data data medis dari dokter dan/atau rumah
sakitnya. Tanpa Surat Persetujuan dari pasien tersebut, rumah
sakit dan/atau dokternya tidak boleh memberikan data data medis
pasien tersebut kepada pihak ketiga, dalam hal ini pihak
asuransi. Bahkan jika memberikan, pihak rumah sakit dan/atau
dokter bisa dituntut secara hukum.
Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa data data medis itu adalah
MILIK PASIEN, bukan milik dokternya. Disamping itu rumah sakit
dibebani kewajiban untuk menyimpan data data medis yang
tercantum dalam Rekam Medis selama paling sedikit 5 tahun.
Namun, menurut sementara pendapat, ada ada yang beranggapan
bahwa tidak seluruh isi Rekam Medis dapat dimintakan fotokopi
oleh pasiennya, yang dapat diberikan hanya suatu Resume saja
yang dibuat oleh dokternya. Hal ini mungkin dapat diterima,
sepanjang kebutuhannya itu menyangkut untuk asuransi atau
untuktujuan pindah berobat ke tempat lain. Namun bagaimana jika
tujuan meminta fotokopi dari pasien / keluarganya karena mau
mengajukan gugatan kepada dokternya di pengadilan? Apakah dapat
dipakai sebagai bukti jika seandainya Resume tersebut dibuatoleh
dokternya sendiri yang notabene akan dituntut? (Pasal 12
Permenkes No. 749a tentang Rekam Medis: Pemaparan isi Rekam
Medis hanya boleh dilakukan oleh dokter yang merawat dengan izin
tertulis pasien).
Dasar yuridis untuk menuntut yang berkenaan dengan Rahasia Medis
terdapat pada:
1. Yurisprudensi Belanda berdasarkan sifat dari:
a. Hoge Raad 21 April 1913
b. Arrondissementsrechtbank Haarlem 11 Desember 1984 tentang
larangan menggungkapkan Rahasia Medis.

2. Hukum Perdata Indonesia


a. Perjanjian terapeutik antara dokter dan pasien (hukum)
b. Pasal 1909 tentang Hak Tolak Mengungkap
c. Pasal 1365 tentang perbuatan melawan hukum.

3. Hukum Pidana
a. Pasal 322 tentang Wajib Menyimpan Rahasia
b. Pasal 224 tentang Panggilan Menghadap Sebagai Saksi Ahli

4. Hukum Acara Pidana (KUHAP)


a. Pasal 170 tentang Wajib Menyimpan Rahasia
b. Pasal 179 tentang Wajib Memberikan Keterangan Sebagai
Ahli Kedokteran Kehakiman, atau Sebagai Dokter

5. Hukum Acara Perdata


1. Pasal 146 ayat 3 (Reglemen Indonesia yang diperbaharui)
2. Pasal 174 (Reglemen Luar Jawa)

6. Hukum Administrasi
Peraturan Pemerintah No 10 Tahun 1946 yang memperluas
jangkauan Wajib Simpan Rahasia Kedokteran terhadap tenaga
kesehatan lainnya.

7. Konvensi Internasional (sesudah ratifikasi)


a. United Nations Declaration of Human Rights
b. Declaration of Lisbon tentang Hak Rahasia atas diri
pribadi

Bila terdengar akan ada tuntutan dari pihak pasien, maka berkas
Rekam Medis oleh Kepala Rumah Sakit harus diamankan dan tidak
diperbolehkan lagi untuk diberikan tambahan tulisan, coret-
coretan, penghapusan, ditutupi tulisannya atau mengadakan
perubahan. Ada sementara dokter yang langsung membawa pulang
berkas untuk dipelajari, begitu mendengar akan timbul tuntutan.
Hal ini tidak diperbolehkan, berkas Rekam Medis adalah milik
rumah sakit dan harus tetap berada dan disimpan di rumah sakit.
Hal ini disebabkan karena berkas itu sangat penting bagi rumah
sakit, yang dapat dipakai sebagai barang bukti mengenai
perawatan dan pengobatan, tindakan apa saja yang telah dilakukan
dan oleh siapa.
Pengacara pasien juga tidak bisa meminta berkas tersebut, yang
boleh diberikan kepada pengacara pasien - tentunya dengan
melampirkan Surat Izin tertulis dari pasien - adalah FOTOKOPI
atau salinan dari Rekam Medis tersebut dan bukan aslinya. Ada
juga sementara rumah sakit yang tidak mau menyerahkan fotokopi
dari Rekam Medis kepada pengacara pasien, tetapi hal ini bisa
menyulitkan rumah sakit itu sendiri karena berdasarkan Pasal 43
KUHAP berkas itu atas izin khusus dari Ketua Pengadilan Negeri
setempat, dapat dilakukan penyitaan. Hal ini akan tambah
menyulitkan Rumah Sakit dalam mengajukan bukti buktinya.
Mungkin dewasa ini masalah Rahasia Medis bagi orang kita tidak
begitu menjadi persoalan, hal ini karena pengaruh sosial budaya,
dimana jika seorang anggota keluarga menderita sakit, akan juga
merupakan persoalan bagi seluruh keluarga (besar). Demikian pula
antara pasien di rmah sakit dan para pengunjungnya, juga tampak
saling menceritakan penyakitnya masing masing, tanpa merasa
bahwa hak itu termasuk rahasia pribadi yang dilindungi undang
undang. Walaupun demikian, kita tetap harus menjaga dengan hati
hati agar jangan sampai menimbulkan persoalan, teristimewa dalam
hal penyakit penyakit tertentu seperti penyakit kelamin,
penyakit keturunan, kanker, HIV/AIDS, dan sebagainya.
Sumber: Buku Rahasia Medis J. Guwandi, S.H

RAHASIA MEDIS ANTARA SUAMI ISTRI


Rahasia Medis itu bersifat pribadi, hubungannya hanya antara
dokter - pasien.
Ini berarti seorang dokter tidak boleh mengungkapkan tentang
rahasia penyakit pasien yang dipercayakannya kepada orang lain,
tanpa seizin si pasien.
Hal ini di negara negara Barat merupakan sesuatu yang harus
dijaga benar, karena berdasarkan paham individualisme yang
dianut. Hal ini berlainan dengan keadaan sosial budaya di
Indonesia, di negara kita yang bersifat Timur, jika ada seorang
anggota keluarga menderita sakit, tidak saja harus diketahui
oleh keluarga kecilnya, tetapi juga merupakan sesuatu yang harus
diketahui pula oleh keluarga besarnya.
Merupakan hal yang lazim bahwa antara suami istri umumnya tidak
ada rahasia. Namun jika menyangkut suatu masalah seperti Rahasia
Medis tertentu - juga di Indonesia - para dokter haruslah
bertindak lebih hati hati. Jika yang diderita penyakit penyakit
umum seperti usus buntu, wasir, influenza tidaklah menjadi
persoalan diketahuinya. Lain halnya jika menyangkut penyakit
penyakit tertentu yang bisa menularkan seperti penyakit kelamin,
atau hal hal yang bersangkut paut dengan kehidupan seksual
seperti keguguran, kehamilan, kadangkala juga menyangkut
penyakit jiwa, jika diminta suatu keterangan tertulis oleh suami
atau istrinya, apalagi jika yang meminta adalah seorang
pengacara dari suami atau istri.
Jika hendak memberitahukan hal hal demikian, maka haruslah
diminta persetujuan dari pasien yang bersangkutan. Misalnya
dalam pemeriksaan seorang suami ternyata ia terkena penyakit
kelamin yang menular. Hal ini bisa menularkan kepada istrinya.
Atau penyakit menular lain seperti HIV/AIDS yang bisa
membahayakan terutama istrinya sendiri dan anggota keluarganya.
Secara umum sebaiknya dokter itu merundingkannya dengan pasien
itu sendiri, cara bagaimana ia harus memberitahukan kepada istri
/suaminya, karena pasangannya harus diperiksa juga. Timbul
persoalan jika yang diperiksa adalah istri yang diantar oleh
suaminya. Dalam hal ini sebenarnya dapat dianggap sudah ada
persetujuan dari kedua belah pihak untuk mengungkapkan. Apakah
dokter dengan bebas boleh mengutarakan bahwa istrinya sedang
mengandung atau mengalami keguguran? Sebaiknya juga dibicarakan
dahulu dengan pasien itu, sebab bisa saja ada kemungkinan bahwa
sang suami baru saja kembali dari luar negeri sesudah sekian
bulan. Juga jika menyangkut penyakit kelamin, tidak dapat
dianggap sudah ada persetujuan dari kedua belah pihak.
Sumber: Buku Rahasia Medis J.Guwandi, S.H

RAHASIA MEDIS DAN HIV/AIDS (HAM ODHA vs HAM MASYARAKAT)


Masalah HIV/AIDS banyak sangkut pautnya dengan Rahasia Medis
sehingga kita harus berhati hati dalam menanganinya.
Dalam mengadakan peraturan hukum, selalu terdapat dilema
antarakepentingan masyarakat dan kepentingan perseorangan.
Seringkali harus dipertimbangkan kepentingan mana yang dirasakan
lebih berat. Dalam sistim demokrasi, hak asasi seseorang harus
diindahkan, namun hak asasi ini tidaklah berarti bersifat
mutlak.
Pembatasan dari hak asasi seseorang adalah hak asasi orang lain
di dalam masyarakat itu. Dalam hal ada pertentangan kepentingan,
maka hak perorangan harus mengalah terhadap kepentingan
masyarakat banyak. Kebebasan atas kepentingan individu tidak
dipertahankan sedemikian rupa sehingga sampai membahayakan
kepentingan orang lain atau masyarakatnya. Namun kita melihat
ada pengecualian bersifat rahasia mutlak yang berkaitan dengan
HIV/AIDS.
Dalam kasus kasus tertentu seorang dokter bisa berada dalam
keadaan dilema jika penyakit yang diderita pasien itu juga
membahayakan masyarakat sekitarnya (HIV/AIDS, penyakit kelamin,
wabah, dan sebagainya). Tambah lagi jika pasien tidak memberikan
persetujuannya untuk diungkapkan rahasianya.
Kecuali kalau memang sudah diwajibkan oleh Undang Undang atau
Peraturan yang lebih tinggi tingkatnya, maka dokter itu wajib
untuk melaporkan. Namun untuk HIV/AIDS tampaknya masih dalam
kedudukan istimewa, karena walaupun bisa membahayakan atau
menularkan istri dan anak-anaknya, ia tetap masih dapat
perlindungan hukum.
Masalah AIDS juga ada kaitan erat dengan Informed Consent.
Merupakan tugas dan kewajiban seorang dokter untuk memberikan
informasi tentang penyakit penyakit yang diderita pasien dan
tindakan apa yang hendak dilakukan, disamping wajib
merahasiakannya. Pada pihak lain kepentingan masyarakat juga
harus dilindungi.
Namun sebaliknya juga bisa timbul pertanyaan, jika seorang
pasien mengetahui bahwa dirinya sudah dihinggapi HIV/AIDS
seharusnya pasienpun wajib untuk memberitahukannya, karena jika
ia misalnya sampai harus dilakukan tindakan medis seperti
pembedahan terhadapnya, maka dokter dan tenaga medis lain bisa
tertular. Apakah kepentingan perseorangan harus dimenangkan
terhadap kepentingan orang lain (dokter, perawat dan tenaga
kesehatan lain) ?
Hal ini secara adil seharusnya juga perlu diwajibkan kepada
pasiennya agar ia tidak membahayakan orang lain. Namun sayangnya
ketentuan ini belum ada, sehingga kita masih berpedoman pada
peraturan yang lama. Pengaturan hukum tentang HIV/AIDS di negara
kita pada saat ini hanya ada 2 yaitu:
1. Instruksi Menteri Kesehatan RI No.72/Menkes/Instll/1988
tentang kewajiban melaporkan penderita dengan gejala AIDS.
Ketentuan tersebut hanya ditujukan kepada petugas kesehatan
dan sarana pelayanan kesehatan saja. Tindakan yang diambil
hanyalah pelaporan kepada Dirjen P2MPLP saja dengan
memperhatikan kerahasiaan pribadi.

2. Surat Keputusan Menko Kesra No 9 Tahun 1994 tentang Strategi


Nasional Penanggulangan HIV/AIDS.
"Setiap pemeriksaan untuk mendiagnosis HIV/AIDS harus
didahului dengan penjelasan yang benar dan mendapat
persetujuan yang bersangkutan (Informed Consent). Sebelum
dan sesudahnya harus diberikan konseling yang memadai dan
hasil pemeriksaan wajib dirahasiakan."

Sejauh ini yang bisa diwajibkan menjalani uji HIV adalah


kalangan anggota militer dan narapidana. Para pekerja seks
komersial pun tidak boleh dipaksakan untuk menjalani tes HIV
seperti waktu dulu. Dapat ditambahkan pula, pada lamaran kerja
di perusahaan dapat dimintakan persetujuannya untuk juga
dilakukan tes HIV, tetapi ini secara sukarela dan juga harus ada
persetujuan. Jika hasilnya positif maka secara terselubung bisa
ditolak penerimaannya. Biasanya dilakukan dengan cara halus,
memakai alasan lain. Pemeriksaan HIV/AIDS tidak bisa diwajibkan
karena bertentangan dengan HAM.
Kalau hasil pemeriksaan positif maka terdapat dilema, yaitu pada
satu pihak rahasia pasien harus dijaga, tidak boleh diungkap ke
orang lain kecuali atas persetujuan (consent) dari pasien itu
sendiri. HAM akan dilanggar jika diberitahukan kepada orang
lain.
Bagaimana dengan istrinya? Apakah seorang istri juga tidak boleh
diberitahu? Memang pemberitahuan ini mungkin bisa berakibat
berat bagi si suami, istri mungkin bisa minta cerai atau tidak
mau melayaninya lagi. Sebenarnya harus bisa dijelaskan dengan
konseling tentang cara cara pencegahan dan pendidikan tentang
HIV/AIDS yang perlu diadakan sosialisasi yang lebih meluas.
Bagaimana dengan anak anaknya? Katanya anak anaknya bisa
dikucilkan di sekolah dan ia sendiri ada risiko diberhentikan
dari pekerjaannya. Namun ini adalah risiko yang mau tidak mau
terpaksa harus dipikul oleh penderita HIV. Kalau istrinya
sendiri tidak boleh diberitahukan, apakah tidak akan bisa
mengakibatkan menambah jumlah penderita HIV/AIDS? Apakah sang
istri harus turut menjadi korban? Istri / partner seksual adalah
orang yang paling rentan terhadap penularan. Jika boleh
diberitahukan, maka mata rantainya akan bisa diputuskan, dengan
demikian maka setidak tidaknya tidak akan menambah jumlah
penderita AIDS.
Mana yang lebih memberatkan HAM ODHA atau HAM Masyarakat /
Individu lain?
Sumber: Buku Rahasia Medis J.Guwandi, S.H