Anda di halaman 1dari 6

Bolehkah Pemegang Saham Merangkap Komisaris dan Direksi Sekaligus?

RUBRIK KLINIK

Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini
diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com

Jika anda member Hukumonline, silakan login, atau Daftar ID anda.

Cari jawaban:

Senin, 24 Juni 2013

Pertanyaan:

Bolehkah Merangkap Jabatan Sebagai Direksi PT dan CV?

Bolehkah seorang Direktur Utama pada Perseroan Terbatas (PT) juga menjadi Direktur pada
Persekutuan Komanditer (CV), serta bagaimana status hukumnya bila PT dan CV tersebut mengikuti
kegiatan tender secara bersamaan? Terima kasih.

fira456

Jawaban:

Albert Aries, S.H., M.H.

http://images.hukumonline.com/frontend/lt50f8bc5fd2478/lt50fcf1caabcfc.jpg

Terima kasih atas pertanyaan Anda.

Sebelumnya perlu saya sampaikan bahwa istilah yang digunakan oleh Undang-Undang No. 40 Tahun
2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT) adalah Direksi dan bukan Direktur, yang merupakan istilah
umum yang digunakan oleh masyarakat. Sedangkan istilah untuk seorang Direktur dari Persekutuan
Komanditer (CV), berdasarkan Pasal 19-35 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD), adalah
Sekutu Pengurus/Sekutu Komplementer.

Lebih lanjut, pengertian Direksi menurut Pasal 1 ayat 5 UUPT adalah (salah satu) organ Perseroan yang
berwenang dan bertanggung jawab penuh atas pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan,
sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan serta mewakili Perseroan, baik di dalam maupun di luar
pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar.

Menjawab pertanyaan Anda, sesuai dengan penelusuran saya di UUPT, saya tidak menemukan adanya
aturan yang melarang Direksi (Direktur) Perseroan Terbatas (PT) untuk memiliki rangkap jabatan di
perusahaan yang lain, begitu pula tidak ada ketentuan dalam KUHD yang melarang rangkap jabatan oleh
Sekutu Komplementer CV. Namun demikian, ternyata Pasal 26 Undang-Undang No. 5 Tahun 1999
tentang Larangan Praktik Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (UU No. 5/1999) sudah
mengantisipasi adanya potensi dan konsekuensi rangkap jabatan seorang Direksi di dua perusahaan
yang berlainan, sebagaimana yang saya kutip di bawah ini:

Pasal 26 UU No. 5/1999:

Seseorang yang menduduki jabatan sebagai Direksi atau Komisaris dari suatu perusahaan, pada waktu
yang bersamaan dilarang merangkap menjadi Direksi atau Komisaris pada perusahaan lain, apabila
perusahaan-perusahaan tersebut:

a. Berada dalam pasar bersangkutan yang sama; atau

b. Memiliki keterkaitan yang erat dalam bidang dan atau jenis usaha; atau

c. Secara bersama dapat menguasai pangsa pasar barang dan atau jasa tertentu, yang dapat
mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.
Mencermati pertanyaan Anda di atas, khususnya mengenai keikutsertaan kedua perusahaan tersebut
pada suatu tender, maka saya berasumsi bahwa baik PT maupun CV tersebut adalah perusahaan yang
bergerak dalam bidang yang sama/sejenis.

Sebagai peraturan pelaksanaan dari Pasal 26 UU No. 5/1999, Komisi Pengawas Persaingan Usaha
(KPPU) mengeluarkan Peraturan KPPU No. 7 Tahun 2009, yang pada intinya menegaskan larangan bagi
Direksi dan Komisaris suatu perusahaan untuk melakukan rangkap jabatan di perusahaan lain.

Selain itu, dalam Halaman 6 Lampiran Peraturan KPPU No. 7 Tahun 2009 telah disebutkan bahwa yang
dimaksud perusahaan adalah perusahaan dalam arti yang luas, sebagaimana yang saya kutip berikut ini:

Mengingat bahwa pelaku usaha tidak hanya terdiri dari pelaku usaha yang berbentuk perseroan
terbatas, unsur Direksi akan mencakup pengertian pengurus puncak atau pihak yang berwenang dalam
menetapkan kebijakan perusahaan, yang memiliki substansi persaingan usaha, misalnya pengurus
persekutuan perdata, pengurus firma, pengurus perkumpulan berbadan hukum, pengurus badan usaha
milik negara (BUMN), pengurus badan usaha milik daerah (BUMD) dan atau pengurus yayasan. Dengan
demikian, pengertian direksi juga akan mencakup beberapa terminologi jabatan puncak perusahaan
seperti Executive Vice President, Vice President, Senior Vice President, Presiden Direktur, Direktur dan
beberapa istilah pengurus perusahaan lainnya.

Berdasarkan apa yang saya uraikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa seorang Direksi PT tidak
boleh/dilarang memiliki rangkap jabatan sebagai Direksi atau jabatan yang dapat dikualifikasikan
sebagai Direksi/Pengurus di perusahaan lain yang sejenis, dalam hal ini termasuk juga CV, karena akan
berpotensi melanggar ketentuan Pasal 26 UU No. 5/1999, yang memiliki ancaman pidana denda
serendah-rendahnya Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan setinggi-tingginya Rp
25.000.000.000,00 (dua puluh lima miliar rupiah), atau pidana kurungan pengganti denda selama-
lamanya 5 (lima) bulan (Pasal 40 ayat 2 UU No. 5/1999).
Selain itu, tidak boleh/dilarang melakukan rangkap jabatan juga dimaksudkan untuk kepentingan dari PT
dan CV itu sendiri. Rangkap jabatan sebagai Direksi PT dan Sekutu Komplementer CV dapat
mengakibatkan benturan kepentingan karena kedua jabatan tersebut merupakan jabatan yang
berfungsi untuk menetapkan kebijakan dan menjalankan PT maupun CV.

M. Yahya Harahap, S.H. dalam bukunya yang berjudul Hukum Perseroan Terbatas (hal. 376-378),
sebagaimana disarikan, mengatakan bahwa Direksi dalam melakukan pengurusan Perseroan harus
dilakukan dengan itikad baik, yang salah satunya adalah anggota Direksi wajib menghindari terjadinya
benturan kepentingan (conflict of interest) dalam melaksanakan pengurusan Perseroan. Wujud dari
menghindari benturan kepentingan tersebut adalah adanya larangan bagi anggota Direksi untuk
melakukan transaksi antara pribadinya dengan Perseroan. Selain itu anggota Direksi juga dilarang
bersaing dengan Perseroan. Satu segi dia wajib beritikad baik dan dipercaya mengurus Perseroan,
sedang pada sisi lain, melakukan persaingan dengan Perseroan.

Dalam hal ini jika ia bertindak sebagai Sekutu Komplementer CV, ia menggunakan namanya sendiri
karena CV bukan merupakan badan hukum sehingga tidak dapat dianggap sebagai subjek hukum yang
berdiri sendiri.

Sedangkan berkaitan dengan pengurusan CV, Yetty Komalasari Dewi dalam bukunya yang berjudul
Pemikiran Baru tentang Commanditaire Vennootschap (CV) (hal. 191-192), sebagaimana disarikan,
mengatakan bahwa dalam pengurusan atau pengelolaan CV, ada kewajiban yang dimiliki oleh sekutu
pengurus (Sekutu Komplementer) untuk mendahulukan kepentingan CV. Beberapa cara mendahulukan
kepentingan CV adalah sekutu pengurus tidak boleh berhubungan atau bertransaksi dengan
persekutuan dalam kegiatan atau bidang usaha persekutuan atau melakukan pembubaran persekutuan
atau mewakili pihak lain yang memiliki kepentingan yang berbeda dengan kepentingan persekutuan.
Selain itu sekutu pengurus tidak boleh bersaing dengan persekutuan dalam mengelola kegiatan atau
melakukan pembubaran persekutuan.
Mengenai statusnya jika mengikuti tender secara bersamaan, hal tersebut tergantung pada ketentuan
yang diterapkan dalam tender tersebut. Akan tetapi yang jelas akan ada benturan kepentingan dan
memungkinkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga memberikan pencerahan untuk Anda.

Catatan dari Penjawab mengenai pelaporan dugaan pelanggaran dari pelaku usaha:

1. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) berwenang untuk menerima laporan dari masyarakat
dan atau dari pelaku usaha tentang dugaan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak
sehat (Pasal 36 huruf a UU No. 5/1999);

2. Setiap orang yang mengetahui/pihak yang dirugikan telah terjadi atau patut diduga telah terjadi
pelanggaran terhadap UU No. 5/1999 dapat melaporkan secara tertulis kepada KPPU dengan
keterangan yang jelas tentang telah terjadinya pelanggaran, dengan menyertakan identitas pelapor
(Pasal 38 ayat (1) dan (2) UU No. 5/1999);

3. KPPU dapat melakukan pemeriksaan terhadap pelaku usaha apabila ada dugaan terjadi
pelanggaran UU No. 5/1999 walaupun tanpa adanya laporan (Pasal 40 ayat (1) UU No. 5/1999).

Dasar Hukum:
1. Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak
Sehat;

2. Peraturan KPPU No. 7 Tahun 2009.

Referensi:

1. Dewi, Yetty Komalasari. 2011. Pemikiran Baru tentang Commanditaire Vennootschap (CV). Badan
Penerbit FHUI.

2. Harahap, Yahya. 2009. Hukum Perseroan Terbatas. Sinar Grafika.