Anda di halaman 1dari 11

Farmaka

Volume 4 Nomor 3 Suplemen 1 1

REVIEW : EDIBLE FILM ANTIMIKROBA EKSTRAK BUAH MANGGIS,


EKSTRAK MINYAK CENGKEH, DAN MINYAK ATSIRI JAHE

Mega Hijriawati1, Ellin Febrina2


Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran
Jl. Raya Bandung Sumedang km. 21 Jatinangor, 45363
megahijir@gmail.com

ABSTRAK

Edible film adalah sediaan lapisan tipis yang dibuat dari bahan yang dapat dimakan.
Saat ini, edible film telah banyak diproduksi di berbagai industri, seperti industi makanan,
industri farmasi, industri kosmetik, dan industri pertanian. Pengolahan edible film dapat
dilakukan dengan empat teknik dasar, salah satunya adalah teknik solvent casting. Teknik ini
telah digunakan sejak 100 tahun yang lalu, metode yang dilakukan dalam teknik ini yaitu
dengan meratakan larutan edible film di atas kaca akrilik, silikon, ataupun teflon, kemudian
dikeringkan pada suhu yang terkendali. Komponen utama penyusun edible film
dikelompokkan menjadi tiga, yaitu hidrokoloid, lipida, dan komposit. Bahan lain yang sering
dijumpai dalam pembuatan edible film adalah antimikroba, antioksidan, flavor, dan pewarna.
Edible film yang mengandung bahan antimikroba dapat digunakan pada sediaan penyegar
nafas untuk menghentikan pertumbuhan bakteri penyebab bau mulut dan pada sediaan
pengemas untuk meningkatkan daya tahan dan kualitas bahan pangan selama penyimpanan.
Antimikroba yang dapat ditambahkan pada edible film berasal dari ekstrak tanaman seperti
ekstrak buah manggis, ekstrak minyak cengkeh, dan minyak atsiri jahe. Tujuan dari review
artikel ini adalah untuk memberikan pengetahuan mengenai edible film, pengenalan aplikasi
edible film, metode produksinya, serta karakterisasi edible film yang mengandung bahan
antimikroba.
Kata kunci: Edible film, Metode Produksi, Formulasi, Antimikroba

ABSTRACT

Edible film is defined as a thin layer of material which can be consumed. Nowadays,
edible film shows the possible use in various industries including food industry,
pharmaceutical industry, cosmetic and toiletries industries, and also agricultural industry.
Edible film can be produced by using four basic techniques. One of them is solution casting.
Solution casting was developed over one hundred years ago. Using this method, solution is
spread onto leveled plates like acrylic, silicon, or Teflon plates, followed by a drying process
at ambient conditions or under controlled conditions. To produce good edible film, we have
added main and additional material. The main material divided in three groups;
hydrocolloids, lipids, and composites. The additional materials that are often encountered in
the manufacture of edible film are an antimicrobial, antioxidant, flavor, and dye.
Antimicrobial edible film can be used as breath freshener preparations to stop the growth of
excessive bacteria on mouth and as a dosage packaging to enhance the durability and quality
of foodstuffs during storage. Antimicrobials can be added to the edible film derived from
plant extracts such as mangosteen extract, clove oil extracts, and essential oils of ginger. The
objective of this review is to provide a comprehensive introduction about edible films by
Printed : 16931424
Online : 2089-9157
Farmaka
Volume 4 Nomor 3 Suplemen 1 2

providing description of suitable materials, reviewing their properties and describing


methods of their applications and potential use as an antimicrobial agent.
Keywords: Edible film, Methods of Production, Formulation, Antimicrobial

Printed : 16931424
Online : 2089-9157
Farmaka
Volume 4 Nomor 3 Suplemen 1 3

PENDAHULUAN negara-negara yang tidak melakukan daur


ulang (recycling) (6).
Edible film adalah sediaan lapis Material dalam pembuatan edible
tipis yang berasal dari bahan polimer film terbagi menjadi tiga, yaitu
murni hasil pertanian seperti polipeptida hidrokoloid, lipida, dan komposit. Edible
(protein), polisakarida (karbohidrat), dan film hidrokoloid yang digunakan adalah
lipida (1). Ketiga polimer tersebut protein atau polisakarida (7). Bahan dasar
mempunyai sifat termoplastik, sehingga polikasarida dapat berasal dari pati. Pati
mempunyai potensi untuk dibentuk atau adalah jenis polisakarida yang melimpah di
dicetak sebagai film kemasan. Keunggulan alam, memiliki harga yang murah, dan
polimer ini adalah bahannya yang berasal bersifat mudah terurai (biodegradable).
dari sumber yang terbarukan (renewable) Pati baik digunakan untuk bahan edible
dan dapat dihancurkan secara alami film karena dapat membentuk film dengan
(biodegradable) (1). sangat kuat (7). Namun, juga terdapat
Edible film telah banyak diproduksi kelemahan, yaitu resistensinya terhadap air
di berbagai industri, seperti industri rendah dan sifat penghalangnya terhadap
makanan, industri farmasi, industri uap air juga rendah. Kekurangan ini akan
kosmetik, dan industri pertanian (2). mempengaruhi daya simpan makanan
Olahan edible film dapat digunakan untuk menjadi kurang optimal. Untuk itu maka
pengemasan produk-produk pangan seperti perlu ditambahkan bahan biopolimer
sosis, buah-buahan, dan sayuran segar (3). lainnya seperti penambahan bahan
Selain itu, edible film juga dapat digunakan antimikroba (7).
sebagai sediaan penyegar mulut, pemberi Edible film yang mengandung
gambar/logo pada kue makanan, masker bahan antimikroba dapat menjaga makanan
wajah, dan sebagai sediaan farmasi yang agar terlindung dari proses oksidasi yang
dapat mengobati berbagai penyakit (4)(5). menyebabkan pencoklatan pada makanan
Edible film diunggulkan dalam (8). Penelitian mengenai edible film
pembuatannya karena dapat didaur ulang antimikroba telah banyak dilakukan dan
secara alami (biodegradable) serta telah lama terbukti dapat melindungi dan
memiliki nilai estetika yang tinggi. mengawetkan makanan (9). Selain itu,
Berbeda dengan sediaan plastik yang tidak penelitian lain juga menyebutkan bahwa
dapat dihancurkan secara alami (non- bahan antimikroba pada edible film juga
biodegradable) yang dapat menyebabkan dapat menghambat pertumbuhan bakteri
beban bagi lingkungan khususnya pada berlebih dalam mulut (10).
Printed : 16931424
Online : 2089-9157
Farmaka
Volume 4 Nomor 3 Suplemen 1 4

Penggunaan bahan antimikroba tema edible film dan agen antimikroba.


alami pada pembuatan edible film Kemudian dilakukan analisis dari 16 jurnal
meningkat sejalan dengan kecenderungan yang didapat. Pencarian fakta dan bahan
masyarakat untuk menerapkan gaya hidup referensi yang mendukung data diperoleh
sehat. Peningkatan nilai guna dari zat yang juga melalui sarana internet.
bersifat antimikroba alami ini berfungsi
untuk menghindari potensi bahaya dari HASIL
bahan sintesis (8). Aplikasi edible film yang ada di
Ada beberapa jenis bahan pasaran antara lain dapat dilihat dalam
antimikroba yang dapat digunakan dalam Gambar 2 di bawah ini. Gambar tersebut
kemasan edible film antara lain rempah- menunjukkan berbagai macam bentuk
rempah dalam bentuk bubuk maupun olahan edible film yang banyak diproduksi
minyak atsiri seperti kayu manis, lada, (4).
cengkih, oregano, minyak serai, dan
komponen minyak atsiri (11). Semakin
tinggi pengemasan edible film berbahan
dasar alami akan semakin mengurangi
limbah plastik yang berasal dari polimer
sintesis sehingga mengurangi kerusakan
lingkungan (12). Tulisan ini menyajikan
bermacam-macam informasi aplikasi
edible film, metode produksinya, serta
karakterisasi edible film yang mengandung
bahan antimikroba.

METODE
Metode review yang digunakan
yaitu studi pustaka dengan mengumpulkan
beberapa jurnal melalui sarana internet dari
Gambar 1. Aplikasi edible film (4)
web terpercaya seperti
http://search.proquest.com/. Pencarian
Dari berbagai macam aplikasi
pustaka menggunakan kata kunci edible
edible film tersebut, terdapat empat metode
film dan ekstrak. Dari 35 jurnal yang
pembuatan edible film yang biasa
didapat, dipilih 16 jurnal yang memiliki
Printed : 16931424
Online : 2089-9157
Farmaka
Volume 4 Nomor 3 Suplemen 1 5

digunakan, yaitu solvent casting, hot melt Beberapa contoh formula dalam
extrusion, semisolid casting, dan rolling pembuatan edible film, yaitu:
solvent casting (7). Masing-masing metode 1. Formula edible film ekstrak buah
memiliki karakterisik yang berbeda. manggis
Namun, metode solvent casting adalah
metode yang telah digunakan sejak 100 Tabel 1. Formula edible film ekstrak
buah manggis (10)
tahun yang lalu dan paling umum
digunakan karena mudah dan praktis (7). Bahan Konsentrasi
Perkembangan metode ini terlihat dari Pullulan 1g
Alginat 3g
teknologinya yang sudah dapat langsung Aquadest Tambah 150 ml
menghasilkan produk edible film. Ekstrak buah 15 % dan 20 %
manggis w/w
Mint oil 0,2% v/w
Coloring 10 %
agent
Gliserol 10 %

2. Formula edible film ekstrak minyak


Gambar 2. Metode solvent casting (7) cengkeh

Tabel 2. Formula edible film ekstrak


Dalam pembuatan edible film perlu minyak cengkeh (11)

diperhatikan komponen penyusun yang Bahan Konsentrasi


terkandung di dalamnya, karena komponen HPMC 1%
Air suling 100 ml
penyusun edible film mempengaruhi secara Gliserol 1,75 ml
langsung bentuk morfologi maupun Ekstrak 1,2,3 kali lipat
minyak dari mbc
karakteristik pengemas yang dihasilkan cengkeh
(8). Chitosan secukupnya
Maltodektrin secukupnya
Komponen yang cukup besar dalam Tween 80 secukupnya
pembuatan edible film adalah plastisizer.
3. Formula edible film minyak atsiri jahe
Plastisizer berfungsi untuk meningkatkan
fleksibilitas dan ekstensibilitas film, Tabel 3. Formula edible film
minyak atsiri jahe (14)
menghindari film dari keretakan,
meningkatkan permeabilias terhadap gas, Bahan Konsentrasi
Tepung uwi 7g
uap air, dan zat terlarut, dan meningkatkan
Aquadest 115 ml
elastisitas film (13). CMC 0,7 g
Gliserol 1,75 ml
Minyak atsiri 0,5% - 3% v/w
Printed : 16931424
Online : 2089-9157
Farmaka
Volume 4 Nomor 3 Suplemen 1 6

jahe Porphyromonas -2,08x 104


gingivalis
Formula edible film yang Pullulan Streptococcus > 99,99
film + mutans
mengandung ekstrak minyak cengkeh dan
15 % Streptococcus > 99,99
minyak atsiri jahe di atas mengandung ekstrak sanguis
buah Porphyromonas > 96,86
bahan antimikroba yang dapat
manggis gingivalis
meningkatkan daya tahan dan kualitas Pullulan Streptococcus > 99,99
bahan pangan selama film + mutans
20 % Streptococcus > 99,99
penyimpanan(14)(11). Mekanismenya ekstrak sanguis
yaitu dengan menggunakan metode buah Porphyromonas > 99,97
manggis gingivalis
migrasi lambat sehingga konsentrasi
sediaan edible film tetap tinggi selama
2. Ekstrak minyak cengkeh
masa penyimpanan (15).
Tabel 5. Ekstrak minyak cengkeh
Ekstrak buah manggis dalam
sebagai agen antibakteri (11)
formula edible film di atas dapat
Bakteri Konsentrasi Zona
menghambat pertumbuhan bakteri
minyak cengkeh hambat
penyebab bau mulut(10). (w/v) (mm)
Beberapa bahan antibakteri yang Listeria 0 (kontrol) 0
monocyto- 0,5 (satu kali lipat 16,67
mampu menghambat pertumbuhan patogen genes dari mbc)
dalam tubuh dan makanan adalah asam 1 (dua kali lipat 25
dari mbc)
organik, bakteriosin, dan minyak rempah- 1,5 (tiga kali lipat 31
rempah (12). Di bawah ini akan dari mbc)
Escheri- 0 (kontrol) 0
dipaparkan beberapa bahan antibakteri chia coli 1 (satu kali lipat 18,50
alami dari ekstrak tumbuhan yang dapat dari mbc)
2 (dua kali lipat 24,50
menghambat pertumbuhan bakteri pada dari mbc)
mulut atau pada makanan, yaitu: 3 (tiga kali lipat 26,75
dari mbc)
1. Ekstrak buah manggis Staphylo- 0 (kontrol) 0
coccus 1,5 (satu kali lipat 28,75
Tabel 4. Ekstrak buah manggis aureus dari mbc)
sebagai agen antimikroba (10)
3 (dua kali lipat 31,74
dari mbc)
Sampel Bakteri % bakteri
4,5 (tiga kali lipat 39,00
yang di
dari mbc)
hambat
Pullullan Streptococcus -1,02x104
3. Minyak atsiri jahe
film mutans
Streptococcus -4,7x104 Tabel 6. Minyak atsiri jahe
sanguis sebagai agen antibakteri (14)
Printed : 16931424
Online : 2089-9157
Farmaka
Volume 4 Nomor 3 Suplemen 1 7

yang mengalami sulit menelan(5). Dalam


Bakteri Konsentrasi Zona
industri kosmetik edible film dapat
minyak atsiri jahe hambat
(w/v) (mm) digunakan dalam pembuatan masker wajah
Escheri- 0 (kontrol) 0 sedangkan dalam industi pertanian edible
chia coli 0,5 0
1,0 1 film dapat digunakan untuk membuat pot
1,5 2,73 plastik untuk tanaman atau penyimpan
2,0 4,33
2,5 7,90 pupuk yang akan larut perlahan-lahan
3,0 9,73 ketika kontak dengan tanah yang lembab
atau selama penyiraman (6).

PEMBAHASAN Teknologi pembuatan edible film

Edible film adalah sediaan yang terdiri dari empat metode, yaitu: solvent

banyak digunakan untuk kebutuhan sehari- casting, hot melt extrusion, semisolid

hari. Berbagai olahan edible film telah casting, dan rolling solvent casting (7).

dihasilkan oleh berbagai industri baik Metode solvent casting adalah metode

industri makanan, industri farmasi, industri yang melarutkan bahan-bahan aktif dan

kosmetik, dan industri pertanian (6). tambahan dalam pelarut yang mudah

Dalam industri makanan, edible menguap, seperti air atau etanol.

film sangat berperan dalam pengemasan Campuran larutan tersebut dikombinasikan

bahan pangan dan penyimpanan pangan kemudian larutan tersebut dibentuk

agar dapat awet dan terjaga dari proses menjadi film dan dikeringkan pada oven

oksidasi. Sifatnya yang mudah terurai pada suhu 45-50oC dan dipotong-potong

sangat baik untuk menjaga kelestarian untuk selanjutnya dikemas dan disegel

lingkungan karena dengan penambahan (16).

pelarut, edible film dapat dengan mudah Metode kedua adalah semi solid

larut dan terurai. Dalam industri farmasi, casting method, metode ini menggunakan

edible film dapat digunakan sebagai polimer yang tidak larut asam. Pertama-

sediaan selapis tipis untuk menyegarkan tama disiapkan terlebih dulu larutan

nafas, menjaga kebersihan mulut, dan polimer larut air kemudian larutan tersebut

pemberi nutrisi. Selain itu edible film juga ditambahkan ke dalam polimer yang tidak

dapat dibuat menjadi sediaan farmasi yang larut asam. Kemudian ditambahkan

dapat mengobati berbagai penyakit. Edible plastisizer diantara proses tersebut

film ini dapat menahan bahan aktif farmasi sehingga terbentuk gel. Selanjutnya larutan

dalam lapisan tipis tersebut dan sangat baik tersebut dituangkan ke dalam tempat film

digunakan untuk anak-anak dan lansia yang memiliki ketebalan 0,038 cm.
Printed : 16931424
Online : 2089-9157
Farmaka
Volume 4 Nomor 3 Suplemen 1 8

Perbandingan polimer tidak laut asam dan formula yang disebutkan dalam tabel di
polimer pembentuk film adalah 1:4 (7). atas, terdapat beberapa fungsi dari masing-
Metode ketiga adalah metode hot masing bahan penyusun edible film, yaitu:
melt extrusion, metode ini menggunakan Tabel 7. Fungsi komposisi formula
edible film (10)
bahan-bahan material padat yang
dikeringkan dan dihomogenisasi dengan Komposisi Fungsi
Ekstrak buah
screw extruder dalam alat tersebut sekitar Bahan aktif
manggis
3-4 menit. Suhu dalam proses tersebut Ekstrak minyak Bahan aktif
cengkeh
ditentukan 100oC. Proses tersebut
Minyak atsiri jahe Bahan aktif
dibiarkan sampai bahan-bahan menjadi Minyak mint Perasa
cair, kemudian bahan tersebut ditekan dan Pullulan Polimer
HPMC Polimer
di bentuk menjadi film (7). Tepung uwi Polimer
CMC Surfaktan
Tween 80 Surfaktan
Alginat Co-polimer
Chitosan Co-polimer
Gliserol Plasticizer
Madu Pemanis
Gambar 3. Metode hot melt extrusion (7) Maltodektrin Pemanis
Aquadest Pelarut

Metode keempat yaitu rolling


method, dalam metode ini pertama-tama Pada formula edible film di atas

bahan-bahan disiapkan. Siapkan juga terdapat tiga bahan antibakteri yaitu

pelarut air, ataupun campuran air dan ekstrak buah manggis, ekstrak minyak

alkohol. Kemudian dilakukan proses cengkeh, dan minyak atsiri jahe.

suspensi zat aktif dan zat tambahannya Hasil penelitian yang dilakukan

dalam alat yang membuat bahan jadi menunjukkan ekstrak buah manggis

terguling. Selanjutnya film dikeringkan terbukti menghambat pertumbuhan bakteri

pada alat rol dan dipotong dalam bentuk Streptococcus mutans, Streptococcus

dan ukuran yang diinginkan (7). sanguis, Porphyromonas gingivalis yang

Dalam pengolahan edible film banyak terdapat di dalam gigi (10).

harus memperhatikan bahan-bahan yang Dengan mengunyah edible film yang

ditambahkan agar dapat meningkatkan mengandung ekstrak buah manggis sebesar

elastisitas dan ketahanan sediaan dan 20% ini maka pertumbuhan bakteri

melindungi sediaan dari oksidasi dan penyebab bau mulut dapat dihambat dan

pembusukan oleh mikroba (15). Dari


Printed : 16931424
Online : 2089-9157
Farmaka
Volume 4 Nomor 3 Suplemen 1 9

kondisi mulut akan menjadi bersih dan dan kualitas bahan pangan selama
segar (10). penyimpanan.
Jurnal lain juga menunjukkan
bahwa ekstrak minyak cengkeh dan UCAPAN TERIMAKASIH
minyak atsiri jahe dapat menghentikan Dalam menyelesaikan review ini,
pertumbuhan bakteri Listeria penulis menyadari banyak pihak yang telah
monocytogenes, Escherichia coli, dan membantu. Penulis ingin mengucapkan
Staphylococcus aureus yang biasanya terima kasih kepada Ibu Ellin Febrina,
terdapat banyak di dalam makanan dan M.Si., Apt., selaku dosen pembimbing,
menyebabkan pembusukan pada makanan kepada Bapak Rizky Abdulah, Ph.D., Apt.,
(9, (14). Dengan menggunakan kemasan selaku dosen metodologi dan penelitian,
yang terbuat dari edible film yang dan kepada teman-teman Farmasi Unpad
disisipkan ekstrak minyak cengkeh dan 2013 yang telah membantu.
minyak atsiri jahe dapat menurunkan dan
menghambat pertumbuhan bakteri tersebut KONFLIK KEPENTINGAN
sehingga makanan yang disimpan dalam Seluruh penulis menyatakan tidak
kemasan edible film ini dapat bertahan terdapat potensi konflik kepentingan
lebih lama dalam masa penyimpanannya. dengan penelitian, kepenulisan
(authorship), dan atau publikasi artikel ini.
SIMPULAN
Edible film adalah sediaan lapis DAFTAR PUSTAKA
tipis yang dapat dimanfaatkan dalam 1. Kusnadi J, Budyanto P.
berbagai macam fungsi dan kegunaan, Antibacterial Active Packaging
diantaranya dalam pengemasan makanan, Edible Film Formulation with
penyegar nafas, obat yang cepat larut, dan Addition Teak ( Tectona grandis )
dapat digunakan juga dalam industri Leaf Extract. Int J Life Sci
pertanian untuk membuat pupuk yang Biotechnol Pharma Res.
dapat larut secara bertahap ketika kontak 2015;4(2):7984.
dengan tanah. Edible film yang disisipkan 2. Yuliana F. Stability Study of
bahan antimikroba dapat digunakan pada Antibacterial Activity of Mixed
sediaan penyegar nafas yang mampu Lime Juice and Honey of Heating
menghentikan pertumbuhan bakteri Temperature on
penyebab bau mulut dan pada sediaan Staphylococcusaureus and
pengemas untuk meningkatkan daya tahan Streptococcuspyogenes.
Printed : 16931424
Online : 2089-9157
Farmaka
Volume 4 Nomor 3 Suplemen 1 10

2014;21(2):17. based edible coatings to maintain


3. Mehdizadeh T, Tajik H, Razavi quality of fresh-cut Fuji apples.
Rohani SM, Oromiehie AR. LWT - Food Sci Technol.
Antibacterial, antioxidant and 2008;41(1):13947.
optical properties of edible starch- 9. Li B, Xu Z, Xie BJ. Preparation and
chitosan composite film containing temperature effect on the swelling
Thymus kotschyanus essential oil. behavior of konjac glucomannan-
Vet Res Forum [Internet]. methylcellulose blend film. Eur
2012;3(3):16773. Available from: Food Res Technol.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/ar 2006;223(1):1328.
ticles/PMC4299978/ 10. Jittinan C, Krisana S, Pakpachong
4. Raeisi M, Tajik H, Aliakbarlu J, V. The Development of Innovative
Valipour S. Effect of carboxymethyl Herbal Extract Oral Film for the
cellulose edible coating containing Unpleasant Mouth Odour.
Zataria multiflora essential oil and 2013;4(2):2658.
grape seed extract on chemical 11. Nonsee K, Supitchaya C, Thawien
attributes of rainbow trout meat. W. Antimicrobial activity and the
2014;5(2):8993. properties of edible hydroxypropyl
5. Saini S, Hooda M. ewsletter Saini et methylcellulose based films
al . Saini et al . 2011;928:91928. incorporated with encapsulated
6. Siah, W.M., Aminah, A. and Ishak clove (Eugenia caryophyllata
A. Edible films from seaweed. Int Thunb.) oil. Int Food Res J.
Food Res J 22(6) 2230-2236. 2011;18(4):153141.
2015;22(6):22306. 12. Desniar, Rusmana I, Suwanto A,
7. Padilla T. LG, Zurita V. JU. Mubarik DNR. Characterization of
Assessment of wax coatings in lactic acid bacteria isolated from an
postharvest preservation of the pea Indonesian fermented fish
(Pisum sativum L.) var. Santa (bekasam) and their antimicrobial
Isabel. Agron Colomb [Internet]. activity against pathogenic bacteria.
2015;33(1):8491. Available from: Emirates J Food Agric.
http://www.revistas.unal.edu.co/inde 2013;25(6):48994.
x.php/agrocol/article/view/44543 13. Bourtoom T. Review Article Edible
8. Rojas-Gra MA, Tapia MS, Martn- films and coatings: characteristics
Belloso O. Using polysaccharide- and properties. Int Food Res J.
Printed : 16931424
Online : 2089-9157
Farmaka
Volume 4 Nomor 3 Suplemen 1 11

2008;15(3):23748.
14. Masril KI. Antibacterial and
Antioxidant of Uwi ( Dioscorea
Alata L ) Starch Edible Film
Incorporated with Ginger Essential
Oil. 2013;3(4):3547.
15. Pati AB, Winarti C. Teknologi
Produksi Dan Aplikasi Pengemas
Edible Antimikroba Berbasis Pati. J
Litbang Pertan. 2012;31(3):8593.
16. Suput D, Lazic V, Popovic S,
Hromis N. Edible films and
coatings: Sources, properties and
application. Food Feed Res.
2015;42(1):1122. Available from:
http://scindeks.ceon.rs/Article.aspx.
artid=2217-53691501011S

Printed : 16931424
Online : 2089-9157