Anda di halaman 1dari 16

1

BAB 1
TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Konsep Dasar
1.1.1 Pengertian
Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) merupakan suatu istilah yang sering
digunakan untuk sekelompok penyakit paru yang berlangsung lama dan ditandai
oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaran patofisiologi
utamanya. Bronkitis kronik, emfisema paru, dan asma bronchial membentuk
kesatuan yang disebut PPOK (Price, 2012).
PPOK adalah keadaan penyakit yang ditandai oleh keterbatasan aliran udara
yang tidak sepenuhnya reversible (David, 2011).
Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) adalah sebuah istilah keliru yang
sering dikenakan pada pasien yang menderita emfisema, bronchitis kronis, atau
campuran dari keduanya. Ada banyak pasien yang mengeluh bertambah sesak nafas
dalam beberapa tahun dan ditemukan mengalami batuk kronis, toleransi olahraga
yang buruk, adanya obstruksi jalan nafas, dan gangguan pertukaran gas (John B,
2010).

1.1.2 Klasifikasi
Penyakit yang termasuk dalam kelompok penyakit paru obstruksi kronik
adalah sebagai berikut:
1. Bronkitis kronik
Bronkitis merupakan definisi klinis batuk-batuk hampir setiap hari disertai
pengeluaran dahak, sekurang-kuranganya 3 bulan dalam satu tahun dan terjadi
paling sedikit selama 2 tahun berturut-turut.
2. Emfisema paru
Emfisema paru merupakan suatu definisi anatomic, yaitu suatu perubahan
anatomic paru yang ditandai dengan melebarnya secara abnormal saluran udara
bagian distal bronkusterminalis, yang disertai kerusakan dinding alveolus.

1
2

3. Asma
Asma merupakan suatu penyakit yang dicirikan oleh hipersensitivitas cabang-
cabang trakea bronkial terhadap berbagai jenis rangsangan. Keadaan ini
bermanifestasi sebagai penyempitan saluran-saluran napas secara periodic dan
reversibel akibat bronkospasme.

1.1.3 Etiologi
PPOK dianggap sebagai penyakit yang berhubungan dengan interaksi genetik
dengan lingkungan. Adapun faktor penyebabnya adalah: merokok, polusi udara, dan
pemajanan di tempat kerja (terhadap batu bara, kapas, padi-padian) merupakan
faktor-faktor resiko penting yang menunjang pada terjadinya penyakit ini.
Prosesnya dapat terjadi dalam rentang lebih dari 20-30 tahunan. PPOK juga
ditemukan terjadi pada individu yang tidak mempunyai enzim yang normal
mencegah penghancuran jaringan paru oleh enzim tertentu. PPOK tampak timbul
cukup dini dalam kehidupan dan merupakan kelainan yang mempunyai kemajuan
lambat yang timbul bertahun-tahun sebelum awitan gejala-gejala klinis kerusakan
fungsi paru (Smeltzer 2011).
PPOK disebabkan oleh faktor lingkungan dan gaya hidup. Yang sebagian
besar bisa dicegah. Merokok diperkirakan menjadi penyebab timbulnya 80-90%
kasus PPOK. Menurut Somantri, (2011) faktor-faktor yang dapat meningkatkan
resiko munculnya PPOK adalah:
1. Kebiasaan merokok
2. Polusi udara
3. Paparan debu, asap, dan gas-gas kimiawi akibat kerja.
4. Riwayat infeksi saluran nafas.
5. Bersifat genetik yaitu defisiensi -1 antitripsin.
6. Hiper-reaktivitas jalan napas (asma)
7. Infeksi paru berulang
8. Jenis kelamin
9. Ras
3

10. Defisiensi anti oksidan


11. Usia >50 tahun
Pengaruh dari masing-masing factor risiko terhadap terjadinya PPOK adalah
saling memperkuat dan faktor merokok dianggap yang paling dominan.
Peningkatan resiko mortalitas akibat bronchitis hampir berbanding lurus
dengan jumlah rokok yang dihisap setiap hari (peningkatan risiko = x jumlah
batang rokok yang dihisap perhari) (David,2010).

1.1.4 Manifestasi Klinis


Berdasarkan Brunner & Suddarth (2012) adalah sebagai berikut:
1. Batuk produktif, kronis pada bulan-bulan musim dingin.
2. Batuk kronik dan pembentukan sputum purulen dalam jumlah yang
sangat banyak.
3. Dispnea.
4. Nafas pendek dan cepat (Takipnea).
5. Anoreksia.
6. Penurunan berat badan dan kelemahan.
7. Takikardia, berkeringat.
8. Hipoksia, sesak dalam dada.
9. Sesak napas saat aktivitas dan napas berbunyi
10. Mengi atau wheezing
11. Ekspirasi yang memanjang
12. Bentuk dada tong (Barrel Chest) pada penyakit lanjut
13. Penggunaan otot bantu pernapasan
14. Suara napas melemah
15. Kadang ditemukan pernapasan paradoksal
16. Edema kaki, asites dan jari tubuh
4

1.1.5 Patofisiologi
Bronkitis akut dapat timbul dalam serangan tunggal atau dapat timbul kembali
sebagai eksaserbasi akut dari bronchitis kronis. Pada infeksi saluran nafas bagian
atas, biasanya virus, seringkali merupakan awal dari serangan bronchitis akut.
Dokter akan mendiagnosa bronchitis kronis jika klien mengalami batuk atau
produksi sputum selama beberapa hari + 3 bulan dalam 1 tahun dan paling sedikit
dalam 2 tahun berturut-turut.
Bronkitis timbul sebagai akibat dari adanya paparan terhadap agent infeksi
maupun non-infeksi (terutama rokok tembakau). Iritan akan menyebabkan
timbulnya respon inflamasi yang akan menyebabkan vasodilatasi, kongesti, edema
mukosa dan bronchospasme.
Klien dengan bronchitis kronis akan mengalami:
1. Peningkatan ukuran dan jumlah kelenjar mukus pada bronchi besar, yang mana
akan meningkatkan produksi mukus.
2. Mukus lebih kental
3. Kerusakan fungsi cilliary sehingga menurunkan mekanisme pembersihan mukus.
Oleh karena itu, "mucocilliary defence" dari paru mengalami kerusakan dan
meningkatkan kecenderungan untuk terserang infeksi. Ketika infeksi timbul,
kelenjar mukus akan menjadi hipertropi dan hyperplasia sehingga produksi
mukus akan meningkat.
4. Dinding bronchial meradang dan menebal (seringkali sampai dua kaliketebalan
normal) dan mengganggu aliran udara. Mukus kental ini bersama-sama dengan
produksi mukus yang banyak akan menghambat beberapa aliran udara kecil dan
mempersempit saluran udara besar. Bronchitis kronis mula-mula mempengaruhi
hanya pada bronchus besar, tetapi biasanya seluruh saluran nafas akan terkena.
5. Mukus yang kental dan pembesaran bronchus akan mengobstruksi jalan nafas,
terutama selama ekspirasi. Jalan nafas mengalami kollaps, dan udara
terperangkap pada bagian distal dari paru-paru. Obstruksi ini menyebabkan
penurunan ventilasi alveolar, hipoksia dan asidosis.
5

6. Klien mengalami kekurangan oksigen jaringan; ratio ventilasi perfusi abnormal


timbul, dimana terjadi penurunan PaO2 kerusakan ventilasi dapat juga
meningkatkan nilai PaCO.

1.1.6 Komplikasi
Irman Somantri (2010: 50) menyebutkan komplikasi yang dapat terjadi
sebagai berikut:
1. Hipoksemia
Hipoksemia di definisikan sebagai penurunan nilai PaO2 < 55 mmHg, dengan
nilai nsaturasi oksigen <85%. Pada awalnya klien akan mengalami perubahan
mood, penurunan konsentrasi, dan menjadi pelupa. Pada tahap lanjut akan timbul
sianosis.
2. Asidosis Respiratori
Timbul akibat dari peningkatan nilai PaCO2 (hiperkapnea). Tanda yang muncul
antara lain nyeri kepala, kelelahan, pusing dan takipnea.
3. Infeksi Respiratori
Infeksi pernafasan akut disebabkan karena peningkatan produksi mukus dan
rangsangan otot polos bronchial serta edema mukosa, terbatasnya aliran udara
akan menyebabkan peningkatan kerja napas dan timbulnya dispnea.
4. Gejala Jantung
Terutama korpulmonal (gagal jantung kanan akibat penyakit paru), harus
diobservasi terutama pada klien dengan dispnea berat. Komplikasi ini sering kali
berhubungan dengan bronchitis kronis, tetapi klien dengan emfisema berat juga
dapat mengalami masalah ini.
5. Kardiak Distritmia
Timbul karena hipoksemia, penyakit jantung lain, efek obat atau asidosis
respiratori.
6. Status Asmatikus
Merupakan komplikasi mayor yang berhubungan dengan asma bronchial.
Penyakit ini sangat berat, potensial mengancam kehidupan, dan sering kali tidak
6

berespons terhadap terapi yang biasa diberikan. Penggunaan otot bantu


pernapasan dan distensi vena leher sering kali terlihat pada klien dengan asma.

1.1.7 Pemeriksaan Penunjang


1.1.7.1 Chest X-Ray: Dapat menunjukkan hiperinflation paru, flattened difragma,
peningkatan ruang udara retrosternal, penurunan tanda vascular/bullae
(emfisema), peningkatan suara bronkovaskular (bronchitis), normal
ditemukan saat periode remisi (asma).
1.1.7.2 Pemeriksaan Fungsi Paru: Dilakukan untuk menentukan penyebab dispnea,
menentukan abnormalitas fungsi tersebut apakah akibat obstruksi atau
restriksi, memperkirakan tingkat disfungsi, dan mengevaluasi efek dari
terapi, misalnya bronkodilator.
1.1.7.3 Total Lung Capacity (TLC): Meningkatkan pada bronchitis berat dan
biasanya pada asma, namun menurun pada emfisema.
1.1.7.4 Kapasitas Inspirasi: Menurun pada emfisema.
1.1.7.5 FEV1/FVC: Rasio tekanan volume ekspirasi (FEV) terhadap tekanan
kapasitas vital (FEC) menurun pada bronchitis dan asma.
1.1.7.6 Arterial Blood Gases (ABGs): Menunujukan proses penyakit kronis, sering
kali PaO2 menurun dan PaCO2 normal atau meningkat (bronchitis kronis
dan emfisema), tetapi sering kali menurun pada asma, pH normal atau
asidosis, alkalosis respiratori ringan sekunder terhadap hiperventilasi
(emfisema sedang atau asma).
1.1.7.7 Bronkogram: Dapat menunujukkandilatasi dari bronki saat inspirasi, kolaps
bronchial pada tekanan, ekspirasi (emfisema), pembesaran kelenjar mukus
(bronchitis).
1.1.7.8 Darah Lengkap: Terjadi peningkatan hemoglobin
7

1.1.8 Penatalaksanaan Medis


John B (2010) menyebutkan penatalaksanaan bagi pasien dengan penyakit
paru obstruksi kronis yaitu dengan menghentikan pasien merokok sangat penting,
tetapi sering kali hal ini sulit dicapai. Pajanan terhadap polusi kerja dan atmosfer
harus dikurangi sebanyak mungkin. Bronchitis kronis harus diobati dengan
antibiotic, dan juga dengan bronkodilator jika ada unsur yang reversibel.
Tujuan penatalaksanaan PPOK adalah:
1. Memperbaiki kemampuan penderita mengatasi gejala tidak hanya pada fase akut,
tetapi juga fase kronik.
2. Memperbaiki kemampuan penderita dalam melaksanakan aktivitas harian.
3. Mengurangi laju progesivitas penyakit apabila penyakitnya dapat dideteksi lebih
awal.
Penatalaksanaan PPOK pada usia lanjut adalah sebagai berikut:
1. Meniadakan faktor etiologi/presipitasi, misalnya segera menghentikan merokok,
menghindari polusi udara.
2. Membersihkan sekresi bronkus dengan pertolongan berbagai cara.
3. Memberantas infeksi dengan antimikroba. Apabila tidak ada infeksi antimikroba
tidak perlu diberikan. Pemberian antimikroba harus tepat sesuai dengan kuman
penyebab infeksi yaitu sesuai hasil uji sensitivitas atau pengobatan empirik.
4. Mengatasi bronkospasme dengan obat-obat bronkodilator. Penggunaan
kortikosteroid untuk mengatasi proses inflamasi (bronkospasme) masih
controversial.
5. Pengobatan simtomatik.
6. Penanganan terhadap komplikasi-komplikasi yang timbul.
7. Pengobatan oksigen, bagi yang memerlukan. Oksigen harus diberikan dengan
aliran lambat 1-2 liter/menit.
8. Tindakan rehabilitasi yang meliputi:
1) Fisioterapi, terutama bertujuan untuk membantu pengeluaran secret bronkus.
2) Latihan pernapasan, untuk melatih penderita agar bisa melakukan pernapasan
yang paling efektif.
8

3) Latihan dengan beban olahraga tertentu, dengan tujuan untuk memulihkan


kesegaran jasmani.
4) Vocational guidance, yaitu usaha yang dilakukan terhadap penderita dapat
kembali mengerjakan pekerjaan semula.
5) Pengelolaan psikosial, terutama ditujukan untuk penyesuaian diri penderita
dengan penyakit yang dideritanya.

1.2 Manajemen Keperawatan


1.2.1 Pengkajian
1. Data Primer
a) Airway
Adanya sumbatan pada jalan napas bebas dari akibat dari penyempitan
bronkus maupun akibat terdapat benda asing
b) Breathing
Takikardi/takipnea; dispneu pada aktivitas atau istirahat
c) Circulation
TD : Peningkatan sistolik dengan diastolik stabil dan tekanan nadi
melebar, hipotensi postural
- Ekstremitas (warna) : Pucat pada kulit daan membran mukosa
(konjungtiva, mulut, faring, bibir) dan dasar kuku; kulit seperti berlilin,
pucat (aplastik, AP) atau kuning lemon terang (PA)
- Sklera (Biru atau putih)
- Pengisian kapiler melambat
d) Disability
Keadaan umum pasien biasanya lemah, rasa berdenyut, pusing / sakit
kepala karena sinar, kelemahan. Tingkat kesadaran dapat terganggu,
rentang dari agak cenderung tidur, disorientasi / bingung, sampai pingsan
dan koma (tergantung pada volume sirkulasi / oksigenasi)
e) Exposure:
Pada bagian ini biasanya tidak terdapat luka pada bagian tubuh pasien.
9

2. Data Sekunder
a) B1 (Breathing)
Sesak nafas, nyeri dada, napas cepat, RR > 24x/menit,terjadi karena ada
beberapa jaringan dan organ yang mengalami kekurangan oksigen,
adakah suara napas tambahan, adakah suara napas yang terdengar berat,
adakah retraksi sternal, intercoste, adakah tanda tanda distress
pernapasan, perhatikanwarna kulit pasien (adakah sianosis, pucat),
perhatikan warna membran mukosa (warna pink, atau pucat), apakah
kulit tampak hangat, kering, atau dingin kulit tampak hangat, kering,
atau dingin. Pada pasien dengan gangguan perfusi jaringan perifer akan
muncul tanda tanda tersebut.
b) B2 (Blood)
Perfusi jaringan menurun, nadi perifer lemah atau berkurang,
takikardi/bradikardi, hipertensi/ hipotensi, akral dingin, CRT > 2 detik,
konjungtiva anemis, adanya sianosis, warna kulit pasien pucat, adakah
tanda tanda sindrom kompartemen.
c) B3 (Brain)
Terjadi penurunan sensoris, GCS = 4,5,6, padapasien koma GCS = 1,1,1,
pupil isokort, kesadaran : compos metis, coma
d) B4 (Bladder)
Poliuri, retensio urine, inkontinensia urine,riwayat ISK, riwayat
gangguan BAK, apakah warnaurinenormal.
e) B5 (Bowel)
Terdapat polifagi, polidipsi, mual, muntah,dehidrase, apakah ada riwayat
gastritis, sirosishepatis, apendisitis, dan pankreatitis, apakah adarasa
nyeri pada abdomen.
f) B6 (Bone)
Periksa warna, tekstur, turgor, adakah tanda-tanda pucat,sianosis,
kekuningan, cepat lelah,lemah, apakah ada penyakit kulit akut, seperti
bintikmerah, luka bakar, memar, ptechiae. Apakah adapenyakit kulit
10

kronis, seperti eksema, acne,dermatitis alergi, pedikulosis, psoriosis dan


adakahgangren di ekstrimitas.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Apakah Klien pada umumnya mengeluh dadanya terasa sesak dan terasa
sulit untuk bernapas. Diawali batuk produktif berulang 3 bulan tidak
diketahui sebabnya.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Merupakan faktor pencetus timbulnya bronkitis (infeksi saluran napas,
adanya riwayat alergi, stress). Frekuensi timbulnya wheezing. Lama
penggunaan obat-obat sebelumnya misalnya bronchodilator atau mukolitik.
Adakah riwayat asma ataupun adanya faktor keturunan terhadap alergi.
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang lalu yang
mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang atau penyakit
lain misalnya DM, dan hipertensi

1.2.2 Diagnosa Keperawatan


Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menguraikan respon aktual
atau potensial klien terhadap masalah kesehatan yang perawat mempunyai izin dan
berkompeten untuk mengatasinya (Potter & Perry. 2011).
1.2.2.1 Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan ketidakadekuatan
batuk, peningkatan produksi mukus/peningkatan sekresi lendir
1.2.2.2 Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan kurangnya suplai oksigen
jaringan paru
1.2.2.3 Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen
(obstruksi jalan nafas oleh sekresi, spasme bronkus, jebakan udara).
1.2.2.4 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kompensasi tubuh terhadap
kebutuhan oksigen
1.2.2.5 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan memasukkan makanan, anoreksia, mual.
11

1.2.3 Intervensi
Intervensi keperawatan adalah semua tindakan yang dilakukan oleh perawat
untuk membantu klien beralih dari status kesehatan saat ini status kesehatan yang
diuraikan dalam hasil yang diharapkan (Potter & Perry. 2011).
Diagnosa 1: Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan
ketidakadekuatan batuk, peningkatan produksi mukus/peningkatan sekresi
lendir Tujuan: Setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan klien dapat
meningkatkan bersihan jalan napas. Kriteria hasil: Mampu mendemonstrasikan
batuk terkontrol, cairan adekuat
Intervensi Rasional
1. Kaji kemampuan klien untuk 1. Memantau tingkat kepatenan jalan
memobilisasi sekresi, jika tidak nafas dan meningkatkan
mampu : kemampuan klien merawat diri /
a. Ajarkan metode batuk membersihkan/membebaskan jalan
terkontrol nafas
b. Gunakan suction (jika perlu
untuk mengeluarkan sekret)
c. Lakukan fisioterapi dada
2. Secara rutin tiap 8 jam lakukan 2. Memantau kemajuan bersihan jalan
auskultasi dada untuk mengetahui nafas
kualitas suara nafas dan
kemajuannya.

3. Berikan obat sesuai dengan resep; 3. Mengencerkan secret agar mudah


mukolitik, ekspektorans dikeluarkan
4. Anjurkan minum kurang lebih 2 4. mengencerkan sekret
liter per hari bila tidak ada kontra
indikasi
5. Anjurkan klien mencegah infeksi/ 5. Menghindarkan bahan iritan yang
stressor menyebabkan kerusakan jalan
a. Cegah ruangan yang ramai nafas
pengunjung atau kontak
dengan individu yang
menderita influenza
b. Mencegah iritasi : asap rokok
Imunisasi : vaksinasi Influensa.
12

Diagnosa 2: Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan


suplai oksigen (obstruksi jalan nafas oleh sekresi, spasme bronkus, jebakan udara).
Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1 x 2 jam diharapkan
pertukaran gas kembali normal
kriteria hasil: Bernapas dengan mudah, tidak ada sianosis.
Intervensi Rasional
1. Kaji frekuensi, kedalaman 1. Berguna dalam evaluasi
pernapasan. derajat distres pernapasan
dan/atau kronisnya proses
penyakit.
2. Tinggikan kepala tempat tidur, 2. Pengiriman oksigen dapat
bantu pasien untuk memilih diperbaiki dengan posisi
posisi yang mudah untuk duduk tinggi.
bernapas.
3. Kaji/awasi secar rutin kulit dan 3. Sianosis mungkin perifer atau
warna membran mukosa. sentral. Keabu-abuan dan
sianosis sentral
mengidentifikasi beratnya
hipoksia.
4. Awasi tanda vital dan irama 4. Takikardia, disritmia, dan
jantung. perubahan TD dapat
menunjukkan efek hipoksia
sistemik pada fungsi jantung.
5. Kolaborasi: Berikan oksigen 5. Dapat memperbaiki
tambahan yang sesuai dengan ataumencegah memburuknya
indikasi hipoksia.
13

Diagnosa 3: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan ketidakmampuan memasukkan makanan, anoreksia, mual.
Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1 x 2 jam diharapkan
Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan
Kriteria hasil: Berat badan meningkat, klien tidak mual lagi saat makan, nilai
laboratorium normal, dan bebas tanda malnutrisi.
Intervensi Rasional
1. Kaji kebiasaan diet, masukan 1. Pasien distres pernapasan
makanan saat ini. Catat derajat akut sering anoreksia karena
kesulitan makan. Evaluasi berat dispnea, produksi sputum
badan dan ukuran tubuh. dan obat.
2. Berikan perawatan oral sering, 2. Rasa tak enak, bau dan
buang sekret, berikan wadah penampilan adalah pencegah
khusus untuk sekali pakai dan tisu. utama terhadap nafsu makan
dan dapat membuat mual dan
muntah dengan peningkatan
kesulitan napas.
3. Hindari makanan penghasil gas 3. Dapat menghasilkan distensi
dan minuman karbonat. abdomen yang menggangu
napas dan gerakan
diafragma, dan dapat
meningkatkan dispnea.
4. Hindari makanan yang panas atau 4. Suhu ekstrem dapat
sangat dingin. mencetuskan/meningkatkan
spasme batuk.

5. Kolaborasi: Konsul ahli gizi 5. Metode makan dan


pendukung tim untuk memberikan kebutuhan kalori didasarkan
makanan yang mudah di cerna. pada situasi/kebutuhan
individu untuk memberikan
nutrisi maksimal.
14

Diagnosa 4: Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak


adekuatnya pertahanan pertama (penurunan kerja silia, menetapnya sekret).
Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1 x 2 jam diharapkan
tidak terjadi infeksi dengan
Kriteria hasil: Tidak terjadi demam, suhu tubuh dalam batas normal.
Intervensi Rasional
1. Awasi suhu. 1. Demam dapat terjadi karena infeksi
dan/atau dehidrasi
2. Observasi warna, karakter, dan 2. Sekret berbau, kuning, atau kehijau-
bau sputum. hijauan menunjukkan adanya infeksi
paru.
3.Diskusikan kebutuhan makan 3. Malnutrisi dapat mempengaruhi
nutrisi adekuat. kesehatan umum dan menurunkan
tahanan terhadap infeksi.
1. Kolaborasi: Berikan antimikrobial 1. Dapat diberikan untuk organisme
sesuai indikasi. khusus yang teridentifikasi dengan
kultur dan sensitivitas.

Diagnosa 5: Kurang pengetahuan mengenai kondisi, tindakan berhubungan


dengan kurangnya informasi/ tidak mengenal sumber informasi.
Tujuan: Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosis dan kebutuhan
pengobatan.
Kriteria hasil: Melakukan perilaku/perubahan pola hidup untuk memperbaiki
kesehatan umum dan menurunkan resiko pengaktifan ulang tuberkulosis,
mengidentifikasi gejala yang memerlukan evaluasi/intervensi, menggambarkan
rencana untuk menerima perawatan kesehatan adekuat.
Intervensi Rasional
1.Kaji kemampuan pasien untuk belajar, 1. Belajar tegantung pada emosi dan
contoh tingkat takut, masalah, kesiapan fisik dan ditingkatkan pada
kelemahan, tingkat partisipasi, tahapan individu.
lingkungan terbaik dimana pasien
dapat belajar, seberapa banyak isi,
media terbaik, siapa yang terlibat.
2. Indentifikasi gejala yang harus 2. Dapat menunjukkan kemajuan atau
dilaporkan ke perawat, contoh pengaktifan ulang penyakit atau efek
hemoptisis, nyeri dada, demam, obat yang memerlukan evaluasi
kesulitan bernafas, kehilangan lanjut.
15

pendengaran, vertigo.
3. Tekankan pentingnya 3.Memenuhi kebutuhan metabolik
mempertahankan protein tinggi dan membantu meminimalkan kelemahan
diet karbohidratdan pemasukan dan meingkatkan penyembuhan.
cairan adekuat.

4. Cairan dapat 4. Informasi tertulis dapat menurunkan


mengencerkan/mengeluarkan secret. hambatan pasien untuk mengingat
Berikan instruksi dan informasi sejumlah besar informasi.
tertulis khusus pada pasien untuk Pengulangan menguatkan belajar.
rujukan contoh jadwal obat.
5. Jelaskan dosis obat, frekuensi 5.Meningkatkan kerja sama dalam
pemberian, kerja yang diharapkan, program pengobatan dan mencegah
dan alasan pengobatan lama. Kaji penghentian obat sesuai perbaikan
potensi interaksi dengan obat / kondisi pasien.
subtansi lain.
6. Kaji potensial efek samping 6. Mencegah atau menurunkan
pengobatan (contoh mulut kering, ketidaknyamanan sehubungan
konstipasi, gangguan penglihatan, dengan terapi dan meninggkatkan
sakit kepala, hipertensi ortostatik) kerja sama dalam program.
dan pemecahan masalah.

2.2.4 Implementasi
Implementasi merupakan komponen dari proses keperawatan, adalah kategori
dari perilaku keperawatan dimana tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan
dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan dilakukan dan diselesaikan
(Potter & Perry. 2011). Tahap awal tindakan keperawatan menunutut perawat
mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam tindakan. Persiapan tersebut
meliputi kegiatan-kegiatan: review tindakan keperawatan yang diidentifikasi pada
tahap perencanaan, menganalisa pengetahuan dan keterampilan keperawatan yang
diperlukan, mengetahui komplikasi dan tindakan keperawatan yang mungkin
timbul, menentukan dan mempersiapkan peralatan yang diperlukan, mempersiapkan
lingkungan yang konduktif sesuai dengan yang akan dilaksanakan, mengidentifikasi
aspek hokum dan etik terhadap resiko dari potensial tindakan.
16

2.2.5 Evaluasi
Evaluasi adalah langkah final dari proses keperawatan, yaitu suatu metode
sistematik untuk mengorganisasi dan memberikan asuhan keperawatan (Potter &
Perry. 2005). Evaluasi juga adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses
keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana
tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai, melalui evaluasi
memungkinkan perawat untuk memonitor kealpaan yang terjadi selam tahap
pengkajian, analisa, perencanaan, dan pelaksaan tindakan.