Anda di halaman 1dari 19

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

(UNIVERSITAS KRISTEN KRIDAWACANA)


Jl. Arjuna Utara No.6 Kebon Jeruk Jakarta Barat
KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU PENYAKIT KANDUNGAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
SMF ILMU PENYAKIT KEBIDANAN
RUMAH SAKIT SIMPANGAN DEPOK
PERIODE 03 APRIL 2017 10 JUNI 2017

Nama Mahasiswa : Mangara Wahyu Charros Tanda Tangan


NIM : 11 2015 207
Nama Pembimbing : dr. Elsa Fury, Sp. OG

IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. Y
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 37 tahun
Suku Bangsa : Jawa
Agama : Islam
Pendidikan : S1
Pekerjaan :
Status Perkawinan : Menikah
Alamat :r

IDENTITAS SUAMI PASIEN


Nama :
Usia : tahun
Agama : Islam
Suku Bangsa : Jawa
Pendidikam :
Pekerjaan :
Alamat :

1
ANAMNESIS
Dilakukan Autoanamnesis pada tanggal 27 Juni 2017 pukul 20.00 WIB di Ruang Kebidanan
RS Simpangan Depok
Keluhan Utama : Mual dan muntah sejak 2 minggu SMRS
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien hamil pertama dengan usia kehamilan 9 minggu, datang dengan keluhan mual
dan muntah sejak 2 minggu SMRS dan semakin memberat 2 hari SMRS. Mual dirasakan
terutama sehabis makan dan terkadang saat mencium aroma makanan tertentu. Saat minum
air putih pasien juga merasa mual. Pasien mengatakan muntah lebih dari 10 kali dalam sehari
dalam 2 hari SMRS. Muntah berisi makanan atau minuman yang dikonsumsi sebelumnya,
sekali muntah sekitar seperempat gelas aqua, tidak ada darah. Pasien juga mengeluhkan ulu
hatinya terasa nyeri dan pengeluaran air liurnya menjadi lebih banyak dari biasanya. Pasien
merasa lemas, nafsu makan menurun dan sulit tidur. Keluhan mual dan muntah ini sudah
dirasakan sejak awal kehamilan namun tidak begitu hebat. BAB dan BAK pasien normal.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien memiliki riwayat sakit maag sebelumnya. Riwayat tekanan darah tinggi, asma,
diabetes melitus, penyakit jantung dan penyakit lainnya disangkal. Riwayat alergi obat-
obatan dan makanan juga disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat mual dan muntah berlebihan saat kehamilan dalam keluarga disangkal.
Riwayat asma, diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung dan penyakit lainnya dalam
keluarga disangkal.
Riwayat Pemakaian Obat
Os menyangkal mengonsumsi obat-obatan jangka panjang. Selama kehamilan ini os
mengaku hanya mengonsumsi vitamin untuk kehamilan dari Puskesmas.
Riwayat Menstruasi
Menarche : 13 tahun
Siklus : 30 hari
Lamanya : 5-7 hari
Dismenorhe : Tidak
Hari Pertama Haid Terakhir : 2017
Taksiran Persalinan : 2017
Umur Kehamilan Sekarang : 8-9 minggu

2
Riwayat Pemeriksaan Antenatal
Os sudah melakukan pemeriksaan antenatal di Puskesmas.
Status Pernikahan
Status : Menikah
Pernikahan : 1 kali
Menikah umur : tahun
Riwayat Obstetri
G3P2A0
Anak Tahun Jenis Umur Berat Badan Jenis Hidup / Mati
ke- Persalinan Kelamin Kehamilan Lahir Persalinan
1 Hamil ini

Riwayat KB
Os mengaku tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi apapun
Riwayat Operasi
Os mengaku tidak pernah melakukan operasi apapun.
Riwayat Sosial
Riwayat merokok, konsumsi alkohol, pemakaian obat-obatan dan jamu disangkal

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan Umum : tampak sakit
Kesadaran : compos mentis
Tekanan Darah : 100 / 70 mmHg
Frekuensi Nadi : 78 kali/menit, reguler, kuat angkat
Frekuensi Napas : 18 kali/menit
Suhu : 36.5 oC
Berat Badan : 40 kg
Tinggi Badan : 155 cm
Mata : konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-)
Kulit : sawo matang, turgor kulit baik

3
Thoraks
Inspeksi : bentuk thoraks normal, gerakan dinding dada statis dan dinamsis
simetris.
Palpasi : pelebaran sela iga (-)
Perkusi : sonor seluruh lapang dada
Jantung : BJ I-II, reguler murni, gallop (-), murmur (-)
Paru-Paru : suara napas vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen : nyeri tekan epigastrium (+), bising usus (+) dbn
Ekstremitas : edema (-/-), akral hangat, CRT < 2 detik
Kelenjar Getah Bening
Submandibula : tidak ditemukan pembesaran
Supraklavikula : tidak ditemukan pembesaran
Lipat paha : tidak ditemukan pembesaran
Leher : tidak ditemukan pembesaran
Ketiak : tidak ditemukan pembesaran

STATUS OBSTETRI
Pemeriksaan Luar
Wajah : Chloasma gravidarum (-)
Payudara : Pembesaran payudara (+), hiperpigmentasi areola mammae (+), puting
susu menonjol (+), pengeluaran ASI (-)
Abdomen : Linea nigra (-), striae gravidarum (-), sikatrik (-), bekas operasi (-)
Pemeriksaan Dalam
Anogenital : Tidak dilakukan
Vagina Toucher : Tidak dilakukan

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Ultrasonografi (USG) tanggal 29 Mei 2017
Janin tunggal hidup intra uterine, usia kehamilan 12-13 minggu

4
Laboratorium Darah tanggal 29 Mei 2017
Pemeriksaan Hasil Rujukan
Hematologi:
Hemoglobin 11.4 g/dL 12 - 16
Leukosit 9.900 mm3 5.000 - 10.000
Hematokrit 32 % 37 - 47
Trombosit 214.000 mm3 150.000- 400.000

RESUME
Seorang wanita berusia 37 tahun G3P2A0 hamil 12-13 minggu, datang ke Ruang
Kebidanan RS Simpangan Depok dengan keluhan mual dan mutah sejak 2 minggu SMRS
dan memberat dalam 2 hari SMRS. Mual dirasakan terutama sehabis makan dan saat
mencium aroma makanan tertentu. Muntah lebih dari 10 kali dalam sehari dalam 2 hari
SMRS, berisi makanan atau minuman, sekali muntah sekitar seperempat gelas aqua. Ulu hati
terasa nyeri dan pengeluaran air liur berlebih dikeluhkan oleh pasien. Pasien merasa lemas,
nafsu makan menurun dan sulit tidur.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum: tampak sakit ringan, kesaran
compos mentis, TD 100/70mmHg, Nadi 78x/menit, pernapasan 18x/menit, suhu 36.5 oC, BB
40kg, dan tinggi badan 155cm. Turgor kulit baik, akral teraba hangat. Nyeri tekan
epigastrium (+). Pada pemeriksaan penunjang USG didapatkan janin hidup intrauterin
perkiraan usia kehamilan 8- 9 minggu. Pemeriksaan laboratorium didapatkan HB 11,4 g/dL,
leukosit 9.900, HT 32%, Trombosit 214.000.

DIAGNOSIS
G3P2A0 hamil 8- 9 minggu, janin tunggal hidup intra uteri, dengan hyperemesis gravidarum
tingkat I

TATALAKSANA
- IVFD D10% + 1 amp neurobion 5000 IU + 1 amp ondansetron 8mg, 20tpm
- Ranitidin 2x1 amp
- Mediamer B6 2x1

5
PROGNOSIS
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam

6
TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN
Mual dan muntah,pening,perut kembung, dan badan terasa lemah terjadi
hampir pada 50% kasus ibu hamil, dan terbanyak pada usia kehamilan 6-12 minggu.
Keluhan mual muntah sering terjadi pada waktu pagi sehingga dikenal juga dengan
morning sickness.Juga terdapat keluhan ptialisme,hipersalivasi yaitu banyak
meludah.Epulis gravidarum, infeksi gingivitis dapat menyebabkan perdarahan gusi.
Mual dan muntah disebabkan oleh kombinasi hormone estrogen dan
progesterone, walaupun hal ini tidak diketahui dengan pasti dan hormone human
chorionic gonadotropin juga berperan dalam menimbulkan mual dan
muntah.Gastroesophageal reflux terjadi kurang lebih 80 % dalam kehamilan, dan dapat
disebabkan oleh kombinasi menurunnya tekanan sfingter esophageal bagian bawah,
meningkatnya tekanan intragastrik, menurunnya kompetensi sfingter pilori dan
kegagalan mengeluarkan asam lambung.(1)
Mual dan muntah yang normal menjadi evolusi dari mekanisme pelindung
wanita hamil dan embrionya dari zat berbahaya dalam makanan, seperti mikroorganisme
patogen pada produk daging dan racun dalam tanaman, dengan dampak yang maksimal
selama embriogenesis (masa paling rentan dalam kehamilan).Hal ini didukung penelitian
yang menunjukkan bahwa lebih sedikit wanita yang mual dan muntah mengalami
keguguran dan kelahiran mati.(2)
Hiperemesis gravidarum ditandai dengan mual dan muntah persisten yang
berhubungan dengan ketosis dan penurunan berat badan (> 5% dari berat sebelum
hamil).Hiperemesis gravidarum dapat menyebabkan deplesi volume,ketidakseimbangan
asam basa dan elektrolit, kekurangan gizi, dan bahkan kematian.Hiperemesis berat yang
membutuhkan perawatan di rumah sakit terjadi pada 0,3-2% kehamilan.(2)

II. DEFINISI
Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi pada awal kehamilan
sampai umur kehamilan 20 minggu.(1)
Hipermesis gravidarum adalah muntah persisten tanpa penyebab yang jelas
berkaitan dengan ketonuria dan penurunan berat badan.(3)

7
Hiperemesis gravidarum adalah muntah-muntah yang terjadi pada kehamilan
trimester pertama yang bisa menyebabkan dehidrasi, gangguan elektrolit, nutrisi dan
metabolic yang mungkin membutuhkan rawat inap.Walaupun terbatas pada trimester
pertama, namun dari 20% pasien gejala masih terus berlanjut selama kehamilan.(4)
Hiperemesis gravidarum didefinisikan sebagai muntah cukup berat yang
menyebabkan penurunan berat badan, dehidrasi, alkalosis karena hilangnya asam klorida
dan hipokalemia.(5)

III. ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO

Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Tidak ada bukti
bahwa penyakit ini belum diketahui secara pasti. Tidak ada bukti bahwa penyakit ini
disebabkan oleh faktor toksik juga tidak ditemukan kelainan biokimia, perubahan-
perubahan anatomik yang terjadi pada otak, jantung, hati dan susunan syaraf, disebabkan
oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat kelemahan tubuh karena tidak makan
dan minum. Hiperemesis tampaknya berhubungan dengan tingginya atau
cepatnyakenaikan serum kehamilan yang berhubungan dengan hormon. Meskipun
stimulus yang tepat belum diketahui, penyebab diduga termasuk human chorionic
gonadotropin (hCG), estrogen, progesteron, leptin, hormon pertumbuhan plasenta,
prolaktin, tiroksin, dan hormon adrenocortical. Studi oleh Goodwin dan rekan kerja
(2008) menunjukkan keterlibatan sistem vestibular.Tampaknya tidak ada keraguan
bahwa dalam beberapa tapi tidak hampir semua kasus yang parah, terdapat komponen
psikologis yang saling mempengaruhi (Buckwalter dan Simpson, 2002). Dalam beberapa
kasus hiperemesis dilakukan terminasi elektif (Poursharif dan rekan, 2007) dan untuk
alasan yang tidak diketahui, janin perempuan meningkatkan risiko sebesar 1,5 kali
lipat(5).
Faktor lain yang meningkatkan risiko untuk masuk termasuk hipertiroidisme
pada kehamilan, kehamilan mola sebelumnya, diabetes, penyakit gastrointestinal, dan
asma (Fell dan rekan kerja, 2006). Selain itu juga ada faktor lain seperti berat badan
lebih, gestasi lebih dari satu, merokok dan nullipara. Hyperemesis juga muncul pada
26% penderita kehamilan mola.(4)

8
IV. PATOFISIOLOGI

Dasar patofisiologi dari hiperemesis gravidarum masih kontroversial.


Hiperemesis gravidarum terjadi sebagai interaksi kompleks faktor biologis, psikologis,
dan sosial budaya. Teori-teori yang berkembang antara lain(2)(3)(4)(6)
Perubahan hormonal
Wanita dengan hiperemesis gravidarum sering memiliki kadar hCG yang tinggi
yang menyebabkan hipertiroidisme sementara. hCG fisiologis dapat merangsang reseptor
thyroid-stimulating hormone (TSH) pada kelenjar tiroid. Puncak kenaikan hCG pada
trimester pertama. Beberapa wanita dengan hiperemesis gravidarum memiliki tanda
klinis hipertiroidisme. Namun, dalam porsi yang lebih besar (50-70%), nilai TSH
rendahdan tiroksin bebas (T4) tinggi (40-73%) serta tidak ada tanda klinis
hipertiroidisme, beredarnya antibodi tiroid, atau pembesaran tiroid. Dalam
hiperemesisgravidarum dengan hipertiroidisme transien, fungsi tiroid kembali normal
pada tengah trimester kedua tanpa pengobatan antitiroid. Hipertiroidisme secara klinis
dan antibodi tiroid biasanya tidak ada.
Sebuah laporan pada sebuah keluarga yang unik dengan hipertiroidisme
kehamilan berulang yang terkait dengan hiperemesis gravidarum menunjukkan mutasi
dalam domain ekstraselular dari reseptor TSH yang membuatnya menjadi responsif
terhadap tingkat hCG yang normal. Dengan demikian, kasus hiperemesis gravidarum
dengan hCG normal dapat disebabkan oleh berbagai isotypes hCG.
Sebuah korelasi positif antara tingkat serum hCG elevasi dan tingkat T4 bebas
telah ditemukan, dan beratnya mual tampaknya terkait dengan tingkat stimulasi tiroid.
hCG tidak dapat secara independen terlibat dalam etiologi hiperemesis gravidarum,
tetapi mungkin secara tidak langsung terlibat dengan kemampuannya untuk merangsang
kelenjar tiroid. Peningkatan hCG terkait dengan peningkatan imunoglobulin M,
komplemen, dan limfosit. Dengan demikian, proses imunitas mungkin bertanggung
jawab untuk hCG peningkatan hCG dalam darah atau isoform hCG dengan aktivitas
yang lebih tinggi pada tiroid. Namun ada kritik terhadap teori ini, bahwa (1) mual dan
muntah adalah gejala tidak biasa terjadi pada hipertiroidisme, (2) tanda-tanda
hipertiroidisme biokimia tidak universal dalam kasus hiperemesis gravidarum, dan (3)
beberapa studi telah gagal untuk mengkorelasikan tingkat keparahan gejala dengan
kelainan biokimia(2)

9
Tingkat estradiol yang tinggi mungkin berhubungan dengan tingkat keparahan
mual dan muntah pada pasien yang sedang hamil. Progesteron memuncak pada trimester
pertama dan menurunkan aktivitas otot polos, namun, studi telah gagal untuk
menunjukkan hubungan antara tingkat progesteron dan gejala mual dan muntah pada
wanita hamil. Lagiou et al mempelajari secara prospektif 209 wanita dengan mual dan
muntah yang menunjukkan bahwa kadar estradiol yang berkorelasi positif sementara
kadar prolaktin terbalik terkait dengan mual dan muntah dalam kehamilan dan tidak ada
korelasi dengan estriolatau progesteron.

Disfungsi gastrointestinal
Disritmia lambung telah dikaitkan dengan morning sickness. Disritmia dikaitkan
dengan mual. Mekanisme yang menyebabkan disritmia lambung termasuk tingkat
estrogen atau progesteron yang tinggi, gangguan tiroid, kelainan dalam tonus vagus dan
simpatik, dan sekresi vasopresin sebagai respon gangguan volume intravaskular.
Progesteron juga diduga menyebabkan mual dan muntah dengan cara menghambat
motilitas lambung dan irama kontraksi otot-otot polos lambung.Banyak dari faktor-
faktor ini hadir pada awal kehamilan. Faktor-faktor tersebut diduga lebih parah atau
saluran pencernaan lebih sensitif terhadap perubahan neural/humoral pada penderita
hiperemesis gravidarum.

Disfungsi hepatic
Penyakit hati, biasanya terdiri dari elevasi serum transaminase ringan, terjadi
pada hampir 50% pasien dengan hiperemesis gravidarum. Penurunan asam lemak
oksidasi (FAO) mitokondria telah diduga berperan dalam patogenesis penyakit hati ibu
terkait dengan hiperemesis gravidarum. Wanita heterozigot untuk kerusakan FAO
dengan hiperemesis gravidarum terkait dengan penyakit hati sambil membawa janin
dengan defek FAO akibat akumulasi asam lemak dalam plasenta dan menghasilkan
spesies oksigen reaktif. Kelaparan juga memicu lipolisis perifer dan beban peningkatan
asam lemak di sirkulasi ibu-janin, dikombinasikan dengan pengurangan kapasitas
mitokondria untuk mengoksidasi asam lemak pada ibu heterozigotdengan defek FAO,
juga dapat menyebabkan hiperemesis gravidarum danliver injury, meskipun demikian
janin tidak terpengaruh.

10
Infeksi
Helicobacter pylori adalah bakteri yang ditemukan di dalam perut yang dapat
memperburuk mual dan muntah dalam kehamilan. Studi telah menemukan bukti yang
bertentangan tentang peran H pylori di gravidarum hiperemesis. Penelitian terbaru di
Amerika Serikat tidak menunjukkan hubungan dengan hiperemesis gravidarum. Namun,
mual dan muntah persisten luar trimester kedua mungkin disebabkan oleh ulkus
peptikum aktif yang disebabkan oleh infeksi H pylori.

Vestibular dan penciuman


Penciuman yang terlalu sensitif dapat menjadi faktor yang berkontribusi terhadap
mual dan muntah selama kehamilan. Banyak ibu hamil mual karena bau masakan
makanan, khususnya daging. Kesamaan mencolok antara hiperemesis gravidarum dan
motion sickness menunjukkan bahwa gangguan vestibular subklinis mungkin
bertanggung jawab untuk beberapa kasus hiperemesis gravidarum.

Genetik
Dalam studi meneliti hiperemesis gravidarum pada keluarga, penelitian
menunjukkan aspek genetik yang mungkin untuk hiperemesis. Sebuah studi yang
dilakukan pada 544.087 kehamilan dari registri kelahiran wajib Norwegia 1967-2005.
Penelitian ini menunjukkan bahwa anak-anak perempuan yang lahir dari kehamilan
dengan hiperemesis memiliki risiko 3% memiliki hiperemesis pada kehamilan mereka
sendiri. Wanita yang lahir dari kehamilan tanpa hiperemesismemiliki risiko 1,1%. Dalam
survei diberikan kepada ibu yang memiliki kehamilan dengan komplikasi hiperemesis,
tingkat hiperemesis tinggi di antara saudara. Hal ini terutama di pada saudara kandung.
Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa predisposisi genetik mungkin memainkan
peran dalam hiperemesisgravidarium.

Masalah psikologis
Perubahan fisiologis yang berhubungan dengan kehamilan berhubungan dengan
keadaan psikologis wanita dan nilai-nilai budaya. Respon psikologi dapat mempengaruhi
dan memperburuk mual dan muntah selama kehamilan. Meskipun demikian, hiperemesis
gravidarum biasanya menjadi penyebab stres psikologisbukan sebaliknya. Dalam kasus
yang sangat tidak biasa, kasus hiperemesis gravidarum dapat mewakili penyakit jiwa,
termasuk konversi atau gangguan somatisasi atau depresi mayor.
11
V. KOMPLIKASI

Hiperemesis gravidarum yang menyebabkan komplikasi mual dan muntah pada hamil
muda bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya
elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. Berikut adalah komplikasi yang bisa terjadi
pada hyperemesis gravidarum

1. Hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis


terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna terjadilah
ketosis dengan tertimbunnya asam aseton asetik, asam hidroksi butirik dan aseton dalam
darah.
2. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan karena muntah menyebabkan dehidrasi
sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan khlorida darah dan klorida
air kemih turun. Selain itu juga dapat menyebabkan hemokonsentrasi sehingga aliran darah
ke jaringan berkurang.
3. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal
menambah frekuensi muntah muntah lebih banyak, dapat merusak hati dan terjadilah
lingkaran setan yang sulit dipatahkan

Selain dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit dapat terjadi pula


beberapa komplikasi lain yang parah namun jarang terjadi seperti di bawah ini(5):
Depressionsebab atau akibat
Esophageal ruptureBoerhaave syndrome
Hypoprothrombinemiavitamin K
Renal failuremungkin membutuhkan dialisis
Wernicke encephalopathydefisiensi thiamin, gejala khas dengan triad konfusi,
ataxia dan kelainan pada mata.
Sindroma Mallory-Weiss perdarahan, pneumothorax,pneumomediastinum,
pneumopericardium.

VI. KLASIFIKASI
Secara klinis, hiperemesis gravidarum dibedakan atas 3 tingkatan, yaitu(1) :

1. Tingkat I
Muntah yang terus menerus, timbul intoleransi terhadap makanan dan minuman, berat badan
menurun, nyeri epigastrium, muntah pertama keluar makanan, lender dan sedikit cairan

12
empedu, dan yang terakhir keluar darah.Nadi meningkat sampai 100x/ menit dan tekanan
darah sistolik menurun.Mata cekung dan lidah kering, turgor kulit berkurang dan urin sedikit
tetapi masih normal.
2. Tingkat II
Gejala lebih berat, segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan, haus hebat, subfebril,
nadi cepat dan lebih dari 100 140x/ menit,tekanan darah sistolik kurang dari 80 mmHg,
apatis, kulit pucat, lidah kotor, kadang ikterus, aseton, bilirubin dalam urin, dan berat badan
cepat menurun.
3. Tingkat III
Walaupun kondisi tingkat III sangat jarang, yang mulai terjadi adalah gangguan kesadaran
(delirium-koma), muntah berkurang atau berhenti, tetapi dapat terjadi ikterus , sianosis,
nistagmus, gangguan jantung, bilirubin, dan proteinuria dalam urin.

VII. DIAGNOSIS
o Amenorea yang disertai muntah hebat, pekerjaan sehari-hariterganggu.
o Fungsi vital : nadi meningkat 100 kali per menit, tekanan darah menurun pada keadaan
berat, subfebril dan gangguan kesadaran(apatis-koma)
o Fisik : Dehidrasi, kulit pucat, ikterus, sianosis, berat badan menurun, pada vaginal toucher
uterus besar sesuai besarnya kehamilan, konsistensi lunak, pada pemeriksaan inspekulo
serviks berwarna biru (livide).

Pada keluhan hiperemesis yang berulang perlu dipikirkan untuk konsultasi


psikologi.Diagnosis hiperemesis gravidarum tidak sukar. Harus ditentukan adanya
kehamilan muda dan muntah yang terus-menerus, sehingga mempengaruhi aktivitas
pasien. Bila diagnosis hiperemesis gravidarum sudah ditegakkan secara klinis maka
kehamilan mola dan gestasi multipel harus diperiksa karena bisa muncul bersama
dengan hiperemesis gravidarum pada 30% kasus.(4)

VII. DIAGNOSIS BANDING


Apendisitis
Penyakit bilier
Fatty liver
Hepatitis
Pankreatitis
Gastroesophageal reflux disease
Ulkus peptikum

13
Nefrolitiasis
Hyperthyroidism

VIII. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan laboratorium :

Urinalisis untuk keton dan berat jenis: Merupakan tanda kelaparan, keton dapat
membahayakan perkembangan janin. Gravitasi spesifik yang tinggi terjadi dengan penurunan
volume.
Serum elektrolit dan keton: Menilai status elektrolit untuk mengevaluasi kalium atau natrium,
mengidentifikasi alkalosis metabolik atau asidosis, dan mengevaluasi fungsi ginjal.
Enzim hati dan bilirubin: tingkat transaminase. Peningkatan dapat terjadi pada sebanyak 50%
dari pasien dengan hiperemesis gravidarum. Kenaikan transaminase ringan sering normal
kembali setelah mual berhenti. Bila enzim hati tinggi secara signifikan, mungkin tanda
kondisi lain yang mendasarinya seperti hepatitis (virus, iskemik, autoimun), atau beberapa
etiologi lainnya.
Amilase / lipase: tingkat amilase meningkat pada sekitar 10% pasien dengan hiperemesis
gravidarum. Lipase, bila dikombinasikan dengan amilase, dapat meningkatkan spesifisitas
dalam mendiagnosis pankreatitis sebagai suatu etiologi.
TSH, tiroksin bebas: Hiperemesis gravidarum sering dikaitkan dengan hipertiroidisme
transien dan menekan tingkat TSH pada 50-60% kasus. Namun, tiroksin bebas yang tinggi
mungkin menunjukkan hipertiroidisme, sehingga memerlukan pemeriksaan lebih lanjut dan
pengobatan.
Kultur urin: Ini dapat diindikasikan karena infeksi saluran kemih yang sering terjadi pada
kehamilan dan dapat berhubungan dengan mual dan muntah.
Tingkat Kalsium: Pertimbangkan mengukur tingkat Ca + +. Beberapa kasus yang jarang
terjadi menunjukkan hiperkalsemia yang terkait dengan hiperemesis gravidarum, akibat
hiperparatiroidisme.
Hematokrit: Meningkat karena volume cairan tubuh berkurang.
Leukosit : Leukositosis dengan shift to the left.
Panel hepatitis: Jika secara klinis mengindikasikan, hepatitis A, B, atau C mungkin susah
dibedakan dengan hiperemesis gravidarum.

14
Pemeriksaan radiologi

USG obstetribiasanya diperlukan pada pasien dengan HEG untuk mengevaluasi kehamilan
kembar atau penyakit trofoblas.
Pemeriksaan radiologi tambahan umumnya tidak diperlukan kecuali presentasi klinis atipikal
(misalnya, mual dan / atau muntah awal setelah 9-10 minggu usia kehamilan, mual dan / atau
muntah bertahan setelah 20-22 minggu, eksaserbasi akut) atau gangguan lain adalah
disarankan berdasarkan anamnesis atau temuan pemeriksaan fisik.
Jika diindikasikan secara klinis, melakukan ultrasonografi perut bagian atas untuk
mengevaluasi pankreas dan / atau traktus bilier.
Dalam kasus yang jarang terjadi, perut CT scan atau bahkan MRI dapat diindikasikan jika
apendisitis sedang dipertimbangkan sebagai penyebab mual dan muntah dalam kehamilan.

Pemeriksaan invasif

Pada pasien dengan nyeri perut atau perdarahan gastrointestinal bagian atas, endoskopi
gastrointestinal bagian atas tampaknya aman pada kehamilan, meski pengawasan yang hati-
hati disarankan.

IX. PENATALAKSANAAN(1)(2)(3)(4)(5)
Pada prinsipnya penatalaksanaan pada hiperemesis gravidarum adalah suportif.
Perubahan gaya hidup dan diet dapat membantu pasien. Pasien diedukasi untuk
menghindari bau-bauan yang tidak enak, makan jenis makanan karbohidrat yang kering
dan tidak terlalu berasa.Makan porsi kecil tapi sering. Jarak anatara makanan padat dan
cair minimal 2 jam.

1. Diet
Selama hamil ada kenaikan kebutuhan akan kalori sampai dengan 80.000 kcal.
Terutamapada 20 minggu terakhir.National Research Council 1989 menganjurkan
untukmemberikan kalori tambahan pada ibu hamil 300 kcal / hari selama hamil.
Bilakebutuhan ini tidak tercukupi maka kebutuhan energi ini akan diambil dari
persediaanprotein tubuh yang seharusnya disediakan untuk keperluan pertumbuhan
janin (Hytten, 1991).(7)Wanita kebutuhan kalorinya kurang lebih 25 kkal/kg,
sedangkan pria 30 kkal/kg.

15
Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III.
Makanan hanya berupa roti kering dan buah-buahan.Cairan tidak diberikan bersama makanan
tetapi 1 2 jam sesudahnya. Makanan ini kurang dalam semua zat zat gizi, kecuali vitamin
C, karena itu hanya diberikan selama beberapa hari.
Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang. Secara berangsur mulai
diberikan makanan yang bernilai gizi tinggi. Minuman tidak diberikan bersama makanan.
Makanan ini rendah dalam semua zat-zal gizi kecuali vitamin A dan D.
Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan. Menurut
kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan. Makanan ini cukup
dalam semua zat gizi kecuali Kalsium.

2. Cairan parenteral
Pilihan cairan adalah normal saline (NaCl 0,9%). Cairan dextrose tidak boleh
diberikan karena tidak mengandung sodium yang cukup untuk mengkoreksi hiponatremia.
Suplemen potasium boleh diberikan intravena sebagai tambahan. Pemberian nutrisi parenteral
lebih baik dihindari, bila pasien tidak dapat makan per oral, lebih baik melalui nasogastric
tube yang lebih tidak invasif, nutrisi parenteral bisa meningkatkan resiko komplikasi seperti
trombosis vena, selulitis, endokarditis bakterial dan pneumonia.

Berikut perhitungan cairan untuk rehidrasi.(8)

Diunduh dari http://www.merckmanuals.com/

3. Obat-obatan.
Antiemetik seperti Metoclopramide, 5-10 mg diminum setiap 8 jam dapat digunakan
selanjutnya. Promethazine, 12,5 mg oral atau rektal setiap 4 jam, atau dimenhydrinate 50-100
mg oral q4-6h, dapat ditambahkan juga. Ondansetron 4-10 mg oral atau IV setiap 8 jam dapat
digunakan.
Obat-obatan yang digunakan antara lain adalah vitaminB6 (piridoksin), antihistamin
dan agen-agen prokinetik.American College of Obstetricians and Gynecologists(ACOG)
merekomendasikan 10 mg piridoksin ditambah 12,5mg doxylamine per oral setiap 8 jam
sebagai farmakoterapilini pertama yang aman dan efektif. Dalam sebuah randomizedtrial,

16
kombinasi piridoksin dan doxylamine terbuktimenurunkan 70% mual dan muntah dalam
kehamilan(6).
Selain itu perlu ditambahkan juga Thiamine 100 mg IV minimal selama 3 hari untuk
mencegah Wernickes encephalophaty. Pemberian vitamin B6 ternyata tidak memberikan
manfaat secara medis(4).

4. Terapi psikologik
Perlu diyakinkan kepada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan
rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan serta menghilangkan masalah dan
konflik, yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.

5. Penghentian kehamilan
Pada sebagian kecil kasus keadaan tidak menjadi baik, bahkan mundur. Usahakan
mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatrik jika memburuk. Delirium, kebutaan, takikardi,
ikterus, anuria dan perdarahan merupakam manifestasi komplikasi organik. Dalam keadaan
demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk melakukan
abortus terapuetik sering sulit diambil, oleh karena disatu pihak tidak boleh dilakukan terlalu
cepat, tetapi dilain pihak tidak boleh menunggu sampai terjadi gejala irreversibel pada organ
vital.

6. Observasidan isolasi

Observasi dan isolasi dilakukan dalam kamar yang tenang cerah dan peradaran udara
yang baik hanya dokter dan perawat yang boleh keluar masuk kamar sampai muntah berhenti
dan pasien mau makan. Catat cairan yang masuk dan keluar selama 24 jam. Kadang-kadang
dengan isolasi saja gejala-gejala akan berkurang atau hilanhg tanpa pengobatan
Dibuat daftar kontrol cairan yang masuk dan yang dikeluarkan. Air kencing perlu
diperiksa sehari-hari terhadap protein, aseton, khlorida dan bilirubin. Suhu dan nadi diperiksa
setiap 4 jam dan tekanan darah 3 kali sehari. Dilakukan pemeriksaan hematokrit pada
permulaan dan seterusnya menurut keperluan. Bila selama 24 jam penderita tidak muntah dan
keadaan umum bertambah baik dapat dicoba untuk diberikan minuman, dan lambat laun
minuman dapat ditambah dengan makanan yang tidak cair. Dengan penanganan diatas, pada
umumnya gejala-gejala akan berkurang dan keadaan akan bertambah baik.

7. Pengobatan alternatif

17
Terapi alternatif seperti akupunktur dan jahe telah diteliti untuk
penatalaksanaan mual dan muntah dalam kehamilan.Akar jahe (Zingiber officinale
Roscoe) adalah salah satu pilihan nonfarmakologik dengan efek yang cukup
baik.Bahan aktifnya, gingerol, dapat menghambat pertumbuhan seluruh galur H.
pylori, terutama galur Cytotoxin associated gene (Cag) A+ yang sering menyebabkan
infeksi. Empat randomizedtrials menunjukkan bahwa ekstrak jahe lebih efektif
mengatasi mual muntah daripada plasebo dan efektivitasnya sama dengan vitamin B6.
Efek samping berupa refluks gastroesofageal dilaporkan pada beberapa penelitian,
tetapi tidak ditemukan efek sampingsignifikan terhadap keluaran kehamilan.Dosisnya
adalah 250 mg kapsul akar jahe bubuk per oral, empat kali sehari.Terapi akupunktur
untuk meredakan gejala mual dan muntah masih menjadi kontroversi.Penggunaan
acupressure pada titik akupuntur Neiguan P6 di pergelangan lengan menunjukkan
hasil yang tidak konsisten dan penelitiannya masih terbatas karena kurangnya uji yang
tersamar. Dalamsebuah studi yang besar didapatkan tidak terdapat efek yang
menguntungkan dari penggunaan acupressure,4 namun The Systematic Cochrane
Review mendukung penggunaan stimulasi akupunktur P6 pada pasien tanpa
profilaksis antiemetik. Stimulasi ini dapat mengurangi risiko mual.Terapi stimulasi
saraf tingkat rendah pada aspek volar pergelangan tangan juga dapat menurunkan
mual dan muntah serta merangsang kenaikan berat badan.

X. PROGNOSIS(3)(4)
Dengan penanganan yang baik prognosis hiperemesis gravidarum sangat
memuaskan tidak ada efek buruk yang kemudian terjadi pada ibu maupun janin.
Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri setelah 2-3 minggu, namun demikian pada
tingkatan yang berat, penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin yang menjadi
pegangan bagi kita untuk menilai maju mundurnya pasien adalah adanya aseton dam
urin dan berat badan sangat turun.
Penanganan yang buruk seperti nutrisi dan elektrolit yang tidak adekuat
menyebabkan rendahnya kadar thiamin, riboflavin, vitamin B6, dan vitamin A.
Wernickes enchephalopathy terjadi karena defisit thiamin. Hiponatremia yang terjadi
dapat menyababkan myelinosis pontine sentral. Selain itu jangka panjang dapat terjadi
berat bayi lahir rendah, perdarahan antepartum, kelahiran preterm dan berbagai kelainan
fetal.

18
XI. PENCEGAHAN(4)

Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum perlu dilaksananakan dengan jalan


memberikan penerangan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang
fisiologik, memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan
gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan,
menganjurkan mengubah makanan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil,
tetapi lebih sering dan diusahakan banyak makan karbohidrat dan berupa makanan
kering.Bila merasa lapar lebih baik makan jangan ditahan. Makanan yang berminyak dan
berbau lemak sebaiknya dihindarkan. Makanan dan minuman seyogyanya disajikan tidak
dalam keadaan panas atau sangat dingin. Dapat juga ditambahkan suplemen berupa
multivitamin. Defekasi yang teratur hendaknya dapat dijamin, menghindarkan
kekurangan karbohidrat merupakan faktor yang penting, oleh karenanya dianjurkan
makanan yang banyak mengandung gula.

19