Anda di halaman 1dari 11

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang
TEORI-TEORI DALAM KRIMINOLOGI semoga ini berguna dengan baik
meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga saya berterima kasih pada
Bapak Dosen mata kuliah Hukum Kriminologi Abulyatama yang telah
memberikan tugas makalah ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai Teori-teori Dalam Kriminologi. Kami
juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan
jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan
usulan demi perbaikan makalah yang telah Kami buat di masa yang akan datang,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi Kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya Kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan
saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Aceh Besar, Desember 2016

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
1.1 Latar Belakang.............................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah......................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN................................................................................. 2
2.1 Teori-Teori Dalam Krminologi..................................................... 2
2.2 Teori-teori kejahatan dari faktor Psikologis dan Psikiatris
(Psikologi Kriminal)................................................................... 5

2.3 Teori-teori kejahatan dari faktor Sosio-Kultural (Sosiologi


Kriminal)..................................................................................... 5

BAB III PENUTUP......................................................................................... 7


3.1 Kesimpulan................................................................................... 7

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 8

ii
MAKALAH HUKUM KRIMINOLOGI
TEORI-TEORI DALAM KRIMINOLOGI

Makalah ini Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah


Kriminologi

Disusun
Oleh:

DIDI IRAWAN
Nim: 15111003

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


PROGAM STUDI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
UNIVERSITAS ABULYATAMA ACEH
2016

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kriminologi sebagai salah satu cabang dari ilmu pengetahuan sosial
(social science), sebenarnya masih tergolong sebagai ilmu pengetahuan yang
masih muda, oleh karena kriminologi baru mulai menampakkan dirinya
sebagai salah satu disiplin ilmu pengetahuan pada abad ke XIII. Meskipun
tergolong ilmu yang masih muda, namun perkembangan kriminologi tampak
begitu pesat, hal ini tidak lain karena konsekuensi logis dari berkembangnya
pula berbagai bentuk kejahatan dalam masyarakat.
Perkembangan kejahatan bukanlah suatu hal yang asing, oleh karena
sejarah kehidupan manusia sejak awal diciptakan telah terbukti mengenal
kejahatan. Apalagi pada saat seperti sekarang ini perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi justru memberi peluang yang lebih besar bagi
berkembangnya berbagai bentuk kejahatan. Atas dasar itulah maka
kriminologi dalam pengaktualisasian dirinya berupaya mencari jalan untuk
mengantisipasi segala bentuk kejahatan serta gejala-gejalanya.
Berdasarkan pengertian kriminologi tersebut diatas, maka obyek kajian
kriminologi ditekankan pada gejala kejahatan seluas-luasnya dalam artian
mempelajari kejahatan dan penjahat, usaha-usaha pencegahan penanggulangan
kajahatan serta perlakuan terhadap penjahat. Sedang subjek kriminologi
adalah anggota dan kelompok masyarakat secara keseluruhan sebagai suatu
kelompok sosial yang memiliki gejala-gejala sosial sebagai suatu sistem yang
termasuk di dalarnnya gejala kejahatan yang tidak terpisahkan. Sehingga
berdasarkan pengertian kriminologi di atas juga dapat ditarik suatu pandangan
bahwa kriminologi bukanlah ilmu yang berdiri sendiri akan tetapi berada
disamping ilmu-ilmu lain, dalam arti kata interdisipliner.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa Teori-teori Dalam kriminologi ?
2. Tujuan Penulisan Makalah
3. Untuk Mengetahui Teori-Teori Dalam Kriminologi

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Teori-Teori Dalam Krminologi


Dalam perkembangan kriminologi, pembahasan mengenai sebab-
musabab kejahatan secara sistematis merupakan hal baru, meskipun
sebenarnya hal tersebut telah dibahas oleh banyak ahli kriminologi
(kriminolog). Di dalam kriminologi juga dikenal adanya beberapa teori yaitu:
1. Teori-teori yang menjelaskan kejahatan dari perspektif biologis dan
psikologis.
2. Teori-teori yang menjelaskan kejahatan dari perspektif sosiologi.
3. Teori-teori yang menjelaskan dari perspektif lainnya.
4. Teori-teori tentang sebab-musabab kejahatan berubah menurut
perkembangan zaman, Ninik Widiyanti dan Yulius Waskita (1987 : 57),
membagi sebab-sebab kejahatan dalam fase-fase pendahuluan yang
berkembang dari zaman ke zaman sebagai berikut :
a. Zaman kuno
Pada masa, ini dikenal pendapat Plato (427-347 SM) dan Aristoteles
(384-322 SM) yang pada dasarnya menyatakan makin tinggi
penghargaan manusia atas kekayaan makin merosot penghargaan akan
kesusilaan demikian pula sebaliknya kerniskinan (kemelaratan) dapat
mendorong manusia yang menderita, kerniskinan untuk melakukan
kejahatan dan pemberontakan.
b. Zaman abad pertengahan
Thomas Von Aquino (1226-1274 M) menyatakan bahwa orang kaya
yang hidup foya-foya bila miskin mudah menjadi pencuri.
Permulaan zaman baru dan masa sesudah revolusi Prancis banyak
dikemukakan dan sebab-sebab sosial lainnya juga masa kini dikenal dengan
masa, pertengahan hukuman yang terlalu bengis dan masa itu, sehingga
tampil tokoh-tokoh seperti Montesquieu, Beccaria dan lain-lain.
Masa sesudah revolusi Prancis sampai tahun 1830 mulai dikenal sebab-
sebab kejahatan dari faktor-faktor sosial ekonomi, antropologi dan psikiatri.

5
Teori tertua tentang sebab-sebab kejahatan adalah teori Roh jahat, seperti
yang dikatakan oleh R.Soesilo (1985 : 20), mengemukakan bahwa :
"Pendapat ini adalah yang tertua yang menyatakan, bahwa orang-orang
menjadi jahat karena pengaruh-pengaruh roh jahat ............
Terdapat beberapa teori dalam Kriminologi yang dapat dikelompokkan
ke dalam kelompok teori yang menjelaskan peranan dari faktor struktur sosial
yang mendukung timbulnya kejahatan, yaitu :
1. Teori Anomi : konsep anomi oleh R.Marton diformulasikan dalam rangka
menjelaskan keterkaitan antara kelas-kelas sosial dengan kecendrungan
pengadaptasiannya dalam sikap dan prilaku kelompok. Mengenai
penyimpangan dapat dilihat dari struktur sosial dan kultural.
2. Teori Differential Association : teori ini mengetengahkan suatu penjelasan
sistematik mengenai penerimaan pola-pola kejahatan.
3. Teori Kontrol Sosial : teori ini berangkat dari suatu asumsi/anggapan
bahwa individu didalam masyarakat mempunyai kecendrungan yang sama
akan suatu kemungkinannya.
4. Teori Frustasi Status : status sosial-ekonomi masyarakat yang rendah
menyebabkan masyarakat tidak dapat bersaing dengan masyarakat kelas
menengah.
5. Teori Konflik : pada dasarnya menunjukan pada perasaan dan keterasingan
khususnya yang timbul dari tidak adanya kontrol seseorang atas kondisi
kehidupannya sendiri.
6. Teori Lebeling : teori untuk mengukur mengapa terjadinya kejahatan.
Pendekatan labeling dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu persoalan
bagaimana dan mengapa seseorang memperoleh cap atau lebel, persoalan
kedua adalah bagaimana labeling mempengaruhi seseorang.
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, teori-
teori tentang sebab-musabab kejahatan semakin berkembang pula, pola pikir
masyarakat semakin meningkat tentang hal tersebut, pengaruh perkembangan
pola pikir. Adapun teori-teori kriminologi adalah sebagai berikut :
1. Teori-teori yang mencari sebab kejahatan dari ciri-ciri aspek fisik (Biologi
Kriminal)

6
2. Usaha-usaha mencari sebab-sebab kejahatan dari cirri-ciri biologis
dipelopori oleh ahli-ahli frenologi seperti Gall, Spurzeim yang mencari
hubungan antara bentuk tengkorak kepala dengan tingkah laku. Ajaran
biologi kriminal mendasarkan pada proposisi dasar :
3. Bentuk luar tengkorak kepala sesuai dengan apa yang ada di dalamnya dan
bentuk dari otak.
4. Akal terdiri dari kemampuan dan kecakapan
5. Kemampuan atau kecakapan ini berhubungan dengan bentuk otak dan
tengkorak kepala. Oleh karena otak merupakan organ dari akal sehingga
benjolan-benjolannya merupakan petunjuk dari kemampuan/kecakapan
organ.
Teori ini lebih tegas dituliskan oleh Ninik Widiyanti dan Yulius Waskita
(1987 : 53-54) dalam awal teorinya mengusulkan beberapa pendapat yakni
sebagai berikut :
1. Penjahat sejak lahir mempunyai tipe tersendiri
Tipe ini bisa dikenal dengan beberapa ciri tertentu, misalnya
tengkorak asimetris, rahang bawah yang panjang, hidung pesek, rambut
janggut jarang, tahan sakit.
Tanda-tanda lahiriah ini bukan penyebab kejahatan, mereka
merupakan tanda mengenal kepribadian yang cenderung dalam hal
kriminal behaviour itu sudah merupakan suatu pembawaan sejak lahir, dan
sifat-sifat pembawaan ini dapat terjadi dan membentuk atafisme atau
generasi keturunan epilepsy.
Karena kepribadian ini, maka mereka tidak dapat terhindar dari
melakukan kejahatan kecuali bila lingkungan dan kesempatan
memungkinkan.
Beberapa penganut aliran ini mengemukakan bahwa macam-macam
penjahat (pencuri, pembunuh, pelanggar seks), saling dibedakan oleh
tanda lahirnya/stigma tertentu".

7
2.2 Teori-teori kejahatan dari faktor Psikologis dan Psikiatris (Psikologi
Kriminal)
Psikologi criminal mencari sebab-sebab dari faktor psikis termasuk
agak baru, seperti halnya para positivis pada umumnya, usaha untuk mencari
cirri-ciri psikis kepada para penjahat di dasarkan anggapan bahwa penjahat
merupakan orang-orang yang mempunyai ciri-ciri psikis yang berbeda
dengan orang-orang yang bukan penjahat, dari cirri-ciri psikis tersebut
terletak pada intelegensinya yang rendah.
Psikologi criminal adalah mempelajari ciri-ciri psikis dari para pelaku
kejahatan yang sehat, artinya sehat dalam pengertian psikologis. Mengingat
konsep tentang jiwa yang sehat sulit dirumuskan, dan kalaupun ada maka
perumusannya sangat luas dan masih belum adanya perundang-undangan
yang mewajibkan para hakim untuk melakukan pemeriksaan
psikologis/psikiatris sehingga masih sepenuhnya diserahkan kepada psikolog.

2.3 Teori-teori kejahatan dari faktor Sosio-Kultural (Sosiologi Kriminal)


Obyek utama sosiologi criminal adalah mempelajari hubungan antara
masyarakat dengan anggotanya antara kelompok baik karena hubungan
tempat atau etnis dengan anggotanya antara kelompok dengan kelompok
sepanjang hubungan itu dapat menimbulkan kejahatan.
Menurut Sacipto Raharjo (2000 : 47), Teori-teori kejahatan dari aspek
sosiologis terdiri dari :
1. Teori-teori yang berorientasi pada kelas sosial, yaitu teori-teori yang
mencari sebab kejahatan dari ciri-ciri kelas sosial serta konflik diantara
kelas-kelas yang ada.
2. Teori-teori yang tidak berorientasi pada kelas sosial yaitu teori-teori yang
membahas sebab-sebab kejahatan dari aspek lain seperti lingkungan,
kependudukan, kemiskinan dan sebagainya.
Terjadinya suatu kejahatan sangatlah berhubungan dengan kemiskinan,
pendidikan, pengangguran dan faktor-faktor sosial ekonomi lainnya utamanya
pada negara berkembang, dimana pelanggaran norma dilatarbelakangi oleh
hal-hal tersebut (Ninik Widyanti dan Yulius Weskita, 1987: 62).

8
Pernyataan bahwa faktor-faktor ekonomi banyak mempengaruhi
terjadinya sesuatu kejahatan didukung oleh penelitian Clinard di Uganda
menyebutkan bahwa kejahatan terhadap harta benda akan terlihat naik dengan
sangat pada negara-negara berkembang, kenaikan ini akan mengikuti
pertumbuhan dan perkembangan ekonomi, hal ini disebabkan adanya
"Increasing demand for prestige articles for conficous consumfion " (Sahetapy
dan B.Mardjono Reksodiputro, 1989 : 94).
Di samping faktor ekonomi, faktor yang berperan dalam menyebabkan
kejahatan adalah faktor pendidikan yang dapat juga bermakna ketidak tahuan
dari orang yang melakukan kejahatan terhadap akibat-akibat perbuatannya, hal
ini diungkapkan oleh Goddard dengan teorinya (The mental tester theory)
berpendapat bahwa kelemahan otak (yang diturunkan oleh orang tua menurut
hukum-hukum kebakaran dari mental) menyebabkan orang-orang yang
bersangkutan tidak mampu menilai akibat tingkah lakunya dan tidak bisa
menghargai undang-undang sebagaimana mestinya (Ninik Widyanti dan
Yulius Weskita, 1987: 54).
Faktor lain yang lebih dominan adalah faktor lingkungan, Bonger (R.
Soesilo, 1985 : 28), dalam "in leiding tot the criminologie " berusaha
menjelaskan betapa pentingnya faktor lingkungan sebagai penyebab
kejahatan. Sehingga dengan demikian hal tersebut di atas, bahwa faktor
ekonomi, faktor pendidikan dan faktor lingkungan merupakan faktor-faktor
yang lebih dominan khususnya kondisi kehidupan manusia dengan kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi.

9
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Teori-teori yang mencari sebab kejahatan dari ciri-ciri aspek fisik
(Biologi Kriminal)
Usaha-usaha mencari sebab-sebab kejahatan dari cirri-ciri biologis
dipelopori oleh ahli-ahli frenologi seperti Gall, Spurzeim yang mencari
hubungan antara bentuk tengkorak kepala dengan tingkah laku. Ajaran
biologi kriminal mendasarkan pada proposisi dasar :
1. Bentuk luar tengkorak kepala sesuai dengan apa yang ada di dalamnya dan
bentuk dari otak.
2. Akal terdiri dari kemampuan dan kecakapan
Kemampuan atau kecakapan ini berhubungan dengan bentuk otak dan
tengkorak kepala. Oleh karena otak merupakan organ dari akal sehingga
benjolan-benjolannya merupakan petunjuk dari kemampuan/kecakapan
organ.
Teori-teori kejahatan dari faktor Psikologis dan Psikiatris (Psikologi
Kriminal)
Psikologi criminal adalah mempelajari ciri-ciri psikis dari para pelaku
kejahatan yang sehat, artinya sehat dalam pengertian psikologis. Mengingat
konsep tentang jiwa yang sehat sulit dirumuskan, dan kalaupun ada maka
perumusannya sangat luas dan masih belum adanya perundang-undangan
yang mewajibkan para hakim untuk melakukan pemeriksaan
psikologis/psikiatris sehingga masih sepenuhnya diserahkan kepada psikolog.
Teori-teori kejahatan dari faktor Sosio-Kultural (Sosiologi Kriminal)
Obyek utama sosiologi criminal adalah mempelajari hubungan antara
masyarakat dengan anggotanya antara kelompok baik karena hubungan
tempat atau etnis dengan anggotanya antara kelompok dengan kelompok
sepanjang hubungan itu dapat menimbulkan kejahatan.

10
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Syani, 1987, Kejahatan dan Penyimpangan Suatu Perspektif Kriminilogi,


Bina Aksara, Jakarta

Abussalam, 2007, Kriminologi, Restu Agung, Jakarta.

Andi Zainal Abidin Farid, 1981, Hukum Pidana I, Sinar Grafika, Jakarta.

Barda Nawawi Arief, 1991, Upaya Non Penal dalam Penanggulangan Kejahatan,
PT. Citra Aditya Bakti, Semarang.

Kanter dan Sianturi, 2002, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia dan


Penerapannya. Storia Grafika, Jakarta

Moeljatno, 1985, Asas-asas Hukum Pidana, Bina Aksara, Jakarta

Moeljatno. Kriminologi. Cet Kedua. Jakarta. Bina Aksara. 1986

R. Soesilo, 1985, Kriminologi (Pengetahuan tentang sebab-sebab Kejahatan),


Politea, Bogor.

Rusli Effendy, 1983, Ruang Lingkup Kriminologi, Alumni, Bandung

Sacipto Raharjo, 2000, Ilmu Hukum, Citra Adhitya Bhakti, Jakarta

Sahetapy dan Mardjono Reksodiputro, 1982, Paradoks dalam Kriminologi,


Rajawali, Jakarta

Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar, Rajawali Pers, Jakarta.

11