Anda di halaman 1dari 12

Pendekatan deduktif (deductive approach) adalah pendekatan yang

menggunakan logika untuk menarik satu atau lebih kesimpulan


(conclusion) berdasarkan seperangkat premis yang diberikan. Dalam
sistem deduktif yang kompleks, peneliti dapat menarik lebih dari satu
kesimpulan. Metode deduktif sering digambarkan sebagai pengambilan
kesimpulan dari sesuatu yang umum ke sesuatu yang khusus.
Pendekatan deduktif merupakan proses penalaran yang bermula dari
keadaan umum ke keadaan khusus sebagai pendekatan pengajaran
yang bermula dengan menyajikan aturan, prinsip umum dan diikuti
dengan contoh-contoh khusus atau penerapan aturan, prinsip umum ke
dalam keadaan khusus. (http://maistrofisika.blogspot.com).
Contoh pendekatan deduktif adalah sebagai berikut:

Seorang guru memberikan materi tentang volume balok kepada siswa.


Pada awal pembelajaran guru memberikan definisi dan konsep
mengenai balok dan rumus volume balok. Kemudian guru menerapkan
rumus volume tersebut pada beberapa contoh soal. Selanjutnya guru
memberikan beberapa tugas kepada siswa yang sesuai contoh yang
telah diberikan. Tugas ini bertujuan untuk mengukur pemahaman siswa
mengenai materi yang telah disampaikan.

Pendekatan induktif menekanan pada pengamatan dahulu, lalu menarik


kesimpulan berdasarkan pengamatan tersebut. Metode ini sering
disebut sebagai sebuah pendekatan pengambilan kesimpulan dari
khusus menjadi umum. Pendekatan induktif merupakan proses
penalaran yang bermula dari keadaan khusus menuju keadaan umum.
Alternatif pendekatan pembelajaran lainnya selain dengan pembelajaran
pendekatan deduktif adalah dengan pendekatan induktif . Beberapa
contoh pembelajaran dengan pendekatan induktif misalnya
pembelajaran inkuiri, pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran
berbasis proyek, pembelajaran berbasis kasus, dan pembelajaran
penemuan. Pembelajaran dengan pendekatan induktif dimulai dengan
melakukan pengamati terhadap hal-hal khusus dan
menginterpretasikannya, menganalisis kasus, atau memberi masalah
konstekstual, siswa dibimbing memahami konsep, aturan-aturan, dan
prosedur-prosedur berdasar pengamatan siswa sendiri.

Contoh pendekatan induktif adalah sebagai berikut :


Seorang guru memberikan materi mengenai bangun datar persegi
panjang. Diawal pembelajaran guru menyuruh siswa untuk membuat
persegi panjang dengan menggunakan alat peraga berupa kertas.
Siswa dituntut untuk membentuk kertas tersebut menjadi sebuah
bangun persegi panjang. Siswa diperintah untuk berdiskusi tentang sifat
sifat bangun persegi panjang. Kemudian pada akhir pembelajaran
siswa dan guru sama sama saling menyimpulkan mengenai sifat
sifat bangun persegi panjang.

Pendekatan Induktif dan Deduktif


January 5, 2015 by aldisamah in Uncategorized

Pendekatan pembelajaran digunakan sebagai penjelas untuk mempermudah bagi para guru memberikan pelayanan belajar

dan juga mempermudah bagi siswa untuk memahami materi ajar yang disampaikan guru, dengan memelihara suasana

pembelajaran yang menyenangkan.

Menurut Sagala (2010:68) menjelaskan bahwa Pendekatan pembelajaran merupakan jalan yang akan ditempuh oleh guru

dan siswa dalam mencapai tujuan instruksional untuk satuan instruksional tertentu.

Sedangkan menurut Sanjaya (2008:125) menyatakan bahwa Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut

pandang kita terhadap proses pembelajaran.

Istilah pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Oleh

karena itu metode pembelajaran yang digunakan dapat bersumber atau tergantung dari pendekatan tertentu.

Menurut Wahjoedi (1999:121) bahwa, Pendekatan pembelajaran adalah cara mengelola kegiatan belajar dan perilaku siswa

agar ia dapat aktif melakukan tugas belajar sehingga dapat memperoleh hasil belajar secara optimal.

Berdasarkan pengertian tentang pendekatan pembelajaran tersebut dapat disimpulkan bahwa, pendekatan pembelajaran

merupakan cara kerja yang mempunyai sistem untuk memudahkan pelaksanaan proses pembelajaran dan membelajarkan

siswa guna membantu dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

1. Pendekatan induktif

Pendekatan induktif pada awalnya dikemukakan oleh filosof Inggris Perancis Bacon yang menghendaki agar penarikan

kesimpulan didasarkan pada fakta-fakta yang konkrit sebanyak mungkin, sistem ini dipandang sebagai sistem yang paling

baik pada abad pertengahan yaitu cara induktif disebut juga sebagai dogmatif artinya bersifat mempercayai bagitu saja tanpa
diteliti secara rasional. Pada dasarnya berpikir induktif ialah suatu proses dalam berpikir yang berlangsung dari khusus

menuju ke yang umum.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Sagala (2010:77) yang mengatakan bahwa Dalam konteks pembelajaran pendekatan

induktif adalah pendekatan pengajaran yang bermula dengan menyajikan sejumlah keadaan khusus kemudian dapat

disimpulkan menjadi suatu prinsip atau aturan.

Sedangkan menurut Yamin (2008:89) menyatakan bahwa:

Pendekatan induktif dimulai dengan pemberian kasus, fakta, contoh, atau sebab yang mencerminkan suatu konsep atau

prinsip. Kemudian siswa dibimbing untuk berusaha keras mensintesiskan, menemukan, atau menyimpulkan prinsip dasar

dari pelajaran tersebut.

Mengajar dengan pendekatan induktif adalah cara mengajar dengan cara penyajian kepada siswa dari suatu contoh yang

spesifik untuk kemudian dapat disimpulkan menjadi suatu aturan prinsip atau fakta yang pasti.

Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pendekatan induktif adalah pendekatan pengajaran yang berawal

dengan menyajikan sejumlah keadaan khusus kemudian dapat disimpulkan menjadi suatu kesimpulan, prinsip atau aturan

Menurut Yamin (2008:90) pendekatan induktif tepat digunakan manakala:

1) Siswa telah mengenal atau telah mempunyai pengalaman yang berhubungan dengan mata pelajaran tersebut,

2) Yang diajarkan berupa keterampilan komunikasi antara pribadi, sikap, pemecahan, dan pengambilan keputusan,

3) Pengajar mempunyai keterampilan fleksibel, terampil mengajukan pertanyaan terampil mengulang pertanyaan, dan

sabar,

4) Waktu yang tersedia cukup panjang.

Menurut Sagala (2010:77) langkah-langkah yang harus ditempuh dalam model pembelajaran dengan pendekatan

induktif yaitu:

1) Memilih dan mementukan bagian dari pengetahuan (konsep, aturan umum, prinsip dan sebagainya) sebagai pokok

bahasan yang akan diajarkan.


2) Menyajikan contoh-contoh spesifik dari konsep, prinsip atau aturan umum itu sehingga memungkinkan siswa

menyusun hipotesis (jawaban sementara) yang bersifat umum.

3) Kemudian bukti-bukti disajikan dalam bentuk contoh tambahan dengan tujuan membenarkan atau menyangkal

hipotesis yang dibuat siswa.

4) Kemudian disusun pernyataan tentang kesimpulan misalnya berupa aturan umum yang telah terbukti berdasarkan

langkah-langkah tersebut, baik dilakukan oleh guru atau oleh siswa.

Adapun kelebihan dan kelemahan dari pendekatan induktif dibandingkan dengan pendekatan lain adalah :

1. Kelebihan dari pendekatan induktif antara lain :


2. a) Memberikan kesempatan pada siswa untuk berusaha sendiri atau menemukan sendiri suatu konsep sehingga
akan diingat dengan lebih baik.
3. b) Murid memahami sifat atau rumus melalui serangkaian contoh. Kalau terjadi keraguan mengenai pengertian
dapat segera diatasi sejak masih awal.
4. c) Dapat meningkatkan semangat belajar siswa.
2. Kelemahan dari pendekatan induktif antara lain :
3. a) Memerlukan banyak waktu.
4. b) Kadang-kadang hanya sebagian siswa yang terlibat secara aktif.
5. c) Sifat dan rumus yang diperoleh masih memerlukan latihan atau aplikasi untuk memahaminya.
6. d) Secara matematik (formal) sifat atau rumus yang diperoleh dengan pendekatan induktif masih belum menjamin
berlaku umum.
7. Pendekatan Deduktif

Pembelajaran dengan pendekatan deduktif terkadang sering disebut pembelajaran tradisional yaitu guru memulai dengan

teori-teori dan meningkat ke penerapan teori. Dalam bidang ilmu sains dijumpai upaya mencoba pembelajaran dan topik

baru yang menyajikan kerangka pengetahuan, menyajikan teori-teori dan rumus dengan sedikit memperhatikan pengetahuan

utama siswa, dan kurang atau tidak mengkaitkan dengan pengalaman mereka. Pembelajaran dengan pendekatan deduktif

menekankan pada guru mentransfer informasi atau pengetahuan.

Menurut Setyosari (2010:7) menyatakan bahwa Berpikir deduktif merupakan proses berfikir yang didasarkan pada

pernyataan-pernyataan yang bersifat umum ke hal-hal yang bersifat khusus dengan menggunakan logika tertentu.

Hal serupa dijelaskan oleh Sagala (2010:76) yang menyatakan bahwa:

Pendekatan deduktif adalah proses penalaran yang bermula dari keadaaan umum kekeadaan yang khusus sebagai pendekatan

pengajaran yang bermula dengan menyajikan aturan, prinsip umum diikuti dengan contoh-contoh khusus atau penerapan

aturan, prinsip umum itu kedalam keadaan khusus.

Sedangkan menurut Yamin (2008:89) menyatakan bahwa Pendekatan deduktif merupakan pemberian penjelasan tentang

prinsip-prinsip isi pelajaran, kemudian dijelaskan dalam bentuk penerapannya atau contoh-contohnya dalam situasi tertentu.
Dalam pendekatan deduktif menjelaskan hal yang berbentuk teoritis kebentuk realitas atau menjelaskan hal-hal yang bersifat

umum ke yang bersifat khusus. Disini guru menjelaskan teori-teori yang telah ditemukan para ahli, kemudian menjabarkan

kenyataan yang terjadi atau mengambil contoh-contoh.

Dari penjelasan beberapa teori dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan deduktif adalah cara berfikir dari hal yang

bersifat umum ke hal-hal yang bersifat khusus.

Menurut Yamin (2008:89) pendekatan deduktif dapat dipergunakan bila:

1) Siswa belum mengenal pengetahuan yang sedang dipelajari,

2) Isi pelajaran meliputi terminologi, teknis dan bidang yang kurang membutuhkan proses berfikir kritis,

3) Pengajaran mengenai pelajaran tersebut mempunyai persiapan yang baik dan pembicaraan yang baik,

4) Waktu yang tersedia sedikit.

Menurut Sagala (2010:76) langkah-langkah yang dapat digunakan dalam pendekatan deduktif dalam pembelajaran adalah

1) guru memilih konsep, prinsip, aturan yang akan disajikan dengan pendekatan deduktif,

2) guru menyajikan aturan, prinsip yang berifat umum, lengkap dengan definisi dan contoh-contohnya,

3) guru menyajikan contoh-contoh khusus agar siswa dapat menyusun hubungan antara keadaan khusus dengan aturan

prinsip umum,

4) guru menyajikan bukti-bukti untuk menunjang atau menolak kesimpulan bahwa keadaan khusus itu merupakan

gambaran dari keadaan umum.

Adapun kelebihan dan kelemahan dari pendekatan deduktif dibandingkan dengan pendekatan lain adalah :

1. Kelebihan pendekatan deduktif antara lain:


2. a) Tidak memerlukan banyak waktu.
3. b) Sifat dan rumus yang diperoleh dapat langsung diaplikasikan kedalam soal-soal atau masalah yang konkrit.
4. Kelemahan pendekatan deduktif antara lain:
5. a) Siswa sering mengalami kesulitan memahami makna matematika dalam pembelajaran. Hal ini disebabkan siswa
baru bisa memahami konsep setelah disajikan berbagai contoh.
6. b) Siswa sulit memahami pembelajaran matematika yang diberikan karna siswa menerima konsep matematika
yang secara langsung diberikan oleh guru.
7. c) Siswa cenderung bosan dengan pembelajaran dengan pendekatan deduktif, karna disini siswa langsung
menerima konsep matematika dari guru tanpa ada kesempatan menemukan sendiri konsep tersebut.
Konsep tidak bisa diingat dengan baik oleh siswa.

Pendekatan Deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa


umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu
kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus.

Metode ini diawali dari pembentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen
dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih
dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya
dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks pendekatan deduktif
tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.

Contoh Deduktif : jika meneliti konsumsi rumah tangga untuk minyak, maka
sebelum turun ke lapangan yang dipersiapkan adalah teori konsumsi, permintaan
dan penawaran barang, dll. pertanyaan yang akan diajukan sudah jelas dan hampir
baku, sampelnya jelas, dll. artinya sudah disiapkan semua tinggal cari data.

Pendekatan Induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus


sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau
pengetahuan baru yang bersifat umum.

Dalam hal ini pendekatan induktif merupakan kebalikan dari pendekatan deduktif.
Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memliki konsep
secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan
tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan
merupakan persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan
memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan
melakukan generalisasi.

Contoh Induktif : bisa jadi langsung ke lapangan untuk wawancara secara mengalir
(contoh penelitian tentang konflik pilkada di desa X) artinya tidak perlu pakai
kuesioner tapi tetapi menggunakan interview guide dan biasanya jenis pertanyaan
terbuka dan di lapangan bisa berkembang.

Kedua pendekatan tersebut di atas (pendekatan deduktif dan induktif), seolah-olah


merupakan cara berpikir yang berbeda dan terpisah. Tetapi dalam prakteknya,
antara berangkat dari teori atau berangkat dari fakta empirik merupakan lingkaran
yang tidak terpisahkan.

Kalau kita berbicara teori sebenarnya kita sedang mengandaikan fakta dan kalau
berbicara fakta maka kita sedang mengandaikan teori (Heru Nugroho; 2001: 69-70).
Dengan demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua pendekatan
tersebut dapat digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan
dilaksanakan dalam suatu wujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah
dan taat pada hukum-hukum logika.

dikutip dari berbagai sumber


- See more at: http://aina-tunk.blogspot.my/2012/07/teori-pendekatan-deduktif-
dan.html#sthash.qtYE3EEg.dpuf

PENDEKATAN DEDUKTIF & INDUKTIF TEORI AKUNTANSI

1. Pendekatan Deduktif
Pendekatan deduktif (deductive approach) adalah pendekatan yang menggunakan
logika untuk menarik satu atau lebih kesimpulan (conclusion) berdasarkan seperangkat
premis yang diberikan. Dalam sistem deduktif yang kompleks, peneliti dapat menarik lebih
dari satu kesimpulan. Metode deduktif sering digambarkan sebagai pengambilan kesimpulan
dari sesuatu yang umum ke sesuatu yang khusus (going from the general to the specific).
Dari asumsi atau dalil dasar akuntansi dan konklusi logis yang diperoleh dan sejumlah
prinsip akuntansi untuk menyajikan petunjuk dan dasar bagi pengembangan teknik-teknik
akuntansi selanjutnya. Tahap-tahap pendekatan deduktif :
1. Penetapan-penetapan tujuan pelaporan keuangan
2. Pemilihan dalil-dalil akuntansi
3. Penentuan prinsip-prinsip akuntansi
4. Pengembangan teknik-teknik akuntansi.
Contoh:
Jika meneliti konsumsi rumah tangga untuk minyak, maka sebelum turun ke lapangan yang
dipersiapkan adalah teori konsumsi, permintaan dan penawaran barang, dll. pertanyaan yang
akan diajukan sudah jelas dan hampir baku, sampelnya jelas, dll. artinya sudah disiapkan
semua tinggal cari data.

2. Pendekatan Induktif
Pendekatan ini dimulai dengan serangkaian pengamatan terhadap informasi keuangan
dari bisnis perusahaan dan selanjutnya akan diperoleh rumusan gagasan serta prinsip-prinsip
akuntansi dari pengamatan tersebut dengan menggunakan dasar hubungan yang terjadi secara
berulang.
Pendekatan Induktif menekankan pada pengamatan dahulu, lalu menarik kesimpulan
berdasarkan pengamatan tersebut. Metode ini sering disebut sebagai sebuah pendekatan
pengambilan kesimpulan dari khusus menjadi umum (going from specific to the general).
APB Statement No. 4 adalah contoh dari penelitian induksi, Statement ini adalah suatu usaha
APB untuk membangun sebuah teori akuntansi. Generally Accepted Accounting Principles
(GAAP) yang dijelaskan di dalam pernyataan (statement) dibangun berdasarkan observasi
dari praktek yang ada. Pendekatan induktif dalam penyusunan teori mencakup empat tahap :
1. Pencatatan seluruh pengamatan
2. Penganalisaan dan pengelompokan pengamatan untuk mendeteksi adanya hubungan yang
berulang (kesamaan atau kemiripan)
3. Penginduksian asal mula konklusi-konklusi dan prinsip-prinsip akuntansi dari pengamatan-
pengamatan yang menggambarkan hubungan secara berulang.
4. Pengujian konklusi-konklusi yang dibuat.

Contoh:
Bisa jadi langsung ke lapangan untuk wawancara secara mengalir (contoh penelitian tentang
konflik pilkada di desa X) artinya tidak perlu pakai kuesioner tapi tetapi menggunakan
interview guide dan biasanya jenis pertanyaan terbuka dan di lapangan.

3. Perbedaan Pendekatan Deduktif & Induktif

Teori normatif (normative theory) menggunakan pertimbangan nilai (value


judgement) yang berisi satu atau lebih premis menjelaskan cara yang seharusnya ditempuh.
Sebagai contoh, premis yang menyatakan bahwa laporan akuntansi (accounting reports)
seharusnya didasarkan kepada pengukuran nilai aset bersih yang bisa direalisasi (net
realizable value measurements of assets) merupakan premis dari teori normatif. Sebaliknya,
teori deskriptif (descriptive theory) berupaya untuk menemukan hubungan yang sebenarnya
terjadi. Meskipun terdapat pengecualian, sistem deduktif umumnya bersifat normatif dan
pendekatan induktif umumnya berupaya untuk bersifat deskriptif. Hal ini karena metode
deduktif pada dasarnya merupakan sistem yang tertutup dan nonempiris yang kesimpulannya
secara ketat didasarkan kepada premis. Sebaliknya, karena berupaya untuk menemukan
hubungan empiris, pendekatan induktif bersifat deskriptif.
Salah satu pertanyaan yang menarik adalah apakah temuan riset empiris dapat bebas
nilai (value-free) atau netral karena pertimbangan nilai sesungguhnya mendasari bentuk dan
isi riset tersebut. Meskipun riset empiris berupaya untuk deskriptif, penelitinya tidak mungkin
sepenuhnya bersikap netral dengan dipilihnya suatu permasalahan yang akan diteliti dan
dirumuskannya definisi konsep yang terkait dengan permasalahan tersebut. Perbedaan yang
lebih mencolok antara sistem deduktif dan induktif adalah: kandungan atau isi (contents) teori
deduktif kadang bersifat global (makro) sedangkan teori induktif umumnya bersifat
partikularistik (mikro). Oleh karena premis sistem deduktif bersifat total dan menyeluruh
maka kesimpulannya pasti bersifat global. Sistem induktif, karena didasarkan kepada
fenomena empiris umumnya hanya berfokus kepada sebagian kecil dari fenomena tersebut
yang relevan dengan permasalahan yang diamatinya.
Meskipun pembedaan antara sistem deduktif dan induktif bermanfaat untuk maksud
pengajaran, dalam praktek riset pembedaan ini seringkali tidak berlaku. Dengan kata lain,
keduanya bukanlah pendekatan yang saling bersaing tetapi saling melengkapi
(complementary) dan seringkali digunakan secara bersama. Metode induktif bisa digunakan
untuk menilai ketepatan (appropriateness) premis yang pada mulanya digunakan dalam suatu
sistem deduktif.
Proses riset sendiri tidak selalu mengikuti suatu pola yang pasti. Para peneliti
seringkali bekerja secara terbalik dari kesimpulan penelitian lainnya dengan mengembangkan
hipotesis baru yang tampaknya cocok dengan data yang tersedia. Dalam konteks akuntansi,
riset induktif bisa membantu memperjelas hubungan dan fenomena yang ada dalam
lingkungan bisnis yang mendasari praktek akuntansi. Riset induktif tersebut pada gilirannya
akan bermanfaat dalam proses pembuatan kebijakan yang biasanya mengandalkan penalaran
deduktif dalam menentukan aturan yang akan diberlakukan.

4. Teori Akuntansi Positif


Teori akuntansi positif (positive accounting theory) sering dikaitkan dalam
pembahasan mengenai manajemen laba (earnings management). Teori akuntansi positif
menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi manajemen dalam memilih prosedur
akuntansi yang optimal dan mempunyai tujuan tertentu.
Menurut teori akuntansi positif, prosedur akuntansi yang digunakan oleh perusahaan
tidak harus sama dengan yang lainnya, namun perusahaan diberi kebebasan untuk memilih
salah satu alternatif prosedur yang tersedia untuk meminimumkan biaya kontrak dan
memaksimalkan nilai perusahaan. Dengan adanya kebebasan itulah, maka menurut Scott
(2000) manajer mempunyai kecenderungan melakukan suatu tindakan yang menurut teori
akuntansi positif dinamakan sebagai tindakan oportunis (opportunistic behavior). Jadi,
tindakan oportunis adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh perusahaan dalam memilih
kebijakan akuntansi yang menguntungkan dan memaksimumkan kepuasan perusahaan
tersebut.
Ada berbagai motivasi yang mendorong dilakukannya manajemen laba. Teori
akuntansi positif (positive accounting theory) mengusulkan tiga hipotesis motivasi
manajemen laba yang dihubungkan oleh tindakan oportunistik yang dilakukan oleh
perusahaan (Watts dan Zimmerman, 1986 dalam Santoso, 2004).
Tiga hipotesis menurut Watts dan Zimmerman (1986) dalam Santoso (2004) dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Hipotesis program bonus (the bonus plan hypotesis).
Hipotesis ini menyatakan bahwa perusahaan yang menggunakan bonus plan akan
cenderung untuk menggunakan metode-metode akuntansi yang dapat meningkatkan laba
yang dilaporkan pada periode berjalan. Hal ini dilakukan untuk memaksimumkan bonus yang
akan mereka peroleh karena seberapa besar tingkat laba yang dihasilkan seringkali dijadikan
dasar dalam mengukur keberhasilan kinerja. Jika besarnya bonus tergantung pada besarnya
laba, maka perusahaan tersebut dapat meningkatkan bonusnya dengan meningkatkan laba
setinggi mungkin. Dengan demikian, diperkirakan bahwa perusahaan yang mempunyai
kebijakan pemberian bonus yang berdasarkan pada laba akuntansi, akan cenderung memilih
prosedur akuntansi yang meningkatkan laba tahun berjalan.
2. Hipotesis perjanjian utang (the debt covenant hypotesis)
Hipotesis ini berkaitan dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi perusahan di dalam
perjanjian utang (debt covenant). Sebagian perjanjian utang mempunyai syarat-syarat yang
harus dipenuhi peminjam selama masa perjanjian. Dinyataka pula jika perusahaan mulai
mendekati suatu pelanggaran terhadap (debt covenant), maka perusahaan tersebut akan
berusaha menghindari terjadinya (debt covenant) dengan cara memilih metode akuntansi
yang meningkatkan laba. Pelanggaran terhadap (debt
covenant) dapat menimbulkan suatu biaya serta dapat menghambat kinerja manajemen.
Sehingga dengan meningkatkan laba perusahaan berusaha untuk mencegah atau setidaknya
menunda hal tersebut.
3. Hipotesis biaya politik (the political cost hypothesis)
Dalam hipotesis ini dinyatakan bahwa semakin besar biaya politis yang dihadapi oleh
perusahaan maka semakin besar pula kecenderungan perusahaan menggunakan pilihan
akuntansi yang dapat mengurangi laba, karena perusahaan yang memiliki tingkat laba yang
tinggi dinilai akan mendapat perhatian yang luas dari kalangan konsumen dan media yang
nantinya juga akan menarik perhatian pemerintah dan regulator sehingga menyebabkan
terjadinya biaya politis, diantaranya muncul intervensi pemerintah, pengenaan pajak yang
lebih tinggi, dan berbagai macam tuntutan lain yang dapat meningkatkan biaya politis.

Dari definisi diatas, peneliti dapat melihat hubungan teori akuntansi positif (positive
accounting theory) dengan penelitian ini. Seperti yang sudah dijelaskan, dalam teori
akuntansi positif (positive accounting theory) ada berbagai motivasi yang mendorong
dilakukannya manajemen laba. Salah satu motivasi yang terkait dengan adanya perubahan
tarif pajak penghasilan badan 2008 yaitu motivasi regulasi politik yang merupakan motivasi
manajemen dalam mensiasati berbagai regulasi pemerintah guna melakukan manipulasi laba
dengan menurunkan laba yang dilaporkan sehingga pajak yang dibayarkannya menjadi kecil.

Kaedah induktif merupakan salah satu kaedah mengajar yang sesuai digunakan dalam pengajaran
pelbagai mata pelajaran, khususnya Matematik, Sains dan Bahasa (Mok Soon Sang, 2001).
Pengajaran berasaskan gaya induktif adalah satu pendekatan mengajar yang melibatkan satu proses
penaakulan yang tinggi di mana melibatkan aktiviti mengumpul dan mentafsir maklumat-maklumat,
kemudian membuat generalisasi atau kesimpulan (Kamarudin Husin & Siti Hajar Abdul Aziz, 2004).
Hilda Taba mempercayai bahawa pelajar membuat generalisasi hanya setelah maklumat dapat
diorganisasi dengan sempurna. Taba adalah lebih dikenali dengan model pengajarannya yang
melibatkan pemikiran induktif. Menurut beliau, dengan menggunakan pelbagai strategi, pelajar
boleh dibantu menyelesaikan masalah dengan jayanya. Strategi induktif ini mengalir dalam proses
kognitif dan memerlukan pelajar menggunakan teknik soalan-soalan ringkas (Hilda Taba, 1962).
Pengajaran berasaskan gaya pemikiran deduktif adalah satu pendekatan mengajar yang
mengasaskan pengajaran berdasarkan keseluruhan konsep. Konsep deduktif boleh ditakrifkan
sebagai sesuatu pendekatan mengajar yang bermula daripada sesuatu atau beberapa rumus,
prinsip, hukum, teorem atau peraturan yang diikuti dengan aplikasinya ke atas contoh-contoh yang
khusus (Mok Soon Sang, 2003). Seperti dalam pendekatan induktif, ia juga menggunakan proses
penaakulan yang tinggi. Kaedah deduktif berlandaskan pendekatannya merupakan kaedah mengajar
yang kompleks kerana ia memerlukan murid-murid memperolehi kefahaman yang mendalam dan
pengetahuan yang cukup. Dalam pengajaran dan pembelajaran sesuatu subjek matter,
pendekatan deduktif melibatkan pelajar-pelajar mempelajari peraturan-peraturan atau diberi
maklumat tertentu sebelum mereka diminta melakukan penganalisisan bahan yang hendak
dipelajari itu. Kaedah ini menjadi pilihan, kerana pelajar terlibat secara aktif dalam kumpulan dan
dapat melatih mereka untuk berfikir secara kritis dan kreatif. Pelajar lemah dapat berinteraksi
dengan pelajar pandai. Selain itu mereka dapat melatih diri untuk berkomunikasi dan bergaul
dengan pelajar yang pelbagai latar belakang. Pendekatan Induktif Pendekatan Induktif memberi
peluang kepada pelajar membuat kesimpulan sendiri mengenai sesuatu konsep ataupun benda.
Ianya mengutamakan contoh-contoh pada awal pengajaran dan dibuat generelisasi daripadanya.
Pendekatan Induktif ini juga tidak digalakan memberi definisi penerangan dan kandungan pelajaran
dan ianya lebih mengutamakan mengemukakan soalan, memerhati, mengkaji, membentuk contoh
serta kesimpulan diberikan kemudian.

Konsep Induktif Antara Konsep Induktif ialah:-


1. Mempelajari sesuatu untuk mendapatkan hukum
2. Memperkenalkan pengetahuan dan memberi pengalaman.
3. Membentuk satu kesimpulan umum daripada contoh-contoh tertentu.
4. Cuba mendapatkan kesimpulan melalui satu urutan pemikiran.
5. Membuat satu andaian yang munasabah daripada yang spesifik kepada umum.
6. Bermatlamatkan kepada pembentukan kebiasaan.
7. Menggunakan pengantaraan deria (pengalaman deria) untuk mendapatkan pengetahuan.
8. Memerlukan kekerapan ulangan dalam pelbagai konteks untu menguasai sesuatu kemahiran.
9. Menekankan pengajaran berbentuk konkrit.
10. Memberi peluang sepenuhnya kepada murid belajar di bawah bimbingan guru.
11. Menekankan penglibtan murid secara aktif.
12. Mampu mewujudkan suasana pembelajaran yang menarik dan berkesan.
13. Banyak menekankan aspek lisan.

Kelebihan Pendekatan Induktif


Kelebihan pendekatan induktif ialah pendekatan ini dapat mengasah kemahiran berfikir dalam
kalangan murid. Hal ini disebabkan mereka perlu menggunakan keupayaan mental untuk mengenal
pasti rumus-rumus yang menjadi dasar kepada pembentukan sesuatu ayat. Selain itu, daya
kefahaman dan ingatan murid terhadap isi pelajaran dapat dipertingkatkan kerana mereka sendiri
yang terlibat dalam pengesanan rumus. Pendekatan ini juga melibatkan penyerapan yang aktif
dalam kalangan pelajar.Melalui pendekatan ini, strategi perbincangan dapat digalakkan kerana
tugas menentukan rumus dibuat oleh murid-murid sendiri dengan ini suasana pembelajaranakan
menjadi lebih hidup. Kelebihan lain menggunakan pendekatan ini ialah kemahiran lisan dapat
disuburkan kerana pendekatan ini memerlukan perbincangan yang banyak di dalam bilik darjah dan
juga murid-murid tidak begitu dibebani dengan rumus-rumus pada peringkat awal pembelajaran
sebaliknya mereka didedahkan dengan pelbagai contoh penggunaan terlebih dahulu. Justeru itu
perkara ini boleh mengurangkan kebosanan mereka

Kelemahan Pendekatan Induktif


Setiap sesuatu itu mempunyai kelebihan dan kelemahan yang tersendiri begitu juga dengan
pendekatan induktif. Antara kelemahaan pendekatan ini adalah pengajaran yang dilakukan
mengambil masa yang panjang kerana guru perlu membimbing murid mengesan rumus. Sekiranya
sesebuah kelas itu terdiri daripada murid-murid yang ramai jumlahnya, penjurusan fikiran ke satu
arah sukar dibuat kerana setiap murid mempunyai fikiran, pendapat dan pemahaman yang berbeza.
Bagi murid-murid yang lemah pula, pendekatan ini akan menimbulkan masalah kerana adalah sukar
bagi mereka untuk memikirkan rumus-rumus daripada contoh-contoh ayat yang diberikan.

Model Deduktif
Dalam pengajaran yang bermodelkan pendekatan ini guru memainkan peranan penting untuk
menerangkan atau mengajarkan dan diasaskan kepada hoskut tertentu, manakala murid hanya
mendengar dan mengikutinya. Walaubagaimanapun, kefahaman mereka dinilai melalui aktiviti-
aktiviti yang disediakan pada peringkat aplikasi. Untuk menentukan bahawa pengajaran ini
mendatangkan kesan yang lebih mendalam, guru haruslah memastikan bahawa generalisasi yang
hendak diajarkan itu dihuraikan dengan jelas, difahami dan contoh-contoh penerapan generalisasi
di dalam ayat-ayat mestilah mencukupi dan benar-benar menepati rumus-rumus tersebut. Guru
tidak digalakkan untuk dimasukkan contoh-contoh yang memperlihatkan penyimpangan,
terutamanya pada awal pengajaran. Contoh-contoh tidak semestinya diberikan oleh guru tetapi
boleh juga diminta daripada murid, iaitu setelah contoh-contoh yang disediakan oleh guru
dikemukakan. Dalam aplikasi pula, latihan-latihan yang disediakan haruslah beraneka jenis dan
dalam konteks yang bermakna. Hal ini bertujuan untuk memberi peluang kepada murid menerapkan
rumus dalam situasi yang baru. Pendekakatan menggunakan deduktif dicirikan dengan pelajar
mempelajari berdasarkan sesuatu hukum. Pelajar perlu menaakul untuk mendapatkan fakta/contoh
AplikasiContohRumus/Generalisasi

Konsep Deduktif
1. Mempelajari sesuatu berdasarkan sesuatu hukum.
2. Satu produksi fakta untuk membuktikan satu penyataan umum.
3. Menganalisa fakta yang membentuk generalisasi.
4. Membuat satu penghuraian daripada umum kepada khusus.

Kelebihan Pendekatan Deduktif.


Kelebihan pendekatan deduktif adalah ianya memudahkan tugas guru yang mana guru
mengemukakan prinsip asas manakala murid menggunakan prinsip berkenaan. Pendekatan ini
berbeza dengan pendekatan induktif kerana pendekatan ini cara ini cepat dan menjimatkan masa
pengajaran kerana rumus-rumus disediakan dan dihuraikan terus oleh guru. Murid tidak perlu
mengambil masa untuk memikirkan atau mengesan rumus. Pendekatan ini juga boleh meninggalkan
kesan pembelajaran yang memuaskan kepada pelajar-pelajar dewasa. Apa yang lebih penting ialah
ianya tiada risiko mendapat hasil yang salah atau tidak sempurna.

Kelemahan Pendekatan Deduktif


Manakala kelemahan menggunakan pendekatan ini adalah pengajaran mungkin membosankan
kerana murid dibebani dengan rumus-rumus yang wajib dipatuhi. Pendekatan ini boleh
mengongkong kreativiti mereka kerana mereka terlalu terikat kepada rumus. Selain itu, pemikiran
murid tidak tercabar untuk mengesan dan menentukan rumus kerana rumus-rumus diberikan oleh
guru. Justeru itu, penglibatan murid tidak begitu aktif kerana guru lebih banyak memainkan
peranan, khususnya dalam hal menghuraikan rumus. Melihat dari segipsikologi, sesuatu yang dapat
dikesan atau dijumpai sendiri oleh murid dalam sesuatu pembelajaran dapat menjamin ingatan
yang lebih kekal, berbanding dengan sesuatu yang diberitahu terus oleh guru. Dengan demikian,
pendekatan ini tidak begitumenjamin ingatan yang berkekalan dalam kalangan murid tentang
rumus-rumus yang diajarkan itu.